Minggu, 30 Agustus 2026

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 18:15-20 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗩 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝗣𝗲𝗻𝗴𝗴𝗲𝗺𝗯𝗮𝗹𝗮𝗮𝗻

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 18:15-20  [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗩 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], Teguran

PENGANTAR
Jangan memandang negatif sebuah teguran, pandanglah positif sebuah teguran, orang kalau masih sayang itu akan menegur ketika terjadi ketidak sesuaian, tapi kalau udah diam dan gak peduli itu sudah tidak sayang lagi. Maka, saya selalu mengatakan dalam Alkitab lawan dari kasih bukan benci tetapi ketidak pedulian. Bagaimana memahami konsep menegur ini dalam sudut pandang perkembangan pemahaman penggembalaan modern yah? Kenapa, saya selalu meyakini bahwa yang terpenting kita sudah mengingatkan, yang penting kita sudah menegur, entah secara langsung lisan maupun tulisan mengkritik, apabila tetap membebalkan diri ya ...... tanggung jawab dipikul pelaku, kita terlepas dari keikutsertaan keberdosaan, tetapi kalau kita diam saja maka kita ikut dosanya,  membiarkan sebuah kesalahan adalah keberdosaan, sama dengan kasus Adam yg membiarkan hawa, plus Adam malah mau lari dari tanggung jawab, karena memang salah satu konsep dalam Alkitab begitu. Salah satu, rantai logikanya ada di dalam tulisan ini. Saban menonton pengkhotbah-pengkhotbah terkenal berdakwah, saya melihat ada kemiripan. Mereka kerap mengatakan, “𝘊𝘢𝘳𝘪 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯! 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢!” Ucapan ini tampak indah, tetapi mengandung dua implikasi. Pertama, mereka sangat memahami bahwa tugas pastoral yang melekat pada jabatan pendeta itu amat berat. Mereka hanya mau menerima bayaran besar setelah berkhotbah dengan berkelit lewat ucapan indah itu agar kelihatan rendah hati. Kedua, menolak konseling pastoral justru bertentangan dengan Alkitab yang ironisnya menjadi sumber dagangan mereka.
PEMAHAMAN 
Hari ini adalah Minggu kelimabelas sesudah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 18:15-20 yang didahului dengan Yehezkiel 33:7-11, Mazmur 119:33-40, dan Roma 13:8-14.

LAI memberi judul bacaan Injil hari ini 𝘛𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢. Konteks terdekatnya adalah Matius 17:22 – 18:35 dengan latar tempat di Galilea. Dalam konteks lebih besar bacaan itu adalah sibir dari lima bagian wejangan Yesus di dalam Injil Matius.

▶️ Wejangan I, Matius 5 – 7, Khotbah di Gunung
▶️ Wejangan II, Matius 10, Misi
▶️ Wejangan III, Matius 13:1-52, Perumpamaan-perumpamaan
▶️ Wejangan IV, Matius 17:22 – 18:35, Tata Tertib Jemaat
▶️ Wejangan V, Matius 24 – 25, Akhir zaman

Ayat-ayat yang mendahului menceritakan tentang perumpamaan gembala yang meninggalkan 99 domba untuk mencari satu domba yang sesat dan penegasan bahwa Allah tidak mau seorang murid pun hilang (Mat. 17:12-14). Selain itu Yesus menempatkan seorang anak kecil di tengah-tengah para murid-Nya. Yesus hendak menegaskan kesahajaan yang disimbolkan oleh anak kecil merupakan dasar kebesaran manusia dalam Kerajaan Allah. Orang kecil dapat diperlakukan dua cara: positif dan negatif. Positif berarti harus dilindungi, sedang negatif berarti disesatkan. Orang kecil harus diberi perhatian khusus laksana domba yang hilang. Penyesatan orang kecil hukumannya sangat berat (Mat. 18:1-6). Sayangnya cukup banyak orang Kristen mengubah simbol seperti anak-anak (𝘤𝘩𝘪𝘭𝘥𝘭𝘪𝘬𝘦) menjadi kekanak-kanakan (𝘤𝘩𝘪𝘭𝘥𝘪𝘴𝘩) hanya karena malas belajar.

Seperti yang pernah saya sampaikan bahwa Injil Matius diperuntukkan Jemaat Matius. Jemaat ini sudah cukup mapan dalam berorganisasi dan berliturgi. Wejangan Yesus mengenai tata tertib jemaat dalam bacaan Injil Minggu ini adalah rujukan jejaknya.

Pengulasan bacaan dapat dibagi ke dalam tiga bagian:
▶️ Matius 18:15-17 Prosedur pendisiplinan
▶️ Matius 18:18 Wewenang jemaat
▶️ Matius 18:19-20 Faedah berdoa bersama

𝗣𝗿𝗼𝘀𝗲𝗱𝘂𝗿 𝗽𝗲𝗻𝗱𝗶𝘀𝗶𝗽𝗹𝗶𝗻𝗮𝗻 (Mat. 18:15-17)

“𝘈𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘥𝘰𝘴𝘢, 𝘵𝘦𝘨𝘶𝘳𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩 𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘵𝘢. 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶, 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 (ay. 15). 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶, 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘥𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘢 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘬𝘴𝘪, 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘳𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘯𝘨𝘴𝘪𝘬𝘢𝘯 (ay. 16). 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘰𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘫𝘦𝘮𝘢𝘢𝘵, 𝘱𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘶𝘵 𝘤𝘶𝘬𝘢𝘪 (ay. 17).” (TB II 2023)

𝘚𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢 di sini dari kata 𝘢𝘥𝘦𝘭𝘱𝘩𝘰𝘴. Dalam Yudaisme terdapat perbedaan antara saudara dan sesama. Saudara adalah orang-orang yang seiman (bdk. Mat. 5:22), sedang sesama (𝘱𝘭e𝘴𝘪𝘰𝘯) adalah orang-orang sebangsa (bdk. Mat. 5:43). Injil Matius sangat kental pengajaran Yudaisme. Pengarang Injil Lukas memandang berbeda tentang sesama. Berbuat dosa dari kata 𝘩𝘢𝘮𝘢𝘳𝘵e𝘴e(jamak) yang merujuk kesalahan serius secara terbuka. Untuk itulah orang seiman tidak boleh tinggal diam sesuai kitab Imamat 19:17. Yesus memberi perintah untuk meyakinkan (𝘦𝘭𝘦𝘯𝘹𝘰𝘯 yang diterjemahkan 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘨𝘶𝘳 oleh LAI) yang bersangkutan bahwa ia sudah melakukan kesalahan serius. Pertama-tama meyakinkannya dengan percakapan empat mata. Jika ia mendengarkan, maka ia kembali menjadi anggota jemaat.

Meyakinkan orang seiman itu tidak jarang tidak mudah. Apabila upaya percakapan empat mata tidak dapat meyakinkannya, ayat 16 memberi langkah berikutnya, yaitu membawa satu atau dua orang lagi. Hal ini merujuk kitab Ulangan 17:6 dan 19:15. Membawa satu atau dua orang lagi bukan berarti mereka akan menekan si pendosa agar mengakui, melainkan agar berimbang sesuai frase … 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘳𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘯𝘨𝘴𝘪𝘬𝘢𝘯 (ay. 16). Dapat saja terjadi kesalahan pada si penuduh. Bagaimana jika si pendosa masih belum mengakui?

Langkah berikutnya untuk rekonsiliasi ada di ayat 17. Penulis Injil Matius menggunakan kata 𝘦𝘬𝘬𝘭e𝘴𝘪𝘢 untuk jemaat. Dapat diduga persoalan ini harus diselesaikan hanya sampai pada aras jemaat lokal. Hal itu selaras kebiasaan percakapan gerejawi di kitab Kisah Para Rasul dan surat-surat Paulus. Pada masa kini memang amat sulit diterapkan apabila perbuatan si pendosa menerbitkan skandal. Namun, teks ini juga berpesan bahwa Gereja harus berani melindungi 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 terhadap berbagai skandal akibat ulah seorang atau sekelompok warga jemaat.

Apabila pada aras jemaat si pendosa tetap tidak mendengarkan, maka langkah selanjutnya si pendosa dipandang sebagai orang pagan (𝘦𝘵𝘩𝘯𝘪𝘬𝘰𝘴) atau pemungut cukai. Pemungut cukai ini haruslah dipahami dalam cerapan Yudaisme sebagai orang berdosa, orang najis, sampah masyarakat. Mengapa Yesus mau mengampuni para pemungut cukai dalam cerita sebelumnya? Sudah barang tentu bukan semua pemungut cukai yang diterima Yesus, melainkan pemungut cukai yang mau mengungkapkan penyesalan dan iman (lih. Mat. 9:9-13).

𝗪𝗲𝘄𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴 𝗷𝗲𝗺𝗮𝗮𝘁 (Mat. 18:18)

“𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: 𝘈𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘮𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘮𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢.” (TB II 2023)

Pasangan kata ikat-lepas pada ayat 18 di atas mengingatkan kita pada kisah 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴 dalam Matius 16:13-20 (lih. edisi Sudut Pandang sebelumnya). Dalam Matius 16:19b Yesus berkata kepada Petrus, “𝘈𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘮𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘮𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢.” Frase 𝘬𝘢𝘶𝘪𝘬𝘢𝘵 (𝘥e𝘴e𝘴) dan 𝘬𝘢𝘶𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 (𝘭𝘺𝘴e𝘴) sejajar dengan yang lazim dilakukan oleh ahli-ahli Taurat dalam menafsir Taurat dan penyataan kehendak Allah. Kuasa atau wewenang yang sebelumnya diberikan kepada Petrus, sekarang diberikan juga kepada para murid Yesus yang berwujud jemaat. Jadi, jemaat memiliki wewenang untuk memutuskan mengampuni dosa atau menyatakan dosa tetap ada. Setiap warga jemaat harus menghormati komunitas atau persekutuannya dengan sungguh-sungguh (bdk. Matius 10:14, 40).

𝗙𝗮𝗲𝗱𝗮𝗵 𝗯𝗲𝗿𝗱𝗼𝗮 𝗯𝗲𝗿𝘀𝗮𝗺𝗮 (Mat. 18:19-20)

“𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘥𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘮𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘬𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘱𝘦𝘳𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘬𝘢𝘣𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘉𝘢𝘱𝘢-𝘒𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢 (ay. 19). 𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣, 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘶𝘢 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘯𝘢𝘮𝘢-𝘒𝘶, 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘵𝘶 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩-𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢. (ay. 20)” (TB II 2023)

Ayat di atas acap dilepaskan dari konteksnya. Orang Kristen kerap menggunakan ayat ini untuk berdoa bersama guna meminta apa pun. Padahal ayat ini berpautan dengan ayat-ayat sebelumnya tentang perkara saudara yang berdosa. Memang benar berdoa bersama amat sangat baik karena memerkuat persekutuan, tetapi tidak lantas menekan Allah dengan merujuk ayat di atas. 

Kata 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 (ay. 19) diterjemahkan dari 𝘱𝘳𝘢𝘨𝘮𝘢𝘵𝘰𝘴 yang berarti literal 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘳𝘢. Apabila dikalimatkan ulang ayat 19 kira-kira menjadi “𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘦𝘱𝘢𝘬𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘳𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢-𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘰𝘢, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘣𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘮𝘰𝘩𝘰𝘯𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, 𝘱𝘦𝘳𝘮𝘰𝘩𝘰𝘯𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘥𝘢𝘮𝘢𝘪𝘢𝘯.” Di sini jemaat tidak boleh seenak perut mereka mengucilkan si pendosa, melainkan untuk terus mendoakan si pendosa. Berdoa bersama melebarkan dan memuluskan jalan rekonsiliasi.

Tekanan ayat 20 di atas adalah berkumpul dari kata 𝘴𝘺𝘯e𝘨𝘮𝘦𝘯𝘰𝘪 (yang kemudian kita mengenal kata sinergi). Berkumpul merupakan perbuatan sosial. Berkumpul tidak lagi menjadi perbuatan sosial apabila dilakukan dalam nama Yesus dan itu satu-satunya alasan untuk berkumpul.

Dalam Injil Matius terdapat tiga kali disebut Yesus menyertai jemaat-Nya. Pertama, Matius 1:23 “… 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘋𝘪𝘢 𝘐𝘮𝘢𝘯𝘶𝘦𝘭 (yang berarti Allah berserta kita).” Kedua, bacaan Minggu ini. Ketiga, Matius 28:20 “… 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘵𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘻𝘢𝘮𝘢𝘯.” Dalam konteks bacaan Minggu ini ayat 20 sebagai syarat mengantarkan doa bersama pada ayat 19. Apabila persekutuan mencapai kesepakan dalam perkara dan bersama-sama membawakan doa permohonan dengan menyeru nama Yesus (𝘦𝘪𝘴 𝘵𝘰 𝘦𝘮𝘰𝘯 𝘰𝘯𝘰𝘮𝘢), di sana Yesus hadir di tengah-tengah jemaat.

Bacaan Injil Minggu ini hendak menyampaikan pesan bahwa jemaat Kristen ikut bertanggungjawab apabila ada warga jemaat yang berdosa dengan meyakinkannya bahwa hal yang sudah dilakukannya bertentangan dengan nilai-nilai Kristen. Tujuannya untuk rekonsiliasi. Dalam bacaan pertama, Yehezkiel 33:7-11, dikatakan bahwa Allah mengingatkan Nabi Yehezkiel untuk memberi peringatan kepada orang-orang jahat untuk bertobat. Bahkan secara tegas Allah akan menuntut Yehezkiel, jika ia tidak melakukannya. Itulah kenapa saya meyakini, yang penting saya sudah mengingatkan dan menegur lewat kritisi dengan begitu saya tidak ikut berdosa ....... Wk ...... Wk ...... Wk. Tetapi harus ingat, bahwa walaupun kita mau menegur sampai mata mendelik dan mulut berbusa, tetapi perubahan itu, atau mungkin boleh dikata pertobatan harus datang dari dalam diri bukan dari orang lain. Maka, ada pemahaman membebalkan diri ..... Xi ..... Xi ...... Xi. Sebetulnya, walaupun ini nyata dalam keseharian, tetapi ini konteks teks nya adalah kritik keras jemaat Matius yg ditulis petulis Injil Matius terhadap Yudaisme.

(10092023)(TUS)

Sudut Pandang 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗠𝗲𝗺𝗮𝗻𝗴 𝗕𝗶𝗻𝗲𝗿: 𝗕𝗲𝗻𝗮𝗿 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝗞𝗲𝗹𝗶𝗿𝘂

Sudut Pandang 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗠𝗲𝗺𝗮𝗻𝗴 𝗕𝗶𝗻𝗲𝗿: 𝗕𝗲𝗻𝗮𝗿 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝗞𝗲𝗹𝗶𝗿𝘂 PENGANTAR Dalam satu diskusi liturgi dengan seorang p...