Selasa, 14 Maret 2023
HUTANG-PIUTANG DALAM ALKITAB, SERIAL SUDUT PANDANG
Jumat, 17 Februari 2023
SUDUT PANDANG Mat. 17:1-9, Mrk. 9:2-13, dan Luk. 9:28-36, RUNGOKNO GUSTIMU, MINGGU TRANSFIGURASI
Jumat, 10 Februari 2023
BERAT? MEMANG, MASIH MAU LANJUT? SERIAL SUDUT PANDANG
Jumat, 13 Januari 2023
𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗣𝗲𝘁𝗿𝘂𝘀 yang pertama tapi Andreas, Serial Sudut Pandang
Malpraktik Agama, Serial Sudut Pandang
Susy menderita sakit parah cukup lama. Setiap hari Susy harus meminum beberapa obat, yang menurut dokter, wajib dikonsumsi. Susy sangat frustrasi dengan penyakitnya; dia ingin sembuh; jalan apa pun akan ditempuhnya. Suatu saat Susy mengunjungi ibadah penyembuhan yang dipimpin oleh seorang rohaniawan. Konon, doa sang rohaniawan sangat ‘tokcer.’ Segala penyakit yang didoakan, selalu hilang lenyap. Susy datang dengan harapan sangat besar.Susy didoakan secara khusus. Setelah didoakan, dia belum merasakan kesembuhan. Susy tetap berharap. Sang rohaniawan mengatakan bahwa kesembuhan tidak terjadi bukan karena Allah yang salah, tetapi karena iman Susy terlalu lemah. Dua hal wajib dilakukannya untuk membuktikan imannya. Pertama, memberikan persembahan kepada Allah. Tentu saja melalui sang rohaniawan. Kedua, membuang segala obat-obatan yang diberikan dokter. “Kita harus bergantung pada kuasa penyembuhan, bukan pada obat apa pun,” kata sang rohaniawan. Susy mengamininya.Susy melakukan apa yang dikatakan oleh sang rohaniawan. Dia memberikan persembahan; cukup besar jumlahnya. Susy membuang obat-obatan yang rutin diminumnya. Susy berharap mujizat itu datang. Sayangnya….., gara-gara tidak lagi mengkonsumsi obat-obatan yang rutin diminumnya, penyakitnya kambuh, bahkan semakin parah. Beberapa minggu kemudian, Susy dijemput oleh kematian. Inilah malpraktik agama!Kevin punya pengalaman yang hampir sama dengan Susy. Akibat kecelakaan lalu lintas, Kevin menderita kelumpuhan. Efeknya, rasa percaya dirinya terkikis; dia frustrasi. Syukurnya, dia punya sedikit dana pesangon. Dana itu dari kantor yang dulu mempekerjakannya. Kevin berencana menggunakannya untuk usaha kecil-kecilan. Tetapi, rencana itu urung dilakukan.Kevin justru menyumbangkan seluruh dananya untuk pelayanan. Bagaimana itu bisa terjadi? Saat seorang pengkhotbah yang mengklaim diri ‘penyembuh ilahi’ datang ke kotanya, Kevin mengikuti ibadahnya.Dalam ibadah itu, Kevin diingatkan untuk memberikan apa pun yang dia miliki sebagai tanda kesetiaan dan imannya. Kevin melakukannya dengan taat. Sang penyembuh ilahi meyakinkannya dengan janji bahwa Allah sendiri pasti membalasnya dengan kesehatan dan kekayaan yang berlimpah ruah. Siapa yang tidak mau? Kevin mau dan dia yakin akan janji itu. Dia berharap!Beberapa bulan berlalu, Kevin tetap lumpuh. Dananya ludes, ekonominya terpuruk. Kevin frustrasi berat. Kini dia mendekam di rumah sakit jiwa. Lagi-lagi malpraktik agama.
Malpraktik
Kedua kasus di atas hanyalah segelintir dari ribuan kasus-kasus malpraktik agama. Lalu, apa itu malpraktik? Malpraktik atau malpractice dikenal dalam dunia kedokteran. Berasal dari gabungan dua kata ‘mal’ dan ‘practice’. Mal artinya buruk. Practice artinya tindakan. Secara hurufiah artinya suatu tindakan medik yang buruk.Sesungguhnya malpraktik terjadi di segala bidang kehidupan; di dalam dunia bisnis, dalam dunia politik, dan bahkan juga dalam dunia keagamaan.Malpraktik dalam dunia keagamaan inilah yang diangkat oleh David W. Jones dan Russells S. Woodbridge dalam bukunya “Health, Wealth and Happiness.” Menurut Jones and Woodbridge, malpraktik dalam dunia keagamaan ini dipraktekkan oleh prosperity gospel. Di Indonesia prosperity gospel dikenal dengan nama teologi sukses.Para pengkhotbah teologi sukses memberi janji-janji yang memabukkan umat pendengarnya. Mereka selalu mengatakan umat harus memiliki iman yang kuat. Sampai di situ tidak masalah. Tetapi selanjutnya, mereka akan ‘menuntut’ agar umat membuktikan imannya dengan memberikan persembahan. Para pengkhotbah ini memberi harapan bahwa Tuhan akan membalas para penyumbang itu dengan kesehatan dan kekayaan yang melimpah. Berkat Tuhan akan mengalir bagaikan air sungai yang deras. Tentu saja, kalimat-kalimat mereka lebih ‘powerful’ karena dibalut dengan ayat-ayat suci. Umat diyakinkan untuk melakukan apa yang mereka kehendaki. Menurut Jones dan Woodbridge, di situlah persoalan teologisnya. Orang datang bukan untuk mencari Yesus. Para pengkhotbah juga tidak memberitakan Yesus Kristus. Umat datang untuk mendengar janji-janji kekayaan dan kesehatan yang dilontarkan pengkhotbahnya.Janji-janji itu adalah ilusi dunia sekuler yang masuk dalam ranah keagamaan. Banyak orang mengalami kekecewaan karena termakan ilusi kosong itu. Aspek lain lagi adalah orang memberi persembahan bukan karena cinta Tuhan. Mereka datang karena ingin mendapatkan lebih banyak lagi berkat dari Tuhan. Umat seperti pemancing yang mengumpan cacing untuk dapat ikan kakap. Tuhan ‘disogok’ agar memberi mereka kesuksesan.Tahukah anda bahwa yang semakin sukses dan semakin kaya adalah para pengkhotbah itu sendiri. Itulah sebabnya kebanyakan para pengkhotbah teologi sukses itu sangat sukses dan kaya raya. Mereka memiliki pesawat, mobil dan rumah yang super mewah. Mereka bisa begitu karena menerapkan malpraktik teologi yang namanya teologi sukses. Rasanya sudah saatnya gereja atau institusi agama mana pun untuk mengajarkan umat bersikap kritis terhadap malpraktek keagamaan. Agama memang mengajarkan banyak kebaikan, tetapi agama pun bisa digunakan untuk mengelabui siapa pun, termasuk kita.
Cepogo
11 Jan 2023
(T)
Jumat, 30 Desember 2022
Pulanglah Mereka Melalui Jalan Lain, Serial Sudut Pandang
Sabtu, 17 Desember 2022
PERKARA UCAPAN SELAMAT NATAL DARI SAHABAT ISLAM/MUSLIM, Serial Sudut pandang
Senin, 05 Desember 2022
SUDUT PANDANG MERAYAKAN NATAL SAAT ADVENT?
Jumat, 25 November 2022
Apakah ajaran 'tabur-tuai' alkitabiah? dan bisa diterapkan dalam konteks persembahan? Serial Sudut Pandang
Apakah ajaran 'tabur-tuai' alkitabiah? dan bisa diterapkan dalam konteks persembahan? Serial Sudut Pandang
Perlu dipahami sejak awal bahwa prisip tabur tuai sepanjang tulisan Alkitab dr PB dan PL lebih mengarah banyak pada perbuatan jahat (walaupun bisa dua arah) bukan dalam konteks persembahan walaupun ada kaitan dg pemahaman agraris atau pertanian . Menurut Alkitab, apakah kita menuai apa yang kita tabur? Prinsip tabur tuai dijumpai di sepanjang Alkitab, karena hal ini sering dijumpai oleh manusia. Upaya mempekerjakan tanah guna memanen hasilnya berkaitan erat dengan sejarah umat manusia. Salah satu bagian dari kutukan Adam ialah bahwa tanah akan menghasilkan duri sebagai hasil dari upaya Adam dan "dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu" (Kejadian 3:19). Dama memahami konsep "tabur-tuai" baik secara harafiah maupun secara kiasan.Kiasan menuai apa yang ditabur juga dapat merujuk pada dua ayat dalam Perjanjian Baru. Salah satunya ditemui dalam 2 Korintus 9:6, "Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga." Satunya lagi ditemukan dalam Galatia 6:7, "Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya." Sebagai prinsip umum, memang benar bahwa aktifitas menabur akan diikuti oleh penuaian apa yang ditabur. Hal ini berlaku secara agraris dan juga dalam halnya pilihan hidup. Oleh karena itu, ajaran "tabur-tuai" itu alkitabiah.
Adapula ayat Perjanjian Lama yang membahas prinsip tabur-tuai. "Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana," ditulisnya Raja Salomo (Amsal 22:8). "Kamu telah membajak kefasikan, telah menuai kecurangan, telah memakan buah kebohongan", kata nabi Hosea (10:13). "Mereka akan memakan buah perbuatan mereka, dan menjadi kenyang oleh rencana mereka" ucap Hikmat dalam Amsal 1:31. Dalam setiap kasus, hukum tabur dan tuai merujuk kembali pada keadilan Allah.
Meskipun ada prinsip rohani yang berlaku dalam halnya ketika kita menabur perbuatan jahat, kita akan menuai akibat yang buruk, adapula belas kasihan. Untungnya kita tidak selalu menuai apa yang kita tanam. Allah berhak berbelas kasihan pada siapapun yang Ia hendaki, sebagaimana firman-Nya kepada Musa, "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati" (Roma 9:15). Oleh karena belas kasihan Allah, kita memperoleh kediaman surgawi kelak, meskipun kita berdosa. Kita menabur kelaliman dan korupsi, dan Yesus menuai hukuman kita di atas kayu salib. Terpujilah Dia selamanya.
Kadang yang tampak bagaikan tuaian panen bukan demikian. Ketika Ayub sedang menderita, teman-temannya menganggap kesulitan yang menimpanya sebagai hukuman adil dari Allah atas dosa yang dirahasiakan. Elifas, teman Ayub berkata: "Yang telah kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga" (Ayub 4:8). Namun dalam kasus Ayub, Elifas keliru. Tuaian belum tiba – dan tidak tiba sampai akhir kitab itu (Ayub 42:10-17). Mengalami situasi buruk bukan berarti kita telah menabur benih yang buruk. Prinsip tabur-tuai secara umum benar, tapi tidak selalu terjadi dalam setiap situasi yang kita jumpai.
"Tabur-tuai" berlaku baik secara positif maupun secara negatif. "Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu" (Galatia 6:8). Ayat ini merangkum prinsip tabur-tuai dengan baik. Ketika kita bersikap egois, sombong, tidak adil, fasik, dan mengandalkan diri, maka kita sedang "menabur dalam daging," dan kebinasaan menanti. Ketika kita bersikap tanpa pamrih, murah hati, ramah, dan mengandalkan pemeliharaan dan keselamatan dari Allah, kita sedang "menabur dalam Roh" dan menuai kehidupan kekal.
Iman dalam Yesus dan pencarian akan kesalehan adalah "menabur dalam Roh." Menabur dalam daging, mengandalkan diri sendiri dan kemampuan kita tanpa pertolongan Allah, hanya akan membawa pada jalan buntu. Namun ketika kita percaya pada Kristus, kita mendapat kehidupan kekal. Kasih-Nya bagaikan tanah yang subur yang darinya kita menuai buah yang baik.
Jumat, 18 November 2022
SUDUT PANDANG LUKAS 23:33-43 𝗣𝗲𝗻𝗴𝗲𝗷𝗲𝗸, Serial Sudut Pandang
Jumat, 11 November 2022
SUDUT PANDANG LUKAS 21 :5-19, Bertahan
Jumat, 04 November 2022
DUNIA ORANG MATI, Serial Sudut Pandang
Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32
Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32 PENGANTAR Allah menghendaki pertobatan nyata. Gereja dipanggil untuk memi...
-
SUDUT PANDANG PENYALIBAN YESUS: RENCANA SIAPA? PENGANTAR Isu mengenai apakah penyaliban Yesus merupakan rencana Allah at...
-
SUDUT PANDANG LUKAS 21 :5-19, Petaha PENGANTAR Kitab-kitab Injil tidak ditulis oleh 12 murid Yesus. Juga tidak ditulis oleh juru...