𝗡𝗮𝘁𝗮𝗹, 𝗦𝗲𝗷𝗮𝗿𝗮𝗵, 𝗱𝗮𝗻 𝗚𝗼𝗱𝗮𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗺𝗯𝘂𝗸𝘁𝗶𝗸𝗮𝗻 𝟮𝟱 𝗗𝗲𝘀𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿
Jangan bertanya kepada saya kapan Yesus lahir. Dalam tulisan di atas sudah sangat jelas bahwa saya menerima 25 Desember sebagai hari raya liturgis. Saya tidak ambil pusing apakah perayaan liturgis itu mengadopsi dari perayaan pagan. Kalau betul mengadopsi, emangnya kenapa? Imanmu terganggu?
Kata kunci 𝗟𝗜𝗧𝗨𝗥𝗚𝗜𝗦.
2018 awal, saya diberi kesempatan sama mas Bambang Noorsena (selanjutnya saya sebut mas BN) untuk mengkritisi, tulisannya tentang 25 Desember, tanggal lahir Yesus, kemudian itu diupload di FBG Bengkel Liturgi dan FBG Orthodoks Suryani. Mas BN pernah bersama mengajar di STTBI di Cepogo, Boyolali .... Walaupun hanya sebagai dosen tamu berkala. Pernah hampir menjadi supervisor saya, tetapi tidak dimungkinkan karena S2 dan S3 mas BN itu di bidang hukum bukan Teologia. Tulisan ini saya angkat lagi, karena akan masuk ke Natal 2026 dan bbrp teman di FBG Bengkel Liturgi memintanya lagi.
PEMAHAMAN
Bacaan: Lukas 1:26-38
𝟭. 𝗣𝗲𝗺𝗯𝘂𝗸𝗮𝗮𝗻: 𝗗𝗲𝘀𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿 𝘁𝗮𝗸 𝗯𝗲𝗿𝘀𝗮𝗹𝗷𝘂
BN sedang membongkar sebuah kekeliruan populer. Ia mengecam gambaran Natal yang telah dibentuk oleh imajinasi Eropa: salju, pohon Natal dengan kapas sebagai salju, dan gembala yang dibayangkan berada di tengah bentanglahan musim dingin Eropa.
Dalam hal ini kritik BN masuk akal. Betlehem bukan Eropa. Gambaran visual Natal yang kita warisi dari kebudayaan Eropa memang tidak boleh begitu saja diprojeksikan ke Timur Tengah abad kesatu, kata BN. Saya menerima argumen ini.
𝟮. 𝙈𝙞𝙨𝙝𝙣𝙖𝙝 𝗮𝗯𝗮𝗱 𝗸𝗲𝗱𝘂𝗮
BN kemudian membawa pendengar kepada sejarah gembala, 𝘔𝘪𝘴𝘩𝘯𝘢𝘩, 𝘔𝘪𝘨𝘥𝘢𝘭 𝘌𝘥𝘦𝘳, domba untuk kurban Bait Allah, dan akhirnya kepada kesimpulan yang jauh lebih luas mengenai kemungkinan waktu kelahiran Yesus. Di sinilah saya melihat pola yang berbeda: BN memula dengan kritik yang sah terhadap imajinasi budaya, tetapi kemudian menggunakan rangkaian data sejarah dan rekonstruksi untuk menghasilkan kepastian.
Dengan kata lain persoalannya bukan pada upaya BN mengoreksi gambaran Natal yang “kebarat-baratan”. Persoalannya adalah ketika koreksi terhadap gambaran budaya tersebut kemudian diberi bobot seolah-olah menjadi pembuktian historis. Di sinilah saya melihat apa yang saya sebut sebagai 𝙥𝙨𝙚𝙪𝙙𝙤-𝙝𝙞𝙨𝙩𝙤𝙧𝙞𝙘𝙖𝙡 𝙧𝙚𝙖𝙨𝙤𝙣𝙞𝙣𝙜 dengan kemasan ilmiah. Bukan lantaran data yang digunakan semuanya keliru. Justru banyak datanya menarik dan layak dipelajari. Persoalannya adalah cara data, rekonstruksi, dan kesimpulan dipertautkan sehingga batas di antara ketiganya menjadi kabur.
Sebagai contoh: BN mengutip 𝘔𝘪𝘴𝘩𝘯𝘢𝘩 𝘚𝘩𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪𝘮 7:4 tentang wilayah dari Yerusalem sampai 𝘔𝘪𝘨𝘥𝘢𝘭 𝘌𝘥𝘦𝘳. Memang teks itu menyebut binatang yang ditemukan di antara Yerusalem dan 𝘔𝘪𝘨𝘥𝘢𝘭 𝘌𝘥𝘦𝘳 diperlakukan sebagai hewan kurban: jantan sebagai kurban bakaran dan betina sebagai kurban keselamatan.
Padahal 𝘔𝘪𝘴𝘩𝘯𝘢𝘩 𝘚𝘩𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪𝘮 7:4 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻: "Ada kelompok gembala khusus di 𝘔𝘪𝘨𝘥𝘢𝘭 𝘌𝘥𝘦𝘳 yang menggembalakan domba kurban Bait Allah." Yang dikatakan adalah aturan mengenai 𝗵𝗲𝘄𝗮𝗻 atau 𝗯𝗶𝗻𝗮𝘁𝗮𝗻𝗴 yang ditemukan di wilayah tertentu dan bagaimana status kurbannya diperlakukan.
Secara literal 𝘔𝘪𝘴𝘩𝘯𝘢𝘩 𝘚𝘩𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪𝘮 7:4 mengatakan: “Binatang (𝙗𝙚𝙝𝙚𝙢𝙖𝙝, bukan domba) yang ditemukan dari Yerusalem sampai 𝘔𝘪𝘨𝘥𝘢𝘭 𝘌𝘥𝘦𝘳, dan dengan jarak yang sama ke segala arah: yang jantan adalah kurban bakaran; yang betina adalah kurban keselamatan. Rabi Yehuda berkata: yang layak untuk kurban Paska adalah kurban Paska, [jika ditemukan] tiga puluh hari sebelum hari raya.” [Lih. https://www.mishnah.org/learn/shekalim/7/4/ ]
Sangat terang teks di atas tidak memberikan informasi tentang keberadaan kelompok gembala khusus di 𝘔𝘪𝘨𝘥𝘢𝘭 𝘌𝘥𝘦𝘳, tidak mengatakan bahwa mereka menggembalakan domba kurban Bait Allah, dan tidak sedang memberikan catatan historis mengenai pekerjaan para gembala di wilayah tersebut. Teks itu sedang membahas persoalan hukum mengenai binatang yang ditemukan dan asumsi hukum mengenai status kurbannya.
𝟯. 𝗠𝗮𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝘁𝗼𝗱𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶 𝘀𝗲𝗷𝗮𝗿𝗮𝗵 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗰𝘂𝗸𝘂𝗽 𝘀𝗲𝗿𝗶𝘂𝘀
Saya justru tertarik dengan kalimat BN: "sumber 100 tahun kemudian lebih penting daripada sumber 500 tahun kemudian."
Secara intuitif benar bahwa sumber yang lebih dekat dengan suatu peristiwa dpat bernilai keterbuktian lebih besar, tetapi dalam historiografi rumusnya tidak sesederhana itu. Sumber abad ke-2 tidak otomatis lebih dapat dipercaya daripada sumber abad ke-5. Yang harus ditanyakan: siapa petulisnya, kapan ditulis, berdasarkan sumber apa, apakah petulis mempunyai akses kepada tradisi sebelumnya, apa tujuan teks, bagaimana turun-alihnya, apakah teks tersebut sedang membuat aturan normatif atau sedang memberikan laporan historis? Jadi, 𝘁𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹 𝘀𝘂𝗺𝗯𝗲𝗿 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗼𝘁𝗼𝗺𝗮𝘁𝗶𝘀 𝗸𝘂𝗮𝗹𝗶𝘁𝗮𝘀 𝘀𝘂𝗺𝗯𝗲𝗿.
Analogi BN: "Kalau kakek Gajah Mada memberi wangsit kepada saya..." juga agak menggelikan sebagai metodologi sejarah. Itu bukan perbandingan yang setara dengan sumber kuno yang dapat dianalisis secara tekstual. Ia sedang membuat 𝘧𝘢𝘭𝘴𝘦 𝘥𝘪𝘤𝘩𝘰𝘵𝘰𝘮𝘺: sumber sejarah yang dapat diverifikasi vs. wangsit.
𝟰. 𝗦𝘂𝗺𝗯𝗲𝗿 𝗽𝗿𝗶𝗺𝗲𝗿
Menurut saya 𝗶𝗻𝗶 𝗸𝗲𝗸𝗲𝗹𝗶𝗿𝘂𝗮𝗻 𝗵𝗶𝘀𝘁𝗼𝗿𝗶𝗼𝗴𝗿𝗮𝗳𝗶𝘀 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗮𝗻𝗴𝗮𝘁 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗸. BN mengatakan: "kitab Injil itu sumber primer karena ditulis oleh murid-muridnya Yesus, mengalami peristiwanya."
Lukas 1:1-4 mengatakan bahwa petulis Injil menerima informasi dari mereka yang sejak semula menjadi saksi mata dan pelayan firman. Artinya, petulis Lukas justru membedakan dirinya dari para saksi mata. Dengan kata lain 𝗟𝘂𝗸𝗮𝘀 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗸𝘂𝗶 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝘀𝘂𝗺𝗯𝗲𝗿 𝗽𝗿𝗶𝗺𝗲𝗿. Di sini Lukas menafsir informasi yang didapatkannya, lalu membangun kisah teologinya. Jadi, Injil Lukas malah 𝘀𝗲𝗰𝗮𝗿𝗮 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗶𝘀𝗶𝘁 𝗯𝗲𝗿𝘁𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗻𝘆𝗮𝘁𝗮𝗮𝗻 𝗕𝗡.
Tradisi Gereja kemudian menghubungkan Lukas dengan rekan Paulus, tetapi bahkan tradisi itu tidak membuat Lukas menjadi saksi mata pelayanan Yesus. Kalau BN sedang berkhotbah berdasarkan Lukas 1:26-38, lalu ia menjelaskan teori sumber dengan mengatakan: "Injil adalah sumber primer karena ditulis murid-murid Yesus yang mengalami peristiwa" terlalu simplistik dan secara khusus 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝘁𝗲𝗿𝘁𝗲𝗿𝗮𝗽𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗟𝘂𝗸𝗮𝘀 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗯𝗮𝗰𝗮𝗮𝗻 𝘁𝘂𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗸𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵𝗻𝘆𝗮. Ironis, bukan?
𝟱. 𝘿𝙞𝙙𝙖𝙨𝙘𝙖𝙡𝙞𝙖 𝟭𝟴𝟵 𝗭𝗕
[Cat.: Dalam hal sejarah gereja saya mengikuti tradisi pakar-pakar sejarah gereja menggunakan 𝘡𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘉𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 (ZB) alih-alih 𝘔𝘢𝘴𝘦𝘩𝘪 (M).]
Ini bagian yang menurut saya paling perlu diberi tanda merah. BN mengatakan ia menemukan Didascalia Apostolorum di Wadi El Natrun, lalu menyatakan: "Didascalia ... ditulis tahun 189 Masehi." Ia kemudian menggunakannya untuk mengatakan bahwa Natal 25 Desember sudah ditetapkan jauh sebelum Aurelius.
Ada masalah kronologis di sini. Didascalia Apostolorum pada umumnya ditempatkan oleh para ahli pada 𝗮𝗯𝗮𝗱 𝗸𝗲-𝟯, bukan 189 ZB. Ada perbedaan mengenai tanggal persisnya, tetapi konsensus umumnya sekitar paruh pertama abad ke-3, sementara ada juga penanggalan lebih kemudian.
Jadi, apabila BN mengatakan: "ditulis tahun 189" itu bukan penanggalan yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.
Persoalan kedua adalah bahwa menemukan manuskrip tua tidak sama dengan menemukan teks yang ditulis pada zaman manuskrip itu dibuat. Dalam kritik teks kita harus membedakan tiga hal: 𝗸𝗮𝗽𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗸𝘀 𝗮𝘀𝗹𝗶 𝗱𝗶𝘀𝘂𝘀𝘂𝗻, 𝗸𝗮𝗽𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗸𝘀 𝗶𝘁𝘂 𝗱𝗶𝘁𝗲𝗿𝗷𝗲𝗺𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻, 𝗱𝗮𝗻 𝗸𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗸𝗿𝗶𝗽 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸𝗶 𝗱𝗶𝗯𝘂𝗮𝘁. Sebuah manuskrip dapat berasal dari abad tertentu, tetapi teks yang dikandungnya bisa jauh lebih tua. Manuskrip yang kita temukan hanyalah saksi tertulis yang masih bertahan, bukan otomatis tanggal lahir teks tersebut.
BN justru menggunakan narasi penemuan manuskrip sebagai semacam kartu truf: saya menemukan sumber kuno di sebuah biara, maka sumber itu seolah-olah otomatis menjadi bukti yang mengalahkan ensiklopedia Barat. Retorikanya memang kuat, tetapi sejarah tidak bekerja dengan prinsip Timur benar, Barat salah. Yang harus diuji adalah usia sumber, asal-usul teks, turun-alih, konteks, dan isi sumber itu sendiri.
𝟲. 𝗕𝗮𝗴𝗮𝗶𝗺𝗮𝗻𝗮 𝗶𝘀𝘂 𝘿𝙞𝙙𝙖𝙨𝙘𝙖𝙡𝙞𝙖?
Ada tradisi teks yang memautkan perayaan kelahiran Kristus dengan tanggal tertentu, tetapi masalahnya adalah identifikasi kalendernya.
Dalam tradisi 𝘚𝘺𝘳𝘪𝘢𝘤/𝘋𝘪𝘥𝘢𝘴𝘤𝘢𝘭𝘪𝘢 yang dibicarakan dalam literatur ada pula pembicaraan tentang Epifani pada 6 Januari. Penanggalan dan lapisan redaksional teks tersebut kompleks. Tidak bisa begitu saja: "𝘋𝘪𝘥𝘢𝘴𝘤𝘢𝘭𝘪𝘢 abad 2 ➡️ Natal 25 Desember ➡️ selesai, terbukti."
Harus dibuktikan dulu: (1) teks yang mana, (2) bahasa asli yang mana, (3) manuskrip mana, (4) lapisan redaksi mana, (5) istilah kalender mana, (5) bagaimana konversinya ke kalender Julian, dan (6) apakah teks itu benar-benar berbicara tentang 𝘁𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹 𝗸𝗲𝗹𝗮𝗵𝗶𝗿𝗮𝗻 𝗵𝗶𝘀𝘁𝗼𝗿𝗶𝘀 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 atau 𝘁𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹 𝗽𝗲𝗿𝗮𝘆𝗮𝗮𝗻 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶𝘀? Itu enam langkah yang dilewati BN dalam hitungan beberapa menit.
𝟳. 𝗧𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝙎𝙤𝙡 𝙄𝙣𝙫𝙞𝙘𝙩𝙪𝙨
BN benar ketika mengatakan bahwa narasi populer: "Natal = 𝘚𝘢𝘵𝘶𝘳𝘯𝘢𝘭𝘪𝘢 " adalah keliru. 𝘚𝘢𝘵𝘶𝘳𝘯𝘢𝘭𝘪𝘢 bukan perayaan 25 Desember; 𝘚𝘢𝘵𝘶𝘳𝘯𝘢𝘭𝘪𝘢 berlangsung 17–23 Desember. Juga benar bahwa keterpautan Natal dengan 𝘚𝘰𝘭 𝘐𝘯𝘷𝘪𝘤𝘵𝘶𝘴 jauh lebih rumit daripada meme: "Gereja mengambil ulang hari raya dewa matahari."
Namun, BN kemudian mengatakan Aurelius baru menetapkan perayaan matahari sekitar 247 ZB dan tanggalnya bukan 25 Desember, lalu menyimpulkan narasi Natal adalah adopsi 𝘚𝘰𝘭 𝘐𝘯𝘷𝘪𝘤𝘵𝘶𝘴 "1000% salah". Nah, ini juga berlebihan.
Ada bukti kuat bahwa kultus 𝘚𝘰𝘭 𝘐𝘯𝘷𝘪𝘤𝘵𝘶𝘴 mendapat status penting sebagai kultus kekaisaran pada masa Aurelian, 274 M, dan 25 Desember kemudian memang tercatat sebagai 𝘕𝘢𝘵𝘢𝘭𝘪𝘴 𝘐𝘯𝘷𝘪𝘤𝘵𝘪 dalam 𝘊𝘩𝘳𝘰𝘯𝘰𝘨𝘳𝘢𝘱𝘩𝘺 𝘰𝘧 354.
Yang memang tidak boleh dilakukan adalah menyederhanakannya menjadi: Aurelius menciptakan 25 Desember khusus untuk 𝘚𝘰𝘭 𝘐𝘯𝘷𝘪𝘤𝘵𝘶𝘴, lalu gereja mencuri tanggal itu untuk Natal. Hubungan kausal tersebut tidak terbukti secara sederhana. Bahkan penelitian modern menilai hubungan antara kedua perayaan itu masih diperdebatkan.
Jadi posisi akademis yang lebih sehat: Ada hubungan kronologis dan simbolis yang mungkin, tetapi bukti bahwa Natal sengaja diciptakan sebagai penyulih 𝘚𝘰𝘭 𝘐𝘯𝘷𝘪𝘤𝘵𝘶𝘴 belum konklusif. Itu jauh lebih kuat daripada mengatakan "1000% salah."
𝟴. 𝗕𝗮𝗴𝗶𝗮𝗻 "𝗡𝗮𝘁𝗮𝗹 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗮𝗴𝗮𝗻” 𝘁𝗮𝗸 𝗽𝗲𝗿𝗹𝘂 𝗱𝗶𝗯𝗲𝗹𝗮 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝙥𝙨𝙚𝙪𝙙𝙤-𝙝𝙞𝙨𝙩𝙤𝙧𝙮
Menurut saya BN sebenarnya tidak perlu berjuang sekeras itu. Ia cukup mengatakan: “Kita tidak memiliki bukti bahwa orang Kristen menetapkan 25 Desember hanya karena ingin mengambil alih perayaan pagan.” Itu sudah sah.
Penelitian sejarah modern pun belum memberi kepastian tinggi bahwa: Natal = kristenisasi 𝘚𝘰𝘭 𝘐𝘯𝘷𝘪𝘤𝘵𝘶𝘴. Akan tetapi bukan berarti 25 Desember adalah tanggal historis kelahiran Yesus.
Apabila dibuat pertanyaan:
♦️Pertanyaan A: Apakah Natal 25 Desember berasal dari perayaan pagan? Tidak dapat dibuktikan secara sederhana.
♦️Pertanyaan B: Apakah Yesus benar-benar lahir 25 Desember? Juga tidak dapat dibuktikan dari bukti yang tersedia.
BN tampaknya ingin memenangi A, lalu menganggap memenangi B juga. Padahal tidak.
𝟵. 𝗞𝗲𝗸𝗲𝗹𝗶𝗿𝘂𝗮𝗻 𝗹𝗼𝗴𝗶𝗸𝗮
BN berulang kali menggunakan rumusan: "Anda percaya ensiklopedia orang Barat atau saksi mata Timur Tengah?"
Ini retorika anti-otoritas yang sangat efektif, tetapi bukan argumentasi ilmiah, karena masalah sejarah bukan soal Barat vs Timur, melainkan:
▶️Apa sumbernya?
▶️Berapa tua?
▶️Apa teksnya?
▶️Bagaimana turun-alihnya?
▶️Apa konteksnya?
▶️Bagaimana para ahli menilai bukti itu?
Sebuah sumber dari Timur Tengah tidak otomatis lebih benar karena berasal dari Timur Tengah. Sama seperti sumber Barat tidak otomatis keliru karena berasal dari Barat.
Kalau begitu metodologinya berubah dari: 𝘩𝘪𝘴𝘵𝘰𝘳𝘪𝘤𝘢𝘭 𝘤𝘳𝘪𝘵𝘪𝘤𝘪𝘴𝘮 menjadi 𝘨𝘦𝘰𝘨𝘳𝘢𝘱𝘩𝘪𝘤𝘢𝘭 𝘦𝘴𝘴𝘦𝘯𝘵𝘪𝘢𝘭𝘪𝘴𝘮.
𝟭𝟬. 𝗧𝗲𝗸𝗻𝗶𝗸 𝗿𝗲𝘁𝗼𝗿𝗶𝗸𝗮 𝗕𝗡
BN melakukan pola yang sangat khas:
▶️ Langkah 1: Berikan fakta yang benar. Contoh: Betlehem bukan Eropa. Benar.
▶️ Langkah 2: Sajikan angka. Contoh: 15°C, 8°C. Angka membuat pernyataan terdengar ilmiah.
▶️ Langkah 3: Tampilkan istilah teknis. Contoh: 𝘔𝘪𝘴𝘩𝘯𝘢𝘩, 𝘚𝘩𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪𝘮, 𝘔𝘪𝘨𝘥𝘢𝘭 𝘌𝘥𝘦𝘳, 𝘋𝘪𝘥𝘢𝘴𝘤𝘢𝘭𝘪𝘢 𝘈𝘱𝘰𝘴𝘵𝘰𝘭𝘰𝘳𝘶𝘮. Pendengar awam langsung memeroleh kesan: "Wah, ini riset."
▶️ Langkah 4: Tetapkan tanggal yang sangat presisi. Contoh: 126 ZB, 189 ZB, 247 ZB, 274 ZB
Presisi kronologis menghasilkan aura kepastian.
▶️ Langkah 5: Lompat dari data ke kesimpulan.
Presisi data tidak sama dengan kepastian kesimpulan.
𝟭𝟭. 𝙋𝙨𝙚𝙪𝙙𝙤-𝙨𝙘𝙞𝙚𝙣𝙘𝙚?
Saya sedikit menghaluskan istilahnya. Saya menyebutnya: 𝙥𝙨𝙚𝙪𝙙𝙤-𝙝𝙞𝙨𝙩𝙤𝙧𝙞𝙘𝙖𝙡 𝙧𝙚𝙖𝙨𝙤𝙣𝙞𝙣𝙜 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗺𝗮𝘀𝗮𝗻 𝗶𝗹𝗺𝗶𝗮𝗵.
Bukan lantaran semua datanya palsu. 𝗝𝘂𝘀𝘁𝗿𝘂 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗹𝗶𝗸𝗻𝘆𝗮. Sebagian data yang dia pakai benar. Yang bermasalah adalah cara fakta-fakta itu dirangkai. BN sering bergerak dari: kemungkinan ➡️ kementakan ➡️ kepastian, tanpa memberi tahu pendengar bahwa ia sedang melakukan lompatan.
Khotbah BN ini memakai 𝗟𝘂𝗸𝗮𝘀 𝟭:𝟮𝟲-𝟯𝟴, tetapi hampir seluruh energi intelektualnya justru diarahkan kepada pertanyaan: "Apakah Yesus lahir 25 Desember?" Padahal Lukas 1:26-38 sama sekali tidak memberikan tanggal kelahiran Yesus. Pasal 1 ini juga tidak mengisahkan kelahiran Yesus, tidak bercerita tentang kawanan gembala. Terjadi semacam 𝗽𝗲𝗺𝗯𝗮𝗷𝗮𝗸𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗸𝘀.
𝗦𝗮𝘆𝗮 (𝗠𝗗𝗦) 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗽𝗲𝗿𝗹𝘂 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮𝘁𝗸𝗮𝗻 𝟮𝟱 𝗗𝗲𝘀𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿
Saya 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗮𝗺𝗯𝗶𝗹 𝗽𝘂𝘀𝗶𝗻𝗴 apabila ternyata 25 Desember memang merupakan hasil adopsi, penafsiran-ulang, atau kristenisasi terhadap suatu hari raya yang sebelumnya memiliki makna pagan 𝘚𝘰𝘭 𝘐𝘯𝘷𝘪𝘤𝘵𝘶𝘴. 𝗠𝗲𝗺𝗮𝗻𝗴𝗻𝘆𝗮 𝗸𝗲𝗻𝗮𝗽𝗮?
Bagi saya persoalannya justru terletak pada cara kita memahami hari raya liturgi. Hari raya liturgi 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗮𝗹𝗲𝗻𝗱𝗲𝗿 𝘀𝗲𝗷𝗮𝗿𝗮𝗵 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗯𝘂𝗮𝘁 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮𝗵𝘂 𝗸𝗶𝘁𝗮: “Pada tanggal inilah peristiwa itu secara historis terjadi.”
Hari raya liturgi adalah 𝗱𝗿𝗮𝗺𝗮 𝘀𝗮𝗿𝗮𝘁 𝗺𝗮𝗸𝗻𝗮. Gereja melakukan semacam rekayasa (𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘦𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨) liturgis untuk memastori dan membina umat agar umat dapat semakin menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan. OKI saya tidak perlu memertahankan 25 Desember sebagai tanggal historis kelahiran Yesus agar Natal mempunyai makna.
Tanggal itu adalah bagian dari konstruksi liturgis gereja untuk merayakan kelahiran Kristus. Justru karena hari raya liturgi merupakan konstruksi gereja sejarah pembentukannya tidak perlu disembunyikan.
𝙎𝙤𝙡 𝙄𝙣𝙫𝙞𝙘𝙩𝙪𝙨 𝗱𝗮𝗽𝗮𝘁 𝗺𝗲𝗺𝗲𝗿𝗸𝗮𝘆𝗮 𝗽𝗲𝗻𝗴𝗵𝗮𝘆𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗡𝗮𝘁𝗮𝗹
Kalau ternyata Gereja pernah menggunakan simbolisme atau momentum yang sebelumnya mempunyai makna dalam dunia pagan, saya 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗹𝗶𝗵𝗮𝘁𝗻𝘆𝗮 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝘀𝗸𝗮𝗻𝗱𝗮𝗹 𝘁𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝘀. Justru sejarah tersebut dapat memerkaya penghayatan iman. Bukankah gereja sejak dahulu melakukan proses 𝗿𝗲𝗶𝗻𝘁𝗲𝗿𝗽𝗿𝗲𝘁𝗮𝘀𝗶 𝘀𝗶𝗺𝗯𝗼𝗹?
Matahari merupakan simbol yang sangat kuat dalam dunia kuno. Gereja tidak harus takut terhadap simbol tersebut. Gereja dapat memberinya makna baru dalam terang Kristus. Ketika umat menyanyikan 𝘳𝘦𝘧𝘳𝘢𝘪𝘯 NKB 72:
𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴, ‘𝘒𝘢𝘶𝘭𝘢𝘩 𝙎𝙪𝙧𝙮𝙖 𝙧𝙖𝙝𝙢𝙖𝙩, ‘𝘒𝘢𝘶 𝘬𝘰𝘣𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘶.
𝘉𝘦𝘳𝘴𝘺𝘶𝘬𝘶𝘳 𝘥𝘪 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘴’𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵, 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘶𝘫𝘪 𝘯𝘢𝘮𝘢-𝘔𝘶!
saya justru dapat menghayatinya dengan lebih kaya ketika mengetahui sejarah simbolisme matahari dalam kebudayaan kuno.
𝙎𝙤𝙡 𝙄𝙣𝙫𝙞𝙘𝙩𝙪𝙨 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗮𝗻𝗰𝗮𝗺𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗿𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀. Yang terjadi justru sebaliknya: Gereja mengakui bahwa simbol yang sebelumnya dipakai untuk berbicara tentang kuasa ilahi dapat dibaca ulang 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝘁𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀. Yang tadinya 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘢𝘭𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 kini justru dapat menjadi latar simbolik untuk mengaku: 𝙔𝙚𝙨𝙪𝙨𝙡𝙖𝙝 𝙎𝙪𝙧𝙮𝙖 𝙧𝙖𝙝𝙢𝙖𝙩.
Dengan demikian sejarah liturgi tidak perlu dijadikan sesuatu yang harus ditutup-tutupi demi menyelamatkan iman.
𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗹𝗮𝗽𝗼𝗿𝗮𝗻 𝗸𝗿𝗼𝗻𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝘀
Saya kira di sinilah BN dan saya bergerak ke arah yang berbeda. BN tampaknya memerlakukan tanggal 25 Desember sebagai sesuatu yang harus dibela secara historis. Jika tanggal itu merupakan hasil adopsi dari tradisi pagan, maka seolah-olah ada masalah terhadap keaslian Natal. Saya tidak melihatnya demikian.
Ketika Gereja merayakan Natal pada 25 Desember, Gereja tidak sedang mengatakan: “Kami memiliki bukti historis bahwa Yesus lahir tepat pada tanggal ini.” Gereja sedang berkata: “𝗛𝗮𝗿𝗶 𝗶𝗻𝗶 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝗺𝗲𝗿𝗮𝘆𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗹𝗮𝗵𝗶𝗿𝗮𝗻 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀.” Itu adalah 𝘁𝗶𝗻𝗱𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶𝘀 dan ia tidak kehilangan maknanya hanya karena tanggalnya bukan tanggal historis.
Perbedaan penghampiran (𝘢𝘱𝘱𝘳𝘰𝘢𝘤𝘩) antara BN dan saya terlihat jelas ketika saya membaca Lukas 1:26-38. Saya tidak memula perikop itu dengan pertanyaan: “Bulan apa Yesus lahir?” Saya bertanya:
“𝗔𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗵𝗲𝗻𝗱𝗮𝗸 𝗱𝗶𝗹𝗮𝗸𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗟𝘂𝗸𝗮𝘀 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗹𝘂𝗶 𝗸𝗶𝘀𝗮𝗵 𝗶𝗻𝗶?”
Lukas menyusun kisah pemberitahuan kelahiran Yohanes dan Yesus secara paralel. Dari sana ia membangun perbedaan dan keunggulan Yesus.
♦️Yohanes akan menjadi besar di hadapan Tuhan.
♦️Yesus akan disebut 𝗔𝗻𝗮𝗸 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵 𝗬𝗮𝗻𝗴 𝗠𝗮𝗵𝗮 𝗧𝗶𝗻𝗴𝗴𝗶. Yesus akan menerima takhta Daud dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.
Pertanyaan utama Lukas bukan tanggal kelahiran. Pertanyaan utamanya adalah: 𝗦𝗶𝗮𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗔𝗻𝗮𝗸 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗶𝗹𝗮𝗵𝗶𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗠𝗮𝗿𝗶𝗮 𝗶𝘁𝘂? 𝗠𝗮𝗿𝗶𝗮 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗽𝘂𝘀𝗮𝘁 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗸𝗼𝗽.
Saya membagi perikop ini ke dalam empat gerakan:
▶️Malaikat menjumpai Maria.
▶️Maria terkejut.
▶️Maria bingung.
▶️Maria hamba Tuhan.
Perjalanan itu membawa pembaca menuju ayat 38: “𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯. 𝘑𝘢𝘥𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘪𝘵𝘶.” Di sinilah saya menemukan pusat perikop.
Maria tidak mengetahui seluruh konsekuensi dari apa yang akan terjadi. Ia tidak meminta Gabriel memberikan kronologi historis kelahiran Yesus. Ia tidak meminta kepastian tentang tanggal. Maria menerima panggilan Allah dengan segala risikonya. Lukas hendak menjadikan Maria 𝗺𝗼𝗱𝗲𝗹 𝗵𝗮𝗺𝗯𝗮 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻. [𝘓𝘪𝘩. 𝙄𝙖 𝙈𝙚𝙣𝙙𝙖𝙝𝙪𝙡𝙪𝙞 𝙆𝙖𝙢𝙪 𝙠𝙚 𝙂𝙖𝙡𝙞𝙚𝙖, hlm. 17. Dapatkan bukunya di sini https://www.tokopedia.com/buku-apik-991 ]
𝗝𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗺𝗽𝗮𝗶 𝗡𝗮𝘁𝗮𝗹 𝗸𝗲𝗵𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗜𝗻𝗷𝗶𝗹 𝗱𝗲𝗺𝗶 𝗺𝗲𝗺𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴𝗶 𝗱𝗲𝗯𝗮𝘁 𝘀𝗲𝗷𝗮𝗿𝗮𝗵
Saya justru khawatir terhadap khotbah yang menghabiskan bagian terbesar energi untuk membuktikan bahwa 25 Desember bukan hasil pengaruh pagan. Setelah semuanya selesai, saya ingin bertanya: Lalu apa yang terjadi terhadap Lukas 1:26-38?
Gereja tidak berkumpul pada Natal untuk mengagumi kecanggihan rekonstruksi sejarah. Gereja berkumpul untuk merayakan Kristus. Lukas membawa kita bukan kepada kalender, melainkan kepada Kristus. Juga bukan kepada perdebatan apakah 25 Desember merupakan tanggal historis, tetapi kepada Maria yang berkata: “𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯.”
Saya bahkan tidak perlu membuktikan bahwa 25 Desember adalah tanggal historis kelahiran Yesus. Saya 𝗰𝘂𝗸𝘂𝗽 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗸𝘂𝗶 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗷𝘂𝗷𝘂𝗿: saya tidak mengetahui tanggal historis kelahiran Yesus. Namun, saya tahu apa yang hendak dirayakan Gereja. Saya tahu bagaimana Lukas hendak membawa kita menghayatinya.
Kalau sejarah menunjukkan adanya proses adopsi atau reinterpretasi simbol dan tanggal, saya tidak perlu panik. Saya justru ingin memahami proses itu, karena dengan memahami sejarah hari raya liturgi, umat dapat semakin sadar bahwa Gereja tidak sekadar mewarisi kalender, tetapi 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗼𝗹𝗮𝗵 𝘀𝗶𝗺𝗯𝗼𝗹, 𝘄𝗮𝗸𝘁𝘂, 𝗻𝘆𝗮𝗻𝘆𝗶𝗮𝗻, 𝗱𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗮𝘆𝗮𝗮𝗻 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗶𝗺𝗮𝗻 𝘂𝗺𝗮𝘁.
Ketika saya menyanyikan:
𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴, ‘𝘒𝘢𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘚𝘶𝘳𝘺𝘢 𝘳𝘢𝘩𝘮𝘢𝘵,
‘𝘒𝘢𝘶 𝘬𝘰𝘣𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘶.
saya tidak sedang terganggu oleh kemungkinan sejarah di balik simbol matahari. Saya justru semakin memahami bagaimana Gereja mengambil bahasa budaya manusia dan mengarahkannya kepada 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀. 𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗮𝘁𝗮𝗵𝗮𝗿𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝘀𝗲𝗺𝗯𝗮𝗵. 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀𝗹𝗮𝗵 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝗿𝗮𝘆𝗮𝗸𝗮𝗻.
Pada akhirnya Natal bukan membutuhkan pembuktian bahwa 25 Desember adalah tanggal kelahiran Yesus. Untuk menyiapkan diri menyambut Natal umat bersedia mengatakan bersama Maria: “𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯. 𝘑𝘢𝘥𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘪𝘵𝘶.”
Sebagai penutup dapat saya katakan bahwa saya pernah menjadi murid Bambang Noorsena. Dalam perjalanan berteologi saya kemudian memilih penghampiran (𝘢𝘱𝘱𝘳𝘰𝘢𝘤𝘩) yang berbeda. Saya tidak lagi menjadikan sejarah terutama sebagai perangkat untuk membela iman atau membuktikan kebenaran suatu keyakinan. Saya lebih memilih membaca teks apa adanya, memerhatikan bagaimana petulis membangun narasinya, apa yang hendak disampaikannya kepada pembaca, dan bagaimana teks itu kemudian membentuk iman umat.
Bedah khotbah BN ini hendaklah tidak dipahami sebagai upaya saya melawan guru saya. Justru sebaliknya BN telah menjadi bagian dari perjalanan saya dalam berteologi. Apa yang pernah saya pelajari dari BN turut membentuk cara saya melihat Alkitab dan sejarah. Dalam perjalanan itu saya kemudian menemukan penghampiran yang berbeda dan memilih untuk berjalan di jalur tersebut.
Bagi saya berbeda penghampiran tidak harus berarti kehilangan rasa hormat kepada orang yang pernah mengajar saya. Justru karena pernah belajar darinya saya dapat melanjutkan perjalanan itu dengan pertanyaan-pertanyaan yang sekarang saya ajukan sendiri.
(29092026)