PENGANTAR
Ketika kita berumur 50, lalu kita membuat tulisan tentang hidup kita di masa remaja dan sekolah. Tentulah ada perbedaan reaksi dan perasaan antara kita di masa kini dan kita di masa lalu. Perbedaan ini bukan berarti kita memanipulasi kisah kehidupan kita di masa lampau. Lewat pengalaman dari perjalanan hidup kita memberi makna terhadap kejadian pada diri kita di masa remaja. Misal, kita dihukum dikeluarkan dari kelas oleh guru. Perasaan kita saat itu takut dan malu bercampur aduk. Bagi kita itu adalah tragedi. Namun, sekarang “tragedi” itu kita alihrupakan menjadi humor yang membuat kita tertawa ketika kita bersua dengan teman lama atau bahkan guru yang menghukum kita.
Demikian juga kira-kira pada penulisan kitab-kitab Injil. Penulisan Injil Matius, sebagai contoh, terjadi sekitar 40 tahun sesudah peristiwa penyaliban Yesus. Sudah ada jemaat Kristen yang dapat kita sebut Jemaat Matius. Jemaat ini sudah cukup mapan. Seperti halnya jemaat mapan di zaman modern, jemaat ini banyak persoalan internal. Hal ini ditambah lagi penghancuran Bait Allah oleh tentara Roma yang berakibat jemaat Kristen diusir dari rumah-rumah ibadat (sinagog) Yahudi karena dianggap sebagai sumber malapetaka. Pengarang Injil Matius hendak memberikan pastoral kepada jemaatnya dengan menulis Injil yang merupakan refleksi imannya. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kurun 40 tahun sesudah penyaliban Yesus dijadikan refleksi dan dimasukkan ke dalam cerita Injil untuk diberi makna baru.
Hari ini adalah Minggu kedua puluh setelah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 22:1-14 yang didahului dengan Yesaya 25:1-9, Mazmur 23, dan Filipi 4:1-9.
Bacaan Injil Minggu ini perikopnya diberi judul oleh LAI 𝘗𝘦𝘳𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘢𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘸𝘪𝘯. Ini merupakan perumpamaan ketiga Yesus dalam rangka menjawab gugatan imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi mengenai otoritas mengajar Yesus di Bait Allah. Dua perumpamaan sebelumnya sudah diulas dalam Sudut 𝘗𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 sebelum ini.
Perumpamaan di atas sejajar dengan perumpamaan di Injil Lukas 14:15-24. Meskipun sejajar, tentu saja ada perbedaan narasi dan penekanan karena memang kedua penulis Injil mengusung teologi yang berbeda. Di Injil Lukas perumpamaan itu tentang perjamuan umum, sedang di Injil Matius tentang perjamuan kawin. Perbedaan besarnya adalah Matius menempatkan perumpamaan itu sesudah Yesus tiba di Yerusalem, sedang di Injil Lukas Yesus belum berada di Yerusalem.
Pengulasan perumpamaan dapat dibagi ke dalam empat bagian:
▶️ Matius 22:1-7 Penolakan undangan
▶️ Matius 22:8-10 Pengalihan undangan
▶️ Matius 22:11-13 Undangan yang pongah
▶️ Matius 22:14 Penutup
𝗣𝗲𝗻𝗼𝗹𝗮𝗸𝗮𝗻 𝘂𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 (Mat. 22:1-7)
Yesus berbicara lagi dalam perumpamaan kepada mereka (ay. 1), “𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘥𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘢𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘸𝘪𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢. (ay. 2) 𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢-𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘶𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘢𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘸𝘪𝘯 𝘪𝘵𝘶, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨. (ay. 3) 𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢-𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘱𝘦𝘴𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢: 𝘒𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘶𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶: 𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘪𝘥𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘴𝘦𝘥𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯, 𝘭𝘦𝘮𝘣𝘶-𝘭𝘦𝘮𝘣𝘶 𝘫𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘯𝘢𝘬 𝘱𝘪𝘢𝘳𝘢𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘪𝘩; 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘥𝘪𝘢, 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘢𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘸𝘪𝘯 𝘪𝘯𝘪. (ay.. 4) 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘶𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢; 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘭𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢, 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘳𝘶𝘴 𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 (ay. 5), 𝘥𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢-𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶, 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘬𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 (ay. 6). 𝘔𝘶𝘳𝘬𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘪𝘵𝘶. 𝘐𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘱𝘢𝘴𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦 𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘯𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩-𝘱𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘬𝘢𝘳 𝘬𝘰𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 (ay. 7).” (TB II 2023)
Perbedaaan perumpamaan di Injil Matius dan Injil Lukas:
▶️ Di Injil Matius perumpamaan ditujukan kepada imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi, sedang di Injil Lukas ditujukan kepada orang-orang Farisi dan para ahli Taurat.
▶️ Tempat di Bait Allah dalam Injil Matius, sedang dalam Injil Lukas Yesus di rumah pemimpin orang Farisi yang menjamu-Nya.
▶️ Penyelenggara perjamuan kawin adalah raja di Injil Matius, sedang di Injil Lukas penyelenggaranya hanya “seseorang” dan bukan perjamuan kawin.
▶️ Penolak undangan di Injil Lukas menolak dengan baik-baik, sedang di Injil Matius penolak undangan ada yang menolak dengan baik-baik, ada yang menyiksa hamba utusan sang raja, bahkan ada yang dengan beringas membunuh hamba-hamba raja itu.
▶️ Di Injil Lukas pengundang murka, sedang di Injil Matius si pengundang bukan saja murka, tetapi juga membinasakan para pembunuh hamba-hambanya dan membakar kota mereka.
Undangan dan penolakan pertama dalam perumpamaan di atas hanya satu ayat (lih. ay. 3). Undangan dan penolakan kedua ditulis lebih lengkap dengan tiga ayat (lih. ay. 4-6). Tampaknya Matius hendak mengontraskan antara urusan pribadi para undangan dan tindakan kekerasan mereka terhadap hamba-hamba utusan raja. Kebiasaan di sana undangan disampaikan dua kali. Undangan kedua adalah penjemputan sebelum acara perjamuan dimulai. Dalam perumpamaan itu reaksi undangan kedua sudah melampaui kebiasaan di sana. Mereka bukan saja menolak, tetapi juga menyiksa dan membunuh hamba-hamba utusan raja.
Injil Matius ditulis sesudah masa penghancuran Bait Allah dan Kota Yerusalem oleh Jenderal Titus dari Roma pada 70 ZB. Matius hendak menyampaikan bahwa penghancuran Yerusalem itu adalah penghukuman dari Allah karena orang-orang Yahudi yang diwakili oleh imam-imam kepala dan tua-tua yang menolak kehadiran Yesus dan para pewarta kristiani (ay. 7).
𝗣𝗲𝗻𝗴𝗮𝗹𝗶𝗵𝗮𝗻 𝘂𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 (Mat. 22:8-10)
“𝘚𝘦𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢-𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢: 𝘗𝘦𝘳𝘫𝘢𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘸𝘪𝘯 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘥𝘪𝘢, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘶𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘺𝘢𝘬 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘪𝘵𝘶. (ay. 8) 𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘵𝘶, 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘪𝘮𝘱𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯-𝘱𝘦𝘳𝘴𝘪𝘮𝘱𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘫𝘶𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘦 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘢𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘸𝘪𝘯 𝘪𝘵𝘶. (ay. 9) 𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢-𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘫𝘶𝘮𝘱𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯-𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯, 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬, 𝘴𝘦𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩𝘭𝘢𝘩 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘢𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘮𝘶. (ay. 10)” (TB II 2023)
Kalau kita membaca secara saksama, ada yang janggal menjelang bagian kedua ini. Tidak ada jeda hari antara bagian pertama dan kedua. Untuk mengerahkan pasukan dan membakar kota tentunya membutuhkan waktu lama. Namun, seperti yang pernah saya sampaikan bacalah perumpamaan sebagai perumpamaan.
Di Injil Lukas penyelenggara pesta mengundang orang-orang miskin, cacat, dan buta. Begitulah penekanan Lukas yang sangat memerhatikan orang-orang pinggiran (marginal).
Matius berbicara tentang 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨. Penulis Injil Matius banting stir. Sesudah orang-orang Yahudi menolak Injil, maka pewartaan Injil dialihkan kepada bangsa-bangsa lain. Frase 𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘵𝘶, 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 … (𝘱𝘰𝘳𝘦𝘶𝘦𝘴𝘵𝘩𝘦 𝘰𝘶𝘯) di ayat 9 sama dengan 𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘵𝘶, 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 … di Matius 28:19 sebagai penutup Injil Matius.
𝗨𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗽𝗼𝗻𝗴𝗮𝗵 (Mat. 22:11-13)
“𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘮𝘶-𝘵𝘢𝘮𝘶 𝘪𝘵𝘶, 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘴𝘵𝘢. (ay. 11) 𝘐𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢: 𝘒𝘢𝘸𝘢𝘯, 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘴𝘵𝘢? 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘢𝘮 𝘴𝘢𝘫𝘢. (ay. 12) 𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘺𝘢𝘯-𝘱𝘦𝘭𝘢𝘺𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢: 𝘐𝘬𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘬𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘤𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘨𝘦𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘭𝘶𝘢𝘳, 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘳𝘢𝘵𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘳𝘵𝘢𝘬 𝘨𝘪𝘨𝘪. (ay. 13)” (TB II 2023)
Injil Matius ditulis untuk Jemaat Matius yang merupakan gereja yang sudah cukup mapan dan berliturgi rapi. Jemaat di sini bukan semata-mata himpunan individu yang mengakui Yesus sebagai Kristus dan Tuhan, tetapi juga jemaat atau gereja yang memiliki semacam dewan pemimpin atas nama dan dengan wibawa Tuhan. Tidak semua pemimpin dan pengikut Yesus terandalkan. Ada di antara mereka yang dikiaskan oleh Matius sebagai serigala berbulu domba (lih. Mat. 7:15). Ada juga kelompok yang mati-matian memertahankan tradisi Farisi dan tidak mau meninggalkan masa lampau.
Bagian ketiga perumpamaan di atas menggambarkan situasi Jemaat Matius. Undangan yang tidak mengenakan pakaian pesta itu mewakili kelompok di Jemaat Matius yang sudah merasa bagian dari Kerajaan Allah. Mereka yakin pasti selamat karena “orang dalam”. Padahal untuk menjadi bagian dari Kerajaan Allah mereka harus meninggalkan pola hidup dan pola laku yang lama. Jika tidak, nasib mereka sama dengan orang-orang yang menolak undangan perjamuan kawin itu. Tidak ada yang dapat dimegahkan menjadi “orang dalam”. Jangan pongah!
𝗣𝗲𝗻𝘂𝘁𝘂𝗽 (Mat. 22:14)
“𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣, 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘱𝘪𝘭𝘪𝘩.” (TB II 2023)
Mengontraskan yang kecil dengan yang besar (atau sebaliknya) merupakan ciri ungkapan Yahudi. Ayat di atas hendak mengontraskan banyak dengan sedikit. Tidak ada angka tertentu di sana. Kita tidak dapat membuat kesimpulan ada 100 orang yang dipanggil, tetapi hanya 10 yang dipilih.
Perumpamaan di atas tampaknya hendak mengubah premis Injil untuk orang-orang Yahudi menjadi Injil untuk segala bangsa. Allah menawarkan keselamatan kepada semua orang, tanpa kecuali, tetapi Ia memilih mereka yang menerima undangan-Nya secara tepat dengan meninggalkan pola hidup dan pola laku lama.
(15102023)(TUS)