Jumat, 26 Juli 2024

SUDUT PANDANG YOHANES 6: 1-21, ๐—ฆ๐˜‚๐—ฝ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐˜ ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป


SUDUT PANDANG YOHANES 6: 1-21, ๐—ฆ๐˜‚๐—ฝ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐˜ ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป

Injil Markus, Matius, dan Lukas disebut Injil sinoptik karena ada kemiripan. Injil Yohanes berbeda dari ketiga Injil itu, bahkan ada yang bertolak belakang. Misal, Injil sinoptik memandang penting tokoh Yohanes Pembaptis dalam menyiapkan “infrastruktur” bagi pelayanan Yesus, sedang Injil Yohanes membunuh karakter Yohanes Pembaptis. 

Hari ini adalah Minggu kesepuluh setelah Pentakosta. Bacaan secara ekumenis diambil dari Injil Yohanes 6:1-21 yang didahului dengan 2Samuel 11:1-15, Mazmur 14, dan Efesus 3:14-21.

Bacaan Injil mencakup dua perikop: ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ (ay. 1-15) dan ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜ข๐˜ช๐˜ณ (ay. 16-21). Meskipun judul perikop kisah ini sama dengan judul di Injil sinoptik, tetapi muatan teologinya sama sekali berbeda.

๐— ๐˜‚๐—ธ๐—ท๐—ถ๐˜‡๐—ฎ๐˜ ๐—น๐—ถ๐—บ๐—ฎ ๐—ฟ๐—ผ๐˜๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป

Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang Danau Galilea (ay. 1). Sebelum itu Yesus berada di mana? Dalam pasal 5 disebut Yesus berada di Yerusalem.

Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat banyak mukjizat yang dilakukan-Nya terhadap orang-orang sakit (ay. 2). Padahal sebelum sampai ke bagian ini hanya ada satu mukjizat di Galilea (lih. Yoh. 4:46-54). Di sini diandaikan Yesus sudah cukup lama berkarya di Galilea. Petulis Injil sudah mengatakan bahwa tidak semua tanda tercatatkan di sini (Yoh. 20:30). Kembali petulis Injil menyebut bahwa orang banyak mengikuti Yesus karena mukjizat-mukjizat bukanlah iman yang autentik. Hal ini akan dipertegas di ayat 26.

Lalu Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya (ay. 3). Gunung tidak bermakna simbolik seperti dalam Matius 5:1, yang menyimbolkan Yesus lebih besar daripada Musa; Musa menerima firman di gunung, sedang Yesus memberi firman di gunung (lih. Khotbah di Gunung, Mat. 5 – 7).

Ayat 4 menyebut bahwa Paska hari raya orang Yahudi sudah dekat. Ini merupakan Paska kedua yang disebut di Injil ini (pertama di Yoh. 2:13, ketiga di 13:1). Petunjuk waktu Paska ini penting, selain tumbuh banyak rumput seperti tersurat di ayat 10, karena merupakan momen banyak orang datang dari segala penjuru untuk merayakannya di tanah kelahiran. Latar Paska ini seperti kisah Allah membebaskan bangsa Israel dari Mesir, mengembara di gurun, dan diberi makanan manna dari Allah. Ini akan dipertegas di ayat 30.

Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus, “๐˜‹๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ?’ (ay. 5) Pertanyaan Yesus ini mirip pertanyaan Musa (lih. Bil. 11:13). Dalam Injil sinoptik murid-murid yang mengajukan persoalan makan ini karena hari menjelang malam. Dalam Injil Yohanes ini Yesus yang mengambil insiatif dan tidak ada keterangan waktu menjelang malam. Narator kemudian menjelaskan pertanyaan Yesus itu untuk menguji Filipus (ay. 6). Jawab Filipus, “๐˜™๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ค๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ช๐˜ญ.” (ay. 7). Jawaban Filipus menunjukkan ia belum belajar saat berada di Samaria. Saat itu Yesus berkata, “๐˜”๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ-๐˜’๐˜ถ ๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜‹๐˜ช๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ-๐˜•๐˜บ๐˜ข.” (Yoh. 4:34).

Murid yang lain, Andreas, berkata kepada Yesus, “๐˜‹๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ช ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช?” (ay. 8-9). Di Injil sinoptik tidak ada pertanyaan dari Andreas itu. Petulis Injil Yohanes tampaknya hendak mengontraskan kelimpahan roti yang akan diberikan oleh Yesus sekaligus melampaui yang diberikan oleh Elisa dalam 2Raja-raja 4:42-44.

Kata Yesus, “๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฌ.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. (ay. 10) Yesus memegang kendali situasi. Selain ditampilkan sebagai tuan rumah, Yesus juga ditampilkan sebagai Gembala yang membaringkan domba-domba di padang rumput (Mzm. 23:2). Lima ribu orang takkan kekurangan (Mzm. 23:1).

Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur, dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ. Demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu sebanyak yang mereka kehendaki (ay. 11). 
▶ Dalam Injil sinoptik sesudah Yesus mengucap syukur: (1) Yesus memecah-mecah roti, (2) roti diberikan kepada murid-murid, dan (3) murid-murid meneruskan membagi kepada orang banyak. 
▶ Dalam Injil Yohanes ini Yesus tidak memecah-mecah roti dan Ia membagi sendiri roti-roti dan ikan-ikan itu kepada orang banyak. Yesus tidak melibatkan murid-murid dalam pembagian. Dengan kata lain semua adalah prakarsa dan karya Yesus sendiri. Teks ayat 11 itu dipersiapkan untuk ucapan Yesus bahwa Yesuslah Roti Kehidupan (ay. 48) dan orang yang makan roti itu akan hidup selama-lamanya (ay. 50-51).

Setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “๐˜’๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ-๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ.” (ay. 12) Mereka pun mengumpulkannya dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan (ay. 13). 

Frase ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ-๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ adalah terjemahan versi TB 1974 dan TB II 1997 dari ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ด๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข. NRSV menerjemahkan menjadi ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ง๐˜ณ๐˜ข๐˜จ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ด ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ง๐˜ต ๐˜ฐ๐˜ท๐˜ฆ๐˜ณ. Versi TB II 2023 menerjemahkan menjadi ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ-๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ช๐˜ด๐˜ข sehingga mengaburkan pesan teologisnya, yaitu umat takkan kekurangan (lih. ay. 10 dan bdk. Mzm. 23:1-2). Frase ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ menyimbolkan makanan yang tidak akan binasa (lih. ay. 27). Pengumpulan makanan berlebih adalah hal yang biasa di kalangan Yahudi, tetapi di sini hendak mengemukakan kelimpahan. Para murid diberi tanggung jawab atas pemberian Yesus itu agar makanan tetap tersediakan bagi umat yang akan datang.

Ketika orang-orang itu melihat tanda mukjizat yang diadakan-Nya, mereka berkata, “๐˜‹๐˜ช๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜•๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข.” (ay. 14) Oleh karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung seorang diri (ay. 15). Kembali petulis Injil Yohanes menyatakan bahwa mengikuti Yesus karena tanda mukjizat bukanlah iman autentik. Yesus memilih menyingkir ketimbang dipaksa menjadi raja oleh orang-orang itu. Di sini juga terjadi perbedaan alasan Yesus pergi ke tempat terpencil. Di Injil Markus Yesus pergi ke tempat terpencil agar para murid dapat beristirahat sejenak. Di Injil Matius Yesus pergi ke tempat terpencil karena mendengar Yohanes Pembaptis dibunuh oleh Raja Herodes.

๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ท๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐˜€ ๐—ฎ๐—ถ๐—ฟ (ay. 16-21)

Dalam episode ini tidak begitu jelas peralihannya dari peristiwa penggandaan roti. Di Injil Markus dan Matius Yesus mendesak murid-murid-Nya menyeberang dan menyuruh orang banyak itu pulang, lalu Yesus pergi menyendiri. Pada akhir cerita sebelumnya Yesus menyingkir ke gunung seorang diri (ay. 15). Dalam Injil Yohanes tidak ada adegan Yesus menyuruh orang banyak pulang dan mendesak murid-murid-Nya bertolak ke seberang. Apabila kita membaca ayat 22 esok hari orang banyak itu baru menyadari bahwa Yesus dan murid-murid-Nya tidak ada lagi di tempat itu.

Ketika hari mula malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum. Hari sudah gelap dan Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, sementara laut bergelora karena tiupan angin kencang (ay. 16-18). 

Keterangan waktu ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ merupakan kesukaan petulis Injil Yohanes. Dalam prolog Injil sudah dikontraskan antara terang dan gelap. Nikodemus menjumpai Yesus pada malam hari (Yoh. 3), sedang perempuan Samaria pada siang hari. Malam menyimbolkan kegelapan. Di sini penginjil hendak menyimbolkan para murid sedang masuk ke dalam kegelapan dunia. Ayat 18 menekankan ancaman yang dihadapi para murid. Mereka berada di tengah badai laut yang bergelora. Keempat Injil menggunakan kata ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ด๐˜ด๐˜ข yang berarti literal laut. Situasi ini memerikan keadaan manusia yang jauh dari kehadiran Allah.

Sesudah mereka mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Mereka pun ketakutan. (ay. 19) Namun, Yesus berkata kepada mereka, “๐˜๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต!” (ay. 20)

Dalam Injil Markus dan Matius ketika para murid melihat Yesus berjalan di atas air, mereka ketakutan, karena Yesus disangka hantu (Mrk. 6:49, Mat. 14:26). Dalam Injil Yohanes berbeda. Yesus tidak disangka hantu. Ketakutan para murid karena mereka mengalami peristiwa theophany (penampakan Allah) apabila dihubungkan dengan ucapan Yesus di ayat 20, “๐˜๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ (๐˜Œ๐˜จo ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ช)”. Hal ini mirip dengan perkataan Yesus dalam Yohanes 18:5-6 yang membuat para prajurit Romawi jatuh karena gentar.

Lalu mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu dan seketika itu juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tuju (ay. 21).

Dalam Injil Markus angin topan disamakan dengan roh jahat. Adegan peneduhan danau dari amukan angin topan sama dengan pengusiran roh jahat (lih. Mrk. 1:25; 5:39). Dalam Injil Yohanes tidak ada episode atau adegan Yesus mengusir roh jahat atau setan. Bahkan iblis yang merasuki Yudas Iskariot didiamkan saja oleh Yesus dan membiarkan Yudas pergi ke tengah kegelapan malam (lih. Yoh. 13:27-30). Ayat 21 di atas tidak menyebut danau menjadi tenang. Tahu-tahu perahu seketika sampai ke pantai yang menjadi tujuan mereka. Tidak ada penjelasan bahwa Yesus sudah masuk ke dalam perahu atau Ia tetap berjalan di atas air. Yohanes tampaknya hanya hendak menyampaikan bahwa para murid menerima Yesus dan mereka sudah tidak di dalam kegelapan lagi serta selamat sampai tujuan. Apakah ada penjelasan lain?

Mari kita kembali ke awal bacaan. Latar waktu pemberian makan kepada lima orang menjelang Paska Yahudi yang memeringati pembebasan orang Israel dari Mesir. Jadi, konteksnya adalah Paska. Sebelum mereka keluar dari Mesir, mereka makan hidangan Paska, yang diperagakan pemberian makan kepada lima ribu orang. Dalam kitab Keluaran 14 orang Israel yang ketakutan dikejar oleh pasukan Mesir diselamatkan oleh Allah secara mengherankan menyeberangi Laut Teberau yang airnya dibelah oleh Allah. Tampaknya episode ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜ข๐˜ช๐˜ณ hendak disejajarkan dengan kisah ini sehingga seluruh bacaan Minggu ini bercorak teologi Keluaran.

 (28072024)(T)

Jumat, 19 Juli 2024

SUDUT PANDANG MARKUS 6 : 30 - 34, 53-56, ๐—œ๐˜€๐˜๐—ถ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐˜ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ถ๐—ป๐—ด, ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜€ ๐—ธ๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—ต ๐—ท๐—ฎ๐˜‚๐—ต ๐—น๐—ฒ๐—ฏ๐—ถ๐—ต ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ถ๐—ป๐—ด


SUDUT PANDANG MARKUS 6 : 30 - 34, 53-56, ๐—œ๐˜€๐˜๐—ถ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐˜ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ถ๐—ป๐—ด, ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜€ ๐—ธ๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—ต ๐—ท๐—ฎ๐˜‚๐—ต ๐—น๐—ฒ๐—ฏ๐—ถ๐—ต ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ถ๐—ป๐—ด

Tahun B disebut juga Tahun Markus, meskipun pada Minggu-Minggu tertentu bacaan diisi dari Injil Yohanes. Injil Markus adalah narasi panjang pertama dan tertua mengenai Yesus. Petulis Injil Markus tidak mengandalkan misteri Natal, melainkan misteri Paska. Penujuannya kepada Mesias, Hamba Tuhan yang harus menderita, dibunuh, dan dibangkitkan Allah.

Hari ini adalah Minggu kesembilan setelah Pentakosta. Bacaan Injil Markus 6:30-34, 53-56 

Bacaan Injil hari ini mencakup satu setengah perikop. Perikop kesatu diberi judul oleh LAI ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, tetapi bacaan tidak sampai ke peristiwa pemberian makan. Bacaan kemudian melompati perikop ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜ข๐˜ช๐˜ณ, menuju perikop kedua ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜Ž๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ต. Markus menarasikan kegiatan dalam ketiga perikop itu seolah-olah satu hari.

Bacaan penuh gerak sekaligus ketegangan. Para rasul tampak lelah selepas menjalankan misi dari Yesus (lih. Mrk. 6:7-13), sedang orang banyak mencari mereka. Pengulasan bacaan dibagi ke dalam tiga tembereng:

๐Ÿ›‘ Rencana istirahat (ay. 30-33)
๐Ÿ›‘ Istirahat batal (ay. 34)
๐Ÿ›‘ Mengenali Yesus (ay. 53-56)

๐—ฅ๐—ฒ๐—ป๐—ฐ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ ๐—ถ๐˜€๐˜๐—ถ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐˜ (ay. 30-33)

Dalam Markus 6:6b-13 Yesus mengutus ke-12 murid (yang disebut rasul-rasul) pergi berdua-dua untuk mewartakan Injil sama seperti yang Yesus lakukan pada pembukaan Injil (Mrk. 1:15.). Sekarang rasul-rasul kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan (ay. 30). Kata ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ dan ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ merupakan ujud (๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ต๐˜บ) pewartaan Injil. Jadi, mewartakan Injil bukan berteriak-teriak kepada orang-orang, melainkan mengajar dan mengerjakan berita Injil. Apa yang dikerjakan? Seperti yang Yesus sudah lakukan sebelumnya: menyembuhkan banyak orang sakit, mengusir roh-roh jahat, dlsb. Berbelarasa dan memanusiakan manusia.

Misi mereka tampaknya sukses besar. Hal ini ditunjukkan dengan orang banyak datang silih berganti sehingga untuk makan pun mereka tidak sempat. Yesus berkata kepada mereka, “๐˜”๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ!” (ay. 31). Perkataan Yesus “๐˜”๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ … “ diterjemahkan dari ๐˜‹๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฆ ๐˜ฉ๐˜บ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ด ๐˜ข๐˜ถ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต’ ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ̄๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ช๐˜จ๐˜ฐ๐˜ฏ. Sila bandingkan tiga versi penerjemahan LAI:

▶ TB 1974 “๐˜”๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช, ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐™ ๐™ž๐™ฉ๐™– ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข!”
▶ TB II 1997 “๐˜”๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐™ ๐™ž๐™ฉ๐™– ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ!”
▶ TB II 2023 “๐˜”๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ!”

Dalam bahasa aslinya tidak ada pronomina ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข melainkan ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช (๐˜ฉ๐˜บ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ด ๐˜ข๐˜ถ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ช). TB II 2023 mencoba memerbaiki dengan menghilangkan pronomina ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข, tetapi tidak menyurat subjeknya sehingga kalimat menjadi kabur. Sekarang bandingkanlah dengan versi bahasa Inggris:

▶ NRSV “๐˜Š๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฆ ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜บ ๐˜ต๐˜ฐ ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฅ ๐˜ฑ๐˜ญ๐˜ข๐˜ค๐˜ฆ ๐˜ข๐˜ญ๐˜ญ ๐˜ฃ๐˜บ ๐™ฎ๐™ค๐™ช๐™ง๐™จ๐™š๐™ก๐™ซ๐™š๐™จ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ฆ.”
▶ KJV “๐˜Š๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฆ ๐˜บ๐˜ฆ ๐™ฎ๐™ค๐™ช๐™ง๐™จ๐™š๐™ก๐™ซ๐™š๐™จ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฐ ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ญ๐˜ข๐˜ค๐˜ฆ, ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ฆ.”
▶ ASV “๐˜Š๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฆ ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜บ ๐˜ฃ๐˜บ ๐™ฎ๐™ค๐™ช๐™ง๐™จ๐™š๐™ก๐™ซ๐™š๐™จ ๐˜ต๐˜ฐ ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ต๐˜ฆ ๐˜ฑ๐˜ญ๐˜ข๐˜ค๐˜ฆ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ฆ.”

Jadi, Yesus menyuruh para murid beristirahat. Bukan ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข, melainkan ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ. Yesus memandang mereka butuh istirahat. Dalam terjemahan bebas, “๐˜ˆ๐˜บ๐˜ฐ, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ญ!” Hanya di Injil Markus Yesus menyuruh para murid beristirahat. Di Injil Matius dan Lukas tidak ada. Markus melihat istirahat sebagai hal yang serius. Dalam versi Markus ini Yesus pergi ke tempat terpencil agar para murid-Nya dapat beristirahat sejenak. Bandingkan dengan Injil Matius. Yesus menyingkir ke tempat terpencil karena mendengar berita pembunuhan Yohanes Pembaptis (lih. Mat. 14:13). 

Mereka berangkat dengan perahu menyendiri ke tempat terpencil (ay. 32). Pada waktu mereka bertolak, banyak orang melihat dan mengenali mereka. Dengan mengambil jalan darat bergegas-gegaslah orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka (ay. 33). 

Di sini kita sudah dapat membayangkan bahwa rombongan Yesus naik perahu di danau, bukan sungai. Namun, kita tidak perlu merasionalisasi alasan rombongan orang banyak itu dapat mendahului perahu. Yang perlu diperhatikan adalah frase ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข yang hendak menyimbolkan kehadiran seluruh orang Israel. Hal ini berpautan dengan adegan selanjutnya dalam peristiwa pemberian makan kepada lima ribu orang (lih. ay. 35-44). Markus sedang menyiapkan panggungnya.

๐—œ๐˜€๐˜๐—ถ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐˜ ๐—ฏ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—น (ay. 34)

Ketika mendarat, Yesus melihat orang banyak berkerumun, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka (ay. 34). 

Rencana istirahat tampaknya batal. Bukan kali itu saja Yesus dan para murid didatangi oleh orang banyak ke tempat terpencil. Pada awal Injil Markus (1:35-39) sudah terjadi hal yang mirip, Yesus batal berdoa dan langsung bergerak bekerja.

Ungkapan ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช-๐˜•๐˜บ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ menerjemahkan bahasa aslinya yang hanya satu kata ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฉe. Akar katanya adalah ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜ข yang berarti literal usus atau isi perut, yang oleh orang Yahudi diyakini sebagai pusat emosi. Di luar perumpamaan-perumpamaan para petulis Injil selalu menyuratkan bahwa Yesuslah yang berbelas kasihan sehingga mendorong-Nya melakukan penyembuhan, pembangkitan orang mati, penahiran orang kusta, dlsb. untuk menunjukkan semua itu adalah kerahiman Allah sendiri.

Frase ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข (ay. 33) yang hendak menyimbolkan kehadiran seluruh orang Israel dipertegas dengan ungkapan ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ช ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข (ay. 34). Dalam kitab Bilangan 27:17 diperikan suasana rawan dan mengenaskan umat Israel yang tidak memiliki gembala atau pemimpin (lih. juga 1Raj. 22:17, 2Taw. 18:16,  Za. 10:2, dan terutama Yeh. 34:5). Bangsa Israel menjadi mangsa musuh, karena ditelantarkan oleh para pemimpinnya.

Dari beberapa teks Perjanjian Lama (PL) di atas teks dari Kitab Bilangan dan Yehezkiel sangat menonjol.

▶ Dalam Bilangan 27:17-23 Musa memohon kepada Yahweh untuk mengangkat penggantinya sebagai pemimpin Israel. Yahweh lalu menunjuk Yosua. Dalam bahasa Ibrani penulisan nama Yosua (Yoshua) sama dengan Yesus (Yeshua).
▶ Dalam Yehezkiel 34 Allah mengecam para pemimpin Israel yang hanya menggembalakan mereka sendiri dan membiarkan umat telantar, tercerai-berai, menjadi mangsa musuh. Allah berjanji akan mengangkat gembala sejati.

Dengan teropong PL ini kita menjadi lebih mudah memahami ungkapan ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ช ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข (ay. 34). Yesus diperkenalkan sebagai gembala sejati, yang berbelas kasihan, yang bertugas menuntun umat.

Belas kasih Yesus mendorong-Nya mengajar umat yang tanpa gembala itu. Dalam Injil Markus adalah kebiasaan Yesus mengajar apabila dikerumuni oleh banyak orang (lih. Mrk. 2:13; 4:1; 6:34). Bandingkan dengan Injil Matius untuk adegan sebelum peristiwa pemberian makan kepada lima ribu orang yang menekankan adegan menyembuhkan mereka yang sakit (lih. Mat. 14:14). Meskipun berbeda, kedua petulis Injil menyampaikan tanggapan yang sama dari Yesus. Yesus membatalkan rencana istirahat yang sudah disusun. Yesus lebih mementingkan belas kasih kepada orang-orang yang telantar.

Di sini Yesus juga mengajar para pendeta yang kerap mendaku diri hamba agar tampak seolah-olah rendah hati. Para hamba Tuhan hendaklah lebih mementingkan belas kasih kepada orang telantar atau orang-orang marginal daripada pelesir ke Israel dengan dalih berziarah ke Tanah Suci. Padahal Yohanes 4 secara radikal menegaskan bahwa kekristenan tidak mengenal Tanah Suci.

๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—น๐—ถ ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ (ay. 53-56)

Bacaan melompat ke ayat 53. Dua peristiwa pemberian makan kepada lima ribu orang dan Yesus berjalan di atas air dilewati. 

Mereka tiba di seberang dan mendarat di Genesaret. Ketika mereka keluar dari perahu, orang-orang segera mengenali Yesus, lalu berlarilah mereka ke seluruh daerah itu. Mereka membawa orang-orang sakit di atas tikar ke mana pun mereka mendengar Yesus berada; ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, mereka meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada Yesus agar diperkenankan menyentuh meskipun jumbai jubah-Nya saja. Semua orang yang menyentuh-Nya menjadi sembuh. (ay. 53-56)

Apa yang terjadi setelah mereka mendarat? Orang-orang segera mengenali Yesus (ay. 54). Bagaimana mereka mengenali-Nya? Apakah Yesus berjalan di atas air beberapa meter menuju pantai? Pernahkah mereka melihat foto diri Yesus dipasang di pasar? Tidak satu pun teks Injil yang memerikan fisik Yesus. Bagaimana orang-orang dapat mengenali Yesus? Mereka mengenali-Nya dari pelayanan nyata Yesus. Tentu saja yang dimaksudkan pelayanan ini bukan berkhotbah, bermain gitar, menjadi kolektan di gereja, dan lain sejenisnya. Pelayanan sesungguhnya ya seperti Yesus melayani, yakni memanusiakan manusia. Ayat 56 memberi petunjuk itu. 

Dalam ayat 56 dikatakan bahwa orang-orang sakit asal menyentuh jumbai jubah Yesus menjadi sembuh. Dalam Sudut Pandang  yang lalu sudah dibahas tentang Yesus dan perempuan sakit pendarahan (Mrk. 5:25-34). Dengan penuh keyakinan perempuan itu sembuh hanya dengan menyentuh jubah Yesus di kerumuman orang banyak. Tampaknya peristiwa itu tersebar ke seluruh penjuru dan banyak orang termotivasi oleh iman perempuan itu.

Bagaimana dengan pendeta-pendeta yang mendaku hamba Tuhan agar tampak seolah-olah rendah hati? Apakah orang-orang mengenali para hamba Tuhan dari pelayanan nyata mereka?

(T)(20072024)

Sabtu, 13 Juli 2024

SUDUT PANDANG PERJAMUAN KUDUS ANAK, TINJAUAN KONTEKSTUALITAS TEOLOGI DI GKJ

SUDUT PANDANG PERJAMUAN KUDUS ANAK, TINJAUAN KONTEKSTUALITAS TEOLOGI DI GKJ

PENGANTAR
Ketika anak-anak mulai bertanya, mengapa mereka tidak dilibatkan dalam Sakramen Perjamuan, Gereja perlu meninjau kembali kebiasaan dan pemahamannya tentang esensi Sakramen Perjamuan dan tempat anak-anak yang sudah dibaptiskan dalam Sakramen Perjamuan. Sakramen Perjamuan sebagai alat pemeliharaan iman mengandung makna yang sangat dalam. Bukan sekadar berisi janji Allah atas karya penyelamatan-Nya di dalam Kristus, melainkan juga pengutusan kepada setiap orang percaya untuk mewartakan cinta kasih terhadap sesama dan seluruh ciptaan. Anak-anak yang sudah menerima Sakramen Baptis mestinya juga berhak menerima janji Tuhan dan pengutusan-Nya itu. Jika tidak demikian, di manakah tempat "anak-anak perjanjian" dalam keseluruhan karya Kristus? Terkadang terkesan menjadi aneh ketika pokok ajaran suatu gereja melihat begitu vitalnya pembaptisan anak dg berbagai nalar pengajaran tetapi dg nalar pengajaran pula melarang anak-anak tidak dipelihara keimanannya dengan sakramen, atau tepatnya sakramen perjamuan Kudus. Padahal nalar ajaran pula yang memperlihatkan bahwa setelah pembaptisan, alat pemeliharaan iman itu adalah sakramen.
Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah" [Mark. 10:14]. Dengan kasih Tuhan Yesus mengundang anak-anak datang kepada-Nya supaya mereka menerima berkat. Tidak ada seorangpun yang bisa menghalangi anak-anak menerima berkat. Termasuk juga tidak ada seorangpun yang bisa menghalangi anak-anak untuk berada di seputar meja perjamuan Tuhan. Sejarah mencatat bahwa sejak tahun 1215 dalam konsili Lateran, Gereja Barat memutuskan pelarangan bagi anak untuk turut serta dalam perjamuan kudus [PK). Keputusan ini merupakan dampak dari doktirn transubstansiasi. Namun, sejak tahun 80-an gereja-gereja reformasi [khususnya yang tergabung dalam REC — Reformed Ecumenical Council],  menggumulkan kembali tentang keikut sertaan anak dalam PK. Tahun 1996, dalam persidangan di Indonesia, REC memutuskan untuk mengikutsertakan anak-anak dalam PK. Sebagai tindak lanjut keputusan REC, persidangan XXIV Sinode GKJ memutuskan bahwa gereja-gereja dapat mengikutsertakan anak dalam PK. Sementara itu Sinode GKI SW Jateng memutuskan bahwa anak boleh ikut dalam PK pada persidangan tahun 2013. Bagaimana upaya Gereja/Jemaat mewujudkan PK yang ramah terhadap anak? MARI KITA MELIHAT BEBERAPA SUDUT PANDANG TENTANG PERJAMUAN KUDUS ANAK


PEMAHAMAN

SUDUT PANDANG TUJUAN PENDIDIKAN KRISTEN

1. Pendidikan Kristiani di Gereja bukan hanya bentuk Sekolah Minggu, katekisasi dan kotba\ saja, namun depat melalui semua kegiatan gerejรชwi

2. Anak-anak juga memiiiki hak yang sama menerima Rahmat Tuhan, kalau mereka dapat dibaptis, maka seharusnya mereka juga dapat menerima Sakramen Perjamuan (sakramen adalah sarana pemeliharean iman)

3. Keikutsertaan anak dalam PK membantu merekonstruksi dan memperbaiki konsep dan praktek Pendidikan Kristiani dalam gereja

4. Prasyarat rahmat bukan katekisasi/sidi, namun Iman. Perjamuan Kudus salah satu sarana pendidikan Kristiani dan pendidikan Kristiani harus dirancang dengan sungguh-sungguh , tidak hanya bentuk pengajaran namun melingkupi seluruh hidup

5. PKA (Perjamuan Kudus Anak) juga dapat diawali dengan memberikan persiapan bagi anak Adapu,n topik-topik pengajarannya meliputi:

a. Penciptaan yang sungguh amat baik
b. Dosa yang merusak relasi antara Allah             dan Manusia, manusia dan sesama.
c. Kelahiran Yesus sebagai penggenapan janji keselamatan
d. Karya Yesus : pembaptisan, ajaran Kasih, mujรญzat
e. Sengsara dan wafat Tuhan Yesus
d. Kebangkitan Yesus , kemenangan atas dosa
e. Sakramen Baptis yang telah diterima anak dan perjamuan kudus yang akan diikuti oleh anak

6. Persiapan untuk PKA dapat dilakukan Bersama dengan guru sekolah Minggu dan juga membutuhkan peran serta orang tua datam memberikan pemahaman kepada anak tentang PKA.

7. Dengan adanya pendampingan dan pemahaman tentang PKA dari orang tua, maka sebenarnya ini juga rangka mengembalikan pendidikan Kristen pada esensinya yaitu bahwa pendidikan tugas dari gereja dan sekolah, tetapi tugas yang utama dari ke!uarga.

SUDUT PANDANG KESAKSIAN ALKITAB

Semua naskah Injil dan surat Rasul Paulus membuktikan bahwa sakramen perjamuan adalah esensial atau mendasar. Semua naskah tersebut memberikan tekanan bahwa sakramen perjamuan bukanlah suatu yang bersifat individual, melainkan dalam segala hal dan segi sangat kena-mengena dengan hakikat hidup berjemaat. Namun naskah-naskah tersebut — bahkan seluruh naskah Perjanjian Baru Iainnya — tidak memberikan petunjuk yang jelas mengenai siapa yang boleh dan tidak boleh turut serta dalam sakramen perjamuan. Paulus adalah satu-satunya orang yang memberikan kata-kata peringatan soal praktik sakramen perjamuan di dalam jemaat Korintus. Tetapi di dalam suratnya, ia tidak menyinggung sama sekali soal umur. warna kulit, kebangsaan', maupun jenis kelamin orang yang boleh turut serta dalam pelayanan sakramen perjamuan. Ia justru memberi tekanan kepada sadar-tidaknya dan yakin-tidaknya jemaat yang akan ambil bagian dalam sakramen perjamuan mengenai hakikat gereja sebagai tubuh Kristus• Konteks dalam perjamuan Kudus pada jemaat Korintus adalah pertarungan Etika Iman antara perjamuan Kudus dan perjamuan Agape atau perjamuan Kasih. Kesaksian-kesaksian tersebut menunjukkan bahwa sakramen perjamuan sudah dilaksanajan oleh Gereja Perdana sejak awal kelahirannya. Di dalam kehidupan jemaat mula-mula tersebut, semua orang yang sudah dibaptis — termasuk anak-anak diizinkan turut serta dalam pelayanan sakramen perjamuan, bahkan dapat berpartisipasi secara aktif di dalam pelayanan tersebut. Kesederhanaan dan sikap Perjanjian Baru yang tidak banyak berkata-kata mengenai sakramen perjamuan memberikan kebebasan kepada kita untuk dengan penuh tanggung jawab mencari bentuk-bentuk yang lebih relevan atau kontekstual, supaya kita dapat semakin menghayati karya penyelamatan Allah atas manusia dengan baik. Sudah sepatutnya pula kita berharap bahwa gereja dengan kreatif dan berani mengupayakan agar sakramen perjamuan dapat dirayakan kembali sesuai dengan yaitu sebagai sarana pemeliharaan iman bagi semua orang yang percaya kepada Yesus Kristus, perhatian pada konteks atau latar belakang dimana gereja itu bertumbuh kembang. Selain itu, kesaksian Alkitab juga mengungkapkan bahwa sejak masa Perjanjian Lama, anak-anak mempunyai tempat yang cukup sentral dalam jamuan makan setiap kali perayaan Paskah umat Israel diselenggarakan. Pada masanya, Yesus juga sangat menghargai anak-anak. la berkenan memeluk dan memberkati anak-anak (Mrk. 10:16). Ia bahkan menegur mUrid-murid-Nya yang berusaha menghalang halangi orang-orang yang membawa anak-anak mereka datang kepada-Nya. la juga memberikan peringatan yang sangat keras kepada setiap orang yang berusaha menyesatkan anak-anak (Mat. 12:15-16; 1 8:6, 10, 14; 19:13-14). Ia menerima pemberian roti dan ikan dari seorang anak untuk menyediakan jamuan makan bagi lima ribu orang lebih (Yoh. 6:1-15).

SUDUT PANDANG GEREJA PERDANA

Gereja Perdana pada awalnya merayakan sakramen perjamuan sebagai bagian dari suatu perjamuan yang lebih besar (l Kor. 1 1:17-34). Namun kebiasaan seperti iล‚u sama sekali telah ditinggalkan pada pertengahan abad II. Sakramen perjamuan dirayakan dengan memakan roti dan anggur yang mereka anggap sebagai makanan yang kudus. Sebab mereka memahami bahwa sakramen perjamuan adalah wujud kehadiran Kristus di daล‚am roti dan anggur perjamuan (Mat. 26:26-29; Mrk. 14:22-25; Luk. 22:19-20; I Kor. 11:23-26; bnd. Yoh. 6:48, 54).
Anak-anak orang-orang Kristen yang sudah dibaptis diizinkan ikut serta daล‚am pelayanan sakramen perjamuan. Sebab anak-anak tersebut sangat memerlukan makanan dan asuhan lanjutan, antara lain dengan sakramen perjamuan. Pada masa itu, para rasul dan para pemimpin Gereja Perdana juga belum memiliki pemikiran bahwa orang-orang yang sudah dibaptis iล‚u harus mencapai tingkat pengetahuan tentang agama Kristen yang lebih tinggi dan perilaku yang lebih baik sebelum mereka diperkenankan menghadiri sakramen perjamuan.

SUDUT PANDANG BAPA-BAPA GEREJA

Pada masa Bapa-bapa Gereja, seiring dengan perubahan zaman dan beragam tantangan yang harus dihadapi oleh gereja, mulailah bermunculan perbedaan pendapat dan pertentangan tentang makna sakramen perjamuan dan siapa yang boleh mengikutinya. Tetapi hingga akhir abad V, pengaruh Augustinus (354-430) masih cukup kuat. Anak-anak yang sudah dibaptis diizinkรฅn menerima roti dan anggur dalam sakramen perjamuan. Abad Pertengahan rupanya menjadi abad perubahan besar dalam kehidupan gereja, termasuk dalam hal sakramen perjamuan. Pada masa itu, anak-anak tidak diizinkan lagi menerima sakramen perjamuan• Mereka harus berproses cukup panjang sampai dianggap mampu menggunakan akal budi mereka dengan baik. Sehingga muncullah ritus perpindahan, yaitu sidi atau penguatan• Salah satu tokoh di balik perubahan tersebut adalah Thomas Aquinas (1225-1274). Augustinus dan Thomas Aquinas memang hidup pada masa yang jauh berbeda. Tetapi pendapat mereka yang saling bertentangan itu hingga saat ini masih sering dikutip dan dijadikan dasar atau landasan berbagai ajaran gereja. Akibatnya, hingga saat ini ada keanekaragaman praktek pelayanan perjamuan di gereja-gereja.

SUDUT PANDANG REFORMATOR GEREJA

Martin Luther berpendapat bahwa anak-anak harus dididik dalam iman sebelum mereka ikut dalam sakramen perjamuan. Pada masanya, ia juga ingin mempertahankan kebiasaan menyelenggarakan upacara khusus, yaitu konfirmasi atau peneguhan sidi untuk menyertai sakramen perjamuan pertama bagi anak-anak yang berumur antara 7 (tujuh) sampai dengan 12 (dua belas) tahun. Sedangkan Zwingli melihat sakramen (baik baptisan maupun perjamuan) lebih sebagai tindakan jemaat — baik orang dewasa maupun anak-anak — untuk mengakui imannya. la menetapkan bahwa sakramen perjamuan hanya dirayakan empat kali dalam setahun, dan hanya boleh diikuti oleh mereka yang sudah percaya kepada Kristus atau mereka yang telah mampu mengungkapkan imannya. Calvin sangat menekankan bahwa anak-anak yang telah berumur 10 (sepuluh) tahun harus dididik dalam iman. Itu sebabnya, ia menciptakan suatu upacara yang berhubungan dengan kali pertama anak-anak ikut serta dalam sakramen perjamuan. Menurutnya, anak-anak dapat diterima sebagai peserta sakramen perjamuan setiap kali sakramen tersebut dilayankan setidak-tidaknya empat kali dalam satu tahun. Oleh karena itu, pelayanan sakramen perjamuan harus diumumkan satu minggu sebelumnya, supaya anak-anak yang hendak ikut serta dapat diuji dan para tamu serta anggota baru dapat menghadap majelis gereja lebih dahulu. John Wesley mengartikan sakramen perjamuan sebagai anugerah, tanda, dan simbol dari karya penebusan Kristus. Perayaan tersebut dipahami Sebagai suatu memorial (peringatan) akan pengorbanan Kristus dan perjamuan persekutuan dengan Kristus. Sakramen perjamuan juga diyakini sebagai perjamuan persekutuan dengan Tuhan yang baik kepada semua orang dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikanNya. Oleh sebab itu, bukan hanya orangtua atau orang dewasa saja yang memerlukan persekutuan serta rahmat Tuhan tersebut, tetapi anak-anak juga sangat memerlukannya.

SUDUT PANDANG PERUBAHAN WAKTU

Praktik pemisahan sakramen baptisan dari sakramen perjamuan jelas harus dikoreksi. Sebab sesungguhnya hal tersebut juga berarti sebuah penilaian yang berbeda atas kedua sakramen itu. Untuk sakramen baptisan seolah-olah boleh ditetapkan syarat yang lebih ringan dari sakramen perjamuan. Hal ini jelas bertentangan dengan hakikat dan arti dari sakramen baptisan maupun sakramen perjamuan. Sesungguhnya tidak ada perbedaan mengenai tingkat nilai antara sakramen baptisan dan sakramen perjamuan. Keduanya merupakan pernyataan isi hakiki Injil. Keduanya merupakan tanda dan meterai bahwa Allah telah melimpahkan rahmat-Nya kepada manusia melalui pengorbanan Kristus pada kayu salib di Golgota yang mengaruniakan keampunan dosa dan hidup yang kekal. Keduanya disajikan kepada setiap orang yang mendasarkan imannya kepada penderitaan dan kematian Yesus Kristus yang mendamaikan dan pada kuat kuasa kebangkitan-Nya. Bagi kedua sakramen itu dikehendaki keadaan hati yang sama, yaitu kerelaan bertobat, kepercayaan akan Yรฉsus Kristus selaku Juruselamat dan Tuhan, dan kesediaan yang sungguh-sungguh untuk hidup menurut perintah-Nya. Itu sebabnya, apabila seseorang atau pun SEORANG ANAK telah dipandang layak diterima di dalam persekutuan jemaat dengan sakramen baptisan, maka mestinya ia juga layak pula tu
rut menghadiri sakramen perjamuan. Sebab sakramen perjamuan itulah yang memberi bentuk pada persekutuan anggota-anggotaNya / anggota tubuhNya di dunia ini dengan Kristus /  KepalaNya di sorga. Andaikata kita berpendapat bahwa seorang anak itu belum matang imannya untuk turut serta dalam sakramen perjamuan, maka selayaknya ia tidak dibaptis. Sebab sakramen baptisan dan sakramen perjamuan tidak dapat dan tidak boleh diceraikan dengan cara demikian. Sakramen-sakramen itu amat penting artinya bagi kehidupan gereja. Sakramen-sakramen itu juga merupakan faktor - faktor utama dalam membina kehidupan jemaat. Kini, anak-anak yang telah berumur 7 (tujuh tahun) sudah mampu dibimbing dan dipersiapkan untuk dapat menerima pelayanan sakramen perjamuan• Melalui bimbingan orang tua dan dengan dibantu gereja melalui katekisasi, kebaktian anak, sekolah Minggu serta melalui berbagai bentuk kegiatan pembinaan lainnya, mereka akan dapat mengikuti dan menerima sakramen perjamuan dengan baik.pelayanan sakramen perjamuan untuk anak-anak pada dasarnya sama dengan pelayanan untuk orang-orang dewasa. Dilayankan sebulan sekali atau disesuaikan dengan kalender gerejawi. Sebaiknya anak-anak juga tidak dipisahkan dari orang tua mereka, supaya peran orangtua yang harus bertanggung jawab membimbing dan menghantar anak-anak mereka untuk dapat memahami dan menerima sakramen perjamuan dengan baik dapat lebih dioptimalkan.

SUDUT PANDANG REFLEKSI TEOLOGIS

Perjamuan malam terakhir Yesus bersama murid-murid-Nya adalah perjamuan yang unik. Namun perjamuan tersebut tidak dapat dipisahkan dari ucapan, tindakan, dan perjamuan makan Yesus lainnya. Ia menyembuhkan banyak orang sakit, membebaskan orang-orang yang dirasuk setan, serta menafsirkan Taurat dengan cara yang sangat mengherankan, tetapi juga menjengkelkan. Ia bergaul dengan orang yang tidak diharapkan hadir di tengah pergaulan orang banyak. Ia duduk satu meja dengan orang-orang Farisi yang dikenal sebagai "orang-orang berdosa" dan lazim disamakan dengan para pemungut cukai yang sangat dibenci masyarakat (Luk. 14:1-6; bnd. Mrk. 2:15-17; Mat. 1 1:18-19). Ucapan dan tindakan Yesus membawa perubahan secara radikal. Seorang berpenyakit kusta memperoleh hidup baru (Mrk. 1:40-45), seorang pemungut cukai meninggalkan mata pencahariannya yang tidak halal (Mrk. 2:13-14), seorang yang dirasuk setan pulang ke rumahnya dalam keadaan sembuh (Mrk 5:9). bahkan jalan bagi banyak orang kafir menjadi (Mat. 8:5-13, 15:21-28). Dalam lingkup seperti itulah sakramen perjamuan itu seharusnya ditempatkan, Yรฉsus memecahkan roti dan membagi anggur untuk semua yang hadir tanpa memandang orangnya. Pada masanya, Gereja Perdana merayakan sakramen perjamuan berdasarkan pengalaman iman mereka akan Yesus Kristus. Tiga akar pengalaman pokok ang menjadi dasar penetapan pelayanan tersebut adalah:

1. Perjamuan makan Yesus bersama orang-orang miskin dan berdosa sebagai tanda kehadiran Kerajaan Allah.

2. Perjamuan malam terakhir Yesus bersama mund_murid-Nya.

3. Perjamuan makan bersama Yesus yang bangkit'dari kematian.

Isi dari perjamuan-perjamuan tersebut adalah penyelamatan Allah di dalam Yesus Kristus. Di dalam perjamuan-perjamuan tersebut Yesus hadir dan menciptakan persekutuan dengan orang-orang berdosa. la menganugerahkan kepada mereka keselamatan Nya, bahkan kelak di dalam sorga, tetapi mulai sekarang di dalam kehidupan di dunia ini (Mat. 9:9-13; bnd. k. 2:13-17; Luk. 5:27-32). Kini gereja
 ( termasuk GKJ ) tidak cukup siap untuk melakukan semuanya itu, bahkan gereja cenderung lebih memilih untuk bersikap seperti para murid Yesus di waktu lampau yang menghalang-halangi orang-orang  membawa  anak-anak mereka un!uk juga berada  di dekat  Yesus. Teguran Yรฉsus saat itu berlaku juga pada saat ini, Itu sebabnya, gereja dan orang-orang dewasa saat ini ditegur: "Biarkanlah anak-anak itu, itu janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan sorga " (Mat. 19:13-14). Sakramen perjamuan adalah bagian dari kehidupan iman umat Kristen yang khas. Melalui sakramen perjamuan umat mengungkapkan iman percayanya dan secara khusus bersekutu dengan Kristus. Oleh sebab itu, sudah sepatutnya anak-anak tidak dijauhkan dari sakramen tersebut, supaya mereka dapat belajar percaya, mengungkapkan iman, dan bersekutu dengap Tuhรฅn, sejak masa kanak-kakak. Mereka perlรผ diberi kesempatan untuk belajar sambil melakukan dan mengalami banyak hal — termasuk soal sakramen perjamuan — di dalam hidup mereka, supaya karya penyelamatan Allah atas mereka dapat lebih mudah dihayati sejak dini.
Sudah waktunya gereja dan orang-orang dewasa tidak lagi meremehkan anak-anak (bnd. Mat. 18: 10). Sebab mereka juga memperoleh tempat di dalam pelukan Yesus, bahkan la juga memberkati mereka (Mrk. 10:16). la juga berkenan menerima pemberian roti dan ikan dari seorang anak untuk menghadirkan mujizat dan jamuan makan  bagi  lima ribu orang  lebih (Yoh 6:1-15).Anak-anak yg sudah dibaptis adalah keluarga Allah yang harus diterima Anak-anak yang apa adanya dan dipelihara imannya dengan penuh tanggung jawab oleh para orangtua mereka dan gereja. Memang anak-anak harus memahami makna sakramen perjamuan itu. Tetapi untuk memahaminya, jelas mereka membutuhkan proses dan penjelasan yang cukup. Oleh karena itu, tindakan menunda keikut sertaan anak-anak dalam pelayanan sakramen perjamuan, sesungguhnyรค merupakan sebuah tindakan yang kurang bijaksana dan telah menjadi pertanda bahwa para orang tua maupun gereja sesungguhnya enggan melaksanakan tugas memberitakan Injil Yesus Kristus di lingkungan terdekat mereka, anak-anak. Mengajar anak-anak untuk memahami sesuatu, memang bukan hal yang mudah. Namun itulah tugas dan tantangan bagi para orangtua dan gereja untuk berproses bersama anak-anak. Sejak dini, anak-anak yang sudah dibaptis patut diajar dan diajak menikmati pelayanan sakramen perjamuan, supaya mereka dapat mulai belajar memahami makna sakramen perjamuan itu sebagai:

1. Perjamuan pengucapan syukur.

2. Peringatan akan Yesus Kristus.

3. Pemberian Roh Kudus.

4. Perjamuan persekutuan.

5. Perjamuan yang mengacu kepada perjamuan di masa depan.

Perjamuan yang Yesus inginkan adalah seperti pada paskah Yahudi, suatu peringatan akan Keluaran, tetapi yang ditarik lebih jauh sampai pada peristiwa salib yang pada waktu itu masih akan terjadi, dan dalam pengharapan akan kedatangan Kerajaan Allah masa depan. Kenangan tidak berhenti pada Peristiwa-peristiwa yang sudah lewat, tetapi menempatkan umat dalam perspektif masa kini dan masa depan Yang penuh pengharapan. Selanjutnya ajaran Yesus kepada murid-murid-Nya adalah perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku" (Luk. 22:19; bnd. I Kor. 11:24, 25). Dengan demikian, sakramen perjamuan  tidak saja membawa kita untuk menoleh ke belakang melihat masa lalu, tetapi juga membuka kemungkinan melihat kenyataan masa kini, dan menaruh pengharapan pada masa depan yang tertuju kepada pembebasan telah lama dinantikan. Kini, "biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang  kepada-Ku,•sebab orangOrang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan sorga " (Mat. 19:13-14)•

BEBERAPA PEMIKIRAN 

1. Yesus memulai perjamuan malam terakhir menurut tata cara Taurat dan tradisi Yahudi. Namun, ada yang tidak lazim dalam perjamuan tersebut, yaitu Yesus memaknai roti dan anggur secara baru, memberikan perspektif eskatologis yang baru, dan menetapkan perjamuan itu untuk mengenang diriNya. Selanjutnya melalui para penulis Injil dan Paulus, sakramen perjamuan menjadi bagian dari ibadah umat Kristen yang dilaksanakan selama-lamanya oleh gereja. Dalam jiwa dan semangat yang seperti itulah kini Gereja-gereja  melanjutkan pelayanan sakramen perjamuan bagi umat Tuhan.

2. Unsur-unsur dasar dari sakramen perjamuan mengambil sebagian besar makna pentingnya dari bahasa simbolis yang universal. Makna simbolis alamiah dari makanan dan minuman sebagai sumber kekuatan digunakan dalam sakramen perjamuan untuk mengekspresikan keyakinan inti orang-orang Kristen bahwa Kristus yang telah bangkit itu selalu hadir bersama umat-Nya, menguatkan, dan memampukan mereka untuk bergabung bersama Dia dalam rencana-Nya, yaitu menebus manusia dan dunia. Sama seperti roti dan anggur menopang dan memberikan hidup bagi tubuh kita, demikian juga tubuh dan darah Kristus memberikan hidup bagi jiwa kita. Dalam perspektif yang seperti itu, maka semestinya sakramen perjamuan dilayankan kepada setiร p orang yang percaya kepada-Nya, baik dewasa maupun anak-anak.

3. Kini sudah saatnya Gereja-gereja mengembangkan teologi tentang sakramen perjamuan yang lebih kontekstual, dimulai dengan memberi tempat bagi anak-anak yang sudah dibaptis dan telah berumur 7 (tujuh) tahun dalam pelayanan sakramen perjamuan tersebut. Sebab anak-anak adalah bagian dari umat Tuhan dan mereka juga mendapat tempat yang khusus di dalam pelayanan dan pengajaran Yesus.

4. Melalui berbagai cara dan metode pernbinaan, orang-orang dewasa perlu dipersiapkan untuk berubah dan menyadari bahwa mereka berkewajiban mempersiapkan dan menghantar anak-anak ke meja perjamuan Tuhan dengan pemahaman yang benar. Anak-anak juga harus dipersiapkan, supaya mereka dapat mengikuti pelayanan sakramen perjamuan dengan baik. Gereja juga harus memberikan perhatian dan tempat bagi anak-anak bersama para orangtua mereka untuk menerima pelayanan sakramen perjamuan dengan penuh rasa syukur dan sukacita.

5. Pelayanan menyangkut sakramen perjamuan  anak-anak sama dengan pelayanan untuk dewasa, baik unsur dasarnya maupun frekwensinya pelayanan.  Anak-anak (dan perempuan) juga patut diberikan kesempatan untuk dapat berpartisipasi secara aktif di dalam persiapan dan pelayanan sakramen perjamuan.

(STT BAPTIS INJILI)(TUS)(2015)

Baca juga :
https://titusroidanto.blogspot.com/2024/09/sekilas-sudut-pandang-kaitan-baptis.html

https://titusroidanto.blogspot.com/2026/09/sudut-pandang_056461353.html









Jumat, 12 Juli 2024

SUDUT PANDANG MARKUS 6 : 14 - 29, ๐—ž๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—น ๐—ฝ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—ฏ๐—ฎ๐˜

SUDUT PANDANG MARKUS 6 : 14 - 29,  ๐—ž๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—น ๐—ฝ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—ฏ๐—ฎ๐˜



Alkitab pada dasarnya bacaan orang dewasa. Ia tidak boleh dibaca langsung oleh anak-anak atau kanak-kanak bertubuh orang dewasa tanpa bimbingan orang dewasa. Dunia cerita di Alkitab berbeda dari dunia nyata. Alkitab sarat metafora dan adegan atau kisah kekerasan mengerikan. Pembaca belum dewasa akan menelan mentah-mentah kisah-kisah itu. 

Hari ini adalah Minggu kedelapan sesudah Pentakosta. Bacaan Injil Markus 6:14-29 

Bacaan Injil Minggu ini perikopnya diberi judul oleh LAI ๐˜ ๐˜ฐ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ต๐˜ช๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ. Bacaan berisi adegan sadis. Perikop ini merupakan satu-satunya bagian yang subjeknya bukan Yesus. Penulis Markus menggunakan teknik ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ธ๐˜ช๐˜ค๐˜ฉ, mengisi atau memasukkan cerita tentang kematian Yohanes Pembaptis (YP) di antara kisah misi para murid Yesus. Kisah kematian YP secara tragis ini bukanlah sekadar tambalan. Markus hendak menyampaikan kisah YP dan Herodes sebagai bayangan kematian Yesus sendiri sarat muatan politis. Markus sudah mengisyaratkan kematian politis ini pada awal cerita ketika YP ditangkap (Mrk. 1:14).

Perikop bacaan dibuka dengan prolog (ay. 14-16). Seperti dalam film prolog merupakan teknik naratif memula film dengan potongan adegan akhir cerita, kemudian melompat ke belakang untuk menceritakan awal kisah sampai mencapai titik tersebut. Teknik ini digunakan untuk membangun ketegangan atau minat sejak awal film.

Dalam tiga ayat tersebut dikatakan bahwa Raja Herodes Antipas juga mendengar tentang Yesus, karena nama Yesus sudah terkenal. Ada orang yang mengatakan bahwa Yesus adalah YP yang sudah dibangkitkan dari antara orang mati. Orang lain lagi mengatakan bahwa Yesus itu Nabi Elia. Waktu Herodes mendengar tentang Yesus, ia berkata, “๐˜‹๐˜ช๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ ๐˜ฐ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช.” Dari awal prolog ini sudah memerikan adegan sadis. YP diakui oleh Herodes sudah dipenggal kepalanya, tetapi belum dijelaskan alasan pembunuhan ini. Ayat-ayat berikutnya menarasikan alasan pembunuhan YP. 

Ucapan Herodes di atas menunjukkan ada hubungan erat antara misi Yesus dan YP. Misi Yesus tidak hanya dimula setelah penangkapan Yohanes. Aktivitas Yesus yang terus-menerus dipantau oleh penguasa Yahudi sebagai hal yang erat kaitannya dengan misi YP. Pautan erat ini akan muncul lagi di kemudian hari dalam cerita Injil Markus (lih. Mrk. 11:27-33).

Penangkapan YP oleh Herodes sudah disampaikan kepada pembaca pada awal Injil (lih. Mrk. 1:14). Ayat 17-20 menjelaskan alasan rinci penangkapannya. Raja Herodes Antipas mengambil Herodias untuk dijadikan istrinya. Masalahnya, Herodias adalah istri Filipus, saudara Herodes. YP mengecam Raja Herodes, “๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ!”. Herodias menaruh dendam kepada YP, karena kecaman YP, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa, karena Raja Herodes melindungi YP. Herodes segan kepada YP, karena YP adalah orang yang benar dan suci (dikaion kai hagion). Bahkan disebutkan meskipun Herodes kesal kepada YP, ia senang mendengarkan pengajaran YP.

Kesempatan Herodias membalas dendam tiba. Narasinya tertampilkan dalam ayat 21-28. Herodes berulang tahun. Ia merayakan ulang tahunnya dengan menghelat perjamuan untuk para pembesar dan perwiranya serta orang-orang terkemuka di Galilea. Anak perempuan Herodias tampil menari dan membuat senang Raja Herodes dan tamu-tamunya. Saking senangnya Herodes ia bersumpah kepada anak perempuan Herodias, “๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ.” (ay. 23) Namanya juga anak-anak. Ia lalu pergi ke ibunya minta petunjuk hadiah yang akan diminta. Jawab Herodias kepada anak perempuannya, “๐˜’๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ ๐˜ฐ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ต๐˜ช๐˜ด!” Ia kemudian menyampaikannya kepada Raja Herodes bahwa ia minta kepala YP di atas sebuah pinggan atau nampan. 

Mendengar permintaan itu sangat sedihlah hati raja. Ungkapan ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฉ (๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ญ๐˜บ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ด) hanya digunakan di sini (ay. 26) dan untuk memerikan pergulatan Yesus di Getsemani (Mrk. 14:34). Namun, sumpah adalah sumpah dan tidak boleh diabaikan di kalangan orang Yahudi. Apalagi Herodes mengucapkannya di depan tamu-tamunya. Raja kemudian menyuruh algojo untuk memenggal kepala YP di penjara dan membawanya di atas sebuah pinggan. Kepala YP lalu diberikan kepada anak perempuan Herodias kemudian diserahkannya kepada Herodias, ibunya.

Markus dalam menarasikan pembunuhan YP ini lebih menyalahkan Herodias ketimbang Herodes. Herodias dinilai paling bertanggung jawab atas kematian YP. Perempuan dipandang negatif oleh Markus. Apa begitu? Kalau kita cermat membaca, kisah Herodias ini diapit oleh dua kisah perempuan yang dipandang positif oleh Markus (lih. Mrk. 5:25-34 dan 7:24-30). Seimbang.

Markus tampaknya sengaja memasukkan kisah suram (dan sadis!) kematian YP sebagai pengingat jangan sampai kita, para pembaca, menyimpulkan bahwa pelayanan hanyalah tentang keberhasilan dan kegembiraan yang dialami para murid. Kita diingatkan bahwa kesetiaan dapat membawa penderitaan dan bahkan kematian. Kita diingatkan bahwa bersuara keras atas kerusakan moral pejabat (termasuk pejabat gerejawi) adalah tidak kalah penting dari penyembuhan atas penyakit, pengusiran setan, dan mukjizat-mukjizat.

 (14072024)(T)(STT BAPTIS INJILI)

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32 PENGANTAR Allah menghendaki pertobatan nyata. Gereja dipanggi...