FENOMENA JEMAAT DIBAPTIS BERULANG-ULANG
Dalam kehidupan gereja, ada fenomena yang kadang terjadi: seseorang sudah pernah dibaptis, tetapi kemudian kembali ingin dibaptis lagi di tempat lain atau pada kesempatan yang berbeda. Hal ini sering menimbulkan pertanyaan, baik secara teologis maupun pastoral.
Pertama-tama perlu dipahami bahwa baptisan dalam kekristenan bukan sekadar ritual yang diulang-ulang seperti simbol eksternal biasa. Baptisan pada dasarnya adalah tanda iman, pertobatan, dan identifikasi seseorang dengan kematian serta kebangkitan Kristus.
Karena itu, banyak tradisi gereja memahami baptisan sebagai satu kali peristiwa yang memiliki makna mendalam dan tidak diulang-ulang, selama dilakukan dalam iman kepada Kristus.
Namun dalam kenyataan di lapangan, fenomena baptisan ulang sering terjadi karena berbagai alasan. Ada yang merasa bahwa baptisan sebelumnya tidak dilakukan dengan pemahaman yang benar. Ada yang mengalami pertumbuhan iman yang signifikan sehingga ingin menegaskan kembali komitmennya. Ada juga yang berpindah gereja dengan tradisi berbeda sehingga merasa perlu dibaptis kembali.
Di sini gereja perlu hadir dengan hikmat, bukan sekadar dengan penolakan atau penerimaan tanpa pertimbangan.
Jika seseorang dibaptis ulang hanya karena pergantian tempat atau emosi sesaat, maka gereja perlu menolongnya memahami kembali makna baptisan yang sesungguhnya. Baptisan bukan soal ulang-ulang pengalaman rohani, tetapi tentang satu kali komitmen iman yang terus dijalani dalam kehidupan sehari-hari.
Namun jika seseorang memang belum pernah dibaptis dengan pemahaman iman yang benar, atau sebelumnya dilakukan tanpa kesadaran pribadi sebagai orang percaya, maka gereja perlu memberikan pendampingan yang bijaksana untuk memastikan pemahaman iman yang sehat sebelum mengambil langkah tersebut.
Yang perlu ditekankan adalah bahwa inti dari kekristenan bukan pada berapa kali seseorang dibaptis, tetapi pada sejauh mana ia hidup dalam pertobatan dan iman kepada Kristus.
Baptisan tanpa perubahan hidup hanya menjadi simbol tanpa makna. Tetapi iman yang hidup akan terus menghasilkan buah dalam keseharian.
Karena itu, yang lebih penting daripada mengulang baptisan adalah memperbarui komitmen hati setiap hari untuk hidup dalam ketaatan kepada Tuhan.
Gereja dipanggil untuk menjaga keseimbangan antara kebenaran doktrinal dan kasih pastoral. Menegaskan makna baptisan tanpa merendahkan pergumulan jemaat, sekaligus menuntun mereka kepada pemahaman iman yang dewasa.
"Sebab kamu semua yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus." (Galatia 3:27)