Minggu, 01 November 2026

𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗠𝗲𝗺𝗮𝗻𝗴 𝗕𝗶𝗻𝗲𝗿: 𝗕𝗲𝗻𝗮𝗿 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝗞𝗲𝗹𝗶𝗿𝘂

PENGANTAR
Dalam satu diskusi liturgi dengan seorang pendeta, ia menyebut saya berpikir biner. Saya katakan kepadanya bahwa dalam liturgi memang harus presisi sehingga memang biner: benar atau keliru. Dalam liturgi tidak ada namanya 𝘈𝘯𝘥𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳.

PEMAHAMAN 
𝗠𝗲𝗻𝗴𝗮𝗽𝗮 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗯𝗶𝗻𝗲𝗿?

Dalam kehidupan bergereja 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝘂𝘁𝗮𝗺𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗷𝗮𝗿 𝘂𝗺𝗮𝘁, bukan khotbah/homili. Khotbah mungkin berlangsung selama 15-25 menit, tetapi beberapa saat setelah ibadah selesai, umat belum tentu mengingat apa yang disampaikan pengkhotbah. Liturgi mengajar umat melalui simbol, gerakan, kata-kata, ruang, waktu, dan tindakan 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗹𝗮𝗸𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝘂𝗹𝗮𝗻𝗴-𝘂𝗹𝗮𝗻𝗴.

Ketika umat berdiri untuk menyambut pembacaan Injil, berlutut dalam doa, mengucapkan Syahadat, menerima roti dan anggur dalam Perjamuan Kudus, atau mengulurkan tangan untuk menerima 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘢𝘮𝘢𝘪, mereka sedang belajar tentang iman Kristen. Bahkan penempatan meja perjamuan, arah gerak pelayan liturgi, warna kain mimbar, dan pemilihan nyanyian pun dapat menyampaikan pesan teologis.

Liturgi membentuk cara umat memahami Allah, memandang diri sendiri, memerlakukan sesama, dan menjalani kehidupan sehari-hari. Proses belajar ini tidak selalu berlangsung melalui penjelasan verbal. Umat dapat menyerap nilai dan keyakinan melalui apa yang mereka lihat, dengar, ucapkan, dan lakukan bersama-sama, bahkan tanpa menyadari bahwa mereka sedang belajar.

Dalam tradisi Gereja terdapat prinsip 𝘭𝘦𝘹 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘥𝘪, 𝘭𝘦𝘹 𝘤𝘳𝘦𝘥𝘦𝘯𝘥𝘪: cara Gereja berdoa dan beribadah bertalian erat dengan apa yang dipercayai dan diajarkan Gereja. Liturgi bukan sekadar kemasan bagi teologi. Liturgi sendiri merupakan ekspresi sekaligus pembentuk teologi Gereja. Dengan demikian apa yang dilakukan Gereja dalam ibadah tidak pernah sepenuhnya netral secara teologis.

Itulah sebabnya 𝗽𝗿𝗲𝘀𝗶𝘀𝗶 atau ketepatan dalam liturgi 𝘀𝗮𝗻𝗴𝗮𝘁 𝗽𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴. Setiap unsur liturgi harus ditempatkan dan dilaksanakan sesuai dengan makna liturgis dan teologisnya agar umat tidak menerima pengajaran yang keliru.

Berita Anugerah, misalnya, harus menggunakan teks yang secara deklaratif menyatakan pengampunan Allah atas dosa, bukan teks yang berisi janji atau nasihat moral. Berita Anugerah adalah deklarasi bahwa Allah telah mengampuni dosa. Jika teks yang digunakan tidak menyatakan pengampunan itu secara tegas, terutama jika pewartaannya masih menggantung pada kata 𝙖𝙠𝙖𝙣 dan 𝙟𝙞𝙠𝙖, liturgi justru mengaburkan makna anugerah.

Gereja harus memertanggungjawabkan kesesuaian antara isi teks, maksud pewartaan, dan fungsi liturgisnya. Sebuah teks pada dirinya tidak keliru secara teologis, tetapi 𝗸𝗲𝗹𝗶𝗿𝘂 𝘀𝗲𝗰𝗮𝗿𝗮 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶𝘀 𝗮𝗽𝗮𝗯𝗶𝗹𝗮 𝗱𝗶𝘁𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝘂𝗻𝘀𝘂𝗿 𝗶𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗮𝗶 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗳𝘂𝗻𝗴𝘀𝗶𝗻𝘆𝗮. Teks yang berisi janji Allah keliru difungsikan sebagai Berita Anugerah. Berita Anugerah harus mewartakan pengampunan saat itu juga sesudah umat mengaku dosa, bukan menjanjikan bahwa pengampunan akan diberikan atau mengajukan persyaratan agar manusia mendapatkannya.

Pembacaan ayat Alkitab sebelum Ritus Kolekte sama sekali tidak memiliki dasar liturgis. Ini keliru. Mengapa? Pemberitaan firman termasuk nasihat dan petunjuk hidup di dalam Kristus sudah tuntas dalam Liturgi Sabda. Perbuatan membaca ayat Alkitab yang dilakukan berulang-ulang sebelum Ritus Kolekte akhirnya dapat dicerap umat sebagai pengajaran 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙠 𝗽𝗮𝗸𝗮𝗶 𝗮𝘆𝗮𝘁.

Kita juga tidak boleh berlindung di balik alasan bahwa suatu tindakan sudah dilakukan turun-temurun, sudah menjadi kebiasaan. Kebiasaan tidak otomatis menjadi kebenaran liturgis. Sesuatu yang dilakukan berulang kali tidak otomatis menjadi benar hanya karena umat sudah terbiasa melakukannya. Justru pengulangan itulah yang membuat kekeliruan liturgis semakin berbahaya, karena umat terus-menerus menerima pengajaran yang keliru tanpa menyadarinya.

Saya teringat ketika dahulu menggunakan telepon genggam dengan 𝘬𝘦𝘺𝘱𝘢𝘥 fisik. Saya bisa mengetik SMS tanpa melihat 𝘬𝘦𝘺𝘱𝘢𝘥 karena sudah hafal posisi angka dan hurufnya. Jari-jari saya seolah-olah sudah mengingat letak setiap tombol. Demikian pula liturgi. Apa yang dilakukan umat berulang-ulang akhirnya diinternalisasi, bahkan tanpa perlu dipikirkan lagi. Persoalannya, 𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶𝗺𝗮𝗻𝗮 𝗷𝗶𝗸𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝘂𝗹𝗮𝗻𝗴-𝘂𝗹𝗮𝗻𝗴 𝗶𝘁𝘂 𝗸𝗲𝗹𝗶𝗿𝘂? Kekeliruan yang terus-menerus diulang dapat membentuk pemahaman teologis yang keliru dan dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Umat akhirnya bukan hanya terbiasa melakukan tindakan liturgis yang keliru, tetapi juga menyerap pengajaran keliru yang terkandung di dalamnya.

Dalam liturgi Gereja sedang mengajar umat melalui setiap tindakan ibadahnya. Ketika tindakan itu keliru ditempatkan, pengajaran yang diterima umat pun keliru. Presisi liturgis merupakan tanggung jawab teologis Gereja agar setiap tindakan ibadah sungguh mendidik iman umat.

Jadi, kalau ada yang menyebut saya berpikir biner, memang demikianlah dalam liturgi. Ketepatan fungsi liturgis bukan persoalan selera atau kompromi. Gereja tidak boleh mengajarkan hal yang keliru melalui ibadahnya sendiri.


𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗠𝗲𝗺𝗮𝗻𝗴 𝗕𝗶𝗻𝗲𝗿: 𝗕𝗲𝗻𝗮𝗿 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝗞𝗲𝗹𝗶𝗿𝘂 PENGANTAR Dalam satu diskusi liturgi dengan seorang pendeta, ia men...