Senin, 28 September 2026

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 21:33-46 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗜𝗫 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] 𝗞𝗲𝗽𝗮𝗹𝗮 𝗧𝗶𝗮𝗻𝗴 𝗣𝗮𝗻𝗰𝗮𝗻𝗴

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 21:33-46  [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗜𝗫 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] 𝗞𝗲𝗽𝗮𝗹𝗮 𝗧𝗶𝗮𝗻𝗴 𝗣𝗮𝗻𝗰𝗮𝗻𝗴

PENGANTAR 
Di dalam kitab-kitab Injil didapati perumpamaan-perumpamaan yang sejajar. Meskipun tampak mirip, perumpamaan-perumpamaan tersebut berbeda penekanannya, karena memang setiap pengarang Injil mengusung teologi yang berbeda. Kita pun diberi banyak perspektif.
PEMAHAMAN 
Hari ini adalah Minggu kesembilan belas sesudah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 21:33-46 yang didahului dengan Yesaya 5:1-7, Mazmur 80:7-15, dan Filipi 3:4b-14.

Bacaan Injil Minggu ini perikopnya diberi judul oleh LAI 𝘗𝘦𝘳𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘳𝘢𝘱-𝘱𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳. Perumpamaan ini sejajar dengan perumpamaan di Injil Markus 12:12 dan di Injil Lukas 20:9-19. 

Konteks bacaan adalah Yesus sudah memasuki Kota Yerusalem. Dalam Minggu Palem yang lalu kita sudah membaca bahwa kota gempar atas kehadiran Yesus. Ternyata kedatangan Yesus di Yerusalem langsung menimbulkan masalah. Ia langsung mengusir para pedagang di Bait Allah. Yesus tidak mau rumah doa dijadikan sarang penyamun (Mat. 21:12-13). Bisnis penguasa Bait Allah diusik oleh Yesus.

Ketika Yesus mengajar di dalam Bait Allah, imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi mendatangi-Nya. Mereka menggugat otoritas Yesus. Untuk menjawab mereka di sini Yesus menyampaikan tiga perumpamaan:
▶️ Matius 21:28-32: Perumpamaan tentang dua orang anak (Bacaan Minggu lalu)
▶️ Matius 21:33-43: Perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur (Bacaan Minggu ini)
▶️ Matius 22:1-14: Perumpamaan tentang perjamuan kawin (Bacaan Minggu depan)

Untuk pengulasan bacaan Minggu ini dapat dibagi ke dalam tiga bagian:
▶️ Matius 21:33-36 Pengutusan hamba-hamba
▶️ Matius 21:37-39 Pengutusan ahli waris
▶️ Matius 21:40-43 Penutup

𝗣𝗲𝗻𝗴𝘂𝘁𝘂𝘀𝗮𝗻 𝗵𝗮𝗺𝗯𝗮-𝗵𝗮𝗺𝗯𝗮 (Mat. 21:33-36)

“𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯. 𝘈𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘱𝘢𝘨𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘬𝘦𝘭𝘪𝘭𝘪𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢. 𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘶𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢 𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘪𝘵𝘶. 𝘒𝘦𝘮𝘶𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘸𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪-𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘬𝘦 𝘯𝘦𝘨𝘦𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘪𝘯. (ay. 33) 𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘵𝘪𝘣𝘢 𝘮𝘶𝘴𝘪𝘮 𝘱𝘦𝘵𝘪𝘬, 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢-𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪-𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. (ay. 34) 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪-𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢-𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘬𝘶𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘮𝘱𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘵𝘶. (ay. 35) 𝘒𝘦𝘮𝘶𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢-𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘭𝘢, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘸𝘢𝘯-𝘬𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢. (ay. 36)” (TB II 2023)

Di Injil Matius kebun anggur kerap dijadikan bahasa kiasan untuk umat Allah (bdk. Yes. 5:1-7; Yer. 12:10). Perumpamaan ini ditujukan kepada imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi.

Dalam bagian pertama ini mari kita lihat perbedaannya dengan perumpamaan di Injil Markus.

▶️ Di Injil Markus pemilik kebun mengutus 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢 dan sesudahnya mengirim 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪. Di Injil Matius tidak menyebut jumlah tertentu, melainkan 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 dan 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘭𝘢.
▶️ Di Injil Markus kekejaman penggarap-penggarap kebun anggur meningkat. Di Injil Matius sikap para penggarap konsisten, yaitu kejam. Penulis Matius tampaknya memerikan begitulah sikap bangsa Israel yang selalu kejam terhadap utusan Allah: menindas, menyiksa, dan bahkan membunuh.

Persamaannya adalah pengutusan hamba-hamba sebanyak dua kali. Tampaknya pengutusan pertama untuk menggambarkan sikap bangsa Israel terhadap nabi-nabi sebelum masa pembuangan ke Babel. Pengutusan kedua sesudah masa pembuangan ke Babel, yang agama (dhi. Yudaisme) sudah berpusat pada imam-imam, bukan lagi pada raja.

𝗣𝗲𝗻𝗴𝘂𝘁𝘂𝘀𝗮𝗻 𝗮𝗵𝗹𝗶 𝘄𝗮𝗿𝗶𝘀 (Mat. 21:37-39)

“𝘈𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢: 𝘈𝘯𝘢𝘬𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘯𝘪. (ay. 37) 𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪-𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶, 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯: 𝘐𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘩𝘭𝘪 𝘸𝘢𝘳𝘪𝘴𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘸𝘢𝘳𝘪𝘴𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. (ay. 38) 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘮𝘱𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦 𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘪𝘵𝘶, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢. (ay. 39)” (TB II 2023)

Dalam bagian kedua ini kita lihat perbedaannya dengan perumpamaan di Injil Markus.

▶️ Di Injil Markus pengutusan anak pemilik kebun tampaknya akibat eskalasi kekejaman para petani penyewa. Di Injil Matius pengutusan anak, si ahli waris, tampaknya hendak mengontraskan dengan pengutusan dua kelompok hamba.
▶️ Di Injil Markus si ahli waris dibunuh terlebih dahulu, kemudian dibuang ke luar kebun. Di Injil Matius urutannya menyesuaikan kejadian penyaliban Yesus, dibawa ke luar Yerusalem, lalu dibunuh. Si ahli waris dibawa terlebih dahulu ke luar kebun, kemudian dibunuh.

Persamaan perumpamaan itu adalah si ahli waris dibunuh.

𝗣𝗲𝗻𝘂𝘁𝘂𝗽 (Mat. 21:40-43)

“𝘈𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨, 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪-𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪 𝘪𝘵𝘶?” (ay. 40) Kata mereka kepada-Nya, “𝘐𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘯𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘸𝘢𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪-𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢.” (ay. 41) Kata Yesus kepada mereka, “𝘉𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘚𝘶𝘤𝘪: 𝘉𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘵𝘶𝘬𝘢𝘯𝘨-𝘵𝘶𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘶𝘳𝘶; 𝘩𝘢𝘭 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘢𝘫𝘢𝘪𝘣𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢? (ay. 42) 𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘪𝘵𝘶 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘢𝘩 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶.” (ay. 43) (TB II 2023)

Pertanyaan Yesus di ayat 40 diajukan kepada pendengar, yaitu imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Padahal petani-petani penyewa dalam perumpamaan itu mengiaskan mereka. Di sini mereka justru menyebut diri sebagai orang-orang jahat yang pantas dibinasakan oleh tuan kebun anggur.

Dalam bagian ketiga ini kita melihat perbedaannya dengan perumpamaan di Injil Markus dan Lukas.

▶️ Pertanyaan Yesus di Injil Markus “𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘪𝘵𝘶?” tidak ditujukan kepada pendengar. Demikian juga pertanyaan Yesus di Injil Lukas “𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢?” juga tidak ditujukan kepada pendengar. Keduanya karena Yesus langsung menjawab pertanyaan-Nya sendiri.
▶️ Perbedaan terbesar perumpamaan itu di ketiga Injil adalah hanya di Injil Matius Yesus mengatakan 𝘣𝘭𝘢𝘬-𝘣𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯 bahwa Kerajaan Allah diambil dari imam-imam kepala dan tua-tua dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang menghasilkan buah Kerajaan itu. Teks ini menguatkan teologi Injil Matius bahwa pada mulanya Injil diberitakan kepada orang-orang Yahudi, tetapi mereka menolak, dan akhirnya dialihkan kepada bangsa lain.

Ada istilah menarik dalam bagian ketiga ini, yaitu 𝘣𝘢𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘶𝘳𝘶 (ay. 42), yang mengutip Mazmur 118:22-23 versi Septuaginta. Batu penjuru diterjemahkan dari 𝘬𝘦𝘱𝘩𝘢𝘭𝘦̄𝘯 𝘨𝘰̄𝘯𝘪𝘢𝘴, yang berarti literal kepala penjuru. Fungsi batu penjuru pada zaman itu adalah penopang utama kolom bangunan besar. Tanpa batu penjuru bangunan rentan roboh. Pada zaman modern batu penjuru adalah 𝘱𝘪𝘭𝘦 𝘤𝘢𝘱 (kepala tiang pancang). 𝘗𝘪𝘭𝘦 𝘤𝘢𝘱 merupakan rancangan beton untuk mengikat fondasi tiang pancang sebelum didirikan kolom atau pilar di atasnya. 𝘗𝘪𝘭𝘦 𝘤𝘢𝘱 ini bertujuan agar lokasi kolom benar-benar berada di titik pusat fondasi sehingga tidak menyebabkan eksentrisitas yang dapat menyebabkan beban tambahan pada fondasi.

Dalam ayat itu dikatakan bahwa tukang-tukang membuang bahan terpenting dalam pembangunan Bait Suci. Hal yang sama terjadi pada Yesus. Ia dibuang oleh bangsa sendiri. Padahal Yesus bagian terpenting sebagai 𝘒𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢 𝘛𝘪𝘢𝘯𝘨 𝘗𝘢𝘯𝘤𝘢𝘯𝘨 yang menahan seluruh bangunan jemaat agar tidak roboh.

 (08102023)(TUS)

Sudut Pandang Minggu XIX, sesudah Pentakosta, Tahun A

Sudut Pandang Minggu XIX, sesudah Pentakosta, Tahun A  PENGANTAR  Minggu 04 Oktober 2026. Ketiga bacaan ini membentuk satu rangk...