Selasa, 05 Maret 2024

SUDUT PANDANG YOHANES 2: 13 - 22, MENGULIK BISNIS GEREJA


SUDUT PANDANG YOHANES 2: 13 - 22, MENGULIK BISNIS GEREJA

Dalam Injil sinoptik Yesus hanya sekali berkiprah di Yerusalem di pengujung hidup-Nya. Di Yerusalem Yesus membersihkan Bait Allah dari praktik bisnis kotor imam-imam lewat pedagang-pedagang yang berjualan di area Bait Allah. Para pemuka Yahudi kemudian memiliki alasan langsung untuk melenyapkan Yesus.

Kisah di Injil Yohanes jauh berbeda. Yesus berulang kali datang ke Yerusalem. Tiga kali untuk merayakan Paska (lih. Yoh. 2:13; 6:4; 11:55). Alasan kuat para pemuka Yahudi untuk membunuh Yesus bukan lantaran pembersihan Bait Allah, melainkan pembangkitan Lazarus dari kematian. Peristiwa pembangkitan Lazarus itu menyebabkan banyak orang Yahudi percaya kepada Yesus dan sejak hari itu mereka bersepakat untuk membunuh Yesus (lih. Yoh. 11:45-53).

Hari ini adalah Minggu ketiga masa Pra-Paska. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Yohanes 2:13-22 

Bacaan Injil Minggu ini perikopnya diberi judul oleh LAI 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘤𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘪𝘵 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩. Pengulasan bacaan dibagi ke dalam tiga bagian:

▶ Yohanes 2:13-17 Yesus mengusir pedagang-pedagang
▶ Yohanes 2:18-19 Para pemuka Yahudi menantang Yesus
▶ Yohanes 2:20-22 Yesus pengganti Bait Allah

𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗺𝗲𝗻𝗴𝘂𝘀𝗶𝗿 𝗽𝗲𝗱𝗮𝗴𝗮𝗻𝗴-𝗽𝗲𝗱𝗮𝗴𝗮𝗻𝗴 (Yoh. 2:13-17)

Ketika Hari Raya Paska orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. (ay. 13) Di halaman Bait Allah didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, domba dan merpati, dan penukar-penukar uang yang duduk di situ. (ay. 14) Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Allah dengan semua domba dan lembu mereka. Uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. (ay. 15) Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata, “𝘈𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪! 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘉𝘢𝘱𝘢-𝘒𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘶𝘢𝘭𝘢𝘯!” (ay. 16) Lalu teringatlah murid-murid-Nya bahwa ada tertulis, “𝘊𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩-𝘔𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘯𝘨𝘶𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘬𝘶.” (ay. 17) (TB II 2023)

Menjelang perayaan Paska Yahudi terjadi peningkatan peziarah ke Yerusalem. Perdagangan hewan dan penukaran uang di lingkungan Bait Allah meningkat. Ini adalah bisnis besar para penguasa Bait Allah. Para peziarah membutuhkan hewan kurban persembahan. Mereka juga wajib menukar uang asing dengan uang Tyria yang berlaku di Yerusalem karena pajak Bait Allah hanya boleh dibayar dengan mata uang itu.

Penulisan Injil Yohanes merupakan bentuk perlawanan Komunitas Yohanes terhadap penguasa agama Yahudi yang mendera mereka. Hanya di Injil Yohanes yang menampilkan Yesus dengan cambuk. Yesus mengusir para pedagang itu berarti melumpuhkan ibadat Bait Allah. Tidak ada kurban persembahan. Menjungkirbalikkan meja penukaran uang asing berarti menghentikan aliran uang ke penguasa Bait Allah. Bayangkanlah anda punya akses lalu memutus aliran uang dari orang-orang kaya ke kas Gereja, anda pasti akan menjadi musuh Gereja. Tepatnya musuh para pemuka Gereja. 

“𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘉𝘢𝘱𝘢-𝘒𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘶𝘢𝘭𝘢𝘯!” (ay. 16) merupakan kutipan dari Zakharia 14:21. Di sini penulis Injil memaknai penyucian Bait Allah oleh Yesus sebagai tindakan eskatologis. Yesus bertindak sebagai tokoh akhir zaman yang sekarang sudah dimula. Ungkapan 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘉𝘢𝘱𝘢-𝘒𝘶 (𝘵𝘰𝘯 𝘰𝘪𝘬𝘰𝘯 𝘵𝘰𝘶 𝘗𝘢𝘵𝘳𝘰𝘴) mirip dengan ucapan Yesus di Injil Lukas 2:49. Tidak terlalu jelas apakah ungkapan itu tradisi Yohanes atau tradisi Sinoptik yang memengaruhi penulis Injil Yohanes.

Kisah pembersihan Bait Allah terhenti oleh penjelasan narator di ayat 17 … ada tertulis “𝘊𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩-𝘔𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘯𝘨𝘶𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘬𝘶” yang merujuk Mazmur 69:10. Pemazmur tampaknya memahami penderitaannya sebagai perhatiannya kepada Bait Allah. Penulis Injil Yohanes memaknai ini secara mesianis yang merujuk penyaliban Yesus. Pembersihan Bait Allah merupakan gairah Yesus untuk rumah Bapa sebagai simbol tempat Allah berkemah di tengah-tengah umat-Nya, tetapi cinta-Nya akan menghanguskan Yesus. Hal yang sama jika anda berhasil memutus aliran uang dari orang-orang kaya ke kas Gereja, maka para pemuka Gereja akan menghanguskan anda.

𝗣𝗮𝗿𝗮 𝗽𝗲𝗺𝘂𝗸𝗮 𝗬𝗮𝗵𝘂𝗱𝗶 𝗺𝗲𝗻𝗮𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 (Yoh. 2:18-19)

Para pemuka Yahudi menantang Yesus, katanya, “𝘛𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘶𝘯𝘫𝘶𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯?” (ay. 18 ) Jawab Yesus kepada mereka, “𝘙𝘶𝘯𝘵𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘪𝘵 𝘚𝘶𝘤𝘪 𝘪𝘯𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯𝘯𝘺𝘢.” (ay. 19) (TB II 2023)

Di sini untuk kali pertama ditampilkan para pemuka Yahudi yang kelak akan terus-menerus menjadi lawan Yesus. Tentu saja mereka berang karena bisnis mereka diusik oleh Yesus. Permintaan mereka akan suatu tanda membuka perdebatan mengenai otoritas Yesus bertindak keras membubarkan perdagangan itu. Permintaan tanda untuk percaya merupakan khas Injil Yohanes sebagai iman yang belum matang. Injil Yohanes menekankan percaya pada ucapan Yesus, bukan tanda (bdk. Yoh. 5:24).

Yesus tidak memenuhi permintaan mereka untuk menunjukkan tanda. Jawaban Yesus berupa kalimat perintah “𝘙𝘶𝘯𝘵𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘪𝘵 𝘚𝘶𝘤𝘪 𝘪𝘯𝘪” dan disambung-Nya “𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯𝘯𝘺𝘢”. Tanggapan Yesus membingungkan mereka.

𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗽𝗲𝗻𝗴𝗴𝗮𝗻𝘁𝗶 𝗕𝗮𝗶𝘁 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵 (Yoh. 2:20-22)

Lalu kata para pemuka Yahudi itu kepada -Nya, "𝘌𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘦𝘯𝘢𝘮 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘪𝘵 𝘚𝘶𝘤𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪?” (ay. 20) Namun, yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Suci ialah tubuh-Nya sendiri. (ay. 21) Karena itu sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, murid-murid-Nya teringat bahwa hal itu telah dikatakan-Nya dan mereka pun percaya kepada Kitab Suci dan kepada perkataan yang telah diucapkan Yesus. (ay. 22) (TB II 2023)

Latar waktu cerita ini adalah dalam masa pemugaran Bait Allah yang dimula oleh Raja Herodes Agung pada tahun 19 SZB. Lama sekali waktu pemugarannya. Untuk itulah para pemuka Yahudi kembali bertanya, “𝘌𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘦𝘯𝘢𝘮 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘪𝘵 𝘚𝘶𝘤𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪?” (ay. 21)

Dalam pada itu penulisan Injil terjadi sesudah Bait Allah diruntuhkan oleh Jenderal Titus dari Roma pada tahun 70 ZB. Memang sudah menjadi sejarah dan kenyataan pahit bagi orang-orang Yahudi bahwa Bait Allah dirobohkan. Kembali di sini narator menjelaskan maksud jawaban enigmatik Yesus. Kepentingan narator di sini adalah untuk pembaca Injil Yohanes. Yesus tidak sedang berbicara mengenai Bait Allah, melainkan tubuh-Nya sendiri yang akan bangkit pada hari ketiga. Arti jawaban Yesus itu sendiri baru diketahui para murid sesudah kebangkitan Yesus. Tanda yang diminta oleh para pemuka Yahudi sebenarnya kebangkitan-Nya sehingga Ia menunjukkan kuasa untuk bertindak di Bait Allah.

Kenisah memiliki peranan penting bagi orang Ibrani-Yahudi. Demikian halnya peranan Kristus bagi jemaat perdana. Dalam konteks perayaan Paska Yahudi yang Allah membebaskan umat-Nya dari perbudakan Mesir, Kristus tidak hanya membersihkan Kenisah, tetapi menyediakan penggantinya. Kehadiran Allah tidak lagi dibatasi di dalam Kenisah atau Bait Allah.

Penginjil Yohanes menempatkan kisah 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘤𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘪𝘵 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 di permulaan Injil karena alasan strategis dalam pembelaan iman Kristen yang mengganti Yudaisme. Kehadiran Allah tidak lagi disimbolkan dengan satu tempat, Bait Allah, melainkan dengan seorang pribadi, Yesus Kristus.
03.03.2024 (T)

Selasa, 27 Februari 2024

𝗧𝗲𝗽𝗮𝘁𝗸𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗹𝗮𝘆𝗮𝗻𝗸𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗿𝗷𝗮𝗺𝘂𝗮𝗻 𝗞𝘂𝗱𝘂𝘀 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗝𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗔𝗴𝘂𝗻𝗴? Serial Sudut Pandang


𝗧𝗲𝗽𝗮𝘁𝗸𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗹𝗮𝘆𝗮𝗻𝗸𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗿𝗷𝗮𝗺𝘂𝗮𝗻 𝗞𝘂𝗱𝘂𝘀 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗝𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗔𝗴𝘂𝗻𝗴? Serial Sudut Pandang

Sejumlah Gereja Prostestan di Indonesia pada Jumat Agung melayankan sakramen Ekaristi atau Perjamuan Kudus (PK). Bagaimana jika ditinjau secara liturgis dan teologis?

𝗦𝗲𝗰𝗮𝗿𝗮 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶𝘀

Jumat Agung adalah satu anasir Trihari Suci: 𝘒𝘢𝘮𝘪𝘴 𝘗𝘶𝘵𝘪𝘩-𝘑𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘈𝘨𝘶𝘯𝘨-𝘚𝘢𝘣𝘵𝘶 𝘚𝘶𝘯𝘺𝘪. Tepat atau tidaknya melayankan PK pada Jumat Agung dapat kita lihat dari makna 𝘒𝘢𝘮𝘪𝘴 𝘗𝘶𝘵𝘪𝘩.

𝘒𝘢𝘮𝘪𝘴 𝘗𝘶𝘵𝘪𝘩 atau 𝘔𝘢𝘶𝘯𝘥𝘺 𝘛𝘩𝘶𝘳𝘴𝘥𝘢𝘺 adalah penanda hari terakhir atau penutup masa Pra-Paska. Mengapa 𝘮𝘢𝘶𝘯𝘥𝘺 diindonesiakan menjadi putih? 

𝘔𝘢𝘶𝘯𝘥𝘺 berakar kata Latin 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘵𝘶𝘮 yang berarti perintah. Dalam pautannya dengan Kamis Putih perintah Yesus itu disebut 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘵𝘶𝘮 𝘯𝘰𝘷𝘶𝘮 atau perintah baru, yang diperagakan oleh Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya “𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 …” (Yoh. 13:14), yang kemudian disambung, “𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘺𝘢𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪; 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘭𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪.” (Yoh. 13:34).

Pembasuhan kaki bukanlah barang baru dalam tradisi Yahudi. Pembasuhan kaki dilakukan oleh hamba-hamba atau pelayan-pelayan tuan rumah sebelum perjamuan. Akan tetapi yang Yesus lakukan adalah radikal. Yesus yang adalah Guru membasuh kaki para murid-Nya. Jabatan atau status lebih tinggi melayani pihak yang berstatus lebih rendah.

Kembali lagi ke pertanyaaan mengapa disebut 𝘒𝘢𝘮𝘪𝘴 𝘗𝘶𝘵𝘪𝘩? Pada 𝘒𝘢𝘮𝘪𝘴 𝘗𝘶𝘵𝘪𝘩 dilayankan Liturgi Sabda, Upacara Pembasuhan Kaki, PK atau Ekaristi, dan 𝗣𝗲𝗺𝗶𝗻𝗱𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗿𝗮𝗹𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻. Warna liturgi putih. Sesudah perarakan pemindahan peralatan sakramen, altar diselubungi atau ditutupi dengan kain putih sehingga tampak polos tanpa ornamen apa pun. Penyelubungan dengan kain putih itu adalah 𝘀𝗶𝗺𝗯𝗼𝗹 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮 𝗴𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗹𝗮𝗴𝗶 𝗺𝗲𝗹𝗮𝘆𝗮𝗻𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻 𝘀𝗮𝗺𝗽𝗮𝗶 𝗦𝗮𝗯𝘁𝘂 𝗦𝘂𝗻𝘆𝗶. Memang tak semua Gereja menyelubungi dengan kain putih, tetapi pada dasarnya altar dibuat kosong dari peralatan sakramen. Gereja memula melayankan sakramen lagi pada Minggu Paska.

PK adalah sakramen. Dengan merujuk makna Kamis Putih, maka secara liturgis melayankan PK pada Jumat Agung tidak tepat.

𝗦𝗲𝗰𝗮𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝘀

PK merupakan perayaan iman gereja atas karya, kematian, dan kebangkitan Kristus sampai Ia datang kembali (bdk. 1Kor. 11:23-26). Itu berarti PK juga mengandung gatra (𝘢𝘴𝘱𝘦𝘤𝘵) ekskatologis.

Memang benar PK memiliki hubungan historis dengan Perjamuan Malam Terakhir (PMT) seperti yang tertulis dalam teks keempat Kitab Injil kanonik. Akan tetapi keempat Kitab Injil menyampaikan hal yang sama yaitu perjamuan perpisahan antara Yesus dan para murid, karena Yesus akan mati di kayu salib tidak lama setelah itu. Kemudian teks Injil sinoptik dengan jelas menyatakan bahwa PMT merupakan perjamuan Paska Yahudi (Mrk. 14:12-17; Luk. 22:15). Injil Yohanes sedikit berbeda dengan menyatakan bahwa PMT diadakan menjelang Paska Yahudi (Yoh. 13:1; 18:28; 19:14). Meskipun demikian keempat Injil menyatakan hal senada yang berpautan dengan Paska Yahudi. 

PK dan PMT ada kesinambungan (kontinuitas) sekaligus ketidaksinambungan (diskontinuitas). Kontinuitas PK dan PMT terletak pada kenyataan bahwa PK dilaksanakan oleh gereja berdasarkan atas perintah Yesus pada PMT “𝘗𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘬𝘶!" (Luk. 22:19). Disebut diskontinuitas karena memang PMT dan PK berbeda dalam isi dan fungsi. Pada saat PMT Yesus belum mati. Padahal PK merupakan perayaan iman gereja atas karya, kematian, dan kebangkitan sampai Ia datang kembali.

Jumat Agung adalah Hari Kematian Yesus. Pada Jumat Agung Gereja tidak melayankan sakramen seperti amanat Kamis Putih. Tidak ada Ekaristi atau PK. Ekaristi dari kata 𝘦𝘶𝘤𝘩𝘢𝘳𝘪𝘴𝘵𝘪𝘢 yang berarti pengucapan syukur. “𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘦𝘴𝘵𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘚𝘢𝘯𝘨 𝘔𝘦𝘮𝘱𝘦𝘭𝘢𝘪 𝘭𝘢𝘬𝘪-𝘭𝘢𝘬𝘪 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢,” kata Tertulianus yang sejalan dengan Matius 9:14-15. Muatan teologis Ekaristi atau PK adalah perayaan iman gereja atas karya, kematian, kebangkitan Kristus, dan penantian kedatangan-Nya kembali (𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢). Kata Rasul Paulus, “𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘰𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮 𝘤𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 (𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴) 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘐𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨.” Pada Jumat Agung Yesus belum bangkit.

Jadi, melayankan PK pada Jumat Agung secara teologis tidak tepat.

Kesimpulan: Baik secara liturgis maupun teologis melayankan PK pada Jumat Agung tidak tepat. Tetapi itu semua karena kesepakatan dalam sidang pleno majelis bagi gereja-gereja presbyterian, emang keputusan sidang pleno majelis memang terkadang jauh dari konsep liturgis dan teologis, walopun dalam sidang pleno majelis ada pakar-pakar teologi

Cepogo, 28022024 (T)

YESUS DIBANGKITKAN ATAU BANGKIT SENDIRI, SERIAL SUDUT PANDANG

YESUS DIBANGKITKAN ATAU BANGKIT SENDIRI, SERIAL SUDUT PANDANG

Di dalam hubungannya dengan Allah Bapa, dapat dikatakan bahwa Yesus dibangkitkan oleh Allah Bapa (Kis. 2:24,32; 3:15; 4:10; 5:30; 10:40; 13:30; 1Kor. 6:14; 2Kor. 4:14; Ef. 1:20).

Di dalam hubungannya dgn Roh Kudus, benar juga jika dikatakan bahwa Yesus dibangkitkan oleh Roh Kudus (Rm. 8:10).

Dan karena Yesus adalah Allah sejati, maka dapat dikatakan juga bahwa Dia bangkit sendiri dari kematian (Luk. 18:34; 1Tes. 4:14; 2Tim. 2:8; 1Per. 1:3; Why. 1:5).

Yesus bangkit atau tidak? dan kalau Yesus bangkit maka apakah Yesus bangkit (membangkitkan diriNya sendiri) atau dibangkitkan?Pertanyaan-pertanyaan kritis semacam ini paling tidak pernah mengusik benak seseorang, baik umat Kristen atau non-Kristen. Pertanyaan ini bukan hanya milik mereka yang berkecimpung pada ranah teologis, tetapi juga milik mereka yang merupakan jemaat awam, bukan hanya pertanyaan yang digumuli para Pendeta tetapi juga Jemaat. Artikel ini akan mencoba membahas mengenai apakah Yesus bangkit atau dibangkitkan dalam rangka mengenal kuasa Kristus.
Posisi teologis dan iman penulis pada makalah ini jelas, bahwa Yesus bangkit, oleh karena itu pertanyaan pertama pada kalimat pembuka tidak kita kupas lebih dalam tetapi justru menjadi titik berangkat kita dalam pembahasan artikel ini. Yesus bangkit, apakah Ia bangkit atau dibangkitkan?Menurut penulis, jawabannya justru terletak pada pemahaman kita mengenai doktrin Trinitas.

Trinitas
Allah Trinitas adalah Allah Bapa, Putra, dan Roh kudus. Mengenai hubungan di antara ketiganya (Bapa, Putra dan Roh Kudus) saya mencoba untuk membahasakan hubungan mereka seperti pandangan para Bapa gereja yang dijuluki “Bapa Kappadokia” yaitu “satu substansi (substance) dalam tiga person (hypostaseis)”. Sang Anak dan Roh Kudus, kedudukan mereka bukanlah subordinat dari sang Bapa. Ketiganya memiliki satu nature (Allah) namun dalam tiga persons yang berbeda. Konsep person disini bukan berarti tiga makhluk, bukan pula berarti terdapat tiga Allah, melainkan satu Allah tapi tiga karakteristik dan peran yang berbeda (cobalah memahaminya dalam konsep universalitas dan partikularitas).
Kita teringat kepada Allah Bapa, ketika kita melihat karakteristik dan perannya sebagai dasar, asal muasal, pencipta segala sesuatu. Kita teringat pada Sang Anak ketika kita melihat karakteristiknya dan perannya sebagai Juruselamat dalam karya penyelamatan Allah bagi manusia, Allah yang berinkarnasi menjadi manusia. Kita teringat pada Roh Kudus, ketika kita mengingat peran dan karakteristiknya sebagai penolong kita memahami karya penyelamatan Allah dalam Kristus, penolong dalam kehidupan, pemelihara kehidupan dan penghibur dalam kehidupan. Ketika kita mengingat Allah Bapa, secara otomatis kita melihat dan mengingat Sang Anak dan Roh Kudus. Ketika kita mengingat Sang Anak, kita mengingat Bapa dan Roh Kudus. Demikian pula ketika kita mengingat Roh Kudus kita mengingat Bapa dan Sang Anak. Ketiganya tak terpisahkan.
Yesus bangkit dalam kuasa-Nya dan sekaligus Dia juga dibangkitkan oleh Allah maupun Roh Kudus

Yesus bangkit atau dibangkitkan?
                Yesus bangkit atau dibangkitkan?Kalau posisi teologis kita, posisi iman kita, berpijak pada iman yang menyatakan bahwa Yesus bangkit maka persoalan apakah bangkit atau dibangkitkan sebenarnya hanya membuat kita terjebak pada polarisasi atau dikotomi bahwa Yesus itu bangkit sendiri atau dibangkitkan oleh kuasa lain di luar dirinya. Kalau kita terjebak pada polarisasi atau dikotomi ini maka kita menjadi mengecilkan kuasa Yesus (bila kita hanya berpandangan bahwa Yesus dibangkitkan) dan juga melupakan doktrin Trinitas (bila kita hanya berpandangan bahwa Yesus membangkitkan dirinya sendiri), sebuah doktrin yang justru dipegang teguh umat Kristen sejak masa gereja perdana.
                Yesus membangkitkan diriNya sendiri?Ya! Jelas karena Ia adalah Tuhan dan memiliki kuasa untuk membangkitkan diriNYa sendiri. Pernyataan bahwa Yesus bangkit berkaitan dengan perananNya sebagai Anak Allah, dalam doktrin Trinitas. Yesus berkali-kali menegaskan bahwa Anak Manusia, akan menderita, mati dan kemudian akan bangkit (Markus 8:31, Markus 9:9, Markus 9:31, Lukas 24:7). Kuasa ini dijelaskan Yesus sendiri bahwa, tidak ada seorang pun yang mengambil nyawa Yesus melainkan Yesus memberikannya menurut kehendakNya sendiri. Ia berkuasa memberikan dan mengambilnya kembali, itulah tugas yang diberikan Bapa kepadaNya (Yohanes 10:17-18).
                Yesus dibangkitkan?Ya! Hal ini banyak kita jumpai dalam pembahasan di Alkitab (Matius 16:21, Matius 17:9, Lukas 9:22, Kisah Para Rasul 2:32). Lalu siapa yang membangkitkannya? Allah Bapa (Kisah Para Rasul 4:10, 10:40, 13:37). Frase “Allah membangkitkan” atau “Kristus dibangkitkan”, ingin menunjukkan kuasa Allah Bapa dalam kaitan sebuah karya penyelamatan. Lalu apa peran Roh Kudus?Roh Kudus, dalam karya penyelamatan, berperan penting dalam memberikan pencerahan, menyingkapkan rahasia misteri ilahi ini, kepada manusia untuk dapat mengerti makna karya penyelamatan yang dilakukan dalam sinergi Allah Trinitas. Dalam pada itu, hal ini menunjukkan bahwa dalam karya penyelamatan justru ada sinergi diantara ketiga persons yang terkandung di dalam Trinitas.
                Maka kesimpulan saya berdasarkan penelusuran kita di dalam Alkitab dan tradisi gereja (Trinitas) adalah bahwa Yesus bangkit dan dibangkitkan! “Kristus dibangkitkan” atau pun “Kristus bangkit”, keduanya adalah benar kalau kita memahaminya dalam kerangka berpikir Allah Trinitas. Keduanya benar, karena menunjukkan dan menekankan peran pribadi ilahi yang berbeda.

Implikasinya dan kuasa kebangkitan Kristus
                Setelah analisa dan pembahasan kita di atas, maka kita mengerti sekarang bahwa kedua pernyataan, “Yesus dibangkitkan” maupun “Kristus bangkit”, tidak lagi perlu dan penting untuk diperdebatkan dan dipertentangkan karena keduanya benar dan menunjukkan peran pribadi ilahi yang berbeda. Ortodoksi atau ajaran yang lurus dan benar memang penting, maka itu saya berusaha, dalam tulisan ini untuk menggali ortodoksi tersebut dari Alkitab dan tradisi, doktrin gereja. Ortodoksi tersebut telah kita mengerti dan kita pahami bahwa Yesus bangkit dan dibangkitkan!
                Akan tetapi, kita jangan melupakan aspek ortopraksis atau perbuatan yang baik, benar, tepat dan sesuai dengan ortodoksi yang kita terima. Setelah kita mengerti ortodoksi maka hal kemudian yang tidak kalah penting adalah apa implikasinya dalam perbuatan kita? Hal yang perlu saya tekankan di sini adalah kebangkitan Kristus (baik itu Yesus dibangkitkan dan Yesus bangkit, karena keduanya adalah benar) menginspirasi, menggerakkan para murid untuk menjadi saksi kebangkitan Kristus!

Kuasa kebangkitan Kristus telah menggerakkan para murid untuk bergerak mewartakan kabar bahagia tersebut ke seluruh dunia. Justru di sinilah letak kuasa kebangkitan Kristus itu karena mampu mengubah kesedihan para murid akibat matinya Yesus menjadi bahagia dan sukacita karena bangkitnya Kristus. Pada konteks kita saat ini, mari kita mengalami kuasa kebangkitan Kristus dan menjadi saksi kebangkitan Kristus, menjadi garam dan terang di sekitar kita, melalui panggilan kita masing-masing, di mana pun kita ditempatkan. Yesus bangkit atau tidak?dan kalau Yesus bangkit maka apakah Yesus bangkit (membangkitkan diriNya sendiri) atau dibangkitkan?Pertanyaan-pertanyaan kritis semacam ini paling tidak pernah mengusik benak seseorang, baik umat Kristen atau non-Kristen. Pertanyaan ini bukan hanya milik mereka yang berkecimpung pada ranah teologis, tetapi juga milik mereka yang merupakan jemaat awam, bukan hanya pertanyaan yang digumuli para Pendeta tetapi juga Jemaat. Artikel ini akan mencoba membahas mengenai apakah Yesus bangkit atau dibangkitkan dalam rangka mengenal kuasa Kristus.
Posisi teologis dan iman penulis pada makalah ini jelas, bahwa Yesus bangkit, oleh karena itu pertanyaan pertama pada kalimat pembuka tidak kita kupas lebih dalam tetapi justru menjadi titik berangkat kita dalam pembahasan artikel ini. Yesus bangkit, apakah Ia bangkit atau dibangkitkan?Menurut penulis, jawabannya justru terletak pada pemahaman kita mengenai doktrin Trinitas.

Trinitas kembali
Allah Trinitas adalah Allah Bapa, Putra, dan Roh kudus. Mengenai hubungan di antara ketiganya (Bapa, Putra dan Roh Kudus) saya mencoba untuk membahasakan hubungan mereka seperti pandangan para Bapa gereja yang dijuluki “Bapa Kappadokia” yaitu “satu substansi (substance) dalam tiga person (hypostaseis)”. Sang Anak dan Roh Kudus, kedudukan mereka bukanlah subordinat dari sang Bapa. Ketiganya memiliki satu nature (Allah) namun dalam tiga persons yang berbeda. Konsep person disini bukan berarti tiga makhluk, bukan pula berarti terdapat tiga Allah, melainkan satu Allah tapi tiga karakteristik dan peran yang berbeda (cobalah memahaminya dalam konsep universalitas dan partikularitas).
Kita teringat kepada Allah Bapa, ketika kita melihat karakteristik dan perannya sebagai dasar, asal muasal, pencipta segala sesuatu. Kita teringat pada Sang Anak ketika kita melihat karakteristiknya dan perannya sebagai Juruselamat dalam karya penyelamatan Allah bagi manusia, Allah yang berinkarnasi menjadi manusia. Kita teringat pada Roh Kudus, ketika kita mengingat peran dan karakteristiknya sebagai penolong kita memahami karya penyelamatan Allah dalam Kristus, penolong dalam kehidupan, pemelihara kehidupan dan penghibur dalam kehidupan. Ketika kita mengingat Allah Bapa, secara otomatis kita melihat dan mengingat Sang Anak dan Roh Kudus. Ketika kita mengingat Sang Anak, kita mengingat Bapa dan Roh Kudus. Demikian pula ketika kita mengingat Roh Kudus kita mengingat Bapa dan Sang Anak. Ketiganya tak terpisahkan.
itu sendiri. Dalam konteks ini, keadaan jasmaniah Yesus yang dilahirkan dari rahim Maria yang hanyalah darah dan daging jelas tidak sama dengan ke-Ilahian Firman Allah yang adalah Allah sendiri yang menjadikan segala sesuatu.

Dalam konteks dialog lintas iman, khususnya kepada umat Islam, yang hobinya ngetes-ngetes umat Kristen atau menuduh dengan membabi buta ajaran Kristen yang lurus padahal sebenarnya semua tuduhan itu salah alamat, mau penjelasan Yesus bangkit atau dbangkitkan, itu sama saja bertentangan dengan ajaran penafsiran Islam yang tidak percaya Yesus bangkit atau Yesus dibangkitkan.

Kalau kita menjawab: "Yesus dibangkitkan Allah"
Mereka akan berkata: "Tuh..kan artinya Yesus bukan Allah karena dia dibangkitkan Allah"
Kita balas bisa: "Lah...kalau Yesus dianggap bukan Allah karena menurut kalian dia dibangkitkan Allah, apakah sebagai umat Islam, kalian mengimani kalau Yesus dibangkitkan Allah dari kematian?".

Kalau kita jawab: "Yesus bangkit"
Mereka akan berkata: "Lah..kan di Galatia 1:1 dan Roma 8:11, Paulus bilang kalau Yesus dibangkitkan Allah. Jadi Yesus bukan Allah dong"
Kita bisa balas: "Lah... kalau anda percaya tulisan Paulus dalam Galatia 1:1 dan Roma 8:11 kalau Yesus membangkitkan Allah yang anda tafsirkan Paulus mendukung asumsi anda bahwa Yesus hanyalah manusia bukan TUHAN Allah, terus kenapa anda masih percaya dengan anggapan umat Islam kalau Paulus yang mengubah ajaran Kristen yang asli, diubah menjadi menuhankan Yesus?"
 kalau berdialog lintas iman dengan umat Islam, pakai saja jurus pembuktian terbalik, karena para polemikus Islam ini sebenarnya tidak memiliki harmonisasi dan konsistensi dalam prinsip tuduhan mereka. Itulah yang saya katakan mereka menuduh membabi buta tanpa peduli maksud dari apa yang dia baca. Mereka tahu nya hanya Islam adalah agama yang paling benar, diluar Islam salah semuanya. Yesus Kristus tidak pernah mengajarkan bahwa Kristen adalah agama yang paling benar dan Yesus Kristus tidak pernah memerintahkan orang untuk "ikutlah agama Kristen", Dia hanya berkata, "Ikutlah Aku, Akulah jalan, dan kebenaran, dan hidup".
Cepogo, 26022024





Jumat, 16 Februari 2024

Pemilu 2024, Umat Kristen melawan gembalanya, Serial Sudut Pandang

Pemilu 2024, Umat Kristen melawan gembalanya, Serial Sudut Pandang

Menarik melihat data Exit Poll Litbang Kompas ini. Mayoritas umat Kristen memilih PraGib 02. Kristen di sini umum ya, mencakup Katolik, Protestan, Ortodoks, dll. Padahal para pemimpin gereja-gereja mainstream sudah menyampaikan pesan pastoral Pilpres kepada umat agar benar-benar melihat rekam jejak masa lalu. Sangat jelas pesan pastoral ini mengarahkan umat memilih Paslon 03. Data lapangan menunjukkan realitas berbeda. Mayoritas umat melawan gembalanya.

Seorang teman pengamat kehidupan Gereja berpendapat, jika umat Kristen pilih 02, itu berarti gembala jemaatnya gagal mengajarkan Etika Kristen. Kalau gembalanya gagal mengajarkan Etika Kristen, itu berarti sekolah teologinya gagal mengajarkan Ilmu Etika dan Ilmu Etika Kristen pada khususnya. Jika sekolah teologi gagal mengajarkan Ilmu Etika, itu berarti agama Kristen mungkin memang sudah tidak relevan.

Tentu saja pendapat teman saya ini doyong (biased) karena ia adalah suporter 03. Saya melihat dari titik pandang lain, yang sudah barang tentu sedikit-banyak saya dipengaruhi prapaham sebagai suporter 02.

Saya berpendapat bahwa pejabat-pejabat gereja itu reaktif. Dulu ketika teologi sukses/kemakmuran melanda Gereja mainstream, mereka reaktif dan menyerang teologi kemakmuran. Mereka tidak mau melihat secara out of the box untuk mengalihrupa paham yang sudah menghantam sebagian umat. Umat merasa bosan menjadi miskin dan saban Minggu dinasihati untuk setia pada Kristus meskipun miskin. Akibatnya cukup banyak warga bermigrasi ke gereja lain yang fulfillment mereka terpenuhi.

Padahal Injil Lukas dipandang sebagai Injil untuk orang kaya. Injil Lukas menjadi standar untuk orang Kristen kaya. Injil tak melarang orang menjadi kaya, tetapi tidak boleh serakah dan selalu berbagi. Pendeta seharusnya mengalihrupa pesan Injil ini kepada orang-orang kaya untuk menjadi orang Kristen kaya yang ideal sehingga umat yang merasa kosong menjadi terpenuhi. Bukan dengan menyerang teologi kemakmuran!

Hal yang sama pada Pilpres 2024. Para pemimpin umat itu reaktif. Apabila mereka memang peduli pada penegakan HAM, pada Pilpres 2009 ketika Megawati mengajak Prabowo menjadi cawapresnya, mereka harusnya berteriak menentang Megawati. Jika 2009 mereka diam, maka diamlah untuk selamanya.

Seharusnya mereka belajar sejarah bahwa Gereja dibangun bukan oleh orang-orang suci saja. Para penjahat, bandit, juga berperan besar dalam pembangunan jemaat. Mereka sehati, sepemikiran, membangun jemaat yang beralaskan Kristus. 

Surat pastoral untuk Pilpres 2024 seharusnya memandang jauh ke depan, jangan suka memutar kaset rusak. Pilihlah pemimpin yang berkomitmen membangun negeri berdasarkan Pancasila. Jangan memilih pemimpin yang menghancurkan kebinekaan.

Kalau ada pemimpin jemaat yang tak bersepakat dengan saya, ya bebas-bebas saja, asalkan panggah, konsisten. Lantangkanlah selalu dari mimbar kepada warga jemaat yang melanggar HAM dengan memeras para karyawannya agar jangan memberi kolekte ke gereja, jangan ikut ekaristi. Orang-orang kaya yang mendapat uang dari korupsi, jangan membawa uang haram itu ke gereja. Ini baru top!

Lap Pancasila, 17022024 (T)

Senin, 12 Februari 2024

𝗥𝗮𝗯𝘂 𝗔𝗯𝘂, Serial Sudut Pandang


𝗥𝗮𝗯𝘂 𝗔𝗯𝘂, Serial Sudut Pandang

Besok, Rabu, 14 Februari 2024, umat Kristen memula 𝗺𝗮𝘀𝗮 𝗣𝗿𝗮-𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮. Hari pertama Pra-Paska disebut 𝗥𝗮𝗯𝘂 𝗔𝗯𝘂. Rabu Abu 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗮𝘄𝗮𝗹 𝗺𝗮𝘀𝗮 𝗿𝗮𝘆𝗮 𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮 karena belum Paska. Kristus belum bangkit. Apa itu Rabu Abu?
        
Hari raya liturgi dimula dari dan berpusat pada misteri Paska, Hari Kebangkitan Kristus. Pada mulanya tidak ada penyusunan sistematis dan terencana. Gereja dengan spontan menanggapi atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Bapak-bapak gereja kemudian merapikan ketidakteraturan itu. Mereka membentuk, menyusun, dan membangun kisah teologinya sehingga bermakna, bertema, dan bercerita sehingga mengajar umat. Dasar penyusunan tahun liturgi ialah pemahaman soal waktu yang dipahami sebagai momen Allah berkarya. Gereja merayakan kehadiran Allah di dalam waktu dalam ibadah. Waktu gereja merujuk kesaksian Alkitab yang dibaur dengan kalender masyarakat 𝘪𝘯 𝘭𝘰𝘤𝘶𝘴.

Pada awal kekristenan masa Pra-Paska dimula pada Minggu 𝘤𝘢𝘱𝘶𝘵 𝘲𝘶𝘢𝘥𝘳𝘢𝘨𝘦𝘴𝘪𝘮𝘢. Namun jumlah hari tidak genap 40 hari seperti masa puasa Yesus. Pada abad VI masa Pra-Paska ditambah empat hari sehingga jatuh pada Rabu, yang kemudian disebut Rabu Abu, dan jumlah hari menjadi 40 hari tanpa menghitung hari Minggu. Jadi, kalau Gereja menulis Minggu I , Minggu II, dst. sampai Minggu VI Pra-Paska itu merujuk hari Minggu (𝘚𝘶𝘯𝘥𝘢𝘺), bukan pekan (𝘸𝘦𝘦𝘬). 

Masa Pra-Paska dimula dari Rabu Abu dan berakhir pada 𝗞𝗮𝗺𝗶𝘀 𝗣𝘂𝘁𝗶𝗵. Istilah Pra-Paska adalah khas Indonesia. Bahasa Inggris menggunakan 𝘭𝘦𝘯𝘵 atau 𝘭𝘦𝘯𝘵𝘦𝘯, yang berasal dari 𝘭𝘦𝘯𝘤𝘵𝘦𝘯 (Anglo-Saxon) atau 𝘭𝘦𝘯𝘻 (Jerman). Kata itu bernasabah (𝘳𝘦𝘭𝘢𝘵𝘦) erat dengan 𝘭𝘢𝘯𝘨 atau 𝘭𝘰𝘯𝘨 karena siang menjadi lebih panjang. Orang Italia menyebut Pra-Paska dengan 𝘲𝘶𝘢𝘳𝘦𝘴𝘪𝘮𝘢, sedang Spanyol menyebut 𝘤𝘶𝘢𝘳𝘦𝘴𝘮𝘢, yang berakar dari kata Latin 𝘲𝘶𝘢𝘥𝘳𝘢𝘨𝘦𝘴𝘪𝘮𝘢 (empat puluh).

Disebut dengan Rabu Abu di sini Gereja hendak mengajar umat mengenai pertobatan, perkabungan, mawas diri, pendekatan diri kepada Allah. Dalam tradisi Israel Kuno abu menyimbolkan kefanaan manusiawi (Kej. 3:19; 18:27) agar manusia menyesali diri dan bertobat. Penggunaan abu sebagai simbol pertobatan diberikan dengan formula 𝘐𝘯𝘨𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘣𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘣𝘶 (Kej. 3:19) atau 𝘙𝘦𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳 𝘵𝘩𝘢𝘵 𝘺𝘰𝘶 𝘢𝘳𝘦 𝘥𝘶𝘴𝘵 𝘢𝘯𝘥 𝘵𝘰 𝘥𝘶𝘴𝘵 𝘺𝘰𝘶 𝘴𝘩𝘢𝘭𝘭 𝘳𝘦𝘵𝘶𝘳𝘯. Beberapa Gereja menghayati masa Pra-Paska dengan berpuasa; Ada yang penuh 40 hari, ada yang memilih pada hari-hari tertentu. Agustinus dari Hippo berpuasa dengan pertimbangan etis. Ia melakukannya bertujuan untuk memberikan jatah makan siangnya kepada orang kelaparan.

Meskipun demikian adalah keliru jika masa Pra-Paska dicerap sebagai masa-masa sengsara Yesus, bahkan ada Gereja yang menyebut Minggu-Minggu sengsara. Memang ada yang disebut dengan Minggu Sengsara (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘴𝘴𝘪𝘰𝘯) yang beririsan dengan Minggu Palem (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘭𝘮) pada Minggu VI Pra-Paska, tetapi secara keseluruhan adalah keliru mencerap Pra-Paska sebagai masa-masa sengsara Yesus. Pra-Paska merupakan kesukaan dan pengharapan. Dalam masa Pra-Paska Gereja menyediakan waktu secara khusus untuk menghayati karya Yesus dan peristiwa salib Kristus.

Pada Rabu Abu kita diingatkan bahwa keadaan manusia adalah abu, 𝘯𝘰𝘵𝘩𝘪𝘯𝘨𝘯𝘦𝘴𝘴. Kematian merupakan identitas manusia saban hari, sekaligus bersama dengan kehidupan yang juga saban hari kita nikmati. Kematian bukan soal setelah raga ini mengembuskan nafas terakhir. 

Banyak penjaja agama entah lewat rumah ibadah, entah lewat media televisi meneriakkan kematian-pasca-kematian agar ditakuti. Padahal kehidupan itu menyapa kita dalam kenyataan bahwa kita adalah abu kini dan di sini, setiap saat. Ini bukan soal hidup nyaman kelak di surga, yang jika ditolak berakibat hidup pedih dan penuh kesakitan di neraka. 

Neraka itu adalah kemanusiaan kita, sekaligus karena Kristus sudah memasukinya dan membuatnya menjadi perayaan hidup, tanpa lupa pada kenyataan bahwa kita adalah abu, 𝘯𝘰𝘵𝘩𝘪𝘯𝘨, bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. 𝘙𝘦𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 bukan soal takut pada hukuman, namun pada ingatan arkais bahwa kita boleh hidup.
Cepogo,13022024 (T)

MEMBANGUN DASAR TEOLOGIS PERNIKAHAN BEDA AGAMA, SERIAL SUDUT PANDANG

SUDUT PANDANG MEMBANGUN DASAR TEOLOGIS PERNIKAHAN BEDA AGAMA, 

PENGANTAR
Dasar Teologis Perkawinan
Dalam percakapan tentang perkawinan umumnya disebutkan tiga pengajaran utama dalam tradisi Kristen tentang perkawinan yaitu (1) bahwa perkawinan berasal dari tata penciptaan, (2) perkawinan adalah tanda relasi intim antara Kristus dan gerejaNya, serta (3) perwujudan kasih Ilahi. Pemahaman perkawinan berasal dari tata penciptaan berangkat dari penyataan Alkitab di Kejadian 2 bahwa Allah menyatukan laki-laki dan perempuan dalam kasih setia dan sebagai penolong satu dengan yang lain. Dari sini perkawinan dipahami bahwa perkawinan dilembagakan oleh Allah, perkawinan adalah ketetapan Allah. Kesatuan kasih laki-laki dan perempuan menjadi tanda kasih Allah, kasih yang abadi dan setia. Oleh karena itu perkawinan merupakan kesatuan abadi dalam kasih Allah. 
Paulus menempatkan martabat perkawinan sedemikian tinggi dengan menegaskan bahwa perkawinan adalah tanda relasi intim antara Kristus dan gerejaNya. Oleh karena itu ikatan perkawinan adalah ikatan permanen yang tak terpisahkan.  Relasi suami dan isteri dalam perkawinan adalah relasi cinta yang berkomitmen dan setia, sebagaimana cinta Kristus kepada gerejaNya. Aspek terpenting dari perkawinan dalam terang cinta kasih Kristus adalah cinta dengan komitmen dan kesetiaan, sepanjang hidup, kesatuan hati, tubuh dan pikiran yang mendalam. Sebagai kesatuan cinta yang saling menjadi berkat bagi pasangan maka perkawinan menjadi pilar kesatuan keluarga yang utuh. Keluarga yang demikian akan mengejawantahkannya dalam cinta kasih pasangan, dalam buah-buah kemurahan hati, dalam solidaritas, dalam kesetiaan, dan dalam jalan mencintai dimana setiap anggota keluarga saling menolong satu dengan yang lain.
Perkawinan sebagai perwujudan kasih Ilahi menegaskan bahwa relasi perkawinan mewujudkan kasih Allah yang bukan hanya dengan kata-kata namun dengan aksi konkret. Dan Allah memanggil umatNya untuk mengejawantahkan kasih konkret seperti itu dengan sesama. Perkawinan adalah kasih yang aktif oleh pasangan, sebagai pengejawantahan kasih Allah. Di sanalah Allah hadir. Di dalam kasih yang aktif antara pasangan, Allah turut mengambil bagian dalam relasi intim pasangan dengan kasih dan kehendakNya. 
Dari pemahaman di atas maka kita dituntun untuk melihat setidaknya tiga nilai perkawinan Kristen yaitu sacramental (sacramentality), penebusan (redemptive) dan keadilan (justice).
PEMAHAMAN
Karakter Sakramental Perkawinan (Sacramental character of Marriage)
Jika kita perhatikan dengan seksama maka perbedaan tradisi Katolik, Orthodox dan Protestan tentang perkawinan, nampak yang mencolok adalah status sakramentalnya. Namun kesemuanya disatukan dalam keyakinan bahwa perkawinan bukan sekedar penemuan manusia namun didirikan dan ditetapkan oleh Allah. Lebih lagi, meskipun Protestan tidak mengakui perkawinan sebagai sakramen, namun beberapa mempertahankan apa yang boleh dikarakteristikan sebagai implisit sakramental. Nilai sakramental perkawinan terletak pada fakta bahwa Allah secara intim mengambil bagian dalam kemitraan pasangan. Peran Allah dalam perkawinan perjanjian terjadi tatkala pasangan berjanji dan berkomitmen untuk membangun kehidupan kemitraan dalam kesetaraan dan intim, dalam kasih yang setia dan kokoh. Kehadiran Allah dan kasihNya dihayati dan diwujudkan dengan cinta dan kebersatuan pasangan. Oleh karenanya, sakramental perkawinan bukan sesuatu yang ditambahkan namun sudah dialami oleh pasangan tatkala secara serius mereka memperhatikan kemitraan yang intim (intimate partnership) dalam keseluruhan hidup relasi perkawinan mereka. Kemitraan yang total dan saling memberi diri dari pasangan menjadi symbol Allah yang memberi diri di dalam Kristus. Di sanalah rahmat Kristus hadir. Dengan demikian pasangan akan saling menghadirkan rahmat Kristus bagi pasangan. Demikianlah setiap pribadi hadir menjadi rahmat satu dengan yang lain. Inilah relasi sakramental. 

Nilai Penebusan Perkawinan (redemptive value of marriage)
Esensi karya penyelamatan Allah adalah aksi Allah memberi diri. Demikianlah kasih yang sejati mewujud dalam aksi. Ketika kasih yang demikian dipahami dan diterima maka kasih itu akan menggantikan kondisi keterasingan dengan relasi kasih. Keterasingan adalah kondisi dosa; tertolak, diabaikan. Oleh karenya inti penebusan Allah adalah rekonsiliasi, penerimaan. Diselamatkan adalah didamaikan kembali dengan kasih yang menyelamatkan. Itu sebabnya Paulus mengatakan di 1 Koritnus 7:16, “Sebab bagaimanakah engkau mengetahui, hai isteri, apakah engkau tidak akan menyelamatkan suamimu? Atau bagaimanakah engkau mengetahui hai suami, apakah engkau tidak akan menyelamatkan isterimu?”  Inilah perkawinan dengan kasih yang menyelamatkan. Perkawinan adalah tempat dimana cinta yang berkorban diwujudkan dalam spirit penerimaan, tidak memisahkan dan merangkul. Perkawinan dan keluarga Kristen adalah sekolah cinta kasih dimana cinta yang setia dan berkomitmen diwujudkan. Titik puncak karya penyelamatan adalah kasih yang berkorban. Pasangan akan terluka dalam upaya mereka mencintai dan dicintai, diterima dan menerima. Perkawinan Kristen diwarnai dengan cinta yang menyelamatkan yaitu cinta yang memberi diri dan mengorbankan diri. Cinta yang menyelamatkan mengingatkan kita bahwa kiat dicintai dengan cinta yang tak bersyarat, dan hal itu adalah penuntun untuk mencintai sesama.

Nilai Keadilan Perkawinan (Justice value of Marriage)
Mutualitas merupakan aspek penting dalam perkawinan Kristen. Pasangan yang saling menghormati sebagai pasangan yang setara dapat membangun relasi saling cinta yang didasarkan pada kooperasi dan bukan kompetisi. Penekanan pada kesetaraan relasi bukan hendak memaksa kesamaan kepribadian, namun penghargaan pada setiap individu sebagai yang unik dan memiliki peran tersendiri.  Kesetaraan relasi tidak selalu berarti 50 – 50, namun lebih pada pengakuan setiap pribadi memiliki kemampuan yang berbeda dalam berkontribusi membangun relasi dengan cara yang berbeda. Sebuah perkawinan perjanjian bukan sekedar kontrak dengan mengatakan - jika kamu melakukan A, aku melakukan B. Jika kamu gagal melakukan A, maka aku tidak berkewajiban melakukan B. Perkawinan Kristen tidak demikian. Perkawinan Kristen yang didasarkan pada perjanjian dilandasi kasih berkomitmen sebagaimana komitmen kasih Allah yang tidak tergantung pada umat Allah. Maka yang seharusnya terjadi adalah – Aku akan melakukan A dan kamu melakukan B. Jika kamu tidak mampu melakukan A, maka aku tidak lepas dari kewajibanku melakukan B. Inilah perspektif keadilan dalam perkawinan dengan cinta tanpa syarat. Perkawinan Kristen menjadi sekolah cinta kasih (school of love), namun juga menjadi sekolah keadilan (school of justice). Perkawinan berkeadilan adalah karakter perkawinan Kristen. Keluarga yang dibangun dari karakter ini akan terdorong untuk saling peka pada rasa keadilan anggota keluarga. Dengan demikian kehadiran setiap pribadi yang unik menghadirkan pula anugerah kasih Kristus yang bagi setiap pribadi adalah unik. 

Membangun Dasar Teologis Perkawinan Beda Agama
Untuk menyikapi PBA sebagai sebuah realita manusia, Ariarajah berpendapat bahwa kita membutuhkan sebuah teologi yang membuat kita menjadi ramah. Sebuah teologi yang tidak ramah tidak akan bisa menghasilkan umat yang ramah. Sikap negatif terhadap PBA sangat terkait dengan sikap memandang agama secara eksklusif. Ada sikap yang menekankan pada apa yang berbeda dari orang lain dan apa yang memisahkan mereka daripada berfokus pada nilai-nilai bersama. Setiap tradisi agama harus melakukan peninjauan ulang atas sikap dan pendekatannya terhadap realita manusia dengan melintasi pagar (Ariarajah, 1999:95).  Penerimaan PBA hanya mungkin ketika ada penerimaan terhadap seseorang yang beriman lain sebagai saudara di dalam Allah. Keterbukaan dan penerimaan orang yang berbeda iman harus ditekankan. Dan itu berarti keyakinan agamanya juga harus diterima dan dihormati, jika tidak maka relasi antar agama hanya menjadi tata karma biasa. Sikap terhadap PBA sangat ditentukan oleh basis ekklesiologi yang berkait dengan penafsiran Alkitab, teologi agama-agama dan teologi sosial. Dalam konteks Gereja-gereja di Indonesia, yang tidak boleh dilupakan bahwa hal ini juga menyangkut warisan teologi serta sejarah di masa lampau relasi Gereja dengan agama-agama lain. 
Tidak bisa pungkiri bahwa PBA masih menyisakan beberapa persoalan seperti misalnya pendidikan agama bagi anak-anak dan bagaimana praktek agamawi di rumah. Namun itu semua menjadi tantangan komunitas agamawi untuk mendampingi dan menuntun keluarga beda agama dalam menghadapi realita beda agama dalam hidup perkawinan mereka. Persoalan itu akan menjadi masalah yang tak terseleaikan jika komunitas agamawi lebih melihat komunitas lain sebagai rival daripada sebagai komunitas manusia yang memiliki perbedaan kisah dalam menghadapi realita manusia. Komunitas agamawi kini berhutang pada generasi masa depan. PBA adalah realita manusia yang tidak bisa dibendung, akan terus bertambah jumlah pasangan beda agama dan keluarga beda agama, serta anak-anak yang lahir dari pasangan beda agama. Akankah komunitas agamawi terus menerus mewariskan ketertutupan kepada generasi masa depan? Jika setiap tradisi agamawi secara kreatif menemukan jalan untuk menghadapi fenomena ini maka mereka akan mampu menangani masa depannya. Namun tantangan yang masih dihadapi kini adalah mentalitas benteng yang masih hidup dalam semua agama. Gereja-gereja di Indonesia harus menjadi mitra dialog dan kerjasama untuk situasi masyarakat Indonesia yang lebih baik di masa depan, untuk demokrasi, dan martabat manusia. Tidak semua kelompok Islam menolak PBA, tetapi tidak semua gereja menerima PBA. Oleh karena itu, dialog menjadi sangat penting bagi keduanya. Terlebih lagi, PBA selanjutnya dapat dilihat sebagai sarana dialog hidup yang konkret. Saya meyakini bahwa pasangan beda agama dan keluarga beda agama justru menjadi agen dialog yang sesungguhnya, sebab mereka telah mempraktekannya pada praktek kontret hidup sehari-hari, hidup bersama dengan orang yang berbeda. 
Dari penelusuran perspektif Biblis, kita telah menyimpulkan bahwa PBA adalah perkawinan Kristen yang sah. Jika PBA adalah perkawinan Kristen yang sah, lalu bagaimana kita secara teologis dapat memahami PBA? Jika perkawinan Kristen meliputi makna sacramental, nilai penebusan dan nilai keadilan, apakah ketiga hal tersebut bisa diterapkan pada PBA?

Sakramental Perkawinan Beda Agama 
Paulus dalam surat Korintus menolong kita melihat lebih jelas fenomena PBA. PBA adalah realita dalam masyarakat plural. Perkawinan adalah anugerah yang telah diberikan Tuhan kepada seluruh umat manusia untuk kesejahteraan seluruh keluarga umat manusia. Perkawinan Kristen adalah hubungan sakramental. Tuhan sangat terlibat dalam kemitraan intim pasangan. Keterlibatan Tuhan dalam perkawinan perjanjian terjadi ketika pasangan setuju dan berkomitmen untuk menciptakan kehidupan kemitraan yang setara dan intim dalam cinta yang setia dan kokoh. Dari sinilah kita membangun pemahaman teologis tentang PBA. Nilai perkawinan sakramental terletak pada keyakinan bahwa Tuhan terlibat erat dalam hubungan yang intim dari pasangan, sehingga Tuhan juga terlibat dalam kemitraan yang intim dan berkomitmen dari pasangan beda agama. Nilai sakramental perkawinan sama sekali tidak bergantung pada agama yang sama dari satu pasangan, tapi pada kemitraan yang setara dan penuh kasih, cinta saling berkorban yang harus dijalani seumur hidup dalam penyerahan diri total pasangan sebagaimana pemberian diri Allah di dalam Kristus. Di sana, kasih karunia Kristus hadir. Rasul Paulus mengajarkan bahwa PBA adalah kenyataan di dalam jemaat yang harus dijaga dengan baik secara bertanggung jawab. Paulus melarang kemungkinan pihak Kristen dari perkawinan tersebut memulai perceraian terutama karena pasangannya adalah orang yang tidak percaya. PBA adalah perkawinan yang berkomitmen, maka PBA adalah perkawinan Kristen yang sah dan tetap memiliki makna sakramental. Apakah pihak non-Kristen bisa berkomitmen? Mengapa tidak? Saya tidak setuju dengan Calvin bahwa pihak non-Kristen akan membahayakan iman. Pandangan ini terlalu berprasangka. Untuk berkomitmen tidak ditentukan oleh identitas agama.

Nilai Penebusan Perkawinan Beda Agama
Umat Israel di era Ezra menafsirkan Kitab Ulangan sedemikian rupa sehingga pertemuan dengan 'yang lain' berakhir dengan tragis dan sedih. Namun begitulah cara orang Israel melindungi dan memelihara identitas mereka. Akankah orang Kristen Indonesia mengikuti cara yang sama dalam membangun identitas mereka dengan mengasingkan orang lain? Ini sungguh sebuah ketidakadilan, apakah mengusir orang asing atau dengan identitas berbeda adalah cara yang tepat untuk menaati Tuhan. Daripada menekankan 'pemisahan' dari mereka yang tampak asing, mengapa tidak memilih toleransi dan belas kasihan sehingga 'yang lain' tidak merasa diabaikan begitu saja? Menurut saya, PBA merupakan wujud nyata hidup bersama dalam kebhinekaan. Jika 'yang lain' adalah mitra dalam dialog, maka 'yang lain' juga merupakan mitra dalam pembelajaran. Pasangan Kristen juga dapat belajar dari pasangannya tentang spiritualitas, dan sebaliknya. Mereka perlu belajar dari satu sama lain dan pada saat yang sama, mereka juga perlu saling mengajar. Sebuah studi bersama WCC dan Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama tentang PBA mengakui bahwa dalam bidang hubungan antaragama, sering kali mengacu pada 'dialog kehidupan'. Dengan itu berarti semua pertemuan sehari-hari antara orang-orang dari agama yang berbeda, di lingkungan dan tempat kerja, di sekolah dan dalam kegiatan rekreasi, dihayati secara positif sehingga kondusif untuk pemahaman, keharmonisan dan kedamaian.Salah satu bentuk perjumpaan itu adalah PBA yang mendekatkan hubungan seorang pria dan seorang wanita dari agama yang berbeda (WCC, 1986:vii). 'Komitmen dan cinta setia' adalah suatu keharusan dalam PBA agar perbedaan agama benar-benar dihargai. PBA melakukan spirit rekonsiliasi dimana pasangan beda agama menjadi agen pemulih. Inilah nilai penebusan dari PBA.

Nilai Keadilan Perkawinan Beda Agama
Saling pengertian dan saling menerima dalam hubungan adalah aspek penting dari masyarakat majemuk yang damai. Hanya jika orang Kristen hidup dengan damai dengan orang yang berbeda identitas, maka keragaman adalah sebuah berkat. Frasa 'terang dan gelap' di 2 Korintus 6:14 umumnya digunakan dalam istilah keadilan dan ketidakadilan. Frasa ini dijadikan rujukan utama oleh banyak umat Kristiani Indonesia untuk menentang PBA dengan mengatakan bahwa memasangkan Kristen dengan non-Kristen sama sekali tidak dapat didamaikan.  Kita tidak bisa lagi menyatakan bahwa 'terang' selalu mengacu pada orang Kristen dengan perilaku moral yang baik dan bahwa sisi lain, 'kegelapan', selalu mengacu pada non-Kristen dengan perilaku tidak bermoral. Frasa 'terang dan gelap' digunakan oleh Paulus untuk menggambarkan kualitas moral yang berbeda bukan pada agama yang berbeda. PBA adalah perkawinan Kristen karena merupakan hubungan perjanjian antara dua orang yang sederajat. Kesetaraan itu mereka tampilkan dalam niatan untuk mempertahankan persatuan intim mereka dengan menghindari ketidakadilan satu sama lain. Baik pasangan Kristen dan non-Kristen dipanggil untuk melakukan keadilan Allah dengan memiliki perilaku moral yang baik dalam persatuan mereka. Saling memahami dan saling menerima dalam hubungan merupakan aspek penting dari perkawinan Kristen yang damai dan juga PBA. Ketika pasangan beda agama menghidupkan spirit saling menghormati sebagai pasangan yang setara, membangun hubungan cinta timbal balik yang dilandasi gotong royong dan bukan atas persaingan, maka mereka telah memenuhi kewajiban perkakwinan Kristen. Dalam semangat dialog kehidupan, PBA mewujudkan kemitraan timbal balik. Di sanalah nilai keadilan dari PBA mengejawantah.
 
Perkawinan yang ideal tidak ditentukan oleh kesamaan identitas agama, tetapi pada perwujudan karakter perkawinan yang menjadi spirit bagi dua individu yang bersatu dalam perkawinan. PBA merupakan kenyataan yang tak terhindarkan, sehingga setiap gereja harus siap membantu anggotanya yang ingin menikah dengan orang yang berbeda keyakinan. Gereja harus mengembangkan teologi perkawinan yang memberikan landasan kuat bahwa perkawinan adalah anugerah kehidupan, berkat bagi umat manusia. Dengan demikian maka perkawinan harus menjunjung tinggi martabat manusia dan memuliakan kehidupan. Atas dasar ini, keluarga dapat menjalani kehidupan yang lebih manusiawi dan bermartabat tanpa diskriminasi dan ketidakadilan dalam hubungan perkawinan di mana martabat setiap anggota keluarga dijamin. Dalam konteks Indonesia, PBA merupakan wujud dari dialog yang paling mendalam dan konkrit, karena dalam PBA, penghargaan dan penghormatan terhadap perbedaan terwujud sepenuhnya dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya sebagai wacana saja. PBA menjadi sarana untuk mempromosikan perdamaian dan memuliakan umat manusia dalam masyarakat majemuk.

Dari uraian di atas ada dua point teologis:
Perkawinan Kristen adalah hubungan sakramental. Tuhan sangat terlibat dalam kemitraan intim pasangan. Keterlibatan Tuhan dalam perkawinan perjanjian terjadi ketika pasangan setuju dan berkomitmen untuk menciptakan kehidupan kemitraan yang setara dan intim dalam cinta yang setia dan kokoh. Kehadiran Tuhan dan cinta-Nya dihargai dan diwujudkan oleh kebersatuan dan cinta pasangan. Dalam perkawinan Kristen, sepasang suami istri, pria dan wanita, mengekspresikan dan mempersembahkan rahmat yang tak tercipta tatkala pasangan adalah 'anugerah' sejati satu sama lain.
Cinta timbal balik dalam perkawinan Kristen ditandai dengan kasih pengorbanan Kristus. Sebagaimana Kristus memberikan kasih pengorbanan kepada Gereja, mempelai-Nya, demikian pula kasih pengorbanan harus dimanifestasikan dalam perkawinan (lihat. Efesus 5: 22-33). Ini berarti bahwa perkawinan Kristen adalah tanda kasih karunia dan sarana kasih karunia. Perkawinan Kristen dicirikan oleh dua prinsip utama yaitu komitmen (tak terpisahkan) dan kemitraan setia (monogami).
Pemahaman penerimaan PBA didasarkan pada 1 Korintus 7: 12-14. Cukup jelas bahwa Paulus tidak berbicara tentang setuju atau tidak setuju PBA, tetapi Paulus lebih tertarik untuk melihat PBA sebagai sebuah kenyataan di dalam jemaat yang harus dijaga dengan baik secara bertanggung jawab. Demikian pula, kita menemukan dalam perikop ini bahwa tidak ada ketegangan atau masalah identitas berkenaan dengan identitas budaya seperti non-Yahudi dan Yahudi, Yunani dan Romawi, atau identitas agama seperti Kristen dan non-Kristen, dll. Artinya PBA adalah kenyataan dalam masyarakat majemuk, hal itu tidak bisa disangkal. PBA adalah perkawinan yang berkomitmen oleh karena itu harus dijaga. Paulus menegaskan, "Tetapi Allah telah memanggil kita untuk hidup dalam damai" (1 Kor. 7:15).

Kita sadari bahwa tidak mungkin menyajikan pemikiran teologis yang siap saji yang relevan untuk semua. Apa yang disajikan ini adalah sebuah pemikiran awal. Hal ini mendorong upaya-upaya baru untuk merumuskan sebuah teologi perkawinan dan teologi keluarga yang kontekstual Indonesia. Perkawinan adalah sebuah hadiah untuk umat manusia. Namun seiring dengan perkembangan perubahan sosial dalam peradaban manusia, perkawinan rawan menjadi ruang perendahan kemanusiaan, perusakan kepribadian, pengabaian atas kebebasan manusia yang seharusnya dijunjung tinggi. Teologi perkawinan yang menjunjung tinggi martabat manusia adalah pesan Alkitab yang sangat penting. Teologi perkawinan seperti itu akan mendorong pria dan wanita yang bersatu dalam perkawinan menyadari sepenuhnya bahwa ada tanggung jawab iman terhadap pasangan, anak, dan keluarga, dan untuk menjamin bahwa martabat kemanusiaan mereka dihormati sepenuhnya. Mengikuti pemikiran Groenen, tidak ada perkawinan Kristen dalam kriteria eksklusif perkawinan, karena perkawinan adalah realitas manusiawi. Yang ada adalah orang Kristen yang menghayati Kekristenan dalam perkawinan mereka, orang Kristen yang menampilkan diri mereka bersama dengan Kristus dalam perkawinan mereka. 
Keluarga juga mengalami perubahan seiring perubahan peradaban manusia. Keluarga menghadapi banyak perjuangan seperti homoseksualitas, keluarga single parent, pasangan beda agama, perceraian, dsb. Masyarakat umumnya menilai, mengucilkan, atau mengabaikan hal-hal itu. Keluarga Kristiani, melalui konstruksi teologis yang sehat, hendaknya memiliki sikap positif-konstruktif terhadap persoalan tersebut. Dalam konteks Indonesia, diskriminasi masih dialami oleh mereka yang dianggap 'berbeda' dengan manusia 'normal' lainnya. Dalam perubahan ini dibutuhkan sebuah teologi keluarga yang membebaskan, merangkul dan memulihkan. Sebuah teologi keluarga yang mengekspresikan keramahtamahan Allah.
Penerimaan PBA pun masih menjadi pekerjaan rumah tersendiri dalam hal bagaimana ibadah pemberkatan PBA dilayankan. Wilayah ini menjadi tantangan bagi mereka yang memberi perhatian pada persoalan Liturgi. Penerimaan PBA juga memberi tugas gereja untuk merumuskan sebuah pedoman pastoral untuk mendampingi pasangan beda agama dan keluarga beda agama. Beberapa gereja yang telah menerima PBA masih belum memiliki perangkat ini.
Cepogo, 2015 (TUS)

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32 PENGANTAR Allah menghendaki pertobatan nyata. Gereja dipanggi...