Minggu, 21 Juni 2026

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 10:40-42 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗩 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] 𝙏𝙖𝙠 𝙠𝙚𝙝𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙜𝙚𝙣𝙜𝙨𝙞

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 10:40-42 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗩 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] 𝙏𝙖𝙠 𝙠𝙚𝙝𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙜𝙚𝙣𝙜𝙨𝙞

“𝘐’𝘮 𝘢𝘯 𝘦𝘹𝘱𝘦𝘯𝘥𝘢𝘣𝘭𝘦 𝘮𝘢𝘯.” kata John Rambo kepada Agen Co Bao dalam 𝘙𝘢𝘮𝘣𝘰: 𝘍𝘪𝘳𝘴𝘵 𝘉𝘭𝘰𝘰𝘥 𝘗𝘢𝘳𝘵 𝘐𝘐. “𝘈𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥𝘮𝘶?” tanya Bao. Rambo menjawab, “𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘪𝘶𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘱𝘦𝘴𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘶𝘩 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢.”

Hari ini adalah Minggu kelima sesudah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 10:40-42 yang didahului dengan Kejadian 22:1-14, Mazmur 13, dan Roma 6:12-23.

Bacaan Injil Minggu ini hanya tiga ayat. Untuk itu saya kutipkan secara lengkap dari TB II 2023.

“𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘈𝘬𝘶, 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘈𝘬𝘶, 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘋𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘈𝘬𝘶 (ay. 40). 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘢𝘣𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘯𝘢𝘣𝘪, 𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘶𝘱𝘢𝘩 𝘯𝘢𝘣𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳, 𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘶𝘱𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 (ay. 41). 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘢𝘪𝘳 𝘴𝘦𝘫𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘤𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘳 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘢 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘒𝘶, 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: 𝘐𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘶𝘱𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 (ay. 42).”

Bacaan Injil Minggu ini adalah pengujung wejangan Yesus dalam rangka pengutusan 12 rasul di Matius 9:35 – 10:42. Bagian-bagian sebelum bacaan Minggu ini sudah saya ulas dalam dua edisi 𝘛𝘪𝘵𝘪𝘬 𝘗𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 yang lalu. Ucapan-ucapan Yesus dalam bacaan Injil Minggu ini berpautan erat dengan yang Yesus katakan dalam Matius 9:38 (“𝘔𝘪𝘯𝘵𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘶𝘢𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘳𝘪𝘮𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢-𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘵𝘶𝘢𝘪𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶”) dan Matius 10:5 (Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka, “𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 …”).

𝗠𝗮𝘁𝗶𝘂𝘀 𝟭𝟬:𝟰𝟬 “𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘈𝘬𝘶, 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘈𝘬𝘶, 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘋𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘈𝘬𝘶.”

Pada zaman 𝘥𝘰𝘦𝘭𝘰𝘦 orang belum memiliki teknologi telekomunikasi. Seorang utusan sangatlah penting. Utusan adalah seperti pihak yang mengutus. Dalam budaya Yahudi utusan resmi atau 𝘴𝘺𝘢𝘭𝘪𝘢𝘬𝘩 atau 𝘢𝘱𝘰𝘴𝘵𝘰𝘭𝘰𝘴 diangkat untuk tugas-tugas penting dalam urusan keuangan, politik, dan agama. Ia mendapat kuasa penuh dari pengutusnya. Ia adalah pembawa amanat. Konsekuensinya perilaku utusan menjadi cerminan si pengutus.

Teks paralel ayat 40 di atas adalah Lukas 10:16 “𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘬𝘶, 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘢𝘬 𝘈𝘬𝘶; 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘢𝘬 𝘈𝘬𝘶, 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘢𝘬 𝘋𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘈𝘬𝘶.” Meskipun mirip, tetapi konteks Injil Matius berbeda dari konteks Injil Lukas. Dalam Injil Lukas konteksnya adalah mendengarkan amanat Injil, sedang dalam Injil Matius konteksnya adalah menyambut atau menerima pembawa amanat. Meskipun demikian kata menyambut (𝘥𝘦𝘤𝘩𝘰𝘮𝘦𝘯𝘰𝘴) bermakna lebih luas, bukan menerima saja, tetapi juga melakukan amanat yang disampaikan oleh pembawa amanat. 

Tentu saja orang mau menyambut dan melakukan amanat dari pembawa amanat karena ia melihat perilaku pembawa amanat. Menyambut dan melakukan amanat si pembawa amanat berarti juga menyambut Yesus dan pada gilirannya menyambut Allah.

𝗠𝗮𝘁𝗶𝘂𝘀 𝟭𝟬:𝟰𝟭 “𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘢𝘣𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘯𝘢𝘣𝘪, 𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘶𝘱𝘢𝘩 𝘯𝘢𝘣𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳, 𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘶𝘱𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳.”

Frase 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘯𝘢𝘣𝘪 penerjemahan dari 𝘦𝘪𝘴 𝘰𝘯𝘰𝘮𝘢 𝘱𝘳𝘰𝘱𝘩𝘦̄𝘵𝘰𝘶, yang apabila diterjemahkan literal menjadi 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘯𝘢𝘣𝘪. Istilah nabi di sini jangan disamakan dengan nabi-nabi di dalam Perjanjian Lama (PL) seperti Nabi Samuel, Nabi Natan, Nabi Elia, dll. Jemaat Matius merupakan Gereja yang sudah cukup mapan. Ada jabatan nabi yang diberikan kepada warga jemaat untuk berkeliling dari desa ke desa guna mewartakan Injil Kristus. Mereka yang menyambut nabi sebagai nabi akan menerima upahnya. Tentu yang dimaksud dengan upah di sini bukan uang atau gaji, melainkan ucapan Yesus dalam ayat sebelumnya di Matius 10:32, “𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘱𝘢-𝘒𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢.”

Istilah 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 dalam frase 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 berbeda dari ucapan Yesus di Matius 9:13b, “𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘰𝘴𝘢.” Saat itu konteksnya Yesus 𝘯𝘨𝘭𝘦̀𝘥𝘦̀𝘬 orang-orang Farisi yang merasa diri benar. Selain jabatan nabi yang diberikan kepada sejumlah warga Jemaat Matius, ada lagi kelompok kedua dalam ayat 41 di atas yang disebut dengan orang benar. Siapakah mereka? Tampaknya mereka adalah orang-orang Kristen yang setia, para guru agama, mereka yang menderita karena imannya (bdk. Mat. 13:17; 23:29). Upah apa yang diberikan kepada orang yang menyambut nabi dan orang benar? Tentu saja upah ini bukan uang, melainkan ganjaran 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘤𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 (Mat. 13:43).

𝗠𝗮𝘁𝗶𝘂𝘀 𝟭𝟬:𝟰𝟮 “𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘢𝘪𝘳 𝘴𝘦𝘫𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘤𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘳 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘢 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘒𝘶, 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: 𝘐𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘶𝘱𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢.”

Pengarang Injil Matius mengambil dari sumber Markus 9:41 “… 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮 𝘴𝘦𝘤𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘳 𝘢𝘪𝘳 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘒𝘳𝘪𝘴𝘵𝘶𝘴, 𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘶𝘱𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢.” Persamaan Markus dan Matius adalah pemberian secangkir air kepada murid Kristus. Perbedaannya, Markus menyebut murid Kristus secara umum dan berhubungan langsung dengan misi, tetapi Matius melepas konteks Markus dengan menyebut secara khusus murid Kristus yang berstatus 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 di lingkungan Jemaat Matius. Seperti yang sudah saya sampaikan bahwa Jemaat Matius merupakan Gereja yang sudah cukup mapan. Persis seperti Gereja mapan masa kini. Warga jemaatnya berasal dari pelbagai kalangan; dari orang kaya, pejabat sampai orang kecil, orang pinggiran.

Matius 9:35 – 10:42 adalah wejangan misi. Namanya misi itu pergi keluar dari kelompoknya untuk membantu, menolong, menyelamatkan, dlsb. kelompok atau orang lain yang bukan kelompok sendiri. Menariknya pengarang Injil Matius menutup wejangan misi tersebut agar jemaat tidak melupakan orang-orang kecil di dalam kelompok sendiri. Jangan sampai orang sibuk membantu kelompok lain, sedang orang-orang kecil, orang-orang marginal di kelompok sendiri justru telantar dan diabaikan.

𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 dalam penutup wejangan misi ditafsir sebagai warga miskin, warga marginal di dalam Jemaat Matius dapat dipertanggungjawabkan. Apabila kita membaca lagi keseluruhan wejangan misi dalam Matius 9:35 – 10:42, para pengemban misi atau utusan adalah orang-orang pilihan, yang sudah pasti para tokoh di Jemaat Matius. Mereka bukan orang kecil. 

Persoalan Jemaat Matius mirip dengan Gereja mapan modern. Penginjil Matius sedang mengecam pejabat-pejabat gerejawi yang berambisi berlebihan, merohani-rohanikan jabatan gerejawi, tetapi abai pada orang kecil atau warga miskin di dalam jemaat sendiri. Orang kecil itu adalah 𝘦𝘹𝘱𝘦𝘯𝘥𝘢𝘣𝘭𝘦 𝘱𝘦𝘰𝘱𝘭𝘦. Ada atau tidak ada mereka 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘯𝘨𝘢𝘳𝘶𝘩 bagi jemaat sehingga sangat rentan diabaikan. Pejabat gerejawi tidak memedulikan mereka, mereka juga tidak akan mengeluh atau protes, juga tidak ada yang membela. Mereka tak berdaya. Untuk itulah penginjil Matius menyamakan mereka dengan nabi-nabi dan orang benar untuk sama-sama disambut seperti menyambut Yesus. Dengan melayani orang-orang kecil itu, seperti kata Yesus, pejabat gerejawi itu tidak kehilangan upahnya, tidak kehilangan gengsinya.

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 10:40-42 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗩 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] 𝙏𝙖𝙠 𝙠𝙚𝙝𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙜𝙚𝙣𝙜𝙨𝙞

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 10:40-42 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗩 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] 𝙏𝙖𝙠 𝙠𝙚𝙝𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙜𝙚𝙣...