Senin, 31 Agustus 2026

𝗣𝗲𝗻𝗱𝗲𝘁𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗯𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗯𝗲𝗿𝗽𝗼𝗹𝗶𝘁𝗶𝗸?

Kita sering mendengar lontaran dari kalangan warga Kristen bahwa pendeta tidak boleh berpolitik. Saya berseberangan dengan sikap ini. Alasan saya: (1) Gereja harus terus-menerus menyampaikan suara kenabian apabila melihat pemerintah korup dan (2) Pernyataan pendeta tidak boleh berpolitik justru membuat pendeta yang malas belajar punya alasan untuk makin malas dan pendeta yang berjualan surga makin berjaya.

Tentang suara kenabian lihat di sini 

Menyampaikan suara kenabian itu berpolitik. “Yesus Kristus adalah Tuhan” dalam Filipi 2:11 adalah pernyataan politik. Yesus sendiri berpolitik dengan melawan penguasa agama yang korup. Dari zaman baheula gereja itu berpolitik.

Akhir-akhir ini memang kita lihat banyak pendeta berpolitik. Sialnya apa yang mereka usung adalah 𝘩𝘢𝘳𝘮𝘭𝘦𝘴𝘴, tak ada risiko. Hanya sekadar mencari panggung. Apa yang mereka sampaikan pun samar, remang, dan 𝘮𝘣𝘶𝘯𝘥𝘩𝘦𝘵, mirip saat mereka berkhotbah di mimbar.

Kalau memang hendak berpolitik, kuasailah mimbar gereja untuk menyampaikan suara kenabian: “Warga Kristen jangan korupsi, jangan berjaya dengan memeras buruh! Jangan bawa uang hasil korupsi dan hasil memeras buruh ke gereja! Haram!” Bisa juga dengan menyampaikan suara kenabian ke Presiden Joko Widodo: “Bapak Presiden, kami meminta Bapak memecat pejabat-pejabat Kristen yang korup dan menjilat.” Kalau ada pendeta yang berani begitu, saya dan teman-teman akan membuat dan memberi 𝙏𝙝𝙚 𝘽𝙧𝙤𝙩𝙤𝙨𝙚𝙢𝙚𝙙𝙞 𝘼𝙬𝙖𝙧𝙙 kepada mereka.

Bedakanlah antara berpolitik dan berpolitik praktis. Yang tidak boleh dan tidak pantas dilakukan oleh pendeta adalah berpolitik praktis. Misal, menghasut warga gereja untuk memilih partai politik tertentu dalam pemilu.

Suara kenabian

Beberapa orang bertanya kepada saya apa itu suara kenabian. Mereka bertanya itu karena saya kerap menggunakan frase tersebut dalam tulisan-tulisan saya bahwa gereja harus selalu menyampaikan suara kenabian.

Di Alkitab terdapat banyak kisah para nabi. Saya ambil satu contoh Nabi Natan di zaman Raja Daud. Daud itu biadab. Suatu sore ia melihat seorang perempuan seksi cantik mandi di kolam istana. Daud langsung nafsu dan hendak mengambilnya menjadi istri. Belakangan diketahui perempuan itu bernama Batsyeba, istri Uria, anggota pasukan perang Daud.

Raja Daud kemudian memberi perintah kepada panglima perangnya, Yoab, untuk mengirim Uria ke garis depan. Perintah dijalankan dan Uria tewas. Daud merasa sah mengambil Batsyeba menjadi istrinya.

Tak lama kemudian datanglah Nabi Natan ke istana Daud. Natan menyampaikan kepada Raja Daud telah terjadi kasus ketidakadilan di kerajaan. Daud meminta Nabi Natan menyampaikan kasus itu. 

 "Ada dua orang dalam suatu kota: yang seorang kaya, yang lain miskin,” kata Natan, “Si kaya mempunyai sangat banyak kambing domba dan lembu sapi; si miskin tidak mempunyai apa-apa, selain dari seekor anak domba betina yang kecil, yang dibeli dan dipeliharanya. Anak domba itu menjadi besar, padanya bersama-sama dengan anak-anaknya, makan dari suapnya dan minum dari pialanya dan tidur di pangkuannya seperti seorang anak perempuan baginya. Pada suatu waktu orang kaya itu kedatangan tamu dan ia merasa sayang mengambil seekor dari kambing dombanya atau lembunya untuk memasaknya bagi pengembara yang datang kepadanya itu. Jadi, ia mengambil anak domba betina kepunyaan si miskin itu dan memasaknya bagi orang yang datang kepadanya itu." 

Mendengar cerita itu Raja Daud langsung murka. Kata Daud kepada Natan,”Demi TUHAN yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati.” Jawab Natan kepada Daud, “Engkaulah orang itu!”

Itulah yang disebut dengan suara kenabian. Ketika penguasa korup dan melakukan ketidakadilan kepada masyarakat lemah, gereja harus bersuara mengecam pemerintah. Gereja yang tidak menyampaikan suara kenabian jangan lagi menyebut diri gereja.



(7 Oktober 2020)(TUS)

Sudut Pandang Bacaan 1 : Yehezkiel 33:7-11 dan Bacaan 2 : Roma 13:8-14, Bacaan Injil Matius 18:15-20.

Sudut Pandang Bacaan 1 : Yehezkiel 33:7-11 dan Bacaan 2 : Roma 13:8-14, Bacaan Injil Matius 18:15-20.  PENGANTAR Minggu 06 Septe...