Pdt Samuel Pasaribu mengatakan, “Persepuluhan tidak harus selalu diberikan kepada gereja. Anda juga dapat menyalurkannya kepada keluarga yang kekurangan, tetangga yang membutuhkan, masyarakat di lingkungan sekitar, atau siapa pun yang mengalami kesulitan hidup.”
Unggahannya ini memancing kegerahan pendeta Pantekosta. Seperti biasa ia mendukung persepuluhan dengan ayat andalan bahwa persepuluhan diberikan kepada Rumah Tuhan/Tempat Nama Tuhan ditegakkan, Maleakhi 3:10: Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.
Pendeta Pantekosta menyerukan: Anda pro dan kontra yang mana?
Saya 𝗞𝗢𝗡𝗧𝗥𝗔 𝗱𝘂𝗮-𝗱𝘂𝗮𝗻𝘆𝗮, karena kedua pendeta itu masih berantem di dalam kandang yang sama: kandang persepuluhan.
Tanggapan saya terhadap pendeta Pantekosta itu bahwa persepuluhan sudah tidak relevan. Lihat post saya di sini https://www.facebook.com/share/p/18rSPcs2DZ/
Tanggapan terhadap Pdt. Samuel Pasaribu: kelihatannya progresif, kelihatan pro-kaum miskin. Padahal ia sedang memberikan 𝗯𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗶 kepada orang miskin. Kenapa bangkai?
Persepuluhan dalam Taurat itu bukan uang. 𝘔𝘢'𝘢𝘴𝘦𝘳 itu pajak agraris 10% dari hasil ladang dan ternak. Fungsinya tiga:
(1) Untuk suku Lewi yang tidak dapat lahan
(2) Untuk perayaan makan bersama di Bait Allah
(3) Setiap 3 tahun untuk orang asing, janda, dan anak yatim (Ul. 14:28-29)
Jadi dari sononya 𝗽𝗲𝗿𝘀𝗲𝗽𝘂𝗹𝘂𝗵𝗮𝗻 𝗶𝘁𝘂 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗻𝗴 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗶𝘀𝗸𝗶𝗻. Dia tidak menemukan hal baru. Ia hanya ngulang Ulangan 14, tetapi dibungkus seolah-olah reformasi.
Masalahnya: sistem itu sudah mati bersama Bait Allah. Tidak ada Bait Allah, tidak ada suku Lewi yang tidak dapat lahan, tidak ada sistem agraris Israel kuno. Yang ia berikan kepada orang miskin sekarang itu bukan daging segar Taurat, tetapi bangkai sistem pajak agraris yang sudah busuk 2000 tahun lalu, yang ia panjat-pinjat lagi.
Memberi bangkai persepuluhan kepada orang miskin itu menghina orang miskin. Seolah-olah orang miskin itu tempat sampah teologi yang tidak relevan.
Kalau ia mau memberi kepada orang miskin, ya berikan dari 𝗸𝗼𝗹𝗲𝗸𝘁𝗲 sebagai 𝗱𝗶𝗮𝗸𝗼𝗻𝗶𝗮, sebagai 𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵, bukan sebagai persepuluhan. Sebut saja apa adanya: ini uang untuk orang miskin, bukan persepuluhan. Yang ada dalam Kisah Para Rasul dan surat-surat Paulus itu 𝘬𝘰𝘪𝘯𝘰𝘯𝘪𝘢 dan 𝘤𝘰𝘭𝘭𝘦𝘤𝘵𝘢, pengumpulan kasih sukarela, bukan pajak 10%, bukan persepuluhan.
Ngapain pakai label Taurat yang sudah mati untuk membungkus kebaikan? Baca saja link yang saya tulis di atas.
(29102026)
Sejak Sekolah Minggu kita ditanami satu tafsir yang sama: Habel itu baik karena memberi persembahan terbaik, anak sulung domba yang gemuk. Kain itu jahat karena memberi asal-asalan, hasil tanah sisa. Makanya Tuhan menerima persembahan Habel, tetapi menolak Kain. Moral: Berilah Tuhan yang terbaik, jangan sisa. Tuhan lihat isi amplopmu.
Tafsir itu laku. Dipakai buat nagih kolekte, persepuluhan, buat bangun gedung, buat QRIS, tetapi tafsir itu tidak dapat dipertanggungjawabkan.
1️⃣ 𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗼𝗮𝗹 𝗺𝗼𝗿𝗮𝗹
Teks Ibrani tidak pernah bilang Kain jahat dan Habel baik. Teks hanya menyodor dua nama yang merupakan dua sistem ekonomi yang bermusuhan di Timur Tengah Kuno.
▶️ 𝗤𝗔𝗬𝗜𝗡 (Kain). Dari akar kata 𝘲𝘢𝘯𝘢𝘩, memeroleh, menggarap, memiliki. Ia adalah arketipe petani menetap (𝘴𝘦𝘵𝘵𝘭𝘦𝘥 𝘢𝘨𝘳𝘪𝘤𝘶𝘭𝘵𝘶𝘳𝘢𝘭𝘪𝘴𝘵). Ia yang kali pertama bikin konsep kepemilikan pribadi atas lahan. Buktinya? Kejadian 4:17, dua ayat setelah dikutuk jadi pengembara, dia malah membangun kota pertama di dunia bernama Henokh. Petani yang memagari lahan selalu butuh tembok.
▶️ 𝗛𝗘𝗩𝗘𝗟 (Habel). Artinya harfiah: uap, nafas, asap, sesuatu yang cepat hilang, yang fana. Ia adalah arketipe peternak nomaden (𝘱𝘢𝘴𝘵𝘰𝘳𝘢𝘭 𝘯𝘰𝘮𝘢𝘥). Hartanya adalah 𝘮𝘰𝘣𝘪𝘭𝘦 𝘸𝘦𝘢𝘭𝘵𝘩, domba yang bisa jalan. Ia tidak punya lahan. Namanya sendiri sudah menjelaskan nasibnya: tidak punya akar.
Konflik mereka terjadi di 𝘣𝘢-𝘴𝘢𝘥𝘦𝘩, di padang, bukan di kebun, bukan di kandang, tetapi di lahan sengketa terbuka. Petani butuh lahan itu dipagari untuk gandum. Peternak butuh lahan itu dibuka untuk jalur jelajah domba. Ini konflik abadi dari 𝘌𝘢𝘳𝘭𝘺 𝘉𝘳𝘰𝘯𝘻𝘦 𝘈𝘨𝘦 𝘓𝘦𝘷𝘢𝘯𝘵 sampai film-film koboi dan konflik agraria di banyak tempat pada masa kini.
2️⃣ 𝗗𝘂𝗮 𝗽𝗲𝗿𝘀𝗲𝗺𝗯𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗽𝗼𝗹𝗶𝘁𝗶𝗸
Ini yang paling sering dipelintir mimbar.
▶️Kain membawa 𝘮𝘪𝘯𝘤𝘩𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘳𝘪 𝘩𝘢-𝘢𝘥𝘢𝘮𝘢𝘩, persembahan dari hasil tanah.
▶️Habel membawa 𝘮𝘪𝘣𝘣𝘦𝘤𝘩𝘰𝘳𝘰𝘵 𝘵𝘴𝘰𝘯𝘰 𝘸𝘦-𝘤𝘩𝘦𝘭𝘦𝘷𝘦𝘪𝘩𝘦𝘯, dari anak-anak sulung dombanya dan lemak-lemaknya.
Mimbar bilang: Habel bawa yang terbaik, Kain bawa sisa. Teks Ibrani tidak bilang begitu. Tidak ada kata 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘪𝘬 vs. 𝘴𝘪𝘴𝘢 dalam Kejadian 4.
Kenapa narator memihak Habel? Jawabannya bukan teologi, tapi politik identitas petulisnya.
Petulis Kejadian 4 adalah kelompok 𝘠𝘢𝘩𝘸𝘪𝘴𝘵 (J). Dalam kritik sumber klasik J sejak lama diidentifikasi sebagai tradisi nomaden. Ciri khas J adalah teologi padang gurun: Allah digambarkan antropomorfik, berjalan di taman pada waktu sejuk, membentuk manusia dari debu dengan tangan, menutup pintu bahtera. Itu bukan Allah Bait Suci yang megah. Itu Allah kemah. Beda jauh dari kelompok P (𝘗𝘳𝘪𝘦𝘴𝘵𝘭𝘺) yang bahasanya sudah birokrasi Bait Suci, silsilah, dan hukum.
Bagi komunitas nomaden persembahan yang bergerak (domba + lemak) jelas lebih bernilai daripada persembahan yang menetap (gandum). Wajarlah narator nomaden menyebut: TUHAN mengindahkan Habel.
3️⃣ 𝗟𝗲𝗺𝗮𝗸 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝘀𝗶𝗮𝗽𝗮?
Mengapa lemak begitu eksklusif? Segala lemak adalah kepunyaan TUHAN (Im. 3:16) dan haram dimakan, meski imam. Kalau ada yang berani makan hukumannya 𝘺𝘪𝘬𝘢𝘳𝘦𝘵, dilenyapkan dari umat (Im 7:23-25).
Jatah imam itu apa? Dada yang diayun (𝘤𝘩𝘢𝘻𝘦𝘩 𝘩𝘢-𝘵𝘦𝘯𝘶𝘧𝘢𝘩) dan paha kanan (𝘴𝘩𝘰𝘬 𝘩𝘢-𝘵𝘦𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩).
Lemak itu 𝘪𝘴𝘩𝘦𝘩, kurban api-apian, dibakar total, asapnya yang harum naik untuk TUHAN. Manusia gak boleh sentuh.
Jadi apa yang dilakukan Habel? Ia memberikan sesuatu yang 𝗵𝗮𝗿𝗮𝗺 𝗱𝗶𝗺𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮. Ia memberikan jatah TUHAN secara eksklusif. Sesuatu yang menjadi uap (𝘩𝘦𝘷𝘦𝘭), yang hilang ke langit.
Kain? Ia memberikan kurban sajian (𝘮𝘪𝘯𝘤𝘩𝘢𝘩), yang dalam Imamat 2 justru menjadi makanan harian para imam. Tepung, minyak, kemenyan. Yang bisa disimpan di gudang Bait Suci.
Jelas? Allah versi J tidak butuh lumbung. Dia butuh asap.
4️⃣ 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗮𝗽𝗮 𝗞𝗮𝗶𝗻 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗱𝗶𝗯𝘂𝗻𝘂𝗵?
Hukum dalam suku nomaden dibunuh itu malah ringan. Diusir itu mati sosial. Kain sendiri ngomong pada Kejadian 4:14: "... 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘢𝘬𝘶." Siapakah 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 itu? Kalau baru ada Adam, Hawa, dan Kain, siapa yang mau membunuh Kain?
Ini bukti cerita ini jauh lebih tua dari keluarga Adam. Ini sisa mitos suku. Oknum 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 itu adalah suku-suku lain di padang yang punya hukum 𝘨𝘰'𝘦𝘭 𝘩𝘢𝘥𝘢𝘮, penebus darah. Pembunuh harus dibunuh balik. Akan terjadi perang suku.
TUHAN lalu memberikan tanda (𝘰𝘵). Salah kaprah terbesar: tanda Kain dianggap tanda kutukan. Padahal itu 𝘁𝗮𝗻𝗱𝗮 𝗽𝗲𝗿𝗹𝗶𝗻𝗱𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻. Itu tato suku, tanda totem. Artinya: 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘪𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯-𝘒𝘶. 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘥𝘪𝘢, 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘫𝘶𝘩 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘪𝘱𝘢𝘵 (lih. Kej. 4:15). Ini paspor nomaden supaya tidak dihabisi suku lain.
Hukumannya apa? Ia menjadi pengembara yang mengembara (𝘯𝘢' 𝘸𝘢𝘯𝘢𝘥). Bagi Kain si petani menetap ini adalah kiamat. 𝘈𝘥𝘢𝘮𝘢 (tanah) yang selama ini dia 𝘢𝘷𝘢𝘥 (budaki/garap) sekarang mogok: "tidak akan memberikan kekuatannya lagi." Jatidirinya hancur. Kain dipaksa hidup seperti Habel, musuh yang ia benci. Itu ironi paling sadis.
Apa yang dilakukan Kain untuk melawan kutukan itu? Kejadian 4:17 Kain 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗮𝗻𝗴𝘂𝗻 𝗸𝗼𝘁𝗮. Ia menolak menjadi pengembara. Ia bikin tembok, bikin keamanan buatan. Dari kota Kain inilah lahir peradaban: Yabal si bapak peternak, Yubal si bapak musik, dan Tubal-Kain si pandai besi. Semua teknologi manusia lahir dari keturunan pembunuh yang menolak kutukan nomaden.
5️⃣ 𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗼𝗮𝗹 𝗸𝗼𝗹𝗲𝗸𝘁𝗲
Jadi, kalau cerita ini dipakai untuk khotbah kolekte: "Berikan persembahan terbaik seperti Habel!", maka khotbah itu sedang melakukan penipuan berlapis:
𝗞𝗲𝘀𝗮𝘁𝘂, membajak teks. Teks tidak pernah bicara soal kualitas persembahan. Teks bicara soal konflik agraria: siapa berhak atas tanah, yang memagari atau yang mengembara.
𝗞𝗲𝗱𝘂𝗮, menelikung sejarah. Lemak yang dibawa Habel bukan makanan istimewa imam, tapi makanan yang haram buat imam. Itu jatah TUHAN yang jadi asap. Bukan jatah kas gereja.
𝗞𝗲𝘁𝗶𝗴𝗮, menipu politik. Cerita yang diadopsi dari propaganda kaum peternak nomaden miskin yang melawan petani kaya yang membangun kota dipakai untuk membela kepentingan pembangunan gedung gereja kota yang memagari lahan dengan sertifikat atas nama gereja.
Kalau mau panggah jadi Habel, jual gedung gereja, jadi nomaden, bakar lemak sampai jadi asap yang hilang. Jangan sodor QRIS.
Kalau mau panggah jadi Kain, akui saja kalian adalah pembangun kota yang butuh uang. Jangan pakai nama Habel untuk malak.
Kain dan Habel tidak pernah bicara soal kolekte. Mereka bicara soal lahan. Selama ayat ini dipakai untuk menakuti jemaat supaya memberi lebih banyak uang, maka kalian sedang memakai cerita pembelaan kaum miskin yang tidak punya lahan untuk menindas kaum miskin yang tidak punya uang.
Wassalam,
MDS Efron (29102026)
𝘔𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘳𝘪𝘵𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘳𝘢𝘯𝘴𝘧𝘦𝘳