Rabu, 21 Oktober 2026

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 23:1-12 (𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗫𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔), M𝗲𝗹𝗮𝘆𝗮𝗻𝗶

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 23:1-12 (𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗫𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔), M𝗲𝗹𝗮𝘆𝗮𝗻𝗶

Ini didasarkan pada bentuk bacaan sabda yg bukan RCL.
Kata melayani beserta dengan 
variasinya seperti pelayanan/pelayan/kepelayanan adalah kata yang acap digunakan di lingkungan Kristen atau gereja selain kata mengasihi dan mengampuni. Pendeta memimpin ibadah disebut melayani. Warga bermain musik atau bernyanyi dalam paduan suara untuk ibadah disebut melayani atau pelayanan. Kontras dengan itu pegiat gereja lainnya melakukan tindakan konkret dengan menolong orang-orang miskin terutama di masa pandemi dan mereka menyebut itu juga melayani atau pelayanan. Kedua acuan pelayanan selebrasi dan aksi ini kemudian saling mendaku paling Alkitabiah. Apakah itu yang dimaksud Yesus tentang melayani?
                                           
Bacaan Injil Minggu ini secara ekumenis diambil dari Matius 23:1-12 yang didahului dengan Mika 3:5-12, Mazmur 43, dan 1Tesalonika 2:9-13.

Bacaan Injil Minggu ini tentang Yesus melayangkan kritik kepada para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Dikatakan oleh Yesus bahwa mereka mengajarkan kepada umat mengenai hukum-hukum Musa, tetapi mereka sendiri tidak menjalankannya. Ibarat mereka menaruh beban-beban berat ke pundak umat, sementara mereka sendiri menghindari memikul beban (ay. 1-4).

Yesus mengiritik mereka yang hanya melakukan ibadah agar dilihat oleh orang-orang atau umat. Di tempat-tempat perjamuan dan ibadah mereka suka duduk di depan agar dilihat oleh banyak orang. Mereka suka mencari penghormatan dengan dipanggil rabi oleh orang-orang. Mirip-miriplah di Indonesia orang-orang yang mendaku pemuka agama Kristen mencari panggung dengan menyertakan predikat pdt. Padahal dalam perikop ini Yesus mengajarkan sikap egaliter. “Rabimu hanya satu di surga, kalian adalah bersaudara.” kata Yesus. Akan tetapi di sini Yesus sama sekali bukanlah menolak orang menjadi pemimpin. Untuk itulah Yesus menekankan, ”Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” (ay. 5-12).

Kalau kita membaca dalam bagian lain Injil Matius sebelum bagian bacaan kita Minggu ini (Mat. 20:20-28) ada pertarungan seru di antara 12 murid Yesus untuk menjadi yang terbesar. Yesus menghardik mereka,”Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” Sambung Yesus,”…Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Yesus mau menyampaikan kepada murid-murid-Nya untuk menjadi pemimpin haruslah dengan melayani yaitu berwawasan pada kesejahteraan banyak orang.

Dalam Matius 9:9-13 kita akan melihat Matius, si pemungut cukai, golongan yang tidak disukai oleh golongan umat Yahudi. Yesus memanggil Matius dan ia langsung mengikuti-Nya. Bukan itu saja, Yesus juga makan bersama dengan Matius beserta kawan-kawan sejawatnya yang disebut sebagai orang berdosa itu. Perbuatan Yesus ini tentu mengundang pertanyaan orang-orang Farisi,”Kok mau-maunya sih Yesus bergaul dengan orang-orang berdosa?”. Dengan enteng Yesus menjawab,”Bukan orang sehat memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Melayani di sini berarti untuk membuat manusia peka dan mengarahkan perhatiannya kepada mereka yang tak berdaya.

Dalam Injil Matius 15:32-39 dikisahkan Yesus memberi makan kepada 4.000 orang. Di kalangan Kristen kisah ini tenggelam dengan kisah Yesus memberi makan kepada 5.000 orang (Mat. 14:13-21). Ada perbedaan hakiki pelayanan Yesus pada Matius 15:32-39 dan Matius 14:13-21. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari sisi geografis. Pemberian makan kepada 5.000 orang terjadi di wilayah Palestina, yaitu di Galilea, sedang pemberian makan kepada 4.000 orang terjadi di luar wilayah Palestina, yaitu Dekapolis. Daerah itu banyak dihuni oleh orang-orang Grika perantauan. Yesus memberi makan kepada 4.000 orang itu atas dasar belas kasihan, yang bukan sekadar kasihan. Orang-orang itu dikenyangkan-Nya. Tidak ada kisah tentang pertobatan atau mereka menjadi pengikut Yesus. Malahan setelah mereka kenyang Yesus menyuruh mereka pulang (Mat. 15:39). Melayani di sini berarti melewati batas golongan sendiri. Melayani mestilah tanpa strategi untuk menjadikan mereka anggota kelompok. Pelayanan mestilah serbacakup yang juga menyentuh orang-orang yang tidak seagama seperti yang telah Yesus lakukan.

Sedikitnya ada tiga gatra pelayanan menurut Yesus: berwawasan pada kesejahteraan banyak orang, memberdayakan kaum lemah dan pinggiran, serta melewati batas golongan atau kelompok sendiri. Itu berarti seorang pemimpin agama termasuk juga pemimpin negara, pemimpin daerah yang melayani mestilah membumi, lebih mengikuti akal sehat, lebih peduli pada kebutuhan nyata manusia, membuat kehidupan lebih manusiawi, dan lebih rendah hati untuk tunduk pada norma-norma etika. 

Pendeta dan pejabat negara/daerah sering mendaku diri pelayan. Konsekuensi logis dari pendakuan ini, maka mereka harus mengukur kualitas pelayanan mereka. Apakah mereka melakukannya? Tentu ada yang melakukannya. Bagaimana dengan pendeta? Saya berani bertaruh banyak pendeta tidak ambil pusing pada kualitas pelayanan. Satu ciri pendeta tidak menggubris kualitas pelayanan adalah tidak mau mendengar. 

Dari bacaan di atas Yesus sama sekali tidak melarang kita menjadi pemimpin, tidak melarang kita menjadi orang kaya raya. Yang Yesus katakan adalah kalau sudah menjadi pemimpin, sudah menjadi kaya raya hendaklah melayani. Melayani seperti apa? Melayani seperti Yesus melayani.

01112020

Alur tematisnya sangat jelas:* Imamat 19 memberi hukum kasih kepada sesama → Mazmur 1 memberi teladan orang yang hidup dalam Taurat → Matius...