PENGANTAR
Ekklesia Domestica, Gereja Keluarga, Kuntul mabur ning langit, ora katon tapak ning lemah, sebuah sanepa Jawa, burung kuntul terbang ke langit, tidak ada jejak di tanah, orang Jawa memahami tidak selalu dalam hidup itu kasat mata atau terlihat oleh mata, tetapi ada hal yang tidak kasat mata atau tidak terlihat dalam hidup ini. Burung kuntul terbang ke langit, adalah perlambang pencarian batin ke pada Allah yang dianggap selalu ada di atas, di langit, dalam pencarian tsb akan ada perang batin yang tak terlihat, karena terjadinya perang di batin, atau di pikiran, itu yang dimaksud tidak terlihat jejak di tanah. Mencari Allah di langit, akan selalu menghadapi sisi yang berlawanan dengan Allah, dan perang atau pertempuran itu tidak akan terlihat karena terjadinya di batin ataupun pikiran, itu yang disebut Rasul Paulus dengan perang rohani, siapa yang akan menang, ibaratkan kuda putih dan kuda hitam, yang menang adalah yang paling banyak dikasih makan. Itulah sebetulnya yang dimaksud oleh rasul Paulus dalam Efesus 6:11-20 (TB)11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;
12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.
13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.
14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan,
15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera;
16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat,
17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah,
18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,
19 juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil,
20 yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.
Ayat 12 mempertegas Rasul Paulus mengakui akan terjadinya perang batin tsb, perang rohani, perang antara sisi sekehendak Allah dan melawan kehendak Allah, maka ayat 11, 13-20 adalah cara yang harus jemaat Efesus lakukan dalam peperangan rohani tsb, perlengkapan senjata rohani. Perang batin itu, perang rohani itu, juga terjadi dalam kehidupan berkeluarga, dalam menegakan ekklesia domestica, diperlukan persenjataan dan perlengkapan rohani dalam hidup keluarga.
Efesus 6:1–20 merupakan bagian dari nasihat etis dalam Efesus 4–6. Setelah menjelaskan identitas umat percaya dan karya Kristus dalam pasal 1–3, berawal Rasul Paulus menegaskan identitas Kristus bagi jemaat efesus pada bab 1- 3 beralih pada cara hidup yang sesuai dengan panggilan tersebut, sikap etis beridentitaskan Kristus pada bab 4-6, kemudian ditutup dg memahami akan adanya perang batin atau perang rohani saat menghadapi kehidupan yg mengedepankan identitas Kristus, dan cara menghadapinya dg perlengkapan rohani, pada bagian akhir bab 6 surat efesus. Menurut Paulus atas suratnya pada jemaat di efesus, akan selalu ada perang batin, perang rohani ketika akan bersekehendak dengan Allah dalam kehidupan berkeluarga, akan ada perlawanan dari keinginan melawan Allah dalam menerapkan identitas Kristus dalam ekklesia domestica, gereja keluarga. Sebetulnya, Paulus ini sedang menafsir ulang YUDAISME HELEN ISTIK, filosofi yang marak pada zaman itu, perpaduan filosofi Yahudi dan filosofi Yunani, Paulus menafsirkan ulang hal tsb dengan memberi YUDAISME HELES ISTIK dengan identitas Kristus, jemaat efesus yg terhimpit ajaran lain, bukannya Paulus menyuruh jemaat efesus menentang atau melawan ajaran lain tsb, tetapi malah Paulus menafsir ulang YUDAISME HELES ISTIK dg identitas Kristus, ini semacam INKULTURISASI dalam pemahaman teologi masa kini. Paling tidak, ada tiga bagian Yudaisme Helenistik, filosofi hubungan suami dan istri, hubungan orang tua dan anak, dan hubungan tuan dan hamba.
Sekarang kita paham, kenapa ayat 11-20 pada pasal 6 surat Efesus di tempatkan setelah nasihat tentang keluarga,
Efesus 5:22-33 (TB)
22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,
23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.
24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.
25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya
26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman,
27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.
28 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.
29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat,
30 karena kita adalah anggota tubuh-Nya.
31 Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
32 Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.
33 Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.
Efesus 6:1-10 (TB)
1 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.
2 Hormatilah ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini:
3 supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.
4 Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.
5 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus,
6 jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah,
7 dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.
8 Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.
9 Dan kamu tuan-tuan, perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka.
10 Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.
Dalam menegakan ekklesia domestica, gereja keluarga, tidak bisa tidak, tidak mungkin disangkal perang batin, perang rohani itu terjadi.
Misal, jengkel anak pulang malam, pasti akan terjadi perang batin pada orang tua antara menuruti ego untuk marah - marah agar anak jera tidak melakukan pulang malam lagi atau mengajaknya bicara baik-baik untuk mengerti risiko bahaya pulang malam dan bertanggung jawab thp tindakannya, nah .... terjadi perang batin kan, contoh gampangnya seperti itu, misal cemburu karena pasangan terlalu akrab atau melewati batas pertemanan dg rekan kerja yang berlawanan jenis, pasti terjadi perang batin, antara marah dan meluapkan emosi kecemburuan atau berhenti sejenak tenang, kemudian bicara dari hati ke hati dg pasangan bahwa tindakannya melukai kita, nah ..... mudahnya seperti itu pemahamannya.
Jadi, perlengkapan rohani bukan topik yang berdiri terpisah, melainkan kelanjutan dari pembahasan mengenai kehidupan umat Allah (hidup berkeluarga) dalam relasi sehari-hari. Menilai ini sebagai penyesuaian pastoral-apologetik agar gereja tampak tertib di masyarakat; yang lain menekankan bahwa teks justru membatasi kekuasaan pihak yang dominan. Keduanya menunjukkan bahwa teks harus dibaca secara historis, bukan langsung dijadikan legitimasi otoritarianisme modern. Demikian pula, “perang rohani” tidak boleh dipahami sebagai permusuhan terhadap manusia, kelompok sosial, atau tradisi keagamaan lain. Teks secara eksplisit menyatakan bahwa perjuangan adalah “melawan penguasa-penguasa kegelapan,” bukan melawan “darah dan daging” (6:12); tujuan praktisnya adalah berdiri teguh, mempertahankan Injil, dan berdoa dengan tekun. Efesus 6:1–20 disusun sebagai penutup yang koheren: ketaatan dan kasih dalam relasi rumah tangga adalah bentuk hidup yang terbentuk oleh Injil; perlengkapan rohani adalah realitas kosmik (perang batin) dan doa yang memungkinkan hidup itu tetap teguh. Perpindahan dari “taat dan kasih” ke “perlengkapan rohani” bukan putusnya argumen, melainkan pendalaman argumen: etika Kristen adalah partisipasi dalam kemenangan Allah yang sudah dicapai di dalam Kristus. Hubungannya bersifat teologis dan etis. Penulis tidak memisahkan “pertempuran rohani” dari karakter dan perilaku sehari-hari. Artinya, konflik rohani, konflik batin tampak juga dalam godaan untuk hidup dalam egoisme, kekerasan, ketidakadilan, kepahitan, dan penyalahgunaan kuasa. Sebaliknya, ketaatan yang benar, kasih, keadilan, dan pengendalian diri merupakan wujud nyata seseorang yang “berdiri” dalam kekuatan Allah. Perlengkapan tersebut sebagian besar bersifat defensif dan berorientasi pada ketekunan, kebenaran, iman, doa, serta kesaksian. Fokusnya bukan agresi terhadap manusia, melainkan keteguhan dalam hidup yang setia kepada Allah. Pergumulan umat percaya bukan terutama melawan manusia, melainkan melawan kuasa-kuasa rohani yang jahat, perang rohani, perang batin. Respons yang ditetapkan dalam Efesus 6:13–18 adalah berdiri teguh dengan kebenaran, keadilan, iman, keselamatan, firman Allah, dan doa, bukan kebencian atau kekerasan terhadap manusia. Jadi, kuasa kegelapan bukanlah kuasa yang setara dengan Allah. Melalui Yesus Kristus, orang percaya menerima pembebasan, terang, dan pengharapan. Karena itu, hendaknya kita hidup dalam iman, kebenaran, doa, dan ketaatan kepada firman Tuhan. Efesus 6:12 menegaskan bahwa pergumulan orang percaya bukan terutama melawan manusia, melainkan melawan kuasa-kuasa jahat yang bekerja dalam dunia rohani. Karena itu, orang percaya dipanggil untuk tidak membalas kejahatan dengan kebencian atau kekerasan, tetapi berdiri teguh dalam kekuatan Tuhan, karena musuhnya bukan manusia. - “Bukanlah melawan darah dan daging” — manusia bukan musuh utama, tapi sisi keinginan perlawanan atas kehendak Allah itu musuh utama.
- “Pemerintah-pemerintah” dan “penguasa-penguasa” — menunjuk pada kuasa rohani yang menentang kehendak Allah, dihadapi dalam perang batin.
- Ayat ini mengingatkan pentingnya hidup dalam iman, kebenaran, doa, dan ketergantungan kepada Tuhan, sebagaimana dilanjutkan dalam Efesus 6:13–18. Karena itu, Efesus 6:12 menggambarkan adanya realitas kuasa rohani yang jahat dan menentang maksud Allah. Namun, ayat ini tidak memberikan rincian mengenai nama, tingkatan, atau bentuk fisik roh-roh tersebut, menurut tradisi pada zaman tsb, penguasa kegelapan dan roh-roh di udara, memiliki hierarki (pemerintahan), dan bersemayam di tempat tinggi termasuk di langit dan di udara. Rincian yang pasti hanya bahwa mereka termasuk pihak yang menjadi lawan dalam pergumulan rohani.
(13102026)(TUS)