Jumat, 20 Oktober 2023

HUTANG-PIUTANG DALAM ALKITAB, SERIAL SUDUT PANDANG

HUTANG-PIUTANG DALAM ALKITAB, SERIAL SUDUT PANDANG


"Kalau sampai kiamat hutang negara belum lunas, nanti di akhirat dosanya di tanggung oleh presiden atau di bagi rata sama rakyat bu? Mohon pencerahan."

Demikianlah sebuah pertanyaan 'teo-politis' yang diajukan pada saya.

Pertanyaan diatas ditanyakan seseorang melalui salah-satu postingan saya (kalau tidak salah postingan tentang pohon kurma) di grup ANTROPOLOGI ALKITAB. Pertanyaan ini terlihat jenaka tapi sebenarnya menarik. Konsep pertanyaan ini sebenarnya bukan berasal dari perspektif Alkitab tapi dari perspektif non-Kristen dan non-Yahudi, yang kemudian dikelirukan oleh penganut Kristen seakan itu adalah perspektif Alkitab. Perspektifnya tidak salah, namanya juga beda keyakinan, tetapi sebagai orang Kristen sebaiknya kita meluruskan persepsi tentang hutang-piutang ini berdasarkan perspektif Alkitab.

Terkait hutang-piutang, dalam 'perundang-undangan' yang dicatat dalam Alkitab, semuanya bersifat humaniter (berperikemanusiaan) dan diatur dengan sangat rinci, jauh lebih rinci dibandingkan undang-undang peradaban purba lain yang sezaman dengan penulisan peraturan ini. Menurut Alkitab, meminjamkan uang di Israel bukan untuk alasan bisnis, melainkan karena dasar belas kasihan. Dalam perspektif Pentateukh, utang adalah uang atau barang yang diberikan dengan syarat bahwa akan dikembalikan kemudian (kamus Browning, "utang"). Sedangkan, dalam sosiologi suku-suku Israel yang lebih sederhana tidak ada suatu tata susunan pinjaman, seperti yang terdapat dalam masyarakat modern, yang memungkinkan orang membuka suatu usaha baru, atau membeli kebun atau peternakan (Ensiklopedia Alkitab, "hutang-piutang"). Pinjaman dimaksudkan untuk membantu orang mengatasi kesulitan. Mereka yang memberi pinjaman melakukannya atas dasar kemurahan hati. Adapun  keuntungan bunga dapat ditarik dari orang bukan Israel (Ulangan 23:20). Namun, dikemudian hari ada orang Yahudi yang mengutangkan dan dirugikan mendorong perluasan pungutan bunga (Yeremia 15:10). Bagi orang yang terpaksa harus meminjam, ada banyak aturan perlindungan. Contohnya: juru-sita tidak diperbolehkan memasuki rumah orang untuk mengambil gadai (Ulangan 24:10-11), atau untuk mengambil pakaian seorang janda (Ulangab 24:17). Pakaian gadai seorang miskin juga harus dikembalikan kepadanya sebelum petang (Keluaran 22:25-26). Agunan atas pinjaman kecil, misalnya harta benda pribadi yang digadaikan (Ulangan 24:10; Ayub 24:3), atau, harta tak bergerak (Nehemia 5), juga atas tanggungan seseorang (Amsal 6:1-5; Yesaya 8:13; 29:14-20). Jika tidak ada jaminan untuk membayarnya, maka debitur dapat dijual menjadi budak (Keluaran 22:3; 2 Raja-raja 4:1; Amsal 2:6; 8:6). Barang-barang yang boleh dijadikan agunan dibatasi, begitu juga syarat-syarat untuk meminjam (Ulangan 24). Tetapi, dalam kenyataan hidup sehari-hari, hal itu tidak selalu berlangsung menurut aturan (Amsal 2:8) sebab undang-undang ini seringkali tidak dilaksanakan. Janda yang dibicarakan dalam 2 Raja-raja 4:1-7 ditolong oleh Elia, bukan dengan mengandalkan hukum itu, tapi dengan mengandalkan mujizat. 

Petani selalu diutamakan dalam pinjam-meminjam di Israel karena tulang-punggung utama perekonomian Israel tetaplah sektor pertanian. Oleh karena itulah undang-undang Israel tidak memuat aturan-aturan perdagangan, tapi memuat nasihat-nasihat supaya bermurah hati terhadap tetangga, seperti yang tercatat dalam Amsal 29. Motivasi yang mendasari pemberian hutang kemudian berubah dijaman Perjanjian Baru. Inilah yang dikecam oleh Tuhan Yesus dalam perumpamaan bendahara yang tidak jujur (Lukas 16:1-8). Para debitur dalam perumpamaan itu adalah penyewa atau pedagang yang wajib membayar dengan barang-barang natura. Yesus memakai ungkapan ini bukan untuk menggambarkan hubungan Allah dengan manusia seperti hubungan kreditur dengan debitur, tapi untuk menyatakan kasih karunia Allah dan memerintahkan kewajiban mengampuni (Lukas 7:41 dab; Mat 18:21-27). Oleh Yesus, kesalahan juga diumpamakan sebagai hutang, yang bisa dilihat dari penggunaan kata Yunani dalam Matius 6:12 yang diterjemahkan sebagai 'kesalahan', sebenarnya menggunakan arti yang harfiahnya ialah 'utang'. Walau telah diatur dengan rinci tapi ada juga penyelewengan terkait hutang-piutang. Apa yang dikeluhkan dalam Perjanjian Lama sebenarnya bukan besarnya bunga utang, tapi karena adanya bunga itu. Kitab Undang-undang Israel (Keluaran 22:25; Ulangan 23:19; Imamat 25:35) melarang adanya bunga walaupun Ulangan 23:20 (bnd 15:1-8) mengizinkan mengambil bunga dari orang asing. 

Pada zaman Yudaisme, Hilel merancang suatu sistem untuk menyisihkan Ul 15 secara hukum, maksudnya bukan untuk menggagalkan atau mengelabui hukum Taurat, tapi untuk mencocokkannya dengan ekonomi perdagangan. Inilah yang mendasari dimulainya bisnis kredit komersial seperti sudah berlaku di Babel pada tahun 2000 SM. Dalam Kitab Undang-undang Hammurabi dan hukum-hukum Babel yang terdahulu, penerapan bunga pinjaman sudah sangat lazim. 

Penyalahgunaan pemberian hutang sangat dikecam dalam Alkitab. Kata 'nesyekh' (harfiah 'sesuatu yang digigit sampai putus') boleh jadi berarti pemerasan dengan jalan merampas dari kreditur, tapi permainan kata dengan 'nosy ekhim' dalam Habakuk 2:7 (artinya rangkap, yaitu 'pembayar bunga' dan 'penggigit') berarti suatu jumlah bunga utang yang menyedot habis semua simpanan kreditur yang sudah disisihkan untuk pembayaran kembali. Sinonim 'nesyekh' yaitu 'tarbit' ('kenaikan') dan Yunani 'tokos' ('tunas') lebih mendekati makna bunga dalam arti modern, yaitu 'sesuatu yang tumbuh dari modal dasar'. Selaras dengan perkembangan ekonomi, Yesus menyetujui perolehan laba melalui penginvestasian modal (Matius 25:27; Lukas 19:23), tapi Yesus tetap mengecam pemberian bunga uang yang dibebankan pada pinjaman pribadi (Lukas 6:31 dst).

Jadi, hutang menurut perspektif Alkitab bukan untuk memodali peminjam untuk memulai atau memperluas usahanya, melainkan untuk memampukan peminjam, khususnya petani, melewati masa sukar. Kemudian, setiap tujuh tahun semua utang-piutang dihapuskan (Ulangan 15:1 dst.) dan orang Israel yang menjadi budak karena utang yg tak dapat dibayar, harus dibebaskan (Imamat 25:39-55). Artinya, hutang bukanlah tanggungan abadi.

Inti dari semua penjelasan bagi pertanyaan yang diajukan pada saya diatas adalah: Hutang, menurut perspektif Alkitab, sifatnya fana karena hanya untuk perkara duniawi bukan akhirat. Jadi, di akhirat nanti tidak ada yang menanggung hutang dan piutang finansial, termasuk utang negara kita ini. Baik presiden hingga rakyat jelata tidak lagi menanggung hutang di akhirat. Semuanya sudah dihapuskan menurut Alkitab setelah 7 tahun tanggal terhutang, apalagi jika manusia yang bersangkutan telah meninggal. Hanya dua hutang yg harus dipertanggung-jawabkan tanpa batas tahun, yaitu hutang nazar (ditanggung hanya hingga meninggal) dan hutang dosa (ditanggung hingga hari penghakiman). 

Disusun 25.02.2023 (T) Cepogo Boyolali

Referensi:
°°°°°°°°°°°°°
1. Browning (kamus Alkitab), kata kunci: pinjaman, utang;
2. Gering (kamus Alkitab), kata kunci: utang;
3. Ensiklopedia Alkitab, kata kunci: utang-piutang;
4. Kamus Pedoman (kamus Alkitab), kata kunci: orang yang berpiutang.

Saduran dan adaptasi:
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
1. Kalimat pertama dan kedua pada paragraf kedua disadur dari kamus Browning, "utang";
2. Kalimat ketiga pada paragraf kedua disadur dari Ensklopedia Alkitab, "utang piutang";
3. Paragraf kedua dan ketiga diadaptasi dari kamus Browning dan Ensiklopedia Alkitab;
4. Paragraf keempat dan kelima diadaptasi dari Ensklopedia Alkitab, "utang piutang".


PENULiSAN ALKITAB, SERIAL SUDUT PANDANG

PENULiSAN ALKITAB, SERIAL SUDUT PANDANG

Alkitab yang kita pegang sekarang adalah Alkitab Terjemahan Baru yg di cetak pertama kali pada tahun 1974.
Sebelumnya yg digunakan adalah terjemahan lama yg berbeda sekali gaya bahasanya dgn terjemahan baru.

Kej 1 : 1 terjemahan lama memakai kata "Sebermula...." Sedangkan terjemahan baru menggunakan kata "Pada mulanya...."

Ini kalau dilihat dari bahasa dan ejaan bhs Indonesia. Bayangkan apa yg terjadi, sbb di atas dunia ni terdiri dari berapa ratus bahasa dgn ejaannta masing2

Perlu diketahui pula, bhw beredarnya kisah atau peristiwa dalam Alkitab itu pada awalnya melalui tradisi lisan, belum tertulis.

Sebelum adanya Alkitab tertulis, sebagai Firman Allah hanya disampaikan atau diteruskan kpd siapa saja melalui tradisi lisan selama ber-abad2 lamanya. Setelah itu barulah ada Alkitab terulis dan dalam proses penulisannya, Firman Allah yang diterima oleh para nabi pada saat itu ditulis dalam bahasa tulis yang dikenal di zaman penulis kitab-kitab Alkitab. Ada 3 bahasa yang digunakan yakni Ibrani, Aramaik, dan juga Yunani. 

Dalam penulisannya para penulis menggunakan beberapa media penulisan yang digunakan pada zaman tersebut.

Salah satunya adalah perkamen yaitu berasal dari kulit binatang yang dikeringkan. salah satu salinan ( sekali lagi salinan ) Naskah yg tertulis di atas perkamen diemukan pd thn 1948 di Gua Qumran di tepi Laut Mati.

Salinan naskah Alkitab tsb berusia ratusan tahun. Salinan naskah ini bisa bertahan begitu lama, krn Gua Qumran dgn Laut Mati merupakan titik terendah di atas permukaan bumi, berada 430 meter di bawah permukaan laut, sbb  itu kedap udara, hampa udara. Danau Galilea saja berada 210 meter di bawah permukaan laut.

Media lain adalah papyrus yaitu berasal dari rumput papyrus yang dikeringkan. Ada juga yang ditulis di lempengan keramik dan codex yang sudah seperti kertas.

Kanonisasi Alkitab

Kata kanon berasal dari bahasa Ibrani, Qāneh, atau Kanon (Yunani) yang secara harfiah memiliki arti: gelagah atau buluh.

Dalam dunia kuno, gelagah digunakan sebagai tongkat pengukur atau kayu penggaris untuk membuat garis yang lurus. 

Kanon Alkitab maksudnya adalah peraturan, standar, ukuran yang dipakai untuk menentukan kitab-kitab yang diakui diilhamkan oleh Allah sendiri. 

Dalam Kanonisasi Alkitab akan dibagi menjadi dua bagian yakni kanonisasi Tanakh (Alkitab Perjanjian Lama) dan Kanonisasi Kitab Suci Injil.

KANONISASI ALKITAB PERJANJIAN LAMA (PL )

Ada beberapa hal yang menjadi syarat kanon ALKITAB PL Yang menjadi syarat pertama adalah tulisan harus dalam bahasa Ibrani, pengecualian untuk kitab-kitab dalam Aramaik seperti Daniel 2-7, Ezra (Ezra 4:8–6:18; 7:12–26). 

Kemudian, tulisan itu harus disahkan dengan penggunaan di kalangan komunitas Yahudi, contoh : penggunaan Kitab Ester pada hari raya Purim memungkinkannya dimasukkan dalam kanon. 

Di samping itu,  tulisan itu harus mengandung salah satu tema besar dalam Yudaisme, seperti pemilihan, atau perjanjian, dan harus ditulis sebelum zaman  nabi Ezra, karena dipercayai bahwa wahyu sudah berhenti sejak saat itu.

Kitab PERJANJIAN LAMA ( PL ) selesai dikanonisasi pada 400 SM, lengkap dari Kitab Taurat sampai Kitab Nabi Ezra (pasca pembuangan dari Babylonia). 

Umat Yahudi mengakui 39 surah dalam kitab PL (atau menurut mereka 22 surah karena ada beberapa surah yang digabung menjadi satu surah).

Di kalangan Yahudi kuno  terdapat kanonisasi yang didasarkan pada kitab-kitab Yunani yang terdapat dalam Septuaginta ( PL dalam bahasa Yunani). Kitab-kitab Yunani tersebut di kalangan Yahudi kuno (juga pada masa Yesus dan jemaah mula-mula)  diakui sebagai kanonis.

Yesus sendiri membenarkan  otoritas PL. Hal ini dapat dilihat dari berbagai kutipan pengajaran Yesus dari kitab PL. Di dalam Kitab Suci Injil, Injil Matius 5:17 tertulis:

“Μὴ νομίσητε ὅτι ἦλθον καταλῦσαι τὸν νόμον ἢ τοὺς προφήτας. οὐκ ἦλθον καταλῦσαι ἀλλὰ πληρῶσαι”

Artinya:

“Jangan menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat, yaitu hukum yang terdapat dalam Kitab Suci Taurat, atau firman yang telah disampaikan Allah melalui para nabi.  
Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.”

Dalam bagian lain kitab Injil, Yesus juga kembali menegaskan otoritas kitab PL, seperti dalam Injil Lukas 24:44 yang berbunyi:

Εἶπεν δὲ πρὸς αὐτούς. Οὗτοι οἱ λόγοι μου οὓς ἐλάλησα πρὸς ὑμᾶς ἔτι ὢν σὺν ὑμῖν, ὅτι δεῖ πληρωθῆναι πάντα τὰ γεγραμμένα ἐν τῷ νόμῳ Μωϋσέως καὶ προφήταις καὶ ψαλμοῖς περὶ ἐμοῦ.

“ Lalu sabda-Nya kepada mereka, “Inilah yang Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu. Aku berkata bahwa semua yang telah tertulis mengenai Aku harus digenapi, baik dalam Kitab Suci Taurat yang disampaikan melalui Musa, dalam kitab tulisan nabi-nabi, dan dalam Kitab Zabur.“

2. KANONISASI KITAB SUCI INJIL (ALKITAB PERJANJIAN BARU)

Kitab Injil sendiri merupakan kelanjutan dan penggenapan dari PL. Kitab Injil berisi tentang Yesus, Ruh Suci dan Jemaah abad pertama. Ada beberapa standar  yang dipakai untuk menentukan kanonisasi kitab Injil. 

Yang pertama adalah Injil ditulis oleh orang-orang yang memiliki hubungan langsung dengan Yesus dan/atau para rasul Nya di abad pertama.

Kedua, adanya Kerasulan yang meneruskan tradisi rasuli /suksesi apostolik, yaitu murid dari para murid Yesus yang mengakui kitab tersebut. 

Ketiga, ada yang disebut dengan ortodoksi dan antiquity. Ortodoksi yaitu masing-masing surah  memiliki kesatuan (unity) yang berporos pada iman yang sama pada Yesus yang bangkit dan dimuliakan. Sedangkan antiquity adalah pengakuan kepada kitab-kitab yang lebih kuno atau yang paling dekat dengan zaman Yesus. 

Syarat keempat adalah Injil tersebut diterima oleh jemaah mula-mula secara menyeluruh dan  universal.

Seperti halnya kitab PL, kitab Perjanjian Baru juga mempunyai sejarah dalam penyusunannya. Dimulai dengan beredarnya kisah kehidupan Yesus secara lisan, di mana tradisi lisan ini berlanjut hingga abad kedua.

Pada saat yang sama, pada generasi pertama pengikut Yesus telah muncul catatan tertulis tentang kehidupanNya.

Surat-surat Rasul Paulus juga sudah beredar di jemaah awal pada saat itu. Rasul Paulus menulis untuk memenuhi masalah spesifik di beberapa jemaah tertentu, dan dia mendorong distribusi surat tertulis tentang kehidupan Yesus

Koleksi surat-surat Rasul Paulus juga diakui oleh para rasul, seperti oleh Rasul Petrus, sekitar tahun 65 M. Hal ini dikuatkan juga oleh Clement dari Roma, yang menyatakan, “bawalah surat-surat Rasul Paulus yang diberkahi” dalam  suratnya pada jemaah di Korintus sekitar tahun 100 M.

Pertengahan abad ke-2, kitab Perjanjian Baru sudah dipakai dalam jemaat-jemaat di seluruh kekaisaran Romawi.

Namun di sisi lain, jemaah awal ada juga yang memakai beberapa daftar isi yang berbeda karena keterbatasan komunikasi dan jarak.

Polikarpus (69 -155 M), murid dari Rasul Besar Yohanes, mengutip dari Injil Matius, Yohanes, 10 surat Rasul Paulus, 1 Petrus dan 12 Yohanes. 

Kemudian fragmen Papias (Papias merupakan murid Polikarpus) pada abad 1 M berisi tentang tradisi lisan  cerita-cerita tentang kehidupan Isa.

Pada tahun 144 M, Marcion, seorang Gnostik (bid’ah pada masa itu),  menolak semua  tulisan dalam kitab PL yang bertentangan dengan pandangan teologisnya. Ia menolak semua Kitab Injil, kecuali tulisan Lukas dan  Rasul Paul saja. 

Pada tahun 145-163 M, Justin Martyr (seorang filsuf dan penulis Kristen) mendaftarkan Surat Roma, 1 Korintus, Galatia, Efesus, Kolose, 2 Tesalonika, Filipi, Titus dan 1 Timotius.

Pada tahun 170 M, Irenaeus yang merupakan murid Polycarpus, mengutip semua kitab Injil. 
Ia mendaftarkan 23 dari ke-27  dalam kitab Perjanjian Baru.

Pada tahun, 160 – 175 M, Tatian (murid dari Yustinus) menyusun kanon “Injil” dengan mengutip Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes yang disebut dengan Diatessaron (Keharmonisan antara keempatnya). Kitab ini menjadi cikal teks resmi pada jemaah Syria yang berpusat di Odessa.

Pada tahun 253-254 M,  Eusebius (sejarawan Yahudi) dalam “Ecclesiastical History” menyatakan bahwa Origen menerima kitab PL ditambah surah Makabe dan Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes sebagai bagian dari kitab suci.

Kitab yang disebut di dalam kanon: Markus, Lukas, Yohanes, Kisah Rasul, semua surat Paulus, I dan II Yohanes, Yudas, Wahyu Yahya dan Wahyu Petrus dan dua kitab Apokrifa lainnya, yaitu Hikmat Sulaiman dan Pastor/Gembala oleh Hermas.

Pada akhir Abad 2 M, Kanon Muratorian dikenal  sebagai sebagai kanon kitab Perjanjian Baru paling awal yang sudah berisi 27 bagian sebagaimana yang ada sekarang. 

Pada tahun 367, Athanasius (Ulama dari Alexandria), menyusun daftar buku yang akhirnya menjadi kanon 27 kitab Petjanjian Baru. Ia yang memberi nama kanon (kanonizomena) untuk daftar itu.

Yang terakhir adalah sidang/muktamar - Hippo pada tahun 393-419 M. Agustinus, ulama jemaah dari Hippo menyatakan bahwa jemaah hanya boleh memakai kitab Perjanjian Lama (termasuk Deuterokanonika)  dan ke-27 bgn dalam Alkitan Perjanjian baru.. Ada 3 sidang yang dilakukan oleh Agustinus untuk memastikan keputusan ini  yaitu Sidang Hippo pada 393 M, Sidang Carthago pada 397 M,  dan Sidang Carthago II pada 419 M.

Sidang Hippo  ini dilakukan di Hippo Regius, Afrika Utara  pada masa jemaah mula-mula. Dihadiri oleh  Agustinus dari Hippo, Aurelius dari Carthage, dan banyak pemimpin jemaah dari  berbagai propinsi yang berbeda di Afrika. 

Pada sidang ini, untuk pertama kalinya, para ulama  jemaah dari  berbagai wilayah berkumpul bersama-sama, mengakui dan menyetujui daftar ke-27 bgn dalam kitab Petjanjian baru sebagaimana yang ada saat ini.

 Sidang-sidang lanjutan yang diadakan setelahnya adalah untuk mensosialisasikan hasil sidang tersebut agar jemaah-jemaah lain bisa mengetahui dan mengikutinya. Hasil sidang ini  diakui  dan diikuti oleh para pengikut Isa Almasih hingga saat ini.

Kitab Perjanjian Lama dan kitab Petjanjian Baru yang ada hari ini berasal dari perjalanan sejarah yang panjang.

Tentunya, dengan proses yang demikian, jelas sekali bahwa kanonisasi kitab-kitab tersebut tidak dilakukan oleh satu orang atau pihak tertentu, melainkan merupakan suatu warisan dari jemaah dan para pengikut Yesus mula-mula, yang diakui dan diteruskan oleh para pengikut Yesus di zaman sekarang ini. 
CEPOGO, 20.10.2023 (T)

Minggu, 08 Oktober 2023

mengapa penduduk Sodom begitu terancam dengan kehadiran orang asing?

mengapa penduduk Sodom begitu terancam dengan kehadiran orang asing? Serial Sudut Pandang
mengapa penduduk Sodom begitu terancam dengan kehadiran orang asing? Ternyata secara historis, kalau kita membaca secara keseluruhan maka kita akan mendapatkan informasi di Kejadian13-14.Khususnya pasal 14 menceritakan bahwa terjadi pemberontakan bangsa-bangsa untuk melawan Raja Kedorlaomer,"Lalu keluarlah raja negeri Sodom,raja negeri Gomora ... mengatur barisan perangnya melawan mereka dilembah Sidim, melawan Kedorlaomer" (Kej. 14:9).Yang terjadi adalah raja Sodom dan Gomora tumbang, ditangkap, dan orang-orang yang masih hidup diri ke pegunungan, bahkan segala harta benda Sodom dan Gomora serta segala makanan dirampas, termasuk juga Lot, beserta harta bendanya dibawa musuh. Konteks peperangan ini menyebabkan penduduk Sodom tercerai-berai.
Kemudian datanglah seorang pelarian dan menceritakan kepada Abram, bahwa Lot juga termasuk dalam jarahan perang. Maka Abram menyuruh semua orang terlatih untuk mengejar musuh sampai ke Dan. Mereka melawan musuh dan mengejar musuh sampai ke Hoba di sebelah utara Damsyik. Lalu Lot selamat dan harta benda juga dibawa kembali demikian juga perempuan-perempuan dan orang-orangnya (Kej. 14:13-16). Kemenangan Abram mengalahkan Kedorlaomer mendatangkan kegembiraan bagi raja Sodom (Kej. 14:17), lalu Melkisedek yang merupakan seorang raja Salem dan sekaligus Imam membawa roti dan anggur,lalu memberkati Abram (Kej. 14:18-19). Jadi, alasan keterancaman penduduk Sodom akan kehadiran orang asing menyitir pandangan bahwa kondisi pascaperang tentu membuat penduduk sodom siaga dalam mendeteksi kedatangan musuh. Setiap orang yang tidak dikenal atau pendatang baru di kota itu patut dicurigai. Penduduk Sodom awalnya tampak tenang karena menurut mereka kedua orang tersebut hanya akan singgah sejenak dirumah Lot. Tentunya, pandangan di atas memperlihatkan faktor psikologi (trauma) Pesca perang begitu kuat dalam relasi keberadaan dengan orang asing. Para ahli kejiwaan mengatakandemikian:
Dalam keadaan kritis yang tidak biasa, seperti dalam peperangan atau di penjara yang tata tertibnya payah, orang-orang laki-laki yang heteroseksual yang sering memerkosa sesama lelaki, tidak peduli apakah korbannya berorientasi seksual homoseksualiteitoseksual. Gejala ini disebut gang-rape. Penduduk Sodom berniat melakukan gang-rape terhadap para tamu Lot (Singgih, 2019: 45).

Situasi kritis yang terjadi bukan hanya dalam pengertian secara fisik, tetapi lebih kepada batin (psikologis). Dikarenakan tidak ada rujukan secara tekstual yang memperlihatkan bahwa penduduk Sodom ada dalam situasi chaos (kacau) sehingga pertanyaannya adalah mengapa tiba-tiba terjadi pengepungan (upaya) gang-rape (perkosaan beramai-ramai) secara massal? Ada rujukan di dalam Kejadian 18:20, pascaperang sudah usai tercatat demikian, ?Sesudah itu berfirmanlah Tuhan: Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomoradan sesungguhnya sangat berat dosanya" (TB-LAI). Keluh kesah di sini dalam bahasa Ibrani "zaqa" ,berarti'teriakan atau jeritan minta tolong'. Kata ini adalah istilah pengadilan untuk pendakwaan atau permintaan bantuan hukum.Dengan demikian,ada penindasan yang sewenang-wenang yang dilakukan oleh penduduk Sodom kepada orang asing. Topik ini berkaitan dengan pelanggaran hak pendatang atas tamu dalam tradisi zaman itu,  yang mengatakan bahwa penghormatan kepada tamu atau pendatang dalam kebudayaan zaman sangat penting, khususnya ketika para tamu dan pendatang itu memasuki daerah yang tidak aman dan telah mengucap salam, mereka mendapat hak untuk dilindungi kesalahan penduduk Sodom adalah pemerkosaan massal dan ketidak ramahan terhadap orang asing.Jadi,kalau melihat konteks budaya zaman itu, maka kota Sodom menjadi kota yang tidak aman untuk para tamu asing. Teolog Stephen Suleeman menyitir pandangan sejarawan Yahudi bernama Josephus (lahir sekitar tahun 37 ZB) mengungkapkan bahwa, "warga Sodom, yang sangat bangga akan jumlah mereka dan tingkat kekayaan mereka, menunjukkan diri mereka kurang ajar kepada manusia dan tidak beriman kepada Tuhan, sedemikian rupa sehingga mereka tidak lagi ingat manfaat yang mereka terima dari Dia, membenci orang asing dan menolak semua hubungan dengan orang lain. Allah murka akan perilaku ini dan memutuskan membalas dengan menghukum mereka karena kesombongan mereka? (Suleeman, 2015: 4). Bicara soal kesombongan atas jumlah dan tingkat kekayaan penduduk Sodom yang ditulis di atas, Bambang Subandrijo dalam Bagaimana (Seharusnya) Sikap Gereja Terhadap LGBT: Suatu Tinjauan Biblis (2019), merujuk pada tafsiran para Rabi Yahudi (Tosefta Sota 3:11-12), mengatakan bahwa kaum kaya Sodom telah membuat kebijakan untuk menganiaya orang asing agar mereka takut mengunjungi kota itu dan dengan begitu penduduk Sodom tak perlu lagi berbagi harta dengan orang asing (trauma pasca perang). Dari sini ada persoalan yang serius terkait dengan penduduk Sodom, yaitu menyangkut soal xenophobia (sikap membenci orang asing) sikap agresif yang memberlakukan kekerasan homosek, walaupun ini juga akibat dari trauma perang. Karena bbrp sejarahwan menuliskan kebiasaan perang pada zaman itu adalah bagi yang kalah maka lelakinya akan dikumpulkan dan diperkosa oleh yang menang, untuk meruntuhkan mental agar tidak melawan lagi dan dibelakang hari tidak memberontak, tentunya trauma semacam ini dimungkinkan setelah Sodom dan Gomora kalah berperang, shg memperlihatkan kebencian pada orang asing serta orang asing menjadi sasaran empuk melampiaskan trauma. "Xenophobia" adalah  budaya yang berlawanan dg budaya zaman itu, yang menjunjung tinggi hospitalitas (keramahan), seperti kisah Abraham yang menjamu ketiga tamunya(Kej.18:2). Dari sini hospitalitas menjadi bagian penting dalam iman Israel, Pakar Yahudi R.J. Zwi Werblowsky mengatakan bahwa taurat mengatur hukum hospitalitas sehingga setiap orang wajib memberlakukan sikap ramah pada semua orang, termasuk orang yang miskin, mereka yang terabaikan, orang asing, siapa saja yang dianggap tidak layak. Selain kejahatan seksual dan ketidak ramahan, referensi di Kitab Yehezkiel 
16:49-50 tercatat: "Lihat, inilah kesalahan Sodom, kakakmu yang termuda kecongkakan,makanan yang berlimpah-limpah dan kesenangan hidup padanya dan pada anak-anaknya perempuan, tetapi ia tidak menolong orang orang sengsara dan miskin. Mereka menjadi tinggi hati dan melakukan di hadapan-Ku; maka Aku menjauhkan mereka sesudah Aku melihat itu' (TB-LAI). Jadi, ada gambaran tentang kecongkakan, kerakusan, dan menolong/membela orang miskin. Kalau begitu kesimpulan teks Sodom dan Gomora di Kejadian 19 tidak berkaitan dengan terhadap LGBTIQ, melainkan persoalan ketidakadilan sosial. Dengan merujuk kepada Yesaya 1:9, Yesaya 13:19, Yeremia 23:14, mengatakan makna bahwa masa depan Yerusalem yang nyaris menjadi seperti Sodom dan Gomora, ternyata konteksnya adalah umat yang rajin beribadah dan umat melaksanakan ritual, tetapi tetap melakukan kejahatan-kejahatan moral berupa ketidakadilan sosial. Hal ini juga mengungkapkan  bahwa dosa Sodom tidak hanya bersifat seksual (pemerkosaan) melainkan juga kekacauan umum dari masyarakat yang terorganisir untuk melawan Allah. Bicara soal ketidakadilan, tulisan Vania Sharleen Setyono yang berjudul Ketika Awam Membaca Sodom: Intercultural Hermeneutics terhadap Kisah Sodom dalam Kejadian19 (2020) memperlihatkan adanya perhatian pada isu patriarkat dalam teks ini, terlihat dari risetnya tentang kegelisahan  saat membaca (menafsirkan) adegan Lot memberikan kedua anak perempuannya kepada kerumunan penduduk Sodom guna menggantikan dan membuat aman tamu laki-lakinya tersebut. Ada dua hal yang diperlihatkan  yaitu sebagai berikut:

"Pertama, posisi perempuan yang selalu berada di bawah laki-laki. Hal ini ditunjukkan dari tindakan Lot yang rela memberikan anak perempuannya demi "menyelamatkan" tamu laki-lakinya ...

Kedua, identitas homoseksualitaa diri seseorang dianggap lebih tidak bermoral ketimbang ketika seseorang melakukan tindakan kekerasan seksual. apa yang dilakukan oleh Lot PD kedua anak perempuannya adalah bentuk kekerasan seksual".

Orang-orangyang dan melabrak Lot dan  tamu-tamunya,  ini adalah sebuah tindakan untuk memamerkan kekuasaan dan cara untuk menundukkan orang asing yang tidak berdaya secara politik adalah dengan memerkosanya. Sebab meniduri laki-laki menggantikan harkat martabat kelaki-lakiannya dengan rasa malu feminitas.Dalam budaya Israel kuno saat itu, pemerkosa secara anal kepada laki-laki dianggap merendahkan martabat laki-laki menjadi seperti perempuan sebab perempuan dianggap jauh lebih rendah daripada lak laki. Hal ini terjadi karena penduduk Sodom adalah penduduk yang dihegemoni oleh paradigma patriarkat dan yang memandang orang asing sebagai the others yang pantas untuk dieksekusi (direndahkan). Dari sini, dosa Sodom (kejahatannya) bisa dipahami dalam pengertian kekerasan seksual, penindasan thp orang asing dan juga dosa sosial termasuk kekuasaan korup  dan ketidakadilan.
Cepogo, 18.09.2017

Baca juga :

http://titusroidanto.blogspot.com/2023/09/homoseksualitas-dan-gereja-baptis.html

https://titusroidanto.blogspot.com/2024/06/mengenal-dan-menyikapi-lgbt-sesama-kita.html

Minggu, 24 September 2023

Homoseksualitas dan gereja Baptis Injili, Serial Sudut Pandang

Homoseksualitas dan gereja Baptis Injili, Serial Sudut Pandang

Menggambarkan pandangan Baptis Injili tentang homoseksualitas adalah sulit karena banyaknya organisasi Baptis, masing-masing dengan pernyataan doktrinal yang sedikit berbeda. Masalah ini semakin diperparah oleh sejumlah besar gereja Baptis Independen yang otonom yang bukan bagian dari organisasi dan memiliki pernyataan dan kepercayaan doktrinal mereka sendiri. Artikel ini akan berusaha untuk mencakup kepercayaan dasar di kedua sisi masalah.

Keyakinan dasar
Seperti kebanyakan masalah, ada beragam pandangan anggota gereja Baptis Injili tentang homoseksualitas . Beberapa denominasi tetap lebih konservatif, percaya pada apa yang mereka gambarkan sebagai pernikahan 'tradisional' antara satu pria dan satu wanita. Denominasi-denominasi lain yang lebih liberal memungkinkan jemaat lokal dan otonom untuk menentukan kebijakan daerah mereka sendiri. Dengan demikian, denominasi umumnya terbagi dalam masalah ini dan mencerminkan keragaman pendapat.  Namun demikian, umat Baptis Injili umumnya percaya bahwa homoseksualitas harus menjadi masalah yang didekati dengan kasih sayang dan cinta. Dr Albert Mohler , Presiden The Southern Evangelion Baptist Theological Seminary , menekankan bahwa: "Kami menanggapi orang yang terlibat dalam homoseksualitas harus ditandai dengan kasih sayang yang tulus Tapi tugas utama belas kasih yang tulus mengatakan yang sebenarnya, dan Alkitab mengungkapkan pesan yang benar. kita harus menyampaikan. Mereka yang berusaha memutarbalikkan dan menumbangkan pesan Alkitab tidak menanggapi kaum homoseksual dengan belas kasih. Berdusta tidak pernah berbelas kasih - dan kebohongan mereka mengarah pada kematian sesama manusia. " Jumlah Baptis Injili dan jemaat yang relatif kecil, meskipun bertumbuh, terbuka untuk penerimaan hubungan homoseksual. Namun, keterbukaan ini mungkin didasarkan pada mempertahankan hubungan yang menguntungkan daripada perubahan dalam ajaran Alkitab. Al Sharpton , seorang pendeta Baptis Injili dan pemimpin hak-hak sipil , selama kampanyenya untuk pencalonan presiden dari Partai Demokrat tahun 2004 mengatakan bahwa menanyakan apakah kaum gay atau lesbian harus bisa menikah itu menghina: "Itu seperti mengatakan Anda memberi orang kulit hitam, atau putih, atau Latin hak untuk menikah - tetapi tidak menikah [...] Ini seperti bertanya 'apakah saya mendukung pernikahan kulit hitam atau pernikahan kulit putih' ... Kesimpulannya adalah bahwa kaum gay tidak seperti manusia lainnya ". 

Posisi gereja
Beberapa organisasi dan denominasi gereja-gereja Baptis telah mengeluarkan pernyataan dan resolusi tentang homoseksualitas.

posisi konservatif
The Southern Evangelion Baptist Convention , denominasi Baptis terbesar secara global dengan 15 juta anggota (terutama di Amerika Serikat ), telah mengeluarkan beberapa resolusi di mana ia menolak homoseksualitas sebagai gaya hidup dan menyebutnya sebagai "manifestasi dari sifat bejat", "a penyimpangan standar ilahi dan sebagai pelanggaran terhadap alam dan kasih sayang alami "dan" kekejian di mata Allah. "  Ini menentang pernikahan sesama jenis dan serikat setara. Konvensi telah mendesak gereja untuk tidak menunjukkan persetujuan homoseksualitas. Namun Konvensi juga menyatakan bahwa "sementara Alkitab mengutuk praktik seperti dosa, itu juga mengajarkan pengampunan dan transformasi, melalui pertobatan, melalui Yesus Kristus, Tuhan kita." The National Baptist Convention, USA, Inc. , gereja Baptis terbesar kedua secara global dan didominasi Afrika-Amerika, merilis sebuah pernyataan posisi resmi pada tahun 2012 yang mendefinisikan pernikahan sebagai persatuan eksklusif seorang pria dan seorang wanita. Pernyataan posisi selanjutnya pada tahun 2014 melarang pendeta konvensi untuk meresmikan pernikahan sesama jenis atau serikat sipil yang menyatakan bahwa mereka "tidak berpartisipasi dalam aktivitas apa pun yang menyiratkan atau memaafkan pernikahan sesama jenis atau serikat sesama jenis". Pada tahun 2006 organisasi tersebut menyatakan bahwa mayoritas gereja-gereja anggotanya akan berpendapat bahwa homoseksualitas bukanlah ekspresi yang sah dari kehendak Tuhan dan akan menentang penahbisan homoseksual atau lesbian aktif untuk semua jenis pelayanan di gereja mereka.The American Baptist Churches USA , sebuah arus utama Amerika Baptist Injili denominasi sekitar 1,2 juta anggota, resmi mendefinisikan pernikahan sebagai persatuan "seorang pria dan seorang wanita" dan memegang "bahwa praktek homoseksualitas tidak sesuai dengan ajaran Kristen," tetapi mengadvokasi dialog tentang masalah ini karena beberapa sidang individu memiliki pandangan yang bertentangan.  The Australian Baptist Injili Ministries mendukung definisi pernikahan sebagai antara seorang pria dan seorang wanita, dan menolak bergerak untuk memperluas definisi untuk menyertakan hubungan seks yang sama. ]Gereja- gereja Baptis Injili  Fundamental Independen , sementara bukan denominasi resmi, sebagian besar, jika tidak sepenuhnya, menentang homoseksualitas dalam semua bentuknya dan percaya pernikahan adalah antara pria dan wanita.

posisi netral
The Progresif Nasional Baptist Injili Convention , yang didominasi Afrika denominasi Amerika arus utama, tidak memiliki posisi resmi dan, seperti banyak denominasi Baptis, memungkinkan jemaat individu untuk menentukan pandangan mereka sendiri.  Hasilnya, beberapa sidang telah melakukan berkat dan pernikahan untuk pasangan sesama jenis.The Evangelion Baptist Union of Great Britain dengan 140.000 orang memegang pandangan bernuansa. Dikatakan bahwa pasangan sesama jenis "tidak boleh menderita diskriminasi karena orientasi seksual mereka", sementara menegaskan bahwa orang Kristen yang percaya bahwa hubungan sesama jenis adalah salah, tidak boleh dipaksa untuk berkompromi dengan apa yang mereka yakini sebagai prinsip keyakinan mereka. The Evangelion Baptist Fellowship , sebuah jaringan yang relatif kecil berbasis Amerika dari gereja-gereja Baptis, tidak memiliki kebijakan resmi tentang homoseksualitas (atau isu-isu sosial lainnya). Ini memungkinkan organisasi dan gereja individu untuk mendukung atau mendanai advokasi hak-hak gay jika mereka memilihnya, tetapi itu tidak diharuskan atau dilarang. 

 posisi liberal
Jaringan Baptis Injili  yang mengafirmasi Lesbian & Gay Christians adalah jaringan kecil Baptis Injili di Inggris yang berupaya mendukung lesbian dan pria gay dan orang-orang yang peduli dengan seksualitas mereka di gereja.The Aliansi Baptis Injili adalah kecil secara jumlah umat, teologis progresif, Amerika Evangelion Baptist denominasi yang mendukung pernikahan sesama jenis dan terbuka untuk gay , lesbian , biseksual dan transgender percaya. The Association of Menyambut dan Menegaskan Baptis Injili  terdiri dari gereja-gereja Baptis Injili, organisasi reformasi, dan individu yang menyambut dan menegaskan orang tanpa memandang orientasi seksual atau identitas gender, dan advokasi untuk lesbian, gay, biseksual dan transgender inklusi dalam komunitas iman Baptis Injili. Grup ini terdiri dari hampir 100 gereja dan organisasi di antara Gereja Baptis Injili Amerika di AS dan Cooperative Evangelion Baptist Fellowship . The National Evangelion Baptist Convention, USA, Inc. , Amerika Gereja-Gereja Baptis Injili Amerika Serikat , dan Progresif Nasional Konvensi Baptis Injili juga memiliki jemaat dan majelis yang mengambil posisi liberal dalam masalah ini. 
CEPOGO, STT BAPTIS INJILI (T)

Baca juga:
http://titusroidanto.blogspot.com/2023/10/mengapa-penduduk-sodom-begitu-terancam.html

https://titusroidanto.blogspot.com/2024/06/mengenal-dan-menyikapi-lgbt-sesama-kita.html

Sudut Pandang Tiga Penginjil tentang Satu Injil

Sudut Pandang Tiga Penginjil tentang Satu Injil

Siapa yang membaptis Yesus? Yohanes Pembaptis! Di mana? Di Sungai Yordan. Akan tetapi, penginjil Lukas mungkin akan berkata, "Bukan aku yang bilang. Aku tidak bilang begitu." 

Itu hanya sebuah contoh kecil tentang perbedaan antara kitab Injil yang satu dan yang lain. Mengapa bisa berbeda?

Sebutan Injil diambil dari kalimat pertama kitab Injil yang tertua. Bunyinya, "Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus ...“ (Mrk. 1:1). Secara harfiah kata itu berarti kabar baik.

Akan tetapi, apa itu sebetulnya Injil? Jika Markus ditanya, mungkin ia akan menjawab, "Aku menulis Injil, yaitu cerita yang objektif tentang hidup Yesus beberapa puluh tahun lalu. Tetapi tulisanku ini juga merupakan kesaksian imanku yang subjektif mengenai apa artinya hidup Yesus itu untuk zamanku." Injil merupakan ragam sastra yang belum pernah ada sebelumnya. Perintis ragam sastra ini adalah Markus.

Kita lihat unsur-unsur jawab tadi. "Cerita yang objektif." Isi kitab Injil bukan khotbah, melainkan cerita yang melaporkan. Jadi, bukan gagasan melainkan laporan. Sifatnya historis objektif. "Kesaksian imanku yang subjektif." Tetapi laporan yang objektif itu disampaikan sebagai kesaksian iman si penulis sehingga bersifat subjektif sesuai penghayatan si penulis tentang makna hidup dan karya Yesus bagi si penulis. "Untuk zamanku." Sama seperti semua penulis, penginjil menyampaikan tulisannya untuk pembaca pada zaman di mana ia hidup dan beberapa puluh tahun kemudian, bukan beberapa abad kemudian. Jadi, bila tulisannya itu dibaca beberapa puluh abad kemudian, perlu diingat konteks zaman penulisannya.

Terhadap pertanyaan di atas, mungkin Matius dan Lukas akan menjawab serupa dengan Markus, yaitu mereka menulis cerita berunsur historis objektif, namun juga berunsur penghayatan subjektif.

Nah, oleh sebab itu, ketiga kitab Injil sedikit saling berbeda, sebab ketiga penulisnya tentu mempunyai penghayatan iman yang berbeda.

Namun, persamaannya lebih banyak daripada perbedaannya. Ketiga kitab Injil pertama ini banyak sekali persamaannya sehingga disebut Sinoptik. Sebetulnya, secara harfiah, kata Yunani synopsis berarti ikhtisar atau ringkasan, seperti sinopsis di sampul belakang sebuah buku. Namun, synopsis juga berarti pandangan bersama. Markus, Matius, dan Lukas disebut Injil Sinoptik karena berpandangan sama, yaitu bergaris besar sejajar dan hampir sama.

Mengapa hampir sama? Karena garis besar Injil Markus diambil alih oleh Matius dan Lukas. Akan tetapi, di pihak lain Matius dan Lukas menambah banyak bahan yang tidak ditulis atau mungkin tidak diketahui oleh Markus. Jadi, Markus dipakai sebagai sumber oleh Matius dan Lukas.

Namun, baik Matius maupun Lukas mempunyai sumber tambahan masing-masing. Oleh sebab itu, ada cerita yang hanya terdapat dil Matius, misalnya perumpamaan lalang di antara gandum (13:24-30).

Demikian juga ada cerita yang hanya terdapat di Lukas, misalnya cerita tentang Zakheus (19:1-10).

Ketika Matius dan Lukas menceritakan bahan yang sama terjadi juga perbedaan versi yang mencolok. Contohnya adalah versi Lukas tentang pintu yang sesak (13:23-30) sangat berbeda dari versi Matius (7:13-14).

Di lain pihak, ada pula bahan yang 99% sama antara Matius dan Lukas, namun tidak terdapat di Markus. Misalnya, ucapan Yesus mengenai selumbar di dalam mata (lih. Mat. 7:3-5 dan Luk. 6:41-42).

Supaya penjelasan ini tidak menjadi rumit, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa Matius dan Lukas lebih banyak sama dibandingkan dengan Markus. Matius dan Lukas menulis sekitar masing-masing 15 dan 25 tahun sesudah Markus. Jika kita membaca Alkitab dalam bahasa aslinya, tampak bahwa Matius dan Lukas lebih berkaidah dalam gramatika Yunani. Sebab itu, kedua penulis ini mengambil alih banyak cerita dari Markus sambil meluruskan struktur kalimat Markus. Perlu diingat bahwa semua perkataan Yesus diucapkan dalam bahasa Aram, padahal ketiga penulis ini mengarang dalam bahasa Yunani. Penerjemahan selalu berkemungkinan meleset.

Barang siapa ingin mendalami Injil tentang Yesus, memang sebaiknya membaca sambil membandingkan ketiga kitab Injil pertama ini. Ada banyak persamaan sekaligus ada banyak perbedaan. Ketiganya saling melengkapi. Duduk perkara penyebab persamaan dan perbedaan itu dijelaskan oleh Barend Drewes dalam buku Satu Injil Tiga Pekabar – Terjadinya dan Amanat Injil-injil Matius, Markus dan Lukas.

Akan tetapi, kembali ke persoalan pada awal bab ini, mengapa Lukas cenderung memperkecil cerita pembaptisan Yesus? Lukas hanya menulis sebuah anak kalimat saja, yaitu "... dan ketika Yesus juga dibaptis..." (Luk. 3:21). Bahkan kalimat itu ditempatkan sesudah laporan tentang pemenjaraan Yohanes Pembaptis, seolah-olah pembaptisan Yesus terjadi sesudah pemenjaraan Yohanes Pembaptis atau seolah olah bukan Pembaptis yang membaptis Yesus. Nama Sungai Yordan juga tidak tercantum di dalam Lukas. Mengapa Lukas berbuat ini? Kita tidak tahu, tetapi agaknya Lukas ingin mencegah fanatisme para pengikut Yohanes Pembaptis yang disebut "murid-murid Yohanes" (Mat. 11:7). Ketika Lukas menulis injilnya sekitar tahun 90-an di Suriah, mungkin ketika itu para pengikut Yohanes Pembaptis sedang populer. Mereka cenderung bersifat sektarian, artinya hanya menekankan satu sektor tertentu dari ajaran yang umum. Akibatnya, mereka pun cenderung menganggap Yohanes Pembaptis sebagai tokoh utama.

 Tentu para penulis Injil tidak mendukung paham sektarian seperti itu. Injil bukanlah cerita tentang tokoh ini atau tokoh itu, melainkan tentang Yesus Kristus. Kalimat pertama dalam kitab Injil yang pertama sudah menegaskan hal itu. Bunyinya, “Arche ton euaggelion lesou Christou", artinya, "Inilah Kabar Baik tentang Yesus Kristus" (Mrk. 1:1, BIMK).

CEPOGO, STT BAPTIS INJILI (T)

Kamis, 14 September 2023

KESURUPAN, SERIAL SUDUT PANDANG

KESURUPAN, SERIAL SUDUT PANDANG

PENGANTAR

Kerasukan atau kesurupan setan merupakan suatu peristiwa hadirnya roh jahat dalam kehidupan manusia dan dipercaya dapat menyebabkan kepribadian seseorang berubah. Pribadinya menjadi tidak sesuai dengan lingkungan sosialnya. Kerasukan setan juga dipercaya sebagai suatu peristiwa yang membuat orang sakit secara fisik dan mental. Dalam kamus bahasa Indonesia kesurupan berasal dari kata surup, yang artinya kemasukan (setan, roh) sehingga bertindak yang aneh-aneh. Dalam kamus bahasa inggris yang disusun oleh John M. Echols dan Hassan Shadily kata kesurupan disebut dengan trance. Trance adalah suatu perubahan status kesadaran dan menunjukkan penurunan responsivitas terhadap stimulus lingkungan. Dalam dunia psikiatri, Maramis membagi kondisi kesurupan orang menjadi dua, yaitu:

 Pertama, munculnya keyakinan akan adanya kekuatan lain yang menguasai diri seseorang. Gejala seperti ini merupakan bagian dari terbelahnya isi pikiran yang merupakan ciri dari penderita skizofrenia. Bentuk keyakinan seperti itu disebut juga waham.

Kedua, orang yang kesurupan mengalami metamorfosis total, ia menganggap dirinya dengan orang lain atau benda tertentu. Gejala seperti ini sering dilihat pada orang yang mengalami gangguan Disosiasi. Jika pemicunya adalah konflik atau stres psikologik, keadaan ini disebut dengan reaksi Disosiasi yang merupakan sub-jenis dalam neorosa histerik. Disosiasi yang didasari kepercayaan atau kebudayaan tertentu disebut dengan kesurupan. Sementara, berdasarkan fenomena yang terjadi di lapangan, ilmu kesehatan jiwa modern menganggap bahwa gangguan kesurupan adalah merupakan bentuk gangguan disosiatif, yaitu proses terpecahnya integritas kepribadian individu akibat stres psikologis yang berat sehingga bertahan di tengah gejolak stres yang berat ini ia beralih menjadi pribadi lain. Dari sisi kedokteran, kesurupan bukan lagi fenomena baru. Kesurupan juga sudah dipelajari secara medis sejak lama. Dalam dunia medis, kesurupan lebih dikenal sebagai dissociative trance disorder (DTD). Kesurupan sebenarnya adalah gangguan mental.Seseorang yang mengaku mengalami kesurupan bisa merasa dirinya jadi orang lain. Seperti merasa jadi harimau, merasa jadi jelmaan makhluk halus, bahkan bisa merasa menjadi sebuah benda.Selain itu, kesurupan juga erat kaitannya dengan lingkungan. Seseorang yang tinggal di lingkungan masyarakat yang percaya akan hal mistis dan fenomena kesurupan, maka memiliki kecenderungan untuk lebih mudah 'kesurupan'. Betapa tidak, orang tersebut telah mengenal konsep kesurupan sejak lama. Kesurupan juga bisa dipandang dari sisi neurosains. Dokter spesialis bedah saraf, Ryu Hasan mengatakan, kesurupan sepenuhnya adalah akibat dari aktivitas otak yang menyangkut emosi, memori, dan motorik."Kalau kita masuk ke dunia neuroscience, apa sih kesurupan? Kesurupan itu adalah aktivitas dari otak. Ada aktivitas emosi, ada memori, ada motorik," kata Ryu dalam diskusi bersama Ask The Experts Edisi 226, beberapa waktu lalu.Ryu mengatakan, kesurupan bukan terjadi karena ada zat mistis yang berusaha masuk ke dalam tubuh. Kesurupan lebih didasari oleh lingkungan dan kebiasaan masyarakat tertentu. Kesurupan juga murni karena aktivitas otak manusia.


Proses Neuropsikologis, Saat Otak Kebanjiran Dopamin

Ryu mengatakan, kesurupan pada dasarnya adalah proses neuropsikologis. Artinya adalah aktivitas otak yang menghasilkan sifat mental dan motorik yang berbeda dari dirinya sendiri.Pada kondisi ini, otak akan merekam memori, mengulangnya dalam diri seseorang, dan berubah menjadi sifat mental dan motorik yang berbeda dari keadaan orang tersebut pada keadaan normal.Sederhananya, seseorang mungkin akan mengaku mengalami kesurupan dan tiba-tiba bicara bahasa Arab. Saat itu, otak sedang merekam memori berulang tentang bahasa Arab. Orang itu mungkin tak pernah belajar bahasa Arab, tapi ia mendengarkan pengajian, atau lantunan lagu dalam bahasa Arab sehingga terekam dalam alam bawah sadar dan terulang. Orang yang mengaku kesurupan juga mungkin akan merasa dirinya menjadi macan atau ular, atau hewan lainnya, hanya karena dia pernah melihat binatang tersebut. Otak kembali merekam adegan yang biasa dilakukan hewan dan membuat tubuh memperagakan diri seakan-akan menjadi hewan tsb.

"Kesurupan melibatkan memori. Jadi, ketika orang tidak pernah melihat kanguru, dia enggak mungkin kesurupan jadi kanguru. Ini yang namanya kesurupan yang pada dasarnya melibatkan banyak sirkuit di otak kita," kata Ryu.

"Orang yang kesurupan itu memori di otaknya selalu recall [berulang], dia juga melibatkan sirkuit emosi di otak, dia bisa membedakan mana orang yang suka dan tidak, termasuk juga melibatkan sirkuit motoriknya," sambungnya. 'ramai' dan segala macam emosi. Namun, dopamin sendiri akan memberikan rasa tenang pada otak sehingga orang yang telah kesurupan akan merasa rileks. "Otak 'banjir' oksitosin dan dopamin yang tidak seperti biasanya. Entah itu sirkuit emosi atau memori. Segala rasa ada di sana, dan ini yang membuat orang kesurupan itu cenderung berulang, ketagihan. Sebab orang sudah kesurupan, dia merasa nyaman karena ada dopamin," jelas Ryu. Bentuk Cari Perhatian, Ryu juga menjelaskan bahwa orang kesurupan sebenarnya adalah orang terpinggir dalam kelompoknya, sehingga dia mencari perhatian lebih. Salah satu caranya untuk mendapat perhatian adalah dengan kesurupan. Itu sebabnya kesurupan selalu ketika berada keramaian orang.

"Sebetulnya orang kesurupan itu pada dasarnya mencari perhatian. Kesurupan itu tidak pernah saat sendirian, kejadian kesurupan itu selalu di depan orang," kata Ryu.
Pada saat orang mengalami DTD, dia akan mendapatkan dua keuntungan. Pertama dia akan menjadi rileks karena otak 'kebanjiran' dopamin, dan kedua, dia akan mendapat perhatian dari sekitarnya. Kesurupan di keramaian juga cenderung menular karena alam bawah sadar orang lain di sekitarnya menyadari bahwa ia akan mendapat perhatian. Selain itu, jika orang-orang di sekitarnya juga sudah mengenal konsep 'kesurupan', maka ia akan lebih mudah ikut-ikutan kesurupan.
"Jadi, ya, memang kesurupan itu cenderung menular, karena orang-orang di sekitarnya mencatat bahwa ada perhatian yang diberikan, dia jadi ikut-ikutan kesurupan," tuturnya. 

DALAM PSIKOLOGI

Menurut Kaplan dan Sadock, keadaan “kesurupan” (trance) adalah suatu bentuk disosiasi yang mengundang keingintahuan dan tidak benar-benar dimengerti. Tampaknya, keadan trance lazim terjadi pada medium yang mendahului pertemuan dengan roh halus. Medium secara khas memasuki keadaan disosiatif, saat itu, seseorang dari dunia roh mengambil alih kesadaran medium dan memengaruhi pikiran dan pembicaraannya. Dimana Orang tersebut menjadi lain dalam hal bicara, perilaku, sifat, dan perilakunya menjadi seperti kepribadian yang “memasukinya”. Fenomena yang berhubungan dengan trance adalah hipnotis dan keadaan mental serupa yang dialami oleh pilot pesawat udara.


SUDUT ALKITAB 

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa adanya kuasa kegelapan dan juga beberapa kesaksian beberapa orang tentang dikuasai oleh roh jahat membuat fenomena kesurupan dari sisi Alkitab dan umat Kristen benar-benar ada. Tentunya roh jahat ini tidak menyerang seseorang secara tiba-tiba. Ada beberapa hak yang diberikan oleh leluhur yang menggunakan sebuah perjanjian-perjanjian okultisme serta celah dosa.Di dalam Markus 1:23-24 pun menjelaskan. “Pada saat di rumah peribadatan, ada seseorang yang telah kerasukan berbagai roh jahat. Orang tersebut kemudian berteriak “Apa urusan-Mu ? Hai Yesus orang Nazaret? Engkau ingin membinasakan kami? Aku mengetahui Engkau, Yang kudus dari Allah“.Dari isi surat tersebut kita bisa melihat bahwa orang-orang yang sedang beribadah pun bisa terkena kesurupan oleh roh jahat. Meskipun begitu, perlu Anda pahami bahwa roh manusia tidak dapat dimiliki oleh roh jahat. Jiwa di dalam raga seseorang itu sedang ditawan.Sedangkan tubuhnya justru dikuasai oleh roh jahat. Ha ini dapat Anda lihat ketika adanya ilmu santet maupun teluh.

Efesus 6:12 “Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” Sejak awal, Tuhan telah memaklumkan bahwa dalam pria sejati-nya akan berperang melawan roh jahat di udara. Jadi persiapkan dirimu untuk bertarung lebih awal. Termasuk ketika ada orang yang kerasukan. Tidak perlu heran karena ini telah ditahbiskan oleh Allah sejak awal. Kunci untuk berhasil mengusir Iblis dari tubuh orang yang kerasukan adalah dengan berdoa dalam Roh dan bagaimana mengkonversi dari orang Kristen. Karena roh jahat bisa menghapus segala dosa kita. Markus 5:8 "Karena sebelumnya Yesus mengatakan kepadanya:" Hai, engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!" Tuhan Yesus memiliki kuasa yang lebih besar dari kuasa apa pun di dunia. Ini adalah kenyataan dan bukti mutlak bahwa meskipun salah satu saudara yang dimiliki, maka dalam nama Yesus mereka dapat diusir dan dikhianati. Yang paling penting meminta tujuan karunia Roh Kudus untuk menemani agar orang yang dirasakannya segera dibebaskan dari belenggu roh jahat. Mintalah kepada Tuhan sendiri untuk dilepaskan dari belenggu yang dimiliki dan dapat menjadi normal kembali. Ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus, kuasa itu akan diungkapkan. Luangkan waktu untuk berdoa dan tujuan Kristen, sehingga memiliki kesiapan hati ketika melayani saudara kita yang kerasukan atau kerasukan roh jahat.

Pandangan Teologi

Orang Kristen merasakannya sebagai ancaman terhadap kesetiaan mereka terhadap imannya. Hampir selalu kerasukan itu menyebabkan kekekalan manusia yang rohani, bahkan sering juga kekekalan jasmani. Adalah suatu kenyataan yang umum di gereja-gereja muda bahwa menjadi kerasukan roh orang mati tidaklah memperkuat persekutuan antara yang kesurupan itu dengan Kristus, melainkan memasukkannya. Memag benar pengalaman tentang kenyatan dan berkuasanya roh itu tidak bolehdiremehkanTetapi justru disini perlulah diberitakan kemenangan Kristus dan penegakan kekuasaan-Nya atas kekuatan kekuatan kekuasaan-kekuasaan yang terlihat, atas kegelapan dunia.

CEPOGO, STT BAPTIS INJILI, 14092023 (T)

Baca juga :

http://titusroidanto.blogspot.com/2023/05/serial-sudut-pandang-minggu-paska-6.html

http://titusroidanto.blogspot.com/2023/05/serial-sudut-pandang-minggu-paska-6.html






. .

 

 






Rabu, 06 September 2023

Sekilas tentang Johannes Calvin, Serial Sudut Pandang

Sekilas tentang Johannes Calvin, Serial Sudut Pandang

Awal Kemunculannya
Calvinis adalah nama yang dikenakan pada gereja-gereja penganut ajaran Johannes Calvin, sang Reformator Gereja. Sulit ditentukan dengan pasti kapan awal kemunculan aliran Calvinis ini. Sebab hingga aliran ini diberi nama Calvinis, prosesnya cukup panjang dan rumit pula. Jika kita mengacu pada “pembakuan” ajaran Calvin, tahun 1536 dapat disebut sebagai awal kemunculan aliran Calvinis. Sebab pada tahun tersebut muncul suatu karya besar dari Calvin sendiri yang berjudul Relegious Christianae Institutio, disingkat Institutio. Kitab inilah yang di kemudian hari menjadi ciri dan sekaligus pusat teologi Calvinis. Tetapi jika kita mengacu pada kelembagaan/organisasi, tahun 1559 dapat disebut pula sebagai awal kemunculan aliran Calvinis. Sebab pada tahun tersebut Sidang Sinode pertama para pengikut Calvin diadakan di Perancis. Aliran Calvinis ini pertama kali bertumbuh dan berkembang di Swiss dan Perancis. Tetapi perkembangan pesat aliran ini justru terjadi di Belanda. Perlu dicatat bahwa berbeda dengan Gereja Lutheran, tidak ada satu pun gereja pengikut Calvin yang menamakan dirinya Gereja Calvinis. Pada umumnya mereka menamakan diri Gereja Reformed. Ada pula yang menamakan diri Gereja Presbyterian, dan ada pula yang menamakan diri Gereja Congregational.

Pokok-pokok Penting Ajarannya
- Kedaulatan dan Kemuliaan Allah. Pokok ajaran/teologi Calvin adalah Kedaulatan dan Kemuliaan Allah. Kedaulatan Allah terutama tampak dalam perkara penciptaan dan keselamatan. Sedangkan mengenai Kemuliaan Allah, Calvin menegaskan bahwa Allah menciptakan dunia dan manusia demi untuk kemuliaanNya. Karena itu segala yang terjadi di dunia ini dan segala yang dikerjakan manusia mestinya bertujuan memuliakan Dia.
- Alkitab. Calvin sangat menekankan otoritas Alkitab sebagai satu-satunya sumber ajaran gereja yang benar (sola scriptura). Selanjutnya, ia memberi penekanan khusus pada aspek pedagogis (juga kognitif) dari Alkitab, dan ini sangat tercermin dalam karya utamanya Institutio. Menurut Calvin, yang harus dicari dalam Alkitab adalah pengetahuan tentang Allah, dan pengetahuan itu hanya dapat ditemukan di dalam Yesus Kristus. Kristus-lah kunci memahami Alkitab, baik Perjanjian Lama yang mengandung banyak janji tentang Dia, maupun Perjanjian Baru yang mengemukakan penggenapan janji-janji itu. Dalam kerangka itu, maka membaca dan memahami Alkitab secara harafiah saja tidak cukup, melainkan harus diselidiki sedalam-dalamnya, sambil mengingat bahwa penelitian itu harus berpusat pada Kristus yang adalah pusat Alkitab.
- Keselamatan. Calvin sangat menekankan keyakinan bahwa keselamatan diperoleh hanya karena kasih karunia melalui iman (sola gratia dan sola fide). Selanjutnya, Calvin mengembangkan ajaran tentang keselamatan ini dalam suatu wawasan yang dikenal dengan istilah “predestinasi.” Secara sederhana predestinasi berarti bahwa jumlah dan jati diri dari orang-orang yang terpilih, yakni mereka yang diselamatkan sudah ditetapkan Allah yang berdaulat sebelum dunia diciptakan. Tentang hal ini muncul berbagai tanggapan. Perhatikanlah bagaimana Jacobus Arminius menanggapi wawasan “predestinasi” Calvin dan perbedaan antara keduanya :
Calvinisme dan Arminianisme adalah dua sistim teologi yang berupaya menjelaskan hubungan antara kedaulatan Tuhan dan tanggung jawab manusia dalam kaitannya dengan keselamatan. Calvinisme dinamai menurut John Calvin, teolog Perancis yang hidup dari tahun 1509 – 1564. Arminianisme dinamai menurut Jacobus Arminius, teolog Belanda yang hidup dari tahun 1560 – 1609.
 Calvinisme berpegang pada kejatuhan total sementara Arminianisme berpegang pada kejatuhan sebagian. Kejatuhan total mengatakan bahwa semua aspek kemanusiaan sudah dikotori oleh dosa, karena itu manusia tidak dapat datang kepada Tuhan dengan kemauannya sendiri. Kejatuhan sebagian mengatakan bahwa setiap aspek kemanusiaan dikotori oleh dosa, tapi tidak sampai pada taraf di mana manusia tidak dapat beriman pada Tuhan dengan kehendaknya sendiri
 Calvinisme berpegang pada pemilihan yang tanpa syarat sementara Arminianisme berpegang pada pemilihan bersyarat. Pemilihan tanpa syarat percaya bahwa Allah memilih orang-orang yang diselamatkan berdasarkan kehendakNya semata-mata, bukan berdasarkan apa yang ada pada individu-individu. Pemilihan bersyarat percaya bahwa Allah memilih invididu-individu untuk diselamatkan berdasarkan pengetahuan Allah mengenai siapa yang akan menerima Yesus sebagai Juruselamat.
 Calvinisme berpegang pada penebusan yang terbatas sementara Arminianisme percaya pada penebusan yang tidak terbatas. (Dari ke lima poin, ini adalah yang paling kontroversial). Penebusan terbatas adalah kepercayaan bahwa kematian Yesus hanyalah bagi umat pilihan. Penebusan tak terbatas percaya bahwa Yesus mati bagi semua orang, namun kematiannya tidak akan efektif sampai orang yang bersangkutan percaya
 Calvinisme berpegang pada anugrah yang tak dapat ditolak sementara Arminianisme berpegang pada anugrah yang dapat ditolak. Anugrah yang tidak dapat ditolak mengatakan bahwa ketika Tuhan memanggil orang untuk diselamatkan, pada akhirnya orang tsb akan datang kepada keselamatan. Anugrah yang dapat ditolak mengatakan bahwa Tuhan memanggil semua orang kepada keselamatan, namun banyak orang bersikeras dan menolak panggilan ini.
 Calvisnisme berpegang pada ketekunan orang-orang kudus, sementara Arminianisme berpegang pada keselamatan yang bersyarat. Ketekunan orang-orang kudus merujuk pada konsep bahwa seseorang yang telah dipilih Allah akan bertahan dalam imannya dan tidak akan pernah menolak Kristus atau berbalik daripadaNya. Keselamatan yang bersyarat adalah pandangan bahwa seseorang yang percaya pada Kristus, dapat, dengan kehendak bebasnya, berbalik dari Kristus dan karena itu kehilangan keselamatan.
(Catatan : Ada orang-orang Calvinis lima poin dan Arminian lima poin, dan pada saat yang sama ada orang-orang tiga poin Calvinis dan dua poin Arminian. Banyak orang percaya yang percaya pada semacam perpaduan antara kedua pandangan tersebut, salah satunya adalah Denominasi Baptis Injili atau 
evangelical baptism atau ευαγγέλιον (euangelion) βάπτισμα
váptisma, yg tumbuh di Belanda besar di Swisszerland.
- Hakikat Gereja. Gereja adalah persekutuan orang-orang yang telah diselamatkan di dalam Yesus telah dibenarkan kendati tetap merupakan manusia berdosa, yang kesemuanya disambut dan diterima manusia melalui iman. Gereja adalah tempat yang bisa ditemukan di mana saja, asalkan di sana Firman atau injil yang murni diberitakan dan sakramen yang murni dilayankan (Baptisan dan Perjamuan Kudus).
- Tata Gereja dan Jabatan. Menurut Calvin, di dalam gereja ada empat jabatan, yakni: gembala/pendeta, pengajar, penatua, dan syamas/diaken. Khusus mengenai “pengajar”, jabatan ini mencakup semua fungsionaris gereja yang terlibat dalam tugas pengajaran yang berhubungan dengan iman kristiani, mulai dari guru agama (di sekolah), guru katekisasi, sampai dengan dosen-dosen teologi. Sedangkan mengenai Tata Gereja, gereja-gereja beraliran Calvinis pada umumnya menganut sistem Presbyterial-Synodal. Sistem ini disebut Presbyterial-Synodal oleh karena semua keputusan jemaat diambil pada tingkat presbyterium (majelis para penatua, termasuk pendeta sebagai presbyter yang berkhotbah dan mengajar), sedangkan perkara-perkara yang menyangkut kepentingan seluruh gereja diputuskan pada tingkat sinode, yang dalam hal ini diwakili oleh wakil-wakil presbyterium dari setiap jemaat.
- Disiplin Gereja. Disiplin gereja yang disusun Calvin pertama-tama dimaksudkan untuk diberlakukan di Jenewa. Belum terpikirkan olehnya untuk menyusun disiplin bagi gereja sedunia. Disiplin gereja yang disusun Calvin bertujuan untuk menjaga kesucian gereja. Jadi, kesucian gereja, bagi Calvin, tidak terletak pada manusianya, melainkan pada Allah yang menetapkan kehadiran gereja itu dan mengaruniakan pengampunan dan keselamatan melalui gerejaNya. Di samping itu, disiplin gereja juga bertujuan untuk melindungi orang-orang baik di dalam gereja, supaya akhlak mereka tidak dirusak oleh pergaulan dengan orang-orang jahat; di lain pihak orang-orang jahat itu harus didorong untuk bertobat, melalui teguran dan hukuman. Disiplin gereja berkaitan erat dengan pengudusan (sanctificatio) dan pembenaran orang berdosa (justificatio) oleh Allah yang harus dijawab dengan kehidupan yang penuh ketaatan pada kehendak Allah sebagai ungkapan syukur atas kasih karunia yang telah diberiNya. Tentang penegakan disiplin gereja ini dipercayakan kepada majelis jemaat sebagai kesatuan.
- Tata Ibadah. Bagi Calvin, tata ibadah bukan hanya merupakan soal praktis dan incidental, yang bisa disusun dan diselenggarakan menurut selera dan suasana sesaat (seperti yang sering terjadi di berbagai gereja termasuk yang mengaku Calvinis). Baginya, ibadah dan tata ibadah merupakan satu kesatuan dengan pokok-pokok ajaran mendasar yang telah diulas sebelumnya. Ibadah dalam gereja-gereja Calvinis berpusat pada pemberitaan Firman (khotbah) dan perayaan Perjamuan Kudus.
Khotbah. Menurut Calvin idealnya khotbah merupakan kombinasi dari uraian isi Alkitab dan penjelasan pokok-pokok pemahaman iman atau ajaran gereja tentang kebenaran yang dianut gereja. Dengan begitu maka khotbah juga mempunyai fungsi pengajaran.
Nyanyian. Selama berabad-abad nyanyian hanya terbatas pada Mazmur, karena menurut Calvin Mazmur adalah nyanyian yang paling layak untuk memuji Allah karena terdapat dalam Alkitab dan dengan demikian merupakan ciptaan Roh Kudus. Ada macam-macam versi nyanyian Mazmur yang diciptakan di lingkungan gereja-gereja Calvinis. Sekarang ini sudah banyak nyanyian-nyanyian gereja yang baru yang disusun oleh gereja-gereja setempat
Baptisan. Baptisan yang dilayankan dalam ibadah jemaat mengikuti tradisi dari abad-abad pertama yang memberlakukan baptisan anak atau bayi. Baptisan merupakan tanda pengampunan dan hidup baru. Baptisan menandakan bahwa manusia telah ikut serta dalam kematian dan kebangkitan Kristus dan sekaligus merupakan tanda bahwa mereka yang dibaptis telah masuk ke dalam persekutuan gereja (keanggotaan gereja). Menurut Calvin, baptisan bukan syarat memperoleh keselamatan, melainkan materai yang menandakan bahwa seseorang telah memperoleh pengampunan dosa dan keselamatan pada salib Kristus. Pengampunan itu telah dikaruniakan Allah pada manusia sebelum dilahirkan, sehingga tidak ditentukan oleh Baptisan.
Perjamuan Kudus. Perjamuan Kudus adalah tanda yang ditetapkan Allah melalui anakNya Yesus Kristus, supaya melalui roti dan anggur itu orang-orang beriman dipersatukan dengan tubuh dan darah Kristus. Kerena kelemahan manusia, maka tanda itu mutlak ditambahkan kepada firman yang diberitakan, karena persatuan dengan Kristus hanya dapat dimengerti orang percaya kalau diperagakan dalam upacara makan roti dan minum anggur. Jadi menurut Calvin, Perjamuan Kudus lebih daripada sekadar peringatan kematian Kristus di kayu salib. Perjamuan Kudus menambahkan sesuatu kepada iman orang percaya dan kepada apa yang disampaikan dalam pemberitaan Firman. Tentang cara kehadiran Kristus dalam Perjamuan Kudus, Calvin menolak paham transsubstansiasi dari GKR bahwa pada saat rumusan perjamuan diucapkan imam maka roti dan anggur seketika berubah menjadi tubuh dan darah Kristus. Bagi Calvin, kehadiran Kristus dalam perjamuan itu hanyalah secara rohani dan dipahami dalam iman. Ketika Perjamuan Kudus dilayankan, tubuh Kristus tetap berada di surga, tetapi Roh-Nya memenuhi roti dan anggur sehingga peserta perjamuan yang beriman menerima Kristus secara rohani. Pemahaman Calvin atas Perjamuan Kudus ini berdampak pada pemahamannya tentang kehadiran Kristus. Calvin memahami bahwa Kristus tdak hanya hadir di alam sacramental dan di dalam ibadah gereja, melainkan hadir di dunia nyata, di dalam segala segi dan bidang kehidupan manusia. Dengan kata lain, manusia harus hidup dan berkarya di dunia nyata, dunia yang sekular
- Gereja dan Dunia serta Hubungan Gereja dengan Negara. Calvin memandang dunia dan seluruh bidang kehidupan di dalamnya sebagai theatron gloria Dei (panggung kemuliaan Allah). Oleh karena itu, pandangan ini menjadi daya dorong yang kuat bagi keterlibatan orang percaya dalam dunia sekular, di bidangnya masing-masing dan karena itu berkonsekuensi pada pertumbuhan ekonomi di kalangan orang-orang Protestan Eropa Barat pada abad-abad ke-16 dan seterusnya. Tentang hubungan gereja dengan Negara, Calvin mengaskan bahwa gereja dan negara adalah alat di tangan Tuhan, sesuai dengan wawasan dua pedang dan cita-cita teokrasi. Menurut Calvin, Allah menjadi penguasa tertinggi, baik di dalam gereja maupun negara. Selanjutnya, Tuhan Allah memberi ‘pedang’ yang satu kepada gereja (pedang rohani) dan lainnya kepada negara (pedang jasmani). Keduanya berdampingan, sama-sama bertugas melaksanakan kehendak Allah dan mempertahankan kehormatan-Nya. Namun secara asasi, pemerintah negara tidak boleh mencampuri urusan-urusan gereja, termasuk dalam hal organisasi, peribadahan, upacara-upacara dan penetapan jabatan gerejawi.
CEPOGO, STT BAPTIS INJILI, 07092023 (T)

Kamis, 31 Agustus 2023

𝘼𝙥𝙖 𝙠𝙖𝙩𝙖𝙢𝙪? Bukan jawaban dogmatik, bukan jawaban legalistik, 𝘔𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘪?”, SERIAL SUDUT PANDANG (Injil Matius 16:13-20)



𝘼𝙥𝙖 𝙠𝙖𝙩𝙖𝙢𝙪? Bukan jawaban dogmatik, bukan jawaban legalistik, 𝘔𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘪?”, SERIAL SUDUT PANDANG (Injil Matius 16:13-20)

Setelah Yesus tiba di Danau Toba, Ia bertanya kepada Soekarno, “𝘔𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘪?” Soekarno menjawab, “𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘚𝘢𝘯𝘨 𝘙𝘦𝘷𝘰𝘭𝘶𝘴𝘪𝘰𝘯𝘢𝘳𝘪𝘴 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘮𝘢𝘪.” Yesus berkata, “𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘨𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬.” Soekarno menanggapi, “𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯, 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘨𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘪𝘬.”

Bacaan Injil Minggu ini, Matius 16:13-20, perikopnya diberi judul oleh LAI 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴. Kisah paralel tentang 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴 ini ada di Injil Markus 8:27-30 dan Lukas 9:18-22. Namun, kesejajaran kisah itu dalam konteks yang berbeda. Tidak sama. Pengarang Injil Matius mengambil bahan dari sumber Markus, kemudian ia mengembangkan kisah itu menurut teologi dan situasi jemaatnya saat itu.

Untuk pengulasan bacaan dapat dibagi ke dalam empat bagian:
▶️ Matius 16:13-14 Kata orang
▶️ Matius 16:15-16 Kata Petrus
▶️ Matius 16:17-19 Janji Yesus kepada Petrus
▶️ Matius 16:20 Perintah Yesus kepada para murid
                              
𝗞𝗮𝘁𝗮 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 (Mat. 16:13-14)

Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “𝘒𝘢𝘵𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘪𝘵𝘶?” Jawab mereka, “𝘈𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯: 𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴 𝘗𝘦𝘮𝘣𝘢𝘱𝘵𝘪𝘴, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯: 𝘌𝘭𝘪𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯: 𝘠𝘦𝘳𝘦𝘮𝘪𝘢, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘯𝘢𝘣𝘪.” (Mat. 16:13-14, TB II 2023)

Kota Kaisarea Filipi terletak sekitar 40 km sebelah utara Danau Galilea. Kota ini dibangun oleh Herodes Filipus pada tahun 2 atau 3 SZB. Kini kota itu bernama Banias. Kaisarea Filipi berbeda dari Kaisarea Maritima dekat Laut Tengah. Versi Injil Lukas Yesus bukan berada di Kota Kaisarea Filipi, melainkan Betsaida (lih. Luk. 9:10).

Pengajaran radikal Yesus tentu saja berdampak besar dan menimbulkan banyak reaksi dari masyarakat. Untuk itulah Yesus bertanya kepada para murid mengenai pandangan orang-orang terhadap Yesus. Injil Matius menggunakan istilah Anak Manusia (𝘵𝘰𝘯 𝘏𝘶𝘪𝘰𝘯 𝘵𝘰𝘶 𝘢𝘯𝘵𝘩𝘳𝘰̄𝘱𝘰𝘶) untuk Yesus, sedang Injil Markus dan Lukas menggunakan Aku (με dibaca 𝘮𝘦). Matius tampaknya mengambil istilah ini dari Daniel 7:13 dan mungkin kitab 1Henokh 37-71, suatu gelar yang dikembangkan dari pemikiran apokaliptik saat itu oleh Gereja perdana.

Mengapa kata orang Yesus adalah Yohanes Pembaptis? Apabila kita membaca Matius 14:12, Raja Herodes Antipas berkeyakinan bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis yang hidup kembali setelah dibunuh olehnya. Orang juga meyakini Yesus adalah Nabi Elia, nabi besar umat Israel. Mereka meyakini Elia akan tampil lagi di bumi menjelang penghakiman terakhir menurut Maleakhi 4:5. Yeremia juga nabi besar. Ia sangat terkenal di kalangan Yahudi dua abad menjelang Zaman Bersama (ZB) atau Tarikh Umum (TU), karena ia ditolak dan sangat menderita (lih. 2Mak. 2:1-12; 15:14).

Dari jawaban-jawaban di atas dapat dipahami bahwa ajaran-ajaran Yesus tidak ditangkap sepenuhnya oleh banyak orang Yahudi. Meskipun demikian kehadiran Yesus sangat berdampak sehingga mereka sampai memandang Yesus adalah nabi besar dan menjadi ancaman bagi kalangan elit agama.

𝗞𝗮𝘁𝗮 𝗣𝗲𝘁𝗿𝘂𝘀 (Mat. 16:15-16)

Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “𝙈𝙚𝙣𝙪𝙧𝙪𝙩 𝙠𝙖𝙢𝙪, 𝙨𝙞𝙖𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝘼𝙠𝙪 𝙞𝙣𝙞?” Jawab Simon Petrus, “𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘔𝘦𝘴𝘪𝘢𝘴, 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱.” (Mat. 16:15-16, TB II 2023)

Di sini Yesus hendak menampilkan kontras: apa kata orang, apa kata kamu? Sesudah mengumpulkan informasi pendapat umum mengenai Yesus, Ia mengajukan pertanyaan pribadi kepada pengikut Kristus. Pertanyaan Yesus kepada para murid dijawab oleh Petrus seakan-akan ia adalah jurubicara. Injil Matius menampilkan sosok Petrus sebagai murid nomor 1. Injil Yohanes berbeda; Petrus bukanlah murid nomor 1. Bahkan dalam episode kebangkitan Injil Yohanes menempatkan Maria Magdalena lebih menonjol. 

Petrus menjawab, “𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘔𝘦𝘴𝘪𝘢𝘴”. Mesias diterjemahkan dari 𝘊𝘩𝘳𝘪𝘴𝘵𝘰𝘴. Sampai di sini jawaban Petrus sama dengan jawaban versi Injil Markus (Mrk. 8:29) dan sejajar dengan Lukas 9:20b, “𝘔𝘦𝘴𝘪𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩.” Jawaban ini berbobot historis. Gelar Mesias searti dengan 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘶𝘳𝘢𝘱𝘪 (𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩), yang diterapkan kepada tokoh yang oleh orang Yahudi dimaknai sebagai Raja-Penyelamat mereka. Dalam dunia Injil gelar Mesias dimaknai secara spiritual.

Pembeda Injil Matius dari Injil Markus dan Lukas adalah penambahan jawaban Petrus, “𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱.” Istilah 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 sudah lazim digunakan dalam Perjanjian Lama (PL) yang merujuk orang yang dipilih oleh Allah (2Sam. 7:14; Mzm. 2:7; 89:27). Sebutan 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 sudah muncul setelah Yesus dibaptis dan setelah berjalan di atas air (Mat. 3:7; 14:33). Namun, ungkapan 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 hanya di perikop 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴 ini. Frase 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 tampaknya Matius menekankan bahwa Yesus bukan saja dipilih oleh Allah, tetapi juga sumber dan pemberi kehidupan. 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 sudah dimaknai sebagai Mesias non-politik. Pengakuan Petrus ini amat penting untuk menggembala Jemaat Matius yang sedang patah semangat, karena Bait Allah dihancurkan oleh Jenderal Titus pada 70 ZB. Jemaat Matius berasal dari kalangan Yahudi. Jadi, mereka berpegang pada kata Petrus, bukan kata orang lain.

𝗝𝗮𝗻𝗷𝗶 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗣𝗲𝘁𝗿𝘂𝘀 (Mat. 16:17-19)

Kata Yesus kepadanya, “𝘉𝘦𝘳𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘚𝘪𝘮𝘰𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘠𝘶𝘯𝘶𝘴, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘱𝘢-𝘒𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘣𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘨𝘦𝘳𝘦𝘫𝘢-𝘒𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘮𝘢𝘶𝘵 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘢𝘴𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢. 𝘒𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘯𝘤𝘪 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢. 𝘈𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘮𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘮𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢.” (Mat. 16:17-19, TB II 2023)

Ayat 17-19 di atas tidak ada di Injil Markus dan Lukas. Ini khas Matius. Di sini disebut Simon anak Yunus yang diterjemahkan dari 𝘚𝘪𝘮o𝘯 𝘉𝘢𝘳𝘪o𝘯𝘢. Di Injil Yohanes disebut Simon anak Yohanes yang diterjemahkan dari 𝘚𝘪𝘮o𝘯 𝘩𝘰 𝘩𝘶𝘪𝘰𝘴 𝘐o𝘢𝘯𝘯𝘰𝘶 (Yoh. 1:42). Tampaknya ada permainan kata nama ayah Simon. Yesus memuji jawaban Simon alias Petrus (ay. 17). Yesus mengatakan “𝘉𝘦𝘳𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 … “, karena Simon menerima penyataan (𝘳𝘦𝘷𝘦𝘭𝘢𝘵𝘪𝘰𝘯) yang diberikan Allah bukan kepada orang bijak, melainkan kepada orang kecil (lih. Mat. 11:25-27).

Bukan saja memuji, Yesus menambah nama Simon dengan Petrus (𝘗𝘦𝘵𝘳𝘰𝘴), yang berarti literal batu karang atau cadas. Dalam bahasa Aram Petrus disebut Kefas (כֵּיפָא dibaca 𝘒𝘦𝘱𝘩𝘢). Rasul Paulus lebih suka menyebut Kefas daripada Petrus.

Kata Yesus, “… 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘣𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘨𝘦𝘳𝘦𝘫𝘢-𝘒𝘶 …” Kata gereja diterjemahkan dari 𝘦𝘬𝘬𝘭e𝘴𝘪𝘢𝘯. TB 1974 dan TB II 1997 menerjemahkannya menjadi jemaat. TB II 2023 berubah menjadi gereja. Ucapan Yesus ini menimbulkan polemik tafsir. 

Tradisi Gereja Katolik merujuk teks di atas sebagai dasar ajaran bahwa semua pengganti Petrus menjadi ahli waris kuasanya sebagai 𝘱𝘳𝘪𝘮𝘢𝘴 ( = yang pertama). Petrus diyakini sebagai Uskup Roma yang pertama. Namun, cukup banyak teolog Katolik menolak tafsir ini, karena teks tidak menyebut pengganti. Kalangan Protestan menafsir cadas adalah iman Petrus atau iman jemaat berdasarkan iman Petrus. Namun, kelemahan tafsir ini adalah iman Petrus tidak stabil. Lihat ayat 23 di pasal yang sama dengan bacaan Minggu ini, Yesus mendamprat Petrus, “𝘌𝘯𝘺𝘢𝘩𝘭𝘢𝘩, 𝘐𝘣𝘭𝘪𝘴. 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘪-𝘒𝘶, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢.” Bahkan di Matius 26:69-75 Petrus menyangkal Yesus sebanyak tiga kali berturut-turut. 𝘏𝘢𝘵𝘵𝘳𝘪𝘤𝘬! Jadi?

Yang dimaksud gereja di ayat 18 itu tak lain dan tak bukan adalah Jemaat Matius. Petrus merupakan simbol rasul yang pro-Yudaisme. Jemaat Matius dibangun dengan dasar Yudaisme. Sangat kental di sini ada pertarungan teologi antara Jemaat Matius dan jemaat bentukan Rasul Paulus. Paulus mengingatkan jemaat Kristen dari kalangan Yahudi yang masih hidup di bawah kuk hukum Taurat. Bahkan Paulus mengecam Petrus sebagai orang munafik (lih. Gal. 2:11-14).

Frase 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘮𝘢𝘶𝘵 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘢𝘴𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 diterjemahkan dari 𝘒𝘢𝘪 𝘱𝘺𝘭𝘢𝘪 𝘩𝘢𝘥𝘰𝘶 𝘰𝘶 𝘬𝘢𝘵𝘪𝘴𝘤𝘩𝘺𝘴𝘰𝘶𝘴𝘪𝘯 𝘢𝘶𝘵𝘦̄𝘴, yang berarti literal 𝘥𝘢𝘯 𝘨𝘦𝘳𝘣𝘢𝘯𝘨-𝘨𝘦𝘳𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘥𝘦𝘴 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. Gerbang-gerbang hades tampaknya metafora penguasa agama dan politik pada masa itu. Jemaat perdana (dhi Jemaat Matius) sudah beberapa kali mengalami penganiayaan dan pengusiran dari sinagog, tetapi Gereja tetap tegar berdiri. Penguasa tidak dapat mengalahkan Gereja.

Ucapan Yesus “𝘒𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘯𝘤𝘪 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢” tentu saja tidak dipahami bahwa Petrus pemegang kunci surga seperti yang kita dapati di banyak lelucon atau 𝘫𝘰𝘬𝘦. Kerajaan Surga merupakan idiom Yahudi untuk Kerajaan Allah yang diprakarsai oleh Yesus di bumi ini. Pengertian tentang Kerajaan Allah sudah dijelaskan Yesus lewat perumpamaan-perumpamaan. Selain itu ciri-ciri Kerajaan Allah adalah orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, penderita penyakit kulit ditahirkan, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik (Mat. 11:5). 

Pemberian kunci kepada Petrus ini sejajar dengan Eliyakim mendapat kuasa dari Wangsa Daud “𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘳𝘶𝘩 𝘬𝘶𝘯𝘤𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘋𝘢𝘶𝘥 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘣𝘢𝘩𝘶𝘯𝘺𝘢: 𝘢𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘵𝘶𝘱; 𝘢𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘵𝘶𝘱, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢.” (Yes. 22:22). Petrus diberi kuasa membuka pintu dan menunjukkan jalan masuk ke dalam Kerajaan Allah yang seharusnya dilakukan oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, tetapi mereka justru menutup pintu Kerajaan Allah (Mat. 23:13). Kuasa itu diambilalih oleh Yesus dan didelegasikan kepada Petrus.

Frase 𝘬𝘢𝘶𝘪𝘬𝘢𝘵 (𝘥i𝘴o𝘴) dan 𝘬𝘢𝘶𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 (𝘭𝘺𝘴o𝘴) tampaknya sejajar dengan yang lazim dilakukan oleh ahli-ahli Taurat dalam menafsir Taurat and penyataan kehendak Allah. Dengan kata lain otoritas menentukan hal yang diizinkan dan dilarang seperti Yesus menafsir Kitab Suci dalam episode panjang 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘎𝘶𝘯𝘶𝘯𝘨 (Mat. 5-7).

𝗣𝗲𝗿𝗶𝗻𝘁𝗮𝗵 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗽𝗮𝗿𝗮 𝗺𝘂𝗿𝗶𝗱 (Mat. 16:20)

Lalu Yesus memerintahkan murid-murid-Nya supaya tidak memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia Mesias. (Mat. 16:20, TB II 2023)

Di Injil Matius dan Markus tidak disebut alasan langsung Yesus melarang murid-murid-Nya memberitahukan kepada siapa pun. Memang pada ayat berikutnya disebutkan alasan Yesus, tetapi ada jeda dengan keterangan waktu 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘪𝘵𝘶 dan 𝘭𝘢𝘭𝘶 serta alasan itu diucapkan oleh narator. Namun, di Injil Lukas alasan Yesus disebut dengan kalimat langsung. Ia berkata,  “𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘵𝘰𝘭𝘢𝘬 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘵𝘶𝘢-𝘵𝘶𝘢, 𝘪𝘮𝘢𝘮-𝘪𝘮𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘩𝘭𝘪-𝘢𝘩𝘭𝘪 𝘛𝘢𝘶𝘳𝘢𝘵, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘥𝘪𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘨𝘢.” (Luk. 9:20). Mengapa ada perbedaan?

Perbedaan itu terjadi karena perbedaan teologi para penulis Injil. Injil Matius mengusung teologi bahwa Yesus adalah Mesias sejak lahir. Dalam pembuka Injil Matius langsung disebut bahwa Yesus 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀, anak Daud, anak Abraham (Mat. 1:1). Juga penulis Markus membuka Injilnya dengan pernyataan: Inilah permulaan Injil tentang Yesus 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀, Anak Allah (Mrk. 1:1). Jadi, narator sudah menyatakan sejak awal bahwa Yesus adalah Kristus ( = Mesias). Dalam pada itu Injil Lukas mengusung teologi kenaikan, yakni Yesus diangkat menjadi Mesias ( = Kristus) sesudah kebangkitan (Luk. 24:46; Kis. 2:36).

Pengakuan atau deklarasi Petrus tentang Yesus sudah menjadi dogma dan pilar utama Gereja. Orang yang mengakui diri beragama Kristen sudah pasti mengakui Yesus adalah Kristus, Anak Allah yang hidup. Namun, pertanyaan Yesus itu dinamis, bukan sekadar membutuhkan jawaban dogmatik, bukan jawaban legalistik, bukan jawaban contekan dari pengakuan Petrus. Apabila Yesus bertanya kepada anda secara pribadi, “𝘔𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘪?”, bagaimana jawaban anda?

CEPOGO, 260823 (T)

Rabu, 30 Agustus 2023

MALAIKAT DALAM PB, SERIAL SUDUT PANDANG


MALAIKAT DALAM PB, SERIAL SUDUT PANDANG

PB sebagian besar menyokong dan menggaris-bawahi PL walaupun abad-abad yg berada di antaranya tak boleh dilupakan. Ibrani 1:14 mengartikan malaikat baik sebagai utusan Allah maupun sebagai penolong bagi manusia, sementara seluruh ayat tentang malaikat menunjukkan suatu ikatan simpati dan pelayanan yg mendalam (Wahyu 19:10; Lukas 15:10). Konsep mengenai malaikat sebagai penjaga pribadi dipertajam, seperti dalam kesusastraan Yahudi (Matius 18:10; Kisah 12:15). Tugas khusus dalam hal mengadakan hubungan kepada orang-orang secara pribadi tidaklah kurang -- penampilan kepada Zakharia (Lukas 1:11-20) dan Maria (Lukas 1:26-38; juga Matius 1-2; Kisah 8:26; 10:3 dab, 27:23 dll). Peranan memberi bantuan secara lebih aktif kepada manusia terlihat dalam Kisah 5:19-20; 12:7-10, yg mengingatkan tentang Elia di bawah pohon ara. Takhta Allah dikelilingi oleh ribuan malaikat yg tak terbilang jumlahnya seperti telah dinyatakan oleh Daniel (Ibrani 12:22; Wahyu 5:11, dll).

Dalam PL malaikat-malaikat menyaksikan dengan gembira, walaupun agaknya bukan sebagai peserta yg aktif, tindakan penciptaan oleh Allah (Ayub 38:7). Dalam PB mereka erat hubungannya dengan pemberitaan hukum Taurat (Kisah 7:53; Galatia 3:19; Ibrani 2:2), dan wajar bahwa mereka sering dihubungkan dengan hari penghakiman (Matius 16:27; Markus 8:38; 13:27; Lukas 12:8; 2 Tesalonika 1:7-8 dan banyak lagi yg sejajar dgn itu). Juga merupakan tugas khusus mereka untuk membawa orang yg benar ke pangkuan Abraham (Lukas 16:22-23). Tiada uraian yg langsung mengenai wujud malaikat.

Hunjukan pada wajah atau perlengkapan yg berkilauan menyarankan keindahan yg menakjubkan yg bukan milik dunia ini (Matius 28:2 dan yg sejajar dgn itu; Lukas 2:9; Kisah 1:10). PL juga menunjukkan pembatasan yg sama berkaitan dengan kerubim (Yehezkiel 10) dan serafim (Yesaya 6). Kemuliaan pada wajah Stefanus yg dihukum itu mencerminkan keindahan muka malaikat (Kisah 6:15).

Kristus yg menjelma dalam bentuk manusia dilayani oleh malaikat dalam beberapa peristiwa (Matius 4:11; Lukas 22:43) dan Ia sebenarnya dapat memerintahkan beribu-ribu malaikat, sekiranya Ia mau, di Getsemani atau entah di mana, untuk menyimpang dari jalan yg telah ditentukan bagi Dia, yaitu mengorbankan Diri (Matius 26:53).

Dalam beberapa bagian tertentu terdapat nada yg aneh, yaitu permusuhan atau kecurigaan terhadap malaikat. Mengenai hal ini ada persamaan yg menarik dalam kesusastraan Yahudi walaupun tak ada hubungannya. Roma 8:38 menunjuk pada para malaikat yg jatuh, dan ini pula menerangkan bagian yg penuh teka-teki dalam 1 Korintus 11:10, yg harus dibaca dalam terang Kejadian 6:1 dab. Masih perlu diperhatikan Galatia 1:8 dan 1 Korintus 13:1 dan peringatan yg keras pada Kolose 2:18. Tanpa diragukan, ajaran-ajaran yg salah dari pihak pembacanya, mendorong penulis Ibrani dengan tandas mengemukakan keunggulan Anak atas setiap malaikat (Ibrani 1).

Arti asasi dari Yudas 9 (sebagian sejajar dgn 2 Petrus 2:10-11) rupanya ialah bahwa malaikat yg telah jatuh, mempertahankan suatu kedudukan dan kehormatan yg dimiliki semula, sedemikian rupa, hingga teman-temannya dulu yg tidak jatuh, tak boleh bicara dengan mereka secara leluasa tapi harus menyerahkan kutukan terakhir pada Allah. Ada yg mengatakan bahwa peristiwa yg disebut oleh Yudas telah dicatat dalam Assumption of Moses (Kenaikan Musa), suatu kutipan keterangan yg apokaliptik. Di situ Iblis menuntut tubuh Musa untuk kerajaan kegelapannya, karena Musa telah membunuh orang Mesir (Keluaran 2:12), dan karena itu ia adalah pembunuh, apa pun juga kebajikan yg telah dilakukannya kemudian. Kemenangan terakhir tidak diperoleh Iblis, tapi bahkan Mikhael, pelindung umat Allah, harus mengendalikan lidahnya di depan musuh umat manusia.
CEPOGO, 310823 (T)
Baca juga :
http://titusroidanto.blogspot.com/2023/08/malaikat-dalam-perjanjian-lamapl-serial.html

http://titusroidanto.blogspot.com/2023/08/malaikat-dalam-perjanjian-lamapl-serial.html

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32 PENGANTAR Allah menghendaki pertobatan nyata. Gereja dipanggi...