Jumat, 21 Januari 2022

💫SABDA NYUNAR💫GEREJA MENGAJAR, GEREJA BERHIKMAT, TAHUN RAHMAT TUHAN SUDAH DATANG,

💫SABDA NYUNAR💫GEREJA MENGAJAR, GEREJA BERHIKMAT, TAHUN RAHMAT TUHAN SUDAH DATANG, 

Memaknai Yesus mengajar dari bacaan Lukas 4 ayat 14 sampai 21 “Education costs money, but then so does ignorance.” Claus Moser. Ketika gereja mau belajar mengajar dan Berhikmat maka sebetulnya tahun Rahmat Tuhan sudah datang. Hal yang patut dikedepankan dalam hal berhikmat dan mengajar bukan mengejar ketenaran atau pujian, namun kebenaran. Hikmat kebenaran yang sejati berasal dari Allah sendiri. Hikmat Allah sebagai sumber kebenaran bila diterima dengan sepenuh hati akan menyadarkan umat perihal dirinya di hadapan Tuhan. Kita mesti menjadi bagian dari masyarakat yang berhikmat. Kita terus diperbarui untuk menjadi orang yang bijak di tengah masyarakat yang terkadang ada yang bertujuan mengacaukan situasi dan memang tidak senang adanya suasana damai. Sebagai pribadi orang percaya terus belajar menjadi orang bijak, arif dan dewasa dengan memberlakukan hikmat Tuhan sebagai sumber kebenaran tertinggi. Berhikmat yang menjadi berkat bagi umat maupun masyarakat.Kiranya dengan hati yang selalu membuka diri untuk dibimbing Roh Tuhan sehingga taat untuk menerima pengajaran hikmat dan setia menerapkan hidup yang berhikmat. Hidup yang  penuh hormat dan rendah hati menerima setiap pengajaran Firman yang dilayankan. Dihadapan kebenaran Allah yang penuh kuasa dan kemuliaan, tidak pantas baginya untuk memegahkan diri. Berhikmatlah dalam pikiran, perkataan dan tindakan (Dalam mengajar dan belajar) yang mendatangkan kebaikan bagi umat dan masyarakat umum. Bahkan menggunakan karunia yang berguna bagi orang lain, yang tidak untuk kebanggan diri sendiri. Kepandaian yang dimiliki tidak untuk membodohi masyarakat namun untuk mencerahkan. Kepandaian harus dibarengi dengan kebijaksanaan agar jadi berkat bagi banyak orang, mengajar yang mencerahkan bukan menjerumuskan bahkan menyesatkan masyarakat dalam berpikir maupun bertindak. Sebagaimana Kristus dalam berhikmat yang dari Roh Allah untuk menyatakan pembebasan, menyembuhkan dan mewartakan sukacita dari Tuhan. Menjadi pengajar baik bagi diri sendiri maupun orang lain terlebih khalayak banyak dengan menyampaikan berita yang benar dan berguna agar berita tersebut tidak sekadar memberi informasi, namun juga menginspirasi dan memotivasi kepada kebenaran Tuhan. Contoh saja tentang nalar thd suatu hal dikaitkan dengan hikmat dalam mengajar belajar, tentang berita di  suatu tempat yaitu lomba Lektor, yah nyonto pinginnya Musabaqah Tilawatil Qur'an, bidang lomba membaca Al-Qur'an dengan bacaan mujawwad, yaitu bacaan Al-Qur'an yang mengikuti kaidah-kaidah hukum tajwid, membaca dengan adab tilawah, serta seni lagu dan suara. Alkitab, kitab suci orang Kristen, adalah karya sastra yang berbentuk prosa dan puisi. Dalam ilmu teologi bidang biblika karya sastra tersebut merupakan refeksi iman para penulisnya. Seindah-indahnya karya sastra itu para penafsir selalu ingin mencari apa makna teks atau makna apa yang dipahami oleh penulisnya, bukan lagi ayat ini bermakna apa bagiku tapi makna apa yg ada dibelakang pikiran penulisnya shg penulis menuliskan ayat tsb. Dalam dunia sastra umum tidaklah penting untuk mencari makna karena sastra umum mengutamakan keindahan. Pembaca atau penikmat sastra tidak peduli pada apa yang hendak disampaikan penulis karena mereka menikmati keindahan karya sastra. Bahkan dalam bentuk yang sederhana seperti peribahasa “Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu” orang tidak peduli apa makna “kura-kura dalam perahu”. Orang hanya peduli pada keindahan rima untuk menuju frase selanjutnya “pura-pura tidak tahu”. Pembaca Alkitab disebut lektor. Calon-calon lektor tidak dilatih untuk membaca dengan indah. Mereka dilatih untuk menyampaikan secara utuh suatu perikop yang dibacanya agar didengar secara utuh oleh para pendengarnya.Itulah sebabnya tidak ada lomba lektor nasional. Alkitab memang karya sastra, tetapi keindahan bukanlah yang utama. Yang utama dan terutama adalah apa makna teks untuk pembaca masa kini. Gereja pada hakikatnya mengajar, tapi juga belajar. Gereja yang tak mengajar dan belajar berarti bukan gereja. Gereja membuat tahun liturgi: Tahun A, Tahun B, dan Tahun C, yang dapat diartikan tahun ajaran atau tahun akademik. Kurikulumnya berupa leksionari. Berhubung Gereja ibadahnya Kristosentris, maka pusat pemberitaannya atau homilinya adalah Injil. Bacaan dari Perjanjian Lama (PL) dan Surat-surat Rasuli untuk menopang pembacaan Injil. Injil Matius mengisi kurikulum Tahun A. Injil Markus untuk Tahun B. Injil Lukas untuk Tahun C. Injil Yohanes disisipkan ke Tahun A, B, dan C untuk Minggu-Minggu tertentu. Tahun ajaran/akademik dimula dari Minggu Pertama masa Adven. Sekarang adalah Tahun C atau Tahun Injil Lukas. Sesudah Tahun C berakhir, maka kembali ke Tahun A sehingga membentuk siklus atau lingkaran seperti spiral bolpen. Kita seolah-olah kembali ke titik yang sama (dilihat dari atas), tetapi sebenarnya di masa yang berbeda (dilihat dari samping). Penerapan kurikulum dengan bacaan ekumenis atau leksionari (RCL – Revised Common Lectionary) berfungsi menanamkan nilai-nilai historis sekaligus tradisi bahwa yang terjadi pada masa kini merupakan embusan dari peristiwa-peristiwa masa lalu. Dengan pengulangan lewat siklus tahun akademik umat menyadari bahwa firman yang disampaikan selalu baru dari masa ke masa. Persoalannya tidak semua gereja menerapkan tahun liturgi dengan bacaan ekumenis. Pembacaan Alkitab sesuka hati gerejanya. Teks-teks yang sulit dihindari. Teks-teks yang dianggap mendukung ideologi aliran gereja sering dibaca. Padahal, seperti yang saya sampaikan di atas, ibadah Kristen berpusat pada Kristus atau Kristosentris, bukan pada kemauan dan ideologi gerejanya.  Dalam pada itu ada cukup banyak juga tamatan perguruan tinggi teologi berhenti belajar. Cara membaca Alkitab mereka kembali seperti ketika mereka masih remaja. Mereka mengingkari hakikat Gereja yang mengajar.  Minggu ketiga sesudah Epifania. Bacaan Minggu ini secara ekumenis diambil dari Injil Lukas (Lukas 4 ayat 14 sampai 21).  Apabila kita berasal dari gereja-gereja arus-utama, sebelum ibadah dimula ada prosesi penyerahan Alkitab dari pejabat gereja kepada pemimpin ibadah, dan sesudah ibadah pemimpin ibadah mengembalikan Alkitab kepada pejabat gereja. Tradisi ini merujuk bacaan Injil Lukas pada Minggu ini. Dikisahkan dalam bacaan Injil Lukas setelah Yesus menyepi selama 40 hari di padang gurun, Ia kembali ke Galilea. Tersebarlah kabar tentang Yesus di seluruh daerah itu. Ia mengajar di rumah-rumah ibadah di sana dan semua orang memuji-Nya (ay. 14-15). Yesus kemudian ke Nazaret tempat Ia dibesarkan. Menurut kebiasaan-Nya pada Sabat Ia masuk ke rumah ibadah. Ia kemudian diberi kitab Nabi Yesaya oleh pejabat rumah ibadah. Ia kemudian membaca kitab itu, yang dalam Alkitab modern terdapat di dalam Yesaya 61:1-2. Setelah membaca Ia menutup kitab itu dan mengembalikannya kepada pejabat rumah ibadah, lalu duduk (ay. 20), dan semua mata tertuju kepada-Nya, lalu Ia mula mengajar. Kata Yesus, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” (ay. 21). Sila baca lagi ayat 20 “Yesus duduk” dan ayat 21 “Yesus mengajar”. Suasana pengajaran memang seperti di kelas. Rumah-rumah ibadah menjadi pusat pengajaran sejak reformasi Yahudi pasca-pembuangan di Babel. Pertanyaan selanjutnya, mengapa Yesus boleh mengajar? Tahapan pendidikan Yahudi dimula dari Mikra (membaca Taurat) pada usia 5 tahun. Anak usia 10-12 tahun masuk ke Beth Talmud. Semua anak Yahudi pada usia 12 harus melakukan ‘aliyah (naik) dan Bemah (menghadap mimbar untuk menerima kuk hukum Taurat) dan siap menerima ruah (roh hikmat). Yesus pun dikenai hukum adat ini ketika berumur 12 tahun (lih. Titik Pandang, 26 Desember 2021). Pada usia 20 ditambahkan baginya nishama (reasonable soul, “jiwa penalaran”) dan pada usia tersebut seseorang memasuki sekolah khusus Yahudi (Beth Midrash). Tidak semua anak Yahudi dapat masuk sampai ke jenjang Beth Midrash karena dibutuhkan kemampuan akademik tinggi. Pada usia 30 orang Yahudi baru boleh mengajar di depan umum. Dengan mengetahui tradisi pendidikan Yahudi ini kita bisa menafsir bahwa Yesus adalah lulusan Beth Midrash dan sudah berusia 30 tahun saat Ia mengajar seperti narasi dalam Injil Lukas di atas.Apa yang dibaca Yesus sampai Ia mengatakan bahwa pada hari ini genaplah nas ini? Dalam Yesaya 61:1-2 tertulis “Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara, untuk memberitakan tahun rahmat TUHAN dan hari pembalasan Allah kita, untuk menghibur semua orang berkabung”. Teks yang dibaca Yesus itu dalam bentuk puisi. Puisi itu memerikan betapa memilukan Yerusalem yang porak poranda. Kerajaan Israel Bersatu bubar. Dimula dari Kerajaan Israel Utara direbut oleh Asyur. Menyusul kemudian Kerajaan Yehuda di selatan dikalahkan oleh Babel. Umat menderita dalam penjara kuasa Babel. Menjadi tawanan tidak nyaman, meski diberi kelimpahan makanan dan fasilitas. Menjadi tawanan itu tak merdeka, remuk hati, karena segala kebebasan direnggut. Namun penulis kitab Yesaya mau menyampaikan kabar sukacita atas pembebasan umat dari tawanan. Allah tidak meninggalkan umat-Nya, walau umat-Nya meninggalkan-Nya.🙏🙏🙏Selamat Belajar Mengajar Berhikmat🙌🙌🙌Tuhan Yesus Memberkati

Selasa, 18 Januari 2022

KHOTBAH LINTAS IMAN, SERIAL SUDUT PANDANG

KHOTBAH LINTAS IMAN, SERIAL SUDUT PANDANG

"Monggo pak dosen, badhe ngersakaken mundhut menapa?" Seorang bapak yang tampaknya pemilik kios mempersilakan saya. Saya tidak terlalu heran, bapak itu mengenal saya sebagai seorang dosen STT sebab CEPOGO adalah wilayah yang kecil. Tanpa menunggu jawaban saya, bapak itu mengulurkan tangan sambil berkata, "Kula menika remen yen mireng khotbah panjenengan lho....!" Kali ini saya benar-benar heran sebab jelas ia bukan warga gereja, lagipula bila ditilik dari pakaiannya cukup jelas bahwa ia seorang muslim. Seperti memahami keheranan saya, bapak itu memberikan penjelasan, "Kula mirengke khotbah panjenengan yen ngepasi wonten upacara kesripahan utawi ular-ular temanten!" Aduuhhh... saya jadi tersipu dan takut kalau helm yang saya kenakan pecah karena bertambah besar. Maka saya segera menyebut apa yang hendak saya beli agar segera bisa pergi dari kios itu. 

Sebenarnya saya sudah beberapa kali mengalami ketemu orang yang belum saya kenal dan bukan seiman, tetapi mengatakan menyukai khotbah saya. Namun saya sangat yakin bahwa jika benar orang-orang itu menyukai khotbah-khotbah saya, itu pasti bukan karena saya ini orator ulung yang berbicara dengan timbre suara yang mantap  dan gesture yang menarik. Saya juga bukan tipe pembicara yang humoris dan pintar bernyanyi dengan suara merdu sebagai selingan. Aduhhh... trus karena apa? 

Pastor Edward Foley dalam buku Theological Reflection Across Religious Tradition menulis bahwa setiap kali menyusun khotbah untuk ibadah di gereja yang dilayaninya, dalam refleksi ia selalu mempertimbangkan keyakinan dari para pendengarnya yang berbeda-beda. Lho... bukankah di gereja itu hanya ada satu keyakinan saja, yaitu keyakinan Kristen? Foley mengamati bahwa yang hadir di gerejanya bukan hanya orang Kristen saja. Kok bisa? Iya, karena diantara mereka yang hadir mungkin ada anak-anak yang pergi merantau kemudian pulang mengunjungi orang tuanya. Mungkin saja mereka sudah bukan Kristen lagi, sedang mempelajari suatu keyakinan atau bahkan memilih menjadi seorang ateis. Nah, untuk menghormati orang tuanya pada hari minggu mereka bersama-sama pergi ke gereja. Jadi refleksi yang dibuat pastor Foley melalui khotbahnya bukan hanya refleksi Kristen, tetapi refleksi-refleksi dari sudut pandang lain lain yang bisa diterima oleh banyak pihak sehingga mereka merasa di terima dan nyaman dalam komunitas gereja itu. 

Pastor Foley mengaku bahwa refleksinya yang demikian itu terinspirasi oleh refleksi yang dilakukan oleh Tuhan Yesus sendiri. Ketika Tuhan Yesus bertemu dengan perempuan Siro-Fenesia yang memohon agar anaknya yang kerasukan roh jahat disembuhkan, Tuhan Yesus menjawab: "Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Jawaban Tuhan Yesus ini khas refleksi orang Yahudi yang merasa dirinya sebagai bangsa terpilih sehingga segala kebaikan hanya untuk orang Yahudi saja. Jawaban ini tentu terdengar sangat menyakitkan bagi perempuan itu, tetapi perempuan itu tidak putus asa dan justru menjadikan refleksi khas Yahudi itu sebagai dasar untuk membuat refleksi baru yang sesuai untuk dirinya. Ia menjawab: "Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak." Tuhan Yesus membenarkan refleksi baru ini dan Tuhan Yesus kemudian bertindak berdasarkan refleksi ini. SabdaNya: "Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu." 

Coba perhatikan, ada dua hal istimewa di sini: (1) Tuhan Yesus keluar meninggalkan refleksi Yahudi bahwa roti disediakan bagi anak-anak dan tidak patut bila diberikan untuk anjing, kemudian masuk kembali dengan meminjam refleksi perempuan Siro-Fenesia itu. Dengan cara seperti itu rahmat diberikan kepada perempuan itu dan anak-anaknya. (2) Alkitab tidak mencatat bahwa perempuan itu kemudian menjadi anggota dari komunitas yang mengikut Tuhan Yesus. 

Kadang-kadang kita diracuni oleh hegemoni keyakinan agama dengan menganggap bahwa keyakinan lain adalah sesat, kafir atau berhala dan yang benar hanyalah keyakinan kita sendiri. Contoh yang paling jelas adalah kasus oknum yang menendang dan membuang sesajen di daerah gunung Semeru karena menganggap itu sebagai hal buruk yang menyebabkan Allah murka dan mendatangkan bencana di situ. Hegemoni itu telah membuat orang gagal bertoleransi pada keyakinan lain yang pada gilirannya gagal pula untuk menjadi rahmat bagi sesama. 

Mengapa ada beberapa orang yang tidak saya kenal dan berbeda agama mengaku menyukai khotbah saya? Bila itu bukan karena saya adalah orator ulung, mungkin salah satu faktor penyebabnya adalah dalam refleksi khotbah saya terus berjuang untuk menepis perasaan superioritas agama dan mengupayakan untuk tidak menyinggung atau merendahkan keyakinan lain. 

Semoga demikian adanya. STT Baptis Injili, CEPOGO, Boyolali, Jateng, Titus Roidanto

Jumat, 07 Januari 2022

EPIPHANIA, soal Solidaritas, SERIAL SUDUT PANDANG

EPIPHANIA, soal Solidaritas, SERIAL SUDUT PANDANG

Masa raya Natal mencapai puncak pada 6 Januari yang lalu. Pada tanggal itu dirayakan sebagai Hari Epifania. Epifania atau ἐπιφάνεια secara literal berarti penampakan diri, kedatangan, kelihatan. Tradisi perayaan 6 Januari itu sudah ada pada masa Sebelum Zaman Bersama (SZB) atau Sebelum Masehi (SM) di Mesir. Satu di antara beberapa mitos adalah Korê, saudara dewi gandum Grika Demeter, melahirkan Sang Keabadian. Perayaan semi-Gnostik ini marak dirayakan di Aleksandria. Gereja Mesir kemudian mengadopsi tanggal ini sebagai kelahiran Kristus. Mitos lainnya mengisahkan orang-orang di Aleksandria merayakan kelahiran Dewa Aion, yaitu dewa waktu dan keabadian. Dalam perayaan itu air disapu dan dibuang ke Sungai Nil. Pada mulanya peringatan pembaptisan Yesus di Yordan dinasabahkan dengan perayaan kelahiran Yesus. Gereja Mesir mengadopsi festival musim dingin orang-orang Aleksandria tersebut sebagai penyataan Kristus (Epifania). Perayaan ini juga dipautkan dengan mukjizat air menjadi anggur dalam pesta perkawinan di Kana. Hal ini sejajar dengan pesta Aion yang berlimpah anggur sebagai pengganti air. Tradisi perayaan Epifania oleh gereja tidak lepas dari kisah kedatangan orang Majus dari Timur (Injil Matius). Mereka datang berkunjung karena mereka melihat bintang-Nya, penampakan Tuhan. Itu sebabnya pada Epifania sangat ditonjolkan aksesoris atau hiasan kedatangan orang Majus. Berbeda dari aksesoris atau hiasan Malam Natal yang menonjolkan kedatangan gembala-gembala pada malam kelahiran Yesus (Injil Lukas). Di sini Gereja mengajar umat bahwa menggabungkan cerita Injil Lukas dan Injil Matius dalam satu cerita adalah tidak tepat. Injil Lukas menyebut Yesus sebagai “bayi”, sedang Injil Matius menyebut Yesus sebagai “anak”. Dengan bahasa masa kini orang-orang Majus itu bertemu dengan Yesus yang sudah batita. Gereja mengambil tema permulaan pelayanan Yesus dalam perayaan Epifania. Bagi gereja pelayanan Yesus, yang dimula dari pembaptisan-Nya, jauh lebih penting daripada perayaan kelahiran-Nya. Pelayanan Yesus merupakan manifestasi kehadiran Allah (teofania) di tengah-tengah umat. Sebegitu penting kisah awal pelayanan Yesus sehingga tema-tema tentang pelayanan dan pengajaran-Nya dikedepankan. Minggu ini disebut Minggu Pembaptisan Tuhan (Baptism of the Lord) atau Minggu pertama sesudah Epifania. Secara tradisi Minggu ini dilayankan juga baptisan oleh gereja bagi para calon baptis yang sudah menyiapkan diri sejak Adven. Masa raya Natal terus berjalan sampai Minggu VII sesudah Epifania. orang-orang Kristen yang ngotot merayakan Natal pada masa Adven, selain tidak mengerti teologi Adven, tidak mengerti liturgi. Ada banyak waktu yang disediakan untuk merayakan Natal, dari 24 Desember malam sampai Minggu VII sesudah Epifania (atau 20 Februari 2022), dengan tema mengikuti bacaan ekumenis atau RCL (Revised Common Lectionary). Minggu ini bacaan secara ekumenis diambil dari Lukas 3:15-17, 21-22. Dalam bacaan Injil Lukas Minggu ini dikisahkan dua fragmen. Pertama, pengajaran berupa percakapan Yohanes (Pembaptis) dengan para pendengarnya. Kedua, pembaptisan Yesus. Dalam fragmen pertama tentang pertanyaan banyak orang bahwa jangan-jangan Yohanes inilah Mesias. Tentang itu kemudian Yohanes menjernihkan sangkaan mereka. “Ia yang lebih berkuasa daripada aku akan datang,” kata Yohanes, “Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” Fragmen kedua tentang pembaptisan Yesus. Tertulis di sana “Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya, dan terdengarlah suara dari langit: ‘Engkaulah Anak-Ku  yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.’” Dalam fragmen pertama Yohanes disangka oleh banyak orang bahwa ia adalah Sang Mesias. Mengapa bisa begitu? Yohanes sibuk bekerja menyiapkan “infrastruktur” menyambut kedatangan Kristus. Ia mengajar dan membaptis banyak orang. Kinerja yang luarbiasa itu menyebabkan banyak orang menyangka Yohanes Sang Mesias itu. Yohanes begitu terkenal. Namun siapa sangka Yohanes sangat rendah hati dan menjernihkan isu Mesias. Ia bukanlah siapa-siapa. Ada yang lebih berkuasa daripada Yohanes akan datang. Saking bukan siapa-siapanya Yohanes memerikan bahwa melepas tali kasut-Nya (kasut sepatu zaman dulu) ia tidak layak. Orang yang sangat berkuasa tentu memiliki banyak ajudan/abdi yang melayaninya secara pribadi, misal melepas tali kasut, seperti yang diperikan oleh Yohanes. Maksud Yohanes, disamakan dengan ajudan/abdi saja ia masih lebih rendah daripada itu. Fragmen kedua, saya kutipkan lagi narasinya “Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya, dan terdengarlah suara dari langit: ‘Engkaulah Anak-Ku  yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.’” Bagaimana cara Yesus dibaptis tidak diceritakan sama sekali. Dengan kata lain cerita Pembaptisan Yesus lebih merupakan refleksi teologis ketimbang suatu laporan historis tentang bagaimana Yesus dibaptis. Dalam bentuk cerita refleksi teologis itu diperikan terjadi secara fisik dengan menggunakan dunia bahasa yang dikenal pada masa itu. Misal, langit atau surga merupakan tempat kediaman Allah sehingga sebelum Roh Allah turun dari surga dengan langit terbuka lebih dahulu. Saat turun dari langit Roh Allah diperikan dalam rupa burung merpati yang memiliki sayap untuk terbang. Suara Allah dari Surga juga diperikan seperti suara manusia yang bisa didengar telinga manusia. Metafora “suara Allah” itu sebenarnya sejenis dengan metafora “Allah berfirman” karena keduanya memerikan Allah seolah-olah memiliki mulut yang dapat komat-kamit mengeluarkan suara seperti mulut manusia. Roh Allah turun dan suara Allah terdengar memerikan teologi penyataan Allah (revelation) atau penampakan Allah (epifania atau teofania). Pemerian Roh Allah turun ke atas Yesus bisa dimaknai sebagai pengesahan Allah atas penugasan orang yang dipilih-Nya itu (bdk. Yes. 42:1 dan 62:1). Penugasan itu lewat jalan unik dan nyentrik, yaitu baptisan Yohanes yang menyimbolkan pembasuhan dosa. Ini adalah simbol penting bahwa Yesus bersolidaritas pada orang-orang marginal yang selalu didakwa sebagai orang-orang berdosa di masyarakatnya. Ada partai politik mengambil kata solidaritas menjadi nama partainya. Apakah kata solidaritas merefleksikan nama partainya? Menurut partai itu solidaritas adalah orang yang menyerahkan bangunan dan lahan seluas 1.040 m2 dan menurut partai itu belum cukup. Partai itu butuh dua miliar rupiah lagi untuk merenovasi bangunan itu. Seperti itulah solidaritas yang dipertontonkan oleh anak-anak muda kader partai itu. Mereka lebih berwajah selebritis angkuh ketimbang wajah penuh belarasa. Seorang pengemudi ojek tertabrak taksi. Teman korban menyampaikan berita ini kepada teman-temannya sesama pengemudi ojek. Ratusan pengemudi ojek berkumpul dan bermufakat untuk menghajar pengemudi taksi. Pada hari itu mereka juga melakukan pencegatan terhadap setiap taksi yang lewat. Mereka menyatakan tindakan mereka adalah solidaritas. Dalam pada itu ada warga gereja yang sakit keras atau kehilangan pekerjaan. Warga jemaat kemudian berdoa agar warga itu segera sembuh dan mendapat pekerjaan baru. Solidaritas gereja. Bacaan Injil Minggu ini mengecam 2 contoh solidaritas bengkok di atas. Dalam bacaan Yesus mengajarkan secara radikal solidaritas tidak akan terjadi tanpa belarasa (compassion). Bersolidaritas berarti berbelarasa, yang turut merasakan penderitaan orang-orang marginal; orang-orang yang menjadi korban dalam masyarakat yang dibedakan atas kelas-kelas dan tradisi keagamaan yang memihak kemapanan serta korban penguasa yang korup, serta berbuat nyata bagi mereka untuk membuat kehidupan mereka lebih baik.  “There's a fine line between genius and insanity. I have erased this line.” Oscar Levant. STT BAPTIS INJILI, 2022, CEPOGO BOYOLALI, JATENG, TITUS ROIDANTO

Kamis, 06 Januari 2022

BENARKAH YESUS TUHAN MATI? MENGERTI APA YANG AKU IMANI, SERIAL SUDUT PANDANG, Serial Paska

BENARKAH  YESUS TUHAN MATI? MENGERTI APA YANG AKU IMANI, SERIAL SUDUT PANDANG, Serial Paska

Tiap kali ada perayaan hari besar umat kristiani, ada saja serangan terhadap ajaran iman kristiani, saat ini di medsos ramai dibicarakan apakah Yesus Tuhan benar-benar mati?, di peristiwa kita sedang menghikmati tri hari suci, tapi itu semua ada hikmatnya karena membuwat kita belajar dan makin mengerti akan ajaran keimanan kita, malah memperkuwat kita. Kita menyakini bahwa Yesus Tuhan benar telah mati di kayu salib, karena sudah nubuatan di Perjanjian Lama tentang hal tsb, Perjanjian Lama juga merupakan kitab yang diakui oleh umat Yahudi, itulah alasan yang membuwat kita yakin Yesus Tuhan benar-benar mati di kayu salib, selain ada alasan dan argumentasi lainnya juga, misalkan dari sisi medis. Dengan tegas Yesus berkata bahwa kedatangan-Nya telah menggenapi "kitab Taurat Musa dan Kitab Nabi-nabi dan Kitab Mazmur" (Luk. 24:44), yang jelas merujuk kepada TANAKH (Torah Nevi'im Khetuvim), dimana Mazmur adalah buku pertama dari Khetuvim. Dalam peristiwa transfigurasi, penampakan Musa (mewakili Taurat) dan Elia (mewakili Nabi-nabi) meneguhkan tuntutan teologis Kristus ini (Mat. 17:1-13). Sejak awal sejarahnya, Kekristenan, seperti juga Saduki, Farisi, dan Eseni adalah bagian tak terpisahkan dari Yudaisme awal. Bukti-bukti sejarah dari Flavius Yosefus (90 M) dan sejarah Yahudi pada umumnya membuktikan bahwa Kekristenan baru terpisah dari induk ke-Yahudi-an sejak konsili Yamnia, kira-kira tahun 90 M. Jadi bagaimana bisa, Kristen disebut membajak Kitab Suci Yahudi? Bukankah Yudaisme modern adalah hasil reformasi sejak abad II, abad V, dan mencapai puncaknya pada abad XI M? Jadi, jauh lebih muda dari kekristenan yang tumbuh dari Yahudi awal. Perbedaan konsep Mesiah tidak bisa dijadikan alasan menolak warisan sejarah Kekristenan yag lahir dari rahim umat Israel. Sebab, pada tahun 132 M Rabbi Akiva yang mengharapkan Simon Bar Kokhba sebagai Mesias Israel pada akhirnya gagal total dan tidak terbukti, juga tidak membatalkan hak Yudaisme modern atas warisan sejarah bersama mereka. Tanpa membaca injil pun Yesus Tuhan sudah pasti mati disalib,  karena itu fakta sejarah dunia. Benarkah Yesus tidak disalib tetapi diserupakan dengan Yudas Iskariot atau orang lain lagi? Pertanyaan ini tidak relevan, sebab penyaliban Yesus adalah fakta sejarah yang tidak bisa dibatalkan oleh keyakinan wahyu yang bersifat subyektif. Apalagi ayat itu muncul ratusan tahun setelah peristiwanya terjadi. Bahkan, tanpa membaca Injil pun Yesus sudah pasti disalib. Fakta sejarah ini direkam minimal oleh 6 sumber primer dari catatan sejarawan pada zamannya dan 2 sumber sekunder, baik dari sumber sejarah Yahudi, Roma ataupun Yunani. Sekalipun Yesus hanya masuk dalam "Catatan Pinggir Sejarah Dunia", tetapi yang pasti tak satupun dokumen kuno yang meragukan fakta penyaliban-Nya. Bisa kita amati pada ulangan 32 : 39, dan 1 Samuel 2 : 6 bahwa hanya Allah lah yang dapat memberi kehidupan, dan hanya Allah. Kematian bahkan kebangkitan Yesus Tuhan adalah bukti persetujuan Allah terhadap siapa yang diutusNya. Perjanjian Lama bahkan Yesus Tuhan sendiri sudah menubuatkan kematian dan kebangkitanNya, bahkan sampai cara matiNya yang di siksa. Mazmur 16 ayat 10 memperlihatkan nubuat kebangkitan Messias. Mari kita memperhatikan nubuatan-nubuatan berikut ini, Yesaya 53 dan Mazmur 22 memperliatkan bahwa mesias akan datang dan mati,  dan mesias tsb akan memerintah selamanya terlihat pada Yesaya 9 : 6 dan Daniel 2 : 44, satu-satunya jalan mesias untuk memenuhi tugas tanggung jawab yang diembanNya dari Allah adalah dengan jalan mati dan bangkit. Yesus Tuhan pun menubuatkan kebangkitanNya sendiri dan kematianNya di Yohanes 2 :19, 21, Markus 8:31, Markus 9:30-31, Markus 10:32-34, Yohanes 10:1. Di Perjanjian Baru, tepatnya di injil atau keempat injil diperlihatkan tulisan sejarah bahwa Yesus Tuhan benar-benar mati, kehilangan sebagian besar darahNya karena penyiksaan dan penyaliban, Yesus Tuhan memiliki 5 luka parah dan berada di atas kayu salib mulai jam 9 pagi (Markus 15:25) hingga jam 3 sore (Markus 15:42), Yesus Tuhan menyerahkan nyawaNya (Yohanes 19:30), lambungnya di tusuk tombak, ini sangat membuktikan akan kebenaran kematian Yesus Tuhan (Yohanes 19:34), tentara Roma yang menangani menyatakan Yesus mati (Yohanes 19:33), Pilatus sendiri menyatakan dan memastikan Yesus Tuhan mati (Markus 15:42-47), mayat Yesus Tuhan dikafani dan dirempahi secara adat Yahudi (Yohanes 19:40). Jelaslah sekali nubuatan Yesaya 53 ayat 2 sampai 12, kita perhatikan ayat 7 -- 9,12 yang dituliskan kurang lebih 700 tahun sebelum Yesus Tuhan lahir ke dunia dan juga diakui oleh tradisi Yahudi, menubuatkan kematianNya, nubuatan dengan rentang waktu yang sangat jauh, tergenapi oleh Yesus Tuhan, bukankah itu bukti bahwa Yesus Tuhan benar-benar mati. Perhatikan Pada ayat 8 ,Nabi Yesaya menubuatkan , " Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah"Ayat tersebut dengan tegas menjelaskan bahwa "Mesias" terputus dari negeri orang-orang hidup atau dengan kata lain "Mesias" mengalami kematian. Dan kata "Sungguh" disitu dengan jelas memastikan bahwa "Mesias" mati. Jadi tidak ada keraguan dari Nabi Yesaya bahwa "Mesias" harus mengalami kematian. Dan pada ayat 9, Nabi Yesaya sekali lagi menubuatkan bahwa Mesias akan mengalami kematian, Nabi Yesaya dengan jelas menyatakan bahwa matinya "Mesias" ada di antara penjahat-penjahat. Jika "Mesias" tidak mati maka Nabi Yesaya tidak akan menubuatkan bahwa "Mesias" matinya ada di antara penjahat-penjahat. Kemudian ayat 12, Nabi Yesaya sekali lagi menegaskan tentang kepastian kematian "Mesias". "Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak", "Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya." Jika "Mesias" tidak mati maka Nabi Yesaya tidak akan menubuatkan bahwa "Mesias" telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut. Oleh karena itu dari nubuatan Yesaya tentang Mesias ini, maka kita mengetahui bahwa "Mesias harus mengalami kematian". Dan hal ini sepenuhnya digenapi di dalam Yesus Kristus. Nubuatan ini tak mungkin direkayasa, atau kemungkinan merubah nubuatan ini juga hal yang mustahil, karena kitab ini juga diakui oleh tradisi Yahudi, shg kemungkinan-kemungkinan seperti itu tidak dimungkinkan. Zakharia 12:10, "Aku akan mencurahkan roh pengasihan dan roh permohonan atas keluarga Daud dan atas penduduk Yerusalem, dan mereka akan memandang kepada dia yang telah mereka tikam, dan akan meratapi dia seperti orang meratapi anak tunggal, dan akan menangisi dia dengan pedih seperti orang menangisi anak sulung. Ayat ini juga nubuatan tentang Mesias yg digenapi oleh Yesus Kristus. Ayat diatas menjelaskan "akan meratapi dia seperti orang meratapi anak tunggal, dan akan menangisi dia dengan pedih seperti orang menangisi anak sulung." Mengapa dikatakan "menangisi dia dengan pedih seperti orang menangisi anak sulung. " Menurut kata "anak sulung " dalam hal ini berhubungan dgn cerita kematian "anak sulung" pada saat Allah memberikan tulah ke 10 di Mesir. Dimana pada saat Allah memberikan tulah yg ke 10 di Mesir, seluruh "anak sulung" dari orang Mesir mati karena tulah tsb dan terjadi ratap tangis di seluruh mesir. Oleh karena itu kalimat "menangisi dia dengan pedih seperti orang menangisi anak sulung " berarti mempertegas bahwa "Mesias" mengalami kematian spt halnya "anak sulung" di mesir yg mengalami kematian karena tulah. Yeremia 11:19 Tetapi aku dulu seperti anak domba jinak yang dibawa untuk disembelih, aku tidak tahu bahwa mereka mengadakan persepakatan jahat terhadap aku: "Marilah kita binasakan pohon ini dengan buah-buahnya! Marilah kita melenyapkannya dari negeri orang-orang yang hidup, sehingga namanya tidak diingat orang lagi!" Silakan bandingkan ayat diatas dengan Yes 53:7-8, Ayat diatas juga merupakan nubuatan yg digenapi oleh Yesus Kristus. Yesus Kristus disebut juga sebagai "Anak Domba" Allah yg disembelih utk penebusan dosa. Dan nubuatan diatas menyatakan bahwa "musuh2nya bersepakat utk melenyapkannya dari negeri orang2 yg hidup", atau dengan kata lain "musuh2nya bersepakat utk mematikan Yesus". Dan hal ini memang telah tergenapi seluruhnya di dalam Diri Yesus Kristus. Jika Nabi Yesaya, Nabi Yeremia dan Nabi Zakharia menubuatkan bahwa "Mesias" yaitu Yesus harus mati untuk menebus dosa. Bagaimana ?? Apakah masih meragukan bahwa Yesus sungguh2 mati diatas kayu salib?? Kita bisa melihat perbedaan pandangan Injil-Injil Sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas) dan Injil Yohanes terhadap salib. Injil-Injil Sinoptik memandang salib simbol penderitaan, sedang Injil Yohanes memandang salib simbol kemuliaan. Dalam Injil Markus saat Yesus di kayu salib dinarasikan bahwa Ia putus asa dan berteriak "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?". Dalam pada itu pengarang Injil Yohanes menulis ucapan terakhir Yesus  di kayu salib "Sudah selesai!". Di sini penulis Injil Yohanes hendak menyampaikan bahwa Yesus tetap tampil gagah di penghujung kematian-Nya. Pengarang Injil Yohanes menolak bahwa Yesus sudah putus asa. Gereja merujuk teologi Injil Yohanes menamakan hari kematian Yesus sebagai Jumat Agung (Good Friday). Untuk itulah pembacaan Injil setiap Jumat Agung baik tahun A, Tahun B, maupun Tahun C diambil dari Injil Yohanes 18:1 - 19:42. Masalahnya apakah Yesus benar-benar mati? Itu selalu ditanyakan umat non kristiani. Sebetulnya bisa dinalar dari sudut budaya, budaya Arab utamanya atau beberapa tradisi sumber agama-agama blom bisa menerima teologi penderitaan,  Allah kok menderita,  Allah kok mati? Shg dlm bbrp tulisan kitab tafsir quran dan quran sendiri kenaikan nabi Isa ke surga terjadi sebelum peristiwa penyaliban. QS. An-Nisa Ayat 157 :

Wa qawlihim innaa qatal nal masiiha 'Eesab-na-Maryama Rasuulal laahi wa maa qataluuhu wa maa salabuuhu wa laakin shubbiha lahum; wa innal laziinakh talafuu fii lafii shakkim minh; maa lahum bihii min 'ilmin illat tibaa'az zann; wa maa qataluuhu yaqiinaa. Dan Kami hukum juga mereka karena ucapan mereka, "Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam," yang mereka ejek dengan menamainya Rasul Allah padahal mereka tidak beriman kepadanya. Mereka mengatakan telah membunuhnya, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi diserupakan bagi mereka orang yang dibunuh itu dengan Nabi Isa. Sesungguhnya mereka yang berselisih pendapat tentangnya, yakni tentang Nabi Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang hal, yakni pembunuhan, itu. Mereka tidak mempunyai sedikit pun pengetahuan menyangkut hal itu, yakni tentang pembunuhan Nabi Isa, dan apa yang mereka katakan kecuali mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak membunuhnya dengan yakin. Tafsirnya sbb : Kami hukum juga mereka karena ucapan mereka," Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam," yang mereka ejek dengan menamainya Rasul Allah padahal mereka tidak beriman kepadanya. Mereka mengatakan telah membunuhnya, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi diserupakan bagi mereka orang yang dibunuh itu dengan Nabi Isa. Sesungguhnya mereka yang berselisih pendapat tentangnya, yakni tentang Nabi Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang hal, yakni pembunuhan itu. Mereka tidak mempunyai sedikit pun pengetahuan menyangkut hal itu, yakni tentang pembunuhan Nabi Isa, dan apa yang mereka katakan kecuali mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak membunuhnya dengan yakin. Tetapi Allah telah mengangkatnya, Isa, kepada-Nya, yakni mengangkatnya ke tempat yang aman sehingga tidak dapat disentuh oleh musuh-musuhnya. Dan Allah Maha Perkasa, mengalahkan musuh-musuhnya, Maha Bijaksana dalam segala perbuatan-Nya. Ayat ini menerangkan bahwa di antara sebab-sebab orang Yahudi mendapat kutukan dan kemurkaan Allah ialah karena ucapan mereka, bahwa mereka telah membunuh Almasih putra Maryam, Rasul Allah, padahal mereka sebenarnya tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang disalib dan yang dibunuh itu ialah orang yang diserupakan dengan Isa Almasih bernama Yudas Iskariot, salah seorang dari 12 orang muridnya. Menurut tafsir kristiani golongan tertentu yg kemudian oleh bapa - bapa gereja sebagai bidat / sekte  , cerapan, dan pandangan kalangan tertentu Yesus tidak mati. Pandangan bahwa Yesus tidak mati ini bukan tanpa alasan, karena merujuk skriptural. Seorang lain yang sudah disalib menggantikan Yesus itu dapat seorang murid Yesus, yakni Yudas, yang wajahnya sudah diubah mirip wajah Yesus. Selain karena alasan skriptural mereka tidak bisa begitu saja menerima penyaliban Yesus, karena mereka memandang seorang nabi atau hamba Allah atau rasul Allah yang benar tidak mungkin mati dibunuh dengan kejam. Padahal ada contoh Yohanes Pembaptis, seorang nabi Yahudi yang suci dan benar dan sangat boleh-jadi menjadi  pembimbing Yesus, mati dipenggal oleh Raja Herodes Antipas. Dalam sejarah perkembangan Kristen sudah ada beberapa teks keagamaan Kristen Gnostik dari abad kedua dan ketiga yang memuat pandangan Yesus tidak mati disalib. Semua teks ini tidak melaporkan sejarah, melainkan mengajukan pandangan teologis Kristen Gnostik. Dalam pada itu keempat Injil kanonik (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) yang ditulis sepanjang kuartal keempat abad pertama memberitakan kematian Yesus yang dijatuhi hukuman mati lewat kayu salib. Bukti keempat Injil ini barangkali diragukan oleh sejumlah kalangan, karena ini dianggap propaganda.  Jika propaganda, pertanyaannya apa perlunya jemaat Kristen perdana memberitakan pemimpin rohani mereka yang mati dengan cara sangat memalukan? Tidak ada alasan bagi jemaat Kristen perdana untuk menutup-nutupi, karena hukuman mati terhadap Yesus merupakan fakta sejarah yang tidak dapat ditutup-tutupi. Fakta sejarah bahwa Yesus dihukum mati oleh Pemerintah Roma dengan dakwaan tindak pidana subversif. Namun demikian mengapa kalangan penganut ideologi tertentu dari abad mula-mula sampai sekarang meragukan kematian Yesus lewat kayu salib? Secara historis ideologi mengenai Yesus tidak mati di kayu salib dibuat dan dikembangkan oleh sekte Gnostik pada abad pertama dan kedua. Dalam satu seksi dokumen Nag Hammadi menyatakan bahwa Rasul Petrus melihat ada dua sosok yang terlibat dalam penyaliban: sosok yang satu sedang dipaku oleh para algojo pada tangan dan kakinya, sedang yang satunya lagi berada di atas sebuah pohon, bergembira sambil menertawakan apa yang sedang berlangsung.Dalam pada itu tradisi "kembaran" Yesus yang mengganti korban salib juga muncul di daerah Edessa, Suriah, yang jemaat Kristen di sana keliru menafsirkan Tomas sebagai "kembaran" (Didimus). Padahal Didimus itu adalah nama lain dari Rasul Tomas. Komunitas di Edessa ini kemudian banyak berkiprah di Tanah Arab. Secara ringkas pandangan Gnostik terhadap Yesus yang sejati adalah Yesus rohani, Yesus surgawi, sehingga Yesus tidak dapat disalib. Sialnya bagi kaum Gnostik kematian Yesus di kayu salib itu nyata, maka sekte Gnostik harus menyimpulkan bahwa yang sudah disalibkan itu pastilah orang lain. Orang yang wajahnya serupa dengan rupa atau wajah Yesus, bukan Yesus surgawi, bukan Yesus yang dijunjung mereka. Pandangan sekte Gnostik ini sebenarnya bukan mau menyatakan bahwa secara historis Yesus tidak mati disalibkan. Justru Yesus benar-benar mati disalibkan, kaum Gnostik  perlu mencari seorang "pemain pengganti" demi menyelamatkan ideologi mereka bahwa Yesus yang mereka sembah adalah Yesus surgawi, yang tidak bisa mati disalibkan. Sungguh enas apabila dongeng yang dikembangkan oleh sekte Gnostik yang sejak awal ditolak oleh jemaat Kristen perdana, masih dijadikan ideologi sampai masa kini. Sumber-sumber di luar kitab-kitab kanonik membuktikan bahwa Yesus mati di kayu salib. Sumber-sumber Rabinik Yahudi yang menolak kehadiran Yesus, karena para pengikut Yesus melakukan provokasi-provokasi terhadap Yudaisme. Dalam Talmud Babilonia mereka membalas provokasi pengikut Yesus  dengan menulis bahwa menjelang Sabat Paska Yesus orang Nasaret mati digantung. "Pada Sabat perayaan Paska Yeshu orang Nasaret digantung, sebab selama empat puluh hari sebelum eksekusi dijalankan, muncul seorang pemberita yang mengatakan: 'Inilah Yesus orang Nasaret, yang akan dirajam dengan batu sebab dia telah mempraktikkan sihir dan memengaruhi orang Israel untuk murtad. Barangsiapa yang dapat mengatakan sesuatu untuk membelanya, hendaklah tampil dan membelanya.' Tetapi karena tidak ada sesuatu pun yang tampil untuk membelanya, ia pun digantung pada sore Paska."  Cornelius Tacitus, seorang senator dan sejarawan Roma yang termasyur karena dua karya sejarahnya, Histories dan Annals, antara abad pertama dan kedua menulis "Kristus [Tacitus menggunakan nama Krsitus] telah dihukum mati (supplicio adfectus) dalam masa pemerintahan Tiberius [14-37 ZB] di tangan seorang prokurator kita, Pontius Pilatus [26-36 ZB], dan tahayul yang paling merusak itu untuk sementara dapat dikendalikan, tetapi kembali pecah bukan saja di Yudea, tetapi juga di Roma ... ." Mara bar Sarpion, filsuf stoik berkebangsaan Suriah, menulis surat kepada anaknya "apa maslahatnya orang Yahudi membunuh rajanya yang arif bijaksana?" Seperti diketahui kepala salib Yesus ditulis oleh otoritas Roma di Yudea (yang sebenarnya bahan olok-olok) dengan INRI (Isus Nazarnus Rx Idaerum), Yesus (orang) Nasaret Raja (orang) Yahudi. "Apa maslahatnya ketika orang-orang Yahudi membunuh raja mereka yang arif, karena kerajaan mereka sesudah itu direnggut dari mereka [merujuk Perang Yahudi I pada 66-73/74 ZB]? Allah sudah dengan adil membalas perbuatan-perbuatan jahat yang sudah dilakukan kepada orang bijaksana ini. Orang-orang Atena mati kelaparan; bangsa Samian dilanda banjir dari laut; orang-orang Yahudi dibunuh dan diusir dari kerajaan mereka, lalu tinggal di tempat-tempat lain dalam perserakan. Sokrates itu tidak mati; tetapi tetap hidup melalui Plato; begitu juga Phytagoras, karena patung Hera. Demikian juga raja yang bijak itu tidak mati, karena sesudah ia tidak ada, muncul hukum baru yang dia telah berikan."  Flavius Josephus, ahli sejarah Yahudi yang hidup pada abad mula-mula, menulis seorang Yahudi yang bijaksana bernama Yesus melakukan banyak hal besar, tetapi kemudian dihukum mati di kayu salib oleh pemerintah (Roma). "Kira-kira pada waktu ini hiduplah Yesus, seorang yang bijaksana, sebab ia adalah seorang yang sudah melakukan tindakan-tindakan luar biasa dan seorang guru bagi orang-orang yang telah dengan senang menerima kebenaran darinya. Ia sudah memenangi banyak orang Yahudi dan banyak orang Grika. Sesudah mendengar ia dituduh oleh orang orang-orang terkemuka dari antara kita, maka Pilatus menjatuhkan hukuman penyaliban atas dirinya. Tetapi orang-orang yang mula-mula sudah mengasihinya itu tidak melepaskan kasih mereka kepadanya dan bangsa Kristen ini, disebut demikian dengan mengikuti namanya, sampai pada hari ini tidak lenyap."  Penyaliban pada intinya adalah kematian perlahan yang diakibatkan oleh asfiksiasi (sesak nafas karena kekurangan oksigen dalam darah). Alasannya adalah bahwa tekanan-tekanan pada otot-otot dan diafragma membuat dada berada pada posisi menarik nafas, agar dapat menghembuskan nafas, orang itu harus mendorong kedua kakinya agar tekanan pada otot-otot dapat dihilangkan untuk sesaat. Ketika melakukan itu, paku akan merobek kaki, lalu akhirnya mengunci posisi terhadap tulang-tulang tumit kaki. Setelah dapat menarik nafas, orang itu kemudian akan dapat relaks dan menarik nafas lagi. ekali lagi ia harus mendorong tubuhnya naik untuk menghembuskan nafas, menggesekkan punggungnya yang berdarah ke kayu salib yang kasar. Ini akan berlangsung terus dan terus sampai kepayahan, dan orang itu tidak akan mampu mengangkat diri dan bernafas lagi. Ketika nafas orang itu semakin perlahan, ia mengalami apa yang disebut asidosis pernafasan, karbondioksida dalam darah larut sebagai asam karbonik, menyebabkan keasaman darah meningkat. Ini akhirnya mengakibatkan detak jantung yang tidak teratur. Dengan jantung-Nya yang berdetak tak menentu, Yesus berada dalam saat-saat kematian-Nya, yakni ketika Ia berkata, "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku". Kemudian Ia mati akibat berhentinya detak jantung. Bahkan sebelum Ia mati, keguncangan karena kehilangan sejumlah besar darah akan menyebabkan jantung berdebar kencang terus-menerus, yang akan menyebabkan: kegagalan jantung serta terkumpulnya cairan dalam membran-membran di sekitar jantung dan juga sekitar paru-paru. Mengapa hai ini penting? Karena ketika serdadu Roma datang, dan hampir yakin bahwa Yesus telah mati, mereka menegaskannya dengan menusukkan sebuah tombak ke pinggang kanan-Nya. Tombak itu menembus paru-paru kanan dan ke jantung, jadi ketika tombak itu ditarik keluar, sejumlah cairan dalam membran-membran sekitar jantung dan juga sekitar paru-paru keluar. Ini akan terlihat sebagai cairan jernih, seperti air, diikuti dengan banyak darah, seperti yang dijelaskan saksi mata Yohanes dalam Injilnya (Yohanes 19:34). Bagi warga Kristiani kematian Yesus bukan sekadar fakta sejarah objektif, namun melampaui itu yang dihayati sebagai Allah yang berbelarasa. Penghayatan ini diragakan melalui Jumat Agung. Ketika umat Kristen menghayati ulang kematian Yesus, mereka menghayati suatu kehidupan suci  dan agung Yesus yang telah diserahkan, ditiadakan, dilenyapkan, dipermalukan melalui hukuman mati pada salib untuk pembebasan orang lain. Vicarious suffering, suatu penderitaan yang ditanggung demi orang lain agar tidak mengalami sendiri penderitaan itu. Suatu pengghayatan yang sangat membangun dan membebaskan umat dari perasaan dan situasi batin yang terkalahkan oleh beban-beban penderitaan dari dunia ini. Bukan hanya itu, Jumat Agung juga merupakan kritik kepada orang-orang Kristen yang acap berat sebelah memandang Yesus. Mereka lebih menekankan bahwa Yesus itu Tuhan dan Juruselamat mereka. Sikap ini justru ciri-ciri anti-Kristus.  Mereka melalaikan bahwa Yesus itu manusia. Penulis Surat Kedua Yohanes ayat 7 mengingatkan "Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku bahwa Yesus Kristus  telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan anti-Kristus." Selamat menghikmati tri hari suci Tuhan memberkati . STT BAPTIS INJILI, CEPOGO, BOYOLALI, JATENG, 2020, TITUS ROIDANTO



Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Benarkah Yesus Tuhan Mati? Mengerti Apa yang Aku Imani (Serial Pengetahuan Sabda)", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/titus11250/60674a90d541df28b742e633/benarkah-yesus-tuhan-mati-mengerti-apa-yang-aku-imani-serial-pengetahuan-sabda#

Kreator: Titus Roidanto




Senin, 27 Desember 2021

SUDUT PANDANG TENTANG TANGGAL PASKAH YANG BERUBAH SETIAP TAHUN DAN PERIHAL 3 HARI 3 MALAM

SUDUT PANDANG TENTANG  TANGGAL PASKAH YANG BERUBAH SETIAP TAHUN DAN PERIHAL 3 HARI 3 MALAM

PENGANTAR 
Pernah memperhatikan tidak, kalau tanggal hari Paskah setiap tahunnya berubah? Bulannyapun tak tetap, kadang jatuh pada Maret, terkadang pada April. Kalau gereja purba tak pernah repot dengan tanggal paskah, karena paskah dirayakan setiap hari minggu yaitu hari jadi kebangkitan Tuhan Yesus, bagi mereka setiap minggu adalah paskah. Pengkhususan hari minggu tertentu dalam setahun untuk dirayakan sbg hari paskah baru terjadi di abad 2. Kristen Yahudi berpendapat paskah dirayakan pada paskah Yahudi sebagai pengganti, jadi dirayakan pada hari keempat belas dalam bulan Nissan, yaitu bulan menurut kalender Yahudi, tanpa mempersoalkan hari. Masalah timbul, tanggal manakah yang disepakati sbg hari paskah tahunan? Jemaat dari yang bukan Yahudi berpendapat paskah sebaiknya dirayakan pada hari minggu, tapi yang jadi masalah hari minggu yang mana? Perkara hari wafat atau disalib di Rabu atau Jumat, itu semua memiliki argumentasinya masing-masing sesuai teologi Injil yg diangkat  atau melatar belakanginya. Kalau saya, mengkritisi apologet picisan yang merubah hari wafat atau disalib Yesus dari Jumat ke Rabu, hanya karena perkara 72 jam ukuran waktu modern, itu yang saya sebut argumentasi nya lemah.
PEMAHAMAN 
Pada persidangan di Nicea tahun 325 atau konsili nicea terjadilah kesepakatan bahwa paskah dirayakan pada hari minggu pertama sesudah bulan purnama yang jatuh pada atau sesudah tanggal 21 Maret, yaitu tanggal permulaan musim semi. Apabila bulan purnama itu jatuh pada hari minggu, maka paskah dirayakan pada hari minggu berikutnya. Bagi orang di belahan bumi bagian utara, musim semi adalah musim yang memperlihatkan munculnya kembali kehidupan, pohon-pohon yang selama musim gugur dan musim dingin menjadi gundul kini mulai bertunas, bunga mulai bermekaran, binatang-binatang mulai keluar dari perlindungannya,kehidupan dimulai lagi, dan paskah adalah lambang kehidupan kembali setelah tantangan dan ujian hidup di 2 musim yaitu gugur dan dingin dapat dilewati,seperti fajar menggantikan gelap manusia berdosa mendapatkan hidupnya kembali, manusia berdosa bisa selamat. Sehingga, dalam kondisi dunia yang dihajar oleh wabah atau pagebluk virus covid 19, kita umat beriman di yakinkan dengan makna paskah, bahwa badai pasti berlalu, bahwa sebab Dia bangkit ada hari esok, sebab Dia hidup ada hari esok. Keputusan konsili nicea pada tahun 325 itu dipegang terus oleh semua gereja di seluruh dunia hingga kini. Dengan patokan itu, setiap tahun paskah jatuh antara tanggal 22 Maret dan 25 April. Sudah dapat diperhitungkan bulan purnama yang jatuh setelah 21 Maret untuk setiap tahunnya, contoh 2021 paskah jatuh pada 04 April, 2022 paskah jatuh pada 17 April, 2023 paskah jatuh pada 09 April, dan seterusnya. Kalau tanggal paskah sudah kita ketahui, maka dengan mudah dapat pula kita tetapkan tanggal hari raya gerejawi yang laen di sekitar paskah, seperti rabu abu 40 hari sebelum paskah tanpa menghitung hari-hari minggu, atau 44 hari termasuk hari minggu sebelum hari jumat agung, bisa pula dihitung 6 hari minggu di antara hari selasa sebelum rabu abu dan minggu paskah tidak dihitung dalam 40 hari pra paskah sehingga tanggal hari selasa itu lebih dari 40 sebelum paskah, minggu palmarum hari minggu sebelum hari minggu paskah, diantara minggu palmarum dan minggu paskah ada kamis putih, jumat agung, dan sabtu sunyi, kenaikan Tuhan dihitung 40 hari sesudah paskah, dan pentakosta 50 hari sesudah paskah atau 10 hari setelah kenaikan Tuhan. "Jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan " (Roma 10 : 9). Mengenai 3 hari 3 malam. "hari itu adalah hari persiapan paskah, Kira-Kira jam duabelas ......." (Yoh 19 : 14) ....... senyum Dan akhirnya tertawa.....kok ya..... masih aja setiap Perayaan hari besar agama Kita, ada aja yang usil. Waktu natal Kemaren tgl penetapan Perayaaan 25 December jadi digoyang ganjing, Makanya, kalo ditanya mahasiswa, bapak masuk golongan Kristen garis keras atau Kristen garis lemah, tak jawab ae Kristen garis Lucu .....xi....xi....xi...xi. Sekarang saat Paskah juga sama, muncul banyak di medsos pertanyaan apakah Tuhan Yesus wafat pada hari jumat atau Rabu? Hal sebetulnya sdh sangat basi Karena sdh tutup buku. Perkara, wafatnya Tuhan Yesus itu sdh jelas didasarkan penyelidikan kitab suci tidak pernah disebutkan secara gamblang atau jelas atau terbuka atau tersurat atau tertulis kalau hari jumat, hanya secara tersirat atau secara terselubung atau secara tanda perkiraan saja, dengan dasar pemikiran latar belakang dan budaya saat itu, dimana saat waktu kitab itu dituliskan. Yang menghujat jumat bukan waktunya Tuhan Yesus wafat itu kan Karena membaca kitab suci Hanya yg tersurat (sinerat) saja tidak membaca yg tersirat (sinirat), apa yang ada dibalik Kata-Kata yg tertulis di alkitab, itu ada karya sastra, bahasa, tradisi dan budaya zaman itu, zaman penulisan. Tidak perlu marah atau membalas hujatan dengan ujaran kebencian, itu bukan cara Kita. Cara kita adalah mencerahkan nalar menambah pengetahuan. Orang-orang yang mengatakan kalo Yesus wafat dihari Rabu itu kan mendasarkan pemahaman sempit pada yg tersurat di ayat Matius 12 : 40, "Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga Malam, demikian juga Anak manusia akan tinggal di dalam rahim bumi", ini yang sering disebut tanda Yunus atau nubuat puasa Ester (TA'ANIT ESTER) (Yunus 1:17 dan Ester 4:6), kemudian menghitung waktu dengan Cara sekarang atau modern, yah.....geseh thow, selip thow,....ya tidak tepat thow. 3 hari 3 Malam, kalo dimaknai 3 x 24 jam menjadi 72 jam yah pasti Yesus wafat di hari rebo, krn kalo Yesus wafat jemuwah sore maka tidak sampai 72 jam, bearti tidak seperti yang tersurat pada Matius 12 : 40. Coba perhatikan Lukas 23 : 54, " Hari itu adalah hari persiapan dan Sabat hampir mulai". Lah ...... kali Yesus wafat hari rebo bukan jemuwah tidak mungkin, mana ada adat Yahudi Sabat mingguan (Sabbatho) jatuh pada hari kamis? Coba perhatikan Lukas 24 : 1, "Tetapi pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka". Hari setelah hari Sabat (Sabtu), dalam adat Yahudi disebut hari pertama (minggu), maka cukup jelas Bahwa Yesus wafat hari jemuwah sore dan bangkit hari minggu pagi. Lah .... Terus piye? Dengan perkara tiga hari tiga malam? Harus dimengerti Bahwa semuanya itu didasarkan Peristiwa pada jamannya, padahal orang Yahudi pada saat itu mengenal hari sabat itu tidak cuman satu, Ada bbrp Jenis hari sabat, jadi sulit menentukan hari sabat yg mana? Yg dimaksud saat Yesus bangkit, betulkah sabat biasa atau sabat mingguan yg dipadankan dg hari sabtu? Dan hari pertamanya dipadankan hari minggu? Atau hari sabat yg dianggap hari ketujuh, shg hari minggu dianggap hari kedelapan?, Dan senin dianggap hari pertama, atau sabat agung yang tidak pasti jatuh pada hari apapun tapi pasti jatuh pada 15 Nissan? Nah....pusingkan? Sebetulnya, baik rebo Maupun jemuwah memiliki dasar argumentasinya masing-masing. Tergantung teologi Injil yang diusung, Injil Yohanes mengarahkan pada tema anak domba Allah, maka kematian Yesus dipadankan dg hari persiapan paskah dimana domba disembelih sebagai kurban, kalau menggunakan bahasa asli Alkitab hari sabatnya disebut Syabat hagadol artinya tidak pasti hari Sabtu tapi pasti jatuh pada tanggal 15 Nissan, artinya hari persiapan paskah dimana domba disembelih jatuh pada 14 Nissan saat Yesus wafat, maka hari syisi paraskue itu jatuh pada 16 Nissan, dan hari Minggu untuk hari kuriake hemera jatuh pada 18 Nissan, maka Yesus wafat pada hari Rabu. Sedangkan Injil sinopsis, menggunakan istilah hari sabatnya, dalam bahasa asli Alkitab, Syabat sabbato artinya hari sabat yg jatuh pada hari Sabtu, maka kalau Yesus wafat pada hari sebelumnya itu pada hari Jumat, Yesus wafat pada perayaan paskah, karena teologi Injil Matius dan Injil Markus, dimana Matius menggunakan sumber pada Injil Markus, Injil Matius mengangkat tema Yesus adalah Musa baru, maka kalau muda membebaskan bangsa Israel pada hari paskah, maka Yesus membebaskan manusia dari dosa juga di hari paskah, kalau Injil Markus mengangkat Yesus adalah hamba yang setia, maka ketaatan Yesus melakukan hal seperti Bapa/Allah, membebaskan bangsa Israel/manusia di hari Paskah, Injil Lukas yg audiens banyak dari non Yahudi ingin mengangkat bahwa Yesus itu mesias, juru selamat manusia, kalau paskah yg simbol keselamatan bangsa Israel, sekarang paskah simbol keselamatan seluruh manusia, baik Yahudi maupun non yahudi. Untunglah Ada kesepakatan dalam konsili nicea tahun 325 tentang penentuan semua itu (tulisan nomor 44), fakta yg sulit dibantah adalah penetapan Yesus wafat itu berdasarkan tradisi gereja (2 Tesalonika 2 : 15, 2 Tesalonika 3 : 6). Dan sebagian besar gereja mengikuti yg Yesus wafat di hari jumat, jadi itu didasarkan pd kesepakatan Bersama dan tradisi gereja saat itu (1 Korintus 11 : 2). Jadi sebetulnya penghitungan tiga hari tiga malam. Dalam waktu adat Yahudi seperti ini, Yesus disalibkan pada 'EREV PESAKH (Matius 27:45-50), ini khas Injil sinopsis, untuk hari persiapan paskah PARASKEU TOU PASKHA, sehari sebelum PESAKH atau paskah Yahudi. Hari Persiapan (Paraskeuē), Hari persiapan (bahasa Yunani: paraskeuē) merujuk pada hari Jumat, saat orang Yahudi menyiapkan segala sesuatu untuk Sabat mingguan yang dimulai pukul 18.00 (matahari terbenam). Markus 15:42 menjelaskan: "Sementara itu hari mulai malam, dan hari itu adalah hari persiapan, yaitu hari menjelang Sabat," menekankan waktu mendesak setelah Yesus mati sekitar jam 15.00 (waktu persembahan sore). Jatuh sekitar 14 Nisan, Dalam Yoh 19:31, ini khas Injil Yohanes,Yohanes 19:31 menyebut "Sabat adalah hari besar," kemungkinan Sabat khusus Paskah (bukan hanya Sabat mingguan) disebutkan SYABAT HAGADOL atau PESAKH atau sabat agung yg dalam budaya Israel kuno ini tidak jatuh pada hari sabtu, SYABAT HAGADOL jatuh pada 15 Nisan, kemudian hari berikutnya SYISYI PARASKEUE jatuh pada tgl 16 Nisan, cermati bahasa asli Dalam matius 28:1, Markus  15: 42-46, Markus 16:1-2, Lukas 23:50-54,Lukas 23:56,Lukas 24:1, disebut SYABAT SABBATO bukan SYABAT HAGADOL seperti pada injil Yohanes, artinya itu sabat mingguan yg jatuh pada hari sabtu bila dipadankan dg calendar kini, jatuh pada 17 nisan. Kemudian hari Tuhan Yesus bangkit jatuh pada KURIAKE HEMERA tgl 18 Nisan, yang disebut hari milik Tuhan atau hari minggu yg setiap kali Kita pakai ibadah. Jadi, tiga hari tiga malamnya dihitung dr hari pertama 14 Nisan sore sampe 15 Nisan sore (penanggalan Yahudi sat itu, pergantian hari dihitung pada jam 6 sore dg padanan waktu saat ini), hari kedua 15 Nisan sore sampe 16 sore, hari ketiga 16 Nisan sore sampe 17 Nisan sore, 18 Nisan pagi Tuhan Yesus bangkit. Shg, sebetulnya baik yg berpendapat rebo atau jemuwah tidak Ada yg tepat bila penghitungan adat Yahudi itu bila dipadankan dg calendar sekarang apalagi bila dihubungkan Dengan masa pelayan Tuhan Yesus di bumi kurang lebih 3 tahun Dan masa hidup Yohanes Pembaptis serta kronologi sejarah Dunia. Sehingga memang dalam alkitab selalu Ada bagian misteri yang blom dapat dipecahkan, dan di situlah Para penafsir kitab dg rendah hati tunduk Kepala "kehendak Tuhanlah yg jadi". Selain dari pada penjelasan tsb di atas, saat diadakan konsili Nicea di tahun 325 itu, kemudian konsili-konsili lanjutan, total ada sebelas konsili, sebelumnya telah terjadi perdebatan sengit di kalangan gereja atau tepatnya Bapa-Bapa gereja mengenai beberapa perbedaan pengajaran keimanan termasuk salah satunya hal penetapan Paskah dimana didalamnya ada perkara jumat agung, yang membuwat Kaisar Konstantin risau maka diadakan persidangan di Nicea tsb, juga di bbrp kota lain kemudian, agar ada kesepakatan dan negara serta gereja tak terpecahkan karena perbedaan pendapat, dalam konsili - konsili tsb selain argumentasi tsb di atas ada argumentasi lain yang diangkat seperti berikut ini, Matius 12 : 40 , . Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Dalam bahasa aslinya kata kata yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia "Tiga hari tiga malam" berasal dari kata "Treis hemeras kai treis nyktas" Kita sering terkecoh dengan penerjemahan kata "hemeras" menjadi "hari" dalam bahasa Indonesia, atau "day" dalam bahasa inggris. seolah-olah maknanya menjadi "24 Jam" karena satu hari adalah 24 Jam. Makna asli kata "Hemeras" dalam bahasa Yunani adalah "Hari" yaitu Periode waktu ketika matahari terbit hingga matahari terbenam, atau ketika terang menyinari bumi. Dalam kitab Kejadian juga kita bisa melihat pendefinisian kitab suci apa yang dimaksud dengan kata "hari" dan apa yang dimaksud dengan kata "malam" Kejadian 1 : 5  Dan Allah menyebut Terang itu Hari (Yowm), welachoshekh qara laylah Dan gelap itu Malam (Laylah). Atau yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan : God called the light "day," and the darkness he called "night." Allah menyebut Terang itu hari, dan Gelap itu Malam. Jadi jika merujuk pada Matius 12:40 sebelumnya, maka yang disebut "tiga hari tiga malam" di ayat itu adalah "tiga kali terang dan tiga kali gelap". Apakah benar ketika jedah waktu antara Yesus wafat hingga Yesus bangkit mengalami tiga kali terang dan tiga kali gelap? Yesus wafat yaitu pada Jumat Sore, dan saat itu ada peristiwa-peristiwa alam yang tidak lazim. Markus 15 33-34, 33. Pada jam dua belas, kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga. 34. Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Terang dan Gelap Pertama : Pada saat Yesus wafat kegelapan menyelimuti bumi, inilah Gelap atau Malam yang pertama kali, Kemudian terang lagi, karena hari masih sore saat Yesus wafat, inilah terang atau hari yang pertama, Terang dan Gelap Kedua : Jumat Malam, menjadi Kegelapan atau malam yang kedua Sabtu Pagi, menjadi Terang atau Hari yang kedua. Terang dan Gelap Ketiga : Sabtu Malam, menjadi Kegelapan atau malam yang ketiga Minggu Pagi, menjadi Terang atau hari yang ketiga. Inilah tiga kali terang, dan tiga kali gelap seturut nubuatan Yesus "Tiga hari tiga malam", sebab memang Yesus bukan menyebut waktu 24 Jam dalam hal ini, tetapi jumlah "hari" (Kej 1:5) dan jumlah malam, jumlah gelap dan jumlah terang, tiga kali terang dan tiga kali gelap. Justru kalau memaknai "Tiga hari tiga malam" itu sama dengan 3 x 24 Jam maka orang yang mengajarkan demikian tidak memiliki pengetahuan akan pemaknaan bahasa asli kitab suci serta unsur teologis yang diusung Injil berbeda-beda. Kemudian  Tiga hari tiga malam itu dihitung dalam penghitungan adat Yahudi waktu itu bukan penghitungan masehi seperti sekarang, shg pasti akan geseh bila diusahakan sama, kemudian hari terus muncul perdebatan apakah hari rebo atau jemuwah sebetulnya tidak perlu diperdebatkan, karena essensinya atau pokok pemikiran dasar atau intinya adalah Yesus sudah benar-benar wafat dan sudah bangkit. Silakan mempercayai hari apapun Yesus wafat, karena point ada di Yesus benar-benar wafat dan sudah bangkit. 2 Tesalonika 2:15 (TB)  Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran/tradisi yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.  Selamat mencerahkan nalar dalam sejarah tradisi suci, Selamat   Paskah sebab Dia bangkit ada hari esok.Tuhan memberkati, STT BAPTIS INJILI (REFORMIR BAPTIS), CEPOGO, BOYOLALI, JATENG, 2020, TITUS ROIDANTO



Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Tentang Tanggal Paskah yang Selalu Berubah dan Perihal 3 Hari 3 Malam, Mengerti Apa yang Aku Imani", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/titus11250/60674d24d541df32df098473/tentang-tanggal-paskah-yang-selalu-berubah-dan-perihal-3-hari-3-malam-mengerti-apa-yang-aku-imani-serial-pengetahuan-sabda

Kreator: Titus Roidanto




POHON KEHIDUPAN, SERIAL SUDUT PANDANG

POHON KEHIDUPAN, SERIAL SUDUT PANDANG

Selama ini setiap hari raya Natal selalu dipajang "Pohon Terang" yang dibuat dari potongan atau tiruan pohon cemara yang kemudian dihiasi dengan lampur kerlap-kerlip dan hiasan-hiasan lain. Semua itu merupakan tradisi yang diwarisi dari ke-Kristen-an yang berasal dari Barat. Pohon cemara itu mempunyai makna/arti penting di Barat sebab hanya pohon cemara yang tetap hidup di musim dingin atau salju. Akan tetapi, pohon cemara tidak terlalu mempunyai makna/arti bagi orang-orang yang hidup di daerah tropis, seperti Indonesia, yang tidak mengenal musim salju atau dingin.
Di gereja desa, dengan semangat menjadi gereja yang merdeka, memuali untuk mengganti "Pohon Terang" dengan "Pohon Kehidupan."  Sang Juru Selamat, Yesus Kristus, adalah Pohon Kehidupan. Oleh sebab itu, untuk merayakan kelahiran Sang Juru selamat, dipajanglah "Pohon Kehidupan."  Pohon yang menyimbolkan atau melambangkan sumber kehidupan. 
Di jemaat Cingkrong, memilih simbolnya adalah pohon pisang. Pohon pisang itu seluruh bagiannya bermanfaat.  Umbi, batang, daun, dan buahnya semua bermanfaat, semua memberi hidup.   
di Jemaat Piyak, yang dipilih adalah pohon kelapa. Pohon kelapa seluruh bagiannya juga bermanfaat. Akar, batang, daun, juga  buahnya memberi manfaat. Terlebih buahnya merupakan sumber  hidup. Air kelapa di samping menjadi minuman yang sangat menyegarkan, juga obat manjur untuk mengatasi keracunan. 
Injil sampai ke Jawa memang dibawa oleh penginjil Barat, tapi gereja yang merdeka, adalah gereja yang bersedia bahkan berani bergumul sendiri tentang dirinya. Sehingga bukan menjadi gereja di Jawa atau Indonesia, tapi gereja (dari) Jawa atau Indonesia.STT BAPTIS INJILI, CEPOGO BOYOLALI,2017,TITUS ROIDANTO

BENARKAH YESUS TUHAN BANGKIT? SERIAL SUDUT PANDANG

BENARKAH YESUS TUHAN BANGKIT? SERIAL SUDUT PANDANG


Kebanyakan orang ya percaya kalau sudah melihat buktinya, itu pula mekanisme sistim peradilan kita , kalau ada bukti baru bisa dibandingkan dengan bukti yang lain, tinggal bukti mana yang lebih kuwat itulah yang dipercaya.  Ada bukti yuridis formal ada pula bukti atau fakta historis. Tapi kalau dipikir lagi, seharusnya kalau orang sudah melihat buktinya tidaklah perlu lagi untuk percaya, hal ini bila kita kaitkan dengan persoalan memahami kebangkita Yesus Tuhan atau peristiwa paskah. Kisah Rasul 1 ayat 3 tertulis, "Kepada mereka Ia menunjukan diriNya setelah penderitaanNya selesai dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakan diri dan berbicara kepada mereka tentang kerajaan Allah".  Penampakan diri Yesus Tuhan merupakan bukti kalau Yesus Tuhan bangkit. Tapi bila dikaitkan dengan sistim peradilan maka secara yuridis formal itu belum dapat dinilai sebagi bukti. Pengarang keempat injil dan rasul Paulus memang tidak merasa terpanggil untuk menyajikan bukti dalam arti seperti yang diminta oleh sidang pengadilan, yang ditunjukan oleh keempat injil dan rasul paulus adalah tanda-tanda dan pengaruh yang ditimbulkan dari kebangkitan. Tanda-tanda kalau kubur kosong, penampakan diri Yesus Tuhan di depan para pengikutNya, pengaruh itu adalah perubahan yang ada pada diri murid-murid yang berubah secara radikal, dari putus asa menjadi bersemangat bahkan timbul keberanian untuk memberitakan bahwa Yesus Tuhan telah bangkit. Bukti yuridis formal maupun bukti historis tidaklah diperlukan atau tidak relevan untuk iman. Karena iman adalah percaya walaupun tidak melihat.  Peristiwa Paskah tidak menyediakan bukti, sebab apa? Sebab kebangkitan Yesus Tuhan adalah pokok yang paling pusat dan dasar yang paling fundamental bagi kepercayaan Kristiani. Dan percaya tidak tergantung pada suatu bukti, baik bukti yuridis formal ataupun bukti historis, kalau memang harus ada bukti, maka itu bukan percaya lagi, lihat kasus Thomas, Yesus Tuhan mengatakan berbahagialah orang yang tak melihat tapi percaya. Dasar kepercayaan kita akan kebangkitan Kristus bukanlah karena bukti, melainkan karena ktia percaya bahwa Allah bertindak, membangkitkan Kristus dan melantik Dia menjadi Tuhan dan juru selamat. Bukti memang tak ada tapi berbahagialah yang percaya. Sering kali dari kalangan non kristiani menanyakan keabsahan kalau Yesus Tuhan itu bangkit. Tapi sangat unik bahwa injil mencatat sejarah bahwa yang paling percaya dan ingat akan nubuatan dari Yesus Tuhan bahwa diriNya akan bangkit pada hari yang ketiga adalah musuh-musuhNya, imam-imam kepala dan orang-orang Farisi,  seperti yang tertulis dalam  Matius 27 ayat 62 sampai 66, "dan mereka berkata "Tuan kami ingat, bahwa si penyesat itu sewaktu hidupNya berkata : Sesudah tiga hari Aku akan bangkit [Mat 16:21, Mat 17:23, Mat 20 : 19, Mark 8:31, Mark 9:31, Mark 10:33-34, Luk 9:22, Luk 18:31-33], karena itu perintahkanlah untuk menjaga kubur itu sampai hari yang ketiga, jikalau tidak, murid-muridNya mungkin datang untuk mencuri Dia, lalu mengatakan kepada rakyat : Ia telah bangkit dari antara orang mati, sehingga penyesatan yang terakhir akan lebih buruk akibatnya daripada yang pertama" ( 63,64). Sama halnya dengan kematian, umat kristiani percaya akan kebangkitan Yesus Tuhan karena itu merupakan nubuatan yang tergenapi. Mari kita lihat cataan injil dan surat-surat yang bersaksi atas kebangkitan Yesus Tuhan, Hari Minggu kubur Yesus kosong, Yesus telah bangkit (Matius 28; Markus 16;Lukas 24;Yohanes 20,21) , penampakan Kepada Maria Magdalena (Markus 16:9; Yohanes 20:11-14), penampakan Kepada perempuan sekembalinya dari kubur (Matius 28:9,10) , penampakan Kepada Petrus (Lukas 24:34; 1 Korintus 15:5) , penampakan Kepada murid-murid di Emaus (Lukas 24:13-32), penampakan Kepada rasul-rasul kecuali Tomas (Lukas 24:36-43;Yohanes 20:19-24) , penampakan Kepada rasul-rasul, Tomas hadir (Yohanes 20:26-29) , penampakan Kepada 7 orang di danau Tiberias (Yohanes 21:1-23) , penampakan Kepada lebih dari 500 orang percaya di bukit Galilea (1 Korintus 15:6) , penampakan Kepada Yakobus (1 Korintus 15:7) , penampakan Kepada murid-murid (Matius 28:16-20;Lukas 24:33-52;Kisah Para Rasul 1:3-12) , penampakan Saat kenaikan Yesus ke surga (Kisah Para rasul 1:3-12) , penampakan Kepada Stefanus (Kisah Para Rasul 7:55) , penampakan Kepada Paulus (Kisah Para Rasul 9:3-6; 1 Korintus 15) , penampakan Kepada Paulus saat di Bait Allah (Kisah Para Rasul 22:17-21;23:11) , penampakan Kepada Yohanes di pulau Patmos (Wahyu 1:9-20). Belum lagi bahwa Kebangkitan Yesus secara tubuh fisik dibuktikan bahwa setelah kebangkitannya : Yesus dilihat lebih dari 500 orang (1 Korintus 15:6), Yesus menyatakan mempunyai daging dan tulang (Lukas 24:39) , Yesus makan ikan (Lukas 24:42,43), Bagi yang meragukan kebangkitan-Nya secara fisik, Yesus menantang 'Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.' (Yohanes 20:27). Yesus menyatakan diri-Nya Tuhan. Yesus bangkit dari kematian, ini menggenapi apa yang Dia dan Perjanjian Lama katakan. Yesus benar-benar Tuhan. Kebangkitan Yesus Tuhan yang dikhotbahkan oleh rasul Petrus dalam kisah  para rasul 2 :24 merujuk pada nubuatan di Mazmur 16, bisa kita perhatikan Mazmur 16 : 10, demikian hal nya rasul Paulus merujuk pada Mazmur yang sama tercatat dalam kisah para rasul 13:33-35. Nubuatan dalam Mazmur 22 terlebih dalam ayat 21 dan 22 juga mengisyaratkan kebangkitan Yesus Tuhan. Yesaya 53 terlebih dalam ayat 5,8, 10, dan 11 mengisyaratkan kebangkitan Yesus Tuhan. Alkitab adalah wahana pengajaran iman, dimana kita belajar buanyak di sana, maka Yesus Tuhan pun berkata pada para pemuka Yahudi yang tercatat dalam Yohanes 5 ; 39. Kita juga bisa memperhatikan nubuatan dalam Mazmur 16 : 10 -- 11 dengan penggenapannya dalam Markus 16:6. Rentang waktu nubuatan pada perjanjian lama dan penggenapan pada perjanjian baru makan waktu bertahun-tahun, bahkan melewati zaman yang berbeda,  shg hal itu tak mungkin direkayasa. Kalau melihat makna dari Yoh 20 :11 - 18, pertemuan  tsb bahwa manusia paska, manusia yg pertama bertemu Yesus Tuhan sesudah bangkit bergender perempuan,  yah.... manusia itu, perempuan paska. Keempat Injil kanonik tertuliskan orang pertama yang mendapat kabar kebangkitan Yesus adalah perempuan. Bahkan dalam Injil Yohanes Maria Magdalena menyapa Yesus-Paska dengan Rabuni, yang berarti Guru (Yoh. 20:16). Dari gambaran keempat Injil tidaklah berlebihan apabila Maria Magdalena adalah rasulnya para rasul atau rasul di atas segala rasul (the apostle to the apostles). Dalam perjalanannya Maria Magdalena tersingkir oleh dominasi dan arogansi laki-laki. Berita Paska di dalam keempat Injil bukan saja menyampaikan kebangkitan Yesus, tetapi juga menegaskan peran perempuan begitu nyata. Pada Jumat Agung perempuan-perempuan dengan setia bersama dengan Yesus, pada Paska perempuan yang pertama kali mendapat berita kebangkitan Yesus dan mengabarkannya. Ada juga gereja yang mendaku dirinya paling reformed, paling alkitabiah, melarang perempuan menjadi pendeta. Ideologi alkitabiahnya justru mengingkari Alkitab yang memberitakan perempuan yang pertama menerima kabar kebangkitan Kristus dan mengabarkannya. Bagaimanapun juga Yesus Tuhan bangkit untuk menyatakan,  keberdosaan adalah masa lalu,  sekarang hidup baru karena sudah terbuka jalan selamat,  habis gelap terbitlah terang. Kalau,  dlm tradisi saat itu lelaki yg harus diutamakan,  kebangkitan Yesus Tuhan membuka kesempatan, membuka jalan untuk perempuan sejajar lelaki,  tak ada lagi pembatasan oleh karena gender, yg oleh penyair disadari betul,  dibalik layar peran Yesus Tuhan dalam kemanusiaan nya, tetap ada seorang ibu, seorang perempuan,   Meskipun demikian kehadiran Yesus-Paska di tengah-tengah para murid seperti pedang bermata-dua. Tulisan-tulisan dalam PB yang memuat perjumpaan orang-orang dengan Yesus- pula Paska menjadi propaganda politik dan kuasa. Perjumpaan dengan Yesus-Paska menambah wibawa dan kuasa para murid. Para murid bertarung siapa yang paling berpengaruh. Paulus bukanlah murid langsung Yesus. Ia mendaku berjumpa dengan Yesus-Paska. Ia bertarung dengan Simon Petrus berebut kewibawaan spiritual. Kenapa  menggunakan kata Paska, bukan Paskah? Ahli liturgi dan Indonesianis Harry A. van Dop dalam makalahnya berjudul Theologia Paschalis (1996) menjelaskan asal-usul kata Paska (Inggris: Easter atau Passover). Paska dari bahasa Grika (baca: paskha), yang bahasa Latinnya Pascha (baca: paskha). Demikian juga dalam bahasa Spanyol dan Portugal yang melatarbelakangi bunyi kata Indonesianya. Buku tebal Iman Katolik yang ditulis oleh KWI dan diterbitkan oleh Kanisius sekitar tiga dasawarsa lalu juga sudah menggunakan kata Paska. Paska berbeda dari kata Indonesia lainnya pasca yang bersinonim dengan sesudah (serapan dari Sanskrit, Inggris post) yang diucapkan dengan huruf /c/ seperti kata cocok, cicak, cacing. Dalam pada itu KBBI tetap merekam lema "Paskah". KBBI yang digadang-gadang menjadi kitab suci para polisi bahasa bahkan secara enas membuat takrif menyesatkan untuk lema "Paskah".  Sebetulnya pula, gak perlu ribut akankah disebutkan itu paskah atau paska atau easter atau passover, gak perlu bertikai untuk hal-hal seperti itu. Esensi lebih penting ketimbang kulitnya, kebangkitan Yesus bukan untuk buwat kamus istilah kan? Siapa senang mengucapkan apa , yah.... Ucapkan saja gak perlu bertengkar. Ada lagi yang mengharamkan kata easter kata punya kata disinyalir dari kata ISHTAR yang merujuk pemujaan kebangkitan dewa TAMUS, anak penyembah setan. Padahal tak sederhana itu, karena bisa pula disinyalir juga berasal dari kata EASTUR atau OSTARA, yang mengandung makna MUSIM BERKEMBANGNYA MATAHARI atau MASA KELAHIRAN BARU, yang merujuk pada munculnya musim semi. Juga rujukan yang mengarah ke kata EASTRE nama dewi bukan dewa yang berhubungan dengan musim semi. Ada pula yang merujukan pada kata jerman kuno OSTERN dan OSTARUN, yang disinyalir merujuk musim baru atau babak baru, nah.....  bingung karena banyak makna dari kata EASTER, dari makna terakhir sudah kelihatan kan benang merahnya dengan makna kebangkitan Kristus. Sebetulnya gak perlu repot, namanya perjalanan sejarah agama, agama apapun itu, sudah pasti akan tercampur dengan budaya atau tradisi daerah yang dilewatinya, itu sudah hal lumrah. Lumrah sebuah budaya atau tradisi itu dimaknai baru oleh ajaran keimanan suatu agama, sah-sah saja. Jadi, kronologi itu semua sah-sah aja, jadi gak perlu diributin tentang ucapan selamatnya yang penting maknanya, kalau gak mau bilang happty easter yah .... Pakai bahasa jawa  SUGENG PASKAH atau bahasa batak atau bahasa yang lain, yah....pakai bahasa indonesia aja SELAMAT PASKAH, kenapa ribut? Lebih penting niat baiknya mengucapkan dibantingkan ribut soal-soal seperti itu. Lihat aja kamus moderen tentang Easter, "THE MOST IMPORTANT AND OLDEST FESTIVAL OF THE CHRISTIAN CHURCH, CELBRATING THE RESURRECTION OF JESUS CHRIST.  Kembali ke kematian Yesus merupakan faktual-historis. Bagaimana dengan kebangkitan Yesus? Apakah ini merupakan faktual-historis? Di sinilah peliknya.Belum ditemukan sumber-sumber sejarah otentik mengenai kebangkitan Yesus di luar kekristenan. Satu-satunya sumber mengenai kebangkitan adalah dokumen Perjanjian Baru (PB), yang keempat Injil masuk ke dalamnya. Walau PB bukan dokumen sejarah, namun teks-teks itu dapat dikaji (satu di antaranya) melalui kritik naratif. Tentu saja teks dibaca dikaitkan dengan kehidupan sosio-politik yang mengitari teks itu. Dunia sastra saat itu memahami gagasan bahwa orang baik dan bijaksana yang sudah membawa perubahan besar banyak orang akan dibinasakan oleh musuh-musuhnya. Namun Allah tidak akan tinggal diam. Allah akan membangkitan orang yang tidak berdosa itu. Dengan latar belakang itu dapatlah dipahami berita tentang kebangkitan Yesus dalam keempat Injil itu dimaksudkan untuk menyatakan bahwa Yesus adalah korban yang dibenarkan oleh Allah, dibela oleh Allah, dan Allah membangkitkan Yesus dari antara orang mati. Allah telah menggagalkan kekejian para pembenci Yesus. Berita pokok itulah yang hendak  disampaikan atau dideklarasikan oleh para penulis PB. Siapa aktor utama? Allah Sang Aktor. Allah mengalahkan maut dan membenarkan Yesus yang tidak bersalah itu. Kebangkitan yang dimaksud oleh penulis PB bukanlah menghidupkan jenazah yang sudah mati (resuscitation). Kebangkitan yang resuscitation merupakan menghidupkan (sementara) orang mati seperti yang biasa dilakukan oleh kedokteran dengan alat-kejut jantung. Dalam Injil bisa dibaca mengenai kisah Yesus membangkitkan Lazarus dari kubur. Persoalan timbul ketika terjadi ketidakpanggahan (inconsistency) penulisan mengenai perjumpaan murid-murid atau pengikut dengan Yesus yang dibangkitkan (selanjutnya saya sebut Yesus-Paska). Maksud nya kisah di kitab yang satu berbeda dari kitab lainnya sehingga ada ketidakpanggahan dan tidak kronologis. Berbeda halnya dengan berita kematian Yesus yang kesemuanya sama yaitu Yesus mati di kayu salib yang memang saat itu merupakan berita umum di luar teks Alkitab. Para pakar sejarah PB berpendapat terjadinya ketidakpanggahan itu membuktikan tidak adanya konspirasi, tidak ada rekaan, tidak ada kebohongan. PB mengisahkan pengalaman individu-individu yang historis. Suatu pengalaman yang dialami oleh individu-invidu yang merupakan pengalaman sejarah berjumpa dengan Yesus-Paska. Pada masa itu pengalaman bertemu dengan orang-orang yang sudah mati merupakan hal lazim. Dikisahkan dalam PB Yesus-Paska berjalan ke Emaus menemani dua orang pengikut Yesus. Setibanya di rumah mereka mengajak "orang asing itu" mampir. Ketika akan santap malam mereka baru menyadari bahwa itu Yesus dan kemudian menghilang. Dikisahkan juga para murid berkumpul di ruangan tertutup karena ketakutan diburu oleh para pemuka agama Yahudi yang berkonspirasi dengan tentara Roma. Tiba-tiba Yesus nongol  hadir di tengah-tengah mereka dan menunjukkan bekas luka paku di tangan Yesus. Kisah itu mau menyampaikan bahwa Yesus-Paska, bukan seperti jenazah yang dihidupkan (resuscitated). Jika Yesus dihidupkan seperti itu, maka sulit untuk menerima Yesus masuk ke dalam ruangan tertutup tanpa melewati pintu atau tiba-tiba menghilang dari pandangan pengikut-pengikut Yesus. Akan tetapi dikisahkan juga Yesus-Paska bersantap bersama dengan murid-murid di tepian Danau Tiberias. Sudah barang tentu ikan bakar yang lezat adalah menu utamanya. Kepelikan kisah-kisah di atas merupakan paradoks. Sisi satu Yesus-Paska bisa muncul dan menghilang seketika, sisi lainnya Yesus-Paska menunjukkan tanda fisikal berupa bekas luka tusukan paku salib dan makan-minum bersama dengan para murid. Penulis PB dengan segala keterbatasannya mau menyampaikan secara paradoks bahwa tubuh kebangkitan Yesus adalah rohaniah sekaligus tubuh alamiah. Tentang tubuh kebangkitan Rasul Paulus memetaforkan tubuh yang mati seperti biji-biji benih yang dipendam atau dikubur di dalam tanah. Beberapa hari kemudian biji yang dikubur itu tumbuh. Itulah tubuh kebangkitan yang berbeda dari tubuh yang dikubur. Teks-teks PB yang memberitakan Yesus yang makan dan minum serta menghilang lagi itu merupakan metafor-metafor yang mau menyampaikan, dan mengundang para pembaca serta pendengarnya untuk mengalami berita bahwa Yesus itu, sekalipun sudah mati disalibkan, dibangkitkan, dan terus hadir seutuhnya di antara para murid, yakni mereka yang memercayai Yesus. Yesus itu tetap peduli dan berbelarasa pada mereka.Demikian juga halnya metafor kebangkitan Yesus bukan berarti tidak ada kebangkitan. Kebangkitan Yesus merupakan peristiwa sejarah yang dilakukan Allah pada diri Yesus, bukan pada diri jemaat di dalam narasi PB. Setelah itu, apakah orang memercayainya atau tidak memercayainya, hal ini merupakan suatu reaksi atau tanggapan iman terhadap peristiwa bersejarah itu. Tidak ada hari raya Kristen yang lebih besar daripada Paska. Jantung iman Kristen terletak pada Paska. Hari Raya Paska menjadi titik berangkat penetapan hari-hari raya lainnya. Tidak ada Paska berarti tidak ada kekristenan dan tidak ada kitab-kitab Injil. Itulah sebabnya keempat kitab Injil dalam kitab suci Kristen, Alkitab, kesemuanya memberitakan Paska yaitu kebangkitan (resurrection) Kristus. Kitab-kitab Injil ditulis karena ada peristiwa Paska yang kemudian ditulis secara retrospektif. Bandingkan dengan perayaan Natal. Dari keempat Injil hanya dua Injil yang memberitakan kelahiran Yesus alias Natal. Ini makin menegaskan bahwa jantung iman Kristen adalah Paska, bukan Natal. Orang Kristen pergi ke kebaktian atau misa Minggu karena pada dasarnya merayakan Paska, kebangkitan Kristus, yang menurut kesaksian Alkitab pada hari pertama (dalam pekan yang baru). Gereja kemudian menetapkan ada satu Minggu dalam setahun secara khusus dijadikan permulaan Masa Raya Paska atau yang dikenal dengan Hari Raya Paska. Minggu yang mana? Gereja menetapkan Paska pada Minggu pertama sesudah bulan purnama yang jatuh pada atau sesudah 21 Maret. Apabila bulan purnama jatuh pada 21 Maret, maka Paska ditetapkan pada Minggu berikutnya. Tradisi Gereja Barat mengikuti kalender Gregorian. Contoh, Paska tahun ini ditetapkan pada 4 April, karena bulan purnama terjadi pada 28 Maret 2021. Paska 2022 jatuh pada 17 April, Paska 2023 pada 9 April, Paska 2024 pada 31 Maret, dst. Tradisi Gereja Timur mengikuti  kalender Julian. Paska tahun ini jatuh pada 2 Mei, Paska 2022 pada 24 April, Paska 2023 pada 16 April, Paska  2024 pada 5 Mei, dst. Paska merupakan wacana untuk mengundang pembaca atau pendengar mengalami realitas kehadiran seutuhnya (spiritual sekaligus fisikal) Yesus-Paska di dalam dunia ini tanpa batas ruang dan waktu: di dalam rumah ketika kita menyembah Dia lewat ibadah virtual, di ruang isolasi Covid19, di pasar becek, di dalam Ekaristi, di dalam makanan: nasi, batagor, pempek, tempe, tahu, pete, pecel, gudheg, wedhang rond, dan lain sebagainya yang kita peroleh setiap hari sehingga kita berterimakasih, dan juga di dalam perjuangan orang-orang terdampak Covid19 mencari nafkah yang berseru kepada Yesus. Berbicara soal penampakan, mengapa Tuhan Yesus tidak menampakanan diri pada musuh-musuhNya juga. Bukankah penampakan pada musuh-musuhNya bisa menjadi bukti yuridis formal jika itu terjadi di sidang majelis sanhedrin. Yesus Tuhan tidak menampakan diri di depan sanhedrin, sebab jika itu terjadi, penampakan itu hanya menjadi bukti yang statis, padahal yang lebih diperlukan adalah tanda yang dinamis. Majelis sanhedrin tokh akan tetap menolak Yesus Tuhan sebagai Mesias, walaupun mereka melihat Yesus Tuhan hidup. Selamat Paska, Tuhan memberkati, STT BAPTIS INJILI, CEPOGO, BOYOLALI, JATENG, 2021, TITUS ROIDANTO.



Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Benarkah Yesus Tuhan Bangkit? Mengerti Apa yang Aku Imani (Serial Pengetahuan Sabda)", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/titus11250/6072a2f08ede48700e52c979/benarkah-yesus-tuhan-bangkit-mengerti-apa-yang-aku-imani-serial-pengetahuan-sabda?page=all

Kreator: Titus Roidanto


SUDUT PANDANG MIGDAL ELDER PERKARA 25 DESEMBER, SERIAL ARKEOLOGI BIBLIKAL


SUDUT PANDANG MIGDAL ELDER PERKARA 25 DESEMBER, SERIAL ARKEOLOGI BIBLIKAL

1. MUNGKINLAH DOMBA-DOMBA DIGEMBALAKAN DI PADANG BULAN DESEMBER?
Catatan Injil ini sering dipertanyakan dalam kaitan dengan perayaan Natal: “Di daerah-daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam” (Luk. 2:8). Kalau kalender liturgis gereja diterima, Yesus lahir pada 25 Desember (kalender Gregorian yang dipakai gereja Katolik dan Protestan) atau pada 7 Januari (kalender Yulian yang digunakan gereja-gereja Timur), mungkinkah ada kawanan domba yang digembalakan di padang pada waktu malam di musim dingin? Padahal seperti yang diteguhkan oleh catatan-catan sejarah gereja kuno maupun literatur rabbinik Yahudi, yang dimaksud “padang gembala” ternyata bukan padang gembala biasa. Menurut sejarawan Eusebius dari Kaisaria (265-340), tempat itu berkaitan dengan מִגְדַּל־עֵ֗דֶר "Migdal Eder” (Menara Kawanan Domba), yang terletak seribu kaki dari Betlehem. Inilah tempat para gembala menerima berita kelahiran Yesus. Migdal Eder (Menara Kawanan Domba) dalam Taurat dan kitab Nabi-nabi (Kej. 35:21; Mikha 4:8), yang dalam tafsir para rabbi Yahudi juga dikaitkan dengan pengharapan akan datangnya Sang Raja Mesiah. Dalam Kej. 35:16-22 dikisahkan tentang kematian Rahel pada waktu melahirkan Benyamin, yang kemudian dikuburkan di jalan ke Efrata, yaitu di Betlehem. Kuburan Rahel ini ada di Betlehem hingga sekarang, sebuah bangunan dengan kubah putih dengan menorah di atasnya dan tertulis dalam bahasa Ibrani קבר רחל "Qever Raḥel" (kubur Rahel). Targum Yonathan menerjemahkan frasa וְאַתָּ֣ה מִגְדַּל־עֵ֗דֶר “We attah Migdal ‘Eder” (Hai engkau Menara Kawanan Domba) dalam Mikh. 4:8 sebagai personifikasi Mesias: ואַת מְשִׁיחָא דְיִשׁרָאֵל "W’at Meshîhâ d'Yisra’el". "Hai Mesias Israel" (Sperber, 1992:445). Sedangkan Targum Pseudo-Yonathan menyebut Miqdal Eder, tempat Yakub memasang kemahnya, sebagai tempat Raja Mesiah akan menyatakan diri-Nya pada hari-hari akhir (M. Tsuq'er, Vol. I, 2014: 864). Jadi, berdasarkan catatan Yahudi yang tertulis dalam Mishnah, Shekalim 7:4, maka domba-domba dalam Lukas 2:8 bukan binatang gembalaan biasa, tetapi בְּהֵמָה שֶׁנִּמְצְאוּ מִירוּשָׁלַיִם וְעַד מִגְדַּל עֵדֶר "behemah shenimetseu mirusalaim we 'ad Migdal Eder” (binatang-binatang yang ditemukan di sebuah tempat dari Yerusalem sampai Migdal Eder). Domba-domba ini dipersiapkan sebagai kurban untuk Bait Suci, yang dijaga oleh gembala-gembala yang khusus menurut peraturan para rabbi, seperti tercatat dalam Talmud. Karena itu, tempat khusus antara Yerusalem dan Migdal Eder itu, letaknya di jalan tertutup dalam perjalanan dari Betlehem menuju ke Yerusalem (Edersheim, 1995:974). Selanjutnya, berdasarkan catatan para peziarah kuno, gereja membangun kapel yang sekarang disebut حقل الرعاة "Ḥaql al-Ra'āh" (Padang Gembala) yang terletak di Beyt Sahur, dekat Betlehem. Istilah Arab بيت ساحور "Bayt Sahur" (بيت, "Bayt" = "rumah", dan ساحور "Sahūr" = “berjaga”), untuk mengabadikan para gembala yang selalu berjaga untuk mengawasi domba-dombanya pada waktu malam.
2. MITOS ANTI-NATAL "BETLEHEM BERSALJU"?
Para penentang Natal menertawakan perayaan 25 Desember, karena tidak mungkin Yesus lahir bulan Desember, sebab pada waktu itu para gembala sedang menggembalakan domba-dombanya pada malam hari. ”Di wilayah Israel”, demikian argumentasi mereka, “domba-domba pada umumnya paling lambat harus kembali dimasukkan dalam kandangnya pada waktu turun hujan pertama, Hujan pertama itu dalam kalender Yahudi, kadang jatuh pada bulan Marheswan (Oktober/Nopember), kadang pula awal bulan Kislev (Nopember/Desember). Menurut Talmud, ada 2 jenis binatang yang digembalakan: (1) אלו הן בייתות “elu hen bayītot", yaitu ternak piaraan khusus yang dikeluarkan mulai pagi hari untuk merumput di padang yang terletak di batas kota dan kembali ke kota pada malam hari; (2) אלו הן מדבריות “Elu hen midbariyot”, yaitu ternak yang digembalakan di padang. Jenis ini dibagi lagi menjadi dua, yaitu (a) ternak yang digembalakan padang pada waktu Paskah, merumput di padang siang dan malam, dan dimasukkan lagi ke kandang waktu hujan pertama, dan (b) ternak yang keluar merumput di padang dan tidak masuk ke area yang ditentukan, baik pada musim panas maupun pada musim dingin (Beitzah 40b). Catatan Lukas 2:8 merujuk kepada domba-domba khusus untuk upacara korban yang digembalakan di padang tertutup, dan domba-domba tersebut dilepaskan di sana, baik pada musim panas maupun musim hujan. Faktanya, Bait Suci selalu mempunyai persediaan domba-domba sepanjang tahun, karena tidak ada upacara Yahudi yang tanpa kurban binatang. Dalam lingkaran tahun liturgis Yahudi, perayaan yang jatuh pada 25 Kislev hingga 2 Tevet (Desember/Januari) adalah Perayaan Hanukkah (Penahbisan Bait Suci). Hari Raya Penahbisan Bait Suci ditetapkan untuk memperingati kemenangan Yehuda Makabe, yang pada tahun 165-164 SM berhasil menumpas kejahatan raja Anthiokus Epifanes yang menajiskan Bait al Maqdis itu (2 Mak. 10:6). Dalam Yoh. 10:22 disebutkan bahwa perayaan itu jatuh pada musim dingin. Ciri khas perayaan ini, adalah penyalaan lampu-lampu terang, sejarawan Yahudi, Flavius Yosephus (90 M), menyebutnya חַג הַאוּרִים "Ḥag Ha-Urīm" (Hari Raya Terang). Menurut The Coptic Didascalia Apostolorum (189 M), ternyata Yesus dilahirkan tepat pada perayaan Hanukkah, 25 Kislev kalender Ibrani, atau bertepatan dengan 29 Kyahk kalender Mesir. Selain itu, kita juga harus melihat geografis Israel secara keseluruhan. Hanya di wilayah Israel utara biasanya salju turun dari gunung Hermon setiap musim dingin. Sedangkan Bethelem Efrata, tempat Malaikat itu bertemu dengan para gembala, bukan wilayah yang turunnya salju. Wilayah Israel selatan adalah terdiri dari gurun, karena itu bulan Desember suhu Bethelehem hanya berkisar 57-42 derajat Fahrenheit, atau sekitar 13,8 sampai 5,5 derajat Celcius. Pada suhu tertentu yang disebut titik beku, yaitu 0° Celsius, 32° Fahrenheit, barulah salju bisa turun. Karena itu, tidak ada salju di Betlehem, kecuali pada saat-saat tertentu turun salju tipis kiriman dari wilayah utara
3. AKHIR HANUKKAH: TEVET (DESEMBER) BULAN BAIK TAK TURUN HUJAN
Sumber-sumber rabbinik juga mencatat bahwa ada waktu-waktu baik, hingga bulan Tevet, yang mestinya musim hujan, tidak turun hujan. Seperti yang sudah dicatat, perayaan Hanukkah diselenggarakan mulai 25 Kislev sampai 2 Tevet. Dalam Talmud dikisahkan Rabbi Yehuda berkata: טבא לשתא דטבת ארמלתא “Tava le Shata d’Tevet armalata” (Bulan yang baik Tevet seperti janda” (Ta’anit 6b). Apa maksudnya? “Hujan ibarat suami dari tanah”, kata Rabbi Yehuda, “tanpa hujan tanah seperti seorang janda” (Hersh Goldwurm, 2006). Tentu saja “The Miracle of Tevet” ini disambut baik oleh semua orang Israel. Ada yang berkata: “Ini anugerah agar ladang tetap panen, karena terlalu banyak hujan merusak sayuran”. Dan ada yang berkata: “Penyakit bisa muncul karena hujan berlebihan”. Rabbi Ḥisda berkata: “Ini Tevet yang baik, sebab banyak hujan tanah penuh lumpur". Nah, kalau alasan kebaikan musiman saja, orang dengan gembira menyambut Tevet (Desember/Januari) tanpa hujan, apalagi dengan kedatangan Sang Mesiah. Meskipun catatan Talmud ini tidak langsung berbicara tentang Natal, namun jelas membuktikan bahwa ada masa-masa istimewa yang terjadi. Terlepas dari banyak orang Yahudi sampai hari ini menolak Yesus sebagai Mesias, namun bagi kita yang percaya Natal telah disiapkan khusus oleh Bapa Surgawi dengan hari baik dan cuaca yang cerah untuk menyambut kelahiran-Nya: τὸ πλήρωμα τοῦ χρόνου "to plerôma tou khronou” (When the fulness of the times had come). Dan itu bukan terjadi secara kebetulan saja. Sejujurnya harus dikatakan bahwa alasan klise yang mendukung mitos Desember bersalju, telah lahir dari "paradigma Bule yang sok tau". Sebab tanpa mengaitkan dengan Natal pun, alasan penolakan bahwa pada bulan Desember di wilayah Israel tidak mungkin ada domba-domba yang digembalakan di padang, bertentangan dengan fakta. Kej. 31:38-40 mencatat bahwa pada musim salju pun domba-domba masih bisa digembalakan di padang, bahkan saat musim dingin di wilayah Israel utara: “…Aku dimakan panas hari waktu siang dan kedinginan waktu malam, dan mataku jauh dari pada tertidur”.! Kata yang diterjemahkan “kedinginan di waktu malam” dalam bahasa Ibrani: קֶרַח “qerah” artinya “embun beku". NKJ menerjemahkan: “Thus I was; in the day the drought consumed me, and the frost by night; and my sleep departed from mine eyes”. Kej. 31:38-40 ini ternyata sesuai dengan deskripsi Talmud, Beitzah 40b yang telah disebut di atas: "Itulah ternak-ternak yang keluar untuk merumput di padang dan tidak masuk ke tempat yang ditentukan, baik pada musim panas maupun pada musim dingin". Harus dicatat pula, biasanya “asumsi Bule” yang menopang mitos Desember bersalju, begitu menghirup langsung udara Tanah Suci Israel, biasanya mereka akan berubah. Kota Bethlehem berjarak 10 km di sebelah selatan Yerusalem, leraknya pada ketinggian 775 di atas permukaan laut. Posisi geografis Bethlehem yang berada pada 31° 42′ 11″ lintang utara dan 35° 11′ 44″ bujur timur, menyebabkan zona yang cukup hangat. Berbeda dengan bagian utara di wilayah Hermon, Betlehem yang hingga sekarang suhunya berkisar antara 13,8 sampai 5,5 derajat Celcius, pada bulan Desember tidak pernah turun salju. Kecuali apabila suhunya berubah ekstrim, kadang-kadang salju tipis membedaki wajah cantik Betlehem, seperti yang terjadi pada tahun 1953, dan terakhir pada bulan Januari 2012 dan 2013. Jadi, singkatnya jangan kita bayangkan setiap Desember Betlehem bersalju. Selama ini kita hanya menelan mentah-mentah mitos Anti-Natal, yang ironisnya masih banyak diikuti dan dikembangkan oleh orang-orang Kristen di Indonesia. Lalu dari mana asal “mitos Anti Natal”? Benarkah penanggalan 25 Desember telah dibajak dari perayaan pagan "Sol Invictus"? Ikutilah artikel saya berikutnya tentang “Kalender Roma 354 M: Natal menjiplak Sol Infictus (Dewa Matahari Tak Terkalahkan) atau justru sebaliknya?”. Jangan hanya mendengar opini mereka-reka di tengah dinginnya malam X'mas di Eropa, tetapi jujurlah menimbang teriakan lantang fakta-fakta dari padang gurun Yudea dan sekitarnya dengan cuaca yang lebih hangat menyapa, tempat semua peristiwa agung itu pernah STT BAPTIS INJILI, CEPOGO BOYOLALI,2017, TITUS ROIDANTO

SUDUT PANDANG KEMUNGKINAN 2 TEORIMengapa 25 Desember?, SERIAL ARKEOLOGI BIBLIKAL

SUDUT PANDANG KEMUNGKINAN 2 TEORI
Mengapa 25 Desember?, SERIAL ARKEOLOGI BIBLIKAL

Sesungguhnya tidak ada masyarakat yang peduli pada kelahiran Mulyono. Paling-paling beberapa tetangga yang sedikit disibukkan atas kelahirannya selain ibu dan ayahnya. Baru kemudian sesudah Mulyono menjadi Presiden RI yang kita kenal sebagai Presiden Joko Widodo disusunlah biografi yang luar biasa. Dicarilah foto-foto lama yang sangat terbatas koleksinya dan juga saksi-saksi hidup. Dibuatlah kisah hidup Joko Widodo yang heroik dan mengundang decak kagum. Demikian halnya tak seorang pun tahu kapan Yesus dari Nazaret dilahirkan. Tidak ada suatu akta kelahiran kuno yang menyatakan dan membuktikan kapan Yesus dilahirkan. Tidak ada seorang saksi hidup yang bisa mengabsahkan. Baru kemudian ketika Yesus sesudah kematian-Nya diangkat menjadi Sang Mesias oleh gereja perdana disusunlah kisah-kisah kelahiran-Nya sebagai kelahiran luar biasa seperti kisah awal dalam Injil Matius dan Injil Lukas yang ditulis sekitar 80 – 85 ZB. Akan tetapi pengarang Injil Markus (ditulis sekitar 70 ZB) sama sekali tidak memandang penting untuk menyusun sebuah kisah kelahiran Yesus. Meskipun pengarang Injil Matius dan Lukas mengisahkan kelahiran Yesus, kedua Injil sama sekali tidak menulis catatan historis mengenai tanggal kelahiran-Nya. Bahkan di seluruh kitab Perjanjian Baru tidak ada.  Bagaimana bisa terjadi penetapan 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus? Ada banyak teori. Dua teori di antaranya sbb.:
 
Teori Pertama
Sudah menjadi tradisi Israel Kuno untuk menyamakan hari kematian dengan hari kelahiran bapak-bapak leluhur Israel. Tradisi ini mirip dengan kepercayaan Budhisme. Hari kematian Sidharta Gautama sama dengan hari pencapaian pencerahn dan hari kematiannya. Tradisi Jawa Kuno juga memercayai hari kematian seseorang jatuh persis weton atau hari kelahiran penanggalan Jawa. Oleh kekristenan tradisi ini dimodifikasi bahwa hari kematian sama dengan hari pembenihan. Hari kematian Yesus bisa ditentukan dengan akurasi tinggi yang jatuh pada tanggal 14 Nisan dalam kalender Yahudi Kuno yang kemudian dikonversi menjadi 25 Maret dalam kalender Gregorian. Bapak-bapak gereja seperti Klemen dari Aleksandria, Lactantius, Tertullianus, Hippolytus, dan juga sebuah catatan dalam dokumen Acta Pilatus menyatakan hari kematian Yesus jatuh pada tanggal 25 Maret. Dengan demikian begitu hari pembenihan janin Yesus dalam rahim Maria juga jatuh juga pada 25 Maret. Apabila dihitung sembilan bulan dari hari pembenihan, maka hari kelahiran Yesus adalah 25 Desember. Kendati cukup banyak dokumen dari abad III sampai abad IV menyebut tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus, tidak semua orang pada waktu itu menyetujui adanya perayaan Natal. Origenes dari Aleksandria dalam homili atas Kitab Imamat menyatakan bahwa hanya orang-orang berdosa seperti Firaun dan Raja Herodes yang merayakan hari ulang tahun mereka. Seorang penulis Kristen yang lain bernama Arnobus pada 303 ZB mengolok-olok gagasan untuk merayakan Natal sebagai pemujaan hari lahir dewa-dewi. Dalam pada itu kalangan Montanis menolak kematian Yesus jatuh pada 25 Maret, melainkan pada 6 April. Dengan begitu hari kelahiran Yesus jatuh pada 6 Januari jika dihitung dari hari pembenihan 6 April. Untuk itulah di kalangan Gereja Timur (berbahasa Grika) merayakan Natal pada 6 Januari, sedang Gereja Barat (berbahasa Latin) merayakan Natal pada 25 Desember. (Catatan: Montanus adalah pemimpin gerakan apokaliptik pada pertengahan abad II ZB di Asia Kecil. Gerakan atau alirannya disebut Montanisme, pengikutnya disebut Montanis.)
 
Teori Kedua
Dalam kehidupan di Kekaisaran Romawi orang-orang Romawi menyembah matahari. Praktik heliolatri ini Dewa Matahari atau Sol menempati kedudukan tertinggi. Dalam diri Dewa Sol ini terjerap dewa-dewa lain yang juga disembah oleh banyak warga Romawi seperti Dewa Apollon (dewa terang), Dewa Elah-Gabal (dewa bangsa Siria), dan Dewa Mithras (dewa perang bangsa Persia). Politik keagamaan dengan menempatkan Dewa Sol sebagai Dewa Tertinggi ini untuk memayungi persatuan kawasan Kekaisaran Romawi yang sangat luas dengan penduduk besar yang menganut berbagai macam agama dan memercayai banyak dewa. Pada 274 ZB Dewa Sol oleh Kaisar Aurelianus ditetapkan secara resmi sebagai Kepala Panteon Negara Romawi, satu-satunya Pelindung Ilahi atas seluruh kekaisaran. Menyembah Dewa Sol sebagai pusat keilahian berarti memusatkan kekuasaan politik pada diri Sang Kaisar Romawi sebagai titisan Dewa Sol. Dalam pemujaan Dewa Sol ini tanggal 25 Desember ditetapkan sebagai hari perayaan religius utama untuk memuja Dewa Sol, yang harus dirayakan di seluruh Kekaisaran Romawi. Mengapa 25 Desember? Bumi itu datar dan paham geosentris berlaku. Pada musim dingin matahari tampak bergeming di titik terendah di horison Eropa sejak 21 Desember. Pada 25 Desember matahari mula sedikit mumbul dari horison dan sedikit demi sedikit bergerak naik. Seolah-olah Dewa Sol terlahir kembali. Peristiwa alam (yang sebenarnya biasa-biasa saja) ditafsir secara religius sebagai saat Dewa Sol berhasil bangkit dari kematian atau Sol Invictus (Matahari Tak Terkalahkan). Pada 25 Desember dijadikan sebagai Hari Kelahiran Dewa Sol Yang Tak Terkalahkan atau Dies Natalis Solis Invicti. Dalam pada itu musuh-musuh Kekaisaran Romawi yang mengusik stabilitas politik bukan saja datang dari kekuatan militer, tetapi “kristenisasi” dari pengikut-pengikut Kristus. Pekabaran Injil oleh gereja-gereja sangat masif untuk melawan agama dan penguasa negara. Konon Kaisar Nero sampai membakar Kota Roma untuk menuding orang-orang Kristen sebagai pembuat onar dan musuh negara. Jemaat Kristen menolak menyembah kaisar sebagai Tuhan (kyrios). Pernyataan “Yesus Kristus adalah Tuhan” dalam Surat Filipi 2:11 bukan saja pernyataan iman, tetapi terutama pernyataan sikap politik. Sungguh mengherankan apabila banyak rohaniman Kristen masa kini menyatakan bahwa gereja tidak boleh berpolitik. Padahal berpolitik di sini adalah menyampaikan suara kenabian apabila penguasa menjadi monster. Tentu saja gereja masa kini tidak boleh berpolitik praktis seperti turut berkampanye untuk memilih partai tertentu. Taktik pemberitaan Injil bukan saja mengambil alih gelar kyrios dari kewibawaan kaisar, tetapi juga Sol Invictus. Gelar kyrios dan Sol Invictus diberikan kepada Yesus Kristus sehingga Yesus Kristus menjadi Matahari Tak Terkalahkan yang sejati. Terjadilah perubahan besar-besaran di masyarakat Romawi dari penganut atau penyembah Dewa Sol menjadi Kristen. “Kristenisasi” di Kekaisaran Romawi sudah sulit dibendung. Memasuki abad IV Kaisar Konstantinus sudah tak berdaya lagi memertahankan agama negara, padahal ia harus menjaga kewibawaan kaisar demi persatuan seluruh wilayah. Menurut mitologi Romawi pada 28 Oktober 312 ZB Kaisar Konstantinus melihat sebuah tanda salib dan sebuah kalimat In Hoc Signo Vinces (Dengan tanda ini, kamu menang) di awan-awan. Ia kemudian menetapkan perayaan keagamaan pemujaan Sol Invictus pada 25 Desember diubah menjadi perayaan keagamaan untuk merayakan Hari Natal Yesus Kristus. Dengan digantinya Dewa Sol dengan Yesus Kristus sebagai Sol Invictus yang sejati dan 25 Desember sebagai Hari Natal Yesus Kristus, Kaisar Konstantinus berhasil memulihkan persatuan seluruh wilayah negara Roma yang warganya mayoritas Kristen. Agama tidak sekali jadi. Agama ber-evolusi. Peradaban berkembang, demikian juga kekristenan. Kristen bukanlah kontinuitas atau diskontinuitas Yahudi, melainkan kontinuitas sekaligus diskontinuitas Yahudi. Kristen berkembang lewat tradisi, bukan lewat Alkitab. Bahkan Alkitab adalah produk tradisi gereja. Alkitab ada, karena ditulis dan ditetapkan oleh gereja, bukan sebaliknya.Hari raya liturgi gereja dimula dan berpusat pada misteri Paska. Pada mulanya tidak ada susunan sistematis dan terencana untuk merayakan peristiwa-peristiwa Kristus. Secara evolusi gereja memberikan tanggapan atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Bapak-bapak gereja sejak abad II merapikan, membentuk, menyusun, dan merekayasa (to engineer) kisah teologinya sehingga menjadi bermakna, bertema, dan bercerita saling berurutan satu dengan lainnya. Hari raya liturgi merupakan drama sarat makna; suatu rekayasa gereja untuk memastori dan membina umat agar dapat lebih menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan.Dengan memahami sejarah hari raya liturgi, seperti Sol Invictus sebagai misal, umat menjadi lebih menghayati makna nyanyian gerejawi seperti refrain NKB 72:
Yesus, ‘Kaulah Surya rahmat, ‘Kau kobarkan hatiku.
Bersyukur di jalan s’lamat, aku puji nama-Mu!STT BAPTIS INJILI, CEPOGO BOYOLALI,2017, TITUS ROIDANTO

Sudut Pandang Dalam Nama Yesus

Sudut Pandang Dalam Nama Yesus