Sudut Pandang Berita Anugerah Amanat Hidup Baru, 𝗔𝗷𝗮𝗿𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗴𝗮𝗻𝘁𝘂𝗻𝗴
PENGANTAR
Dalam praktik ibadah Gereja Protestan Reformir ada beberapa hal yang sudah dianggap biasa, tetapi sebenarnya lahir dari kekeliruan dalam memahami liturgi. Seri 𝘒𝘦𝘭𝘪𝘳𝘶 𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪 mencoba meninjau kembali praktik-praktik tersebut secara lebih jernih. Pada penggunaan liturgi Leksionari sebetulnya tumpuan pada bacaan sabda membuat format liturgi Calvinist tentang hukum kasih, berita anugerah dan amanat hidup baru tidak diperlukan lagi karena sudah terangkum dalam bacaan sabda. Tapi ya memang karena peralihan maka liturgi Leksionari sebuah gereja protestan Reformir terkadang masih menyelipkan hukum kasih, berita anugerah dan amanat hidup baru atau salah satu bahkan salah duanya. Pada dua dasawarsa 1990-an sampai 2000-an Gereja Protestan Reformasi di Indonesia disusupi ajaran fundamentalisme. Cukup banyak warga pindah menjadi anggota gereja fundamentalis. Dari penelitian “kecil-kecilan” saya satu dari beberapa faktor kuat perpindahan itu karena Gereja itu, yang mendaku paling Calvinis, memberi kepastian keselamatan. Pengajaran Gereja Protestan Reformasi dipandang menggantung, tidak memberi kepastian keselamatan. Tentu saja pendeta-pendeta muda Gereja Protestan Reformasi tidak mengalami kemelut ini. Bahkan saya melihat sendiri seorang pendeta muda memuja pendeta fundamentalis itu. Anggapan pengajaran Gereja Protestan Reformasi menggantung, tidak memberi kepastian keselamatan, adalah 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵. Jejaknya sampai sekarang masih terlihat. Ini dapat dilihat bagaimana 𝗽𝗲𝗻𝗱𝗲𝘁𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗲𝗿𝘁𝗶 𝗳𝘂𝗻𝗴𝘀𝗶 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶𝘀 𝗕𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮 𝗔𝗻𝘂𝗴𝗲𝗿𝗮𝗵.
PEMAHAMAN
Berita Anugerah mengumumkan apa yang sudah berlaku. Dalam liturgi Calvinis:
1️⃣ Pengakuan dosa
2️⃣ Berita Anugerah
3️⃣ Tanggapan syukur
Oleh karena itu Berita Anugerah bersifat deklaratif:
"𝘋𝘰𝘴𝘢-𝘥𝘰𝘴𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪."
"𝘒𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘬𝘢𝘳𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯."
"𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪."
Fungsinya 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 janji masa depan, melainkan pengumuman status yang 𝘀𝗲𝗸𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗹𝗮𝗸𝘂.
Sekarang kita lihat 𝗕𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮 𝗔𝗻𝘂𝗴𝗲𝗿𝗮𝗵 di salah satu Gereja Protestan Reformasi yang diambil dari Yesaya 41:8-10, 13, pada Minggu 14 Juni 2026.
Yesaya 41 sebenarnya dirajai dengan janji. Perhatikan struktur kalimatnya.
Bagian yang sudah terjadi:
"𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘒𝘶𝘱𝘪𝘭𝘪𝘩"
"𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘒𝘶𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭"
"𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘒𝘶𝘱𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭"
Ini bagus.
Namun, inti penghiburannya justru:
"𝘈𝘬𝘶 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘨𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯"
"𝘈𝘬𝘶 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨"
Ini bentuk 𝙛𝙪𝙩𝙪𝙧𝙪𝙢. Artinya Tuhan sedang menjanjikan tindakan 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗮𝘁𝗮𝗻𝗴. Secara sastra nubuat tidak ada masalah. Namun, secara fungsi liturgis 𝗕𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮 𝗔𝗻𝘂𝗴𝗲𝗿𝗮𝗵 muncul pertanyaan:
Setelah saya mengaku dosa, anugerah apa yang sedang diumumkan kepada saya sekarang?
Yang diumumkan justru: nanti Aku akan menolongmu. Itu adalah janji penyertaan, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗲𝗸𝗹𝗮𝗿𝗮𝘀𝗶 𝗽𝗲𝗻𝗴𝗮𝗺𝗽𝘂𝗻𝗮𝗻.
Fokus teks Yesaya 41 sendiri bukan dosa. Ini pemilihan yang 𝗸𝗼𝗻𝘆𝗼𝗹.
Lihat kata-kata kuncinya:
▶️ jangan takut
▶️ jangan bimbang
▶️ Aku menyertai engkau
▶️ Aku menolong engkau
Persoalan yang sedang dijawab teks ini bukan dosa, tetapi:
▶️ ketakutan
▶️ kecemasan
▶️ ancaman pembuangan
▶️ kelemahan umat
Pokok pikiran teks itu adalah takut dan solusinya adalah Tuhan menyertai. Sama sekali tidak berpautan dengan dosa dan pengampunan.
Inti 𝗕𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮 𝗔𝗻𝘂𝗴𝗲𝗿𝗮𝗵 dalam tradisi Calvinis adalah kepastian Injil:
▶️ dosamu diampuni,
▶️ Allah menerima engkau,
▶️ Kristus mendamaikan umat-Nya.
Bukan: “𝗷𝗶𝗸𝗮 ...” atau: “nanti 𝗮𝗸𝗮𝗻 ...”
Saya melihat pola ini berulang hampir tiap Minggu pada bbrp gereja protestan Reformir. Jika identitas Gereja Protestan Reformasi itu memang Calvinis/Reformed, maka liturginya seharusnya menjaga dengan serius satu warisan utama Reformasi: anugerah yang diberitakan sebagai kepastian, bukan sebagai kemungkinan atau harapan yang masih menunggu realisasi. Liturgi bekerja secara senyap dan berulang-ulang. Jemaat belajar teologi bukan terutama dari ruang kuliah, melainkan dari ritus yang mereka dengar dan hidupi setiap kebaktian. Apabila pendeta mengisi anasir liturgi tanpa memerhatikan fungsi teologis adn liturgisnya, umat secara perlahan juga belajar teologi yang kabur. Pada aras itu persoalannya bukan sekadar salah memilih ayat. Persoalannya adalah kehilangan kepastian Injil dari tempat yang justru dirancang untuk mengumumkannya. Setelah pengakuan dosa jemaat tidak membutuhkan janji bahwa suatu hari Tuhan akan menolong mereka. Jemaat membutuhkan pemberitaan bahwa Allah sudah menerima mereka di dalam Kristus. Barangkali di sinilah satu jejak mengapa selama puluhan tahun sebagian warga Gereja Protestan Reformasi merasa pengajaran gereja menggantung. Ketika 𝗕𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮 𝗔𝗻𝘂𝗴𝗲𝗿𝗮𝗵 tidak lagi terdengar sebagai deklarasi keselamatan yang pasti, umat akan mencarinya di tempat lain. Ironisnya, yang dicari itu sesungguhnya adalah harta yang sejak awal dimiliki tradisi Calvinis/Reformed sendiri yang menjadi identitas Gereja Protestan Reformasi. Tempo hari saya mengatakan bahwa rata-rata pejabat gerejawi Gereja Protestan Reformasi itu tidak tahu dan tidak paham identitas Gereja nya sendiri. Yang saya sebut dengan pejabat gerejawi di sini (sesuai dengan Tager Talak gereja protestan Reformir pada umumnya) adalah pendeta dan penatua ada juga yg diaken dimasukan. Untuk sekian kalinya saya menyampaikan bukti bahwa mereka memang tidak paham identitas Gereja nya. Satu bagian sangat penting dalam liturgi Calvinis/𝘙𝘦𝘧𝘰𝘳𝘮𝘦𝘥 (BUKAN reformed-injili!) adalah 𝗕𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮 𝗔𝗻𝘂𝗴𝗲𝗿𝗮𝗵. Sesudah jemaat mengaku dosa, Gereja tidak membiarkan umat menggantung dalam kecemasan spiritual. Gereja memberitakan deklarasi Injil yang bersifat sekarang (𝘱𝘳𝘦𝘴𝘦𝘯𝘵 𝘪𝘯𝘥𝘪𝘤𝘢𝘵𝘪𝘷𝘦): Allah mengampuni umat-Nya di dalam Kristus.
Oleh karena itu secara fungsi liturgis 𝗕𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮 𝗔𝗻𝘂𝗴𝗲𝗿𝗮𝗵 tidak bergerak dalam wilayah:
▶️ janji yang masih menggantung,
▶️ proses yang belum tuntas, atau
▶️ kondisi yang masih bersyarat.
𝗕𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮 𝗔𝗻𝘂𝗴𝗲𝗿𝗮𝗵 adalah pewartaan kepastian Injil.
Namun, dalam beberapa praktik liturgi teks yang dipakai justru tidak selalu berbentuk deklaratif present, tetapi narasi janji covenantal yang futuristis.
Contoh teks Ibrani 8:10, 12 yang diambil untuk 𝗕𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮 𝗔𝗻𝘂𝗴𝗲𝗿𝗮𝗵 dalam kebaktian Minggu, 14 Juni 2026, di Gereja Protestan Reformasi tertentu:
“𝗔𝗸𝘂 𝗮𝗸𝗮𝗻 menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka…”
“𝗔𝗸𝘂 𝗮𝗸𝗮𝗻 menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka.”
Secara teologis ini adalah teks yang agung tentang perjanjian baru dalam Kristus. Namun, secara bentuk ujaran teks ini tetap berada dalam cakrawala 𝗮𝗸𝗮𝗻 (𝘧𝘶𝘵𝘶𝘳𝘦 𝘵𝘦𝘯𝘴𝘦), bukan 𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙙𝙞𝙜𝙚𝙣𝙖𝙥𝙞 𝙙𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙖𝙢𝙥𝙪𝙣𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖𝙢𝙪. Pada aras ini terbit persoalan liturgis yang serius: 𝗕𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮 𝗔𝗻𝘂𝗴𝗲𝗿𝗮𝗵 dalam ibadah seharusnya berfungsi sebagai deklarasi pengampunan yang aktual, bukan pembacaan janji yang masih bergerak ke depan. Jika setelah pengakuan dosa jemaat kembali ditempatkan dalam bentangan “𝗔𝗸𝘂 𝗮𝗸𝗮𝗻 …”, maka fungsi 𝗕𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮 𝗔𝗻𝘂𝗴𝗲𝗿𝗮𝗵 bergeser dari deklarasi Injil menjadi refleksi janji eskatologis. Padahal inti liturgisnya adalah kepastian, bukan keterbukaan kemungkinan. Ini bukan soal estetika teks, tetapi soal fungsi liturgis dalam ibadah: apakah jemaat sedang 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮 𝗽𝗲𝗻𝗴𝗮𝗺𝗽𝘂𝗻𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗻𝘆𝗮𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻, atau sekadar mendengar janji pengampunan yang masih dibingkai sebagai masa depan. LDalam kerangka Calvinis/Reformed klasik, perbedaan ini bukan kecil, karena menyentuh cara Injil diberitakan dalam ibadah mingguan. Ini bukan soal cerewet liturgis kecil-kecilan. Ini menyentuh 𝗶𝗱𝗲𝗻𝘁𝗶𝘁𝗮𝘀 sendiri. Tradisi Calvinis sejak awal sangat serius membedakan:
▶️ Hukum dan Injil,
▶️ pengakuan dosa dan berita pengampunan, dan
▶️ kecemasan manusia dan kepastian anugerah Allah.
Oleh karena itu sesudah pengakuan dosa, Gereja Calvinis 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 memberi jemaat kalimat yang menggantung. Gereja memberitakan Injil secara objektif dan tegas.
Ironisnya, justru di banyak liturgi GKI sekarang 𝗕𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮 𝗔𝗻𝘂𝗴𝗲𝗿𝗮𝗵 perlahan berubah menjadi:
▶️ renungan moral,
▶️ motivasi rohani,
▶️ penghiburan umum,
▶️ bahkan kadang terdengar seperti syarat rohani.
Akibatnya jemaat tidak lagi mendengar ledakan Injil, tetapi kalimat-kalimat religius yang aman tetapi kabur.
Saya melihat pola ini berulang hampir tiap Minggu di bbrp gereja Protestan Reformasi. Kalau identitas nya memang Calvinis/𝘙𝘦𝘧𝘰𝘳𝘮𝘦𝘥, maka liturginya seharusnya menjaga dengan serius satu pilar Reformasi: 𝗮𝗻𝘂𝗴𝗲𝗿𝗮𝗵 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗯𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻, bukan anugerah yang masih dibuat menggantung.
(20062026)