Sabtu, 19 September 2026

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 20:1-16 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗩𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝗜𝗿𝗶 𝗵𝗮𝘁𝗶 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗹𝗮𝗿𝗮𝘀𝗮

Sudut  𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 20:1-16 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗩𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝗜𝗿𝗶 𝗵𝗮𝘁𝗶 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗹𝗮𝗿𝗮𝘀𝗮

PENGANTAR
Dalam kehidupan sehari-hari adalah lazim pegawai swasta berganti majikan atau perusahaan. Mereka pindah sesudah kesepakatan kerja tercapai. Kerap terjadi pegawai baru suatu perusahaan mendapat gaji lebih besar daripada pegawai lama sehingga membuat mereka iri hati. Tak jarang pegawai lama memusuhi pegawai baru. Padahal perusahaan sama sekali tidak mengurangi hak pegawai. Semua dibayar sesuai dengan perjanjian kerja masing-masing.
PEMAHAMAN
Hari ini adalah Minggu ketujuhbelas setelah Pentakosta. Bacaan secara ekumenis diambil dari Injil Matius 20:1-16 yang didahului dengan Yunus 3:10-4:11, Mazmur 145:1-8, dan Filipi 1:21-30.

Bacaan Injil Minggu ini, Matius 20:1-16, diberi judul oleh LAI 𝘗𝘦𝘳𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘱𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳. Sebelum memula membaca, perhatikan perikop sebelumnya, yaitu Matius 19:27-30 𝘜𝘱𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴. Di sana Petrus bertanya kepada Yesus, “𝘒𝘢𝘮𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶. 𝘑𝘢𝘥𝘪, 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘰𝘭𝘦𝘩?” Yesus menjawab Petrus dan jawaban Yesus (dalam perikop itu) diakhiri dengan, “𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳, 𝘥𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢.” Perumpamaan dalam bacaan Injil Minggu ini merupakan ilustrasi dari Yesus tentang penutup jawaban Yesus di Matius 19:30.

𝘗𝘦𝘳𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘱𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 mirip dengan 𝘗𝘦𝘳𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 di Lukas 15:11-32. Kedua perumpamaan ini merupakan kritik terhadap kaum Farisi yang mengejek Yesus bergaul dengan para pendosa.

Pengulasan bacaan Injil Minggu ini dibagi ke dalam tiga bagian:
▶️ Matius 20:1-7 Rekrutmen pekerja
▶️ Matius 20:8-15 Pengupahan
▶️ Matius 20:16 Penutup

𝗥𝗲𝗸𝗿𝘂𝘁𝗺𝗲𝗻 𝗽𝗲𝗸𝗲𝗿𝗷𝗮 (Mat. 20:1-7)

“𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘨𝘪-𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢-𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳𝘯𝘺𝘢. (ay. 1) 𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢-𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘪 𝘶𝘱𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘯𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘳𝘪, 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘬𝘦 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳𝘯𝘺𝘢. (ay. 2) 𝘒𝘪𝘳𝘢-𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘪𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘳. (ay. 3) 𝘒𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢: 𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘶𝘱𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘪𝘭 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶. (ay. 4) 𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪. 𝘒𝘪𝘳𝘢-𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭 𝘥𝘶𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢. (ay. 5) 𝘒𝘪𝘳𝘢-𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢: 𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘪? (ay. 6) 𝘒𝘢𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢: 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘱𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘪. 𝘒𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢: 𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳𝘬𝘶. (ay. 7)” (TB II 2023)

Sudah barang tentu ilustrasi di atas bukan tentang kegiatan ekonomi masyarakat. Kebun anggur merupakan bahasa kiasan mengenai umat Allah (bdk. Yes. 5 dan Yer. 2:10). Di sini Yesus hendak memberikan gambaran satu ciri (lagi) mengenai Kerajaan Surga (atau Kerajaan Allah).

Proses rekrutmen di atas rupanya mirip dengan situasi masa kini. Di kota-kota besar, terutama Jakarta, kita kerap melihat kuli sindang, sekelompok pekerja yang lengkap dengan cangkul dan pengkinya menanti di trotoar dan mengharapkan panggilan kerja dari mandor. Tidak jarang kita menyaksikan mereka masih terduduk sampai siang hari. Mereka adalah pekerja harian. Pada zaman Perjanjian Baru upah buruh adalah 1 dinar per hari. 

Pada zaman dulu hari baru dimula sesudah matahari terbenam, tetapi hari dihitung sebaliknya, dimula saat matahari terbit. Yang disebut hari di sini adalah saat terang matahari. Penghitungan panjang hari sangat sederhana, dimula dari jam pertama saat matahari terbit dan berakhir pada jam ke-12 saat matahari terbenam. Pukul 9 di atas dalam bahasa aslinya 𝘵𝘳𝘪𝘵o𝘯 𝘩o𝘳𝘢𝘯 (jam ketiga), pukul 12 dari 𝘩𝘦𝘬𝘵o𝘯 (keenam), pukul 15 atau 3 petang dari 𝘦𝘯𝘢𝘵o𝘯 (kesembilan), dan pukul 17 atau 5 petang dari 𝘩𝘦𝘯𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵o𝘯 (kesebelas).

Secara ringkas bagian pertama ini pemilik kebun anggur adalah seorang yang murah hati, yang tidak mau melihat orang 𝘫𝘰𝘣𝘭𝘦𝘴𝘴, tak punya pekerjaan. Ia menyediakan pekerjaan kepada setiap orang yang dilihatnya menganggur.

𝗣𝗲𝗻𝗴𝘂𝗽𝗮𝗵𝗮𝗻 (Mat. 20:8-15)

“𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘰𝘳𝘯𝘺𝘢: 𝘗𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢-𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘱𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢. (ay. 8) 𝘋𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘪𝘳𝘢-𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨-𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘯𝘢𝘳. (ay. 9) 𝘒𝘦𝘮𝘶𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢, 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨-𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘯𝘢𝘳 𝘫𝘶𝘨𝘢. (ay. 10) 𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘶𝘯𝘨𝘶𝘵-𝘴𝘶𝘯𝘨𝘶𝘵 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘪𝘵𝘶, (ay. 11) 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢: 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘫𝘢𝘮 𝘥𝘢𝘯 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘯𝘢𝘴 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘬 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘩𝘢𝘳𝘪. (ay. 12) 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢: 𝘒𝘢𝘸𝘢𝘯, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘪𝘭 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶. 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘯𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘳𝘪? (ay. 13) 𝘈𝘮𝘣𝘪𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩; 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶. (ay. 14) 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘬𝘦𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘶? 𝘈𝘵𝘢𝘶 𝘪𝘳𝘪 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘢𝘩 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘶𝘳𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪? (ay. 15) (TB II 2023)

Frase 𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 diterjemahkan dari 𝘰𝘱𝘴𝘪𝘢𝘴 𝘥𝘦 𝘨𝘦𝘯𝘰𝘮𝘦𝘯o𝘴, yang berarti literal malam telah sedang tiba atau terjemahan bebasnya menjelang malam. 𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 berarti sudah hari baru. Menurut UU Cipta Kerja 𝘦𝘩 kitab Imamat 19:13 dan Ulangan 24:15 para pekerja harian harus dibayar setiap hari sebelum matahari terbenam atau hari baru. 

Selain mengikuti peraturan kitab Taurat untuk waktu pengupahan, pemilik kebun anggur tidak mengurangi hak pekerja. Bahkan ia murah hati membayar pekerja satu dinar, meskipun mereka bekerja tidak sehari penuh. Kemurahhatiannya mendapat protes dari pekerja penuh-hari. Mereka melayangkan protes karena iri hati.

Kata sapaan 𝘒𝘢𝘸𝘢𝘯 (𝘏𝘦𝘵𝘢𝘪𝘳𝘦) di ayat 13 merupakan perbaikan 𝘚𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢 dalam TB 1974 dan TB II 1997. Argumen pemilik kebun anggur yang membayar penuh kepada seluruh pekerja tampaknya tidak dapat disanggah oleh pekerja penuh-hari.

𝗣𝗲𝗻𝘂𝘁𝘂𝗽 (Mat. 20:16)

“𝘋𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳.” (TB II 2023)

Ayat 16 di atas kerap dijadikan pendukung bagi sebagian orang yang baru pindah dari agama bukan-Kristen menjadi Kristen dan para Kristen “lahir-baru”. Apalagi kepindahan mereka dan “pertobatan” orang Kristen “lahir-baru” diiringi dengan narasi heroik. Mereka mendaku bahwa mereka akan menjadi yang pertama mendahului orang-orang Kristen “tradisional” karena keturunan seperti saya. Benarkah?

Injil Matius ditulis sesudah Bait Allah II hancur. Pada mulanya umat Kristen (dhi. Jemaat Matius) dari kalangan Yahudi. Umat Kristen hidup rukun dengan orang Yahudi dan bersama-sama beribadah di sinagog. Pembedanya adalah umat Kristen mengakui Yesus sebagai Kristus atau Mesias. Pada 70 ZB Jenderal Titus menghancurkan Bait Allah di Yerusalem dan memadamkan pemberontakan yang dikobarkan oleh kaum Zelot. Bagi bangsa Yahudi kehancuran Bait Allah adalah akhir zaman. Mereka terguncang. Kaum Farisi, yang sejak semula menolak Yesus, mengambil alih kepemimpinan agama Yahudi. Mereka menekankan Taurat dan tradisi leluhur sebagai satu-satunya penangkal malapetaka. Umat Kristen diusir dari masyarakat Yahudi dan dikucilkan. Matius 4:23 adalah jejak sejarah pengucilan itu: Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea. Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 … Kata ganti empunya 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 (𝘢𝘶𝘵o𝘯) adalah bukti sudah ada pembedaan antara orang Yahudi (𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢) dan Jemaat Matius. Barangkali, mungkin, pengarang Injil Matius menulis itu penuh emosi? Bandingkan dengan Markus 1:21 dan Lukas 4:16 yang tidak menulis kata ganti empunya 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢.       Perumpamaan di atas adalah kritik terhadap kaum Farisi. Para pengikut Yesus dipandang oleh kaum Farisi sebagai orang-orang buangan, yang diperhitungkan belakangan, kelompok terakhir. Namun, pada saat hari penghakiman (yang diumpamakan waktu penerimaan upah) menjadi yang pertama. Sebaliknya, kaum Farisi yang dipandang oleh masyarakat sebagai yang pertama, elit, karena tampak berperilaku sempurna dan dikagumi oleh banyak orang menjadi yang terakhir pada hari penghakiman. Mengapa demikian? Seperti disebut di ayat 15 mereka tidak berbelarasa kepada saudara-saudara sendiri bahkan memisahkan diri dan mengucilkan para pengikut Yesus. Iri hati menghilangkan belarasa (𝘤𝘰𝘮𝘱𝘢𝘴𝘴𝘪𝘰𝘯𝘢𝘵𝘦). Jadi, ayat 16 di atas bukan maksudnya orang yang belakangan pindah ke agama Kristen atau Kristen “lahir-baru” menjadi yang pertama mendahului orang-orang Kristen “tradisional” karena keturunan.
 (24092023)(TUS)

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 20:1-16 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗩𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝗜𝗿𝗶 𝗵𝗮𝘁𝗶 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗹𝗮𝗿𝗮𝘀𝗮

Sudut  𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 20:1-16 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗩𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔],  𝗜𝗿𝗶 𝗵𝗮...