Sudut Pandang Orang Beriman Pun Bisa Lelah dan Jatuh
PENGANTAR
FBG dari bengkel liturgi, dapat jatah sebulan sekali untuk membedah dan zoom meet berdiskusi untuk maksimal 2 buku dari percetakan Andistar, BPK gunung mulia dan Elex Komputindo, percetakan tsb yg memilih bukunya, kebetulan sesuai jadwal saya mendapat giliran sebagai pembaca utama, maka saya berusah menotulensikan hasil diskusi tsb untuk menambah pengetahuan bersama, juga teman-teman yg tidak sempat ikut zoommeetnya bisa mengikuti lewat tulisan ini. Saya habis baca buku nya doktor khamil, yg seorang dokter saraf tapi kena kanker stadium 4, dia penyintas di statium 3, dan bbrp tahun kemudian kembali harus menghadapi stadium 4, dalam sebuah podcast dokter ini bilang, mengatakan pada penderita kanker dalam sebuah podcast FBG bengkel liturgi, bahwa kata-kata "semangat ya" itu klise dan unfaedah, karena semangat penderita kanker itu secara medis pasti naik turun, mengatakan "jangan lelah ya" itu secara kejiwaan sama saja menodongkan pistol ke kepala penderita kanker, karena penderita kanker itu pasti kelelahan, saya menemukan kecocokan dengan buku terbitan gunung mulia yg penulisnya mengambil dua study yaitu ilmu kejiwaan dan ilmu teologi, menarik buku ini, karangan Samuel Hanif Prabawa, judul bukunya : "Tokoh Iman dalam Alkitab pun kelelahan". Tidak semua orang beriman berarti selalu kuat, ada saatnya hati menjadi letih, iman terguncang, bahkan muncul pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab, secara ilmu kejiwaan, itu tanda kelelahan.
Alkitab tidak menyembunyikan kenyataan itu.
Justru melalui kehidupan tokoh-tokohnya, kita belajar bahwa pergumulan bukanlah tanda Tuhan meninggalkan kita. Asaf pernah hampir kehilangan imannya, Ia melihat orang fasik hidup makmur, sementara orang yang takut akan Tuhan justru mengalami penderitaan.
Ia mengaku, "Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset..."
(Mazmur 73:2).
Pergumulannya berakhir ketika ia mulai masuk ke hadirat Tuhan dan melihat segala sesuatu dari sudut pandang Allah (Mazmur 73:17). Yeremia dikenal sebagai nabi yang setia, tetapi hatinya pernah begitu sanagt hancur. Ia pernah dihina, ditolak, bahkan dipenjara karena menyampaikan kebenaran firman Tuhan.
Dalam kepedihan hatinya ia berkata, "Terkutuklah hari ketika aku dilahirkan!"
(Yeremia 20:14).
Namun walaupun di tengah ratapannya, ia tetap percaya bahwa Tuhan tidak pernah gagal memegang kendali hidupnya. Ayub kehilangan harta, anak-anak, dan kesehatannya dalam waktu singkat memang Ia menangis, bertanya, bahkan mengeluhkan tentang penderitaannya.
Namun ia tidak pernah meninggalkan Tuhan.
Pada akhirnya ia berkata, "Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau."
(Ayub 42:5).
Melalui penderitaan membuatnya mengenal Tuhan lebih dalam. Jadi, lelah bukan berarti tidak beriman, dan jatuh bukan berarti ditolak Tuhan, gagal bukan terbuang dari hadirat Tuhan. Yang membedakan orang beriman dengan yang tidak adalah ke mana ia kembali ketika hidup terasa berat. Orang beriman tidak dilarang menangis, boleh bergumul, boleh kelelahan tetapi ia tidak pernah berhenti mencari wajah Tuhan. Baca ; Mazmur 73:2, 17, Yeremia 20:14-18, Ayub 42:5. Kata Alkitab
Mazmur 34:19, "TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya." Pesan utama: Tuhan tidak mencari orang yang tidak pernah lelah bahkan lemah. Tuhan mencari hati yang tetap datang kepada-Nya, bahkan ketika sedang lelah, kecewa, dan hampir menyerah, di situlah pemulihan diterjadi, lelah itu manusiawi, tetapi jangan menyerah.
PEMAHAMAN
Analisa kritis akademik terhadap tema “kelelahan” dalam Alkitab dapat dilihat dari tiga dimensi utama: sastra-bahasa, konteks budaya tradisi Ibrani dan Yunani, serta refleksi teologi pastoral modern yang bersinggungan dengan ilmu medis dan kejiwaan.
Dalam bahasa Ibrani, kata ya‘ef (יָעֵף) berarti “lelah” atau “letih”, sering muncul dalam konteks manusia yang kehabisan tenaga jasmani maupun rohani. Misalnya dalam Yesaya 40:30-31 (TB):
“Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”
Ayat ini secara sastra menampilkan kontras antara kondisi manusia yang terbatas dan kekuatan ilahi yang memulihkan. Secara budaya, masyarakat Ibrani memahami kelelahan bukan sebagai kelemahan moral, melainkan bagian dari keberadaan manusia yang memerlukan penyegaran dari Allah. Beberapa tokoh iman dalam Alkitab mengalami kelelahan fisik dan emosional:
- Elia (1 Raja-raja 19:4) merasa sangat letih dan ingin mati setelah menghadapi tekanan pelayanan.
- Daud sering menulis dalam Mazmur tentang jiwanya yang letih dan haus akan Tuhan (Mazmur 42:6).
- Yesus sendiri dalam Yohanes 4:6 dikatakan “Yesus letih lesu karena perjalanan.”
Kelelahan mereka menunjukkan sisi manusiawi yang diakui dan tidak disembunyikan dalam narasi Alkitab. Dalam psikologi modern, kelelahan kronis dapat dikaitkan dengan burnout syndrome kondisi kelelahan emosional, fisik, dan mental akibat tekanan berlebihan. Istilah medis seperti fatigue, depression, dan stress disorder menggambarkan kondisi yang serupa dengan pengalaman tokoh-tokoh Alkitab. Secara medis, pengakuan terhadap kelelahan adalah langkah awal menuju pemulihan, bukan tanda kelemahan. Dikatakan dalam buku tsb, orang yg mengaku tidak pernah lelah atau tidak bisa menerima kelelahan orang lain adalah orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Dalam pelayanan pastoral, respons anti kelelahan terhadap seseorang yang mengaku lelah bisa menjadi problematis. Secara teologis, Alkitab justru mengajarkan bahwa mengakui kelelahan adalah bagian dari kerendahan hati dan kebutuhan akan anugerah Tuhan. Yesus sendiri berkata dalam
Matius 11:28 (TB):
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”
Pendekatan pastoral yang sehat seharusnya memberi ruang bagi jemaat untuk mengakui kelelahan dan menemukan pemulihan dalam kasih Kristus, bukan menolak realitas manusiawinya. Melukai atau mencederai fungsi pastoral ketika ada umat kelelahan kemudian datang ke gereja, dan mendapat jawab bahwa umat tidak boleh lelah, itu bukan gereja. Secara akademik dan teologis, kelelahan adalah wajar dan manusiawi. Dalam konteks pastoral, tanggapan yang baik bukan menolak perasaan lelah, tetapi menuntun orang kepada sumber kekuatan sejati, yaitu Tuhan sendiri. Nilai moral yang dapat diambil: mengakui kelelahdn dan kelembaban bukan tanda kegagalan, melainkan langkah menuju pemulihan dan kedewasaan iman, kelelahan tubuh adalah sinyal biologis bahwa sistem saraf dan otot memerlukan pemulihan. Saat seseorang lelah, tubuh melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Jika tidak diimbangi dengan istirahat dan tidur, kadar hormon ini dapat mengganggu sistem kekebalan, metabolisme, dan kestabilan emosi. Tidur berfungsi sebagai proses restoratif — memperbaiki jaringan, menyeimbangkan hormon, dan memulihkan fungsi otak. Dalam psikologi klinis, kelelahan kronis sering dikaitkan dengan sleep deprivation (kurang tidur) dan burnout, yang dapat menurunkan kemampuan konsentrasi dan kestabilan emosi. Dari sisi kejiwaan, rasa lelah juga merupakan tanda bahwa jiwa membutuhkan jeda. Dalam terapi psikologi, istirahat bukan hanya tidur, tetapi juga recovery time waktu untuk menenangkan pikiran, berdoa, atau melakukan aktivitas yang menumbuhkan rasa damai. Tubuh dan jiwa saling terhubung; ketika tubuh lelah, jiwa pun mudah gelisah, dan sebaliknya. Dalam Injil Markus, Yesus menunjukkan perhatian terhadap kebutuhan jasmani manusia. Dalam Markus 6:31 (TB) tertulis: “Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!’ Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat.” Ayat ini menunjukkan bahwa Yesus memahami pentingnya istirahat bagi tubuh dan jiwa. Ia tidak hanya memperhatikan kebutuhan rohani murid-murid-Nya, tetapi juga kebutuhan fisik mereka. Bahkan dalam kisah selanjutnya, Yesus memberi makan lima ribu orang (Markus 6:34–44), menegaskan bahwa pemeliharaan Allah mencakup seluruh aspek kehidupan manusia — tubuh, jiwa, dan roh. Secara teologi pastoral, pesan ini sangat relevan: kelelahan bukan dosa, melainkan tanda bahwa manusia perlu berhenti sejenak dan menerima pemeliharaan Tuhan. Gereja seharusnya menjadi tempat di mana orang yang lelah dapat beristirahat dalam kasih Kristus, bukan dituntut untuk terus kuat tanpa jeda. Tuhan tidak menuntut manusia untuk terus bekerja tanpa henti. Ia mengundang kita untuk beristirahat di dalamNya. Tidur dan istirahat bukanlah kelemahan, melainkan bentuk ketaatan terhadap ritme ciptaan yang Tuhan tetapkan sejak awal bahwa setelah bekerja, manusia perlu berhenti, beristirahat, dan memulihkan diri dalam hadirat-Nya. Secara linguistik, kata “beristirahatlah” dalam teks Yunani berasal dari akar kata anapauō (ἀναπαύω), yang berarti “memberi kelegaan,” “menenangkan,” atau “menghentikan aktivitas untuk pemulihan.” Kata ini tidak hanya menunjuk pada istirahat fisik, tetapi juga pada pemulihan batin dan spiritual. Dalam konteks semantik, anapauō menandakan tindakan aktif untuk berhenti — bukan karena kelemahan, tetapi karena kesadaran akan batas manusia. Ini menunjukkan bahwa kelelahan adalah keniscayaan alami (natural necessity) dari eksistensi manusia yang terbatas. Secara sastra, Markus 6:31 muncul di tengah narasi pelayanan Yesus yang padat — setelah para murid diutus memberitakan Injil dan sebelum mukjizat memberi makan lima ribu orang. Struktur naratif ini menegaskan ritme kehidupan rohani: pelayanan (aktivitas) harus diimbangi dengan kontemplasi (istirahat). Markus menggunakan kontras antara “banyaknya orang yang datang dan pergi” dan “tempat yang sunyi” untuk menyoroti ketegangan antara dunia yang sibuk dan kebutuhan manusia akan keheningan. Secara estetis, ayat ini mengandung irama keseimbangan — kerja dan jeda, gerak dan diam. Dalam budaya Yahudi abad pertama, ritme kehidupan diatur oleh prinsip Sabat hari ketujuh sebagai waktu berhenti dari pekerjaan (Keluaran 20:8–10). Istirahat bukan sekadar kebiasaan sosial, tetapi tindakan iman: pengakuan bahwa manusia bergantung pada Allah, bukan pada hasil kerja. Dalam tradisi Yunani-Romawi, konsep scholē (asal kata “school”) berarti waktu luang untuk berpikir dan merenung menunjukkan bahwa istirahat adalah ruang bagi pertumbuhan intelektual dan spiritual. Maka, Markus 6:31 merefleksikan sintesis dua tradisi: Yahudi (Sabat sebagai ibadah) dan Helenistik (istirahat sebagai refleksi). Secara antropologis dan teologis, kelelahan adalah bagian dari kodrat manusia. Tubuh memiliki batas biologis; jiwa memiliki kapasitas emosional yang terbatas. Dalam pandangan Alkitab, kelelahan bukan dosa, melainkan tanda bahwa manusia memerlukan relasi dengan Sang Pemberi Hidup. Yesus sendiri mengakui realitas ini — Ia tidak menuntut murid-murid untuk terus bekerja, tetapi mengundang mereka untuk berhenti dan memulihkan diri. Ayat ini mengajarkan bahwa istirahat adalah bagian dari ketaatan iman. Dalam konteks pastoral, pemimpin rohani perlu meneladani Yesus: memberi ruang bagi jemaat untuk beristirahat, bukan menuntut produktivitas tanpa henti. Kelelahan adalah wajar, dan beristirahat adalah tindakan bijak yang menghormati ciptaan Allah dalam diri manusia.Dari perspektif bahasa, sastra, dan budaya tradisi, Markus 6:31 menegaskan bahwa kelelahan adalah keniscayaan alami dan bagian dari ritme ilahi kehidupan. Istirahat bukan kelemahan, melainkan kebijaksanaan spiritual — sebuah panggilan untuk kembali pada keseimbangan antara kerja dan keheningan, antara pelayanan dan pemulihan, sebagaimana Yesus sendiri mencontohkannya.
(30062026)(TUS)