PENGANTAR
Bacaan Pertama —Yunus 3:10–4:11
Secara sastra, bagian ini memakai ironi. Yunus, seorang nabi, justru kecewa ketika Allah mengampuni Niniwe. Kata Ibrani ra‘ah dapat berarti “kejahatan” sekaligus “malapetaka”; dalam konteks ini, manusia bertobat dari kejahatan, sedangkan Allah membatalkan malapetaka. Narasi menyingkap bahwa belas kasihan Allah lebih luas daripada batas nasionalisme, ras, suku, agama, prasangka, dan keinginan manusia untuk menghukum.
Pertanyaan Allah kepada Yunus menjadi puncak pedagogis teks: jika Yunus berbelas kasihan terhadap pohon jarak, bukankah Allah lebih berhak berbelas kasihan terhadap manusia dan bahkan hewan? Teks ini menjadi kritik terhadap pemimpin rohani yang lebih bersemangat mempertahankan kebenaran hukuman daripada merayakan pertobatan.
teks ini mengundang introspeksi: apakah kemarahan kita berasal dari kasih akan kekudusan Allah, atau dari luka ego, prasangka, dan keinginan untuk membenarkan diri?
Bacaan Kedua Filipi 1:21–30
Paulus menempatkan hidup dan kematian dalam orientasi kepada Kristus. Ungkapan Yunani to zēn Christos menunjukkan bahwa hidup bukan terutama proyek aktualisasi diri, melainkan keberadaan yang berpusat pada Kristus. Sementara itu, politeuesthe berarti “hiduplah sebagai warga negara,” sehingga jemaat dipanggil memperlihatkan kehidupan komunitas yang layak bagi Injil.
Penderitaan tidak dipahami sebagai bukti kegagalan iman, melainkan sebagai bagian dari kesetiaan kepada Kristus. Namun teks ini tidak memuliakan penderitaan secara romantis, seperti surat Yakobus. Penderitaan memperoleh makna ketika dijalani dalam persatuan, keberanian, dan kesaksian.
Paulus menolong jemaat menghadapi kecemasan dan tekanan bukan dengan penyangkalan, melainkan dengan orientasi hidup yang lebih besar daripada kenyamanan pribadi.
Bacaan Injil — Matius 20:1–16
Perumpamaan pekerja di kebun anggur menyingkap kemurahan hati Allah yang tidak tunduk pada logika perbandingan manusia. Dalam konteks Matius 19:30, kisah ini menjelaskan bahwa “yang terdahulu” dan “yang terkemudian” tidak boleh diukur hanya berdasarkan senioritas, lama pelayanan, atau prestasi.
Keluhan pekerja pertama memperlihatkan krisis batin ketika keadilan dipahami sebagai hak untuk menerima lebih banyak daripada orang lain. Pertanyaan pemilik kebun anggur—apakah mata mereka jahat karena ia murah hati—mengungkap persoalan iri hati terhadap anugerah.
Secara teologis, Allah tetap adil, tetapi keadilan-Nya tidak terpisah dari kemurahan. gereja dipanggil menguji budaya pelayanan yang kompetitif, hierarkis, dan mudah tersinggung ketika orang baru menerima kasih karunia yang sama.
Ketiga bacaan menyatakan kasih Allah yang besar dan bebas:
-Yunus 3:10–4:11: Allah menghendaki pertobatan dan kehidupan, bukan kebinasaan.
- Filipi 1:21–30: Kristus menjadi pusat hidup, pelayanan, dan ketekunan dalam penderitaan.
- Matius 20:1–16: Anugerah Allah tidak boleh dipersempit menjadi sistem imbalan manusia.
bertobatlah dari cara berpikir yang membatasi belas kasihan Allah. Gereja dan para pemimpinnya perlu melakukan oto-kritik terhadap iri hati, eksklusivisme, pencarian penghargaan, serta kecenderungan mengukur sesama berdasarkan masa pelayanan dan prestasi, membuat klub, komunitas, circle, gang, dlsb di gereja hanya memperlebar perbedaan kaya miskin yg tidak kondusif di gereja.
Dasar pemikiran ketiga bacaan ialah bahwa umat Allah dipanggil menerima kemurahan Allah sekaligus menjadi komunitas yang murah hati berada dalam kesetaraan. Pertobatan bukan hanya perubahan perilaku pribadi, melainkan perubahan cara memandang manusia lain—dari pesaing menjadi sesama penerima anugerah. Konsep pengampunan dan pertobatan di Alkitab itu jelas, kita pergumulkan dalam bahan bacaan bulan September 2026 ini. Teguran harus disertai keinginan hati untuk mengampuni, berbelas kasih (lihat Allah dalam kasus Yunus), Bagi yang ditegur harus ada keinginan hati untuk otokritik dan intropeksi diri, melihat diri, melakukan pertobatan dg dua sisi dalam satu koin, Metanonia (berbalik pikiran dan hati) dan Epistoke (berbalik arah tindakan), satu ..... Menyesali diri karena tahu salah, dan meminta maaf atau meminta pengampunan, dua ..... berusaha untuk tidak melakukan lagi kesalahan yang sama dan berjuang proses untuk tidak melakukan kesalahan-kesalahan baru (lihat kasus Filipi dan Matius).
(19092026)(TUS)