Rahasia Gelap Penulis Injil: Membongkar Tanda Tangan Gaib Intelijen Alkitab di Balik Misteri Buku Laris Tanpa Nama, dari Catatan Mantan Rentenir Sampai Insiden Terciduk Lari Telanjang.
Pernahkah terbayang bahwa keempat Injil yang menjadi jantung iman kita aslinya tidak mencantumkan nama penulis sama sekali?
Tulisan ini membongkar fakta sejarah mengapa teks suci umat sedunia ini dibiarkan anonim pada awalnya dan bagaimana Gereja pada akhirnya menempelkan nama mereka demi kepraktisan.
Melalui analisis jejak rekam, perintilan detail periferal yang nyeleneh, hingga prinsip kerendahan hati tingkat dewa, kita diajak menyelami cara Roh Kudus bekerja memanfaatkan kelucuan serta keunikan tabiat manusia untuk mengunci sejarah keselamatan.
Bayangkan kita beli novel best seller tapi di sampulnya kosong melompong nggak ada nama penulisnya sama sekali? Pasti rasanya kesel dan curiga. Lha ini malah terjadi di buku suci umat sedunia.
Fakta sejarah mencatat bahwa empat Injil kita itu aslinya anonim. Kosong. Nggak ada tulisan by Matius, Markus, Lukas, apalagi Yohanes di teks perkamen aslinya.
Terus nama2 itu muncul dari mana coba?
Ternyata judul dan nama itu baru ditempel sekitar tahun 120 sampai 130 Masehi oleh para Bapa Gereja.
Alasan mereka simpel banget yaitu buat kepraktisan saja. Biar lektor yang tugas baca waktu ibadat nggak bingung nyari gulungan mana yang harus dibacakan ke umat. Logis kan.
Tapi bentar, kalau naskah aslinya tanpa nama, jangan2 ini cuma karangan bebas orang iseng yang numpang tenar? Tenang dulu, justru di sinilah letak keseruannya.
Kenapa sih mereka sengaja nggak nulis nama. Dalam tradisi literatur sakral kuno ada prinsip sastra kerendahan hati tingkat dewa atau yang sering disebut modesty (sastra modesty).
Para penginjil ini sadar penuh bahwa tokoh utama mereka adalah Sang Anak Allah. Menuliskan nama sendiri di naskah itu ibarat jadi MC nikahan tapi malah dandan lebih heboh dari pengantinnya. Caper banget kan.
Makanya mereka milih minggir teratur ke belakang panggung biar panggung utamanya mutlak jadi milik Yesus Kristus.
Tapi dasar manusia, sehebat2nya menyembunyikan identitas pasti ada saja jejak yang tertinggal.
Ilmuwan Alkitab akhirnya menemukan semacam tanda tangan tersembunyi lewat detail periferal alias perintilan kecil yang nggak penting secara teologi tapi sukses mengunci identitas asli mereka.
Matius
Kita mulai dari si mantan rentenir alias pemungut cukai. Waktu menceritakan masa lalunya, penulis ini dengan legawa mempermalukan dirinya sendiri lewat anomali penamaan.
Injil lain dengan sopan memanggilnya Lewi, eh dia malah mencantumkan gelar yang paling dibenci masyarakat saat itu yaitu Matius si pemungut cukai (Mat 10:3).
Belum lagi urusan duit. Penulis ini pakai diksi finansial yang spesifik banget macam didrachma atau stater. Ini murni kebiasaan mantan pegawai pajak yang nggak bisa bohong (Mat 17:24).
Markus
Kalau yang ini malah lebih detil tapi kocak. Markus ini kan bertugas jadi juru ketik yang pakai kacamata Petrus secara langsung. Makanya dia berani ngasih kritik ekstrim ke Petrus.
Momen epik saat Petrus dipuji habis2an oleh Yesus malah disensor total (Mrk 8:29-30). Jelas Petrus sendiri yang nyuruh hapus adegan itu saking malunya.
Terus Markus ini suka masukin detail periferal yang super random (dari ingatan Petrus).
Bayangkan waktu badai, cuma dia yang ingat posisi bantal di buritan kapal tempat Yesus tidur (Mrk 4:38). Waktu mukjizat roti, dia ingat rumput yang hijau yang secara historis akurat banget menunjuk musim semi menjelang Paskah (Mrk 6:39).
Atau waktu Bartimeus si buta melempar jubahnya kegirangan (Mrk 10:50). Puncaknya waktu Yesus ditangkap di Getsemani, tiba2 ada sisipan cowok muda lari telanjang bulat gara2 bajunya ditarik prajurit (Mrk 14:51-52), cowok itu Markus.
Buat apa coba memasukkan kejadian absurd begini kalau bukan sang penulis sendiri yang lagi ninggalin jejak rahasia.
Lukas
Beda lagi kelakuan dokter dari Yunani ini yang mendedikasikan Injilnya dan Kisah Para Rasul khusus untuk pejabat bernama Teofilus (Luk 1:3). Detail medisnya sungguh ngeri dan lebih klinis.
Kalau orang awam melihat orang sakit demam, Lukas langsung mendiagnosisnya dengan istilah medis demam keras (Luk 4:38). Dia juga mendiagnosis kusta stadium lanjut dengan sangat akurat.
Bahkan cuma dia yang mencatat kondisi langka Yesus berkeringat titik2 darah di taman Getsemani (Luk 22:44).
Lukas juga mengejutkan lewat fenomena ayat kami di Kisah Para Rasul. Tiba2 saja narasi yang awalnya pakai kata ganti mereka berubah drastis jadi kami (Kis 16:10).
Artinya simpel banget, sang tabib akhirnya secara fisik gabung nongkrong di rombongan perjalanannya Paulus.
Yohanes
Saya lebih setuju kalau penulisnya sebuah komunitas, jejak nya keliatan dan saya pernah menuliskan. Tapi, baik kali kita memakai argumen yg klasik, anak nelayan galilea. Terakhir si anak nelayan dari Galilea. Ini bukti kuat banget. Dia hafal ketepatan topografi Yerusalem sebelum hancur tahun 70 Masehi. Mulai dari kolam Betesda, kolam Siloam, sampai Litostrotos atau Gabata tempat Pilatus mangkal (Yoh 19:13).
Pengetahuan adat istiadat Yahudinya juga sangat mendalam. Dia paham detail upacara hari raya Pondok Daun, ritual penyucian Yahudi, sampai aturan ketat hari Sabat dan persiapan Paskah.
Soal jejak periferal juga gila2an. Kalau tiga injil lain nyebut kejadian secara umum, Yohanes ini ingat waktu yang spesifik kayak jam sepuluh atau jam enam, hafal jumlah ikan tangkapan yang pas 153 ekor, sampai mencatat memori sensorik bau parfum narwastu yang memenuhi seluruh ruangan yang sama sekali nggak disinggung 3 injil lainnya (Yoh 12:3) yang membuktikan dia hadir di situ.
Terus gimana ceritanya nelayan udik, Yohanes, bisa punya akses VIP melenggang masuk ke pengadilan elit Kayafas. Usut punya usut ternyata keluarga Zebedeus ini adalah pemasok ikan asin berkualitas tinggi langganan para imam besar (Yoh 18:15-16). Relasi bisnis nih.
Dia juga punya gaya anonimitas terpola di mana dia nggak pernah nyebut nama anak2 Zebedeus secara individual.
Terus di sepanjang injilnya dia nggak pernah sekalipun repot2 nulis gelar Yohanes Pembaptis (Yoh 1:6). Dia cuma nulis Yohanes doang. Kenapa?
Lha ngapain dia ngasih gelar pembeda, wong di seluruh naskahnya dia sendiri milih menyembunyikan namanya dan pakai nama samaran murid yang dikasihi.
Karena nama aslinya sengaja nggak pernah dia tulis, otomatis pembaca nggak bakal ketukar antara dia dan si tukang baptis itu. Jenius kan.
Gereja Katolik dari dulu nggak pernah panik menghadapi bedah anatomi sejarah model begini.
Magisterium Gereja justru mengajarkan dengan sangat indah bahwa Allah memang berkenan memakai manusia seutuhnya beserta segala sifat dan kemampuannya untuk menuliskan kebenaran ilahi (Konstitusi Dogmatis Dei Verbum 11).
Pilar Tradisi Suci kita selalu menjaga kepingan sejarah ini agar tidak melenceng. Roh Kudus itu bukan bos galak yang mendikte kata per kata dari langit.
Dia mengilhami para penulis ini untuk merajut memori historis mereka menggunakan gaya yang sangat manusiawi.
Pada akhirnya iman kita itu bukan dongeng yang ngawang2 di awan. Iman kita napak kuat di atas sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan. Dari orang2 biasa yang punya masa lalu gelap, telanjang ketakutan, sampai yang punya jalur orang dalam, Tuhan merajut mahakarya keselamatan yang abadi.