Biar saya ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ข๐ต๐ข๐ช๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ช๐ญ๐ช๐ฉ, saya juga membedah khotbah pendeta GKI. Alasan pemilihan khotbah ini karena durasinya panjang dan dalam rangka HUT Penyatuan GKI.
Kebaktian Minggu di GKI Kebayoran Baru, 23 Agustus 2026, pkl. 8
Tema: ๐๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ท๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ง๐ฒ๐ฟ๐๐ ๐ ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ฟ๐๐ถ ๐๐ถ๐ฟ๐ถ
Pengkhotbah: Pdt. Martin Krisanto Nugroho
Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=agfZkFn3zis
Khotbah Pdt. Martin Krisanto Nugroho (MKN) punya beberapa bagian yang cukup kuat, tetapi juga ada beberapa pergeseran eksegetis yang cukup serius.
๐ญ. ๐๐๐ฎ๐น๐ป๐๐ฎ ๐๐๐ฑ๐ฎ๐ต ๐ฏ๐ฒ๐ป๐ฎ๐ฟ: “๐บ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ถ ๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ถ”
MKN berulang kali kembali kepada gagasan: “Bapak, Ibu datang ke sini untuk memberi diri.” Ia menghubungkan Roma 12:1 dengan kehidupan nyata: keluarga, pekerjaan, gereja, relasi, dlsb.
Ini sejalan dengan Roma 12:1 dalam arti bahwa ๐ต๐ข ๐ดล๐ฎ๐ข๐ต๐ข ๐ฉ๐บ๐ฎล๐ฏ memang menunjuk tubuh/keberadaan konkret manusia, bukan sekadar aktivitas keagamaan.
Jadi, ketika ia berkata: “Tuhan tidak secara langsung membutuhkan harta benda Anda, tapi dia butuh hati Anda.”, kemudian memerluasnya kepada kehidupan keluarga, pekerjaan, gereja, dll., ada intuisi yang benar: persembahan tubuh tidak boleh dipersempit menjadi persembahan uang atau aktivitas liturgis.
Namun, di sinilah mula muncul persoalan.
๐ฎ. ๐ ๐ฎ๐๐ฎ๐น๐ฎ๐ต ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐๐ฎ๐บ๐ฎ: “๐ฏ๐ฒ๐น๐ฎ๐ ๐ธ๐ฎ๐๐ถ๐ต๐ฎ๐ป ๐๐น๐น๐ฎ๐ต” ๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ฒ๐ฑ๐๐ธ๐๐ถ ๐บ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ “๐ง๐๐ต๐ฎ๐ป ๐บ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ถ ๐ต๐ถ๐ฑ๐๐ฝ”
Ini satu kelemahan terbesar. MKN berkata: “Roma 12 itu mengingatkan kita ... bahwa kalau kita datang kepada Tuhan, Tuhan sudah memberikan lebih dulu kepada kita hal yang paling mendasar.”
Lalu: “Yang tahu bahwa dia hidup karena dia hidup karena pemberian saja. Karena pemberian nyawa dari Tuhannya sendiri.”
Ini terdengar bagus secara homiletis, tetapi tampakny bukan itu yang dimaksud Paulus dengan ๐ฅ๐ช๐ข ๐ตล๐ฏ ๐ฐ๐ช๐ฌ๐ต๐ช๐ณ๐ฎล๐ฏ ๐ต๐ฐ๐ถ ๐๐ฉ๐ฆ๐ฐ๐ถ. Paulus tidak sedang mengatakan: Tuhan sudah memberikan nyawamu, maka sekarang berikan dirimu. Ia mengatakan: oleh belas kasihan Allah yang harus dibaca dalam konteks Roma 1-11.
Ini sangat penting. Belas kasihan Allah dalam Roma bukan sekadar fakta bahwa kita diberi kehidupan biologis. Ia berpautan dengan keseluruhan karya penyelamatan Allah yang baru saja dipaparkan Paulus.
Jadi ada pergeseran:
▶️ Paulus: belas kasihan Allah dalam Injil ➡️ persembahan tubuh.
▶️ Khotbah: Tuhan memberi kita kehidupan ➡️ maka kita memberi diri.
Tampak mirip, tetapi secara teologis tidak sama.
▶️ Yang satu berangkat dari soteriologi Roma 1-11.
▶️ Yang lain berubah menjadi prinsip umum: “Karena Tuhan sudah memberi kepada kita, maka kita juga harus memberi.” Itu sudah mendekati moralitas balas budi religius.
Padahal ๐๐๐ถ๐ธ๐ฎ ๐๐ฟ๐ถ๐๐๐ฒ๐ป ๐น๐ฎ๐ต๐ถ๐ฟ ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ถ๐ป๐ฑ๐ถ๐ธ๐ฎ๐๐ถ๐ณ ๐๐ป๐ท๐ถ๐น, bukan menggantikannya.
๐ฏ. ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ด๐ฒ๐๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐๐ป๐ท๐ถ๐น ๐ธ๐ฒ ๐ป๐ฎ๐๐ถ๐ต๐ฎ๐ ๐บ๐ผ๐ฟ๐ฎ๐น
Perhatikan ucapan MKN: “Kalau anda datang ke gereja, anda datang ke keluarga anda, anda datang di dalam pernikahan anda, anda datang di dalam semua konteks pekerjaan anda sekalipun dengan satu alasan itu...”
Kemudian: “apakah Anda masih ingat bahwa anda hadir untuk memberi diri?”
Ini bagus sebagai aplikasi pastoral, tetapi pertanyaan yang seharusnya muncul adalah: memberi diri sebagai tanggapan terhadap apa?
Paulus sudah memberi jawabannya: ๐ฅ๐ช๐ข ๐ตล๐ฏ ๐ฐ๐ช๐ฌ๐ต๐ช๐ณ๐ฎล๐ฏ ๐ต๐ฐ๐ถ ๐ต๐ฉ๐ฆ๐ฐ๐ถ oleh belas kasihan Allah.
Dalam khotbah MKN fondasi tersebut tidak dikembangkan. Akibatnya ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช menjadi prinsip moral yang berdiri sendiri.
๐ฐ. ๐ง๐๐ฏ๐๐ต ➡️ ๐ฝ๐ถ๐ธ๐ถ๐ฟ๐ฎ๐ป ➡️ ๐ธ๐ผ๐บ๐๐ป๐ถ๐๐ฎ๐ ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ฏ๐ฒ๐ป๐ฎ๐ฟ-๐ฏ๐ฒ๐ป๐ฎ๐ฟ ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐ฎ๐ป๐ด๐๐ป
Apabila kita membaca saksama Roma 12:1-8 ada gerakan yang sangat indah: belas kasihan Allah
➡️tubuh
➡️pembaruan pikiran
➡️kemampuan membedakan
➡️kerendahhatian
➡️satu tubuh
➡️karunia
➡️pelayanan.
MKN memang menyebut hampir semua anasir itu, tetapi ia tidak membangun nasabah argumentatifnya. Ia berpindah dari: persembahan diri ke: pernikahan, kemudian: persatuan GKI, kemudian: pemain musik, kemudian: kesombongan, kemudian: disabilitas, kemudian: korupsi, kemudian: karunia, kemudian: kesempurnaan.
Jadi anasir-anasirnya ada, tetapi arkitektur teks Paulusnya tidak terlihat.
๐ฑ. ๐๐๐ฎ๐ ๐ฎ ๐ต๐ฎ๐บ๐ฝ๐ถ๐ฟ ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐บ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฏ๐ผ๐ฏ๐ผ๐ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฒ๐ต๐ฎ๐ฟ๐๐๐ป๐๐ฎ
Kalau saya membaca teks, maka saya menempatkan Roma 12:2 sebagai bagian sentral: jangan menjadi serupa dengan zaman ini ➡️ berubahlah melalui pembaruan pikiran ➡️ mampu menguji/membedakan kehendak Allah.
Dalam pada itu khotbah MKN justru anasir pembaruan pikiran hampir hilang. Padahal itu merupakan jembatan penting antara ayat 1 dan 3. Ia memang kemudian berbicara tentang kerendahhatian dan menilai dirinya secara jujur tanpa kesombongan. Namun, tidak benar-benar dijelaskan bahwa kerendahhatian sosial dalam ayat 3 merupakan konsekuensi dari alihrupa ๐ฏ๐ฐ๐ถ๐ด pada ayat 2.
Akibatnya nasabah: alihrupa → kemampuan membedakan → kerendahhatian tidak terlihat.
๐ฒ. ๐ ๐ฎ๐๐ฎ๐น๐ฎ๐ต ๐ฒ๐ธ๐๐ฒ๐ด๐ฒ๐๐ถ๐ ๐ฎ๐๐ฎ๐ ๐ฎ ๐๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐ป๐ด “๐๐ฒ๐บ๐ฝ๐๐ฟ๐ป๐ฎ”
MKN berkata: “Di ayat 2 bagian akhir apa yang baik yang berkenan kepadanya dan sempurna?” Lalu:
“Saya tanya, apakah kehidupan anda bisa sempurna?”
Tak lama kemudian: “Tapi kemurnian hati anda bisa anda sempurnakan di hadapan Tuhan? Kemurnian cinta anda pada keluarga anda, cinta anda kepada Yesus bisa anda murnikan? Itu yang dimaksud dengan sempurna.”
Itu melompat jauh dari teks. Dalam Roma 12:2 ๐ต๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ช๐ฐ๐ฏ bukan sedang mengatakan: “hidupmu bisa menjadi sempurna” atau “kemurnian hatimu bisa disempurnakan.”
Yang dikatakan Paulus adalah bahwa mereka mampu menguji/membedakan kehendak Allah, yaitu apa yang: baik, berkenan, dan sempurna.
Jadi, yang diberi predikat “baik, berkenan, sempurna” dalam konstruksi itu adalah kehendak Allah, bukan kehidupan orang Kristen yang menjadi sempurna secara moral.
Ini bukan perbedaan kecil.
MKN mengubah: “membedakan kehendak Allah yang baik, berkenan, dan sempurna” menjadi:
“menyempurnakan kemurnian hati dan cinta kita.”
Itu menurut saya satu contoh paling jelas ketika kata dalam teks tetap disebut, tetapi maknanya bergeser.
๐ณ. “๐ ๐ฒ๐ป๐ด๐๐ฎ๐๐ฎ๐ถ ๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ถ ๐บ๐ฒ๐ป๐๐ฟ๐๐ ๐๐ธ๐๐ฟ๐ฎ๐ป ๐ถ๐บ๐ฎ๐ป”?
MKN mengutip ayat 3: “hendaklah kamu berpikir sedemikian rupa sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman.” Lalu ia menjelaskan: “Menguasai itu artinya anda bisa memulai sesuatu atau anda bisa menghentikan sesuatu.”
Ini terasa seperti takrif homiletis yang tidak lahir dari konteks kalimat Paulus. Kata yang menjadi pusat ayat 3 adalah ๐ฑ๐ฉ๐ณ๐ฐ๐ฏ๐ฆ๐ช๐ฏ: cara berpikir/mengharkat/memiliki sikap mental.
Di sini Paulus sedang menyerang: ๐ฎฤ ๐ฉ๐บ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฑ๐ฉ๐ณ๐ฐ๐ฏ๐ฆ๐ช๐ฏ jangan berpikir terlalu tinggi tentang diri sendiri.
Jadi, fokusnya bukan terutama ”kemampuan memulai dan menghentikan sesuatu.” Fokusnya adalah cara mengharkat diri sendiri secara proporsional dalam komunitas.
Dengan kata lain ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ณ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ข๐ด๐ช๐ญ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ต ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช ๐ด๐ฆ๐ค๐ข๐ณ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ. Ini jauh lebih dekat dengan argumentasi Paulus.
8. Soal “kerendahhatian” cukup kuat
MKN berkata: “Orang kalau ngasih dia mesti punya ini kerendahan hati.” dan: “Menilai dirinya secara jujur tanpa kesombongan.”
[cat. MDS: kalau rendah hati menjadi kerendahan hati, maka besar kepala menjadi kebesaran kepala. Kepalanya terlalu besar. Wkwkwkwk]
Lalu MKN menggunakan pengalaman pribadi tentang dirinya yang dulu sombong dan bagaimana seseorang perlu menerima teguran. Ini memang cukup dekat dengan Roma 12:3.
Bahkan ilustrasinya: “Kalau diingetin ngeyel ... diingetin bantah.” cukup berhasil menjelaskan persoalan kesombongan.
Masalahnya bukan pada poin tersebut. Masalahnya adalah ia tidak memerlihatkan bahwa kerendahhatian itu adalah konsekuensi dari pembaruan pikiran dalam ayat 2.
Jadi poinnya benar, tetapi nasabah tekstualnya kurang tajam.
๐ต. “๐ฆ๐ฎ๐๐ ๐๐๐ฏ๐๐ต” ๐บ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ฝ๐๐๐ฎ๐ ๐ธ๐ต๐ผ๐๐ฏ๐ฎ๐ต
MKN sangat kuat mengembangkan: “Kita bisa menjadi satu tubuh dan bukan sembarang tubuh tetapi adalah tubuh Kristus.” Lalu: “yang menarik Roma mencatat saat itu pun ada yang beda fungsinya.”
MKN mengembangkan: pemain musik, staf, pimpinan, jemaat, gereja, GKI, disabilitas, jemaat yang mengalami kesulitan ekonomi.
Secara tematik itu memang cukup cocok dengan Roma 12:4-8. Ia juga menangkap satu hal penting:
kesatuan tidak berarti semua orang mempunyai fungsi yang sama.
Itu sangat dekat dengan: ๐ฑ๐ฐ๐ญ๐ญ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ญฤ ... ๐ฉ๐ฆ๐ฏ ๐ดล๐ฎ๐ข banyak anggota ... satu tubuh.
Jadi, bagian ini menurut saya merupakan kekuatan eksegetis khotbahnya. Tapiiii ...
๐ญ๐ฌ. ๐ ๐ฎ๐๐ฎ๐น๐ฎ๐ต: ๐๐๐ฏ๐๐ต ๐๐ฟ๐ถ๐๐๐๐ ๐ฃ๐ฎ๐๐น๐๐ ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐๐ฏ๐ฎ๐ต ๐บ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ “๐ธ๐ฒ๐๐ฎ๐๐๐ฎ๐ป ๐๐๐”
Khotbah ini berlangsung dalam konteks ulang tahun penyatuan GKI. Sudah dapat diduga hampir seluruh Roma 12 dibaca melalui lensa: GKI yang dahulu terdiri dari tiga entitas kemudian menjadi satu.
Secara pastoral sangat masuk akal, tetapi secara eksegetis kita harus membedakan:
▶️Paulus berbicara tentang tubuh Kristus.
▶️MKN berbicara tentang penyatuan institusional GKI.
Keduanya dapat dihubungkan sebagai aplikasi, tetapi tidak boleh dibuat seolah-olah keduanya identik.
Roma 12 tidak sedang berbicara tentang: “bagaimana tiga organisasi gereja bergabung menjadi satu organisasi.” Paulus berbicara mengenai identitas komunitas yang berada di dalam Kristus, jadi
“GKI bersatu karena Roma 12 berbicara tentang satu tubuh” boleh sebagai aplikasi, tetapi “penyatuan GKI adalah realisasi dari satu tubuh Roma 12” menjadi terlalu jauh.
๐ญ๐ญ. “๐๐ฒ๐๐ฎ๐๐๐ฎ๐ป” ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ฏ๐ฎ๐ด๐ฎ๐ถ ๐ธ๐ฒ๐๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ด๐ฎ๐บ๐ฎ๐ป
Ini bagus. MKN mengatakan: “bukan lagi karunia siapa yang paling besar” dan: “apapun karunia yang ada di aku itu dapat membangun tubuh Kristus.” Ini cukup dekat dengan logika Paulus.
Paulus tidak sedang membuat peringkat karunia. Ia sedang memerlihatkan bahwa karunia yang berbeda diperlukan karena tubuh terdiri atas anggota yang berbeda.
Bagian “bukan karunia siapa yang paling besar” cukup kuat secara teologis. Tapiiii ...
๐ญ๐ฎ. “๐๐ฎ๐ฟ๐๐ป๐ถ๐ฎ” ๐ธ๐ฒ๐บ๐๐ฑ๐ถ๐ฎ๐ป ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ด๐ฒ๐๐ฒ๐ฟ ๐บ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ “๐๐ฎ๐น๐ฒ๐ป๐๐ฎ”
Ini persoalan berikutnya. MKN Martin bertanya: “Apakah anda masih punya spirit melayani, spirit memberi tanpa pamrih, punya kemurahan hati?” Ia kemudian: “Apakah Anda juga bisa dipakai Tuhan untuk bernubuat, menyampaikan kebenaran iman, mengajar ... memimpin.”
Di sini ๐ค๐ฉ๐ข๐ณ๐ช๐ด๐ฎ๐ข Paulus secara praktis berubah menjadi kemampuan atau talenta yang dimiliki seseorang dan kemudian dipakai untuk pelayanan. Padahal ๐ค๐ฉ๐ข๐ณ๐ช๐ด๐ฎ๐ข mempunyai pautan langsung dengan: ๐ค๐ฉ๐ข๐ณ๐ช๐ด — kasih karunia.
Titik tekan Paulus bukan: “Kamu punya bakat apa?” melainkan “Apa yang telah dianugerahkan kepada kita dalam kasih karunia, dan bagaimana itu digunakan bagi tubuh?”
Ini penting karena perbedaan tersebut mencegah spiritual elitisme. Kalau karunia dianggap sebagai talenta pribadi, orang gampang berkata: “Saya memang punya kemampuan lebih.”
Namun, jika karunia adalah pemberian kasih karunia, maka justru tidak ada dasar untuk membanggakan diri.
๐ญ๐ฏ. ๐ฆ๐ผ๐ฎ๐น “๐บ๐ฒ๐น๐ฎ๐๐ฎ๐ป๐ถ” ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฒ๐ฟ๐น๐ฎ๐น๐ “๐ด๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ท๐ฎ๐๐ถ”
Ini terlihat dari pertanyaan: “Apakah anda masih punya spirit melayani...?” dan keseluruhan khotbah.
Pendengar diarahkan kepada: memberi diri ➡️ melayani ➡️ memakai karunia ➡️ membangun gereja.
Padahal Roma 12:1 justru sangat luas: ๐๐ข ๐ดล๐ฎ๐ข๐ต๐ข ๐ฉ๐บ๐ฎล๐ฏ berarti tubuh-tubuhmu. Artinya: pekerjaan, keluarga, uang, relasi, seksualitas, penggunaan kuasa, cara memerlakukan orang,
kehidupan sosial, semuanya termasuk.
MKN memang menyebut keluarga, pernikahan, pekerjaan, tetapi pusat gravitasinya tetap kembali ke Gereja dan pelayanan gerejawi. Ini membuat Roma 12 yang sebenarnya sangat radikal menjadi agak:
“Mari kita lebih sungguh-sungguh melayani dan memberi diri untuk gereja.”
Kalau mau lebih radikal lagi Gereja melayani seperti apa? Gereja melayani seperti Yesus melayani!
๐ญ๐ฐ. ๐๐ผ๐ป๐๐ผ๐ต ๐ฝ๐ฒ๐บ๐ฎ๐ถ๐ป ๐บ๐๐๐ถ๐ธ
MKN bertanya kepada pemain musik di samping mimbar: “Kalau misalnya ada yang enggak datang lalu diapain?” “Dicatat di buku hitam.” Kemudian: “Mestinya apa? Ditelepon kenapa, didoain?”
Secara pastoral mengena, tetapi kalau kita kembali ke Roma 12, pertanyaan Paulus bukan terutama:
“Bagaimana gereja memerlakukan anggota yang tidak hadir dalam pelayanan?”, tetapi bagaimana anggota-anggota yang berbeda hidup sebagai satu tubuh dan menggunakan karunia mereka bagi tubuh?
Ilustrasinya bagus, tetapi teks menjadi kendaraan untuk pesan gerejawi yang sudah ditentukan sebelumnya.
๐ญ๐ฑ. ๐๐ฎ๐ด๐ถ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ถ๐๐ฎ๐ฏ๐ถ๐น๐ถ๐๐ฎ๐ ๐ฎ๐ฝ๐น๐ถ๐ธ๐ฎ๐๐ถ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฏ๐ฎ๐ด๐๐
MKN berkata: “masih banyak lagi yang tersisih di gereja kita” dan: “semua yang tersedia di sini kebanyakan sudah terlanjur didesain untuk mayoritas yang ada sehingga mereka kesulitan.” kemudian: “satu hari nanti kita semua akan disabilitas.”
Ini merupakan aplikasi yang menarik dari satu tubuh dengan banyak anggota.
Kalau tubuh Kristus sungguh terdiri dari anggota yang berbeda, Gereja tidak boleh merancang dirinya hanya berdasarkan kebutuhan mayoritas. Di sini teks menghasilkan kritik eklesiologis yang konkret.
Hanya saja, lagi-lagi, akan jauh lebih kuat kalau MKN menjelaskan: keberagaman anggota bukan sekadar alasan supaya Gereja “ramah kepada kelompok berbeda”, tetapi merupakan konsekuensi dari cara Paulus memahami tubuh Kristus.
๐ญ๐ฒ. “๐ก๐ผ ๐๐ฒ๐ณ๐ ๐๐ฒ๐ต๐ถ๐ป๐ฑ”
MKN memakai: “no left behind, tidak ada yang ditinggalkan.” Ia kemudian mengaitkan dengan warga jemaat GKI yang kesulitan ekonomi. Ini aplikasi yang bagus.
Tapiiii jangan disebut sebagai eksegesis Roma 12:1-8. Itu adalah aktualisasi pastoral dari konsep tubuh Kristus.
Tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah kalau seluruh khotbah dipenuhi aplikasi sementara argumentasi teksnya tidak dibangun terlebih dahulu.
17. “GKI selalu membarui diri”
Menjelang akhir MKN berkata: “GKI selalu membarui diri.” Lalu: “Tidak pernah gagal menemukan bahwa dirinya masih punya kekurangan.” dan: “kesempurnaan Anda adalah kesempurnaan untuk terus memeriksa diri dengan ketulusan hati.”
Secara pastoral sangat bagus, tetapi secara eksegetis, lagi-lagi ia kembali kepada “kesempurnaan” yang tadi.
Roma 12:2 tidak sedang berkata: “kesempurnaan adalah terus memeriksa diri.” Paulus sedang berbicara tentang kemampuan untuk menguji/membedakan kehendak Allah melalui pembaruan pikiran.
Jadi kalimat: “kesempurnaan anda adalah kesempurnaan untuk terus memeriksa diri” adalah pengembangan homiletis, bukan hasil langsung dari kata ๐ต๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ช๐ฐ๐ด dalam Roma 12:2.
๐ญ๐ด. ๐ก๐ค๐๐๐ ฤ ๐ก๐๐ฉ๐ง๐๐๐ ๐๐ฎ๐ธ ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ด๐ฎ๐๐ฎ๐ถ
Ini menurut saya sangat disayangkan. Padahal ada pintu masuk yang paling menarik: ๐ญ๐ฐ๐จ๐ช๐ฌฤ ๐ญ๐ข๐ต๐ณ๐ฆ๐ช๐ข
dan nasabahnya dengan ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ๐ข๐ช๐ฏล๐ด๐ฆ๐ช ๐ต๐ฐ๐ถ ๐ฏ๐ฐ๐ฐ๐ด.
Khotbah hampir tidak masuk ke sana. Padahal tema khotbahnya adalah memberi diri, ibadah, persembahan, pelayanan.
Justru ๐ญ๐ข๐ต๐ณ๐ฆ๐ช๐ข sangat penting. Paulus mengatakan bahwa memersembahkan tubuh adalah ๐ญ๐ข๐ต๐ณ๐ฆ๐ช๐ข. Ini membuka kemungkinan untuk menjelaskan: ibadah tidak berhenti ketika liturgi selesai. Tubuh yang dipersembahkan kepada Allah harus hidup dalam pembaruan pikiran dan menjadi bagian dari kehidupan tubuh Kristus.
Itu jauh lebih kuat, karena ucapan Paulus ini radikal. Persembahan itu benda mati, tetapi Paulus membalikkannya menjadi persembahan hidup.
๐ญ๐ต. ๐๐ฎ๐น๐, ๐ฏ๐ฎ๐ด๐ฎ๐ถ๐บ๐ฎ๐ป๐ฎ ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ธ๐ต๐ผ๐๐ฏ๐ฎ๐ต ๐๐ ๐ก?
Khotbah MKN sebenarnya menangkap beberapa unsur penting dari Roma 12:1-8. Ia berbicara tentang memberi diri, kerendahhatian, kesatuan tubuh Kristus, keberagaman karunia, pelayanan, dan pembaruan diri. Persoalannya bukan bahwa apa yang dikatakan MKN keliru semua. Persoalannya adalah apa yang hilang dari teks ketika Roma 12:1-8 dibawa ke dalam kerangka khotbah tersebut.
Yang paling mencolok adalah bahwa ๐ค๐ช๐ฃ pada awal Roma 12:1 hampir tidak mendapat fungsi teologisnya. Paulus tidak memula dengan ajakan moral untuk “memberi diri”, melainkan dengan belas kasihan Allah yang telah lebih dahulu dinyatakan dalam keseluruhan Roma 1-11.
Akibatnya, ketika MKN mengatakan bahwa Tuhan sudah memberikan kehidupan kepada kita, lalu kita dipanggil untuk memberi diri kepada Tuhan, arah argumentasinya memang benar secara umum, tetapi menjadi jauh lebih sederhana daripada argumentasi Paulus.
Demikian pula, “memersembahkan tubuh” dalam khotbah lebih banyak bergerak ke arah aktivitas memberi diri, melayani, dan berkontribusi, sementara matra ๐ดล๐ฎ๐ข๐ต๐ข sebagai seluruh keberadaan manusia dan ๐ญ๐ข๐ต๐ณ๐ฆ๐ช๐ข sebagai ibadah yang mencakup kehidupan tidak benar-benar dikembangkan.
Hal yang sama terjadi pada ayat 2. MKN berbicara tentang pembaruan diri, tetapi pusat ayat ini sebenarnya adalah pembaruan ๐ฏ๐ฐ๐ถ๐ด, kemampuan berpikir dan membedakan kehendak Allah. Paulus tidak sekadar mengajak orang menjadi lebih baik. Ia mengajak komunitas Kristen mengalami alihrupa cara berpikir sehingga mampu menguji apa yang berkenan kepada Allah.
Ayat 3-8 juga bukan sekadar sampiran tentang “karunia-karunia yang kita miliki”. Bagian ini merupakan konsekuensi langsung dari pembaruan tersebut. Orang yang pikirannya diperbarui tidak lagi memandang dirinya secara berlebihan, melainkan memahami dirinya sebagai bagian dari satu tubuh Kristus dan menggunakan karunianya untuk tubuh itu.
Di sini sebenarnya khotbah MKN mempunyai titik temu yang menarik dengan teks, terutama ketika ia berbicara tentang kesatuan GKI, keberagaman, saling membutuhkan, kelompok yang tersisih, disabilitas, jemaat yang mengalami kesulitan ekonomi, serta penggunaan karunia untuk kepentingan bersama. Bahkan beberapa ilustrasinya cukup kuat.
Tapiiii persoalannya adalah arahnya sering terbalik: pengalaman dan persoalan komunitas GKI menjadi kerangka utama, lalu Roma 12 dipakai untuk memberi dasar Alkitabiah bagi kerangka tersebut. Padahal dalam teks Paulus justru Injil tentang belas kasihan Allah yang membentuk cara komunitas memahami dirinya.
Dengan kata lain khotbah ini cukup berhasil menangkap tema-tema Roma 12, tetapi belum sepenuhnya menangkap logika Roma 12. Tema teks bukan selalu sama dengan logika teks.
Kita bisa mengatakan hal-hal yang benar berdasarkan Roma 12: memberi diri, rendah hati, bersatu, menggunakan karunia, melayani sesama. Akan tetapi kalau nasabah belas kasihan Allah ➡️ pembaruan pikiran ➡️ kerendahhatian ➡️ tubuh Kristus ➡️ karunia ➡️ pelayanan tidak terlihat, maka kedalaman argumentasi Paulus menjadi hilang.
Jadi, masalah utama khotbah MKN bukanlah “keliru menafsir Roma 12”, melainkan “menyederhanakan Roma 12 menjadi khotbah tentang memberi diri, kesatuan, dan pelayanan.”