Sudut Pandang ๐๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐บ๐ฎ๐ต ๐ ๐ผ๐ฟ๐ฎ๐น ๐๐๐ฃ๐๐๐ง๐๐ฉ๐๐ ๐๐ฃ ๐๐๐ง๐ฎ๐ ๐๐ช๐๐๐ฃ
๐ ๐ฎ๐๐บ๐๐ฟ ๐ณ๐ด:๐ญ–๐ญ๐ญ
PENGANTAR
Seperti biasa, selalu saja, teman membawa renungan yg belum diupload warta gereja nya Minggu 06 September 2026, gereja arus utama, protestan Reformir untuk didiskusikan ๐๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ณ๐ต๐ข Sebuah ๐ereja Protestan Reformir untuk Minggu, 6 September 2026 ini diberi judul ๐๐ฆ๐ฏ๐ค๐ฆ๐ณ๐ช๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ณ๐บ๐ข ๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ berdasarkan Mazmur 78:1–11. Sepintas renungan ini terasa bagus. Bahasanya komunikatif, aplikasinya jelas, dan pesannya mudah diterima: kita diminta menceritakan kebaikan Tuhan, mengucap syukur, memberi penguatan kepada sesama, serta menjadi teladan bagi generasi berikutnya.
PEMAHAMAN
Persoalannya ๐๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ณ๐ต๐ข ini terasa lebih sebagai renungan moral daripada hasil penggalian teologis terhadap Mazmur 78:1–11.
Ada satu hal yang menurut saya perlu diperhatikan sejak awal. Dalam RCL untuk 6 September 2026, bacaan-bacaannya adalah: Keluaran 12:1–14, Mazmur 149, Roma 13:8–14, dan Matius 18:15–20. ๐ฅ๐๐ ๐บ๐ฒ๐ฟ๐๐ฝ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฐ๐ฎ๐ฟ๐ฎ ๐๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ท๐ฎ ๐บ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ฐ๐ฎ ๐๐น๐ธ๐ถ๐๐ฎ๐ฏ.
Dengan demikian Mazmur 78:1–11 bukan bagian dari rangkaian bacaan RCL pada 6 September 2026. Mazmur tersebut menjadi bacaan tunggal yang dipilih untuk homili dalam Kebaktian Minggu, 6 September 2026, di GKI Kebayoran Baru.
Sah-sah saja sih. RCL bukanlah hukum positif sehingga kalau Gereja tidak menerapkan RCL bukanlah tindak pelanggaran. Namun, ๐ธ๐ผ๐ป๐๐ฒ๐ธ๐๐ฒ๐ป๐๐ถ๐ป๐๐ฎ ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐น๐ ๐ฑ๐ถ๐๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ.
Ketika sebuah teks dipilih sendirian untuk menjadi dasar homili dan tidak ditempatkan dalam percakapan dengan bacaan-bacaan lain, ada risiko bahwa teks tersebut dijadikan ๐ธ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ฎ๐ป ๐๐ป๐๐๐ธ ๐บ๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐บ๐ฝ๐ฎ๐ถ๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐บ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐๐ฑ๐ฎ๐ต ๐ฑ๐ถ๐๐ฒ๐ป๐๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ฏ๐ฒ๐น๐๐บ๐ป๐๐ฎ ๐ผ๐น๐ฒ๐ต ๐ ๐ฎ๐ท๐ฒ๐น๐ถ๐ ๐๐ฒ๐บ๐ฎ๐ฎ๐. Menurut saya itulah yang terjadi dalam ๐๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ณ๐ต๐ข ini.
Tema ๐๐ฆ๐ฏ๐ค๐ฆ๐ณ๐ช๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ณ๐บ๐ข ๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ sudah ditentukan. Sesudah itu Mazmur 78:1–11 digunakan untuk memberikan dasar biblis bagi tema tersebut. Akibatnya, pertanyaan yang seharusnya diajukan:
“Apa yang hendak dikatakan Mazmur 78:1–11?” berubah menjadi: “Bagaimana Mazmur 78:1–11 dapat mendukung pesan tentang menceritakan kebaikan Tuhan?”
Perbedaannya sangat penting dan mendasar.
๐ญ. ๐ ๐ฎ๐๐บ๐๐ฟ ๐ณ๐ด ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ฟ๐๐๐ฎ๐บ๐ฎ ๐๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฏ๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐ธ-๐ฏ๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ฏ๐ถ๐ฐ๐ฎ๐ฟ๐ฎ ๐๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ง๐๐ต๐ฎ๐ป
๐๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ณ๐ต๐ข dibuka dengan hasil penelitian ๐๐ฏ๐ช๐ท๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ต๐บ ๐ฐ๐ง ๐๐ณ๐ช๐ป๐ฐ๐ฏ๐ข bahwa manusia rata-rata mengucapkan sekitar 16.000 kata setiap hari. Lalu dibuat pertanyaan: “Berapa banyak dari kata-kata itu yang kita gunakan untuk menceritakan perbuatan Tuhan yang ajaib?”
Sebagai pembuka ini menarik. Namun, secara eksegetis saya melihat adanya persoalan sejak kalimat pertama.
Mazmur 78 tidak sedang membicarakan kuantitas kata yang keluar dari mulut manusia setiap hari. Mazmur 78:1–11 berbicara tentang turun-alih tradisi iman antargenerasi. Pemazmur mengajak umat mendengar. Apa yang telah didengar dan diketahui dari para leluhur harus diteruskan kepada generasi berikutnya.
Jadi, persoalannya bukan: “Dari 16.000 kata kita sehari, berapa kata yang berbicara tentang Tuhan?”
Persoalannya adalah: “Apakah karya Allah yang telah diketahui dan dialami umat tetap diingat, diajarkan, dan diwariskan sehingga generasi berikutnya menaruh harapan kepada Allah dan menaati-Nya?”
Ini bukan sekadar perbedaan tekanan. Ini menyangkut pusat perhatian teks.
๐ฎ. “๐ ๐ฒ๐ป๐ฐ๐ฒ๐ฟ๐ถ๐๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป” ๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐น๐ฎ๐ต ๐๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ฎ, ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐๐ท๐๐ฎ๐ป ๐ฎ๐ธ๐ต๐ถ๐ฟ
๐๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ณ๐ต๐ข mengatakan bahwa karya pembebasan dan penyertaan Tuhan bukanlah rahasia yang disimpan untuk diri sendiri. Benar, tetapi Mazmur 78 tidak berhenti pada tindakan “menceritakan”.
Dalam ayat 3-7 terdapat sebuah rantai yang sangat penting: mendengar ➡️ mengetahui ➡️ menceritakan ➡️ mengajarkan ➡️ mengingat ➡️ berharap kepada Allah ➡️ menaati perintah-Nya.
OKI “menceritakan” tidak boleh dilepaskan dari tujuan akhirnya. Ayat 7 secara eksplisit menyebutkan: supaya generasi berikutnya menaruh harapan kepada Allah, tidak melupakan perbuatan-perbuatan-Nya, dan memelihara perintah-perintah-Nya.
Jadi, kalau saya hendak merumuskan tesis Mazmur 78:1–11, saya tidak akan mengatakan: “Kita harus banyak menceritakan kebaikan Tuhan.” Saya lebih suka (kata orang Jawa ๐ฑ๐ณ๐ฆ๐ง๐ฆ๐ณ wkwkwkwk) mengatakan: “๐๐ฎ๐ฟ๐๐ฎ ๐๐น๐น๐ฎ๐ต ๐ต๐ฎ๐ฟ๐๐ ๐๐ฒ๐ฟ๐๐ ๐ฑ๐ถ๐ถ๐ป๐ด๐ฎ๐ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ถ๐๐ฎ๐ฟ๐ถ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฒ๐ฝ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐ด๐ฒ๐ป๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐๐ถ ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ถ๐ธ๐๐๐ป๐๐ฎ ๐๐๐ฝ๐ฎ๐๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ธ๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ป๐ฎ๐ฟ๐๐ต ๐ต๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฒ๐ฝ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐๐น๐น๐ฎ๐ต ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐๐น๐ฎ๐ป๐ด๐ถ ๐ธ๐ฒ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ๐๐ฒ๐๐ถ๐ฎ๐ฎ๐ป ๐ด๐ฒ๐ป๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐๐ถ ๐๐ฒ๐ฏ๐ฒ๐น๐๐บ๐ป๐๐ฎ.” Ini jauh lebih dekat dengan teks.
๐ฏ. ๐๐๐ฃ๐ช๐ฃ๐๐๐ฃ ๐๐๐ง๐ฉ๐ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐๐ฏ๐ฎ๐ต ๐๐ฟ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐๐ถ ๐ถ๐บ๐ฎ๐ป ๐บ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ธ๐ฒ๐๐ฎ๐ธ๐๐ถ๐ฎ๐ป ๐ฝ๐ฟ๐ถ๐ฏ๐ฎ๐ฑ๐ถ
Sesudah berbicara mengenai 16.000 kata, ๐๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ณ๐ต๐ข masuk ke wilayah pengalaman individual: “Ketika menghadapi pergumulan atau meraih keberhasilan, akui peran Tuhan di dalamnya.”
Sekali lagi nasihat itu tidak keliru. Tapiii saya harus bertanya: Apakah itu yang sedang dibicarakan Mazmur 78? Tidak secara langsung.
Mazmur 78 berbicara tentang apa yang ๐ ๐๐ข๐ ๐๐๐ฃ๐๐๐ง dari para leluhur dan apa yang harus diteruskan kepada anak-anak mereka. Ini bukan terutama kesaksian seseorang mengenai:
“Tuhan menolong saya ketika saya mengalami pergumulan.”
Yang menjadi perhatian pemazmur adalah ๐ถ๐ป๐ด๐ฎ๐๐ฎ๐ป ๐ธ๐ผ๐น๐ฒ๐ธ๐๐ถ๐ณ ๐๐บ๐ฎ๐ ๐๐น๐น๐ฎ๐ต. Ada sejarah yang harus diwariskan. Ada karya Allah yang harus diingat. Ada kegagalan leluhur yang juga harus diingat.Untuk itu ada generasi baru yang harus belajar dari semuanya itu.
Jadi, ketika teks tentang memori kolektif Israel diubah menjadi ajakan agar setiap orang menceritakan pengalaman pribadinya bersama Tuhan, menurut saya telah ๐๐ฒ๐ฟ๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐ด๐ฒ๐๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ป ๐ต๐ฒ๐ฟ๐บ๐ฒ๐ป๐ฒ๐๐๐ถ๐.
๐ฐ. ๐๐ฟ๐ฎ๐๐ฒ ๐ฉ๐๐๐๐ ๐ข๐๐ฃ๐ฎ๐๐ข๐๐ช๐ฃ๐ฎ๐๐ ๐๐ฃ ๐บ๐ฒ๐บ๐ฝ๐๐ป๐๐ฎ๐ถ ๐บ๐ฎ๐ธ๐ป๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐น๐ฒ๐ฏ๐ถ๐ต ๐ฑ๐ฎ๐น๐ฎ๐บ
Ayat 4 mengatakan bahwa generasi sekarang tidak akan menyembunyikan dari anak-anak mereka apa yang telah mereka dengar dari para leluhur.
Ini sangat menarik. Apa yang ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ช๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐บ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ itu bukan hanya cerita tentang keberhasilan Israel. Mazmur 78 secara keseluruhan justru merupakan sejarah yang sangat kritis terhadap Israel.
Pemazmur akan menceritakan bagaimana umat berulang kali melihat karya Allah, tetapi kemudian melupakan-Nya.
▶️Mereka melihat, tetapi memberontak.
▶️Mereka mengetahui, tetapi tidak setia.
▶️Mereka mengalami karya Allah, tetapi tidak menjadikan pengalaman itu sebagai dasar kehidupan mereka.
OKI tradisi iman yang dimaksud Mazmur 78 bukanlah tradisi yang berkata: “Ceritakan kepada anak-anak betapa hebatnya nenek moyang kita.” Justru: “๐๐ฒ๐ฟ๐ถ๐๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป๐น๐ฎ๐ต ๐๐ฒ๐ฐ๐ฎ๐ฟ๐ฎ ๐๐๐๐ต ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฒ๐น๐ฎ๐ต ๐ฑ๐ถ๐น๐ฎ๐ธ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐น๐น๐ฎ๐ต ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ฏ๐ฎ๐ด๐ฎ๐ถ๐บ๐ฎ๐ป๐ฎ ๐๐บ๐ฎ๐ ๐บ๐ฒ๐ป๐ฎ๐ด๐ด๐ฎ๐ฝ๐ถ ๐ธ๐ฎ๐ฟ๐๐ฎ-๐ก๐๐ฎ, ๐๐ฒ๐ฟ๐บ๐ฎ๐๐๐ธ ๐ธ๐ฒ๐ด๐ฎ๐ด๐ฎ๐น๐ฎ๐ป ๐๐บ๐ฎ๐.”
Di sini saya melihat kekayaan teologis yang tidak muncul dalam ๐๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ณ๐ต๐ข .
๐ฑ. ๐๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ธ๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ฟ ๐ฎ๐ด๐ฎ๐ฟ ๐ฎ๐ป๐ฎ๐ธ-๐ฎ๐ป๐ฎ๐ธ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ฒ๐๐ฎ๐ต๐๐ถ
Ayat 5–7 memerjelas tujuan pendidikan antargenerasi. Allah menetapkan kesaksian dan pengajaran di Israel supaya generasi berikutnya mengetahuinya, tetapi tujuan akhirnya bukan sekadar alih pengetahuan.
Ayat 7 menyebut tiga hal:
▶️ mengingat perbuatan Allah,
▶️ menaruh harapan kepada Allah,
▶️ memelihara perintah-Nya.
Dengan begitu pengetahuan mempunyai arah, yakni mengingat ➡️ berharap ➡️ menaati.
Ini sangat penting, karena kalau hanya berhenti pada: orang tua menceritakan ➡️ anak mendengar ➡️ anak tahu, kita belum sampai pada tujuan Mazmur 78.
Tradisi iman dimaksudkan untuk membentuk wawasan hidup. Anak-anak bukan sekadar diharapkan mengetahui cerita tentang Allah. Mereka diharapkan menaruh harapan kepada Allah.
๐ฒ. ๐๐ฒ๐ฝ๐ฒ๐ป๐๐ถ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ฎ๐๐ฎ๐ ๐ด-๐ญ๐ญ
Ayat 8 mengatakan: “Jangan sampai mereka seperti leluhur mereka.” Mengapa? Jawabannya: karena leluhur mereka adalah: “generasi yang membangkang dan memberontak.”
Masalah mereka bukanlah kurang mendengar cerita. Mereka justru telah memiliki sejarah panjang tentang karya Allah. Mereka telah melihat, mendengar, mengalami, tetapi mereka tidak setia.
Jadi, ada persoalan yang jauh lebih serius daripada persoalan komunikasi: ๐ฃ๐ฒ๐ป๐ด๐ฒ๐๐ฎ๐ต๐๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ธ๐ฎ๐ฟ๐๐ฎ ๐๐น๐น๐ฎ๐ต ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ผ๐๐ผ๐บ๐ฎ๐๐ถ๐ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ต๐ฎ๐๐ถ๐น๐ธ๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฒ๐๐ฒ๐๐ถ๐ฎ๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฒ๐ฝ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐๐น๐น๐ฎ๐ต.
Ini menurut saya merupakan satu inti teologis perikop, yang justru bagian ini ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐บ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ฝ๐๐๐ฎ๐ ๐๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ณ๐ต๐ข .
Ayat 9–11 menghadirkan Efraim sebagai pemerian konkret mengenai kegagalan itu. Mereka diperikan sebagai orang-orang yang memiliki busur dan mampu berperang, tetapi berbalik pada hari peperangan. Lantas diagnosisnya diberikan: mereka tidak memelihara perjanjian Allah, mereka menolak berjalan menurut pengajaran-Nya, dan mereka melupakan perbuatan-perbuatan-Nya.
Perhatikan nasabah ayat 7 dengan ayat 11.
▶️ Ayat 7 mengatakan: jangan melupakan perbuatan Allah.
▶️ Ayat 11 mengatakan: mereka melupakan perbuatan Allah.
Jadi, ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต dan ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ merupakan pasangan penting dalam perikop ini. Kata ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ di sini tentu bukan sekadar kehilangan memori secara psikologis, karena mereka tidak sedang mengalami amnesia. Mereka mengetahui sejarahnya.
Yang terjadi adalah bahwa karya Allah pada masa lalu tidak lagi menentukan kehidupan mereka pada masa kini. Nah, di sini Mazmur 78 menjadi sangat tajam.
๐ณ. ๐๐๐ฃ๐ช๐ฃ๐๐๐ฃ ๐๐๐ง๐ฉ๐ ๐๐ฒ๐ฟ๐น๐ฎ๐น๐ ๐ฐ๐ฒ๐ฝ๐ฎ๐ ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ฝ๐ถ๐ป๐ฑ๐ฎ๐ต ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ถ๐ป๐ด๐ฎ๐ ๐๐น๐น๐ฎ๐ต ๐ธ๐ฒ๐ฝ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ผ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด ๐ฏ๐ฎ๐ถ๐ธ
Bagian berikut mengatakan bahwa menceritakan karya Tuhan tidak berhenti pada ucapan bibir.
Petulis renungan lalu memberikan contoh: kasih, keadilan, kejujuran, dan kemurahan hati.
Saya tidak berkeberatan terhadap nilai-nilai tersebut, kemurahan hati yang seharusnya ๐ธ๐ฒ๐บ๐๐ฟ๐ฎ๐ต๐ต๐ฎ๐๐ถ๐ฎ๐ป. [Kalau tak begitu nanti besar kepala menjadi kebesaran kepala. Kepalanya kebesaran alias terlalu besar wkwkwkwk]
Persoalannya adalah: itu bukan hasil langsung dari eksegesis Mazmur 78:1–11. Ini adalah ๐ฎ๐ฝ๐น๐ถ๐ธ๐ฎ๐๐ถ ๐บ๐ผ๐ฟ๐ฎ๐น yang dimasukkan ke dalam teks. Akibatnya, alurnya menjadi: ceritakan kebaikan Tuhan ➡️ perkataan harus disertai perbuatan ➡️ lakukan kasih, keadilan, kejujuran, kemurahan hati.
Dalam pada itu alur Mazmur 78 lebih spesifik: dengar ➡️ ajarkan ➡️ ingat ➡️ berharap kepada Allah ➡️ menaati perintah-Nya.
Semuanya itu ditempatkan berhadapan dengan: melupakan ➡️ tidak memelihara perjanjian ➡️ menolak pengajaran Allah ➡️ memberontak.
Menurut saya ini perbedaan yang sangat mendasar.
๐ด. ๐๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ธ๐ผ๐บ๐๐ป๐ถ๐๐ฎ๐ ๐ถ๐บ๐ฎ๐ป ๐บ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ธ๐ฒ๐น๐๐ฎ๐ฟ๐ด๐ฎ
๐๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ณ๐ต๐ข juga sangat menekankan anak, cucu, dan generasi selanjutnya. Itu memang mempunyai dasar dalam teks, tetapi Mazmur 78 tidak sedang memberikan kuliah ๐ฑ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช๐ฏ๐จ.
Yang dibicarakan adalah ๐๐๐ฟ๐๐ป-๐ฎ๐น๐ถ๐ต ๐ถ๐บ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฎ๐น๐ฎ๐บ ๐ธ๐ผ๐บ๐๐ป๐ถ๐๐ฎ๐ ๐๐๐ฟ๐ฎ๐ฒ๐น.
Penerapannya seharusnya tidak berhenti pada: “Orang tua harus menceritakan Tuhan kepada anak-anak.” Ada pertanyaan yang lebih luas: ๐๐ฝ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ต ๐ด๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ท๐ฎ ๐บ๐ฎ๐๐ถ๐ต ๐บ๐ฎ๐บ๐ฝ๐ ๐บ๐ฒ๐ป๐ฒ๐ฟ๐๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐ถ๐ป๐ด๐ฎ๐๐ฎ๐ป ๐ถ๐บ๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฒ๐ฝ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐ด๐ฒ๐ป๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐๐ถ ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ถ๐ธ๐๐๐ป๐๐ฎ?
Gereja sendiri merupakan komunitas yang hidup dari sebuah memori: mengingat karya Allah, menafsirkan karya Allah, mengajarkan karya Allah, dan meneruskannya kepada generasi berikut.
Dengan demikian Mazmur 78 sebenarnya mempunyai ๐บ๐ฎ๐๐ฟ๐ฎ ๐ฒ๐ธ๐น๐ฒ๐๐ถ๐ผ๐น๐ผ๐ด๐ถ๐, bukan hanya keluarga. ๐๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ณ๐ต๐ข kehilangan kesempatan untuk membawa teks ini ke sana.
๐ต. ๐ฌ๐ฎ๐ป๐ด ๐ฑ๐ถ๐๐ฎ๐ฟ๐ถ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐ต๐ฎ๐ป๐๐ฎ ๐ธ๐ถ๐๐ฎ๐ต ๐ธ๐ฒ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ต๐ฎ๐๐ถ๐น๐ฎ๐ป
Bagi saya ini justru bagian paling menarik. Kalau kita sungguh mengikuti Mazmur 78, kita menemukan bahwa umat tidak diminta hanya mewariskan kisah-kisah indah tentang karya Allah.
Mereka juga harus mewariskan ๐ธ๐ถ๐๐ฎ๐ต ๐ธ๐ฒ๐ด๐ฎ๐ด๐ฎ๐น๐ฎ๐ป ๐๐บ๐ฎ๐ ๐๐น๐น๐ฎ๐ต ๐๐ฒ๐ป๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ถ.
Ini penting karena iman tidak diwariskan melalui glorifikasi masa lalu. Iman justru diwariskan melalui ingatan yang jujur:
♦️ Allah setia, tetapi umat sering tidak setia.
♦️ Allah berkarya, tetapi umat sering melupakan.
♦️ Allah memberi, tetapi manusia dapat memberontak.
Dengan negitu generasi berikutnya belajar bukan hanya ๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ, mereka juga belajar ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐จ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ.
Saya kira inilah satu kekuatan Mazmur 78 yang tidak berhasil diangkat oleh petulis ๐๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ณ๐ต๐ข.
๐ญ๐ฌ. ๐ ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ฎ๐๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ป๐๐ฒ๐ฏ๐๐๐ป๐๐ฎ ๐ฟ๐ฒ๐ป๐๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐บ๐ผ๐ฟ๐ฎ๐น?
Sekali lagi saya tidak mengatakan ๐๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ณ๐ต๐ข ini buruk. Justru sebaliknya. Ia komunikatif, hangat, dan mudah diterapkan.
Tapiiii kalau saya bertanya: ๐๐ฝ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฑ๐ถ๐น๐ฎ๐ธ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐๐ฃ๐ช๐ฃ๐๐๐ฃ ๐๐๐ง๐ฉ๐ ๐ถ๐ป๐ถ ๐๐ฒ๐ฟ๐ต๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ฝ ๐ ๐ฎ๐๐บ๐๐ฟ ๐ณ๐ด:๐ญ–๐ญ๐ญ? Jawaban saya: ๐๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ณ๐ต๐ข mengambil tema ๐๐ฆ๐ฏ๐ค๐ฆ๐ณ๐ช๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ณ๐บ๐ข ๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ, lalu teks digunakan untuk mendukung beberapa nasihat: gunakan kata-kata dengan baik, ceritakan kebaikan Tuhan, bersyukur, memberi pengharapan, menjadi teladan, berbuat kasih, mendidik anak-anak,
dan jangan melupakan Tuhan.
Semua itu baik, tetapi kumpulan nasihat tersebut belum memerlihatkan tesis teologis Mazmur 78:1–11. Akibatnya Mazmur 78 menjadi ๐ฎ๐๐ฎ๐ ๐ฝ๐ฒ๐ป๐ฑ๐๐ธ๐๐ป๐ด ๐ฏ๐ฎ๐ด๐ถ ๐ฐ๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐บ๐ฎ๐ต ๐บ๐ผ๐ฟ๐ฎ๐น. Padahal teksnya sendiri jauh lebih kaya.
Mazmur 78 berbicara tentang ๐ถ๐ป๐ด๐ฎ๐๐ฎ๐ป ๐ธ๐ผ๐น๐ฒ๐ธ๐๐ถ๐ณ, ๐๐๐ฟ๐๐ป-๐ฎ๐น๐ถ๐ต ๐๐ฟ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐๐ถ, ๐ฝ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ถ๐ฑ๐ถ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ถ๐บ๐ฎ๐ป ๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐ฟ๐ด๐ฒ๐ป๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐๐ถ, ๐ธ๐ฎ๐ฟ๐๐ฎ ๐๐น๐น๐ฎ๐ต ๐ฑ๐ฎ๐น๐ฎ๐บ ๐๐ฒ๐ท๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ต, ๐ธ๐ฒ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ๐๐ฒ๐๐ถ๐ฎ๐ฎ๐ป ๐๐บ๐ฎ๐, ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ป๐ฎ๐๐ฎ๐ฏ๐ฎ๐ต ๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐ฟ๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ถ๐ป๐ด๐ฎ๐ ๐๐น๐น๐ฎ๐ต ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ต๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ฝ ๐๐ฒ๐ฟ๐๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ป๐ฎ๐ฎ๐๐ถ-๐ก๐๐ฎ.
๐ญ๐ฎ. ๐๐ฎ๐น๐ ๐ฏ๐ฎ๐ด๐ฎ๐ถ๐บ๐ฎ๐ป๐ฎ ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐๐ฟ๐ถ๐๐๐๐?
Sampai di sini muncul pertanyaan: kalau ini homili Kristen, lalu di mana Kristusnya? Terus terang saya sendiri mengalami kesulitan memasukkan Kristus ke dalam homili yang hanya bertumpu pada Mazmur 78:1–11. Bukan karena Kristus tidak penting, tetapi karena saya tidak ingin merudapaksa Kristus ke dalam teks yang memang tidak sedang berbicara tentang Yesus Kristus.
Mazmur 78:1–11 berbicara tentang Allah Israel, karya-Nya dalam sejarah Israel, pewarisan tradisi iman, ingatan antargenerasi, dan bahaya melupakan karya Allah. Tidak ada pintu kristologis yang terbuka secara langsung dalam perikop ini.
Tentu saja sebagai orang Kristen kita dapat membaca PL dalam terang Kristus. Akan tetapi itu tidak berarti setiap teks PL harus dirudapaksa menghasilkan kalimat tentang Kristus dalam setiap homili. Di sinilah konsekuensi pilihan menggunakan satu bacaan PL sebagai dasar homili, terlebih ketika bacaan itu dipilih di luar rangkaian RCL, menjadi nyata.
Saya sudah mengatakan di bagian awal bahwa sah-sah saja sebuah gereja tidak mengikuti RCL. Saya tidak menganggap RCL sebagai hukum positif. Namun, setiap pilihan mempunyai konsekuensi.
Ketika mengikuti RCL, bacaan PL dapat dibaca bersama bacaan Epistel dan Injil. Terjadi percakapan antarteks yang memungkinkan nasabah antara PL dan kesaksian tentang Kristus dibangun dengan lebih alami. Sebaliknya ketika sebuah teks PL dipilih sendirian untuk menjadi dasar homili, pengkhotbah harus bekerja lebih keras agar teks tersebut tidak berubah menjadi bahan ceramah moral.
Menurut saya persoalan terjadi di sini. Mazmur 78 sebenarnya mempunyai teologi yang kuat: mendengar ➡️ mengingat ➡️ mewariskan ➡️ berharap kepada Allah ➡️ menaati-Nya.
Namun, karena hanya teks itu yang dipakai, homili dengan mudah bergeser menjadi: berbicaralah tentang Tuhan ➡️ jadilah teladan ➡️ berbuatlah baik ➡️ ajarkan iman kepada anak-anak.
Semua itu baik, tetapi akhirnya kita kembali kepada persoalan tadi: homili menjadi ceramah moral.
Lalu, apakah saya harus memaksakan Kristus masuk agar homili ini menjadi “Kristen”? Saya kira tidak.
Saya justru akan memanfaatkan matra eklesiologis yang sudah muncul dari teks. Di sinilah saya menemukan pintu yang lebih alami. Di sini kutemukan! [Menyitir judul buku Pdt. Wismohadi Wahono wkwkwkwk]
Mazmur 78 berbicara tentang komunitas iman yang mengingat karya Allah dan meneruskannya kepada generasi berikutnya. Dalam konteks Gereja kita dapat mengatakan bahwa Gereja adalah komunitas yang hidup dari ingatan akan karya Allah dan bertanggung jawab menurun-alihkan iman kepada generasi berikutnya.
Dalam kerangka iman Kristen karya Allah itu tentu tidak berhenti pada sejarah Israel dan kita mengenal kepenuhannya dalam Kristus. Akan tetapi saya tidak perlu memasukkan Kristus secara paksa ke dalam setiap ayat Mazmur 78.
Jadi, saya akan mengatakan terus terang: memilih bacaan tunggal dari PL untuk homili Kristen memang mempunyai konsekuensi. Satu di antaranya adalah tidak selalu mudah menemukan pintu kristologis yang bertanggung jawab.
Itu bukan kegagalan Alkitab. Itu adalah konsekuensi hermeneutis dari pilihan Majelis Jemaat sendiri. Kesulitan menemukan Kristus jangan dikompensasikan dengan membuat teks berubah menjadi ceramah moral. Dalam kasus Mazmur 78:1–11 jalan yang lebih jujur adalah membiarkan teks berbicara tentang ingatan iman dan penurun-alihan iman antargenerasi, lalu mengembangkan implikasinya bagi Gereja sebagai komunitas umat Allah.
Tapiii tetap saja aneh dan janggal, Gereja ๐ฌ๐ฐ๐ฌ tidak mewartakan Kristus?
๐ฃ๐ฒ๐ป๐ฎ๐น๐ถ
Saya kira masalah utama ๐๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ณ๐ต๐ข ini bukan bahwa pesannya keliru. Masalahnya adalah pesannya terlalu mudah benar.
Kita semua tentu bersetuju bahwa kita harus berbicara baik, bersyukur, menjadi teladan, mengasihi, mendidik anak, dan menceritakan kebaikan Tuhan, tetapi tugas homili bukan hanya mengatakan hal-hal yang benar. ๐๐ผ๐บ๐ถ๐น๐ถ ๐๐ฒ๐ต๐ฎ๐ฟ๐๐๐ป๐๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ป๐ผ๐น๐ผ๐ป๐ด ๐ท๐ฒ๐บ๐ฎ๐ฎ๐ ๐บ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ฟ ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฑ๐ถ๐ธ๐ฎ๐๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ธ๐ ๐๐น๐ธ๐ถ๐๐ฎ๐ฏ.
Ketika Mazmur 78:1–11 dibaca dengan cermat, kita menemukan bahwa teks ini bukan sekadar berkata: “Ceritakanlah kebaikan Tuhan.” Teks ini berkata jauh lebih dalam: Ingatlah karya Allah. Ajarkan kepada generasi berikutnya. Jangan sembunyikan sejarah itu. Biarkan mereka belajar dari karya Allah sekaligus dari kegagalan umat agar mereka menaruh harapan kepada Allah, menaati-Nya, dan tidak menjadi seperti generasi yang melupakan-Nya.
Itulah sebabnya saya melihat ๐๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ณ๐ต๐ข ini ๐๐ฎ๐ธ ๐๐ฏ๐ฎ๐ต๐ป๐๐ฎ ๐ฐ๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐บ๐ฎ๐ต ๐บ๐ผ๐ฟ๐ฎ๐น dengan dukungan ayat Alkitab daripada homili yang bertolak dari teologi Mazmur 78:1–11. Oleh karena Mazmur 78:1–11 dipilih sebagai bacaan tunggal di luar rangkaian RCL, tanggung jawab terhadap teks justru menjadi semakin besar.
Ketika Majelis Jemaat memilih satu teks secara khusus untuk menjadi dasar homili, tidak cukup hanya menemukan beberapa kalimat di dalamnya yang cocok dengan tema Majelis Jemaat. Mereka perlu bertanya: “๐๐ฝ๐ฎ ๐๐ฒ๐ฏ๐ฒ๐ป๐ฎ๐ฟ๐ป๐๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ต๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ฑ๐ถ๐ธ๐ฎ๐๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ธ๐ ๐ถ๐ป๐ถ ๐ธ๐ฒ๐ฝ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐ท๐ฒ๐บ๐ฎ๐ฎ๐?”