Pengantar
Minggu, 13 September 2026. Saya selalu menolak pemahaman kasih tanpa unsur keadilan, belas kasihan tanpa keadilan, itu bukan kasih, itu bukan berbelas kasih, lihat dalam Matius 18:21-35, unsur itu kuat tercium, tergambar secara sastra pada apa yg dilakukan terhadap hamba yg sudah diampuninya ketika tidak mau berbelas kasih, dalam Saya memahami bacaan rangkaian leksionari ini sesuai dengan Kejadian 50:15-21; Mazmur 103:8-13; Roma 14:1-12; Matius 18:21-35 untuk 13 September 2026. Tapi, saya selalu tidak menyertakan mazmur untuk ditafsir, karena dalam liturgi leksionari mazmur berperan sebagai NYANYIAN TANGGAPAN. Analisis berikut memakai kerangka teologi-biblis dan konteks sastra.
Kejadian 50:15-21
- Ayat 15-18: Setelah Yakub wafat, saudara-saudara Yusuf kembali dikuasai rasa takut. Trauma kesalahan masa lalu membuat mereka mengira Yusuf akan membalas.
- Ayat 19-20: Yusuf tidak menempatkan dirinya sebagai hakim terakhir. Ia mengakui adanya kejahatan manusia, tetapi melihat bahwa Allah sanggup memakai keadaan itu untuk memelihara kehidupan.
- Ayat 21: Pengampunan Yusuf diwujudkan secara konkret: ia menenangkan, berbicara dari hati, dan berjanji memelihara keluarganya.
Secara sastra, kisah ini adalah pembalikan: korban memperoleh kuasa, tetapi menolak memakai kuasa itu untuk balas dendam, untuk menghakimi tapi untuk berbelas kasih. Secara budaya, kehormatan keluarga dan ketakutan terhadap pembalasan sangat kuat. Namun pengampunan Yusuf tidak menghapus fakta bahwa kejahatan pernah terjadi.
Roma 14:1-12
Paulus membahas perbedaan praktik keagamaan dalam jemaat. Ayat 1-4 melarang sikap merendahkan; ayat 5-9 mengarahkan setiap orang untuk hidup bagi Tuhan; ayat 10-12 mengingatkan bahwa setiap orang akan mempertanggungjawabkan dirinya kepada Allah.
Pengampunan di sini bukan penyeragaman pendapat, melainkan penghentian sikap menghakimi, menghentikan sikap membalas dendam, lakukan belas kasihan. Kebebasan Kristen harus dipakai untuk membangun, bukan melukai dan harus berbelas kasihan.
Matius 18:21-35
Pertanyaan Petrus tentang batas pengampunan dijawab Yesus dengan angka yang bersifat hiperbolis: pengampunan tidak boleh dipersempit menjadi hitungan matematis (ayat 21-22). Perumpamaan menampilkan kontras antara utang yang sangat besar dan utang yang jauh lebih kecil (ayat 23-30).
Titik baliknya terdapat pada ayat 32-33: orang yang telah menerima belas kasihan justru menolak meneruskannya. Ayat 35 menegaskan bahwa pengampunan yang diterima harus menjadi pola hidup dalam komunitas.
Benang merah
Ketiga bacaan bergerak dari menerima belas kasihan Allah menuju melepaskan tuntutan balas dendam dan penghakiman. Yusuf melepaskan pembalasan, pemazmur menyaksikan kemurahan Allah, Paulus menolak penghakiman terhadap saudara, dan Yesus menuntut pengampunan yang terus-menerus. Mental pecundang bukan istilah teknis Alkitab. Secara kontekstual, istilah itu dapat menunjuk pada orang yang terus hidup sebagai tawanan luka, rasa takut, dan kebutuhan membalas, menghakimi bukan berbelas kasih. Injil tidak menyuruh korban menyangkal luka atau membiarkan kekerasan berulang. Pengampunan dapat berjalan bersama batas yang sehat, keadilan, pertobatan, dan akuntabilitas. Tapi ingat, dalam berbelas kasih harus menyangkut unsur keadilan, lihat apa yg dilakukan tuan pada hamba yg berhutang.
Arah pewartaan
Dilepaskan dari utang, dipanggil melepaskan.
Pewartaan dapat mengajak jemaat:
1. Mengakui luka dan kesalahan secara jujur.
2. Menerima pengampunan Allah sebagai anugerah.
3. Berhenti menjadikan luka sebagai identitas permanen.
4. Mengampuni tanpa menghapus kebutuhan akan kebenaran dan pemulihan serta keadilan.
5. Membangun komunitas yang tidak saling merendahkan dan menghakimi.
Kaitan dengan Matius 18:15-35: Teguran, Pemulihan, dan Pengampunan. Matius 18:21-35 tidak berdiri sendiri. Perumpamaan tentang hamba yang tidak mau mengampuni merupakan puncak dari nasihat Yesus mengenai kehidupan komunitas dalam Matius 18:1-20. Urutannya menunjukkan bahwa pengampunan Kristen bukan sikap yang mengabaikan kesalahan, kasih harus menyerap keadilan bukan menghilangkan, melainkan proses pemulihan relasi yang diawali dengan teguran yang benar.
1. Teguran bertujuan mendapatkan kembali saudara, kepedulian tanda kasih bukan penghakiman, penghukuman dan menyudutkan bahkan menyingkirkan.
Dalam Matius 18:15, Yesus berkata bahwa apabila seorang saudara berbuat dosa, ia harus ditegur di bawah empat mata. Tujuannya bukan mempermalukan, memenangkan perdebatan, atau menghukum, melainkan “mendapatkannya kembali.” Teguran memiliki arah pastoral: memulihkan saudara dan menjaga keutuhan persekutuan.
Apabila persoalan belum terselesaikan, prosesnya dilanjutkan dengan menghadirkan satu atau dua orang saksi (Matius 18:16), lalu dibawa kepada jemaat (Matius 18:17). Tahapan ini menegaskan bahwa penyelesaian konflik memerlukan kejujuran, keadilan, kesabaran, dan tanggung jawab komunitas bukan gosip atau penghakiman sepihak.
2. Pengampunan adalah kelanjutan dari pemulihan
Setelah berbicara tentang teguran, Petrus bertanya mengenai batas pengampunan (Matius 18:21). Pertanyaan ini menunjukkan kecenderungan manusia untuk menghitung jasa, kesalahan, dan kesempatan mengampuni. Yesus menjawab dengan ungkapan yang menegaskan kelimpahan pengampunan (Matius 18:22).
Dengan demikian, teguran dan pengampunan tidak berlawanan. Teguran menyatakan kebenaran, sedangkan pengampunan membuka jalan bagi pemulihan. Teguran tanpa kasih atau pengampunan berubah menjadi penghukuman; pengampunan tanpa kebenaran dapat menjadi pembiaran.
3. Pengampunan berakar pada belas kasihan Allah. Perumpamaan dalam Matius 18:23-35 memperlihatkan bahwa orang percaya dipanggil mengampuni karena terlebih dahulu telah menerima belas kasihan Allah. Hamba yang dibebaskan dari utang besar gagal memahami anugerah yang diterimanya ketika ia menolak mengampuni sesamanya (Matius 18:32-33).
Hal ini sejalan dengan Kejadian 50:19-21: Yusuf tidak menyangkal kejahatan saudara-saudaranya, tetapi menolak membalas dendam. Ia memilih memelihara kehidupan. Juga sejalan dengan Roma 14:10-12, yang menasihati agar umat tidak menghakimi sesamanya karena setiap orang berdiri di hadapan Allah. Matius 18:15-35 mengajarkan bahwa komunitas Kristen dipanggil untuk:
- menegur dengan tujuan memperoleh kembali saudara; pemulihan, kepedulian itu kasih bukan hukuman dan penghakiman tetapi keadilan
- menyelesaikan konflik secara bertahap dan bertanggung jawab;
- mengampuni tanpa menghitung-hitung kesalahan; tetap ada azas keadilan
- membedakan pengampunan dari pembiaran terhadap ketidakadilan;
- membangun persekutuan yang berlandaskan belas kasihan Allah.
Teguran yang benar membawa kepada pemulihan, dan pemulihan mencapai kepenuhannya dalam pengampunan.
(12092026)(TUS)