Jumat, 14 Juni 2024

Sudut Pandang Markus 4 : 20 - 34, 𝗞𝗲𝗮𝗺𝗽𝘂𝗵𝗮𝗻 𝗰𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮

Sudut Pandang Markus 4 : 20 - 34, 𝗞𝗲𝗮𝗺𝗽𝘂𝗵𝗮𝗻 𝗰𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮

Perumpamaan-perumpamaan yang disampaikan oleh Yesus merupakan cerita di dalam cerita Injil. Yesus, tokoh yang sedang diceritakan di dalam Injil, menceritakan sebuah cerita kepada para tokoh lain di dalam dunia cerita Injil. Dunia cerita perumpamaan berada di dalam dunia cerita Injil. 

Jarak waktu kiprah Yesus dan penulisan Injil adalah puluhan tahun sehingga asal-muasal cerita perumpamaan menjadi rumit karena tradisi lisan. Cerita lisan diteruskan dari satu jemaat atau komunitas ke komunitas lainnya, lalu komunitas lainnya itu meneruskannya lagi ke komunitas lainnya. Penyampaian cerita semakin rumit karena cerita perumpamaan berlatar Galilea untuk para pendengar yang bukan dari Galilea.

Sejumlah pakar biblika bersetuju bahwa Yesus-historis tidak pernah menerangkan arti atau makna perumpamaan yang disampaikan-Nya. Jemaat mula-mula dan penulis Injillah yang memberi makna perumpamaan. Bahkan untuk meredam konflik penafsiran di dalam tubuh jemaat mula-mula penulis Injil sampai menyatakan bahwa hanya para murid langsung Yesus (para rasul) yang mengetahui makna asli perumpamaan.

Hari ini adalah Minggu keempat sesudah Pentakosta. Bacaan  diambil dari Injil Markus 4:26-34 

Rangkaian konflik Yesus dengan para pemimpin Yahudi dan keluarga Yesus dalam bacaan Injil Minggu lalu disusul dengan kumpulan perumpamaan yang hendak menyampaikan gambar besar mengenai ajaran Yesus. Dua cerita perumpamaan dijadikan bacaan Injil Minggu ini mencakup dua perikop yang diberi judul oleh LAI 𝘗𝘦𝘳𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘪𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘮𝘣𝘶𝘩 (ay. 26-29) dan 𝘗𝘦𝘳𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘫𝘪 𝘴𝘦𝘴𝘢𝘸𝘪 (ay. 30-34). Pengulasan bacaan dapat dibagi ke dalam tiga bagian:
🛑 Benih yang tumbuh (ay. 26-29)
🛑 Pertumbuhan biji sesawi (ay. 30-32)
🛑 Keampuhan cerita (ay. 33-34)

𝗕𝗲𝗻𝗶𝗵 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝘂𝗺𝗯𝘂𝗵 (ay. 26-29)

Lalu kata Yesus, “𝘉𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘭 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶: 𝘚𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘣𝘶𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘯𝘪𝘩 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩, (ay. 26) 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘪𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘯𝘪𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘶𝘯𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘮𝘣𝘶𝘩. 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘬𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶. (ay. 27) 𝘉𝘶𝘮𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘢𝘩, 𝘮𝘶𝘭𝘢-𝘮𝘶𝘭𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘶𝘭𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢, 𝘬𝘦𝘮𝘶𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘵𝘪𝘳-𝘣𝘶𝘵𝘪𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩 𝘪𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘣𝘶𝘭𝘪𝘳 𝘪𝘵𝘶. (ay. 28) 𝘈𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘣𝘶𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘬, 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘣𝘪𝘵, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘮𝘶𝘴𝘪𝘮 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘢𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘣𝘢.” (ay. 29) (TB II 2023).

Meskipun cerita perumpamaan di atas sangat singkat, amat kentara struktur cerita dua kegiatan aktif di awal dan di akhir mengapit kegiatan pasif di tengah cerita. Di awal cerita dikatakan bahwa penabur melakukan kegiatan aktif menabur benih dan di akhir cerita orang itu aktif menyabit. Di antara dua kegiatan itu disebutkan bahwa orang itu tidur dan bangun. Ia tidak memberi perlakuan apa pun terhadap benih yang ditabur. Ia tidak memahami pertumbuhan benih.

Teks di atas sama sekali tidak menyebut orang itu malas. Ia percaya tanah akan menumbuhkan benih yang ditabur. Ia tidak tahu prosesnya. Demikian halnya cara kerja Kerajaan Allah. Misterius. Misteri ini diperkuat dengan pemerian 𝘉𝘶𝘮𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 (𝘢𝘶𝘵𝘰𝘮𝘢𝘵𝘦̄) 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘢𝘩 (ay. 28a).

Frase 𝘈𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘣𝘶𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘬 (ay. 29a) secara literal diterjemahkan menjadi 𝘈𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘣𝘶𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘻𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 (𝘱𝘢𝘳𝘢𝘥𝘰𝘪). Teks ini hendak menyampaikan bahwa masa tuaian bukan ditentukan oleh perhitungan manusia, melainkan oleh buah itu sendiri. Menyabit dan musim tuaian merupakan kiasan khas untuk akhir zaman. Dalam Yoel 3:13a dikatakan “𝘈𝘺𝘶𝘯𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘣𝘪𝘵, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘵𝘶𝘢𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘬.” 

Namun, akhir zaman dalam perumpamaan ini berbeda dari nubuat Nabi Yoel di atas. Di sini kata 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘣𝘪𝘵 dan 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘢𝘪 memerikan sisi positif bahwa ada penyelamatan pada saat penyelesaian Kerajaan Allah. Perumpamaan ini memberi harapan kepada umat yang tak berdaya yang sudah menerima Kabar Baik.

𝗣𝗲𝗿𝘁𝘂𝗺𝗯𝘂𝗵𝗮𝗻 𝗯𝗶𝗷𝗶 𝘀𝗲𝘀𝗮𝘄𝗶 (ay. 30-32)

Kata-Nya lagi, “𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘯𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘮𝘣𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢? (ay. 30) 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 𝘣𝘪𝘫𝘪 𝘴𝘦𝘴𝘢𝘸𝘪 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘥𝘪𝘵𝘢𝘣𝘶𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩. 𝘉𝘪𝘫𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘫𝘦𝘯𝘪𝘴 𝘣𝘦𝘯𝘪𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘮𝘪. (𝘢𝘺. 31) 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘵𝘢𝘣𝘶𝘳𝘬𝘢𝘯, 𝘣𝘦𝘯𝘪𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘶𝘮𝘣𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘢𝘣𝘢𝘯𝘨-𝘤𝘢𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘯𝘨-𝘣𝘶𝘳𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘯𝘢𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.” (ay. 32) (TB II 2023)

Biji sesawi atau moster dengan ukuran 1 mm dan berat 1 mg dianggap sebagai biji terkecil. Kalimat pembuka penerjemahan TB 1974 dan TB 1997 lebih mengena “𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙣𝙙𝙞𝙣𝙜𝙠𝙖𝙣 (𝘩𝘰𝘮𝘰𝘪𝘰̄𝘴𝘰̄𝘮𝘦𝘯) 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 …” NRSV menerjemahkan dengan “𝘞𝘪𝘵𝘩 𝘸𝘩𝘢𝘵 𝘤𝘢𝘯 𝘸𝘦 𝘤𝘰𝘮𝘱𝘢𝘳𝘦 𝘵𝘩𝘦 𝘬𝘪𝘯𝘨𝘥𝘰𝘮 𝘰𝘧 𝘎𝘰𝘥 …” Kalimat pembuka itu tampaknya bertujuan (1) untuk mengajak pendengar atau pembaca untuk ikut berpikir dan (2) untuk membandingkan dengan mengontraskan kecil dan besar.

Biji sesawi yang amat kecil itu dikontraskan dengan saat ia sudah tumbuh. Pembandingan disangatkan lagi dengan keterangan 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘯𝘨-𝘣𝘶𝘳𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘯𝘢𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. Pendengar hendak diyakinkan bahwa Kerajaan Allah yang masih kecil ketika “ditanam” di bumi menjadi sangat besar pada akhir zaman. Kerajaan yang amat besar yang dikiaskan dengan tanaman sesawi yang tumbuh membesar akan menjadi tempat perlindungan bagi semua orang yang menyambutnya dengan iman seperti kiasan burung-burung bersarang di tanaman sesawi itu (bdk. Yeh. 17:23; 31:6, Dan. 4:12).

𝗞𝗲𝗮𝗺𝗽𝘂𝗵𝗮𝗻 𝗰𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮 (ay. 33-34)

Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan kemampauan mereka untuk mengerti, (ay. 33) dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri. (ay. 34) (TB II 2023)

Ayat 33 membuktikan keampuhan cerita. Para pendengar pengajaran Yesus, yang pada umumnya masyarakat pinggiran, akan sulit menangkap dan memahami sistematika ajaran agama. Meskipun dalam bentuknya yang terakhir di kitab-kitab Injil perumpamaan Yesus sudah dimodifikasi oleh para pengarang Injil, banyak ucapan Yesus-historis terekam di dalam perumpamaan karena orang lebih mudah mengingat sebuah cerita ketimbang ajaran dogmatis. Yesus adalah pencerita ulung.

Dalam banyak hal kita mengalami sendiri berkesulitan mengingat waktu suatu peristiwa (hari, tanggal), tetapi kita sangat mengingat momen. Kita masih dapat mengingat saat diusir oleh guru dari ruang kelas, meskipun sudah terjadi puluhan tahun yang lalu, tetapi kita sangat sulit mengingat hari dan tanggal peristiwa itu.

Ayat 34 merupakan penegasan dari pengarang Injil Markus bahwa Yesus sebenarnya tidak menjelaskan makna atau arti perumpamaan. Jemaat atau komunitas Kristen mula-mula yang memaknai cerita itu disesuaikan dengan pergumulan mereka.
(16062024)(T)

Sabtu, 08 Juni 2024

MENGENAL DAN MENYIKAPI LGBT, SESAMA KITA DARI PERSPEKTIF ETIKA KRISTEN, SERIAL SUDUT PANDANG

MENGENAL DAN MENYIKAPI LGBT,  SESAMA KITA DARI PERSPEKTIF ETIKA KRISTEN, SERIAL SUDUT PANDANG                                           .                          .                             
Penulis : Titus Roidanto D.min

Pengantar
TAFSIR ALKITAB SEHARUSNYA BERGERAK MAJU, KALAU DULU KUSTA DIANGGAP PENYAKIT AKIBAT KUTUK TOKH SEKARANG TAFSIR SUDAH BEDA KUSTA SAKIT KARENA VIRUS atau BAKTERI KUMAN. DEMIKIAN HAL NYA PERKARA TAFSIR BENTUK BUMI. ILMU PENGETAHUAN HARUSNYA BERJALAN BERIRING DENGAN TAFSIR ALKITAB. DEMIKIAN PULA PERKARA TAFSIR-TAFSIR LGBTQ. Pada tahun 1952, menurut APA (American Phychological Association) dan DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder) mengkategorikan homoseksual sebagai kelainan kejiwaan. Tetapi, pada tahun 1973 homoseksual tidak dikategorikan Iagi menjadi kelainan kejiwaan. Berdasarkan pernyataan WHO dan Human Right International bahwa "orientasi seksual LGBT" tidak Iagi dikatagorikan "sebagai penyakit, penyimpangan mental atau sebagai bentuk kejahatan. Perkembangan medis saat ini menyatakan Orientasi seksual dihipotesiskan berhubungan dengan paparan hormon seks, Oleh karena itu masuk akal bahwa perbedaan struktur otak dapat dijelaskan oleh efek target hormon seks pada thalamus, hipotalamus, dan hipokampus di otak. orientasi seksual dikaitkan dengan perubahan nyata dalam struktur otak dan bahwa efek ini bervariasi tergantung jenis kelamin biologis, orientasi seksual memiliki hubungan dg kondisi proposional dalam otak manusiaBelakangan ini, topik LGBT, secara nasional mau pun lokal di Kupang, NTT, dimana perwakilan Sinode Baptis Injili beralamat dan pusat STT Baptis Injili, telah muncul sebagai salah satu dari trending topics di dalam masyarakat. Tanggapan-tanggapan terhadapnya menunjukkan perbedaan, malah kontroversi, mungkin juga di antara kita, yang ada di sini. Maka, kita bersyukur bahwa Tuhan menganugerahkan bagi kita kesempatan berharga ini, agar kita, sebagai anak-anak Tuhan, bersama berupaya memahami dan menanggapinya, sebagai suatu keluarga Allah (GMIT: familia dei), secara jernih, arif, tentu dengan tetap taat dan dengar-dengaran kepada Allah, sang Pemilik kehidupan dan, karena itu, menghormati sesama, dan kehidupan milik-Nya.

Mengenal LGBT, saudara sesama kita

Kita perlu memulai pembahasan kita ini dari pengertian tentang orientasi seksual. Apa yang dimaksud dengan orientasi seksual adalah ketertarikan seseorang, secara emosional dan seksual, kepada jenis kelamin tertentu. Menurut Pusat Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), secara garis besar, orientasi seksual manusia dapat dibedakan atas: Heteroseksual, yaitu orang yang tertarik, secara emosional dan seksual, kepada seseorang dengan jenis-kelamin berbeda.Homoseksual, yaitu orang yang tertarik, secara emosional dan seksual, kepada seseorang yang berjenis-kelamin sama. Lesbian adalah istilah untuk homoseksual perempuan, dan gay adalah istilah untuk homoseksual laki-laki. Oleh karena itu, homoseksual ini disebut juga interseksual.Biseksual adalah suatu gangguan orientasi seksual yang ditandai dengan ketertarikan seksual, baik terhadap lawan jenis mau pun sesama jenis. Keadaan ini bisa terjadi pada siapa saja, termasuk seseorang (heteroseksual) yang sudah menikah. Umumnya, orang yang mengalami orientasi seksual biseksual, tidak ingin keadaan mereka diketahui. Teori biologi mempercayai bahwa orientasi seksual manusia dipengaruhi oleh faktor genetik atau faktor hormonal. Penelitian terakhir mengenai faktor biologis dalam pembentukan orientasi seksual dilakukan oleh Simon LeVay (Rice, 2002) yang menemukan adanya sekumpulan syaraf dalam hypothalamus laki-laki heteroseksual yang ukurannya tiga kali lebih besar dibandingkan dengan yang dimiliki oleh laki-laki homoseksual dan perempuan heteroseksual. Namun, hasil penelitian ini juga menimbulkan pertanyaan: apakah kumpulan syaraf yang lebih kecil itu yang menyebabkan seseorang menjadi homoseksual ataukah justru sebaliknya, kehomoseksualan seseorang yang menyebabkan ukurannya mengecil? Sebab penelitian lain menunjukkan adanya perubahan pada syaraf-syaraf ketika orangmerespon suatu pengalaman seksual. Hipotesis lain menyatakan mungkin ada faktor lain yang tidak diketahui yang menyebabkan baik itu homoseksualitas maupun perbedaan ukuran syaraf tersebut. Berbeda dengan teori biologis, teori psikologis hendak menerangkan faktor penyebab homoseksualitas bukan dari aspek fisiologis tapi psikologis. Namun, suatu penelitian dimaksud yang melibatkan 686 laki-laki homoseksual, 293 perempuan homoseksual, 337 laki-laki heteroseksual, dan 140 perempuan heteroseksual, tidak dapat menemukan pendukung yang kuat bagi teori-teori psikoanalisis, teori belajar sosial, atau teori sosiologis lainnya.Maka disimpulkan bahwa homoseksualitas pasti memiliki dasar penyebab biologis(belum pasti secara psikologis). Kesimpulan lainnya adalah bahwa belum ada yang mengetahui secara pasti faktor-faktor apakah yang menyebabkan adanya homoseksualitas (Rice, 2002). Kemudian, transjender. Sumber PKBI tadi, dan sumber-sumber lain, tidak memasukkan transjender sebagai orientasi seksual. Umumnya, tranjender didefinisikan sebagai ketidak-samaan identitas seksual seseorang terhadap jenis kelamin yang dimilikinya sendiri. Dalam PPDGJ (Pedoman Penggolongan Diagnosis Jiwa) III, yang dikeluarkan KEMENKES tahun 1993[5], tranjender dan transeksual ditempatkan dalam kategori gangguan identitas jenis kelamin, tapi bukan gangguan genetik atau kromosom seks. Maka, transjender dilihat bukan merupakan orientasi seksual, karena merupakan gangguan (disorientasi) identitas seksual. Sehingga, seorang transjender dapat saja mengidentifikasikan dirinya sebagai seorang heteroseksual, homoseksual, biseksual, atau pun aseksual (orang yang, sama sekali, tak memiliki dorongan alamiah seksual.

Beberapa pengalaman menyangkut kaum LGBT
Menurut informasi, sampai Februari 2016, ada 22 Negara yang sudah melegalkan perkawinan sejenis dalam sistem  hukum mereka, dimulai oleh Belanda pada tahun 1996 dan, belakangan, Amerika Serikat pada tahun 2015. Kebanyakan Negara-negara tersebut adalah dari Eropah dan Amerika serikat. Di Asia, baru ada 2 negara yang melakukan hal yang sama yakni Israel, pada tahun 2015, dan Vietnam tahun 2016. Kita juga mendengar, ada sejumlah gereja, di luar negeri, yang juga sudah meneguhkan pernikahan kaum homoseks. Bagaimana di Indonesia? Secara umum, terdapat resistensi yang kuat terhadap keberadaan kaum homoseks. Sumber tertentu menyebut di Indonesia, ada sekitar 1.095.970 orang kaum gay (2012) dengan 5%-nya pengidap HIV, meski pun badan PBB menyebut angka 3 juta orang (tahun 2011). Dari sumber yang sama, kita mendapat informasi bahwa KOMNAS HAM, dalam Rapat Plenonya, pada Juli 2013, hampir saja memberikan legalitas pada keorganisasian kaum LGBT ini namun, akhirnya, rapat itu memutuskan bahwa KOMNAS HAM tidak berwenang memutuskannya karena tidak mewakili seluruh rakyat Indonesia. Demikian pun pemerintah (Kemenkoinfo) mengajukan kepada Google untuk memblokir tiga aplikasi kaum LGBT.  Tetapi menariknya, di sisi lain, kita juga mendapat informasi mengenai adanya fenomena perkawinan sejenis di beberapa daerah di tanah-air. Misalnya, di Ubud, Bali, ada 2 pasangan yang melangsungkan perkawinan pada September 2015, secara tersembunyi, tetapi gambar-gambarnra terpublikasi di Padang (lesbian) pada 14 Februari 2016 tetapi dibatalkan oleh pihak KUA setempat dan di Wonosobo (gay) pada 14 Maret 2016. Di Wonosobo ini, menarik oleh karena meski digagalkan oleh pihak kepolisian (dinilai melanggar UU), tetapi orang-tua kedua pihak malah bersikeras untuk melanjutkan. Lebih menarik lagi, hal yang mungkin belum luas diketahui, yautu ternyata, jauh sebelumnya, kearifan budaya beberapa suku tertentu kita di Indonesia telah mengakomodasi keberadaan kaum homoseksual ini. Misalnya, figur bissu dalam suku Bajo di Sulawesi Selatan; warok dan gendhakdi Jawa Timur; dan budaya Randai di Sumatera Barat. Untuk kepentingan perkembangan ke depan, tentu kearifan-kearifan budaya inklusif seperti ini perlu mendapat perhatian lebih jauh.

Permasalahan: antara orientasi seksual dan perilaku seksual

Walau kita mendapati bahwa ketika masyarakat berbicara tentang LGBT, di dalam percakapan sehari-hari, definisinya menjadi sederhana saja yakni mencakupi orang atau sekelompok orang dengan orientasi homoseksual saja, namun, sesuai definisi tadi, ia mencakup suatu komunitas dengan karakterisitik yang tidak sederhana, lebih kompleks. Apalagi, pemahaman sederhana sehari-hari masyarakat itu, tidak jarang, disertai dengan cerita-cerita buruk menyangkut kaum ini. Akibatnya, bisa tanpa disadari, membawa persepsi masyarakat terperangkap prasangka, malah mungkin buruk-sangka. Penilaian bias inilah yang biasanya menguasai persepsi orang sehingga kaum ini, umumnya, mendapat stigma negatif. Akibatnya mereka, umumnya, menyembunyikan keadaan mereka yang sebenarnya, dan mungkin sekali menanggung diskriminasi, sepanjang hayatya. Ada anggapan bahwa homoseksual adalah suatu perilaku seksual menyimpang. Namun lembaga The American Psychiatric Association (APA) dan World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa homoseksualitas tidak termasuk dalam daftar penyakit psikologis. Begitu juga buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa Edisi II (PPDGJ II), yang diterbitkan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, pada tahun 1983, menyebutkan bahwa orientasi homoseksual, sebagaimana orientasi seksual lainnya, bukanlah suatu gangguan. Dengan demikian, untuk berlaku jujur, kita patut membedakan antara orientasi seksual seseorang dan perilaku seksualnya. Sebab, kita tentu menyadari bahwa memiliki orientasi seksual (jenis kelamin) tertentu, apa pun jenisnya, heteroseksual, homoseksual, atau biseksual, tidaklah serta-merta membuat orang yang bersangkutan menjadi tidak etis, tidak bermoral. Oleh karena, memiliki jenis kelamin dengan orientasi seksual tertentu, secara alamih (kodrati), memang berada di luar kehendak si-pemiliknya. Menyandang jenis kelamin dan orientasi seksual tertentu, bukanlah pilihan dari si-pemiliknya. Sehingga dari si-pemiliknya, tentu, tidak bisa dituntut tanggung-jawabnya, secara etis dan  moral, atas kepemilikan jenis kelamin dan orientasi seksualnya itu. Apa yang, sesungguhnya, tidak etis, tidak bermoral, adalah penyimpangan atas pemanfaatan alat dan jenis kelaminnya itu, misalnya, secara hedonis semata. Dan, penyimpangan seksual ini, bisa saja dilakukan, entah oleh orang LGBT mau pun yang non LGBT (heteroseksual). Maka, dalam hal ini, apa yang tidak etis, tidak bermoral adalah perilaku seksual yang menyimpang, bukanlah orientasi seksual itu sendiri. Maka, menyangkut integritas moral seksual seseorang, apa yang dapat dituntut adalah perilaku seksual seseorang, bukan orientasi seksualnya. Maka, secara gerejawi, khususnya terkait dengan gangguan seksual, baik genetik, anatomik, atau pun sosial, tentu diperlukan pengenalan yang tepat yang menjadi dasar dari sikap serta kepedulian untuk pendampingan pastoral terhadap saudara-saudara sesama kita ini.

Tanggapan etis-teologis
Bagaimanakah tanggapan etis-teologis terhadap keberadaan kaum LGBT? 

Untuk maksud ini, pembahasan akan memperhatikan tiga hal: makna etis-teologis seksual dalam kisah Penciptaan Perjanjian Lama; penyimpangan makna seksual; dan gangguan seksual.

a. Makna seksualitas dalam kisah Penciptaan (Kej. 1-2): Persekutuan keluarga
Perjanjian Lama. Bagaimanakah sesungguhnya maksud Allah, sang Pencipta, ketika Ia menciptakan manusia-manusia pertama dengan jenis-kelamin berbeda itu. Pertama, baik pasal 1:1-2:4a (sumber Priest), mau pun pasal 2:4b-25 (sumber Jahwist), menunjukkan bahwa ketika mencipta, sang Pencipta menciptakan lebih dahulu segala sesuatu, sebelum menciptakan manusia, yakni: benda-benda langit, tumbuhan, binatang di darat, di laut, di udara. Baru kemudian, untuk mengatur dan menata semuanya itulah, sang Pencipta menciptakan manusia. Kita baca ayat, yang sudah sangat kita kenal (Kej. 1: 26): “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas …” segala yang telah Allah ciptakan itu. Itu berarti Allah, sesudah mencipta, menganugerahkan kemampuan (kuasa) bagi manusia agar manusia mampu menjadi penatalayan-Nya. Istilah Ibrani, seperti yang dikenakan pada Yusuf dalam Kej. 43, 44: haish asher al: orang yang berwenang/berkuasa atas …, atau asher al bayit = orang yang berwenang/berkuasa atas urusan kerumah-tanggan.[14] Dalam arti yang sama, kata Yunani memaknai oikonomos = penatalayan, yakni orang yang mengatur dan menata rumah-tangga.[15] Dalam hubungan dengan Kej. 1 dan 2, Allah memberi tanggung-jawab kepada manusia (ingat: makna pemberian nama: Kej. 2:19, 20) untuk menata ciptaan-Nya, alam semesta dan segenap isinya, sebagai suatu rumah-tangga Allah (Kej. 1:28; 2:15). Untuk itu maka Allah menganugerahkan pada manusia suatu eksistensi yang istimewa, dibanding semua makhluk lainnya, yakni sebagai “gambar” (Ibr. tselem) dan rupa (Ibr. demut) Allah sendiri (ay. 26, 27) agar manusia, berpadanan dengan kedudukannya sebagai gambar dan rupa Allah (Lat. imago dei) itu, mampu menata-layani alam semesta dan kehidupan di bumi, ciptaan Allah itu, begitu rupa, agar tetap teratur dan tertata dengan “baik” (ay. 3,10,12,18,25), malah “amat baik” (ay. 31), seperti ketika Allah sendiri menciptakannya. Kedua, dalam rangka menjalankan tanggung-jawab manusia sebagai penatalayan (oikonomos) Allah itu, sang Pencipta, serentak, menciptakan manusia di dalam suatu ikatan persekutuan: persektuan-keluarga, yang terdiri dari dua individu berbeda jenis-kelaminnya, laki-laki dan perempuan (ay.27), tetapi yang terpadu satu (mono-dualis), sepadan, setara; berbeda tetapi tidak terpisahkan, bekerja-sama, saling menolong, saling melengkapi, ya, komplementer. Tentu, kekuatan persekutuan demikian inilah yang diperlukan untuk melaksanakan tanggung-jawab yang Allah berikan tadi. Persekutuan mono-dualis manusia ini tercermin pula dalam nama manusia pertama yakni “Adam”. Lempp mencatat bahwa nama ini adalah istilah kolektif, bukan nama diri tapi kesatuan manusia[16]. Makna komplementer inilah yang memikul tanggung-jawab penatalayanan (oikonomia) tadi. Persekutuan dua manusia (keluarga) yang berbeda tapi komplementer inilah yang menjadi dasar dari persekutuan sosial manusia, secara universal. Artinya, penciptaan persekutuan manusia (mono-dualis) komplementer oleh sang pencipta ini, menjadikannya sebagai basis dari persekutuan manusia universal. Persekutuan keluarga menjadi basis dari persekutuan manusia, si-penatalayan (oikonomos) Allah itu, dengan tugas memerintah bumi itu (Kej. 1: 28). Apa artinya ini? Dalam kisah Penciptaan tadi, ke-jenis-kelaminan manusia tidak mempunyai tujuan dalam dirinya sendiri, terpisah, kecuali di dalam persekutuan mereka guna bersama mengemban tugas dan tanggung-jawab menatalayani alam semesta dan kehidupan, sehingga membawa kebaikan dalam kehidupan, sesuai kehendak sang Pencipta. Maka, pada kisah Penciptaan tadi, kita menemukan dua maksud terpadu dari sang Pencipta ketika Ia menciptakan manusia. Pertama, penganugerahan jenis kelamin berbeda, sejak semula itu (Kej. 1:26-28), tidak hanya untuk maksud seksual dan reproduktif saja – walau tentu itu juga – tetapi serentak, kedua, untuk maksud persekutuan mereka di dalam keintiman cinta-kasih yang mendalam sebagai partner (Kej. 2:18-25) yang komplementer, untuk bersama memikul tugas sebagai oikonomos Allah, menata bumi, berdasarkan cinta-kasih Allah itu. Atas dasar kedua maksud dari sang Pencipta itulah, relasi seksual antara jenis kelamin berbeda ini digambarkan sebagai komplementer (Kej. 2: 18, 21-24). Sehingga hubungan seks antara Adam dan Hawa dijelaskan dengan ungkapan (Kej. 4:1): “Kemudian bersetubuhlah manusia itu dengan Hawa isterinya” [Ibr.: ha adam yada’ et hawa isto …]. Makna kata yada’ di sini adalah mengenal dengan sangat mendalam. Bahwa keintiman kedua manusia ini bukan sekedar suatu hubungan seksual-fisikal belaka tetapi suatu ikatan persekutuan mendalam, lahir dan batin. Akibatnya, makna hubungan antara dua jenis kelamin berbeda ini tidak boleh direduksi menjadi hanya hubungan seksual belaka, sebab itu berarti menghilangkan makna mendalam yada’ tadi. Dengan ungkapan yang lain, maksud dari sang Pencipta menjadikan persekutuan kedua jenis kelamin berbeda inidigambarkan sebagai “satu daging” (Kej. 2:24). Mereka saling melengkapi, saling membutuhkan, membentuk suatu persekutuan, sehingga, tanpa yang satu, yang lainnya tidaklah lengkap. Untuk itu, keduanya diciptakan sepadan, setara, di hadapan Allah. Sebab hanya dengan demikianlah, mereka bisa hidup dalam persekutuan yang saling melengkapi, sesuai yang Allah kehendaki, untuk tugasdan tanggung-jawab sebagai penatalayan Allah. Perjanjian Baru. Terkait topik tersebut, kita perlu juga memperhatikan apa yang rasul Paulus sampaikan dalam I Kor. 6:1-20, dan 7:1-40, oleh karena kedua nats ini, memang, menyangkut masalah-masalah seksual. Inti pokok dari nasihat sang Rasul di sini ialah bahwa oleh karena mengingat waktu kedatangan Tuhan (parusia) telah singkat (ayat 26, 29) maka jemaat di Korintus harus memelihara hidup yang benar dan kudus di hadapan Allah, termasuk kekudusan hidup seksual dan perkawinan mereka, baik orang muda mau pun orang tua; yang belum dan yang sudah kawin, agar hidup mereka dapat berkenan kepada Allah (ayat 29-35). Demikianlah, dalam pasal 6 Paulus menegaskan bahwa hanya orang-orang yang memelihara hidup yang benar dan kudus itulah yang kelak “..mendapat bagian dalam Kerajaan Allah” (6:9). Oleh karena itu Paulus menyerang praktek-praktek penyimpangan seksual yang, di kala itu, biasa dilakukan dalam penyembahan berhala orang kafir, termasuk oleh orang-orang dengan orientasi homoseksual (ayat 9-b: “pemburit” = homoseks). Alasan Paulus ialah bahwa di dalam Kerajaan Allah, tubuh adalah “bait Roh Kudus” (ayat 19). Sehingga jelas, apa yang hendak dilawan oleh sang Rasul, di sini, adalah musuh Kerajaan Allah, yakni praktek penyembahan berhala dan, tentu, semua praktek seksual menyimpang yang, biasa menyertainya. Maka jelas bahwa, apa yang dihukum di sini adalah praktek-praktek penyimpangan seksualnya, sebagai bagian dari penyembahan berhala yang dilawan itu, bukan orientasi seksualnya sendiri. Malah menurut rasul Paulus, di dalam Kerajaan Allah: “tidak ada laki atau perempuan…”, maksudnya, semua jenis kelamin berbeda itu sama berharga di hadapan-Nya; mereka sama sebagai yang “… telah dikuduskan dan dibenarkan dalam Yesus Kristus” (6:11); malah sama dipersekutukan di dalam Yesus Kristus (Gal. 3:28).

b.  Penyimpangan seksual
Dari perspektif etis Alkitabiah tadi maka, suatu perilaku seksual disebut menyimpang apabila tidak bersesuaian dengan maksud Allah dalam Penciptaan, ketika Ia menciptakan manusia. Bertolak dari norma maksud Allah ini maka, secara etis-teologis, penyimpangan seksual — oleh manusia dengan orientasi seksual yang mana pun – terjadi bila seks dipisahkan dari, malah, merusak ikatan persekutuan keluarga; terjadi bila seks mengorbankan tugas penata-layanan keluarga, masyarakat, bahkan kehidupan, yang Allah percayakan kepada manusia, bagi kebaikan kehidupan di bumi. Misalnya, seks dimanfaatkan hanya untuk kenikmatan dengan mengumbar hawa nafsu hedonistis, sehingga mengakibatkan berbagai kejahatan, misalnya perselingkuhan, perzinahan, pelacuran, kekerasan seksual, seperti pemerkosaan, baik terhadap orang dewasa mau pun anak-anak (pedofilia), dlsb. Padahal, menurut rasul Paulus, manusia beriman patut memelihara kekudusan hidup seksualnya. Hanya kalau seks dipakai, sesuai maksud sang Pencipta, yakni sebagai penguatan ikatan persekutuan keluarga, bahkan persekutuan masyarakat manusia, guna menjawab tugas panggilan dan tanggung-jawab manusia menata-layani kehidupan, maka makna seks telah sesuai dengan maksud Allah, sebagaimana dalam Penciptaan. Demikianlah, sesuai konteks dan motivasi teologis tiap-tiap kitab dalam Alkitab, kita temukan dalam sejumlah teks Alkitab bagaimana perilaku seksual tertentu dikecam karena dipandang telah menyimpang dari maksud Allah, malah melawan Allah. Misalnya, Ul. 23:17-18 yaitu penyimpangan seksual terkait agama Baal; Roma 1:23-32 penyimpangan seksual terkait berhala bangsa Romawi; Kej. 19:5-11, penyimpangan seksual yang terkait dengan  kebencian orang Sodom terhadap bangsa lain/asing (lih. Yehez. 16:49-50.

c.  Gangguan seksual
Dengan demikian, secara etis teologis, kita tentu perlu membedakan antara penyimpangan seksual dan gangguan seksual. Pelaku penyimpangan seksual, dengan orientasi seksual mana pun, wajib bertanggung-jawab terhadap perilakunya. Perilaku menyimpang yang tentu dilakukannya secara sadar dan sengaja. Oleh karena itu, darinya patut dituntut tanggung-jawab etis dan moral. Tetapi dari penyandang gangguan seksual, dengan orientasi seksual mana pun, entah permanen atau pun temporal, tidak dapat dituntut tanggung-jawab serupa oleh karena gangguan seksual itu, sama sekali, bukanlah pilihannya, secara sadar dan sengaja. Bahkan, keadaan gangguan itu di luar kemauannya. Seorang penyandang impotensia (heteroseksual), misalnya, tidak mungkin dimintakan tanggung-jawab etis dan moral atas gangguan itu. Ia, malah, perlu mendapat perhatian. Demikian juga gangguan bagi seorang homoseksual, dan biseksual. Berbeda dengan itu, seorang penyandang transjender, sesungguhnya, mengalami gangguan berlapis yakni baik internal (karena gangguan seksualnya itu), mau pun eksternal, berupa tekanan psiko-sosial yang dialaminya dari lingkungannya. Akan lebih ringan beban gangguan itu, kalau saja orang yang bersangkutan bisa menerima keadaannya itu (egosintonik); tetapi kalau yang bersangkutan tidak bisa menerima (denial) keadaannya itu (egodistonik), dan juga tidak bisa merubahnya, tentu beban gangguannya akan jauh lebih berat. Penolakan, baik dari masyarakat mau pun dari diri sendiri ini, bisa melahirkan tindakan bunuh diri. Pelayanan pastoral gereja, tentu, patut memperhatikan dengan sungguh akan hal ini.

Menyikapi LGBT, saudara sesama kita: Pendampingan pastoral

Konsekuensi dari dasar-dasar teologis Alkitabiah tadi, setidaknya, menegaskan tiga hal. Pertama, pentingnya kita memelihara nilai dan sikap emansipatif, tidak diskriminatif secara seksual, oleh karena setiap manusia, apa pun orientasi seksualnya, sama berharganya, sebagai gambar Allah, sang Pencipta. Kedua, oleh karena seks adalah pemberian Allah maka manusia patut memelihara kekudusan hidup seksualnya guna memperkuat ikatan persekutuan perkawinan, persekutuan manusia berkeluarga, dan persekutuan manusia laki-laki dan perempuan pada umumnya, yang, pada akhirnya, akan menyumbang bagi persektuan manusia, secara universal. Ketiga, adalah menjadi tugas dan tanggung-jawab gereja untuk memberi perhatian pada siapa saja yang mengalami kesulitan, termasuk sesama saudara kita kaum LGBT, bukan saja agar mereka tidak mengalami diskriminasi, tetapi terlebih lagi mampu memperkuat persekutuan keluarga, sebagai basis gereja dan masyarakat, sehingga mampu ikut berperan menata-layani keluarga, masyarakat, dan lingkungan sosial. Pendampingan pastoral gereja ini, tentu perlu disesuaikan dengan kondisi setiap orang dan keluarga yang bersangkutan: Bagi keluarga Kristen, umumnya: agar mampu memperkuat ikatan persekutuan keluarga, yang bertanggung-jawab menatalayani keluarga, masyarakat, dan lingkungan hidup.Bagi mereka yang melakukan penyimpangan seksual: untuk bertobat dan kembali memelihara kekudusan seksual dan perkawinan dalam persekutuan keluarga dan masyarakat, sehingga mampu menjadi berkat bagi sesama, dan kehidupan.Bagi mereka yang mengalami gangguan seksual: bukan saja agar tidak mengalami diskriminasi seksual tetapi juga agar mampu keluar dari tekanan psikologis (dan teologis) yang dialami, untuk bisa menjalani hidup yang bermakna, serta menjadi berkat. Roh Tuhan kiranya menuntun pelayanan gereja, pelayanan kita dan keluarga kita, di Tahun yang baru, 2017, dan tahun-tahun di depan, dengan penuh harapan.
(TUS)(18112016)

Baca juga :
https://titusroidanto.blogspot.com/2023/10/mengapa-penduduk-sodom-begitu-terancam.html

https://titusroidanto.blogspot.com/2023/09/homoseksualitas-dan-gereja-baptis.html

https://titusroidanto.blogspot.com/2024/08/memanusiakan-manusia-lgbtq-serial-sudut.html


https://titusroidanto.blogspot.com/2024/08/berpikir-positif-tentang-lgbtq-serial.html

Jumat, 07 Juni 2024

𝙔𝙖𝙠𝙪𝙗 𝙙𝙖𝙣 𝙀𝙨𝙖𝙪, 𝙨𝙚𝙗𝙪𝙖𝙝 𝙈𝙞𝙨𝙩𝙚𝙧𝙞 𝙞𝙡𝙖𝙝𝙞, Serial Sudut Pandang

𝙔𝙖𝙠𝙪𝙗 𝙙𝙖𝙣 𝙀𝙨𝙖𝙪, 𝙨𝙚𝙗𝙪𝙖𝙝 𝙈𝙞𝙨𝙩𝙚𝙧𝙞 𝙞𝙡𝙖𝙝𝙞, Serial Sudut Pandang

𝗣𝗿𝗼𝗹𝗼𝗴  
Jenderal Roma Titus Flavius Vespasianus,
yang menyerang Yahudi pada tahun 70 M, membuyarkan sistem penganut Torah. Torah yang digagas Yahweh menjelma menjadi momok kerajaan maut, tak ada keselamatan baginya. Penaklukan ini adalah  pembantaian besar-besaran penduduk Yahudi dan pembuangan banyak tahanan Yahudi ke seluruh penjuru Kekaisaran Romawi, termasuk penjualan banyak tahanan sebagai budak. Banyak dari tahanan ini juga digunakan untuk membangun infrastruktur Romawi dan sebagai hiburan di arena gladiator. 

𝙇𝙪𝙠 13:34
Sebelumnya YEsus berupaya hendak menyelamatkan Israel milikNya, bagai induk ayam yang rindu ingin mengumpulkan anak2nya dibawah sayapnya, tapi mereka tidak mau. 

Pertanyaan-pertanyaan yang harus di jawab:
𝘔𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢 𝘐𝘴𝘳𝘢𝘦𝘭 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 ?
𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘠𝘈𝘏𝘸𝘦𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘐𝘴𝘳𝘢𝘦𝘭 ?
𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘪𝘴𝘵𝘦𝘮 𝘠𝘢𝘩𝘸𝘦𝘩 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘪 ?
𝘋𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢?

Flash back. .
𝗠𝗶𝘀𝘁𝗲𝗿𝗶 40 𝘁𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗱𝗶 𝗣𝗮𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗴𝘂𝗿𝘂𝗻:
mengapa Israel (Generasi Musa) dgn sumpah --Yos 5:6-7. dimusnahkan YAHweh?.

𝘔𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢 𝘐𝘴𝘳𝘢𝘦𝘭 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 ?
Nama "Isra'EL" epitet El dibelakang nama yg artinya "umat milik EL" (YEsus preeksistensi) 

Atribut2 El digunakan secara luas untuk merujuk kepada Allah Israel, seperti dalam El Elohe-Israel (bukan Isra'Yah). Dalam kasus ini, istilah Isra"El" secara jelas mengacu pada tidak diberikan kepada Yahweh. El, inilah yg   dikenal oleh suku-suku awal Israel dalam penyembahan mereka di masa perbudakan Mesir – bukan Yahweh nama yg baru akan diperkenalkan Musa. Nah, suku awal Isra'EL inilah yang dimusnahkan di Padang gurun.

"𝗘𝗟"-𝗦𝗵𝗮𝗱𝗱𝗮𝘆 (Kel. 6:2, Kej.17:1). 
Teks ini menunjukkan agama para Patriak dengan EL sebagai Allah-nya  telah ‘mendahului’ sebelum mengalami pergantian atau kepenuhannya dalam agama Yahwistik Israel. Sejak di mulai zaman Musa.

Gelar El pun digunakan Yahweh untuk  menyatakan dirinya sebagai Allah bagi para patriark dalam Keluaran 6:2-3, menempelkan  dirinya dengan epitet "El" yang dihubungkan kepadanya dalam ayat tersebut, meskipun sebelumnya dia hanya menunjukkan dirinya sebagai Allah (El Shadday) bagi Abraham, Isak, dan Yakub. [Metafora Yakub menyamar sebagai Esau mendustai Ishak Ayahnya]

Kredo bahwa Yahweh pernah membuat ikatan perjanjian dgn Israel (personal covenant) ini menjadi poros utama hadirnya Israel sebagai umat dan selanjutnya sebagai bangsa.  
Umat ini mulai terikat oleh perjanjian Torah di gunung Sinai yg digagas Yahweh sejak zaman Musa.

𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘠𝘈𝘏𝘸𝘦𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘐𝘴𝘳𝘢𝘦𝘭 ?

Kajian kitab Ulangan secara luas; sebagai contoh Ulangan 4:19-20 yang paralel dengan Ulangan 32:8-9, kita menemukan informasi mengenai Yahweh ‘mengambil’ Israel sebagai
miliki pusakanya (lihat Ul. 9:26, 29; 29:25).
akan lebih konsisten apabila menafsir “Yahweh mengambil Israel bagi dirinya melalui tindakan merebut.
(𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘠𝘢𝘬𝘶𝘣, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘒𝘦𝘴𝘶𝘭𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘨 𝘴𝘦𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘯𝘢𝘵𝘶𝘳𝘦 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘴𝘢𝘩 𝘌𝘴𝘢𝘶). Baca Kej bab 25 dan 27 

Sebelumnya Yahweh tidak terkenal dalam kepenulisan Elohis (E) dan Priest (P) yang dibuktikan dengan banyaknya epitet nama orang yang menggunakan atribut EL; jumlah ini diperkirakan sangat banyak sebelum Musa memperkenalkan Yahweh sebagai Allah Israel dalam peristiwa Keluaran. Setelah Yahweh muncul dan diperkenalkan sebagai pembebas Israel, barulah kita melihat muncul banyak sekali nama orang Israel yang memiliki teoforik Yahweh; dan bahkan jumlah tersebut meningkat secara drastis dgn di proklamirkan Yahweh monoteis sebagai Allah nasional pada dinasti Daud.

Menyikapi Yahweh di PL, tepatnya adalah Yahweh of the armies or Yahweh of Hosts
(Yahweh bala tentara atau Yahweh Tuan Rumah). 
Ia bukan saja penguasa dunia semata, namun penguasa surga 'sb’hsmym' dimana para ilum yang ada (sepertiga) mal'akh oposan wajib ikut berperang disisinya. 

Korelasi dengan extra biblika/ di luar Alkitab
Dalam 𝙄𝙣𝙨𝙠𝙧𝙞𝙥𝙨𝙞 𝙆𝙪𝙣𝙩𝙞𝙡𝙡𝙚𝙩 𝘼𝙟𝙧𝙪𝙙:
Menurut Smith, pada tahap ini El dianggap sebagai kepala panteon, sementara Yahweh dan Ba'al bersaing untuk memegang posisi kedua dalam panteon Kanaan. Tetapi seiring berjalannya waktu, Yahweh akhirnya muncul sebagai kepala panteon yang menggantikan El ayahnya. 
Dari mana kita dapat informasi bahwa Yahweh anak El ? Penemuan arkeologi,

𝘼𝙧𝙩𝙚𝙛𝙖𝙠 𝙍𝙖𝙨 𝙎𝙝𝙖𝙢𝙧𝙖:
YAHweh anak El terdapat dalam KTU.1.1 IV 14 yang berbunyi; sm.bny.yw.ilt (nama dari anak Tuhan, Yahweh)
Teks ini menyatakan bahwa Yahweh adalah anak "El yang menjadi bagian dari panteon "El di Ugarit.

Dalam upaya eksklusivisme Yahweh oleh para nabi Pembuangan dan pasca-Pembuangan, teks tersebut disunting dari frasa "anak-anak Elohim" menjadi "anak-anak Israel" oleh Redaktur Yahwis. Nampaknya, mereka bermaksud mengidentifikasi Ha-El (Yesus) dan Yahweh dengan menambahkan 'Yahweh' pada komponen El, seperti El Elyon menjadi Yahweh El Elyon {TUHAN Allah} (Keja 14:22) atau 'Adonai Yahweh' {Tuhan ALLAH} (Keja-dian 15:2). Konsep ini kemudian menjadi ciri khas dalam teks Masoret.

"𝗘𝗹" 𝗻𝗮𝗺𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗬𝗘𝘀𝘂𝘀,,
YEsus berupaya membatalkan perjanjian YAHweh untuk menebus kembali Isra'El umat milikNya dengan darah yg sangat mahal itu dengan hadir sebagai Anak Manusia, mencari bagai induk ayam. YEsus ingin mengumpul-kan anak2nya yg hilang ternyata Israel tidak mau. Matius 23:37
Terbukti dgn Shema.. hanya YHWH satu2nya yg harus di sembah. pernyataan anak Allah dianggap gagasan yg menghujat, maka terjadilah tragedi penyaliban yg dilambangkan peremukan (Tumit) itu. Kej 3:15 YEsus pun disingkirkan. Sungguh tragis EL yg inkarnasi hadir dlm wujud Manusia YEsus melihat umat milikNya Israel turunan Generasi Yosua sdh terlalu jauh tersesat oleh perjanjian Yahweh. 

KESIMPULAN :
"El" (EH'YEH/YEsus) versus YAH'weh (YHWH) adalah 2(dua) sosok ilahi sembahan yg berbeda. Tidak identik, bukan antara anak dan bapak, tapi antara "Kita" yang baik dan si jahat. (Kejadian 3:22)

𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘪𝘴𝘵𝘦𝘮 𝘠𝘢𝘩𝘸𝘦𝘩 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘪 ?

2 (dua) Tokoh Ilahi cerita AlKitab. dlm tiphologi permusuhan berdarah:
1️⃣ Yesus benih yg diremukkan Tumitnya.
      sudah tergenapi di tiang Salip.
2️⃣ YAHweh (Nama diri) dlm rupa sifat IBLIS.
      Ular tua yg kelak akan diremukkan            KepalaNya untuk menggenapi Kej 3:15.
      Untuk mengakhiri sistem Yahudi (Yahweh)
   
𝗞𝗘𝗦𝗜𝗠𝗣𝗨𝗟𝗔𝗡: 
EL (Yesus pra manusia) berperan sbg pelayan untuk melayani YAHWEH bekerja melawan tujuan Israel keluar dari Mesir, dgn kuasaNya membelah, menenggelamkan kereta pasukan tentara Mesir di laut merah (lihat gambar). YHWH yg hanya memiliki kemampuan sihir ularnya 🐍 dan wabah sampar, terkesan Tokoh Pahlawan bekerja menuju tujuan utama cerita pembebasan Mesir. Sungguh kisah yg terbalik. itulah sulitnya mempelajari kitab Ibrani. tidak bisa membedakan ke Dua Tokoh Ilahi ini, akan selalu rancu dan ambigu. 
Ketidakselarasan dalam gambaran tersebut disebabkan oleh sejarah dan variasi warna teks-teks biblika yang sangat dipengaruhi oleh tujuan dari para redaktur (R) dan editornya. Bergantung hanya pada teks Ibrani, para penafsir tidak akan sepenuhnya memahami perkembangan agama Israel. Oleh karena itu, menggabungkan (menghubungkan) teks dengan artefak harus menjadi bagian integral dari semua upaya penelitian terhadap teks-teks kuno Israel.

𝗣𝗘𝗟𝗔𝗝𝗔𝗥𝗔𝗡𝗡𝗬𝗔: 
Ketidakkonsistenan pemahaman terhadap Yahweh dan El di antara masyarakat Kristen saat ini mencakup gerakan seperti 'kembali kepada nama Yahweh' yang diinisiasi oleh beberapa individu dalam gereja Tuhan, terutama kelompok JWORG (Saksi-saksi Yehovah) yang mungkin tidak sepenuhnya memahami makna di balik peristiwa misterius 40 tahun di Padang Gurun dan akhir dari sistem Yahweh pada tahun 70 Masehi.

Selama 1878 sejak tahun 70M Yahudi menjadi pengungsi Yahweh tidak sanggup menolong.  Hanya nama YEsus Tuhan penebus  satu2nya nama yg menyelamatkan.
Menurut perkiraan terkini, jumlah umat Kristen di dunia berada sekitar 2.3 miliar orang, oleh karena nama YEsus.

Namun sangat disayangkan jumlah ini tidak semua memahami siapa sejatinya YAHweh. Selagi mereka menempelkan nama itu "YAHweh" sebagai Allah tertinggi, itu sama artinya dengan anti Kristus, menginjak-injak martabat YEsus terbatas hanya (a)llah/ suatu ilah, terutama tidak mengkuduskan nama Bapa, Nama akun YHVH yang dipakai si Iblis. Bandingkan (Why 3:12 ; 19:12)

Mengacu tahun SM (PL) masih diperkenan menyebut nama YAHweh sebagai Allah bagi Israel (sebagai tuan rumah) Ingat2lah tahun 70M!!. Dari sejak  lahir dan kematian Mesias, nama itu sudah tidak ada hubungan lagi dgn perhambaan YEsus, sebab Dia bukan Bos PL yg harus dilayani (Eh'Yeh) YEsus lagi, 
".... 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘥𝘢." (Kej 25:23d)
Yahweh anak yang muda, bukan yg sulung.
Dia bukan pula BapaNya yang Tuhan YEsus maksud "Bapa kami yang sorga" saat kita hendak berdoa. Mat 6:9

======================
Ditulis oleh: 
Titus Roidanto 
Terinspirasi oleh drama keluarga Ishak.
Temuan blue print harta karun rohani di Kejadian bab 25 dan 27.

SUDUT PANDANG MARKUS 3: 20-35, 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝘄𝗮𝗿𝗮𝘀

SUDUT PANDANG MARKUS 3: 20-35, 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝘄𝗮𝗿𝗮𝘀

Dalam Injil Lukas 3 Bunda Maria dan Yesus penuh kasih sayang. Maria juga diperikan sebagai murid sekaligus ibu teladan. Hal ini dapat kita lihat dalam episode pemberitaan kelahiran Yesus oleh malaikat Gabriel kepada Maria, kelahiran, dan masa remaja Yesus. Dalam Injil Markus hubungan Yesus dan Maria beserta keluarga-Nya tegang. Mereka belum termasuk orang percaya, bahkan mereka menyebut Yesus tidak waras.

Bacaan ekumenis diambil dari Injil Markus 3:20-35

Bacaan Injil Markus Minggu lalu ditutup dengan ketegangan tinggi di Galilea. Selanjutnya konflik berkobar dan meluas. Bukan saja dengan pemimpin lokal Yahudi di Galilea, sekarang dengan pemimpin agama yang datang dari Yerusalem dan keluarga Yesus dari Nazaret.

LAI menjadikan bacaan Minggu ini dua perikop: 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘉𝘦’𝘦𝘭𝘻𝘦𝘣𝘶𝘭 (Mrk. 3:20-30) dan 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘕𝘺𝘢 (Mrk. 3:31-35). Secara narasi sebenarnya satu topik, yaitu mengenai suasana hubungan Yesus dengan sanak saudara-Nya, yang mereka datang dari Nazaret ke Kapernaum. Untuk mengisi kekosongan narasi selama perjalanan keluarga Yesus dari Nazaret ke Kapernaum Markus memasukkan kisah perdebatan Yesus dengan ahli-ahli Taurat mengenai kuasa yang digunakan Yesus. Keberangkatan keluarga Yesus dari Nazaret dan kedatangan mereka di Kapernaum mengapit kisah konflik Yesus dengan ahli-ahli Taurat. Apabila kita membuat pembagian kerangka cerita akan menjadi lebih jelas.

🛑 Sikap keluarga Yesus terhadap Yesus (ay. 20-21)
🛑 Konflik Yesus dengan ahli-ahli Taurat (ay. 22-30)
🛑 Keluarga sejati Yesus (ay. 31-35)

𝗦𝗶𝗸𝗮𝗽 𝗸𝗲𝗹𝘂𝗮𝗿𝗴𝗮 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝘁𝗲𝗿𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 (ay. 20-21)

Ayat 20a sebagai pembuka kisah saya tampilkan dalam tiga versi Terjemahan Baru LAI.
▶️ Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. (TB 1974)
▶️ Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. (TB II 1997)
▶️ Yesus pulang ke rumah. (TB II 2023)

Penerjemahan dari TB II 2023 membingungkan. Kata 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 berkonotasi bahwa Yesus kembali ke rumah milik-Nya di Kapernaum. Dalam teks Injil Markus tidak ada petunjuk eksplisit bahwa Yesus memiliki rumah. Apabila kita hubungkan dengan teks sebelumnya (Mrk. 1:29), rumah itu milik Simon dan Andreas. Yesus dikenal sebagai orang Nazaret. Pada ayat 21 kita akan berjumpa dengan keluarga Yesus yang hendak memulangkan-Nya ke Nazaret. Secara implisit rumah Yesus di Nazaret, bukan di Kapernaum.

Yesus masuk ke rumah itu tentu bersama dengan 12 murid-Nya dengan merujuk teks langsung sebelumnya (ay. 13-19). Pada ayat 20b disebutkan bahwa orang banyak datang lagi berkerumun (di rumah itu) sehingga makan pun Yesus dan para murid tidak dapat. Ayat ini mengingatkan kita pada peristiwa sebelumnya orang-orang berkerumun ketika Yesus berada di rumah Simon dan Andreas di Kapernaum (lih. Mrk. 2:1-2).

Kiprah Yesus di Galilea memang membuat gempar ke seluruh penjuru. Pada sisi satu kiprah Yesus disukai oleh masyarakat, pada sisi lain kiprah-Nya mengusik para pemimpin Yahudi baik lokal maupun pusat di Yerusalem sehingga memunculkan konflik. Kabar ini terdengar juga oleh keluarga Yesus di Nazaret. Keluarga Yesus berangkat dari Nazaret ke Kapernaum hendak memulangkan Yesus. Tidaklah jelas alasan untuk pemulangan Yesus ini. Apakah keluarga Yesus takut kepada pemimpin Yahudi atau malu terhadap perbuatan Yesus yang berkonflik dengan para pemuka agama? “𝘐𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘸𝘢𝘳𝘢𝘴 𝘭𝘢𝘨𝘪.” kata keluarga Yesus (ay. 21).

𝗞𝗼𝗻𝗳𝗹𝗶𝗸 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗮𝗵𝗹𝗶-𝗮𝗵𝗹𝗶 𝗧𝗮𝘂𝗿𝗮𝘁 (ay. 22-30)

Ahli-ahli Taurat dari Yerusalem yang datang ke rumah itu berkata, “𝘐𝘢 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘴𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘉𝘦’𝘦𝘭𝘻𝘦𝘣𝘶𝘭. 𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘢𝘴𝘢 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘮𝘱𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘢𝘯 𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘴𝘪𝘳 𝘴𝘦𝘵𝘢𝘯.” (ay. 22) Tudingan ahli-ahli Taurat merujuk narasi sebelumnya yang Yesus banyak melakukan eksorsisme, menyembuhkan orang-orang sakit, mengampuni orang-orang berdosa disudutkan sebagai tindakan sihir.

Mendengar tudingan itu Yesus justru memanggil dan menanggapi mereka dengan pertanyaan, “𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘪𝘣𝘭𝘪𝘴 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘴𝘪𝘳 𝘪𝘣𝘭𝘪𝘴?” (ay. 23). Yesus hendak menunjukkan tuduhan mereka tidak masuk akal. Pada ayat 24-26 Yesus merincinya apa pun yang terpecah-pecah dan melawan dirinya sendiri, entah itu lingkup kerajaan entah itu lingkup keluarga, tidak akan bertahan. Andaikata kerajaan iblis memang terpecah-pecah dan melawan diri sendiri, seharusnya kuasa iblis sudah berakhir.

Yesus kemudian memberikan perumpamaan, “𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘯 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘮𝘱𝘢𝘴 𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘢𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘪𝘬𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶. 𝘚𝘦𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘮𝘱𝘰𝘬 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩.” (ay. 27). Dalam bahasa perumpamaan ini Yesus mengiaskan pemilik rumah atau orang kuat adalah Be’elzebul, sedang harta bendanya adalah orang-orang yang kerasukan roh jahat, berdosa, sakit, dlsb. mereka sudah dilepaskan dari gengaman Be’elzebul oleh Yesus, karena Ia yang lebih berkuasa (lih. Mrk. 1:7).

Tuduhan ahli-ahli Taurat terhadap Yesus kerasukan Be’elzebul bukan saja tidak masuk akal, tetapi fatal. Kata Yesus, “𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘶𝘫𝘢𝘵 𝘢𝘯𝘢𝘬-𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘶𝘫𝘢𝘵 𝘙𝘰𝘩 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢-𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢.” (ay. 28-29). Mengapa? Narator pada ayat 30 menjelaskan karena ahli-ahli Taurat itu menuding Yesus kerasukan roh jahat. Mereka sudah menyamakan Roh Kudus dengan roh jahat.

Jauh sebelum Yesus lahir, bangsa Yahudi meyakini bahwa Allah langsung menghukum orang yang menghujat Allah. Yesus memeringatkan lawan-Nya secara serius mengenai keyakinan bangsa Yahudi tersebut. Ucapan Yesus bukan ditujukan kepada masyarakat awam ,melainkan kepada para pemimpin agama. Sebagai kaum terpelajar yang menjadi guru umat seharusnya mereka terbuka terhadap karya Allah.

Para pendeta sebagai pengajar umat agar berhati-hati. Jangan pernah mencatut Roh Kudus untuk menakut-nakuti umat. Perbuatan ini sama dengan menghujat Roh Kudus, yang dosanya tak terampuni.

𝗞𝗲𝗹𝘂𝗮𝗿𝗴𝗮 𝘀𝗲𝗷𝗮𝘁𝗶 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 (ay. 31-35)

Tibalah ibu Yesus dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Yesus. (ay. 31) Di dalam rumah ada banyak orang duduk mengelilingi Yesus, mereka berkata kepada-Nya, “𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵, 𝘪𝘣𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘔𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘪 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶.” (ay. 32)

Tercatat dua kali ibu dan saudara-saudara Yesus diperikan sebagai orang yang berada 𝘥𝘪 𝘭𝘶𝘢𝘳. Penginjil Markus menampilkan mereka sebagai orang yang belum percaya. Tafsir ini diperkuat dengan ucapan Yesus pada Markus 6:4, “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya, dan di rumahnya." 

Menanggapi pemberitahuan bahwa ada ibu dan saudara-saudara-Nya 𝘥𝘪 𝘭𝘶𝘢𝘳, Yesus berkata, “𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘪𝘣𝘶-𝘒𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶?” Yesus memandang orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya dan Ia berkata, “𝘐𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘣𝘶-𝘒𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶. 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘪-𝘭𝘢𝘬𝘪, 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘪𝘣𝘶-𝘒𝘶.” (ay. 33-35)

Dua kali penginjil Markus mengontraskan keluarga Yesus berada 𝘥𝘪 𝘭𝘶𝘢𝘳 dengan orang-orang duduk 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘦𝘭𝘪𝘭𝘪𝘯𝘨-𝘕𝘺𝘢. Secara radikal Yesus membaharui makna saudara dan keluarga. Menjadi  keluarga dan saudara Yesus tidak ditentukan oleh hubungan darah, melainkan bersikap dan berperilaku seperti Yesus, yaitu melakukan kehendak Bapa. Apa itu? Markus tidak menjelaskan seperti halnya di dalam Injil Matius dan Lukas. Namun, doa Yesus di Getsemani (Mrk. 14:36) memberi petunjuk, “𝘠𝘢 𝘈𝘣𝘣𝘢, 𝘠𝘢 𝘉𝘢𝘱𝘢, … 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘪, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘪.”

(09062024)(T)

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 15:21-28 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] 𝘾𝙧𝙤𝙨𝙨 𝙘𝙪𝙡𝙩𝙪𝙧𝙚

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 15:21-28, [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝘾𝙧𝙤𝙨𝙨 𝙘𝙪𝙡𝙩𝙪𝙧𝙚 Da...