Kamis, 24 September 2026

𝗔𝗹𝗸𝗶𝘁𝗮𝗯 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗳𝗶𝗿𝗺𝗮𝗻 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵?

Dalam kehidupan gerejawi hampir setiap hari kita mendengar ungkapan 𝘈𝘭𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩. Saking seringnya ungkapan itu didengar, otak akhirnya bekerja secara otomatis: Alkitab = firman Allah. Titik! Persoalannya, ketika sebuah ungkapan teologis terus-menerus diulang tanpa lagi dipikirkan maknanya, metafora dapat berubah menjadi takrif (𝘥𝘦𝘧𝘪𝘯𝘪𝘵𝘪𝘰𝘯), dan takrif itu kemudian diperlakukan sebagai fakta harfiah.

𝘈𝘭𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 pada dasarnya merupakan ungkapan metaforis. Jika ungkapan tersebut dipahami secara harfiah bahwa Alkitab identik dengan Firman Allah, maka Yohanes 1:1 secara konsekuen dapat dibaca begini:

𝘗𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘭𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣. 𝘈𝘭𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢-𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩. 𝘈𝘭𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩.

Tentu saja bukan demikian maksud pengarang Injil Yohanes. Dalam Yohanes 1:1 Firman (𝘓𝘰𝘨𝘰𝘴) bukanlah nama lain untuk sebuah buku yang baru muncul berabad-abad kemudian. Firman merujuk  realitas ilahi yang dalam prolog Injil Yohanes kemudian dinyatakan dalam diri Yesus Kristus.

Hal yang sama dapat dilihat dalam ungkapan lain, misalnya 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘨𝘶𝘯𝘶𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘵𝘶𝘬𝘶. Apakah Allah secara harfiah adalah sebuah gunung batu? Tentu tidak. Ungkapan itu merupakan metafora. Seseorang yang menghadapi badai kehidupan dan mengalami Allah sebagai tempat perlindungan yang teguh dapat mengungkapkan pengalamannya dengan mengatakan bahwa Allah adalah “gunung batu”.

Demikian pula ungkapan 𝘈𝘭𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩. Ungkapan tersebut merupakan cara iman untuk mengatakan bahwa melalui kesaksian yang terdapat dalam teks-teks Alkitab, manusia dapat mendengar dan mengalami firman Allah. Ketika seseorang membaca sebuah teks Alkitab dan melalui teks itu mengalami teguran, penghiburan, penguatan, atau panggilan untuk bertindak, pengalaman tersebut dapat dipahami sebagai perjumpaan dengan firman Allah. Namun, pengalaman tersebut tidak berarti bahwa setiap tafsiran atau setiap perasaan yang muncul ketika membaca Alkitab otomatis identik dengan maksud Allah. Di sinilah penafsiran menjadi penting.

Alkitab sendiri bukanlah sebuah buku yang ditulis oleh satu orang, pada satu zaman, dengan satu gaya, satu situasi, dan satu tujuan. Alkitab merupakan kumpulan tulisan yang lahir dalam rentang waktu yang panjang, dari komunitas dan para petulis yang berbeda, dalam konteks sosial, politik, budaya, dan keagamaan yang berbeda pula. Oleh karena itu kita menemukan di dalamnya beraneka suara, perspektif, bahkan perbedaan dan ketegangan teologis.

Para petulis kitab-kitab Alkitab juga tidak sedang menyalin sebuah naskah ilahi yang turun dari langit. Mereka menafsir pengalaman hidup, sejarah, penderitaan, pembebasan, konflik, harapan, dan hubungan mereka dengan Allah, lalu menuangkannya dalam berbagai bentuk sastra: narasi, puisi, hikmat, nubuat, surat, apokaliptik, dan berbagai genre lainnya. Oleh karena itu pula teks Alkitab tidak dapat dilepaskan dari manusia dan konteks historis yang melahirkannya.

Contoh yang sangat jelas dapat kita lihat dalam penulisan kitab-kitab Injil. Mengapa kitab Injil ditulis? Para petulis Injil tidak sedang menyusun biografi Yesus secara netral seperti seorang sejarawan modern. Mereka menulis kepada komunitas-komunitas tertentu yang memiliki pergumulan konkret. Ada jemaat yang sedang menghadapi kegundahan, penderitaan, konflik, dan pertanyaan iman yang serius: Jika Yesus adalah Mesias, mengapa Ia justru mati di kayu salib? Apa arti kematian-Nya? Apakah kematian itu berarti kegagalan? Bagaimana kematian dan kebangkitan Yesus harus dipahami dalam terang iman kepada Allah?

Oleh karena itu masing-masing petulis Injil menyusun dan menafsirkan tradisi tentang Yesus dengan cara yang khas sesuai dengan konteks komunitasnya. Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes tidak menghasilkan empat kisah teologis yang identik tentang Yesus. Mereka menghadirkan empat kesaksian teologis yang memiliki penekanan masing-masing. Perbedaan itu bukan sesuatu yang harus segera diharmonisasikan seolah-olah para petulis telah membuat kesalahan yang perlu diperbaiki. Perbedaan itu justru memerlihatkan bahwa mereka sedang melakukan pekerjaan teologis: menafsirkan siapa Yesus dan apa arti kehidupan, kematian, serta kebangkitan-Nya bagi komunitas yang mereka layani.

Dengan demikian teks Injil bukan sekadar kumpulan informasi tentang apa yang pernah dilakukan dan dikatakan Yesus. Teks Injil merupakan kesaksian iman yang lahir dari perjumpaan antara tradisi tentang Yesus dan pergumulan konkret komunitas-komunitas Kristen perdana. Itulah sebabnya keempat Injil dapat menceritakan Yesus dengan penekanan yang berbeda, tanpa harus dipaksa menjadi satu cerita yang seragam.

Justru karena itulah Alkitab dapat dan perlu dikaji secara ilmiah dan akademis. Meneliti teks secara historis-kritis memerhatikan bahasa, genre, konteks sosial, proses penyuntingan, dan perkembangan tradisi tidak berarti merendahkan Alkitab. Sebaliknya, penelitian semacam itu menunjukkan penghargaan terhadap teks dengan tidak memaksanya berbicara menurut keinginan pembacanya.

Untuk itu mengatakan bahwa 𝘈𝘭𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 tidak perlu membuat kita berhenti berpikir. Sebaliknya, pengakuan iman itu seharusnya mendorong kita membaca Alkitab dengan lebih cermat: membedakan teks dari tafsir, membedakan suara petulis dari suara prapaham pembaca, memerhatikan konteks, dan berani mengakui bahwa Alkitab memang memuat keragaman kesaksian iman.

Alkitab tidak menjadi kurang berharkat ketika kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis terhadapnya. Justru di situlah kedewasaan beriman diuji. Iman yang dewasa tidak takut pada pertanyaan. Dengan demikian persoalannya bukan pertama-tama apakah Alkitab “identik dengan” firman Allah, tetapi bagaimana melalui teks-teks yang lahir dari refleksi pergumulan manusia dengan Allah itu, Gereja terus-menerus mendengar, memahami, dan menghidupinya.

(25092026)

Sudut Pandang Matius 21 : 28-32

Sudut Pandang Matius 21 : 28-32 Pernah nggak sih kamu janji mau mulai olahraga, udah beli sepatu lari mahal, update status "new me...