Jumat, 29 Maret 2024

SUDUT PANDANG 𝗔𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗯𝗮𝗻𝗴𝗸𝗶𝘁? Serial Paska


SUDUT PANDANG 𝗔𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗯𝗮𝗻𝗴𝗸𝗶𝘁? Serial Paska


saya sudah pernah menulis kematian Yesus merupakan faktual-historis yang tidak terbantahkan. 

Bagaimana dengan kebangkitan Yesus? Apakah ini merupakan faktual-historis? Di sinilah peliknya. 

Belum ditemukan sumber-sumber otentik mengenai kebangkitan Yesus di luar kekristenan. Satu-satunya sumber mengenai kebangkitan adalah dokumen Perjanjian Baru (PB), yang keempat Injil masuk ke dalamnya. Walaupun PB bukan dokumen atau buku sejarah, tetapi teks-teks itu dapat dikaji (satu di antaranya) melalui kritik naratif. Tentu saja teks dibaca dikaitkan dengan kehidupan sosio-politik yang mengitari teks itu.

Dunia sastra pada saat itu memahami gagasan bahwa orang baik dan bijaksana yang sudah membawa perubahan besar banyak orang akan dibinasakan oleh musuh-musuhnya. Namun, Allah tidak akan bergeming. Allah akan membangkitan orang yang tidak berdosa itu. Dengan latar belakang itu dapatlah dipahami berita tentang kebangkitan Yesus dalam keempat Injil itu dimaksudkan untuk menyatakan  bahwa Yesus adalah korban yang dibenarkan oleh Allah, dibela oleh Allah, dan Allah membangkitkan Yesus dari antara orang mati. Allah telah menggagalkan kekejian para pembenci Yesus. Berita pokok itulah yang hendak  disampaikan atau dideklarasikan oleh para penulis PB. Siapa aktor utama? Allah Sang Aktor. Allah mengalahkan maut dan membenarkan Yesus yang tidak bersalah itu.

Kebangkitan yang dimaksud oleh penulis PB bukanlah menghidupkan jenazah yang sudah mati (𝘳𝘦𝘴𝘶𝘴𝘤𝘪𝘵𝘢𝘵𝘪𝘰𝘯). Kebangkitan yang 𝘳𝘦𝘴𝘶𝘴𝘤𝘪𝘵𝘢𝘵𝘪𝘰𝘯 merupakan menghidupkan (sementara) orang mati seperti yang biasa dilakukan oleh kedokteran dengan alat-kejut jantung. Dalam Injil dapat dibaca mengenai kisah Yesus membangkitkan Lazarus dari kubur.

Persoalan timbul ketika terjadi ketidakpanggahan penulisan mengenai perjumpaan murid-murid atau pengikut dengan Yesus pasca-kematian (selanjutnya saya sebut Yesus-Paska). Maksud saya kisah di kitab yang satu berbeda dengan kitab lainnya sehingga ada ketidakpanggahan dan tidak kronologis. Berbeda halnya dengan berita kematian Yesus yang kesemuanya sama, yaitu Yesus mati di kayu salib yang memang saat itu merupakan berita umum di luar teks Alkitab.

Apabila kematian Yesus merupakan berita umum pada zamannya, para pakar PB berpendapat terjadinya ketidakpanggahan Yesus-Paska membuktikan tidak adanya konspirasi, tidak ada rekaan, tidak ada kebohongan. PB mengisahkan pengalaman individu-individu. Suatu pengalaman yang dialami oleh individu-invidu yang merupakan pengalaman historis mereka berjumpa dengan Yesus-Paska.

Pada masa itu pengalaman bertemu dengan orang-orang yang sudah mati merupakan hal lazim. Dikisahkan dalam PB Yesus-Paska berjalan ke Emaus menemani dua orang pengikut Yesus. Setibanya di rumah mereka mengajak “orang asing itu” mampir. Ketika akan santap malam mereka baru menyadari bahwa itu Yesus-Paska dan kemudian menghilang. Dikisahkan juga para murid berkumpul di ruangan tertutup karena ketakutan diburu oleh para pemuka agama Yahudi yang berkonspirasi dengan tentara Romawi. Tiba-tiba Yesus nongol hadir di tengah-tengah mereka dan menunjukkan bekas luka paku di tangan dan bekas luka tusuk tombak di lambung Yesus. 

Kisah itu mau menyampaikan bahwa Yesus bangkit (𝘳𝘦𝘴𝘶𝘳𝘳𝘦𝘤𝘵𝘪𝘰𝘯), bukan seperti jenazah yang dihidupkan (𝘳𝘦𝘴𝘶𝘴𝘤𝘪𝘵𝘢𝘵𝘪𝘰𝘯), juga bukan orang mati-suri kemudian bangun sendiri. Jika Yesus dihidupkan seperti itu atau bangun dari mati-suri, maka sulit untuk menerima Yesus-Paska masuk ke dalam ruangan tertutup tanpa melewati pintu atau tiba-tiba menghilang dari pandangan pengikut-pengikut Yesus. Akan tetapi dikisahkan juga Yesus-Paska bersantap bersama dengan murid-murid di tepian Danau Galilea. 

Kepelikan kisah-kisah di atas merupakan paradoks. Sisi satu Yesus-Paska dapat muncul dan menghilang seketika, sisi lainnya Yesus-Paska menunjukkan tanda fisikal berupa bekas luka tusukan paku salib, luka tusukan tombak di lambung, dan makan minum bersama dengan para murid. Penulis PB dengan segala keterbatasannya mau menyampaikan secara paradoks bahwa tubuh Yesus-Paska adalah rohaniah sekaligus tubuh alamiah.

Teks-teks PB yang memberitakan Yesus yang makan dan minum serta menghilang lagi itu merupakan metafora yang mau menyampaikan, dan mengundang para pembaca serta pendengarnya untuk mengalami berita bahwa Yesus itu, sekalipun sudah mati disalibkan, dibangkitkan, dan terus hadir seutuhnya di antara para murid, yakni mereka yang memercayai Yesus. Yesus itu tetap peduli dan berbelarasa (𝘤𝘰𝘮𝘱𝘢𝘴𝘴𝘪𝘰𝘯) kepada mereka. 

Kok metafora? Jangan berburuk-sangka pada metafora! Ajaran-ajaran Yesus banyak berupa parabel-parabel yang merupakan metafora yang memberdayakan, membebaskan, dan memanusiakan manusia. Alkitab juga penuh dengan metafora. Allah lebih besar daripada Alkitab. Allah bisa berfirman lewat apa saja termasuk metafora.

Metafora merupakan wacana untuk mengungkapkan realitas yang utuh tanpa memisahkan (apalagi memertentangkan!) hal yang subjektif dan objektif. Dalam metafor selalu ada yang kena dan yang tidak kena. Misal, 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘎𝘶𝘯𝘶𝘯𝘨 𝘉𝘢𝘵𝘶𝘬𝘶. Secara harfiah Allah bukanlah gunung batu. Jadi, gunung batu ini tidak kena pada Allah. Namun, bagi orang beriman yang mengalami berlindung di balik gunung batu mereka merasa sangat aman. Jadi, gunung batu ini kena pada orang beriman yang berlindung pada Allah.

Metafora 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘎𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬 bukan berarti Yesus gembala domba, karena Yesus adalah anak tukang kayu, tetapi bukan berarti Yesus tidak ada. Demikian juga halnya metafora kebangkitan Yesus bukan berarti tidak ada kebangkitan. Kebangkitan Yesus merupakan peristiwa sejarah yang dilakukan Allah pada diri Yesus, bukan pada diri jemaat di dalam narasi PB. Setelah itu apakah orang memercayainya atau tidak memercayainya, hal ini merupakan suatu reaksi atau tanggapan iman terhadap peristiwa bersejarah itu.

Metafora kebangkitan merupakan wacana yang disampaikan untuk mengundang pembaca atau pendengar mengalami realitas kehadiran seutuhnya (spiritual sekaligus fisikal) Yesus-Paska di dalam dunia ini tanpa batas ruang dan waktu: di dalam rumah kita, di kantor kita, di istana presiden, di gedung DPR, di kantor kelurahan, di gedung gereja ketika umat menyembah dia, di dalam makanan, nasi, ikan asin, pempek, tempe, tahu, pete, pecel, 𝘨𝘶𝘥𝘩𝘦𝘨, batagor, cemplon, dan lain sebagainya yang kita peroleh setiap hari sehingga kita berterimakasih, serta di dalam perjuangan orang-orang tertindas yang berseru kepada Yesus Kristus.

 (31032024)(T)

Baca juga
http://titusroidanto.blogspot.com/2024/03/sudut-pandang-yohanes-18-19.html

SUDUT PANDANG YOHANES 20:1-18, Serial Paska

SUDUT PANDANG YOHANES 20:1-18, Serial Paska

Sesudah melewati tiga hari secara berendeng secara khidmat oleh umat Kristen dalam Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Sunyi, umat bersukacita. Masa berduka usai. Pemimpin ibadah berseru “𝘊𝘩𝘳𝘪𝘴𝘵𝘰𝘴 𝘈𝘯𝘦𝘴𝘵𝘪!”, yang artinya Kristus bangkit. Umat menjawab “𝘈𝘭𝘪𝘵𝘩𝘰𝘴 𝘈𝘯𝘦𝘴𝘵𝘪 . 𝘈𝘭𝘭𝘦𝘭𝘶𝘪𝘢!” (Benar Ia bangkit. Puji Tuhan!). Trihari Suci atau 𝘵𝘳𝘪𝘥𝘶𝘶𝘮 𝘴𝘢𝘤𝘳𝘶𝘮 memerkuat narasi penyelamatan Allah melalui Paska, hari kebangkitan Kristus.

Persiapan Paska dimula pada Sabtu sesudah matahari terbenam. Gereja memelihara tradisi hari baru sesudah matahari terbenam. Sabtu Malam dalam tradisi gereja mula-mula sudah merupakan hari baru, hari Minggu. Ibadah Sabtu Malam disebut Vigili Paska (𝘌𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘝𝘪𝘨𝘪𝘭 atau 𝘗𝘢𝘴𝘤𝘩𝘢𝘭 𝘝𝘪𝘨𝘪𝘭). Vigili berarti berjaga-jaga yang kemudian dimaknai berjaga-jaga menantikan dan merayakan kebangkitan Yesus secara lebih daripada pengawal mengharapkan pagi (Mzm. 130:6). Ada empat bagian liturgi dalam kebaktian atau misa Vigili Paska: Ritus Cahaya, Liturgi Sabda, Liturgi Baptis, dan Liturgi Ekaristi atau Perjamuan Kudus.

Hari Paska secara tradisi dimeriahkan dengan makan telur. Ada dua kisah yang melatarinya. Pertama, telur merupakan makanan penting yang dipantangkan pada masa Pra-Paska. Kedua, telur adalah simbol kehidupan baru. Di belahan bumi bagian utara perayaan Paska sangat berdekatan dengan awal musim semi, mula musim tanam. Makan telur diadopsi dari festival musim semi.

Tidak ada hari raya Kristen yang lebih besar dan lebih penting daripada hari Paska. Jantung iman Kristen terletak pada Paska. Hari Raya Paska menjadi titik berangkat penetapan hari-hari raya lainnya. Tidak ada Paska berarti tidak ada kekristenan dan tidak ada kitab-kitab Injil. Itulah sebabnya keempat kitab Injil dalam kitab suci Kristen, Alkitab, kesemuanya memberitakan 𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮 𝘆𝗮𝗶𝘁𝘂 𝗸𝗲𝗯𝗮𝗻𝗴𝗸𝗶𝘁𝗮𝗻 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀. Kitab-kitab Injil ditulis karena ada peristiwa Paska yang kemudian ditulis secara retrospektif. Bandingkan dengan perayaan Natal. Dari keempat Injil hanya dua Injil yang memberitakan kelahiran Yesus alias Natal. Ini makin menegaskan bahwa jantung iman Kristen adalah Paska, bukan Natal. 

Orang Kristen pergi ke kebaktian atau misa Minggu karena pada dasarnya merayakan Paska, kebangkitan Kristus, yang menurut kesaksian Alkitab pada hari pertama (dalam pekan yang baru). Gereja kemudian menetapkan ada satu Minggu dalam setahun secara khusus dijadikan permulaan Masa Raya Paska atau yang dikenal dengan Hari Raya Paska. Minggu yang mana? 

Gereja menetapkan Paska pada Minggu pertama sesudah bulan purnama yang jatuh pada atau sesudah 21 Maret (𝘦𝘲𝘶𝘪𝘯𝘰𝘹). Apabila bulan purnama jatuh pada 21 Maret, maka Paska ditetapkan pada Minggu berikutnya. Tradisi Gereja Barat mengikuti kalender Gregorian. Contoh, Paska tahun ini ditetapkan pada 17 April, Paska 2023 pada 9 April, Paska 2024 pada 31 Maret, dst. Tradisi Gereja Timur mengikuti  kalender Julian. Paska tahun ini jatuh pada 24 April, Paska 2023 pada 16 April, Paska  2024 pada 5 Mei, dst.


Bacaan ekumenis Minggu Paska diambil dari Injil Yohanes 20:1-18 yang didahului dengan Kisah Para Rasul 10:34-43, Mazmur 118:1-2, 14-24, dan 1Korintus 15:19-26. Untuk praktis penulisan dalam edisi Paska ini saya menyebut Yesus yang bangkit atau tubuh kebangkitan Yesus sebagai 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀-𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮.

Dikisahkan dalam Injil Yohanes 20:1-18 pada Minggu buta Maria Magdalena (MM) pergi ke kubur Yesus dan ia melihat batu penutup kubur Yesus sudah tidak ada. MM kemudian berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka bahwa jenazah Yesus sudah tidak ada. Simon Petrus dan murid yang lain itu bergegas ke kubur Yesus. Petrus masuk ke kubur Yesus dan hanya melihat kain kafan sudah tergeletak di tanah, sedang kain peluh agak di samping di tempat lain sudah tergulung. Murid yang lain menyusul masuk, melihat, dan percaya. Sesudah itu keduanya pulang.

MM tetap berada di dalam kubur dan menangis. Dua malaikat berpakaian putih menyapa MM, "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab MM kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan." Sesudah berkata demikian MM menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada MM, "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" MM menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya, "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya." 

Kata Yesus kepadanya: "Maria!" MM berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru. Kata Yesus kepada MM, "Janganlah engkau memegang Aku terus, sebab Aku belum naik kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu." MM pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan MM menceritakan hal-hal yang disampaikan oleh Yesus. [Bacaan berakhir di sini]

Siapakah MM? Keempat Injil menyebut nama MM. Pakar PB menduga keras tokoh cerita MM ada di dunia nyata. Bukan sekadar sosok yang ada di dunia nyata, tetapi juga tokoh yang diperhitungkan. Dia bukan sekadar “Maria” pada umumnya, tetapi “Maria Magdalena”  dengan nama belakang merujuk daerah asalnya, Magdala atau Migdal. Ada kekhususan nama MM di keempat Injil. Bandingkan dengan tokoh cerita Zakheus yang khas Injil Lukas. Meskipun disebut oleh keempat Injil, tokoh MM, selain ada persamaan, ada perbedaan pemerian. 

Persamaan. Injil Markus dan Yohanes menampilkan MM pada akhir cerita Injil, menjadi saksi penyaliban Yesus. Injil Matius dan Yohanes menyebut MM memegang/menyentuh Yesus-Paska.

Perbedaan. Injil Lukas menyebut MM perempuan yang disembuhkan dari roh-roh jahat, sedang Injil Yohanes MM perempuan baik-baik. Injil Yohanes menyebut MM sendirian ke kubur Yesus, sedang Injil Markus menyebut MM bersama dengan Maria, ibu Yakobus, dan Salome. Injil Matius menyebut Yesus-Paska berjumpa dengan MM dan Maria yang lain, sedang Injil Yohanes menyebut MM sendirian berjumpa dengan Yesus-Paska.

Sekarang kita membahas MM menurut versi Injil Yohanes karena bacaan kita pada Minggu Paska Ini dari Injil Yohanes. Berdasarkan sapaan MM kepada Yesus  dengan “Rabuni” (Guru), MM adalah murid Yesus (Yoh. 20:16). Yesus menyapa dengan “Maria” (Yoh. 20:16). Sebagai Gembala yang Baik, Yesus mengenal semua nama domba-Nya, termasuk domba-Nya yang bernama “Maria” (Yoh. 10:3). Sebagai domba-Nya, Maria juga mengenal suara Gembalanya (Yoh. 10:3-4). Bagi MM Yesus bukan lagi sekadar “Rabuni”, melainkan “Tuhan” (Yoh. 20:18). Apabila iman Kristen diawali oleh kebangkitan Yesus dan kesaksian atas penampakan-Nya, maka MM dapat dianggap sebagai pendiri kekristenan. Setidaknya satu di antaranya.

Penulis Injil penulis Yohanes tampaknya hendak menyampaikan paradoks. Tubuh Yesus sebelum kebangkitan dan Yesus-Paska adalah sama sekaligus berbeda. Yesus-Paska seakan-akan sama seperti tubuh biasa yang bisa disentuh atau dipegang (Yoh. 20:17), bahkan tubuh yang masih berbekas luka (Yoh. 20:20, 27). Akan tetapi tubuh Yesus-Paska juga tampaknya berbeda dari tubuh biasa sehingga MM tidak langsung mengenali Yesus dan Yesus bisa muncul tiba-tiba di dalam ruangan yang tertutup (Yoh. 20:14,19,26). 

Pengarang Injil Yohanes sepertinya menolak kepemimpinan Petrus di jemaat awal. Sila baca dengan cermat bahwa Injil Yohanes pada mulanya berakhir pada pasal 20 ayat 30-31. Bersama dengan murid “misterius” yang disebut sebagai “murid yg dikasihi Yesus” Petrus memang ikut masuk ke dalam kubur Yesus (Yoh. 20:6). Namun hanya “murid yang dikasihi Yesus” yang disebut “percaya” (Yoh. 20:8). Apa dan bagaimana reaksi Petrus? Tidak ada kisahnya (Yoh. 20:6-7). Saksi pertama dari penampakan Yesus bukan Petrus, melainkan MM. Murid Yesus yang terakhir disebutkan namanya adalah Tomas, bukan Petrus (Yoh. 20:24-29).

Dalam kisah kebangkitan Yesus ini dikatakan bahwa MM memegang terus Yesus-Paska. Ada penafsir yang mengartikannya sebagai sikap egois MM yang memiliki hubungan dekat dengan Yesus sehingga MM sangat kehilangan ketika Yesus mati. Ketika bertemu dengan Yesus-Paska, MM tidak mau melepaskan Yesus lagi. Begitukah?

Saya memilih metode tafsir kritik naratif. Kisah teologis pada dasarnya adalah refleksi iman si penulis terhadap Yesus, tokoh utama kisahnya. Hanya Yesus tokoh cerita yang penting. Tokoh-tokoh lain tidaklah begitu penting sehingga dapat dihadirkan dan dilenyapkan begitu saja dari dunia cerita. Karakter tokoh-tokoh di Injil datar atau 𝘧𝘭𝘢𝘵. Tidak kompleks. Kalau marah ya marah. Kalau malu ya malu. Tidak ada malu-malu kucing.

Kekhasan Injil Yohanes adalah ucapan-ucapan Yesus yang panjang seperti renungan. Pertanyaan atau tanggapan lawan bicara hanya untuk membuka jalan bagi penulis Injil untuk menulis Yesus menyampaikan ucapan-ucapannya. Contoh, perjumpaan Nikodemus dan Yesus dalam Injil Yohanes 3:1-21. Sesudah Nikodemus bertanya pada ayat 9, ia dihilangkan begitu saja. Contoh lainnya perikop “Roti Hidup” (Yoh. 6:25-59). Lawan bicara Yesus hanya berbicara di ayat 25, 28, 30-31, 34, 42, 52, sedang Yesus berbicara panjang-lebar menanggapi lawan bicaranya.

Demikian halnya dengan MM. Dalam teks sebenarnya tidak ada adegan MM memegang Yesus-Paska. MM memegang Yesus-Paska hanyalah imajinasi pembaca karena ada di ucapan Yesus. Cara itu merupakan teknik bercerita agar tokoh utama mendapat kesempatan untuk mengatakan tentang kenaikan Yesus-Paska, tentang Yesus yang akan pergi kepada Bapa, dan perintah kepada MM untuk disampaikan kepada saudara-saudara Yesus. Kata Yesus kepada MM, "𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴, 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙗 𝘼𝙠𝙪 𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝙣𝙖𝙞𝙠 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝘽𝙖𝙥𝙖, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘼𝙠𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙜𝙞 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝘽𝙖𝙥𝙖-𝙆𝙪 𝘥𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘱𝘢𝘮𝘶, 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩-𝘒𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘮𝘶." (Yoh. 20:17, TB2 LAI, 1997).

(17042022)(T)

Baca juga
http://titusroidanto.blogspot.com/2024/03/sudut-pandang-markus-16-1-8-cerita.html

SUDUT PANDANG MARKUS 16: 1 - 8 Cerita Belum Selesai, Serial Paska

SUDUT PANDANG MARKUS 16: 1 - 8

𝗖𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮 𝗯𝗲𝗹𝘂𝗺 𝘀𝗲𝗹𝗲𝘀𝗮𝗶, Serial Paska

Sesudah melewati tiga hari berendeng Trihari Suci secara khidmat oleh umat Kristen dalam Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Sunyi umat bersukacita. Masa berduka usai. Pemimpin ibadah berseru “𝘊𝘩𝘳𝘪𝘴𝘵𝘰𝘴 𝘈𝘯𝘦𝘴𝘵𝘪!”, yang artinya Kristus bangkit. Umat menjawab “𝘈𝘭𝘪𝘵𝘩𝘰𝘴 𝘈𝘯𝘦𝘴𝘵𝘪. 𝘈𝘭𝘭𝘦𝘭𝘶𝘪𝘢!” (Benar Ia bangkit. Puji Tuhan!). Trihari Suci (𝘵𝘳𝘪𝘥𝘶𝘶𝘮 𝘴𝘢𝘤𝘳𝘶𝘮) memerkuat narasi penyelamatan Allah melalui Paska, hari kebangkitan Kristus.

Persiapan Paska dimula pada Sabtu sesudah matahari terbenam. Gereja memelihara tradisi hari baru sesudah matahari terbenam. Sabtu Malam dalam tradisi gereja mula-mula sudah merupakan hari baru, hari Minggu. Ibadah Sabtu Malam disebut Vigili Paska (𝘌𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘝𝘪𝘨𝘪𝘭 atau 𝘗𝘢𝘴𝘤𝘩𝘢𝘭 𝘝𝘪𝘨𝘪𝘭). Vigili berarti berjaga-jaga yang kemudian dimaknai berjaga-jaga menanti dan merayakan kebangkitan Yesus secara lebih daripada pengawal mengharap pagi (Mzm. 130:6). Ada empat bagian liturgi dalam kebaktian atau misa Vigili Paska: Ritus Cahaya, Liturgi Sabda, Liturgi Baptis, dan Liturgi Ekaristi atau Perjamuan Kudus.

Tidak ada hari raya Kristen yang lebih besar dan lebih penting daripada hari Paska. Jantung iman Kristen terletak pada Paska. Hari Raya Paska menjadi titik berangkat penetapan hari-hari raya lainnya. Tidak ada Paska berarti tidak ada kekristenan dan tidak ada kitab-kitab Injil. Itulah sebabnya keempat kitab Injil dalam kitab suci Kristen, Alkitab, kesemuanya memberitakan Paska yaitu kebangkitan Kristus. Kitab-kitab Injil ditulis karena ada peristiwa Paska yang kemudian ditulis secara retrospektif. Bandingkan dengan cerita kelahiran Yesus.
 
Bacaan ekumenis untuk Minggu Paska Tahun B disesuaikan waktu ibadah.
🛑 Ibadah pagi: Yohanes 20:1-18 atau Markus 16:1-8a yang didahului dengan Yesaya 25:6-9, Mazmur 118:1-2, 14-24, dan Kisah Para Rasul 10:34-43.
🛑 Ibadah malam: Lukas 24:13-49 yang didahului dengan Yesaya 25:6-9, Mazmur 114, dan 1Korintus 5:6b-8.

Saya mengambil Markus 16:1-8a, untuk Yohanes 20 : 1-18 dan Lukas 24:13-49 ada pada penulisan yang lain.

Bacaan Injil perikopnya diberi judul oleh LAI 𝘒𝘦𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘢𝘯 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴. Injil Markus aslinya berakhir di ayat 8a. Ayat 8b – 20 adalah tambahan oleh penyalin Injil. Di TB II 1997 dan 2023 ayat 8b – 20 disemat tanda kurung siku, yang artinya teks tersebut tidak ditemukan dalam salinan lebih tua. Mengapa berhenti di ayat 8a? Sila simak ulasan di bawah.

Pengulasan bacaan dapat dibagi dalam tiga bagian:
🛑 Tiga perempuan pergi ke kubur Yesus (ay. 1-4)
🛑 Ia telah bangkit! (ay. 5-7)
🛑 Mereka gentar (ay. 8a)

𝗧𝗶𝗴𝗮 𝗽𝗲𝗿𝗲𝗺𝗽𝘂𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗴𝗶 𝗸𝗲 𝗸𝘂𝗯𝘂𝗿 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 (ay. 1-4)

Setelah lewat hari Sabat Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi meminyaki Yesus (ay. 1). Ayat pembuka kembali menyebut nama-nama perempuan yang hadir pada peristiwa penyaliban dan penguburan Yesus (Mrk. 15:40, 47). Coba bandingkan kesemua murid laki-laki Yesus yang sejak awal melarikan diri, bahkan Petrus menyangkal Yesus sampai tiga kali. Ketiga perempuan itu menunjukkan kesetiaan dan keberanian. Mengapa membeli rempah-rempah?

Yesus disalib dan dikubur pada Jumat sore. Mayat Yesus tidak sempat digosok dengan rempah-rempah, karena sebentar lagi matahari terbenam dan memasuki hari baru: Sabat. Orang tidak boleh lagi bekerja. Rempah-rempah diterapkan bukan untuk mengawetkan mayat, melainkan untuk membuat suasana kubur tidak berbau busuk. Begitu masuk ke Sabtu malam atau malam Minggu, yang sudah hari baru, ketiga perempuan itu membeli rempah-rempah untuk meminyaki mayat Yesus.

Kepergian mereka ke kubur ditunjukkan dengan waktu yang rinci: hari pertama (Minggu), pagi-pagi benar, dan matahari terbit (ay. 2). Meskipun demikian mereka diliputi kegelisahan. Mereka bertanya-tanya, “𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘭𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘶𝘣𝘶𝘳?” (ay. 3). Kubur pada masa itu di bukit berbatu digali horisontal seperti goa. 

Kegelisahan mereka bertentangan dengan kenyataan. Batu besar penutup kubur itu sudah terguling (ay. 4). Siapa yang menggulingkan? Dalam kitab-kitab Injil kalimat pasif tanpa objek pelaku secara khas merujuk pelakunya adalah Allah (contoh Mrk. 14:28). Kegelisahan ketiga perempuan itu dijawab tuntas oleh Allah.

𝗜𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗯𝗮𝗻𝗴𝗸𝗶𝘁! (ay. 5-7)

Ketiga perempuan itu masuk ke dalam kubur dan melihat seorang muda yang memakai jubah putih duduk di sebelah kanan (ay. 5a). Markus tampaknya merujuk kitab 2Makabe 3:26 dan 33 untuk memerikan makhluk surgawi 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘫𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘱𝘶𝘵𝘪𝘩. Ia 𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯 dipahami bahwa ia dalam posisi kuasa dan wewenang ilahi (bdk. Mrk. 13:36; 14:62). Kehadiran makhluk surgawi itu berpautan erat dengan pengajaran akhir zaman, yang Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa bersama dengan para malaikat-Nya (lih. Mrk. 8:38; 13:26-27).

Tentu saja ketiga perempuan itu terkejut melihatnya (ay. 5b). Seperti biasa dalam kisah penampakan keterkejutan selalu disusul dengan penenangan. Orang muda itu menjelaskan kepada mereka bahwa mereka salah cari. Yesus tidak ada di kubur ini, karena Ia sudah bangkit, kata orang muda itu (ay. 6).

Orang muda itu kemudian memberi perintah kepada ketiga perempuan itu, “𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩, 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘕𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴: 𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦 𝘎𝘢𝘭𝘪𝘭𝘦𝘢. 𝘋𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘋𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶.“ (ay. 7) Di Markus 14:28 Yesus sudah berpesan kepada para murid, “… 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯, 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦 𝘎𝘢𝘭𝘪𝘭𝘦𝘢.” Rupanya orang muda itu mengulang pesan Yesus untuk disampaikan lagi kepada para murid yang lari kocar-kacir ketika Guru mereka dihukum mati. Mereka tetap dicari oleh Yesus yang mendahului ke Galilea tempat bagian terbesar waktu mereka berkarya. Frase 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘋𝘪𝘢 (𝘢𝘶𝘵𝘰𝘯 𝘰𝘱𝘴𝘦𝘴𝘵𝘩𝘦) di Injil Markus bercorak 𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢, melihat Anak Manusia yang datang dalam kemuliaan pada akhir zaman.

𝗠𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝗴𝗲𝗻𝘁𝗮𝗿 (ay. 8a)

Lalu mereka keluar dan lari meninggalkan kubur itu, sebab kegentaran dan kedahsyatan menguasai mereka. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapa pun juga karena takut (ay. 8a).

Alih-alih penjelasan orang muda itu membuat tenang ketiga perempuan itu, sebaliknya mereka lari keluar dari kubur dalam keadaan terguncang, yang dalam bahasa Markus 𝘬𝘦𝘨𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘥𝘢𝘩𝘴𝘺𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘢𝘴𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 (𝘵𝘳𝘰𝘮𝘰𝘴 𝘬𝘢𝘪 𝘦𝘬𝘴𝘵𝘢𝘴𝘪𝘴). Mereka terbungkam karena takut. Hal ini mengingatkan kita pada Petrus dkk. yang terbungkam karena takut ketika melihat Yesus beralihrupa dalam episode 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘨𝘶𝘯𝘶𝘯𝘨 (Mrk. 9:6).

Markus menutup cerita Injil di ayat ini (ay. 8a). Ayat 8b – 20 ditambah oleh penyalin Injil di kemudian hari. Para ahli menilai dari gaya bahasa yang berbeda dari narasi Injil Markus. Mengapa Markus menutup Injilnya seperti mengambang?

Markus tampaknya memang sengaja hendak mengguncang pembaca Injilnya. Apabila kita membaca pembuka Injil, Markus memula Injilnya secara mendadak (Mrk. 1:1-3). Demikian pula Markus menutup Injilnya secara mendadak.

“Kelalaian” ketiga perempuan itu tidak meneruskan pesan orang muda itu kepada para murid tentu saja menerbitkan pertanyaan pembaca Injil, “𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘎𝘢𝘭𝘪𝘭𝘦𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘴𝘶𝘭 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵?” Penulis Injil Markus mengakhiri Injilnya dengan cara terbuka seolah-olah cerita belum selesai. Para pembacalah yang harus menyelesaikan sendiri dengan menanggapi ajakan Yesus yang bangkit untuk menyusul-Nya ke “Galilea”, menjumpai Yesus yang bangkit di tengah kehidupan mereka di tempat masing-masing.

 (31032024)(T)
Baca juga
http://titusroidanto.blogspot.com/2024/03/sudut-pandang-yohanes-201-18-serial.html


Tindakan Solidaritas Yesus Kristus : Merenungkan Makna Jumat Agung Bersama Paul Tillich, Serial Sudut Pandang, Serial Paska

Tindakan Solidaritas Yesus Kristus : Merenungkan Makna Jumat Agung Bersama Paul Tillich, Serial Sudut Pandang, Serial Paska

Hari Jumat Agung adalah sebuah hari yang dibalut dalam kegelapan, pengingat nan kelam tentang penderitaan dan kematian manusia, yang nampak nyata dalam diri Yesus Kristus yang diyakini sebagai Juruselamat dalam Iman Kristen
Namun, dalam peristiwa yang terlihat suram itu terdapat kebenaran mendalam, sebuah kebenaran yang diuraikan oleh teolog Paul Tillich terkait dengan makna hidup dan perjuangan yang melekat pada eksistensi manusia. Dari pemikiran Tillich kita dapat melihat bagaimana Jumat Agung sesungguhnya memberi alternatif jawaban seputar soal eksistensi manusia fana dalam menjalani hidup di dunia ini. Paul Tillich, seorang teolog terkemuka abad ke-20, bergulat dengan kecemasan eksistensial di zamannya. Tillich melihat umat manusia menghadapi persoalan seputar kerinduan mendalam akan makna berada di dalam dunia, yang tentu tidak bsa dijawab dengan sederhana. Persoalan makna berada itu disebut sebagai Kecemasan eksistensial yang menurut Tillich, berasal dari "perasaan terasing" yang kita alami - terasing dari diri kita sendiri, dari orang lain, dan dari dasar semua keberadaan. Narasi sengsara & penyaliban Kristus pada Hari Jumat Agung menjadi sangat menyentuh bagi Tillich. Menurutnya, Yesus, Sang Allah-Manusia itu mengalami perasaan terasing yang paling utama pengkhianatan, penghinaan, dan kematian brutal. Disinilah kerusakan eksistensi secara langsung menjadi jelas. Tillich melihat penderitaan Kristus lebih sebagai demonstrasi solidaritas. Bagi Tillich, melalui sengsara dan kematian-Nya, Kristus merangkul perasaan terasing yang kita alami, menjembatani kesenjangan antara umat manusia dan "Dasar dari Keberadaan"
Tindakan solidaritas Kristus menegaskan pesan kuat bagi umat manusia. Kita tidak sendirian dalam perjuangan hidup yang memunculkan ragam tanya soal keberadaan kita dalam dunia. Allah, melalui Kristus, masuk ke dalam kedalaman penderitaan kita. la tidak menawarkan solusi cepat, tapi perjalanan bersama. Jumat Agung mengingatkan kita, bahkan di hadapan keputusasaan, ada hubungan mendalam antara umat manusia dan "dasar semua keberadaan", yakni Kristus. Beban dan pertanyaan makna hidup tetap ada, tapi Jumat Agung menyatakan harapan & janji bahwa kegelapan tidak akan menang. Ini karena Dia yang mati, adalah la yang juga bangkit mengalahkan maut
29032024 (T)



Rabu, 27 Maret 2024

Kamis Putih : Serial Sudut Pandang, Serial Paska

Kamis Putih : Serial Sudut Pandang, Serial Paska

Panggilan untuk Melayani dan Mengasihi seperti Yesus

Kamis Putih atau hari Kamis sebelum datangnya Minggu Paskah, sejatinya merupakan hari yang sangat penting bagi umat Kristiani. Di momen inilah, Yesus membasuh kaki para murid dan melakukan perjamuan terakhir bersama mereka (yang kemudian menjadi dasar bagi pelayanan sakramen perjamuan kudus bagi gereja). Dalam bahasa Inggris, Kamis Putih disebut "Maundy Thursday". Kata "Maundy" berasal dari kata Latin "mandatum," yang berarti "perintah," menekankan perintah yang Yesus berikan kepada para muridnya pada Perjamuan Terakhir, yakni perintah untuk saling mengasihi. Dari momen Kamis Putih, kita dapat menarik pembelajaran penting tentang panggilan untuk saling mengasihi yang dimandatkan oleh Yesus sendiri dan itu jelas berlaku bagi kita selaku murid-muridNya di masa kini. Kamis Putih dapat direnungkan sebagai hari cinta dan pelayanan. Di momen ini, tindakan Yesus mencuci kaki para murid merupakan teladan kerendahan hati dan pelayanan. Ini menunjukkan pentingnya mengasihi dan melayani sesama seperti yang Yesus teladankan. Kamis Putih bukan hanya waktu untuk mengenang kasih dan pengurbanan Yesus, tapi juga waktu untuk merenungkan kasih dan pelayanan kita kepada orang lain. Momen Kamis Putih seharusnya mendorong umat Kristiani untuk melihat diri mereka sebagai bagian dari tubuh Kristus, karenanya melayani dan mengasihi satu sama lain sejatinya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kekristenan secara konkrit. Saat kita merenungkan kasih dan pengurbanan Yesus, kita ditantang untuk mengasihi dan melayani orang lain dengan cara yang Yesus teladankan. Ini berarti tidak hanya mengasihi mereka yang mudah dikasihi, tapi juga memperluas kasih dan pelayanan kepada mereka yang mungkin sulit menerimanya. Kamis Putih berfungsi sebagai pengingat pentingnya kasih dan pelayanan dalam kehidupan Kristiani. Kita dipanggil untuk merenungkan teladan Yesus dan untuk menjalankan perintah-Nya untuk saling mengasihi.  Kiranya Tuhan memampukan kita untuk menjadi saksi kasihNya bagi sesama dan seluruh ciptaan. Selamat Kamis Putih.
28032024 (T)

Referensi

What Is Maundy Thursday and Why Do Christians Celebrate It?, crosswalk.com, February 2024

Alex Crain, What Is Maundy Thursday?, christianity.com, March 2024

Pamela Palmer, How Maundy Thursday Reminds Us to Love Others, biblestudytools.com, March 2024



SUDUT PANDANG YOHANES 18 - 19 𝗦𝘂𝗱𝗮𝗵 𝘀𝗲𝗹𝗲𝘀𝗮𝗶!, Serial Paska



SUDUT PANDANG YOHANES 18 - 19 𝗦𝘂𝗱𝗮𝗵 𝘀𝗲𝗹𝗲𝘀𝗮𝗶! Serial Paska

Pada beberapa kali kesempatan saya sudah menyampaikan perbedaan pandangan Injil sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas) dan Injil Yohanes terhadap salib. Dalam Injil Markus saat Yesus di kayu salib dinarasikan bahwa Ia putus asa dan berteriak “𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘬𝘶, 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘬𝘶, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘬𝘶?”.  Injil sinoptik memandang salib simbol penderitaan.
 
Penulis Injil Yohanes menolak pandangan Injil sinoptik. Salib adalah simbol kemuliaan “… 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘔𝘶𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘭𝘢𝘳 𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘶𝘳𝘶𝘯, 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘬𝘢𝘯, 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘕𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘭.” (Yoh. 3:14-15). Ucapan terakhir Yesus di kayu salib dibuat begitu gagah oleh penulis Injil Yohanes, “𝙎𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙡𝙚𝙨𝙖𝙞!” Yesus lalu menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya (Yoh. 19:30). Hidup Yesus tidak diambil, melainkan Ia sendiri yang menyerahkan hidup-Nya. Perayaan Jumat Agung merujuk teologi Injil Yohanes: 𝗺𝗲𝗺𝘂𝗹𝗶𝗮𝗸𝗮𝗻 atau 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗴𝘂𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗹𝗶𝗯. Bacaan ekumenis selalu mengambil dari Injil Yohanes 18 – 19.

𝗠𝗮𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵𝗻𝘆𝗮 𝗮𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿-𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿 𝗺𝗮𝘁𝗶?

Menurut tafsir, cerapan, dan pandangan kalangan tertentu Yesus tidak mati. Pandangan bahwa Yesus tidak mati ini bukan tanpa alasan karena merujuk skriptural. Seorang lain yang sudah disalib menggantikan Yesus itu dapat seorang murid Yesus, yakni Yudas, yang wajahnya sudah diubah mirip wajah Yesus. Selain karena alasan skriptural mereka tidak bisa begitu saja menerima penyaliban Yesus, karena mereka memandang seorang nabi atau hamba Allah atau rasul Allah yang benar tidak mungkin mati dibunuh dengan kejam. Padahal ada contoh Yohanes Pembaptis, seorang nabi Yahudi yang suci dan benar dan sangat boleh-jadi menjadi  pembimbing Yesus, mati dipenggal oleh Raja Herodes Antipas.

Dalam sejarah perkembangan Kristen sudah ada beberapa teks keagamaan Kristen Gnostik dari abad kedua dan ketiga yang memuat pandangan Yesus tidak mati disalib. Semua teks ini tidak melaporkan sejarah, melainkan mengajukan pandangan teologis Kristen Gnostik.

Dalam pada itu keempat Injil kanonik (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) yang ditulis sepanjang kuartal keempat abad pertama memberitakan kematian Yesus yang dijatuhi hukuman mati lewat kayu salib. Bukti keempat Injil ini barangkali diragukan oleh sejumlah kalangan, karena ini dianggap propaganda. 

Jika propaganda, pertanyaannya apa perlunya jemaat Kristen perdana memberitakan pemimpin rohani mereka yang mati dengan cara sangat memalukan? Tidak ada alasan bagi jemaat Kristen perdana untuk menutup-nutupi, karena hukuman mati terhadap Yesus merupakan fakta sejarah yang tidak dapat ditutup-tutupi. Fakta sejarah bahwa Yesus dihukum mati oleh Pemerintah Romawi dengan dakwaan tindak pidana subversif.

Kata orang Jawa, “𝘈 𝘴𝘪𝘯𝘨𝘭𝘦 𝘧𝘢𝘤𝘵 𝘤𝘢𝘯 𝘳𝘶𝘪𝘯 𝘢 𝘨𝘰𝘰𝘥 𝘢𝘳𝘨𝘶𝘮𝘦𝘯𝘵”. Sumber-sumber di luar kitab-kitab kanonik membuktikan bahwa Yesus mati di kayu salib. 

🛑 Pertama, Flavius Josephus, ahli sejarah Yahudi yang hidup pada abad mula-mula, menulis seorang Yahudi yang bijaksana bernama Yesus melakukan banyak hal besar, tetapi kemudian dihukum mati di kayu salib oleh Pemerintah (Roma). "𝘒𝘪𝘳𝘢-𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘭𝘢𝘩 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴, 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘫𝘢𝘬𝘴𝘢𝘯𝘢, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘪𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘯𝘥𝘢𝘬𝘢𝘯-𝘵𝘪𝘯𝘥𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘶𝘳𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢. 𝘐𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘪 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘠𝘢𝘩𝘶𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘎𝘳𝘪𝘬𝘢. 𝘚𝘦𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘪𝘢 𝘥𝘪𝘵𝘶𝘥𝘶𝘩 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘗𝘪𝘭𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘢𝘭𝘪𝘣𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢. 𝘛𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘭𝘢-𝘮𝘶𝘭𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢 𝘒𝘳𝘪𝘴𝘵𝘦𝘯 𝘪𝘯𝘪, 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪 𝘯𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘭𝘦𝘯𝘺𝘢𝘱."

🛑 Kedua, sumber-sumber Rabinik Yahudi yang menolak kehadiran Yesus, karena para pengikut Yesus melakukan provokasi terhadap Yudaisme. Dalam Talmud Babilonia mereka membalas provokasi pengikut Yesus dengan menulis bahwa menjelang Sabat Paska Yesus orang Nasaret mati digantung. "𝘗𝘢𝘥𝘢 𝘚𝘢𝘣𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘺𝘢𝘢𝘯 𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢 𝘠𝘦𝘴𝘩𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘕𝘢𝘴𝘢𝘳𝘦𝘵 𝘥𝘪𝘨𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘦𝘬𝘴𝘦𝘬𝘶𝘴𝘪 𝘥𝘪𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘬𝘢𝘯, 𝘮𝘶𝘯𝘤𝘶𝘭 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯: '𝘐𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘕𝘢𝘴𝘢𝘳𝘦𝘵, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘢𝘫𝘢𝘮 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘳𝘢𝘬𝘵𝘪𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘩𝘪𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘶𝘩𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘐𝘴𝘳𝘢𝘦𝘭 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘶𝘳𝘵𝘢𝘥. 𝘉𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘮𝘱𝘪𝘭 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢.' 𝘛𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘮𝘱𝘪𝘭 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘪𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘥𝘪𝘨𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘰𝘳𝘦 𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢."

🛑 Ketiga, Mara bar Sarpion, filsuf stoik berkebangsaan Suriah, menulis surat kepada anaknya 𝘈𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘭𝘢𝘩𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘠𝘢𝘩𝘶𝘥𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘳𝘢𝘫𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘳𝘪𝘧 𝘣𝘪𝘫𝘢𝘬𝘴𝘢𝘯𝘢? Seperti diketahui kepala salib Yesus ditulis oleh otoritas Roma di Yudea (yang sebenarnya bahan olok-olok) dengan INRI (𝘐𝘦̄𝘴𝘶𝘴 𝘕𝘢𝘻𝘢𝘳𝘦̄𝘯𝘶𝘴 𝘙𝘦̄𝘹 𝘐𝘶̄𝘥𝘢𝘦𝘰̄𝘳𝘶𝘮), Yesus (orang) Nasaret Raja (orang) Yahudi. "𝘈𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘭𝘢𝘩𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘠𝘢𝘩𝘶𝘥𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘳𝘪𝘧, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘳𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 [merujuk Perang Yahudi I pada 66-73/74 ZB]? 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘪𝘭 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯-𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘫𝘢𝘬𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘪𝘯𝘪. 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘵𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘢𝘱𝘢𝘳𝘢𝘯; 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢 𝘚𝘢𝘮𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘫𝘪𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘶𝘵; 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘠𝘢𝘩𝘶𝘥𝘪 𝘥𝘪𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘶𝘴𝘪𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵-𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯. 𝘚𝘰𝘬𝘳𝘢𝘵𝘦𝘴 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘵𝘪; 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶𝘪 𝘗𝘭𝘢𝘵𝘰; 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘗𝘩𝘺𝘵𝘢𝘨𝘰𝘳𝘢𝘴, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘱𝘢𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘏𝘦𝘳𝘢. 𝘋𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘫𝘢𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘵𝘪, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢, 𝘮𝘶𝘯𝘤𝘶𝘭 𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯."

🛑 Keempat, Cornelius Tacitus, seorang senator dan sejarawan Roma yang termasyur karena dua karya sejarahnya, Histories dan Annals, antara abad pertama dan kedua menulis “𝘒𝘳𝘪𝘴𝘵𝘶𝘴 [Tacitus menggunakan nama 𝘒𝘳𝘴𝘪𝘵𝘶𝘴] 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮 𝘮𝘢𝘵𝘪 (𝘴𝘶𝘱𝘱𝘭𝘪𝘤𝘪𝘰 𝘢𝘥𝘧𝘦𝘤𝘵𝘶𝘴) 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘗𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯  𝘛𝘪𝘣𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴 [14-37 𝘡𝘉] 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘳𝘰𝘬𝘶𝘳𝘢𝘵𝘰𝘳 𝘬𝘪𝘵𝘢, 𝘗𝘰𝘯𝘵𝘪𝘶𝘴 𝘗𝘪𝘭𝘢𝘵𝘶𝘴 [26-36 𝘡𝘉], 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘩𝘢𝘺𝘶𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘬𝘦𝘯𝘥𝘢𝘭𝘪𝘬𝘢𝘯, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘱𝘦𝘤𝘢𝘩 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘪 𝘠𝘶𝘥𝘦𝘢, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘥𝘪 𝘙𝘰𝘮𝘢 … .” 

𝗠𝗲𝗻𝗴𝗮𝗽𝗮 𝗸𝗮𝗹𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻𝘂𝘁 𝗶𝗱𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶 𝘁𝗲𝗿𝘁𝗲𝗻𝘁𝘂 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗮𝗯𝗮𝗱 𝗺𝘂𝗹𝗮-𝗺𝘂𝗹𝗮 𝘀𝗮𝗺𝗽𝗮𝗶 𝘀𝗲𝗸𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗿𝗮𝗴𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗺𝗮𝘁𝗶𝗮𝗻 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗹𝗲𝘄𝗮𝘁 𝗸𝗮𝘆𝘂 𝘀𝗮𝗹𝗶𝗯?

Secara historis ideologi mengenai Yesus tidak mati di kayu salib dibuat dan dikembangkan oleh sekte Gnostik pada abad pertama dan kedua. Dalam satu seksi dokumen Nag Hammadi menyatakan bahwa Rasul Petrus melihat ada dua sosok yang terlibat dalam penyaliban: sosok yang satu sedang dipaku oleh para algojo pada tangan dan kakinya, sedang yang satunya lagi berada di atas sebuah pohon, bergembira sambil menertawai apa yang sedang berlangsung.

Dalam pada itu tradisi “kembaran” Yesus yang mengganti korban salib juga muncul di daerah Edessa, Suriah, yang jemaat Kristen di sana keliru menafsirkan Tomas sebagai “kembaran” (Didimus). Padahal Didimus itu adalah nama lain dari Rasul Tomas. Komunitas di Edessa ini kemudian banyak berkiprah di Tanah Arab.

Secara ringkas pandangan Gnostik terhadap Yesus yang sejati adalah Yesus-rohani, Yesus-surgawi, sehingga Yesus tidak dapat disalib. Sialnya bagi kaum Gnostik kematian Yesus di kayu salib itu nyata, maka sekte Gnostik harus menyimpulkan bahwa yang sudah disalib itu pastilah orang lain. Orang yang wajahnya serupa dengan rupa atau wajah Yesus, bukan Yesus-surgawi, bukan Yesus yang dijunjung mereka. 

Pandangan sekte Gnostik ini sebenarnya bukan mau menyatakan bahwa secara historis Yesus tidak mati disalib. Justru Yesus benar-benar mati disalib, kaum Gnostik  perlu mencari seorang “pemain pengganti” demi menyelamatkan ideologi mereka bahwa Yesus yang mereka sembah adalah Yesus-surgawi, yang tidak bisa mati disalib. Sungguh enas apabila dongeng yang dikembangkan oleh sekte Gnostik, yang sejak awal ditolak oleh jemaat Kristen perdana, masih dijadikan ideologi sampai masa kini.

𝙑𝙞𝙘𝙖𝙧𝙞𝙤𝙪𝙨 𝙨𝙪𝙛𝙛𝙚𝙧𝙞𝙣𝙜

Bagi warga Kristiani kematian Yesus bukan sekadar fakta sejarah objektif, namun melampaui itu, yang dihayati sebagai Allah yang berbelarasa. Penghayatan ini diragakan melalui Jumat Agung. Ketika umat Kristen menghayati ulang kematian Yesus, mereka menghayati suatu kehidupan suci dan agung Yesus yang telah menyerahkan hidup-Nya untuk pembebasan orang lain. 𝘝𝘪𝘤𝘢𝘳𝘪𝘰𝘶𝘴 𝘴𝘶𝘧𝘧𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨, suatu penderitaan yang ditanggung demi orang lain agar tidak mengalami sendiri penderitaan itu. Suatu penghayatan yang sangat membangun dan membebaskan umat dari perasaan dan situasi batin yang terkalahkan oleh beban-beban penderitaan dari dunia ini.
(29032024)(T)

Baca juga
https://titusroidanto.blogspot.com/2024/03/sudut-pandang-yohanes-18-19.html

HARI RABU PENGKHIANATAN, SEBELUM TRI HARI SUCI PASKAH, SERIAL SUDUT PANDANG, Serial Paska

 
HARI RABU PENGKHIANATAN, SEBELUM TRI HARI SUCI PASKAH, SERIAL SUDUT PANDANG, Serial Paska

Hari Rabu di Pekan Suci, juga dikenal sebagai Rabu Mata-Mata (Spy Wednesday), adalah momen yang mengingat peristiwa pengkhianatan Yesus Kristus oleh Yudas Iskariot. Dimana hal ini tercatat dalam Alkitab Perjanjian Baru, khususnya dalam Injil Matius (26:14-16) dan Markus (14:10-11). Hari Rabu di pekan suci ini diperingati sehari sebelum. Kamis Putih, yang merupakan hari pertama dari Tri Hari Suci Paskah (Kamis Putih, Jumat Agung & Minggu Paskah). Hari Rabu di Pekan Suci ini (Rabu Pengkhianatan) menjadi penting bagi umat Kristiani karena mengingatkan kita akan kelamnya pengkhianatan, di satu sisi, namun di sisi lain juga menyiratkan soal pengampunan, dan penebusan dalam Yesus Kristus. Kisah pengkhianatan Yudas terhadap Yesus adalah pengingat yang menyedihkan akan kemampuan manusia untuk mengingkari kesetiaan dan konsekuensi yang menyertainya Yudas, salah satu dari dua belas rasul Yesus, diberi tanggung jawab dan hak istimewa yang besar. Namun, dia memilih mengkhianati Yesus demi tiga puluh keping perak, yang pada akhirnya berujung pada penyaliban Yesus. Tindakan pengkhianatan Yudas juga merupakan pengingat akan kuatnya kuasa dosa dalam merusak relasi manusia. Di sisi lain, Rabu di Pekan Suci juga berfungsi sebagai pengingat akan pentingnya penebusan. Hal ini nampak jelas dari Yesus Kristus yang tidak undur untuk menempuh jalan salib. la menunjukkan ketaatan-Nya sampai mati. Rabu di Pekan Suci mendorong kita untuk merenungkan kehidupan pribadi dan cara-cara yang mungkin kita lakukan, yang telah mengkhianati atau mengecewakan orang-orangyangkita kasihi atau layani. Bahkan, ini juga menyadarkan kita tentang Allah dalam Yesus Kristus yang bersolidaritas, saat kita berada sebagai pihak yang dikhianati. Hari Rabu di Pekan Suci dapat dimaknai sebagai sesuatu yang penting bagi Kekristenan kita karena mengingatkan akan kemampuan manusia untuk berkhianat dan pentingnya penebusan dalam Kristus Yesus, la yang merendahkan diriNya dan taat sampai mati (Bdk. Filipi 2:8). Saat kita melanjutkan perjalanan masa PraPaskah, mari kita merenungkan pelajaran dari Hari Rabu di pekan suci. Mari berupaya untuk tetap setia, karena la yang memanggil kita, selalu setia dan tidak dapat menyangkal diriNya (bdk.Il Timotius 2:13)
27032024 (T)

Baca juga
https://titusroidanto.blogspot.com/2024/03/sudut-pandang-yohanes-18-19.html

https://titusroidanto.blogspot.com/2024/03/sudut-pandang-yohanes-18-19.html







Selasa, 26 Maret 2024

𝗞𝗮𝗺𝗶𝘀 𝗣𝘂𝘁𝗶𝗵-𝗝𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗔𝗴𝘂𝗻𝗴-𝗦𝗮𝗯𝘁𝘂 𝗦𝘂𝗻𝘆𝗶, Tri hari suci, Serial Sudut Pandang, Serial Paska



𝗞𝗮𝗺𝗶𝘀 𝗣𝘂𝘁𝗶𝗵-𝗝𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗔𝗴𝘂𝗻𝗴-𝗦𝗮𝗯𝘁𝘂 𝗦𝘂𝗻𝘆𝗶, Serial Sudut Pandang, Serial Paska

𝘎𝘦𝘳𝘦𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘒𝘢𝘮𝘪𝘴 𝘗𝘶𝘵𝘪𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘺𝘢𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘳𝘫𝘢𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘑𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘈𝘨𝘶𝘯𝘨, 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘦𝘫𝘢𝘣𝘢𝘵 𝘨𝘦𝘳𝘦𝘫𝘢𝘸𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘩𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘯𝘢 𝘒𝘢𝘮𝘪𝘴 𝘗𝘶𝘵𝘪𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘳𝘢𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. Sangat dimungkinkan adalah keputusan lokal gereja lewat sidang pejabat gerejawinya dengan mengalahkan makna liturgisnya

Sesudah melewati Minggu Palem dan Minggu Sengsara umat Kristen memasuki Pekan Suci (𝘏𝘦𝘣𝘥𝘰𝘮𝘢𝘴 𝘔𝘢𝘪𝘰𝘳 atau 𝘏𝘰𝘭𝘺 𝘞𝘦𝘦𝘬). Ada tiga hari secara berendeng yang hendak dilalui secara khidmat oleh umat Kristen, yaitu 𝘵𝘳𝘪𝘥𝘶𝘶𝘮 𝘴𝘢𝘤𝘳𝘶𝘮 (Ing. 𝘛𝘩𝘦 𝘛𝘩𝘳𝘦𝘦 𝘚𝘢𝘤𝘳𝘦𝘥 𝘋𝘢𝘺𝘴). Secara populer 𝘵𝘳𝘪𝘥𝘶𝘶𝘮 𝘴𝘢𝘤𝘳𝘶𝘮 diindonesiakan sebagai Trihari Suci agar sejalan dengan penamaan Pekan Suci.

Trihari Suci hendak menyampaikan narasi 𝘀𝗮𝘁𝘂-𝗱𝗿𝗮𝗺𝗮 𝘁𝗶𝗴𝗮-𝗮𝗸𝘀𝗶 yang memerkuat narasi penyelamatan Allah melalui kebangkitan Kristus. Trihari Suci merupakan tiga hari utama di sekitar sengsara, kematian, dan pemakaman Yesus. Kesatu-tigaan topik tersebut tampil dalam Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Sunyi.

𝗞𝗮𝗺𝗶𝘀 𝗣𝘂𝘁𝗶𝗵 (𝘔𝘢𝘶𝘯𝘥𝘺 𝘛𝘩𝘶𝘳𝘴𝘥𝘢𝘺)

Kamis Putih adalah penanda hari terakhir atau penutup masa Pra-Paska. Mengapa 𝘔𝘢𝘶𝘯𝘥𝘺 𝘛𝘩𝘶𝘳𝘴𝘥𝘢𝘺 diindonesiakan menjadi Kamis Putih? 

𝘔𝘢𝘶𝘯𝘥𝘺 berakar kata Latin 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘵𝘶𝘮 yang berarti perintah. Dalam pautannya dengan Kamis Putih perintah Yesus itu disebut 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘵𝘶𝘮 𝘯𝘰𝘷𝘶𝘮 atau perintah baru, yang diperagakan oleh Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya, “𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 …” (Yoh. 13:14), yang kemudian disambung, “𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘺𝘢𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪; 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘭𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪.” (Yoh. 13:34).

Pembasuhan kaki bukanlah barang baru dalam tradisi Yahudi. Pembasuhan kaki dilakukan oleh hamba-hamba atau pelayan-pelayan tuan rumah sebelum perjamuan. Akan tetapi yang Yesus lakukan adalah radikal. Yesus yang adalah Guru membasuh kaki para murid-Nya. Jabatan atau status lebih tinggi melayani pihak yang berstatus lebih rendah.

Kembali lagi ke pertanyaaan mengapa disebut Kamis Putih? Pada Kamis Putih dilayankan Liturgi Sabda, Upacara Pembasuhan Kaki, Perjamuan Kudus atau Ekaristi, dan 𝗣𝗲𝗺𝗶𝗻𝗱𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗿𝗮𝗹𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻. Warna liturgi putih. Sesudah perarakan pemindahan peralatan sakramen, altar diselubungi atau ditutupi dengan kain putih sehingga tampak polos tanpa ornamen apa pun. Penyelubungan dengan kain putih itu 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝘀𝗶𝗺𝗯𝗼𝗹 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮 𝗴𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗹𝗮𝗴𝗶 𝗺𝗲𝗹𝗮𝘆𝗮𝗻𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻 𝘀𝗮𝗺𝗽𝗮𝗶 𝗦𝗮𝗯𝘁𝘂 𝗦𝘂𝗻𝘆𝗶. Memang tak semua Gereja menyelubungi dengan kain putih, tetapi pada dasarnya altar dibuat kosong dari peralatan sakramen. Gereja memula melayankan sakramen lagi pada Minggu Paska.

Yang menjadi dagelan ada Gereja ikut-ikutan merayakan Kamis Putih, tetapi pada Jumat Agung melayankan Perjamuan Kudus. Dapat dipastikan para pejabat gerejawi di sana tidak mengetahui makna dan pesan pastoral Kamis Putih.

𝗝𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗔𝗴𝘂𝗻𝗴 (𝘎𝘰𝘰𝘥 𝘍𝘳𝘪𝘥𝘢𝘺)

Pengindonesiaan Jumat Agung erat pautannya dengan perayaan. Jumat Agung adalah hari kematian Yesus. 𝘓𝘩𝘢 𝘬𝘰𝘬 dirayakan? Pertanyaan itu lumrah terangkat karena cerapan orang Indonesia pada kata merayakan dan perayaan adalah berpesta, kegiatan hingar-bingar penuh sukacita dan tidak lengkap apabila tanpa makan bersama.

Dalam liturgi ada dua macam ibadah: selebrasi dan aksi. Ibadah selebrasi adalah berhimpun di rumah ibadah. Misal, kebaktian atau misa Minggu. Ibadah aksi adalah perbuatan-perbuatan atau praksis umat sehari-hari dalam rangka membawa misi dari ibadah selebrasi. Ingat, dalam penutupan ibadah selebrasi ada sesi pengutusan, yang pemimpin ibadah mengatakan, “𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩, … “

Selebrasi berarti perayaan. Perayaan bersinonim dengan pemuliaan, pengagungan. Dalam bentuk kata kerja 𝗺𝗲𝗿𝗮𝘆𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗿𝘁𝗶 𝗺𝗲𝗺𝘂𝗹𝗶𝗮𝗸𝗮𝗻, 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗴𝘂𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻. Dalam kebaktian Minggu umat Kristen sedang merayakan, memuliakan, mengagungkan kebangkitan Kristus yang diimani terjadi pada hari pertama (Minggu). Merayakan Jumat Agung berarti memuliakan, mengagungkan salib. Mengapa memuliakan salib?

Injil sinoptik memandang suram pada salib. Salib adalah simbol kehinaan dan kekejian. Bahkan penulis Injil Markus dan Matius menampilkan Yesus sedang putus asa di kayu salib, “𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘬𝘶, 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘬𝘶, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘬𝘶?” Pengakuan Iman (Syahadat) Rasuli mengikuti pandangan Injil sinoptik sehingga penyaliban Yesus dikelompokkan ke dalam bagian penderitaan Yesus.

Penulis Injil Yohanes menolak pandangan di atas. Salib adalah simbol kemuliaan “… 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘔𝘶𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘭𝘢𝘳 𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘶𝘳𝘶𝘯, 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘬𝘢𝘯, 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘕𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘭.” (Yoh. 3:14-15). Ucapan terakhir Yesus di kayu salib dibuat begitu gagah oleh penulis Injil Yohanes, “𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪!” Yesus lalu menundukkan kepala-Nya dan 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗲𝗿𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻 nyawa-Nya (Yoh. 19:30). Hidup Yesus tidak diambil, melainkan Ia sendiri yang menyerahkan hidup-Nya. Perayaan Jumat Agung merujuk teologi Injil Yohanes: memuliakan atau mengagungkan salib. Bacaan ekumenis selalu mengambil dari Injil Yohanes 18 – 19.

𝗣𝗮𝗱𝗮 𝗝𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗔𝗴𝘂𝗻𝗴 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗹𝗮𝘆𝗮𝗻𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻. Tidak ada Ekaristi atau Perjamuan Kudus. Ekaristi dari kata 𝘦𝘶𝘤𝘩𝘢𝘳𝘪𝘴𝘵𝘪𝘢 yang berarti pengucapan syukur. “𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘦𝘴𝘵𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘚𝘢𝘯𝘨 𝘔𝘦𝘮𝘱𝘦𝘭𝘢𝘪 𝘭𝘢𝘬𝘪-𝘭𝘢𝘬𝘪 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢,” kata Tertulianus yang sejalan dengan Matius 9:14-15. Muatan teologis Ekaristi atau Perjamuan Kudus adalah perayaan iman gereja atas karya, kematian, kebangkitan Kristus, dan penantian kedatangan-Nya kembali. Ada gatra eskotologis. Kata Rasul Paulus, “𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘰𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮 𝘤𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘐𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨.” (1Kor. 11:26). Pada Jumat Agung Yesus belum bangkit.

Dengan demikian melayankan Perjamuan Kudus pada Jumat Agung 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸𝗹𝗮𝗵 𝘁𝗲𝗽𝗮𝘁 𝗯𝗮𝗶𝗸 𝘀𝗲𝗰𝗮𝗿𝗮 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶𝘀 𝗺𝗮𝘂𝗽𝘂𝗻 𝘁𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝘀.

Dalam Jumat Agung umat Kristen menghayati ulang kematian Yesus, mereka menghayati suatu kehidupan suci dan agung Yesus yang telah diserahkan, ditiadakan, dilenyapkan, dipermalukan melalui hukuman mati pada salib untuk pembebasan orang lain. 𝘝𝘪𝘤𝘢𝘳𝘪𝘰𝘶𝘴 𝘴𝘶𝘧𝘧𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨, suatu penderitaan yang ditanggung demi orang lain agar tidak mengalami sendiri penderitaan itu. Suatu penghayatan yang sangat membangun dan membebaskan umat dari perasaan dan situasi batin yang terkalahkan oleh beban-beban penderitaan dari dunia ini. 

𝗦𝗮𝗯𝘁𝘂 𝗦𝘂𝗻𝘆𝗶 (𝘏𝘰𝘭𝘺 𝘚𝘢𝘵𝘶𝘳𝘥𝘢𝘺)

Seperti pengindonesiaannya dari 𝘏𝘰𝘭𝘺 𝘚𝘢𝘵𝘶𝘳𝘥𝘢𝘺 menjadi Sabtu Sunyi sesudah Jumat Agung Gereja memelihara keheningan. Tidak ada liturgi pada Sabtu Sunyi. 𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗮𝗱𝗮 𝗶𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗦𝗮𝗯𝘁𝘂 𝗦𝘂𝗻𝘆𝗶. Mengapa?

Ibadah Kristen berpusat pada Kristus. Pada Sabtu Sunyi Yesus berada dalam keheningan dan kesendirian di dalam kubur. Menjadi aneh ibadah Kristen tanpa dihadiri oleh Kristus. Gereja memelihara keheningan agar umat terus merenungkan kesengsaraan Yesus secara agung.

Ada tradisi umat berhimpun pada Sabtu Sunyi, namun bukan untuk beribadah selebrasi yang dipimpin oleh pemimpin ibadah. Untuk menambah kekhidmatan umat membaca Kitab Suci. Pembacaan yang dianjurkan dalam daftar bacaan ekumenis (RCL) adalah Ayub 14:1-14 yang kemudian disambut dengan Mazmur 31:1-4, 15-16 secara responsoria. Pembacaan dari Perjanjian Lama disusul dengan pembacaan Surat Rasuli dari 1Petrus 4:1-8 dan akhirnya pembacaan Injil dari Yohanes 19:38-42.

Barangkali orang Kristen akan ada yang bertanya, “𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵, 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘬𝘦 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪? 𝘑𝘢𝘥𝘪, 𝘗𝘦𝘳𝘫𝘢𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢.” 

Hari raya liturgi Gereja dimula dan berpusat pada misteri Paska. Pada mulanya tidak ada susunan sistematis dan terencana untuk merayakan peristiwa-peristiwa Kristus. Secara evolusi gereja memberikan tanggapan atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Bapak-bapak gereja sejak abad II merapikan, membentuk, menyusun, dan membangun kisah teologinya sehingga menjadi bermakna, bertema, dan bercerita saling berurutan satu dengan lainnya. Hari raya liturgi merupakan drama sarat makna; suatu upaya Gereja untuk memastori dan membina umat agar dapat lebih menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan.
(28032024)(T)

Baca juga
https://titusroidanto.blogspot.com/2024/03/sudut-pandang-yohanes-18-19.html

http://titusroidanto.blogspot.com/2023/04/jelang-paskah-yesus-di-tengah-politik.html

http://titusroidanto.blogspot.com/2024/03/hari-rabu-pengkhianatan-sebelum-tri.html

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32 PENGANTAR Allah menghendaki pertobatan nyata. Gereja dipanggi...