PENGANTAR
Memahami Injil, harus ngerti latar belakang penulisan, terkadang memang seiring perkembangan zaman ilmu tafsir Alkitab pun berkembang. Tafsir-tafsir lama Alkitab sekarang sering dikritisi dg ditemukannya hal-hal baru perkara tafsir Alkitab. Ditambah, ada sinyalir tafsir - tafsir lama Alkitab sarat dengan kepentingan bangsa Eropa maupun America. Eropa maupun America memandang salib dari atas ke bawah, layaknya negara penjajah, Kristus disalib Allah berinisiatif, Allah yg lebih kuat menolong manusia yang lebih lemah, tafsir pun diarahkan, sebagai bangsa yg berinisiatif akan menolong saudaranya di Asia, tapi praktiknya penjajahan di asia, kemudian dalam politik penjajahan tafsir-tafsir lama itu menjadi penuh kepentingan bangsa Eropa dan America, sehingga bisa dilihat tidak ada agama yg di bawa penjajah, menjadi agama mayoritas bagi bangsa yg dijajah. Asia memandang salib dari bawah ke atas, layaknya bangsa dijajah, Kristus disalib Allah yang membersamai bangsa tertindas, salib adalah keterpihakan Allah pada bangsa yang ditindas, Asia kini berkembang dengan tafsir - tafsir sarat dengan pengetahuan baru, sarat konteks pada zamannya penulisan, walaupun obyeknya lama, Alkitab. Mari kita bicara dengan injil Yohanes,
PEMAHAMAN
Judul di atas tidak salah tulis. Politik, bukan teologi. Kitab Injil Yohanes ditulis oleh seorang panutan di dalam Komunitas Yohanes. Saya pada posisi petulis Injil Yohanes bukan Rasul Yohanes. Kitab Injil Yohanes terbentuk tidak sekali jadi. Secara garis besar Injil Yohanes yang “asli” tidak ada pasal 15-17 dan 21. Keempat pasal itu ditambahkan kemudian sesudah petulis aslinya mati. Tentu masih ada tempelan lain bersifat minor, seperti Yohanes 4:2. Komunitas Yohanes merupakan kelompok mistik yang anti-bait, anti-sinagoge, karena diusir oleh orang-orang Yahudi. Bukan hanya diusir, mereka dikucilkan dan dicap bidat, karena pro-Yesus 𝘥𝘰𝘢𝘯𝘨. Pengusiran Komunitas Yohanes dari Bait Allah dan sinagoge dicurigai diprovokasi oleh jemaat Petrus/Yakobus yang mayoritas di Yerusalem (bdk. Yoh 9:22). Petrus dikenal sangat yudaik. Paulus saja mengecam Petrus sebagai orang munafik. [Argumen pembelaan Petrus berbasis Kisah Para Rasul tidak gayut dengan kerangka historis tulisan ini. Itu sebabnya Petrus dalam Injil Yohanes bukan murid pertama dan utama. Murid pertama Yesus adalah Andreas. Murid yang dikasihi Yesus adalah sosok misterius, yang kemudian didaku oleh petulis berikutnya sebagai petulis asli Injil Yohanes. Tak hanya itu petulis pertama Injil Yohanes juga mematikan karakter Yohanes Pembaptis (YP). YP tidak membaptis Yesus, tidak menyiapkan “infrastruktur” bagi Yesus seperti dalam Injil sinoptik. YP saksi 𝘥𝘰𝘢𝘯𝘨. Dalam pada itu umat Kristen perdana mayoritas di Yerusalem adalah binaan Petrus dan Yakobus. Petrus adalah bos, batu karang yang teguh, pemegang kunci surga. “𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘒𝘰𝘮𝘶𝘯𝘪𝘵𝘢𝘴 𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴? 𝘔𝘶𝘳𝘪𝘥 𝘧𝘢𝘷𝘰𝘳𝘪𝘵? 𝘕𝘨𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨!” begitu kira-kira ejek jemaat Petrus. Petulis pertama Injil Yohanes diduga adalah guru spiritual Komunitas Yohanes yang sangat terpelajar. Ia tampaknya mengandaikan dirinya sebagai murid ideal Kristus dan menempatkan diri sebagai murid yang dikasihi Yesus. Murid yang dikasihi Yesus ini diperikan selalu lebih unggul daripada Petrus. Komunitas Yohanes dikampanyekan lebih unggul ketimbang Tim Petrus.
Petulis Yohanes sengaja bikin kompetisi:
▶️ Yohanes 13:23-24: Murid dikasihi rebahan di sebelah Yesus, Petrus harus 𝘯𝘪𝘵𝘪𝘱 𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢.
▶️ Yohanes 18:15-16: Murid lain kenal Imam Besar, Petrus ditolak satpam.
▶️ Yohanes 20:4: Murid dikasihi lari lebih kencang ke kubur.
▶️ Yohanes 20:8: Murid dikasihi lihat langsung percaya, Petrus 𝘣𝘦𝘯𝘨𝘰𝘯𝘨.
Jadi, tanpa pasal 15, 16, 17, dan 21 Injil Yohanes sebenarnya hanya untuk kalangan sendiri, kelompok mistik yang dikenal dengan Komunitas Yohanes. Begitu guru spiritual mereka mati, para pengikutnya kehilangan pemimpin. Limbung. Mereka harus banting stir, harus berdamai dengan warga jemaat Petrus yang jauh lebih banyak. Masuklah tiga pasal sekaligus (psl. 15-17) di tengah tubuh Injil Yohanes. Jejaknya dapat dibaca pada akhir Yohanes 14:31 “𝘉𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯𝘭𝘢𝘩, 𝘮𝘢𝘳𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪.” Ayat ini seharusnya langsung bersambung ke Yohanes 18:1 𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘭𝘢𝘩 𝘐𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘕𝘺𝘢 ...
Tujuan penyisipan tiga pasal itu untuk menyambungkan mistik Komunitas Yohanes ke etika Gereja Am atau universal.
▶️ Pasal 15 “𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘩𝘢𝘣𝘢𝘵-𝘒𝘶 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩-𝘒𝘶"
Pesan politik: Kami 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 anti-hukum, cuma anti-sinagoge.
▶️ Pasal 16 "𝘙𝘰𝘩 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘴𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢"
Pesan politik: Kami punya Roh Kudus juga, bukan cuma Petrus.
▶️ Pasal 17 “𝘚𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘵𝘶"
Pesan politik: Bro, kita damai ya? Jangan usir kami terus.
Dengan penambahan pasal 15-17 Komunitas Yohanes hendak mengatakan kepada Tim Petrus, "𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘮 𝘬𝘰𝘬, 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘣𝘦𝘥𝘢 𝘨𝘢𝘺𝘢."
Pasal 21 adalah tempelan paling jelas. Dalam Yohanes 20:30-31 sudah ditutup dengan sempurna: 𝘔𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 ... 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘤𝘢𝘵𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘪𝘯𝘪 ...
Yohanes 21:1 𝘒𝘦𝘮𝘶𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪 ... 𝘓𝘩𝘰 𝘬𝘰𝘬 ada lagi?
Pasal 21 berisi:
▶️ Petrus disuruh "𝘎𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢-𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢-𝘒𝘶" 3x (ay. 15-17)
Pesan politik: "𝘕𝘦𝘦𝘦𝘩, 𝘒𝘰𝘮𝘶𝘯𝘪𝘵𝘢𝘴 𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘪 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘰𝘴, 𝘺𝘢."
▶️ Murid dikasihi vs. Petrus dibandingkan (ay. 20-23)
Pesan politik: "𝘔𝘶𝘳𝘪𝘥 𝘥𝘪𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘴𝘱𝘦𝘴𝘪𝘢𝘭, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘴𝘺𝘢𝘩𝘪𝘥."
▶️ 𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘬𝘴𝘪𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 (ay. 24)
Pesan politik: "𝘜𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘩, 𝘢𝘬𝘶𝘪 𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘰𝘮𝘶𝘯𝘪𝘵𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘮𝘪. 𝘒𝘢𝘮𝘪 ‘𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘩. 𝘗𝘰𝘬𝘮𝘦𝘯 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴 𝘯𝘰𝘮𝘰𝘳 1."
Jadi 𝘨𝘪𝘵𝘶 ceritanya. Komunitas Yohanes yang awalnya paling 𝘯𝘨e𝘺e𝘭, anti-𝘮𝘢𝘪𝘯𝘴𝘵𝘳𝘦𝘢𝘮, ujung-ujugnya 𝘮𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳 juga dengan Tim Petrus. 𝗣𝗼𝗹𝗶𝘁𝗶𝗸 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝟭𝟬𝟭: 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘩𝘪𝘯, 𝘢𝘫𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘮𝘢𝘪. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘮𝘢𝘪, 𝘣𝘪𝘬𝘪𝘯 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘭 𝘵𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯. Sekian kuliah politik Injil Yohanes hari ini. Kalau ada yang tersinggung, berarti membaca sampai habis. Di pengantar, kita sudah berkuliah Politik Gereja 101. Isinya Komunitas Yohanes yang 𝘯𝘨e𝘺e𝘭, 𝘮𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳 dengan Tim Petrus, lalu menambah pasal 15, 16, 17, dan pamungkasnya pasal 21 agar akur. Wajar kalau ada yang berkomentar, "𝘓𝘩𝘰, 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘐𝘯𝘫𝘪𝘭 𝘪𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘭𝘰𝘣𝘪-𝘭𝘰𝘣𝘪? 𝘛𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢? 𝘈𝘱𝘢 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘰𝘯𝘵𝘰𝘯?" Pertanyaan bagus. Pertanyaan itu juga yang bikin banyak orang cabut dari gereja.
Masalahnya begini:
Kita acap mengira Allah cuma 𝘯𝘨𝘰𝘮𝘰𝘯𝘨 lewat mimbar Minggu, menggunakan bahasa teologi, disahkan oleh sinode. Titik. Kalau ada ribut-ribut dalam rapat majelis jemaat, itu urusan manusia. Kalau ada revisi tata gereja, itu politik. Kalau ada kubu-kubuan di grup WA, itu dosa. Padahal Komunitas Yohanes mengajarkan kebalikannya.
Allah 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 alergi konflik. Malah sering Dia bekerja justru pas lagi rusuh.
Coba lihat polanya:
▶️ Komunitas Yohanes dikucilkan sinagoge. Lahirlah Injil Yohanes yang isinya Yesus sebagai 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯, 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱. Pewahyuan lahir dari penolakan.
▶️ Guru mereka mati, jemaat limbung. Ditambahlah pasal 15-17 soal kasih dan kesatuan. Etika lahir dari krisis kepemimpinan.
▶️ Harus damai dengan Gereja lain sesama anggota tubuh Kristus. Muncul pasal 21 yang mengakui Petrus gembala. Rekonsiliasi menjadi bagian dari kanon.
Artinya apa? Meja perundingan bisa menjadi meja perjamuan. Ruang rapat bisa menjadi ruang pewahyuan. Syaratnya satu: yang dicari itu Kristus, bukan menang argumen.
Nah ini yang mau saya sampaikan untuk kita yang hidup 2000 tahun kemudian: Allah 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 bisa dan 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 boleh dikurung dogma.
Dogma itu penting. Kayak rambu lalu lintas. Biar kita tidak 𝘯𝘢𝘣𝘳𝘢𝘬-𝘯𝘢𝘣𝘳𝘢𝘬. Namun, kalau Allah mau 𝘯𝘺𝘦𝘭𝘢𝘮𝘦𝘵𝘪𝘯 orang lewat jalan tikus, Dia tidak akan nunggu lampu hijau dari sinode dulu.
Allah bisa berfirman lewat khotbah yang rapi. Bisa juga lewat keputusan sinode yang alotnya minta ampun. Bisa juga lewat orang yang dicap liberal dan 𝘯𝘨e𝘺e𝘭𝘢𝘯.
Pertanyaannya bukan "𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘯𝘨𝘰𝘮𝘰𝘯𝘨 𝘢𝘱𝘢 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬?”, tetapi “𝘒𝘶𝘱𝘪𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘢𝘱𝘢 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬?"
Jadi, kalau hari ini anda melihat gereja ribut soal rokok boleh atau tidak, musik liturgi, pendeta mengangkat kroninya menjadi pendeta dengan melanggar tata gereja, pendeta menyerahkan karya pada circle yg non majelis dan majelis mung plonga-plongo diem saja, jangan buru-buru angkat kaki sambil bilang, "𝘎𝘦𝘳𝘦𝘫𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢𝘸𝘪 ". Sangat boleh jadi Allah sedang menulis "pasal 21 baru” lewat keributan itu. Mungkin 50 tahun lagi cucu kita membaca sejarah gereja 2026 dan berujar, "𝘖𝘩, 𝘙𝘰𝘩 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴 𝘳𝘶𝘱𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘣𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘩𝘢? Lewat keributan itu?"
Tugas kita bukan menjadi satpam dogma yang galak. Tugas kita menjadi murid yang dikasihi: rebahan dekat Yesus, mendengarkan Dia, terus bertanya, "𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥-𝘔𝘶 𝘢𝘱𝘢 𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘳𝘢𝘮𝘦 𝘪𝘯𝘪?" Bagaimana menurut anda? Pernah lihat sejarah Gereja berbelok arah lebih positif justru lewat keributan yang awalnya dikira musibah? Makanya, tiap ada konflik yg mengakibatkan percabangan, saya selalu bilang mekar bukan pecah, yg berpikir kalau persatuan itu harus menyatu dan jadi satu bahkan hanya satu, mungkin harus baca Alkitab lebih dalam.
(19042026)(TUS)
𝘔𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘳𝘪𝘵𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘳𝘢𝘯𝘴𝘧𝘦r .... Wk .... Wk