Minggu, 18 Oktober 2026

“SEORANG PEMUDA MENGIKUTI YESUS HANYA DENGAN KAIN—LALU TIBA-TIBA IA MELARIKAN DIRI”

«“Ada seorang muda, yang pada badannya ada kain lenan; ia mengikuti Dia. Mereka hendak menangkapnya, tetapi ia melepaskan kainnya dan lari dengan telanjang.”
— Markus 14:51–52»

Ada satu detail yang sangat singkat dalam kisah penangkapan Yesus yang sering membuat pembaca bertanya:

Siapakah pemuda ini?

Ia hanya muncul dalam dua ayat.

Tidak disebut namanya.

Tidak dijelaskan dari mana ia datang.

Tidak diceritakan apa yang terjadi kepadanya setelah itu.

Namun Markus sengaja memasukkan detail ini di tengah kisah yang sangat serius: Yesus sedang ditangkap di Getsemani, Yudas telah mengkhianati-Nya, dan para murid mulai meninggalkan-Nya.

Jadi, bagaimana kita harus membacanya?

Pertama, kita harus mengakui apa yang tidak dikatakan teks.

Markus tidak pernah menyebut nama pemuda itu.

Karena itu, kita tidak boleh menjadikan dugaan sebagai fakta.

Ada tradisi gereja yang menghubungkan pemuda ini dengan Markus sendiri, tetapi Alkitab tidak secara eksplisit mengatakan demikian.

Maka kita tidak dapat dengan pasti berkata:

“Pemuda itu pasti Markus.”

Yang dapat kita katakan dengan pasti hanyalah apa yang dicatat Markus:

seorang pemuda mengikuti Yesus, hendak ditangkap, tetapi melarikan diri dengan meninggalkan kain lenannya.

Lalu mengapa Markus mencatat detail yang sangat aneh ini?

Kita harus melihat konteksnya.

Beberapa saat sebelumnya, Yesus telah memperingatkan murid-murid-Nya:

«“Kamu semua akan tergoncang imanmu. Sebab ada tertulis: Aku akan memukul gembala dan domba-domba itu akan tercerai-berai.”
— Markus 14:27»

Petrus bahkan berkata:

«“Biarpun mereka semua tergoncang imannya, aku tidak.”
— Markus 14:29»

Tetapi kemudian Yesus ditangkap.

Dan apa yang terjadi?

«“Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri.”
— Markus 14:50»

Kemudian Markus langsung menceritakan pemuda tersebut.

Ia mengikuti Yesus.

Tetapi ketika hendak ditangkap:

ia melarikan diri.

Jadi detail pemuda ini cocok dengan gambaran besar yang sedang dibangun Markus:

Yesus tetap setia, sementara manusia yang mengikut Dia ternyata lemah.

Ini sangat kontras.

Yesus tidak melarikan diri.

Yesus tidak menyangkal misi-Nya.

Yesus tetap menyerahkan diri-Nya.

Tetapi para pengikut-Nya tercerai-berai.

Petrus akan menyangkal.

Yudas telah mengkhianati.

Para murid melarikan diri.

Dan bahkan pemuda yang mengikuti Yesus pun akhirnya melarikan diri tanpa pakaian.

Markus sedang memperlihatkan sesuatu yang sangat serius:

kesetiaan kepada Kristus tidak dapat dibangun di atas keberanian manusia.

Bahkan orang yang mengatakan dirinya siap mati bersama Yesus akhirnya melarikan diri.

Sebelumnya Petrus berkata:

«“Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.”
— Markus 14:31»

Tetapi beberapa saat kemudian, ia menyangkal Yesus tiga kali.

Dengan demikian, Markus 14:51–52 bukan sekadar cerita aneh tentang seorang pemuda.

Detail tersebut berada dalam rangkaian narasi yang memperlihatkan kegagalan para murid dan kesetiaan Kristus.

Dan justru di situlah keindahan Injil semakin terlihat.

Para murid gagal.

Yesus tidak gagal.

Para murid melarikan diri.

Yesus tetap maju menuju salib.

Para murid meninggalkan-Nya.

Yesus tidak meninggalkan misi yang diberikan Bapa kepada-Nya.

Yesus telah mengatakan:

«“Ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.”
— Markus 14:36»

Dan beberapa saat kemudian, Ia benar-benar menyerahkan diri-Nya kepada mereka yang datang menangkap-Nya.

Di sini kita melihat pusat kisah Markus.

Bukan keberanian seorang pemuda.

Bukan kegagalan para murid.

Melainkan ketaatan Kristus.

Ada juga sesuatu yang menarik mengenai cara Markus menulis.

Markus sangat sering memberikan detail kecil yang konkret dalam narasinya.

Ia menyebut tindakan, pakaian, tempat, waktu, dan respons orang-orang secara singkat tetapi tajam.

Detail pemuda yang meninggalkan kainnya membuat adegan penangkapan Yesus terasa nyata: kekacauan terjadi, orang-orang berusaha menangkap para pengikut Yesus, dan pemuda itu meloloskan diri dengan meninggalkan kainnya.

Namun kita tidak boleh membangun doktrin atau identitas tertentu dari detail yang tidak dijelaskan Markus.

Jika Markus bermaksud menyatakan identitasnya dengan jelas, teks tidak memberikannya.

Karena itu, pertanyaan:

“Siapa dia?”

harus dijawab dengan rendah hati:

Kita tidak tahu dengan pasti.

Dan justru ketidakjelasan itu mengarahkan perhatian kita kembali kepada apa yang memang ingin ditegaskan oleh narasi.

Perhatikan urutannya:

Yesus berdoa.

Yesus menyerahkan diri.

Yudas datang.

Yesus ditangkap.

Semua murid melarikan diri.

Seorang pemuda melarikan diri.

Dan kemudian Yesus dibawa menuju pengadilan dan salib.

Seolah-olah Markus sedang menunjukkan kontras yang tajam:

Semua orang pergi.
Yesus tetap tinggal.

Dan inilah yang sangat penting bagi keselamatan.

Keselamatan umat Allah tidak bergantung pada kesetiaan sempurna para murid kepada Kristus.

Kalau keselamatan bergantung pada kekuatan mereka, kisah ini akan berakhir dalam kegagalan.

Tetapi keselamatan bergantung pada Kristus yang setia menjalankan kehendak Bapa.

Ia datang untuk memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan:

«“Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
— Markus 10:45»

Jadi pemuda yang melarikan diri itu justru berada di dalam sebuah bagian yang memperlihatkan betapa lemahnya manusia dan betapa setianya Kristus.

Kita sering membaca kisah para murid dan berpikir:

“Bagaimana mungkin mereka bisa meninggalkan Yesus setelah melihat semua yang Ia lakukan?”

Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Mengapa Kristus tetap berjalan menuju salib ketika mereka meninggalkan-Nya?”

Jawabannya bukan karena manusia layak menerima keselamatan.

Jawabannya adalah karena Kristus setia kepada kehendak Bapa dan menyelesaikan karya penebusan yang diberikan kepada-Nya.

Pemuda itu lari.

Petrus menyangkal.

Murid-murid tercerai-berai.

Tetapi Kristus tetap maju.

Dan beberapa hari kemudian, berita yang mengejutkan diumumkan:

«“Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini.”
— Markus 16:6»

Itulah pusatnya.

Bukan pemuda yang melarikan diri.
Bukan murid yang gagal.
Tetapi Kristus yang tidak gagal.

Karena itu, Markus 14:51–52 memang menyimpan sebuah misteri mengenai identitas pemuda tersebut.

Tetapi pesan yang jauh lebih jelas bukanlah:

“Siapakah pemuda itu?”

Melainkan:

“Lihatlah Kristus yang tetap setia ketika semua orang di sekeliling-Nya gagal.”

Dan di situlah Injil menjadi semakin jelas:

Keselamatan kita tidak berdiri di atas kesempurnaan manusia yang mengikuti Kristus.

Keselamatan berdiri di atas Kristus yang sempurna, yang tetap taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib.

«“Ia tetap setia, karena Ia tidak dapat menyangkal diri-Nya.”
— 2 Timotius 2:13»

Penulis2 Kitab Suci Kristen. Gak ada penulis Alkitab yang berasal dari bangsa pagan roma. Katrom jangan suka ketularan halusinasi pagan dong...