Jumat, 31 Juli 2026

Sudut Pandang 5 Roti 2 Ikan dengan sejarah pada zamannya, Matius 14:13-21

Sudut Pandang 5 Roti 2 Ikan dengan sejarah pada zamannya, Matius 14 : 12 - 21

PENGANTAR

Menarik, kemaren Jumat di PPA kelompok LUKAS, karena ada pertanyaan kritis dari istri PF tamu di kelompok LUKAS. Menarik sekali, pertanyaannya, kritis,  APA SIH HUBUNGANNYA  5 ROTI 2 IKAN DENGAN TEMA BULAN KEBANGSAAAN, APA INI ADA HUBUNGANNYA DENGAN KASUS MBG YANG LAGI RAMAI? Membuat saya terinspirasi menulis kasus di Injil Matius ini dari sudut pandang sastra, sejarah dan arkeologi.

PEMAHAMAN 

Aneh banget, nih. Persoalan MBG, stunting, kog solusiny, ada di 2000 taun lalu, zaman Yesus, ditulis oleh penulis Injil Matius. Mau tau? Buruan safe tulisan ini yah, ini masuk Sabsing, Sabda Singkat, supaya ga ilang. Bacaan Injil, Alkitab minggu ini matius 14 : 13, sampe 21. Kisah legend dan disukai orang kristiani. Mujizat, Spektakuler, Yesus memberi makan 5.000 laki laki, Artinya, 10. 000, 15. 000, kalog termasuk perempuan dan anak-anak. Ini adalah realisasi dari  perumpamaan biji sesawi dari bab atau pasal sebelumnya, modal seadanya impact atau pengaruhnya gila, mukjizat, pecah buanget ini. Di balik kisah ini sebetulnya penulis Injil Matius ingin menunjukan bahwa Yesus mengkritisi atau roasting tipu-tipu kolonial Romawi, yang janji omon omon, especially atau khususnya kaisar Augustus, ya. Yang di bawah kekuasaanya, dia, Kaisar Agustus janjiin Romanesia, ikut Romawi, bakal masuk era emas, aurea aetas, lewat tagline, abundantia dan Annona, Abundantia dan Annona adalah dua Dewi kelimpahan, Dewi panen besar bangsa latin. Kisah ini sengaja di kontraskan, penulis Injil Matius, dengan privat partynya, pesta mewahnya Herodes, yang mengundang para oligarki dan crazy richs, di ayat 6 bab yg sama, Injil Matius, atau versi Markus, yang lebih detil. Kaluk ga penting banget, kenapa di  kontras, kontrasin,  coba cek data arkeologinya atau sejarah, karena data arkeologi dan sejarah bongkar realita pahit (cari di internet buanyak, tapi banyak yg bahasa English ... Wk ...wk). Di jaman Yesus, tinggi sekali stunting, gizi buruk, gangguan lapisan email gigi dan hiperostosis porotik. Akibat kurang zat besi ya, ini semua efek domino kemiskinan akibat kolonialisme lewat kroni kroninya Herodes, memungut Cukai, oligarki, dan oknum pemimpin agama yang korup, termasuk pemimpin agama Yahudi. Mereka tu yang fix antek asing. Waktu followers, Jesus, kelaparan dan murid murignya Yesus suruh cari makan sendiri, Yesus langsung negur, KAMU YANG HARUS KASIH MAKAN. Asal tau, ya, roti dan ikan itu standar gizi minimum. Boro-boro, mikirin beli daging, apalagi susu, yang harganya selangit. Lalu, ada detil, Mereka duduk di rumput. This is the clue, ini tanda musim semi menjelang Paskah. Artinya apa? Paceklik. Stok gandum di lumbung makin tipis. Jadi periode ini, Yesus memulai program MBG sejati merespon kondisi sosial masa itu, ini MESIAS sejati, juru selamat tenan, bukan penjajah Romawi juru selamat itu, bukan penjajah Romawi, Mesias itu. Karena latar belakangnya, umat Matius ditekan Yudaisme, dimana Yudaisme menolak memesiasan Yesus, dg kuasa penjajah Romawi, Yudaisme mengkriminalisasi umat Matius, itu juga kritisi bahwa Musa yang diagungkan Yudaisme, tapi Yesus lebih besar dari Musa. Program MBG yang efisient, tepat sasaran, tanpa korupsi, dan mandiri, Bukon top down, dari penguasa. Malah surplus 12 bakul, tapi berkat gak boleh dibuat foya foya, Harus ada audit dan management asset. Ini semua mengundang kita para muridNya, ambil ambil bagian dan melanjutkannya. KITA HARUS MEMBERI MEREKA MAKAN, sebuah respon bermartabat dari situasi di depan mata kita.

(01082026)(TUS)


Rabu, 29 Juli 2026

Sudut Pandang Pernikahan Kembali setelah perceraian

Sudut Pandang Pernikahan Kembali setelah perceraian

PENGANTAR
Pernikahan kembali setelah perceraian,  polemik yang belum kelar, perceraian adalah sebuah persimpangan. Banyak pendapat dan argumen, banyak dasar pemikiran nya. Pilih mana yg kira-kira seiring sejalan ajaran kasih dan teladan Kristus, tentukan sendiri, dan gereja masing-masing punya sikap etis. Dengan pembacaan Alkitab, data penelitian, dan latar belakang teologisnya. Secara umum, ada tiga arus besar dalam studi Kristen: menolak perceraian dan pernikahan kembali, mengizinkan perceraian tetapi menolak pernikahan kembali, atau mengizinkan keduanya dalam kondisi tertentu; secara sosiologis, isu ini makin kompleks karena faktor modern seperti kekerasan domestik, ketimpangan ekonomi, ketidaksiapan menikah, dan perubahan norma budaya. Oleh karena itu, dalam dunia tafsir, saya selalu punya pendapat, tak ada tafsir yang salah apalagi benar, yang ada hanya tafsir yang dapat dipertanggung jawabkan, dipertanggung jawabkan dengan argumentasi dan jembatan nalar, selama itu arahnya memanusiakan manusia, tidak bertolak belakang dengan hukum kasih dan keteladanan Kristus, memiliki benar merah konsep daldm kirab suci dari awal hingga akhir, kita boleh memikirkannya untuk memilih pihak. Saya harus mengatakan Alkitab tidak bisa berdiri sendiri, Alkitab harus berdiri sama tinggi, duduk sama rendah dengan pengetahuan yang lain.
PEMAHAMAN 
Literatur sosiologi menunjukkan bahwa perceraian tidak pernah punya satu sebab tunggal; faktor yang sering muncul ialah ketidaksiapan fisik-emosional, ketidakcocokan, perselingkuhan, kekerasan fisik-psikologis, masalah ekonomi, dan perubahan peran gender. Studi lain juga menegaskan bahwa usia menikah terlalu muda, komunikasi yang buruk, kurang keintiman, dan konflik relasional berkontribusi pada perceraian, sementara konteks sosial-budaya menentukan apakah perceraian dianggap aib, pilihan rasional, atau bahkan jalan keluar yang wajar.
Dalam data Indonesia yang diringkas oleh Nurhalisa, angka perceraian meningkat pada 2018–2019, dan faktor pemicunya meliputi ketidaksiapan menikah, ketidakcocokan, perselingkuhan, kekerasan, serta faktor sosial-ekonomi dan budaya. Ini penting secara teologis karena gereja tidak boleh membaca teks Alkitab seolah-olah berada dalam ruang hampa; keputusan pastoral harus menghadapi realitas luka, keselamatan korban, dan keberlanjutan hidup keluarga. Teks yang paling sering diperdebatkan adalah Matius 19:3-9, terutama frasa “kecuali karena percabulan/zina”. Di sisi lain, Markus 10:11-12 dan Lukas 16:18 terdengar lebih absolut: siapa yang menceraikan lalu menikah lagi berbuat zinah. Paulus juga membahas kasus pasangan campuran iman dalam 1 Korintus 7:15, ketika pihak yang tidak beriman memisahkan diri; di sini Paulus mengatakan saudara atau saudari “tidak terikat” dalam keadaan demikian, yang oleh sebagian penafsir dibaca sebagai dasar terjadinya perpisahan yang tidak dibebankan secara moral kepada pihak percaya atau beriman. Latar Perjanjian Lama biasanya dikaitkan dengan Ulangan 24:1-4, yang bukan terutama “perintah untuk bercerai,” melainkan regulasi atas situasi perceraian yang sudah terjadi dalam masyarakat patriarkal untuk membatasi penyalahgunaan dan melindungi perempuan. Jadi, secara historis, hukum Musa sering dipahami sebagai pembatasan atas praktik yang keras, bukan ideal penciptaan.  Secara akademik, Hukum Taurat tidak memberikan “izin perceraian demi hak abstrak untuk bercerai,” tetapi beberapa teksnya dapat dibaca sebagai proteksi korban di dalam masyarakat patriarkal, terutama ketika perceraian sudah terjadi atau ketika ada tindakan suami yang menelantarkan istri. Dua teks kunci untuk argumen ini ialah Ulangan 24:1–4 dan Keluaran 21:10–11, ditambah pembacaan profetis atas Maleakhi 2:13–16 yang mengecam penelantaran dan ketidaksetiaan perjanjian. Ulangan 24:1–4. Teks ini sering dianggap hukum perceraian, tetapi sejumlah sarjana menilai fokus utamanya justru pada larangan menikahi kembali mantan istri yang telah kawin lagi, bukan pada pemberian hak cerai tanpa batas. Keluaran 21:10–11, Dalam konteks perempuan budak/istri, jika suami tidak memberi makanan, pakaian, dan hak perkawinan, perempuan itu harus dibebaskan tanpa pembayaran tebusan; banyak pembaca melihat ini sebagai bentuk perlindungan hukum terhadap pihak rentan. Maleakhi 2:13–16, Banyak studi mutakhir menafsirkan “menceraikan” di sini sebagai tindakan “menyingkirkan” istri secara tidak sah atau lalim, sehingga teks ini menjadi kritik keras terhadap perceraian yang menindas perempuan. Bacaan klasik yang mengatakan Taurat “membolehkan perceraian” biasanya bertumpu pada Ulangan 24:1–4, tetapi artikel Yonky Karman berargumen bahwa teks itu lebih tepat dipahami sebagai hukum perkawinan kembali yang melarang rujuk setelah perempuan menikah lagi; fungsi sosialnya adalah membatasi kuasa suami dalam budaya patriarkal. Todd Scacewater juga menekankan bahwa tujuan hukum itu adalah menjaga kesetiaan perjanjian Israel kepada YHWH, dengan implikasi etis bagi perlindungan komunitas dan tanah pusaka, bukan sekadar mengatur mekanisme cerai. Dari sudut kritis-historis, ini penting: Taurat sering tidak “mengidealkan perceraian,” melainkan membatasi kerusakan ketika perceraian terjadi. Karena itu, dalam kerangka perlindungan korban, teks-teks Taurat lebih tepat disebut mekanisme pembatasan kekerasan relasional daripada legitimasi perceraian bebas. Ulangan 24:1–4: mengatur surat cerai dan melarang suami pertama mengambil kembali mantan istri yang sudah menikah lagi; ini sering dipahami sebagai pembatasan terhadap tindakan suami yang semena-mena. Keluaran 21:10–11: jika hak-hak istri tidak dipenuhi, ia boleh keluar bebas; ini sering dibaca sebagai perlindungan terhadap penelantaran. Maleakhi 2:14–16: menegaskan bahwa perceraian yang melanggar perjanjian dan mencederai perempuan berada di bawah kecaman ilahi . Kalau pertanyaannya dirumuskan ketat secara akademik, maka jawaban paling hati-hati ialah: Taurat tidak menetapkan perceraian sebagai hak moral ideal, tetapi mengatur situasi perceraian dan relasi pasca-cerai untuk mencegah penyalahgunaan, terutama oleh pihak yang lebih kuat. Dalam bingkai etika perlindungan korban, Keluaran 21:10–11 paling jelas menunjukkan logika pembebasan dari penelantaran, sedangkan Ulangan 24:1–4 membatasi kuasa laki-laki dalam sistem patriarkal. Dengan demikian, “boleh untuk melindungi korban” lebih tepat dipahami sebagai izin legal yang membatasi kekerasan dan ketidakadilan, bukan sebagai normalisasi perceraian. Matius 19:9, memiliki problematik frasa pengecualian. Secara umum, persoalan utamanya bukan hanya apakah frasa “kecuali karena zina/porneia” mengizinkan perceraian, tetapi juga apa arti porneia, bagaimana sintaksis klausa bekerja, dan bagaimana Matius membacakan ulang hukum Musa dalam konteks polemik abad pertama. Matius 19:9 adalah teks yang diperdebatkan karena satu frasa pendek tampak membuka ruang pengecualian, sementara rangkaian argumen Yesus dalam 19:4–6 justru menegaskan prinsip penciptaan, kesatuan, dan larangan menceraikan apa yang telah dipersatukan Allah, sebetulnya ini ada dalam konteks hubungan Allah dan manusia, atau hubungan Allah dan Israel, kalau jujur teks ini tidak bisa langsung diterapkan dalam fakta pernikahan, apalagi pernikahan modern. Karena itu, problem teks ini bersifat eksegetis, semantik, dan teologis sekaligus. Studi-studi yang kita minta juga menunjukkan bahwa diskusi modern sering bergerak antara dua kutub: frasa itu sebagai izin terbatas untuk cerai, atau sebagai koreksi Yesus terhadap kebiasaan cerai yang disalahgunakan. Salah satu sumber polemik ialah variasi tekstual dan hubungan klausa dalam tradisi manuskrip, meskipun banyak studi akhirnya bekerja dengan teks kritis NA28/edisi kritis modern sebagai dasar. Secara sintaksis, para penafsir berbeda apakah frasa mē epi porneia terutama membatasi tindakan menceraikan, atau justru membatasi tindakan menikah lagi setelah perceraian. Di sini, keberatan klasik terhadap terjemahan “kecuali karena” tetap penting, tetapi banyak sarjana menilai sintaks Yunani tidak cukup kuat untuk meniadakan seluruh fungsi pengecualian itu. Masalah berikutnya adalah makna porneia. Literatur yang kita lihat memperlihatkan bahwa istilah ini lebih luas daripada moicheia; ia dapat menunjuk pada berbagai bentuk penyimpangan seksual, bukan hanya “adultery” dalam arti sempit. Karena itu, sebagian sarjana menerjemahkannya sebagai “sexual immorality,” “marital unfaithfulness,” atau “fornication,” tergantung kerangka tafsir yang dipakai. Artinya, jika seseorang langsung menyamakan porneia dengan perzinahan pasca-nikah, itu sudah sebuah langkah interpretatif, bukan kesimpulan yang otomatis. Studi yang paling penting untuk konteks historis adalah bahwa Matius 19 muncul di tengah perdebatan halakhik Yahudi tentang alasan perceraian, terutama antara aliran Hillel dan Shammai. Dalam konteks itu, pertanyaan orang Farisi “apakah boleh menceraikan istri dengan alasan apa saja?” bukan pertanyaan netral, melainkan jebakan legal-religius. Karena itu, banyak penafsir membaca jawaban Yesus sebagai kritik terhadap praktik perceraian yang longgar dan manipulatif, bukan sekadar pemberian “jalan keluar” baru. Dua garis tafsir besar
Dari literatur yang terhimpun, ada dua garis besar tafsir. Pertama, tafsir inklusif-terbatas: frasa pengecualian benar-benar membuka kemungkinan perceraian dalam kasus porneia, tetapi tetap tidak menjadikan perceraian sebagai solusi ideal. Kedua, tafsir anti-cerai: frasa itu tidak dimaksudkan untuk melegitimasi perceraian, melainkan untuk menegaskan bahwa perceraian bertentangan dengan kehendak ciptaan dan etika pengampunan Yesus. Tulisan Surbakti dan Pardede mewakili garis kedua, sedangkan France, Carson, dan beberapa pembacaan Reformed cenderung menerima porneia sebagai dasar perceraian yang sangat terbatas. Secara akademik, posisi paling kuat biasanya lahir dari pembacaan yang tidak menyederhanakan teks. Anda tidak cukup hanya berkata “Yesus mengizinkan perceraian” atau “Yesus sama sekali tidak mengizinkan perceraian”; Anda harus menjelaskan hubungan antara Matius 19:4–6, 19:8–9, paralel Markus 10:11–12 dan Lukas 16:18, serta latar polemik hukum Yahudi. Secara metodologis, argumen yang paling rapuh adalah argumen yang memaksakan satu definisi tunggal porneia tanpa survei semantik, atau yang mengabaikan bahwa Matius menulis untuk komunitas dengan sensitivitas Yahudi yang kuat. Jadi, problem frasa pengecualian bukan sekadar “boleh atau tidak,” melainkan bagaimana Matius menata ulang hukum, etika, dan retorika kerajaan Allah. Secara kritis, frasa pengecualian dalam Matius 19:9 adalah titik tafsir paling rawan karena porneia tidak otomatis identik dengan perzinahan sempit, dan karena fungsi frasa itu bergantung pada struktur argumentasi seluruh perikop. Dalam debat akademik, kita dapat membela dua posisi besar, tetapi posisi yang paling kuat adalah yang sanggup menjelaskan teks, konteks, dan tradisi tafsir tanpa mengorbankan salah satunya. Alasan yang diterima, Secara akademik dan pastoral, alasan perceraian yang paling sering dianggap serius atau dapat diterima dalam banyak tradisi Kristen adalah:

perzinahan/ketidaksetiaan seksual, penelantaran, kekerasan dalam rumah tangga berat, itupun bukan kekerasan verbal dan dalam beberapa pembacaan, penolakan pasangan yang tidak beriman. Artikel liturgis-teologis Indonesia juga menekankan bahwa banyak pembacaan Matius 19:9 memahami “kecuali karena porneia (percabulan/zinah)” sebagai dasar untuk mengakhiri perkawinan akibat ketidaksetiaan seksual, walau tafsir lain menolaknya. Namun, perlu dibedakan antara “alasan yang membuat perceraian dipertimbangkan secara moral” dan “alasan yang otomatis membenarkan pernikahan kembali.” Banyak penafsir memandang perceraian bisa terjadi dalam keadaan ekstrem demi perlindungan korban, tetapi pernikahan kembali tetap diperdebatkan, terutama bila pasangan pertama masih hidup. Dalam karya sosiologis kontemporer, kekerasan fisik dan psikologis, penelantaran ekonomi, serta kerusakan relasional yang berkepanjangan sering dipandang sebagai indikator bahwa pernikahan telah kehilangan fungsi perlindungan dan kesejahteraan dasarnya. Kalau itu sudah bukan lembaga pernikahan lagi, maka perlu dipikirkan solusinya, kalau di khatolik, kalau itu sudah bukan bearti sakramen pernikahan lagi maka perlu dipikirkan solusinya, tidak bercerai tetapi kerusakan yg makin tinggi dan melebar bahkan membahayakan nyawa dan mental, maka perceraian dapat dipikirkan sebagai solusi, karena manusia mahkluk rapuh tdk sempurna, tetapi ini bukan proses yg dalam waktu singkat, butuh tahap kajian-kajian bertahap pastoral baik sebelum keputusan perceraian maupun sesudahnya. Mengapa bisa diterima

Secara biblis, argumentasi yang menerima perceraian terbatas biasanya bertolak dari dua hal: pertama, adanya pengecualian dalam Matius 19:9; kedua, prinsip perlindungan terhadap korban dalam hukum Taurat dan etika pastoral. Dalam pembacaan ini, perceraian bukan kehendak awal Allah, tetapi respons terhadap kekerasan dosa manusia yang sudah merusak perjanjian pernikahan. Secara historis, banyak penafsir melihat bahwa konteks abad pertama sangat patriarkal: perempuan sangat rentan secara sosial dan ekonomi, sehingga regulasi perceraian dalam Taurat berfungsi menahan kekuasaan laki-laki dan memberi perlindungan legal minimum. Karena itu, pembaca modern perlu berhati-hati agar tidak mengubah teks perlindungan menjadi legitimasi cerai yang sembrono; sebaliknya, teks dipahami sebagai batas etis untuk situasi rusak yang sudah terjadi. Tentang pernikahan kembali
Di sinilah perbedaan tafsir paling tajam muncul. Tradisi yang lebih ketat, didukung oleh pembacaan Markus 10:11-12, Lukas 16:18, dan sebagian tafsir Matius 19:9, menilai pernikahan kembali setelah perceraian sebagai bentuk perzinahan selama pasangan pertama masih hidup. Tradisi yang lebih permisif biasanya mengizinkan pernikahan kembali bila perceraian terjadi karena zinah, penelantaran, atau pemutusan sepihak oleh pasangan yang tidak beriman, dengan alasan bahwa perjanjian perkawinan sudah dipatahkan secara substantif. Secara pastoral masa kini, pendekatan yang paling bertanggung jawab biasanya tidak berhenti pada “boleh/tidak boleh,” tetapi menilai: apakah ada keselamatan korban, pemulihan anak, bukti pertobatan, mediasi yang sungguh-sungguh, dan apakah perceraian terjadi karena dosa yang merusak perjanjian atau karena kondisi paksa yang membahayakan. Dengan kata lain, keputusan tentang pernikahan kembali tidak bisa digeneralisasi; ia harus dibaca dalam kombinasi eksegesis, etika, dan perlindungan martabat manusia. Jika diringkas secara kritis: Alkitab menempatkan pernikahan sebagai perjanjian yang dimaksudkan seumur hidup, tetapi juga mengakui dunia yang sudah jatuh, sehingga hukum dan pengajaran pastoral berhadapan dengan realitas dosa, kekerasan, dan ketidaksetiaan. Karena itu, perceraian paling kuat dipahami sebagai solusi darurat, solusi akhir, bukan norma; sedangkan pernikahan kembali adalah isu turunan yang bergantung pada tradisi tafsir, jenis pelanggaran, dan status moral/relasional dari perpisahan itu. Dalam konteks gereja masa kini, argumen yang paling kuat bukan sekadar “membolehkan” atau “melarang,” melainkan merumuskan kriteria yang setia pada Kitab Suci sekaligus melindungi korban: kekerasan harus dihentikan, penelantaran tidak boleh dibiarkan, dan pemulihan pernikahan hanya layak ditempuh bila ada pertobatan, rekonsiliasi yang realistis, dan keamanan bagi pihak yang rentan.  Jika Anda sedang menulis makalah atau bab tesis, kombinasi paling aman adalah menggabungkan studi teks-kritis, studi semantik porneia, dan konteks halakhik Yahudi abad pertama.
Bbrp tulisan yg dapat dibaca adalah :
- Risa Nurhalisa, “Tinjauan Literatur: Faktor Penyebab dan Upaya Pencegahan Sistematis terhadap Perceraian” .
- “Pernikahan Dini, Perceraian, dan Pernikahan Ulang: Sebuah Telaah dalam Perspektif Sosiologi”.
- “Keutuhan Pernikahan Kristen Dalam Matius 19:6 dan Implikasinya terhadap Perceraian dan Pernikahan Kembali”.
- “Divorce and Remarriage”.
- “Kau Bukan Seperti yang Dulu Lagi: Sebuah Refleksi Teologis-Etis Perceraian".
- “Ulangan 24 (TB)” dan tafsir konteks Ulangan 24:1-4.
- Tafsir Matius 19:9 dan problematika frasa pengecualian.
- C. F. Keil dan F. Delitzsch, The Pentateuch. Klasik komentar yang tetap penting untuk diskusi Deuteronomy 24 dan hukum keluarga.
- Peter C. Craigie, The Book of Deuteronomy. Sangat berguna untuk pembacaan historis dan teologis Ulangan 24.
- Walter C. Kaiser, Toward Old Testament Ethics. Berguna untuk membahas etika PL secara lebih luas, termasuk keluarga dan keadilan [7].
- Tamara Cohn Eskenazi dan Andrea L. Weiss (eds.), The JPS Torah Commentary. Berguna untuk membaca hukum Taurat dalam konteks sosial dan literer [7].
- Robert Setio dan Daniel K. Listijabudi (eds.), Perceraian di Persimpangan Jalan: Menelisik Perjanjian Lama dan Tradisi. Relevan langsung untuk konteks Indonesia dan pembahasan pastoral-teologis.
- Yonky Karman, “Ulangan 24:1–4: Hukum Perceraian atau Hukum Rujuk?” Verbum Christi 10(2) (2023), 97–111, Argumen bahwa Ulangan 24:1–4 adalah hukum larangan rujuk, bukan izin cerai bebas. 
- Todd Scacewater, “Divorce and Remarriage in Deuteronomy 24:1–4.” JESOT 1(1) (2012), 63–79. Menekankan tujuan hukum untuk melindungi perjanjian dan komunitas. 
- “Re-interpreting Deuteronomy to Empower Women (of South Africa).” Old Testament Essays 34(3) Pembacaan feminis atas Deuteronomium untuk membaca ulang relasi kuasa patriarkal. 
-  “Does God Really Hate Divorce? A Comparative Analysis of Ancient Texts of Mal 2:14–16.” Menafsir Maleakhi sebagai kritik terhadap penelantaran dan pengusiran istri. 
- artikel Surbakti tentang penafsiran Matius 19:9, artikel Pardede tentang problematika teks dan makna Matius 19:9, serta pembahasan etis-teologis Balebu tentang Matius 19:1–9. 
- R. T. France, D. A. Carson, David Instone-Brewer, William Heth, Osborne, dan J. J. de Heer. J
(30072026)(TUS)


Minggu, 26 Juli 2026

Sudut Pandang Yesaya 55:1-5, Roma 9:1-5, Matius 14:13-21, Respon Bermartabat hal kecil yang berdampak

Sudut Pandang Yesaya 55:1-5, Roma 9:1-5, Matius 14:13-21, Respon bermartabat hal kecil yang berdampak

PENGANTAR
Minggu 02 Agustus 2026, Saya sering mengatakan, Memandang setengah kosong setengah isi, berhenti fokus pada yang pergi, itu kenangan berharga, mulailah hargai yang masih Allah beri, saat ini, itu yang didepanmu sekarang. Saya selalu mengatakan respon bermartabat adalah merespon apa yang ada di depan mata kita. Masa lalu itu hanya pembelajaran, masa depan itu hanyalah rancangan bahkan ramalan. Yang bisa kita lakukan adalah kini, yg ada di depan mata kita. Yesus mengajarkan itu, yg didepan mata para murid adalah orang yg butuh makan, dan hanya ada lima roti dua ikan, dan Yesus merespon secara bermartabat, KITA HARUS MEMBERI MEREKA MAKAN, dg sisa 12 bakul, 12 bakul ini melambangkan kepenuhan, artinya ketika kita melakukan konsep itu, tidak ada lagi kebimbangan, kita akan berubah dari sekedar percaya menjadi mempercayakan diri pada Allah. Contoh sederhananya, kita tidak bisa ngatur orang untuk ngebut dan mengendarai serampangan yg membahayakan orang lain bahkan kita, itu nyata didepan mata, yang bisa kita lakukan merespon secara bermartabat BUKAN MENYANGKAL KENYATAAN ITU,  jangan naif, respon bermartabat adalah kita yang melatih diri untuk berhati-hati dan waspada berkendara, dg begitu kita memulai dari diri sendiri, dan itu menolong kita untuk waspada dan meminimalkan kerusakan karena kita siap setiap saat berkendara. Begitu halnya, kita tidak bisa menyangkal akan ada saja orang yg tidak suka bahkan membenci kita, kita tidak bisa menyangkal ada tantangan dan masalah di depan kita, kita tidak bisa menyangkal kita akan tua, kita akan sakit, kita tak bisa menyangkal ortu kita menua, pasangan kita berubah, anak tumbuh dewasa, bahkan kita, ortu, anak, dan pasangan akan meninggal suatu saat nanti, dlsb,  jangan sangkal kenyataan itu, tetapi responlah secara bermartabat. Ketiga bacaan ini bergerak dari undangan Allah yang murah hati (Yes 55:1-5), menuju beban batin Paulus bagi keselamatan Israel (Rm 9:1-5), dan memuncak dalam tindakan Yesus yang memulihkan, memberi makan, dan mengutus murid-murid-Nya untuk ikut ambil bagian dalam karya Allah (Mat 14:13-21). Benang merahnya bukan pertama-tama “mukjizat logistik,” melainkan peralihan dari sikap kekurangan, takut, dan menutup diri menuju iman yang percaya lalu mempercayakan diri untuk menjadi sarana berkat bagi banyak orang.

Yesaya 55:1–5
Teks ini bagian dari Deutero‑Yesaya (Yes. 40–55), berbentuk undangan puitis dengan repetisi imperatif: “marilah”, “belilah”, “dengarkanlah”. Metafora air, susu, anggur menandakan kelimpahan anugerah (Westermann, Isaiah 40–66). Kata “tanpa uang” menegaskan kasih karunia, bukan transaksi religius. Ditujukan kepada Israel pasca‑pembuangan di Babel. Secara sosial, bangsa itu kecil dan rapuh. Namun dalam ayat 3–5, Allah memperbaharui “perjanjian kekal” dengan merujuk pada janji Daud (bdk. 2Sam 7). Bangsa yang kecil dipanggil menjadi saksi bagi bangsa‑bangsa. Potensi kecil (umat pasca‑pembuangan) menjadi berdampak besar karena firman dan perjanjian Allah. Gereja masa kini dipanggil mengandalkan anugerah, bukan sumber daya materi. Kasih karunia Allah menghidupkan kembali komunitas kecil untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Pada kenyataannya kehidupan penuh kesulitan, tantangan, dan masalah dihadapi Israel pasca pembuangan, itu nyata didepan mata, Yesaya ingin Israel tau itu, kenyataan itu tidak bisa disangkal, tetapi kasih setia dan anugerah Kurnia dari Allah adalah hal nyata di depan mata Israel juga. Bagaimana bangsa Israel harus meresponnya secara bermartabat?

Roma 9:1–5
Bagian awal diskursus teologis Paulus tentang Israel (Rom 9–11). Paulus memakai gaya retoris emosional (“aku sangat berdukacita”) untuk menunjukkan solidaritas etnis dan teologis (Dunn, Romans 9–16). Dalam ayat 4–5, disebutkan hak istimewa Israel: pengangkatan anak, kemuliaan, perjanjian, hukum Taurat, ibadah, janji, para bapa leluhur, dan Mesias. Secara historis, Israel kecil secara politis, namun dipakai Allah sebagai saluran keselamatan dunia. Allah bekerja melalui sejarah dan identitas komunitas yang tampak kecil untuk menghadirkan Kristus bagi bangsa-bangsa. Kesetiaan Allah melampaui kegagalan manusia. Dari umat kecil lahir karya keselamatan universal di dalam Kristus. Kenyataan bahwa hak waris Israel tak akan hilang karena Allah setia, tetapi Paulus juga ngerti bahwa sebuah kenyataan kalau bangsa Israel menolak mesias, ini menjadi pembelajaran bagi umat di Roma, bagaimana merespon secara bermartabat anugerah yg nyata telah mereka terima.

Matius 14:13–21
Narasi mukjizat dengan struktur: kebutuhan – respons iman – tindakan Yesus – kelimpahan. Kata kunci: “lima roti dan dua ikan” (ayat 17). Dalam tradisi Yahudi, makan bersama bernuansa eskatologis (Keener, Gospel of Matthew). Jumlah lima roti dan dua ikan adalah sangat kecil bagi 5.000 orang. Namun dalam tangan Yesus, potensi kecil menjadi kelimpahan (12 bakul sisa melambangkan kepenuhan Israel). Ketika sumber daya terbatas, iman dan ketaatan membuka jalan bagi karya Allah yang melampaui logika manusia. Yesus menggerakkan potensi kecil menjadi berkat besar melalui tindakan syukur dan pembagian.
PEMAHAMAN 
Yesaya 55:1–5: Janji anugerah bagi bangsa kecil. Roma 9:1–5: Sejarah umat kecil sebagai saluran Mesias.  Matius 14:13–21: Potensi kecil diberkati menjadi kelimpahan nyata.  
Allah memakai yang kecil, terbatas, dan rapuh untuk menghadirkan dampak besar bagi bangsa-bangsa. Secara teologis, tema ini berakar pada kasih karunia, kesetiaan perjanjian, dan kuasa Kristus. Di tengah krisis ekonomi, sosial, dan spiritual, komunitas kecil tidak perlu merasa tidak berarti. Dalam tangan Tuhan, kesetiaan kecil, pelayanan sederhana, dan iman yang tulus dapat berdampak luas bagi bangsa. Untuk refleksi kita pada Yesaya 55:1–5, Apakah kita masih mencari kepuasan di luar anugerah Allah?  Bagaimana komunitas kecil dapat menjadi saksi bagi bangsa? Pada Roma 9:1–5, Apakah kita menghargai sejarah iman sebagai potensi rohani? Bagaimana kesetiaan Allah memberi harapan bagi kegagalan bangsa? Pada Matius 14:13–21, Apa “lima roti dan dua ikan” dalam hidup kita saat ini?  Apakah kita mau menyerahkan potensi kecil itu kepada Kristus? Bagaimana gereja masa kini dapat percaya bahwa dalam tangan Tuhan, potensi kecil sanggup membawa dampak besar bagi bangsa? Yesaya 55 memakai bahasa undangan publik: “Hoi, semua orang yang haus,” sebuah gaya seruan profetis yang bersifat liturgis, terbuka, dan sangat konkret air, susu, anggur, roti untuk menegaskan bahwa rahmat Allah tidak dibeli dengan uang prestasi, melainkan diterima sebagai anugerah perjanjian. Dalam konteks sastra, pasal ini berada dalam arus penghiburan pascabencana, ketika umat dipanggil keluar dari mentalitas kelangkaan menuju kelimpahan kasih setia Allah. Jadi, dasar pewartaannya adalah: Allah sendiri yang memulai perjamuan kehidupan, dan manusia dipanggil datang, mendengar, dan hidup. Roma 9:1-5 memperlihatkan nada emosional yang sangat kuat: Paulus berbicara dengan “dukacita yang sangat besar” dan “kesedihan yang tak berkeputusan” karena kerabatnya menurut daging belum menerima Kristus, Israel PL. Secara teologis, bagian ini menampilkan beban misi yang lahir dari kasih, bukan dari kemenangan ideologis; iman sejati selalu membawa penderitaan karena keselamatan sesama belum selesai. Maka arah pewartaannya ialah: pewarta bukan orang yang sekadar tahu doktrin, tetapi orang yang hatinya ikut diguncang oleh nasib umat (Israel). Matius 14:13-21 menempatkan Yesus di ruang sepi, sesudah dukacita Yohanes Pembaptis, lalu belas kasihan-Nya bergerak ketika Ia melihat orang banyak. Kalimat “kamu harus memberi mereka makan” menjadi titik balik naratif: murid-murid mau memindahkan problem ke tempat lain, tetapi Yesus memindahkan tanggung jawab ke dalam panggilan mereka. Di sini “lima roti dan dua ikan” bukan sekadar bahan mukjizat, melainkan tanda bahwa yang kecil, ketika diserahkan, dapat menjadi medium pemeliharaan Allah bagi banyak orang. Arah pewartaannya dapat dirumuskan begini: Allah tidak hanya memanggil manusia untuk datang dan minum, tetapi juga membentuk manusia agar menjadi saluran makan bagi sesama. Jadi, dari Yesaya kita belajar menerima anugerah; dari Roma kita belajar menanggung beban sesama; dari Matius kita belajar bahwa belas kasih Allah harus menjadi tindakan konkret melalui tangan para murid. Ini membuat pewartaan bergerak dari spiritualitas privat ke spiritualitas diakonal dan misioner, “iman kecil akan berdampak” bisa dibaca lebih tajam sebagai transformasi dari “percaya” menjadi “mempercayakan diri.” Dalam kisah roti dan ikan, murid-murid tidak punya cukup sumber daya, tetapi mereka punya sesuatu yang dapat diserahkan; justru penyerahan itulah yang membuka ruang bagi karya Kristus. Maka iman kecil bukan iman yang lemah, melainkan iman yang masih gemetar namun tetap mau menyerahkan apa yang ada di tangan kepada Tuhan dan kepada pelayanan sesama. Dalam budaya sekarang, “kekurangan” sering dipahami sebagai alasan untuk menunda berbagi, menunda pelayanan, atau menunggu kondisi ideal. Kisah ini membalik logika itu: komunitas justru dipanggil berbagi dalam keadaan terbatas, karena kelimpahan Allah sering dinyatakan melalui solidaritas yang dihidupkan bersama. Maka pewartaan kontekstual perlu menyentuh tema ketidakadilan pangan, individualisme, ketakutan akan kekurangan, dan budaya menyimpan untuk diri sendiri. Roma 9 juga relevan untuk konteks gereja yang mudah puas dengan identitas internal tetapi kurang berduka atas dunia yang belum dipulihkan. Paulus menunjukkan bahwa kasih pada umat sendiri tidak boleh berubah menjadi eksklusivisme, melainkan menjadi doa, tangisan, dan kerja misi yang serius. Jadi, pewarta perlu menantang jemaat agar tidak berhenti pada devosi pribadi, tetapi bertanya: siapa yang lapar di sekitar kita, dan siapa yang sedang kita biarkan pulang dengan tangan kosong? Apa sebetulnya lima roti dan dua ikan dalam makna zaman sekarang?  Lima roti dan dua ikan adalah simbol dari apa yang kecil, terbatas, dan tampak tidak memadai, kenyataan yg tidak dapat disangkal apa yg ada didepan mata kita saat ini, tetapi bersedia diserahkan kepada Kristus dan dibagikan bagi sesama. Dalam zaman sekarang, itu bisa berupa waktu, perhatian, tenaga, uang, jejaring, keahlian, empati, atau keberanian moral yang tampaknya kecil tetapi sangat berarti jika dihidupkan bersama. Apakah inti kisah ini tentang mukjizat besar?  Ya, tetapi mukjizatnya tidak boleh direduksi menjadi “keajaiban gandaan.” Inti yang lebih dalam adalah belas kasih Allah yang mengubah ketidakcukupan menjadi kecukupan bersama, dan mengubah murid yang pasif menjadi pelayan yang terlibat. Mengapa Yesus berkata, “Kamu harus memberi mereka makan”?Karena murid-murid dipanggil bukan hanya melihat kebutuhan, tetapi ikut menanggungnya. Kalimat itu memindahkan pusat cerita dari “apa yang tidak kami punya” menjadi “apa yang mau kami serahkan”. Apa hubungan iman kecil dengan dampaknya? Iman kecil berdampak ketika ia tidak berhenti pada rasa tidak mampu, tetapi bergerak menjadi tindakan penyerahan. Dalam Injil, yang sedikit itu tidak disembunyikan; ia dibawa kepada Yesus, diberkati, dipecah, dan dibagikan, demikian halnya makna liturgi ritual simbolis kita.
(27072026)(TUS)


Sabtu, 25 Juli 2026

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 14:13-21 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝙆𝙖𝙢𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙧𝙞 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙢𝙖𝙠𝙖𝙣!

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 14:13-21 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝙆𝙖𝙢𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙧𝙞 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙢𝙖𝙠𝙖𝙣!

PENGANTAR
Minggu 02 Agustus 2026, Kisah Yesus memberi makan lima ribu orang ada di keempat Injil. Namun, tidak banyak orang yang cermat, bahwa kisah ini sebenarnya berbeda. Contoh, Injil Yohanes menyebut lima roti dan dua ikan dari seorang anak, sedang ketiga Injil sinoptis menyebut lima roti dan dua ikan itu milik para murid. Itu baru dari isi cerita. Konteks dan pesan kisah itu berbeda karena para penulisnya berbeda dan mengusung teologi yang berbeda pula.
PEMAHAMAN 
Hari ini adalah Minggu kesepuluh sesudah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 14:13-21 yang didahului dengan Yesaya 55:1-5, Mazmur 145:8-9, 14-21, dan Roma 9:1-5.

LAI memberi judul perikop bacaan Injil Matius 14:13-21 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘳𝘪𝘣𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨. Pengarang Injil Matius mengusung teologi Yesus adalah Musa yang baru. Dapat diduga kisah Yesus memberi makan lima ribu orang dilatari oleh pengalaman bangsa Israel dipimpin oleh Musa di padang gurun sesudah keluar dari Mesir menuju Kanaan dalam kitab Keluaran 16. Kedua cerita itu hendak menyampaikan bahwa bangsa Israel dikenyangkan oleh “roti yang diturunkan Allah dari langit”. Kisah lima roti dan dua ikan yang mengenyangkan lima ribu orang laki-laki juga dilatari oleh penggandaan roti jelai oleh Nabi Elisa (lih. 2Raj. 4:1-7, 42-44). Namun, bukan berarti pengarang kitab Injil mencontek kisah di Perjanjian Lama (PL), tetapi pengarang Injil hendak menafsir kisah 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘳𝘪𝘣𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 bahwa Yesus lebih besar daripada Musa.

Bacaan Injil Matius 14:13-21 dapat kita ulas dalam tiga bagian:

🛑 Matius 14:13-14 Belas kasihan Yesus
🛑 Matius 14:15-18 Kamu harus memberi mereka makan
🛑 Matius 14:19-21 Mukjizat lima roti dan dua ikan

𝗕𝗲𝗹𝗮𝘀 𝗞𝗮𝘀𝗶𝗵𝗮𝗻 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 (Mat. 14:13-14)

Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ seorang diri dengan perahu ke tempat yang terpencil. Mendengar hal itu orang banyak yang mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya. Tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. (Mat. 14:13-14, TB II 2023)

Berita apa yang didengar oleh Yesus? Berita pembunuhan Yohanes Pembaptis oleh Raja Herodes. Yesus menyingkir. Hal ini sama dengan Matius 4:12 ketika Yohanes Pembaptis ditangkap dan dipenjara, Yesus menyingkir. Pada teks bacaan disebut Yesus pergi seorang diri ke tempat terpencil. Dapat diduga berita pembunuhan Yohanes Pembaptis tersebut berbobot historis. 

Versi Injil Markus Yesus tidak menyingkir, melainkan Ia mengajak murid-murid-Nya beristirahat di tempat sunyi sesudah mereka kelelahan menjalan misi dari Yesus (Mrk. 6:30-31). Versi Injil Lukas Yesus mengajak murid-murid-Nya menyendiri di Kota Betsaida, bukan tempat sunyi (Luk. 9:10). Versi Injil Yohanes Yesus pergi ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Kepergian Yesus tidak ada hubungannya dengan kematian Yohanes Pembaptis karena pasal yang mendahuluinya tidak bercerita tentang Yohanes Pembaptis (Lih. Yohanes 5 – 6:1).

Sesudah Matius menceritakan Yesus pergi ke tempat terpencil, kemudian ayat-ayat selanjutnya muncul dialog Yesus dengan murid-murid-Nya, tetapi tidak dijelaskan alat transportasi yang digunakan oleh mereka. Apakah mereka menyusul dengan perahu atau lewat jalan darat? Tidak jelas. Yang pasti adalah orang banyak menyusul Yesus berjalan kaki atau lewat jalan darat.

Frase 𝘵𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 (ay. 14) menerjemahkan bahasa aslinya yang hanya satu kata 𝘦𝘴𝘱𝘭𝘢𝘯𝘤𝘩𝘯𝘪𝘴𝘵𝘩e. Akar katanya adalah splanchna yang berarti literal usus atau isi perut, yang oleh orang Yahudi diyakini sebagai pusat emosi. Yesus kemudian menyembuhkan mereka yang sakit, padahal Yesus ke seberang hendak menyendiri. Sakit di sini dari kata 𝘢𝘳𝘳o𝘴𝘵𝘰𝘶𝘴, yang berarti literal tak berdaya. Coba bandingkan dengan zaman sekarang.

Teks Injil Matius sama sekali tidak menyebut Yesus mengajar banyak hal seperti dalam Injil Markus 6:34 dan tidak berbicara tentang Kerajaan seperti disebut dalam Injil Lukas 9:11. Yesus hanya menyembuhkan orang sakit. Matius sangat jelas menyampaikan pesannya kepada Gereja untuk segera bergerak menolong orang-orang tak berdaya tanpa perlu banyak berbual.

𝗞𝗮𝗺𝘂 𝗵𝗮𝗿𝘂𝘀 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝗺𝗮𝗸𝗮𝗻 (Mat. 14:15-18)

Menjelang malam murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata, “𝘛𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘦𝘯𝘤𝘪𝘭 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮. 𝘚𝘶𝘳𝘶𝘩𝘭𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘥𝘦𝘴𝘢-𝘥𝘦𝘴𝘢 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪.” Yesus berkata kepada mereka, “𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪, 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙧𝙞 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙢𝙖𝙠𝙖𝙣!” Jawab mereka, “𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘳𝘰𝘵𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘢 𝘪𝘬𝘢𝘯.” Yesus berkata, “𝘉𝘢𝘸𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦 𝘮𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘒𝘶.” (Mat. 14:15-18, TB II 2023)

Keterangan waktu menjelang malam hendak menyatakan bahwa betapa sempit waktu bagi khalayak untuk mencari makan. Bahkan ucapan murid pada frase 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 yang diterjemahkan dari 𝘩e𝘳𝘢 o𝘥o 𝘱𝘢𝘳o𝘭𝘵𝘩𝘦𝘯 berarti literal waktu sudah habis. Matius tampaknya hendak menciptakan ketegangan antara Yesus dan murid-murid-Nya. Mereka memojokkan Yesus dengan alasan waktu sudah habis sehingga mereka mengharapkan Yesus segera memberi perintah kepada khalayak untuk mencari makanan.

Rupanya tanggapan Yesus di luar dugaan para murid. Orang banyak tidak perlu pergi, bahkan Yesus memberi perintah kepada para murid, “𝙆𝙖𝙢𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙧𝙞 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙢𝙖𝙠𝙖𝙣!” Mendengar perintah itu para murid berusaha 𝘯𝘨𝘦𝘭e𝘴, “𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘳𝘰𝘵𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘢 𝘪𝘬𝘢𝘯.” Perintah Yesus itu berlaku sepanjang masa. Gereja tidak boleh menutup mata kepada orang kelaparan, orang tak berdaya, gereja tidak boleh menyingkirkan orang tertentu diantara umat. Gereja harus memberi mereka makan tanpa syarat, gereja harus menerima siapapun tanpa syarat. Tidak ada alasan bagi Gereja tidak memiliki makanan yang cukup untuk dibagikan. 

Mendengar jawaban para murid yang ngelès itu Yesus berkata, “𝘉𝘢𝘸𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦 𝘮𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘒𝘶.” Gereja melayani dari yang ada, bukan mengada-ada, gereja melayani dari kesederhanaan bukan kemewahan. Apalagi mengada-adakan alasan untuk tidak melayani.

𝗠𝘂𝗸𝗷𝗶𝘇𝗮𝘁 𝗹𝗶𝗺𝗮 𝗿𝗼𝘁𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗱𝘂𝗮 𝗶𝗸𝗮𝗻 (Mat. 14:19-20)

Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di rumput. Setelah mengambil lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap syukur. Ia memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian mereka mengumpulkan potongan-potongan roti yang tersisa sebanyak dua belas bakul penuh. Yang makan kira-kira lima ribu orang, belum termasuk perempuan dan anak-anak. (Mat. 14:19-21, TB II 2023)

𝘔𝘦𝘯𝘦𝘯𝘨𝘢𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘦 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵 diterjemahkan dari 𝘢𝘯𝘢𝘣𝘭𝘦𝘱𝘴𝘢𝘴 𝘦𝘪𝘴 𝘵𝘰𝘯 𝘰𝘶𝘳𝘢𝘯𝘰𝘯; 𝘰𝘶𝘳𝘢𝘯𝘰𝘯 dapat berarti surga. Kosmologi pada zaman itu surga terletak di atas bumi datar yang berbentuk seperti tampah. 𝘔𝘦𝘯𝘨𝘶𝘤𝘢𝘱 𝘴𝘺𝘶𝘬𝘶𝘳 diterjemahkan dari 𝘦𝘶𝘭𝘰𝘨o𝘴𝘦𝘯, yang berarti literal memberkati (roti). Teks ini janggal, karena kebiasaan orang Yahudi adalah memberkati (atau mengucap doa berkat kepada) Allah, bukan barang (roti). Kitab Injil adalah produk Gereja, bukan kitab Injil membuat Gereja. Gereja sudah ada terlebih dahulu, baru kemudian penulisan kitab-kitab Injil. Penulisan teks kitab Injil ini sangat bolehjadi sudah berwarna kristiani, karena Gereja atau umat Kristen meyakini roti ekaristi adalah roti kudus.

𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘤𝘢𝘩-𝘮𝘦𝘤𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘰𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶 tentu maksudnya membelah-belah roti. Dalam keluarga Yahudi prosesi pemecahan roti dilakukan oleh kepala keluarga sebagai isyarat memula makan. Tidak ada penjelasan Yesus juga membelah-belah ikan karena lazimnya makan bersama diawali dengan pemecahan roti. Sesudah pemecahan roti Yesus memberikan roti-roti itu kepada murid-murid-Nya, kemudian mereka memberikannya kepada orang banyak. Di sini murid-murid akhirnya memberi makan orang banyak seperti perintah Yesus dan sekaligus menjadi perantara. Demikianlah sepatutnya Gereja yang sudah diberi berkat oleh Allah, maka memberikan berkat kepada orang banyak di luar Gereja.

Khalayak makan sampai kenyang. Frase 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘦𝘯𝘺𝘢𝘯𝘨 diterjemahkan dari kata 𝘦𝘤𝘩𝘰𝘳𝘵𝘢𝘴𝘵𝘩o𝘴𝘢𝘯. Hal ini mengingatkan kita pada Ucapan Bahagia Yesus, “𝘉𝘦𝘳𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘶𝘴 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘱𝘶𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯.” Kata 𝘥𝘪𝘱𝘶𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 di sini diterjemahkan dari kata 𝘤𝘩𝘰𝘳𝘵𝘢𝘴𝘵𝘩o𝘴𝘰𝘯𝘵𝘢𝘪, yang berakar kata yang sama dengan 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘦𝘯𝘺𝘢𝘯𝘨. Tampaknya Matius menyampaikan pesan bahwa Gereja tidak hanya mengenyangkan umat secara rohani, tetapi juga menyenyangkan secara ragawi. Haruslah ada kesetimbangan. Jangan sampai umat 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘪𝘴𝘬𝘪𝘯, 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘯𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘬.

Khalayak bukan saja makan sampai kenyang, roti pun masih berlebih sampai dua belas bakul penuh. Sepatutnya seperti itulah selalu ada makanan di Gereja. Namun, jika para pejabat gerejawi tidak peduli, tidak pernah mau mendengar, mereka justru membiarkan umat mencari makan di tempat yang tidak tepat.

Jumlah lima ribu orang yang makan, belum termasuk perempuan dan anak-anak, juga tertulis di Markus 6:44. Dapat dimengerti pada waktu itu di masyarakat Yahudi hanya laki-laki dewasa yang dihitung atau dipentingkan. Orang Yahudi menyukai keluarga besar. Dapat dibayangkan jumlah total orang yang makan. Bukan tak mungkin jumlah totalnya mencapai 30 ribu orang. Dari lima roti dan dua ikan, yang sejumlah itu hanya dapat dimakan oleh dua orang dewasa, dapat memberi makan ribuan orang. Perbuatan kecil berdampak luar biasa. Demikian halnya Gereja tak perlu ragu-ragu untuk berbuat kebajikan, meskipun hanya perbuatan kecil.

Seperti yang sudah saya jelaskan di atas bahwa frase 𝘵𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 (ay. 14) menerjemahkan bahasa aslinya yang hanya satu kata 𝘦𝘴𝘱𝘭𝘢𝘯𝘤𝘩𝘯𝘪𝘴𝘵𝘩e. Akar katanya adalah splanchna yang berarti literal usus atau isi perut, yang oleh orang Yahudi diyakini sebagai pusat emosi. Mengenyangkan berarti mengisi perut. Orang dengan perut kenyang memudahkannya mengendalikan pikiran dan emosinya. Pejabat gerejawi yang malas belajar, tidak mau mendengar, tidak akan pernah mengenyangkan umat bahkan antikritik. Jangan salahkan umat, apabila mereka mencari makan di tempat lain.
(06082023)(TUS)

Kamis, 23 Juli 2026

Sudut Pandang Maria Magdalena seorang pelacur

Sudut Pandang Maria Magdalena seorang pelacur

PENGANTAR 
Maria Magdalena bukan pelacur, itu pendapat saya. Seringkali khotbah modern menyebut Maria sebagai pelacur yang bertobat, itu keliru dalam sudut pandang saya. Menurut Alkitab; tidak ada satu ayat pun yang menyebutnya demikian. Kesalahpahaman ini muncul karena penggabungan tradisi atas tiga sosok perempuan berbeda: (1) “perempuan berdosa” tanpa nama di Lukas 7, (2) Maria dari Betania yang mengurapi Yesus di Yohanes 12, dan (3) Maria Magdalena yang disebut setelah kisah pengurapan di Lukas 8:2. Gereja Latin (terutama lewat homili Paus Gregorius Agung, 591 M) menyamakan ketiganya, sehingga citra “pelacur yang bertobat” melekat pada Magdalena selama berabad-abad. Juga, tidak bisa disangkal dalam tradisi kuno Yudaisme, kehidupan bermasyarakat zaman itu sebutan Maria, juga sering disematkan pada profesi pelacur pada zamannya. Nama Maria pada zamannya adalah nama lumrah, selain Maria ibu Yesus, memang Alkitab menyebutkan nama Maria yang lain.
PEMAHAMAN 
Siapa Maria Magdalena dalam Perjanjian Baru?
Dalam Injil-injil kanonik, Maria Magdalena diperkenalkan secara eksplisit hanya sebagai murid perempuan yang telah dibebaskan Yesus dari tujuh roh jahat dan yang mendukung pelayanan Yesus bersama perempuan-perempuan lain.

Lukas 8:1–3:  
“...dan juga beberapa perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat … Mereka ini melayani Yesus dengan kekayaan mereka.”  Tidak ada kata “pelacur”, “zina”, atau “perempuan berdosa” di sini. 

Markus 15:40; 16:1; Matius 27:56; 28:1; Lukas 24:10; Yohanes 19:25; 20:1–18:  
  Maria Magdalena muncul konsisten sebagai saksi penyaliban, penguburan, dan terutama saksi pertama kebangkitan. Dalam Yohanes 20, ia bahkan mendapat perutusan khusus (“Pergilah kepada saudara-saudara-Ku…”) sehingga tradisi Timur menyebutnya “rasul bagi para rasul”. Sekali lagi, tidak ada indikasi profesi seksual. Mengapa banyak tradisi menganggapnya pelacur?
Ada tiga sumber utama kebingungan:

a) Penggabungan dengan “perempuan berdosa” di Lukas 7
- Lukas 7:36–50 menceritakan seorang “perempuan yang terkenal sebagai berdosa” (tanpa nama) yang meminyaki kaki Yesus di rumah Simon orang Farisi.  
- Bab berikutnya (Lukas 8:2) langsung menyebut Maria Magdalena yang “telah dibebaskan dari tujuh roh jahat”.  
- Karena urutan naratif ini, banyak pembaca (dan kemudian homili), mengasosiasikan “tujuh roh jahat” dengan “tujuh dosa besar” atau dosa seksual, lalu menyimpulkan: “Maria Magdalena = perempuan berdosa di Lukas 7”. Padahal secara tekstual, Lukas tidak menyamakan keduanya. 

b) Penggabungan dengan Maria dari Betania (saudara Marta & Lazarus)
- Yohanes 12:1–8: Maria (saudara Marta dan Lazarus) mengurapi kaki Yesus dengan minyak narwastu.  
- Markus 14:3–9 / Matius 26:6–13: Seorang perempuan mengurapi kepala Yesus di Betania (tanpa nama).  

- Karena tema “pengurapan” mirip, tradisi lama (khususnya Gereja Latin) menggabungkan:  

  1) perempuan berdosa (Lukas 7),  
  2) Maria Magdalena ( Lukas 8:2), dan  
  3) Maria dari Betania (Yohanes 12).  
  Hasilnya: satu sosok “Maria Magdalena = pengurap = pelacur bertobat”. 

c) Pengaruh homili Paus Gregorius Agung (591 M)
Dalam sebuah homili terkenal, Gregorius Agung secara tegas menyatukan ketiga perempuan ini dan menegaskan bahwa “tujuh roh jahat” berarti segala jenis dosa, termasuk dosa seksual. Homili ini sangat berpengaruh di Barat selama lebih dari 1.000 tahun, sehingga citra Magdalena sebagai “pelacur yang bertobat” menjadi populer dalam seni, liturgi, dan devosi. 

Catatan pentingnya: “Tujuh roh jahat” ≠ “tujuh dosa besar” dalam bahasa Alkitab. Dalam Perjanjian Baru, “roh jahat” lebih sering merujuk pada penyakit/penindasan roh, bukan katalog dosa moral. [

Bukti alkitabiah bahwa Maria Magdalena bukan pelacur
Berikut dalil tekstual langsung:

1. Tidak ada satu ayat pun di keempat Injil yang menyebut Maria Magdalena sebagai “pelacur”, “peziarah”, “wanita cabul”, atau “perempuan berdosa”.  
   - Jika Lukas ingin mengidentifikasikannya dengan perempuan di Lukas 7, ia bisa menulis “Maria yang disebut Magdalena, yang tadinya dikenal sebagai berdosa…”, tetapi ia tidak melakukan itu. 

2. Lukas 8:2 memberi predikat: “telah dibebaskan dari tujuh roh jahat”, bukan “telah diampuni dosa-dosanya” (padahal Lukas menggunakan frasa pengampunan dosa di Lukas 7:47–48 untuk perempuan berdosa). Perbedaan terminologi ini menunjukkan dua kasus berbeda. 

3. Konsistensi peran: Dari Lukas 8 sampai Yohanes 20, Maria Magdalena konsisten sebagai murid yang setia, pendukung finansial, dan saksi. Tidak ada narasi “pertobatan dari pelacuran” yang melekat padanya. [1][3]

4. Konteks geografis: Maria berasal dari Magdala (kota di tepi Danau Galilea), bukan dari Betania dekat Yerusalem (lokasi kisah pengurapan di Yohanes 12). Ini juga melemahkan identifikasi otomatis antar-sosok. 

Karena kesamaan motif “pengurapan” dan urutan bab Lukas 7–8, tradisi Latin menyatukan ketiganya; tradisi Timur dan banyak sarjana modern memisahkan mereka. 
Mengapa “tujuh roh jahat” disalahtafsirkan?
- Dalam budaya populer, “tujuh” sering diasosiasikan dengan tujuh dosa pokok. Namun dalam teks Yahudi-Kristen abad I, “tujuh roh jahat” lebih dekat dengan gambaran, penindasan/penyakit roh yang parah (lih. Matius 12:45; Lukas 11:26).  
- Lukas sendiri membedakan bahasa untuk penyembuhan roh jahat (Luk 8:2) dan pengampunan dosa (Luk 7:47–48). Jika Magdalena adalah “perempuan berdosa” Lukas 7, penulis dapat memakai bahasa yang sama—namun ia tidak. Berikut beberapa rujukan referensi yang membahas isu ini secara kritis:

- Ann Graham Brock, Mary Magdalene, the First Apostle: The Struggle for Authority (2003) – menelusuri bagaimana tradisi menggeser otoritas Magdalena dan membangun citra “pendosa bertobat”. 
- Jane Schaberg, The Resurrection of Mary Magdalene (2002) – analisis historis-kritis tentang figur Magdalena dan bagaimana citra pelacur terbentuk. 
- Karen L. King, The Gospel of Mary of Magdala: Jesus and the First Woman Apostle (2003) – membahas Magdalena dalam tradisi non-kanonik, otoritas dalam Gereja awal. 
- Catholic Encyclopedia (edisi lama) dan dokumen Vatikan pasca-1969 mengakui bahwa identifikasi tiga Maria itu tidak lagi dipertahankan secara resmi dalam liturgi Romawi setelah reformasi kalender. 
- Banyak komentar Injil akademis (mis. New Testament Commentary seri-s seri kritis) menekankan pemisahan teks antara Lukas 7 dan 8, serta menolak identifikasi otomatis. 

Jadi, apa yang benar?
Maria Magdalena bukan pelacur menurut Alkitab. Citra “pelacur bertobat” adalah hasil konflasi tradisi (terutama Gereja Latin abad pertengahan) yang menggabungkan:  
  1) perempuan berdosa tanpa nama (Lukas 7),  
  2) Maria dari Betania (Yohanes 12), dan  
  3) Maria Magdalena (Lukas 8:2).  
- Secara alkitabiah, dugaan yang paling aman: Maria Magdalena adalah murid perempuan yang disembuhkan, pendukung pelayanan, dan saksi pertama kebangkitan, bukan pelacur. Ayat-ayat kunci untuk ditelusuri dan diteliti ulang :
- Lukas 8:1–3 (Maria Magdalena diperkenalkan)  
- Lukas 7:36–50 (perempuan berdosa tanpa nama)  
- Yohanes 12:1–8 (Maria dari Betania mengurapi Yesus)  
- Markus 14:3–9 / Matius 26:6–13 (pengurapan di Betania)  
- Yohanes 20:1–18 (Maria Magdalena, saksi pertama kebangkitan)  
- Markus 16:9 (disebut “tujuh roh jahat”, tanpa label pelacur) 

(24072026)(TUS)

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 13:31-33, 44-52 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗜𝗫 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝗠𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗮𝗻𝘀𝗶

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 13:31-33, 44-52 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗜𝗫 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝗠𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗮𝗻𝘀𝗶

PENGANTAR 
Minggu 26 Juli 2026, Dalam liturgi sesudah menyelesaikan pengedaran kantong kolekte disusul dengan doa yang biasanya dipimpin oleh penatua atau diaken, tetapi kadang oleh pendeta. Dalam doa itu terkadang kita mendengar pendoa mengucapkan yang lebih-kurang, “ … 𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘭𝘶𝘢𝘴 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯-𝘔𝘶.”

Dari frase doa itu dapat diduga bahwa cukup banyak pejabat gerejawi mencerap Kerajaan Allah (atau Kerajaan Surga) sama dengan Gereja. Gereja tidak sama dengan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah juga tidak perlu diperluas karena Kerajaan Allah tak tertakrifkan dengan matra luas. Di Alkitab tidak ada perintah ekspansi Kerajaan Allah, melainkan memberitakan Kerajaan Allah.
PEMAHAMAN 
Hari ini adalah Minggu kesembilan sesudah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 13:31-33, 44-52 yang didahului dengan 1Raja-Raja 3:5-12, Mazmur 119:129-136, dan Roma 8:26-39.

Minggu ini kembali bacaan menyajikan perumpamaan-perumpamaan Yesus. Secara khusus pengarang Injil Matius mengumpulkan tujuh perumpamaan tentang Kerajaan Allah dalam pasal 13.

✝️ Matius 13:3-9, 18-23: Perumpamaan tentang penabur dan penjelasannya (Minggu, 12 Juli 2026)
✝️ Matius 13:24-30, 36-43: Perumpamaan tentang lalang di antara gandum dan penjelasannya (Minggu, 19 Juli 2026)
✝️ Matius 13:31-32: Perumpamaan tentang biji sesawi (Minggu, 26 Juli 2026)
✝️ Matius 13:33: Perumpamaan tentang ragi (Minggu, 26 Juli 2026)
✝️ Matius 13:44: Perumpamaan tentang harta terpendam (Minggu, 26 Juli 2026)
✝️ Matius 13:45: Perumpamaan tentang mutiara yang berharga (Minggu, 26 Juli 2026)
✝️ Matius 13:47-50: Perumpamaan tentang jala besar (Minggu, 26 Juli 2026)

Bacaan Injil Minggu ini mencakup lima perumpamaan. Ayat 51-52 hendak menyajikan semacam kesimpulan.

Perumpamaan (𝘱𝘢𝘳𝘢𝘣𝘰𝘭e𝘯 atau 𝘱𝘢𝘳𝘢𝘣𝘭𝘦) merupakan metafora, perbandingan. Ketujuh perumpamaan di atas hendak menjelaskan Kerajaan Allah (atau Kerajaan Surga) dengan perbandingan. Perbandingannya dengan hal-hal yang ada di alam atau kegiatan sehari-hari. Untuk mengantarkan perumpamaan-perumpamaan itu Yesus seperti bernyanyi 𝘳𝘦𝘧𝘳𝘢𝘪𝘯: 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 … 

Meskipun demikian semua perumpamaan tersebut masih belum dapat mencakup takrif tentang Kerajaan Allah. Hal itu menunjukkan bahwa pengertian Kerajaan Allah sebagai suatu kenyataan baru yang datang dari Allah merupakan sesuatu yang sukar diperikan dengan kata-kata karena ia jauh melampaui pikiran manusia.

𝗣𝗲𝗿𝘂𝗺𝗽𝗮𝗺𝗮𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗶𝗷𝗶 𝘀𝗲𝘀𝗮𝘄𝗶

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 𝘣𝘪𝘫𝘪 𝘴𝘦𝘴𝘢𝘸𝘪, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘵𝘢𝘣𝘶𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢. 𝘔𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘫𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘫𝘦𝘯𝘪𝘴 𝘣𝘦𝘯𝘪𝘩, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘶𝘮𝘣𝘶𝘩, 𝘴𝘦𝘴𝘢𝘸𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘰𝘩𝘰𝘯 𝘴𝘦𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘯𝘨-𝘣𝘶𝘳𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘤𝘢𝘣𝘢𝘯𝘨-𝘤𝘢𝘣𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢.” (Mat. 13:31-32)

LAI menerjemahkan 𝘴𝘪𝘯𝘢𝘱𝘦o𝘴 menjadi sesawi. RSV, KJV, NIV, dan Alkitab berbahasa Inggris lainnya menerjemahkan 𝘴𝘪𝘯𝘢𝘱𝘦o𝘴 menjadi 𝘮𝘶𝘴𝘵𝘢𝘳𝘥, yang diindonesiakan menjadi moster. Sesawi bukan sawi, tetapi sesawi masuk ke dalam kelompok sayuran seperti dalam frase 𝘴𝘦𝘴𝘢𝘸𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯.

Mengontraskan yang kecil dengan yang besar merupakan ciri peribahasa Yahudi. Apabila Allah menegakkan kuasa-Nya, suasananya seperti biji sesawi yang diambil dan ditaburkan kemudian tumbuh menjadi pohon. Awal karya Yesus yang tampak amat sederhana, tidak menonjol, diumpamakan biji sesawi yang kecil itu. Secara hiperbolik biji sesawi dikontraskan dengan pohon sesawi yang menjadi tempat burung bersarang. Disebut hiperbolik karena tidaklah umum burung-burung bersarang di tanaman sesawi. Dalam Perjanjian Lama (PL) pohon besar merupakan simbol kerajaan penuh kuasa yang akan melindungi negara-negara taklukan (bdk. Yeh. 17:23; 31:6, Dan. 4:20-22). Tampaknya perumpamaan ini hendak mengatakan bahwa pemberitaan Kerajaan Surga jangan disepelekan karena pada saat Kerajaan itu datang secara penuh, orang-orang berdatangan minta perlindungan.

𝗣𝗲𝗿𝘂𝗺𝗽𝗮𝗺𝗮𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗿𝗮𝗴𝗶

Ia menceritakan perumpamaan ini juga kepada mereka, “𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 𝘳𝘢𝘨𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢𝘥𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘵𝘦𝘱𝘶𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘨𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 40 𝘭𝘪𝘵𝘦𝘳 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢.” (Mat. 13:33)

Ragi merupakan metafora untuk kenajisan dan kecemaran, untuk sesuatu yang marginal di dalam masyarakat yang ditatastrukturkan menurut sistem kekudusan atau puritas Yudaisme. Ragi dalam kitab Keluaran 12:19 ditunjuk sebagai penyebab kenajisan yang membuat seorang Israel dicampakkan dari komunitas. Perhatikan ucapan Rasul Paulus dalam Galatia 5:9 yang memuat metafora ragi sebagai penyebab orang menyimpang dari kebenaran dan dalam 1Korintus 5:6-8 sebagai perbuatan dosa. Dalam Markus 8:15 Yesus memeringatkan murid-murid-Nya untuk berwaspada terhadap 𝘳𝘢𝘨𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘍𝘢𝘳𝘪𝘴𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘨𝘪 𝘏𝘦𝘳𝘰𝘥𝘦𝘴.

Yesus memang radikal. Dengan berani Yesus memetaforakan Kerajaan Allah dengan ragi. 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 𝘳𝘢𝘨𝘪 berarti kekuasaan dan pemerintahan Allah tidak lagi berada di Bait Allah dengan sistem kurbannya yang dijalankan oleh lembaga imamat dari kalangan elitis para imam, tetapi berada di antara kalangan yang dalam sistem puritas Yahudi tergolong marginal dan najis. Kekudusan Allah di tengah-tengah penajisan oleh kekuasaan kafir (Roma) atas Tanah Yudea ditemukan di antara kalangan najis. Bandingkan dengan ucapan Yesus dalam Lukas 17:21b, “...𝘴𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶.”

Tindakan Yesus yang membangun dan memasuki persekutuan dengan orang-orang najis dan marginal serta makan bersama-sama dengan mereka membentuk suatu komunitas yang anggota-anggotanya setara, egaliter. Pemberitaan Kerajaan Allah merobohkan hierarki sosial-religius yang dipertahankan dalam sistem puritas Yudaisme. Yesus tidak menghendaki rakyat dipecah-pecah dan diceraiberaikan berdasarkan sistem puritas.  

𝗣𝗲𝗿𝘂𝗺𝗽𝗮𝗺𝗮𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗵𝗮𝗿𝘁𝗮 𝘁𝗲𝗿𝗽𝗲𝗻𝗱𝗮𝗺 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝘂𝘁𝗶𝗮𝗿𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗵𝗮𝗿𝗴𝗮

“𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘖𝘭𝘦𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘴𝘶𝘬𝘢𝘤𝘪𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘶𝘢𝘭 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘪 𝘭𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶.

𝘋𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘭𝘢 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘥𝘢𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘶𝘵𝘪𝘢𝘳𝘢-𝘮𝘶𝘵𝘪𝘢𝘳𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩. 𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘳𝘨𝘢, 𝘪𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘶𝘢𝘭 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘪 𝘮𝘶𝘵𝘪𝘢𝘳𝘢 𝘪𝘵𝘶.” (Mat. 13:44-45)

Dua perumpamaan itu saya gabungkan pengulasannya karena serupa dan berhubungan dengan cara penyampaian yang berbeda. Yang satu tentang seorang buruh peladang, sedang yang lain tentang seorang pedagang kaya. Pusat perhatian bukan pada harta terpendam dan mutiara, melainkan reaksi kedua orang itu. Meskipun reaksi kedua orang itu mirip, yakni menjual seluruh milik mereka untuk membeli ladang dan mutiara yang indah itu, tetapi kedua orang itu berangkat dengan tujuan yang berbeda. Buruh peladang bekerja tidak bertujuan mencari harta terpendam, sedang pedagang itu memang bertujuan mencari mutiara yang indah. Kedua perumpamaan itu bukan untuk menyatakan bahwa Kerajaan Surga itu sangat tinggi harganya.

Dari konteks keseluruhan pasal 13 kedua perumpamaan itu merujuk gagasan penghakiman. Pengarang Injil Matius hendak menampilkan model umat Kristen yang mau berkorban besar untuk menghadirkan Kerajaan Allah. Jika kita melongok perumpamaan tentang ragi, itu berarti umat Kristen harus mau berkorban besar untuk peduli kepada masyarakat marginal. Di sini peduli bukan saja mengangkat mereka dari kubangan kemiskinan, tetapi juga menghadirkan keadilan.

𝗣𝗲𝗿𝘂𝗺𝗽𝗮𝗺𝗮𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗷𝗮𝗹𝗮 𝗯𝗲𝘀𝗮𝗿

“𝘋𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘭𝘢 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 𝘫𝘢𝘭𝘢 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘣𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘶𝘵, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘫𝘦𝘯𝘪𝘴 𝘪𝘬𝘢𝘯. 𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩, 𝘫𝘢𝘭𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘳𝘦𝘵 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘢𝘪, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘺𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨. 

𝘋𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘻𝘢𝘮𝘢𝘯: 𝘔𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘢𝘵-𝘮𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘴𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘵𝘶𝘯𝘨𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘪. 𝘋𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘳𝘢𝘵𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘳𝘵𝘢𝘬 𝘨𝘪𝘨𝘪.” (Mat. 13:47-50)

Sastra kuno memang kerap mengambil judul dari kata atau frase atau kalimat pertama, meskipun tidak memerikan isi karangan. Perumpamaan tentang jala di atas bukan tentang jala itu sendiri, melainkan hal yang terjadi sesudah para penjala menarik jala ke pantai. Perumpamaan ini mirip dengan perumpamaan lalang di ladang gandum (Minggu, 19 Juli 2026).

Di awal Injil ini Yohanes Pembaptis berkampanye bahwa Yesus adalah Mesias yang sudah siap memegang kapak untuk memotong setiap pohon dan batang yang tidak berbuah. Yohanes juga mengatakan bahwa Mesias sudah memegang alat penampi untuk menyingkirkan sekam dari gandum dan membakar sekam dalam api yang tak terpadamkan. Yohanes berpikir bahwa Yesus akan langsung menghancurkan orang-orang Farisi dan Saduki (lih. Mat. 3:7-12).

Ternyata Yesus tidak seperti yang dipikirkan dan dibayangkan oleh Yohanes Pembaptis. Yesus tidak menciptakan komunitas orang-orang bersih dan suci. Yesus bahkan tidak bersetuju dengan gagasan menyingkirkan langsung ikan tidak baik dari jala. Mula-mula semua ikan berbagai jenis bercampur baur dalam satu jala besar, baru kemudian sesudah ditarik ke pantai ikan-ikan yang baik dikumpulkan, sedang ikan yang tidak baik dibuang. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘢𝘪𝘬 di sini dari kata 𝘴𝘢𝘱𝘳𝘢 yang berarti busuk atau rusak.

Menyingkirkan langsung orang jahat dari orang baik dipandang oleh Yesus sebagai tindakan yang salah. Yesus meminta kesabaran dengan hidup berdampingan sampai jala itu sampai di pantai, suatu kiasan tentang akhir zaman. Akhir zaman menurut Matius bukanlah hari kiamat, melainkan saat Kerajaan Allah datang secara penuh, yang orang-orang jahat disingkirkan dari orang-orang benar. Yang disebut dengan orang-orang benar adalah yang melakukan kehendak Allah (bdk. Mat. 6:33).

𝗣𝗲𝗻𝘂𝘁𝘂𝗽

“𝘔𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶?” Jawab mereka, “𝘠𝘢.” Lalu berkatalah Yesus kepada mereka, “𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘢𝘩𝘭𝘪 𝘛𝘢𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢𝘫𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩𝘢𝘳𝘢𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.” (Mat. 13:51-52)

𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 dan 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 di sini adalah murid-murid Yesus. Yesus menutup tujuh perumpamaan dengan perumpamaan. Frase 𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘵𝘶 seperti hendak mengantarkan kepada kesimpulan.

Perlu dicermati istilah 𝘢𝘩𝘭𝘪 𝘛𝘢𝘶𝘳𝘢𝘵 dalam frase 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘢𝘩𝘭𝘪 𝘛𝘢𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢𝘫𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢. Frase asli dari teks sumber penerjemahan adalah 𝘱𝘢𝘴 𝘨𝘳𝘢𝘮𝘮𝘢𝘵𝘦𝘶𝘴 𝘮𝘢𝘵𝘩e𝘵𝘦𝘶𝘵𝘩𝘦𝘪𝘴 𝘵e 𝘣𝘢𝘴𝘪𝘭𝘦𝘪𝘢 𝘵o𝘯 𝘰𝘶𝘳𝘢𝘯o𝘯, yang berarti 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢. Dalam Injil Matius istilah 𝘢𝘩𝘭𝘪 𝘛𝘢𝘶𝘳𝘢𝘵 disebut sebanyak 23 kali, tetapi hanya di ayat 52 ini gelar atau sebutan itu dikenakan kepada pengikut Kristus, yang boleh menjadi pengajar agama.

Meskipun pengikut Kristus sudah setara dengan ahli Taurat, tetapi ia harus 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩𝘢𝘳𝘢𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘏𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘳𝘶 disebutkan lebih dahulu daripada 𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘢. Inilah khas Injil Matius. Pengikut Kristus harus mendahulukan pengajaran dari Yesus (𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘳𝘶) dan sekaligus tidak melupakan akarnya, yakni Kitab Suci Yahudi (𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘢).

Dalam tiga hari Minggu berturut-turut (12, 19, dan 26 Juli) bacaan ekumenis mengambil perumpamaan-perumpamaan Yesus dari Matius 13 untuk menjelaskan Kerajaan Allah (atau Kerajaan Surga). Meskipun demikian masih sukar untuk membuat takrif yang memuaskan mengenai Kerajaan Allah. Yang dapat kita jumput adalah ciri-cirinya: damai sejahtera, keadilan, dan keterpaduan ciptaan. 

Gereja bukan Kerajaan Allah, melainkan hamba misi Kerajaan Allah. Gereja harus menghadirkan ciri-ciri Kerajaan Allah, yakni damai sejahtera, keadilan, dan keterpaduan ciptaan kepada masyarakat di sekitarnya (partikular) dan dunia (universal) tanpa memandang SARA.
 (30072023)(TUS)

Kamis, 16 Juli 2026

Sudut Pandang prosa dan puisi dalam Perjanjian Lama (PL) serta perumpamaan dalam Perjanjian Baru (PB)

Sudut Pandang prosa dan puisi dalam Perjanjian Lama (PL) serta perumpamaan dalam Perjanjian Baru (PB)

PENGANTAR
 Sastra Ibrani merupakan bidang kajian penting dalam studi biblika, karena bentuk sastra ini memengaruhi cara teks ditafsirkan dan dimaknai secara teologis maupun historis.  
PEMAHAMAN
Bahasa Ibrani Alkitab menggunakan istilah mishal (משל) untuk peribahasa atau perumpamaan atau prosa, dan shir (שיר) untuk nyanyian atau puisi. Struktur puisi Ibrani ditandai oleh paralelisme (pengulangan makna dalam baris-baris sejajar), bukan oleh rima atau metrum seperti dalam puisi modern.  Contoh: Mazmur dan Amsal banyak menggunakan bentuk ini. Dalam PB, istilah yang digunakan adalah parabolē (παραβολή), yang berarti “perbandingan” atau “kisah perumpamaan”. Yesus sering menggunakan bentuk ini untuk mengajar kebenaran rohani melalui narasi sederhana (misalnya dalam Injil Matius 13). Prosa PL: Digunakan untuk narasi sejarah dan hukum (misalnya Kejadian, Keluaran). Struktur prosa menekankan kronologi dan tindakan Allah dalam sejarah umat-Nya, konsep-konsep tentang Allah dan polemik nya tertuang pada bentuk Prosa. Puisi PL: Menyampaikan emosi, doa, dan refleksi iman (contohnya Mazmur, Kidung Agung). Ciri khasnya adalah paralelisme sinonim, antitetik, dan sintetis. Biasanya puisi digunakan untuk menjembatani atau menjadi gambaran jawab atas konsep polemik yang ada di prosa. Perumpamaan PB:Berfungsi sebagai alat pedagogis dan teologis. Struktur umumnya terdiri dari:  

  1. Situasi sehari-hari,  
  2. Konflik atau kejutan,  
  3. Poin moral atau teologis.  

Tujuannya bukan sekadar ilustrasi, tetapi untuk menantang pendengar agar merenungkan kebenaran rohani. Dalam tafsir akademik, bentuk sastra menentukan metode hermeneutik:
Puisi Ibrani ditafsirkan dengan memperhatikan paralelisme dan simbolisme. Prosa naratif dianalisis dengan pendekatan historis-kritis dan naratif. Perumpamaan Yesus ditafsirkan dengan pendekatan kontekstual dan teologis, memperhatikan audiens dan maksud pengajaran. Prosa menekankan tindakan Allah dalam sejarah, polemik konsep Allah. Puisi mengekspresikan hubungan pribadi dan emosional dengan Allah, jembatan atau gambaran makna yg menjembatani prosa tentang konsep Allah. Perumpamaan mengungkapkan rahasia Kerajaan Allah melalui bahasa simbolik yang mudah diingat. Hal ini yg diungkap pada Beberapa sumber akademik yang relevan:
- Adele Berlin, The Dynamics of Biblical Parallelism (Eerdmans, 2008).  
- Robert Alter, The Art of Biblical Poetry (Basic Books, 2011).  
- Craig L. Blomberg, Interpreting the Parables (IVP Academic, 2012).  
- Richard A. Burridge, What Are the Gospels? (Eerdmans, 2004).  
- Artikel jurnal:  
  - Journal of Biblical Literature (JBL) – studi tentang struktur puisi Ibrani dan perumpamaan Yesus.  
  - Biblica – penelitian linguistik dan hermeneutik teks Ibrani dan Yunani. Puisi, Prosa dan perumpamaan Alkitab mengajarkan bahwa bahasa indah dapat menjadi sarana wahyu ilahi. Melalui kisah dan simbol, Allah berbicara kepada hati manusia, mengundang kita untuk merenungkan kasih, keadilan, dan kebenaran-Nya. Prosa, puisi, dan perumpamaan dalam Alkitab bukan sekadar bentuk sastra, tetapi sarana komunikasi ilahi yang kaya makna. Pemahaman terhadap bahasa aslinya (Ibrani dan Yunani) membantu penafsir menggali kedalaman pesan rohani dan teologis yang terkandung di dalamnya.
(23072026)(TUS)

Sudut Pandang perbedaan konsep “pencobaan” dan “ujian” dalam Kitab Ayub dan Surat Yakobus, dilihat dari aspek bahasa, sastra, budaya, dan konteks teologis.

Sudut Pandang perbedaan konsep “pencobaan” dan “ujian” dalam Kitab Ayub dan Surat Yakobus, dilihat dari aspek bahasa, sastra, budaya, dan konteks teologis.  

PENGANTAR
Kitab Ayub 1:12 (TB)  
“Maka firman TUHAN kepada Iblis: ‘Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya.’ Maka pergilah Iblis dari hadapan TUHAN.”

Yakobus 1:13 (TB) Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!" Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun.

Namun, untuk konteks “pencobaan” dalam Yakobus, ayat yang lebih relevan adalah Yakobus 1:2–3, 12–14, karena di sanalah istilah “pencobaan” (peirasmos-kata benda) dibahas secara eksplisit.

Yakobus 1:2–3 (TB)
 “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.”

Dalam Yakobus 1:2-3, masih menggunakan kata Yunani peirasmos sebagai kata benda tetapi konteksnya lain. Dalam bahasa Ibrani kata pencobaan ada 2 yaitu nasah dan masah, nasah digunakan untuk pencobaan dalam artian ujian untuk memurnikan iman, seperti dalam kitab Ayub dan Yakobus 1:2-3, sedangkan masah adalah kata pencobaan dalam artian godaan sehingga manusia melakukan dosa ini yg dipakai dalam Yakobus 1:13, tetapi dalam bahasa Yunani hanya ada satu kata peiramos, shg dalam bahasa Yunani perbedaan dalam arti pencobaan di lihat dari konteks teks nya. Ibrani (Ayub): 
  Kata yang digunakan untuk “mencobai” atau “menguji” adalah נָסָה (nasah), yang berarti menguji, membuktikan, atau menguji kesetiaan. Dalam konteks Ayub, “ujian” datang dari izin Allah, tetapi pelaksanaannya oleh Iblis. Tujuannya bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk membuktikan kemurnian iman Ayub. Yunani (Yakobus):  Kata yang digunakan adalah πειρασμός (peirasmos), yang memiliki dua makna:  

  (1) ujian untuk membentuk dan memurnikan iman,  
  (2) pencobaan yang menggoda manusia untuk berbuat dosa.  

 Konteks menentukan maknanya.
PEMAHAMAN 
 Dalam Kitab Ayub, nasah berarti ujian iman, sedangkan dalam Yakobus 1:13 berarti godaan dosa, dalam bahasa ibraninya masah, peiramos (kata benda) lebih ke bahasa Ibrani masah. Kitab Ayub ditulis dalam bentuk prosa dan puisi hikmat Ibrani, dengan latar budaya Timur Dekat kuno yang memahami penderitaan sebagai ujian kesetiaan kepada Allah. Dalam budaya itu, penderitaan sering dianggap sebagai sarana pembuktian moral dan spiritual.  Ayub diuji untuk menunjukkan integritasnya di hadapan Allah dan Iblis. Surat Yakobus ditulis dalam konteks komunitas Yahudi-Kristen abad pertama, di mana penderitaan dan tekanan sosial dianggap sebagai kesempatan untuk meneguhkan iman. Yakobus menekankan bahwa Allah tidak menggoda manusia untuk berbuat dosa; karena itu melawan natur Allah yg tidak menghendaki manusia berbuat dosa, pencobaan yang menjatuhkan berasal dari keinginan manusia sendiri (Yak. 1:14), iblis itu keinginan manusia sendiri, dosa natur manusia untuk memberontak pada Allah.
Dapat diperjelas hal tsb dalam referensi sbb :
1. John E. Hartley, *The Book of Job (NICOT, Eerdmans, 1988) – membahas “nasah” sebagai ujian ilahi yang menyingkapkan kesetiaan manusia.  
2. Douglas J. Moo, The Letter of James (Pillar New Testament Commentary, Eerdmans, 2000) – menjelaskan “peirasmos” sebagai konsep ganda: ujian iman dan godaan dosa.  
3. David J.A. Clines, Job 1–20 (Word Biblical Commentary, 1989) – menyoroti struktur sastra dan teologi penderitaan dalam konteks budaya Timur Dekat.  
4. Ralph P. Martin, James (Word Biblical Commentary, 1988) – menekankan perbedaan semantik “peirasmos” dalam konteks etika Kristen awal.  Dalam konteks kehidupan modern, “ujian” dapat dipahami sebagai proses pembentukan karakter dan iman melalui kesulitan hidup, sedangkan “pencobaan” adalah dorongan moral atau spiritual yang menjauhkan manusia dari kehendak Allah.  Nilai moral yang dapat diambil: iman yang murni tumbuh melalui ujian, bukan melalui kejatuhan dalam pencobaan. Kata Ibrani: נָסָה (nasah). Akar dan Bentuk Morfologis:
- Akar kata: נ־ס־ה (nun–samekh–he)  
- Bentuk dasar: nasah (verba, qal)  
- Kategori: verba triliteral (tiga konsonan akar)  
- Pola morfologis: Qal (bentuk dasar aktif), tetapi juga muncul dalam Niphal (pasif/refleksif) dan Piel (intensif) dalam beberapa konteks.  Makna dasar:  
- Menguji, mencoba, membuktikan, menguji kesetiaan atau kemurnian seseorang.  
- Dalam konteks teologis, nasah tidak berarti menggoda untuk berbuat dosa, melainkan menguji untuk membuktikan iman atau ketaatan. Contoh penggunaan:  
- Kejadian 22:1 (TB): “Setelah semuanya itu Allah mencobai (nasah) Abraham.”  
  Di sini, nasah berarti “menguji” iman Abraham, bukan menggoda untuk berbuat dosa.  
- Ulangan 8:2: “...untuk menguji engkau (nasoteka), untuk mengetahui apa yang ada di dalam hatimu.”  
Dalam morfologi Ibrani, nasah sering digunakan dalam konteks relasi perjanjian antara Allah dan manusia. Ujian ini bersifat pedagogis (mendidik)— untuk menyingkapkan kualitas iman, bukan menjatuhkan.  
Kata Yunani: πειρασμός (peirasmos). Akar dan Bentuk Morfologis: 
- Akar kata: πειράω (peiraō) atau πειράζω (peirazō)  
- Bentuk dasar: peirasmos (nomina maskulin, deklinasi kedua)  
- Bentuk genitif: πειρασμοῦ (peirasmou) 
- Bentuk verba terkait: πειράζω (mencobai, menguji). Makna dasar: 
- Ujian, percobaan, cobaan, godaan. 
- Dalam konteks positif: ujian yang menguatkan iman.  
- Dalam konteks negatif: godaan yang menjerumuskan ke dalam dosa.  Contoh penggunaan:  
- Yakobus 1:2 (TB): “...apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan (peirasmois).” → bermakna ujian iman.  Contoh kata yang sama peiramos tetapi bermakna masah, pencobaan yg merupakan godaan yg mendatangkan dosa
- Yakobus 1:13 (TB): “Apabila seorang dicobai (peirazetai), janganlah ia berkata: ‘Pencobaan ini datang dari Allah!’”  bermakna godaan dosa, masah dalam bahasa ibrani.  

Dalam morfologi Yunani, peirasmos berasal dari akar yang berarti “mencoba” atau “menguji dengan maksud mengetahui kualitas sesuatu.” Namun, dalam konteks etis, maknanya bergeser menjadi “godaan” — tergantung pada subjek dan tujuan tindakan.  
Nasah menekankan proses pembuktian iman melalui ujian yang diizinkan Allah.  
- Peirasmos memiliki dua dimensi semantik : ujian yang membangun (positif) dan godaan yang menjatuhkan (negatif).  
- Secara morfologis, nasah adalah verba aktif yang menandakan tindakan Allah, sedangkan peirasmos adalah nomina yang menandakan kondisi atau situasi ujian.  Perbedaan itu diperjelas lagi dalam referensi sbb :
1. Brown, Driver, Briggs. Hebrew and English Lexicon of the Old Testament (BDB, 1906) – entri נָסָה.  
2. HALOT (Koehler & Baumgartner, 1994) – definisi nasah sebagai “to test, to prove.”  
3. Bauer, Danker, Arndt, Gingrich. A Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature (BDAG, 3rd ed., 2000) – entri peirasmos.  
4. Louw & Nida, Greek-English Lexicon of the New Testament Based on Semantic Domains (1989) – domain 27.46–27.50 tentang testing/temptation.  
Dalam terang Alkitab, ujian (nasah/peirasmos) adalah sarana Allah untuk memurnikan iman, sedangkan pencobaan yang menjatuhkan berasal dari keinginan manusia sendiri, sering disebut sebagai bersumber dari iblis dalam Alkitab. Iman yang teguh tumbuh melalui kesetiaan dan ketaatan dalam menghadapi ujian, bukan dengan menghindarinya.
(23072026)(TUS)

Sudut Pandang memahami konsep kedaulatan keadilan Allah dalam Kitab Ayub dan Kitab Yesaya 44:6–8

Sudut Pandang memahami konsep kedaulatan keadilan Allah dalam  Kitab Ayub dan Kitab Yesaya 44:6–8

PENGANTAR
Membanding dua karya sastra memang kerjaannya study biblika Sastra, sejarah dan arkeologi, karena kalau kemaren saya menulis perbandingan antara Kitab Ayub dan perumpamaan lalang dan gandum, sekarang saya membandingkan Kitab Ayub dan kitab Yesaya. Kita melihat konsep-konsep yg dibentuk dari kitab kejadian sampai Wahyu kepada Yohanes. Alkitab itu terhubung oleh konsep utama yg diperkaya oleh konsep-konsep kecil dari kitab kejadian sampai Wahyu kepada Yohanes. Walaupun saya selalu mengatakan sebuah kitab atau bagian Injil dan surat-surat memiliki kisah teologis dari masing-masing penulisnya yang tidak bisa dicampur adukan, tetapi tetap ada konsep universal atau konsep umum yg menghubungkan sebagai benang merah dari kitab kejadian sampai Wahyu kepada Yohanes. Saya pernah menulis bahwa Alkitab dapat menafsir dirinya sendiri, ya karena ada benang merahnya, sehingga saya harus mengatakan tidak relevan mencomot satu ayat dan menafsirkan nya serta menganggap itulah konsep seluruh Alkitab. Tafsir awam teologipun sangat disarankan jangan mencomot satu ayat saja, harus ada penguatan dan pilar pendukung dari ayat Alkitab yg lain. Oleh karena itu kenapa kita dilatih dalam bacaan sabda leksionari. Kitab Ayub termasuk dalam sastra hikmat (wisdom literature) Ibrani, bersama Amsal dan Pengkhotbah. Bahasa Ibrani yang digunakan dalam Ayub sangat puitis, dengan struktur paralelisme dan metafora yang kompleks. Menurut John E. Hartley dalam The Book of Job (NICOT, 1988), gaya bahasanya menunjukkan kedalaman refleksi teologis tentang penderitaan dan keadilan Allah. Sementara Kitab Yesaya 44:6–8 merupakan bagian dari Deutero-Yesaya (Yesaya 40–55), ditulis dalam konteks pembuangan Babel. Bahasa Ibrani di sini menekankan monoteisme absolut dengan frasa:  

“Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku.” (Yesaya 44:6, TB)  

Ungkapan ini menegaskan kedaulatan dan kemahakuasaan Allah atas sejarah dan bangsa-bangsa. Providentia Dei.
PEMAHAMAN
Kitab Ayub mencerminkan tradisi Timur Dekat Kuno di mana penderitaan sering dikaitkan dengan dosa, Kesalahan dan hukuman. Namun, narasi Ayub menantang pandangan retributif itu. Allah tidak menghukum Ayub karena dosa, melainkan mengizinkan penderitaan sebagai sarana pemurnian iman (lih. Ayub 23:10).  
Dalam konteks Yesaya 44, bangsa Israel sedang mengalami krisis identitas di pembuangan. Allah menegaskan diri-Nya sebagai satu-satunya Penebus dan Pencipta, menolak dewa-dewa Babel. Ini menunjukkan kedaulatan Allah atas sejarah dan bangsa-bangsa, bukan hanya atas individu. Dalam Ayub 38–41, Allah menampakkan diri dan menunjukkan kebesaran ciptaan-Nya, menegaskan bahwa hikmat dan kuasa-Nya melampaui pemahaman manusia.  Dalam Yesaya 44:6–8, Allah menyatakan diri sebagai “Yang Awal dan Yang Akhir”, menegaskan otoritas-Nya atas waktu dan keberadaan.  Ayub mempertanyakan keadilan Allah, tetapi akhirnya menyadari bahwa keadilan ilahi tidak selalu dapat diukur dengan logika manusia.Gustavo Gutiérrez dalam On Job: God-Talk and the Suffering of the Innocent (1987) menafsirkan bahwa penderitaan Ayub membuka ruang bagi iman yang murni, bukan iman yang bersyarat.  Penderitaan sebagai Pemurnian Iman: Ayub 23:10 menegaskan: “Apabila Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.” Penderitaan menjadi alat pendidikan rohani, C.S. Lewi dalam The Problem of Pain (1940) menyebut penderitaan sebagai “megaphone of God”  sarana Allah berbicara kepada manusia yang keras hati.  
Dalam konteks modern, penderitaan sering dipahami sebagai absurditas. Namun, kitab Ayub dan Yesaya mengajarkan bahwa Allah tetap berdaulat dan adil, bahkan ketika manusia tidak memahami jalan-Nya.  
Kedaulatan Allah memberi penghiburan bahwa hidup manusia tidak berada di luar kendali-Nya. Penderitaan, bila dihayati dalam iman, menjadi sarana pendewasaan rohani dan pemurnian karakter. Kedaulatan Allah mengajarkan bahwa tidak ada penderitaan yang sia-sia. Dalam setiap ujian, Allah sedang membentuk iman yang murni dan karakter yang teguh. Seperti Ayub, umat percaya dipanggil untuk tetap setia, sebab Allah yang berdaulat juga adalah Allah yang adil dan penuh kasih.

Referensi Akademik dan Teologis
- Hartley, John E. The Book of Job (NICOT, Eerdmans, 1988).  
- Gutiérrez, Gustavo. On Job: God-Talk and the Suffering of the Innocent (Orbis Books, 1987).  
- Brueggemann, Walter. Isaiah 40–66 (Westminster John Knox, 1998).  
- Childs, Brevard S. Isaiah (OTL, Westminster Press, 2001).  
- Lewis, C.S. The Problem of Pain (HarperOne, 1940).  

(16072026)(TUS)




Sudut Pandang kewenangan dan keadilan Allah dalam sastra Ibrani di kitab Ayub dan perumpamaan lalang gandum di injil Matius 13:24-30

Sudut Pandang kewenangan dan keadilan Allah dalam sastra Ibrani di kitab Ayub dan perumpamaan lalang gandum di injil Matius 13:24-30

PENGANTAR
Bab 42 : 7 membuktikan bahwa teman-teman Ayub dihukum karena memberikan konsep yg keliru tentang Allah.  Bukan karena menyalahkan Ayub. Ayub 42:7 (TB) Setelah TUHAN mengucapkan firman itu kepada Ayub, maka firman TUHAN kepada Elifas, orang Téman: "Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub. Dan, cermati yang dihukum Allah adalah elifas  dan 2 sahabatnya, padahal yg tercatat ada 4 teman Ayub, artinya cuma 3 yang dihukum Allah, kenapa? Siapa teman Ayub yg tidak dihukum?  Dicermati tiap ayatnya, tidak akan saya jelaskan agar kita semua belajar. Jadi tidak bisa kalau dibawa dalam konsep kalau menyalahkan/mengkritisi temannya terus malah dimarahi dan dihukum Allah, Tuhan Yesus mengkritik, tukang kritik, bearti dimarahi Allah dong kalau gitu🤭😁😆😂🤣. Melihat Kitab Ayub disandingkan dg Matius 13, memang itu yg seringkali dilakukan dalam study biblika Sastra, Sejarah, dan Arkeologi. Study ini memang sering melakukan perbandingan dari 2 karya sastra dalam Alkitab, untuk mendapatkan konsep-konsep yg ada didalam Alkitab. Kitab Ayub adalah sastra Ibrani yg mengangkat konsep Allah dalam prosa prolog dan prosa epilognya, di bagian tengah adalah puisi untuk menjembati dan menggambarkan hubungan dari dua konsep Allah tsb lewat dialog. Di Kitab Ayub, bagian yang prosa cuma di awal (prolog) dan akhir (epilog). Tengahnya puisi.

Bagian Prosa:
1. Ayub 1:1 – 2:13  
   Prolog. Cerita tentang Ayub, keluarga, kekayaannya, dan ujian dari Allah lewat Iblis. Bahasanya naratif biasa. Konsep Allah yg dibawa adalah Allah Maha Kuasa tanpa batas.
2. Ayub 42:7 – 42:17  
   Epilog. Allah menegur teman-teman Ayub, memulihkan keadaan Ayub, anak-anak baru, dan umur Ayub yang panjang. Balik lagi ke gaya cerita. Konsep Allah yang di bawa adalah Allah adalah adil seadil-adilnya. 

Bagian Puisi: 
Ayub 3:1 – 42:6  
Ini inti kitabnya. Isinya dialog panjang antara Ayub dengan 3 temannya: Elifas, Bildad, Zofar, + Elihu, lalu jawaban Allah dari badai. Bahasanya puitis, paralelisme, metafora, tanya-jawab berat tentang penderitaan. Jembatannya adalah bahwa Allah yg tak terbatas bahkan bisa bertindak semena-mena pada manusia, tidak bisa melawan naturNya yg lain yaitu bahwa Allah adalah Maha Adil, sehingga penderita an adalah bukti kemahakuasaan Allah dan bukti keadilan Allah, penderitaan adalah pemurnian iman dalam misteri  Allah tsb.

Jadi polanya: Prosa → Puisi → Prosa

Kenapa dibikin gitu? Bagian prosa membingkai ceritanya biar kita tahu "apa yang terjadi", sedangkan bagian puisi menggali "mengapa dan bagaimana rasanya" saat menderita. Dalam Alkitab baik dari kitab kejadian sampai Wahyu kepada Yohanes mengandung konsep-konsep tentang Allah dari bangsa Israel Kuno sampai Yudaisme bahkan sampai gereja masa Rasul sampai saat ini. Sastra Ibrani kuno yg berbentuk prosa dan puisi di PL, di PB utamanya Injil berubah menjadi pengajaran metafora atau perumpamaan oleh Yesus. Salah satu contoh konsep Allah yg ada di Alkitab diungkap secara sastra Ibrani kuno berbentuk prosa dan puisi ternyata memiliki kaitan atau lebih tepat kemiripan pemikiran atau nalar dengan konsep Allah dalam perumpamaan lalang gandum oleh Yesus di Injil. Dalam Kitab Ayub ada 2 bentuk sastra yang jelas beda: bagian pembuka/penutup pakai prosa, bagian tengah pakai puisi/dialog. Bahasa Ibrani
- Prosa= פרוזה proza atau disebut juga סיפור sipur = "kisah/narasi". Bagian ini fungsinya sebagai misgeret sipurit מסגרת סיפורית = "kerangka cerita" atau pusat konsep polemiknya. Itu ada pada kitab Ayub 1:1–2:13 dan 42:7–17
- Puisi = שירה shira, Bagian tengah Ayub 3:1–42:6 disebut הדיאלוג השירי ha'diyalog ha'shiri = "dialog puitis". Kitab Ayub termasuk ספרי אמ Sifrei Emet  = "Kitab Kebenaran", bersama Mazmur & Amsal. Ketiganya ditulis dengan tanda baca puitis khusus dan ditulis dalam format bait. Ciri Ibrani: dalam prosa Alkitab biasanya narasi objektif. Dalam puisi Ibrani biasanya berupa percakapan langsung, penuh perasaan, bahasa kiasan & paralelisme. Kalau kita lihat, dalam  Bahasa Yunani (Septuaginta/LXX)
- Prosa = πεζὸς λόγος pezos logos = "ucapan biasa/tidak berirama"
- Puisi = ποίησις poiēsis = "penciptaan karya sastra/puisi". Menariknya, saat diterjemahkan ke Yunani, dalam script asli kitab suci, sebagian besar Kitab Ayub dirender dalam bentuk prosa, meskipun aslinya dalam sastra Ibrani bagian tengahnya puisi. Para sarjana Yunani kuno juga melihat struktur Ayub seperti drama: ada prologue, dialogue, dan epilogue. Bagian Ayat Bentuk Ibrani Sebutan Yunani
Prolog + Epilog 1:1–2:13 & 42:7–17 Prosa / proza, pezos logos
Dialog inti 3:1–42:6 Puisi / shira, poiēsis
Alasan pakai puisi di tengah: bahasa Ibrani puitis dipakai untuk hal yang "tidak bisa" dilakukan prosa, seperti mengekspresikan perasaan, perdebatan teologi, dan citra kiasan yang kuat.
PEMAHAMAN
Dalam Kitab Ayub, struktur naratifnya berbentuk puisi hikmat (ḥokmah) yang menampilkan dialog antara Ayub, sahabat-sahabatnya, dan Allah, ini diapit oleh prosa di awal atau prolog (bab 1:1-2:13) dan prosa di akhir atau epilog (42:7-42:17), puisi di tengah (3:1-42:6) merupakan jembatan nalar dari dua prosa prolog dan prolog epilog yg mengangkat dua konsep Allah, prosa prolog mengangkat konsep Allah yg maha kuasa, shg bertindak semena-mena pun itu haknya, lihat malaikat dan iblis bertindak pun harus se izin Allah, sedangkan prosa epilog mengangkat konsep Allah itu Allah yg sangat adil, kedua konsep Allah ini dijembatani oleh puisi yang mempertegas kedua konsep tsb dg mengkaitkan bahwa penderitaan itu cara Allah memurnikan iman, cara Allah mendidik umatnya. Dalam sastra Ibrani kuno prosa biasanya mengandung konsep polemiknya, sedangkan puisi mengandung konsep memahami polemik tsb, yah .... bisa disebut jembatan nalarnya. Bahasa Ibrani yang digunakan menonjolkan diksi hukum dan pengadilan, seperti kata mishpat (keadilan) dan tsedeq (kebenaran). Dalam konteks ini, Allah digambarkan sebagai hakim tertinggi yang memegang kendali penuh atas ciptaan-Nya (Ayub 1:6–12). Sementara itu, dalam perumpamaan lalang dan gandum (Matius 13:24–30), Yesus menggunakan metafora agraris yang sangat dikenal dalam budaya Yahudi. Pemilik ladang (ho despotes tou agrou) menggambarkan figur otoritatif yang memiliki kuasa penuh atas ladangnya, sama seperti Allah dalam Kitab Ayub yang berdaulat atas dunia dan kehidupan manusia.  Beberapa penelitian seperti yang dilakukan oleh John Walton (The Lost World of the Israelite Wisdom Literature, 2019) menunjukkan bahwa teks-teks hikmat seperti Ayub sering kali berfungsi untuk menegaskan keteraturan kosmis di bawah kedaulatan Allah, bukan untuk menjelaskan penderitaan secara moralistik. Hal ini sejalan dengan perumpamaan Yesus yang menekankan bahwa pemisahan antara lalang dan gandum adalah hak prerogatif pemilik ladang, bukan pekerja.
Dalam Ayub 1:6, disebutkan adanya “anak-anak Allah” (bene ha’elohim) yang datang menghadap Tuhan, menggambarkan sidang ilahi (divine council)—sebuah konsep umum dalam sastra Timur Dekat kuno, di mana Allah sebagai Raja semesta memimpin dewan surgawi. Dalam konteks ini, Iblis berperan sebagai “penuduh” (ha-satan), bukan entitas yang setara dengan Allah, melainkan bagian dari struktur ilahi yang diizinkan untuk menguji manusia.  Iblis tunduk pada kehendak Allah. Keterkaitan dengan perumpamaan lalang dan gandum muncul dalam peran “penabur lalang” yang melambangkan kejahatan yang diizinkan tumbuh sementara di tengah dunia yang diciptakan Allah, iblis dalam kasus Ayub. Seperti dalam Ayub, Allah tidak langsung melenyapkan kejahatan, tetapi menundukkannya dalam rencana yang lebih besar untuk memurnikan iman manusia. Penelitian oleh Michael Heiser (The Unseen Realm, 2015) mendukung pandangan bahwa konsep sidang ilahi dalam Ayub menunjukkan struktur otoritas surgawi yang paralel dengan penggambaran pemilik ladang dan para pekerjanya dalam perumpamaan Yesus. Kedua teks menegaskan kedaulatan Allah dan ketidakterbatasan hikmat-Nya. Dalam Ayub, penderitaan bukan hukuman, melainkan sarana pendidikan rohani. Dalam perumpamaan lalang dan gandum, penundaan penghakiman menunjukkan kesabaran dan kebijaksanaan Allah agar tidak ada yang binasa sebelum waktunya, pendidikan juga. Keduanya mengajarkan bahwa keadilan Allah tidak selalu tampak segera, ini pendidikan, untuk bersekehendak dg Allah, bukan kehendakku tetapi kehendak Allah lah yg jadi, pengakuan akan kemahakuasaan Allah, tetapi akan dinyatakan pada waktu yang ditetapkan-Nya. Dalam konteks kekinian, hal ini mengajarkan umat percaya untuk tetap setia dan sabar dalam penderitaan, karena Allah bekerja di balik segala sesuatu untuk kebaikan (Roma 8:28). 

Roma 8:28 (TB):
"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." 

Ayat ini menegaskan prinsip teologis bahwa Allah berdaulat dan aktif mengatur segala peristiwa—termasuk penderitaan—untuk tujuan kebaikan rohani. Dalam Kitab Ayub, penderitaan Ayub bukan akibat dosa, melainkan bagian dari rencana ilahi untuk memurnikan iman (Ayub 1:6–12; 42:5–6). Sedangkan dalam Matius 13:24–30, perumpamaan tentang lalang dan gandum menggambarkan bahwa Allah mengizinkan kejahatan dan penderitaan sementara waktu, karena Ia memiliki rencana akhir yang sempurna untuk memisahkan dan memulihkan.  Keterkaitan ketiga teks ini terletak pada tema providensia Dei dan kedaulatan Allah bahwa segala sesuatu, baik penderitaan maupun kejahatan, berada dalam kendali Allah dan diarahkan menuju kebaikan akhir bagi umat-Nya. Secara sastra, Roma 8:28 menggunakan struktur sintaksis Yunani yang menekankan partisipasi aktif Allah (synergei ho theos “Allah turut bekerja bersama”). Ini menunjukkan bahwa Allah tidak pasif, melainkan terlibat langsung dalam proses kehidupan manusia, suka duka, sehat sakit, sedih senang, kaya miskin, dlsb.  Dalam Kitab Ayub, bahasa Ibrani yang digunakan menonjolkan diksi hukum dan pengadilan (mishpat, tsedeq), menegaskan bahwa Allah adalah hakim yang adil dan berdaulat. Sedangkan dalam Matius 13, Yesus memakai gaya naratif agraris khas budaya Yahudi, dengan simbol “pemilik ladang” sebagai representasi Allah yang berkuasa penuh atas ciptaan-Nya.  Penelitian oleh John Walton (The Lost World of the Israelite Wisdom Literature, 2019) menegaskan bahwa sastra hikmat seperti Ayub menyoroti keteraturan kosmis di bawah kedaulatan Allah, bukan sekadar menjelaskan penderitaan moral. Ini sejalan dengan Roma 8:28 yang menekankan keterlibatan Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Dalam budaya Yahudi kuno, penderitaan sering dipahami sebagai konsekuensi moral. Namun, baik Ayub maupun Roma 8:28 menantang pandangan ini dengan menegaskan bahwa penderitaan dapat menjadi sarana pendidikan rohani. Michael Heiser (The Unseen Realm, 2015) menjelaskan bahwa konsep “sidang ilahi” dalam Ayub 1:6 menunjukkan bahwa Allah mengatur segala sesuatu melalui struktur surgawi, tetapi tetap memegang otoritas tertinggi. Hal ini paralel dengan pemilik ladang dalam Matius 13 yang menunda penghakiman demi keselamatan gandum—sebuah tindakan yang mencerminkan kebijaksanaan dan kesabaran Allah. Ketiga teks ini mengajarkan bahwa:

- Allah berdaulat atas penderitaan dan kejahatan.  
- Penderitaan bukan akhir, melainkan bagian dari proses menuju kebaikan yang lebih besar.  
- Hikmat Allah melampaui pemahaman manusia.  

Dalam konteks masa kini, Roma 8:28 menjadi dasar penghiburan bagi orang percaya yang mengalami penderitaan, sebagaimana Ayub tetap setia di tengah ujian, dan sebagaimana pemilik ladang dalam Matius 13 menunda penghakiman demi keselamatan.  Penelitian oleh N.T. Wright (Paul and the Faithfulness of God, 2013) menegaskan bahwa Roma 8:28 adalah puncak teologi Paulus tentang rekonsiliasi kosmis—bahwa Allah sedang menata ulang ciptaan menuju pemulihan akhir, sebagaimana ladang dalam perumpamaan Yesus akan dipisahkan dan dimurnikan pada waktu panen.
 Allah bekerja dalam segala hal, bahkan penderitaan, untuk kebaikan umat-Nya.  Kesabaran dan iman diperlukan untuk melihat rencana Allah yang lebih besar.  Keadilan Allah tidak selalu tampak segera, tetapi pasti dinyatakan pada waktunya.  Penderitaan dapat menjadi sarana pemurnian iman, bukan hukuman. Keterkaitan Roma 8:28, Kitab Ayub, dan Matius 13:24–30 terletak pada satu benang merah teologis: kedaulatan dan hikmat Allah yang bekerja melalui penderitaan untuk menghasilkan kebaikan dan kemuliaan-Nya. Baik Ayub yang diuji, ladang yang menunggu panen, maupun orang percaya yang menderita, semuanya berada dalam tangan Allah yang berdaulat dan penuh kasih.

Pesannya jelas di Alkitab:
- Allah berdaulat penuh atas ciptaan dan sejarah manusia.  
- Penderitaan dapat menjadi sarana pemurnian iman, bukan sekadar hukuman.  
- Keadilan Allah bersifat progresif dan akan dinyatakan pada waktu yang tepat.  
- Manusia dipanggil untuk mempercayai hikmat Allah, bukan menilai berdasarkan pandangan terbatas.  

Dengan demikian, baik kisah Ayub maupun perumpamaan lalang dan gandum menegaskan satu pesan utama: Allah adalah pemilik dan pengatur segala sesuatu, dan penderitaan yang diizinkan-Nya memiliki tujuan ilahi untuk mendidik dan memurnikan iman manusia. Menarik ada konsep sidang ilahi atau divine council di Ayub yg menyokong konsep bahwa Allah adalah Sang Maha, bahkan mau semena-mena thp manusia pun itu hak Allah, bahkan iblispun dalam bertindak harus se izin Allah, sastra dalam prosa prolog kitab Ayub, yg ingin menunjukan bahwa semua ada dalam kehendakNya, iblis dipakai oleh sastra ini untuk menunjukan kewenangan Allah yang tanpa batas. Kalau di kitab Ayub ada Allah, iblis dan malaikat (anak-anak Allah) gambaran sidang ilahi, dalam Matius 13 perumpamaan lalang dan gandum itupun ada gambaran sidang ilahi, pemilik ladang, penabur lalang/iblis, dan hamba/pekerja dari pemilik ladang (malaikat). Dari awal kitab kejadian sampai Wahyu kepada Yohanes konsep sidang ilahi itu ada. Oleh karena itu muncul kritisi bahwa kata KITA, jamak bagi sebutan Allah, yaitu Eli, eloy kata tunggal yg disebut menjadi elohim kata jamak bagi sebutan Allah, itu tidak bisa menjadi dasar paham Tritunggal seperti pada kejadian 1:26, karena itu menyebut sidang ilahi, bagaimana kita menanggapi hal ini? (Kita bahas pada judul yang lain), pada prosa epilog, di kitab Ayub, konsep Allah adil itu ditunjukan dengan pengembalian posisi dan kondisi Ayub bahkan lebih, Ayub pulih dalam konsep lalang gandum, keadilan Allah ditunjukan dengan memanen gandum dan membakar lalang. Ada yg harus diperhatikan, harta Ayub dikembalikan 2 kali lipat, tapi untuk anak-anak Ayub itu tidak dibuat 2 x lipat, tapi sama dengan sebelumnya, menarik. Dalam budaya Yahudi, anak adalah lambang hal waris, yg bagi budaya Israel kuno itu sangat penting daripada harta. Hak Waris itu tetap tidak hilang, dan hak waris itu tidak bisa berlipat tapi tetap. Sastra dalam prosa epilog di kitab Ayub ini ingin menggambarkan apapun yg terjadi hak sebagai umat pilihan, hak sebagai umat yg sudah dipilih Allah tidak akan pernah hilang apapun kondisinya.
(16072026)(TUS)

𝗕𝘂𝗹𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗻𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗕𝘂𝗱𝗮𝘆𝗮 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮𝘄𝗶 𝗚𝗞𝗜: 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶𝘀 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝗣𝗲𝗿𝘁𝘂𝗻𝗷𝘂𝗸𝗮𝗻 𝘼𝙜𝙪𝙨𝙩𝙪𝙨𝙖𝙣? GKI se...