Sabtu, 05 September 2026

Sudut Pandang ๐—–๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ต ๐— ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—น ๐™ˆ๐™š๐™ฃ๐™˜๐™š๐™ง๐™ž๐™ฉ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™†๐™–๐™ง๐™ฎ๐™– ๐™๐™ช๐™๐™–๐™ฃ๐— ๐—ฎ๐˜‡๐—บ๐˜‚๐—ฟ ๐Ÿณ๐Ÿด:๐Ÿญ–๐Ÿญ๐Ÿญ

Sudut Pandang ๐—–๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ต ๐— ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—น ๐™ˆ๐™š๐™ฃ๐™˜๐™š๐™ง๐™ž๐™ฉ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™†๐™–๐™ง๐™ฎ๐™– ๐™๐™ช๐™๐™–๐™ฃ
๐— ๐—ฎ๐˜‡๐—บ๐˜‚๐—ฟ ๐Ÿณ๐Ÿด:๐Ÿญ–๐Ÿญ๐Ÿญ

PENGANTAR
Seperti biasa, selalu saja, teman membawa renungan yg belum diupload warta gereja nya Minggu 06 September 2026, gereja arus utama, protestan Reformir untuk didiskusikan ๐˜™๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ž๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข Sebuah ๐—šereja Protestan Reformir untuk Minggu, 6 September 2026 ini diberi judul ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜บ๐˜ข ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ berdasarkan Mazmur 78:1–11. Sepintas renungan ini terasa bagus. Bahasanya komunikatif, aplikasinya jelas, dan pesannya mudah diterima: kita diminta menceritakan kebaikan Tuhan, mengucap syukur, memberi penguatan kepada sesama, serta menjadi teladan bagi generasi berikutnya.
PEMAHAMAN 
Persoalannya ๐˜™๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ž๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ini terasa lebih sebagai renungan moral daripada hasil penggalian teologis terhadap Mazmur 78:1–11.

Ada satu hal yang menurut saya perlu diperhatikan sejak awal. Dalam RCL untuk 6 September 2026, bacaan-bacaannya adalah: Keluaran 12:1–14, Mazmur 149, Roma 13:8–14, dan Matius 18:15–20. ๐—ฅ๐—–๐—Ÿ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฐ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐—š๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฐ๐—ฎ ๐—”๐—น๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ฏ.

Dengan demikian Mazmur 78:1–11 bukan bagian dari rangkaian bacaan RCL pada 6 September 2026. Mazmur tersebut menjadi bacaan tunggal yang dipilih untuk homili dalam Kebaktian Minggu, 6 September 2026, di GKI Kebayoran Baru.

Sah-sah saja sih. RCL bukanlah hukum positif sehingga kalau Gereja tidak menerapkan RCL bukanlah tindak pelanggaran. Namun, ๐—ธ๐—ผ๐—ป๐˜€๐—ฒ๐—ธ๐˜‚๐—ฒ๐—ป๐˜€๐—ถ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐˜‚ ๐—ฑ๐—ถ๐˜€๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ.

Ketika sebuah teks dipilih sendirian untuk menjadi dasar homili dan tidak ditempatkan dalam percakapan dengan bacaan-bacaan lain, ada risiko bahwa teks tersebut dijadikan ๐—ธ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ฎ๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—บ๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ถ๐˜๐—ฒ๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—บ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ผ๐—น๐—ฒ๐—ต ๐— ๐—ฎ๐—ท๐—ฒ๐—น๐—ถ๐˜€ ๐—๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ฎ๐˜. Menurut saya itulah yang terjadi dalam ๐˜™๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ž๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข  ini.

Tema ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜บ๐˜ข ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ sudah ditentukan. Sesudah itu Mazmur 78:1–11 digunakan untuk memberikan dasar biblis bagi tema tersebut. Akibatnya, pertanyaan yang seharusnya diajukan:
“Apa yang hendak dikatakan Mazmur 78:1–11?” berubah menjadi: “Bagaimana Mazmur 78:1–11 dapat mendukung pesan tentang menceritakan kebaikan Tuhan?”

Perbedaannya sangat penting dan mendasar.

๐Ÿญ. ๐— ๐—ฎ๐˜‡๐—บ๐˜‚๐—ฟ ๐Ÿณ๐Ÿด ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐˜๐—ฎ๐—บ๐—ฎ ๐˜๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ๐—ธ-๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ถ๐—ฐ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐˜๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ง๐˜‚๐—ต๐—ฎ๐—ป

๐˜™๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ž๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข  dibuka dengan hasil penelitian ๐˜œ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ท๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ช๐˜ต๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ˆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ป๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข bahwa manusia rata-rata mengucapkan sekitar 16.000 kata setiap hari. Lalu dibuat pertanyaan: “Berapa banyak dari kata-kata itu yang kita gunakan untuk menceritakan perbuatan Tuhan yang ajaib?”

Sebagai pembuka ini menarik. Namun, secara eksegetis saya melihat adanya persoalan sejak kalimat pertama.

Mazmur 78 tidak sedang membicarakan kuantitas kata yang keluar dari mulut manusia setiap hari. Mazmur 78:1–11 berbicara tentang turun-alih tradisi iman antargenerasi. Pemazmur mengajak umat mendengar. Apa yang telah didengar dan diketahui dari para leluhur harus diteruskan kepada generasi berikutnya.

Jadi, persoalannya bukan: “Dari 16.000 kata kita sehari, berapa kata yang berbicara tentang Tuhan?”

Persoalannya adalah: “Apakah karya Allah yang telah diketahui dan dialami umat tetap diingat, diajarkan, dan diwariskan sehingga generasi berikutnya menaruh harapan kepada Allah dan menaati-Nya?”

Ini bukan sekadar perbedaan tekanan. Ini menyangkut pusat perhatian teks.

๐Ÿฎ. “๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ฐ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป” ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ, ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐˜‚๐—ท๐˜‚๐—ฎ๐—ป ๐—ฎ๐—ธ๐—ต๐—ถ๐—ฟ

๐˜™๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ž๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข  mengatakan bahwa karya pembebasan dan penyertaan Tuhan bukanlah rahasia yang disimpan untuk diri sendiri. Benar, tetapi Mazmur 78 tidak berhenti pada tindakan “menceritakan”.

Dalam ayat 3-7 terdapat sebuah rantai yang sangat penting: mendengar ➡️ mengetahui ➡️ menceritakan ➡️ mengajarkan ➡️ mengingat ➡️ berharap kepada Allah ➡️ menaati perintah-Nya.

OKI “menceritakan” tidak boleh dilepaskan dari tujuan akhirnya. Ayat 7 secara eksplisit menyebutkan: supaya generasi berikutnya menaruh harapan kepada Allah, tidak melupakan perbuatan-perbuatan-Nya, dan memelihara perintah-perintah-Nya.

Jadi, kalau saya hendak merumuskan tesis Mazmur 78:1–11, saya tidak akan mengatakan: “Kita harus banyak menceritakan kebaikan Tuhan.” Saya lebih suka (kata orang Jawa ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ง๐˜ฆ๐˜ณ wkwkwkwk) mengatakan: “๐—ž๐—ฎ๐—ฟ๐˜†๐—ฎ ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚๐˜€ ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐˜€ ๐—ฑ๐—ถ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐˜ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ๐˜„๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ด๐—ฒ๐—ป๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ธ๐˜‚๐˜๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐˜€๐˜‚๐—ฝ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚๐—ต ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ถ ๐—ธ๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ๐˜€๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—ด๐—ฒ๐—ป๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—บ๐—ป๐˜†๐—ฎ.” Ini jauh lebih dekat dengan teks.

๐Ÿฏ. ๐™๐™š๐™ฃ๐™ช๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ ๐™’๐™–๐™ง๐™ฉ๐™– ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐˜๐—ฟ๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ๐˜€๐—ถ ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ธ๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—ธ๐˜€๐—ถ๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฟ๐—ถ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ

Sesudah berbicara mengenai 16.000 kata, ๐˜™๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ž๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข masuk ke wilayah pengalaman individual: “Ketika menghadapi pergumulan atau meraih keberhasilan, akui peran Tuhan di dalamnya.”

Sekali lagi nasihat itu tidak keliru. Tapiii saya harus bertanya: Apakah itu yang sedang dibicarakan Mazmur 78?  Tidak secara langsung.

Mazmur 78 berbicara tentang apa yang ๐™ ๐™–๐™ข๐™ž ๐™™๐™š๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ง dari para leluhur dan apa yang harus diteruskan kepada anak-anak mereka. Ini bukan terutama kesaksian seseorang mengenai:
“Tuhan menolong saya ketika saya mengalami pergumulan.”

Yang menjadi perhatian pemazmur adalah ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ผ๐—น๐—ฒ๐—ธ๐˜๐—ถ๐—ณ ๐˜‚๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต. Ada sejarah yang harus diwariskan. Ada karya Allah yang harus diingat. Ada kegagalan leluhur yang juga harus diingat.Untuk itu ada generasi baru yang harus belajar dari semuanya itu. 

Jadi, ketika teks tentang memori kolektif Israel diubah menjadi ajakan agar setiap orang menceritakan pengalaman pribadinya bersama Tuhan, menurut saya telah ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ด๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป ๐—ต๐—ฒ๐—ฟ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฒ๐˜‚๐˜๐—ถ๐˜€.

๐Ÿฐ. ๐—™๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ฒ  ๐™ฉ๐™ž๐™™๐™–๐™  ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™ฎ๐™š๐™ข๐™—๐™ช๐™ฃ๐™ฎ๐™ž๐™ ๐™–๐™ฃ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฝ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ฎ๐—ถ ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ป๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—น๐—ฒ๐—ฏ๐—ถ๐—ต ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ

Ayat 4 mengatakan bahwa generasi sekarang tidak akan menyembunyikan dari anak-anak mereka apa yang telah mereka dengar dari para leluhur.

Ini sangat menarik. Apa yang ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ itu bukan hanya cerita tentang keberhasilan Israel. Mazmur 78 secara keseluruhan justru merupakan sejarah yang sangat kritis terhadap Israel.
Pemazmur akan menceritakan bagaimana umat berulang kali melihat karya Allah, tetapi kemudian melupakan-Nya.

▶️Mereka melihat, tetapi memberontak.
▶️Mereka mengetahui, tetapi tidak setia.
▶️Mereka mengalami karya Allah, tetapi tidak menjadikan pengalaman itu sebagai dasar kehidupan mereka.

OKI tradisi iman yang dimaksud Mazmur 78 bukanlah tradisi yang berkata: “Ceritakan kepada anak-anak betapa hebatnya nenek moyang kita.” Justru: “๐—–๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ฒ๐—ฐ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐˜‚๐˜๐˜‚๐—ต ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ ๐˜‚๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ด๐—ด๐—ฎ๐—ฝ๐—ถ ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐˜†๐—ฎ-๐—ก๐˜†๐—ฎ, ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐˜‚๐—ธ ๐—ธ๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ป ๐˜‚๐—บ๐—ฎ๐˜.”

Di sini saya melihat kekayaan teologis yang tidak muncul dalam ๐˜™๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ž๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข .

๐Ÿฑ. ๐—•๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ธ-๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ถ

Ayat 5–7 memerjelas tujuan pendidikan antargenerasi. Allah menetapkan kesaksian dan pengajaran di Israel supaya generasi berikutnya mengetahuinya, tetapi tujuan akhirnya bukan sekadar alih pengetahuan.

Ayat 7 menyebut tiga hal:
▶️ mengingat perbuatan Allah,
▶️ menaruh harapan kepada Allah,
▶️ memelihara perintah-Nya.

Dengan begitu pengetahuan mempunyai arah, yakni mengingat ➡️  berharap ➡️ menaati.
Ini sangat penting, karena kalau hanya berhenti pada: orang tua menceritakan ➡️  anak mendengar ➡️ anak tahu, kita belum sampai pada tujuan Mazmur 78.

Tradisi iman dimaksudkan untuk membentuk wawasan hidup. Anak-anak bukan sekadar diharapkan mengetahui cerita tentang Allah. Mereka diharapkan menaruh harapan kepada Allah.

๐Ÿฒ. ๐—ž๐—ฒ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐˜ ๐Ÿด-๐Ÿญ๐Ÿญ

Ayat 8 mengatakan: “Jangan sampai mereka seperti leluhur mereka.” Mengapa? Jawabannya: karena leluhur mereka adalah: “generasi yang membangkang dan memberontak.”

Masalah mereka bukanlah kurang mendengar cerita. Mereka justru telah memiliki sejarah panjang tentang karya Allah. Mereka telah melihat, mendengar, mengalami, tetapi mereka tidak setia.

Jadi, ada persoalan yang jauh lebih serius daripada persoalan komunikasi: ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐˜†๐—ฎ ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ผ๐˜๐—ผ๐—บ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜€ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ต๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—น๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต.

Ini menurut saya merupakan satu inti teologis perikop, yang justru bagian ini ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฝ๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐˜ ๐˜™๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ž๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข .

Ayat 9–11 menghadirkan Efraim sebagai pemerian konkret mengenai kegagalan itu. Mereka diperikan sebagai orang-orang yang memiliki busur dan mampu berperang, tetapi berbalik pada hari peperangan. Lantas diagnosisnya diberikan: mereka tidak memelihara perjanjian Allah, mereka menolak berjalan menurut pengajaran-Nya, dan mereka melupakan perbuatan-perbuatan-Nya.

Perhatikan nasabah ayat 7 dengan ayat 11.
▶️ Ayat 7 mengatakan: jangan melupakan perbuatan Allah.
▶️ Ayat 11 mengatakan: mereka melupakan perbuatan Allah.

Jadi, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต dan ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ merupakan pasangan penting dalam perikop ini. Kata ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ di sini tentu bukan sekadar kehilangan memori secara psikologis, karena mereka tidak sedang mengalami amnesia. Mereka mengetahui sejarahnya.

Yang terjadi adalah bahwa karya Allah pada masa lalu tidak lagi menentukan kehidupan mereka pada masa kini. Nah, di sini Mazmur 78 menjadi sangat tajam.

๐Ÿณ. ๐™๐™š๐™ฃ๐™ช๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ ๐™’๐™–๐™ง๐™ฉ๐™– ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐—ฎ๐—น๐˜‚ ๐—ฐ๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐˜ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฝ๐—ถ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐˜ ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ธ๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฎ๐—ถ๐—ธ

Bagian berikut mengatakan bahwa menceritakan karya Tuhan tidak berhenti pada ucapan bibir.
Petulis renungan lalu memberikan contoh: kasih, keadilan, kejujuran, dan kemurahan hati.

Saya tidak berkeberatan terhadap nilai-nilai tersebut, kemurahan hati yang seharusnya ๐—ธ๐—ฒ๐—บ๐˜‚๐—ฟ๐—ฎ๐—ต๐—ต๐—ฎ๐˜๐—ถ๐—ฎ๐—ป. [Kalau tak begitu nanti besar kepala menjadi kebesaran kepala. Kepalanya kebesaran alias terlalu besar wkwkwkwk]

Persoalannya adalah: itu bukan hasil langsung dari eksegesis Mazmur 78:1–11. Ini adalah ๐—ฎ๐—ฝ๐—น๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐—บ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—น yang dimasukkan ke dalam teks. Akibatnya, alurnya menjadi: ceritakan kebaikan Tuhan ➡️  perkataan harus disertai perbuatan ➡️ lakukan kasih, keadilan, kejujuran, kemurahan hati.

Dalam pada itu alur Mazmur 78 lebih spesifik: dengar ➡️  ajarkan ➡️ ingat ➡️ berharap kepada Allah ➡️  menaati perintah-Nya.

Semuanya itu ditempatkan berhadapan dengan: melupakan ➡️ tidak memelihara perjanjian ➡️  menolak pengajaran Allah ➡️  memberontak.

Menurut saya ini perbedaan yang sangat mendasar.

๐Ÿด. ๐——๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ธ๐—ผ๐—บ๐˜‚๐—ป๐—ถ๐˜๐—ฎ๐˜€ ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ธ๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—ฎ๐—ฟ๐—ด๐—ฎ

๐˜™๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ž๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข juga sangat menekankan anak, cucu, dan generasi selanjutnya. Itu memang mempunyai dasar dalam teks, tetapi Mazmur 78 tidak sedang memberikan kuliah ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ.
Yang dibicarakan adalah ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐˜‚๐—ป-๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ต ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—ธ๐—ผ๐—บ๐˜‚๐—ป๐—ถ๐˜๐—ฎ๐˜€ ๐—œ๐˜€๐—ฟ๐—ฎ๐—ฒ๐—น.

Penerapannya seharusnya tidak berhenti pada: “Orang tua harus menceritakan Tuhan kepada anak-anak.” Ada pertanyaan yang lebih luas: ๐—”๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ต ๐—ด๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—ต ๐—บ๐—ฎ๐—บ๐—ฝ๐˜‚ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐˜€๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ด๐—ฒ๐—ป๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ธ๐˜‚๐˜๐—ป๐˜†๐—ฎ?

Gereja sendiri merupakan komunitas yang hidup dari sebuah memori: mengingat karya Allah, menafsirkan karya Allah, mengajarkan karya Allah, dan meneruskannya kepada generasi berikut.

Dengan demikian Mazmur 78 sebenarnya mempunyai ๐—บ๐—ฎ๐˜๐—ฟ๐—ฎ ๐—ฒ๐—ธ๐—น๐—ฒ๐˜€๐—ถ๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ๐˜€, bukan hanya keluarga. ๐˜™๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ž๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข kehilangan kesempatan untuk membawa teks ini ke sana.

๐Ÿต. ๐—ฌ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ถ๐˜„๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ต๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ธ๐—ถ๐˜€๐—ฎ๐—ต ๐—ธ๐—ฒ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ต๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ป

Bagi saya ini justru bagian paling menarik. Kalau kita sungguh mengikuti Mazmur 78, kita menemukan bahwa umat tidak diminta hanya mewariskan kisah-kisah indah tentang karya Allah.
Mereka juga harus mewariskan ๐—ธ๐—ถ๐˜€๐—ฎ๐—ต ๐—ธ๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ป ๐˜‚๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ถ๐—ฟ๐—ถ.

Ini penting karena iman tidak diwariskan melalui glorifikasi masa lalu. Iman justru diwariskan melalui ingatan yang jujur:
♦️ Allah setia, tetapi umat sering tidak setia.
♦️ Allah berkarya, tetapi umat sering melupakan.
♦️ Allah memberi, tetapi manusia dapat memberontak.

Dengan negitu generasi berikutnya belajar bukan hanya ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ, mereka juga belajar ๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ.

Saya kira inilah satu kekuatan Mazmur 78 yang tidak berhasil diangkat oleh petulis ๐˜™๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ž๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข.

๐Ÿญ๐Ÿฌ. ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐˜€๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ฒ๐—ฏ๐˜‚๐˜๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—น?

Sekali lagi saya tidak mengatakan ๐˜™๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ž๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ini buruk. Justru sebaliknya. Ia komunikatif, hangat, dan mudah diterapkan.

Tapiiii kalau saya bertanya: ๐—”๐—ฝ๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐™๐™š๐™ฃ๐™ช๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ ๐™’๐™–๐™ง๐™ฉ๐™– ๐—ถ๐—ป๐—ถ ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ต๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฝ ๐— ๐—ฎ๐˜‡๐—บ๐˜‚๐—ฟ ๐Ÿณ๐Ÿด:๐Ÿญ–๐Ÿญ๐Ÿญ? Jawaban saya: ๐˜™๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ž๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข mengambil tema ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜บ๐˜ข ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ, lalu teks digunakan untuk mendukung beberapa nasihat: gunakan kata-kata dengan baik, ceritakan kebaikan Tuhan, bersyukur, memberi pengharapan, menjadi teladan, berbuat kasih, mendidik anak-anak,
dan jangan melupakan Tuhan.

Semua itu baik, tetapi kumpulan nasihat tersebut belum memerlihatkan tesis teologis Mazmur 78:1–11. Akibatnya Mazmur 78 menjadi ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐˜ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐˜‚๐—ธ๐˜‚๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ถ ๐—ฐ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ต ๐—บ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—น. Padahal teksnya sendiri jauh lebih kaya.

Mazmur 78 berbicara tentang ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ผ๐—น๐—ฒ๐—ธ๐˜๐—ถ๐—ณ, ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐˜‚๐—ป-๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ต ๐˜๐—ฟ๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ๐˜€๐—ถ, ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ถ๐—ฑ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ฟ๐—ด๐—ฒ๐—ป๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ถ, ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐˜†๐—ฎ ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐˜€๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต, ๐—ธ๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ๐˜€๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐˜‚๐—บ๐—ฎ๐˜, ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ป๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐˜ ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ฝ ๐˜€๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฎ๐˜๐—ถ-๐—ก๐˜†๐—ฎ.

๐Ÿญ๐Ÿฎ. ๐—Ÿ๐—ฎ๐—น๐˜‚ ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐˜‚๐˜€?

Sampai di sini muncul pertanyaan: kalau ini homili Kristen, lalu di mana Kristusnya? Terus terang saya sendiri mengalami kesulitan memasukkan Kristus ke dalam homili yang hanya bertumpu pada Mazmur 78:1–11. Bukan karena Kristus tidak penting, tetapi karena saya tidak ingin merudapaksa Kristus ke dalam teks yang memang tidak sedang berbicara tentang Yesus Kristus.

Mazmur 78:1–11 berbicara tentang Allah Israel, karya-Nya dalam sejarah Israel, pewarisan tradisi iman, ingatan antargenerasi, dan bahaya melupakan karya Allah. Tidak ada pintu kristologis yang terbuka secara langsung dalam perikop ini.

Tentu saja sebagai orang Kristen kita dapat membaca PL dalam terang Kristus. Akan tetapi itu tidak berarti setiap teks PL harus dirudapaksa menghasilkan kalimat tentang Kristus dalam setiap homili. Di sinilah konsekuensi pilihan menggunakan satu bacaan PL sebagai dasar homili, terlebih ketika bacaan itu dipilih di luar rangkaian RCL, menjadi nyata.

Saya sudah mengatakan di bagian awal bahwa sah-sah saja sebuah gereja tidak mengikuti RCL. Saya tidak menganggap RCL sebagai hukum positif. Namun, setiap pilihan mempunyai konsekuensi.

Ketika mengikuti RCL, bacaan PL dapat dibaca bersama bacaan Epistel dan Injil. Terjadi percakapan antarteks yang memungkinkan nasabah antara PL dan kesaksian tentang Kristus dibangun dengan lebih alami. Sebaliknya ketika sebuah teks PL dipilih sendirian untuk menjadi dasar homili, pengkhotbah harus bekerja lebih keras agar teks tersebut tidak berubah menjadi bahan ceramah moral.

Menurut saya persoalan terjadi di sini. Mazmur 78 sebenarnya mempunyai teologi yang kuat: mendengar ➡️ mengingat ➡️ mewariskan ➡️ berharap kepada Allah ➡️ menaati-Nya.

Namun, karena hanya teks itu yang dipakai, homili dengan mudah bergeser menjadi: berbicaralah tentang Tuhan ➡️ jadilah teladan ➡️ berbuatlah baik ➡️ ajarkan iman kepada anak-anak.

Semua itu baik, tetapi akhirnya kita kembali kepada persoalan tadi: homili menjadi ceramah moral.

Lalu, apakah saya harus memaksakan Kristus masuk agar homili ini menjadi “Kristen”? Saya kira tidak.

Saya justru akan memanfaatkan matra eklesiologis yang sudah muncul dari teks. Di sinilah saya menemukan pintu yang lebih alami. Di sini kutemukan! [Menyitir judul buku Pdt. Wismohadi Wahono wkwkwkwk]

Mazmur 78 berbicara tentang komunitas iman yang mengingat karya Allah dan meneruskannya kepada generasi berikutnya. Dalam konteks Gereja kita dapat mengatakan bahwa Gereja adalah komunitas yang hidup dari ingatan akan karya Allah dan bertanggung jawab menurun-alihkan iman kepada generasi berikutnya.

Dalam kerangka iman Kristen karya Allah itu tentu tidak berhenti pada sejarah Israel dan kita mengenal kepenuhannya dalam Kristus. Akan tetapi saya tidak perlu memasukkan Kristus secara paksa ke dalam setiap ayat Mazmur 78.

Jadi, saya akan mengatakan terus terang: memilih bacaan tunggal dari PL untuk homili Kristen memang mempunyai konsekuensi. Satu di antaranya adalah tidak selalu mudah menemukan pintu kristologis yang bertanggung jawab.

Itu bukan kegagalan Alkitab. Itu adalah konsekuensi hermeneutis dari pilihan Majelis Jemaat sendiri. Kesulitan menemukan Kristus jangan dikompensasikan dengan membuat teks berubah menjadi ceramah moral. Dalam kasus Mazmur 78:1–11 jalan yang lebih jujur adalah membiarkan teks berbicara tentang ingatan iman dan penurun-alihan iman antargenerasi, lalu mengembangkan implikasinya bagi Gereja sebagai komunitas umat Allah.

Tapiii tetap saja aneh dan janggal, Gereja ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฌ tidak mewartakan Kristus?

๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—น๐—ถ

Saya kira masalah utama ๐˜™๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ž๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ini bukan bahwa pesannya keliru. Masalahnya adalah pesannya terlalu mudah benar.

Kita semua tentu bersetuju bahwa kita harus berbicara baik, bersyukur, menjadi teladan, mengasihi, mendidik anak, dan menceritakan kebaikan Tuhan, tetapi tugas homili bukan hanya mengatakan hal-hal yang benar. ๐—›๐—ผ๐—บ๐—ถ๐—น๐—ถ ๐˜€๐—ฒ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚๐˜€๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ป๐—ด ๐—ท๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ฎ๐˜ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ธ๐˜€ ๐—”๐—น๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ฏ. 

Ketika Mazmur 78:1–11 dibaca dengan cermat, kita menemukan bahwa teks ini bukan sekadar berkata: “Ceritakanlah kebaikan Tuhan.” Teks ini berkata jauh lebih dalam: Ingatlah karya Allah. Ajarkan kepada generasi berikutnya. Jangan sembunyikan sejarah itu. Biarkan mereka belajar dari karya Allah sekaligus dari kegagalan umat agar mereka menaruh harapan kepada Allah, menaati-Nya, dan tidak menjadi seperti generasi yang melupakan-Nya.

Itulah sebabnya saya melihat ๐˜™๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ž๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ini ๐˜๐—ฎ๐—ธ ๐˜‚๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ฐ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ต ๐—บ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—น dengan dukungan ayat Alkitab daripada homili yang bertolak dari teologi Mazmur 78:1–11. Oleh karena Mazmur 78:1–11 dipilih sebagai bacaan tunggal di luar rangkaian RCL, tanggung jawab terhadap teks justru menjadi semakin besar.

Ketika Majelis Jemaat memilih satu teks secara khusus untuk menjadi dasar homili, tidak cukup hanya menemukan beberapa kalimat di dalamnya yang cocok dengan tema Majelis Jemaat. Mereka perlu bertanya: “๐—”๐—ฝ๐—ฎ ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฟ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ต๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฑ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ธ๐˜€ ๐—ถ๐—ป๐—ถ ๐—ธ๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ท๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ฎ๐˜?”

Sudut Pandang ๐—–๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ต ๐— ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—น ๐™ˆ๐™š๐™ฃ๐™˜๐™š๐™ง๐™ž๐™ฉ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™†๐™–๐™ง๐™ฎ๐™– ๐™๐™ช๐™๐™–๐™ฃ๐— ๐—ฎ๐˜‡๐—บ๐˜‚๐—ฟ ๐Ÿณ๐Ÿด:๐Ÿญ–๐Ÿญ๐Ÿญ

Sudut Pandang ๐—–๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ต ๐— ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—น ๐™ˆ๐™š๐™ฃ๐™˜๐™š๐™ง๐™ž๐™ฉ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™†๐™–๐™ง๐™ฎ๐™– ๐™๐™ช๐™๐™–๐™ฃ ๐— ๐—ฎ๐˜‡๐—บ๐˜‚๐—ฟ ๐Ÿณ๐Ÿด:๐Ÿญ–๐Ÿญ๐Ÿญ PENGANTAR Seperti biasa, se...