Selasa, 14 Maret 2023

HUTANG-PIUTANG DALAM ALKITAB, SERIAL SUDUT PANDANG

HUTANG-PIUTANG DALAM ALKITAB, SERIAL SUDUT PANDANG
================================

"Kalau sampai kiamat hutang negara belum lunas, nanti di akhirat dosanya di tanggung oleh presiden atau di bagi rata sama rakyat ?."

Demikianlah sebuah pertanyaan 'teo-politis' yang diajukan di kelas.
________________________________________________________

Pertanyaan diatas ditanyakan seorang mahasiswa melalui kelas ANTROPOLOGI ALKITAB. Pertanyaan ini terlihat jenaka tapi sebenarnya menarik. Konsep pertanyaan ini sebenarnya bukan berasal dari perspektif Alkitab tapi dari perspektif non-Kristen dan non-Yahudi, yang kemudian dikelirukan oleh penganut Kristen seakan itu adalah perspektif Alkitab. Perspektifnya tidak salah, namanya juga beda keyakinan, tetapi sebagai orang Kristen sebaiknya kita meluruskan persepsi tentang hutang-piutang ini berdasarkan perspektif Alkitab.

Terkait hutang-piutang, dalam 'perundang-undangan' yang dicatat dalam Alkitab, semuanya bersifat humaniter (berperikemanusiaan) dan diatur dengan sangat rinci, jauh lebih rinci dibandingkan undang-undang peradaban purba lain yang sezaman dengan penulisan peraturan ini. Menurut Alkitab, meminjamkan uang di Israel bukan untuk alasan bisnis, melainkan karena dasar belas kasihan. Dalam perspektif Pentateukh, utang adalah uang atau barang yang diberikan dengan syarat bahwa akan dikembalikan kemudian (kamus Browning, "utang"). Sedangkan, dalam sosiologi suku-suku Israel yang lebih sederhana tidak ada suatu tata susunan pinjaman, seperti yang terdapat dalam masyarakat modern, yang memungkinkan orang membuka suatu usaha baru, atau membeli kebun atau peternakan (Ensiklopedia Alkitab, "hutang-piutang"). Pinjaman dimaksudkan untuk membantu orang mengatasi kesulitan. Mereka yang memberi pinjaman melakukannya atas dasar kemurahan hati. Adapun  keuntungan bunga dapat ditarik dari orang bukan Israel (Ulangan 23:20). Namun, dikemudian hari ada orang Yahudi yang mengutangkan dan dirugikan mendorong perluasan pungutan bunga (Yeremia 15:10). Bagi orang yang terpaksa harus meminjam, ada banyak aturan perlindungan. Contohnya: juru-sita tidak diperbolehkan memasuki rumah orang untuk mengambil gadai (Ulangan 24:10-11), atau untuk mengambil pakaian seorang janda (Ulangab 24:17). Pakaian gadai seorang miskin juga harus dikembalikan kepadanya sebelum petang (Keluaran 22:25-26). Agunan atas pinjaman kecil, misalnya harta benda pribadi yang digadaikan (Ulangan 24:10; Ayub 24:3), atau, harta tak bergerak (Nehemia 5), juga atas tanggungan seseorang (Amsal 6:1-5; Yesaya 8:13; 29:14-20). Jika tidak ada jaminan untuk membayarnya, maka debitur dapat dijual menjadi budak (Keluaran 22:3; 2 Raja-raja 4:1; Amsal 2:6; 8:6). Barang-barang yang boleh dijadikan agunan dibatasi, begitu juga syarat-syarat untuk meminjam (Ulangan 24). Tetapi, dalam kenyataan hidup sehari-hari, hal itu tidak selalu berlangsung menurut aturan (Amsal 2:8) sebab undang-undang ini seringkali tidak dilaksanakan. Janda yang dibicarakan dalam 2 Raja-raja 4:1-7 ditolong oleh Elia, bukan dengan mengandalkan hukum itu, tapi dengan mengandalkan mujizat. 

Petani selalu diutamakan dalam pinjam-meminjam di Israel karena tulang-punggung utama perekonomian Israel tetaplah sektor pertanian. Oleh karena itulah undang-undang Israel tidak memuat aturan-aturan perdagangan, tapi memuat nasihat-nasihat supaya bermurah hati terhadap tetangga, seperti yang tercatat dalam Amsal 29. Motivasi yang mendasari pemberian hutang kemudian berubah dijaman Perjanjian Baru. Inilah yang dikecam oleh Tuhan Yesus dalam perumpamaan bendahara yang tidak jujur (Lukas 16:1-8). Para debitur dalam perumpamaan itu adalah penyewa atau pedagang yang wajib membayar dengan barang-barang natura. Yesus memakai ungkapan ini bukan untuk menggambarkan hubungan Allah dengan manusia seperti hubungan kreditur dengan debitur, tapi untuk menyatakan kasih karunia Allah dan memerintahkan kewajiban mengampuni (Lukas 7:41 dab; Mat 18:21-27). Oleh Yesus, kesalahan juga diumpamakan sebagai hutang, yang bisa dilihat dari penggunaan kata Yunani dalam Matius 6:12 yang diterjemahkan sebagai 'kesalahan', sebenarnya menggunakan arti yang harfiahnya ialah 'utang'. Walau telah diatur dengan rinci tapi ada juga penyelewengan terkait hutang-piutang. Apa yang dikeluhkan dalam Perjanjian Lama sebenarnya bukan besarnya bunga utang, tapi karena adanya bunga itu. Kitab Undang-undang Israel (Keluaran 22:25; Ulangan 23:19; Imamat 25:35) melarang adanya bunga walaupun Ulangan 23:20 (bnd 15:1-8) mengizinkan mengambil bunga dari orang asing. 

Pada zaman Yudaisme, Hilel merancang suatu sistem untuk menyisihkan Ul 15 secara hukum, maksudnya bukan untuk menggagalkan atau mengelabui hukum Taurat, tapi untuk mencocokkannya dengan ekonomi perdagangan. Inilah yang mendasari dimulainya bisnis kredit komersial seperti sudah berlaku di Babel pada tahun 2000 SM. Dalam Kitab Undang-undang Hammurabi dan hukum-hukum Babel yang terdahulu, penerapan bunga pinjaman sudah sangat lazim. 

Penyalahgunaan pemberian hutang sangat dikecam dalam Alkitab. Kata 'nesyekh' (harfiah 'sesuatu yang digigit sampai putus') boleh jadi berarti pemerasan dengan jalan merampas dari kreditur, tapi permainan kata dengan 'nosy ekhim' dalam Habakuk 2:7 (artinya rangkap, yaitu 'pembayar bunga' dan 'penggigit') berarti suatu jumlah bunga utang yang menyedot habis semua simpanan kreditur yang sudah disisihkan untuk pembayaran kembali. Sinonim 'nesyekh' yaitu 'tarbit' ('kenaikan') dan Yunani 'tokos' ('tunas') lebih mendekati makna bunga dalam arti modern, yaitu 'sesuatu yang tumbuh dari modal dasar'. Selaras dengan perkembangan ekonomi, Yesus menyetujui perolehan laba melalui penginvestasian modal (Matius 25:27; Lukas 19:23), tapi Yesus tetap mengecam pemberian bunga uang yang dibebankan pada pinjaman pribadi (Lukas 6:31 dst).

Jadi, hutang menurut perspektif Alkitab bukan untuk memodali peminjam untuk memulai atau memperluas usahanya, melainkan untuk memampukan peminjam, khususnya petani, melewati masa sukar. Kemudian, setiap tujuh tahun semua utang-piutang dihapuskan (Ulangan 15:1 dst.) dan orang Israel yang menjadi budak karena utang yg tak dapat dibayar, harus dibebaskan (Imamat 25:39-55). Artinya, hutang bukanlah tanggungan abadi.

Inti dari semua penjelasan bagi pertanyaan yang diajukan pada saya diatas adalah: Hutang, menurut perspektif Alkitab, sifatnya fana karena hanya untuk perkara duniawi bukan akhirat. Jadi, di akhirat nanti tidak ada yang menanggung hutang dan piutang finansial, termasuk utang negara kita ini. Baik presiden hingga rakyat jelata tidak lagi menanggung hutang di akhirat. Semuanya sudah dihapuskan menurut Alkitab setelah 7 tahun tanggal terhutang, apalagi jika manusia yang bersangkutan telah meninggal. Hanya dua hutang yg harus dipertanggung-jawabkan tanpa batas tahun, yaitu hutang nazar (ditanggung hanya hingga meninggal) dan hutang dosa (ditanggung hingga hari penghakiman). 

______________________________________________
Disusun oleh 25.02.2023 ( T) Cepogo Boyolali

Referensi:
°°°°°°°°°°°°°
1. Browning (kamus Alkitab), kata kunci: pinjaman, utang;
2. Gering (kamus Alkitab), kata kunci: utang;
3. Ensiklopedia Alkitab, kata kunci: utang-piutang;
4. Kamus Pedoman (kamus Alkitab), kata kunci: orang yang berpiutang.

Saduran dan adaptasi:
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
1. Kalimat pertama dan kedua pada paragraf kedua disadur dari kamus Browning, "utang";
2. Kalimat ketiga pada paragraf kedua disadur dari Ensklopedia Alkitab, "utang piutang";
3. Paragraf kedua dan ketiga diadaptasi dari kamus Browning dan Ensiklopedia Alkitab;
4. Paragraf keempat dan kelima diadaptasi dari Ensklopedia Alkitab, "utang piutang".

Sumber Gambar:
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
VectorStock.com

Jumat, 17 Februari 2023

SUDUT PANDANG Mat. 17:1-9, Mrk. 9:2-13, dan Luk. 9:28-36, RUNGOKNO GUSTIMU, MINGGU TRANSFIGURASI

SUDUT PANDANG Mat. 17:1-9, Mrk. 9:2-13, dan Luk. 9:28-36RUNGOKNO GUSTIMU, MINGGU TRANSFIGURASI

Transfigurasi dalam arti literal adalah alihmuka. Dalam makna hari raya liturgi Minggu Transfigurasi merupakan peralihan dari pelayanan Yesus yang mengajar dan melakukan penyembuhan di Galilea menuju pelayanan dan pengorbanan Yesus ke Yerusalem. Istilah transfigurasi merujuk momen Yesus beralihmuka yang disaksikan oleh Petrus, Yakobus, dan Yohanes atau yang di Alkitab LAI disebut dengan 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘨𝘶𝘯𝘶𝘯𝘨 (Mat. 17:1-9, Mrk. 9:2-13, dan Luk. 9:28-36). Yang dimaksud dengan beralihmuka adalah wajah Yesus bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang (Mat. 17:2).
Minggu Transfigurasi dapat juga disebut “hari kenaikan kelas” bagi Yesus, dari pelayanan tingkat pertama naik ke pelayanan tingkat kedua yang lebih dahsyat. Ahli Perjanjian Baru menyebutnya masa pengajaran dan masa pengorbanan Yesus. Minggu Transfigurasi menandai penerusan peningkatan karya-karya Yesus menjelang penyaliban-Nya. Ia makin dibenci oleh lawan-lawan-Nya. Semua karya-Nya dinafikan bahkan diputarbalikkan oleh ahli-ahli dan pemimpin-pemimpin agama Yahudi sampai pada akhirnya Yesus didakwa menista agama dan dijatuhi hukuman mati.
Minggu Transfigurasi dirayakan sebagai penutup Minggu-Minggu Epifani dan sebelum Rabu Abu.  Minggu Transfigurasi, Minggu ini dikisahkan oleh pengarang Injil Matius, yang bersumber dari Injil Markus 9:2-13, Yesus mengajak Petrus, Yakobus, dan Yohanes naik gunung (ay. 1). Yesus beralihmuka (bertransfigurasi) bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang (ay. 2), dan tampaklah Musa serta Elia sedang berbicara dengan Yesus (ayat 3). 
Latar tempat untuk episode Transfigurasi Yesus ini adalah gunung atau puncak gunung (Mat. 17:1).
• Dulu Musa berjumpa dengan Allah di atas gunung (Kel. 24:12-18).
• Dulu Elia berjumpa dengan Allah di atas gunung (1Raj. 19:8-18).
• Kini Yesus berjumpa dengan Musa, Elia, dan Allah di atas gunung.
• Sama seperti Musa, Yesus juga memberikan “Taurat baru” di gunung (Mat. 5-7).
• Sama seperti Elia, Yesus juga membangkitkan seorang anak yang mati (Mat. 9:25).
Yesus melanjutkan karya Musa dan Elia, tetapi Yesus melampaui kemuliaan kedua tokoh Israel itu. Bahkan kedua tokoh besar itu kini menyaksikan Yesus dimuliakan Allah di hadapan mereka. Misteri Transfigurasi Yesus itu bernasabah (relate) dengan misteri Kebangkitan seperti yang dikatakan Yesus di ayat 9: Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, "𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪."
Transfigurasi Yesus juga berpautan dengan pemberitahuan atau deklarasi kedua bahwa Yesus adalah Anak Allah. Matius 17:5:  Tiba-tiba sementara ia (Petrus) berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata, "𝘐𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘒𝘶𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪, 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘕𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘦𝘯𝘢𝘯, 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘋𝘪𝘢." Frase 𝘐𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘒𝘶𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪 tampaknya merujuk Mazmur 2:7 yang merupakan Mazmur penahbisan raja Israel.  
Ucapan itu adalah 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 (𝘳𝘦𝘷𝘦𝘭𝘢𝘵𝘪𝘰𝘯), deklarasi tentang siapa diri Yesus, yakni Anak Allah yang dikasihi dan diperkenan Allah, Raja Israel yang baru, dan sekaligus perintah “𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢!” ditujukan kepada para murid Yesus: Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Reaksi para murid adalah tersungkur dan sangat ketakutan (ay. 6). Itu adalah deklarasi kedua. Deklarasi pertama saat pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis (lih. Mat. 3:17). 
Mengapa saat ada deklarasi itu para murid sampai tersungkur dan ketakutan?
Dalam ayat sebelumnya (ay. 4) Petrus hendak mendirikan tiga kemah; satu untuk Yesus, satu untuk Musa, dan satu lagi untuk Elia. Lalu turunlah awan terang menaungi mereka dan terdengar suara Allah sehingga ketiga murid tersungkur dan ketakutan seperti yang ditulis di atas.
Dalam khotbah ada  menafsir ucapan Petrus itu sebagai keinginan Petrus untuk tinggal di gunung itu lebih lama lagi.  kemudian menyampaikan bahwa orang Kristen tidak boleh hanya 𝘴𝘦𝘭𝘧𝘪𝘴𝘩 berdoa dan menjalin hubungan vertikal dengan Allah sehingga mengabaikan hubungan horisontal dan tugas-tugasnya di dunia. Allah tidak ingin orang Kristen melalaikan tugas-tugas mereka di dunia.
Pesan  itu sebenarnya bagus, namun tafsir itu tidak dapat dipertanggungjawabkan dengan melihat konteks perikop dan keseluruhan Injil.
Dalam ucapan Petrus itu tidak ada kalimat eksplisit bahwa ia tidak ingin turun dari gunung. Orang Jawa bilang, “𝘛𝘩𝘦 𝘴𝘵𝘰𝘳𝘺 𝘥𝘪𝘥𝘯’𝘵 𝘵𝘦𝘭𝘭 𝘴𝘰.” Petrus secara eksplisit mengusulkan hendak mendirikan kemah atau σκηνάς (baca: 𝘴𝘬o𝘯𝘢𝘴). Kemah di sini merujuk 𝘒𝘦𝘮𝘢𝘩 𝘗𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯 atau 𝘒𝘦𝘮𝘢𝘩 𝘚𝘶𝘤𝘪 di zaman Musa (Kel. 26:1-37; 33:7-9; 40:1-38). Kitab Keluaran Septuaginta menggunakan kata 𝘴𝘬o𝘯𝘢𝘴 untuk kemah.
Di 𝘒𝘦𝘮𝘢𝘩 𝘚𝘶𝘤𝘪 itu Allah hadir dan tinggal di tengah-tengah bangsa Israel. Di 𝘒𝘦𝘮𝘢𝘩 𝘗𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯 itu Allah dapat dijumpai oleh Musa. 
Namun Yesus tidak menanggapi gagasan Petrus dan malah Allah turun tangan. “𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘭𝘰𝘦, 𝘗𝘦𝘵, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘪𝘯 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘎𝘶𝘦.” Begitu kira-kira kata Allah, “𝘎𝘶𝘦 𝘫𝘶𝘨𝘢𝘬 𝘨𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘔𝘶𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘌𝘭𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨.” Musa dan Elia sudah hilang dari pandangan sehingga usulan Petrus sudah basi. Allah tak membutuhkan 𝘒𝘦𝘮𝘢𝘩 𝘚𝘶𝘤𝘪 untuk berkata kepada Petrus. Menjadi murid Yesus berarti mendengarkan Yesus, Musa baru, Raja Israel yg baru, Mesias rajani. Jadi, pendirian kemah di gunung itu tidak jadi bukan karena Allah tidak mau Petrus dkk. melalaikan tugas-tugas mereka di dunia.
Melihat ketiga murid-Nya tersungkur dan ketakutan, Yesus menghampiri mereka, “𝘉𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪𝘭𝘢𝘩, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵!”
Kisah Transfigurasi Yesus diakhiri dengan pesan Yesus kepada para murid untuk merahasiakan pelihatan atau ὅραμα (baca: 𝘩𝘰𝘳𝘢𝘮𝘢) atau 𝘷𝘪𝘴𝘪𝘰𝘯 itu sampai Yesus dibangkitkan Allah dari antara orang mati (Mat. 17:9). Mengapa harus dirahasiakan dulu? 
Kemuliaan Yesus, Sang Mesias, hanya layak diberitakan apabila kemuliaan itu tidak dilepaskan dari penderitaan-Nya sampai mati di kayu salib karena dibunuh oleh para pemimpin Yahudi yang tidak menerima diri-Nya sebagai Mesias, Raja Israel yang baru, Anak Allah yang dikasihi Allah.
Perayaan Minggu Transfigurasi merupakan momen menyiapkan umat untuk lebih 𝗺𝗲𝗻𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗗𝗶𝗮 guna menghadapi tantangan lebih berat dan lebih besar lagi.

Pancasila, 18.02.2023 (TUS)

Jumat, 10 Februari 2023

BERAT? MEMANG, MASIH MAU LANJUT? SERIAL SUDUT PANDANG

BERAT?, MEMANG, MAU LANJUT? SERIAL SUDUT PANDANG

Ucapan-ucapan Yesus dalam bacaan Injil Minggu ini (Mat. 5:21-37) dapat diguguskan ke dalam empat himpunan:
• Larangan membunuh (Mat. 5:21-26)
• Larangan berzina dan penyesatan (Mat. 27-30)
• Larangan bercerai (Mat. 5:31-32)
• Larangan bersumpah (Mat. 5:33-37)

𝗟𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗯𝘂𝗻𝘂𝗵 (Mat. 5:21-26)

5:21 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘯𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘮𝘰𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘵𝘢: 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩; 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮.
5:22 𝘛𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 ...

𝘢. 𝘔𝘢𝘳𝘢𝘩, 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢-𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘪 (Mat. 5:22)

Larangan marah, memaki, dan mengata-ngatai orang di ayat 22 ini masih bernasabah (𝘳𝘦𝘭𝘢𝘵𝘦) dengan larangan membunuh di ayat 21. Tiga hal yang terlarang untuk jemaat Kristen (Jemaat Matius): marah, memaki, dan mengata-ngatai orang lain. Jemaat Matius bukan hanya dilarang membunuh, tetapi juga dilarang marah, memaki, dan mengata-ngatai 𝗸𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝗸𝗲𝘁𝗶𝗴𝗮𝗻𝘆𝗮 𝘀𝗮𝗺𝗮 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗯𝘂𝗻𝘂𝗵.

𝘣. 𝘗𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘢𝘮𝘢𝘪 (Mat. 5:23-24)

5:23 𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘪𝘵𝘶, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘮𝘦𝘻𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶,
5:24 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘻𝘣𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢𝘮𝘶, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘪𝘵𝘶.

Implikasi dari larangan membunuh adalah pencegahan. Untuk tidak sampai terjadi pembunuhan Jemaat Matius ditekankan untuk berdamai dengan sesama. 𝗕𝗲𝗿𝗱𝗮𝗺𝗮𝗶 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘀𝗲𝘀𝗮𝗺𝗮 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗽𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴 𝗸𝗲𝘁𝗶𝗺𝗯𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝘀𝗲𝗺𝗯𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗯𝗲𝗿𝗶𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵.

𝘤. 𝘉𝘦𝘳𝘥𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘵𝘢𝘯𝘨 (Mat. 5:25-26)

5:25 𝘚𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢-𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯, 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘬𝘪𝘮 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘬𝘪𝘮 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘭𝘦𝘮𝘱𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘳𝘢.
5:26 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: 𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢, 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘺𝘢𝘳 𝘶𝘵𝘢𝘯𝘨𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘭𝘶𝘯𝘢𝘴.

Ucapan Yesus di Matius 5:25-26 merupakan ucapan lepas dari Sumber Q karena sejajar dengan Lukas 12:58-59. Matius mengguguskan tiga konteks untuk kedua ucapan lepas itu:

• Konteks pertama atau konteks terdekat adalah Matius 5:23-24. Berdamai di tengah jalan dan membayar utang itu (ay. 25-26) masih ada berpautan dengan berdamai yang lebih penting ketimbang memberikan persembahan (ay.23-24).
• Konteks kedua adalah Matius 5:22. Hakim di Matius 5:25 tampaknya hakim dari pengadilan lokal, yang di Matius 5:22 bernasabah dengan marah. Hakim di Matius 5:25 tampaknya bukan hakim di tingkat kedua (Mahkamah Agama) dan bukan hakim di tingkat terakhir (Allah, neraka).
• Konteks ketiga adalah Matius 5:21. Berdamai di tengah jalan dan membayar utang itu (ay. 25-26) masih ada berhubungan dengan larangan membunuh (ay.21). Apabila larangan membunuh bersifat negatif, maka berdamai secepat-cepatnya bersifat positif.

𝗟𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝘇𝗶𝗻𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗻𝘆𝗲𝘀𝗮𝘁𝗮𝗻 (Mat. 27-30)

5:27 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯𝘬𝘢𝘯: 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘻𝘪𝘯𝘢.
5:28 𝘛𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 ...

𝘢. 𝘔𝘦𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 (Mat. 5:28)

Larangan memandang perempuan 𝗱𝗮𝗻 menginginkannya dipautkan dengan larangan berzina (hukum ke-7 Dasa Titah) dan larangan menginginkan milik sesamamu, termasuk istrinya (hukum ke-10 Dasa Titah). Menginginkan perempuan lain di sini adalah perempuan yang berstatus istri orang lain, meskipun hanya di dalam hati, adalah berzina. 𝗦𝗲𝗰𝗮𝗿𝗮 𝗿𝗮𝗱𝗶𝗸𝗮𝗹 teks ini menambah tinggi ukuran berzina dimula dari dalam hati.

Bagaimana jika memandang dan menginginkan perempuan yang belum bersuami? Penulis Injil Matius entah lupa atau mengizinkan. Namun tampaknya sistem perkawinan monogami belum diterapkan secara ketat saat Injil Matius ditulis. Perkawinan monogami tampaknya baru secara ketat diterapkan di pengujung abad pertama ZB. Dalam Surat Timotius dan Titus ada usulan agar penilik jemaat, diaken, dan penatua yang dipilih adalah suami dari satu istri (1Tim. 3:2, 12; Tit. 1:6). Dapat diduga cukup banyak orang Kristen waktu itu beristri lebih daripada satu sehingga hal itu dipandang tidak baik.

𝘣. 𝘔𝘢𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘴𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 (Mat. 5:29-30)

5:29 𝘔𝘢𝘬𝘢 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘴𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘰𝘴𝘢, 𝘤𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘮𝘶 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘰𝘵𝘢 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘮𝘶 𝘣𝘪𝘯𝘢𝘴𝘢, 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘥𝘪𝘤𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘯𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢.
5:30 𝘋𝘢𝘯 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘴𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶, 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘮𝘶 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘰𝘵𝘢 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘮𝘶 𝘣𝘪𝘯𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘯𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢.

Ucapan-ucapan tentang mata kanan dan tangan kanan yang menyesatkan bersumber dari Markus 9:43, 47. Matius menyuratkan 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘮𝘢𝘵𝘢 menjadi 𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯 dan 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 menjadi 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯. Ia membalik urutan Markus 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯-𝘮𝘢𝘵𝘢 menjadi 𝘮𝘢𝘵𝘢-𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 karena dalam konteks Matius ucapan tentang mata berpautan dengan 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 di ayat sebelumnya.

Matius tidak menghapus 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 yang tampaknya bukan lagi berbicara tentang perzinaan, melainkan sudah beralih ke bincangan penyesatan. Diduga 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩 yang dimaksud adalah 𝘫𝘦𝘮𝘢𝘢𝘵. 𝘔𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯 dan 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯 sangat bolehjadi merujuk orang-orang penting di Jemaat Matius. Meskipun orang-orang penting, mereka harus disingkirkan seandainya mereka menyesatkan jemaat. Lebih baik menyingkirkan orang-orang penting itu daripada jemaat menjadi tersesat.

Pesan ini sangat penting bagi gereja masa kini yang kerap memuja para “putera gereja”, yaitu pejabat-pejabat tinggi negara atau pengusaha kaya. Pejabat-pejabat seperti Ferdi Sambo dan pengusaha-pengusaha yang menjadi drakula pekerja harus disingkirkan agar jemaat tidak ikut tersesat.

𝗟𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗰𝗲𝗿𝗮𝗶 (Mat. 5:31-32)

5:31 𝘛𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢: 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘴𝘵𝘦𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘤𝘦𝘳𝘢𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢.
5:32 𝘛𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘴𝘵𝘦𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘤𝘶𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘻𝘪𝘯𝘢, 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘴𝘵𝘦𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘻𝘪𝘯𝘢; 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘸𝘪𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘤𝘦𝘳𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯, 𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘻𝘪𝘯𝘢.

Larangan bercerai ini tampaknya dipautkan juga dengan hukum ke-7 Dasa Titah dengan merujuk perintah Yahweh di kitab Ulangan 24:1-4, namun Injil Matius membuat perkecualian karena zina. Warga Jemaat Matius laki-laki tidak dilarang menceraikan istrinya apabila istrinya berzina. Bagaimana jika suami berzina? Penulis Injil Matius menghapus larangan istri menceraikan suami di Markus 10:12 karena diduga tidak paut dengan situasi jemaat Matius yang didominasi kaum laki-laki Yahudi. Akan tetapi
mereka “dilindungi” dari ulah suami mereka yang dapat menceraikan mereka dengan alasan apa pun (bdk. Mat. 19:3).

𝗟𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝘀𝘂𝗺𝗽𝗮𝗵 (Mat. 5:33-37)

Larangan bersumpah palsu itu sangat bolehjadi bernasabah dengan hukum ke-3 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘥𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘠𝘢𝘩𝘸𝘦𝘩 dan hukum ke-9 𝘴𝘢𝘬𝘴𝘪 𝘥𝘶𝘴𝘵𝘢 Dasa Titah (Im. 19:12, Bil. 30:2, dan Ul. 23:21). 

5:33 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘱𝘶𝘭𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘯𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘮𝘰𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘵𝘢: 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘶𝘮𝘱𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘭𝘴𝘶, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘶𝘮𝘱𝘢𝘩𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯.
5:34 𝘛𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 ...

𝘢. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪-𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘶𝘮𝘱𝘢𝘩! (Mat. 5:33-36)

Jemaat Matius bukan hanya dilarang bersumpah palsu, melainkan dilarang bersumpah sama sekali. Mengapa? Jangan sekali-kali bersumpah baik demi 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵 maupun demi 𝘣𝘶𝘮𝘪 karena langit adalah tahta Allah dan bumi adalah tumpuan kaki-Nya. Jangan sekali-kali bersumpah demi 𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮 karena Yerusalem adalah kota Allah. Jangan sekali-kali bersumpah demi 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢 kita karena Allah yang berkuasa atasnya. Pada zaman itu barangkali orang biasa bersumpah demi keempat hal itu (langit, bumi, Yerusalem, dan kepala). 

𝘣. 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘺𝘢, 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘢; 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬, 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 (Mat. 5:37)

Perkataan yang jujur dan tulus tidak membutuhkan sumpah apa pun. Sebaliknya, jika memang tidak berkata jujur dan tulus, sumpah demi apa pun tidak ada gunanya.

Pejabat-pejabat yang ditangkap karena korupsi oleh KPK dan jaksa tidak ada yang tidak mengangkat sumpah sebelum menjabat. Mereka pasti bersumpah dengan cara agama masing-masing sebelum menjabat. Sumpah menjadi kebiasaan sehingga mati rasa. Bagi Yesus mengangkat sumpah itu tindakan sia-sia. Orang bersumpah tidak serta merta menjadi jujur.  

Ucapan-ucapan Yesus di Matius 5:21-37 itu dapat dianggap sebagai contoh-contoh kesalehan yang melampaui kesalehan ahli Taurat dan orang Farisi sebagaimana diperintahkan di ayat 20, “𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩𝘪 𝘢𝘩𝘭𝘪-𝘢𝘩𝘭𝘪 𝘛𝘢𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘍𝘢𝘳𝘪𝘴𝘪, 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢.” 

Meskipun Yesus penuh belas kasih dan pengampun, hal itu tidak meniadakan tuntutan-Nya yang sangat tinggi terhadap umat-Nya. Alih-alih pendosa, setara kesalehan ahli Taurat dan orang Farisi saja dipandang belumlah cukup. Jemaat dituntut untuk menjadi anak Allah paripurna, “𝘏𝘢𝘳𝘶𝘴𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘶𝘳𝘯𝘢, 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘉𝘢𝘱𝘢𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘶𝘳𝘯𝘢.” (Mat. 5:48).

Berat? Memang, mau lanjut? 
Pancasila, 11.02.23 (T)

Jumat, 13 Januari 2023

𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗣𝗲𝘁𝗿𝘂𝘀 yang pertama tapi Andreas, Serial Sudut Pandang

𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗣𝗲𝘁𝗿𝘂𝘀 yang pertama tapi Andreas, Serial Sudut Pandang

Tahun gerejawi atau liturgi dimula dari Hari Minggu pertama masa Adven. Tahun ini disebut Tahun A dan biasa juga disebut Tahun Matius. Ada tiga banjaran tahun liturgi: Tahun A, B, dan C. Tahun A disebut, seperti yang saya tulis sebelumnya, Tahun Matius, Tahun B disebut Tahun Markus, dan Tahun C disebut Tahun Lukas. 

Terus Tahun Yohanes di mana? Berhubung Injil Yohanes tidak masuk ke dalam Injil sinoptik, bacaan dari Injil Yohanes disisipkan ke dalam Minggu-Minggu tertentu atau khusus di dalam Tahun A, B, dan C. Sebenarnya tidak hanya Injil Yohanes yang disisipkan ke dalam Minggu-Minggu khusus. Injil Matius dan Lukas juga begitu. Sebagai contoh bacaan Natal untuk ketiga tahun dari Injil Lukas 2:1-20 dan bacaan Epifani untuk ketiga tahun dari Injil Matius 2:1-12. Natal Gereja Barat menggunakan narasi Injil Lukas, sedang Gereja Timur dengan narasi Injil Matius.

Bacaan ekumenis diambil dari Injil Yohanes 1:29-42 yang didahului dengan Yesaya 49:1-7, Mazmur 40:1-11, dan 1Korintus 1:1-9.

Bacaan Injil Minggu ini meliputi dua perikop. LAI memberi judul: 𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘫𝘶𝘬 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 (ay. 29-34) dan 𝘔𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 (ay. 35-42). Cukup panjang. 𝘍𝘢𝘴𝘵𝘦𝘯 𝘺𝘰𝘶𝘳 𝘴𝘦𝘢𝘵𝘣𝘦𝘭𝘵!

Sebelum masuk ke pembahasan, mari kita membincangkan 𝗽𝗿𝗼𝗹𝗼𝗴 Injil Yohanes. Prolog ini bukan sekadar kata pengantar Injil Yohanes. Prolog ini merupakan refleksi teologis atas keseluruhan Injil Yohanes mengenai siapa Yesus. Nasabah antara prolog dan keseluruhan Injil Yohanes sangat erat sehingga untuk memahami prolog orang perlu membaca keseluruhan Injil Yohanes dan sebaliknya untuk memahami keseluruhan Injil Yohanes orang harus membaca prolog.

Pertanyaannya di manakah prolog berakhir? Banyak ahli bersepakat prolog berakhir di Yohanes 1:18 yang diikuti oleh para penyusun RCL. Ada juga yang berpendapat prolog berakhir di Yohanes 1:51. Alasannya adalah ayat itu masih berbicara tentang kesaksian Yohanes Pembaptis mengenai Yesus. 

Yohanes 1:19-28 dan Yohanes 1:29-42 (bacaan Minggu ini) berada dalam kronologi 𝘵𝘶𝘫𝘶𝘩 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 Injil Yohanes. Yohanes 1:19-28 adalah hari pertama, sedang Yohanes 1:29-42 adalah hari kedua dan ketiga yang mencakup dua perikop: Yohanes 1:29-34 dan Yohanes 1:35-51. Rinciannya sbb.:
• Hari pertama: kesaksian Yohanes Pembaptis tentang dirinya sendiri (Yoh. 1:19-28).
• Hari kedua: Yohanes Pembaptis bersaksi tentang Yesus (Yoh. 1:29-34).
• Hari ketiga: murid-murid Yesus yang pertama dan kedua (Yoh. 1:35-42).
• Hari keempat: murid-murid Yesus yang ketiga dan keempat (Yoh. 1:43-51).
• Hari ketujuh: pesta perkawinan di Kana 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘨𝘢 sesudah hari keempat (Yoh. 2:1-11).

Apakah tujuh hari pertama itu bermakna teologis ataukah sekadar keterangan waktu untuk memisahkan satu adegan dari adegan lainnya? Terbuka kemungkinan ada makna teologis dari 𝘵𝘶𝘫𝘶𝘩 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 Injil Yohanes itu. 𝘛𝘶𝘫𝘶𝘩 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 itu mungkin berpautan dengan 𝘵𝘶𝘫𝘶𝘩 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘗𝘦𝘯𝘤𝘪𝘱𝘵𝘢𝘢𝘯 (Kej. 1). Kemungkinan itu tidak dapat disingkirkan begitu saja karena sejak ayat pertama di prolog Injil Yohanes sudah merujuk kisah Penciptaan: 𝘗𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢 ... (Yoh. 1:1) dan Yohanes 1:3 berbicara secara eksplisit mengenai Penciptaan. Dengan kehadiran Yesus 𝘱𝘦𝘯𝘤𝘪𝘱𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘳𝘶 sudah dimula dan akan berakhir dengan pesta perjamuan kawin. Apa yang dimaksud dengan 𝘱𝘦𝘯𝘤𝘪𝘱𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘳𝘶 dalam prolog Injil Yohanes?

Frase pembuka 𝘗𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢 … dalam Yohanes 1:1 mengingatkan pembaca pada kisah Penciptaan di kitab Kejadian yang juga dibuka dengan frase yang sama 𝘗𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢 ... (Kej. 1:1). Dengan merujuk Penciptaan di kitab pertama Kitab Taurat itu Yohanes hendak mengatakan bahwa kehadiran Yesus, Firman yang 𝘯𝘶𝘻𝘶𝘭 menjadi Manusia itu, suatu penciptaan baru mula terjadi: 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶, 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨. 

Sekarang kita membahas bacaan Injil Minggu ini yang dalam kronologi Injil masuk hari kedua dan ketiga. Namun kita mengawalinya dengan 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢.

𝗛𝗮𝗿𝗶 𝗽𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮: 𝗞𝗲𝘀𝗮𝗸𝘀𝗶𝗮𝗻 𝗬𝗼𝗵𝗮𝗻𝗲𝘀 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗮𝗽𝘁𝗶𝘀 𝘁𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗿𝗶𝗻𝘆𝗮 𝘀𝗲𝗻𝗱𝗶𝗿𝗶 (𝗬𝗼𝗵. 𝟭:𝟭𝟵-𝟮𝟴)

Pada hari pertama Yohanes Pembaptis bersaksi mengenai dirinya kepada para pemimpin Yahudi Yerusalem: imam-imam dan orang-orang Lewi yang diutus pemimpin Yahudi dari Yerusalem (Yoh. 1:19-23) serta kepada orang Farisi (Yoh. 1:24-27).
• Yohanes bukan Mesias (Yoh. 1:20).
• Yohanes bukan Nabi Elia (Yoh. 1:21).
• Yohanes bukan nabi yang akan datang di Akhir Zaman (Yoh. 1:21).
• Yohanes hanyalah “suara” yang berseru-seru di padang gurun  (Yoh. 1:23): Luruskanlah jalan Tuhan! (Yes. 40:3).
• Yohanes hanya membaptis dengan air (Yoh. 1:26).
• Yohanes di hadapan Yesus lebih rendah daripada budak karena 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘵𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘢𝘴𝘶𝘵 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘱𝘶𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘺𝘢𝘬 (Yoh. 1:27).
Citra Yohanes Pembaptis di Injil Yohanes terkesan lebih rendah ketimbang citra Yohanes Pembaptis di Injil sinoptik, yaitu Nabi Elia yang akan datang di Akhir Zaman (Mrk. 9:11-13; Mat. 11:13-14; 17:10-13; Luk. 1:17).

𝗛𝗮𝗿𝗶 𝗸𝗲𝗱𝘂𝗮: 𝗬𝗼𝗵𝗮𝗻𝗲𝘀 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗮𝗽𝘁𝗶𝘀 𝗯𝗲𝗿𝘀𝗮𝗸𝘀𝗶 𝘁𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 (𝗬𝗼𝗵. 𝟭:𝟮𝟵-𝟯𝟰)

Tidaklah jelas Yohanes bersaksi kepada siapa. Yang pasti kepada pembaca atau pendengar di luar dunia cerita.

Yohanes Pembaptis mengatakan bahwa 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘋𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘱𝘶𝘴 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘋𝘶𝘯𝘪𝘢 (Yoh. 1:29). Seperti yang sudah saya tulis di atas ada ahli yang mengatakan prolog Injil Yohanes berakhir di Yohanes 1:51. Juga, ada yang mengatakan prolog ini ditulis sesudah Injil Yohanes diselesaikan. Buktinya ada metafora 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘋𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 yang muncul tiba-tiba yang tidak berpautan dengan konteks terdekat. Makna metafora itu baru terbit dalam episode persidangan dan penyaliban Yesus. Dalam episode itu pengarang Injil Yohanes tampaknya merujuk Yesaya 53 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘬𝘦 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘵𝘢𝘪𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘭𝘶𝘩, 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨. Yesus diperikan melampaui anak domba Paska Israel lama. Yesus bukan hanya menghapus dosa orang Israel, melainkan dosa orang sedunia (universal).  

Yohanes Pembaptis mengatakan bahwa 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴 𝘢𝘥𝘢 (Yoh. 1:30). Pengarang Injil Yohanes tampaknya hendak menekankan bahwa Yesus lebih senior, lebih mulia, lebih besar daripada Yohanes Pembaptis.

Yohanes Pembaptis berkarya agar Yesus dinyatakan kepada Israel (Yoh. 1:31). Apa karya Yohanes yang berpautan Yesus? Yohanes Pembaptis tidak membaptis Yesus versi Injil Yohanes. Yohanes hanyalah “suara” di padang gurun yang bersaksi tentang Yesus. Tampaknya pengarang Injil Yohanes hanya memberi sedikit panggung kepada Yohanes Pembaptis dan itu sudah cukup bahwa Yesus sudah dinyatakan kepada bangsa Israel oleh Yohanes Pembaptis.

𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴 𝘗𝘦𝘮𝘣𝘢𝘱𝘵𝘪𝘴 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘙𝘰𝘩 𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯 𝘬𝘦 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 (Yoh. 1:32). Yohanes bersaksi bahwa ia telah melihat Roh turun dari langit dan tinggal di atas Yesus. Di Injil Markus dan Matius tokoh yang melihat Roh Allah itu turun adalah Yesus sendiri. Di Injil Yohanes Roh itu turun untuk dilihat Yohanes untuk kepentingan Yohanes. Roh itu turun ke atas Yesus agar Yohanes tahu siapa Yesus.

𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘱𝘵𝘪𝘴 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘙𝘰𝘩 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴 (Yoh. 1:33). Tidak jelas apa yang dimaksud dengan 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘱𝘵𝘪𝘴 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘙𝘰𝘩 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴 karena di episode selanjutnya Yesus membaptis dengan air (Yoh. 3:22-26), yang kemudian “dikoreksi” di Yohanes 4:2 (oleh penulis kedua?). Dalam episode percakapan dengan Nikodemus itu Yesus berbicara tentang syarat orang masuk ke dalam Kerajaan Allah, yaitu dilahirkan kembali dari air dan Roh (Yoh. 3:5). Dalam prolog narator juga sudah menyebutkan “syarat” menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12-13). Sangat bolehjadi 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘱𝘵𝘪𝘴 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘙𝘰𝘩 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴 mungkin bermakna 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘬𝘶𝘢𝘴𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 agar orang menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12). Dalam kronologi cerita Injil Yohanes Yesus mengembuskan Roh Kudus-Nya sesudah kebangkitan-Nya (Yoh. 20:22).

Yohanes Pembaptis mengatakan juga bahwa 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 (Yoh. 1:34). Metafora 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 yang dikenakan kepada Yesus di Injil Yohanes kaya makna karena seluruh Injil Yohanes dari prolog (Yoh. 1:18) sampai akhir (Yoh. 20:31) berusaha mengungkapkan 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩. Sebagai Anak Allah hanya Yesus yang pernah melihat Allah sehingga hanya Yesus yang dimungkinkan untuk menyingkapkan Allah (Yoh. 1:18). Jadi, hanya ajaran Yesus, termasuk ajaran Yesus tentang Allah, yang layak dipercaya. 

𝗛𝗮𝗿𝗶 𝗞𝗲𝘁𝗶𝗴𝗮: 𝗠𝘂𝗿𝗶𝗱-𝗺𝘂𝗿𝗶𝗱 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗱𝘂𝗮 (𝗬𝗼𝗵. 𝟭:𝟯𝟱-𝟰𝟮)

Pada hari ketiga Yohanes Pembaptis bersaksi kepada dua muridnya bahwa 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘋𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 (Yoh. 1:35). Sesudah mendengar kesaksian gurunya, kedua murid itu lalu pergi mengikut Yesus. Satu dari dua orang murid Yohanes Pembaptis itu adalah Andreas, saudara Simon Petrus. Jadi, dua murid pertama Yesus adalah Andreas dan tanpa nama. Keduanya adalah (mantan) murid Yohanes Pembaptis. 

Andreas lalu memberitahu Simon Petrus bahwa ia sudah menemukan Mesias. Simon Petrus adalah murid ketiga setelah ia dikenalkan kepada Yesus oleh Andreas. Simon Petrus dapat juga disebut sebagai murid gelombang kedua. Andreas adalah murid pertama yang mengakui Yesus adalah Mesias menurut Injil Yohanes. Bahkan kalau kita membaca sampai ayat 49, Natanael, murid Yesus gelombang berikutnya, adalah yang pertama menyebut Yesus adalah Anak Allah. Simon Petrus tidak berbicara apa pun di sepanjang pasal 1.

Bandingkan dengan Injil sinoptis yang menulis bahwa Petrus adalah murid pertama Yesus dan yang pertama mengakui Yesus sebagai Mesias beberapa saat sebelum perjalanan Yesus ke Yerusalem (Mrk. 8:29; Mat. 16:16; Luk. 9:20). Tampaknya perbedaan ini adalah jejak atau petunjuk bahwa jemaat atau komunitas penulis Injil Yohanes ini dimusuhi dan didera oleh pemimpin-pemimpin Yahudi sehingga menomorduakan Simon Petrus yang teologinya pro-Yahudi di dunia nyata.

Yang menarik saat Yesus bertanya kepada dua calon murid-Nya yang sekaligus ucapan pertama Yesus dalam Injil Yohanes adalah 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘤𝘢𝘳𝘪? (Yoh. 1:38). 𝘞𝘩𝘢𝘵 𝘢𝘳𝘦 𝘺𝘰𝘶 𝘭𝘰𝘰𝘬𝘪𝘯𝘨 𝘧𝘰𝘳? (NRSV). 𝘞𝘩𝘢𝘵 𝘥𝘰 𝘺𝘰𝘶 𝘸𝘢𝘯𝘵? (NIV).

Jika kita ingin menjadi murid Yesus, apa yang sebenarnya kita inginkan dari Yesus? Tampaknya penulis Injil Yohanes berpendapat bahwa 𝗺𝗼𝘁𝗶𝘃𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝘀𝗮𝗿 untuk menjadi murid Yesus adalah 𝗵𝗮𝗹 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗽𝗮𝗹𝗶𝗻𝗴 𝗽𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴 atau hakiki.

Dari pembukaan Injil Yohanes saja kita sudah melihat perbedaan dengan Injil sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas).
• Yohanes Pembaptis versi Injil Yohanes berbeda dari Yohanes Pembaptis versi Injil sinoptik.
• Yesus versi Injil Yohanes berbeda dari Yesus versi Injil sinoptik.
• Murid-murid Yesus yang pertama versi Injil Yohanes berbeda dari murid-murid Yesus yang pertama versi Injil sinoptik.

Umat Kristen yang benar-benar membaca empat kitab Injil sepatutnya menyadari bahwa cerita Injil bukanlah laporan jurnalistik historis, melainkan kesaksian iman yang subjektif. Lewat cerita Injil yang berbeda para pengarang Injil memberi kesaksian iman mereka masing-masing. Kita justru beruntung saat ini memiliki banyak versi yang memerkaya pandangan kita tentang Yesus. Bukan tunggal. 

Lapangan Pancasila, 14.01.2023 (T)

Malpraktik Agama, Serial Sudut Pandang

Malpraktik Agama, Serial Sudut Pandang

Susy menderita sakit parah cukup lama. Setiap hari Susy harus meminum beberapa obat, yang menurut dokter, wajib dikonsumsi. Susy sangat frustrasi dengan penyakitnya; dia ingin sembuh; jalan apa pun akan ditempuhnya. Suatu saat Susy mengunjungi ibadah penyembuhan yang dipimpin oleh seorang rohaniawan. Konon, doa sang rohaniawan sangat ‘tokcer.’ Segala penyakit yang didoakan, selalu hilang lenyap. Susy datang dengan harapan sangat besar.Susy didoakan secara khusus. Setelah didoakan, dia belum merasakan kesembuhan. Susy tetap berharap. Sang rohaniawan mengatakan bahwa kesembuhan tidak terjadi bukan karena Allah yang salah, tetapi karena iman Susy terlalu lemah. Dua hal wajib dilakukannya untuk membuktikan imannya. Pertama, memberikan persembahan kepada Allah. Tentu saja melalui sang rohaniawan. Kedua, membuang segala obat-obatan yang diberikan dokter. “Kita harus bergantung pada kuasa penyembuhan, bukan pada obat apa pun,” kata sang rohaniawan. Susy mengamininya.Susy melakukan apa yang dikatakan oleh sang rohaniawan. Dia memberikan persembahan; cukup besar jumlahnya. Susy membuang obat-obatan yang rutin diminumnya. Susy berharap mujizat itu datang. Sayangnya….., gara-gara tidak lagi mengkonsumsi obat-obatan yang rutin diminumnya, penyakitnya kambuh, bahkan semakin parah. Beberapa minggu kemudian, Susy dijemput oleh kematian. Inilah  malpraktik agama!Kevin punya pengalaman yang hampir sama dengan Susy. Akibat kecelakaan lalu lintas, Kevin menderita kelumpuhan. Efeknya, rasa percaya dirinya terkikis; dia frustrasi. Syukurnya, dia punya sedikit dana pesangon. Dana itu dari kantor yang dulu mempekerjakannya. Kevin berencana menggunakannya untuk usaha kecil-kecilan. Tetapi, rencana itu urung dilakukan.Kevin justru menyumbangkan seluruh dananya untuk pelayanan. Bagaimana itu bisa terjadi? Saat seorang pengkhotbah yang mengklaim diri ‘penyembuh ilahi’ datang ke kotanya, Kevin mengikuti ibadahnya.Dalam ibadah itu, Kevin diingatkan untuk memberikan apa pun yang dia miliki sebagai tanda kesetiaan dan imannya. Kevin melakukannya dengan taat. Sang penyembuh ilahi meyakinkannya dengan janji bahwa Allah sendiri pasti membalasnya dengan kesehatan dan kekayaan yang berlimpah ruah. Siapa yang tidak mau? Kevin mau dan dia yakin akan janji itu. Dia berharap!Beberapa bulan berlalu, Kevin tetap lumpuh. Dananya ludes,  ekonominya terpuruk. Kevin frustrasi berat. Kini dia mendekam di rumah sakit jiwa. Lagi-lagi malpraktik agama.

 

Malpraktik

Kedua kasus di atas hanyalah segelintir dari ribuan kasus-kasus malpraktik agama. Lalu, apa itu malpraktik? Malpraktik atau malpractice dikenal dalam dunia kedokteran. Berasal dari gabungan dua kata ‘mal’ dan ‘practice’. Mal artinya buruk. Practice artinya tindakan. Secara hurufiah artinya suatu tindakan medik yang buruk.Sesungguhnya malpraktik terjadi di segala bidang kehidupan; di dalam dunia bisnis, dalam dunia politik, dan bahkan juga dalam dunia keagamaan.Malpraktik dalam dunia keagamaan inilah yang diangkat oleh David W. Jones dan Russells S. Woodbridge dalam bukunya “Health, Wealth and Happiness.” Menurut Jones and Woodbridge, malpraktik dalam dunia keagamaan ini dipraktekkan oleh prosperity gospel. Di Indonesia prosperity gospel dikenal dengan nama teologi sukses.Para pengkhotbah teologi sukses memberi janji-janji yang memabukkan umat pendengarnya. Mereka selalu mengatakan umat harus memiliki iman yang kuat. Sampai di situ tidak masalah. Tetapi selanjutnya, mereka akan ‘menuntut’ agar umat membuktikan imannya dengan memberikan persembahan. Para pengkhotbah ini memberi harapan bahwa Tuhan akan membalas para penyumbang itu dengan kesehatan dan kekayaan yang melimpah. Berkat Tuhan akan mengalir bagaikan air sungai yang deras. Tentu saja, kalimat-kalimat mereka lebih ‘powerful’ karena dibalut dengan ayat-ayat suci. Umat diyakinkan untuk melakukan apa yang mereka kehendaki. Menurut Jones dan Woodbridge, di situlah persoalan teologisnya. Orang datang bukan untuk mencari Yesus. Para pengkhotbah juga tidak memberitakan Yesus Kristus. Umat datang untuk mendengar janji-janji kekayaan dan kesehatan yang dilontarkan pengkhotbahnya.Janji-janji itu adalah ilusi dunia sekuler yang masuk dalam ranah keagamaan. Banyak orang mengalami kekecewaan karena termakan ilusi kosong itu. Aspek lain lagi adalah orang memberi persembahan bukan karena cinta Tuhan. Mereka datang karena ingin mendapatkan lebih banyak lagi berkat dari Tuhan. Umat seperti pemancing yang mengumpan cacing untuk dapat ikan kakap. Tuhan ‘disogok’ agar memberi mereka kesuksesan.Tahukah anda bahwa yang semakin sukses dan semakin kaya adalah para pengkhotbah itu sendiri. Itulah sebabnya kebanyakan para pengkhotbah teologi sukses itu sangat sukses dan kaya raya. Mereka memiliki pesawat, mobil dan rumah yang super mewah. Mereka bisa begitu karena menerapkan malpraktik teologi yang namanya teologi sukses. Rasanya sudah saatnya gereja atau institusi agama mana pun untuk mengajarkan umat bersikap kritis terhadap malpraktek keagamaan. Agama memang mengajarkan banyak kebaikan, tetapi agama pun bisa digunakan untuk mengelabui siapa pun, termasuk kita.

Cepogo
11 Jan 2023

(T)

Jumat, 30 Desember 2022

Pulanglah Mereka Melalui Jalan Lain, Serial Sudut Pandang

Pulanglah Mereka Melalui Jalan Lain, Serial Sudut Pandang

Karna kehidupan dunia silih berganti.  Porak poranda perang Rusia-Ukraina menorehkan warna kelabu pekat. Pertandingan sepak bola dunia menggelontorkan kegembiraan. Produk Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) pemerintah disikapi beragam bak spektrum puspa rupa warna. Kasus kematian Brigadir Yosua Hutabarat, yang para tersangkanya sedang disidangkan, mengaduk-aduk kehidupan kita. Bencana alam di Cianjur, Garut, dan beberapa tempat lain di Tanah Air membuat kita tersadar terus akan kerentanan hidup. Kasus bom bunuh diri atas asumsi keagamaan membuat kita terus heran dalam perih. Dinamika internasional terkait kesepakatan G20 yang baru lewat dan menorehkan rasa bangga di dada insan Indonesia tak boleh membuat kita mengendurkan kewaspadaan global akan berbagai krisis internasional yang bak bara dalam sekam. Tanda-tanda zaman

Maka, kita mesti terus-menerus waspada dan tajam dalam membaca tanda-tanda zaman di era kita, termasuk dengan enigma-enigmanya. Kewaspadaan membaca tanda langit itulah yang kita asah  Itulah kemampuan Majus, yang dalam Injil Matius, menuntun mereka ke wilayah Yehuda. Kalau orang Jawa, mengenal apa itu ngelmu titen, ilmu untuk peka melihat tanda-tanda kehidupan, baik itu dari alam, perilaku manusia, kemajuan zaman, politik, ekonomi, sosbud, dll Pengartian mereka tentang bintang di lazuardi itu raja baru lahir. Masalahpengartian itu amat sensitif enigmatik bagi Herodes raja nan kejam itu.  Sedemikian paranoidnya raja ini sehingga ada ucapan: "lebih baik menjadi anjing Herodes daripada jadi anaknya", sebab raja ini pernah membunuh beberapa istri dan anak yang adalah darah dagingnya sendiri yang ia curigai berpotensi menggesernya sebagai raja. James Ermatinger menuliskan demikian: "Dia memperkenalkan pajak baru yang tidak populer. Dia memiliki kehidupan keluarga yang tidak bahagia, melihat konspirasi dan musuh di mana-mana ... dikenal karena kebrutalannya, Herodes berhasil mempertahankan kekuasaannya melalui rasa takut dan intimidasi" (2008: 126).

Berita yang dibawa oleh para Majus tak pelak lagi mendatangkan kegemparan di seluruh Jerusalem (2:3). Herodes merasa amat terancam, terutama setelah mendengar nubuatan kitab Mikha mengenai raja orang Yahudi yang baru lahir di Betlehem yang hanya beberapa kilometer jaraknya dari episentrum kekuasaannya. Dengan dalih untuk juga hendak menyembah raja yang baru lahir itu, Herodes menyuruh orang Majus pergi dan menyelidiki dengan saksama tentang nubuatan dan petunjuk bintang. Padahal di balik dalih saleh dan ketundukan itu tersimpan rencana keji tentang penggunaan lembing dan pedang yang membuat Betlehem menjadi merah oleh banjir darah anak-anak balita yang sama sekali tidak tahu apa-apa dan tak berdosa. Krisis muncul terus-menerus. Menghebat. Menggila. Di tengah-tengah krisis semacam ini, Yesus kecil diungsikan ke Mesir dan baru pulang bbrp waktu kemudian  ke  Israel. Walaupun setelah  raja jahat itu mati. Yesus kecil bisa pulang ke  Jerusalem, tentunya hal itu membuat kita lega, tapi kita perlu ingat, di sisi lain ada banyak bayi yg menjadi tumbal serta orang tua yg sedih tak berkesudahan karena kehilangan bayinya. Inilah yang harus kita ingat bahwa bayi Yesus lahir ditengah-tengah krisis dan kekerasan, ditengah nuansa politik haus kekuasaan dan menghalalkan segala cara. Seakan penulis Injil Matius ingin mengungkapkan bahwa saat Yesus datang krisis itupun tetap ada, kekerasan itu tetap ada, kisruh politik haus kekuasaan tetap ada. seperti orang Majus, hatinya tetap terarah pada Tuhan, pentingnya Ketaatan pada inspirasi Ilahi dan pemahaman akan tanda serta ilmu titen atau tafsir realitas, menggunakan pengetahuan, inilah yang membuat Herodes gagal membunuh bayi Yesus, Sejarah terselamatkan!  Sekarang kita akan memilih jalan yang mana? Jalan Herodes yang penuh kekerasan dan haus darah? atau jalan lain seperti orang Majus yg mungkin sepi sendiri, mungkin keliru, mungkin tak populer, dan mungkin berlawanan dg intensitas penguasa dan kekuasaan? tapi penuh keyakinan dan bersandar penuh serta mempercayakan diri pada Tuhan, Mana yg akan dipilih?

Cepogo, 25.12. 2022 (T)

Sabtu, 17 Desember 2022

PERKARA UCAPAN SELAMAT NATAL DARI SAHABAT ISLAM/MUSLIM, Serial Sudut pandang

PERKARA UCAPAN SELAMAT NATAL DARI SAHABAT ISLAM/MUSLIM, Serial Sudut pandang
 
Mohon maaf, maaf apabila ini kurang berkenan di hati, ini hanya pengetahuan saja, jadinya sifatnya netral, bisa dibaca dan dimengerti, saya dlm pekerjaan saya sebagai dosen tafsir Alkitab dan peneliti Alkitab juga sering berinteraksi dg berbagai kalangan peneliti, dosen atau  intelektual Alquran Islam/Muslim baik dr NU maupun Muhamadiyah, ada diskusi teman-teman peneliti, dosen atau intelektual Islam/muslim di sana yang mungkin bisa jadikan pèngetahuan kita bersama, agar kita bisa memiliki sudut pandang yang baik tentang masalah ini : 
Pro dan kontra ucapan selamat Natal kepada umat Kristiani bagi Muslim/Islam di Indonesia selalu menjadi isu yang merebak menjelang dan saat 25 Desember tiba setiap tahunnya. Ada yang sementara berkeras dan mempersoalkan jika seorang Muslim memberikan ucapan selamat Natal kepada umat Kristiani lantaran keyakinan yang kuat pada dalil-dalil tertentu yang tak membenarkan ucapan tersebut disampaikan. Namun, sementara yang lain sama sekali tak mempermasalahkan dan dengan santai-nya mengobral ucapan untuk demi sebuah kata toleransi. Berbagai dalil baik pendukung pendapat yang pro dan kontra sejati-nya sama kuatnya sehingga tak perlu dipersoalkan hingga mengundang keributan dan perdebatan tanpa henti. Perbedaan pendapat ini erat kaitannya dengan istinbath al-hukmi, sehingga mengulas hukum ucapan selamat natal ada baiknya dengan menggunakan perspektif fiqih yang dikaitkan juga dengan akidah dan akhlak. Anggota Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Tata Septayuda Purnama mengatakan pada dasarnya dalil dari Al Quran maupun Sunnah secara spesifik tidak mengatur hukum ucapan selamat Natal. Hal itu karena, di dalam Al Quran dan Sunnah tidak disebutkan secara khusus hal soal boleh tidaknya menyampaikan ucapan selamat Natal. Polemik ini sejati-nya baru muncul belakangan pada era kontemporer saat banyak masyarakat Muslim/Islam ingin turut serta menyampaikan sikap toleransinya kepada saudara umat Kristiani. Maka, karena tidak ditemukan di dalam Al Quran maupun Sunnah yang secara tegas menghukuminya, kasus ini menjadi bagian yang termasuk dalam kategori Ijtihadi. Pada hakikatnya, mayoritas ulama dari 4 madzhab besar dalam ilmu Fiqih yakni Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hambali telah sepakat untuk mengharamkan ucapan selamat Natal kepada umat Kristiani. Namun pada perkembangannya, ulama-ulama kontemporer kembali mengulas hukum tersebut karena kasus ini masuk dalam kategori Ijtihadi.Umumnya beda pendapat yang timbul di kalangan ulama kontemporer, lebih disebabkan karena Ijtihad mereka dalam memahami generalitas ayat atau hadist yang terkait dengan kasus ini. Beberapa ulama kontemporer yang mengambil sikap yang berbeda di antaranya Ibn Baz, Ibnu ‘Utsaimin, Ali Jum’ah, Yusuf al-Qardhawi, Habib Ali Aljufri, Buya Hamka, hingga beberapa ulama kontemporer lainnya.


Boleh vs haram
Sebagian ulama yang memilih sikap untuk membolehkan ucapan selamat Natal bagi umat Nasrani menggunakan dasar hukum Al Quran surat al-Mumtahanah ayat 8: "Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil". Makna dari ayat tersebut ditegaskan bahwa perbuatan baik kepada siapa saja tidak dilarang, selama mereka tidak memerangi dan mengusirnya dari negerinya. Sedangkan, mengucapkan selamat Natal dipercaya merupakan salah satu bentuk perbuatan baik kepada orang non-Muslim, sehingga perbuatan tersebut diperbolehkan. Sejumlah ulama kontemporer yang mendukung pendapat ini di antaranya Yusuf al-Qardhawi, Musthafa Zarqa, Abdullah bin Bayyah, Ali Jum’ah, Habib Ali Aljufri, Quraish Shihab, Abdurrahman Wahid, Said Aqil Sirodj, dan lain sebagainya.

Sementara mereka yang mengharamkan ucapan selamat Natal mengambil dasar hukum yang tak kalah kuatnya yakni Al Quran surat al-Furqan ayat 72 yang berbunyi "Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya". Ayat tersebut memiliki makna yang dalam bahwa seseorang dijanjikan martabat yang tinggi di surga sepanjang tak memberikan kesaksian palsu di dunia. Ucapan selamat Natal kemudian dianggap sebagai ucapan kesaksian palsu dan membenarkan keyakinan umat Nasrani tentang hari Natal.Maka ucapan selamat Natal kepada umat Kristiani dianggap sebagai tasyabbuh sekaligus memberikan kesaksian palsu dan membenarkan keyakinan umat Kristen tentang kebenaran peristiwa Natal. Kemudian, kasus ini dianggap masuk juga ke dalam ranah akidah yang mengkompromikan antara tauhid dengan syirik. Berlatar belakang dasar itulah hukum ucapan Natal diharamkan secara tegas. Sejumlah ulama kontemporer yang mendukung pendapat ini di antaranya Ibn Baz, Ibnu Utsaimin, Buya Hamka (Abdul Malik Karim Amrullah), Buya Yahya (Habib Yahya Zainul Ma’arif), Ibrahim bin Ja’far, Ja’far At-Thalhawi, Khalid Basalamah, Abdul Somad, Adi Hidayat, dan lain sebagainya.


Jalan Tengah
Peneliti studi Islam UII Yogyakarta Saiful Aziz al-Bantany menuliskan bahwa beda pendapat para ulama kontemporer tentang hukum ucapan selamat Natal hendaknya tidak menjadikan internal umat Islam di Indonesia semakin terpecah hanya diakibatkan oleh perbedaan pemilihan sikap dalam kasus ini." Apabila kita memilih sikap untuk membolehkannya, pastikan bahwa pembolehan tersebut demi menjaga kedamaian dan kerukunan antarumat beragama, dengan tetap menjaga akidah kita sebagai seorang Muslim/Islam. Jangan sampai karena ada saudara kita yang mengambil sikap mengharamkan-nya, kita serta merta langsung menjustifikasi ia sebagai orang yang intoleransi," ucap dia menegaskan. Sebaliknya jika memilih sikap untuk mengharamkan-nya, pastikan bahwa pengharaman tersebut merupakan bentuk ghirah dalam menjaga prinsip akidah umat Islam yang tegas, namun tetap menjaga nilai-nilai toleransi antarumat beragama dengan bentuk yang berbeda. "Jangan sampai karena ada saudara kita yang mengambil sikap membolehkannya, kita bermudah-mudahan dalam menjustifikasi ia sebagai orang kafir," tutur-nya. Ada jalan tengah untuk tetap dapat menyapa mereka yang merayakan Natal dengan santun tanpa harus mengorbankan prinsip akidah, namun tetap bertoleransi. Beberapa ucapan yang secara semantik "tidak mengucapkan" selamat Natal di antaranya disampaikan oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. "Atas nama pemerintah dan pribadi saya mengucapkan salam dan selamat merayakan Natal 25 Desember 2020," kata Menag. Gus Yaqut tidak mengucapkan selamat Natal melainkan selamat merayakan Natal sehingga secara semantik atau makna kebahasaan sangat berbeda. Hal serupa pun bisa diterapkan dalam bentuk-bentuk ucapan penuh toleransi kepada umat Nasrani tanpa melanggar sesuatu yang menjadi prinsip akidah di antaranya: "Semoga kedamaian kebahagiaan dan kesehatan selalu menyertai teman-teman yang merayakan Natal 2022 Selamat Tahun Baru 2023 semoga selalu damai dalam kebhinekaan".
sebagai umat Kristiani, mengatakan bahwa Natal merupakan Hari Raya yang ditetapkan Gereja Katolik/Orthodoks dan kemudian diwariskan oleh Gereja Protestan/Reformasi untuk merayakan kelahiran Kristus berdasarkan usaha-usaha Para Bapa Gereja untuk menemukan tanggal historis kelahiran Yesus Kristus.Natal sama sekali bukan perayaan pagan yang diadopsi ke dalam Kekristenan tetapi sebuah perayaan yang bersumber dari dalam Gereja Katolik/Orthodoks yg berlanjut pada gereja protestan/reformasi. Terkait ucapan selamat Natal, sangat memahami prinsip dan akidah Umat Islam/muslim sehingga sejati-nya tak ada tuntutan apapun dari umat Kristiani kepada Muslim/Islam, hanya terkadang risih dengan pro dan kontra yang timbul setiap tahunnya menjelang perayaan Natal. hal itu sungguh sangat tidak perlu. Tanpa ucapan selamat natal, bagi umat Kristiani, Natal tetaplah Natal tanpa mengurangi kesakralan-nya. Dan diucapi Selamat Natal bukan permintaan atau permohonan umat Kristiani, perayaan Natal bagi umat Kristiani lebih kepada perkara hati bertaut pada Allah dan ajaran keimanan, tak ada hubungannya dg ucapan Selamat Natal dari pihak lain.
Jadi, sejatinya selalu ada jalan tengah untuk semua, tetap bertoleransi tanpa mengorbankan prinsip akidah, tetap mengucapkan tanpa mengucapkan. Untuk Indonesia yang plural, maka toleransi adalah fondasi.

Cepogo,15.12.2022 (T)

Senin, 05 Desember 2022

SUDUT PANDANG MERAYAKAN NATAL SAAT ADVENT?

SUDUT PANDANG MERAYAKAN NATAL SAAT ADVENT?

PENGANTAR 
Adven yang dikerjakan oleh Yohanes (Pembaptis) amat terang dikerjakan siapkan infrastruktur, siapkan jalan, jangan ragu, ...... Kristus bakal kembali. Adven merupakan kesibukan bekerja dalam rangka menuju kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Kesejahteraan tidak datang sekonyong-konyong. Ia perlu Adven. Adven bukanlah tujuan. Ia merupakan jalan untuk mencapai tujuan. Belum waktunya berpesta karena memang kita belum tiba di tujuan.Jadi, gak perlu pakai pesta, apalagi dilabeli pesta natal, perayaan natal, cukup ibadah raya natal, dan itupun dilakukan di gereja, untuk menghikmati keterhisapan kita pada anugerah persekutuan Tuhan dalam menghikmati Natal, Tuhan yang merapuh menjadi manusia, Tuhan melawat manusia, untuk menyelamatkan kan manusia, Tuhan berkarya Kata adven dari bahasa Latin 𝘢𝘥𝘷𝘦𝘯𝘵𝘶𝘴, kata kerjanya 𝘢𝘥𝘷𝘦𝘯𝘪𝘳𝘦, yang berarti datang, tiba. Pada masa lampau kedatangan seorang penguasa di kota atau provinsi dalam suatu wilayah ekumenisnya juga menggunakan istilah 𝘢𝘥𝘷𝘦𝘯𝘵𝘶𝘴. Misal, kedatangan Kaisar Agustus diabadikan dalam bentuk monumen atau uang dengan tulisan 𝘈𝘥𝘷𝘦𝘯𝘵𝘶𝘴 𝘈𝘶𝘨𝘶𝘴𝘵𝘪 (Kedatangan Agustus). Istilah ini juga digunakan untuk kunjungan tahunan dewa ke kuil. Kata adven masuk ke khasanah Kristen ketika Kitab Suci Perjanjian Baru diterjemahkan ke bahasa Latin (𝘝𝘶𝘭𝘨𝘢𝘵𝘢) dari bahasa Grika. 𝘝𝘶𝘭𝘨𝘢𝘵𝘢 menerjemahkan 𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢 (kedatangan) dengan 𝘢𝘥𝘷𝘦𝘯𝘵𝘶𝘴 dalam kitab Injil. Namun, dalam beberapa Surat Rasuli 𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢 dimaknai 𝘱𝘳𝘦𝘴𝘦𝘯𝘵𝘪𝘢 (kehadiran) (1Kor. 16:17; 2Ptr. 1:16).
Perayaan-perayaan liturgis dalam Lingkaran Natal tidaklah sebanyak dan serumit yang terjadi dalam Lingkaran Paska. Panjang masa Adven (𝘵𝘦𝘮𝘱𝘶𝘴 𝘢𝘥𝘷𝘦𝘯𝘵𝘶𝘴) bukan empat pekan (𝘸𝘦𝘦𝘬). Masa Adven ditetapkan ada empat hari Minggu (𝘚𝘶𝘯𝘥𝘢𝘺) dihitung mundur dari hari Natal (25 Desember) dengan hari Minggu terjauh disebut Minggu kesatu yang adalah awal masa Adven. Panjang masa Adven dapat saja hanya 22 hari jika hari Natal jatuh pada Senin.
Masa Adven mengandung dua gatra (𝘢𝘴𝘱𝘦𝘤𝘵𝘴): eskatologis dan historis. Eskatologis, umat bersiap diri dalam pengharapan akan kedatangan kembali Kristus (𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢). Gatra eskatologis mengisi tema Minggu kesatu dan kedua Adven. Historis, umat bersiap diri untuk mengenang menuju perayaan peristiwa kelahiran Yesus yang terjadi sekitar dua ribu tahun yang lalu. Gatra historis mengisi tema Minggu ketiga dan keempat Adven.
Saya sering mendengar alasan orang Kristen  merayakan Natal di masa Adven. Kata mereka, Natal dihadirkan setiap hari di hati umat Kristen karena Yesus tidak lahir pada 25 Desember.  Natal bisa dirayakan kapan saja, kata banyak banyak orang Kristen bilang begitu. Pendapat itu omong kosong. Saya belum pernah melihat orang kristen yang berpendapat seperti itu merayakan Natal pada Mei, Juni, Juli, Jupri, Jupronz.

PEMAHAMAN
Alasan di atas tampaknya rasional, tetapi sesungguhnya menyesatkan. Mengapa? Iman Kristen tidak berpusat pada Natal. Tidak merayakan Natal tidak membatalkan iman Kristen. Jantung iman Kristen adalah Paska, Kebangkitan Kristus. Orang Kristen pergi beribadah setiap Minggu pada dasarnya merayakan Hari Paska, Hari Kebangkitan Kristus. Mengapa pada-pada akhirnya umat Kristen merayakan Natal? Agama tidak sekali jadi. Agama ber-evolusi. Peradaban berkembang, demikian juga kekristenan. Hari raya liturgi gereja dimula dan berpusat pada misteri Paska. Pada mulanya tidak ada susunan sistematis dan terencana untuk merayakan peristiwa-peristiwa Kristus. Secara evolusi gereja memberikan tanggapan atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Bapak-bapak gereja sejak abad II merapikan, membentuk, menyusun, dan merekayasa (to engineer) kisah teologinya sehingga menjadi bermakna, bertema, dan bercerita saling berurutan satu dengan lainnya. Hari raya liturgi merupakan drama sarat makna; suatu rekayasa gereja untuk memastori dan membina umat agar dapat lebih menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan. Kata kunci masa Adven adalah bersiap diri; bersiap diri untuk mengenang, bersiap diri untuk menuju perayaan, dan bersiap diri menantikan kedatangan kembali Kristus. Jadi, masa Adven bukanlah waktu untuk merayakan Natal. Merayakan Natal di masa Adven ibarat 𝘩𝘢𝘭𝘢𝘭𝘣𝘪𝘩𝘢𝘭𝘢𝘭 di bulan Ramadan. Umat diberi waktu merayakan Natal cukup panjang, dari 24 Desember 2025 selepas matahari terbenam sampai 11 Januari 2026 (Minggu Pembaptisan Yesus), masih bisa diperpanjang pada Minggu biasa sampai 15 February 2026 lah, sebelum Rabu abu, cukup fleksibel. Di sinilah kepentingan pemimpin umat dan umat  harus mengerti ilmu liturgi (liturgika atau liturgiologi). Kalau pemimpin umat dan umat tidak paham ilmu liturgi, maka mereka akan melakukan rasionalisasi jawaban seperti dalam pengantar di atas. Lho bukannya banyak umat dan pemimpin itu belajar ilmu liturgi waktu bersekolah teologi? Ada puluhan fakultas teologi dan sekolah tinggi teologi tersebar di seluruh Indonesia yang sudah meluluskan ribuan sarjana teologi yang pada gilirannya bagian terbesar menjadi pendeta atau umat atau akademisi. Sejauh ingatan saya jumlah dosen ahli liturgi dari kalangan Protestan/reformir/arus utama tidak lebih daripada jumlah jari sebelah tangan. Itu pun mereka menjadi pengajar di satu sekolah teologi. Jadi patut diduga bagian terbesar pendeta dan umat belajar ilmu liturgi memang bukan dari ahlinya. Misal, dosen Perjanjian Baru merangkap mengajar ilmu liturgi. Apakah gara-gara rasionalisasi alasan Natal saya menyederhanakan kesimpulan saya? Coba kita uji cerapan pendeta dan umat serta akademisi mengenai Ekaristi atau Perjamuan Kudus. Terlalu berat? Baiklah, kita tanya cerapan mereka tentang kolekte. Kalau banyak pendeta dan umat serta akaemisi tidak paham ilmu liturgi, lantas bagaimana? Seperti pesan Yesus, “Barangsiapa bertelinga hendaklah mendengar.”
Cepogo, 06.12.22 ( TUS)

Jumat, 25 November 2022

Apakah ajaran 'tabur-tuai' alkitabiah? dan bisa diterapkan dalam konteks persembahan? Serial Sudut Pandang

Apakah ajaran 'tabur-tuai' alkitabiah? dan bisa diterapkan dalam konteks persembahan? Serial Sudut Pandang

Perlu dipahami sejak awal bahwa prisip tabur tuai sepanjang tulisan Alkitab dr PB dan PL lebih mengarah banyak pada perbuatan jahat (walaupun bisa dua arah) bukan dalam konteks persembahan walaupun ada kaitan dg pemahaman agraris atau pertanian . Menurut Alkitab, apakah kita menuai apa yang kita tabur? Prinsip tabur tuai dijumpai di sepanjang Alkitab, karena hal ini sering dijumpai oleh manusia. Upaya mempekerjakan tanah guna memanen hasilnya berkaitan erat dengan sejarah umat manusia. Salah satu bagian dari kutukan Adam ialah bahwa tanah akan menghasilkan duri sebagai hasil dari upaya Adam dan "dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu" (Kejadian 3:19). Dama memahami konsep "tabur-tuai" baik secara harafiah maupun secara kiasan.
Kiasan menuai apa yang ditabur juga dapat merujuk pada dua ayat dalam Perjanjian Baru. Salah satunya ditemui dalam 2 Korintus 9:6, "Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga." Satunya lagi ditemukan dalam Galatia 6:7, "Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya." Sebagai prinsip umum, memang benar bahwa aktifitas menabur akan diikuti oleh penuaian apa yang ditabur. Hal ini berlaku secara agraris dan juga dalam halnya pilihan hidup. Oleh karena itu, ajaran "tabur-tuai" itu alkitabiah.
Adapula ayat Perjanjian Lama yang membahas prinsip tabur-tuai. "Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana," ditulisnya Raja Salomo (Amsal 22:8). "Kamu telah membajak kefasikan, telah menuai kecurangan, telah memakan buah kebohongan", kata nabi Hosea (10:13). "Mereka akan memakan buah perbuatan mereka, dan menjadi kenyang oleh rencana mereka" ucap Hikmat dalam Amsal 1:31. Dalam setiap kasus, hukum tabur dan tuai merujuk kembali pada keadilan Allah.
Meskipun ada prinsip rohani yang berlaku dalam halnya ketika kita menabur perbuatan jahat, kita akan menuai akibat yang buruk, adapula belas kasihan. Untungnya kita tidak selalu menuai apa yang kita tanam. Allah berhak berbelas kasihan pada siapapun yang Ia hendaki, sebagaimana firman-Nya kepada Musa, "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati" (Roma 9:15). Oleh karena belas kasihan Allah, kita memperoleh kediaman surgawi kelak, meskipun kita berdosa. Kita menabur kelaliman dan korupsi, dan Yesus menuai hukuman kita di atas kayu salib. Terpujilah Dia selamanya.
Kadang yang tampak bagaikan tuaian panen bukan demikian. Ketika Ayub sedang menderita, teman-temannya menganggap kesulitan yang menimpanya sebagai hukuman adil dari Allah atas dosa yang dirahasiakan. Elifas, teman Ayub berkata: "Yang telah kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga" (Ayub 4:8). Namun dalam kasus Ayub, Elifas keliru. Tuaian belum tiba – dan tidak tiba sampai akhir kitab itu (Ayub 42:10-17). Mengalami situasi buruk bukan berarti kita telah menabur benih yang buruk. Prinsip tabur-tuai secara umum benar, tapi tidak selalu terjadi dalam setiap situasi yang kita jumpai.
"Tabur-tuai" berlaku baik secara positif maupun secara negatif. "Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu" (Galatia 6:8). Ayat ini merangkum prinsip tabur-tuai dengan baik. Ketika kita bersikap egois, sombong, tidak adil, fasik, dan mengandalkan diri, maka kita sedang "menabur dalam daging," dan kebinasaan menanti. Ketika kita bersikap tanpa pamrih, murah hati, ramah, dan mengandalkan pemeliharaan dan keselamatan dari Allah, kita sedang "menabur dalam Roh" dan menuai kehidupan kekal.
Iman dalam Yesus dan pencarian akan kesalehan adalah "menabur dalam Roh." Menabur dalam daging, mengandalkan diri sendiri dan kemampuan kita tanpa pertolongan Allah, hanya akan membawa pada jalan buntu. Namun ketika kita percaya pada Kristus, kita mendapat kehidupan kekal. Kasih-Nya bagaikan tanah yang subur yang darinya kita menuai buah yang baik.
Cepogo, 26.11.22 (T)

Jumat, 18 November 2022

SUDUT PANDANG LUKAS 23:33-43 𝗣𝗲𝗻𝗴𝗲𝗷𝗲𝗸, Serial Sudut Pandang


SUDUT PANDANG LUKAS 23:33-43 𝗣𝗲𝗻𝗴𝗲𝗷𝗲𝗸, Serial Sudut Pandang

Kalender gerejawi atau tahun liturgi ada tiga banjaran: Tahun A, B, dan C. Tahun ini adalah Tahun C yang berakhir pada Minggu ini. Minggu depan adalah awal kalender gerejawi Tahun A yang dimula Minggu pertama Adven. Harap dicatat, jika saya menyebut Minggu itu berarti 𝘚𝘶𝘯𝘥𝘢𝘺 atau nama hari, bukan satuan jumlah hari. Saya selalu menggunakan pekan untuk 𝘸𝘦𝘦𝘬.
Tahun A disebut juga Tahun Matius, Tahun B Tahun Markus, dan Tahun C Tahun Lukas. Dalam Tahun C ini bacaan ekumenis sejak Pentakosta menarasikan perjalanan Yesus dari Nazareth menuju Yerusalem. Injil Lukas mengusung teologi kenaikan, dari tempat rendah ke tempat lebih tinggi.
Minggu ini adalah akhir perjalanan Yesus di Yerusalem dengan peristiwa penyaliban. Bacaan  diambil dari Lukas 23:33-43 
Secara ringkas bacaan mengisahkan Yesus digiring dan tiba di tempat yang bernama 𝘛𝘦𝘯𝘨𝘬𝘰𝘳𝘢𝘬. Di sana Yesus disalib bersama dengan dua penjahat di sebelah kanan dan kiri-Nya. Pemimpin-pemimpin (agama Yahudi) mengejek Yesus. Prajurit-prajurit Roma juga mengejek Yesus. Bahkan satu penjahat di sebelah Yesus menghujat Yesus, namun penjahat satunya membela Yesus.
Dalam proses penyaliban itu ada ucapan Yesus sebelum narasi pengejekan. Saya kutipkan dari Alkitab TB II, 1997, Lukas 23:34a: [Yesus berkata, “𝘠𝘢, 𝘉𝘢𝘱𝘢, 𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵.”]
Tak banyak orang Kristen memiliki Alkitab Terjemahan Baru (TB) edisi kedua, 1997, karena memang dicetak 𝘭𝘪𝘮𝘪𝘵𝘦𝘥 𝘦𝘥𝘪𝘵𝘪𝘰𝘯. Perbedaan dari TB 1974 (yang digunakan hampir semua orang Kristen) adalah tanda kurung siku di TB II. Kurung siku itu menandakan bahwa ayat itu dalam perdebatan karena dalam salinan yang lebih tua ayat itu tidak ada. 
Para pakar Perjanjian Baru (PB) menilai ayat itu ditambahkan oleh editor di salinan berikutnya yang justru bertentangan atau tidak cocok dengan narasi atau konteks penyaliban Yesus di Injil Lukas. Penyaliban Yesus adalah pembunuhan berencana, bukan perbuatan yang tidak disadari oleh para pelaku: imam-imam kepala, pemimpin-pemimpin, dan rakyat (Luk. 23:13). Lukas dengan jelas memerikan upaya keras Pilatus (sampai tiga kali) untuk membebaskan Yesus, namun mereka tetap menuntut Yesus disalibkan. Rencana membunuh Yesus sudah ada sebelumnya dengan melibatkan Yudas Iskariot di bagian sebelumnya (Luk. 22:2-6). Herodes pun tidak mendapati kesalahan Yesus (Luk. 23:15). Jadi para pembunuh tahu dan sadar apa yang mereka lakukan.
Dalam perikop “Yesus disalibkan” ini pengarang Injil Lukas menulis tiga ejekan yang dilontarkan oleh musuh Yesus. Ketiga ejekan di ayat 35, 37, dan 39 itu mirip dan polanya sama: “Selamatkanlah dirimu jika Engkau adalah … ” atau “Jika Engkau adalah …, selamatkanlah dirimu!” Akan tetapi di ejekan ketiga Lukas sedikit menambah menjadi: “Jika Engkau adalah …, selamatkanlah dirimu 𝗱𝗮𝗻 𝗸𝗮𝗺𝗶!”
Pengejek pertama adalah pemimpin-pemimpin yang merujuk para pemimpin agama Yahudi di Yerusalem (bdk. Kis. 4:5). Secara lengkap ejekan mereka: " 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘐𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯, 𝘣𝘪𝘢𝘳𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪-𝘕𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘐𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘔𝘦𝘴𝘪𝘢𝘴 (𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩), 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘱𝘪𝘭𝘪𝘩 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩." (Luk. 23:35)
Ejekan pertama mengandung pengakuan iman atau kredo Jemaat Lukas. Yesus adalah Mesias dari Allah (ὁ Χριστὸς τοῦ Θεοῦ). Yesus adalah orang pilihan Allah.
Pengejek kedua adalah prajurit-prajurit Roma. Ejekan mereka: “𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘠𝘢𝘩𝘶𝘥𝘪, 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘳𝘪-𝘔𝘶!” (Luk. 23:37). Dasar ejekan para prajurit itu adalah inskripsi di kepala salib "Inilah raja orang Yahudi" (ay. 38). 
Tampaknya pengarang Injil Lukas memandang inskripsi tersebut adalah ejekan, bukan literal, karena bagi Jemaat Lukas: 
• Yesus adalah raja dari Kerajaan Allah yang akan datang (Luk. 22:29-30). 
• Kenaikan Yesus ke Surga adalah pemuliaan dan penobatan Yesus sebagai raja dari Kerajaan Allah (Luk. 19:12).
• Di Akhir Zaman Yesus akan datang kembali (sudah) sebagai Raja (Luk. 23:42).
Di sini Lukas juga menghilangkan kesan penyaliban Yesus berdarah-darah. Tampaknya Lukas hendak berbaik-baik dengan Pemerintah Roma untuk pertumbuhan dan pekembangan jemaatnya. Tampak sekali Lukas menonjolkan Pilatus membela Yesus. Lukas 23:22: Kata Pilatus 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗸𝗲𝘁𝗶𝗴𝗮 𝗸𝗮𝗹𝗶𝗻𝘆𝗮 kepada mereka: "𝘒𝘦𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪? 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘕𝘺𝘢, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘮𝘱𝘢𝘭 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘪. 𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘫𝘢𝘳 𝘋𝘪𝘢, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢." Bahkan kalau kita membaca bagian akhir Injil Lukas jilid kedua (Kisah Para Rasul), dikatakan bahwa Rasul Paulus mengakhiri penginjilan di Roma dengan cemerlang.
Pengejek ketiga adalah penjahat di sebelah Yesus. Ejekannya: "𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘒𝘳𝘪𝘴𝘵𝘶𝘴 (𝘔𝘦𝘴𝘪𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩)? 𝘚𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘳𝘪-𝘔𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪!" (Luk. 23:39).
Pengarang Injil Lukas menggunakan istilah κακοῦργοι (penjahat), bukan λῃστάς (penyamun) seperti yang digunakan pengarang Injil Markus (Mrk. 15:27). Tampaknya Lukas menghindari kata penyamun seperti ucapan Yesus dalam narasi sebelumnya, “𝘚𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘶𝘯 (λῃστάς), 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨?” (Luk. 22:52). Lukas tak mau menyejajarkan Yesus dengan penyamun-penyamun.
Tampaknya Lukas hendak mengatakan bahwa penyaliban Yesus di antara penjahat menggenapi nubuat Nabi Yesaya: “Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung 𝗱𝗶 𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮 𝗽𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗼𝗻𝘁𝗮𝗸-𝗽𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗼𝗻𝘁𝗮𝗸, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.” (Yes. 53:12). Yesus termasuk golongan pemberontak, meskipun Pemerintah Roma menyejajarkan Yesus dengan penjahat, bukan penyamun.
Ejekan penjahat itu menambah cakupan pengakuan iman Jemaat Lukas. Kristus bukan saja lebih besar daripada para pemimpin Yahudi (pengejek pertama), tetapi Ia juga mampu menyelamatkan penjahat yang sekarat. Cakupannya teologis dan politis.
Ternyata penjahat kedua mengecam penjahat pertama yang mengejek Yesus. Ia menilai hukuman kepada mereka berdua memang sudah adil atas perbuatan salah mereka dan ia membela Yesus yang tak bersalah (Luk. 23:41). Ia kemudian memohon kepada Yesus, “𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴, 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶, 𝘢𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘙𝘢𝘫𝘢." (Luk. 23:42). 
Dalam perikop penyaliban ini Yesus tampak pasif. Baru sesudah permohonan penjahat kedua itu Yesus berbicara, “𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶, 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢-𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘍𝘪𝘳𝘥𝘢𝘶𝘴.” (ay. 43)
Apakah Firdaus ini surga? Kata Firdaus (Παραδείσῳ) hanya sekali digunakan di Injil Lukas. Kalau kita merujuk keterangan waktu “hari ini” dalam jawaban Yesus, maka Firdaus tidak merujuk surga. Keterangan waktu “hari ini” adalah waktu kematian dan penguburan Yesus. 
Dari penelusuran teks Injil Lukas sangat boleh jadi Firdaus merujuk tempat orang yang sudah mati dan yang dianggap layak untuk dibangkitkan pada Akhir Zaman ketika Yesus datang kembali (Luk. 20:35). Yesus adalah Yang Pertama dibangkitkan. Tafsiran ini diperkuat dengan ayat dalam Injil Lukas jilid kedua atau Kisah Para Rasul Kisah 26:22-23 “𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘩𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮𝘯𝘺𝘢 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘯𝘢𝘣𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘔𝘶𝘴𝘢, 𝘺𝘢𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘔𝘦𝘴𝘪𝘢𝘴 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘋𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘐𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢-𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢 𝘭𝘢𝘪𝘯.”
Pelajaran apa yang kita dapatkan dari Sudut Pandang ini? Terserah anda. Satu hal yang kuat untuk saya adalah untuk tidak menggunakan ayat “𝘠𝘢, 𝘉𝘢𝘱𝘢, 𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵” kepada para pembunuh Brigadir J. Ayat ini tidak cocok untuk kasus pembunuhan berencana.

Cepogo, 18.11.22 (T)

Jumat, 11 November 2022

SUDUT PANDANG LUKAS 21 :5-19, Bertahan

SUDUT PANDANG LUKAS 21 :5-19, 𝗕𝗲𝗿𝘁𝗮𝗵𝗮𝗻, 

Kitab-kitab Injil tidak ditulis oleh 12 murid Yesus. Juga tidak ditulis oleh jurutulis Yesus. Kitab-kitab Injil ditulis secara retrospektif; penceritaan ulang atas peristiwa masa lalu. Para penulis Injil mengumpulkan bahan-bahan dari cerita lepas atau ucapan-ucapan lepas Yesus dari beraneka sumber. Dari bahan-bahan itu mereka menyusun narasi mereka masing-masing sesuai teologi yang diusung oleh penulis kitab Injil yang sangat boleh jadi menyesuaikan situasi saat Injil ditulis.
Sebagai contoh Injil Lukas yang ditulis beberapa tahun sesudah Bait Suci dihancurkan tentara Roma (70 ZB). Peristiwa itu sudah barang tentu meremukkan mental pengikut Kristus terutama di kalangan Jemaat Lukas. Jemaat, yang sangat mengharapkan kedatangan Yesus kembali, menghadapi kenyataan bahwa Bait Suci, yang adalah simbol kehadiran Allah di Yerusalem, dihancurkan oleh orang kafir. Penulis Injil Lukas hendak menjernihkan pengertian kedatangan Yesus kembali (𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢) agar jemaat tidak putus harapan.
Bacaan diambil dari Lukas 21:5-19 adalah kumpulan ucapan tentang akhir zaman yang dinarasikan dalam Lukas 21:5-36, namun RCL membatasi sampai ayat 19. Kumpulan ucapan tentang akhir zaman itu mengandung topik-topik:
1. Bait Allah akan diruntuhkan (ay. 5-6),
2. Kesudahan yang tidak segera terjadi (ay. 8-9),
3. Peperangan, gempa bumi, penyakit sampar, kelaparan, dan bencana semesta (ay. 10),
4. Penganiayaan dan kesempatan bersaksi dengan bantuan Yesus (ay. 12-15),
5. Para murid akan dibenci semua orang, tetapi mereka akan dilindungi Allah (ay. 16-19),
6. Yerusalem akan diruntuhkan (ay. 20-24),
7. Kedatangan Anak Manusia (ay. 25-33), dan
8. Berjaga-jaga sambil berdoa (ay. 34-36).
Bacaan Injil Minggu ini hanya topik no. 1 – 5.

Dalam dunia nyata tampaknya Jemaat Lukas sedang gundah dan depresi melihat kenyataan Yesus tidak kunjung datang kembali sampai Bait Suci diruntuhkan. Dalam dunia cerita penulis Injil Lukas tetap memertahankan latar yang sudah dibuatnya sejak Lukas 20:1 “Ketika Yesus mengajar orang banyak di Bait Allah dan memberitakan Injil”, sedang percakapan Yesus dengan murid-murid-Nya dalam bacaan terjadi di Bukit Zaitun. Lho kok bisa?
Yesus mengajar di Bait Suci atau Bait Allah tidak dalam sehari. Tidak diceritakan berapa lama, tetapi tidak sehari. Ini ditunjukkan pada teks “Pada siang hari Yesus mengajar di Bait Allah dan pada malam hari Ia keluar dan bermalam di gunung yang bernama Bukit Zaitun” (Luk. 21:37). 
Apabila ucapan Yesus versi Injil Markus (Mrk. 13:3) ditujukan khusus kepada “Petrus, Yakobus, Yohanes, dan Andreas”, penulis Injil Lukas merevisinya dengan istilah “murid-murid” (Luk. 21:7). Dengan menghapus empat nama murid itu dalam versi Injil Markus, penginjil Lukas hendak meluaskan cakupan pendengar Yesus yang dalam hal ini Jemaat Lukas.
Dalam bacaan Minggu ini Lukas mau memumpunkan bahwa kedatangan Yesus kembali (𝘱𝘢𝘳𝘰𝘶𝘴𝘪𝘢) masih lama dengan menghapus rujukan apa pun yang bertentangan dengan teologinya. Ia membaharui pernyataan penginjil Markus (Mrk. 13:8) “Semua itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru” dengan menghilangkan “zaman baru”. Yesus datang kembali masih lama. Begitu kira-kira Lukas memberi pastoral kepada jemaatnya dengan menambah “sebelum semuanya itu”.
Dengan menambah keterangan waktu “sebelum semuanya itu” (Luk. 21:12) penginjil Lukas tampaknya sedang membuat kronologi dari tanda-tanda akhir zaman. “Semuanya itu” merujuk peristiwa dan keadaan yang disebutkan di ayat-ayat sebelumnya: peperangan, gempa bumi, penyakit sampar, kelaparan, dan bencana semesta. Sebelum semua itu terjadi para murid akan ditangkap dan dianiaya “karena nama Yesus” (21:12). Frase “karena nama Yesus” sangat boleh jadi merujuk pengikut Yesus di dunia nyata. Bukan itu saja mereka akan dibenci oleh semua orang bahkan sebagian dari mereka akan dibunuh. Dalam Injil Lukas jilid II atau Kisah Para Rasul Lukas mengisahkan para murid Yesus mengalami penganiayaan dan pembunuhan (lih. kisah Stefanus).
Lukas memberi penguatan lewat ucapan Yesus, “𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘮𝘶.” (Luk. 21:19). Memeroleh atau mendapat “hidup” ada dua penafsiran.
Pertama, jika mereka mati dibunuh dan mereka tetap bertahan dalam iman mereka, maka mereka akan dibangkitkan dan diberi “hidup kekal”. Penafsiran ini didukung dengan teks sebelumnya dalam ucapan Yesus di Lukas 9:24 dan 17:33: “𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢𝘸𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢𝘸𝘢𝘯𝘺𝘢; 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢𝘸𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘈𝘬𝘶, 𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.”
Kedua, hidup ditafsir selamat, aman, sintas (𝘴𝘶𝘳𝘷𝘪𝘷𝘦) “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan selamat.” Tafsiran ini didukung dengan teks-teks di Kisah Para Rasul (Kis. 8:1-4; 12:6-19; 16:19-40). Di pengujung “Injil Lukas jilid II” Lukas mengisahkan Rasul Paulus selamat tiba di Roma yang ditutup dengan berita gembira “Dengan terus-terang dan tanpa rintangan apa-apa ia (Paulus) memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus.”
Dua tafsiran di atas tetap berujung pada kegembiraan. Yang amat sangat sulit adalah prasyarat 𝗯𝗲𝗿𝘁𝗮𝗵𝗮𝗻. Ya, memang menjadi murid Kristus itu nggak enak. Kalau tak kuat, lepaskan saja! Jangan sok bertahan tapi membalikan tubuh dari keteladanan Kristus.

Lapangan Pancasila, 12.11.22 (TUS)

Jumat, 04 November 2022

DUNIA ORANG MATI, Serial Sudut Pandang

DUNIA ORANG MATI, Serial Sudut Pandang 

Dunia sesudah kematian menurut Injil Lukas tidaklah seindah yang dibayangkan oleh kaum laki-laki. Tidak ada penyediaan bidadari untuk melayani hasrat laki-laki. Apalagi saat Injil Lukas ditulis belum ada program dan kampanye KB (Keluarga Berencana).  Bacaan diambil dari Injil Lukas 20:27-38
Dalam bacaan Injil Minggu ini Yesus dan orang-orang Saduki bersoal-jawab. Latar cerita adalah Yesus mengajar di Bait Allah karena bacaan termuat dalam Lukas pasal 20-21. 
Dikisahkan beberapa orang Saduki mendatangi Yesus, yang menurut penulis Injil Lukas mereka tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada Yesus: " 𝘎𝘶𝘳𝘶, 𝘔𝘶𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘭𝘪𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘬𝘪𝘵𝘢: 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢 𝘭𝘢𝘬𝘪-𝘭𝘢𝘬𝘪, 𝘮𝘢𝘵𝘪, 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘢𝘥𝘢, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬, 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘬𝘢𝘸𝘪𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶. 𝘈𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘶𝘫𝘶𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘸𝘪𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬. 𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘬𝘢𝘸𝘪𝘯𝘪 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘶𝘳𝘶𝘵-𝘵𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘬𝘦𝘵𝘶𝘫𝘶𝘩 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢 𝘪𝘵𝘶, 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬. 𝘈𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘪. 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶, 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘢𝘯, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘬𝘦𝘵𝘶𝘫𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢?" (ay. 27-33)
Penulis Injil Lukas mengambil bahan dari Injil Markus, tetapi Lukas mengubah latar cerita Injil Markus “Yesus berjalan di halaman Bait Allah” (Mrk. 11:27). Lukas (20:27) tidak mengubah tokoh cerita orang Saduki dari Markus 12:18, namun Lukas menghapus penilaian Markus bahwa orang Saduki itu sesat. Lukas menghapus dua kali bahan dari Markus 12:18 dan 27. Lukas menolak penilaian Markus terhadap orang Saduki.
Saduki (dari kata Zadok) adalah nama kelompok aristokrat Yahudi yang berkuasa di Yerusalem hingga Bait Suci dihancurkan pada 70 ZB. Kaum Saduki bertanggung jawab terhadap ibadah yang dilakukan di Bait Suci sebagai kaum imam, yang hampir seluruh imam-imam dapat digolongkan sebagai kaum ini. Jabatan Imam Besar Yahudi pada umumnya diduduki oleh orang Saduki, tetapi tidak semua orang Saduki adalah imam. Ada kemungkinan bahwa orang-orang Saduki juga terdiri atas orang awam yang kaya dan tuan-tuan tanah. 
Di lingkungan orang Yahudi pada masa itu kebangkitan adalah wacana secara nisbi baru, yang muncul sekitar abad ke-2 SZB seperti dalam Kitab Daniel 12:2. Sampai menjelang akhir abad 1 ZB, ketika Injil Lukas ditulis, perdebatan dan perkembangan wacana kebangkitan masih terus terjadi sehingga ada berbagai pemikiran yang berbeda di dalam Perjanjian Baru.
Dalam tradisi Israel (lih. Ul. 25:5), termasuk yang terkandung dalam perkawinan Levirat, tujuan perkawinan bukanlah untuk mengesahkan cinta kasih romantis seperti dalam kebudayaan modern, melainkan untuk mendapatkan anak atau keturunan. Manusia akan mati. Adanya keturunan akan mencegah kepunahan. Jadi, pertanyan orang-orang Saduki di atas pumpunnya bukanlah pada siapa suami perempuan itu, melainkan apakah Yesus bersepaham dengan mereka yang tidak percaya pada kebangkitan dalam pertanyaan “𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘢𝘯, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘬𝘦𝘵𝘶𝘫𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢?". Pertanyaan ini sulit sekaligus 𝘵𝘳𝘪𝘤𝘬𝘺.
Jawab Yesus kepada mereka: "𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘸𝘪𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘬𝘢𝘸𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘭𝘢𝘺𝘢𝘬 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘸𝘪𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘬𝘢𝘸𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪; 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘢𝘵-𝘮𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘢𝘵, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘯𝘢𝘬-𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯. 𝘛𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪, 𝘔𝘶𝘴𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘩𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘯𝘢𝘴 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬 𝘥𝘶𝘳𝘪, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘛𝘜𝘏𝘈𝘕 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘣𝘳𝘢𝘩𝘢𝘮, 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘐𝘴𝘩𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘠𝘢𝘬𝘶𝘣. 𝘐𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘋𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱." (ay. 34-38)
Jawaban Yesus di atas menurut teologi penulis Injil Lukas Yesus membuat pembedaan yang tegas: ada dua dunia. Pertama, dunia ini, orang memang kawin dan dikawinkan. Kedua, dunia yang lain itu, dunia orang-orang yang dibangkitkan tidak begitu.  Sesudah kebangkitan manusia tidak lagi kawin dan dikawinkan, karena sudah tidak paut lagi. Tidak paut karena manusia tidak dapat mati lagi. Perkawinan untuk mencegah kepunahan, setelah mati bearti tak ada kematian kedua, manusia tidak dapat punah. Manusia pada hari kebangkitan sama dengan malaikat: tidak dapat mati lagi. Oleh karena tidak dapat mati lagi, orang yang sudah dibangkitkan itu tidak perlu kawin dan dikawinkan. Itulah sebabnya tidak ada penyediaan bidadari untuk memenuhi hasrat seksual laki-laki di dunia yang lain sesudah kematian menurut Injil Lukas.
Apabila kita melanjutkan membaca ayat berikutnya (ay. 39), beberapa ahli taurat berpendapat, “𝘎𝘶𝘳𝘶, 𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣-𝘔𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪.” Lukas tampaknya hendak mengatakan bahwa tidak semua ahli Taurat berbeda pendapat dengan Yesus, setidaknya mereka tidak kompak dalam bersikap terhadap ajaran Yesus.
Membuat pertanyaan itu tidak mudah, apalagi pertanyaan bermutu. Orang Saduki bertanya bukan tanpa argumen. Mereka merujuk Kitab Suci dengan kasus rumit yang dapat terjadi di masyarakat. Orang yang tak menguasai ilmu akan berkesulitan menjawab pertanyaan orang Saduki itu. Yesus sangat menguasai, bahkan beberapa ahli Taurat memuji Yesus atas ketepatan jawaban Yesus. Untuk dapat menguasai itu tidaklah kejap. Yesus belajar dengan sungguh-sungguh. Seperti kata penginjil Lukas, “Yesus makin dewasa dan bertambah hikmat-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” (Luk. 2:53, TB II).


Jubug, 05.11.22 (T)

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32 PENGANTAR Allah menghendaki pertobatan nyata. Gereja dipanggil untuk memi...