Selasa, 01 September 2026

Biar saya ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ, saya juga membedah khotbah pendeta GKI. Alasan pemilihan khotbah ini karena durasinya panjang dan dalam rangka HUT Penyatuan GKI.

Kebaktian Minggu di GKI Kebayoran Baru, 23 Agustus 2026, pkl. 8
Tema: ๐—š๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ง๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐˜€ ๐— ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚๐—ถ ๐——๐—ถ๐—ฟ๐—ถ
Pengkhotbah: Pdt. Martin Krisanto Nugroho
Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=agfZkFn3zis 

Khotbah Pdt. Martin Krisanto Nugroho (MKN) punya beberapa bagian yang cukup kuat, tetapi juga ada beberapa pergeseran eksegetis yang cukup serius.

๐Ÿญ. ๐—”๐˜„๐—ฎ๐—น๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฟ: “๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฟ๐—ถ”

MKN berulang kali kembali kepada gagasan: “Bapak, Ibu datang ke sini untuk memberi diri.” Ia menghubungkan Roma 12:1 dengan kehidupan nyata: keluarga, pekerjaan, gereja, relasi, dlsb.

Ini sejalan dengan Roma 12:1 dalam arti bahwa ๐˜ต๐˜ข ๐˜ดล๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฉ๐˜บ๐˜ฎล๐˜ฏ memang menunjuk tubuh/keberadaan konkret manusia, bukan sekadar aktivitas keagamaan.

Jadi, ketika ia berkata: “Tuhan tidak secara langsung membutuhkan harta benda Anda, tapi dia butuh hati Anda.”, kemudian memerluasnya kepada kehidupan keluarga, pekerjaan, gereja, dll., ada intuisi yang benar: persembahan tubuh tidak boleh dipersempit menjadi persembahan uang atau aktivitas liturgis.

Namun, di sinilah mula muncul persoalan.

๐Ÿฎ. ๐— ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฎ๐—บ๐—ฎ: “๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜€ ๐—ธ๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต” ๐—ฑ๐—ถ๐—ฟ๐—ฒ๐—ฑ๐˜‚๐—ธ๐˜€๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ “๐—ง๐˜‚๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ ๐—ต๐—ถ๐—ฑ๐˜‚๐—ฝ”

Ini satu kelemahan terbesar. MKN berkata: “Roma 12 itu mengingatkan kita ... bahwa kalau kita datang kepada Tuhan, Tuhan sudah memberikan lebih dulu kepada kita hal yang paling mendasar.”

Lalu: “Yang tahu bahwa dia hidup karena dia hidup karena pemberian saja. Karena pemberian nyawa dari Tuhannya sendiri.”

Ini terdengar bagus secara homiletis, tetapi tampakny bukan itu yang dimaksud Paulus dengan ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ตล๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ต๐˜ช๐˜ณ๐˜ฎล๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ถ ๐˜›๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ถ. Paulus tidak sedang mengatakan: Tuhan sudah memberikan nyawamu, maka sekarang berikan dirimu.  Ia mengatakan: oleh belas kasihan Allah yang harus dibaca dalam konteks Roma 1-11.

Ini sangat penting. Belas kasihan Allah dalam Roma bukan sekadar fakta bahwa kita diberi kehidupan biologis. Ia berpautan dengan keseluruhan karya penyelamatan Allah yang baru saja dipaparkan Paulus.

Jadi ada pergeseran:
▶️ Paulus: belas kasihan Allah dalam Injil ➡️ persembahan tubuh.
▶️ Khotbah: Tuhan memberi kita kehidupan ➡️ maka kita memberi diri.

Tampak mirip, tetapi secara teologis tidak sama.
▶️ Yang satu berangkat dari soteriologi Roma 1-11. 
▶️ Yang lain berubah menjadi prinsip umum: “Karena Tuhan sudah memberi kepada kita, maka kita juga harus memberi.” Itu sudah mendekati moralitas balas budi religius.

Padahal ๐—˜๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐—ฒ๐—ป ๐—น๐—ฎ๐—ต๐—ถ๐—ฟ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ถ๐—ป๐—ฑ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐—ณ ๐—œ๐—ป๐—ท๐—ถ๐—น, bukan menggantikannya.

๐Ÿฏ. ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—ด๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—œ๐—ป๐—ท๐—ถ๐—น ๐—ธ๐—ฒ ๐—ป๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐˜ ๐—บ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—น

Perhatikan ucapan MKN: “Kalau anda datang ke gereja, anda datang ke keluarga anda, anda datang di dalam pernikahan anda, anda datang di dalam semua konteks pekerjaan anda sekalipun dengan satu alasan itu...”

Kemudian: “apakah Anda masih ingat bahwa anda hadir untuk memberi diri?”

Ini bagus sebagai aplikasi pastoral, tetapi pertanyaan yang seharusnya muncul adalah: memberi diri sebagai tanggapan terhadap apa?

Paulus sudah memberi jawabannya: ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ตล๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ต๐˜ช๐˜ณ๐˜ฎล๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ถ oleh belas kasihan Allah.

Dalam khotbah MKN fondasi tersebut tidak dikembangkan. Akibatnya ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช menjadi prinsip moral yang berdiri sendiri.

๐Ÿฐ. ๐—ง๐˜‚๐—ฏ๐˜‚๐—ต ➡️  ๐—ฝ๐—ถ๐—ธ๐—ถ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป ➡️ ๐—ธ๐—ผ๐—บ๐˜‚๐—ป๐—ถ๐˜๐—ฎ๐˜€ ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฟ-๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—ป

Apabila kita membaca saksama Roma 12:1-8 ada gerakan yang sangat indah: belas kasihan Allah
➡️tubuh
➡️pembaruan pikiran
➡️kemampuan membedakan
➡️kerendahhatian
➡️satu tubuh
➡️karunia
➡️pelayanan.

MKN memang menyebut hampir semua anasir itu, tetapi ia tidak membangun nasabah argumentatifnya. Ia berpindah dari: persembahan diri ke: pernikahan, kemudian: persatuan GKI, kemudian: pemain musik, kemudian: kesombongan, kemudian: disabilitas, kemudian: korupsi, kemudian: karunia, kemudian: kesempurnaan.

Jadi anasir-anasirnya ada, tetapi arkitektur teks Paulusnya tidak terlihat.

๐Ÿฑ. ๐—”๐˜†๐—ฎ๐˜ ๐Ÿฎ ๐—ต๐—ฎ๐—บ๐—ฝ๐—ถ๐—ฟ ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐˜๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ผ๐—ฏ๐—ผ๐˜ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜€๐—ฒ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚๐˜€๐—ป๐˜†๐—ฎ

Kalau saya membaca teks, maka saya menempatkan Roma 12:2 sebagai bagian sentral: jangan menjadi serupa dengan zaman ini ➡️ berubahlah melalui pembaruan pikiran ➡️ mampu menguji/membedakan kehendak Allah.

Dalam pada itu khotbah MKN justru anasir pembaruan pikiran hampir hilang. Padahal itu merupakan jembatan penting antara ayat 1 dan 3. Ia memang kemudian berbicara tentang kerendahhatian dan menilai dirinya secara jujur tanpa kesombongan. Namun, tidak benar-benar dijelaskan bahwa kerendahhatian sosial dalam ayat 3 merupakan konsekuensi dari alihrupa ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด pada ayat 2.

Akibatnya nasabah: alihrupa → kemampuan membedakan → kerendahhatian tidak terlihat.

๐Ÿฒ. ๐— ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฒ๐—ธ๐˜€๐—ฒ๐—ด๐—ฒ๐˜๐—ถ๐˜€ ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐˜ ๐Ÿฎ ๐˜๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด “๐˜€๐—ฒ๐—บ๐—ฝ๐˜‚๐—ฟ๐—ป๐—ฎ”

MKN berkata: “Di ayat 2 bagian akhir apa yang baik yang berkenan kepadanya dan sempurna?” Lalu: 
“Saya tanya, apakah kehidupan anda bisa sempurna?”

Tak lama kemudian: “Tapi kemurnian hati anda bisa anda sempurnakan di hadapan Tuhan? Kemurnian cinta anda pada keluarga anda, cinta anda kepada Yesus bisa anda murnikan? Itu yang dimaksud dengan sempurna.”

Itu melompat jauh dari teks. Dalam Roma 12:2 ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ bukan sedang mengatakan: “hidupmu bisa menjadi sempurna” atau “kemurnian hatimu bisa disempurnakan.”

Yang dikatakan Paulus adalah bahwa mereka mampu menguji/membedakan kehendak Allah, yaitu apa yang: baik, berkenan, dan sempurna.

Jadi, yang diberi predikat “baik, berkenan, sempurna” dalam konstruksi itu adalah kehendak Allah, bukan kehidupan orang Kristen yang menjadi sempurna secara moral.

Ini bukan perbedaan kecil.

MKN mengubah: “membedakan kehendak Allah yang baik, berkenan, dan sempurna” menjadi: 
“menyempurnakan kemurnian hati dan cinta kita.”

Itu menurut saya satu contoh paling jelas ketika kata dalam teks tetap disebut, tetapi maknanya bergeser.

๐Ÿณ. “๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ถ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฟ๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐—ฟ๐˜‚๐˜ ๐˜‚๐—ธ๐˜‚๐—ฟ๐—ฎ๐—ป ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—ป”?

MKN mengutip ayat 3: “hendaklah kamu berpikir sedemikian rupa sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman.” Lalu ia menjelaskan: “Menguasai itu artinya anda bisa memulai sesuatu atau anda bisa menghentikan sesuatu.”

Ini terasa seperti takrif homiletis yang tidak lahir dari konteks kalimat Paulus. Kata yang menjadi pusat ayat 3 adalah ๐˜ฑ๐˜ฉ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ฏ: cara berpikir/mengharkat/memiliki sikap mental.

Di sini Paulus sedang menyerang: ๐˜ฎฤ“ ๐˜ฉ๐˜บ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ฉ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ฏ jangan berpikir terlalu tinggi tentang diri sendiri.

Jadi, fokusnya bukan terutama ”kemampuan memulai dan menghentikan sesuatu.” Fokusnya adalah cara mengharkat diri sendiri secara proporsional dalam komunitas.

Dengan kata lain ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ. Ini jauh lebih dekat dengan argumentasi Paulus.

8. Soal “kerendahhatian” cukup kuat

MKN berkata: “Orang kalau ngasih dia mesti punya ini kerendahan hati.” dan: “Menilai dirinya secara jujur tanpa kesombongan.”

[cat. MDS: kalau rendah hati menjadi kerendahan hati, maka besar kepala menjadi kebesaran kepala. Kepalanya terlalu besar. Wkwkwkwk]

Lalu MKN menggunakan pengalaman pribadi tentang dirinya yang dulu sombong dan bagaimana seseorang perlu menerima teguran. Ini memang cukup dekat dengan Roma 12:3.

Bahkan ilustrasinya: “Kalau diingetin ngeyel ... diingetin bantah.” cukup berhasil menjelaskan persoalan kesombongan.

Masalahnya bukan pada poin tersebut. Masalahnya adalah ia tidak memerlihatkan bahwa kerendahhatian itu adalah konsekuensi dari pembaruan pikiran dalam ayat 2.

Jadi poinnya benar, tetapi nasabah tekstualnya kurang tajam.

๐Ÿต. “๐—ฆ๐—ฎ๐˜๐˜‚ ๐˜๐˜‚๐—ฏ๐˜‚๐—ต” ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฝ๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐˜ ๐—ธ๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต

MKN sangat kuat mengembangkan: “Kita bisa menjadi satu tubuh dan bukan sembarang tubuh tetapi adalah tubuh Kristus.” Lalu: “yang menarik Roma mencatat saat itu pun ada yang beda fungsinya.”

MKN mengembangkan: pemain musik, staf, pimpinan, jemaat, gereja, GKI, disabilitas, jemaat yang mengalami kesulitan ekonomi.

Secara tematik itu memang cukup cocok dengan Roma 12:4-8. Ia juga menangkap satu hal penting: 
kesatuan tidak berarti semua orang mempunyai fungsi yang sama.

Itu sangat dekat dengan: ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญฤ“ ... ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ดล๐˜ฎ๐˜ข banyak anggota ... satu tubuh.

Jadi, bagian ini menurut saya merupakan kekuatan eksegetis khotbahnya. Tapiiii ...

๐Ÿญ๐Ÿฌ. ๐— ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต: ๐˜๐˜‚๐—ฏ๐˜‚๐—ต ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐˜‚๐˜€ ๐—ฃ๐—ฎ๐˜‚๐—น๐˜‚๐˜€ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ “๐—ธ๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐˜๐˜‚๐—ฎ๐—ป ๐—š๐—ž๐—œ”

Khotbah ini berlangsung dalam konteks ulang tahun penyatuan GKI. Sudah dapat diduga hampir seluruh Roma 12 dibaca melalui lensa: GKI yang dahulu terdiri dari tiga entitas kemudian menjadi satu.

Secara pastoral sangat masuk akal, tetapi secara eksegetis kita harus membedakan:
▶️Paulus berbicara tentang tubuh Kristus.
▶️MKN berbicara tentang penyatuan institusional GKI.

Keduanya dapat dihubungkan sebagai aplikasi, tetapi tidak boleh dibuat seolah-olah keduanya identik.

Roma 12 tidak sedang berbicara tentang: “bagaimana tiga organisasi gereja bergabung menjadi satu organisasi.” Paulus berbicara mengenai identitas komunitas yang berada di dalam Kristus, jadi
“GKI bersatu karena Roma 12 berbicara tentang satu tubuh” boleh sebagai aplikasi, tetapi “penyatuan GKI adalah realisasi dari satu tubuh Roma 12” menjadi terlalu jauh.

๐Ÿญ๐Ÿญ. “๐—ž๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐˜๐˜‚๐—ฎ๐—ป” ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—ถ ๐—ธ๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ป

Ini bagus. MKN mengatakan: “bukan lagi karunia siapa yang paling besar” dan: “apapun karunia yang ada di aku itu dapat membangun tubuh Kristus.” Ini cukup dekat dengan logika Paulus.

Paulus tidak sedang membuat peringkat karunia. Ia sedang memerlihatkan bahwa karunia yang berbeda diperlukan karena tubuh terdiri atas anggota yang berbeda.

Bagian “bukan karunia siapa yang paling besar” cukup kuat secara teologis. Tapiiii ...

๐Ÿญ๐Ÿฎ. “๐—ž๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚๐—ป๐—ถ๐—ฎ” ๐—ธ๐—ฒ๐—บ๐˜‚๐—ฑ๐—ถ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ด๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐—ฟ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ “๐˜๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ”

Ini persoalan berikutnya. MKN Martin bertanya: “Apakah anda masih punya spirit melayani, spirit memberi tanpa pamrih, punya kemurahan hati?” Ia kemudian: “Apakah Anda juga bisa dipakai Tuhan untuk bernubuat, menyampaikan kebenaran iman, mengajar ... memimpin.”

Di sini ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ฎ๐˜ข Paulus secara praktis berubah menjadi kemampuan atau talenta yang dimiliki seseorang dan kemudian dipakai untuk pelayanan. Padahal ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ฎ๐˜ข mempunyai pautan langsung dengan: ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ด — kasih karunia.

Titik tekan Paulus bukan: “Kamu punya bakat apa?” melainkan “Apa yang telah dianugerahkan kepada kita dalam kasih karunia, dan bagaimana itu digunakan bagi tubuh?”

Ini penting karena perbedaan tersebut mencegah spiritual elitisme. Kalau karunia dianggap sebagai talenta pribadi, orang gampang berkata: “Saya memang punya kemampuan lebih.”

Namun, jika karunia adalah pemberian kasih karunia, maka justru tidak ada dasar untuk membanggakan diri.

๐Ÿญ๐Ÿฏ. ๐—ฆ๐—ผ๐—ฎ๐—น “๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ถ” ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐—ฎ๐—น๐˜‚ “๐—ด๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐˜„๐—ถ”

Ini terlihat dari pertanyaan: “Apakah anda masih punya spirit melayani...?” dan keseluruhan khotbah.

Pendengar diarahkan kepada: memberi diri ➡️ melayani ➡️ memakai karunia ➡️ membangun gereja.

Padahal Roma 12:1 justru sangat luas: ๐˜›๐˜ข ๐˜ดล๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฉ๐˜บ๐˜ฎล๐˜ฏ berarti tubuh-tubuhmu. Artinya: pekerjaan, keluarga, uang, relasi, seksualitas, penggunaan kuasa, cara memerlakukan orang, 
kehidupan sosial, semuanya termasuk.

MKN memang menyebut keluarga, pernikahan, pekerjaan, tetapi pusat gravitasinya tetap kembali ke Gereja dan pelayanan gerejawi. Ini membuat Roma 12 yang sebenarnya sangat radikal menjadi agak: 
“Mari kita lebih sungguh-sungguh melayani dan memberi diri untuk gereja.”

Kalau mau lebih radikal lagi Gereja melayani seperti apa? Gereja melayani seperti Yesus melayani!

๐Ÿญ๐Ÿฐ. ๐—–๐—ผ๐—ป๐˜๐—ผ๐—ต ๐—ฝ๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ถ๐—ป ๐—บ๐˜‚๐˜€๐—ถ๐—ธ

MKN bertanya kepada pemain musik di samping mimbar: “Kalau misalnya ada yang enggak datang lalu diapain?” “Dicatat di buku hitam.” Kemudian: “Mestinya apa? Ditelepon kenapa, didoain?”

Secara pastoral mengena, tetapi kalau kita kembali ke Roma 12, pertanyaan Paulus bukan terutama:
“Bagaimana gereja memerlakukan anggota yang tidak hadir dalam pelayanan?”, tetapi bagaimana anggota-anggota yang berbeda hidup sebagai satu tubuh dan menggunakan karunia mereka bagi tubuh?

Ilustrasinya bagus, tetapi teks menjadi kendaraan untuk pesan gerejawi yang sudah ditentukan sebelumnya.

๐Ÿญ๐Ÿฑ. ๐—•๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ๐˜€๐—ฎ๐—ฏ๐—ถ๐—น๐—ถ๐˜๐—ฎ๐˜€ ๐—ฎ๐—ฝ๐—น๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐˜‚๐˜€

MKN berkata: “masih banyak lagi yang tersisih di gereja kita” dan: “semua yang tersedia di sini kebanyakan sudah terlanjur didesain untuk mayoritas yang ada sehingga mereka kesulitan.” kemudian: “satu hari nanti kita semua akan disabilitas.”

Ini merupakan aplikasi yang menarik dari satu tubuh dengan banyak anggota.

Kalau tubuh Kristus sungguh terdiri dari anggota yang berbeda, Gereja tidak boleh merancang dirinya hanya berdasarkan kebutuhan mayoritas. Di sini teks menghasilkan kritik eklesiologis yang konkret.

Hanya saja, lagi-lagi, akan jauh lebih kuat kalau MKN menjelaskan: keberagaman anggota bukan sekadar alasan supaya Gereja “ramah kepada kelompok berbeda”, tetapi merupakan konsekuensi dari cara Paulus memahami tubuh Kristus.

๐Ÿญ๐Ÿฒ. “๐—ก๐—ผ ๐—Ÿ๐—ฒ๐—ณ๐˜ ๐—•๐—ฒ๐—ต๐—ถ๐—ป๐—ฑ”

MKN memakai: “no left behind, tidak ada yang ditinggalkan.” Ia kemudian mengaitkan dengan warga jemaat GKI yang kesulitan ekonomi. Ini aplikasi yang bagus.

Tapiiii jangan disebut sebagai eksegesis Roma 12:1-8. Itu adalah aktualisasi pastoral dari konsep tubuh Kristus.

Tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah kalau seluruh khotbah dipenuhi aplikasi sementara argumentasi teksnya tidak dibangun terlebih dahulu.

17. “GKI selalu membarui diri”

Menjelang akhir MKN berkata: “GKI selalu membarui diri.” Lalu: “Tidak pernah gagal menemukan bahwa dirinya masih punya kekurangan.” dan: “kesempurnaan Anda adalah kesempurnaan untuk terus memeriksa diri dengan ketulusan hati.”

Secara pastoral sangat bagus, tetapi secara eksegetis, lagi-lagi ia kembali kepada “kesempurnaan” yang tadi.

Roma 12:2 tidak sedang berkata: “kesempurnaan adalah terus memeriksa diri.” Paulus sedang berbicara tentang kemampuan untuk menguji/membedakan kehendak Allah melalui pembaruan pikiran.

Jadi kalimat: “kesempurnaan anda adalah kesempurnaan untuk terus memeriksa diri” adalah pengembangan homiletis, bukan hasil langsung dari kata ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ฐ๐˜ด dalam Roma 12:2.

๐Ÿญ๐Ÿด. ๐™ก๐™ค๐™œ๐™ž๐™ ฤ“ ๐™ก๐™–๐™ฉ๐™ง๐™š๐™ž๐™– ๐˜๐—ฎ๐—ธ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ด๐—ฎ๐˜„๐—ฎ๐—ถ
Ini menurut saya sangat disayangkan. Padahal ada pintu masuk yang paling menarik: ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌฤ“ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ต๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ข
dan nasabahnya dengan ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏล๐˜ด๐˜ฆ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ถ ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ฐ๐˜ด.

Khotbah hampir tidak masuk ke sana. Padahal tema khotbahnya adalah memberi diri, ibadah, persembahan, pelayanan.

Justru ๐˜ญ๐˜ข๐˜ต๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ข sangat penting. Paulus mengatakan bahwa memersembahkan tubuh adalah ๐˜ญ๐˜ข๐˜ต๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ข. Ini membuka kemungkinan untuk menjelaskan: ibadah tidak berhenti ketika liturgi selesai. Tubuh yang dipersembahkan kepada Allah harus hidup dalam pembaruan pikiran dan menjadi bagian dari kehidupan tubuh Kristus.

Itu jauh lebih kuat, karena ucapan Paulus ini radikal. Persembahan itu benda mati, tetapi Paulus membalikkannya menjadi persembahan hidup.

๐Ÿญ๐Ÿต. ๐—Ÿ๐—ฎ๐—น๐˜‚, ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐—ž๐— ๐—ก?

Khotbah MKN sebenarnya menangkap beberapa unsur penting dari Roma 12:1-8. Ia berbicara tentang memberi diri, kerendahhatian, kesatuan tubuh Kristus, keberagaman karunia, pelayanan, dan pembaruan diri. Persoalannya bukan bahwa apa yang dikatakan MKN keliru semua. Persoalannya adalah apa yang hilang dari teks ketika Roma 12:1-8 dibawa ke dalam kerangka khotbah tersebut.

Yang paling mencolok adalah bahwa ๐™ค๐™ช๐™ฃ pada awal Roma 12:1 hampir tidak mendapat fungsi teologisnya. Paulus tidak memula dengan ajakan moral untuk “memberi diri”, melainkan dengan belas kasihan Allah yang telah lebih dahulu dinyatakan dalam keseluruhan Roma 1-11.

Akibatnya, ketika MKN mengatakan bahwa Tuhan sudah memberikan kehidupan kepada kita, lalu kita dipanggil untuk memberi diri kepada Tuhan, arah argumentasinya memang benar secara umum, tetapi menjadi jauh lebih sederhana daripada argumentasi Paulus.

Demikian pula, “memersembahkan tubuh” dalam khotbah lebih banyak bergerak ke arah aktivitas memberi diri, melayani, dan berkontribusi, sementara matra ๐˜ดล๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข sebagai seluruh keberadaan manusia dan ๐˜ญ๐˜ข๐˜ต๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ข sebagai ibadah yang mencakup kehidupan tidak benar-benar dikembangkan.

Hal yang sama terjadi pada ayat 2. MKN berbicara tentang pembaruan diri, tetapi pusat ayat ini sebenarnya adalah pembaruan ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด, kemampuan berpikir dan membedakan kehendak Allah. Paulus tidak sekadar mengajak orang menjadi lebih baik. Ia mengajak komunitas Kristen mengalami alihrupa cara berpikir sehingga mampu menguji apa yang berkenan kepada Allah.

Ayat 3-8 juga bukan sekadar sampiran tentang “karunia-karunia yang kita miliki”. Bagian ini merupakan konsekuensi langsung dari pembaruan tersebut. Orang yang pikirannya diperbarui tidak lagi memandang dirinya secara berlebihan, melainkan memahami dirinya sebagai bagian dari satu tubuh Kristus dan menggunakan karunianya untuk tubuh itu.

Di sini sebenarnya khotbah MKN mempunyai titik temu yang menarik dengan teks, terutama ketika ia berbicara tentang kesatuan GKI, keberagaman, saling membutuhkan, kelompok yang tersisih, disabilitas, jemaat yang mengalami kesulitan ekonomi, serta penggunaan karunia untuk kepentingan bersama. Bahkan beberapa ilustrasinya cukup kuat.

Tapiiii persoalannya adalah arahnya sering terbalik: pengalaman dan persoalan komunitas GKI menjadi kerangka utama, lalu Roma 12 dipakai untuk memberi dasar Alkitabiah bagi kerangka tersebut. Padahal dalam teks Paulus justru Injil tentang belas kasihan Allah yang membentuk cara komunitas memahami dirinya.

Dengan kata lain khotbah ini cukup berhasil menangkap tema-tema Roma 12, tetapi belum sepenuhnya menangkap logika Roma 12. Tema teks bukan selalu sama dengan logika teks.

Kita bisa mengatakan hal-hal yang benar berdasarkan Roma 12: memberi diri, rendah hati, bersatu, menggunakan karunia, melayani sesama. Akan tetapi kalau nasabah belas kasihan Allah ➡️ pembaruan pikiran ➡️ kerendahhatian ➡️ tubuh Kristus ➡️ karunia ➡️ pelayanan tidak terlihat, maka kedalaman argumentasi Paulus menjadi hilang.

Jadi, masalah utama khotbah MKN bukanlah “keliru menafsir Roma 12”, melainkan “menyederhanakan Roma 12 menjadi khotbah tentang memberi diri, kesatuan, dan pelayanan.”


Sudut Pandang Bacaan 1 : Yehezkiel 33:7-11 dan Bacaan 2 : Roma 13:8-14, Bacaan Injil Matius 18:15-20.

Sudut Pandang Bacaan 1 : Yehezkiel 33:7-11 dan Bacaan 2 : Roma 13:8-14, Bacaan Injil Matius 18:15-20.  PENGANTAR Minggu 06 Septe...