Kamis, 20 Agustus 2026

Sudut Pandang gelar Kristus atau Mesias

“Kristus” dan “Mesias” pada mulanya bukan nama keluarga Yesus, melainkan gelar. Secara leksikal keduanya hampir sinonim: Mesias berasal dari Ibrani מָשִׁיחַ (māšîaḥ), “yang diurapi,” sedangkan Kristus berasal dari Yunani Χριστός (Christos), terjemahan Yunani atas māšîaḥ. Ya, istilah tersebut berakar dalam praktik dan budaya Israel-Yahudi. Pengurapan dengan minyak merupakan tindakan simbolis untuk menetapkan seseorang dalam jabatan atau tugas yang dianggap berasal dari Allah—terutama raja, imam, dan dalam beberapa konteks juga tokoh yang dipilih untuk tugas khusus. Karena itu, dalam Alkitab Ibrani istilah “yang diurapi” tidak sejak awal hanya menunjuk kepada satu tokoh eskatologis. 

Contohnya:

- Saul disebut “yang diurapi TUHAN” (1Sam. 24:7).

- Daud disebut “yang diurapi” (2Sam. 19:21).

- Imam juga dapat disebut sebagai orang yang diurapi (Im. 4:3).

- Bahkan Koresy, raja Persia, disebut “orang yang Kuurapi” dalam Yesaya 45:1.

Jadi, benar bahwa secara dasar dan historis, māšîaḥ dapat digunakan bagi lebih dari satu orang. Istilah itu bukan kata eksklusif yang secara otomatis hanya berarti “Yesus.” Bible Odyssey juga menegaskan bahwa istilah tersebut mula-mula dipakai bagi raja-raja Israel tertentu, sementara harapan tentang seorang Mesias masa depan berkembang secara bertahap dan beragam. 

Namun apakah semua “yang diurapi” adalah Mesias eskatologis?

Tidak. Di sini perlu dibedakan antara:

1. makna umum dan fungsional: seseorang yang diurapi atau ditetapkan Allah untuk jabatan tertentu;

2. makna eskatologis: tokoh yang diharapkan membawa pemulihan Israel dan penggenapan janji Allah.

Dalam periode Bait Kedua, tidak ada satu konsep Mesias yang seragam. Sebagian kelompok mengharapkan raja keturunan Daud, sebagian menantikan pembebas nasional, sementara komunitas Qumran bahkan berbicara mengenai figur-figur mesianik yang berkaitan dengan Israel dan keimaman Harun. Harapan mesianik pada masa itu bersifat plural, bukan satu doktrin tunggal yang diterima semua orang Yahudi. Karena itu, ketika seseorang disebut māšîaḥ, pertanyaan pentingnya adalah: diurapi untuk jabatan apa, oleh siapa, dan untuk tugas apa?  Apa yang terjadi ketika istilah itu dikenakan kepada Yesus? Ketika para pengikut Yesus menyebut Dia ὁ χριστός (ho Christos, “Sang Kristus”) atau ὁ Μεσσίας (ho Messias, “Sang Mesias”), mereka tidak sekadar mengatakan bahwa Yesus adalah seseorang yang pernah memakai minyak urapan. Mereka membuat suatu pengakuan teologis dan politis: Yesus adalah tokoh yang dipilih Allah untuk menggenapi harapan Israel.

Dengan demikian, penggunaan gelar itu bagi Yesus mengandung beberapa unsur:

- Ia dipandang sebagai keturunan Daud dan raja yang dijanjikan.

- Ia adalah agen Allah bagi pemulihan umat-Nya.

- Ia membawa keselamatan, tetapi bukan semata-mata melalui revolusi politik.

- Ia menggenapi Kitab Suci melalui penderitaan, kematian, kebangkitan, dan pemerintahan Allah.

- Ia bukan hanya salah satu “orang yang diurapi,” melainkan yang diurapi secara definitif dan final dalam iman Kristen.

Britannica Bible Text merangkum bahwa “Christ” pada mulanya adalah gelar, bukan nama, dan gelar itu menyatakan keyakinan para pengikut Yesus bahwa Ia adalah anak Daud yang diurapi serta tokoh yang diharapkan memulihkan Israel. 

 Perbedaan “Mesias” dan “Kristus”

Secara arti dasar, tidak ada perbedaan referensial yang besar:

Mesias  Ibrani māšîaḥ; melalui Aram mĕšîḥā Yang diurapi Lebih dekat dengan latar Yahudi dan harapan Israel  Kristus  Yunani Christos Yang diurapi Bentuk Yunani yang dipakai dalam Septuaginta dan Perjanjian Baru Jadi, Mesias adalah istilah Ibrani, sedangkan Kristus adalah padanan Yunaninya. Dalam Yohanes 1:41, misalnya, “Mesias” langsung dijelaskan sebagai “Kristus,” sehingga teks itu sendiri memperlakukan keduanya sebagai padanan. Perbedaannya terutama terletak pada lingkungan bahasa dan perkembangan penggunaannya, bukan pada arti kamusnya. “Mesias” terdengar lebih jelas sebagai istilah Yahudi-eskatologis, sedangkan “Kristus” menjadi istilah utama komunitas Kristen berbahasa Yunani. Mengapa “Kristus” kemudian tampak seperti nama diri? Pada tahap awal, ungkapan “Yesus Kristus” kemungkinan besar berarti “Yesus, Sang Mesias”, bukan “Yesus Kristus” sebagai nama lengkap seperti nama modern. Struktur itu sebanding dengan gelar: “Yesus Sang Diurapi.” Namun karena ungkapan tersebut dipakai sangat sering dalam gereja mula-mula—misalnya Iēsous Christos dan Christos Iēsous—“Kristus” secara gramatikal dan sosial berangsur-angsur berfungsi seperti nama. Meskipun demikian, dalam teks-teks Perjanjian Baru, terutama dalam pengakuan iman dan argumentasi Paulus, kandungan gelarnya tidak hilang. “Yesus Kristus” tetap berarti bahwa Yesus adalah Mesias. Karena itu, membaca “Kristus” hanya sebagai nama diri akan mengurangi maknanya. Dalam banyak konteks, pembacaan yang lebih tepat adalah:

Yesus Kristus = Yesus Sang Mesias / Yesus Yang Diurapi.

Kekhususan makna bagi Yesus. Kekhususan gelar itu bukan karena kata māšîaḥ atau Christos secara leksikal hanya boleh digunakan untuk Yesus. Kekhususannya muncul dari klaim mengenai identitas dan karya Yesus. Dalam tradisi Injil, Yesus tidak memenuhi ekspektasi mesianik secara sederhana. Ia tidak tampil terutama sebagai pemimpin militer yang menggulingkan Roma. Ia menafsirkan kemesiasan melalui pelayanan, penderitaan, kematian, kebangkitan, dan kedatangan Kerajaan Allah. Bahkan dalam Markus 14:61–62, ketika imam besar bertanya apakah Ia Mesias, Yesus menghubungkan jawaban itu dengan figur Daniel 7—“Anak Manusia” yang menerima pemerintahan universal—sehingga makna Mesias diperluas melampaui raja nasional biasa. Di sinilah terjadi redefinisi kristologis:

- Dalam pola kerajaan kuno, Mesias terutama dapat dipahami sebagai raja pilihan Allah.

- Dalam harapan Yahudi tertentu, Mesias adalah pembebas dan pemulih Israel.

- Dalam pengakuan Kristen, Yesus adalah Mesias yang menggenapi semua itu melalui salib dan kebangkitan, serta memiliki kedudukan universal dan eskatologis.

Rumusan singkat : Jadi, jawabannya dapat dirumuskan demikian:

1. “Yang diurapi” memang istilah budaya dan religius Yahudi, dan dapat diterapkan kepada berbagai tokoh.

2. “Mesias” dan “Kristus” secara etimologis berarti hal yang sama: “yang diurapi.”

3. Ketika gelar itu diterapkan kepada Yesus, penggunaannya menjadi pengakuan khusus, bukan sekadar deskripsi ritual.

4. “Yesus Kristus” pada awalnya berarti “Yesus Sang Mesias,” meskipun kemudian “Kristus” juga berfungsi seperti nama.

5. Kekhususan Yesus terletak bukan pada kata tersebut secara kamus, tetapi pada klaim bahwa Ia adalah Mesias definitif, yang menggenapi harapan Israel melalui pelayanan, penderitaan, kematian, kebangkitan, dan pemerintahan eskatologis Allah.

Sudut Pandang Sibuk Protes, Sibuk Meramal Hingga Kehilangan Kepekaan Iman DiTengah Dukacita Flores Nusa Bunga

Sudut Pandang Sibuk Protes, Sibuk Meramal Hingga Kehilangan Kepekaan Iman DiTengah Dukacita Flores Nusa Bunga PENGANTAR “Kita te...