Jumat, 06 November 2026

Sudut  𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗫𝗜𝗩 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝗠𝗮𝗻𝗮𝗷𝗲𝗺𝗲𝗻 𝗿𝗶𝘀𝗶𝗸𝗼

Kalender gerejawi Tahun A atau disebut juga dengan Tahun Matius menyisakan tiga Minggu lagi. Minggu, 29 Nopember 2026, adalah Minggu I Adven yang merupakan awal kalender gerejawi Tahun B atau Tahun Markus.

Di pengujung (bukan penghujung) Tahun A tema yang disajikan adalah eskatologis (penantian kedatangan Yesus kembali) yang didahului dengan sastra apokaliptik (penyingkapan) di Matius 24:1-36. Tulisan itu tampaknya campuran tradisi dan visi Yahudi dengan tradisi dan visi Kristen. Sangat bolehjadi sastra apokaliptik itu dibuat berangkat dari refleksi penulis Injil Matius atas penghancuran Bait Allah oleh Jenderal Titus (bukan saya loh ... Wk .... Wk) pada 70 ZB. Sastra apokaliptik disampaikan dengan bahasa kiasan, perumpamaan, atau ucapan-ucapan bergaya perumpamaan. Pesan utama yang hendak disampaikan adalah berjaga-jagalah karena tak seorang pun tahu waktu kedatangan Yesus kembali.

Hari ini adalah Minggu kedua puluh empat setelah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 25:1-13 yang didahului dengan Amos 5:18-24, Mazmur 70, dan 1Tesalonika 4:13-18.

Bacaan Injil Minggu ini perikopnya diberi judul oleh LAI 𝘎𝘢𝘥𝘪𝘴-𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘫𝘢𝘬𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴-𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩. Di bagian akhir Injil Matius kembali Yesus menampilkan perumpamaan tentang Kerajaan Allah (atau Surga). Penekanan perumpamaan pada manifestasi Kerajaan Allah yang akan terjadi pada akhir zaman. Perumpamaan ini berpautan erat dengan perumpamaan sebelumnya: tentang pencuri yang datang pada waktu malam dan hamba yang sedang melakukan tugasnya ketika tuannya datang (lih. Mat. 24:43-51). 

Perumpamaan dalam bacaan Injil Minggu ini adalah khas Injil Matius. Fakta sejarah penghancuran Bait Allah oleh Jenderal Titus pada 70 ZB membuat jemaat Kristen limbung. Yesus 𝘬𝘰𝘬 tidak datang juga? Di sini penulis Matius hendak menggembalakan umat bahwa kedatangan Yesus kembali tidak ada yang tahu. Tugas umat berjaga-jaga.

Pengulasan bacaan dapat dibagi ke dalam empat bagian.
▶️ Matius 25:1-4 Gadis-gadis bijaksana dan bodoh
▶️ Matius 25:5-7 Suasana tengah malam
▶️ Matius 25:8-12 Krisis minyak
▶️ Matius 25:13 Berjaga-jagalah

𝗚𝗮𝗱𝗶𝘀-𝗴𝗮𝗱𝗶𝘀 𝗯𝗶𝗷𝗮𝗸𝘀𝗮𝗻𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗯𝗼𝗱𝗼𝗵 (Mat. 25:1-4)

“𝘗𝘢𝘥𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘱𝘦𝘭𝘪𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘭𝘢𝘪 𝘭𝘢𝘬𝘪-𝘭𝘢𝘬𝘪. (ay. 1) 𝘓𝘪𝘮𝘢 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘣𝘪𝘫𝘢𝘬𝘴𝘢𝘯𝘢. (ay. 2) 𝘎𝘢𝘥𝘪𝘴-𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘱𝘦𝘭𝘪𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘺𝘢𝘬, (ay. 3) 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴-𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘫𝘢𝘬𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘱𝘦𝘭𝘪𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘣𝘶𝘭𝘪-𝘣𝘶𝘭𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢.” (ay. 4) (TB II 2023)

𝘗𝘢𝘥𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘪𝘵𝘶 (𝘛𝘰𝘵𝘦) semacam rumus peralihan dari adegan satu ke adegan lain tanpa bermakna kronologis. 𝘛𝘰𝘵𝘦 di sini dapat juga berarti 𝘬𝘦𝘮𝘶𝘥𝘪𝘢𝘯 atau 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵𝘯𝘺𝘢 (lih. Mat. 11:25; 12:1; 14:1). 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 konstruksinya sama dengan teks Matius 13:24, yang dipautkan dengan isi bagian sebelumnya. Maksudnya kedatangan Yesus akan terjadi suasana serupa dengan isi cerita dalam perumpamaan, yang di sini ditunjukkan dengan istilah 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘭𝘢𝘪 𝘭𝘢𝘬𝘪-𝘭𝘢𝘬𝘪. 𝘎𝘢𝘥𝘪𝘴 diterjemahkan dari 𝘱𝘢𝘳𝘵𝘩𝘦𝘯𝘰𝘪𝘴 yang berarti literal perawan. Dalam arti luas mereka adalah perempuan yang belum menikah.

Kata 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩 diterjemahkan dari 𝘮𝘰̄𝘳𝘢𝘪. Kata yang sama muncul di Matius 5:22 dan 7:26. Kata ini bukan saja ditujukan kepada orang-orang yang tidak berpengetahuan, tetapi juga kepada orang yang tidak mau mendengar perintah Allah. Di dalam kitab-kitab Injil hanya Matius yang menggunakan kata ini. Kata 𝘣𝘪𝘫𝘢𝘬𝘴𝘢𝘯𝘢 yang diterjemahkan 𝘱𝘩𝘳𝘰𝘯𝘪𝘮𝘰𝘪 muncul di Matius 7:24. Kata 𝘱𝘩𝘳𝘰𝘯𝘪𝘮𝘰𝘪 merujuk orang berpengetahuan atau memiliki hati.

Di perumpamaan ini sama sekali tidak menyebut mempelai perempuan. Dari sini dapat ditafsirkan bahwa sepuluh gadis bijaksana dan bodoh itu mengiaskan atau menggambarkan keadaan Jemaat Matius saat itu yang bercampur baur antara yang baik dan buruk, gandum dan ilalang. Warga jemaat yang baik digambarkan sebagai gadis-gadis yang siap dengan minyak cadangan, sedang yang buruk tidak membawa minyak cadangan. Membawa minyak cadangan berarti sudah siap untuk perarakan yang lama. Ini mengumpamakan jemaat yang tekun melakukan melebihi kebenaran para pemimpin Yahudi (Mat. 5:20 – 6:18), mengasihi Allah dan sesama manusia (Mat. 22:37-39), serta berlaku adil, berbelaskasihan, dan setia (Mat. 23:23).

𝗦𝘂𝗮𝘀𝗮𝗻𝗮 𝘁𝗲𝗻𝗴𝗮𝗵 𝗺𝗮𝗹𝗮𝗺 (Mat. 25:5-7)

“𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘭𝘢𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨-𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘶𝘨𝘢, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘵𝘶𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳. (ay. 5) 𝘞𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘵𝘦𝘳𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘭𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘦𝘳𝘶: 𝘔𝘦𝘮𝘱𝘦𝘭𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨! 𝘚𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢! (ay. 6) 𝘎𝘢𝘥𝘪𝘴-𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘦𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘭𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢.” (ay. 7) (TB II 2023)

Frase 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘭𝘢𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨-𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘶𝘨𝘢 merujuk kenyataan bahwa Yesus belum datang juga dalam kemuliaan-Nya sampai Bait Allah dihancurkan oleh Jenderal Titus. Frase 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘵𝘶𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳 mengumpamakan betapa panjang waktu penantian itu.

𝘞𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 (𝘮𝘦𝘴𝘦̄𝘴 𝘥𝘦 𝘯𝘺𝘬𝘵𝘰𝘴) di ayat 6 tampaknya berpautan erat dengan saat 𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢 (kedatangan Tuhan). Beberapa teks Perjanjian Baru (PB) menyebut kiasan waktu kedatangan Tuhan pada malam hari (lih. Mat. 24:43; Luk. 12:39; 1Tes. 5:2). Dalam tradisi Yahudi empat malam terpenting: (1) Malam ketika Allah mengusir kegelapan dan menciptakan dunia, (2) malam ketika Abraham hendak mengurbankan anaknya, (3) malam ketika Israel memula keluar dari Mesir, dan (4) malam zaman eskatologis. Dalam konteks Injil Matius penulis hendak mengingatkan malam Paska yang penuh keajaiban. Pada malam itu Allah akan menciptakan langit baru dan bumi baru. Dapat dikatakan perumpamaan ini bercorak Paska.

Seruan 𝘔𝘦𝘮𝘱𝘦𝘭𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨  diterjemahkan dari 𝘪𝘥𝘰𝘶 𝘩𝘰 𝘯𝘺𝘮𝘱𝘩𝘪𝘰𝘴, yang berarti literal lihatlah mempelai. Kata 𝘪𝘥𝘰𝘶 digunakan juga di Matius 1:20 dan 4:11. Dari seruan itu tampaknya mempelai sudah dekat, tetapi para gadis penyambut masih memiliki waktu untuk membereskan pelita mereka.

𝗞𝗿𝗶𝘀𝗶𝘀 𝗺𝗶𝗻𝘆𝗮𝗸 (Mat. 25:8-12)

“𝘎𝘢𝘥𝘪𝘴-𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴-𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘫𝘢𝘬𝘴𝘢𝘯𝘢: 𝘉𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘪𝘯𝘺𝘢𝘬𝘮𝘶 𝘪𝘵𝘶, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘱𝘦𝘭𝘪𝘵𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮. (ay. 8) 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴-𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘫𝘢𝘬𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘪𝘵𝘶: 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬, 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘬𝘢𝘮𝘶. 𝘓𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘶𝘢𝘭 𝘮𝘪𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘭𝘪 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪. (ay. 9) 𝘈𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘪𝘯𝘺𝘢, 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘭𝘢𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘪𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘬𝘦 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘢𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘸𝘪𝘯, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘵𝘶𝘵𝘶𝘱. (ay. 10) 𝘒𝘦𝘮𝘶𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴-𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢: 𝘛𝘶𝘢𝘯, 𝘛𝘶𝘢𝘯, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘪! (ay. 11) 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣: 𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘬𝘢𝘮𝘶.” (ay. 12) (TB II 2023)

Apabila kita membaca saksama perumpamaan di atas ada banyak kejanggalan. Gadis-gadis yang bodoh itu minta minyak kepada gadis-gadis yang bijaksana. Untuk apa? Apa masalahnya ada lima pelita padam dalam perarakan sukacita? Mereka dapat saja ikut masuk bersama dengan rombongan. Gadis-gadis yang bodoh itu membeli minyak atas usulan dari gadis-gadis bijaksana, tetapi membuat mereka terlambat. Pintu ruang perjamuan kawin ditutup. Janggal. Pesta perjamuan kawin pada zaman itu di tempat terbuka, bahkan menjadi tontonan masyarakat. Orang dapat masuk-keluar setiap waktu. Sudah jelas perumpamaan di atas tidaklah menggambarkan pesta perjamuan kawin di Tanah Yudea.

Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya bahwa membaca perumpamaan haruslah membacanya sebagai perumpamaan. Perumpamaan di atas hendak mengajarkan bahwa suasana Kerajaan Surga seperti yang diperikan di sana. Tuhan yang dikiaskan sebagai mempelai laki-laki datang setiap waktu sesuai kehendak-Nya saja sehingga akan mengejutkan. Perumpamaan tidak mengajarkan bahwa Allah datang terlambat.

Perumpamaan gadis-gadis bijaksana tidak mau memberi sebagian minyak hendak menyampaikan bahwa kesetiaan melakukan kehendak Allah memang bukan barang yang dapat dibagi. Pada akhirnya persiapan hari kedatangan Tuhan menjadi tanggung jawab masing-masing murid dan tidak dapat dipinjam dari orang lain. Dalam adegan masuk ke ruang perjamuan kawin gadis-gadis bijaksana diubah sebutan menjadi 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘪𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘬𝘦 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘢𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘸𝘪𝘯 (ay. 10).

Perjamuan kawin menyimbolkan keselamatan eskatologis bersama Kristus. Dalam konteks akhir zaman pintu terbuka atau tertutup berarti mendapat bagian dalam kebahagiaan kekal atau tersingkir darinya. Menjadi Kristen saja tidaklah cukup, tetapi juga harus melakukan kehendak Bapa. Seperti apa? Melakukan melebihi kebenaran para pemimpin Yahudi (Mat. 5:20 – 6:18), mengasihi Allah dan sesama manusia (Mat. 22:37-39), serta berlaku adil, berbelaskasihan, dan setia (Mat. 23:23). Kalau tidak, maka, “𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘬𝘢𝘮𝘶.”

𝗕𝗲𝗿𝗷𝗮𝗴𝗮-𝗷𝗮𝗴𝗮𝗹𝗮𝗵 (Mat. 25:13)

“𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘨𝘢-𝘫𝘢𝘨𝘢𝘭𝘢𝘩, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘴𝘢𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢.” (TB II 2023)

Mesti dipahami lagi bahwa dalam Injil Matius akhir zaman bukan berarti akhir dunia. Akhir zaman bukan kiamat. Akhir zaman di sini adalah masa si jahat berakhir (bdk. Mat. 24:3 dan 28:20). Dunia tetap bergerak maju ke arah yang sejak mulanya ditetapkan oleh Allah.

Saat penulisan Injil Jemaat Matius mendua hati. Mereka sangat menantikan kedatangan Yesus kembali dan sekaligus gundah Yesus tak kunjung datang sampai Bait Allah II dihancurkan oleh Romawi. Penulis Injil hendak menggembalakan umat bahwa menanti bukanlah masa kosong, tetapi harus diisi dengan persiapan matang dengan berjaga-jaga. Matius mengumpamakan lima gadis bijaksana yang membawa cadangan minyak sebagai umat yang sangat siap dalam penantian. 

Berjaga-jaga itu seperti pelaku konstruksi mengerjakan proses manajemen risiko untuk mendata, menilai, serta mengurutkan semua jenis bahaya dan risiko di lingkungan kerja yang selanjutnya digunakan untuk mengurangi peluang kejadian kecelakaan kerja yang tak diinginkan. Bahaya selalu mengancam dan kita tidak tahu hari atau saat terjadi kecelakaan. Dengan berjaga-jaga kita sudah mengurangi bahkan mengeliminasi bahaya sehingga kita dapat hidup.

 (12112023)(TUS)

Sudut  𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗫𝗜𝗩 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔],  𝗠𝗮𝗻𝗮𝗷𝗲𝗺𝗲𝗻 𝗿𝗶𝘀𝗶𝗸𝗼 Kalender ...