SUDUT PANDANG 𝗣𝗲𝗻𝗰𝗲𝗴𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗕𝗮𝗻𝗷𝗶𝗿 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗣𝗲𝗿𝘀𝗽𝗲𝗸𝘁𝗶𝗳 𝗜𝗹𝗺𝘂 𝗧𝗮𝗻𝗮𝗵
𝘿𝙞 𝘽𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙈𝙖𝙣𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙏𝙚𝙤𝙡𝙤𝙜𝙞 𝙈𝙖𝙪 𝘽𝙚𝙧𝙥𝙚𝙧𝙖𝙣?
Menyoal lingkungan hidup tentu tidak boleh melepaskan peranan lahan yang menjadi anasir utamanya. Lahan ditakrifkan sebagai hamparan darat yang merupakan paduan sejumlah sumberdaya alam dan budaya. Budaya di sini adalah aneka ragam jelmaan ekonomi, sosial, dan politik yang dilakukan oleh manusia. Pengertian lahan selalu bernasabah dengan keperluan dan kepentingan manusia. Makna suatu anasir lahan bagi kehidupan manusia dapat berubah sejalan dengan perubahan zaman. Zaman berubah berpautan dengan perubahan aspirasi sosial, perspektif ekonomi, suasana politik, dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Tanah adalah anasir utama pembentuk lahan. Dengan kata lain perusakan tanah mengakibatkan perusakan lahan. Perusakan lahan akan mengganggu keseimbangan lingkungan dan ekosistem secara makro. Tanah merupakan hasil alihrupa bahan mineral dan organik yang berlangsung di muka daratan bumi di bawah pengaruh faktor-faktor lingkungan yang bekerja selama waktu yang sangat panjang dan bermaujud sebagai suatu tubuh dengan organisasi dan morfologi tertakrifkan. Tanah juga merupakan satu sistem bumi, yang bersama dengan sistem bumi lainnya menjadi inti fungsi, perubahan, dan kemantapan ekosistem atau sistem ekologi.
Pada dasarnya tanah merupakan tubuh alam. Namun demikian banyak tanah yang memerlihatkan tanda-tanda pengaruh antropogen. Contoh, struktur tanah berubah karena beban lalu lintas, susunan kimia tanah berubah karena pemupukan dan irigasi, irigasi juga mengubah regim lengas tanah (𝘴𝘰𝘪𝘭 𝘮𝘰𝘪𝘴𝘵𝘶𝘳𝘦 𝘳𝘦𝘨𝘪𝘮𝘦), dan morfologi tanah mengalami turbasi karena pengolahan tanah.
Untuk keterlanjutan perikehidupan dan menjamin kesejahteraannya manusia tidak mungkin mengabaikan upaya mencegah pelunturan berbagai fungsi tanah. Tanah merupakan anasir utama lingkungan hidup yang secara mutlak harus dilindungi atau dihindarkan dari dampak yang merugikan. Kenyataannya dalam wacana lingkungan hidup tanah hanya dibicarakan secara sangat terbatas. Hal ini dapat dimengerti karena proses kerusakan tanah berjalan begitu lambat sehingga hampir tidak tercerapi oleh indera manusia.
Dari perspektif ilmu tanah tanah merupakan ekosistem yang beraneka pada skala lokal dan sumberdaya yang sangat heterogen dari sisi kimia, fisika, dan hayati. Berbeda dari ini air merupakan ujud (𝘦𝘯𝘵𝘪𝘵𝘺) berskala regional-global sehingga secara nisbi seragam dan homogen dalam banyak sifat. Udara merupakan sistem global yang tidak tampak dan berada dalam keadaan tercampur baik searah permukaan bumi, meskipun bersusunan berlapis-lapis pada skala antariksa. Dengan demikian cuplikan air dan udara dari berbagai tempat di bumi akan sangat mirip dalam banyak sifat.
Sebaliknya cuplikan dan profil tanah dari tempat-tempat yang berdekatan pun akan sangat berbeda dalam banyak sisi. Pengetahuan tentang peranan tanah di berbagai lahan adalah pokok bagi pemahaman daur unsur dan aliran energi di dalam ekosistem lokal, regional, dan global.
Orang yakin akan kepentingan besar menjaga mutu air dan udara sebagai syarat pokok dalam mengelola lingkungan bagi keterlanjutan kehidupan manusia yang sejahtera, layak, dan sehat. Keyakinan ini tercermin pada penerbitan sejumlah besar perundangan yang mengatur ketat penggunaan dan pengelolaan sumberdaya air dan udara. Berbeda dengan ini tidak satu pun peraturan atau undang-undang yang mengatur penggunaan dan pengelolaan sumberdaya tanah berpautan dengan lingkungan. Sebagai contoh, pembukaan hutan dengan pembakaran lahan menghasilkan CO2 yang berterbangan ke atmosfer, pengeringan lahan gambut yang mendorong oksidasi bahan organik, pencetakan sawah secara ekstensif yang menghasilkan banyak metan tak kasat mata membahayakan kesehatan ozon.
Dari sisi pandang lingkungan tanah merupakan sistem pendukung utama kehidupan manusia. Pernyataan ini dapat dibenarkan dengan bukti-bukti berikut ini:
1️⃣ Tanah merupakan penentu utama kemaujudan (𝘦𝘹𝘪𝘴𝘵𝘦𝘯𝘴𝘦) ekosistem teristrik karena berlaku sebagai sumber, pengalihrupaan dan penyedia hara tumbuhan, serta sebagai penyedia air bagi tumbuhan yang dialihrupakannya dari air atmosfer. Dengan demikian tanah menjadi penentu kemampuan lahan dalam produksi biomassa berguna.
2️⃣ Tanah merupakan suatu pabrik mini pendaurulang sisa-sisa tumbuhan dan hewan. Jumlah pabrik mini itu hampir tanpa batas sehingga kemampuan tanah mendaurulang sisa-sisa organik juga hampir tanpa batas. Dengan demikian tanah menjadi pelaksana alamiah anggitan (𝘤𝘰𝘯𝘤𝘦𝘱𝘵) swasembada bahan dan energi berkenaan dengan pemantapan sistem lingkungan hidup.
3️⃣ Tanah berkemampuan membersihkan limbah dari bahan atau zat pencemar yang dikandungnya dengan cara menyaring, menjerap (𝘢𝘥𝘴𝘰𝘳𝘣), atau mengurai. Dengan demikian tanah berkesanggupan bertindak sebagai pelaku sanitasi lingkungan hidup. [Bedakan antara menyerap = 𝘢𝘣𝘴𝘰𝘳𝘣 dan menjerap = 𝘢𝘥𝘴𝘰𝘳𝘣]
4️⃣ Tanah merupakan mata rantai kunci dan sistem penyangga dalam daur hidrologi bumi. Dengan demikian tanah berperan besar dalam penyediaan dan pengendalian air.
5️⃣ Tanah berpengaruh atas pertukaran bahang (𝘩𝘦𝘢𝘵) pancaran dan bahang terasakan, serta atas albedo permukaan lahan. Dengan kata lain tanah mempengaruhi neraca energi permukaan lahan.
6️⃣ Tanah menjadi pelaku daur biogeokimia, baik langsung maupun tidak langsung, sebagai sumber dan pencekal gas rumahkaca (CO2, CH4, dan NO2) yang lewat pemanasan global menimbulkan sindrom perubahan lingkungan global.
𝗗𝗮𝗲𝗿𝗮𝗵 𝗔𝗹𝗶𝗿𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗻𝗴𝗮𝗶 (DAS) atau 𝘸𝘢𝘵𝘦𝘳𝘴𝘩𝘦𝘥 merupakan sistem ekologi yang rumit. Ada begitu banyak anasir pembentuk DAS, yang pada dasarnya anasir-anasir itu juga merupakan suatu sistem. Lahan adalah anasir utama DAS. Tanah adalah anasir utama pembentuk lahan. Tanah sendiri adalah sistem. Di dalam tanah juga ada sistem-sistem lain yang bekerja seperti ditunjukkan pada nomor 4 di atas: 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘴𝘪𝘴𝘵𝘦𝘮 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘥𝘢𝘶𝘳 𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘳𝘰𝘭𝘰𝘨𝘪.
Hidrologi DAS secara sederhana dipahami sebagai sistem tata air di DAS; ada masukan, tersimpan, dan keluaran. Pergerakannya berulang sehingga disebut daur hidrologi. Jumlah air dalam daur ulang itu relatif sama dari tahun ke tahun. Demikian juga daur hidrologi di daerah bencana di Sumatera.
Dengan ilmu tanah berkolaborasi dengan disiplin ilmu lainnya secara teknis suatu daur hidrologi dapat dikendalikan. Debit air yang diharapkan sepanjang tahun dapat direncanakan. 𝘒𝘰𝘬 bisa?
Dalam kehidupan normal DAS air yang tersimpan dari curah hujan (CH) karena pengaruh besar tegakan hutan. Penjelasan sederhananya begini: Kecepatan tinggi air yang jatuh dari atas atmosfer tertahan lajunya oleh tajuk pohon. Air jatuh dengan kecepatan lambat sehingga memampukan tanah menyerap air lebih banyak. Air hujan pun tidak langsung mengenai muka tanah karena tanah tertutup oleh seresah hutan. Tanpa tajuk pohon air langsung menghantam tanah dan bagian terbesar air mengalir limpas (𝘳𝘶𝘯-𝘰𝘧𝘧) dan menggerus muka tanah ke segala arah dan ke sungai bukan meresap ke tanah. Anda dapat membayangkan berteduh di bawah pohon rindang dibanding di bawah pohon kelapa sawit.
Perubahan tegakan hutan tentu saja mengubah kemampuan tanah dalam menyangga daur hidrologi. Perubahan itu dapat berupa peralihan hutan menjadi permukiman, perkebunan, persawahan, pertambangan, dlsb. Apakah peralihan itu harus dilarang? Tidak hitam-putih. Apabila memang perlu peralihan itu untuk mendapat maslahat yang lebih besar, mengapa tidak? Di sini peralihan itu harus dikompensasi. Ilmu tanah dapat mengaji ini. Caranya? Dengan analisis sistem.
Di Indonesia informasi cuaca tercatatkan bertahun-tahun. Ada data CH, suhu, evaporasi, panjang penyinaran matahari, dlsb. Data klasifikasi tanah juga ada. Lalu dibuatlah pengimakan (𝘴𝘪𝘮𝘶𝘭𝘢𝘵𝘪𝘰𝘯) dengan pengacuan (𝘮𝘰𝘥𝘦𝘭𝘭𝘪𝘯𝘨) matematika. Peralihan hutan menjadi pertambangan, sebagai misal, harus dikompensasi dengan menambah sistem penyangga daur hidrologi. Kompensasi dapat berupa penerapan biologi dengan menambah kerapatan tegakan hutan di sekitar pertambangan, dapat pula penerapan mekanis dengan pembuatan infrastruktur pengendalian laju 𝘳𝘶𝘯-𝘰𝘧𝘧. Pada dasarnya bagaimana membuat debit air DAS relatif terkendali dan mencegah limpahan air yang luar biasa besar seperti banjir bandang berlakangan ini.
Secara teknis hal itu dapat dilakukan. Orang bule bilang: 𝘐𝘵’𝘴 𝘮𝘢𝘯𝘢𝘨𝘦𝘢𝘣𝘭𝘦. Jika begitu, mengapa bisa terjadi bencana banjir?
Penghampiran analisis sistem (𝘴𝘺𝘴𝘵𝘦𝘮 𝘢𝘯𝘢𝘭𝘺𝘴𝘪𝘴 𝘢𝘱𝘱𝘳𝘰𝘢𝘤𝘩) di atas sebenarnya sudah diperkenalkan pada awal 1990. Pada jenjang mahasiswa S1 sangat bolehjadi saya yang pertama mengajukan maslahat wacana ini lewat mata kuliah 𝘚𝘦𝘮𝘪𝘯𝘢𝘳 dengan dosen pembimbing Prof. Tejoyuwono Notohadiprawiro. Saya diberi nilai A oleh beliau yang dikenal sebagai dosen 𝘬𝘪𝘭𝘭𝘦𝘳. Apakah karena penjelasan teknis saya mantap? Bukan! Saya diberi nilai A, karena dalam penutup saya mengurai bahwa wacana ini sulit diterapkan di Indonesia lantaran 𝗳𝗮𝗸𝘁𝗼𝗿 𝗽𝗼𝗹𝗶𝘁𝗶𝗸.
Seperti yang saya katakan di atas bahwa aktivitas manusia berperan penting dalam peralihan fungsi tanah. Di sinilah apabila teologi mau turut aktif berperan dalam pencegahan bencana. Bencana banjir pada dasarnya merupakan akibat utama para pemegang kuasa politik dan uang tak bermoral. Bagaimana mau menghitung dan menerapkan kompensasi agar daur hidrologi seimbang apabila pembuat kebijakan dan pemegang uang tak bermoral?
𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗶𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗣𝗲𝗻𝗰𝗲𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗮𝘄𝗮𝗵
Kemarin saya menyinggung pencetakan sawah secara ekstensif akan menimbulkan bahaya pelepasan gas metan yang merusak kesehatan ozon. Bagaimana penjelasannya?
Metan (CH4) bersama CO2 dan NO2 masuk ke golongan gas rumahkaca. Namun, gas metan sangat kuat, 28 – 34 kali lebih kuat daripada CO₂ dalam memerangkap panas (20 – 100 tahun jangka waktu).
Mengapa sawah menghasilkan gas metan?
Sawah selalu tergenang sehingga kondisi menjadi anaerob. Ketika tanah digenangi air, oksigen tidak dapat masuk ke dalam tanah. Akibatnya mikrobia yang hidup di dalam tanah beralih ke metabolisme anaerob.
Mikrobia anaerob menghasilkan metana. Dalam kondisi tanpa oksigen sekelompok mikrobia khusus yang disebut metanogen mengurai bahan organik di tanah seperti: sisa-sisa jerami, akar tanaman yang mati, bahan organik alami tanah. Proses penguraiannya menghasilkan CH₄ (metana) sebagai produk sampingan. Fenomena yang sama seperti gas yang muncul di rawa, karena kondisinya mirip.
Sawah sangat luas sehingga emisi akumulatif besar. Apabila pencetakan sawah dilakukan masif dan ekstensif, maka luas lahan yang tergenang meningkat, jumlah metanogen meningkat, total produksi CH₄ naik dahsyat. Pada skala nasional sawah menjadi satu dari sejumlah sumber gas metan terbesar pada sektor pertanian.
Beberapa hal yang dapat membuat emisi lebih tinggi:
▶️ Jerami dibenamkan (banyak bahan organik untuk diurai)
▶️ Air tergenang tanpa jeda (tanpa fase oksigen, metanogen berkembang terus)
▶️ Pemupukan tertentu (misal urea berlebihan)
▶️ Jenis tanah kaya bahan organik
Pada zaman Orba Indonesia sudah mengalami tragedi pencetakan sawah sejuta hektar dari lahan gambut di Kalimantan. Projek ini pada akhirnya menjadi bencana. Prof. Tejoyuwono yang kala itu menjadi konsultan utama untuk pemulihan mengatakan bahwa dibutuhkan waktu sedikitnya 100 tahun untuk mengembalikan status lahan sampai nilai marginal, dan itu pun pemulihan lahan gambut hanya memperbaiki yang tersisa, tidak mengembalikan volume yang sudah lenyap.
Mengapa pencetakan sawah sejuta hektar dari lahan gambut itu menjadi tragedi?
Gambut terbentuk dari bahan organik yang menumpuk ribuan tahun dalam kondisi jenuh air sehingga tidak teroksidasi. Ketika dikeringkan, oksigen masuk ke pori-pori tanah, mikrobia menguraikan bahan organik. Dalam proses ini ia melepaskan CO₂ dalam jumlah besar.
gambut → kering → teroksidasi → habis menjadi CO₂
Indonesia menanggung banyak emisi karbon dunia dari proses ini.
Gambut yang mengering menjadi menyusut, memadat, hilang volumenya. Dampaknya
permukaan tanah turun 2–5 cm per tahun (bahkan lebih pada awalnya), daerah menjadi lebih rendah daripada permukaan air, rawan banjir, dan sulit dikembalikan. Ini berarti gambut “hilang” secara fisikal, bukan hanya kimiawi.
Gambut kering menjadi mudah terbakar, merembet ke bawah (𝘨𝘳𝘰𝘶𝘯𝘥 𝘧𝘪𝘳𝘦), dan sulit dipadamkan. Kebakaran gambut mengakibatkan kabut asap lintas negara, kerusakan ekosistem besar, pelepasan CO₂, CO, PM2.5, dan toksin lainnya.
Gambut basah dapat menyimpan air seperti spons, tetapi saat ia dikeringkan pori-porinya rusak. Kapasitas menyimpan air hilang: mudah terbakar, mudah banjir.
Dari tragedi gambut ini sebenarnya Pemerintah punya cermin besar untuk berkaca diri.
𝗧𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗧𝗮𝗻𝗮𝗵 (𝗹𝗮𝗴𝗶)
Menyoal bencana banjir ada beberapa hal yang mendasar kerap dicerap keliru oleh banyak orang termasuk “pakar lingkungan”.
𝗧𝗮𝗻𝗮𝗵 𝗱𝗮𝗻 𝗮𝗸𝗮𝗿 𝗽𝗼𝗵𝗼𝗻
Dalam pandangan umum akar vegetasi atau tegakan atau pepohohan hutan menahan tanah. Tentu maksudnya menahan tanah untuk tetap stabil, tidak bergerak. Dari perspektif ilmu tanah justru akar pohon yang berpegangan pada tanah.
𝗟𝗼𝗻𝗴𝘀𝗼𝗿
Perbukitan gundul longsor. Orang lalu berpandangan bahwa perbukitan gundul tidak ada akar pohon yang menahan tanah. Longsor. Dalam kenyataan ada banyak kejadian longsor di hutan belantara.
Longsor dalam bahasa Inggris 𝘭𝘢𝘯𝘥𝘴𝘭𝘪𝘥𝘦, lahan tergelincir. Sama seperti orang tergelincir karena landasan licin. Lapisan tanah di bagian dalam ada yang disebut dengan lapisan kedap air. Air hujan yang masuk ke tanah mentok di lapisan kedap air ini. Ini bergantung pada bentuk lahan. Jika miring, lapisan kedap air itu makin lama makin licin. Lama-lama tergelincirlah lahan. Apalagi jika tanah di atasnya ditumbuhi oleh pepohonan. Biomassa tegakan hutan sekitar 400 ton per hektar. Beban tanah makin berat. Lapisan kedap air itu makin licin.
Mengapa perbukitan gundul longsor? Mungkin saja dengan kerapatan pohon lahan di bawahnya cepat lambat akan longsor. Jika bukit digunduli, memang dapat memercepat proses lahan tergelincir. Aktivitas manusia di atasnya mengubah struktur tanah. Ada yang menjadi masif, ada yang justru berongga. Orang tidak akan pernah dapat mengatur operator doser, ekskavator, truk pengangkut selama aktivitas penggundulan bukit. Aktivitas mereka yang merusak struktur tanah dapat membuat perlokasi air hujan menjadi sangat lancar. Lapisan tanah kedap air cepat jenuh dan air selalu mencari tempat yang lebih rendah. Pergerakan air ini cepat memicu lahan tergelincir, longsor.
Di sinilah para pendeta yang sudah dibekali ilmu teologi terus-menerus menyuarakan penegakan etika Kristen. Tak usah muluk-muluk kepada Pemerintah secara umum. Lakukanlah terlebih dahulu kepada warga jemaat yang memegang kekuasaan politik, yang pejabat pemerintah dan punya uang, untuk tidak serakah. Kristen tidak melarang orang menjadi kaya asalkan tidak serakah. Tentu suara pendeta itu akan mudah menancap ke benak warga jemaat apabila pendeta itu juga menjunjung etika, memiliki moral.
(08122025)(TUS)