Jumat, 30 Oktober 2026

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗫𝗜𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] 𝗠𝘂𝗻𝗮𝗳𝗶𝗸

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗫𝗜𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] 𝗠𝘂𝗻𝗮𝗳𝗶𝗸

PENGANTAR
Pertanyaan jebakan dari orang-orang Farisi kepada Yesus tentang hukum terutama merupakan serangan terakhir para lawan Yesus untuk menjatuhkan Yesus. Semua upaya serangan berhasil dipatahkan dengan gemilang oleh Yesus (lih. Sudut 𝘗𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 edisi Minggu lalu). Meskipun demikian Yesus terus mengecam para pemuka Yahudi itu di hadapan murid-murid-Nya dan orang banyak. Kecaman, pertama-tama, terhadap ketidakpanggahan (𝘪𝘯𝘤𝘰𝘯𝘴𝘪𝘴𝘵𝘦𝘯𝘤𝘺) antara yang mereka ajarkan dan yang mereka lakukan.
PEMAHAMAN 
Hari ini adalah Minggu kedua puluh tiga setelah Pentakosta. Bacaan secara ekumenis diambil dari Injil Matius 23:1-12 yang didahului dengan Mikha 3:5-12, Mazmur 43, dan 1Tesalonika 2:9-13.

Perikop bacaan Injil Minggu ini, Matius 23:1-12, diberi judul oleh LAI 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘤𝘢𝘮 𝘢𝘩𝘭𝘪-𝘢𝘩𝘭𝘪 𝘛𝘢𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘍𝘢𝘳𝘪𝘴𝘪. Meskipun penulis Injil Matius menempatkan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi sebagai lawan utama Yesus, patut diingat penulisan Injil ini bertujuan menggembala Jemaat Matius. Pembaca utamanya adalah Jemaat Matius, umat Kristen dari kalangan Yahudi. Ketika Injil ditulis hubungan baik antara umat Yahudi dan Kristen sudah tamat. Penginjil Matius menegaskan kepentingan mengasihi musuh sekaligus memberi gambaran musuh-musuh yang menolak Injil.

Pengulasan bacaan dapat dibagi ke dalam tiga bagian:
▶️ Matius 23:1-7 Kemunafikan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi
▶️ Matius 23:8-11 Semua adalah saudara
▶️ Matius 23:12 Penutup

𝗞𝗲𝗺𝘂𝗻𝗮𝗳𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗮𝗵𝗹𝗶-𝗮𝗵𝗹𝗶 𝗧𝗮𝘂𝗿𝗮𝘁 𝗱𝗮𝗻 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴-𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗙𝗮𝗿𝗶𝘀𝗶 (Mat. 23:1-7)

Lalu berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, (ay. 1) “𝘈𝘩𝘭𝘪-𝘢𝘩𝘭𝘪 𝘛𝘢𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘍𝘢𝘳𝘪𝘴𝘪 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬𝘪 𝘬𝘶𝘳𝘴𝘪 𝘔𝘶𝘴𝘢. (ay. 2) 𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘪𝘵𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘳𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘢𝘫𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘳𝘶𝘵𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯-𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. (ay. 3) 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘣𝘢𝘯-𝘣𝘦𝘣𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘵𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘣𝘢𝘩𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘱𝘶𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢. (ay. 4) 𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘥𝘪𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘵𝘢𝘭𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘣𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘮𝘣𝘢𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨; (ay. 5) 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘶𝘬𝘢 𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘰𝘳𝘮𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘢𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘪𝘣𝘢𝘥𝘢𝘵; (ay. 6) 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘶𝘬𝘢 𝘥𝘪𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘩𝘰𝘳𝘮𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘬𝘢 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 ’𝘙𝘢𝘣𝘪’. (ay. 7) (TB II 2023)

Di Injil Matius disebutkan Yesus berkata kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya (ay. 1), sedang di Injil Markus kepada orang banyak (Mrk. 12:37) dan di Injil Lukas hanya kepada murid-murid Yesus (Luk. 20:45). Istilah murid-murid di Injil Lukas tampaknya merujuk 12 murid Yesus, sedang di Injil Matius merujuk jemaat Kristen yang sudah dikucilkan dari sinagog Yahudi. Orang banyak di Injil Matius merujuk masyarakat umum yang kerap diejek oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.

Farisi adalah satu dari tiga faksi utama di Yudaisme yang ingin melindungi agama Yahudi dari pengaruh budaya asing dan melaksanakan akidah Yahudi dengan memberlakukan hukum Taurat secara ketat. Ahli-ahli Taurat datang dari kalangan Farisi. Ahli-ahli Taurat adalah orang-orang yang bertugas mengaji dan menafsir hukum Taurat secara teliti. Tafsiran mereka atas hukum-hukum tersebut dimuat dalam Misnah dan Talmud. Kaum Farisi tidak hanya menegakkan perintah yang diidentifikasikan oleh para ahli Taurat dari hukum Taurat, tetapi juga sejumlah tradisi lisan tambahan yang diturunkan dari generasi ke generasi dan terus mengembangkan peraturan-peraturan yang ada di masa lalu untuk diterapkan. Farisi berisi orang-orang terpelajar.

Frase 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬𝘪 𝘬𝘶𝘳𝘴𝘪 𝘔𝘶𝘴𝘢 (ay. 2) berarti memiliki wibawa resmi. Kursi merujuk gawai pengajaran. Orang yang 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬𝘪 𝘬𝘶𝘳𝘴𝘪 𝘔𝘶𝘴𝘢 adalah pengajar atau penafsir resmi hukum Musa atau hukum Taurat. Secara tradisi Musa menerima hukum dari Allah dan meneruskannya kepada Yosua. Yosua meneruskannya kepada para tua-tua. Para tua-tua meneruskannya kepada para nabi. Para nabi meneruskannya kepada para pengajar sinagog. 

Penulis Injil Matius hendak mengontraskan wibawa tinggi para ahli Taurat dan orang-orang Farisi sebagai kelompok yang berkuasa, tetapi dalam kenyataannya tidak pantas memangku jabatan tinggi itu. Apabila penguasa pengajaran tidak hidup sesuai dengan pengajarannya sendiri, maka masyarakat resah. Keresahan itu ditampilkan di ayat 3 “ … 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘳𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘢𝘫𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘳𝘶𝘵𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯-𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 … “ Di ayat 4-7 ditampilkan contoh-contoh tindakan tercela ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi.

Contoh pertama di ayat 4. Sedikitnya ada 613 peraturan (𝘔𝘪𝘵𝘻𝘷𝘰𝘵𝘩) yang wajib dipatuhi oleh masyarakat Yahudi. Beban ini sangat berat. Para penguasa agama tidak ambil pusing untuk meletakkan beban berat itu di bahu masyarakat, tetapi mereka sendiri, jangankan ikut memikul, sedikit pun tidak mau menyentuh beban itu. Tidak mau membantu masyarakat yang berbeban berat.

Contoh kedua di ayat 5. Apa yang salah memakai tali sembahyang dan jumbai? Tali sembahyang (𝘵𝘦𝘧𝘪𝘭𝘭𝘪𝘯) ialah kotak kecil dari kulit diikat dengan tali-tali pada dahi dan lengan kiri (lih. gambar). Kotak itu berisi tulisan atau teks ayat-ayat tertentu dari kitab suci. Penggunaan 𝘵𝘦𝘧𝘪𝘭𝘭𝘪𝘯 merujuk kitab suci (lih. Kel. 13:9, 16; Ul. 6:8; 11:8). 𝘛𝘦𝘧𝘪𝘭𝘭𝘪𝘯 bukan jimat, melainkan simbol ketika berdoa untuk mengingatkan orang-orang Yahudi akan hukum Allah. Jadi, tidak ada yang salah menggunakan 𝘵𝘦𝘧𝘪𝘭𝘭𝘪𝘯. Yesus mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi karena mereka 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗸𝗮𝗶𝗻𝘆𝗮 𝘀𝗲𝗽𝗮𝗻𝗷𝗮𝗻𝗴 𝗵𝗮𝗿𝗶 di berbagai tempat dengan tujuan untuk dilihat orang.

Hal serupa dengan jumbai. Jumbai wajib dipasang di empat ujung jubah lelaki Yahudi termasuk Yesus. Dasar hukumnya adalah kitab Bilangan 15:37-39 dan Ulangan 22:12. Benang jumbai berwarna ungu yang menyimbolkan surga. Tidak ada yang salah penggunaan jumbai. Yesus mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi karena mereka memasang 𝗷𝘂𝗺𝗯𝗮𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗽𝗮𝗻𝗷𝗮𝗻𝗴 dengan tujuan untuk dilihat orang.

Contoh ketiga di ayat 6. Mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di sinagog merupakan arogansi tanpa dasar. Mereka berlomba untuk menjadi lebih besar. Tidak ada yang salah sih menjadi lebih besar. Namun, Yesus mengingatkan orang yang besar hendaklah menjadi pelayan sesamanya (lih. ay. 11).

Contoh keempat di ayat 7. Pada zaman kuno pasar merupakan pusat kehidupan publik. Pada umumnya pasar terletak dekat gerbang masuk kota. Itu sebabnya ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi kerap ke pasar untuk mengharapkan mendapat hormat (hormat dalam bentuk salam atau 𝘢𝘴𝘱𝘢𝘴𝘮𝘰𝘶𝘴). Mereka juga berharap orang banyak menyapa mereka dengan 𝘙𝘢𝘣𝘪, suatu sapaan terhormat. Ayat ini suatu ironi terhadap orang congkak yang gemar dipuja oleh orang lain.

Satu kata saja untuk menyimpulkan mengenai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi di atas: munafik.

𝗦𝗲𝗺𝘂𝗮 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝘀𝗮𝘂𝗱𝗮𝗿𝗮 (Mat. 23:8-12)

“𝘛𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 ‘𝘙𝘢𝘣𝘪’, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘎𝘶𝘳𝘶𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢. (ay. 8) 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘣𝘢𝘱𝘢𝘬𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘮𝘪 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘉𝘢𝘱𝘢𝘮𝘶, 𝘺𝘢𝘪𝘵𝘶 𝘋𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢. (ay. 9) 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘮𝘱𝘪𝘯, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘗𝘦𝘮𝘪𝘮𝘱𝘪𝘯𝘮𝘶, 𝘺𝘢𝘪𝘵𝘶 𝘔𝘦𝘴𝘪𝘢𝘴. (ay. 10) 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘺𝘢𝘯𝘮𝘶.” (ay. 11) (TB II 2023)

Bagian kedua ini secara simetris membandingkan sikap munafik ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi dengan larangan-larangan Yesus terhadap 𝘬𝘢𝘮𝘶, yang berarti para murid Yesus di ayat 1. Secara lebih khusus murid-murid Yesus ini adalah Jemaat Matius.

Larangan pertama adalah sebutan Rabi (ay. 8). Penulis Injil Matius tampaknya hendak mengungkapkan di dalam Jemaat Matius farisisme sudah masuk ke jemaat. Jemaat Matius merupakan gereja yang sudah cukup mapan mula kehilangan semangat kesederhanaan. Di Jemaat Matius cukup banyak warga yang menempatkan diri sebagai rabi. Untuk apa? Untuk apa lagi selain untuk minta penghormatan. Itulah sebabnya Yesus melarang penyebutan rabi bagi warga jemaat, karena hanya satu Guru, yaitu Yesus sendiri. Semua warga jemaat adalah saudara dan menyebut kepada semua orang dengan sebutan 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢. Tampaknya sekarang sudah berubah. Cukup banyak pendeta di mimbar menyapa warga jemaat dengan 𝘣𝘢𝘱𝘢𝘬 dan 𝘪𝘣𝘶, bukan 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢 lagi.

Larangan kedua adalah sebutan bapak (ay. 9). Tentu saja yang dimaksudkan di sini bukan sapaan anak kepada ayahnya, melainkan sapaan warga gereja kepada sesama warga gereja. Penulis Injil hendak menyampaikan kepada Jemaat Matius bahwa relasi Allah dan jemaat adalah Bapa dan anak-anak Allah. Sesama anak-anak Allah hendaknya tidak boleh ada yang meninggikan diri menjadi bapak.

Larangan ketiga adalah sebutan pemimpin (ay. 10). Larangan ini mirip dengan ayat 8. Pemimpin di sini diterjemahkan dari 𝘬𝘢𝘵𝘩𝘦̄𝘨𝘦̄𝘵𝘦̄𝘴 yang berarti instruktur, penuntun. Tentu penulis Injil Matius bukan hendak meniadakan unsur pemimpin di dalam gereja. Ayat ini mesti dihubungkan dengan ayat-ayat bagian pertama di atas tentang kemunafikan ahli-ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Meskipun menjadi pemimpin jemaat, warga jemaat harus mengedepankan Mesias sebagai satu-satunya Pemimpin gereja. Mesias di sini sama dengan Kristus karena diterjemahkan dari kata 𝘊𝘩𝘳𝘪𝘴𝘵𝘰𝘴. [Sekadar pengingat penulis Injil Lukas mengusung teologi Yesus adalah Mesias sesudah kebangkitan. Penulis Injil Matius mengusung teologi Yesus adalah Mesias sejak dilahirkan.]

Membaca ayat 11 mengingatkan kita pada adegan ibu anak-anak Zebedeus (Yakobus dan Yohanes) meminta kepada Yesus untuk mendudukkan kedua anaknya di sebelah kanan dan kiri Yesus saat Yesus memerintah Kerajaan-Nya (lih. Mat. 20:20-28). Yesus tidak melarang pengikut-Nya menjadi pejabat, orang kaya, pemimpin, tetapi untuk itu 𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘺𝘢𝘯𝘮𝘶. Tugas pelayan adalah melayani. Melayani itu seperti apa? Ya melayani seperti Yesus melayani. Yesus peduli dan berbelarasa kepada masyarakat pinggiran.

𝗣𝗲𝗻𝘂𝘁𝘂𝗽 (Mat. 23:12)

“𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪, 𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪, 𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘬𝘢𝘯.” (TB II 2023)

Ayat 12 ini dapat menjadi kesimpulan dua bagian pengulasan di atas. Frase 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪 memerikan kemunafikan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sedang kata 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪 memerikan kepelayanan dan persaudaraan di dalam gereja. Sudah barang tentu 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪 bermakna bersikap rendah hati. Orang-orang besar adalah yang mau melayani. Mau melayani seperti Yesus melayani.

 (05112023)(TUS)

Sudut Pandang Mikha 3:5-12, 1 Tesalonika 2:9-13, Matius 23:1-12

Sudut Pandang Mikha 3:5-12, 1 Tesalonika 2:9-13, Matius 23:1-12 PENGANTAR  Ketiga bacaan ini membentuk kritik teologis terhadap pelayanan ya...