Rabu, 31 Desember 2025

Gara-gara resensi film di Kompas, saya akhirnya berkesempatan nonton di @netflixid “Wake up Dead Man: A Knives Out Mystery. Lumayan di tengah kesibukan Natal dan Tahun Baru, tahan juga nonton film panjang  lebih dari 2 jam. Kisah intrik Romo di gereja Katolik terasa tidak membosankan bahkan jadi pelajaran bagi pemimpin rohani!

Kepemimpinan gereja sering kali menyerupai labirin misteri dalam film ini, di mana garis antara pengabdian suci dan beban rahasia yang menyesakkan menjadi sangat tipis. Ada sosok Romo Jud, yang mengingatkan bahwa jubah pelayanan bukanlah tameng untuk menyembunyikan kegelapan, melainkan sebuah panggilan berat untuk tetap jujur di tengah rahasia-rahasia yang mematikan jiwa. Di sisi lain, kerapuhan Monsinyur Wicks di lingkungan jemaat dan staf yang penuh dengan “pisau” pengkhianatan menjadi cermin bagi kita untuk tetap memegang integritas moral, bahkan ketika semua orang di sekitar kita lebih memilih untuk saling menjatuhkan demi kepentingan pribadi yang dalam film ini berebut permata nan mahal. Kematian Wicks membuka tabir kemunafikan semua orang di sekitarnya!

Pada akhirnya, judul film ini adalah sebuah alarm keras bagi setiap pemimpin; jangan sampai kita terlihat “rohani” dan sibuk melayani namun sebenarnya sedang “mati” secara spiritual karena terjebak dalam motivasi kekayaan materi. Kita bertopeng kesucian namun penuh dengan nafsu duniawi yang pada akhirnya menghancurkan! Enak ditonton di masa liburan! 💪👌

SUDUT PANDANG KITAB APOKRIF

SUDUT PANDANG KITAB APOKRIF

Kitab Injil yang tidak masuk kanon Alkitab biasanya disebut Injil apokrif atau Injil non-kanonik. Berikut adalah beberapa contohnya beserta penjelasan singkat:
 
Beberapa Injil Apokrif yang Populer
 
- Injil Yudas: Tulisannya berasal dari kelompok Gnostik abad ke-2, menyajikan perspektif yang berbeda tentang Yudas Iskariot, di mana perbuatannya menyerahkan Yesus dianggap positif dan dia bahkan disebut sebagai murid yang paling utama.

- Injil Thomas: Ditulis pada abad ke-3 atau ke-4, mengaku sebagai karya Rasul Thomas tetapi tidak diakui keaslian oleh gereja awal. Isinya banyak mengandung ajaran yang dianggap sesat oleh ortodoks.

- Proto-Evangelium Yakobus: Berfokus pada kehidupan Maria dan Yusuf sebelum kelahiran Yesus, termasuk cerita tentang kelahiran Maria dan pernikahan orang tuanya.

- Injil Petrus: Menceritakan tentang penderitaan Yesus (Passion) dari perspektif Petrus, tetapi memiliki keaslian yang diragukan dan tidak diakui sebagai kitab suci.

- Injil Nikodemus (Acta Pilati): Berisi cerita tentang persidangan Yesus di hadapan Pilatus dan peristiwa sekitar kematiannya, ditulis dengan gaya narasi yang berbeda dari Injil kanonik.
 
Alasan Tidak Masuk Kanon
 
Injil-apokrif ini tidak dimasukkan ke dalam kanon Alkitab karena beberapa alasan, antara lain:
 
- Keaslian yang diragukan: Banyak dari mereka tidak ditulis oleh rasul atau murid rasul yang sah, melainkan oleh orang lain yang menggunakan nama tokoh penting Kristen.

- Ajaran yang bertentangan: Isinya seringkali bertentangan dengan ajaran ortodoks gereja, seperti mengusung doktrin Gnostik yang menekankan pengetahuan rahasia sebagai jalan keselamatan.

- Kurangnya kesaksian: Tidak mendapatkan dukungan yang cukup dari bapa gereja awal dan tidak dianggap sebagai bagian dari tradisi apostolik yang sah.
 
Perlu diperhatikan bahwa pandangan tentang Injil apokrif bisa berbeda antar denominasi Kristen. Beberapa denominasi memandangnya sebagai sumber sejarah atau budaya, tetapi tidak sebagai firman Allah yang diilhamkan.

Senin, 29 Desember 2025

SUDUT PANDANG PENGUNGSIAN KE MESIR

SUDUT PANDANG PENGUNGSIAN KE MESIR

Kisah pelarian Keluarga Kudus ke Mesir adalah sebuah narasi tentang ketaatan yang sunyi di bawah langit malam yang mencekam. Sering kali kita membayangkan padang gurun sebagai tempat yang selalu panas membara, namun kenyataannya, jika kita mengikuti garis waktu kelahiran Yesus di bulan Desember, perjalanan Yusuf, Maria, dan bayi Yesus justru terjadi di tengah puncak musim dingin yang menusuk tulang. Di siang hari, matahari mungkin bersinar terang di langit biru gurun yang luas, namun suhu di wilayah Yudea hingga melintasi Semenanjung Sinai menuju Mesir di bulan Desember dan Januari bisa sangat ekstrem. Angin dingin yang kering berembus kencang, dan saat malam tiba, suhu padang gurun bisa merosot drastis hingga mendekati titik beku. Yusuf harus segera berkemas setelah mimpi yang mengagetkan itu, membawa Maria yang masih lemah dan bayi Yesus yang masih sangat merah untuk menembus kegelapan di tengah suhu malam yang menggigit.

​Perjalanan dari Betlehem menuju wilayah perbatasan Mesir bukanlah perjalanan yang mudah; mereka harus menempuh jarak sekitar 400 hingga 500 kilometer. Jika mereka berjalan kaki atau menggunakan seekor keledai, perjalanan ini memakan waktu setidaknya tiga hingga empat minggu yang sangat melelahkan. Mereka tidak melewati jalan raya utama "Via Maris" yang biasa dilalui kafilah dagang karena rute itu dijaga ketat oleh patroli tentara Herodes. Yusuf memilih jalur-jalur tikus yang sunyi di pinggiran gurun, di mana tantangannya bukan hanya suhu dingin yang ekstrem di malam hari, tetapi juga ancaman binatang buas dan perampok. Yusuf, sang pelindung, harus memastikan bayi Yesus tetap hangat di balik jubah tebal Maria, sementara ia sendiri menahan dinginnya angin gurun sambil terus waspada. Mereka adalah pengungsi dalam arti yang paling murni: tidak punya jaminan keamanan, hanya berbekal janji Tuhan.

​Berapa lama mereka tinggal di sana? Meskipun Alkitab tidak merincinya, tradisi lisan yang dipegang teguh oleh Gereja Koptik di Mesir meyakini bahwa Keluarga Kudus menetap sebagai orang asing selama kurang lebih tiga setengah tahun. Selama masa itu, Yusuf tidak tinggal diam. Sebagai seorang tukang kayu yang terampil, ia kemungkinan besar mencari nafkah dengan bekerja keras di antara komunitas Yahudi yang cukup besar di Mesir saat itu, terutama di wilayah Babilon, yang sekarang dikenal sebagai Kairo Lama. Pemberian emas dari para Majus sebelum keberangkatan mereka menjadi cara Tuhan yang sangat logis untuk menjamin finansial mereka di negeri asing, membantu biaya perjalanan yang mahal, serta biaya hidup awal di tanah pengasingan. Mesir, yang dulu adalah tempat perbudakan bagi leluhur Israel, kini justru menjadi rahim yang melindungi Sang Mesias dari pedang kekuasaan.

​Jejak kehadiran mereka masih terasa sangat kental jika kita mengunjungi Mesir hari ini. Salah satu tempat yang paling mengharukan adalah Gereja Abu Serga di Kairo. Di bawah bangunannya yang megah, terdapat gua kecil yang sempit dan lembap, tempat yang dipercaya menjadi tempat persembunyian Yusuf, Maria, dan Yesus. Tak hanya itu, ada sebuah fenomena yang selalu diceritakan oleh penduduk lokal: hampir di setiap titik tempat mereka beristirahat, selalu muncul mata air yang menyegarkan. Logikanya, kehadiran Yesus yang adalah "Air Hidup" memberikan berkat bagi tanah yang mereka pijak. Mata air ini bukan sekadar keajaiban fisik, melainkan simbol bahwa di mana pun Tuhan hadir, kehidupan akan selalu muncul, bahkan di tengah gersangnya pasir dan dinginnya cuaca musim dingin yang mereka lalui.

​Pesan iman dari pelarian ini sungguh mendalam bagi kita yang hidup di masa kini. Kisah ini mengingatkan kita bahwa rencana Tuhan sering kali melibatkan "jalan memutar" yang tidak nyaman dan penuh ketidakpastian. Kita sering mengeluh saat hidup membawa kita ke tempat yang asing atau sulit, padahal mungkin itu adalah cara Tuhan menjauhkan kita dari "Herodes" yang ingin menghancurkan jiwa kita. Yusuf mengajarkan kita tentang ketaatan tanpa banyak bicara; ia tidak memprotes mengapa Sang Raja harus lari dalam kedinginan malam, ia hanya melangkah karena percaya pada suara Tuhan. Bagi siapa pun yang merasa lelah dan terasing, ingatlah bahwa Yesus pun pernah menjadi pengungsi yang kedinginan di padang gurun. Kesucian sebuah keluarga tidak diukur dari kemewahan rumah mereka, melainkan dari kesetiaan untuk tetap bersama dan taat di tengah badai kehidupan. Situasi yang paling pahit sekalipun, jika dijalani bersama Tuhan, akan memunculkan mata air berkat yang baru.

Merry Christmas
(30122025)(TUS)

Sudut Pandang Yohanes 1:(1-9) 10-18, (Minggu II Sesudah Natal, Tahun A), Natal belum usai

Sudut Pandang Yohanes 1:(1-9) 10-18, (Minggu II Sesudah Natal, Tahun A), Natal belum usai

PENGANTAR
Hari ini masih dalam masa raya Natal. Masa raya Natal dimula Malam Natal dan berakhir pada Epifania 6 Januari, bahkan sampai hari Minggu 11 Januari 2026, Minggu Pembaptisan Yesus. Koq lama ya? 

Itulah yang membuat saya tidak habis pikir mengapa cukup banyak orang Kristen kebelet merayakan Natal pada masa Adven. Mereka adalah orang Kristen yang kerap berdalih sok rohani bahwa Natal mesti dihadirkan setiap hari di hati. Dalih ini sebenarnya omong kosong. Pertama, apakah mereka masih punya tenaga untuk menyampaikan pesan Natal dalam masa raya Natal ini? Tampaknya mereka sudah lupa akan Natal yang justru masih dalam masa raya Natal. Kedua, dalih itu keliru (kalau tak mau disebut menyesatkan).

Ada dua praktik ibadah dalam jemaat Kristen mula-mula. Jemaat Kristen dari kalangan Yahudi di Tanah Palestina (Yerusalem) beribadah pada Sabat (Sabtu) di sinagoge dan sesudah itu mereka berkumpul di rumah-rumah untuk memecah-mecah roti serta mendengar pengajaran para rasul. Bagi Gereja Kristen-Yahudi mula-mula hari pertama (atau yang kemudian disebut Minggu) dipandang sebagai hari kebangkitan Kristus  sehingga menjadi pelengkap ibadah pada Sabat/Sabtu. Jemaat Kristen di luar Tanah Palestina lazim mengadakan ibadah pada hari pertama (Echad/Ahad), karena mereka merayakan kebangkitan Kristus pada hari pertama (dalam sepekan) yang kemudian disebut dengan (hari) Minggu.

Praktik ibadah Kristen pada Sabat di Tanah Palestina ternyata menimbulkan konflik dengan orang-orang Yahudi. Korban konflik yang terkenal adalah Stefanus seperti dalam narasi Kisah Para Rasul 6:8 – 8:1a. Lambat laun ibadah mereka bergeser pada hari Pertama atau Minggu. Ibadah Minggu menjadi istimewa karena perayaan kebangkitan Kristus. Umat merayakan kebangkitan Kristus setiap pekan dalam ibadah atau kebaktian Hari Pertama yang disebut dengan Minggu. 

Hari Minggu kemudian menjadi poros ibadah harian. Maksudnya ialah setiap ibadah Kristen berpusat pada kebangkitan Kristus yang secara tradisi diimani oleh Gereja sejak mula-mula terjadi pada Hari Pertama atau Minggu. Dengan demikian yang harus dihadirkan di dalam hati umat Kristen setiap hari adalah kebangkitan Kristus atau Paska, bukan Natal. Dari kesaksian akan kebangkitan Kristus itu tercerminlah seluruh karya Allah lewat Yesus Kristus.

Memang tidak ada hukum Kristen yang melarang umat memaknai dan menghayati secara pribadi simbol-simbol perayaan hari raya gerejawi. Meskipun demikian umat tidak boleh menafikan penjelasan objektif dari suatu simbol dalam perayaan hari raya gerejawi. Simbol bergawai menjembatani umat masa kini dan umat masa lalu di segala abad. Kita hadir ke masa lalu dan umat masa lalu terasa hadir pada masa kini. Kita beribadah pada Minggu agar umat bisa hadir pada peristiwa kebangkitan Kristus sekitar dua milenium silam dan kita merasa umat masa silam di segala abad juga hadir di tengah-tengah kita. Itulah sebabnya sebelum kita mengulang mengucap syahadat dalam ibadah, pemimpin berkata: “Bersama gereja dari segala abad dan tempat, marilah …”


PEMAHAMAN 
Bacaan Injil secara ekumenis Minggu ini diambil dari Yohanes 1:(1-9), 10-18. Dalam ayat 11 dikatakan “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.” Meski ada penjelasan objektif (atau setidaknya lewat tafsir akademis), tetapi ayat ini bagi saya sangat mengena atau menohok situasi saat ini. Kata seorang senior saya dari STTBII (Indonesian Evangelical Baptist Theological Seminary) dan STTBRI (Indonesian Reformed Baptist Theological Seminary), menurut UU No. 24/2007 apabila kepala daerah atau pemimpin pemerintahan tidak menetapkan status Bencana Nasional, maka secara hukum bencana banjir longsor di Sumatera adalah hoax. Sampai sekarang Gabener, pemimpin pemerintahan tidak mau menerima bahwa bencana nasional sudah datang di tengah-tengah warga Sumatera, terlihat dari cara penanganan yang serba kacau, tindakan-tindakan penanganan yang tidak termanajemen atau terkelola dengan baik, belum lagi tebar pesona dan pencitraan para pejabat, tidak ada penetapan status Bencana apalagi status Bencana nasional, penolakan bantuan asing, dlsb. Kejahatan dan kedegilan Gabener menutup matahatinya untuk mengakui dan menerima.

Pada masa raya Natal ini harusnya kita masih mengingat homili atau khotbah Malam Natal. Maria membaringkan anak yang baru dilahirkan di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan (Luk. 2:6). Pesan ini bukan untuk romantisme, tetapi kritik bagi kita agar memberikan tempat kepada para pengungsi  dan korban banjir longsor di masa raya Natal itu. Jangan sampai ada yang melahirkan di atas perahu atau gerobak. Melalui peristiwa kelahiran Yesus, jemaat diajak untuk dapat menghayati bahwa kelahiran Yesus menjadi awal mula pemulihan manusia. Dipulihkan dari dosa, dipulihkan dari relasi 
yang rusak antara manusia dengan Allah, juga relasi antar sesama manusia. Kelahiran Yesus juga menjadi sebuah lambang bahwa manusia pun turut “lahir” menjadi manusia baru, yang 
telah dipulihkan. Setelah manusia “lahir baru”, maka akan dapat mewujudnyatakan kasih Kristus pada sesama dan mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan. anak Allah pun kita diundang untuk turut serta mengambil bagian di dalam-Nya. Yohanes memberitahukan pada kita bahwa Allah yang disebut “Firman” itu merupakan pencipta dan sumber segala 
kehidupan. Sayangnya, para ciptaan-Nya begitu jauh dari Sang Pencipta, sehingga tidak mengenal-Nya, demikian para ciptaanNya tidak mengasihi dan mengenali sesamanya. Maka Allah hadir lahir untuk memulihkan manusia. Pemulihan ini bukan semata-mata karena 
keinginan kita (manusia) sendiri, tetapi karena cinta kasih Allah dan anugerah-Nya yang dicurahkan untuk kita. Bahkan Ia hadir 
ke dunia dan mengambil rupa manusia supaya kita dapat “mengalami” Allah dalam wujud yang dapat dilihat dan dipahami, Demikianlah halnya, kita diajak berbela rasa, berbagi rasa, serta turut merasakan kedukaan, luka batin, kesedihan bahkan sukacita dan kebahagiaan sesama kita.


Quote of the day:
WARNING: The consumption of alcohol may cause you to think you can sing.

(29122025)(TUS)

SUDUT PANDANG PERSATUAN DALAM KEBEDAAN, TERCAMPUR TAPI TAK TERPISAH TERPISAH TAPI TAK TERCAMPUR, PERKARA SATU PRIBADI DUA KODRAT, HYPOSTATIS UNION

SUDUT PANDANG PERSATUAN DALAM KEBEDAAN, TERCAMPUR TAPI TAK TERPISAH TERPISAH TAPI TAK TERCAMPUR, PERKARA SATU PRIBADI DUA KODRAT, HYPOSTATIS UNION

PENGANTAR
Tak perlu bertentangan, tapi marilah menambah pengetahuan pribadi, mengelola ketakutan akan perbedaan dengan respon bermartabat dalam hidup beretika pada ziarah kehidupan dengan menambah pengetahuan pribadi tanpa menjadikan bahan pengetahuan sebagai alat peruncing pertentangan, konteks komunitas apologetika Kristen Indonesia yang membahas strategi dialog antaragama, khususnya menghindari argumen doktrin Yesus yang rentan diserang pihak Muslim radikal ("kadrun"). Para apoligetik menyarankan frasa alternatif untuk menegaskan keilahian Yesus sambil mengantisipasi bantahan berbasis Mazmur 78:65. Mereka menghindari "Yesus 100% manusia 100% Allah" karena dianggap lemah secara logika matematis (bagaimana 100% + 100% = 100%?) dan rentan disanggah dengan ayat Alkitab yang dikutip keluar konteks oleh lawan debat. Frasa diganti menjadi "Yesus manusia seutuhnya, Allah seutuhnya" untuk menekankan kesatuan dua hakikat tanpa implikasi aritmatika yang membingungkan. Narasi 78 Secara Spesifik, "Narasi 78" merujuk pada Mazmur 78:65 (TB): "Lalu terjagalah Tuhan, seperti orang yang tertidur, seperti pahlawan yang siuman dari mabuk anggur." Dalam perdebatan online Indonesia, apologetika Muslim ("kadrun RT 06", istilah sindiran untuk kelompok radikal lokal) menggunakan ayat ini untuk menyerang doktrin keilahian Yesus. Mereka menyamakan Yesus (sebagai Allah kedua bagi Kristen) dengan gambaran "mabuk anggur" ini, menyiratkan keilahian Alkitab tidak konsisten karena menggambarkan Tuhan lemah, tidur, atau mabuk. Analisis Kritik Penggunaan Ayat Mazmur 78 adalah mazmur historis Asaf yang merangkum pemberontakan Israel dan kesetiaan Tuhan, menggunakan bahasa puitis antropomorfik (memberi sifat manusia pada Tuhan untuk ilustrasi). Ayat 65-66 menggambarkan Tuhan "bangun" dari "tidur" metaforis—bukan harfiah—untuk menghukum musuh Israel (Filistin), seperti pahlawan yang bangkit gagah setelah "mabuk" (simbol ketidakpedulian sementara terhadap dosa umat). Interpretasi harfiah sebagai "Tuhan mabuk" keliru karena mengabaikan genre puisi Ibrani; paralelnya seperti Mazmur 7:6 atau 44:23 di mana "bangun" berarti bertindak ilahi. Strategi Apologetika, Komunitas menghindari frasa "100%-an" untuk mencegah jebakan logika palsu dari lawan, yang sering memanfaatkan antropomorfisme Alkitab tanpa konteks. Pendekatan "seutuhnya" lebih selaras dengan Konsili Khalcedon (451 M), yang mendefinisikan dua hakikat Yesus tanpa campur atau bagi. Ini efektif di debat Indonesia, di mana narasi seperti "78" digunakan untuk mendiskreditkan Trinitas tanpa diskusi teks asli, jelas tanpa pemahaman biblika.


Tinjauan sejarah konsep dua kodrat sejak Konsili Kalkedon

Konsep dua kodrat Yesus, yang diformalkan pada Konsili Kalkedon tahun 451 M, memicu schism berkepanjangan antara Gereja Chalcedonian (Katolik, Ortodoks Timur) dan Non-Chalcedonian (Gereja Ortodoks Oriental seperti Koptik, Siria, Armenia), karena dianggap cenderung Nestorian oleh pihak oposisi. Pasca-Kalkedon, upaya rekonsiliasi imperial gagal, memperkuat perpecahan teologis dan etnis hingga penaklukan Arab abad ke-7 membekukannya. Tinjauan sejarah berikut merangkum evolusi doktrin secara kronologis. Oposisi Awal (451-500 M). Konsili Kalkedon langsung ditolak di Mesir, Siria, dan Palestina; mayoritas uskup Mesir menolak penggulingan Dioscorus dari Aleksandria, memicu kerusuhan berdarah seperti pembunuhan Proterius tahun 457.Kaisar Marcian menggunakan kekerasan untuk menekan pemberontakan, sementara rumor menyebar bahwa definisi "dalam dua kodrat" memulihkan Nestorianisme meski menolak Nestorius secara nominal. Di Palestina, Juvenal Yerusalem diusir sementara oleh demonstran anti-Kalkedon. Upaya Henotikon (482-519 M). Kaisar Zeno menerbitkan Henotikon pada 482 M untuk menjembatani, menerima anatema Kirilos tapi menghindari Kalkedon. Bagaimana Konsili Efesus mempengaruhi diskusi tentang dua kodrat, Konsili Efesus tahun 431 M memainkan peran krusial dalam membentuk diskusi tentang dua kodrat Yesus dengan menolak Nestorianisme, yang memisahkan kodrat ilahi dan manusiawi menjadi dua pribadi terpisah. Konsili ini menegaskan kesatuan pribadi Kristus melalui gelar Theotokos (Bunda Allah) bagi Maria, membuka jalan bagi Konsili Kalkedon (451 M) yang merumuskan dua kodrat dalam satu hypostasis tanpa pemisahan. Pengaruhnya menjadi fondasi untuk perdebatan lanjutan pasca-Kalkedon. Latar Belakang Kontroversi
Nestorius, uskup Konstantinopel, menekankan perbedaan ketat antara kodrat ilahi (Logos) dan manusiawi Yesus, mengusulkan Christotokos alih-alih Theotokos untuk menghindari implikasi bahwa Allah dilahirkan. Cyril dari Aleksandria menentangnya, berargumen bahwa penyatuan hypostatic (mia hypostasis) menyatukan kedua kodrat secara substansial, mencegah pemisahan yang merusak keselamatan. Konsili, dipimpin Cyril, mengutuk Nestorius dan 12 anatema-nya, menetapkan satu pribadi Kristus dengan kodrat ganda secara implisit. Pengaruh pada Doktrin Dua Kodrat. Efesus menghindari eksplisit "dua kodrat" untuk menolak Nestorianisme, tapi Cyril sendiri menggunakan istilah physis (kodrat) ganda dalam suratnya, yang menjadi dasar Kalkedon, Ini memaksa diskusi bergeser dari "satu kodrat" (Eutyches/Monofisitisme) ke keseimbangan dua kodrat tak bercampur, tak terpisah. Tanpa Efesus, Kalkedon mungkin tak lahir, karena konsili ini menegaskan "satu Anak" (Yoh. 10:30) melawan dua subjek. Dampak Jangka Panjang
Kemenangan Cyril memicu reaksi Monofisit, yang ditolak Kalkedon, menyebabkan schism Chalcedonian. Di teologi modern, Efesus dilihat sebagai sintesis awal hypostatic union, memengaruhi Konsili Konstantinopel III (680-681 M) yang menambahkan dua kehendak sesuai dua kodrat. Bagi studi Indonesia, ini relevan untuk analisis linguistik Alkitab seperti Yoh. 1:14 terhadap tradisi Nestorian yang bertahan di Asia Timur.


Bagaimana para Bapa Gereja mengutip Yohanes 1 untuk doktrin ini

Para Bapa Gereja awal dan pasca-Nikaea sering mengutip Yohanes 1:1-14 sebagai bukti utama hypostatic union, menekankan keilahian kekal Logos yang bersatu sempurna dengan kemanusiaan tanpa pencampuran atau pemisahan. Kutipan ini menjadi senjata apologetik melawan Arianisme (Logos ciptaan) dan Nestorianisme (pemisahan pribadi), dengan interpretasi yang menjembatani pre-eksistensi ilahi dan inkarnasi historis. Analisis berikut merangkum penggunaan kunci secara kronologis dan tematik.

Ireneus Lyon (abad ke-2)
Ireneus dalam Adversus Haereses mengutip Yohanes 1:1 ("Firman itu adalah Allah") dan 1:14 ("Firman menjadi daging") untuk membuktikan inkarnasi nyata: Logos ilahi "merendahkan diri" menjadi manusia, menolak Gnostisisme yang memisahkan Kristus rohani dari jasad Yesus. Ia melihat 1:14 sebagai penegasan kesatuan hypostatic, di mana kemuliaan ilahi terlihat dalam daging manusiawi.

Origenes Aleksandria (abad ke-3)
Origenes dalam De Principiis dan komentar Yohanes menggunakan 1:1-3 untuk ontologi Logos sebagai "Allah dari Allah," kekal dan pencipta, lalu 1:14 untuk penyatuan (henosis) dengan sarx (daging), di mana kodrat manusia diasumsikan tanpa mengubah kodrat ilahi. Kutipannya mendukung homoousios implisit, meski alegoris, memengaruhi Nicea.

Athanasius Aleksandria (abad ke-4)
Athanasius dalam De Incarnatione dan Orationes contra Arianos mengutip Yohanes 1:1-2,14 secara ekstensif: Logos "menjadi daging" berarti penambahan kodrat manusia ke pribadi ilahi, krusial untuk penebusan ("hanya Allah yang menyelamatkan"). Ia membela melawan Arius dengan 1:18 ("Anak Tunggal di pangkuan Bapa"), menunjukkan persatuan abadi Bapa-Logos yang kini berinkarnasi.

Bapa Kapadokia dan Kirilos (abad ke-4-5)
Basilius Agung dan Gregorius Nazianzen mengutip 1:14 untuk komunikasi idiomatum: "Kami melihat kemuliaan-Nya" sebagai saksi kedua kodrat beroperasi paralel. Kirilos Aleksandria, arsitek Efesus 431, dalam *Scholia on John* menekankan "mia physis tou Theou Logou sesarkomene" (satu kodrat Logos yang menjadi daging), menggunakan 1:1-14 untuk menolak Nestorius dan menegaskan hypostasis tunggal.

Agustinus Hippo (abad ke-4-5)
Agustinus dalam Confessiones dan De Trinitate mengakui pengaruh Platonis pada Yohanes 1 tapi menegaskan interpretasi Kristen: Logos ilahi "tetap apa adanya" saat menjadi manusia (1:14), mendukung kenosis tanpa ontologis. Kutipannya memperkuat dua kodrat dalam satu pribadi untuk theosis. Implikasi Akademik
Penggunaan ini membentuk konsensus Kalkedon, dengan Yohanes 1 sebagai "teks utama" untuk keseimbangan keilahian-kemanusiaan. Kritik modern (misalnya, pengaruh Philo) dibantah oleh konteks Yahudi Yohanes (Hellenisasi Septuaginta), menjadikannya wahyu otentik bukan plagiat.
Bukti biblika utama yang dipakai pembela hipostatis union dalam Yohanes 1.
Yohanes 1:1-14 menyediakan bukti biblika utama bagi pembela hypostatic union, karena teks ini secara eksplisit menggambarkan Logos ilahi yang kekal menjadi manusia secara utuh tanpa kehilangan esensi keilahian-Nya. Ayat-ayat ini menjadi fondasi teologis untuk menjelaskan satu pribadi dengan dua kodrat, seperti yang dirumuskan Konsili Kalkedon. Analisis berikut memetakan bukti kunci secara terstruktur. Keilahian Logos Pre-Eksistensial (Yoh. 1:1-2), "Dalam permulaan adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia di dalam permulaan bersama-sama dengan Allah." Ayat ini menegaskan ontologi ilahi Logos (Yesus): keberadaan kekal, kesetaraan dengan Allah (homoousios), dan perbedaan hipostatik (bersama Bapa). Pembela seperti Kirilos Aleksandria menggunakan ini untuk membantah Arianisme, membuktikan kodrat ilahi utuh sebelum inkarnasi. Penciptaan dan Kepenuhan Ilahi (Yoh. 1:3,10-13)
"Segala sesuatu dijadikan oleh Dia; tidak ada sesuatu pun yang telah jadi tanpa Dia." Ini menunjukkan peran kreatif universal Logos, atribut eksklusif Allah (Why. 4:11), yang tetap melekat pasca-inkarnasi. Ayat 14a ("Firman itu telah menjadi daging") menyiratkan penambahan kodrat manusia tanpa pengurangan ilahi, mendukung kenosis komunikatif (Fil. 2:7 paralel). Inkarnasi dan Persatuan Kodrat (Yoh. 1:14)
"Firman itu telah menjadi daging dan diam di antara kita... penuh kasih karunia dan kebenaran." Frasa "sarx egeneto" (menjadi daging) menandakan asumsi kemanusiaan historis—jasad fisik, lahir dari Maria—sementara "penuh kemuliaan" dan "Anak Tunggal Bapa" mempertahankan kodrat ilahi (doxa sebagai theios doxa, Why. 17:5). Komunikasi idiomatum terlihat: atribut ilahi diatribusikan ke pribadi yang kini berinkarnasi, membantah pemisahan Nestorian. Kesaksian Saksi dan Implikasi Soteriologis, "Kami telah melihat kemuliaan-Nya" (1:14b) mengonfirmasi penglihatan saksi mata terhadap kedua kodrat beroperasi paralel, sementara Yoh. 1:18 ("Anak Tunggal... yang ada di pangkuan Bapa") menjembatani preeksistensi dan inkarnasi, Ini krusial untuk soteriologi: hanya Logos ilahi yang menjadi manusia yang dapat menyatakan Bapa dan memberikan kasih karunia (1:17). Kritik logis dijawab bahwa misteri ini transrasional, koheren dengan wahyu holistik Perjanjian Baru.


PEMAHAMAN
Doktrin teologi bahwa Yesus adalah 100% manusia dan 100% Allah merujuk pada kesatuan hipostatik (hypostatic union), yang didefinisikan secara resmi pada Konsili Khalikedia tahun 451 M sebagai satu pribadi dengan dua kodrat—ilahi dan manusiawi—tanpa pencampuran, perubahan, pembagian, atau pemisahan. Doktrin ini menjadi fondasi ortodoksi Kristen utama (Katolik, Ortodoks Timur, Protestan reformir) untuk menjelaskan inkarnasi, di mana Firman Allah menjadi manusia sepenuhnya tanpa mengurangi keilahian-Nya. Analisis kritis berikut mengeksplorasi asal-usul, dasar Alkitabiah, serta tantangan logis dan historisnya secara terstruktur. Definisi Doktrin
Kesatuan hipostatik menyatakan Yesus sebagai satu hypostasis (pribadi atau subsistensi) yang menyatukan kodrat ilahi (kekal, mahakuasa, mahatahu) dan kodrat manusiawi (jasmani, jiwa rasional, rentan dosa kecuali dosa itu sendiri). Konsili Khalikedia menegaskan: "satu dan yang sama Anak, Anak Tunggal, Firman Allah, Tuhan Yesus Kristus," dengan kedua kodrat bekerja bersama secara harmonis. Istilah "100% manusia 100% Allah" mencerminkan penekanan pada kelengkapan kedua kodrat tanpa pengurangan, 100%+100% kok 100%, itu sisi pandang manusia, hal ini hanya untuk menunjukan ke maha an Allah, misteri Allah tidak bisa dijangkau manusia, bagi manusia 1+1 = 2, dalam ke maha an Allah 1+1 = 1 ya bisa, mo =1000 pun bisa ..... Lah wong ini Allah yang maha kuasa, sebagaimana didukung ayat seperti Yohanes 1:1,14 dan Filipi 2:6-11. Dasar Historis, Doktrin ini muncul dari perdebatan awal Kekristenan melawan hereisi seperti Arianisme (Yesus kurang ilahi) dan Nestorianisme (dua pribadi terpisah). Konsili Khalikedia menyatukan pemikiran Bapa Gereja seperti Kirilos Aleksandria, yang menekankan kesatuan pribadi, dan menolak Monofisitisme (kodrat manusia diserap ilahi). Di Indonesia, kajian seperti  menegaskan dua kodrat tidak bercampur untuk mencapai theosis (penyatuan manusia dengan Allah). Kritik Logis
Secara filosofis, doktrin ini ditantang karena bertentangan dengan prinsip non-kontradiksi: bagaimana satu pribadi bisa bersamaan mahatahu (ilahi) dan tidak tahu (manusia, seperti Markus 13:32)? Kritikus seperti Bart Ehrman melihatnya sebagai kompromi politik pasca-kontroversi, dengan asumsi abduktif (inferensi terbaik) yang tak terfalsifikasi setelah inkarnasi. Atribut biner seperti omnisience vs. ketidaktahuan sulit direkonsiliasi tanpa mengorbankan salah satu kodrat. Kritik Historis-Teologis, Khalikedia memicu perpecahan dengan Gereja Ortodoks Oriental (Non-Khalikedia), yang menganggap definisinya cenderung Nestorian karena memulihkan uskup pro-Nestorius. Unitarian Alkitabiah menolaknya sebagai kurang bukti pasca-inkarnasi, melihatnya sebagai konstruksi gereja Romawi bukan ajaran Paulus. Di konteks Indonesia, perdebatan serupa muncul antar denominasi tentang keakuratan dua kodrat terhadap Yohanes 1. Implikasi Kontemporer
Doktrin ini krusial untuk soteriologi: hanya Allah-manusia yang bisa menebus dosa manusia sepenuhnya. Namun, kritik modern mendorong reinterpretasi, seperti dalam teologi Lutheran/Calvinis yang menekankan keterpisahan inkarnasi-kenaikan. Bagi studi teologi Indonesia, integrasi dengan linguistik Alkitab dan psikologi dapat memperkaya analisis tanpa mengorbankan ortodoksi. Doktrin satu pribadi dua kodrat (hypostatic union) pada Yesus—100% Allah dan 100% manusia tanpa pencampuran, perubahan, pembagian, atau pemisahan—dibela secara apologetik sebagai fondasi soteriologi Kristen ortodoks, di mana hanya Allah-manusia yang mampu menebus dosa umat manusia sepenuhnya. Pembelaan ini berakar pada Konsili Kalkedon (451 M) dan Efesus (431 M), yang menolak hereisi seperti Nestorianisme (dua pribadi) dan Monofisitisme (satu kodrat campur). Analisis kritis terstruktur berikut menyajikan argumen apologetik utama, dasar Alkitabiah, serta respons terhadap kritik logis, dengan perspektif akademik yang seimbang. Dasar Alkitabiah
Alkitab mendukung dua kodrat utuh dalam satu pribadi melalui ayat seperti Yohanes 1:1,14 ("Firman itu adalah Allah... Firman itu telah menjadi manusia"), yang menegaskan keilahian kekal Logos bersatu dengan kemanusiaan historis tanpa kehilangan esensi. Filipi 2:6-8 menggambarkan Yesus "yang walaupun dalam rupa Allah... mengambil rupa seorang hamba," menunjukkan penambahan kodrat manusia tanpa pengurangan ilahi (kenosis komunikatif, bukan ontologis). Kolose 2:9 ("Di dalam Dia diam segala kepenuhan ke-Allahan secara jasmaniah") membantah pemisahan, sementara Markus 13:32 (ketidaktahuan manusiawi) dan Yohanes 2:24-25 (omnisience ilahi) menunjukkan operasi paralel kedua kodrat. Argumen Teologis Apologetik, Apologetika menekankan bahwa hypostasis tunggal memungkinkan komunikasi idiomatum: atribut satu kodrat diatribusikan ke pribadi utuh, seperti "Allah mati" (Gal. 2:20) merujuk kodrat manusia tanpa membatasi keilahian. Tanpa dua kodrat, soteriologi gagal: kodrat ilahi diperlukan untuk nilai penebusan tak terhingga (Ibr. 2:17), kodrat manusia untuk substitusi sempurna (Roma 5:19). Konsili Konstantinopel III (680-681 M) melengkapi dengan dua kehendak (dyothelitism), di mana kehendak ilahi dominan tapi menghormati kehendak manusiawi Yesus yang taat (Luk. 22:42). Bapa Gereja seperti Kirilos Aleksandria membela ini sebagai misteri tak terpahami rasio tapi koheren dengan wahyu. Respons terhadap Kritik Logis, Kritik non-kontradiksi (misalnya, mahatahu vs. tidak tahu) dijawab dengan distinsi kodrat: ketidaktahuan Markus 13:32 adalah kodrat manusiawi dalam hypostasis tunggal, sementara omnisience ilahi tetap (tanpa kebutuhan manifestasi konstan selama inkarnasi). Filosofis, analogi seperti jiwa-tubuh manusia (satu pribadi, dua substansi) atau cahaya-gelombang (sifat ganda tanpa kontradiksi) mendukung, meski misteri transrasional bukan irrasional.  Kritik historis (konstruksi politik) dibantah oleh konsensus pra-Kalkedon (Ignatius, Yustinus Martir) dan keberlanjutan doktrin lintas denominasi. Implikasi Soteriologis dan Pastoral
Doktrin ini memungkinkan theosis (2Ptr. 1:4): manusia disatukan dengan Allah melalui Kristus sebagai jembatan sempurna, krusial bagi spiritualitas Ortodoks dan Protestan. Apologetika modern (misalnya, William Lane Craig) menggunakan logika abduktif: hypostatic union adalah penjelasan terbaik atas mukjizat, kebangkitan, dan kesaksian saksi mata. Di konteks Indonesia, pembelaan ini relevan melawan Unitarianisme atau Islam, dengan penekanan linguistik Yohanes 1 terhadap tradisi lokal.

(29122025)(TUS)

Selasa, 23 Desember 2025

SUDUT PANDANG KENAPA NATAL DIMULAI 24 DESEMBER SELEPAS MAGHRIP

SUDUT PANDANG KENAPA NATAL DIMULAI 24 DESEMBER SELEPAS MAGHRIP

Peralihan hari dimula pada tengah malam diperkenalkan pada 1582 bersamaan dengan penerapan kalender Gregorian. Sebelumnya hari berakhir pada saat matahari terbenam dan langsung beralih ke hari baru. 

Secara internasional peralihan hari pada tengah malam ditetapkan pada 1884. Meskipun demikian Gereja tetap memelihara tradisi hari baru dimula selepas matahari terbenam untuk keperluan liturgi hari raya seperti Paska dan Natal.

Tak sedikit orang Kristen yang mencerap Hari Natal secara kalender tarikh umum dimula tengah malam pada pukul 00.00. Akan tetapi itu bukan pandangan Gereja secara ekumenis. Menurut tahun liturgi gerejawi Hari Natal dimula hari ini selepas matahari terbenam. Terlampir saya tampilkan linimasa Natal yang benar menurut tahun liturgi gerejawi.

(24122025)(TUS)

Sudut Pandang Ketika Agama Dijadikan Dalih untuk Menutupi Kesalahan dan Membenarkan Pelanggaran

Sudut Pandang Ketika Agama Dijadikan Dalih untuk Menutupi Kesalahan dan Membenarkan Pelanggaran

Agama diberikan agar manusia hidup dalam kebenaran, bukan sekadar terlihat benar di mata orang lain. Namun kenyataannya, banyak yang memakai agama untuk menutupi perilaku yang sebenarnya tidak jujur, tidak adil, bahkan menyakitkan. Mereka mencari celah aturan, mencari pembenaran, padahal hati mereka tahu apa yang dilakukan tidak sesuai dengan kasih dan integritas. Ketika agama berubah menjadi tameng untuk melindungi kesalahan, maka maknanya digeser dari tujuan aslinya.

1. Tanggung Jawab Tidak Bisa Ditutupi dengan Ritual Keagamaan.

Menghadapi kesalahan membutuhkan keberanian. Namun sebagian orang memilih berlindung pada aturan agama untuk menghindari konsekuensi. Mereka melakukan tindakan yang merugikan orang lain, lalu seolah selesai hanya karena ada pembungkus rohani. Padahal, tanggung jawab moral tetap harus dijalani sekalipun seseorang melakukan serangkaian ritual. Tuhan melihat hati, bukan sekadar seremonial.

2. Kesalehan Sejati Terlihat dari Kejujuran Sikap, Bukan Kepandaian Mengutip Ajaran.

Orang bisa sangat fasih bicara tentang iman, tetapi kehidupannya justru menyakiti. Kesalehan bukan diukur dari banyaknya ayat yang dikeluarkan untuk membela diri, tetapi dari kehidupan sehari-hari yang jujur, lembut, dan adil. Ketika ucapan dan perilaku bertolak belakang, agama kehilangan nilai sebagai pedoman hidup dan berubah menjadi alat pembenaran diri.

3. Menyalahgunakan Aturan Agama untuk Menghindari Label Dosa adalah Kecurangan Moral.

Ada yang memilih menikah lagi secara agama tanpa izin pasangan pertama hanya agar “tidak disebut berzina”. Secara tampilan mungkin tampak sah, tetapi tujuan di baliknya adalah menghalalkan keinginan pribadi. Tindakan seperti ini tidak lahir dari kesucian, tetapi dari manipulasi aturan. Agama tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi jalan pintas agar seseorang bebas melukai hati orang lain dengan pembenaran rohani.

4. Alasan Keagamaan Tidak Membatalkan Luka yang Ditimbulkan pada Sesama.

Doa dan permohonan ampun tidak otomatis menghapus rasa sakit orang yang dikhianati. Jika tindakan kita merusak hati pasangan, keluarga, atau orang di sekitar, maka kewajiban memperbaiki tetap ada. Agama mengajarkan pertobatan, tetapi pertobatan sejati selalu diikuti dengan pemulihan hubungan, bukan sekadar kata-kata manis tanpa tindakan nyata.

5. Mengatasnamakan Tuhan untuk Melindungi Pelanggaran adalah Bentuk Kemunafikan.

Menggunakan Tuhan sebagai tameng justru menjauhkan seseorang dari nilai rohani yang sebenarnya. Ketika orang memakai nama Tuhan untuk menutupi kepentingan pribadi, mereka sedang menipu diri sendiri. Sikap seperti ini merusak kepercayaan orang lain terhadap iman dan menimbulkan prasangka bahwa semua ajaran agama hanya dipakai sebagai alat untuk kepentingan manusia.

6. Kebenaran Tidak Pernah Berdiri di Atas Kepalsuan yang Dihalalkan.

Pelanggaran yang dinormalisasi, meski dibungkus alasan spiritual, tetap akan menghasilkan kerusakan. Kebohongan tidak bisa diubah menjadi kebenaran hanya karena dibacakan doa atau diatur dalam bentuk ritual. Hanya ketulusan dan kejujuran yang mampu menahan hati tetap lurus. Mereka yang mencari celah untuk berbuat salah pada akhirnya terjerat oleh perbuatannya sendiri.

7. Agama Sejati Membawa Perubahan Karakter, Bukan Memberikan Celah untuk Berbuat Sesuka Hati.

Ajaran Tuhan selalu mendorong manusia untuk menjadi lebih bertanggung jawab, lebih tegas dalam memilih yang benar, dan lebih tulus dalam memperlakukan sesama. Ketika agama digunakan untuk membenarkan pelanggaran, itu berarti seseorang belum memahami esensi iman. Perubahan karakter adalah bukti bahwa seseorang benar-benar mengenal Tuhan, bukan kemampuan merangkai dalil untuk membenarkan keinginan pribadi.

■ Agama diberikan sebagai cahaya, bukan sebagai selimut untuk menutupi kegelapan. Bila seseorang menggunakan iman sebagai alasan pembenaran diri, ia sedang menjauhkan diri dari kebenaran yang sesungguhnya. Namun ketika agama dihayati dengan hati yang jujur, ia menjadi kompas yang menuntun pada kehidupan yang lebih bersih, lebih bertanggung jawab, dan lebih menghormati orang lain. Dunia akan menjadi lebih damai bila setiap orang menghidupi ajaran agama dengan ketulusan, bukan kepura-puraan.

Kata Alkitab 
“Jagalah integritas dan lakukan yang benar, sebab itulah yang dikenan Tuhan.”
Mazmur 37:3

Tuhan Yesus memberkati

Jumat, 19 Desember 2025

SUDUT PANDANG DELUSI ROHANI: KETIKA KESALEHAN MENJADI TOPENG KESOMBONGAN

SUDUT PANDANG DELUSI ROHANI: KETIKA KESALEHAN MENJADI TOPENG KESOMBONGAN

PENGANTAR
Agama pada hakikatnya hadir sebagai penuntun, bukan sebagai alat pembenaran. Ia mengajarkan manusia untuk menahan diri, mengendalikan nafsu, dan menjaga hati agar tidak melukai sesama. Nilai-nilai spiritual seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati, bukan merasa paling benar dan suci.

Namun dalam perjalanan hidup, ajaran sering kali berubah menjadi simbol kekuasaan. Atas nama keyakinan, kata-kata bisa menjadi senjata, dan tindakan kejam dibungkus dengan dalih kebenaran. Di titik ini, agama tidak lagi menjadi cahaya, melainkan bayangan yang menutupi nurani. Bukan ajarannya yang keliru, tetapi cara manusia memakainya.

Maka yang perlu direnungkan bukan seberapa keras seseorang membela agama, melainkan seberapa dalam ia menghayatinya. Jika keyakinan membuat hati semakin lembut dan sikap semakin adil, itulah agama yang hidup. Tetapi jika ia melahirkan kebencian dan luka, barangkali yang disembah bukan lagi Tuhan, melainkan ego manusia sendiri.

PEMAHAMAN
Di zaman ketika pengalaman rohani sering dijadikan ukuran kedewasaan iman seperti penglihatan, mimpi, suara batin, nubuat pribadi, dan sensasi emosional maka gereja perlu kembali memberikan peringatan Alkitab yang sangat mendasar yaitu tidak semua yang tampak rohani berasal dari Allah.

Tulisan ini bukan penolakan terhadap karya Roh Kudus dan bukan pula ajakan untuk mematikan kehidupan rohani. Sebaliknya, tulisan ini adalah peringatan pastoral agar iman Kristen tidak dibangun di atas pengalaman subjektif, melainkan di atas firman Allah yang objektif dan dapat diuji.

Kitab Suci dengan jujur mengungkapkan bahwa manusia dapat tertipu bukan hanya oleh dosa yang terlihat jelas, tetapi juga oleh kesalehan yang salah arah.

“Hati itu licik, lebih licik dari pada segala sesuatu, dan sudah membatu; siapakah yang dapat mengetahuinya?” (Yer. 17:9)

1. AKAR DELUSI ROHANI: KERUSAKAN BATIN MANUSIA

Kejatuhan manusia ke dalam dosa tidak hanya merusak perilaku moral, tetapi juga cara manusia mengenali Allah dan menafsirkan pengalaman rohaninya sendiri. Akibatnya, manusia bisa merasa sangat dekat dengan Tuhan, padahal sesungguhnya sedang mengikuti dorongan batin yang tidak disaring oleh kebenaran firman.

Alkitab berulang kali memperingatkan bahwa manusia dapat menyebut terang sebagai gelap dan gelap sebagai terang, dapat menyangka suara hatinya sebagai suara Tuhan, dapat menganggap keharuan emosional sebagai karya Roh Allah.

Karena itu, iman Kristen tidak pernah diarahkan untuk bertumpu pada pengalaman pribadi, betapapun tulusnya, melainkan pada firman Allah yang teguh dan tidak berubah.

2. PENGALAMAN ROHANI: DIAKUI, TETAPI HARUS DIUJI

Alkitab tidak meniadakan pengalaman rohani. Banyak tokoh iman mengalami perjumpaan yang nyata dengan Allah. Namun Alkitab tidak pernah menjadikan pengalaman sebagai standar kebenaran. Sebaliknya, pengalaman selalu ditempatkan di bawah pengujian firman.

“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.” (1 Tes. 5:21)

Tidak semua yang menggerakkan perasaan berasal dari Roh Allah. Bahkan Kitab Suci dengan tegas menyatakan bahwa “Iblis menyamar sebagai malaikat terang.” (2 Kor. 11:14)

Karena itu, keharuan batin bukan jaminan kebenaran, intensitas emosi bukan bukti kehadiran Allah, klaim “Tuhan berkata padaku” harus tunduk pada firman tertulis, bukan sebaliknya.

Pengalaman rohani yang sejati tidak menggeser otoritas firman, tetapi diterangi dan dikoreksi olehnya.

3. DUA BENTUK DELUSI ROHANI

Pertama; Delusi yang mudah dikenali

Delusi ini biasanya tampak dalam bentuk klaim wahyu baru yang tidak dapat diuji, otoritas rohani pribadi yang kebal koreksi, pengabaian gereja dan pengajaran Alkitab, pengultusan figur rohani tertentu.

Delusi seperti ini berbahaya, tetapi sering kali cepat terungkap karena sifatnya yang ekstrem.

Kedua; Delusi yang halus dan paling berbahaya

Inilah bentuk yang lebih sulit dikenali, tampak rendah hati, rajin berdoa dan melayani, penuh bahasa rohani, tetapi menolak koreksi firman dan mengukur iman terutama dari perasaan pribadi.

Yesus sendiri memperingatkan dengan sangat serius bahwa “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” (Mat. 7:21)

Ini artinya kesalehan lahiriah tidak selalu menandakan kebenaran batin.

4. DOA, IMAJINASI, DAN EMOSI

Doa Kristen yang sehat tidak dibangun di atas imajinasi bebas atau pencarian sensasi rohani. Kitab Suci mengarahkan doa kepada ketaatan kepada kehendak Allah, penyerahan diri, pembentukan karakter yang serupa dengan Kristus.

Banyak doa yang paling sejati justru lahir dari kesunyian, kesederhanaan, tanpa gejolak emosi, tetapi secara perlahan membentuk ketaatan dan ketekunan.

Allah sering bekerja bukan melalui pengalaman yang spektakuler, melainkan melalui kesetiaan sehari-hari yang tidak terlihat, namun setia.

5. SPIRITUALITAS TANPA SALIB

Salah satu ciri delusi rohani zaman ini adalah keinginan akan kuasa tanpa pertobatan, kemenangan tanpa penderitaan, berkat tanpa penyangkalan diri.

Namun Yesus berkata dengan jelas “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Luk. 9:23)

Roh Allah bekerja bukan untuk meninggikan ego rohani, melainkan untuk merendahkan hati, membuka dan menyingkap dosa, membentuk ketaatan dan menghasilkan buah yang nyata dalam kehidupan.

6. PERAN GEREJA DALAM MENJAGA IMAN

Iman Kristen tidak pernah dimaksudkan untuk dijalani secara individualistis. Allah memelihara umat-Nya melalui pemberitaan firman, persekutuan orang percaya, pengajaran yang sehat, kehidupan yang saling menegur dalam kasih.

Menolak komunitas iman dengan alasan “hubungan pribadi dengan Tuhan” sering kali bukan tanda kedewasaan rohani, melainkan kerentanan terhadap penyesatan.

“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita.” (Ibr. 10:25)

7. JALAN PEMULIHAN: KERENDAHAN HATI DAN PERT0BATAN

Delusi rohani tidak disembuhkan dengan pengalaman baru yang lebih intens, melainkan dengan pengakuan dosa yang jujur, pertobatan yang terus-menerus, kerendahan hati untuk diajar dan dikoreksi, kesetiaan hidup di bawah firman Allah.

“Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” (Yak. 4:6)

Secara praktis, ini berarti membiasakan diri menilai pengalaman melalui Alkitab, membuka hidup untuk nasihat dan koreksi, setia dalam ibadah dan pembelajaran firman dan tidak tergesa-gesa menyimpulkan bahwa setiap dorongan batin berasal dari Tuhan.

PENUTUP: PERINGATAN DALAM KASIH

Bahaya terbesar dalam kehidupan rohani bukanlah jatuh dalam dosa yang terlihat, tetapi merasa diri sudah rohani dan tidak lagi perlu diuji.

Allah tidak memanggil umat-Nya untuk mengejar sensasi, melainkan kebenaran. Bukan pengalaman yang meninggikan diri, tetapi iman yang taat. Bukan perasaan yang berubah-ubah, tetapi hidup yang terus dibentuk oleh firman Allah.

Kiranya kita senantiasa berjaga, merendahkan diri, dan berjalan dalam terang kebenaran-Nya.

Soli Deo Gloria

Jumat, 12 Desember 2025

SUDUT PANDANG PERBEDAAN KISAH NATAL DI INJIL, 𝗠𝗲𝗺𝗮𝗻𝗴 𝗕𝗲𝗿𝗯𝗲𝗱𝗮, kenyataan nya memang beda, Mau apa?

SUDUT  PANDANG PERBEDAAN KISAH NATAL DI INJIL, 𝗠𝗲𝗺𝗮𝗻𝗴 𝗕𝗲𝗿𝗯𝗲𝗱𝗮, kenyataan nya memang beda, Mau apa?

PENGANTAR
Jembatan nalar saya lebih bisa menerima teori inkulturisasi dan teori tradisi suci untuk perkara sekian buanyak teori tentang 25 Desember sebagai hari lahir Yesus Kristus dibandingkan teori yang bertumpu pada Injil, oleh karena Injil itu kisah teologis penulis yang berbeda satu dengan yang lainnya, bagaimana jembatan nalarnya kalau teori 25 Desember diambil dari kisah injil, wong beda satu dengan yang lain. Kitab-kitab Injil ditulis bukan untuk orang Indonesia. Kitab-kitab Injil ditulis untuk menjawab pergumulan umat Kristen perdana mengapa Mesias mati. Setiap jemaat memiliki pergulatan sendiri dan berbeda dari jemaat lain, karena latar belakang budaya yang berbeda. Itulah sebabnya ada perbedaan teologi dalam empat kitab Injil kanonik, karena petulis Injil hendak menjawab dan menggembala jemaat mereka masing-masing. 
Dalam studi biblika untuk memudahkan identifikasi pembaca Injil dibuatlah nama jemaat sama dengan nama kitab Injil. Pembaca kitab Injil Matius disebut 𝗝𝗲𝗺𝗮𝗮𝘁 𝗠𝗮𝘁𝗶𝘂𝘀, pembaca kitab Injil Markus disebut 𝗝𝗲𝗺𝗮𝗮𝘁 𝗠𝗮𝗿𝗸𝘂𝘀, pembaca kitab Injil Lukas disebut 𝗝𝗲𝗺𝗮𝗮𝘁 𝗟𝘂𝗸𝗮𝘀, dan pembaca kitab Injil Yohanes disebut 𝗝𝗲𝗺𝗮𝗮𝘁 atau 𝗞𝗼𝗺𝘂𝗻𝗶𝘁𝗮𝘀 𝗬𝗼𝗵𝗮𝗻𝗲𝘀.
Kisah Natal versi Injil Matius dan Injil Lukas berbeda. Tidak perlu dibela. Mau menggunakan jurus apa pun dua kisah teologis itu tidak dapat disinkronkan. Memang berbeda, karena kedua kitab Injil mengusung teologi yang berbeda.


PEMAHAMAN

Apabila disarikan perbedaan itu:

𝗜𝗻𝗷𝗶𝗹 𝗠𝗮𝘁𝗶𝘂𝘀
▶️ Yusuf dan Maria tinggal di Betlehem, tidak pernah ke Nazaret sebelum kelahiran Yesus.
▶️ Kelahiran Yesus dikunjungi oleh orang-orang Majus, mereka menyembah.
▶️ Kronologi: Betlehem, lalu mengungsi ke Mesir, lalu ke Nazaret.

𝗜𝗻𝗷𝗶𝗹 𝗟𝘂𝗸𝗮𝘀
▶️ Yusuf dan Maria tinggal di Nazaret, tidak pernah ke Betlehem sebelum kelahiran Yesus.
▶️ Kelahiran Yesus disaksikan oleh kawanan gembala, mereka tidak menyembah.
▶️ Kronologi: Nazaret, lalu ke Betlehem, lalu ke Yerusalem, lalu kembali ke Nazaret.

𝗧𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶 𝗡𝗮𝘁𝗮𝗹 𝗜𝗻𝗷𝗶𝗹 𝗠𝗮𝘁𝗶𝘂𝘀
Petulis Injil Matius mengusung teologi Yesus adalah 𝗠𝘂𝘀𝗮 𝗕𝗮𝗿𝘂 yang akan menggembala umat Allah yang baru. Dari permulaan Injil petulis Matius langsung menggebrak menyatakan imannya bahwa Yesus adalah Mesias dan Raja. 𝘐𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘧𝘵𝘢𝘳 𝘯𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘮𝘰𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝙆𝙧𝙞𝙨𝙩𝙪𝙨, 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘿𝙖𝙪𝙙, 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘈𝘣𝘳𝘢𝘩𝘢𝘮. Mesias ditunjukkan dengan gelar Kristus. Raja ditunjukkan dengan anak Daud. Yesus bukan sekadar raja, melainkan Raja Mesianik.

𝘐𝘯𝘵𝘦𝘳𝘮𝘦𝘴𝘰 𝘴𝘦𝘫𝘦𝘯𝘢𝘬. Jemaat Matius pada mulanya dari kalangan Yahudi. Ketika Bait Allah di Yerusalem dihancurkan oleh Titus ada tahun 70 ZB, para pemimpin Yahudi menimpakan kesalahan kepada Jemaat Matius. Jemaat Matius adalah biang-sial. Mereka lalu mengusir mereka dari sinagoge-sinagoge. Jejaknya terlihat dalam Matius 4:23  ... 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩-𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘪𝘣𝘢𝘥𝘢𝘵 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖... Petulis Injil Matius sudah membedakan 𝘬𝘪𝘵𝘢 (Jemaat Matius) dan 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 (orang Yahudi). 

Dalam kemelut itu pemimpin Jemaat Matius banting stir. Keselamatan pada awalnya ditawarkan kepada orang Israel, tetapi mereka menolak, lalu keselamatan diberikan kepada bangsa lain dan mereka menerimanya. Penolakan orang Israel diperikan dengan cantik oleh Matius dengan penolakan Raja Herodes. Orang-orang Majus yang mewakili bangsa lain menerima dan datang menyembah Raja Mesianik yang baru dilahirkan. 

Kisah Natal versi Injil Matius dalam keadaan mencekam dan dibuat persis dengan situasi kelahiran Musa. Untuk menyelamatkan Yesus maka Yusuf membawa bayi Yesus (dan Maria) mengungsi ke Mesir. Dari Mesir mereka tidak kembali ke Betlehem, melainkan ke Nazaret agar Yesus dikenal sebagai Yesus Orang Nazaret.

Teologi Yesus Musa Baru akan makin terjelaskan dalam episode 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘎𝘶𝘯𝘶𝘯𝘨. Di gunung Musa menerima firman. Di gunung (𝘰𝘳𝘰𝘴) Yesus memberi firman.

𝗧𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶 𝗡𝗮𝘁𝗮𝗹 𝗜𝗻𝗷𝗶𝗹 𝗟𝘂𝗸𝗮𝘀
Pada masa jemaat awal Yesus dikenal sebagai Orang Nazaret yang bagian terbesar kiprah pelayanan-Nya di Galilea. Diduga kuat permulaan Injil Lukas adalah pasal 3. Ayat 1 dan 2 adalah bukti kuat. 𝘋𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘱𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘒𝘢𝘪𝘴𝘢𝘳 𝘛𝘪𝘣𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴, 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘗𝘰𝘯𝘵𝘪𝘶𝘴 𝘗𝘪𝘭𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘨𝘶𝘣𝘦𝘳𝘯𝘶𝘳 𝘠𝘶𝘥𝘦𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘏𝘦𝘳𝘰𝘥𝘦𝘴 𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘸𝘪𝘭𝘢𝘺𝘢𝘩 𝘎𝘢𝘭𝘪𝘭𝘦𝘢, 𝘍𝘪𝘭𝘪𝘱𝘶𝘴, 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘸𝘪𝘭𝘢𝘺𝘢𝘩 𝘐𝘵𝘶𝘳𝘦𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘛𝘳𝘢𝘬𝘩𝘰𝘯𝘪𝘵𝘪𝘴, 𝘥𝘢𝘯 𝘓𝘪𝘴𝘢𝘯𝘪𝘢𝘴 𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘸𝘪𝘭𝘢𝘺𝘢𝘩 𝘈𝘣𝘪𝘭𝘦𝘯𝘦, 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘏𝘢𝘯𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘒𝘢𝘺𝘢𝘧𝘢𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘪𝘮𝘢𝘮 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳, 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴, 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘡𝘢𝘬𝘩𝘢𝘳𝘪𝘢, 𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘶𝘳𝘶𝘯. (ay. 1-2) Sesudah itu Injil menampilkan kiprah Yohanes Pembaptis. 

Pembukaan pasal 3 di atas dibuat tampak kronologis dengan menampilkan nama-nama tokoh pada masa itu bukan untuk menyatakan kitabnya adalah buku sejarah. Tokoh-tokoh berikut wilayah kekuasaan mereka dan tahun disebut oleh Lukas untuk menyampaikan bahwa panggung dunia yang mereka kuasai itu akan menghadapi tantangan baru, yang dimula dengan 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴, 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘡𝘢𝘬𝘩𝘢𝘳𝘪𝘢, 𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘶𝘳𝘶𝘯. Frase 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 (Yohanes) merupakan rumusan kitab-kitab Perjanjian Lama untuk mengenalkan nabi (bdk. Yer. 1:2; Yeh. 1:3).

Sesuai dengan kebiasaan para pencerita pada zaman itu kisah Yesus selalu dimula dari penampilan Yohanes Pembaptis. Untuk menguatkan identitas Yesus petulis Injil Lukas membuat silsilah pada ayat 23 – 38 (pasal 3). Namun, Jemaat Lukas tampaknya tidak puas terhadap asal usul Yesus. Lukas kemudian menambah lagi dua pasal menjadi pembuka Injil dengan memertahankan teologinya bahwa keselamatan sejak awal bagi seluruh dunia (tidak seperti Injil Matius).

Oleh karena sudah telanjur Yesus dikenal sebagai Orang Nazaret, sekarang bagaimana Lukas menceritakan bahwa Yesus lahir di Betlehem (bdk. versi Injil Matius yang sejak semula Yusuf dan Maria tinggal di Betlehem). Untuk itu dibuatlah kisah Kaisar Agustus membuat perintah sensus agar Yusuf dan Maria pergi ke Betlehem. Juga tak lupa Lukas menekankan keselamatan universal. 𝘗𝘢𝘥𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘒𝘢𝘪𝘴𝘢𝘳 𝘈𝘨𝘶𝘴𝘵𝘶𝘴 .... 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘧𝘵𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝙙𝙞 𝙨𝙚𝙡𝙪𝙧𝙪𝙝 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖. (Luk. 2:1). 𝘒𝘦𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 ... 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘩𝘵𝘦𝘳𝘢 𝙙𝙞 𝙗𝙪𝙢𝙞 ... (Luk. 2:14).

Berbeda dari Matius yang memberitakan kelahiran Raja Mesianik yang disembah oleh orang-orang Majus, Lukas hendak menciptakan paradoks bahwa Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi, lahir di tempat bukan tempat seharusnya dengan saksi kawanan gembala, yang secara legal tidak sah menjadi saksi, karena orang-orang buangan. Sila simak kawanan gembala itu datang ke palungan Yesus bukan untuk menyembah, melainkan untuk saksi. 𝘔𝘢𝘳𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘉𝘦𝘵𝘭𝘦𝘩𝘦𝘮 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢 (Luk. 2:15). Lukas memang memberi tempat istimewa bagi orang-orang pinggiran.

Berbeda juga dari Matius yang Yesus sejak lahir sudah Mesias (Kristus) dan Raja, Lukas mengusung teologi bahwa Yesus menjadi Mesias (Kristus) dan Tuhan (Penguasa) sesudah mati, bangkit, dan naik ke surga, lalu akan datang kembali sebagai Raja dalam kemuliaan-Nya.

Sebenarnya Gereja mengajarkan perbedaan teologi kedua Injil ini. Sebagai bukti dalam bacaan ekumenis (RCL) kisah Natal versi Injil Lukas dibacakan pada Kebaktian Malam Natal dan Natal Pagi, sedang kisah Natal versi Injil Matius dibacakan pada hari raya Epifani. Hanya saja pengkhotbah yang berkhotbah sering tak setia pada teks. Injil Lukas ditafsir dengan Injil Matius dan sebaliknya.

𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝗲𝗻 𝗧𝗮𝗸 𝗣𝗲𝗿𝗰𝗮𝘆𝗮 𝗗𝗶𝗿𝗶

Banyak orang Kristen merasa malu dan tak percaya diri melihat kenyataan bahwa Perayaan Natal 25 Desember merupakan adopsi perayaan kafir 𝘋𝘪𝘦𝘴 𝘕𝘢𝘵𝘢𝘭𝘪𝘴 𝘚𝘰𝘭𝘪𝘴 𝘐𝘯𝘷𝘪𝘤𝘵𝘪. Mereka lalu mencari pil ekstasi untuk menyenangkan diri sendiri, meskipun itu kesenangan semu, gadungan. Mengapa sih kalian orang Kristen mau-maunya menerima penjelasan apologetik tentang 25 Desember adalah tanggal kelahiran Yesus yang benar-benar alkitabiah? Mengapa sih kalian mau menerima penjelasan sejarah-gadungan itu? Mengapa kalian mau membohongi diri sendiri? Tak percaya dirikah kalian?

Sudah saya sampaikan berkali-kali bahwa kitab-kitab Injil itu bukan memuat kisah historis-objektif. Itu semua kisah teologis. Tidak bisa kita menarik kesimpulan tanggal kelahiran Yesus dari kisah teologis ini. Mengapa tidak bisa? Ada dua versi kisah Natal: Matius dan Lukas. Keduanya sama sekali berbeda. Belum lagi Gereja Timur merayakan Natal pada 6 Januari, yang lebih tua daripada perayaan 25 Desember. Para penganut Gnostik pada pengujung (bukan penghujung) abad kesatu tidak dapat menerima kenyataan bahwa Yesus mati di kayu salib. Bagi mereka Yesus tidak bisa mati. Maka diciptakanlah ideologi delusional bahwa mereka menyembah Yesus-Surgawi, Yesus yang sejati. Yang mati adalah Yesus-ragawi. Varian lain menyebut yang mati bukan Yesus, melainkan serupa dengan Yesus.Gnotisme tak berumur panjang. Ia mati alamiah. Saya menyebut alamiah karena ia mati sebelum Kristen menjadi agama negara pada abad keempat.

Agama tidak sekali jadi. Agama ber-evolusi. Hari raya liturgi gereja dimula dan berpusat pada misteri Paska. Gereja lalu memandang perlu ada perayaan tahunan Hari Paska. Hari Paska tak lepas dari tradisi festival musim semi. Gereja menetapkan Hari Paska jatuh pada hari Minggu kesatu sesudah bulan purnama sesudah equinox. Equinox Maret atau September? Oleh karena Paska bertalian dengan festival musim semi, maka yang menjadi patokan adalah equinox Maret. 𝗧𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹 𝗛𝗮𝗿𝗶 𝗥𝗮𝘆𝗮 𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗹𝘂 𝗯𝗲𝗿𝗯𝗲𝗱𝗮 𝘀𝗲𝘁𝗶𝗮𝗽 𝘁𝗮𝗵𝘂𝗻. 𝘕𝘢𝘩 𝘭𝘩𝘰!

Pentakosta adalah tradisi festival panen Yahudi. 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗱𝗶𝗿𝗮𝘆𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗿𝗮𝘁𝘂𝘀𝗮𝗻 𝘁𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗬𝗮𝗵𝘂𝗱𝗶 𝘀𝗲𝗯𝗲𝗹𝘂𝗺 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗹𝗮𝗵𝗶𝗿 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝘀𝗲𝗯𝗲𝗹𝘂𝗺 𝗮𝗱𝗮 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮. Gereja lalu mengalihrupa perayaan Pentakosta. Pentakosta diberi muatan teologis hari pencurahan Roh Kudus. Roh Kudus dicurahkan kepada Gereja pada hari Pentakosta. Bukan lantaran ada peristiwa pencurahan Roh Kudus lalu hari itu disebut hari Pentakosta.

Natal 25 Desember adalah perayaan Natal versi Gereja Barat pada abad keempat, yang mengadopsi perayaan 𝘚𝘰𝘭 𝘐𝘯𝘷𝘪𝘤𝘵𝘶𝘴. Bumi itu datar dan paham geosentris berlaku. Pada musim dingin matahari tampak bergeming di titik terendah di horison Eropa sejak 21 Desember. Pada 25 Desember matahari mula sedikit mumbul dari horison dan sedikit demi sedikit bergerak naik. Seolah-olah Dewa Sol terlahir kembali. Peristiwa alam (yang sebenarnya biasa-biasa saja) ditafsir secara religius sebagai saat Dewa Sol berhasil bangkit dari kematian atau 𝘚𝘰𝘭 𝘐𝘯𝘷𝘪𝘤𝘵𝘶𝘴 (Matahari Tak Terkalahkan). Pada 25 Desember dijadikan sebagai Hari Kelahiran Dewa Sol Yang Tak Terkalahkan atau 𝘋𝘪𝘦𝘴 𝘕𝘢𝘵𝘢𝘭𝘪𝘴 𝘚𝘰𝘭𝘪𝘴 𝘐𝘯𝘷𝘪𝘤𝘵𝘪. Gereja meng-Kristen-kan 𝘋𝘪𝘦𝘴 𝘕𝘢𝘵𝘢𝘭𝘪𝘴 𝘚𝘰𝘭𝘪𝘴 𝘐𝘯𝘷𝘪𝘤𝘵𝘪 sebagai hari kelahiran Yesus, 𝗦𝗮𝗻𝗴 𝗦𝘂𝗿𝘆𝗮 𝗦𝗲𝗷𝗮𝘁𝗶.

NKB 72
𝘙𝘦𝘧.
𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴, ‘𝙆𝙖𝙪𝙡𝙖𝙝 𝙎𝙪𝙧𝙮𝙖 𝘳𝘢𝘩𝘮𝘢𝘵, ‘𝘒𝘢𝘶 𝘬𝘰𝘣𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘶.
𝘉𝘦𝘳𝘴𝘺𝘶𝘬𝘶𝘳 𝘥𝘪 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘴’𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵, 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘶𝘫𝘪 𝘯𝘢𝘮𝘢𝘔𝘶!

Gereja Timur lain lagi yang merayakan Natal pada 6 Januari dan lebih tua daripada perayaan Natal oleh Gereja Barat. Perayaan Natal pada 6 Januari merupakan adopsi perayaan kelahiran Dewa Aion di Aleksandria, Mesir, di pinggiran Sungai Nil. Gereja meng-Kristen-kan perayaan kafir itu dengan memberi muatan teologis sebagai hari kelahiran Yesus.

Perbedaan tanggal Natal Barat dan Timur karena perbedaan narasi. Pada 6 Januari umat Kristen (Gereja Barat) merayakan Hari Epifani, Hari Penampakan Tuhan (𝘌𝘱𝘪𝘱𝘩𝘢𝘯𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘓𝘰𝘳𝘥), sedang Umat Kristen Mesir atau Gereja Timur merayakan Hari Natal. 

▶️ Menurut tradisi Gereja Barat Epifani dipahami sebagai saat-saat kunjungan orang-orang majus menjumpai Yesus atau penampakan Tuhan kepada bangsa-bangsa bukan-Yahudi (𝘨𝘦𝘯𝘵𝘪𝘭𝘦𝘴). 
▶️ Menurut tradisi Gereja Timur Epifani dipahami saat Pembaptisan Yesus (𝘉𝘢𝘱𝘵𝘪𝘴𝘮 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘓𝘰𝘳𝘥) yang dimaknai sebagai penampakan Tuhan kepada publik atau penyataan (𝘳𝘦𝘷𝘦𝘭𝘢𝘵𝘪𝘰𝘯) Allah kepada dunia. 
▶️ Gereja Barat menetapkan Hari Minggu Pertama sesudah Epifani atau Natal Gereja Timur sebagai Minggu Pembaptisan Yesus.

Hari raya liturgi gereja dimula dan berpusat pada misteri Paska. Pada mulanya tidak ada susunan sistematis dan terencana untuk merayakan peristiwa-peristiwa Kristus. Secara evolusi gereja memberikan tanggapan atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Bapak-bapak gereja sejak abad II merapikan, membentuk, menyusun, dan memuat kisah teologisnya sehingga menjadi bermakna, bertema, dan bercerita saling berurutan satu dengan lainnya. Hari raya liturgi merupakan drama sarat makna; suatu rekayasa (𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘦𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨) gereja untuk memastori dan membina umat agar dapat lebih menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan.

Nah, kisaran 189 Masehi sudah ada arkeologi tradisi suci didaskalia apolostorum yg menyebutkan tanggal lahir Yesus 25 Desember, tapi tidak ada perayaan, kisaran tahun 274 Masehi sudah ada arkeologi yang mengungkap tentang kelahiran dewa Matahari pada 25 Desember diterapkan kekaisaran Roma,Kekaisaran Romawi menetapkan 25 Desember sebagai hari kelahiran dewa Matahari (Sol Invictus) pada tahun 274 Masehi oleh Kaisar Aurelianus,  terjadi inkulturisasi, Uang logam Aurelianus menyebut dirinya sebagai Imam Agung Matahari, dan Kronograf 354 M mencatat perayaan "Natalis Invicti" pada 25 Desember. kisaran di 354 Masehi penerapan 25 Desember menjadi hari raya kelahiran Kristus dalam kekaisaran Romawi oleh karena agama Kristen sudah menjadi agama negara, tetapi sebelum itu ada bukti arkeologi Kekaisaran Romawi secara resmi mengakui perayaan 25 Desember sebagai hari kelahiran Kristus Yesus pada tahun 336 Masehi, di bawah Kaisar Konstantinus Agung tetapi belum ditetapkan sebagai hari raya kekaisaran. 
Paus Julius I sekitar tahun 350 M juga dikaitkan dengan pengukuhan tanggal ini untuk menyatukan tradisi Kristen dengan festival pagan seperti Sol Invictus. Konteks Historis, Sebelumnya, tanggal kelahiran Yesus tidak tetap dan lebih difokuskan pada Paskah; pemilihan 25 Desember bertujuan mengadaptasi perayaan musim dingin Romawi untuk memudahkan konversi penanggalan. Dokumen seperti Didascalia Apostolorum (abad ke-3) dan tulisan Hippolitus (225 M) sudah menyebut tanggal serupa, tapi penetapan kekaisaran baru pada era Konstantinus.


 (13122025)(TUS)



Selasa, 09 Desember 2025

SUDUT PANDANG LILIN ADVENT

SUDUT PANDANG LILIN ADVENT

PENGANTAR
Seiring berjalan kesepakatan ekuminis di Lima, membawa beberapa kesepakatan antara denominasi gereja seazaz. Oleh karenanya liturgi berkembang. Contoh, gereja khatolik dan orthodoks bersepakat puncak dan mahkota liturgi Leksionari adalah tetap Ekaristi atau Perjamuan Kudus, sedangkan gereja-gereja reformir atau protestan yang Ekaristi atau Perjamuan Kudus tidak setiap kali ibadah Minggu bersepakat mahkota dari liturgi Leksionari adalah bacaan sabda dimana dalam bacaan sabda berpuncak pada bacaan Injil, beda dengan liturgi bercorak calvinis yang mahkotanya pada homili atau khotbah. Sehingga gerakan ibadah baik itu perarakan kitab suci, gerak tubuh Lektor, meja atau altar kitab suci, dlsb itu menunjukan pengagungan atas Injil, dimana ada pengenangan akan teladan Kristus tertulis, puncak pengenangan itu ada pada Injil dimana teladan Kristus diekspresikan sehingga dari pengenangan itu kita dihisap untuk mewujudkan atau mengekspresikan dalam kehidupan keseharian agar teladan Kristus dikenali sesama, ibadah atau liturgi ritual simbolis adalah wujud pengenangan akan teladan Kristus dan berpuncak pada bacaan Injil serta perwujudan atau ekspresi tindakan nyata atas pengenangan itu ada pada praktek kehidupan keseharian atau liturgi kehidupan kita, ziarah kehidupan kita. Tepatlah kalau pokok ajaran GKJ menganggap hidup sebagai sebuah perjalanan keselamatan . Demikian halnya dalam memaknai lilin-lilin Advent pada liturgi menjadi berbeda antar denominasi gereja. Begitulah, kenapa umat dan pimpinan umat seharusnya lah mengerti liturgi. Secara teologis, lilin-lilin Advent ini bukan sekadar simbol dekoratif, melainkan pengajaran doktrinal tentang penebusan: lingkaran hijau abadi melambangkan kasih Allah yang kekal, cara Allah menyelamatkan manusia yang berjalan terus dari dulu sampai sekarang dan ke depan, demikianlah pokok ajaran GKJ melihat hidup sebagai perjalanan keselamatan, dimana kita telah menerima anugerah keselamatan, melakukan ziarah kehidupan atau perjalanan hidup dengan pertanggungan jawab atas anugerah keselamatan itulah hidup beretika, menuju ke kembalinya Kristus untuk hidup bersama Kristus dalam lingkup keselamatan, sementara cahaya lilin Advent bertambah menunjukkan perjalanan dari kegelapan dosa ke terang Kristus, mengkritisi budaya modern yang memulai perayaan Natal prematur tanpa pertobatan. Kritiknya terletak pada asal-usulnya yang relatif baru (abad ke-16 dari Lutheranisme Jerman, diadopsi Katolik abad ke-19), bukan mandat Alkitab langsung, sehingga berisiko menjadi ritual kosong jika tidak dikaitkan dengan iman pribadi serta pengajaran iman. Namun, secara positif, ia menenun moralitas (pertobatan, ibadah) dengan sakramen, mengajak refleksi nubuat Mesias.


PEMAHAMAN 
Tradisi ini berasal dari Eropa Utara abad pertengahan, menggabungkan paganisme (lingkaran musim dingin) dengan Kristenisme sebagai inkulturisasi untuk melawan kegelapan literal dan terang rohani, menyebar dari keluarga Protestan lalu Katolik di Eropa Utara, berubah menjadi bagian dari peribadatan. Dalam sastra budaya, muncul di cerita Dickens' A Christmas Carol sebagai simbol penebusan bertahap, dan puisi seperti John Donne yang kontras cahaya ilahi dengan kegelapan dosa. Di Indonesia, diadaptasi gereja lokal, memperkuat identitas Kristen di tengah pluralisme budaya. Kerangka kritis untuk menganalisis makna teologis lilin Advent melibatkan pendekatan hermeneutika simbolik yang mengintegrasikan eksgesis Alkitab, sejarah liturgi, dan kritik kontekstual untuk mengungkap bagaimana simbol cahaya melawan kegelapan dosa sambil menilai adaptasi budaya modern. Hubungan setiap lilin dengan teks nubuat seperti Yesaya 9:2 ("bangsa yang duduk dalam gelap melihat cahaya besar") dan Yohanes 8:12 (Kristus sebagai terang dunia), menilai apakah simbol ini memperkaya atau menyederhanakan doktrin inkarnasi. Dari Lutheran abad ke-16 hingga Katolik modern, kritis terhadap sinkretisme pagan (lingkaran musim dingin) yang berisiko mengaburkan esensi pertobatan Advent, seperti apakah lilin mendorong aksi sosial (keadilan dari tema damai) atau hanya ritual estetis, menggunakan pendekatan tematik progresif dari harapan luas ke persiapan Natal.Apakah bertahap penyalaan lilin merefleksikan perjalanan rohani pribadi (Roma 13:12, "buanglah perbuatan-perbuatan gelap") atau sekadar tradisi konsumtif? Pendekatan ini, seperti dalam analisis tematik liturgi, memastikan simbol tetap membangun hubungan dengan Kristus sebagai pemenuhan janji. Dari versi ala Protestan reformir empat lilin Advent melambangkan HARAPAN, DAMAI SEJAHTERA, SUKACITA, dan KASIH, dinyalakan secara bertahap setiap Minggu selama empat minggu menjelang Natal untuk mengingatkan persiapan rohani menyambut kelahiran Kristus sebagai terang dunia, dan kembalinya Kristus sebagai hakim. Jangan terbalik yah, jangan terbalik loh, saat penyalaan lilin Advent, nanti lilin Advent ketiga yang jambon malah dinyalain jadi lilin Advent kedua, ..... Yah ..... makna liturgis nya hilang dong.Kaitan dengan Ayat Kitab Suci, Lilin 1: Harapan (ungu) - Nubuat nabi seperti Yesaya 7:14 tentang perawan yang mengandung, memenuhi janji Allah sejak Kejadian 3:15. Lilin 2: Damai Sejahtera (ungu) - Efesus 2:14, Kristus merubuhkan tembok permusuhan; juga Maleakhi 3:1-3 soal persiapan jalan Tuhan.Lilin 3: Sukacita (merah muda, Gaudete) - Lukas 2:10-11, malaikat mengumumkan sukacita besar bagi semua orang. Lilin 4: Kasih (ungu) - Yohanes 3:16, kasih Allah yang mengutus Anak-Nya; juga malaikat di Lukas 1:30-31 kepada Maria.  Protestan menggunakan kalender Advent (Leksionari ) dengan empat lilin serupa untuk menghitung hari menuju Natal, menekankan persiapan rohani melalui penyalaan bertahap yang melambangkan harapan, damai, sukacita, dan kasih. Praktik ini lebih fleksibel dan kurang formal dibanding Katolik, dengan fokus pada pengajaran Alkitabiah tentang penantian Kristus. Dalam pemahaman lilin Advent versi ala Katolik, Dalam tradisi Katolik, lilin Advent biasanya berjumlah empat (tiga ungu dan satu merah muda) disusun dalam korona Advent, melambangkan HARAPAN (minggu pertama, lilin nabi), IMAN/KASIH (minggu kedua), SUKACITA (minggu ketiga, lilin Gaudete merah muda), dan DAMAI (minggu keempat). Lilin kelima putih di tengah sering ditambahkan dan dinyalakan pada Malam Natal sebagai simbol Kristus, Terang Dunia, yang melengkapi perjalanan dari kegelapan penantian ke terang keselamatan. Gereja Ortodoks tidak menggunakan lilin Advent dalam bentuk korona seperti Katolik atau Protestan Reformir; masa persiapan pra-Natal disebut Nativity Fast (40 hari), yang lebih menekankan puasa, doa, dan pertobatan daripada simbol lilin visual. Tidak ada tradisi spesifik empat lilin bertema harapan-perdamaian-sukacita-kasih. Kenapa khatolik menggunakan lilin besar putih sedangkan protestant reformir tidak? Alasan Penggunaan Lilin Putih Besar di Katolik,
Katolik menambahkan lilin kelima berwarna putih besar di tengah korona Advent, yang dinyalakan pada Malam Natal setelah empat lilin ungu/merah muda, melambangkan Kristus sebagai Terang Dunia yang menyelesaikan masa penantian Adven dari kegelapan pertobatan ke sukacita kelahiran-Nya. Praktik Protestan Reformir, 
Protestan Reformir tidak menggunakan lilin putih besar pusat; mereka hanya menyala empat lilin bertema (harapan, damai, sukacita, kasih) secara kumulatif setiap Minggu Adven, dengan fokus pada Candlelight Service, penyalaan lilin saat ibadah Advent secara berurutan. Malam Natal menggunakan lilin individu tanpa elemen pusat tambahan. Ada pemahaman lain tentang lilin Advent. Masa Advent melambangkan penantian kedatangan Kristus melalui empat lilin yang dinyalakan bertahap, menghubungkan tema rohani dengan narasi Alkitabiah seperti nubuat nabi, perjalanan ke Betlehem, sukacita gembala, dan malaikat. Simbolisme ini menekankan perjalanan dari kegelapan dosa ke terang keselamatan, dengan lingkaran Adven sebagai lambang keabadian Allah.Makna Empat Lilin Utama, Lilin Pertama (Lilin Nabi/Messiah): Mewakili harapan dari nubuat para nabi tentang Mesias, seperti Yesaya 9:5, menandai awal terang di tengah kegelapan. Lilin Kedua (Lilin Betlehem/Maria): Melambangkan perdamaian dan kesetiaan melalui perjalanan Yusuf-Maria ke Betlehem (Lukas 1:38), mengingatkan kerendahan hati.Lilin Ketiga (Lilin Gembala): Menandai sukacita para gembala saat mendengar kabar malaikat tentang kelahiran Juru Selamat di Betlehem (Lukas 2:10-11). Lilin Keempat (Lilin Malaikat): Mewakili damai dan keamanan dari pengumuman malaikat, melengkapi persiapan Natal. Untuk versi ala khatolik Lilin Pusat (Kristus)
Lilin putih besar di tengah dinyalakan pada Malam Natal, melambangkan Kristus sebagai Terang Dunia yang menyelesaikan penantian Advent. Masa Advent mencerminkan drama keselamatan melalui empat lilin yang dinyalakan bertahap, melambangkan perjalanan dari kegelapan dosa selama 4.000 tahun (dari Adam hingga Kristus) menuju terang penebusan, dengan setiap lilin menghalau kegelapan secara progresif sesuai Yohanes 8:12. Lilin Pertama: Harapan ( Lilin Nabi). Lilin ini melambangkan harapan keselamatan dari nubuat nabi seperti Yesaya 9:5 tentang Mesias, menandai awal terang Allah yang setia di tengah dosa dunia, mengingatkan janji pembebasan umat. Lilin Kedua: Perdamaian (Lilin Betlehem)
Mewakili perdamaian melalui kesetiaan Maria dan Yusuf ke Betlehem (Lukas 1:38), mencerminkan damai sejati dari hubungan penuh kasih dengan Allah sebagai bagian rencana keselamatan. Lilin Ketiga: Sukacita (Lilin Gembala)
Lilin merah muda ini (Minggu Gaudete) melambangkan sukacita keselamatan yang diumumkan malaikat kepada gembala (Lukas 2:10-11), menandai kegembiraan akan kedatangan Juru Selamat yang dekat. Lilin Keempat: Kasih (Lilin Malaikat)
Melambangkan kasih dan damai dari pesan malaikat "Damai di bumi" (Lukas 2:14), melengkapi penebusan dosa melalui pengorbanan Kristus yang akan lahir. Versi ala Khatolik Lilin Pusat: Kristus (Terang Penuh)
Lilin putih besar dinyalakan Natal melambangkan Kristus sebagai Terang Dunia yang menyempurnakan keselamatan, mengubah kegelapan menjadi kehidupan kekal (Wahyu 21:5).
(09122025)(TUS)

Sudut pandang Kenapa tidak merayakan natal saat Advent

Sudut pandang Kenapa tidak merayakan natal saat Advent 

 PENGANTAR 
Kita terjebak dalam penantian panjang. Ada yang menunggu hasil medis dengan cemas, menunggu investasi berbuah, atau menunggu kabar baik yang tak kunjung tiba. Pada saat seperti itu, suara Tuhan dalam Yesaya 40 terdengar seperti oase: “Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku.” Itu tanda kepedulian Tuhan kepada orang yang merasa hidupnya “macet.”  Israel pernah berada di titik itu: terjebak dalam pembuangan selama satu generasi. Namun suara penghiburan Tuhan menegaskan bahwa Ia belum pergi. Janji-Nya justru semakin mendekat. Selanjutnya Tuhan juga mengingatkan bahwa masa penantian adalah kesempatan untuk menata hati atau “menyiapkan jalan.” Dengan “meratakan gunung”: merendahkan kesombongan yang ingin mengatur waktu Tuhan. Dengan “menutup lembah”:  membiarkan Tuhan menutup lembah keputusasaan agar harapan kembali bersemi. Dengan “meluruskan yang berlekak-leku”: menata ulang langkah, sebab dalam penantian kita mudah kehilangan arah. Saat hati direnovasi, penantian berubah menjadi proses pembentukan. Kita tidak lagi merasa terjebak, tetapi sedang dibawa maju selangkah demi selangkah. Adven mengingatkan bahwa penantian bukan ruang hampa. Penantian adalah ruang di mana Tuhan menata langkah kita. Sering kali justru di tengah kemacetan hidup, ada pembaruan. Ada hembusan angin segar! Sekarang, Bolehkah kita merayakan Natal saat Advent? Boleh .... sangat boleh, tidak ada juga larangan, cuman merayakan Natal saat Advent adalah memperlihatkan kebodohan kita, memperlihatkan bagaimana kita tidak mengerti pengajaran iman kita, kita tidak mengerti kenapa beribadah dalam lingkaran kalender liturgi, kenapa kita beribadah di hari Minggu pun kita tidak mengerti, kenapa kita beribadah dan berkarya di gereja pun, kita gak ngerti. Sebetulnya mudah dinalar, kenapa warna liturgi masa Advent dan masa prapaskah sama? Yaitu Ungu, karena itu masa kedukaan, karena dalam tradisi Yahudi menanti atau menunggu itu kedukaan, karena merupakan ketidak pastian. Bahkan beberapa denominasi, pada masa Advent dan masa prapaskah melakukan puasa dan pantang. Jadi, pantaskah merayakan Natal saat Advent, bernalarlah dan tanyalah diri sendiri . Adven yang dikerjakan oleh Yohanes (Pembaptis) amat terang dikerjakan siapkan infrastruktur, siapkan jalan, jangan ragu, ...... Kristus bakal kembali. Adven merupakan kesibukan bekerja dalam rangka menuju kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Kesejahteraan tidak datang sekonyong-konyong. Ia perlu Adven. Adven bukanlah tujuan. Ia merupakan jalan untuk mencapai tujuan. Belum waktunya berpesta karena memang kita belum tiba di tujuan.Jadi, gak perlu pakai pesta, apalagi dilabeli pesta natal, perayaan natal, cukup ibadah raya natal, dan itupun dilakukan di gereja, untuk menghikmati keterhisapan kita pada anugerah persekutuan Tuhan dalam menghikmati Natal, Tuhan yang merapuh menjadi manusia, Tuhan melawat manusia, untuk menyelamatkan kan manusia, Tuhan berkarya Kata adven dari bahasa Latin 𝘢𝘥𝘷𝘦𝘯𝘵𝘶𝘴, kata kerjanya 𝘢𝘥𝘷𝘦𝘯𝘪𝘳𝘦, yang berarti datang, tiba. Pada masa lampau kedatangan seorang penguasa di kota atau provinsi dalam suatu wilayah ekumenisnya juga menggunakan istilah 𝘢𝘥𝘷𝘦𝘯𝘵𝘶𝘴. Misal, kedatangan Kaisar Agustus diabadikan dalam bentuk monumen atau uang dengan tulisan 𝘈𝘥𝘷𝘦𝘯𝘵𝘶𝘴 𝘈𝘶𝘨𝘶𝘴𝘵𝘪 (Kedatangan Agustus). Istilah ini juga digunakan untuk kunjungan tahunan dewa ke kuil. Kata adven masuk ke khasanah Kristen ketika Kitab Suci Perjanjian Baru diterjemahkan ke bahasa Latin (𝘝𝘶𝘭𝘨𝘢𝘵𝘢) dari bahasa Grika. 𝘝𝘶𝘭𝘨𝘢𝘵𝘢 menerjemahkan 𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢 (kedatangan) dengan 𝘢𝘥𝘷𝘦𝘯𝘵𝘶𝘴 dalam kitab Injil. Namun, dalam beberapa Surat Rasuli 𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢 dimaknai 𝘱𝘳𝘦𝘴𝘦𝘯𝘵𝘪𝘢 (kehadiran) (1Kor. 16:17; 2Ptr. 1:16). Perayaan-perayaan liturgis dalam Lingkaran Natal tidaklah sebanyak dan serumit yang terjadi dalam Lingkaran Paska. Panjang masa Adven (𝘵𝘦𝘮𝘱𝘶𝘴 𝘢𝘥𝘷𝘦𝘯𝘵𝘶𝘴) bukan empat pekan (𝘸𝘦𝘦𝘬). Masa Adven ditetapkan ada empat hari Minggu (𝘚𝘶𝘯𝘥𝘢𝘺) dihitung mundur dari hari Natal (25 Desember) dengan hari Minggu terjauh disebut Minggu kesatu yang adalah awal masa Adven. Panjang masa Adven dapat saja hanya 22 hari jika hari Natal jatuh pada Senin.
Masa Adven mengandung dua gatra (𝘢𝘴𝘱𝘦𝘤𝘵𝘴): eskatologis dan historis. Eskatologis, umat bersiap diri dalam pengharapan akan kedatangan kembali Kristus (𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢). Gatra eskatologis mengisi tema Minggu kesatu dan kedua Adven. Historis, umat bersiap diri untuk mengenang menuju perayaan peristiwa kelahiran Yesus yang terjadi sekitar dua ribu tahun yang lalu. Gatra historis mengisi tema Minggu ketiga dan keempat Adven.
Saya sering mendengar alasan orang Kristen merayakan Natal di masa Adven. Kata mereka, Natal dihadirkan setiap hari di hati umat Kristen karena Yesus tidak lahir pada 25 Desember. Natal bisa dirayakan kapan saja, kata banyak banyak orang Kristen bilang begitu. Pendapat itu omong kosong. Saya belum pernah melihat orang kristen yang berpendapat seperti itu merayakan Natal pada Mei, Juni, Juli, Jupri, Jupronz.


PEMAHAMAN 
Alasan di atas tampaknya rasional, tetapi sesungguhnya menyesatkan. Mengapa? Iman Kristen tidak berpusat pada Natal. Tidak merayakan Natal tidak membatalkan iman Kristen. Jantung iman Kristen adalah Paska, Kebangkitan Kristus. Orang Kristen pergi beribadah setiap Minggu pada dasarnya merayakan Hari Paska, Hari Kebangkitan Kristus. Mengapa pada-pada akhirnya umat Kristen merayakan Natal? Agama tidak sekali jadi. Agama ber-evolusi. Peradaban berkembang, demikian juga kekristenan. Hari raya liturgi gereja dimula dan berpusat pada misteri Paska. Pada mulanya tidak ada susunan sistematis dan terencana untuk merayakan peristiwa-peristiwa Kristus. Secara evolusi gereja memberikan tanggapan atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Bapak-bapak gereja sejak abad II merapikan, membentuk, menyusun, dan merekayasa (to engineer) kisah teologinya sehingga menjadi bermakna, bertema, dan bercerita saling berurutan satu dengan lainnya. Hari raya liturgi merupakan drama sarat makna; suatu rekayasa gereja untuk memastori dan membina umat agar dapat lebih menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan. Kata kunci masa Adven adalah bersiap diri; bersiap diri untuk mengenang, bersiap diri untuk menuju perayaan, dan bersiap diri menantikan kedatangan kembali Kristus. Jadi, masa Adven bukanlah waktu untuk merayakan Natal. Merayakan Natal di masa Adven ibarat 𝘩𝘢𝘭𝘢𝘭𝘣𝘪𝘩𝘢𝘭𝘢𝘭 di bulan Ramadan. Umat diberi waktu merayakan Natal cukup panjang, dari 24 Desember 2025 selepas matahari terbenam sampai 11 Januari 2026 (Minggu Pembaptisan Yesus), masih bisa diperpanjang pada Minggu biasa sampai 15 February 2026 lah, sebelum Rabu abu, cukup fleksibel. Di sinilah kepentingan pemimpin umat dan umat  harus mengerti ilmu liturgi (liturgika atau liturgiologi). Kalau pemimpin umat dan umat tidak paham ilmu liturgi, maka mereka akan melakukan rasionalisasi jawaban seperti dalam pengantar di atas.
(09122025)(TUS)


Minggu, 07 Desember 2025

SUDUT PANDANG 𝗣𝗲𝗻𝗰𝗲𝗴𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗕𝗮𝗻𝗷𝗶𝗿 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗣𝗲𝗿𝘀𝗽𝗲𝗸𝘁𝗶𝗳 𝗜𝗹𝗺𝘂 𝗧𝗮𝗻𝗮𝗵𝘿𝙞 𝘽𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙈𝙖𝙣𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙏𝙚𝙤𝙡𝙤𝙜𝙞 𝙈𝙖𝙪 𝘽𝙚𝙧𝙥𝙚𝙧𝙖𝙣?

SUDUT PANDANG 𝗣𝗲𝗻𝗰𝗲𝗴𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗕𝗮𝗻𝗷𝗶𝗿 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗣𝗲𝗿𝘀𝗽𝗲𝗸𝘁𝗶𝗳 𝗜𝗹𝗺𝘂 𝗧𝗮𝗻𝗮𝗵
𝘿𝙞 𝘽𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙈𝙖𝙣𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙏𝙚𝙤𝙡𝙤𝙜𝙞 𝙈𝙖𝙪 𝘽𝙚𝙧𝙥𝙚𝙧𝙖𝙣?

Menyoal lingkungan hidup tentu tidak boleh melepaskan peranan lahan yang menjadi anasir utamanya. Lahan ditakrifkan sebagai hamparan darat yang merupakan paduan sejumlah sumberdaya alam dan budaya. Budaya di sini adalah aneka ragam jelmaan ekonomi, sosial, dan politik yang dilakukan oleh manusia. Pengertian lahan selalu bernasabah dengan keperluan dan kepentingan manusia. Makna suatu anasir lahan bagi kehidupan manusia dapat berubah sejalan dengan perubahan zaman. Zaman berubah berpautan dengan perubahan aspirasi sosial, perspektif ekonomi, suasana politik, dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tanah adalah anasir utama pembentuk lahan. Dengan kata lain perusakan tanah mengakibatkan perusakan lahan. Perusakan lahan akan mengganggu keseimbangan lingkungan dan ekosistem secara makro. Tanah merupakan hasil alihrupa bahan mineral dan organik yang berlangsung di muka daratan bumi di bawah pengaruh faktor-faktor lingkungan yang bekerja selama waktu yang sangat panjang dan bermaujud sebagai suatu tubuh dengan organisasi dan morfologi tertakrifkan. Tanah juga merupakan satu sistem bumi, yang bersama dengan sistem bumi lainnya menjadi inti fungsi, perubahan, dan kemantapan ekosistem atau sistem ekologi.  

Pada dasarnya tanah merupakan tubuh alam. Namun demikian banyak tanah yang memerlihatkan tanda-tanda pengaruh antropogen. Contoh,  struktur tanah berubah karena beban lalu lintas, susunan kimia tanah berubah karena pemupukan dan irigasi, irigasi juga mengubah regim lengas tanah (𝘴𝘰𝘪𝘭 𝘮𝘰𝘪𝘴𝘵𝘶𝘳𝘦 𝘳𝘦𝘨𝘪𝘮𝘦), dan morfologi tanah mengalami turbasi karena pengolahan tanah. 

Untuk keterlanjutan perikehidupan dan menjamin kesejahteraannya manusia tidak mungkin mengabaikan upaya mencegah pelunturan berbagai fungsi tanah. Tanah merupakan anasir utama lingkungan hidup yang secara mutlak harus dilindungi atau dihindarkan dari dampak yang merugikan. Kenyataannya dalam wacana lingkungan hidup tanah hanya dibicarakan secara sangat terbatas. Hal ini dapat dimengerti karena proses kerusakan tanah berjalan begitu lambat sehingga hampir tidak tercerapi oleh indera manusia. 

Dari perspektif ilmu tanah tanah merupakan ekosistem yang beraneka pada skala lokal dan sumberdaya yang sangat heterogen dari sisi kimia, fisika, dan hayati. Berbeda dari ini air merupakan ujud (𝘦𝘯𝘵𝘪𝘵𝘺) berskala regional-global sehingga secara nisbi seragam dan homogen dalam banyak sifat. Udara merupakan sistem global yang tidak tampak dan berada dalam keadaan tercampur baik searah permukaan bumi, meskipun bersusunan berlapis-lapis pada skala antariksa. Dengan demikian cuplikan air dan udara dari berbagai tempat di bumi akan sangat mirip dalam banyak sifat. 

Sebaliknya cuplikan dan profil tanah dari tempat-tempat yang berdekatan pun akan sangat berbeda dalam banyak sisi. Pengetahuan tentang peranan tanah di berbagai lahan adalah pokok bagi pemahaman daur unsur dan aliran energi di dalam ekosistem lokal, regional, dan global.


Orang yakin akan kepentingan besar menjaga mutu air dan udara sebagai syarat pokok dalam mengelola lingkungan bagi keterlanjutan kehidupan manusia yang sejahtera, layak, dan sehat. Keyakinan ini tercermin pada penerbitan sejumlah besar perundangan yang mengatur ketat penggunaan dan pengelolaan sumberdaya air dan udara. Berbeda dengan ini tidak satu pun peraturan atau undang-undang yang mengatur penggunaan dan pengelolaan sumberdaya tanah berpautan dengan lingkungan. Sebagai contoh, pembukaan hutan dengan pembakaran lahan menghasilkan CO2 yang berterbangan ke atmosfer, pengeringan lahan gambut yang mendorong oksidasi bahan organik, pencetakan sawah secara ekstensif yang menghasilkan banyak metan tak kasat mata membahayakan kesehatan ozon.
 
Dari sisi pandang lingkungan tanah merupakan sistem pendukung utama kehidupan manusia. Pernyataan ini dapat dibenarkan dengan bukti-bukti berikut ini: 

1️⃣ Tanah merupakan penentu utama kemaujudan (𝘦𝘹𝘪𝘴𝘵𝘦𝘯𝘴𝘦) ekosistem teristrik karena berlaku sebagai sumber, pengalihrupaan dan penyedia hara tumbuhan, serta sebagai penyedia air bagi tumbuhan yang dialihrupakannya dari air atmosfer. Dengan demikian tanah menjadi penentu kemampuan lahan dalam produksi biomassa berguna.

2️⃣ Tanah merupakan suatu pabrik mini pendaurulang sisa-sisa tumbuhan dan hewan. Jumlah pabrik mini itu hampir tanpa batas sehingga kemampuan tanah mendaurulang sisa-sisa organik juga hampir tanpa batas. Dengan demikian tanah menjadi pelaksana alamiah anggitan (𝘤𝘰𝘯𝘤𝘦𝘱𝘵) swasembada bahan dan energi berkenaan dengan pemantapan sistem lingkungan hidup.

3️⃣ Tanah berkemampuan membersihkan limbah dari bahan atau zat pencemar yang dikandungnya dengan cara menyaring, menjerap (𝘢𝘥𝘴𝘰𝘳𝘣), atau mengurai. Dengan demikian tanah berkesanggupan bertindak sebagai pelaku sanitasi lingkungan hidup. [Bedakan antara menyerap = 𝘢𝘣𝘴𝘰𝘳𝘣 dan menjerap = 𝘢𝘥𝘴𝘰𝘳𝘣]

4️⃣ Tanah merupakan mata rantai kunci dan sistem penyangga dalam daur hidrologi bumi. Dengan demikian tanah berperan besar dalam penyediaan dan pengendalian air.

5️⃣ Tanah berpengaruh atas pertukaran bahang (𝘩𝘦𝘢𝘵) pancaran dan bahang terasakan, serta atas albedo permukaan lahan. Dengan kata lain tanah mempengaruhi neraca energi permukaan lahan.

6️⃣ Tanah menjadi pelaku daur biogeokimia, baik langsung maupun tidak langsung, sebagai sumber dan pencekal gas rumahkaca (CO2, CH4, dan NO2) yang lewat pemanasan global menimbulkan sindrom perubahan lingkungan global.


𝗗𝗮𝗲𝗿𝗮𝗵 𝗔𝗹𝗶𝗿𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗻𝗴𝗮𝗶 (DAS) atau 𝘸𝘢𝘵𝘦𝘳𝘴𝘩𝘦𝘥 merupakan sistem ekologi yang rumit. Ada begitu banyak anasir pembentuk DAS, yang pada dasarnya anasir-anasir itu juga merupakan suatu sistem. Lahan adalah anasir utama DAS. Tanah adalah anasir utama pembentuk lahan. Tanah sendiri adalah sistem. Di dalam tanah juga ada sistem-sistem lain yang bekerja seperti ditunjukkan pada nomor 4 di atas: 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘴𝘪𝘴𝘵𝘦𝘮 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘥𝘢𝘶𝘳 𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘳𝘰𝘭𝘰𝘨𝘪.

Hidrologi DAS secara sederhana dipahami sebagai sistem tata air di DAS; ada masukan, tersimpan, dan keluaran. Pergerakannya berulang sehingga disebut daur hidrologi. Jumlah air dalam daur ulang itu relatif sama dari tahun ke tahun. Demikian juga daur hidrologi di daerah bencana di Sumatera.

Dengan ilmu tanah berkolaborasi dengan disiplin ilmu lainnya secara teknis suatu daur hidrologi dapat dikendalikan. Debit air yang diharapkan sepanjang tahun dapat direncanakan. 𝘒𝘰𝘬 bisa?

Dalam kehidupan normal DAS air yang tersimpan dari curah hujan (CH) karena pengaruh besar tegakan hutan. Penjelasan sederhananya begini: Kecepatan tinggi air yang jatuh dari atas atmosfer tertahan lajunya oleh tajuk pohon. Air jatuh dengan kecepatan lambat sehingga memampukan tanah menyerap air lebih banyak. Air hujan pun tidak langsung mengenai muka tanah karena tanah tertutup oleh seresah hutan. Tanpa tajuk pohon air langsung menghantam tanah dan bagian terbesar air mengalir limpas (𝘳𝘶𝘯-𝘰𝘧𝘧) dan menggerus muka tanah ke segala arah dan ke sungai bukan meresap ke tanah. Anda dapat membayangkan berteduh di bawah pohon rindang dibanding di bawah pohon kelapa sawit.

Perubahan tegakan hutan tentu saja mengubah kemampuan tanah dalam menyangga daur hidrologi. Perubahan itu dapat berupa peralihan hutan menjadi permukiman, perkebunan, persawahan, pertambangan, dlsb. Apakah peralihan itu harus dilarang? Tidak hitam-putih. Apabila memang perlu peralihan itu untuk mendapat maslahat yang lebih besar, mengapa tidak? Di sini peralihan itu harus dikompensasi. Ilmu tanah dapat mengaji ini. Caranya? Dengan analisis sistem. 

Di Indonesia informasi cuaca tercatatkan bertahun-tahun. Ada data CH, suhu, evaporasi, panjang penyinaran matahari, dlsb. Data klasifikasi tanah juga ada. Lalu dibuatlah pengimakan (𝘴𝘪𝘮𝘶𝘭𝘢𝘵𝘪𝘰𝘯) dengan pengacuan (𝘮𝘰𝘥𝘦𝘭𝘭𝘪𝘯𝘨) matematika. Peralihan hutan menjadi pertambangan, sebagai misal, harus dikompensasi dengan menambah sistem penyangga daur hidrologi. Kompensasi dapat berupa penerapan biologi dengan menambah kerapatan tegakan hutan di sekitar pertambangan, dapat pula penerapan mekanis dengan pembuatan infrastruktur pengendalian laju 𝘳𝘶𝘯-𝘰𝘧𝘧. Pada dasarnya bagaimana membuat debit air DAS relatif terkendali dan mencegah limpahan air yang luar biasa besar seperti banjir bandang berlakangan ini.

Secara teknis hal itu dapat dilakukan. Orang bule bilang: 𝘐𝘵’𝘴 𝘮𝘢𝘯𝘢𝘨𝘦𝘢𝘣𝘭𝘦. Jika begitu, mengapa bisa terjadi bencana banjir?

Penghampiran analisis sistem (𝘴𝘺𝘴𝘵𝘦𝘮 𝘢𝘯𝘢𝘭𝘺𝘴𝘪𝘴 𝘢𝘱𝘱𝘳𝘰𝘢𝘤𝘩) di atas sebenarnya sudah diperkenalkan pada awal 1990. Pada jenjang mahasiswa S1 sangat bolehjadi saya yang pertama mengajukan maslahat wacana ini lewat mata kuliah 𝘚𝘦𝘮𝘪𝘯𝘢𝘳 dengan dosen pembimbing Prof. Tejoyuwono Notohadiprawiro. Saya diberi nilai A oleh beliau yang dikenal sebagai dosen 𝘬𝘪𝘭𝘭𝘦𝘳. Apakah karena penjelasan teknis saya mantap? Bukan! Saya diberi nilai A, karena dalam penutup saya mengurai bahwa wacana ini sulit diterapkan di Indonesia lantaran 𝗳𝗮𝗸𝘁𝗼𝗿 𝗽𝗼𝗹𝗶𝘁𝗶𝗸.

Seperti yang saya katakan di atas bahwa aktivitas manusia berperan penting dalam peralihan fungsi tanah. Di sinilah apabila teologi mau turut aktif berperan dalam pencegahan bencana. Bencana banjir pada dasarnya merupakan akibat utama para pemegang kuasa politik dan uang tak bermoral. Bagaimana mau menghitung dan menerapkan kompensasi agar daur hidrologi seimbang apabila pembuat kebijakan dan pemegang uang tak bermoral?

𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗶𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗣𝗲𝗻𝗰𝗲𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗮𝘄𝗮𝗵

Kemarin saya menyinggung pencetakan sawah secara ekstensif akan menimbulkan bahaya pelepasan gas metan yang merusak kesehatan ozon. Bagaimana penjelasannya?

Metan (CH4) bersama CO2 dan NO2 masuk ke golongan gas rumahkaca. Namun, gas metan sangat kuat, 28 – 34 kali lebih kuat daripada CO₂ dalam memerangkap panas (20 – 100 tahun jangka waktu).

Mengapa sawah menghasilkan gas metan?

Sawah selalu tergenang sehingga kondisi menjadi anaerob. Ketika tanah digenangi air, oksigen tidak dapat masuk ke dalam tanah. Akibatnya mikrobia yang hidup di dalam tanah beralih ke metabolisme anaerob.

Mikrobia anaerob menghasilkan metana. Dalam kondisi tanpa oksigen sekelompok mikrobia khusus yang disebut metanogen mengurai bahan organik di tanah seperti: sisa-sisa jerami, akar tanaman yang mati, bahan organik alami tanah. Proses penguraiannya menghasilkan CH₄ (metana) sebagai produk sampingan. Fenomena yang sama seperti gas yang muncul di rawa, karena kondisinya mirip.

Sawah sangat luas sehingga emisi akumulatif besar. Apabila pencetakan sawah dilakukan masif dan ekstensif, maka luas lahan yang tergenang meningkat, jumlah metanogen meningkat, total produksi CH₄ naik dahsyat. Pada skala nasional sawah menjadi satu dari sejumlah sumber gas metan terbesar pada sektor pertanian.

Beberapa hal yang dapat membuat emisi lebih tinggi:
▶️ Jerami dibenamkan (banyak bahan organik untuk diurai)
▶️ Air tergenang tanpa jeda (tanpa fase oksigen, metanogen berkembang terus)
▶️ Pemupukan tertentu (misal urea berlebihan)
▶️ Jenis tanah kaya bahan organik

Pada zaman Orba Indonesia sudah mengalami tragedi pencetakan sawah sejuta hektar dari lahan gambut di Kalimantan. Projek ini pada akhirnya menjadi bencana. Prof. Tejoyuwono yang kala itu menjadi konsultan utama untuk pemulihan mengatakan bahwa dibutuhkan waktu sedikitnya 100 tahun untuk mengembalikan status lahan sampai nilai marginal, dan itu pun pemulihan lahan gambut hanya memperbaiki yang tersisa, tidak mengembalikan volume yang sudah lenyap.

Mengapa pencetakan sawah sejuta hektar dari lahan gambut itu menjadi tragedi?

Gambut terbentuk dari bahan organik yang menumpuk ribuan tahun dalam kondisi jenuh air sehingga tidak teroksidasi. Ketika dikeringkan, oksigen masuk ke pori-pori tanah, mikrobia menguraikan bahan organik. Dalam proses ini ia melepaskan CO₂ dalam jumlah besar.

gambut → kering → teroksidasi → habis menjadi CO₂

Indonesia menanggung banyak emisi karbon dunia dari proses ini.

Gambut yang mengering menjadi menyusut, memadat, hilang volumenya. Dampaknya
permukaan tanah turun 2–5 cm per tahun (bahkan lebih pada awalnya), daerah menjadi lebih rendah daripada permukaan air, rawan banjir, dan sulit dikembalikan. Ini berarti gambut “hilang” secara fisikal, bukan hanya kimiawi.

Gambut kering menjadi mudah terbakar, merembet ke bawah (𝘨𝘳𝘰𝘶𝘯𝘥 𝘧𝘪𝘳𝘦), dan sulit dipadamkan. Kebakaran gambut mengakibatkan kabut asap lintas negara, kerusakan ekosistem besar, pelepasan CO₂, CO, PM2.5, dan toksin lainnya.

Gambut basah dapat menyimpan air seperti spons, tetapi saat ia dikeringkan pori-porinya rusak. Kapasitas menyimpan air hilang: mudah terbakar, mudah banjir.

Dari tragedi gambut ini sebenarnya Pemerintah punya cermin besar untuk berkaca diri.

𝗧𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗧𝗮𝗻𝗮𝗵 (𝗹𝗮𝗴𝗶)

Menyoal bencana banjir ada beberapa hal yang mendasar kerap dicerap keliru oleh banyak orang termasuk “pakar lingkungan”.

𝗧𝗮𝗻𝗮𝗵 𝗱𝗮𝗻 𝗮𝗸𝗮𝗿 𝗽𝗼𝗵𝗼𝗻
Dalam pandangan umum akar vegetasi atau tegakan atau pepohohan hutan menahan tanah. Tentu maksudnya menahan tanah untuk tetap stabil, tidak bergerak. Dari perspektif ilmu tanah justru akar pohon yang berpegangan pada tanah.

𝗟𝗼𝗻𝗴𝘀𝗼𝗿
Perbukitan gundul longsor. Orang lalu berpandangan bahwa perbukitan gundul tidak ada akar pohon yang menahan tanah. Longsor. Dalam kenyataan ada banyak kejadian longsor di hutan belantara.

Longsor dalam bahasa Inggris 𝘭𝘢𝘯𝘥𝘴𝘭𝘪𝘥𝘦, lahan tergelincir. Sama seperti orang tergelincir karena landasan licin. Lapisan tanah di bagian dalam ada yang disebut dengan lapisan kedap air. Air hujan yang masuk ke tanah mentok di lapisan kedap air ini. Ini bergantung pada bentuk lahan. Jika miring, lapisan kedap air itu makin lama makin licin. Lama-lama tergelincirlah lahan. Apalagi jika tanah di atasnya ditumbuhi oleh pepohonan. Biomassa tegakan hutan sekitar 400 ton per hektar. Beban tanah makin berat. Lapisan kedap air itu makin licin. 

Mengapa perbukitan gundul longsor? Mungkin saja dengan kerapatan pohon lahan di bawahnya cepat lambat akan longsor. Jika bukit digunduli, memang dapat memercepat proses lahan tergelincir. Aktivitas manusia di atasnya mengubah struktur tanah. Ada yang menjadi masif, ada yang justru berongga. Orang tidak akan pernah dapat mengatur operator doser, ekskavator, truk pengangkut selama aktivitas penggundulan bukit. Aktivitas mereka yang merusak struktur tanah dapat membuat perlokasi air hujan menjadi sangat lancar. Lapisan tanah kedap air cepat jenuh dan air selalu mencari tempat yang lebih rendah. Pergerakan air ini cepat memicu lahan tergelincir, longsor.

Di sinilah para pendeta yang sudah dibekali ilmu teologi terus-menerus menyuarakan penegakan etika Kristen. Tak usah muluk-muluk kepada Pemerintah secara umum. Lakukanlah terlebih dahulu kepada warga jemaat yang memegang kekuasaan politik, yang pejabat pemerintah dan punya uang, untuk tidak serakah. Kristen tidak melarang orang menjadi kaya asalkan tidak serakah. Tentu suara pendeta itu akan mudah menancap ke benak warga jemaat apabila pendeta itu juga menjunjung etika, memiliki moral. 

 (08122025)(TUS)

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 MATIUS 5 :13-20, [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗩 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗘𝗽𝗶𝗳𝗮𝗻𝗶, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔]𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗶𝘀𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗴𝗮𝗿𝗮𝗺 𝗱𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗱𝘂𝗻𝗶𝗮

Sudut   𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 MATIUS 5 :13-20,  [ 𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗩 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗘𝗽𝗶𝗳𝗮𝗻𝗶, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] 𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗶𝘀𝘂𝗿𝘂...