Sabtu, 31 Januari 2026

Kejahatan Onan dan Asal Usul Istilah Onani.

Kisah Onan tercatat dalam Kejadian 38. Setelah Er, kakaknya, mati karena kejahatannya di hadapan Tuhan, Onan menerima kewajiban pernikahan levirat: ia harus menghampiri Tamar, janda kakaknya, untuk memberikan keturunan bagi Er. Namun sejak awal Onan tahu, anak yang lahir bukan akan dianggap miliknya, melainkan milik kakaknya. Di sinilah masalah dimulai—bukan pada relasi suami-istri itu sendiri, melainkan pada sikap hati yang penuh perhitungan dan penolakan tanggung jawab.

Alkitab mencatat bahwa Onan sengaja menggagalkan tujuan pernikahan itu. Ia menikmati haknya sebagai suami, tetapi menolak kewajiban yang menyertainya. Ia mengambil kenikmatan, namun menolak konsekuensi; menerima keuntungan, tetapi menghindari tanggung jawab. 

Tindakan ini dilakukan berulang dan dengan sadar. Karena itulah perbuatannya dipandang jahat di mata Tuhan, bukan sekadar karena aspek fisiknya, melainkan karena unsur penipuan, egoisme, dan pembangkangan terhadap ketetapan ilahi serta keadilan bagi Tamar.

Dari kisah inilah kemudian muncul istilah “onani” dalam tradisi dan bahasa umum, yang merujuk pada tindakan seksual yang berpusat pada diri sendiri. Namun penting dipahami, Alkitab tidak sedang membahas praktik medis atau psikologis modern, melainkan menyoroti sikap hati Onan. 

Inti dosanya bukan semata tindakan biologis, tetapi motivasi yang salah: ia menggunakan tubuh orang lain untuk kepentingannya sendiri sambil merampas hak hidup dan masa depan yang seharusnya diberikan kepada Tamar.

Kisah Onan mengajarkan bahwa Tuhan menilai manusia secara utuh—tindakan lahiriah dan niat batin. Dosa sering kali tidak tampil sebagai kejahatan kasar, tetapi sebagai penolakan halus terhadap tanggung jawab, dibungkus dengan kenyamanan pribadi. 

Onan menjadi gambaran manusia yang ingin berkat tanpa komitmen, kenikmatan tanpa ketaatan, dan hak tanpa kewajiban.

Karena itu, kisah ini bukan sekadar asal-usul sebuah istilah, melainkan cermin rohani. Ia mengingatkan bahwa iman sejati menuntut integritas: keselarasan antara apa yang kita terima dan apa yang kita tanggung. Tuhan tidak berkenan pada hidup yang hanya mengambil, tetapi memuliakan mereka yang setia memikul tanggung jawab, sekalipun itu menuntut pengorbanan.

Kata Alkitab
Kejadian 38:9-10 
Tetapi Onan tahu, bahwa bukan ia yang empunya keturunannya nanti, sebab itu setiap kali ia menghampiri isteri kakaknya itu, ia membiarkan maninya terbuang, supaya ia jangan memberi keturunan kepada kakaknya. Tetapi yang dilakukannya itu adalah jahat di mata TUHAN, maka TUHAN membunuh dia juga.

Tuhan Yesus memberkati ๐Ÿ™

Senin, 26 Januari 2026

Sudut Pandang Matius 5:1-12 [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—œ๐—ฉ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—˜๐—ฝ๐—ถ๐—ณ๐—ฎ๐—ป๐—ถ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐—ฆ๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ, ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ

Sudut Pandang Matius 5:1-12 [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—œ๐—ฉ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—˜๐—ฝ๐—ถ๐—ณ๐—ฎ๐—ป๐—ถ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐—ฆ๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ, ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ

PENGANTAR
Minggu 01 Februari 2026, Penulis Injil Matius lebih suka menggambarkan Yesus sebagai Musa baru, selalu Yesus dipadankan bahkan dilebihkan dari Musa, apabila Musa menerima perintah (10) dari Allah di gunung Sinai, maka Yesus digambarkan memberikan perintah baru di gunung juga sehingga rasanya kurang tepat memberikan judul khotbah di bukit. Nanti, kita lihat dan telaah hal ini. Dalam Sudut ๐˜—๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ beberapa waktu yang lalu, kita dapat melihat bahwa pengarang Injil Matius mengusung teologi Keluaran atau ๐˜Œ๐˜น๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ด; Yesus adalah Musa baru. Kelahiran Yesus disejajarkan dengan kelahiran Musa, yang Firaun membunuhi anak-anak Ibrani. Dalam Kitab Keluaran Musa menerima Taurat di gunung. Dalam Injil Matius Yesus bukan menerima, tetapi lebih berkuasa daripada Musa dengan memberikan “Taurat” baru lewat pengajaran-Nya di gunung dalam apa yang disebut dengan ๐—ž๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ถ ๐—š๐˜‚๐—ป๐˜‚๐—ป๐—ด (Mat. 5-7). 
Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) membuat judul Matius pasal 5 -7 dengan ๐˜’๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜‰๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต. Judul ini kurang tepat.

๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ฒ๐—ฟ๐—ท๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ป ฮฟ̓́ฯฮฟฯ‚ 

Di sini LAI tidak panggah menerjemah แฝ„ฯฮฟฯ‚ (baca: oros). Dalam Matius 5:1 LAI menerjemah แฝ„ฯฮฟฯ‚ dengan ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต, sedang dalam Matius 5:14 dengan ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ. Judul pasal 5 – 7 diberi nama ๐˜’๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜‰๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต oleh LAI.

Matius 5:1 ๐˜’๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐™—๐™ช๐™ ๐™ž๐™ฉ … ” Penerjemahan แฝ„ฯฮฟฯ‚ menjadi ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ini menimbulkan persoalan besar karena mengaburkan teologi ๐˜Œ๐˜น๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ด Matius karena Matius hendak menyejajarkan Musa menerima Taurat di gunung dengan Yesus memberi “Taurat” di gunung. 

Mari kita bandingkan dengan beberapa Alkitab bahasa Inggris yang menerjemah แฝ„ฯฮฟฯ‚ dengan ๐™ข๐™ค๐™ช๐™ฃ๐™ฉ๐™–๐™ž๐™ฃ, bukan ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ญ.
NRSV:  ๐˜ž๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜‘๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ด๐˜ข๐˜ธ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ค๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ธ๐˜ฅ๐˜ด, ๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐™ข๐™ค๐™ช๐™ฃ๐™ฉ๐™–๐™ž๐™ฃ …
NIV: ๐˜•๐˜ฐ๐˜ธ ๐˜ธ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜‘๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ด๐˜ข๐˜ธ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ค๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ธ๐˜ฅ๐˜ด, ๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ข ๐™ข๐™ค๐™ช๐™ฃ๐™ฉ๐™–๐™ž๐™ฃ๐™จ๐™ž๐™™๐™š …
KJV: ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ต๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด, ๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฐ ๐˜ข ๐™ข๐™ค๐™ช๐™ฃ๐™ฉ๐™–๐™ž๐™ฃ …

Jadi, ๐—ท๐˜‚๐—ฑ๐˜‚๐—น ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐˜ untuk Matius pasal 5 -7 adalah ๐—ž๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ถ ๐—š๐˜‚๐—ป๐˜‚๐—ป๐—ด atau ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜š๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜”๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต.

๐—ฆ๐—ถ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฟ ๐—ž๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ถ ๐—š๐˜‚๐—ป๐˜‚๐—ป๐—ด?

Persis sebelum masuk ke Matius 5:1, teks yang mendahuluinya adalah Matius 4:24-25 (TB II LAI, 1997).
4:24 Lalu tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita berbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan setan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka. 
4:25 Orang banyak pun berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yordan.

Pendengar pengajaran Yesus dalam Khotbah di Gunung adalah orang-orang seperti disebut dalam Matius 4:24-25 dengan kalimat kunci ๐˜–๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต๐˜ช ๐˜‹๐˜ช๐˜ข. Teks ini kemudian disambung dengan Matius 5:1 ๐˜’๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐™ค๐™ง๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™—๐™–๐™ฃ๐™ฎ๐™–๐™  ๐™ž๐™ฉ๐™ช … Hal ini  dipertegas dalam penutup ๐—ž๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ถ ๐—š๐˜‚๐—ป๐˜‚๐—ป๐—ด dalam Matius 7:28-29:
7:28 Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ๐—ธ ๐—ถ๐˜๐˜‚ mendengar pengajaran-Nya,
7:29 sebab Ia mengajar ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.


PEMAHAMAN
Belum lama berselang ๐˜š๐˜ถ๐˜ด๐˜ต๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ฆ ๐˜‹๐˜ฆ๐˜ท๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต ๐˜š๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด ๐˜•๐˜ฆ๐˜ต๐˜ธ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฌ (SDSN) mengumumkan 10 besar negara paling berbahagia (Ref: ๐˜ž๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ฅ ๐˜๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ด ๐˜™๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ต 2022). Negara-negara dari Skandinavia merajai kelompok ini ditambah Israel dan Selandia Baru. Indonesia? Jauh api dari panggang. Ukuran bahagia yang diterapkan oleh SDSN: 
• GDP per kapita, 
• Angka harapan hidup sehat, 
• Dukungan sosial, 
• Kebebasan mengambil keputusan dalam hidup, 
• Kemurah hatian, dan 
• Cerapan terhadap korupsi. 

Bagaimana ukuran bahagia menurut Injil?

Hari ini adalah Minggu keempat sesudah Epifani. Bacaan secara ekumenis diambil dari Injil Matius 5:1-12 yang didahului dengan Mika 6:1-8, Mazmur 15, dan 1Korintus 1:18-31.

Perikop bacaan Injil Minggu ini diberi judul ๐˜œ๐˜ค๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข oleh LAI, yang merupakan bagian pertama dari ๐—ž๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ถ ๐—š๐˜‚๐—ป๐˜‚๐—ป๐—ด dalam Matius pasal 5 -7. LAI yang memberi judul cakupan tiga pasal itu dengan ๐˜’๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜‰๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต sebenarnya kurang tepat. Judul yang tepat adalah ๐—ž๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ถ ๐—š๐˜‚๐—ป๐˜‚๐—ป๐—ด. Para pendengar ๐—ž๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ถ ๐—š๐˜‚๐—ป๐˜‚๐—ป๐—ด adalah orang banyak (ribuan?) dengan merujuk Matius 4:24-25 dan 7:28-29.

Ucapan bahagia didahului dengan kata “Berbahagialah …” bukanlah syarat untuk berbahagia, melainkan orang itu sudah dalam keadaan dan situasi berbahagia. Kata awal berbahagialah adalah ucapan berkat. Lawannya adalah kutukan dengan kata awal celakalah (lih. Mat. 23:15-36).

๐Ÿญ. ๐— ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜‚๐˜€ ๐Ÿฑ:๐Ÿฏ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ถ๐˜€๐—ธ๐—ถ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ ๐—ต๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต, ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฝ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ž๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ฎ. (TB II)

Menurut para ahli ucapan bahagia versi Injil Lukas mendekati aslinya: ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ (Luk. 6:20, TB II). Yang dimaksud oleh Lukas tampaknya orang yang benar-benar miskin secara sosio-ekonomi. Tidak punya apa-apa.

Penulis Injil Matius meluaskan dan merohanikan miskin sebagai keadaan tidak berdaya sehingga bergantung pada Allah saja. Meskipun yang dimaksud adalah orang-orang yang tidak berdaya, dalam kenyataan orang-orang seperti itu adalah orang-orang miskin secara sosio-ekonomi. Mengapa mereka berbahagia? Kata Yesus, mereka yang punya Kerajaan Surga.

๐Ÿฎ. ๐— ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜‚๐˜€ ๐Ÿฑ:๐Ÿฐ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฑ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ฐ๐—ถ๐˜๐—ฎ, ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ๐—ต๐—ถ๐—ฏ๐˜‚๐—ฟ. (TB II)

Kata dukacita diterjemahkan dari ฯ€ฮตฮฝฮธฮฟแฟฆฮฝฯ„ฮตฯ‚ (baca: penthountes) sehingga lebih berpautan dengan kematian seseorang yang dikasihi atau kehilangan sesuatu yang disayangi. NRSV menerjemahkan ฯ€ฮตฮฝฮธฮฟแฟฆฮฝฯ„ฮตฯ‚ dengan ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฏ. 

Mengapa orang berdukacita itu berbahagia? Mereka akan dihibur. Dihibur oleh siapa? Oleh Allah. Ciri khas kata kerja pasif di Alkitab tanpa objek pelaku adalah Allah pelakunya. Latar belakang penghiburan ini tampaknya dari Yesaya 61:2.

๐Ÿฏ. ๐— ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜‚๐˜€ ๐Ÿฑ:๐Ÿฑ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—น๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ต ๐—น๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐˜, ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐—น๐—ถ๐—ธ๐—ถ ๐—ฏ๐˜‚๐—บ๐—ถ. (TB II)

Lemah lembut diterjemahkan dari ฯ€ฯฮฑฮตแฟ–ฯ‚ (baca: praeis), yang juga berarti rendah hati. NRSV menerjemahkan dengan ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฌ. Mengapa berbahagia? Mereka akan memiliki bumi.

Ucapan bahagia ketiga ini tampaknya dari Mazmur 37:10-11:
37:10 Karena sedikit waktu lagi, maka lenyaplah orang fasik; jika engkau memperhatikan tempatnya, maka ia sudah tidak ada lagi.
37:11 Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah.

Di sini rendah hati dikontrakan dengan fasik. Orang fasik seperti pejabat kristiani tidak layak memiliki lahan, negeri, bumi, apalagi kesejahteraan yang berlimpah-limpah, tapi merusak alam dg tambang tanpa tata kelola. Negara memang harus dikelola oleh orang lemah lembut, rendah hati.

๐Ÿฐ. ๐— ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜‚๐˜€ ๐Ÿฑ:๐Ÿฒ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—น๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ต๐—ฎ๐˜‚๐˜€ ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐—ต๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต, ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ๐—ฝ๐˜‚๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ๐—ป. (TB II)

Dalam TB 1974 LAI menerjermahkan ฮดฮนฮบฮฑฮนฮฟฯƒฯฮฝฮทฮฝ (baca: dikaiosynen) menjadi ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ yang secara lengkap ayatnya berbunyi: ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ถ๐˜ด ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ. LAI merevisinya penerjemahan ฮดฮนฮบฮฑฮนฮฟฯƒฯฮฝฮทฮฝ dalam TB II 1997 menjadi ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ.

Dalam Lukas 6:21a ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ. Penulis Injil Matius menambah dan merohanikan menjadi ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ถ๐˜ด ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ. Tampaknya metafora itu bernasabah dengan Matius 6:33: ๐˜›๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ-๐˜•๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ.

Apa itu Kerajaan Allah? Sulit ditakrifkan, tetapi bisa dilihat ciri-cirinya: mendatangkan kesejahteraan dan keadilan di masyarakat. Jadi, orang yang rindu mendatangkan kesejahteraan dan keadilan di masyarakat adalah orang-orang yang berbahagia karena akan dipuaskan oleh Allah.

๐Ÿฑ. ๐— ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜‚๐˜€ ๐Ÿฑ:๐Ÿณ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐—ป, ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ผ๐—น๐—ฒ๐—ต ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜€ ๐—ธ๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐—ป. (TB II)

Belas kasihan diterjemahkan dari แผฮปฮตฮฎฮผฮฟฮฝฮตฯ‚ (baca: eleฤ“mones) yang bermakna sikap suka mengampuni, berbelas kasih, berbelarasa atau ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ช๐˜ง๐˜ถ๐˜ญ, ๐˜ค๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ด๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ต๐˜ฆ. Di Injil Matius sikap suka mengampuni, berbelas kasih, berbelarasa adalah ajaran penting (Mat. 9:13 dan 12:7). Bahkan dalam Matius 23:23 ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜€ ๐—ธ๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—ต ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ฎ๐˜๐˜‚ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐˜๐—ถ๐—ด๐—ฎ ๐—ต๐—ฎ๐—น ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ถ๐—ป๐—ด dalam Hukum Taurat.

๐Ÿฒ. ๐— ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜‚๐˜€ ๐Ÿฑ:๐Ÿด ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜€๐˜‚๐—ฐ๐—ถ ๐—ต๐—ฎ๐˜๐—ถ๐—ป๐˜†๐—ฎ, ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐˜ ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต. (TB II)

Ucapan bahagia keenam ini tampaknya diinspirasi dari Mazmur 24:3-6.
24:3 "Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?"
24:4 "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu.
24:5 Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia.
24:6 Itulah angkatan orang-orang yang menanyakan Dia, yang mencari wajah-Mu, ya Allah Yakub.

Kata suci hatinya di Matius 5:8 sama dengan murni hatinya di Mazmur 24:4 karena dalam Septuaginta ditulis ฮบฮฑฮธฮฑฯฮฟแฝถ ฯ„แฟ‡ ฮบฮฑฯฮดฮฏแพณ (baca: katharoi te kardia) sama seperti di Injil Matius.

Orang yang suci hatinya adalah yang bersih tangannya, tidak menipu, dan tidak bersumpah palsu (Mzm 24:4), bukan seperti para pejabat kristiani busuk, yang merusak alam dengan tambang tanpa tata kelola. Seperti kata Matius 15:19 (TB II): ๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ญ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต, ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ป๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ด๐˜ถ, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ข๐˜ต. 

Orang yang suci hatinya akan ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, yang metafora ini dalam Alkitab BIMK diartikan ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ.

๐Ÿณ. ๐— ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜‚๐˜€ ๐Ÿฑ:๐Ÿต ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐˜„๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ถ, ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐˜‚๐˜ ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ธ-๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ธ ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต. (TB II)

Pembawa damai (๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ค๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด) atau ฮตแผฐฯฮทฮฝฮฟฯ€ฮฟฮนฮฟฮฏakan (baca: eirenopoioi) disebut anak-anak Allah. Anak-anak Allah merupakan metafora yang memerikan (๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ค๐˜ณ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฆ) kedekatan atau keeratan hubungan seperti antara anak dan bapanya.

๐Ÿด. ๐— ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜‚๐˜€ ๐Ÿฑ:๐Ÿญ๐Ÿฌ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ถ๐—ฎ๐—ป๐—ถ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐—ต๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต, ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฝ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ž๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ฎ. (TB II)

Tidak semua orang yang dianiaya berbahagia; hanya yang melakukan kehendak Allah yang berbahagia atau diberkati (๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ). Alasan mereka berbahagia sama dengan ucapan bahagia yang pertama. Orang yang dianiaya karena melakukan kehendak Allah dan orang yang miskin di hadapan Allah sama-sama pihak yang tak berdaya.

๐Ÿต. ๐— ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜‚๐˜€ ๐Ÿฑ:๐Ÿญ๐Ÿญ-๐Ÿญ๐Ÿฎ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ธ๐—ฎ๐—บ๐˜‚, ๐—ท๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—”๐—ธ๐˜‚ ๐—ธ๐—ฎ๐—บ๐˜‚ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฐ๐—ฒ๐—น๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ๐—ฎ๐—ป๐—ถ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—บ๐˜‚ ๐—ฑ๐—ถ๐—ณ๐—ถ๐˜๐—ป๐—ฎ๐—ต๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ท๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐˜. ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ฐ๐—ถ๐˜๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ด๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ถ๐—ฟ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต, ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐˜‚๐—ฝ๐—ฎ๐—ต๐—บ๐˜‚ ๐—ฏ๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฑ๐—ถ ๐˜€๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ฎ, ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฏ ๐—ฑ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐—ธ๐—ถ๐—ฎ๐—ป ๐—ท๐˜‚๐—ด๐—ฎ ๐˜๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ถ๐—ฎ๐—ป๐—ถ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—ป๐—ฎ๐—ฏ๐—ถ-๐—ป๐—ฎ๐—ฏ๐—ถ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—บ ๐—ธ๐—ฎ๐—บ๐˜‚. (TB II)

Kekristenan kerap berat sebelah menekankan teologi anugerah bahwa keselamatan manusia semata-mata anugerah Allah, bukan karena perbuatan baik. Padahal Injil Matius secara terang benderang berbicara mengenai pahala (๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฅ). Perbuatan baik diganjar berkat atau pahala (Mat. 6:1-16; 10:41-42; 19:28-29). Berbuat kebajikan bagi orang-orang tak berdaya sama saja berbuat untuk Yesus (Mat. 25:45). Injil Lukas pun mengajarkan hal yang sama (lih. Luk. 6:22-23).

Sesudah menelaah sembilan ucapan bahagia di atas, apakah gatra-gatra (๐˜ข๐˜ด๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ต๐˜ด) itu sejalan dengan ukuran bahagia SDSN? Sila menilai sendiri.

๐˜˜๐˜ถ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฆ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ: “๐˜—๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ค๐˜ช๐˜ญ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ค๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด, ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ธ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฆ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ญ๐˜ฆ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฑ๐˜บ.” Alexander Fleming

(27012026)(TUS)

Sabtu, 24 Januari 2026

Sudut Pandang memuridkan mencintai literasi dari Matius 4 :13-23

Sudut Pandang memuridkan mencintai literasi  dari Matius 4 :18-23

PENGANTAR
Minggu 25 Januari 2026,  sebagian bacaan Injil kita, Matius 4:18-23 (TB)
18 Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. 
19 Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia."
20 Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. 
21 Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka 
22 dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia. 
23 Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.
Terkhusus Minggu ini, kita merayakan Hari Literasi GKJ yang ke-3 dan Hari Ulang Tahun ke-74 Yayasan Taman Pustaka Kristen Indonesia. Dalam Sidang Sinode XXIX GKJ, 21-24 November 2023, ditetapkan Hari Literasi GKJ bertepatan dengan Hari Ulang Tahun
Yayasan Taman Pustaka Kristen Indonesia, YTPKI merupakan salah satu lembaga pelayanan dalam naungan Sinode GKJ yangmelayani di bidang literasi. Hal ini tertuang dalam Akta Sinode
XXIX GKJ, artikel 35. Melalui Hari Literasi GKJ ini, Gereja-gereja dalam lingkup Sinode GKJ pada khususnya diajak untuk menyadari
bahwa pelayanan literatur merupakan pelayanan yang penting, bukan hanya untuk pemeliharaan iman, namun juga dalam pemberitaan atau Pekabaran Injil. Kehidupan Gereja dalam melaksanakan tugas panggilannya juga tidak bisa lepas dari peran literatur pendukung. Literatur bisa menjadi cara atau sarana untuk bersaksi tentang Kristus dan karya kasih-Nya, sehingga melalui literatur banyak orang bisa “tertangkap” dalam terang 
kasih Kristus. Hidupnya dikuatkan, hatinya yang gelap diterangi, harapannya tumbuh kembali. Jadi mari maknai Hari Literasi GKJ saat ini dengan semangat untuk berkarya bersama-sama memenuhi panggilan Tuhan, ikut serta dalam Pemberitaan Injil di tengah dunia ini. Kita saling mendukung, melengkapi, memperhatikan dan peduli. Biarlah melalui seluruh karya yang kita lakukan baik secara pribadi maupun sebagai Gereja, juga termasuk karya 
pelayanan literatur GKJ, khususnya melalui Yayasan Taman Pustaka Kristen Indonesia, Injil – Kabar Baik itu semakin tersebar. Kehadiran kita di tengah dunia ini mampu memancarkan Kristus, Sang Terang.


PEMAHAMAN
Literasi adalah kemampuan untuk membaca, menulis, dan memahami informasi tertulis. Tapi, literasi bukan hanya tentang itu saja. Literasi juga mencakup kemampuan untuk menganalisis, menafsirkan, dan menggunakan informasi untuk membuat keputusan yang tepat.

Literasi dapat dibagi menjadi beberapa jenis, seperti:

- Literasi dasar (membaca, menulis, berhitung)
- Literasi informasi (mencari, mengevaluasi, dan menggunakan informasi)
- Literasi digital (menggunakan teknologi untuk mengakses dan memproses informasi)
- Literasi kritis (menganalisis dan menafsirkan informasi untuk membuat keputusan yang tepat)

Literasi sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, karena dapat membantu kita untuk:

- Membuat keputusan yang tepat
- Mengakses informasi yang akurat
- Berkomunikasi efektif
- Meningkatkan kemampuan belajar dan bekerja

Tuhan Yesus tidak mencari pengikut, sejak mula, kalau pengikut ..... artinya hanya ikut, ikut, ikutan, ikut-ikutan ....... tak ada perubahan status dan tak ada yang perlu diajarkan dari apa yang dipelajari, pengikut hanya tinggal tetap, hanya menjadi duplikat atau copy dari yang diikuti, hanya stay dan tak ada naik kelas, tak ada pertumbuhan karena hanya mengikut, tak ada pengorbanan, tak ada yang perlu ditinggalkan, tak ada kebiasaan lama yang harus ditinggalkan atau diperbaharui menjadi pembelajaran pada kebiasaan yang baru, terlebih  tak ada pertumbuhan. Berbeda dengan murid, Yesus mencari murid, ada hal yang harus dibayar oleh seorang murid, harus meninggalkan kebiasaan buruk, harus berkorban, karena harus belajar terus, harus terus menerus berkembang pengetahuannya, harus bertumbuh, murid hatinya mau diajar dan mau ditegur, sekarang mau jadi pengikut atau mau jadi murid. Ketika Yesus memilih para nelayan, bukan karena Yesus suka orang bodoh, tetapi Yesus menunjukan kuasa dan kebijaksanaan Yesus dalam memuridkan, dan keinginan para nelayan menjadi murid (Yohanes Calvin), tidak bisa tidak, pengetahuan menjadi titik penting dari pertumbuhan iman dan pemuridan, iman tidak akan meninggalkan daya nalar atau akal Budi, Paulus pun berpendapat demikian, bahwa pertumbuhan pengetahuan berimbang atau seiring sejalan dengan pertumbuhan iman. Pembaharuan akal budi adalah konsep yang penting dalam Alkitab, terutama dalam surat Paulus kepada warga Efesus dan Roma. Berikut beberapa ayat Alkitab yang relevan:

- Roma 12:2- "Janganlah kamu sama dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna."
- Efesus 4:23 - "Hendaklah kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu,"
- Kolose 3:10 - "dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Penciptanya."

Ayat-ayat ini menekankan pentingnya pembaharuan akal budi sebagai bagian dari proses perubahan spiritual yang dialami oleh orang Kristen. Pembaharuan akal budi melibatkan perubahan dalam cara berpikir, merasakan, dan bertindak, sehingga kita dapat lebih memahami dan mengikuti kehendak Allah.

Pembaharuan akal budi juga terkait dengan proses pemulihan citra Allah dalam diri kita, sehingga kita dapat menjadi lebih seperti Yesus dan hidup sesuai dengan kehendak-Nya. orang Jawa pun memiliki filosofi tentang pengetahuan, "ELING MARANG NGELMU SARAK DALIL, SINUNG KANUGRAHANING PANGERAN", Ingatlah akan pengetahuan dan norma kehidupan, maka diberkati kemurahan Tuhan. Pertumbuhan Pengetahuan itu terkait literasi, Selamat Hari Literasi.

(25012026)(TUS)

Jumat, 23 Januari 2026

Sudut Pandang Liturgi

Sudut Pandang ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ

PENGANTAR
Perjumpaan dramatik simbolik antara Allah dan umat. Dlm perjumpaan ada rasa yg tak terungkap lewat kata dan simbol,  ada dialog. Dialog ada kata ada simbol, yg pasti saling atau timbal balik dua arah. Ada protokol bakunya ada unsur bakunya. (walaupun bisa diubah tetapi tidak boleh sembarangan). Siapa yg tidak membolehkan ? Nah... ๐Ÿคญ .... tetapi bukan itu pertanyaan bakunya, apakah penyusunan liturgi menggunakan ilmu liturgi. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ฌ ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ? ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ? ๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ด ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ฌ ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜’๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ? ๐˜š๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ท๐˜ช๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฐ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต. Begitu kira-kira bunyi kalimat promosi dari suatu lembaga yang mendaku menawarkan pembinaan dan pelayanan musik gereja.

Musik gereja itu ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ฟ๐˜๐—ถ musik liturgi. Tentu saja musik gereja boleh dimainkan di berbagai tempat, bahkan dilombakan. Musik gereja dapat dipelajari pada sekolah-sekolah musik dan untuk itulah musik gereja dapat dipentaskan di berbagai panggung dan dilombakan. Para pemusik pun, bahkan penyanyinya, tidak harus beragama Kristen. Kalimat-kalimat promosi di atas secara tersirat menyampaikan bahwa lembaga tersebut tidak mengerti musik gereja. Ia tidak mengerti bahwa musik gereja berbeda dari musik liturgi.

Beberapa tahun lalu seorang yang mendaku ahli musik klasik mementaskan orkestra dengan menampilkan nyanyian-nyanyian GKI. Warga Gereja (dari Sinwil Jatim?) bereaksi cepat dengan membuat promosi atas konser itu.

Warga gereja acap cepat terpesona oleh pendapat orang yang mendaku musikus klasik tentang musik gerejawi. Dibilang saat ini musik di GKI tidak agung lagi, tidak menggairahkan lagi, dst.

Saya tidak pernah mengatakan bahwa musik di GKI sudah bagus. Yang hendak saya katakan di sini  apakah yang ditampilkan itu dapat menjadi musik liturgi?

Yang patut diingat adalah liturgi tetap dapat berjalan, tetap dapat dirayakan, meskipun tanpa kehadiran alat musik. Dari sini sangat jelas bahwa pemusik melayani liturgi dan harus tunduk kepada liturgi. Pemusik liturgi tanpa dibekali pengetahuan liturgi hanya akan mementingkan ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฆ mereka sendiri. Musik tidak boleh menenggelamkan para peraya liturgi bernyanyi.

Alat-alat musik seperti apa yang sesuai dengan liturgi?
๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐˜‚๐˜€๐—ถ๐—ธ ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ

Pada mulanya tidak ada musik khusus yang lahir dari rahim Gereja. Tradisi musikal Yahudi mengisi kegiatan berdoa bersama dalam Gereja perdana. Tidak ada musik khusus untuk kegiatan warga Gereja. Kata-kata yang diberi nada lalu menjadi nyanyian vokal sederhana mewarnai peribadatan Gereja. Itulah awal mula kelahiran musik liturgi. Belum digunakan alat musik pengiring. Praktik ini berlangsung sampai sekitar abad ke-8. Sesesudah itu perkembangan musik sungguh luar biasa.

Untuk memudahkan pengulasan musik dibagi ke dalam dua kelompok besar: musik gereja dan musik sekular. Musik gereja sendiri digolongkan ke dalam dua kelompok besar: musik liturgi dan musik bukan-liturgi yang kemudian musik bukan-liturgi ini dihaluskan menjadi musik spiritual. Contoh, lagu-lagu gerejawi yang dipentaskan dalam konser.

Kehadiran musik dalam liturgi memang tak terbantahkan membuat liturgi punya nilai lebih. Namun, perlu dicatat liturgi tetap dapat berjalan, liturgi tetap dapat dirayakan, meskipun tanpa kehadiran musik liturgi. Musik untuk liturgi harus menyatu dengan tindakan liturgis, menopang liturgi agar dapat menyatakan makna utuh dari bagian-bagian liturgi. Rangkaian nada membantu menghidupkan ritual dan teks liturgis. Teks berkarakter aklamatif sepatutnya diberi nada yang membangkitkan ungkapan sukacita. Musik yang memasukkan nada tidak sesuai dengan karakter teks liturgis dan menenggelamkan para peraya liturgi tidak dapat disebut sebagai musik liturgi. Musik mencemari dan merendahkan martabat liturgi. Musik liturgi adalah pelayan liturgi. Musik liturgi merupakan musik ritual yang secara khusus diciptakan untuk melayani perayaan liturgi.

Liturgi itu suci, maka musik untuk liturgi harus suci juga. ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ๐˜๐—ฟ๐—ฎ ๐—ธ๐—ผ๐—บ๐˜‚๐—ป๐—ฎ๐—น, ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ถ๐—ป๐—ฑ๐—ถ๐˜ƒ๐—ถ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ๐—น. Tujuan musik liturgi sama dengan tujuan liturgi, yaitu memuliakan Allah dan menguduskan umat. Para pemusik berlaku sebagai pelayan liturgi dan tidak patut menjadikan liturgi sebagai ajang aktualisasi diri dengan berpamer bahwa ia mahir bermain alat musik. Pemusik, penyanyi, kelompok paduan suara jangan menjadikan diri sebagai pusat perhatian umat. Mereka tidak boleh menenggelamkan para peraya liturgi bernyanyi.

Jika liturgi dan musik liturgi itu suci, maka para pemusik harus mengerti menghayati dan menghidupinya. Dalam praktik Gereja lebih mementingkan kemampuan teknikal bermusik kepada para pemusik. Bila perlu para pemusik dikirim berkursus agar lebih mahir. Belum pernah saya melihat para pemusik liturgi diberi bekal pengetahuan liturgi dan spiritual. Para pemusik perlu memahami konteks pelayanan perayaan liturgi yang ragawi dan rohani, duniawi dan surgawi, manusiawi dan ilahi. Untuk itu para pemusik harus diberi bekal pengetahuan liturgi. ๐˜™๐˜ฆ๐˜ต๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ต (Belanda: ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ณ๐˜ข๐˜ช๐˜ต๐˜ฆ) secara berkala dapat menjadi pilihan untuk pembinaan mental dan spiritual para pemusik.

Dari ulasan di atas kita dapat menalikan bahwa ciri utama musik liturgi adalah ia tidak menenggelamkan peraya liturgi. Apabila kita melihat dan mendengar musik pada ๐˜’๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ ๐˜”๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ di GKI Kebayoran Baru dan ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ-๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ lain di Gereja-Gereja Kharismatik, tidak tampak dan tidak terdengar ia adalah musik liturgi. Oleh karena bukan musik liturgi, maka musik itu hadir bukan untuk liturgi. 

Dengan kata lain ๐˜’๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ ๐˜”๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ di GKI Kebayoran Baru dan ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ-๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ lain di Gereja-Gereja Kharismatik itu bukan liturgi, bukan suatu kebaktian. Itu hanyalah sekelompok orang yang hendak mendengarkan ceramah agama yang dimeriahkan dengan musik spiritual. Sesudah mendengar ceramah, para pendengar membayar. Ada yang memasukkan ke kantong-kantong penagihan, ada yang langsung mengirim uang lewat QRIS.




PEMAHAMAN
Reformasi liturgi dalam Gereja Katolik terinspirasi dari Gereja Protestan. Pembaruan pertama dan utama liturgi dalam Gereja Katolik adalah partisipasi umat.

Ironisnya Gereja Protestan, baik arus-utama maupun evangelikal dan kharismatik, malah berjalan mundur, membungkam partisipasi umat. Tidak percaya? Perhatikan saja besok dalam kebaktian Minggu. Partisipasi umat lewat nyanyian jemaat dibungkam dan ditenggelamkan oleh ๐˜ด๐˜ฐ-๐˜ค๐˜ข๐˜ญ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฅ ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด atau ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ค ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ lewat ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ฅ ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด mereka.

๐—›๐—ฒ๐—ป๐—ถ๐—ป๐—ด

Dalam liturgi ada satu anasir sangat penting yang merupakan bagian integral, tetapi tidak atau kurang diperhitungkan sebagai suatu unit ritus dalam struktur ibadah. Apa itu? Keheningan atau saat diam.

Hening dalam perayaan liturgi dapat beraneka arti dan makna. Di bawah atmosfer dunia profan yang gaduh dan riuh serta serba tergesa-gesa, kejap, dan dangkal, umat merindu saat hening. Liturgi dapat menyediakannya, meskipun tidak perlu berlama-lama. Liturgi menyediakan momen bagi umat untuk sekadar mereguk kelembutan nafas ilahi.

Di Gereja Protestan pada umumnya ada ritus ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฉ bagi umat sesudah mendengarkan khotbah  untuk merenung sejenak. ๐˜š๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฉ disediakan hendaklah bukan untuk basa-basi. Sebagai contoh, sesudah pendeta mengatakan “Amin” ketika menutup khotbahnya, dalam hitungan kurang daripada 5 detik penatua minta umat berdiri untuk mengucapkan ๐˜š๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต ๐˜™๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช.

Berapa lama durasi ideal untuk saat teduh? Idealnya ½ - 1 menit.

๐—•๐˜‚๐—ธ๐˜‚ ๐—ก๐˜†๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ถ๐—ฎ๐—ป

Dulu, sebelum ada FB, forum diskusi mengandalkan milis. Dalam satu kesempatan saya melayangkan keresahan saya melihat banyak Gereja mula meninggalkan buku nyanyian seperti KJ dan menggantinya dengan tayangan projektor di layar. Menurut saya ini merugikan Yamuger. Waktu itu seorang anggota Yamuger berkomentar ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข. Waduh, dalam hati saya, ๐˜ต๐˜ช๐˜ธ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฃe๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช ternyata Yamuger tidak butuh duit.

Dengan perkembangan multi-media sekarang penayangan di layar dalam kebaktian sudah makin canggih. Bukan saja menyajikan teks nyanyian, tayangan dilengkapi ilustrasi gambar, bahkan animasi. Pendeta pun memanfaatkan teknologi ini untuk ilustrasi khotbahnya.

Secara fungsional upaya modernisasi ini barangkali efektif dan praktis, tetapi berisiko mengganggu kekhidmatan merayakan liturgi. Pandangan umat tertuju pada layar. Sampai sekarang saya belum pernah melihat gedung gereja arus-utama dirancang untuk ruang ibadah sekaligus untuk ruang seminar atau ruang rapat, kecuali di gereja saya sendiri .... Xi  ..... Xi. Penempatan layar sudah pasti dipaksakan posisinya sehingga merusak estetika interior-arkitektural. Selain itu tayangan teks nyanyian tidak disertai notasi dan informasi lain tentang nyanyian seperti tercetak dalam buku nyanyian.

Jadi, bagaimana ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ agar tetap tampak modern tanpa merusak estetika? Buat saja monitor-monitor kecil di setiap punggung kursi seperti di dalam pesawat Garuda. Mahal ๐˜ฃ๐˜ฐ? Kalau mau murah dan khidmat, ya kembalikan lagi umat diminta membawa buku nyanyian. Pandangan ini tentunya akan bertabrakan dengan pandangan modern generasi muda yang semuanya mengambil point' kemudahan.

Ciri utama musik liturgi adalah ia tidak menenggelamkan peraya liturgi. Apabila kita melihat dan mendengar musik pada ๐˜’๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ ๐˜”๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ di GKI Kebayoran Baru dan ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ-๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ lain di Gereja-Gereja Kharismatik, tidak tampak dan tidak terdengar ia adalah musik liturgi. Itu bukan musik liturgi. Oleh karena bukan musik liturgi, maka musik itu hadir bukan untuk liturgi. 

Dengan kata lain ๐˜’๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ ๐˜”๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ di GKI Kebayoran Baru dan ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ-๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ lain di Gereja-Gereja Kharismatik itu bukan liturgi, bukan suatu kebaktian. Itu hanyalah sekelompok orang yang hendak mendengarkan ceramah agama yang dimeriahkan dengan musik spiritual. Sesudah mendengar ceramah, para pendengar membayar. Ada yang memasukkan ke kantong-kantong penagihan, ada yang langsung mengirim uang lewat QRIS.

๐— ๐˜‚๐˜€๐—ถ๐—ธ ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ ๐—”๐—ฑ๐˜ƒ๐—ฒ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ฟ๐—ฎ-๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ

Sudah banyak Gereja Protestan menerapkan tahun liturgi, seperti pembabakan Adven dan Pra-Paska. Namun, cukup banyak pula yang latah. Mereka meniru, ikut-ikutan, agar terlihat Kristen. Padahal mereka tidak mengerti makna teologis dan liturgis Adven dan Pra-Paska.

Saya berikan contoh nyata. Satu Gereja menerapkan masa Adven, tetapi mereka merayakan Natal pada masa Adven. Ada lagi Gereja yang merayakan Kamis Putih, tetapi mereka menghelat Perjamuan Kudus pada Jumat Agung. Itulah contoh nyata Gereja yang latah.

Secara historis penetapan masa Pra-Paska lebih tua daripada Adven. Tujuannya mirip, yakni memersiapkan diri untuk menyambut. Pada masa Pra-Paska umat memersiapkan diri untuk menyambut kematian dan kebangkitan Yesus, pada masa Adven umat memersiapkan diri untuk menyambut Yesus secara historis (kelahiran) sekaligus eskatologis (kedatangan kembali).

Ada kesamaan lain masa Pra-Paska dan Adven yang jarang diketahui orang, yaitu tentang musik liturgi. Selama masa Pra-Paska dan Adven alat musik tidak boleh dimainkan secara instrumentalia dalam liturgi. Musik dimainkan hanya untuk intro dan mengiringi umat bernyanyi.

Sebagai contoh dalam sesi kolekte sering semua bait lagu sudah dinyanyikan, tetapi peredaran kantong kolekte masih berlangsung. Musik instrumentalia kemudian mengisi jeda itu. Di Gereja Kharismatik sering juga terjadi pendeta berdoa dilatari musik instrumentalia. Praktik seperti ini tidak diperkenankan dalam masa Adven dan Pra-Paska. Mengapa begitu?

Dalam tradisi liturgi Gereja musik instrumentalia yang mandiri menyimbolkan kepenuhan sukacita, kemuliaan, dan perayaan. Musik instrumentalia tanpa nyanyian sama dengan suasana pesta eskatologis. Padahal dalam Adven dan Pra-Paska pesta sukacita itu masih “ditunda”.

Kontras liturgis ini memang disengaja dan sangat pedagogis.
๐—•๐—ฎ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ฎ๐—ป ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ

Tempo hari saya pernah menulis takrif liturgi. Saya ulangi saja. Liturgi bukan ritual, melainkan lebih luas daripada itu. Dalam teologi Kristen liturgi ditakrifkan sebagai perayaan misteri karya keselamatan Allah dalam Kristus, yang dilakukan oleh Kristus, Sang Imam Agung, bersama Gereja-Nya di dalam ikatan Roh Kudus. Liturgi mencakup komunikasi dua arah, Allah yang menguduskan dan menyelamatkan manusia (๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ด) dan sekaligus manusia yang menanggapi pengudusan Allah itu dengan memuliakan-Nya (๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ด). Kedua gerakan itu adalah dua anasir yang tidak dapat dipisahkan, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ด-๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ด. Liturgi selalu bermatra ๐—ธ๐—ผ๐—บ๐˜‚๐—ป๐—ฎ๐—น, ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ถ๐—ป๐—ฑ๐—ถ๐˜ƒ๐—ถ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ๐—น. Subjek liturgi adalah Kristus dan Gereja. Liturgi merupakan tindakan Kristus dan sekaligus tindakan Gereja.

Pengertian di atas tentu dari titik pandang teologis yang abstrak. Dari titik pandang praktis bagaimana kita dapat melihat liturgi dalam suatu kebaktian atau misa Gereja sebagai suatu bangunan liturgi?

Sekarang kita membayangkan suatu rangkaian ibadah secara lengkap, Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Kita buat pembabakannya sbb.:

๐—ฅ๐—ถ๐˜๐˜‚๐˜€ ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ – ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ ๐—ฆ๐—ฎ๐—ฏ๐—ฑ๐—ฎ – ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ ๐—˜๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐—ถ – ๐—ฅ๐—ถ๐˜๐˜‚๐˜€ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐˜๐˜‚๐—ฝ

Ritus dalam makna liturgis ditakrifkan sebagai tata cara atau pola tindakan simbolik yang terstruktur yang telah ditetapkan dan diwariskan oleh Gereja. Dalam satu ritus terdapat beberapa bagian. Misal, ritus pembuka ada bagian atau sesi perarakan Injil, votum, dan salam. Jadi, perarakan Injil yang sering diiringi dengan nyanyian jemaat belum disebut liturgi.

Apa perbedaan ritual dan ritus? Ritual merupakan rangkaian beberapa ritus. 

Dalam Liturgi Sabda ada beberapa ritus yang berjalan membentuk satu ritual. Liturgi Sabda tidak sama dengan khotbah atau homili. Dalam Liturgi Ekaristi jumlah ritus lebih banyak, yang tentu saja ada ritus persembahan. Persembahan selalu berpautan dengan Ekaristi atau Perjamuan Kudus.

Dalam Liturgi Ekaristi kolekte dapat dimasukkan sebagai bahan lain persembahan. Bahan utama persembahan adalah roti dan anggur, yang kemudian sesudah ๐˜‹๐˜ฐ๐˜ข ๐˜š๐˜บ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ dan ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ด๐˜ต๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ด๐˜ช menjadi (simbol) kurban tubuh dan darah Kristus. Bahan-bahan lainnya adalah minyak, lilin, dan dapat disertakan kolekte. Apabila hanya Liturgi Sabda, maka kolekte menjadi bagian dalam ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฑ.

Dalam Gereja Protestan tidak setiap Minggu merayakan Liturgi Ekaristi. Dengan demikian pada umumnya kebaktian Minggu dalam Gereja Protestan pembabakannya dibuat sbb.:

๐—ฅ๐—ถ๐˜๐˜‚๐˜€ ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ – ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ถ ๐—ฆ๐—ฎ๐—ฏ๐—ฑ๐—ฎ – ๐—ฅ๐—ถ๐˜๐˜‚๐˜€ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐˜๐˜‚๐—ฝ

Apabila bangunan liturgi seperti itu, maka tidak ada ritus persembahan, karena tidak ada perayaan Ekaristi. ๐˜“๐˜ฉ๐˜ข kolekte? Kolekte bukanlah persembahan sehingga ia adalah bagian atau sesi dalam ritus penutup. Liturgi Sabda tidak sama dengan khotbah atau homili. Bacaan-bacaan Alkitab dan nyanyian tanggapannya merupakan bagian pokok dalam Liturgi Sabda. Homili, Syahadat, dan Doa memerdalam Liturgi Sabda dan menutupnya. Sungguh keliru menempatkan Mazmur dalam ritus pembuka seperti yang terjadi di beberapa Gereja Protestan.

Bacaan-bacaan Alkitab dihidangkan kepada umat sehingga harta Gereja dibuka selebar-lebarnya bagi mereka. Diperlukan penataan bacaan yang bersistem dan berstruktur agar tampak jelas kesatuan Perjanjian Lama-Perjanjian Baru dengan sejarah keselamatan. Untuk itulah kepentingan penerapan bacaan ekumenis RCL (๐˜™๐˜ฆ๐˜ท๐˜ช๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ ๐˜Š๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜“๐˜ฆ๐˜ค๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜บ) agar bacaan seturut tahun liturgi dan tidak mengikuti selera dan ideologi pendeta.

Gereja berwatak injili dalam arti selalu mewartakan Injil (injili di sini bukan maksudnya aliran Evangelikal). Pembacaan Injil adalah puncak Liturgi Sabda. Pembacaan Injil merupakan simbol kehadiran Kristus di tengah-tengah umat beriman dan pada gilirannya mereka memberitakan Injil Kristus.

Ritus penutup pada umumnya terdiri atas bagian atau sesi kolekte, pengutusan, dan berkat.







Rabu, 21 Januari 2026

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 4:12-23, [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—œ๐—œ๐—œ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—˜๐—ฝ๐—ถ๐—ณ๐—ฎ๐—ป๐—ถ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ฎ ๐—ฆ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฎ๐˜๐˜‚

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 4:12-23,  [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—œ๐—œ๐—œ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—˜๐—ฝ๐—ถ๐—ณ๐—ฎ๐—ป๐—ถ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ฎ ๐—ฆ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฎ๐˜๐˜‚

PENGANTAR
Minggu 25 Januari 2026, Minggu lalu bacaan ekumenis tentang murid-murid pertama Yesus dari Injil Yohanes 1:29-42. Dua murid pertama Yesus adalah Andreas dan tanpa nama. Kedua orang ini sebelumnya adalah murid Yohanes Pembaptis. Simon Petrus adalah murid Yesus gelombang kedua atau murid ketiga. Petrus adalah saudara Andreas, tetapi bukan murid Yohanes Pembaptis. Andreas yang membawa Petrus kepada Yesus.

Namun tidak sedikit umat Kristen, tidak cermat dalam membaca Injil Yohanes sehingga Petrus dicerap sebagai murid Yohanes Pembaptis. Selain itu mereka berprapaham dengan Injil sinoptik yang calon murid-murid dipanggil oleh Yesus kemudian menyamakan proses rekrutmen murid di keempat Injil. Dalam Injil Yohanes hanya Filipus yang dipanggil untuk menjadi murid Yesus (Yoh. 1:43), calon murid-murid lainnya yang mendatangi Yesus.

Saya memahami kalimat mengkabarkan Injil atau memberitakan Injil, bukan dalam ranah kristenisasi, mengkabarkan injil, menurut saya, adalah mewujudkan keteladanan Kristus dalam keseharian hidup kita, sehingga orang yang belum kenal Kristus mengerti dan berproses mengenali sosok keteladanan Kristus, Kristus sendiri mengajarkan "ajarkan apa yang telah aku ajarkan" (Matius 28:20), sebab itu saya boleh mengatakan jauh api dari panggangannya, Apologetika yang hanya jalan debat tanpa adanya proses pengenalan sosok keteladanan Kristus, menurut saya lebih baik dihindari, karena Tuhan kita itu sangat maha, tidak perlu kita membelaNya, kalau Tuhan masihnperlu kita bela artinya kita itu Tuhan, dan yang kita sebut Tuhan bukanlah Tuhan, sehingga Khotbah Minggu ini lebih berfokus pada bacaan Injil dengan pesan utama soal panggilan Tuhan bagi orang percaya untuk ikut serta dalam tugas Pemberitaan Injil. Kehadiran serta karya, Pemberitaan Injil yang Yesus lakukan di Galilea sebagaimana diceritakan dalam Matius 4:12-23 merupakan penggenapan dari firman Tuhan yang disampaikan oleh nabi Yesaya dalam Kitab Yesaya 9:1-4. Kehadiran Yesus laksana terang bagi bangsabangsa yang diam dalam kegelapan. Pemberitaan Injil harus 
terus dilakukan agar terang itu mampu menerangi mereka yang hidupnya berada dalam kegelapan karena dosa, penderitaan dan 
berbagai keadaan. Oleh karena itu Tuhan Yesus juga memanggil banyak orang untuk ikut dalam karya penyelamatan Allah, memberitakan Injil di dunia ini. Melalui kisah Yesus memanggil murid-murid yang pertama, kita diajak untuk menghayati makna Pemberitaan Injil. Menjadi penjala manusia bukanlah kristenisasi, namun tugas panggilan yang kita kerjakan melalui perilaku hidup kita sehari-hari, dalam keberadaan dan tugas tanggung jawab kita masing-masing yang membuat orang merasakan kasih, berkat dan kebenaran di dalam Kristus, sehingga orang merasakan hidupnya menjadi lebih baik. Panggilan
ini tidak hanya ditanggapi dan dikerjakan oleh segelintir orang. Kita sebagai umat yang telah dikasihi dan diselamatkan oleh Tuhan dipanggil untuk bersama-sama memberitakan Injil.

Penerapan tahun liturgi dan bacaan ekumenis RCL (๐˜™๐˜ฆ๐˜ท๐˜ช๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ ๐˜Š๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜“๐˜ฆ๐˜ค๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜บ) bukan saja mencegah para pengkhotbah mengambil bahan homili sesuka perutnya, tetapi Gereja juga mengajar umat bahwa kisah-kisah di Alkitab berbeda. Perbedaan bukan lantaran perbedaan titik pandang para petulis kitab, melainkan memang kisah-kisahnya berbeda.

Saya ambil contoh bahan homili Minggu lalu (18/1) tentang rekrutmen murid-murid Yesus versi Injil Yohanes (Yoh. 1:29-42). Minggu ini (25/1) tentang rekrutmen murid-murid Yesus versi Injil sinoptik (Mat. 4:12-23). Ada perbedaan tegas di antara kedua bacaan.

Perbedaan kesatu:
▶️ Versi Injil Yohanes: Murid-murid gelombang kesatu adalah Andreas dan sosok tanpa nama, bukan Simon Petrus.
▶️ Versi Injil Matius: Murid-murid gelombang kesatu adalah Simon Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes.

Urutan itu sangat penting karena menyuratkan kewibawaan. Simon Petrus adalah murid yang paling berwibawa versi Injil Matius. Akan tetapi petulis Injil Yohanes mematikan karakter Simon Petrus dan bukanlah murid yang paling berwibawa. Mengapa? Diduga kuat dalam dunia nyata Komunitas petulis Injil Yohanes dimusuhi dan didera oleh para pemimpin Yahudi dan pandangan Petrus pro-Yahudi.

Perbedaan lainnya adalah syarat utama menjadi murid Yesus. Dalam Injil Yohanes syarat utama menjadi murid Yesus adalah motivasi. Motivasi mengikut Yesus adalah yang hakiki. Hal ini terbaca dalam pertanyaan Yesus, “๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช?” (Yoh. 1:38). Dalam narasi selanjutnya Injil Yohanes mengecam orang-orang yang mengikut Yesus karena melihat mukjizat.

PEMAHAMAN
Hari ini adalah Minggu ketiga sesudah Epifani. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 4:12-23 yang didahului dengan Yesaya 9:1-4, Mazmur 27:1, 4-9, dan 1Korintus 1:10-18.

Bacaan Injil Matius 4:12-23 cukup panjang yang mencakup tiga perikop:
• Yesus tampil di Galilea (Mat. 4:12-17), 
• Yesus memanggil murid-murid yang pertama (Mat. 4:18-22), dan
• Yesus mengajar dan menyembuhkan banyak orang” (Mat. 4:23).

๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ ๐˜๐—ฎ๐—บ๐—ฝ๐—ถ๐—น ๐—ฑ๐—ถ ๐—š๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—น๐—ฒ๐—ฎ (๐— ๐—ฎ๐˜. ๐Ÿฐ:๐Ÿญ๐Ÿฎ-๐Ÿญ๐Ÿณ)

Bagian Injil Matius 4:12-23 menceritakan awal karya Yesus di Galilea sekaligus permulaan seluruh karya Yesus. Di Injil Yohanes Yesus sudah berkarya pada saat Yohanes Pembaptis masih berkarya. Akan tetapi penulis Injil Matius mengikuti kronologi Injil Markus: ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ ๐˜ฐ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ต๐˜ช๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข (Mrk. 1:14; Mat. 4:12).

Matius tampaknya mengembangkan Markus 1:14 menjadi lima ayat dalam Matius 4:12-16. Matius menambahkan kutipan dari Yesaya 8:23-9:1. Kutipan ini menjadi pembeda Injil Matius dari Injil Markus. Tentu saja teks dari kitab Yesaya itu dilepaskan dari konteksnya dan disesuaikan dengan pemahaman iman Jemaat Matius.
 
Yesaya 8:23-9:1 (TB LAI, 1974)
8:23 Tetapi tidak selamanya akan ada kesuraman untuk negeri yang terimpit itu. Kalau dahulu TUHAN merendahkan tanah Zebulon dan tanah Naftali, maka di kemudian hari Ia akan memuliakan jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, wilayah bangsa-bangsa lain.
9:1 Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.

Matius 4:15-16 (TB II LAI, 1997)
4:15 "Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, --
4:16 bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang."

Zebulon dan Naftali yang tidak ada di masa Yesus Kristus dipaksa oleh Matius menjadi dua wilayah yang mengapit Kapernaum karena Yesus tinggal di Kapernaum sesudah meninggalkan Nazaret (Mat. 4:13-14). Teks kitab Yesaya itu sangat penting dikutip oleh Matius karena bagian itu tentang ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ซ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ช ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ˆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ช๐˜ฃ, ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ข, ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ, ๐˜™๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜‹๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ช (Yes. 9:5-6). Padahal konteks kitab Yesaya ini adalah kelahiran Hizkia, Raja Yehuda (727 – 698 SZB). 

Jadi, kutipan Matius dari Yesaya 8:23-9:6 sebenarnya tentang harapan akan kejayaan kembali Kerajaan Daud itu berpautan dengan penobatan Raja Hizkia (Yes. 9:5-6). Dalam arti khusus Kerajaan Israel adalah kerajaan Allah karena Allah yang berkarya melalui Raja Israel (Yes. 9:2-3, 6). Namun Matius memandang Yesus adalah Raja Israel yang baru (Mat. 1-2). Untuk itulah Matius mendaku kedatangan Kerajaan Allah itu sudah dimula di Kapernaum, di tepi Danau Galilea, di daerah Zebulon dan Naftali (Mat. 4:13). Galilea merupakan tanah orang bukan-Yahudi. Tentu kita masih ingat pada kisah kedatangan orang-orang majus untuk menyampaikan bahwa kelahiran Raja Mesianik tidak diterima oleh orang Yahudi (yang dicitrakan oleh Raja Herodes), melainkan oleh bangsa asing (Mat. 2:1-12).

Perikop ini diakhiri dengan ucapan pertama Yesus di depan publik, "๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต!" (Mat. 4:17). Kampanye Yesus itu sama persis dengan seruan Yohanes Pembaptis di Matius 3:2. ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜š๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข di awal Injil akan berubah menjadi ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜‹๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ di akhir Injil.

๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ถ๐—น ๐—บ๐˜‚๐—ฟ๐—ถ๐—ฑ-๐—บ๐˜‚๐—ฟ๐—ถ๐—ฑ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฎ๐—บ๐—ฎ (๐— ๐—ฎ๐˜. ๐Ÿฐ:๐Ÿญ๐Ÿด-๐Ÿฎ๐Ÿฎ)

Dalam proses rekrutmen murid-murid pertama pengarang Injil Matius mengikuti kronologi Injil Markus:
• Pemanggilan murid-murid pertama terjadi ketika Yesus sedang menyusuri Danau Galilea (Mrk. 1:16; Mat. 4:18).
• Ucapan Yesus dikutip tanpa perubahan:  "๐˜”๐˜ข๐˜ณ๐˜ช, ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜’๐˜ถ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข " (Mrk. 1:17; Mat. 4:19).
• Urutan murid-murid pertama Yesus sama: Simon (Petrus), Andreas, Yakobus, dan Yohanes (Mrk. 1:16, 19; Mat. 4:18, 21).
• Reaksi keempat murid juga sama: segera meninggalkan jala, perahu, dan ayah mereka (Mrk. 1:18, 20; Mat. 4:20, 22).
• Perbedaan Matius dari Markus adalah Matius menambah apa yang ditinggalkan oleh Yakobus dan Yohanes, yaitu perahu dan Zebedeus (ayah mereka) (Mat. 4:22).

Perbandingan murid-murid pertama Yesus versi Injil Matius dan Injil Yohanes:
• Versi Injil Matius: Simon (Petrus), Andreas, Yakobus, dan Yohanes.
• Versi Injil Yohanes: Andreas, tanpa nama, Simon (Petrus), Filipus, dan Natanael.

Urutan itu sangat penting karena memerikan (๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ค๐˜ณ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฆ) kewibawaan. Dalam Injil sinoptik Petrus adalah murid yang paling berwibawa sehingga selalu disebut pertama (Mat. 10:2; Mrk. 3:16; Luk. 6:14). Dalam pada itu Petrus bukanlah murid yang paling berwibawa menurut versi Injil Yohanes karena komunitas penulis Injil Yohanes ini dimusuhi dan didera oleh pemimpin-pemimpin Yahudi sehingga menomorduakan Simon Petrus yang teologinya pro-Yahudi di dunia nyata.

Dalam Injil Yohanes hanya Filipus yang dipanggil oleh Yesus untuk menjadi murid-Nya, sedang murid-murid lainnya mendatangi Yesus untuk menjadi murid Yesus. Yesus pun mengajukan pertanyaan kepada mereka, "๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช?" (Yoh. 1:38). Tampaknya penulis Injil Yohanes berpendapat bahwa ๐—บ๐—ผ๐˜๐—ถ๐˜ƒ๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ฟ untuk menjadi murid Yesus adalah ๐—ต๐—ฎ๐—น ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฝ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ป๐—ด ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ถ๐—ป๐—ด atau hakiki.

Dalam pada itu menurut versi Injil Matius Yesus yang memanggil calon murid-murid-Nya, "๐˜”๐˜ข๐˜ณ๐˜ช, ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜’๐˜ถ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข." (Mat. 4:19). Mengikut Yesus berarti menjadi murid Yesus. Menjadi murid berarti ia mengikut ke mana pun gurunya pergi. Metafora ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข berpautan dengan ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ karena di Injil sinoptik murid-murid pertama Yesus adalah penjala ikan atau nelayan. Di Injil Yohanes pekerjaan murid-murid pertama Yesus tidak jelas. Metafora ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข dapat dibayangkan dalam upaya para murid Yesus untuk menjadikan semua bangsa murid-murid Yesus seperti yang diperintahkan oleh Yesus di akhir Injil (Mat. 28:19).

Berbeda dari Injil Yohanes, dalam Injil Matius ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—บ๐˜‚๐—ฟ๐—ถ๐—ฑ ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚๐˜€ ๐˜€๐—ฒ๐—ด๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ฎ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฎ๐˜๐˜‚ (bdk. Mat. 19:27). Dalam hal murid-murid pertama Yesus mereka segera meninggalkan jala, perahu, dan ayah mereka (Mat. 4:20, 22). Pilihan harus segera diputuskan: ya atau tidak karena ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต (Mat. 4:17) dan akan segera dimula dalam karya pertama Yesus di Galilea (Mat. 4:23).

Bacaan Injil Minggu ini ditutup dengan Matius 4:23: Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ-๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต dan memberitakan ๐˜๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ช๐˜ญ ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข serta menyembuhkan orang-orang di antara bangsa itu dari segala penyakit dan kelemahan mereka (TB II LAI, 1997).

Dalam ayat di atas Matius menulis ฯƒฯ…ฮฝฮฑฮณฯ‰ฮณฮฑแฟ–ฯ‚ ฮฑแฝฯ„แฟถฮฝ (baca: ๐˜ด๐˜บ๐˜ฏ๐˜ข๐˜จo๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ด ๐˜ข๐˜ถ๐˜ตo๐˜ฏ) yang artinya ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ-๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต ๐™ข๐™š๐™ง๐™š๐™ ๐™–. NRSV menerjemahkan ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ด๐˜บ๐˜ฏ๐˜ข๐˜จ๐˜ฐ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ด. Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) menghilangkan kata ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข menjadi ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ-๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต. Padahal ini petunjuk pengarang Injil Matius yang hendak menyampaikan bahwa sinagoge-sinagoge itu di dunia nyata (di luar cerita Injil) bukan lagi rumah ibadat jemaat Kristen Matius, melainkan rumah-rumah ibadat orang-orang Yahudi. Tampaknya jemaat Matius sudah tidak beribadah di sinagoge Yahudi. Sudah terjadi pemisahan tempat ibadah Yahudi dan Kristen. Ada konflik antara orang Yahudi dan jemaat Kristen Matius, terutama yang sebelumnya beragama Yahudi.

Berbeda kasus dengan ๐˜๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ช๐˜ญ ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข yang oleh Matius ditulis ฯ„แฝธ ฮตแฝฮฑฮณฮณฮญฮปฮนฮฟฮฝ ฯ„แฟ†ฯ‚ ฮฒฮฑฯƒฮนฮปฮตฮฏฮฑฯ‚ (baca: ๐˜ต๐˜ฐ ๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ตe๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ข๐˜ด) tanpa kata surga atau Allah. Akan tetapi penerjemahan ini tidak mengaburkan makna karena Injil Kerajaan sama maknanya dengan Injil Kerajaan Surga/Allah.

Ayat penutup bacaan Injil Minggu ini menyampaikan awal karya Yesus di Galilea sekaligus permulaan seluruh karya Yesus. Dengan demikian Kerajaan Surga/Allah sudah dan sedang datang serta akan datang sepenuhnya pada Akhir Zaman ketika Yesus Kristus datang kembali (Mat. 24-25).

 (22012023)(TUS)

Sabtu, 17 Januari 2026

SUDUT PANDANG TENTANG BAPTISAN ULANG

SUDUT PANDANG TENTANG BAPTISAN ULANG


PENGANTAR
Apa yang Dimaksud Baptisan Ulang? Baptisan ulang adalah praktik membaptis seseorang kembali, padahal ia sudah pernah dibaptis secara sah di dalam gereja Kristen, dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Baptisan ulang sering dilakukan karena alasan:
a. Merasa iman dulu belum sungguh-sungguh
b. Pindah gereja atau aliran/denominasi
c. Menganggap baptisan sebelumnya tidak sah
d. Tekanan rohani dari kelompok tertentu
Padahal, Alkitab dengan jelas berkata:
“Satu Tuhan, satu iman, satu baptisan.”
(Efesus 4:5)
Nama komitmen sakral ya sekali seumur hidup, kalau diulang sudah tidak sakral lagi dong .... Wk .... Wkwkwk. baptisan ulang, Baptisan ulang, atau rebaptism, merujuk pada praktik dalam beberapa denominasi Kristen yang melakukan pembaptisan kedua bagi seseorang yang telah dibaptis sebelumnya, sering karena dianggap baptisan awal tidak sah. Praktik ini umum di kalangan gereja-gereja Pentakosta kharismatik, yang menekankan baptisan dewasa bagi orang yang sadar percaya, dan baptisan Roh sebagai baptisan yang lebih tinggi dari baptisan air (dasar argumentasi nya kurang kuat juga, tolak ukurnya darimana?). Dasar Teologis
Gereja-gereja yang mempraktikkannya berargumen bahwa baptisan harus dilakukan setelah pertobatan dan iman pribadi, seperti pada Kisah Para Rasul 19 : 1-7, di mana Paulus membaptis ulang murid-murid Yohanes karena baptisan mereka dianggap tidak lengkap, harus dipahami dalam konteks tradisi budaya pada zaman itu, Baptisan itu juga tanda masuk ke dalam suatu golongan dalam masyarakat Yahudi, inisiasi. Mereka adalah murid Yohanes yang artinya golongan eseni versi Yohanes bukan golongan Yesus. Mereka menolak istilah "baptis ulang" dan menyebutnya sebagai baptisan pertama yang sah, dengan rumusan yang lebih  benar, karena baptisan Roh lebih tinggi derajatnya daripada baptisan air. Pandangan Berbeda
Sebaliknya, gereja-gereja Protestan Reformir seperti Lutheran, calvin atau Reformed tradisional menganggap baptisan awal sah jika dilakukan dengan rumusan Tritunggal, sehingga baptisan ulang tidak diperlukan dan berpotensi memusuhi sakramen. Gereja Katolik dan Ortodoks menekankan validitas baptisan satu kali seumur hidup, melihat rebaptism sebagai kesalahan teologis. Praktik di Indonesia
Di Indonesia, beberapa gereja sering menerapkan kebijakan ini untuk anggota baru dari gereja lain dengan baptisan air atau rumusan tidak standar, meski menimbulkan perdebatan tentang kesatuan gereja.  Diskusi ini mencerminkan perbedaan doktrinal mendasar tentang esensi baptisan sebagai tanda iman atau sakramen ilahi.


PEMAHAMAN
Makna Baptisan dalam Iman Kristen, Baptisan bukan terutama tindakan manusia, tetapi tindakan Allah.
Dalam baptisan:
a. Allah menyatakan anugerah-Nya
b..Allah mengikat perjanjian-Nya dengan umat
c. Manusia menerima, bukan menciptakan keselamatan

Yesus memerintahkan:
“Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.”
(Matius 28:19)
 Artinya, baptisan adalah:
a. Perbuatan Allah Tritunggal
b. Meterai kasih dan janji Allah
c. Tanda masuk ke dalam persekutuan tubuh Kristus
Mengapa Baptisan Tidak Perlu Diulang?
Karena:
a. Allah setia, tidak berubah
b..Janji Allah tidak tergantung perasaan manusia
c. Keselamatan bukan hasil usaha ulang manusia

Seperti kelahiran jasmani:
a. Manusia lahir sekali
b. Tidak perlu dilahirkan ulang secara fisik

Demikian juga baptisan:
a. Dilakukan sekali
b..Berlaku sepanjang hidup
Dampak Negatif Baptisan Ulang terhadap Penghargaan/Penistaan  kepada Allah Tritunggal

a. Meragukan Kesetiaan Allah Bapa
Baptisan ulang seolah berkata:
“Janji Allah dulu belum cukup.”
Padahal:
Allah Bapa setia pada perjanjian-Nya
Allah tidak membatalkan janji-Nya karena kelemahan manusia
Baptisan ulang dapat merendahkan kesetiaan Allah Bapa.

b. Meremehkan Karya Penebusan Kristus
Dalam baptisan:
Kita dipersatukan dengan kematian dan kebangkitan Kristus
(Roma 6:3–4)
Baptisan ulang seolah menyatakan:
Karya Kristus perlu “diperbarui” berkali-kali
Salib belum cukup kuat
Ini menggeser iman dari Kristus kepada pengalaman pribadi.

c. Mengaburkan Pekerjaan Roh Kudus
Roh Kudus:
Memeteraikan iman
Menumbuhkan pertobatan sepanjang hidup
Baptisan ulang membuat seolah:
Roh Kudus gagal bekerja sejak baptisan pertama
Pertumbuhan iman harus dimulai dari nol
Padahal pertobatan sejati adalah proses seumur hidup, bukan alasan untuk baptisan ulang.

d. Menggeser Baptisan Menjadi Prestasi Manusia
Baptisan ulang sering menekankan:
Kesadaran iman
Kesungguhan pribadi
Pengalaman rohani
Akhirnya baptisan dipandang sebagai:
Bukti kualitas iman manusia
Tindakan manusia, bukan anugerah Allah
Ini berbahaya karena:
Keselamatan bukan oleh usaha, tetapi oleh anugerah.

5. Dampak Pastoral bagi Jemaat
Fenomena baptisan ulang dapat:
a. Membingungkan jemaat sederhana
b. Memecah kesatuan gereja
c. Membuat orang meragukan keselamatannya
d. Menghakimi baptisan gereja lain

Akibatnya:
Jemaat hidup dalam ketakutan
Fokus iman bergeser dari Allah kepada diri sendiri

6. Sikap Gereja yang Sehat

Gereja perlu menegaskan bahwa:
a. Baptisan sah cukup sekali
b .Pertobatan adalah proses hidup, bukan pengulangan sakramen
c. Iman bertumbuh melalui firman, doa, dan persekutuan

Jika seseorang jatuh dalam dosa:
Ia dipanggil untuk bertobat
Bukan untuk dibaptis ulang

7. Penutup
Baptisan adalah:
a. Tanda kasih Allah
b. Janji Allah Tritunggal
c. Anugerah yang tidak diulang

BAPTISAN ULANG BUKAN TANDA IMAN YANG LEBIH DEWASA, TETAPI SERINGKALI MENJADI TANDA IMAN YANG BELUM MEMAHAMI ANUGERAH ALLAH.

Marilah kita:
a. Menghormati karya Allah Tritunggal
b. Memelihara iman dalam ketaatan
c. Hidup setia pada janji baptisan kita

Baptisan seharusnya tidak diulang karena merupakan sakramen yang unik dan permanen, melambangkan persatuan sekali untuk selamanya dengan kematian serta kebangkitan Kristus.  Pandangan ini didukung kuat oleh teologi Reformed, Katolik, dan Ortodoks yang menekankan validitas baptisan asli selama dilakukan atas nama Tritunggal. Analisis kritis akademik menolak rebaptisan sebagai bentuk keraguan terhadap efikasi karya Kristus yang sempurna. Dasar Alkitabiah Efesus 4:5 menyatakan "satu Tuhan, satu iman, satu baptisan," yang menegaskan baptisan sebagai elemen tunggal dalam kesatuan gereja universal, bukan yang dapat diulang. Roma 6:3-4 menggambarkan baptisan sebagai identifikasi definitif dengan kematian dan kebangkitan Kristus, menghasilkan hidup baru yang tidak perlu "dikubur ulang." Kisah Para Rasul tidak mencatat preseden rebaptisan kecuali untuk konversi dari baptisan Yohanes non-Trinitarian, bukan untuk baptisan Kristen yang sah. Perspektif Teologi Reformed
Dalam tradisi Reformed, baptisan Kudus bersifat sakramental permanen, mirip sunat Perjanjian Lama yang sekali seumur hidup, menandai masuknya ke dalam perjanjian Allah. Rebaptisan menyiratkan penolakan terhadap otoritas gereja universal dan karya Roh Kudus yang mengikat semua baptisan Trinitarian, termasuk baptisan bayi atau dewasa asli. Konfirmasi iman atau peneguhan cukup untuk dewasa yang bertumbuh, tanpa mengulang sakramen. Kritik terhadap Rebaptisan
Praktik rebaptisan ala Anabaptis mengabaikan esensi baptisan sebagai tindakan ilahi yang transenden, bukan sekadar simbol subjektif pertobatan pribadi. Secara historis, ini memecah kesatuan gereja, bertentangan dengan Efesus 4 yang menuntut "menjaga kesatuan Roh." Kritik akademik menyoroti bahwa rebaptisan merendahkan kedaulatan Allah atas sakramen, menggantikannya dengan pengalaman manusiawi yang fluktuatif. 
Bagaimana gereja menentukan validitas baptisan sebelumnya

Gereja menentukan validitas baptisan sebelumnya berdasarkan kriteria teologis seperti rumusan baptis, usia penerima, dan keyakinan pribadi, yang bervariasi antar denominasi. Kriteria utama meliputi penggunaan rumus Tritunggal yang benar ("dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus") serta baptisan bagi orang percaya dewasa yang sadar atau anak/bayi yg diserahkan dalam tanggung jawab orang tuanya, air, percik, selamat, celup, dlsb, bukan materi utama. Kriteria Katolik dan Protestan Reformir Tradisional serta orthodoks, Gereja Katolik memvalidasi baptisan non-Katolik jika memenuhi materia (air) dan forma (rumus Tritunggal), dibuktikan via surat baptis, tidak perlu baptisan ulang. Gereja Protestan Reformir Tradisional umumnya menerima baptisan sebelumnya sah jika sesuai firman Tuhan, dalam nama Tritunggal mahakudus, fokus pada institusi ilahi bukan pelayan, atau disebut gereja se azas. Gereja Ortodoks mensyaratkan baptisan oleh imam dengan rantai apostolik; sebetulnya rantai apostolik ini dalam pemahaman modern kurang lebih dipahami sebagai gereja se azas, baptisan di luar dianggap tidak sah, sehingga membutuhkan baptisan penuh meski ada baptisan darurat dalam dogma orthodoks.

(18012026)(TUS)




Selasa, 13 Januari 2026

Sudut Pandang Yohanes 1 :29-42, (Minggu II Sesudah Epifania, Tahun A), Untuk apa menjadi murid?

Sudut Pandang Yohanes 1 :29-42, (Minggu II Sesudah Epifania, Tahun A), Untuk apa menjadi murid?

PENGANTAR
Pada Minggu, 18 Januari 2026, bacaan ekumenis mengenai ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ ๐˜ฐ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ต๐˜ช๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ-๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด menurut Injil Yohanes (Yoh. 1:29-42). Para pengkhotbah hendaknya cermat dalam menyampaikan homili. Jangan sampai pra-paham Injil sinoptik dan Sekolah Minggu digunakan untuk menafsir bacaan Minggu ini seperti yang dilakukan oleh banyak pengkhotbah.

Yohanes Pembaptis tidak membaptis Yesus dalam Injil Yohanes. Murid kesatu Yesus adalah Andreas dan sosok tanpa nama, bukan Petrus. Andreas dan sosok tanpa nama itu sebelum mengikut Yesus adalah murid-murid Yohanes Pembaptis. Karakter Yohanes Pembaptis dalam kisah-kisah yang beredar dibunuh oleh petulis Injil Yohanes. Peran Petrus dalam Injil Yohanes juga tidak menonjol karena Petrus sangat Yudaik dalam arti amat taat kepada adat-istiadat Yahudi. Namun, bukan berarti petulis Injil Yohanes tidak Yudaik. Teologi Injil Yohanes justru sangat Yudaik. Yohanes memutuskan untuk menerima panggilan sebagai “orang yang berseru-seru di padang gurun” menyiapkan jalan bagi Tuhan. Ini ia lakukan sekalipun belum memiliki pengenalan tentang Yesus. Namun, oleh karena Roh Kudus ia menjadi mengerti. Hal yang sama juga dilakukan oleh Andreas, Simon, dan murid yang lain (tanpa nama). Bermula dari kesediaan untuk mempercayai apa yang didengar tentang Yesus, lalu mencari tahu tentang apa yang mereka percayai itu. Mengenal dan mengikut Yesus adalah sebuah perjalanan untuk “datang”, “melihat”, "belajar", "bertanya" dan “mengalami” sendiri. Perjalanan yang ditempuh tidak selalu mudah. Kerap berjumpa dengan kelemahan manusiawi seperti yang diakui oleh hamba Tuhan dalam Kitab Yesaya. Namun, menyadari kelemahan dan bersedia untuk datang kepada Tuhan yang mengutus akan memulihkan dan meneguhkan kembali panggilan, bahkan kemampuan bertanya itu kekuatan pencarian yang meneguhkan. Untuk itu, diperlukan keterbukaan hati untuk mengalami hidup bersama Tuhan sebagaimana disaksikan oleh Pemazmur, perlu kemampuan bahkan keberanian bertanya dan mempertanyakan, dalam perjalanan kehidupan mengarah ke Kristus.

PEMAHAMAN 
Pertanyaan di atas dapat dikembangkan: untuk apa murid belajar? Apakah murid ingin menjadi pandai? Tujuan pendidikan ialah menolong anak menjadi pribadi dewasa-mandiri sehingga ia tahu keunggulan dan kelemahannya. Sekolah menolong orangtua dalam hal yang tidak dapat dikerjakan oleh mereka  dengan membantu murid mendapatkan aras kepandaian menurut kemampuan intelektualnya.

Pendidikan membentuk anak menjadi dewasa, bukan dewasa kecil menjadi dewasa besar. Yang dibentuk adalah manusia merdeka, bukan manusia rekaan orangtua. Persoalan besar dalam dunia pendidikan di Indonesia ialah pada umumnya orangtua tidak menerima takrif di atas. Orangtua menuntut agar anak-anak di TK diajarkan membaca dan berhitung, di SD diajarkan bahasa Inggris, sedang bahasa Indonesia yang digunakan sebagai media alih-pengetahuan dari pengajar kepada murid justru dilalaikan. Sejak SD anak-anak dipaksa ikut les musik atau tari, meski tak berbakat. Bukan itu saja orangtua memaksa anak ikut les bahasa Inggris dan matematika di luar jam sekolah. Lebih mengenaskan lagi kepala sekolah yang didukung oleh banyak guru melayani tuntutan orangtua.

Dari uraian singkat di atas kita bisa menguak jawaban untuk apa menjadi murid tidak lain dan tidak bukan adalah demi ambisi orangtua. Murid dipaksa menjadi manusia rekaan orangtua dan guru. Anak menjadi objek pameran orangtua. Orangtua kemudian mendapat banjir pujian dari teman-teman dan handai-taulan. Anak menjadi murid bukan untuk menjadi pribadi dewasa-mandiri, melainkan untuk gengsi orangtua.

Anak tidak sanggup menerima beban pelajaran sehingga merasa frustrasi belajar dituduh malas oleh orangtua dan guru. Murid tidak diberi ruang untuk berbuat kesalahan.  Setiap kesalahan murid atau anak langsung ditindak. Ini membuat murid menjadi penakut dalam menyatakan pendapat, takut bertanya, takut kritis dan hanya membebek apa yang dikatakan oleh orangtua dan guru. Anak tumbuh dengan kerendahhatian yang palsu penuh kemunafikan.

Padahal menjadi pribadi dewasa-mandiri itu mau dan mampu menerima keunggulan dan kelemahannya. Murid menjadi sadar dan bangga atas kepribadiannya yang akan berfaedah bagi banyak orang. Ia pantang menyerah meski ia ada kekurangan, karena ia yakin akan keunggulannya yang membantunya dalam mengatasi masalah.

Kita acap terjebak dalam anggapan bahwa suatu pemikiran baru pastilah paut dengan masa kini dibandingkan dengan pemikiran dari berabad-abad sebelumnya yang dianggap usang. Kita terjebak dalam rasa pesona bahwa suatu pemikiran yang hebat dan menarik pastilah pemikiran yang terandalkan. Misal, parenting. Dengan penggunaan istilah Inggris akan tampak hebat dan original, terus buru-buru kaum muda mau menikah atau baru menikah belajar parenting. 

Mengaji sejarah pendidikan menolong kita keluar dari jebakan-jebakan seperti itu. Sejarah pendidikan menolong kita menengok bahwa banyak pemikiran pedagogis dari masa lampau yang dianggap usang sebenarnya lebih terandalkan ketimbang pemikiran mutakhir. 

Bacaan ekumenis pada Minggu ini diambil dari Yohanes 1:29-42. Dalam narasi, selain mengisahkan kesaksian Yohanes Pembaptis tentang Yesus, terdapat kisah proses perekrutan murid Yesus. Dikisahkan Yohanes Pembaptis berkata kepada dua orang muridnya, “Lihatlah Anak Domba Alllah!” Yohanes Pembaptis menunjuk Yesus. Kedua murid Yohanes itu adalah dua bersaudara Andreas dan Simon, yang kemudian dikenal dengan Petrus. Kedua murid Yohanes Pembaptis itu mengikuti Yesus hendak menjadi murid-Nya. Yesus menoleh ke belakang dan berkata kepada mereka, “Apakah yang kamu cari?”

Pertanyaan Yesus hendak mengungkapkan untuk apa menjadi murid. Pada masa kini pertanyaan itu secara umum ditujukan kepada pengikut Kristus. Secara khusus pertanyaan itu ditujukan kepada “para guru” yaitu pejabat atau pemimpin gerejawi yang mendidik para murid. Didikan mereka apakah membuat umat menjadi pribadi dewasa-mandiri atau menjadi tua tetapi tidak pernah dewasa-mandiri sehingga para murid tetap kekanak-kanakan membebek para guru? Berani kah mendidik umat untuk cerdas bertanya, untuk kritis, atau malah pinginnya membuat umat bodoh, malas bertanya atau tidak enak untuk bertanya alias membebeki, damai palsu. 
Menjadi murid Yesus berarti bersedia untuk mengikuti jalan hidup Yesus. Menjadi murid Yesus adalah sebuah proses dalam suatu perjalanan yang tidak berujung bersama dengan Yesus. Keputusan untuk mengikut dan menjadi murid Yesus tidak selalu didahului oleh pengenalan atau pengetahuan tentang Yesus. Kerendahan hati untuk “datang”, “melihat”, "belajar", "bertanya" dan “mengalami” adalah awal “perjalanan” untuk menjadi pengikut/murid Yesus.

(14013026)(TUS)


Sabtu, 10 Januari 2026

SUDUT PANDANG PERSEPULUHAN DALAM SEJARAH KUNO ADALAH BENTUK INKULTURISASI

Keterangan Gambar:
Tablet paku tentang akun pembayaran esru (persepuluhan) dari arsip Ebabbar (sumber: en.wikipedia/tithe)

SUDUT PANDANG PERSEPULUHAN DALAM SEJARAH KUNO ADALAH BENTUK INKULTURISASI 
==================================

PENGANTAR
Pada artikel saya kali ini, saya tidak membahas tentang persepuluhan dari satu perspektif, alias perspektif Alkitabiah, melainkan juga berdasarkan perspektif sejarah kuno, apa yang saya geluti tentang sastra, sejarah, dan arkeologi alkitab.
SIAPA YANG BERHAK ATAS PERSEPULUHAN?
Persembahan Persepuluhan berakar dari Taurat, dan asal muasal sejarahnya adalah dari praktik Esretu, pajak persepuluhan di Ugarit (Kanaan) dan Babilonia (Mesopotamia). Abraham yang datang dari Ur di Mesopotamia lalu menetap di Kanaan tentunya mengetahui praktik ini sehingga tidak mengherankan jika dia berinisiatif memberikan sepersepuluh dari pampasannya pada Melkisedek. 
Acuan utama Kekristenan tentang Persepuluhan adalah Taurat, sehingga seharusnya pada praktiknya Persepuluhan tidak mutlak harus dibawa ke gereja dan tidak mutlak juga semuanya adalah hak para pendeta/gembala jemaat. Persepuluhan diatur untuk diberikan pada para pendeta/gembala namun juga adalah hak para pekarya gereja non-pendeta, orang-orang asing yang kesulitan, anak-anak yatim, dan para janda yang membutuhkan, jemaat sekeng di gereja.

Dalam Taurat, hakikat Persepuluhan adalah Persembahan Kudus sehingga merupakan milik Tuhan sepenuhnya (Imamat 27:30), dan penyalurannya adalah untuk orang Lewi (semua pekarya gereja, pendeta dan non-pendeta), orang asing, anak-anak Yatim, dan para janda. Aturan ini sangat jelas tertulis dalam Ulangan 26:12. Sehingga, jika ingin memberikan Persepuluhan maka boleh dibawa ke gereja, tapi selain membawakannya di gereja, juga bisa langsung memberikannya pada kelompok-kelompok yang sudah disebutkan diatas atau gereja mengatur persembahan tsb (sudah banyak sistim Manajemen gereja dan sistim kepemimpinan dan pengelolaan Gereja modern)

Imamat 27:30 mencantumkan tentang kekudusan Persembahan Persepuluhan, sedangkan Ulangan 26:12 mencantumkan bagaimana Persembahan Persepuluhan itu disalurkan. Sayangnya, saat ini sebagian besar hanya mengingatkan isi Imamat 27:30 dan tidak menjelaskan detail yang tertulis dalam Ulangan 26:12. Perkara persepuluhan, adalah perkara pilihannya sebuah manajemen gereja, tetapi sebaiknya argumentasi cukup kuat untuk umat, karena dalam PB, Yesus mendobrak pemahaman taurat PL termasuk dalam kasus persepuluhan.


PEMAHAMAN
Bagi pemerhati sastra, sejarah dan arkeologi Alkitab, saya yakin ada yang bertanya-tanya,

"Apakah ada catatan atau keterangan historis terkait kira-kira Abraham mendapat ide dari mana untuk membawa sepersepuluh tersebut kepada Melkisedek?" 

"Bukankah tidak ada catatan tentang perintah Ilahi pada Abraham saat itu?" 

"Apakah memang di jaman itu betul-betul sudah menjadi tradisi memberikan sepersepuluh dari pendapatan?"

Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang memiliki jawaban historis. 

Kebiasaan memberi persepuluhan dengan tidak dimulai oleh Taurat Musa dan bukan kebiasaan khas para leluhur Israel, karena, persepuluhan dilakukan juga oleh bangsa-bangsa kuno lainnya.

Ada kekeliruan khotbah dan pemahaman tentang persepuluhan. Kata yang benar adalah "Persepuluhan" yang artinya "sepuluh persen dari pendapatan" adalah milik Tuhan. Kata ini entah mengapa menjadi populer sebagai "Perpuluhan" yang berarti "berpuluh-puluh", sehingga ada beberapa pendeta yang membenarkan konsep bahwa jemaat membawa 20% bahkan 90 sekian persen dari hasil pendapatannya, bahkan ada yang mengatakan kalau 100% bisa kenapa harus dibatasi 10%? Ada yang menekankan ini PERINTAH TUHAN pada umatnya,  Ini keliru dan akan terus keliru jika khotbah tentang persepuluhan selalu menitik beratkan jumlah bukannya cara dan peruntukannya. Selain itu, banyak yang mengira bahwa dalam Alkitab persepuluhan hanya dipungut dan diberikan kepada rumah Tuhan dan untuk para imam (terumah) dan orang Lewi (persepuluhan pertama), juga untuk janda serta kaum fakir miskin, ini tidak sepenuhnya benar sebab persepuluhan juga dipungut dan diberikan kepada raja (1Samuel 8:15,17). Narasi dalam kitab Samuel jika dipadukan dengan pemberian persepuluhan oleh Abraham maka bisa dilihat bahwa persepuluhan sejak awal bukan bersifat kerohanian saja tapi juga sekuler yang berdasarkan pada kekuasaan teritorial, lebih tepat kalau dikatakan sebagai sistim pajak kuno.

Menariknya, ada naskah kuno diluar Alkitab tentang persepuluhan. Ada penemuan arkeologinya,  tepatnya melalui dokumen-dokumen pada tablet cuneiform (tulisan paku).

Praktik persepuluhan mirip dengan praktik Esretu – "eลกretลซ", yaitu pajak sepersepuluh Ugarit dan Babilonia. Ugarit adalah sebuah kota Fenesia pada pantai Siria utara, saat ini namanya Ras Syamra. 

Di bawah ini tercantum beberapa contoh spesifik dari persepuluhan Mesopotamia, saya ambil dari The Assyrian Dictionary of the Oriental Institute of the University of Chicago, Vol. 4 "E" hal. 369 yang diambil dari salah-satu tablet cuneiform.

[Mengacu pada pajak sepuluh persen yang dikenakan pada pakaian oleh penguasa setempat:] 

"Istana telah mengambil delapan pakaian sebagai persepuluhan Anda (pada 85 pakaian)"

"... sebelas pakaian sebagai persepuluhan (pada 112 pakaian)"..

" ... (dewa matahari) Shamash menuntut persepuluhan..."

"empat mina perak, persepuluhan [para dewa] Bel, Nabu, dan Nergal..."

"... dia telah membayar, selain persepuluhan untuk Ninurta, pajak gardiner"

"... persepuluhan kepala akuntan, dia telah menyerahkannya kepada [dewa matahari] Shamash"

"... mengapa kamu tidak membayar persepuluhan kepada Nyonya Uruk?"

... (seorang pria) berutang jelai dan kurma sebagai keseimbangan persepuluhan dari   tahun tiga dan empat "

"... persepuluhan raja di jelai kota..."

"... berkenaan dengan tua-tua kota yang (raja) telah dipanggil untuk (membayar) persepuluhan ..."

"... kolektor persepuluhan negara Sumundar..."

"... (Ebabbar resmi di Sippar) yang bertanggung jawab atas persepuluhan


Sebagai catatan, yang dimaksudkan dengan Nyonya Uruk adalah Innana, dewi cinta Mesopotamia kuno. Oleh orang Akkadia, Babilonia, dan Assiria dikenal dengan nama Ishtar.

Dimasa Abraham, persepuluhan adalah suatu kebiasaan Ugarit (sekitar Kanaan) dan Proto-Babel (Mesopotamia), oleh karena itu, Abraham yang berasal dari Mesopotamia, dan Melkisedek yang adalah imam di Salem yang ada di Kanaan dan dekat dari Ugarit, tentu familiar dengan persepuluhan yang saat itu peruntukannya kepada raja dan pihak kuil. Teks 1 Samuel mengacu pada kebiasan ini. Dikemudian hari, oleh Musa, pemungutan dan peruntukan persepuluhan diatur lebih rapih.

Jika merujuk kepada tindakan Abraham (Kejadian 14:17-20) dan ramalan Samuel tentang persepuluhan (1 Samuel 8:15,17), terlihat ada perbedaan motivasi. Abraham memberi dengan dorongan hati tetapi dalam 1 Samuel 8:15,17 rakyat  diramalkan akan dipaksa untuk memberikan persepuluhan pada raja. Abraham jelas memberikan dengan kerelaan hati padahal dia tidak diwajibkan secara adat dan teritorial (karena dia bukan orang Salem), sedangkan, untuk kasus 1 Samuel ini merupakan kewajiban rakyat pada raja yang mengacu pada adat istiadat dijaman itu (beda dengan persepuluham Musa yang motivasi dan peruntukannya adalah kerohanian). 

Tindakan spontan Abraham dan perkataan Samuel tentang pemberian persepuluhan pada raja mungkin sulit dipahami, tetapi, penemuan-penemuan arkeologi dan manuskrip kuno tentang kebiasaan pemberian persepuluhan kuno di Kanaan dan Mesopotamia telah membantu memecahkan pertanyaan-pertanyaan dalam Alkitab terkait sejarah persepuluhan. Ini seperti sejarah sunat, yang mana tradisi ini dikenal Abraham dari Mesir. 

Seperti yang sering saya katakan, Tuhan mampu dan berhak menggunakan kebiasaan tradisional untuk memuliakan namaNya, inkulturisasi adalah hal yang lumrah dalam perjalanan hidup manusia terlebih dalam sejarah agama-agama di dunia.

Penolakan persepuluhan sebagai kewajiban mutlak di gereja Kristen dapat didasarkan pada analisis teologi Perjanjian Baru yang menekankan pemberian sukarela daripada hukum ritual Perjanjian Lama. Praktik ini bukan dosa karena tidak ada perintah eksplisit dalam ajaran rasul yang mengikat orang percaya di bawah kasih karunia Kristus. Pendekatan kritis ini membebaskan jemaat dari legalisme sambil mendorong penatalayanan total hidup. Konteks Perjanjian Lama
Persepuluhan diatur beragam dalam Taurat, seperti hasil bumi untuk Lewi (Bil. 18), dimakan komunal (Ul. 14:22-27), atau untuk yatim piatu setiap tiga tahun (Ul. 14:28-29), menunjukkan fungsi sosial-teokratis bukan pajak tetap 10% uang modern. Kritik nabi seperti Amos 4:4 menyoroti legalisme yang kehilangan makna sosial, sementara Maleakhi 3:10 adalah panggilan kesetiaan Israel pra-Kristus, bukan formula "beri untuk terima" bagi orang percaya. Diamnya Perjanjian Baru
Perjanjian Baru hanya sebut persepuluhan tiga kali: Yesus kritik Farisi yang obsesi ritual tapi abaikan keadilan (Mat. 23:23), Farisi sombong (Luk. 18:12), dan Ibrani 7 bandingkan Melkisedek dengan Kristus tanpa perintah baru. Paulus ajarkan pemberian mingguan sukarela (1 Kor. 16:2), murah hati (2 Kor. 9:7), bukan 10% tetap; rasul di Kis. 15:28-29 bebaskan non-Yahudi dari hukum Musa termasuk persepuluhan. Bukan Dosa, Tapi Disiplin Sukarela
Tidak memberi persepuluhan bukan dosa karena orang percaya dibebaskan dari hukum (Kol. 2:16-23; Gal. 5:1), dengan fokus 100% hidup sebagai persembahan (Rm. 12:1). Sejarah gereja awal tanpa persepuluhan wajib hingga abad ke-6 Katolik perkenalkan sebagai dukungan klerus, ditolak Reformator seperti Luther. Memberi sukarela hindari "pencurian Tuhan" interpretasi salah Maleakhi untuk PB. Implikasi Praktis Gereja
Gereja tolak persepuluhan wajib dorong pemberian kasih untuk kebutuhan saudara (2 Kor. 8-9), transparansi, dan hindari eksploitasi. Praktik ini tetap boleh sebagai disiplin rohani pribadi, tapi legalisme rusak stewardship (pengelola) total dan semangat kasih Kristus.
___________________
Oleh (11012026)(TUS)

Referensi:
1. Andrew E. Hill & John H. Walton, "A survey of Old Testament", Zondervan, edisi ketiga.

2. A. Leo Oppenheim (editor in charge), "The Assyrian Dictionary of the Oriental Institute of the University of Chicago, Vol. 4", The Oriental Institute, Chicago, 2004

3. R. F. Bhanu Victorahadi Pr., "Buku Ajar Eksegese: Perjanjian Lama Nabi-Nabi", UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, 2022.

4. David F. Hinson, "Sejarah Israel Pada Zaman Alkitab", BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2004.

5. Ensiklopedia Alkitab

6. Gleason L. Archer, "Encyclopedia of Bible Difficulties", Zondervan Publishing House, Michigan,  1982.

7. Josephus, "Antiquities of the Jews".

8. Robert H. Gundry, "A survey of Old Testament", Zondervan, edisi kelima.

9. Susan Wise Bauer, "Sejarah Dunia Kuno", Elex Media Komputindo, 2007.

10. William Stanford LaSor, David Allan Hubbard, Frederick Wm. Bush; "Old Testament Survey", Wm. B. Eerdmans Publishing, Cambridge, 1996.

11. Walter C. Kaiser Jr., Peter H. Davids, F.F. Bruce, Manfred T. Brauch, "Hard Saying of the Bible", InterVarsity Press, Illinois,  1996.

12. W. J. Martin, "Stylistic Criteria and the Analysis of the Pentateuch", 1955.

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด MATIUS 5 :13-20, [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ฉ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—˜๐—ฝ๐—ถ๐—ณ๐—ฎ๐—ป๐—ถ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”]๐—•๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ๐˜€๐˜‚๐—ฟ๐˜‚๐—ต ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—บ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐˜‚๐—ป๐—ถ๐—ฎ

Sudut   ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด MATIUS 5 :13-20,  [ ๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ฉ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—˜๐—ฝ๐—ถ๐—ณ๐—ฎ๐—ป๐—ถ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”] ๐—•๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ๐˜€๐˜‚๐—ฟ๐˜‚...