Sudut ๐ฃ๐ฎ๐ป๐ฑ๐ฎ๐ป๐ด Matius 16:21-28 [๐ ๐ถ๐ป๐ด๐ด๐ ๐ซ๐๐ฉ ๐๐ฒ๐๐๐ฑ๐ฎ๐ต ๐ฃ๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐ธ๐ผ๐๐๐ฎ, ๐ง๐ฎ๐ต๐๐ป ๐], ๐๐๐๐ช๐ฅ๐ ๐ช ๐๐ช๐ ๐๐ฃ๐ฃ๐ฎ๐ ๐๐ ๐ช ๐ก๐๐๐
Alkisah seekor burung gagak sedang membawa sekerat daging dengan paruhnya, lalu hinggap di dahan pohon tinggi dan besar. Seekor serigala mengintainya dan menginginkan daging itu. Kata serigala kepada gagak, “๐๐ข๐ฉ๐ข๐ช ๐๐ถ๐ข๐ฏ ๐๐ข๐จ๐ข๐ฌ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฏ. ๐๐ถ๐ญ๐ถ๐ฎ๐ถ ๐ฉ๐ช๐ต๐ข๐ฎ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ช๐ญ๐ข๐ถ๐ข๐ฏ. ๐๐ถ๐ข๐ณ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฑ๐ข๐ด๐ต๐ช ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ถ.”
Mendengar pujian itu burung gagak membuka mulutnya untuk bersuara guna memamerkan kepada serigala. Daging di mulutnya lepas dan jatuh di depan serigala dan ia langsung melahapnya.
Hari ini adalah Minggu keempatbelas sesudah Pentakosta. Bacaan secara ekumenis diambil dari Injil Matius 16:21-28 yang didahului dengan Yeremia 15:15-21, Mazmur 26:1-8, dan Roma 12:9-21.
Bacaan Injil hari ini, Matius 16:21-28, merupakan kelanjutan bacaan Injil Minggu lalu Matius 16:13-20 ๐๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฌ๐ถ๐ข๐ฏ ๐๐ฆ๐ต๐ณ๐ถ๐ด. LAI memberi judul perikop Matius 16:21-28 ๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช๐ต๐ข๐ฉ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฎ๐ข ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ณ๐ช๐ต๐ข๐ข๐ฏ ๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด (๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ด๐บ๐ข๐ณ๐ข๐ต-๐ด๐บ๐ข๐ณ๐ข๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ฌ๐ถ๐ต ๐๐ช๐ข). Tanda dalam kurung sengaja saya berikan untuk irama, karena ada ๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช๐ต๐ข๐ฉ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฅ๐ถ๐ข ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ณ๐ช๐ต๐ข๐ข๐ฏ ๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด (Mat. 17:22) dan ๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช๐ต๐ข๐ฉ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ช๐จ๐ข ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ณ๐ช๐ต๐ข๐ข๐ฏ ๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด (Mat. 20:17-20).
Pengulasan bacaan Injil Minggu ini dapat dibagi ke dalam empat bagian:
▶️ Matius 16:21 Pemberitahuan pertama Yesus
▶️ Matius 16:22-23 Reaksi Petrus dan teguran Yesus
▶️ Matius 16:24 Syarat menjadi pengikut Yesus
▶️ Matius 16:25-27 Motivasi dari Yesus
๐ฃ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ถ๐๐ฎ๐ต๐๐ฎ๐ป ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐๐ฎ๐บ๐ฎ ๐ฌ๐ฒ๐๐๐ (Mat. 16:21)
Sejak itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. (Mat. 16:21, TB II 2023)
Dari sisi naratif frase ๐๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ ๐ช๐ต๐ถ ๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด ๐ฎ๐ถ๐ญ๐ข๐ช (๐๐ฑ๐ฐ ๐ต๐ฐ๐ต๐ฆ ๐ฆ̄๐ณ๐น๐ข๐ต๐ฐ ๐ฉ๐ฐ ๐๐ฆ̄๐ด๐ฐ๐ถ๐ด) dalam Injil Matius merupakan pembukaan tahap baru untuk kisah besar. Dalam perikop bacaan Minggu ini frase itu merujuk tahap kedua yang lebih menegangkan. Tahap pertama ada di Matius 4:17. Penderitaan dan kematian Yesus bukanlah nasib, melainkan keharusan yang diterima Yesus dari Allah untuk menuju kemuliaan.
Tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat merupakan tiga kelompok yang terwakilkan dalam Mahkamah Agama Yahudi. Tua-tua di sini adalah tokoh-tokoh masyarakat. Injil Matius tidak menyebut orang-orang Farisi, karena tampaknya penulis Injil Matius begitu dendam kepada ketiga kelompok itu sebagai yang paling bertanggungjawab atas kematian Yesus terutama tua-tua dan imam-imam kepala (lih. Mat. 27:20-26).
Pengarang Injil Matius menulis ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ช๐จ๐ข mengoreksi ketidaktelitian pengarang Injil Markus yang menulis ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ต ๐ด๐ฆ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ต๐ช๐จ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช yang tak selaras dengan pengakuan iman jemaat perdana (bdk. 1Kor. 15:4). Kesalahan Markus ini juga disumpalkan ke mulut imam-imam kepala (lih. Mat. 27:62-63). Tak usah kaget bahwa Matius mengoreksi. Di awal Injil Matius malah mengoreksi nubuat Nabi Mikha: “๐๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ถ, ๐ฉ๐ข๐ช ๐๐ฆ๐ต๐ญ๐ฆ๐ฉ๐ฆ๐ฎ ๐๐ง๐ณ๐ข๐ต๐ข, ๐๐๐ ๐ฎ๐๐ฃ๐ ๐ฉ๐๐ง๐ ๐๐๐๐ก ๐ฅ๐ช ๐ข๐ฏ๐ต๐ข๐ณ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ๐ฎ-๐ฌ๐ข๐ถ๐ฎ ๐ ๐ฆ๐ฉ๐ถ๐ฅ๐ข” (Mik. 5:1) dikoreksi menjadi “๐๐ข๐ฏ ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ถ ๐๐ฆ๐ต๐ญ๐ฆ๐ฉ๐ฆ๐ฎ, ๐ต๐ข๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ ๐ฆ๐ฉ๐ถ๐ฅ๐ข, ๐๐ฃ๐๐ ๐๐ช ๐จ๐๐ ๐๐ก๐-๐ ๐๐ก๐ ๐๐ช๐ ๐๐ฃ๐ก๐๐ ๐ฎ๐๐ฃ๐ ๐ฉ๐๐ง๐ ๐๐๐๐ก ๐ฅ๐ช ๐ข๐ฏ๐ต๐ข๐ณ๐ข ๐ฑ๐ข๐ณ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ฎ๐ฑ๐ช๐ฏ ๐ ๐ฆ๐ฉ๐ถ๐ฅ๐ข” (Mat. 2:6).
Apabila kita membaca pemberitahuan pertama, kedua, dan ketiga tentang penderitaan Yesus selalu ada berita kebangkitan. Bukan penderitaan saja, melainkan salib dan kebangkitan, kematian dan kehidupan.
๐ฅ๐ฒ๐ฎ๐ธ๐๐ถ ๐ฃ๐ฒ๐๐ฟ๐๐ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ด๐๐ฟ๐ฎ๐ป ๐ฌ๐ฒ๐๐๐ (Mat. 16:22-23)
Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia, “๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ, ๐ฌ๐ช๐ณ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ถ๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ญ ๐ช๐ต๐ถ! ๐๐ข๐ญ ๐ช๐ต๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช-๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฎ๐ฑ๐ข ๐๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ถ.” Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus, “๐๐ฏ๐บ๐ข๐ฉ๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ช๐ฃ๐ญ๐ช๐ด! ๐๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ด๐ถ๐ข๐ต๐ถ ๐ฃ๐ข๐ต๐ถ ๐ด๐ข๐ฏ๐ฅ๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐จ๐ช-๐๐ถ, ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฃ ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข.” (TB II 2023)
Pemberitahuan tentang penderitaan Yesus itu rupanya tak mau diterima oleh Petrus bahkan ia hendak ๐ฏ๐จ๐ข๐ซ๐ข๐ณ๐ช Gurunya. Yang menarik adalah reaksi Yesus terhadap teguran Petrus. Bacaan Injil Minggu lalu kita melihat Yesus memuji Simon Petrus dan menjulukinya batu karang atau cadas, metafora perintis gereja yang kokoh, rasul nomor 1. Rupanya Petrus tak kuat menerima pujian seperti burung gagak di awal ๐๐ช๐ต๐ช๐ฌ ๐๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ini. Sekarang Petrus disamakan dengan iblis yang menggoda Yesus dalam episode ๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด ๐ฅ๐ช๐ค๐ฐ๐ฃ๐ข๐ช ๐ฅ๐ช ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐จ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฏ (Mat. 4:1-11). Nilai Petrus turun dahsyat, dari batu karang menjadi batu sandungan, dari pemegang kunci Kerajaan Surga menjadi iblis.
Ucapan Petrus “๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ, ๐ฌ๐ช๐ณ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ถ๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ญ ๐ช๐ต๐ถ!” diterjemahkan dari ๐๐ช๐ญ๐ฆ๐ฐ̄๐ด ๐ด๐ฐ๐ช ๐๐บ๐ณ๐ช๐ฆ yang berarti literal “๐๐ด๐ต๐ข๐จ๐ข, ๐๐ถ๐ข๐ฏ!”. Selanjutnya ucapan Petrus, “๐๐ข๐ญ ๐ช๐ต๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช-๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฎ๐ฑ๐ข ๐๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ถ” sangat mirip dengan ucapan iblis yang menggoda Yesus untuk menjatuhkan diri dari atas atap Bait Allah dan malaikat-malaikat Allah akan menatang Yesus agar tidak terantuk batu (Mat. 4:5-6). Itulah sebabnya Yesus menghardik Petrus, “๐๐ฏ๐บ๐ข๐ฉ๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ช๐ฃ๐ญ๐ช๐ด!”
Istilah batu sandungan (๐ด๐ต๐ถ๐ฎ๐ฃ๐ญ๐ช๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ญ๐ฐ๐ค๐ฌ) diterjemahkan dari ๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ญ๐ฐ๐ฏ (kata benda) yang berarti literal penyesatan. Kata kerjanya adalah ๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ญ๐ช๐ป๐ฆ๐ช yang berarti menyesatkan. Tidaklah keliru apabila kita mendengar kata Indonesia skandal selalu bermuatan negatif atau buruk. Ucapan Petrus itu menyesatkan, karena menghalangi perjalanan Yesus ke Yerusalem.
๐ฆ๐๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ ๐บ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ฝ๐ฒ๐ป๐ด๐ถ๐ธ๐๐ ๐ฌ๐ฒ๐๐๐ (Mat. 16:24)
Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “๐๐ช๐ฌ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ฌ๐ถ๐ต-๐๐ถ, ๐ช๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ญ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฏ๐บ๐ข, ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ฌ๐ถ๐ญ ๐ด๐ข๐ญ๐ช๐ฃ๐ฏ๐บ๐ข, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ฌ๐ถ๐ต ๐๐ฌ๐ถ.” (TB II 2023)
Ayat 24 menyebut syarat menjadi pengikut Yesus adalah menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut-Nya. Syarat ini fundamental atau dasariah.
Apa itu menyangkal diri? Cobalah lihat penjelasan dari khotbah atau tulisan renungan Kristen. Sangat bolehjadi anda menemukan penjelasan ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ญ๐ฆ๐ต tak karuan. Padahal sederhana sekali penjelasannya. Menyangkal diri adalah tidak mengakui perbuatan yang dilakukannya. Dalam hal syarat menjadi pengikut Yesus menyangkal diri (๐ข๐ฑ๐ข๐ณ๐ฏ๐ฆ̄๐ด๐ข๐ด๐ต๐ฉ๐ฐ̄) berarti tidak mengakui perbuatan yang dilakukannya, tetapi menyatakan itu adalah perbuatan Yesus. Saya berbuat baik itu bukan saya, melainkan karena Yesus yang melakukannya. Di Sekolah Minggu kita tentunya sudah hafal lirik nyanyian ๐๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ญ๐ข๐จ๐ช, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ๐ฌ๐ถ. Itu nyanyian penyangkalan diri.
Sesudah menyangkal diri, syarat lebih berat menyusul: memikul salib. Salib siapa? Salib kita sendiri. Sudah tak boleh mengakui perbuatan baik yang kita lakukan, ๐ฆ๐ฉ ditambah memikul salib. Berat? Memang! Menjadi pengikut Yesus memang berat. Kita dapat saja tidak mendapat promosi jabatan, tidak mendapat bangku sekolah negeri, karena menjadi pengikut Yesus. Bahkan secara ekstrem kita dapat kehilangan nyawa. Di Matius 10:38 sudah dijelaskan bahwa orang yang tidak mau memikul salibnya tidak layak menjadi pengikut Yesus.
Sesudah menyangkal diri dan memikul salib, syarat terberat harus dipenuhi: mengikut Dia. Mengapa terberat? Mengikut Dia berarti berjalan di belakang Yesus. Sudah menyangkal diri dan memikul salib, ๐ฆ๐ฉ tidak boleh berjalan di depan Yesus. Ibarat jatuh tertimpa tangga. Pernahkah anda mengangkat dua ember air atau dua beban bawaan di tangan kanan dan kiri? Saya sering. Saya akan berjalan lebih cepat agar lebih cepat sampai, karena saya ingin beban di tangan saya segera dilepaskan. Mengikut Yesus tidak begitu. Meskipun beban berat, tetap saja kita harus mengikuti kecepatan Yesus berjalan. Tidak boleh lebih cepat.
๐ ๐ผ๐๐ถ๐๐ฎ๐๐ถ ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ฌ๐ฒ๐๐๐ (Mat. 16:25-27)
“๐๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฃ ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฏ๐บ๐ข๐ธ๐ข๐ฏ๐บ๐ข, ๐ช๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฉ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฏ๐บ๐ข๐ธ๐ข๐ฏ๐บ๐ข; ๐๐ช๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ๐ฉ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฏ๐บ๐ข๐ธ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐๐ฌ๐ถ, ๐ช๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข. (ay. 25)
๐๐ฑ๐ข ๐จ๐ถ๐ฏ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ด๐ฆ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฉ ๐ฅ๐ถ๐ฏ๐ช๐ข, ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฉ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฏ๐บ๐ข๐ธ๐ข๐ฏ๐บ๐ข? ๐๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช ๐จ๐ข๐ฏ๐ต๐ช ๐ฏ๐บ๐ข๐ธ๐ข๐ฏ๐บ๐ข? (ay 26)
๐๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฃ ๐๐ฏ๐ข๐ฌ ๐๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ญ๐ช๐ข๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ฑ๐ข-๐๐บ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ช๐ฌ๐ข๐ต-๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ช๐ฌ๐ข๐ต-๐๐บ๐ข; ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ธ๐ข๐ฌ๐ต๐ถ ๐ช๐ต๐ถ ๐๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ข๐ด ๐ด๐ฆ๐ต๐ช๐ข๐ฑ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ณ๐ถ๐ต ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข. (ay. 27)” (TB II 2023)
Sesudah mengajukan syarat dasariah, Yesus menjelaskan implikasi menjadi pengikut-Nya sekaligus memberi motivasi.
Ayat 25 berisi paradoks: menyelamatkan, kehilangan; kehilangan, mendapatkan. Yesus kerap mengajar dengan jalan terbalik dari anggapan umum. Kata nyawa di atas dari kata ๐ฑ๐ด๐บ๐ค๐ฉ๐ฆ̄๐ฏ yang berarti literal hidup. ๐๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ๐ฏ๐บ๐ข tampaknya merujuk orang yang memertahankan aspirasi hidup pribadinya dengan mencari harta, kenikmatan, kemasyhuran, kekuasaan akan mendapat kekecewaan. Sebaliknya, orang yang hidupnya melayani seperti Yesus melayani, bahkan secara ekstrem harus kehilangan segalanya termasuk nyawanya, akan menerima kepenuhan hidup. Di sini Yesus sama sekali tidak melarang kita menjadi kaya, memiliki jabatan tinggi, tetapi untuk menjadi besar kita harus melayani (lih. Mat. 20:26). Melayani berarti menjadi peka dan mengarahkan perhatian kepada mereka yang tak berdaya. Kaya boleh, tetapi jangan serakah.
Injil Matius juga bervisi apokaliptik, penyingkapan. Sebelumnya tidak tersingkap, sekarang disingkap. Injil Matius menyingkap Pengadilan Terakhir. Meskipun syarat menjadi pengikut Yesus amat berat, Ia memberi motivasi dengan menyingkap Pengadilan Terakhir. Yesus akan datang untuk mengadili orang menurut perbuatannya. Di sini Matius menulis perbuatan dalam bentuk tunggal (ฯฯแพถฮพฮนฮฝ dibaca ๐ฑ๐ณ๐ข๐น๐ช๐ฏ). Perjanjian Lama versi Septuaginta menulis perbuatan-perbuatan (jamak). Misal, Mazmur 62:13 dan Amsal 24:12 ditulis แผฯฮณฮฑ (dibaca ๐ฆ๐ณ๐จ๐ข). Pengadilan Terakhir dalam Perjanjian Baru tidak menghitung jumlah perbuatan baik versus perbuatan jahat, melainkan satu kesatuan praksis hidup secara serbacakup sebagai pengikut Yesus. Sangat bolehjadi 60 - 90% hidup para pemungut cukai berbuat kejahatan, tetapi mereka diselamatkan oleh Yesus (lih. Mat. 9:9-13).
(03092023)(TUS)