Rabu, 21 Oktober 2026

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 22:34-40, (41-46) [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗫𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝗞𝗲𝗽𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗺𝗮

Dalam Sudut  𝘗𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 edisi Minggu lalu saya menjelaskan bahwa paham Yahudi atau Yudaisme merupakan gaya hidup orang-orang Yehuda sesudah pembuangan ke Babilonia dengan mencampurkan agama dan sosio-ekonomi-politik. Ada tiga faksi utama di Yahudi: Zelot, Saduki, dan Farisi.

Zelot merupakan faksi garis keras. Flavius Yosefus, ahli sejarah Romawi, menyebut kelompok orang Yahudi ini melakukan perjuangan dengan mengangkat senjata demi membebaskan tanah Israel dari kekuasaan asing. Tanah Israel adalah milik umat Yahudi yang diberikan oleh Allah dan Allah menginginkan mereka untuk merebut tanah itu kembali. Ada yang menyebut Yudas Iskariot adalah orang Zelot. Ia mengkhianati Yesus karena sebal melihat Yesus tak mau angkat senjata melawan Romawi.

Saduki (dari kata Zadok) adalah nama kelompok aristokrat Yahudi yang berkuasa di Yerusalem hingga Bait Suci dihancurkan pada 70 ZB. Kaum Saduki bertanggung jawab terhadap ibadah yang dilakukan di Bait Suci sebagai kaum imam, yang hampir seluruh imam-imam dapat digolongkan sebagai kaum ini. Jabatan Imam Besar Yahudi pada umumnya diduduki oleh orang Saduki, tetapi tidak semua orang Saduki adalah imam. Saduki menolak konsep takdir, kekekalan jiwa, ganjaran kekal setelah kematian, kebangkitan, dan mereka menerima kehendak bebas.

Farisi merupakan kelompok yang ingin melindungi agama Yahudi dari pengaruh budaya asing dan melaksanakan akidah Yahudi dengan memberlakukan hukum Taurat secara ketat, misal tentang Sabat, puasa, dan makanan yang halal dan haram. Tafsiran mereka atas hukum-hukum tersebut dimuat dalam Misnah dan Talmud. Mereka tidak hanya menaati perintah yang diidentifikasikan oleh para rabi atau ahli Taurat dari hukum Taurat, tetapi juga sejumlah tradisi lisan tambahan yang diturunkan dari generasi ke generasi dan terus mengembangkan peraturan-peraturan yang ada di masa lalu untuk diterapkan. Farisi berisi orang-orang terpelajar. Satu contoh adalah Rasul Paulus. Perbedaan dengan Saduki, Farisi meyakini keberadaan jiwa yang kekal, kebangkitan dari kematian, keberadaan malaikat, dan kedatangan mesias yang diutus Allah pada masa yang akan datang untuk membebaskan mereka dari belenggu penjajahan Romawi.

Hari ini adalah Minggu kedua puluh dua setelah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 22:34-40, (41-46) yang didahului dengan Imamat 19:1-2, 15-18, Mazmur 1, dan 1Tesalonika 2:1-8.

𝘙𝘦𝘷𝘪𝘴𝘦𝘥 𝘊𝘰𝘮𝘮𝘰𝘯 𝘓𝘦𝘤𝘵𝘪𝘰𝘯𝘢𝘳𝘺 (RCL) menganjurkan membaca Injil Matius 22:34-46. Itu berarti ada dua tema dalam dua perikop yang diberi judul oleh LAI 𝘏𝘶𝘬𝘶𝘮 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘵𝘢𝘮𝘢 dan 𝘏𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘋𝘢𝘶𝘥. Risiko mengambil kedua tema adalah pengkhotbah harus mampu menjelaskannya di mimbar dalam waktu 15 menit atau paling lama 20 menit. Untuk 𝘛𝘪𝘵𝘪𝘬 𝘗𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 edisi Minggu ini saya memilih mengikuti leksionari Gereja Katolik, 𝘖𝘳𝘥𝘰 𝘓𝘦𝘤𝘵𝘪𝘰𝘯𝘢𝘳𝘪𝘶𝘮 𝘔𝘪𝘴𝘴𝘢𝘦, yang mengambil perikop pertama, Matius 22:34-40.

Sejak kedatangan Yesus di Yerusalem, para lawan Yesus terus mencari cara untuk menjebak Yesus. Dengan demikian mereka memiliki alasan kuat untuk menyingkirkan Yesus. Upaya pertama dilakukan oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi yang menggugat otoritas mengajar Yesus, yang dijawab Yesus lewat tiga perumpamaan (lih. 𝘛𝘪𝘵𝘪𝘬 𝘗𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 edisi 1, 8, dan 15 Oktober 2023).

Upaya kedua dilakukan oleh kaum Farisi dan Herodian. Mereka hendak menjebak Yesus dengan pertanyaan boleh atau tidak membayar pajak kepada kaisar Roma (lih. 𝘛𝘪𝘵𝘪𝘬 𝘗𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 edisi 22 Oktober 2023).

Upaya keempat dilakukan oleh kaum Saduki. Mereka hendak menjebak Yesus tentang ajaran kebangkitan lewat kasus perkawinan menurut hukum Levirat. Jawaban Yesus memukul balik mereka. Orang banyak yang mendengar itu takjub kepada pengajaran Yesus (lih. Mat. 22:23-32). Bacaan ini tidak dibaca untuk Tahun A, karena kisah paralelnya di Injil Lukas 20:27-38 akan dibaca untuk tahun C (Minggu ke-22, 9 November 2025).

Upaya kelima dilakukan oleh kaum Farisi. Mereka hendak menjebak Yesus mengenai hukum yang terutama dalam Taurat. Inilah upaya terakhir lawan-lawan Yesus untuk mencari kesalahan pengajaran Yesus dan menjadi bacaan Injil Minggu ini.

Pengulasan bacaan Injil Minggu ini dapat dibagi ke dalam dua bagian:
▶️ Matius 22:34-38 Perintah terutama
▶️ Matius 22:39-40 Perintah kedua

𝗣𝗲𝗿𝗶𝗻𝘁𝗮𝗵 𝘁𝗲𝗿𝘂𝘁𝗮𝗺𝗮 (Mat. 22:34-38)

Ketika orang-orang Farisi mendengar bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka (ay. 34) dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya mencobai Dia, (ay. 35) “𝘎𝘶𝘳𝘶, 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘯𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘛𝘢𝘶𝘳𝘢𝘵?” (ay. 36) Jawab Yesus kepadanya, “𝘒𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘮𝘶, 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘯𝘢𝘱 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘮𝘶, 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘯𝘢𝘱 𝘫𝘪𝘸𝘢𝘮𝘶, 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘯𝘢𝘱 𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘣𝘶𝘥𝘪𝘮𝘶. (ay. 37) 𝘐𝘵𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢.” (ay. 38) (TB II 2023)

Di perikop sebelumnya orang-orang Saduki dibungkam oleh Yesus menyoal perkawinan Levirat dan kebangkitan. Farisi dan Saduki merupakan dua faksi yang berbeda, tetapi mereka memiliki kepentingan yang sama: menjatuhkan Yesus. Orang-orang Farisi tampaknya “panas” melihat orang-orang Saduki dibungkam oleh Yesus (lih. ay. 34). Mirip ketika PDIP, PKS, FPI, MER-C, Ganjar Pranowo menolak kedatangan Tim Israel U20 mengikuti turnamen Piala Dunia U20 di Indonesia yang berakibat Indonesia dicoret FIFA dari tuan rumah. Padahal mereka berbeda faksi bahkan ideologi, tetapi kepentingan mereka sama.

Seorang ahli Taurat mewakili Farisi dan Saduki hendak “menguji” Yesus. Menurut Injil Matius ini upaya terakhir lawan Yesus ingin menjatuhkan Yesus berkenaan dengan pengajaran-Nya. Pertanyaan yang dipilih pun benar-benar diukur: mengenai perintah terutama di Taurat. Penulis Injil Matius menggunakan kata 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘵𝘢𝘮𝘢 atau 𝘮𝘦𝘨𝘢𝘭𝘦̄. Ia mengganti sumber Markus yang menggunakan 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 atau 𝘱𝘳𝘰̄𝘵𝘦̄ (lih. Mrk 12:28).

Mengapa mereka mengajukan pertanyaan itu? Taurat merujuk lima kitab pertama di Perjanjian Lama (PL): Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Di agama Yahudi secara tradisi Taurat berisi 613 ketetapan: 248 perintah positif dan 365 larangan. Larangan sebanyak 365 itu terbagi lagi ke dalam dua kategori: berat dan ringan. Menurut Rabi Hillel pada tahun 20 SZB perintah terutama perumusannya kira-kira seperti ini: 𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘢𝘮𝘢. Pertanyaan ahli Taurat itu sangat sulit dan ia tampaknya sudah siap dengan sanggahan apabila Yesus menjawab seperti Rabi Hillel.

Jawaban Yesus tampaknya tidak sesuai perkiraan di ahli Taurat. Yesus menjawab dengan mengutip kitab Ulangan 6:5. Frase dengan 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘯𝘢𝘱 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘮𝘶, 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘯𝘢𝘱 𝘫𝘪𝘸𝘢𝘮𝘶, 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘯𝘢𝘱 𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘣𝘶𝘥𝘪𝘮𝘶 tidak hendak memilah-milah manusia seperti filsafat Plato. Dalam paham Yahudi manusia merupakan satu-kesatuan utuh. Dengan bahasa ringan jawaban Yesus itu dapat diparafrasekan menjadi 𝘒𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘮𝘶, 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯, 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯. Itulah yang paling penting.

𝗣𝗲𝗿𝗶𝗻𝘁𝗮𝗵 𝗸𝗲𝗱𝘂𝗮 (Mat. 22:39-40)

“𝘗𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩: 𝘒𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘴𝘢𝘮𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪. (ay. 39) 𝘗𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘨𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮 𝘛𝘢𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘯𝘢𝘣𝘪.” (ay. 40) (TB II 2023)

Bangsa Yahudi membatasi paham tentang sesama kepada warga Israel saja dan orang-orang asing yang menetap di antara mereka menurut kitab Imamat 19:18. Yesus meluaskan paham ini kepada semua manusia tanpa kecuali. Teks Matius ini amat singkat. Untuk memahami sepenuhnya perlu dilatari pengajaran Yesus dalam 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘎𝘶𝘯𝘶𝘯𝘨 (Mat. 5-7) dan 𝘸𝘦𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘬𝘪𝘮𝘢𝘯 (Mat. 25:31-46). Contoh, segala kesalahan sesama harus diampuni, sebab jika tidak, Bapa tidak akan memberi pengampunan kepada kita (Mat. 6:14). Contoh lain, Yesus mengatakan, “𝘚𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘯𝘢 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘈𝘬𝘶.” (Mat. 25:40). Bahkan secara radikal Yesus menekankan manusia harus berdamai lebih dahulu dengan saudaranya sebelum beribadah kepada Allah (Mat. 5:23-24). Kasih kepada Allah tak terpisah dengan kasih kepada sesama manusia.

Bukan menjawab itu saja, Yesus menutupnya dengan mengatakan bahwa kedua perintah itu mencakup seluruh hukum (Taurat) dan (kitab) para nabi. Dalam teks Grika hanya disebut 𝘯𝘰𝘮𝘰𝘴 (hukum) dan 𝘱𝘳𝘰𝘱𝘩𝘦̄𝘵𝘢𝘪 (nabi-nabi). Taurat merujuk lima kitab pertama di PL: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Kitab para nabi meliputi kitab-kitab nabi yang berbeda-beda. Sebenarnya ada bagian ketiga di kitab suci Yahudi, yaitu tulisan-tulisan hikmat atau sastra hikmat seperti Mazmur, Kohelet, Amsal, Ayub, dll. Tampaknya penulis Matius hanya menekankan dua bagian pertama. Dengan menggabungkan kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama Yesus secara radikal dan fundamental merobohkan paham Yahudi. 

Atas jawaban-jawaban Yesus tersebut orang-orang Farisi terbungkam juga. Apabila kita membaca sampai ayat 46 … dan sejak hari itu tidak seorang pun berani lagi menanyakan sesuatu kepada-Nya.

(29102023)

Alur tematisnya sangat jelas:* Imamat 19 memberi hukum kasih kepada sesama → Mazmur 1 memberi teladan orang yang hidup dalam Taurat → Matius...