BERAT?, MEMANG, MAU LANJUT? SERIAL SUDUT PANDANG
Ucapan-ucapan Yesus dalam bacaan Injil Minggu ini (Mat. 5:21-37) dapat diguguskan ke dalam empat himpunan:
• Larangan membunuh (Mat. 5:21-26)
• Larangan berzina dan penyesatan (Mat. 27-30)
• Larangan bercerai (Mat. 5:31-32)
• Larangan bersumpah (Mat. 5:33-37)
đđŽđŋđŽđģđ´đŽđģ đēđ˛đēđ¯đđģđđĩ (Mat. 5:21-26)
5:21 đđĸđŽđļ đĩđĻđđĸđŠ đŽđĻđ¯đĨđĻđ¯đ¨đĸđŗ đēđĸđ¯đ¨ đĨđĒđ§đĒđŗđŽđĸđ¯đŦđĸđ¯ đŦđĻđąđĸđĨđĸ đ¯đĻđ¯đĻđŦ đŽđ°đēđĸđ¯đ¨ đŦđĒđĩđĸ: đđĸđ¯đ¨đĸđ¯ đŽđĻđŽđŖđļđ¯đļđŠ; đ´đĒđĸđąđĸ đēđĸđ¯đ¨ đŽđĻđŽđŖđļđ¯đļđŠ đŠđĸđŗđļđ´ đĨđĒđŠđļđŦđļđŽ.
5:22 đđĻđĩđĸđąđĒ đđŦđļ đŖđĻđŗđŦđĸđĩđĸ đŦđĻđąđĸđĨđĸđŽđļ ...
đĸ. đđĸđŗđĸđŠ, đŽđĻđŽđĸđŦđĒ, đĨđĸđ¯ đŽđĻđ¯đ¨đĸđĩđĸ-đ¯đ¨đĸđĩđĸđĒ (Mat. 5:22)
Larangan marah, memaki, dan mengata-ngatai orang di ayat 22 ini masih bernasabah (đŗđĻđđĸđĩđĻ) dengan larangan membunuh di ayat 21. Tiga hal yang terlarang untuk jemaat Kristen (Jemaat Matius): marah, memaki, dan mengata-ngatai orang lain. Jemaat Matius bukan hanya dilarang membunuh, tetapi juga dilarang marah, memaki, dan mengata-ngatai đ¸đŽđŋđ˛đģđŽ đ¸đ˛đđļđ´đŽđģđđŽ đđŽđēđŽ đąđ˛đģđ´đŽđģ đēđ˛đēđ¯đđģđđĩ.
đŖ. đđĻđŗđ´đĻđŽđŖđĸđŠđĸđ¯ đĨđĸđ¯ đŖđĻđŗđĨđĸđŽđĸđĒ (Mat. 5:23-24)
5:23 đđĻđŖđĸđŖ đĒđĩđļ, đĢđĒđŦđĸ đĻđ¯đ¨đŦđĸđļ đŽđĻđŽđąđĻđŗđ´đĻđŽđŖđĸđŠđŦđĸđ¯ đąđĻđŗđ´đĻđŽđŖđĸđŠđĸđ¯đŽđļ đĨđĒ đĸđĩđĸđ´ đŽđĻđģđŖđĸđŠ đĨđĸđ¯ đĻđ¯đ¨đŦđĸđļ đĩđĻđŗđĒđ¯đ¨đĸđĩ đĸđŦđĸđ¯ đ´đĻđ´đļđĸđĩđļ đēđĸđ¯đ¨ đĸđĨđĸ đĨđĸđđĸđŽ đŠđĸđĩđĒ đ´đĸđļđĨđĸđŗđĸđŽđļ đĩđĻđŗđŠđĸđĨđĸđą đĻđ¯đ¨đŦđĸđļ,
5:24 đĩđĒđ¯đ¨đ¨đĸđđŦđĸđ¯đđĸđŠ đąđĻđŗđ´đĻđŽđŖđĸđŠđĸđ¯đŽđļ đĨđĒ đĨđĻđąđĸđ¯ đŽđĻđģđŖđĸđŠ đĒđĩđļ đĨđĸđ¯ đąđĻđŗđ¨đĒđđĸđŠ đŖđĻđŗđĨđĸđŽđĸđĒ đĨđĸđŠđļđđļ đĨđĻđ¯đ¨đĸđ¯ đ´đĸđļđĨđĸđŗđĸđŽđļ, đđĸđđļ đŦđĻđŽđŖđĸđđĒ đļđ¯đĩđļđŦ đŽđĻđŽđąđĻđŗđ´đĻđŽđŖđĸđŠđŦđĸđ¯ đąđĻđŗđ´đĻđŽđŖđĸđŠđĸđ¯đŽđļ đĒđĩđļ.
Implikasi dari larangan membunuh adalah pencegahan. Untuk tidak sampai terjadi pembunuhan Jemaat Matius ditekankan untuk berdamai dengan sesama. đđ˛đŋđąđŽđēđŽđļ đąđ˛đģđ´đŽđģ đđ˛đđŽđēđŽ đšđ˛đ¯đļđĩ đŊđ˛đģđđļđģđ´ đ¸đ˛đđļđēđ¯đŽđģđ´ đēđ˛đēđ¯đ˛đŋđļđ¸đŽđģ đŊđ˛đŋđđ˛đēđ¯đŽđĩđŽđģ đąđŽđšđŽđē đ¯đ˛đŋđļđ¯đŽđąđŽđĩ đ¸đ˛đŊđŽđąđŽ đđšđšđŽđĩ.
đ¤. đđĻđŗđĨđĸđŽđĸđĒ đĨđĸđ¯ đŖđĻđŗđļđĩđĸđ¯đ¨ (Mat. 5:25-26)
5:25 đđĻđ¨đĻđŗđĸđđĸđŠ đŖđĻđŗđĨđĸđŽđĸđĒ đĨđĻđ¯đ¨đĸđ¯ đđĸđ¸đĸđ¯đŽđļ đ´đĻđđĸđŽđĸ đĻđ¯đ¨đŦđĸđļ đŖđĻđŗđ´đĸđŽđĸ-đ´đĸđŽđĸ đĨđĻđ¯đ¨đĸđ¯ đĨđĒđĸ đĨđĒ đĩđĻđ¯đ¨đĸđŠ đĢđĸđđĸđ¯, đ´đļđąđĸđēđĸ đđĸđ¸đĸđ¯đŽđļ đĒđĩđļ đĢđĸđ¯đ¨đĸđ¯ đŽđĻđ¯đēđĻđŗđĸđŠđŦđĸđ¯ đĻđ¯đ¨đŦđĸđļ đŦđĻđąđĸđĨđĸ đŠđĸđŦđĒđŽ đĨđĸđ¯ đŠđĸđŦđĒđŽ đĒđĩđļ đŽđĻđ¯đēđĻđŗđĸđŠđŦđĸđ¯ đĻđ¯đ¨đŦđĸđļ đŦđĻđąđĸđĨđĸ đąđĻđŽđŖđĸđ¯đĩđļđ¯đēđĸ đĨđĸđ¯ đĻđ¯đ¨đŦđĸđļ đĨđĒđđĻđŽđąđĸđŗđŦđĸđ¯ đŦđĻ đĨđĸđđĸđŽ đąđĻđ¯đĢđĸđŗđĸ.
5:26 đđŦđļ đŖđĻđŗđŦđĸđĩđĸ đŦđĻđąđĸđĨđĸđŽđļ: đđĻđ´đļđ¯đ¨đ¨đļđŠđ¯đēđĸ đĻđ¯đ¨đŦđĸđļ đĩđĒđĨđĸđŦ đĸđŦđĸđ¯ đŦđĻđđļđĸđŗ đĨđĸđŗđĒ đ´đĸđ¯đĸ, đ´đĻđŖđĻđđļđŽ đĻđ¯đ¨đŦđĸđļ đŽđĻđŽđŖđĸđēđĸđŗ đļđĩđĸđ¯đ¨đŽđļ đ´đĸđŽđąđĸđĒ đđļđ¯đĸđ´.
Ucapan Yesus di Matius 5:25-26 merupakan ucapan lepas dari Sumber Q karena sejajar dengan Lukas 12:58-59. Matius mengguguskan tiga konteks untuk kedua ucapan lepas itu:
• Konteks pertama atau konteks terdekat adalah Matius 5:23-24. Berdamai di tengah jalan dan membayar utang itu (ay. 25-26) masih ada berpautan dengan berdamai yang lebih penting ketimbang memberikan persembahan (ay.23-24).
• Konteks kedua adalah Matius 5:22. Hakim di Matius 5:25 tampaknya hakim dari pengadilan lokal, yang di Matius 5:22 bernasabah dengan marah. Hakim di Matius 5:25 tampaknya bukan hakim di tingkat kedua (Mahkamah Agama) dan bukan hakim di tingkat terakhir (Allah, neraka).
• Konteks ketiga adalah Matius 5:21. Berdamai di tengah jalan dan membayar utang itu (ay. 25-26) masih ada berhubungan dengan larangan membunuh (ay.21). Apabila larangan membunuh bersifat negatif, maka berdamai secepat-cepatnya bersifat positif.
đđŽđŋđŽđģđ´đŽđģ đ¯đ˛đŋđđļđģđŽ đąđŽđģ đŊđ˛đģđđ˛đđŽđđŽđģ (Mat. 27-30)
5:27 đđĸđŽđļ đĩđĻđđĸđŠ đŽđĻđ¯đĨđĻđ¯đ¨đĸđŗ đēđĸđ¯đ¨ đĨđĒđ§đĒđŗđŽđĸđ¯đŦđĸđ¯: đđĸđ¯đ¨đĸđ¯ đŖđĻđŗđģđĒđ¯đĸ.
5:28 đđĻđĩđĸđąđĒ đđŦđļ đŖđĻđŗđŦđĸđĩđĸ đŦđĻđąđĸđĨđĸđŽđļ ...
đĸ. đđĻđŽđĸđ¯đĨđĸđ¯đ¨ đąđĻđŗđĻđŽđąđļđĸđ¯ (Mat. 5:28)
Larangan memandang perempuan đąđŽđģ menginginkannya dipautkan dengan larangan berzina (hukum ke-7 Dasa Titah) dan larangan menginginkan milik sesamamu, termasuk istrinya (hukum ke-10 Dasa Titah). Menginginkan perempuan lain di sini adalah perempuan yang berstatus istri orang lain, meskipun hanya di dalam hati, adalah berzina. đĻđ˛đ°đŽđŋđŽ đŋđŽđąđļđ¸đŽđš teks ini menambah tinggi ukuran berzina dimula dari dalam hati.
Bagaimana jika memandang dan menginginkan perempuan yang belum bersuami? Penulis Injil Matius entah lupa atau mengizinkan. Namun tampaknya sistem perkawinan monogami belum diterapkan secara ketat saat Injil Matius ditulis. Perkawinan monogami tampaknya baru secara ketat diterapkan di pengujung abad pertama ZB. Dalam Surat Timotius dan Titus ada usulan agar penilik jemaat, diaken, dan penatua yang dipilih adalah suami dari satu istri (1Tim. 3:2, 12; Tit. 1:6). Dapat diduga cukup banyak orang Kristen waktu itu beristri lebih daripada satu sehingga hal itu dipandang tidak baik.
đŖ. đđĸđĩđĸ đĨđĸđ¯ đĩđĸđ¯đ¨đĸđ¯ đēđĸđ¯đ¨ đŽđĻđ¯đēđĻđ´đĸđĩđŦđĸđ¯ (Mat. 5:29-30)
5:29 đđĸđŦđĸ đĢđĒđŦđĸ đŽđĸđĩđĸđŽđļ đēđĸđ¯đ¨ đŦđĸđ¯đĸđ¯ đŽđĻđ¯đēđĻđ´đĸđĩđŦđĸđ¯ đĻđ¯đ¨đŦđĸđļ đŖđĻđŗđĨđ°đ´đĸ, đ¤đļđ¯đ¨đŦđĒđđđĸđŠ đĨđĸđ¯ đŖđļđĸđ¯đ¨đđĸđŠ đĒđĩđļ, đŦđĸđŗđĻđ¯đĸ đđĻđŖđĒđŠ đŖđĸđĒđŦ đŖđĸđ¨đĒđŽđļ đĢđĒđŦđĸ đ´đĸđĩđļ đĨđĸđŗđĒ đĸđ¯đ¨đ¨đ°đĩđĸ đĩđļđŖđļđŠđŽđļ đŖđĒđ¯đĸđ´đĸ, đĨđĸđŗđĒđąđĸđĨđĸ đĩđļđŖđļđŠđŽđļ đĨđĻđ¯đ¨đĸđ¯ đļđĩđļđŠ đĨđĒđ¤đĸđŽđąđĸđŦđŦđĸđ¯ đŦđĻ đĨđĸđđĸđŽ đ¯đĻđŗđĸđŦđĸ.
5:30 đđĸđ¯ đĢđĒđŦđĸ đĩđĸđ¯đ¨đĸđ¯đŽđļ đēđĸđ¯đ¨ đŦđĸđ¯đĸđ¯ đŽđĻđ¯đēđĻđ´đĸđĩđŦđĸđ¯ đĻđ¯đ¨đŦđĸđļ, đąđĻđ¯đ¨đ¨đĸđđđĸđŠ đĨđĸđ¯ đŖđļđĸđ¯đ¨đđĸđŠ đĒđĩđļ, đŦđĸđŗđĻđ¯đĸ đđĻđŖđĒđŠ đŖđĸđĒđŦ đŖđĸđ¨đĒđŽđļ đĢđĒđŦđĸ đ´đĸđĩđļ đĨđĸđŗđĒ đĸđ¯đ¨đ¨đ°đĩđĸ đĩđļđŖđļđŠđŽđļ đŖđĒđ¯đĸđ´đĸ đĨđĸđŗđĒđąđĸđĨđĸ đĩđļđŖđļđŠđŽđļ đĨđĻđ¯đ¨đĸđ¯ đļđĩđļđŠ đŽđĸđ´đļđŦ đ¯đĻđŗđĸđŦđĸ.
Ucapan-ucapan tentang mata kanan dan tangan kanan yang menyesatkan bersumber dari Markus 9:43, 47. Matius menyuratkan đ´đĸđĩđļ đŽđĸđĩđĸ menjadi đŽđĸđĩđĸ đŦđĸđ¯đĸđ¯ dan đ´đĸđĩđļ đĩđĸđ¯đ¨đĸđ¯ menjadi đĩđĸđ¯đ¨đĸđ¯ đŦđĸđ¯đĸđ¯. Ia membalik urutan Markus đĩđĸđ¯đ¨đĸđ¯-đŽđĸđĩđĸ menjadi đŽđĸđĩđĸ-đĩđĸđ¯đ¨đĸđ¯ karena dalam konteks Matius ucapan tentang mata berpautan dengan đŽđĻđŽđĸđ¯đĨđĸđ¯đ¨ đąđĻđŗđĻđŽđąđļđĸđ¯ di ayat sebelumnya.
Matius tidak menghapus đĩđĸđ¯đ¨đĸđ¯ yang tampaknya bukan lagi berbicara tentang perzinaan, melainkan sudah beralih ke bincangan penyesatan. Diduga đĩđļđŖđļđŠ yang dimaksud adalah đĢđĻđŽđĸđĸđĩ. đđĸđĩđĸ đŦđĸđ¯đĸđ¯ dan đĩđĸđ¯đ¨đĸđ¯ đŦđĸđ¯đĸđ¯ sangat bolehjadi merujuk orang-orang penting di Jemaat Matius. Meskipun orang-orang penting, mereka harus disingkirkan seandainya mereka menyesatkan jemaat. Lebih baik menyingkirkan orang-orang penting itu daripada jemaat menjadi tersesat.
Pesan ini sangat penting bagi gereja masa kini yang kerap memuja para “putera gereja”, yaitu pejabat-pejabat tinggi negara atau pengusaha kaya. Pejabat-pejabat seperti Ferdi Sambo dan pengusaha-pengusaha yang menjadi drakula pekerja harus disingkirkan agar jemaat tidak ikut tersesat.
đđŽđŋđŽđģđ´đŽđģ đ¯đ˛đŋđ°đ˛đŋđŽđļ (Mat. 5:31-32)
5:31 đđĻđđĸđŠ đĨđĒđ§đĒđŗđŽđĸđ¯đŦđĸđ¯ đĢđļđ¨đĸ: đđĒđĸđąđĸ đēđĸđ¯đ¨ đŽđĻđ¯đ¤đĻđŗđĸđĒđŦđĸđ¯ đĒđ´đĩđĻđŗđĒđ¯đēđĸ đŠđĸđŗđļđ´ đŽđĻđŽđŖđĻđŗđĒ đ´đļđŗđĸđĩ đ¤đĻđŗđĸđĒ đŦđĻđąđĸđĨđĸđ¯đēđĸ.
5:32 đđĻđĩđĸđąđĒ đđŦđļ đŖđĻđŗđŦđĸđĩđĸ đŦđĻđąđĸđĨđĸđŽđļ: đđĻđĩđĒđĸđą đ°đŗđĸđ¯đ¨ đēđĸđ¯đ¨ đŽđĻđ¯đ¤đĻđŗđĸđĒđŦđĸđ¯ đĒđ´đĩđĻđŗđĒđ¯đēđĸ đŦđĻđ¤đļđĸđđĒ đŦđĸđŗđĻđ¯đĸ đģđĒđ¯đĸ, đĒđĸ đŽđĻđ¯đĢđĸđĨđĒđŦđĸđ¯ đĒđ´đĩđĻđŗđĒđ¯đēđĸ đŖđĻđŗđģđĒđ¯đĸ; đĨđĸđ¯ đ´đĒđĸđąđĸ đēđĸđ¯đ¨ đŦđĸđ¸đĒđ¯ đĨđĻđ¯đ¨đĸđ¯ đąđĻđŗđĻđŽđąđļđĸđ¯ đēđĸđ¯đ¨ đĨđĒđ¤đĻđŗđĸđĒđŦđĸđ¯, đĒđĸ đŖđĻđŗđģđĒđ¯đĸ.
Larangan bercerai ini tampaknya dipautkan juga dengan hukum ke-7 Dasa Titah dengan merujuk perintah Yahweh di kitab Ulangan 24:1-4, namun Injil Matius membuat perkecualian karena zina. Warga Jemaat Matius laki-laki tidak dilarang menceraikan istrinya apabila istrinya berzina. Bagaimana jika suami berzina? Penulis Injil Matius menghapus larangan istri menceraikan suami di Markus 10:12 karena diduga tidak paut dengan situasi jemaat Matius yang didominasi kaum laki-laki Yahudi. Akan tetapi
mereka “dilindungi” dari ulah suami mereka yang dapat menceraikan mereka dengan alasan apa pun (bdk. Mat. 19:3).
đđŽđŋđŽđģđ´đŽđģ đ¯đ˛đŋđđđēđŊđŽđĩ (Mat. 5:33-37)
Larangan bersumpah palsu itu sangat bolehjadi bernasabah dengan hukum ke-3 đŦđĻđŦđļđĨđļđ´đĸđ¯ đ¯đĸđŽđĸ đ đĸđŠđ¸đĻđŠ dan hukum ke-9 đ´đĸđŦđ´đĒ đĨđļđ´đĩđĸ Dasa Titah (Im. 19:12, Bil. 30:2, dan Ul. 23:21).
5:33 đđĸđŽđļ đĩđĻđđĸđŠ đŽđĻđ¯đĨđĻđ¯đ¨đĸđŗ đąđļđđĸ đēđĸđ¯đ¨ đĨđĒđ§đĒđŗđŽđĸđ¯đŦđĸđ¯ đŦđĻđąđĸđĨđĸ đ¯đĻđ¯đĻđŦ đŽđ°đēđĸđ¯đ¨ đŦđĒđĩđĸ: đđĸđ¯đ¨đĸđ¯ đŖđĻđŗđ´đļđŽđąđĸđŠ đąđĸđđ´đļ, đŽđĻđđĸđĒđ¯đŦđĸđ¯ đąđĻđ¨đĸđ¯đ¨đđĸđŠ đ´đļđŽđąđĸđŠđŽđļ đĨđĒ đĨđĻđąđĸđ¯ đđļđŠđĸđ¯.
5:34 đđĻđĩđĸđąđĒ đđŦđļ đŖđĻđŗđŦđĸđĩđĸ đŦđĻđąđĸđĨđĸđŽđļ ...
đĸ. đđĸđ¯đ¨đĸđ¯ đ´đĻđŦđĸđđĒ-đŦđĸđđĒ đŖđĻđŗđ´đļđŽđąđĸđŠ! (Mat. 5:33-36)
Jemaat Matius bukan hanya dilarang bersumpah palsu, melainkan dilarang bersumpah sama sekali. Mengapa? Jangan sekali-kali bersumpah baik demi đđĸđ¯đ¨đĒđĩ maupun demi đŖđļđŽđĒ karena langit adalah tahta Allah dan bumi adalah tumpuan kaki-Nya. Jangan sekali-kali bersumpah demi đ đĻđŗđļđ´đĸđđĻđŽ karena Yerusalem adalah kota Allah. Jangan sekali-kali bersumpah demi đŦđĻđąđĸđđĸ kita karena Allah yang berkuasa atasnya. Pada zaman itu barangkali orang biasa bersumpah demi keempat hal itu (langit, bumi, Yerusalem, dan kepala).
đŖ. đđĒđŦđĸ đēđĸ, đŦđĸđĩđĸđŦđĸđ¯ đēđĸ; đĢđĒđŦđĸ đĩđĒđĨđĸđŦ, đŦđĸđĩđĸđŦđĸđ¯ đĩđĒđĨđĸđŦ (Mat. 5:37)
Perkataan yang jujur dan tulus tidak membutuhkan sumpah apa pun. Sebaliknya, jika memang tidak berkata jujur dan tulus, sumpah demi apa pun tidak ada gunanya.
Pejabat-pejabat yang ditangkap karena korupsi oleh KPK dan jaksa tidak ada yang tidak mengangkat sumpah sebelum menjabat. Mereka pasti bersumpah dengan cara agama masing-masing sebelum menjabat. Sumpah menjadi kebiasaan sehingga mati rasa. Bagi Yesus mengangkat sumpah itu tindakan sia-sia. Orang bersumpah tidak serta merta menjadi jujur.
Ucapan-ucapan Yesus di Matius 5:21-37 itu dapat dianggap sebagai contoh-contoh kesalehan yang melampaui kesalehan ahli Taurat dan orang Farisi sebagaimana diperintahkan di ayat 20, “đđŦđļ đŖđĻđŗđŦđĸđĩđĸ đŦđĻđąđĸđĨđĸđŽđļ: đđĒđŦđĸ đŦđĸđŽđļ đĩđĒđĨđĸđŦ đŽđĻđđĸđŦđļđŦđĸđ¯ đŦđĻđŠđĻđ¯đĨđĸđŦ đđđđĸđŠ đŽđĻđđĻđŖđĒđŠđĒ đĸđŠđđĒ-đĸđŠđđĒ đđĸđļđŗđĸđĩ đĨđĸđ¯ đ°đŗđĸđ¯đ¨-đ°đŗđĸđ¯đ¨ đđĸđŗđĒđ´đĒ, đ´đĻđ´đļđ¯đ¨đ¨đļđŠđ¯đēđĸ đŦđĸđŽđļ đĩđĒđĨđĸđŦ đĸđŦđĸđ¯ đŽđĸđ´đļđŦ đŦđĻ đĨđĸđđĸđŽ đđĻđŗđĸđĢđĸđĸđ¯ đđļđŗđ¨đĸ.”
Meskipun Yesus penuh belas kasih dan pengampun, hal itu tidak meniadakan tuntutan-Nya yang sangat tinggi terhadap umat-Nya. Alih-alih pendosa, setara kesalehan ahli Taurat dan orang Farisi saja dipandang belumlah cukup. Jemaat dituntut untuk menjadi anak Allah paripurna, “đđĸđŗđļđ´đđĸđŠ đŦđĸđŽđļ đ´đĻđŽđąđļđŗđ¯đĸ, đ´đĸđŽđĸ đ´đĻđąđĻđŗđĩđĒ đđĸđąđĸđŽđļ đēđĸđ¯đ¨ đĨđĒ đ´đļđŗđ¨đĸ đĸđĨđĸđđĸđŠ đ´đĻđŽđąđļđŗđ¯đĸ.” (Mat. 5:48).
Berat? Memang, mau lanjut?
Pancasila, 11.02.23 (T)