KEMBALI KE KEBENARAN: Persepuluhan, Transparansi, dan Integritas Gereja
Belakangan ini, banyak dari kita yang prihatin dengan praktik keuangan di gereja-gereja tertentu, terutama yang beraliran Pantekosta dan Karismatik. Ada dua masalah besar yang sering dikeluhkan: ketidakjelasan laporan keuangan dan ajaran "janji iman uang" yang dipoles seakan-akan alkitabiah. Mari kita kembalikan semua ini pada kebenaran Firman Tuhan.
1. Perjanjian Baru Tidak Mewajibkan Persepuluhan
Ini adalah kebenaran dasar yang harus kita pahami. Persepuluhan (10% dari penghasilan) adalah bagian dari Hukum Taurat yang diberikan kepada bangsa Israel di bawah Perjanjian Sinai (Imamat 27:30-33; Bilangan 18:21-24). Perjanjian Baru dengan tegas menyatakan bahwa orang Kristen tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia (Roma 6:14; Galatia 5:1-4).
· Ibrani 7:12 dengan tegas berkata: "Sebab jika imamat berubah, maka berubahlah pula hukum Taurat itu." Hukum persepuluhan, yang terkait dengan imamat Lewi, telah berubah. Perubahannya adalah dari kewajiban 10% menjadi pemberian sukarela.
· 2 Korintus 9:7 mengajarkan: "Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan." Ini adalah standar Perjanjian Baru. Tidak ada angka 10%, tidak ada paksaan, tidak ada ancaman kutuk.
Kesimpulan: Orang Kristen tidak wajib memberi persepuluhan. Kita dipanggil untuk memberi dengan sukarela, sesuai kemampuan, dengan sukacita.
2. "Janji Iman Uang" Adalah Ajaran yang Menyesatkan
Ajaran "janji iman uang" atau seed faith offering adalah salah satu bentuk Teologi Kemakmuran (Prosperity Gospel) yang sangat berbahaya. Ajaran ini mengklaim bahwa jika Anda memberi "benih" (uang) dengan iman, Allah akan melipatgandakannya kembali. Ini adalah transaksi rohani yang tidak alkitabiah.
· 1 Timotius 6:10 memperingatkan: "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang." Ajaran ini justru memanfaatkan cinta uang dan keserakahan, bukan iman sejati.
· Matius 6:19-21 mengajarkan: "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi... tetapi kumpulkanlah harta di surga." Yesus tidak pernah menjanjikan kekayaan materi sebagai hasil iman. Yang Ia janjikan adalah harta surgawi.
· Teladan Paulus: Rasul Paulus rela menderita kekurangan (1 Korintus 4:11-12) dan tidak menjadikan Injil sebagai sumber keuntungan (2 Korintus 2:17). Ia tidak pernah mengajarkan bahwa memberi akan membuat Anda kaya.
Kesimpulan: "Janji iman uang" adalah rekayasa teologis untuk mendorong jemaat memberi dengan janji manis yang tidak pernah dijanjikan Alkitab. Ini adalah penyimpangan yang harus ditolak.
3. Kejujuran dan Transparansi Keuangan Adalah Kewajiban
Praktik gereja yang mengumpulkan dana besar tanpa laporan keuangan yang jelas adalah penyimpangan yang serius. Alkitab dengan tegas mengajarkan akuntabilitas dan transparansi.
· 2 Korintus 8:20-21: "Kami hendak menjaga supaya jangan ada orang yang dapat mencela kami dalam pelayanan kasih yang kami lakukan ini. Karena kami memikirkan yang baik, bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga di hadapan manusia." Paulus memastikan bahwa pengelolaan uang tidak hanya jujur di hadapan Allah, tetapi juga di hadapan manusia. Ini adalah standar yang harus diikuti.
· 1 Korintus 4:2: "Yang dikehendaki dari seorang pengurus ialah, bahwa ia setia." Pendeta adalah pengurus milik Allah, bukan pemilik. Mereka harus setia dan jujur dalam mengelola dana jemaat.
· Lukas 16:10: "Barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar." Ketidakjujuran dalam uang adalah indikator ketidakjujuran dalam pelayanan secara keseluruhan.
Praktik yang Seharusnya:
1. Penerimaan – Setiap persembahan dicatat dengan jelas.
2. Pengeluaran – Setiap pengeluaran memiliki bukti dan dicatat rinci.
3. Pelaporan – Laporan keuangan disampaikan secara terbuka dan rutin kepada jemaat (misalnya setiap bulan/kuartal).
4. Audit – Laporan keuangan diperiksa oleh tim independen untuk memastikan akuntabilitas.
5. Pengambilan keputusan – Dana besar harus melalui persetujuan bersama (penatua/diaken), bukan keputusan sepihak gembala.
Jika seorang pendeta menolak transparansi, itu adalah tanda bahaya. Ia tidak meneladani Paulus dan tidak memikirkan yang baik di hadapan manusia. Ia membuka celah bagi dosa dan kecurangan dalam tubuh Kristus.
4. Mengapa Pendeta Sering Tersinggung?
Banyak pendeta tersinggung ketika persepuluhan dan keuangan gereja dikritik. Mengapa?
· Identitas dan otoritas – Ajaran persepuluhan telah menjadi fondasi pelayanan mereka. Jika itu salah, mereka merasa otoritasnya diragukan.
· Ketergantungan finansial – Persepuluhan adalah sumber gaji mereka. Kritik terasa seperti ancaman terhadap mata pencaharian.
· Kekhawatiran akan kekacauan – Mereka takut jemaat berhenti memberi jika ajaran digoyahkan.
· Kurangnya pemahaman PB – Banyak pendeta tidak diajarkan bahwa PB memberi kebebasan dalam memberi.
· Gengsi dan harga diri – Persepuluhan sering menjadi tolok ukur "keberhasilan" pelayanan.
Tetapi sebagai hamba Tuhan, kita dipanggil untuk rendah hati, mau dikoreksi, dan terbuka terhadap kebenaran. Paulus berkata: "Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik" (1 Tesalonika 5:21). Jika ajaran kita salah, kita harus berani mengaku dan memperbaikinya.
5. Seruan untuk Kembali ke Kebenaran
Marilah kita kembali kepada prinsip Perjanjian Baru tentang memberi:
· Sukarela – Bukan karena paksaan atau tekanan (2 Korintus 9:7).
· Sukacita – Karena Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita (2 Korintus 9:7).
· Sesuai kemampuan – Tidak ada target atau persentase yang dipatok (1 Korintus 16:2).
· Transparan – Dikelola dengan jujur dan terbuka di hadapan Allah dan manusia (2 Korintus 8:21).
· Untuk pelayanan dan sesama – Untuk menopang pekerja Tuhan, membantu orang miskin, dan mendukung misi Injil (Kisah 4:34-35; Galatia 2:10).
Kejujuran harus dimulai dari gereja dan para pendeta gembala. Jangan biarkan ketidakjelasan keuangan dan ajaran yang salah merusak kesaksian gereja. Dunia melihat kita, dan mereka akan menghakimi jika kita tidak jujur.
Penutup
Saya tidak menolak memberi. Saya memberi lebih dari 10% dengan sukacita. Tetapi saya menolak ajaran yang mewajibkan persepuluhan dengan ancaman kutuk, saya menolak "janji iman uang" yang tidak alkitabiah, dan saya menuntut transparansi keuangan gereja sebagai wujud integritas pelayanan.
"Kristus telah memerdekakan kita. Jangan kembali lagi ke kuk perhambaan" (Galatia 5:1).
"Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita" (2 Korintus 9:7).
Marilah kita membangun gereja yang jujur, transparan, dan setia kepada Firman. ✝️