Senin, 12 Februari 2024

PANDUAN PENDADARAN / PERBINCANGAN PRA PEMBERKATAN NIKAH BEDA AGAMA, SERIAL SUDUT PANDANG

PANDUAN PENDADARAN / PERBINCANGAN PRA PEMBERKATAN NIKAH BEDA AGAMA, SERIAL SUDUT PANDANG

Catatan Awal untuk Majelis :
Pendadaran bukan merupakan test kelulusan, namun sebuah penggembalaan untuk mempersiapkan mempelai tetapi juga melakukan ‘checking’ serta mengkonfirmasi kesiapan mereka. Secara khusus, untuk pasangan berbeda keyakinan, perlu lebih mendapatkan dukungan dan motivasi agar mereka tetap murni dalam niatan untuk hidup bersama dengan menghidupkan terus spirit jujur, tulus, setia, dan penuh cinta kasih, meskipun tantangan yang akan dihadapi lebih besar dari pada pasangan yang seiman.
Dalam beberapa kasus, ada pasangan mempelai yang akan mempertahankan kehidupan perkawinannya tetap dengan keyakinan yang berbeda. Untuk pasangan yang demikian dorongan motivasi untuk mengelola dan menghargai perbedaan dengan kejujuran dan ketulusan perlu diberikan. Tetapi ada juga pasangan yang melakukan pemberkatan perkawinan beda agama oleh karena situasi (biasanya karena keluarga masing-masing fanatik) sebab calon mempelai non Kristen sebetulnya sudah ada ketertarikan atau simpatik (simpatisan) pada pengajaran Kristen. Kalau memang di kemudian hari sudah ada keinginan yang demikian, tentu bentuk pendadaran disesuaikan saja. Hal ini bisa dicek dari jawaban mempelai pada pertanyaan Bagian B No.3. Jika dipandang perlu (oleh karena belum ada informasi perihal simpatisan), pertanyaan ini bisa disampaikan lebih awal. 
Sehubungan dengan karakteristik perbedaan iman maka Liturgi dan Pratelan pemberkatan perkawinan beda agama harus dipercakapkan dengan Pendeta yang akan melayani, bukan dipercakapkan dalam pendadaran ini.
Materi pendadaran ini boleh dikembangkan sesuai dengan percakapan yang berlangsung, yang pada intinya pendadaran adalah penggembalaan.


Pengantar 
Kehidupan bersama dalam pluralitas ada sebuah realita yang tak tersangkal dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Mengingkari kemajemukan berarti mengingkari realita. Dalam kehidupan bersama yang plural tersebut maka hubungan percintaan dengan seseorang yang berbeda keyakinan adalah juga sebuah kemungkinan tak terhindarkan. Menjadi sangat tidak manusiawi ketika kita membatasi pergaulan hanya dengan mereka yang sama iman, sebab sikap eksklusif yang demikian justru bukan sikap kristiani yang baik. Cinta adalah sebuah anugerah universal yang melintasi batas, kuat laksana api, tak terbendung.  Meskipun demikian, perkawinan beda agama bukan tanpa resiko dan persoalan. Ada sejumlah tantangan besar yang harus dihadapi oleh pasangan beda agama. Tantangan besar itu pada prinsipnya adalah mengelola dan menghargai perbedaan sepanjang hidup perkawinan. Sedangkan mengelola perbedaan dibutuhkan sikap pengorbanan diri yang ekstra.

Pemberlakuan pelayanan pemberkatan nikah beda agama didasarkan pada Tata Laksana GKJ (tahun 2005) pasal 49 ayat 7. Pelayanan pemberkatan nikah beda agama dilandasi dengan pemahanan bahwa sepasang calon suami-isteri yang berbeda keyakinan adalah pribadi dewasa yang dengan niatan dan ketulusan cinta serta dilandasi keyakinan iman masing-masing bersedia hidup bersama sebagai suami-isteri untuk bertumbuh bersama dalam kebahagiaan, yang dengan penuh tanggungjawab memelihara perkawinan sebagaimana seharusnya menjadi cita-cita perwujudan perkawinan yang kekal dan penuh kesetiaan. Dengan pemahaman yang demikian maka selayaknya berkat Tuhan juga berhak diterima oleh anak-anakNya yang hendak menjalani hidup perkawinan dengan takut akan Tuhan dan menjunjung tinggi martabat perkawinan (band. 1 Korintus 7: 12 – 14)

Pendadaran pemberkatan perkawinan beda agama adalah upaya penggembalaan untuk menyiapkan mempelai sekaligus mengkonfirmasi kesiapan mempelai dalam memasuki perkawinan yang unik itu serta memotivasi mempelai dalam memperjuangkan spirit hidup bersama yakni jujur, tulus, setia, dan penuh cinta kasih. 

Bagian A Prinsip-prinsip Perkawinan (Kristiani) 

Apakah perkawinan itu menurut saudara berdua?
Apakah tujuan saudara berdua hidup dalam ikatan perkawinan?
Apa yang menjadi dasar keberanian saudara berdua yang berbeda keyakinan untuk masuk dalam kehidupan perkawinan?
Apakah ada pihak-pihak yang memaksa saudara?
Apakah saudara menerima prinsip perkawinan yang bersifat kekal, tidak terceraikan? Mengapa?
Apakah saudara menerima prinsip perkawinan yang bersifat monogami? Mengapa?
Martabat perkawinan harus dijunjung tinggi melalui penerimaan martabat manusia yang sederajat. Laki-laki dan perempuan adalah makhluk ciptaan Tuhan yang keberadaannya (eksistensi) terhubung langsung dengan Allah sehingga manusialah makhluk yang tercipta secara istimewa, ia memiliki akal budi serta kesadaran religius maupun kesadaran etis. Manusia laki-laki dan perempuan adalah makhluk yang bermartabat. Oleh karena itu laki-laki dan perempuan kedudukannya sama/setara. Apakah saudara setuju? Jelaskan.
Dalam perpektif sosial budaya, pria adalah kepala keluarga. Bagaimana menjelaskan hal tersebut?
Apa tugas/kewajiban suami dan tugas/kewajiban isteri  menurut saudara?
Menjunjung tinggi martabat perkawinan diwujudkan dengan memperlakukan perkawinan dengan hormat dan tidak melecehkan cinta kasih dan kesetiaan sebagai dasar perkawinan. Bagaimana perwujudan hidup relasi suami-isteri yang mencerminkan rasa hormat pada perkawinan dan tidak melecehkan cinta kasih dan kesetiaan sebagai dasar perkawinan?
“Ketidakadilan dan kekerasan bisa terjadi di dalam hidup perkawinan dan keluarga.” Apakah saudara mengakui pernyataan di atas? Apa wujud perilaku keseharian yang sering terjadi? Apa yang harus dilakukan untuk tidak terjadi ketidakadilan dan kekerasan dalam perkawinan serta keluarga?
Bagaimana cara saudara mempertahankan keutuhan perkawinan?

Bagian B Perkawinan Beda Agama

Saudara berdua hendak hidup bersama dalam ikatan perkawinan dengan dua keyakinan yang berbeda. Apakah saudara siap menjalani hidup bersama dengan beda keyakinan? Jelaskan kesiapan saudara.
Apakah saudara berkeinginan dan atau berjanji masing-masing tetap menjalankan keyakinannya tanpa paksaan, tekanan, dan hambatan? 
Secara praktis, akan ada banyak kesulitan yang saudara hadapi ketika hidup berbeda keyakinan, yang pada prinsipnya bergumulan terus menerus dalam menghargai dan memberi tempat pada perbedaan. Di dalamnya dibutuhkan pengorbanan ekstra. Apakah saudara bersedia berkorban? Berkorban seperti apa dan berikan contohnya.
Salah satu pengorbanan yang berat dalam perkawinan beda agama adalah mengorbankan kebahagiaan religius, sebab masing-masing memiliki cara sendiri, dan saudara sebagai suami – isteri tidak akan bisa menghayati kebahagiaan religius bersama-sama. Misalnya: saudara tidak akan bisa merayakan hari-hari besar keagamaan secara bersama-sama. Bagaimana saudara akan mengatasinya?
Dalam setiap agama memiliki simbol-simbol religius, misalnya Salib. Simbol-simbol religius itu juga menjadi penghayatan sehari-hari sehingga banyak simbol-simbol religius dipasang di dalam rumah. Oleh karena saudara berbeda keyakinan apakah simbol-simbol religius akan dipasang semua baik yang Kristen maupun non Kristen? Atau malah tidak dipasang semua? Sungguh ikhlas?

Catatan :
Apapun jawaban mereka perlu didorong dan dimotivasi keikhlasan mereka agar tidak terjadi konflik di kemudian hari.

Dalam kehidupan praktis, anda berdua juga akan menghadapi kesulitan-kesulitan terkait dengan pengajaran yang berbeda, keyakinan iman yang satu memperbolehkan sedangkan yang lain melarang. (Dalam hal ini bisa dicontohkan antara Islam dan Kristen tentang puasa dan tentang yang halal dan haram/najis). Demikian pula ada aqidah/ajaran yang bersifat mengikat sedemikian rupa sehingga pasangan atau anggota keluarga yang berbeda keyakinan bisa terkena dampaknya. (Bisa dicontohkan pula misalnya: pandangan yang menganggap mereka yang berbeda keyakinan itu sebagai kafir sehingga dibatasi pergaulannya) Bagaimana saudara berdua akan mengatasinya?

Bagian C Keluarga Beda Agama

Apakah saudara berdua yakin bahwa keluarga yang saudara bangun akan bahagia meski berbeda keyakinan? Apa dasar keyakinan saudara?
Sebagai keluarga yang terbentuk dari suami-isteri yang berbeda keyakinan, apakah dasar bagi perwujudan kebahagiaan keluarga?
Dari perspektif religius saudara berasal dari 2 keluarga yang berbeda keyakinan dalam membina keluarga. Jikalau suatu saat orang tua masing-masing memaksakan kehendak kepada keluarga yang akan saudara bangun nanti, bagaimana sikap saudara?
Salah satu tantangan besar dalam mengelola keluarga beda agama adalah keberadaan anak-anak. Bagaimana saudara akan mendidik anak-anak kelak?

Catatan :
Jika mereka berkeinginan menyerahkan pilihan pada anak mereka kelak, lanjutkan dengan pertanyaan; 
Lalu dari kecil/bayi mereka akan diperkenalkan agama yang mana?
Apakah saudara akan benar-benar ikhlas pada pilihan anak-anak sendiri?

Bagian D Penegasan

Baik pasangan seiman maupun tidak seiman, semuanya sama-sama akan menghadapi tantangan dan kesulitan masing-masing. Betapapun ada tantangan tetapi tidak berarti tidak bisa dilewati, pasti bisa dilewati. (Berikan motivasi kepada mempelai untuk saling belajar perbedaan yang ada, belajar sabar, saling merendahkan diri, saling menghargai, saling menyadari keberadaan diri yang berbeda)
Mereka yang berniat hidup bersama dalam perkawinan selalu dituntut tanggungjawabnya untuk menjaga keutuhan dan kekudusan perkawinan. Apakah saudara bersedia menjaga keutuhan perkawinan? Apa perwujudannya?
Apakah saudara masing-masing sebagai suami dan isteri bersedia dan berjanji menjaga kekudusan sebagai suami dan sebagai isteri? Apa perwujudannya?
Apakah hingga saat ini saudara masih tetap menjaga diri dalam kekudusan dengan belum pernah berhubungan suami isteri (sex pranikah)? 

Catatan :
Berdasarkan jawaban atas pertanyaan di atas, jika sudah pernah melakukan sex pranikah maka bagi calon mempelai Kristen ditegaskan konsekuansinya, yaitu pengakuan dosa.
Cepogo, STT BAPTIS INJILI, 2015, TUS

Rabu, 31 Januari 2024

Cakram Faistos, keberadaan bangsa Filistin, Serial sudut pandang

Cakram Faistos, keberadaan bangsa Filistin, Serial sudut pandang
===============

Cakram Faistos adalah cakram tanah liat yang dibakar dari pulau Kreta, kemungkinan berasal dari Zaman Perunggu Minoa pertengahan atau akhir milenium kedua SM dan memuat teks dalam aksara dan bahasa yang tidak diketahui. Tujuan dan tempat pembuatan aslinya masih diperdebatkan. Cakram ini sekarang dipajang di museum arkeologi Heraklion. Namanya terkadang dieja Phaestos atau Festos (en.wikipedia/phaistos disc).

Cakram tersebut ditemukan pada tahun 1908 oleh arkeolog Italia Luigi Pernier selama penggalian istana Minoa di Faistos, dekat Hagia Triada, di pantai selatan Kreta. ecara khusus piringan itu ditemukan di basement ruang 8 gedung 101 sekelompok bangunan di sebelah timur laut istana utama. Pengelompokan empat ruangan ini juga berfungsi sebagai pintu masuk resmi ke dalam kompleks istana. Arkeolog Italia Luigi Pernier menemukan "piringan" utuh tersebut pada tanggal 3 Juli 1908 selama penggalian istana Minoa yang pertama.

Cakram itu ditemukan di kamar utama "penyimpanan kuil" bawah tanah. Ruang-ruang basement ini, yang hanya dapat diakses dari bagian atas, ditutupi dengan rapi dengan lapisan plester halus. Isinya miskin artefak berharga, tetapi kaya akan tanah hitam dan abu, bercampur dengan tulang sapi yang terbakar. Situs tersebut tampaknya runtuh akibat gempa bumi, kemungkinan terkait dengan letusan gunung berapi Santorini yang berdampak pada sebagian besar wilayah Mediterania pada pertengahan milenium ke-2 SM (en.wikipedia/phaistos disc).

Cakram yang berdiameter sekitar 15 cm (5,9 inci) ini di setiap sisinya ditutupi dengan teks spiral. Yves Duhoux (1977) memberi tanggal pada cakram tersebut antara tahun 1850 SM dan 1600 SM (MMIII dalam kronologi Minoa ) berdasarkan laporan Luigi Pernier, yang mengatakan bahwa cakram tersebut berada dalam konteks Minoa Tengah yang tidak terganggu. Jeppesen (1963) memperkirakannya terjadi setelah tahun 1400 (LMII–LMIII dalam kronologi Minoa). Meragukan kelayakan laporan Pernier, Louis Godart (1990) mengundurkan diri dengan mengakui bahwa secara arkeologis, piringan tersebut mungkin berasal dari zaman Minoa Tengah atau Akhir (MMI–LMIII, periode yang mencakup sebagian besar milenium kedua SM ). J. Best menyarankan penanggalan pada paruh pertama abad ke-14 SM (LMIIIA) berdasarkan penanggalan tablet PH-1 (en.wikipedia/phaistos disc).

Nah, apa hubungan Cakram Faistos dengan Sejarah Alkitab?

Cakram ini berhubungan dengan catatan tentang orang Filistin kuno dari Mesir.

Pertama kali orang Filistin disebut dengan nama itu (prst, baca: paristu) adalah dalam catatan tahunan Rameses III untuk thn ke-5 pemerintahannya (1185 SM) dan tahun-tahun berikutnya yang diukir di kuilnya untuk dewa Amon di Medinet Habu dekat Tebe. Tulisan ukir ini mencatat bahwa dia bertempur melawan orang Libia bersama beberapa suku bangsa yang umumnya dikenal sebagai ''Bangsa-bangsa Pelaut', yang mana salah-satu di antaranya ialah 'orang prst'. Suku-suku lain yang termasuk 'Bangsa-bangsa Pelaut' ini sudah disebut dalam tulisan ukir dari Merenptah, Rameses II, dan dalam Surat-surat Amarna dari abad 14 SM.

Gambar-gambar setengah timbul yang diukir dalam kuil di Medinet Habu, menunjukkan bahwa Bangsa-bangsa Pelaut itu tiba bersama keluarga mereka dan harta bendanya dengan memakai gerobak dan kapal. Sedangkan, 'orang prst' dengan kelompok lain yang akrab sekali dengan mereka, yaitu 'orang tkr', dilukis dengan memakai hiasan kepala yang dibuat dari bulu, yang ditusukkan tegak lurus pada suatu pengikat yg mendatar. Nah, lukisan kepala yang memakai hiasan demikian merupakan salah-satu tanda dalam tulisan gambar pada Cakram Faistos yang ditemukan di Pulau Kreta tersebu.

Ini memberikan indikasi bahwa memang bangsa Filistin berasal dari Pulau Kaftor/Kreta (Yeremia 47:4, Amsal 9:7, Zefanya 2:5) yang kemudian bermigrasi dan mendiami pesisi Laut Merah setelah memunahkan penduduk asli di wilayah itu (Ulangan 2:23) dan sering bermusuhan dengan Mesir, lalu kemudian juga dengan Israel.

Bangsa Filistin memang tidak disebut dalam tulisan ukir di luar Alkitab sampai abad ke-12 SM, dan data-data arkeologi yang berkaitan dengan mereka tidak ada sebelum saat ini, maka banyak ahli kritik mencap ay-ay yg menyebut nama mereka pada zaman Bapak-bapak leluhur adalah anakronistik, hal yg tidak cocok tanggalnya dengan peristiwanya. Tapi dua pertimbangan melawan pandangan ini. Ada bukti bahwa perdagangan daerah Aegea pada zaman Pertengahan Minoa meluas secara besar-besaran (kr tahun 1900-1700 SM), dan barang-barang industri buatan Aegea atau barang-barang yg dipengaruhinya sudah ditemukan, berasal dari zaman itu di Ras Syamra di Siria, Hazor dan di Megido di Israel, dan di Tod, Harageh, Lahun dan Abudos di Mesir. Sangat mungkin sebagian besar barang dagangan ini mudah rusak, seperti tekstil. Sebuah jenis hiasan berbentuk spiral yg tampil pada saat itu di Mesir dan Asia (Mari) menopang pendapat ini. Bukti yg lebih meyakinkan mengenai hubungan daerah Aegea dengan Palestina terdapat pada sebuah lempeng dari Mari (abad ke-18) yang mencatat pengiriman pemberian-pemberian raja Hazor kepada Kaptara (Kaftor). Kedua, nama-nama (suku) bangsa dalam zaman kuno tidak dipakai dalam pengertian yang tepat persis. Para anggota dari suatu kelompok campuran seperti bangsa pelaut, sangat mungkin tidak dibedakan dengan nama-nama khusus. Jadi, alpanya suatu nama pada tulisan-tulisan ukir itu bisa saja berarti bahwa kelompok khusus yg dimaksud tidak cukup menonjol untuk disebut. Bangsa pelaut dan bangsa-bangsa yang mendahului mereka, yang berdagang dengan Asia Barat, datang bergelombang, dan yang paling dominan pada gelombang abad 12 SM ialah bangsa Filistin, justru muncul dalam sumber-sumber catatan. Tidak mungkin kelompok-kelompok kecil orang Filistin alpa di antara pedagang Aegea dulu. Hanya memang tidak cukup menonjol untuk diperhatikan oleh negara-negara yang lebih besar (J.D. Douglas, "Ensiklopedia Alkitab Masa Kini") 

Indikasi ini juga menunjukan bahwa wajar jika sejak zaman Abraham (Kejadian 21:32) bangsa ini sudah mendiami pesisir Laut Merah di Kanaan, dan bahwa bangsa ini, sesuai ciri khas bangsa-bangsa berkebudayaan Aegea, adalah bangsa yang mahir berperang dan telah mengenal senjata besi.

Bahasa yang tercetak di permukaan piringan misterius Faistos juga belum pernah sepenuhnya diterjemahkan, dan simbol-simbolnya merupakan bagian dari alfabet yang tidak diketahui, baik kuno maupun modern, namun, beberapa simbol mempunyai kemiripan dengan yang ditemukan dalam Linear A dan Linear B, yang merupakan bahasa kuno Minoa. Adapun Linear A belum diterjemahkan. Ini tampak sejalan dengan bahasa dan aksara Filistin yang hingga kini masih misteri. Status mereka sebagai pendatang dari pulau Kreta membuat mereka tidak mengenal budaya sunat sehingga menjadi ejekan Daud dan para nabi.

Dewa utama orang Filistin adalah Dagon (etimologi nya tidak diketahui). Dewa ini berbentuk ikan, dan ini wajar sebab orang Filistin menetap di kota-kota pesisir pantai Laut Merah (sebenarnya wilayah itu dijaman kuno bernama Laut Filistin). 

Saya kutip dari Ensiklopedia Alkitab Masa Kini:

Muasal dari nama ilah ini hilang dalam sejarah kuno, bahkan hakikatnya yg tepat pun tak dapat dipastikan. Gagasan umum yg menyatakan bahwa Dagon adalah berhala yg merupakan ikan, agaknya tak berdasar; yg membayangkannya demikian ialah Yerome (BDB, hlm 1121) dan yg pertama mengungkapkannya dengan jelas ialah Kimhi pada abad 13 M (Schmokel), tapi gagasan ini melulu dipengaruhi oleh persamaan lahiriah yg terdapat pada kata 'dagon' dengan kata Ibrani dag, artinya 'ikan'.

Berhala berekor ikan yg ada pada mata uang dari Arpad dan Askalon dikaitkan dengan Atargitis, tapi tidak ada hubungannya dengan Dagon (Dhonne dan Dussaud). Barangkali kata Ibrani biasa dagan, artinya 'beras atau padi' (BDB, hlm 186), bisa diturunkan atau menjadi asal dari nama ilah Dagon atau Dagan; jadi memang mungkin bahwa dia adalah ilah tetumbuhan atau ilah betas (bnd Albright, Archaeology and the Religion of Israel3, 1953, hlm 74 dan 220, n. 15).

Paling tidak sejak thn 2500 sM dan selanjutnya, Dagon disembah di seluruh Mesopotamia, teristimewa di daerah Efrat Tengah; dan di kotanya, Mari, ada kuil Dagon (kr abad 18 sM) dihiasi dengan patung singa terbuat dari perunggu (lih contoh A Champdor, Babylon, 1959). Banyak nama pribadi digabungkan dengan Dagon.

Pada abad 14 sM dan sebelumnya, ada kuil Dagon di Ugarit di Fenisia utara, dipersembahkan kepada Dagon seperti nampak pada dua tiang batu di dalam kuil itu bertuliskan namanya; gambar tiang batu ini dimuat dalam Syria 16, 1935, gambar 31:1-2, berhadapan dengan hlm 156, diterjemahkan oleh Albright, hlm 203, n. 30. Kuil ini mempunyai pelataran depan (?), bilik atau ruang depan, dan barangkali sebuah menara (bg dim Schaeffer, The Cuneiform Texts of Ras Shamra-Ugarit, 1939, gbr 39), seluruhnya barangkali berbentuk seperti digambarkan Sir L. C Woolley (A Forgotten Kingdom, 1953, hlm 57, gbr 9).

Dalam naskah Ugarit (Kanaan Utara), Dagon adalah bapak Baal. Di Bet-Sean, ditemukan sebuah kuil, mungkin kuil yg disebut dalam 1 Taw 10:10 (lih A Rowe, Four Canaanite Temples of Beth Shan, 1, 1940, hlm 22-24). Bahwa ada kuil Dagon lain di Palestina dijelaskan oleh dua permukiman, masing-masing disebut Bet-Dagon (Yos 15:41; 19:27) di daerah Yehuda dan Asyer. Rameses II menyebut suatu B(e)t-/ D(a)g(o)n dalam daftarnya mengenai Palestina (kr thn 1270 sM), dan Sanherib menyebut Bit-Dagannu pada thn 701 sM.
Kata Palestina di ensiklopedia tersebut mengacu pada letak situs-situs tersebut dimasa modern.
Ada tiga tempat di mana Dagon disebutkan dalam Alkitab. Penyebutan pertama adalah Hakim-Hakim 16:23, di mana kita diberitahu bahwa Dagon adalah dewa orang Filistin. Orang Filistin mempersembahkan “pengorbanan besar” kepada Dagon, karena percaya bahwa berhala mereka telah menyerahkan Simson ke tangan mereka. Satu Tawarikh 10:10 menyebutkan kuil Dagon di mana kepala Raja Saul diikat. Kemudian, di 1 Samuel 5, Dagon dipermalukan oleh Tuhan Sejati bangsa Israel.
DAGON [ensiklopedia]
Dalam PL Dagon adalah ilah utama yg disembah orang Filistin pada zaman Simson di Gaza (Hak 16:21-23), di Asdod (sampai zaman Makabe, 1 Makabe 10:83-85; 11:4) dan di Bet-Sean pada zaman Saul dan Daud (1 Sam 5:2-7; 1 Taw 10:10 bersama 1 Sam 31:10). Muasal dari nama ilah ini hilang dalam sejarah kuno, bahkan hakikatnya yg tepat pun tak dapat dipastikan. Gagasan umum yg menyatakan bahwa Dagon adalah berhala yg merupakan ikan, agaknya tak berdasar; yg membayangkannya demikian ialah Yerome (BDB, hlm 1121) dan yg pertama mengungkapkannya dengan jelas ialah Kimhi pada abad 13 M (Schmokel), tapi gagasan ini melulu dipengaruhi oleh persamaan lahiriah yg terdapat pada kata 'dagon' dengan kata Ibrani dag, artinya 'ikan'.

Berhala berekor ikan yg ada pada mata uang dari Arpad dan Askalon dikaitkan dengan Atargitis, tapi tidak ada hubungannya dengan Dagon (Dhonne dan Dussaud). Barangkali kata Ibrani biasa dagan, artinya 'beras atau padi' (BDB, hlm 186), bisa diturunkan atau menjadi asal dari nama ilah Dagon atau Dagan; jadi memang mungkin bahwa dia adalah ilah tetumbuhan atau ilah betas (bnd Albright, Archaeology and the Religion of Israel3, 1953, hlm 74 dan 220, n. 15).

Paling tidak sejak thn 2500 sM dan selanjutnya, Dagon disembah di seluruh Mesopotamia, teristimewa di daerah Efrat Tengah; dan di kotanya, Mari, ada kuil Dagon (kr abad 18 sM) dihiasi dengan patung singa terbuat dari perunggu (lih contoh A Champdor, Babylon, 1959). Banyak nama pribadi digabungkan dengan Dagon.

Pada abad 14 sM dan sebelumnya, ada kuil Dagon di Ugarit di Fenisia utara, dipersembahkan kepada Dagon seperti nampak pada dua tiang batu di dalam kuil itu bertuliskan namanya; gambar tiang batu ini dimuat dalam Syria 16, 1935, gambar 31:1-2, berhadapan dengan hlm 156, diterjemahkan oleh Albright, hlm 203, n. 30. Kuil ini mempunyai pelataran depan (?), bilik atau ruang depan, dan barangkali sebuah menara (bg dim Schaeffer, The Cuneiform Texts of Ras Shamra-Ugarit, 1939, gbr 39), seluruhnya barangkali berbentuk seperti digambarkan Sir L. C Woolley (A Forgotten Kingdom, 1953, hlm 57, gbr 9).

Dalam naskah Ugarit (Kanaan Utara), Dagon adalah bapak Baal. Di Bet-Sean, ditemukan sebuah kuil, mungkin kuil yg disebut dalam 1 Taw 10:10 (lih A Rowe, Four Canaanite Temples of Beth Shan, 1, 1940, hlm 22-24). Bahwa ada kuil Dagon lain di Palestina dijelaskan oleh dua permukiman, masing-masing disebut Bet-Dagon (Yos 15:41; 19:27) di daerah Yehuda dan Asyer. Rameses II menyebut suatu B(e)t-/ D(a)g(o)n dalam daftarnya mengenai Palestina (kr thn 1270 sM), dan Sanherib menyebut Bit-Dagannu pada thn 701 sM.


KEPUSTAKAAN H Schmokel, Der Gott Dagan, 1928, dan dim Ebeling dan Meissner (para penyusun), Reallexikon der Assyriologie, 1938, hlm 99-101; E Dhorme dan R Dussaud, Les Religions de Babylonie et d'Assyrie...des Hittites ... Pheniciens, etc., 1949, hlm 165-167, 173, 364, 365, 371, 395, 396; M Dahood, (S Moscati, red) Le antiche di vinita semitiche, 1958, hlm 77-80; M Pope (W Haussing, red) Worterhuch der Mythologie 1, 1965, hlm 276-278; J. R Kupper, Les Nomades en Mesopotamie au temps des Rois de Mari, 1957, hlm 69-71, tentang Mari. KAK/MHS
Menurut mitologi kuno, Dagon adalah ayah Baal. Dia adalah dewa ikan ( dag dalam bahasa Ibrani berarti “ikan”), dan dia direpresentasikan sebagai makhluk setengah manusia, setengah ikan. Gambaran ini memperkuat keyakinan evolusioner bahwa manusia dan ikan berevolusi bersama-sama dari perairan purba. Jadi Dagon mirip dengan banyak berhala lainnya karena ia mempersonifikasikan kekuatan alam yang diduga menghasilkan segala sesuatu.
____________________________
Cepogo, 01022024 (T)

Referensi:
1. Adele Berlin dan Marc Zvi Brettler (editor), "The Jewish Study Bible", Jewish Publication Society dan Oxford University Press, Oxford dan New York, 1999.

2. Andrew E. Hill & John H. Walton, "A survey of Old Testament", Zondervan, edisi ketiga.

3. Bob Utley, “Tafsiran Utley”.

4. Charles F. Pfeiffer dan Everett F. Harrison, “Tafsiran Wycliff”, Gandum Mas, Malang, 2011.

5. David E. Pratte; "Commentary on the Book of Genesis: Bible Study Notes and Comments"; 2016 (edisi revisi).

6. David F. Hinson, "Sejarah Israel Pada Zaman Alkitab", BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2004.

7. Gleason L. Archer, "Encyclopedia of Bible Difficulties, Zondervan Publishing House, Michigan, 1982.

8. Herbert Haag, “Kamus Haag”, Nusa Indah, Ende – Flores, 1992.

9. J.D. Douglas, “Ensiklopedia Alkitab Masa Kini”, Yayasan Komunikasi Bina Kasih, Jakarta, 1997.

10. Jonar Situmorang, "Kamus Alkitab dan Teologi", Penerbit ANDI, Yogyakarta, 2016.

11. J. Pritchard, "Ancient Near Eastern Texts", 1974.

12. Martin Worthtington, "Principles of Akkadian Textual Criticism", De Gruyter, Berlin, 2012.

13. T. K. Cheyne dan J. Sutherland Black, "Encyclopedia Biblica: A Dictionary Of The Bible"; The Macmillan Company; New York; 1901.

14. Walter C. Kaisser, Peter H. Davids, F.F. Bruce, Manfred T. Brauch; "Hard Saying of the Bible"; InterVarsity Press; Illinois; 1996.

15. W. R. F. Browning, “Kamus Browning”, BPK Gunung Mulia, 2014.

16. en.wikipedia/phaistos disc 

17. https://greekreporter.com/2023/09/18/phaistos-disk-mystery-solved/

.

Keterangan Gambar:
Cakram Faistos dan Transkripsi Modern sisi A dan B dari inskripsi cakram ini (sumber: en.wikipedia/phaistos disc)

Rabu, 20 Desember 2023

𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝗸𝗲𝗰𝗶𝗹, Serial Sudut pandang

𝗕𝘂𝗸l𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝗸𝗲𝗰𝗶𝗹, Serial Sudut pandang

Pada umumnya kutipan dari Perjanjian Lama (PL) di Injil Matius hendak mengungkapkan bahwa hal yang sedang terjadi adalah hal yang sudah dinubuatkan Allah pada masa lalu. Namun, oleh karena hal yang sedang terjadi tidak sepenuhnya (100%) sama dengan nubuatannya, isi nubuatannya acap dimodifikasi Matius agar lebih cocok dengan kejadian di 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗱𝘂𝗻𝗶𝗮 𝗰𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮 Injilnya.

Di pasal 1-2 atau dalam cerita Natal Matius ada empat kutipan PL dan satu kutipan misterius. Kutipan dari Yesaya 7:14 di Matius 1:23; Mikha 5:1 di Matius 2:6; Hosea 11:1 di Matius 2:15; Yeremia 31:15 di Matius 2:18; kutipan misterius di Matius 2:23.

Kutipan dari Mikha 5:1 di Matius 2:6 dipakai untuk mengungkapkan bahwa seorang pemimpin yang akan menggembalakan umat Allah akan lahir di Betlehem.

Mikha 5:1
5:1 Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, 𝗵𝗮𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝗸𝗲𝗰𝗶𝗹 di antara kaum-kaum Yehuda, dari antaramu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang asalnya sudah sejak dahulu, sejak zaman dahulu. (TB II 2023)

Matius 2:6
2:6 Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, 𝗲𝗻𝗴𝗸𝗮𝘂 𝘀𝗲𝗸𝗮𝗹𝗶-𝗸𝗮𝗹𝗶 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻𝗹𝗮𝗵 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝗸𝗲𝗰𝗶𝗹 di antara para pemimpin Yehuda, karena dari engkaulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel. (TB II 2023)

Seperti tertulis di atas penulis Injil Matius memodifikasi kutipan PL-nya agar sesuai dengan cerita Injilnya atau teologinya. Apa teologinya? 𝗧𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶 𝗞𝗲𝗹𝘂𝗮𝗿𝗮𝗻: 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗠𝘂𝘀𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗮𝗿𝘂, bahkan lebih besar daripada Musa yang akan menggembala umat Israel baru. Kesejajaran dengan Musa sudah tampak sejak kelahiran Yesus, mengungsi ke Mesir, keluar dari Mesir, dan makin dijelaskan pada episode 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘎𝘶𝘯𝘶𝘯𝘨.

Tampaknya ia tidak bersetuju pada yang dikatakan di Mikha 5:1 Betlehem adalah yang terkecil sehingga dalam kutipannya Matius mengubahnya menjadi bukan yang terkecil. Kata 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 tentunya mengubah makna 180°.

Ada hal menarik lainnya dalam kutipan Mikha di Matius 2:6, yaitu kutipan itu diucapkan oleh pemimpin agama Yahudi (imam kepala dan ahli Taurat) untuk menjawab pertanyaan Herodes “𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘔𝘦𝘴𝘪𝘢𝘴 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘩𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯?”. Secara ironis Matius hendak mengatakan bahwa orang Yahudi yang tahu banyak mengenai 𝘔𝘦𝘴𝘪𝘢𝘴 justru orang yang tidak menyambut kedatangan Sang Mesias itu.

Latar waktu dan tempat belum diberikan di pasal 1 sehingga pembaca tidak tahu tempat Yusuf tinggal dan saat malaikat datang dalam mimpinya. Baru di pasal 2 Matius memberikan latar waktu dan tempat untuk kelahiran Yesus.

▶️ Waktu: Ketika Raja Herodes memerintah. Herodes Agung mati pada 4 ZB. Jadi, Yesus mungkin lahir sebelum 4 ZB.
▶️ Tempat lahir: Rumah Yesus (Yusuf) sendiri di Betlehem Yudea.

Berbeda dari versi Injil Lukas, Yusuf dan Yesusnya Matius sejak awal tinggal di Betlehem karena mereka digambarkan sebagai keturunan Raja Daud, yang berasal-usul dari sana juga.
T21.12.2023

Jumat, 24 November 2023

APAKAH BENAR KITAB KIDUNG AGUNG MENUBUATKAN KEDATANGAN NABI MUHAMMAD? TENTANG STUDY LINGUISTIK, SERIAL SUDUT PANDANG

APAKAH BENAR KITAB KIDUNG AGUNG MENUBUATKAN KEDATANGAN NABI MUHAMMAD? TENTANG STUDY LINGUISTIK, SERIAL SUDUT PANDANG

sekarang kita bahas Kitab Kidung Agung yang diklaim sebagai nubuat kedatangan Muhammad :

Kitab ini adalah NYANYIAN PERNIKAHAN yang Bu terbaik yang pernah digubah. Salomo dianggap sebagai penggubah Kidung Agung ini (Kid 1:1).
…… Gadis Sulam dilukiskan sebagai gadis biasa dari pedesaan, menarik dan jelita. Perasan Salomo terpikat secara mendalam dengan gadis ini sebagaimana biasanya orang terpikat kepada kekasih dan pengantin pertamanya.

Mari kita kutip yang lebih lengkap tentang Kidung Agung pasal 5.

* Kidung Agung 5:8–19
Ayat 8 : Kusumpahi kamu, puteri-puteri Yerusalem: bila kamu menemukan kekasihku, apakah yang akan kamu katakan kepadanya? Katakanlah, bahwa sakit asmara aku!
Ayat 9 : Apakah kelebihan kekasihmu dari pada kekasih yang lain, hai jelita di antara wanita? ………
Ayat 10 : Putih bersih dan merah cerah kekasihku, menyolok mata di antara selaksa orang.
Ayat 12 : Matanya bagaikan merpati pada batang air, bermandi dalam susu, duduk pada kolam yang penuh.
Ayat 13 : ……... Bunga-bunga bakung bibirnya, bertetesan cairan mur.
Ayat 14 : ……… tubuhnya ukiran dari gading, bertabur batu nilam.
Ayat 16 : …… Demikianlah kekasihku, demikianlah temanku, hai puteri-puteri Yerusalem

Ayat 8 adalah perkataan gadis Sulam kepada putri-putri Yerusalem.
Ayat 9 adalah pertanyaan putrid-putri Yerusalem tentang apa kelebihan dari kekasih gadis sulam.
Ayat 10 – 16 adalah pujian gadis Sulam terhadap kekasihnya.

Jika ayat-ayat diatas adalah nubuat tentang Muhammad, maka:

1. Apakah Muhammad pernah saling puji memuji dengan salah satu istrinya di Yerusalem.
2. Siapakah seorang diantara istri-istri dan budaknya yang berbicara disini?
3. Apakah pernah salah satu istrinya berbantah-bantahan dengan putri-putri Yerusalem?
4. Apakah Muhammad pernah menikahi satu gadis dari wilayah Israel dan Lebanon?

Kalimat-kalimat Kidung Agung 5:9 -16 diucapkan oleh gadis Sulam kepada kekasihnya. Jadi yang dimaksud "HE" disini bukanlah nabi Muhammad SAW melainkan kekasihnya

Kecuali jika ada kisahnya dalam hadis yang menyebutkan bahwa :
• Nabi SAW saat hendak menyerang Mekah bermandi dalam susu dan duduk-duduk di tepi kolam
• Nabi SAW memiliki mata bagaikan merpati, bukannya mata bagaikan elang
• Nabi SAW memiliki bibir bagai bunga bakung

TENTANG KULIT PUTIH BERSIH DAN MERAH CERAH

Kutipan saya ambil dari Al-Bayan

Bukhari 3283, Muslim 4330
Diriwayatkan daripada Anas bin Malik r.a katanya: Bentuk tubuh Rasulullah s.a.w tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Baginda TIDAK TERLALU PUTIH TIDAK TERLALU HITAM

Berarti kulit nabi COKLAT SAWO MATANG

Kapan nabi SAW berkulit putih :

Bukhari 639, Muslim 636 :=
Diriwayatkan daripada Anas bin Malik r.a katanya: Abu Bakar mengimami sembahyang orang ramai ketika Rasulullah s.a.w dalam KESAKITAN yang menyebabkan KEWAFATAN baginda. Pada hari Isnin, ketika para sahabat sedang mendirikan sembahyang, Rasulullah s.a.w membuka tirai dan berdiri memandang kami. Wajah baginda PUTIH berseri umpama kertas.

Jadi wajah nabi SAW putih pada saat AKAN MENINGGAL.

Sementara Kidung Agung diatas berbicara putih kemerahan saat saling memuji penuh cinta kasih antara raja Sulaiman dengan gadis Sulam, bukan saat keduanya AKAN MENINGGAL.

-----

TENTANG TATA BAHASA

Dalam bahasa Ibrani Kidung Agung 5:16, ada tertulis kata מַחֲמַדִּים - MAKHAMADIM (plural), dari kata מַחְמָד - MAKHMAD, kemudian oleh teman Muslim dianggap harusnya tertulis Muhammad (muhumedim) - מֻחֲמַדִּים - MUKHAMADIM.

Namun cara seperti ini jelas memperkosa tata bahasa. Bagaimana mungkin kata sifat ( מַחְמָד - MAKH'MAD = menarik, berharga) dengan enaknya diubah menjadi nama diri Muhammad hanya karena ada sedikit kesamaan bunyi.

Nomina מַחְמָד - MAKH'MAD dari verba: חָמַד - KHAMAD, artinya: menginginkan/ mendambakan/ covet.

* Keluaran 20:17
LAI TB, Jangan mengingini (KHAMAD)[/url] rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.
KJV, Thou shalt not covet thy neighbour's house, thou shalt not covet thy neighbour's wife, nor his manservant, nor his maidservant, nor his ox, nor his ass, nor any thing that is thy neighbour's.
Hebrew,
לֹא תַחְמֹד בֵּית רֵעֶךָ לֹֽא־תַחְמֹד אֵשֶׁת רֵעֶךָ וְעַבְדֹּו וַאֲמָתֹו וְשֹׁורֹו וַחֲמֹרֹו וְכֹל אֲשֶׁר לְרֵעֶֽךָ׃ פ
Translit interlinear, LO' {jangan} TAKH'MOD {engkau mengingini} BÊYT {rumah} RÊ'EKHA {tetanggamu} LO'- {jangan} TAKHMOD {jangan engkau mengingini} 'ÊSYET {isteri} RÊ'EKHA {tetanggamu} VE'AVDO {dan hambanya laki-laki} VA'AMÂTO {dan hambanya perempuan} VESHORO {dan lembunya} VAKHAMORO {dan keledainya} VEKHOL {dan semua} 'ASYER {yang} LERÊ'EKHA {pada tetanggamu}

Jika teman-teman Muslim konsisten, maka kita lihat hasilnya jika kata מַחְמָד - MAKHMAD diubah menjadi MUHAMMAD di ayat-ayat lainnya.

* 1 Raja-Raja 20:6
KJV,Yet I will send my servants unto thee to morrow about this time, and they shall search thine house, and the houses of thy servants; and it shall be, that whatsoever is pleasant in thine eyes, they shall put it in their hand, and take it away.
Hebrew,
כִּי ׀ אִם־כָּעֵת מָחָר אֶשְׁלַח אֶת־עֲבָדַי אֵלֶיךָ וְחִפְּשׂוּ אֶת־בֵּיתְךָ וְאֵת בָּתֵּי עֲבָדֶיךָ וְהָיָה כָּל־מַחְמַד עֵינֶיךָ יָשִׂימוּ בְיָדָם וְלָקָחוּ׃
Translit, KI 'IM-KA'ET MAKHAR ESH'LAKH ET-'AVADAY 'ELEIKHA VEKHIP'SU ET-BETKHA VE'ET BATEY AVADEIKHA VEHAYAH KOL- MAKH'MAD 'EINEIKHA YASIMU VEYADAM VELAQAKHU
Bahasa Indonesia, tetapi besok kira-kira pada waktu ini, aku akan menyuruh pegawai-pegawaiku kepadamu dan mereka akan menggeledah rumahmu dan rumah pegawai-pegawaimu, maka segala yang mereka lihat dan MUHAMMAD akan mereka ambil dan mereka bawa."

Wah kasihan sekali karena Muhammad SAW akan dibawa sebagai barang rampasan.

* Ratapan 1:11
KJV, All her people sigh, they seek bread; they have given their pleasant things for meat to relieve the soul: see, O LORD, and consider; for I am become vile
Hebrew,
כָּל־עַמָּהּ נֶאֱנָחִים מְבַקְּשִׁים לֶחֶם נָתְנוּ [מַחֲמֹודֵּיהֶם כ] (מַחֲמַדֵּיהֶם ק) בְּאֹכֶל לְהָשִׁיב נָפֶשׁ רְאֵה יְהוָה וְהַבִּיטָה כִּי הָיִיתִי זֹולֵלָה׃ ס
translit, KOL-'AMAH NE'ENAKHIM MEVAKSYIM LEKHEM NATNU MAKHAMADEIHEM BE'OKHEL LEHASYIV NAFESY RE'EH YEHOVAH (dibaca: 'Adonay) VEHABITA KI HAYITI ZOLELAH
Bahasa Indonesia, Berkeluh kesah seluruh penduduknya, sedang mereka mencari roti; MUHAMMAD mereka berikan ganti makanan, untuk menyambung hidupnya. "Lihatlah, ya TUHAN, pandanglah, betapa hina aku ini!

Wah kasihan sekali Muhammad SAW ditukar guling dengan roti.

* Yehezkiel 24:21
KJV, Speak unto the house of Israel, Thus saith the Lord GOD; Behold, I will profane my sanctuary, the excellency of your strength, the desire of your eyes, and that which your soul pitieth; and your sons and your daughters whom ye have left shall fall by the sword.
Hebrew,
אֱמֹר ׀ לְבֵית יִשְׂרָאֵל כֹּה־אָמַר אֲדֹנָי יְהוִה הִנְנִי מְחַלֵּל אֶת־מִקְדָּשִׁי גְּאֹון עֻזְּכֶם מַחְמַד עֵינֵיכֶם וּמַחְמַל נַפְשְׁכֶם וּבְנֵיכֶם וּבְנֹותֵיכֶם אֲשֶׁר עֲזַבְתֶּם בַּחֶרֶב יִפֹּלוּ׃
translit, 'EMOR LEVEIT YISRA'EL KOH-AMAR ADONAY YEHOVIH (dibaca: 'Elohim) HIN'NI MEKHALEL 'ET-MIQ'DASYI GE'ON 'UZKHEM MAKHMAD 'EINEIKHEM 'UMAKHMAL NAFSYEKHEM 'UVENEIKHEM 'UVENOTEIKHEM 'ASYER 'AZAV'TEM BAKHEREV YIPOLU
Bahasa Indonesia, Katakanlah kepada kaum Israel: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Sesungguh-sungguhnya Aku akan menajiskan tempat kudus-Ku, kekuasaanmu yang kaubanggakan, MUHAMMAD bagi matamu dan bagi jiwamu; dan anak-anakmu lelaki dan perempuan yang kamu tinggalkan akan mati rebah oleh pedang.

Wah kasihan sekali karena Muhammad SAW dinajiskan oleh YHVH.

* Hosea 9:6
KJV, For, lo, they are gone because of destruction: Egypt shall gather them up, Memphis shall bury them: the pleasant places for their silver, nettles shall possess them: thorns shall be in their tabernacles.
Hebrew,
כִּי־הִנֵּה הָלְכוּ מִשֹּׁד מִצְרַיִם תְּקַבְּצֵם מֹף תְּקַבְּרֵם מַחְמַד לְכַסְפָּם קִמֹּושׂ יִירָשֵׁם חֹוחַ בְּאָהֳלֵיהֶם׃
TranslitKI-HINEH HAL'KHU MISYOD MITS'RAYIM TEKAB'TSEM MOF TEKABREM MAKH'MAD LEKHASPAM QIMOSYO YIRASYEM KHOAKH BE'AHOLEIHEM
Bahasa Indonesia, Sebab walaupun mereka mengelakkan diri dari pemusnahan, Mesir akan mengumpulkan mereka, Memfis akan menguburkan mereka. Rumput akan menutupi barang-barang perak mereka yang MUHAMMAD; onak akan tumbuh dalam kemah-kemah mereka.

Wah nggak nyambung nih, karena kata sifat diubah menjadi nama diri.

-----

Jadi begitulah akrobat teman-teman Muslim dalam mencari-cari nama Muhammad dalam Alkitab. Kata sifatpun dengan enaknya diubah menjadi nama diri.

Contoh dalam Indonesia dan Inggris :
Are you diartikan ayu (cantik).
Pra one diartikan perawan.
Two girl diartikan tugel – Jawa (putus)

Jadi ingat di angkot pernah baca tulisan Pra One Are You (Perawan Ayu).
Wah tampaknya "logika supir angkot" harus dipakai dalam mencari-cari nama Muhammad SAW di Alkitab. Sungguh Teman Muslim sangat merendahkan nabinya sendiri.

Dan, satu hal yang masih menjadi ironi

18.07.2015 (TUS)

Minggu, 05 November 2023

SUDUT PANDANG MEMAHAMI FAKTA POLITIK PALESTINA-ISRAEL

SUDUT PANDANG MEMAHAMI FAKTA POLITIK PALESTINA-ISRAEL

Partai PLO - sekarang di pegang oleh Mahmoud Abbas yg sekaligus Presiden SAH dalam proses kemerdekaan Palestina. 
PLO sejak Yasser Arafat satu-satunya parti yang SAH dan diterima oleh dunia sebab menerima "Polisi Kedamaian" yaitu SETUJU dengan ajakan Israel yg disokong PBB untuk merdekakan Palestina dengan SYARAT oleh PBB, bahwa Palestina HARUS di perintah oleh kerajaan yang mengiktiraf dan menghormati undang-undang antara bangsa bahwa Israel adalah negara berdaulat dibawah undang-undang PBB. 

Israel - Sebuah kerajaan SAH menurut undang-undang sedunia walaupun beberapa negara Islam menolak kemerdekaan SAH tersebut. Malaysia adalah salah satu negara yang menolak kemerdekaan Israel oleh PBB. 

Militan Hamas dan Hizbullah - tajaan beberapa pihak seperti Iran untuk mengacau usaha PLO-Israel dan PBB dalam proses kemerdekaan Palestina.
Hamas dan Hizbullah menolak apa saja bentuk perdamaian dengan Israel dan menolak polisi PBB.
Matlamat mereka adalah "wipe out Israel Country in the world map" (menghilangkan negara Israel dari peta dunia) - sila rujuk sendiri ke website dan situs para pejuang kumpulan tersebut. 

Kesimpulannya,
Kita semua manusia. Saya setuju dengan usaha PLO-Israel serta usaha PBB tersebut. Saya setuju kedua pihak tersebut dimerdekakan tanpa konflik lagi. Gampang aje ..... kalau ada 2 anak berkelahi, mau didamaikan ya ..... 2 anak tsb digandeng, diperhadapkan, duduk bareng serta diskusi komunikasikan agar terjadi rekonsiliasi, kalau bela ..... sana, bela sini, itu bukan rekonsiliasi atau Damai sejahtera yang diusahakan, tetapi memperkeruh suasana ...... Wk ..... Wk

SAMA-SAMA KITA BERDOA UNTUK KEDAMAIAN

22.11.2023 (TUS)

Jumat, 20 Oktober 2023

mengapa penduduk Sodom begitu terancam dengan kehadiran orang asing?

mengapa penduduk Sodom begitu terancam dengan kehadiran orang asing? 

Ternyata secara historis, kalau kita membaca secara keseluruhan maka kita akan mendapatkan informasi di Kejadian13-14.Khususnya pasal 14 menceritakan bahwa terjadi pemberontakan bangsa-bangsa untuk melawan Raja Kedorlaomer,"Lalu keluarlah raja negeri Sodom,raja negeri Gomora ... mengatur barisan perangnya melawan mereka dilembah Sidim, melawan Kedorlaomer" (Kej. 14:9).Yang terjadi adalah raja Sodom dan Gomora tumbang, ditangkap, dan orang-orang yang masih hidup diri ke pegunungan, bahkan segala harta benda Sodom dan Gomora serta segala makanan dirampas, termasuk juga Lot, beserta harta bendanya dibawa musuh. Konteks peperangan ini menyebabkan penduduk Sodom tercerai-berai.
Kemudian datanglah seorang pelarian dan menceritakan kepada Abram, bahwa Lot juga termasuk dalam jarahan perang. Maka Abram menyuruh semua orang terlatih untuk mengejar musuh sampai ke Dan. Mereka melawan musuh dan mengejar musuh sampai ke Hoba di sebelah utara Damsyik. Lalu Lot selamat dan harta benda juga dibawa kembali demikian juga perempuan-perempuan dan orang-orangnya (Kej. 14:13-16). Kemenangan Abram mengalahkan Kedorlaomer mendatangkan kegembiraan bagi raja Sodom (Kej. 14:17), lalu Melkisedek yang merupakan seorang raja Salem dan sekaligus Imam membawa roti dan anggur,lalu memberkati Abram (Kej. 14:18-19). Jadi, alasan keterancaman penduduk Sodom akan kehadiran orang asing menyitir pandangan bahwa kondisi pascaperang tentu membuat penduduk sodom siaga dalam mendeteksi kedatangan musuh. Setiap orang yang tidak dikenal atau pendatang baru di kota itu patut dicurigai. Penduduk Sodom awalnya tampak tenang karena menurut mereka kedua orang tersebut hanya akan singgah sejenak dirumah Lot. Tentunya, pandangan di atas memperlihatkan faktor psikologi (trauma) Pesca perang begitu kuat dalam relasi keberadaan dengan orang asing. Para ahli kejiwaan mengatakandemikian:
Dalam keadaan kritis yang tidak biasa, seperti dalam peperangan atau di penjara yang tata tertibnya payah, orang-orang laki-laki yang heteroseksual yang sering memerkosa sesama lelaki, tidak peduli apakah korbannya berorientasi seksual homoseksualiteitoseksual. Gejala ini disebut gang-rape. Penduduk Sodom berniat melakukan gang-rape terhadap para tamu Lot (Singgih, 2019: 45).
Situasi kritis yang terjadi bukan hanya dalam pengertian secara fisik, tetapi lebih kepada batin (psikologis). Dikarenakan tidak ada rujukan secara tekstual yang memperlihatkan bahwa penduduk Sodom ada dalam situasi chaos (kacau) sehingga pertanyaannya adalah mengapa tiba-tiba terjadi pengepungan (upaya) gang-rape (perkosaan beramai-ramai) secara massal? Ada rujukan di dalam Kejadian 18:20, pascaperang sudah usai tercatat demikian, ?Sesudah itu berfirmanlah Tuhan: Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomoradan sesungguhnya sangat berat dosanya" (TB-LAI). Keluh kesah di sini dalam bahasa Ibrani "zaqa" ,berarti'teriakan atau jeritan minta tolong'. Kata ini adalah istilah pengadilan untuk pendakwaan atau permintaan bantuan hukum.Dengan demikian,ada penindasan yang sewenang-wenang yang dilakukan oleh penduduk Sodom kepada orang asing. Topik ini berkaitan dengan pelanggaran hak pendatang atas tamu dalam tradisi zaman itu,  yang mengatakan bahwa penghormatan kepada tamu atau pendatang dalam kebudayaan zaman sangat penting, khususnya ketika para tamu dan pendatang itu memasuki daerah yang tidak aman dan telah mengucap salam, mereka mendapat hak untuk dilindungi kesalahan penduduk Sodom adalah pemerkosaan massal dan ketidak ramahan terhadap orang asing.Jadi,kalau melihat konteks budaya zaman itu, maka kota Sodom menjadi kota yang tidak aman untuk para tamu asing. Teolog Stephen Suleeman menyitir pandangan sejarawan Yahudi bernama Josephus (lahir sekitar tahun 37 ZB) mengungkapkan bahwa, "warga Sodom, yang sangat bangga akan jumlah mereka dan tingkat kekayaan mereka, menunjukkan diri mereka kurang ajar kepada manusia dan tidak beriman kepada Tuhan, sedemikian rupa sehingga mereka tidak lagi ingat manfaat yang mereka terima dari Dia, membenci orang asing dan menolak semua hubungan dengan orang lain. Allah murka akan perilaku ini dan memutuskan membalas dengan menghukum mereka karena kesombongan mereka? (Suleeman, 2015: 4). Bicara soal kesombongan atas jumlah dan tingkat kekayaan penduduk Sodom yang ditulis di atas, Bambang Subandrijo dalam Bagaimana (Seharusnya) Sikap Gereja Terhadap LGBT: Suatu Tinjauan Biblis (2019), merujuk pada tafsiran para Rabi Yahudi (Tosefta Sota 3:11-12), mengatakan bahwa kaum kaya Sodom telah membuat kebijakan untuk menganiaya orang asing agar mereka takut mengunjungi kota itu dan dengan begitu penduduk Sodom tak perlu lagi berbagi harta dengan orang asing (trauma pasca perang). Dari sini ada persoalan yang serius terkait dengan penduduk Sodom, yaitu menyangkut soal xenophobia (sikap membenci orang asing) sikap agresif yang memberlakukan kekerasan homosek, walaupun ini juga akibat dari trauma perang. Karena bbrp sejarahwan menuliskan kebiasaan perang pada zaman itu adalah bagi yang kalah maka lelakinya akan dikumpulkan dan diperkosa oleh yang menang, untuk meruntuhkan mental agar tidak melawan lagi dan dibelakang hari tidak memberontak, tentunya trauma semacam ini dimungkinkan setelah Sodom dan Gomora kalah berperang, shg memperlihatkan kebencian pada orang asing serta orang asing menjadi sasaran empuk melampiaskan trauma. "Xenophobia" adalah  budaya yang berlawanan dg budaya zaman itu, yang menjunjung tinggi hospitalitas (keramahan), seperti kisah Abraham yang menjamu ketiga tamunya(Kej.18:2). Dari sini hospitalitas menjadi bagian penting dalam iman Israel, Pakar Yahudi R.J. Zwi Werblowsky mengatakan bahwa taurat mengatur hukum hospitalitas sehingga setiap orang wajib memberlakukan sikap ramah pada semua orang, termasuk orang yang miskin, mereka yang terabaikan, orang asing, siapa saja yang dianggap tidak layak. Selain kejahatan seksual dan ketidak ramahan, referensi di Kitab Yehezkiel 
16:49-50 tercatat: "Lihat, inilah kesalahan Sodom, kakakmu yang termuda kecongkakan,makanan yang berlimpah-limpah dan kesenangan hidup padanya dan pada anak-anaknya perempuan, tetapi ia tidak menolong orang orang sengsara dan miskin. Mereka menjadi tinggi hati dan melakukan di hadapan-Ku; maka Aku menjauhkan mereka sesudah Aku melihat itu' (TB-LAI). Jadi, ada gambaran tentang kecongkakan, kerakusan, dan menolong/membela orang miskin. Kalau begitu kesimpulan teks Sodom dan Gomora di Kejadian 19 tidak berkaitan dengan terhadap LGBTIQ, melainkan persoalan ketidakadilan sosial. Dengan merujuk kepada Yesaya 1:9, Yesaya 13:19, Yeremia 23:14, mengatakan makna bahwa masa depan Yerusalem yang nyaris menjadi seperti Sodom dan Gomora, ternyata konteksnya adalah umat yang rajin beribadah dan umat melaksanakan ritual, tetapi tetap melakukan kejahatan-kejahatan moral berupa ketidakadilan sosial. Hal ini juga mengungkapkan  bahwa dosa Sodom tidak hanya bersifat seksual (pemerkosaan) melainkan juga kekacauan umum dari masyarakat yang terorganisir untuk melawan Allah. Bicara soal ketidakadilan, tulisan Vania Sharleen Setyono yang berjudul Ketika Awam Membaca Sodom: Intercultural Hermeneutics terhadap Kisah Sodom dalam Kejadian19 (2020) memperlihatkan adanya perhatian pada isu patriarkat dalam teks ini, terlihat dari risetnya tentang kegelisahan  saat membaca (menafsirkan) adegan Lot memberikan kedua anak perempuannya kepada kerumunan penduduk Sodom guna menggantikan dan membuat aman tamu laki-lakinya tersebut. Ada dua hal yang diperlihatkan  yaitu sebagai berikut:
"Pertama, posisi perempuan yang selalu berada di bawah laki-laki. Hal ini ditunjukkan dari tindakan Lot yang rela memberikan anak perempuannya demi "menyelamatkan" tamu laki-lakinya ...
Kedua, identitas homoseksualitaa diri seseorang dianggap lebih tidak bermoral ketimbang ketika seseorang melakukan tindakan kekerasan seksual. apa yang dilakukan oleh Lot PD kedua anak perempuannya adalah bentuk kekerasan seksual".
Orang-orangyang dan melabrak Lot dan  tamu-tamunya,  ini adalah sebuah tindakan untuk memamerkan kekuasaan dan cara untuk menundukkan orang asing yang tidak berdaya secara politik adalah dengan memerkosanya. Sebab meniduri laki-laki menggantikan harkat martabat kelaki-lakiannya dengan rasa malu feminitas.Dalam budaya Israel kuno saat itu, pemerkosa secara anal kepada laki-laki dianggap merendahkan martabat laki-laki menjadi seperti perempuan sebab perempuan dianggap jauh lebih rendah daripada lak laki. Hal ini terjadi karena penduduk Sodom adalah penduduk yang dihegemoni oleh paradigma patriarkat dan yang memandang orang asing sebagai the others yang pantas untuk dieksekusi (direndahkan). Dari sini, dosa Sodom (kejahatannya) bisa dipahami dalam pengertian kekerasan seksual, penindasan thp orang asing dan juga dosa sosial termasuk kekuasaan korup  dan ketidakadilan.
CEPOGO, 20.10.2023 (T)

Baca juga:
https://titusroidanto.blogspot.com/2024/06/mengenal-dan-menyikapi-lgbt-sesama-kita.html

SUDUT PANDANG LUKAS 17:1-10, Iman kok diukur? Iman itu diperagakan

SUDUT PANDANG LUKAS 17:1-10, Iman kok diukur? Iman itu diperagakan 

PENGANTAR
Apakah saudara sudah percaya penuh kepada Allah Tritunggal?  Apakah saudara sudah mengakui dan menyesali dosa-dosa saudara?  Apakah saudara siap hidup dalam pertobatan dan ketaatan kepada firman Tuhan?  Apakah saudara bertekad untuk mengasihi sesama dan memelihara kesatuan tubuh Kristus?  Apakah saudara menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi?
Beberapa contoh pertanyaan saat persiapan perjamuan Kudus atau saat perjamuan Kudus, seharusnya lah menghentak hati dan pikiran kita untuk paham bahwa iman seharusnya lah diperagakan dalam kehidupan keseharian, iman yang tidak diperagakan, iman yang kosong atau mati, mungkin kita baru nyadar ternyata circle kehidupan kita hanya bergaul dg orang kristen semua, gak ada temen beda iman, plus cuman nguplex di gereja. Kita mengajar yang sudah belajar, kita mengundang yang sudah diundang, kita memenangkan yang sudah menang, kita menggembalakan yang sudah digembalakan, kita kira, kita sudah bersekutu, sudah pelayanan, sudah kesaksian (ehm .... tugas Gereja yah, bahan katekisasi...nih) tapi nyatanya, kita cuman tinggal di zona nyaman, kita cuman komunitas, yg ngumpul hanya dengan sama iman, sama pemikiran, tapi abai pada yang diluar gereja, diluar persekutuan, di luar iman kita. Gereja bukan tempat menetap, tapi tempat kita diutus keluar, gereja bukan tempat nyaman bahkan tempat sembunyi, gereja tempat kita diberkati, kemudian menjejakan kaki keluar dalam pengutusan, iman harus diperagakan, agar kemurahan hati Allah dan teladan Kristus dilihat oleh sesama kita, terlebih dirasa oleh sesama kita. Iman yang diperagakan termasuk tindakan tulus ikhlas meneladan Kristus tanpa menuntut imbalan.

PEMAHAMAN

“𝘏𝘦 𝘸𝘩𝘰 𝘸𝘪𝘭𝘭 𝘯𝘰𝘵 𝘳𝘦𝘢𝘴𝘰𝘯, 𝘪𝘴 𝘢 𝘣𝘪𝘨𝘰𝘵; 𝘩𝘦 𝘸𝘩𝘰 𝘤𝘢𝘯𝘯𝘰𝘵 𝘪𝘴 𝘢 𝘧𝘰𝘰𝘭; 𝘢𝘯𝘥 𝘩𝘦 𝘸𝘩𝘰 𝘥𝘢𝘳𝘦𝘴 𝘯𝘰𝘵 𝘪𝘴 𝘢 𝘴𝘭𝘢𝘷𝘦.“ William Drummond. Mendapatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan adalah hak asasi manusia sehingga sudah sepatutnya pemerintah memberikan pelayanan itu, kata Ahok (2015). Pemerintah tidak boleh menyebut itu bantuan, karena itu hak masyarakat dan memang kewajiban atau sepatutnya dilakukan oleh pemerintah. “Anda kafirkan saya pun tetap saya beri KJP.” tukas Ahok. Dengan kata lain pemerintah bukan sekadar pelayan masyarakat, melainkan budak (δοῦλον). Pemerintah tidak pantas merasa berjasa kemudian meminta “balas jasa” dari masyarakat yang dilayani. Selain melanggar sumpah jabatan, ia sudah melupakan hakikat pejabat pemerintah adalah “budak” masyarakat. Pejabat-pejabat yang dicokok KPK pada umumnya terkena kasus “balas jasa” itu. Budak atau hamba adalah orang yg seharusnyalah tulus ikhlas melakukan segala sesuatu menurut perintah Tuannya tanpa menuntut imbalan, karena hidupnya sudah ditanggung tuanNya, semua merupakan peragaan ketaatan bukan ukuran ketaatan. Bacaan diambil dari Injil Lukas 17:5-10 yang saya lampirkan, bacaan Injil tsb saya letakkan di bawah.
Meskipun bacaan dari Lukas 17:5-10, sebaiknya kita membaca dari ayat 1. Bacaan Injil dari dua perikop dengan dua topik. Perikop Lukas 17:1-6 diberi judul “Beberapa nasihat” oleh LAI, sedang Lukas 17:7-10 “Tuan dan hamba”.

𝗟𝘂𝗸𝗮𝘀 𝟭𝟳:𝟭-𝟲
Perikop ini sebenarnya mengandung ucapan-ucapan lepas Yesus yang kemudian disatukan oleh pengarang Injil Lukas untuk diberi konteks. Pertama-tama Lukas memberi konteks “tugas-tugas iman” atau “kewajiban iman” dalam ayat 6 untuk membedakannya dari konteks Injil Markus 11:23 dan Matius 17:20, 21:21.
Konteks “tugas-tugas iman” dan “kewajiban iman” tersebut untuk menyambung ayat 1-5:
• Tugas melindungi anggota jemaat yang lemah dari penyesatan, bahkan jika terpaksa, si penyesat harus disingkirkan “ke laut” (ay. 1-2).
• Tugas menjaga diri sendiri dan menggembalakan anggota jemaat yang berdosa (ay. 3).
• Kewajiban mengampuni tanpa batas (ay. 4).
• Sesudah mendengar “tugas” atau “kewajiban” yang harus mereka jalankan di ayat 1-4, para murid memohon agar iman mereka ditambahkan (ay. 5).
Di ayat 6 itu Yesus tampaknya tidak mau menambahkan iman para murid-Nya karena meskipun “tugas-tugas” di ayat 1-4 itu berat, mereka dianggap sudah mampu menjalankannya. Dengan iman yang kecil saja, hal yang dianggap mustahil pun dapat terjadikan: mencabut pohon ara dengan akar-akarnya dan menanamnya lagi di laut. Lebih ekstrem lagi mereka dapat memerintah pohon itu melakukannya sendiri.
Tentu saja ucapan di Lukas 17:6 harus dipahami sebagai metafora atau kiasan. “Iman 𝘨𝘰𝘴𝘢𝘩 diukur-ukur! Iman sebesar biji sesawi sudah cukup!” Iman itu bukan diukur tapi diperagakan, begitu kira-kira yang hendak dikatakan oleh Yesus. Memperagakan iman adalah juga memperagakan kemurahan Allah pada kita selama kita hidup, selama kita hidup, kita akan memperagakan keteladanan Kristus dalam keseharian, itulah memperlihatkan kemurahan Allah dalam hidup kita, bukan iman yang diukur, iman kok diukur, iman diperagakan. Dari jawaban Yesus kita tidak perlu minder dengan kesaksian pribadi yang heboh tentang orang bertemu dengan Yesus, mendapat kesembuhan ajaib, diberkati hidupnya dengan kelimpahan harta, dlsb. Dengan iman sekecil biji sesawi kita sudah dapat mengerjakan tugas-tugas berat dari Yesus, dan memang seperti itulah yang dikehendaki oleh Yesus. 𝘎𝘰𝘴𝘢𝘩 muluk-muluk. Tak perlu menunjukkan iman dengan ukuran tanda-tanda lahiriah, simbol-simbol agama, ritual simbolis, digigiti ular berbisa gpp, dlsb. Iman diperagakan dalam hidup keseharian. Demikian halnya bulan keluarga pd bulan Oktober ini, perjumpaan keluarga dengan aneka rupa realita merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat dipungkiri, perjalanan panjang sebuah keluarga adalah peragaan akan kasih, peragaan akan kemurahan hati Allah, itulah peragaan iman dalam hidup keseharian sebuah keluarga, kasih yang diteladankan Kristus, demikian hal nya gereja harus memperagakan iman dalam hidup bermasyarakat sebagai bukti kemurahan Allah dan teladan Kristus. Di sana ada ratap tangis sedih, kedukaan, kepedihan, kekurangan, kehilangan, dan aneka peristiwa lainnya. Keluarga juga berjumpa dengan tangisan kegembiraan, sukacita, pemulihan, kelimpahan, serta aneka peristiwa sukses lainnya. Dalam persekutuan bersama  Bapa, Anak dan Roh Kudus, keluarga menemukan makna kehidupan yang membuat setiap orang merasakan keluarga sebagai kehidupan yang berharga meski tidak selalu ideal, itulah peragaan iman, itulah pertunjukan kemurahan Allah. Itulah perjalanan iman keluarga, bertemu Tuhan dalam kepelbagaian peristiwa hidup, memaknainya serta mengubah, hal yg lumrah, dimana itu dijalani setiap keluarga, tapi bagaimana memaknainya dg baik yang itu mengubah kan. Tidak perlu juga peristiwa dalam hidup yang lumrah itu dibuat sedemikian WOW nya, kemudian dijadikan "KESAKSIAN" (arti kesaksian itu sendiri bukan itu) dalam gereja atau persekutuan, itu malah merendahkan pemaknaannya, cukup tunjukan dalam kehidupan keseharian bagaimana keluarga tsb berubah dan Kristus tergambarkan dalam hidup berkeluarga tsb, bagaimana teladan Kristus diperagakan dalam hidup berkeluarga, bagaimana iman itu diperagakan dalam hidup berkeluarga, bagaimana kemurahan hati Allah itu ditunjukan dalam keseharian hidup berkeluarga. Masak ya pengalaman iman atau iman itu diukur atau terukur?, Iman kok diukur? capek dech🙈🙈🙈. Iman itu diperagakan. Keluarga Kristen saat ini dalam situasi di mana di dalamnya 
menjumpai proses tarik ulur realitas yang saling memengaruhi dalam hidup. 
Kekuatan-kekuatan yang saling tarik ulur itu oleh Paus Yohanes Paulus II disebut sebagai kekuatan terang dan gelap. Keluarga 
bisa jadi berada dalam tarikan kegelapan. Perpisahan, konflik, saling melukai, konsumeristik, hedonis, hidup tanpa makna
terjadi dalam keluarga. Namun kekuatan terang Allah yang menarik keluarga untuk menemukan makna dalam rengkuhan Trinitas Maha Kudus. Pada akhirnya keluarga mengalami Allah sebab Ia adalah Allah “menjadi semua di dalam semua” (1 Korintus 15:28) sebab tujuan kebermaknaan itu adalah persekutuan cinta bersama Bapa, Anak dan Roh Kudus.

𝗟𝘂𝗸𝗮𝘀 𝟭𝟳:𝟳-𝟭𝟬
Perumpamaan metafora “Tuan dan hamba” ini dipandang oleh penulis Injil Lukas cocok untuk memerikan nasabah Tuhan dan orang percaya. LAI menerjemahkan δοῦλον dengan “hamba.”
Istilah “hamba” itu terkesan halus dan agung, apalagi ada istilah “hamba Tuhan”. Alkitab NRSV menerjemahkan δοῦλον dengan budak (𝘴𝘭𝘢𝘷𝘦). Terjemahan NRSV lebih 𝘯𝘦𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨.
Dalam perumpamaan ini budak tidak seperti pekerja harian yang memiliki hari dan jam kerja. Budak tak punya apa-apa. Budak sudah dibeli dan apa pun yang dimilikinya adalah milik tuannya, termasuk waktu hidupnya. Sesudah melakukan semua tugasnya, budak tetaplah budak. 𝗠𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸𝗶 𝗵𝗮𝗸 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗺𝗲𝗻𝘂𝗻𝘁𝘂𝘁 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗮𝘁𝘂 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝘁𝘂𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮. Budak atau hamba hanya memperagakan ketaatan atas TuanNya yg memiliki hidup nya, yang menanggung hidupnya, budak atau hamba tidak dapat menuntut imbalan pada Tuannya, okeh karenanya ketaatan itu diperagakan bukan diukur. Meskipun Lukas 17:7-10 berlaku umum bagi jemaat Kristen, Rendah hati sama dan sebangun dengan hening. Jika bersuara, maka bukan hening lagi. Jika diucapkan, maka bukan rendah hati lagi, jika menuntut tiada guna.

Cepogo, 30 September 2022 (TUS)

Lampiran : 
Kutipan 𝗟𝘂𝗸𝗮𝘀 𝟭𝟳:𝟭-𝟭𝟬 (TB II LAI, 1997)
𝘉𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘯𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘵 
𝟭𝟳:𝟭 Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Tidak mungkin tidak akan ada hal yang membuat berbuat dosa, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.
𝟭𝟳:𝟮 Lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, daripada menyebabkan salah satu dari orang-orang yang kecil ini berbuat dosa.
𝟭𝟳:𝟯 Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia.
𝟭𝟳:𝟰 Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia."
𝟭𝟳:𝟱 Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!"
𝟭𝟳:𝟲 Jawab Tuhan: "Sekiranya kamu mempunyai iman sekecil biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Tercabutlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu."
𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢
𝟭𝟳:𝟳 "Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak tanah atau menggembalakan ternak akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan!
𝟭𝟳:𝟴 Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Sesudah itu engkau boleh makan dan minum.
𝟭𝟳:𝟵 Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?
𝟭𝟳:𝟭𝟬 Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."
CEPOGO, 30.09.2022 (TUS)

HUTANG-PIUTANG DALAM ALKITAB, SERIAL SUDUT PANDANG

HUTANG-PIUTANG DALAM ALKITAB, SERIAL SUDUT PANDANG


"Kalau sampai kiamat hutang negara belum lunas, nanti di akhirat dosanya di tanggung oleh presiden atau di bagi rata sama rakyat bu? Mohon pencerahan."

Demikianlah sebuah pertanyaan 'teo-politis' yang diajukan pada saya.

Pertanyaan diatas ditanyakan seseorang melalui salah-satu postingan saya (kalau tidak salah postingan tentang pohon kurma) di grup ANTROPOLOGI ALKITAB. Pertanyaan ini terlihat jenaka tapi sebenarnya menarik. Konsep pertanyaan ini sebenarnya bukan berasal dari perspektif Alkitab tapi dari perspektif non-Kristen dan non-Yahudi, yang kemudian dikelirukan oleh penganut Kristen seakan itu adalah perspektif Alkitab. Perspektifnya tidak salah, namanya juga beda keyakinan, tetapi sebagai orang Kristen sebaiknya kita meluruskan persepsi tentang hutang-piutang ini berdasarkan perspektif Alkitab.

Terkait hutang-piutang, dalam 'perundang-undangan' yang dicatat dalam Alkitab, semuanya bersifat humaniter (berperikemanusiaan) dan diatur dengan sangat rinci, jauh lebih rinci dibandingkan undang-undang peradaban purba lain yang sezaman dengan penulisan peraturan ini. Menurut Alkitab, meminjamkan uang di Israel bukan untuk alasan bisnis, melainkan karena dasar belas kasihan. Dalam perspektif Pentateukh, utang adalah uang atau barang yang diberikan dengan syarat bahwa akan dikembalikan kemudian (kamus Browning, "utang"). Sedangkan, dalam sosiologi suku-suku Israel yang lebih sederhana tidak ada suatu tata susunan pinjaman, seperti yang terdapat dalam masyarakat modern, yang memungkinkan orang membuka suatu usaha baru, atau membeli kebun atau peternakan (Ensiklopedia Alkitab, "hutang-piutang"). Pinjaman dimaksudkan untuk membantu orang mengatasi kesulitan. Mereka yang memberi pinjaman melakukannya atas dasar kemurahan hati. Adapun  keuntungan bunga dapat ditarik dari orang bukan Israel (Ulangan 23:20). Namun, dikemudian hari ada orang Yahudi yang mengutangkan dan dirugikan mendorong perluasan pungutan bunga (Yeremia 15:10). Bagi orang yang terpaksa harus meminjam, ada banyak aturan perlindungan. Contohnya: juru-sita tidak diperbolehkan memasuki rumah orang untuk mengambil gadai (Ulangan 24:10-11), atau untuk mengambil pakaian seorang janda (Ulangab 24:17). Pakaian gadai seorang miskin juga harus dikembalikan kepadanya sebelum petang (Keluaran 22:25-26). Agunan atas pinjaman kecil, misalnya harta benda pribadi yang digadaikan (Ulangan 24:10; Ayub 24:3), atau, harta tak bergerak (Nehemia 5), juga atas tanggungan seseorang (Amsal 6:1-5; Yesaya 8:13; 29:14-20). Jika tidak ada jaminan untuk membayarnya, maka debitur dapat dijual menjadi budak (Keluaran 22:3; 2 Raja-raja 4:1; Amsal 2:6; 8:6). Barang-barang yang boleh dijadikan agunan dibatasi, begitu juga syarat-syarat untuk meminjam (Ulangan 24). Tetapi, dalam kenyataan hidup sehari-hari, hal itu tidak selalu berlangsung menurut aturan (Amsal 2:8) sebab undang-undang ini seringkali tidak dilaksanakan. Janda yang dibicarakan dalam 2 Raja-raja 4:1-7 ditolong oleh Elia, bukan dengan mengandalkan hukum itu, tapi dengan mengandalkan mujizat. 

Petani selalu diutamakan dalam pinjam-meminjam di Israel karena tulang-punggung utama perekonomian Israel tetaplah sektor pertanian. Oleh karena itulah undang-undang Israel tidak memuat aturan-aturan perdagangan, tapi memuat nasihat-nasihat supaya bermurah hati terhadap tetangga, seperti yang tercatat dalam Amsal 29. Motivasi yang mendasari pemberian hutang kemudian berubah dijaman Perjanjian Baru. Inilah yang dikecam oleh Tuhan Yesus dalam perumpamaan bendahara yang tidak jujur (Lukas 16:1-8). Para debitur dalam perumpamaan itu adalah penyewa atau pedagang yang wajib membayar dengan barang-barang natura. Yesus memakai ungkapan ini bukan untuk menggambarkan hubungan Allah dengan manusia seperti hubungan kreditur dengan debitur, tapi untuk menyatakan kasih karunia Allah dan memerintahkan kewajiban mengampuni (Lukas 7:41 dab; Mat 18:21-27). Oleh Yesus, kesalahan juga diumpamakan sebagai hutang, yang bisa dilihat dari penggunaan kata Yunani dalam Matius 6:12 yang diterjemahkan sebagai 'kesalahan', sebenarnya menggunakan arti yang harfiahnya ialah 'utang'. Walau telah diatur dengan rinci tapi ada juga penyelewengan terkait hutang-piutang. Apa yang dikeluhkan dalam Perjanjian Lama sebenarnya bukan besarnya bunga utang, tapi karena adanya bunga itu. Kitab Undang-undang Israel (Keluaran 22:25; Ulangan 23:19; Imamat 25:35) melarang adanya bunga walaupun Ulangan 23:20 (bnd 15:1-8) mengizinkan mengambil bunga dari orang asing. 

Pada zaman Yudaisme, Hilel merancang suatu sistem untuk menyisihkan Ul 15 secara hukum, maksudnya bukan untuk menggagalkan atau mengelabui hukum Taurat, tapi untuk mencocokkannya dengan ekonomi perdagangan. Inilah yang mendasari dimulainya bisnis kredit komersial seperti sudah berlaku di Babel pada tahun 2000 SM. Dalam Kitab Undang-undang Hammurabi dan hukum-hukum Babel yang terdahulu, penerapan bunga pinjaman sudah sangat lazim. 

Penyalahgunaan pemberian hutang sangat dikecam dalam Alkitab. Kata 'nesyekh' (harfiah 'sesuatu yang digigit sampai putus') boleh jadi berarti pemerasan dengan jalan merampas dari kreditur, tapi permainan kata dengan 'nosy ekhim' dalam Habakuk 2:7 (artinya rangkap, yaitu 'pembayar bunga' dan 'penggigit') berarti suatu jumlah bunga utang yang menyedot habis semua simpanan kreditur yang sudah disisihkan untuk pembayaran kembali. Sinonim 'nesyekh' yaitu 'tarbit' ('kenaikan') dan Yunani 'tokos' ('tunas') lebih mendekati makna bunga dalam arti modern, yaitu 'sesuatu yang tumbuh dari modal dasar'. Selaras dengan perkembangan ekonomi, Yesus menyetujui perolehan laba melalui penginvestasian modal (Matius 25:27; Lukas 19:23), tapi Yesus tetap mengecam pemberian bunga uang yang dibebankan pada pinjaman pribadi (Lukas 6:31 dst).

Jadi, hutang menurut perspektif Alkitab bukan untuk memodali peminjam untuk memulai atau memperluas usahanya, melainkan untuk memampukan peminjam, khususnya petani, melewati masa sukar. Kemudian, setiap tujuh tahun semua utang-piutang dihapuskan (Ulangan 15:1 dst.) dan orang Israel yang menjadi budak karena utang yg tak dapat dibayar, harus dibebaskan (Imamat 25:39-55). Artinya, hutang bukanlah tanggungan abadi.

Inti dari semua penjelasan bagi pertanyaan yang diajukan pada saya diatas adalah: Hutang, menurut perspektif Alkitab, sifatnya fana karena hanya untuk perkara duniawi bukan akhirat. Jadi, di akhirat nanti tidak ada yang menanggung hutang dan piutang finansial, termasuk utang negara kita ini. Baik presiden hingga rakyat jelata tidak lagi menanggung hutang di akhirat. Semuanya sudah dihapuskan menurut Alkitab setelah 7 tahun tanggal terhutang, apalagi jika manusia yang bersangkutan telah meninggal. Hanya dua hutang yg harus dipertanggung-jawabkan tanpa batas tahun, yaitu hutang nazar (ditanggung hanya hingga meninggal) dan hutang dosa (ditanggung hingga hari penghakiman). 

Disusun 25.02.2023 (T) Cepogo Boyolali

Referensi:
°°°°°°°°°°°°°
1. Browning (kamus Alkitab), kata kunci: pinjaman, utang;
2. Gering (kamus Alkitab), kata kunci: utang;
3. Ensiklopedia Alkitab, kata kunci: utang-piutang;
4. Kamus Pedoman (kamus Alkitab), kata kunci: orang yang berpiutang.

Saduran dan adaptasi:
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
1. Kalimat pertama dan kedua pada paragraf kedua disadur dari kamus Browning, "utang";
2. Kalimat ketiga pada paragraf kedua disadur dari Ensklopedia Alkitab, "utang piutang";
3. Paragraf kedua dan ketiga diadaptasi dari kamus Browning dan Ensiklopedia Alkitab;
4. Paragraf keempat dan kelima diadaptasi dari Ensklopedia Alkitab, "utang piutang".


PENULiSAN ALKITAB, SERIAL SUDUT PANDANG

PENULiSAN ALKITAB, SERIAL SUDUT PANDANG

Alkitab yang kita pegang sekarang adalah Alkitab Terjemahan Baru yg di cetak pertama kali pada tahun 1974.
Sebelumnya yg digunakan adalah terjemahan lama yg berbeda sekali gaya bahasanya dgn terjemahan baru.

Kej 1 : 1 terjemahan lama memakai kata "Sebermula...." Sedangkan terjemahan baru menggunakan kata "Pada mulanya...."

Ini kalau dilihat dari bahasa dan ejaan bhs Indonesia. Bayangkan apa yg terjadi, sbb di atas dunia ni terdiri dari berapa ratus bahasa dgn ejaannta masing2

Perlu diketahui pula, bhw beredarnya kisah atau peristiwa dalam Alkitab itu pada awalnya melalui tradisi lisan, belum tertulis.

Sebelum adanya Alkitab tertulis, sebagai Firman Allah hanya disampaikan atau diteruskan kpd siapa saja melalui tradisi lisan selama ber-abad2 lamanya. Setelah itu barulah ada Alkitab terulis dan dalam proses penulisannya, Firman Allah yang diterima oleh para nabi pada saat itu ditulis dalam bahasa tulis yang dikenal di zaman penulis kitab-kitab Alkitab. Ada 3 bahasa yang digunakan yakni Ibrani, Aramaik, dan juga Yunani. 

Dalam penulisannya para penulis menggunakan beberapa media penulisan yang digunakan pada zaman tersebut.

Salah satunya adalah perkamen yaitu berasal dari kulit binatang yang dikeringkan. salah satu salinan ( sekali lagi salinan ) Naskah yg tertulis di atas perkamen diemukan pd thn 1948 di Gua Qumran di tepi Laut Mati.

Salinan naskah Alkitab tsb berusia ratusan tahun. Salinan naskah ini bisa bertahan begitu lama, krn Gua Qumran dgn Laut Mati merupakan titik terendah di atas permukaan bumi, berada 430 meter di bawah permukaan laut, sbb  itu kedap udara, hampa udara. Danau Galilea saja berada 210 meter di bawah permukaan laut.

Media lain adalah papyrus yaitu berasal dari rumput papyrus yang dikeringkan. Ada juga yang ditulis di lempengan keramik dan codex yang sudah seperti kertas.

Kanonisasi Alkitab

Kata kanon berasal dari bahasa Ibrani, Qāneh, atau Kanon (Yunani) yang secara harfiah memiliki arti: gelagah atau buluh.

Dalam dunia kuno, gelagah digunakan sebagai tongkat pengukur atau kayu penggaris untuk membuat garis yang lurus. 

Kanon Alkitab maksudnya adalah peraturan, standar, ukuran yang dipakai untuk menentukan kitab-kitab yang diakui diilhamkan oleh Allah sendiri. 

Dalam Kanonisasi Alkitab akan dibagi menjadi dua bagian yakni kanonisasi Tanakh (Alkitab Perjanjian Lama) dan Kanonisasi Kitab Suci Injil.

KANONISASI ALKITAB PERJANJIAN LAMA (PL )

Ada beberapa hal yang menjadi syarat kanon ALKITAB PL Yang menjadi syarat pertama adalah tulisan harus dalam bahasa Ibrani, pengecualian untuk kitab-kitab dalam Aramaik seperti Daniel 2-7, Ezra (Ezra 4:8–6:18; 7:12–26). 

Kemudian, tulisan itu harus disahkan dengan penggunaan di kalangan komunitas Yahudi, contoh : penggunaan Kitab Ester pada hari raya Purim memungkinkannya dimasukkan dalam kanon. 

Di samping itu,  tulisan itu harus mengandung salah satu tema besar dalam Yudaisme, seperti pemilihan, atau perjanjian, dan harus ditulis sebelum zaman  nabi Ezra, karena dipercayai bahwa wahyu sudah berhenti sejak saat itu.

Kitab PERJANJIAN LAMA ( PL ) selesai dikanonisasi pada 400 SM, lengkap dari Kitab Taurat sampai Kitab Nabi Ezra (pasca pembuangan dari Babylonia). 

Umat Yahudi mengakui 39 surah dalam kitab PL (atau menurut mereka 22 surah karena ada beberapa surah yang digabung menjadi satu surah).

Di kalangan Yahudi kuno  terdapat kanonisasi yang didasarkan pada kitab-kitab Yunani yang terdapat dalam Septuaginta ( PL dalam bahasa Yunani). Kitab-kitab Yunani tersebut di kalangan Yahudi kuno (juga pada masa Yesus dan jemaah mula-mula)  diakui sebagai kanonis.

Yesus sendiri membenarkan  otoritas PL. Hal ini dapat dilihat dari berbagai kutipan pengajaran Yesus dari kitab PL. Di dalam Kitab Suci Injil, Injil Matius 5:17 tertulis:

“Μὴ νομίσητε ὅτι ἦλθον καταλῦσαι τὸν νόμον ἢ τοὺς προφήτας. οὐκ ἦλθον καταλῦσαι ἀλλὰ πληρῶσαι”

Artinya:

“Jangan menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat, yaitu hukum yang terdapat dalam Kitab Suci Taurat, atau firman yang telah disampaikan Allah melalui para nabi.  
Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.”

Dalam bagian lain kitab Injil, Yesus juga kembali menegaskan otoritas kitab PL, seperti dalam Injil Lukas 24:44 yang berbunyi:

Εἶπεν δὲ πρὸς αὐτούς. Οὗτοι οἱ λόγοι μου οὓς ἐλάλησα πρὸς ὑμᾶς ἔτι ὢν σὺν ὑμῖν, ὅτι δεῖ πληρωθῆναι πάντα τὰ γεγραμμένα ἐν τῷ νόμῳ Μωϋσέως καὶ προφήταις καὶ ψαλμοῖς περὶ ἐμοῦ.

“ Lalu sabda-Nya kepada mereka, “Inilah yang Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu. Aku berkata bahwa semua yang telah tertulis mengenai Aku harus digenapi, baik dalam Kitab Suci Taurat yang disampaikan melalui Musa, dalam kitab tulisan nabi-nabi, dan dalam Kitab Zabur.“

2. KANONISASI KITAB SUCI INJIL (ALKITAB PERJANJIAN BARU)

Kitab Injil sendiri merupakan kelanjutan dan penggenapan dari PL. Kitab Injil berisi tentang Yesus, Ruh Suci dan Jemaah abad pertama. Ada beberapa standar  yang dipakai untuk menentukan kanonisasi kitab Injil. 

Yang pertama adalah Injil ditulis oleh orang-orang yang memiliki hubungan langsung dengan Yesus dan/atau para rasul Nya di abad pertama.

Kedua, adanya Kerasulan yang meneruskan tradisi rasuli /suksesi apostolik, yaitu murid dari para murid Yesus yang mengakui kitab tersebut. 

Ketiga, ada yang disebut dengan ortodoksi dan antiquity. Ortodoksi yaitu masing-masing surah  memiliki kesatuan (unity) yang berporos pada iman yang sama pada Yesus yang bangkit dan dimuliakan. Sedangkan antiquity adalah pengakuan kepada kitab-kitab yang lebih kuno atau yang paling dekat dengan zaman Yesus. 

Syarat keempat adalah Injil tersebut diterima oleh jemaah mula-mula secara menyeluruh dan  universal.

Seperti halnya kitab PL, kitab Perjanjian Baru juga mempunyai sejarah dalam penyusunannya. Dimulai dengan beredarnya kisah kehidupan Yesus secara lisan, di mana tradisi lisan ini berlanjut hingga abad kedua.

Pada saat yang sama, pada generasi pertama pengikut Yesus telah muncul catatan tertulis tentang kehidupanNya.

Surat-surat Rasul Paulus juga sudah beredar di jemaah awal pada saat itu. Rasul Paulus menulis untuk memenuhi masalah spesifik di beberapa jemaah tertentu, dan dia mendorong distribusi surat tertulis tentang kehidupan Yesus

Koleksi surat-surat Rasul Paulus juga diakui oleh para rasul, seperti oleh Rasul Petrus, sekitar tahun 65 M. Hal ini dikuatkan juga oleh Clement dari Roma, yang menyatakan, “bawalah surat-surat Rasul Paulus yang diberkahi” dalam  suratnya pada jemaah di Korintus sekitar tahun 100 M.

Pertengahan abad ke-2, kitab Perjanjian Baru sudah dipakai dalam jemaat-jemaat di seluruh kekaisaran Romawi.

Namun di sisi lain, jemaah awal ada juga yang memakai beberapa daftar isi yang berbeda karena keterbatasan komunikasi dan jarak.

Polikarpus (69 -155 M), murid dari Rasul Besar Yohanes, mengutip dari Injil Matius, Yohanes, 10 surat Rasul Paulus, 1 Petrus dan 12 Yohanes. 

Kemudian fragmen Papias (Papias merupakan murid Polikarpus) pada abad 1 M berisi tentang tradisi lisan  cerita-cerita tentang kehidupan Isa.

Pada tahun 144 M, Marcion, seorang Gnostik (bid’ah pada masa itu),  menolak semua  tulisan dalam kitab PL yang bertentangan dengan pandangan teologisnya. Ia menolak semua Kitab Injil, kecuali tulisan Lukas dan  Rasul Paul saja. 

Pada tahun 145-163 M, Justin Martyr (seorang filsuf dan penulis Kristen) mendaftarkan Surat Roma, 1 Korintus, Galatia, Efesus, Kolose, 2 Tesalonika, Filipi, Titus dan 1 Timotius.

Pada tahun 170 M, Irenaeus yang merupakan murid Polycarpus, mengutip semua kitab Injil. 
Ia mendaftarkan 23 dari ke-27  dalam kitab Perjanjian Baru.

Pada tahun, 160 – 175 M, Tatian (murid dari Yustinus) menyusun kanon “Injil” dengan mengutip Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes yang disebut dengan Diatessaron (Keharmonisan antara keempatnya). Kitab ini menjadi cikal teks resmi pada jemaah Syria yang berpusat di Odessa.

Pada tahun 253-254 M,  Eusebius (sejarawan Yahudi) dalam “Ecclesiastical History” menyatakan bahwa Origen menerima kitab PL ditambah surah Makabe dan Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes sebagai bagian dari kitab suci.

Kitab yang disebut di dalam kanon: Markus, Lukas, Yohanes, Kisah Rasul, semua surat Paulus, I dan II Yohanes, Yudas, Wahyu Yahya dan Wahyu Petrus dan dua kitab Apokrifa lainnya, yaitu Hikmat Sulaiman dan Pastor/Gembala oleh Hermas.

Pada akhir Abad 2 M, Kanon Muratorian dikenal  sebagai sebagai kanon kitab Perjanjian Baru paling awal yang sudah berisi 27 bagian sebagaimana yang ada sekarang. 

Pada tahun 367, Athanasius (Ulama dari Alexandria), menyusun daftar buku yang akhirnya menjadi kanon 27 kitab Petjanjian Baru. Ia yang memberi nama kanon (kanonizomena) untuk daftar itu.

Yang terakhir adalah sidang/muktamar - Hippo pada tahun 393-419 M. Agustinus, ulama jemaah dari Hippo menyatakan bahwa jemaah hanya boleh memakai kitab Perjanjian Lama (termasuk Deuterokanonika)  dan ke-27 bgn dalam Alkitan Perjanjian baru.. Ada 3 sidang yang dilakukan oleh Agustinus untuk memastikan keputusan ini  yaitu Sidang Hippo pada 393 M, Sidang Carthago pada 397 M,  dan Sidang Carthago II pada 419 M.

Sidang Hippo  ini dilakukan di Hippo Regius, Afrika Utara  pada masa jemaah mula-mula. Dihadiri oleh  Agustinus dari Hippo, Aurelius dari Carthage, dan banyak pemimpin jemaah dari  berbagai propinsi yang berbeda di Afrika. 

Pada sidang ini, untuk pertama kalinya, para ulama  jemaah dari  berbagai wilayah berkumpul bersama-sama, mengakui dan menyetujui daftar ke-27 bgn dalam kitab Petjanjian baru sebagaimana yang ada saat ini.

 Sidang-sidang lanjutan yang diadakan setelahnya adalah untuk mensosialisasikan hasil sidang tersebut agar jemaah-jemaah lain bisa mengetahui dan mengikutinya. Hasil sidang ini  diakui  dan diikuti oleh para pengikut Isa Almasih hingga saat ini.

Kitab Perjanjian Lama dan kitab Petjanjian Baru yang ada hari ini berasal dari perjalanan sejarah yang panjang.

Tentunya, dengan proses yang demikian, jelas sekali bahwa kanonisasi kitab-kitab tersebut tidak dilakukan oleh satu orang atau pihak tertentu, melainkan merupakan suatu warisan dari jemaah dan para pengikut Yesus mula-mula, yang diakui dan diteruskan oleh para pengikut Yesus di zaman sekarang ini. 
CEPOGO, 20.10.2023 (T)

Minggu, 08 Oktober 2023

mengapa penduduk Sodom begitu terancam dengan kehadiran orang asing?

mengapa penduduk Sodom begitu terancam dengan kehadiran orang asing? Serial Sudut Pandang
mengapa penduduk Sodom begitu terancam dengan kehadiran orang asing? Ternyata secara historis, kalau kita membaca secara keseluruhan maka kita akan mendapatkan informasi di Kejadian13-14.Khususnya pasal 14 menceritakan bahwa terjadi pemberontakan bangsa-bangsa untuk melawan Raja Kedorlaomer,"Lalu keluarlah raja negeri Sodom,raja negeri Gomora ... mengatur barisan perangnya melawan mereka dilembah Sidim, melawan Kedorlaomer" (Kej. 14:9).Yang terjadi adalah raja Sodom dan Gomora tumbang, ditangkap, dan orang-orang yang masih hidup diri ke pegunungan, bahkan segala harta benda Sodom dan Gomora serta segala makanan dirampas, termasuk juga Lot, beserta harta bendanya dibawa musuh. Konteks peperangan ini menyebabkan penduduk Sodom tercerai-berai.
Kemudian datanglah seorang pelarian dan menceritakan kepada Abram, bahwa Lot juga termasuk dalam jarahan perang. Maka Abram menyuruh semua orang terlatih untuk mengejar musuh sampai ke Dan. Mereka melawan musuh dan mengejar musuh sampai ke Hoba di sebelah utara Damsyik. Lalu Lot selamat dan harta benda juga dibawa kembali demikian juga perempuan-perempuan dan orang-orangnya (Kej. 14:13-16). Kemenangan Abram mengalahkan Kedorlaomer mendatangkan kegembiraan bagi raja Sodom (Kej. 14:17), lalu Melkisedek yang merupakan seorang raja Salem dan sekaligus Imam membawa roti dan anggur,lalu memberkati Abram (Kej. 14:18-19). Jadi, alasan keterancaman penduduk Sodom akan kehadiran orang asing menyitir pandangan bahwa kondisi pascaperang tentu membuat penduduk sodom siaga dalam mendeteksi kedatangan musuh. Setiap orang yang tidak dikenal atau pendatang baru di kota itu patut dicurigai. Penduduk Sodom awalnya tampak tenang karena menurut mereka kedua orang tersebut hanya akan singgah sejenak dirumah Lot. Tentunya, pandangan di atas memperlihatkan faktor psikologi (trauma) Pesca perang begitu kuat dalam relasi keberadaan dengan orang asing. Para ahli kejiwaan mengatakandemikian:
Dalam keadaan kritis yang tidak biasa, seperti dalam peperangan atau di penjara yang tata tertibnya payah, orang-orang laki-laki yang heteroseksual yang sering memerkosa sesama lelaki, tidak peduli apakah korbannya berorientasi seksual homoseksualiteitoseksual. Gejala ini disebut gang-rape. Penduduk Sodom berniat melakukan gang-rape terhadap para tamu Lot (Singgih, 2019: 45).

Situasi kritis yang terjadi bukan hanya dalam pengertian secara fisik, tetapi lebih kepada batin (psikologis). Dikarenakan tidak ada rujukan secara tekstual yang memperlihatkan bahwa penduduk Sodom ada dalam situasi chaos (kacau) sehingga pertanyaannya adalah mengapa tiba-tiba terjadi pengepungan (upaya) gang-rape (perkosaan beramai-ramai) secara massal? Ada rujukan di dalam Kejadian 18:20, pascaperang sudah usai tercatat demikian, ?Sesudah itu berfirmanlah Tuhan: Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomoradan sesungguhnya sangat berat dosanya" (TB-LAI). Keluh kesah di sini dalam bahasa Ibrani "zaqa" ,berarti'teriakan atau jeritan minta tolong'. Kata ini adalah istilah pengadilan untuk pendakwaan atau permintaan bantuan hukum.Dengan demikian,ada penindasan yang sewenang-wenang yang dilakukan oleh penduduk Sodom kepada orang asing. Topik ini berkaitan dengan pelanggaran hak pendatang atas tamu dalam tradisi zaman itu,  yang mengatakan bahwa penghormatan kepada tamu atau pendatang dalam kebudayaan zaman sangat penting, khususnya ketika para tamu dan pendatang itu memasuki daerah yang tidak aman dan telah mengucap salam, mereka mendapat hak untuk dilindungi kesalahan penduduk Sodom adalah pemerkosaan massal dan ketidak ramahan terhadap orang asing.Jadi,kalau melihat konteks budaya zaman itu, maka kota Sodom menjadi kota yang tidak aman untuk para tamu asing. Teolog Stephen Suleeman menyitir pandangan sejarawan Yahudi bernama Josephus (lahir sekitar tahun 37 ZB) mengungkapkan bahwa, "warga Sodom, yang sangat bangga akan jumlah mereka dan tingkat kekayaan mereka, menunjukkan diri mereka kurang ajar kepada manusia dan tidak beriman kepada Tuhan, sedemikian rupa sehingga mereka tidak lagi ingat manfaat yang mereka terima dari Dia, membenci orang asing dan menolak semua hubungan dengan orang lain. Allah murka akan perilaku ini dan memutuskan membalas dengan menghukum mereka karena kesombongan mereka? (Suleeman, 2015: 4). Bicara soal kesombongan atas jumlah dan tingkat kekayaan penduduk Sodom yang ditulis di atas, Bambang Subandrijo dalam Bagaimana (Seharusnya) Sikap Gereja Terhadap LGBT: Suatu Tinjauan Biblis (2019), merujuk pada tafsiran para Rabi Yahudi (Tosefta Sota 3:11-12), mengatakan bahwa kaum kaya Sodom telah membuat kebijakan untuk menganiaya orang asing agar mereka takut mengunjungi kota itu dan dengan begitu penduduk Sodom tak perlu lagi berbagi harta dengan orang asing (trauma pasca perang). Dari sini ada persoalan yang serius terkait dengan penduduk Sodom, yaitu menyangkut soal xenophobia (sikap membenci orang asing) sikap agresif yang memberlakukan kekerasan homosek, walaupun ini juga akibat dari trauma perang. Karena bbrp sejarahwan menuliskan kebiasaan perang pada zaman itu adalah bagi yang kalah maka lelakinya akan dikumpulkan dan diperkosa oleh yang menang, untuk meruntuhkan mental agar tidak melawan lagi dan dibelakang hari tidak memberontak, tentunya trauma semacam ini dimungkinkan setelah Sodom dan Gomora kalah berperang, shg memperlihatkan kebencian pada orang asing serta orang asing menjadi sasaran empuk melampiaskan trauma. "Xenophobia" adalah  budaya yang berlawanan dg budaya zaman itu, yang menjunjung tinggi hospitalitas (keramahan), seperti kisah Abraham yang menjamu ketiga tamunya(Kej.18:2). Dari sini hospitalitas menjadi bagian penting dalam iman Israel, Pakar Yahudi R.J. Zwi Werblowsky mengatakan bahwa taurat mengatur hukum hospitalitas sehingga setiap orang wajib memberlakukan sikap ramah pada semua orang, termasuk orang yang miskin, mereka yang terabaikan, orang asing, siapa saja yang dianggap tidak layak. Selain kejahatan seksual dan ketidak ramahan, referensi di Kitab Yehezkiel 
16:49-50 tercatat: "Lihat, inilah kesalahan Sodom, kakakmu yang termuda kecongkakan,makanan yang berlimpah-limpah dan kesenangan hidup padanya dan pada anak-anaknya perempuan, tetapi ia tidak menolong orang orang sengsara dan miskin. Mereka menjadi tinggi hati dan melakukan di hadapan-Ku; maka Aku menjauhkan mereka sesudah Aku melihat itu' (TB-LAI). Jadi, ada gambaran tentang kecongkakan, kerakusan, dan menolong/membela orang miskin. Kalau begitu kesimpulan teks Sodom dan Gomora di Kejadian 19 tidak berkaitan dengan terhadap LGBTIQ, melainkan persoalan ketidakadilan sosial. Dengan merujuk kepada Yesaya 1:9, Yesaya 13:19, Yeremia 23:14, mengatakan makna bahwa masa depan Yerusalem yang nyaris menjadi seperti Sodom dan Gomora, ternyata konteksnya adalah umat yang rajin beribadah dan umat melaksanakan ritual, tetapi tetap melakukan kejahatan-kejahatan moral berupa ketidakadilan sosial. Hal ini juga mengungkapkan  bahwa dosa Sodom tidak hanya bersifat seksual (pemerkosaan) melainkan juga kekacauan umum dari masyarakat yang terorganisir untuk melawan Allah. Bicara soal ketidakadilan, tulisan Vania Sharleen Setyono yang berjudul Ketika Awam Membaca Sodom: Intercultural Hermeneutics terhadap Kisah Sodom dalam Kejadian19 (2020) memperlihatkan adanya perhatian pada isu patriarkat dalam teks ini, terlihat dari risetnya tentang kegelisahan  saat membaca (menafsirkan) adegan Lot memberikan kedua anak perempuannya kepada kerumunan penduduk Sodom guna menggantikan dan membuat aman tamu laki-lakinya tersebut. Ada dua hal yang diperlihatkan  yaitu sebagai berikut:

"Pertama, posisi perempuan yang selalu berada di bawah laki-laki. Hal ini ditunjukkan dari tindakan Lot yang rela memberikan anak perempuannya demi "menyelamatkan" tamu laki-lakinya ...

Kedua, identitas homoseksualitaa diri seseorang dianggap lebih tidak bermoral ketimbang ketika seseorang melakukan tindakan kekerasan seksual. apa yang dilakukan oleh Lot PD kedua anak perempuannya adalah bentuk kekerasan seksual".

Orang-orangyang dan melabrak Lot dan  tamu-tamunya,  ini adalah sebuah tindakan untuk memamerkan kekuasaan dan cara untuk menundukkan orang asing yang tidak berdaya secara politik adalah dengan memerkosanya. Sebab meniduri laki-laki menggantikan harkat martabat kelaki-lakiannya dengan rasa malu feminitas.Dalam budaya Israel kuno saat itu, pemerkosa secara anal kepada laki-laki dianggap merendahkan martabat laki-laki menjadi seperti perempuan sebab perempuan dianggap jauh lebih rendah daripada lak laki. Hal ini terjadi karena penduduk Sodom adalah penduduk yang dihegemoni oleh paradigma patriarkat dan yang memandang orang asing sebagai the others yang pantas untuk dieksekusi (direndahkan). Dari sini, dosa Sodom (kejahatannya) bisa dipahami dalam pengertian kekerasan seksual, penindasan thp orang asing dan juga dosa sosial termasuk kekuasaan korup  dan ketidakadilan.
Cepogo, 18.09.2017

Baca juga :

http://titusroidanto.blogspot.com/2023/09/homoseksualitas-dan-gereja-baptis.html

https://titusroidanto.blogspot.com/2024/06/mengenal-dan-menyikapi-lgbt-sesama-kita.html

Sudut Pandang Dalam Nama Yesus

Sudut Pandang Dalam Nama Yesus