APAKAH ORANG GILA MENDAPAT BAGIAN DALAM KERAJAAN SURGA PADA HARI KEBANGKITAN?
Teologi tubuh memperlihat bahwa Yesus naik ke surga dengan tubuh yang tak sempurna, yang cacat dan terkutuk dalam pemahaman Yahudi. Tubuh yang oleh siksa salib menjadi cacat dan terkutuk ternyata diterima surga. Sekarang di dalam surga ada tubuh yang tidak sempurna. Allah menerima ketidak sempurnaan manusia untuk bersama-sama diri Nya. Hancurlah konsep zaman bahwa berada bersama Allah, terhubung dengan Allah atau masuk surga haruslah sempurna. Alkitab itu memang radikal.
Ini adalah pertanyaan yang sering muncul ketika kita melihat seseorang yang dahulu hidup dalam iman, mengasihi Tuhan, dan setia beribadah, tetapi kemudian mengalami gangguan jiwa yang berat hingga kehilangan kemampuan berpikir dan bertindak secara normal.
Saya ingin menyampaikan sebuah refleksi yang mungkin dapat menghibur sebagian orang. Jika keselamatan benar-benar adalah anugerah Allah, maka keselamatan tidak bergantung pada kemampuan intelektual manusia untuk mempertahankannya.
Sering kali kita tanpa sadar berpikir seolah-olah keselamatan bergantung pada kuatnya ingatan, kejernihan pikiran, atau kemampuan seseorang untuk terus mengucapkan pengakuan iman sampai akhir hidupnya. Namun jika demikian, bukankah keselamatan pada akhirnya bergantung pada kekuatan manusia?
Alkitab justru mengajarkan bahwa keselamatan berasal dari Allah. Tuhanlah yang memanggil, Tuhanlah yang menyelamatkan, dan Tuhan pula yang sanggup memelihara umat-Nya.
Karena itu, ketika seseorang mengalami kecacatan intelektual, demensia, gangguan jiwa berat, atau kondisi lain yang membuat kemampuan berpikirnya rusak, kita perlu berhati-hati untuk tidak menyimpulkan bahwa kasih karunia Tuhan ikut hilang bersama rusaknya fungsi pikirannya.
Jika seseorang dapat kehilangan keselamatan hanya karena otaknya mengalami kerusakan, maka keselamatan ternyata lebih rapuh daripada yang kita bayangkan.
Namun pengharapan orang percaya justru terletak pada kedaulatan dan kesetiaan Allah.
Tuhan tidak menyelamatkan seseorang karena kecerdasan intelektualnya. Tuhan juga tidak memelihara keselamatan seseorang karena kekuatan memorinya. Ia menyelamatkan karena kasih karunia-Nya.
Ketika seorang percaya jatuh sakit dan kehilangan kemampuan berpikir secara normal, mungkin ia tidak lagi mampu mengingat banyak ayat. Mungkin ia tidak lagi mampu berdoa seperti dahulu. Bahkan mungkin ia tidak lagi mengenali orang-orang di sekitarnya. Namun bukan berarti Tuhan berhenti mengenal dirinya.
Ketika ia tidak mampu lagi memegang Tuhan dengan kuat, Tuhan tetap mampu memegangnya dengan kuat.
Di sinilah indahnya doktrin anugerah dan kedaulatan Allah. Jika Tuhan berkenan menyelamatkan seseorang, maka tidak ada penyakit, tidak ada gangguan mental, tidak ada kerusakan saraf, bahkan tidak ada kecacatan intelektual yang mampu menggagalkan rencana-Nya.
Bukan berarti kondisi rohani seseorang tidak penting. Bukan berarti kehidupan iman boleh diabaikan. Namun keselamatan orang percaya pada akhirnya bertumpu pada kesetiaan Tuhan yang memegang umat-Nya, bukan semata-mata pada kemampuan umat-Nya untuk terus memegang Tuhan.
Karena itu, ketika melihat seorang yang dahulu mengasihi Tuhan tetapi kemudian kehilangan kewarasan akibat penyakit atau gangguan jiwa, jangan terburu-buru menghakimi keadaan kekalnya. Serahkanlah dia kepada Tuhan yang mengenal seluruh perjalanan hidupnya.
Hakim seluruh bumi tidak akan berbuat salah. Dan kasih karunia Tuhan tidak dapat dikalahkan oleh kelemahan manusia.
"Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku." (Yohanes 10:27-28)
#AtengJabar
#Oranggila
#anugerah
#keselamatan