Selasa, 27 Oktober 2026

Sudut Pandang 𝗣𝗲𝗿𝘀𝗲𝗺𝗯𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗕𝗶𝗻𝗮𝗹 𝗱𝗮𝗻 𝗘𝗿𝗼𝘁𝗶𝘀 Lawan Persepuluhan

Sudut Pandang 𝗣𝗲𝗿𝘀𝗲𝗺𝗯𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗕𝗶𝗻𝗮𝗹 𝗱𝗮𝗻 𝗘𝗿𝗼𝘁𝗶𝘀 Lawan Persepuluhan

PENGANTAR
Dalam suatu seminar soal 𝗽𝗲𝗿𝘀𝗲𝗽𝘂𝗹𝘂𝗵𝗮𝗻 (tema yang saya kritisi ketika diminta jadi nara sumber) kemarin saya menyebut Gereja aliran tertentu memalak umat dengan ayat dan kutuk. Gereja - gereja protestan (Reformir) presbyterian sebenarnya 11-12. Di banyak jemaat gereja protestan Reformir penatua pengatur rumah Allah/diaken  selalu membaca ayat Alkitab pada awal 𝗿𝗶𝘁𝘂𝘀 𝗸𝗼𝗹𝗲𝗸𝘁𝗲. Untuk apa coba? Padahal secara liturgis nasihat dan petunjuk hidup di dalam Kristus sudah tuntas dan termaktub di dalam homili atau kalau itu Leksionari, dalam bacaan sabda. Jadi, Gereja Protestan Reformir presbyterian sebenarnya sama, cumak lebih halus. Sama-sama 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙠 umat dengan ayat.

PEMAHAMAN 
Gereja aliran tertentu menekankan persepuluhan untuk Gereja. Para pemimpin Gereja mencari banyak alasan “teologis” untuk mendukung ideologi mereka. Tak jarang umat ditakut-takuti dengan peringatan: 𝘒𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘭𝘪𝘵 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘯 𝘱𝘦𝘭𝘪𝘵 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯. Logika semacam itu menarik perhatian kita pada persoalan mendasar: apakah pemberian kepada Tuhan sungguh merupakan ungkapan cinta dan syukur, atau sudah berubah menjadi transaksi yang digerakkan oleh ketakutan? Ketika umat didorong memberi dengan ancaman bahwa Tuhan akan menahan berkat-Nya jika mereka tidak memberi cukup banyak, relasi dengan Tuhan diperlakukan seperti hubungan dagang. Besarnya pemberian seolah-olah menentukan besarnya berkat yang akan diterima. 

Apabila kita mengamati dan menyimak 𝗬𝗼𝗵𝗮𝗻𝗲𝘀 𝟭𝟮:𝟭-𝟴, narasi mengajak kita melihat sebuah pemberian yang sama sekali berbeda: Maria menghamburkan minyak narwastu yang sangat mahal untuk Yesus, tanpa menghitung keuntungan yang akan diperolehnya.

Dari beberapa cerita yang sejajar dengan Injil sinoptik, perikop ini adalah yang paling mirip (bdk. Mat. 26:6-13; Mrk. 14:3-9; Luk. 7:36-50). Meskipun paling mirip, kisah dalam Injil Yohanes ini memiliki konteks dan pautan narasi yang berbeda dari Injil-injil sinoptik. Dalam Injil sinoptik kisah 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘶𝘳𝘢𝘱𝘪 terjadi sesudah arak-arakan Yesus dan rombongan masuk ke Yerusalem, sedang dalam Injil Yohanes terjadi sebelum arak-arakan itu.

Perlu diperhatikan pula bahwa kisah dalam Lukas 7:36-50 memiliki konteks tersendiri. Perempuan yang mengurapi Yesus dalam kisah Lukas 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗱𝗶𝘀𝗲𝗯𝘂𝘁 𝗻𝗮𝗺𝗮𝗻𝘆𝗮 dan kisah itu berlangsung dalam perjamuan di rumah seorang Farisi. Dalam Yohanes 12 perempuan itu adalah Maria, saudara Marta dan Lazarus, yang tinggal di Betania. Kemiripan tindakan tidak mengharuskan kita menyamakan semua tokoh, konteks, dan maksud naratifnya. Setiap petulis Injil menempatkan kisah tersebut dalam rangkaian cerita yang memiliki tekanan tersendiri guna mendukung teologi yang diusung petulis Injil masing-masing.


Sudut Pandang 𝗣𝗲𝗿𝘀𝗲𝗺𝗯𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗕𝗶𝗻𝗮𝗹 𝗱𝗮𝗻 𝗘𝗿𝗼𝘁𝗶𝘀 Lawan Persepuluhan

Sudut Pandang  𝗣𝗲𝗿𝘀𝗲𝗺𝗯𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗕𝗶𝗻𝗮𝗹 𝗱𝗮𝗻 𝗘𝗿𝗼𝘁𝗶𝘀 Lawan Persepuluhan PENGANTAR Dalam suatu seminar soal 𝗽𝗲𝗿𝘀𝗲𝗽𝘂𝗹...