Kamis, 05 November 2026

𝗝𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗖𝘂𝗺𝗮 “𝗡𝘂𝗺𝗽𝗮𝗻𝗴” 𝗱𝗶 𝗞𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵!

Beberapa hari terakhir media sosial diramaikan oleh pendeta, gereja, dan lembaga-lembaga Kristen menyampaikan sikap kepada Pemerintah menyusul viralnya persoalan salib merah. Bahkan ada pendeta yang mengacungkan tiga jari di mimbar sebagai simbol perlawanan.

Saya tidak anti-tindakan tersebut. Gereja tentu punya hak, bahkan panggilan moral, untuk menyuarakan keadilan dan mengecam kebijakan Pemerintah yang dianggap tidak adil. Namun, ada satu pertanyaan yang mengganggu saya: sejak kapan suara kenabian menjadi begitu bergantung pada sebuah peristiwa viral?

Bukankah suara kenabian merupakan bagian dari panggilan seorang pendeta bahkan gereja sejak ia ditahbis atau didirikan? Bukankah panggilan itu harus dijalankan terus-menerus, bukan hanya ketika ada peristiwa yang mengundang perhatian publik, ketika banyak pihak sudah bersuara, atau ketika mengacungkan tiga jari menjadi tindakan yang relatif aman karena dilakukan beramai-ramai?
PEMApHAMAN
Suara kenabian tidak mengenal musim viral. Ia tidak menunggu sebuah peristiwa menjadi ramai untuk kemudian hadir. Ia harus terdengar ketika ketidakadilan berlangsung, ketika orang-orang kecil dipinggirkan, ketika terjadi persekusi terhadap Gereja, ketika hak-hak manusia dirampas, dan ketika mereka yang seharusnya dilindungi justru tidak mendapat perlindungan.

Ada satu hal menarik yang saya temukan dalam unggahan Page SINODE GKJ. Saya mengapresiasi Sinode GKJ yang berani mengajak Gereja memeriksa dan membenahi kehidupan bergerejanya sendiri dengan menjadikan liturgi sebagai satu pintu masuk pembahasan.

Satu image dalam unggahan tersebut diberi judul: 𝗝𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗖𝘂𝗺𝗮 “𝗡𝘂𝗺𝗽𝗮𝗻𝗴” 𝗱𝗶 𝗞𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵! Ungkapan ini menarik perhatian saya.

Selama ini persoalan sosial kerap hanya numpang sebentar dalam khotbah. Pendeta mengangkat persoalan kemiskinan, ketidakadilan, kerusakan lingkungan, atau persoalan kemanusiaan sebagai bagian dari pemberitaan Firman. Jemaat mendengarkan, mungkin tersentuh, mungkin juga tergerak. Setelah ibadah selesai, menguap, semuanya kembali ke rutinitas masing-masing.

Persoalannya apakah suara kenabian gereja cukup berhenti dalam khotbah? Unggahan GKJ mengajak gereja melihat bahwa persoalan sosial perlu dipadukan ke dalam empat rumpun Liturgi GKJ (GKI menyebut ordo), yaitu Berhimpun, Firman, Syukur, dan Pengutusan. Dengan demikian pergulatan masyarakat tidak diperlakukan sebagai sisipan dalam satu ritus ibadah, tetapi menjadi bagian dari kehidupan bergereja secara menyeluruh.
Di sini saya hendak membawa gagasan ini sedikit lebih jauh. Jangan sampai suara kenabian Gereja hanya diarahkan ke luar, terutama kepada Pemerintah, sementara Gereja sendiri tidak bersedia mendengarkan suara kenabian yang diarahkan kepadanya.

Gereja juga mempunyai persoalan kemiskinan, ketidakadilan, penyalahgunaan kekuasaan pejabat gerejawi, ketertutupan pengelolaan keuangan, diskriminasi, dan berbagai praktik yang bertentangan dengan kesaksian Injil. Ada persoalan-persoalan yang berlangsung bertahun-tahun, tetapi tidak pernah menjadi viral. Ada orang yang secara tata gereja tidak bisa menjadi pendeta, tetapi lewat permainan politik busuk jadilah ia pendeta. Ada orang-orang yang mengalami ketidakadilan di dalam gereja, tetapi tidak memiliki panggung untuk menyampaikan keluhannya.

▶️Apakah Gereja bersedia mendengarkan mereka yang bukan donatur?
▶️Apakah pendeta berani menyuarakan kebusukan di dalam gerejanya sendiri, sekalipun suara itu membuatnya tidak disukai oleh Majelis Jemaat, sesama pendeta, atau lembaga gerejawi?
▶️Apakah penatua bersedia menerima kritik terhadap cara mereka menjalankan kepemimpinan?
▶️Apakah gereja bersedia membongkar praktik-praktik keliru yang selama ini dipertahankan atas nama tradisi, kebiasaan, atau keharmonisan organisasi?

Di sini suara profetis menghadapi tantangan yang lebih berat. Tidak ada kerumunan yang memberikan dukungan. Tidak ada arak-arakan yang menyertai. Tidak ada jaminan bahwa keberanian tersebut akan mendapatkan apresiasi. Bahkan orang yang menyuarakannya bisa dikucilkan, diancam, dan dianggap sebagai musuh gereja.

Namun, bukankah suara kenabian memang harus tetap disampaikan sekalipun tidak populer? Saya tidak sedang mengajak Gereja berhenti menyuarakan kritik kepada Pemerintah. Saya justru berharap suara kenabian Gereja dijalankan secara panggah, termasuk ketika harus mengecam dirinya sendiri. 

𝗝𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗖𝘂𝗺𝗮 “𝗡𝘂𝗺𝗽𝗮𝗻𝗴” 𝗱𝗶 𝗞𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵! Jangan cuma muncul ketika ada peristiwa viral. Jangan cuma lantang ketika banyak teman berada di barisan yang sama.

Suara kenabian bukan pertunjukan musiman. Ia adalah panggilan yang melekat pada kehidupan Gereja dan pelayanan seorang pendeta sejak penahbisan.

Jangan lupa, kita pun perlu mendengar suara kenabian yang ditujukan kepada kita.

Sudut  𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗫𝗜𝗩 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔],  𝗠𝗮𝗻𝗮𝗷𝗲𝗺𝗲𝗻 𝗿𝗶𝘀𝗶𝗸𝗼 Kalender ...