Sudut Pandang Pengelolaan Progam Kerja Gereja
PENGANTAR
DALAM SEBUAH diskusi kecil sy bbrp kali menyuarakan betapa "enaknya" garap program Gereja. Bisa pakai uang "seenaknya" tanpa mempertanggungjawabkan output dan impaknya, apalagi transparansi keuangan kegiatan, yang berpenting berlangsung saja dan laporan keuangan dianggap beres.
Meski mengklaim diri "lebih baik daripada dunia" namun realitanya seringkali "dunia" lebih baik dari Gereja. "Dunia" lebih punya tata kelola dan sistem evaluasi yang baim dan terukur.
Dua catatan penting yang sering saya utarakan adalah:
1. Dari sisi dasar pijak program seringkali tidak didukung data yang memadai. Akibatnya lebih banyak program dijalankan krn kebiasaan/rutinitas, selera pemangku pelayanan, spontanitas dan tak kalah bahayanya apabila didasarkan pada trend.
2. Dari sisi evaluasi, saya belum menemukan sebuah sistem evaluasi yang memadai untuk melihat efisiensi dan efektivitas program, padahal pada gilirannya hasil evaluasi ini akan menjadi dasar pijak program selanjutnya.
Nah,
Salah satu dampak buruknya, program hanya berkesan hambur-hambur uang saja, tanpa akuntabilitas yang valid.
Bahkan dalam sebuah konteks khusus, uang jemaat banyak dihamburkan untuk kemewahan progam kerja karya bergereja. Baru-baru, dalam kondisi ekonomi yang sedang "meriang" ini, sebuah sinode sedang mempersiapkan sebuah sidang raya di hotel mewah dan berbagai fasilitas mewahnya. Sebuah sikap yang kurang menunjukkan empati dan keteladanan bagi jemaat dan sekaligus pengingkaran thd doktrin yang diajarkan. Tapi apalah saya, saya hanyalah rengginang di pojokan kaleng kongguan yang tutupnya sudah mulai neyeng ..... Wk ... Wk
PEMAHAMAN
Setiap gereja membutuhkan program kerja ..... bahkan ada yg mereka rencana strategis gereja. Melalui program kerja, gereja dapat membangun persekutuan, melakukan pemuridan (keteladanan Kristus), menjangkau masyarakat kekurangan, dan melayani berbagai kebutuhan jemaat kekurangan. Karena itu, masalahnya bukan pada ada atau tidak adanya program kerja. Namun yang perlu direnungkan adalah: apakah semua program yang dibuat benar-benar mendukung misi gereja? Tidak sedikit gereja yang menghabiskan banyak tenaga, waktu, dan dana untuk berbagai kegiatan. Kalender penuh tapi bukan kalender liturgi, kalender liturgi boleh digeser kiri kana atas bawah tapi kalau kalender progam kerja geser sedikit nyawa taruhannya ..... Wk ...... Wk ...... Wk. Acara silih berganti. Panitia bekerja keras. Anggaran terus dikeluarkan. Tetapi setelah semuanya selesai, muncul pertanyaan yang penting: apa dampaknya? Apakah jemaat semakin bertumbuh? Makin meneladan Kristus?
Apakah lebih banyak jiwa dijangkau dalam keteladanan Kristus?
Apakah karya bergereja menjadi lebih efektif?
Apakah masyarakat sekitar merasakan kehadiran gereja? Apakah masyarakat dan umat kekurangan terbantu? Ataukah program kerja tersebut hanya menjadi rutinitas yang terus diulang karena "memang dari dulu begitu"? Terkadang gereja bisa terjebak dalam kesibukan yang tidak menghasilkan banyak buah. Dana terus dikeluarkan, tetapi manfaatnya sangat sedikit, drpd begitu lebih baik hidup bergereja sederhana, mengelola dana masuk dg baik sesedikit apapun itu. Energi terkuras, tetapi tujuan utama gereja semakin kabur. Tentu tidak semua hasil pelayanan dapat diukur dengan angka. Ada banyak pelayanan yang dampaknya baru terlihat dalam jangka panjang. Namun bukan berarti gereja tidak perlu mengevaluasi penggunaan sumber daya yang Tuhan percayakan. Evaluasi bertumpu pada kemampuan mendengar bukan antikritik. Uang gereja bukanlah milik pejabat gerejawi, komisi atau panitia. Itu adalah berkat yang dipercayakan Tuhan melalui jemaat untuk mendukung pekerjaan-Nya. Karena itu, setiap rupiah seharusnya digunakan dengan penuh tanggung jawab, hikmat, dan pertimbangan yang matang.
Sebuah program kerja mungkin meriah, tetapi belum tentu bermanfaat. Sebuah kegiatan mungkin ramai, banyak yg datang tetapi belum tentu menghasilkan pertumbuhan rohani, makanya jangan mengukur semua dari berapa banyak yg datang. Sebuah acara mungkin menghabiskan anggaran besar, tetapi belum tentu mendukung misi gereja, belum tentu bertanggung jawab atas keteladanan Kristus. Karena itu, gereja perlu berani mengevaluasi dirinya. Bukan sekadar bertanya, "Apakah program kerja ini berhasil dilaksanakan?" tetapi juga, "Apakah program kerja ini sungguh diperlukan? Apakah program kerja ini membawa jemaat semakin dekat kepada Tuhan? Membawa umat makin meneladan Kristus? Apakah program ini mendukung panggilan gereja?" Bukan berarti gereja harus menghentikan semua kegiatan. Bukan pula berarti segala sesuatu harus diukur dengan keuntungan dan kemeriahan. Namun gereja dipanggil untuk menjadi pengelola yang setia atas setiap berkat yang Tuhan percayakan. Sebab pada akhirnya, yang Tuhan cari bukanlah gereja yang paling sibuk atau paling banyak program kerja, melainkan gereja yang setia menggunakan setiap sumber daya untuk tujuan yang memuliakan-Nya.
"Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai." (1 Korintus 4:2)
AKIBAT DARI ITU SEMUA, ENERGI GEREJA HABIS UNTUK MEMIKIRKAN PROGRAM SENDIRI. Program kerja gereja bukanlah sesuatu yang salah. Program kerja dapat menjadi sarana untuk membangun jemaat, memperlengkapi karya bergereja, mempererat persekutuan, dan mendukung berbagai bentuk karya ke dalam maupun keluar. Namun ada sebuah pertanyaan yang perlu
sesekali kita renungkan: apakah gereja masih sibuk memikirkan jiwa-jiwa yg harus melihat teladan Kristus, atau energi kita sudah habis untuk memikirkan program-program kerja kita sendiri?Tidak sedikit gereja yang kalender kegiatannya penuh. Rapat demi rapat dilakukan. Acara demi acara disiapkan. Panitia dibentuk. Anggaran disusun. Jadwal dipadati berbagai kegiatan. Semua itu bisa saja baik. Tetapi jika seluruh tenaga, waktu, dan perhatian hanya terserap untuk urusan internal gereja, ada bahaya yang perlu diwaspadai. Karya Internal yang baik adalah perhatian pada umat yg kekurangan, yang sakit baik fisik maupun batin. Kita bisa menjadi sangat aktif, tetapi kehilangan arah. Kita bisa sibuk, tetapi tidak lagi fokus pada misi. Kita bisa memiliki banyak kegiatan, tetapi semakin sedikit menjangkau mereka yang belum mengenal teladan Kristus. Bukankah gereja dipanggil bukan hanya untuk berkumpul, tetapi juga untuk diutus untuk menyebar? Matius 28 : 19, adalah perintah menyebar bukan berkumpul, perintah "pergilah" bukan "kumpullah". Sehingga, jangan sampai isi gereja adalah mental ngumpul, mental komunitas, mental dolan bareng, mental kelompok, mental circle, dlsb. Bukannya tidak boleh, tetapi jangan kehilangan fokus yang sejati. Bukankah Matius 28 : 19 berbicara tentang menjadikan semua bangsa murid Kristus? Melihat kenal dan mengikuti teladan Kristus. Bukankah Tuhan Yesus datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang? Karena itu, setiap program kerja seharusnya diuji dengan satu pertanyaan sederhana: apakah ini membantu gereja menjalankan misi Tuhan, atau hanya membuat kita semakin sibuk dengan diri sendiri? Program kerja adalah alat, bukan tujuan. Kegiatan adalah sarana, bukan pusat karya.
Jangan sampai gereja memiliki banyak aktivitas tetapi sedikit dampak bagi dunia di sekitarnya, bagi masyarakat sekitar dan bagi umat yang membutuhkan. Jangan sampai kita lebih mengenal jadwal kegiatan gereja daripada kebutuhan masyarakat di sekitar gereja dan umat yang membutuhkan. Jangan sampai kita lebih bersemangat mengurus acara sendiri daripada memenangkan jiwa.Gereja yang sehat bukanlah gereja yang sekadar memiliki banyak program kerja. Gereja yang sehat adalah gereja yang tetap menjaga fokus pada Kristus, pemuridan, karya, dan misi yang dipercayakan Tuhan. Sebab pada akhirnya, Tuhan tidak memanggil gereja untuk sekadar menyelenggarakan kegiatan. Tuhan memanggil gereja untuk menjadi teladan bagi dunia dan membawa orang kepada-Nya.
"Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku." (Matius 28:19)
(21062026)(TUS)