Sudut Pandang Minggu XVI sesudah Pentakosta, Tahun A
PENGANTAR
Saya setuju, berbelas kasih itu murah hati, tetapi bukan murahan, kasih tetap harus ada unsur keadilan. Diampuni untuk Mengampuni: Menegur dalam Kasih, Memulihkan dengan Keadilan, ketiga bacaan Leksionari kita dalam bacaan sabda, Minggu 13 September 2026, Ketiga bacaan ini membentuk satu gerak teologis: Allah memulihkan relasi melalui belas kasih, dan orang yang telah menerima belas kasih dipanggil untuk mengusahakan pemulihan relasi secara bertanggung jawab. Pengampunan bukan penghapusan begitu saja atas kesalahan, melainkan pembebasan dari siklus pembalasan, dendam, pemulihan martabat, dan pembentukan komunitas yang mampu hidup dalam perbedaan dan keadilan.PEMAHAMAN
Secara akademik, pembacaan ini perlu menghindari dua reduksi:
- Pengampunan tidak boleh disamakan dengan membiarkan kekerasan, menghapus pertanggungjawaban, atau memaksa korban segera berdamai.
- Teguran tidak boleh berubah menjadi penghakiman, penghinaan, atau mekanisme mempermalukan orang lain.
- Teguran harus dilatar belakangi keinginan untuk mengampuni dan memulihkan bukan menghakimi dan membalas dendam. Teguran adalah wujud kepedulian, dan kepedulian itu kasih.
Dengan demikian, kasih dan keadilan bukan dua hal yang bertentangan. Kasih memberi ruang bagi pertobatan dan pemulihan; keadilan memastikan bahwa korban dilindungi, kesalahan diakui, dan pelaku tidak dibebaskan dari tanggung jawab. Yang menegur bukan menghakimi ataupun membalas dendam ataupun menyudutkan dan menyimgkirkan, tetapi disemangati dengan semangat pengampunan dan pemulihan, yang ditegur harus mengerti teguran wujud dari kepedulian artinya itu wujud kasih, karena di Alkitab lawan dari kasih bukan dendam atau benci tapi ketidak pedulian. Yang ditegur harus memiliki semangat pertobatan, dalam pertobatan ada 2 hal yg dilakukan, pertama adalah menyesal dan meminta maaf, kedua adalah tidak mengulang kesalahan yang sama serta berjuang dalam proses untuk tidak membuat kesalahsn baru.
Kejadian 50:15–21
### Bahasa dan bentuk sastra
Bagian ini merupakan penutup narasi Yusuf. Bentuknya naratif, tetapi berfungsi sebagai semacam epilog teologis yang merangkum seluruh kisah: pengkhianatan saudara-saudara, penjualan Yusuf, penderitaan, kenaikan kedudukan, dan penyelamatan keluarga dari kelaparan.
Pusat retoriknya terletak pada kontras antara:
- ketakutan saudara-saudara Yusuf,
- permohonan mereka,
- respons emosional Yusuf,
- dan penafsiran Yusuf terhadap sejarahnya.
Ungkapan terkenal, “kamu memang telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan,” tidak berarti bahwa kejahatan saudara-saudaranya menjadi baik. Secara sastra dan teologis, teks mempertahankan dua lapis agensi: manusia sungguh-sungguh melakukan kejahatan, tetapi Allah tidak kehilangan kedaulatan-Nya atas sejarah.
Kata kerja “mereka-rekakan” mengandung gagasan merancang atau bermaksud. Maksud manusia dan maksud Allah tidak identik. Teks tidak berkata bahwa Allah menyebabkan kejahatan itu, melainkan bahwa Allah mampu mengarahkan akibatnya kepada kehidupan.
### Budaya dan konteks sosial
Ketakutan saudara-saudara Yusuf sangat masuk akal dalam budaya kehormatan, keluarga patriarkal, dan pembalasan. Setelah Yakub meninggal, mereka menganggap bahwa perlindungan ayah yang selama ini menahan Yusuf mungkin telah berakhir. Mereka datang sebagai kelompok yang bersalah kepada seorang saudara yang kini mempunyai kuasa politik dan ekonomi.
Permohonan mereka juga memperlihatkan relasi patronase: mereka merendahkan diri dan menempatkan diri sebagai “hamba” Yusuf. Namun Yusuf menolak mengambil posisi sebagai penguasa moral yang berhak membalas. Ia tidak menyangkal penderitaan atau kesalahan mereka; ia menolak menempatkan dirinya “di tempat Allah”.
Di sinilah teks memiliki dimensi keadilan. Yusuf tidak membalas, tetapi ia juga tidak menyebut kejahatan itu sebagai hal sepele. Ia menamainya sebagai “yang jahat”. Pengampunan lahir dari pengakuan realistis terhadap luka, bukan dari penyangkalan terhadap sejarah.
### Kontekstualisasi
Dalam keluarga, gereja, dan masyarakat Indonesia, teks ini relevan bagi konflik warisan, persaingan pelayanan, luka antargenerasi, polarisasi politik, serta konflik yang diperbesar media digital. Penerapannya bukan sekadar berkata, “Lupakan saja masa lalu,” melainkan:
- mengakui kesalahan secara jujur;
- menghentikan dorongan balas dendam;
- menciptakan bentuk pemulihan yang nyata;
- menyerahkan hak pembalasan kepada Allah dan proses keadilan yang sah;
- membuka kemungkinan relasi baru tanpa menghapus kewaspadaan.
Yusuf menjadi model pengampunan karena ia tidak membiarkan masa lalu menentukan masa depan. Namun teks ini tidak boleh dipakai untuk memaksa korban kekerasan kembali ke relasi yang membahayakan. Rekonsiliasi yang sehat membutuhkan pertobatan, perubahan perilaku, dan perlindungan terhadap pihak yang rentan.
## Roma 14:1–12
### Bahasa dan argumentasi Paulus
Paulus menggunakan kategori “yang lemah” dan “yang kuat”, tetapi istilah tersebut tidak boleh langsung dibaca sebagai penilaian bahwa satu pihak lebih saleh atau lebih rendah secara rohani. Perdebatan berkaitan dengan makanan dan hari-hari tertentu—kemungkinan besar berhubungan dengan praktik Yahudi, makanan, pantangan, dan penghormatan terhadap hari tertentu.
Secara retoris, Paulus menata nasihatnya melalui pertanyaan-pertanyaan yang menegur kecenderungan jemaat untuk menghakimi. “Siapakah engkau sehingga engkau menghakimi hamba orang lain?” adalah kritik terhadap klaim otoritas moral atas sesama. Dalam konteks Romawi, “kuat” dan “lemah” juga dapat berfungsi sebagai penanda status sosial dan kehormatan, bukan hanya kategori doktrinal.[3][4]
Paulus tidak menyelesaikan konflik dengan memaksakan keseragaman. Ia mengarahkan jemaat pada tiga prinsip:
- setiap orang bertindak dengan hati nurani di hadapan Tuhan;
- tidak seorang pun boleh merendahkan atau menghakimi saudaranya;
- kebebasan pribadi harus ditempatkan di bawah tanggung jawab kasih.
### Budaya tradisi dan konteks jemaat
Jemaat Roma kemungkinan terdiri atas orang Yahudi dan non-Yahudi yang membawa tradisi berbeda. Perbedaan makanan dan hari raya bukan sekadar persoalan selera. Di dalamnya terdapat identitas, memori keagamaan, dan batas sosial. Karena itu, konflik mengenai makanan dapat menjadi konflik mengenai siapa yang dianggap sungguh-sungguh umat Allah.
Paulus tidak mengatakan bahwa semua pandangan sama benarnya dalam setiap perkara. Ia membedakan persoalan yang merupakan wilayah kebebasan hati nurani dari persoalan yang sungguh-sungguh merusak iman dan kehidupan. Masalah utama dalam Roma 14 bukan makanan itu sendiri, melainkan cara jemaat memperlakukan orang yang berbeda.
Penekanannya adalah penerimaan: Allah telah menerima kedua pihak. Karena itu, gereja tidak boleh menjadikan tradisi kelompoknya sebagai syarat mutlak untuk mengakui martabat iman orang lain.
### Penerapan kini
Bacaan ini menegur gereja yang mudah membelah diri karena liturgi, musik, pakaian, makanan, politik, pendidikan, gaya ibadah, penggunaan teknologi, atau cara memahami isu sosial. Perbedaan pendapat tidak otomatis menjadi alasan untuk mencurigai iman seseorang.
Namun penerapan Roma 14 perlu dikawal secara kritis. Prinsip “jangan menghakimi” tidak boleh dipakai untuk membungkam kritik terhadap korupsi, kekerasan seksual, diskriminasi, manipulasi rohani, atau penyalahgunaan kuasa. Paulus berbicara mengenai perbedaan praktik yang tidak secara langsung menghancurkan sesama; ia tidak memberi legitimasi bagi ketidakadilan.
Jadi, kasih menuntut sikap tidak merendahkan. Keadilan menuntut keberanian menamai tindakan yang merusak dan melindungi mereka yang menjadi korban.
## Matius 18:21–35
### Hubungan dengan Matius 18:15–20
Matius 18:21–35 tidak boleh dipisahkan dari Matius 18:15–20. Sebelumnya, Yesus berbicara tentang saudara yang melakukan kesalahan: pertama ditegur secara pribadi, kemudian didampingi satu atau dua orang, dan akhirnya dibawa ke hadapan komunitas. Tujuannya bukan mempermalukan, melainkan memperoleh kembali saudara yang tersesat. Sejumlah kajian sosiologis bahkan menilai bahwa inti Matius 18:15–17 bukan pengucilan, melainkan pemulihan.[5]
Karena itu, pertanyaan Petrus mengenai berapa kali harus mengampuni muncul dalam konteks penanganan konflik komunitas. Pengampunan tidak menggantikan teguran. Sebaliknya, teguran yang benar harus diarahkan oleh tujuan pengampunan.
Dapat dirumuskan demikian:
**Teguran tanpa kasih menjadi penghukuman; kasih tanpa kebenaran menjadi permisivisme.**
Teguran sebagai kepedulian berusaha menghentikan kerusakan, memanggil pelaku kepada pertobatan, dan menyelamatkan relasi. Pengampunan sebagai belas kasihan membebaskan seseorang dari siklus pembalasan, tetapi tidak membatalkan kebutuhan akan pengakuan, perubahan, pemulihan, dan batas-batas yang aman.
### “Tujuh puluh kali tujuh kali”
Jawaban Yesus kepada Petrus bukanlah angka matematis. Baik pembacaan “tujuh puluh tujuh” maupun “tujuh puluh kali tujuh” menunjuk pada pengampunan yang tidak dibatasi oleh sistem perhitungan manusia. Latar belakangnya dapat dikaitkan secara sastra dengan Kejadian 4:24, ketika Lamekh berbicara tentang pembalasan berlipat ganda. Yesus membalik logika Lamekh: yang diperluas tanpa batas bukan pembalasan, melainkan pengampunan.
Akan tetapi, “tanpa batas” tidak berarti seseorang harus terus-menerus menyediakan dirinya untuk disakiti. Yang tidak boleh dibatasi adalah kesediaan untuk melepaskan dendam dan membuka kemungkinan pertobatan; yang tetap perlu dibatasi adalah akses pelaku terhadap korban apabila belum ada perubahan yang dapat dipercaya.
### Perumpamaan tentang utang
Perumpamaan ini menggunakan bahasa ekonomi, hukum, dan hierarki kerajaan. Raja mengadakan perhitungan dengan para hambanya. Seorang hamba berutang **10.000 talenta**, angka yang bersifat hiperbolis dan secara praktis tidak mungkin dilunasi. Sebaliknya, utang sesama hamba hanya **100 dinar**, tetap berarti bagi seorang pekerja, tetapi sangat kecil dibanding utang pertama. Studi tentang konteks sosial perumpamaan menyoroti hubungan patronase, kehormatan, dan pembebasan utang dalam dunia Romawi-Yahudi.[6][7]
Besarnya utang pertama bukan sekadar informasi finansial. Itu adalah cara narator menunjukkan bahwa belas kasih raja merupakan tindakan yang melampaui perhitungan. Hamba tersebut menerima pembebasan yang tidak mungkin ia hasilkan sendiri. Namun ia menolak memperluas belas kasih itu kepada sesamanya.
Kontradiksinya terletak pada perbedaan antara pengalaman menerima pengampunan dan pembentukan karakter oleh pengampunan. Ia ingin menerima anugerah sebagai keuntungan pribadi, tetapi tidak mau menjadikannya etika relasional. Karena itu, masalahnya bukan hanya bahwa ia “tidak baik”; ia menolak logika kerajaan yang baru saja menyelamatkannya.
Akhir perumpamaan menghadirkan penghakiman. Ini penting untuk tema keadilan. Pengampunan ilahi bukan kemurahan hati yang indiferens terhadap ketidakadilan. Orang yang menerima pembebasan tetapi kemudian menindas sesamanya memperlihatkan bahwa ia belum memahami atau belum sungguh-sungguh hidup dari belas kasih yang diterimanya.
### Pengampunan dan keadilan
Perumpamaan ini tidak mengajarkan bahwa korban harus menghapus ingatan, membatalkan proses hukum, atau menerima kembali pelaku tanpa syarat. Bahkan dalam kisah itu, tindakan hamba yang menagih utang kecil dengan kekerasan tetap dinilai dan dihukum.
Pengampunan Kristen dapat memiliki beberapa dimensi:
- melepaskan hak untuk membalas dendam secara pribadi;
- menyebut kejahatan sebagai kejahatan;
- membuka jalan bagi pertobatan;
- menuntut perubahan perilaku;
- memulihkan korban dan komunitas;
- memakai proses disiplin atau hukum apabila diperlukan.
Pengampunan yang tidak melindungi korban berisiko menjadi spiritualisasi ketidakadilan. Sebaliknya, keadilan tanpa kemungkinan pemulihan dapat berubah menjadi pembalasan tanpa akhir. Injil menghendaki keadilan yang memulihkan, bukan impunitas dan bukan pula dendam.
## Benang merah bacaan
Benang merah ketiga bacaan dapat dirumuskan dalam empat tahap:
1. **Kejadian 50** menunjukkan bahwa pengampunan memutus siklus pembalasan dan memungkinkan kehidupan bersama dipulihkan.
2. **Roma 14** menunjukkan bahwa komunitas yang telah menerima anugerah tidak boleh mengubah perbedaan tradisi menjadi alasan untuk merendahkan dan menghakimi.
3. **Matius 18:15–20** menunjukkan bahwa kasih berani menegur demi mendapatkan kembali saudara yang tersesat.
4. **Matius 18:21–35** menunjukkan bahwa teguran dan disiplin harus berpuncak pada belas kasih yang tidak menghitung-hitung, sebab orang percaya sendiri hidup dari pengampunan Allah.
Dengan demikian, tema utamanya bukan “mengampuni secara murah” melainkan **hidup sebagai komunitas yang telah dibebaskan oleh belas kasih dan karena itu membangun relasi yang benar, bertanggung jawab, dan memulihkan**. Rumusan teologisnya:
> Diampuni bukan berarti bebas dari tanggung jawab; diampuni berarti dibebaskan untuk bertanggung jawab tanpa membalas dendam.
## Arah pewartaan
Pewartaan dapat diarahkan kepada pertanyaan: **Apakah kita sungguh-sungguh hidup dari pengampunan yang kita terima, atau hanya menuntut belas kasih bagi diri sendiri sambil mempertahankan hukuman bagi orang lain?**
Arah khotbahnya dapat dikembangkan sebagai berikut:
- Jemaat diajak mengenali luka dan kesalahan secara jujur, bukan menutupinya dengan bahasa rohani.
- Jemaat diajak membedakan teguran yang memulihkan dari penghakiman yang mempermalukan.
- Jemaat diajak mengampuni dengan melepaskan dendam, tanpa menghapus kebutuhan akan keadilan dan perlindungan.
- Jemaat diajak menguji tradisi dan keyakinan kelompok: apakah semuanya sungguh menjadi tanda kesetiaan kepada Tuhan, atau justru menjadi alat merendahkan sesama?
- Gereja dipanggil menjadi ruang aman bagi pengakuan kesalahan, pertobatan, pemulihan korban, dan perubahan perilaku.
- Dalam konteks digital, pengampunan berarti tidak memperpanjang penghukuman melalui unggahan, tangkapan layar, gosip, dan pembentukan massa yang mempermalukan seseorang.
Puncak pewartaan berada pada Matius 18:35: pengampunan “dari hati” bukan terutama perasaan sentimental, melainkan keputusan eksistensial untuk tidak hidup dari utang moral orang lain sambil melupakan utang anugerah yang telah dihapuskan Allah dari hidup kita. Namun pengampunan yang berasal dari hati justru akan menghasilkan tindakan konkret: kebenaran ditegakkan, korban dipedulikan, pelaku dipanggil bertobat, dan komunitas dibangun kembali.