Ada sebuah pergeseran yang berbahaya terjadi dalam kekristenan saat ini. Esensi pemuridan dalam Lukas 9:23 tentang 'sangkal diri dan pikul salib' telah mengalami inversi atau pembalikan. Kita telah menukar beban salib Kristus dengan beban ego kita sendiri, sehingga tanpa sadar kita sedang 'memikul diri dan menyangkal salib'.
Dalam teks aslinya, aparneomai (menyangkal diri) berarti melepaskan hak kepemilikan atas hidup sendiri. Namun, di era "Narsisisme Suci" saat ini, fokus perhatian bergeser menjadi pemujaan terhadap identitas. Yang seharusnya menyangkal ego, banyak orang justru "memikul diri", membawa ambisi, harga diri, dan keinginan pribadi ke atas altar pelayanan.
Tuhan tidak lagi menjadi subyek yang diikuti, melainkan sarana untuk mengaktualisasikan diri. Memikul diri adalah beban yang melelahkan; ketika fokus kita pada performa dan pengakuan, kita sebenarnya sedang memikul beban narsisisme yang tidak pernah ada puasnya. Ini sangat kontras dengan janji Kristus tentang beban yang ringan.
Salib secara teologis adalah simbol ketaatan yang mematikan keinginan daging. Menyangkal salib berarti menolak aspek-aspek kekristenan yang mengandung ketidaknyamanan dan pengorbanan. Contohnya ada di fenomena dalam "Teologi Kemakmuran" yang memandang salib sebagai kegagalan dan hanya mengakui materi sebagai bukti kehadiran Tuhan.
Dietrich Bonhoeffer menyebutnya sebagai Cheap Grace (Anugerah yang Murah). Kita menginginkan pengampunan tanpa pertobatan dan keselamatan tanpa pemuridan. Menyangkal salib berarti kita menginginkan Kristus sebagai "Juruselamat" yang membebaskan kita dari neraka, namun menolak Dia sebagai "Tuhan" yang berdaulat mengatur hidup kita.
Ketika orientasi berubah menjadi Pikul Diri, Sangkal Salib, struktur iman mengalami kemerosotan dari Kristosentris (Kristus sebagai pusat) menjadi Antroposentris (Manusia sebagai pusat). Motivasi kita dalam mengiring Tuhan bukan lagi didasari oleh ketaatan dan kasih, melainkan oleh kenyamanan dan keuntungan pribadi.
Tujuan hidup beriman bukan lagi untuk kemuliaan Allah, melainkan demi kebahagiaan diri sendiri. Jika kekristenan tidak pernah membuat kita merasa "rugi" secara duniawi, mungkin kita tidak sedang memikul salib, melainkan hanya sedang memikul hobi relijius yang nyaman bagi ego kita.
Untuk membalikkan kembali paradigma ini membutuhkan keberanian untuk jujur. Kita harus berhenti memikul "berhala diri" yang berat dan mulai menyangkalnya. Kita harus berhenti melarikan diri dari salib dan mulai memeluknya sebagai jalan pengudusan.
Sebab, hanya melalui penyangkalan diri, kita menemukan jati diri yang sejati di dalam Tuhan. Dan hanya melalui pikul salib, kita benar-benar berjalan di jalan yang menuju pada kebangkitan yang sejati di dalam Kristus.