Jumat, 21 Mei 2021

💫SABDA NYUNAR💫SEKET

💫SABDA NYUNAR 💫, SEKET,  Bacaan diambil dari Injil Yohanes 15:26-27; 16:4b-15. Bacaan Injil ini konteksnya perjamuan malam terakhir (PMT) yang Yesus memberikan amanat sangat panjang kepada murid-murid-Nya. Suasananya mencekam. Meskipun dunia membenci para murid, mereka tetap diperintah oleh Yesus untuk terus bersaksi kepada dunia, karena Roh Kebenaran atau Roh Kudus atau Penolong (Παράκλητος atau Πνεῦμα τὸ Ἅγιον) sudah bersaksi lebih dahulu. Sama seperti dulu Yesus memimpin para murid-Nya, Roh Kudus juga akan memimpin para murid ketika Yesus sudah pergi ke Bapa-Nya. Roh Kudus itu diutus Yesus yang keluar dari Bapa-Nya. Roh Kudus itu tidak saja memimpin dan mengajar para murid, tetapi juga menginsafkan dunia. Luar biasa. Itu berarti dengan dipenuhi Roh Kudus para murid memiliki kuasa super menginsafkan dunia . Ada gereja aliran tertentu mendaku penuh dengan Roh Kudus. Bahkan pendeta-pendeta dan warga gereja itu berani mengatakan bahwa gereja-gereja arus-utama tidak dipenuhi Roh Kudus seperti GKI, gereja kurang iman, atau GKJ, gereja kurang jelas. Pendakuan penuh dengan Roh Kudus adalah hal yang mudah dan demikian juga sebaliknya hal yang mudah mengukur apakah benar mereka sudah dipenuhi Roh Kudus. Lihat buahnya! Apakah gereja tersebut sudah berdampak menyejahterakan warga masyarakat di sekitarnya? Sejahtera berarti terjadi perubahan di masyarakat secara ekonomi dan sosio-politik; dari masyarakat marginal yang tak berdaya berubah menjadi masyarakat berdaya. Sebetulnyalah itu karya nyata menginsafkan dunia. Cukup banyak orang Kristen mencerap bahwa peristiwa pencurahan Roh Kudus yang dijanjikan oleh Yesus (Kis. 1:8) disebut Pentakosta (Kis. 2:2-4). Cerapan ini dapat dipahami sebagai pengaruh prapaham kalender gerejawi sejak remaja. Pentakosta berarti lima puluh. Pada hari ke-50 sesudah kebangkitan Yesus (atau Hari Raya Paska) tercurahlah Roh Kudus kepada orang-orang yang sedang berkumpul di satu tempat di Yerusalem. Padahal kalau kita membaca Kisah Para Rasul 2:1 “Ketika tiba hari Pentakosta, mereka semua berkumpul di satu tempat.” Dari sini sudah sangat jelas bahwa hari Pentakosta itu sudah ada dan dirayakan ratusan tahun oleh masyarakat Yahudi sebelum kitab Kisah Para Rasul ditulis. Jadi, bukan karena peristiwa pencurahan Roh Kudus, maka hari itu disebut Pentakosta. Pentakosta adalah perayaan atau festival musim panas masyarakat Yahudi. Ia tidak muncul tiba-tiba atau dadakan seperti tahu bulat, melainkan berawal dari hari raya Paska Yahudi. Kalender Yahudi berawal dari bulan Nisan yang jatuh pada sekitar Maret. Paska Yahudi pada tanggal 14 Nisan yaitu bulan purnama pertama yang jatuh pada atau sesudah equinox (21 Maret). Musim semi tiba. Waktu menanam. Hari ke-49 atau tujuh pekan sesudah hari Sabat pertama sesudah Paska Yahudi adalah hari panen. Esok hari yang berarti hari ke-50 adalah pesta syukur panen yang disebut hari Pentakosta. Pesta syukur panen Pentakosta dilakukan masyarakat Yahudi dengan perjamuan (Tobit 2:1), mengunjungi Yerusalem (2Makabe 12:31-32; Kis. 2:5-11), dan pesta perjamuan itu disediakan untuk semua orang (Ulangan 16:9-11). Hari Pentakosta juga diperingati oleh orang Yahudi sebagai turunnya Dasa Titah atau 10 Perintah Allah kepada Musa. Pada hari Pentakosta itulah terjadi peristiwa pencurahan Roh Kudus seperti dalam Kisah Para Rasul 2:1-13 yang kemudian disusul dengan khotbah atau kampanye Petrus pada ayat 14-21. Penetapan hari Pentakosta Gereja berbeda dari Pentakosta Yahudi, karena berangkat dari penetapan hari Paska Gereja yang berbeda juga. Paska Yahudi jatuh pada bulan purnama pertama pada atau sesudah equinox, sedang Paska Gereja ditetapkan jatuh pada (hari) Minggu pertama sesudah bulan purnama pertama pada atau sesudah equinox. Perayaan Pentakosta Gereja diberi muatan peristiwa pencurahan Roh Kudus di dalam Kisah Para Rasul, namun tetap berakar pada tradisi pesta panen. Itu sebabnya pada Pentakosta gereja dihiasi dengan hasil bumi. Hari Raya Pentakosta Gereja merupakan mahkota masa raya Paska. Minggu Pentakosta disebut juga Minggu Putih dan karena itulah pemimpin ibadah mengenakan pakaian liturgis berwarna putih. Ibadah dihelat sejak Sabtu dengan ibadah yang khidmat dan meriah mirip Malam Natal. Hanya saja tradisi ibadah Sabtu Malam ini jarang dijumpai di Gereja-gereja Protestan. Kuasa Roh Kudus anggep aja Kuasa super itu laksana api yang dapat dipergunakan untuk kehidupan (memasak misalnya) dan sebaliknya kematian atau memusnahkan kehidupan (membakar rumah misalnya). Pada bacaan pertama dapat kita saksikan satu kuasa super itu ialah kecakapan berbahasa asing (Kis. 2:8). Dalam Injil Yohanes Roh Kebenaran dan Penolong diterjemahkan dari Παράκλητος (baca: Paraklētos), sedang Roh Kudus dari Πνεῦμα τὸ Ἅγιον (baca: Pneuma to Hagion). Apakah sama? Sama. Yohanes 20:22 menggunakan Pneuma to Hagion (Roh Kudus) ketika Yesus mengatakan, “Terimalah Roh Kudus”. Apabila Paraklētos dalam Injil Yohanes 14:16, 26; 15:26; 16:7 tidak sama dengan Pneuma to Hagion dalam Yohanes 20:22, maka pertanyaannya “kapan Paraklētos yang dijanjikan oleh Yesus dalam Yohanes 16:7 diberikan?”. Fakta bahwa kata-kata yang ditulis di dalam Alkitab dengan bahasa Ibrani atau Grika tidak otomatis menjadikan kata itu istimewa. Nah, sekarang apa pautannya kuasa super yang kita dapatkan dalam Minggu Pentakosta dan pesta panen? Gedung Gereja pada Minggu Pentakosta, apalagi gereja-gereja di desa, memercantik diri dengan hasil bumi. Dekorasi hasilpanen itu bukanlah untuk gaya-gayaan. Bahkan GKJW Mojowarno, Jombang, Jawa Timur, sebagai contoh, menghelat festival tahunan Unduh-Unduh dalam rangka Pentakosta. Kuasa super dan hasilpanen sangat berpautan. Hasilpanen itu mengingatkan kita yang mendapat kuasa super dari pencurahan Roh Kudus agar kita berbuah. Kuasa super digunakan untuk menghasilkan buah-buah iman bagi kehidupan, bukan untuk memusnahkan kehidupan, bukan untuk merusak masyarakat, bukan untuk merongrong negara dengan kampanye keagamaan.  Minggu Pentakosta secara ekumenis juga merupakan hari lahir Gereja. Untuk itu menyampaikan🙏🙏🙏 selamat berulangtahun, Gereja! 🙌🙌🙌Tuhan memberkati 

Sabtu, 15 Mei 2021

💫SABDA NYUNAR 💫BERAGAMA TAPI TAK BERTUHAN, BERTUHAN TAPI TAK BERAGAMA

💫SABDA NYUNAR 💫 BerTuhan tapi tak beragama,  beragama tapi tak berTuhan, Konon, Ahok wagub DKI, melontarkan pernyataan yang mungkin menohok banyak orang: “Kita ini masih beragama, tapi tidak ber-Tuhan.”Loh kok bisa? Bukankah agama itu sendiri terbangun karena keyakinan akan adanya Tuhan? Bagaimana mungkin orang bisa beragama kalo gak ber-Tuhan? Kalo orang beragama ya pasti ber-Tuhan dong! Sebentar, ada orang yang percaya Tuhan itu pencipta dunia, tetapi setelah penciptaan, Dia gak cawe-cawe lagi alias gak ada lagi dalam dunia, gak ada hubungannya lagi dengan dunia; semua diserahkan kepada manusia, terserah manusia mau apa. Nah, kalo orang punya paham seperti itu, ya bisa aja dia beragama, tapi untuknya Tuhan dah gak ada. Yang dimaksud Ahok sepertinya bukan kelompok ini, melainkan mereka yang menjalankan ateisme praktis: iman yang diungkapkan gak sinkron dengan perbuatan. Orang bisa menyatakan Tuhan itu maha pengasih dan penyayang sementara ia menjadi aktor kekerasan dan kekejaman terhadap kelompok agama lain. Ia sangat kuat mempertahankan kulit, tetapi isi tak digubrisnya. Dalam arti itulah ia beragama, tetapi tak ber-Tuhan. Bisakah orang ber-Tuhan tanpa beragama? Bisa, jika yang dimaksud agama hanyalah Kristen, Islam, Katolik, Hindu atau Buddha (governed religion). Tidak bisa, jika agama dipahami sebagai dimensi sosial-kolektif yang dihidupi sebagai ungkapan iman seseorang kepada Tuhan (lived religion). Dalam menyatakan dirinya, Tuhan memakai mediasi atau perantara. Kis 4,13-21, Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar. Mrk 16,9-15, Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena…Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus….Tetapi ketika mereka mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya…Bacaan Injil tsbi secara jelas menunjukkan bahwa Tuhan mengkomunikasikan Diri melalui kesaksian dan pernyataan orang lain. Akan tetapi, karena kecenderungan orang untuk menerima bukti langsung, kesaksian orang lain bisa saja dipaido, tak dipercaya; dan jika ketidakpercayaan itu mencapai titik ekstremnya, orang bisa menyejajarkan dirinya dengan Tuhan sendiri: aku ada atau Tuhan ada, tak bisa dua-duanya ada. Di hadapan pemimpin agama Yahudi, Petrus menyatakan bahwa kebangkitan Kristus itu tak bisa dipendam. Orang yang menyaksikan dan mendengar kebangkitan Kristus itu tak mungkin menyimpan untuk dirinya sendiri seolah-olah relasi manusia dengan Tuhan hanyalah berdimensi privat dan individual. Jalinan kepercayaan terhadap kesaksian orang dan hubungan masing-masing individu dengan pokok kesaksian (yaitu Tuhan yang diwartakan) itulah yang melanggengkan agama. religion-is-for-fools, Memang kerapkali orang beragama melakukan hal-hal yang bodoh, tetapi itu tidak berarti bahwa agamanya sendiri keliru. Yang keliru adalah orang yang menghidupinya secara ngawur: ateisme praktis, orang bilang percaya kepada kebangkitan Kristus, tetapi praktiknya ia lebih suka membiarkan Yesus tetap dalam makam, seperti manusia lain pada umumnya, tak perlu dipusingkan, tak perlu dikritisi, tak perlu dimaknai, tidak sinkron antara ajaran imannya dan perbuatannya itulah beragama tapi tak berTuhan. Begitulah pula orang yang mengklaim ber-Tuhan tanpa agama: ia tak mau paham Allahnya dikritisi, pokoknya menurutku begini, titik. Lha, malah jadi Tuhan sendiri… 🙏🙏🙏Selamat berTuhan tanpa agama, beragama tanpa berTuhan, 🙌🙌🙌 Tuhan memberkati 

SUDUT PANDANG BERANI MATI BERANI HIDUP

Sudut Pandang Berani mati berani hidup
PENGANTAR
berani mati berani hidup, Mereka memanggil rasul-rasul itu, lalu menyesah mereka dan melarang mereka mengajar dalam nama Yesus. Sesudah itu mereka dilepaskan. Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus. Dan setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias (Kis. 5:40-42). Roh Kudus menyulut semangat yang menyala-nyala untuk dengan berani memberitakan keselamatan yang dikerjakan Allah di dalam Yesus Kristus dan melalui karya Roh Kudus.
PEMAHAMAN
 Berani di sini bukanlah berarti nekad. Roh Kudus memberikan kepada mereka juga hikmat, sehingga keberanian mereka dilandasi oleh tuntunan Sang Hikmat, sekalipun tetap ada resiko. Dalam keberanian penuh hikmat itu para murid dengan fasih mempersaksikan Kristus sebagai sumber keselamatan dalam berbagai bahasa yang dimengerti para pendengarnya. Bahasa lain (Yun: glossolalia) yang mereka sampaikan seperti yang diberikan Roh Kudus (Kis. 2:20) adalah bahasa yang dimengerti oleh manusia dari berbagai macam bangsa (Yun: xenolalia, bahasa asing). Dengan demikian, karya Roh memakai bahasa manusia sekaligus melampaui keterbatasan bahasa. Para murid lainnya juga mencatatkan keberanian yang luar biasa. Oleh karya Roh Kudus mereka terus melaksanakan tugas panggilan memberitakan Injil Kerajaan Allah dengan penuh kegembiraan, sekalipun hadangan dan penderitaan mengancam mereka. Catatan Kisah Para Rasul tentang hal ini sangat menarik, Para murid menjadi pribadi yang berani melalui proses. Setidaknya kita bisa mencatat ada tiga fase yang dilalui para murid dalam berproses, yaitu fase takut, fase belajar, dan fase bertumbuh. Dalam tiap fase karya kuasa Roh Kudus sungguh-sungguh menolong mereka tetap bergeliat sehingga memiliki spiritualitas yang tangguh dan kreatif dalam berkarya. Dengan spiritualitas semacam itu, para murid dengan gagah berani memberitakan Injil Kerajaan Allah. Alkitab mencatat kisah Stefanus, martir pertama. Di tengah ancaman maut yang siap merenggut hidupnya, Stefanus masih berujar dalam nada cinta kasih, seperti Kristus Sang Teladan, “Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Dan dengan perkataan itu meninggallah ia” (Kis. 7:60). Keberanian para martir terus menerus hadir dalam kehidupan hingga saat ini. Artinya, keberanian menghadirkan Injil Kerajaan Allah tak hanya terjadi di masa lalu, tetapi juga di masa kini. Hal itu menandakan bahwa karya Roh Kudus terus terjadi dalam sepanjang kehidupan manusia. Paus Fransiskus dalam audiensi umum mingguan di tahun 2019 mengajak umat kristen mengenang kembali 21 orang Kristen Ortodoks Koptik – pekerja bangunan Mesir – yang mati syahid karena iman mereka pada tahun 2015 di sebuah pantai di Libya, di tangan ISIS. Kata Paus, “Kata terakhir mereka adalah ‘Yesus, Yesus’. Mereka tidak menyangkal iman mereka, karena Roh Kudus menyertai mereka. Para martir modern.” Mungkin pada suatu masa, kita pernah hidup dalam kecemasan bahkan ketakutan yang diakibatkan karena pandemi Covid-19. Pandemi yang terus menggerus kehidupan bersama di bumi ini telah menciptakan kegentaran menghadapi hidup. Siapa yang tidak gentar? Sebagai contoh International Association for Suicide Prevention (IASP) menyebutkan bahwa pandemi Covid-19 memicu peningkatan jumlah pasien kesehatan mental yang hendak bunuh diri. Angka bunuh diri sendiri tercatat terjadi setiap 40 detik di dunia. Tod Bolsinger, seorang teolog dari Fuller Seminary Amerika Serikat, mengatakan bahwa pada saat ini ketika kita menghadapi virus Covid-19, kita seperti tengah berada pada wilayah baru yang tidak terpetakan. Artinya, jalan di depan kita tidak kita ketahui juntrungan-nya. Pada masa Covid-19 membuat kita seolah tidak punya kendali atas kehidupan di masa depan. Hidup kita seperti tanpa kalender kerja, tanpa pengaturan, tanpa perencanaan jauh ke depan. Kegentaran tak hanya sekadar soal pandemi, tetapi juga berbagai macam persoalan kehidupan, termasuk dalam kehidupan bersama berbangsa di Indonesia. Dalam konteks Indonesia, kita menemukan kenyataan makin menguatnya intoleransi. Sidney Jones, pakar konflik di Indonesia menyatakan bahwa masalah terbesar bagi demokrasi Indonesia bukanlah terorisme, melainkan intoleransi yang menjalar dari kelompok radikal yang pinggiran ke arah arus utama (mainstream).  Di tengah keadaan itu, demikian Jones, pemerintah Indonesia kurang memberikan perhatian serius akan kenyataan ini sehingga budaya kebencian dan kekerasan terus terjadi pada kelompok-kelompok minoritas.  Di sini, kita dapat menyebut ada ormas berbalut agama yang dikatakan oleh International Crisis Group sebagai kaum moralis ekstrem. Ian Wilson, ilmuwan politik yang mempelajari sebuah ormas besar tersohor dari dekat menyatakan sepak terjang mereka lebih dapat dijelaskan dengan faktor uang dibandingkan dengan faktor moral. Dengan tegas Wilson mengatakan ormas tersebut telah mengukuhkan kedudukannya dalam dunia perpolitikan dengan sengaja menciptakan ketegangan sosial dan kepanikan moral yang dengan itu mereka menempatkan dirinya sebagai broker, semacam pemeras moralitas. Tak ayal lagi, realitas ini kerap kembali mengembalikan mentalitas kaum minoritas –kita, komunitas kristen khususnya– dalam mentalitas keong.  Mentalitas ini membuat kita diam dengan beribu alasan. Di manakah keberanian kita? Di sini kita perlu menyerukan panggilan kita lebih keras dan sungguh-sungguh untuk kembali dikuasai oleh Roh Kudus, Roh yang memberikan keberanian menghadapi hidup dalam kebenaran Allah. Menjelang akhir tahun 2020, publik dikejutkan dengan keberanian seorang bernama Nikita Mirzani menghadapi oknum-oknum dari sebuah ormas besar di Indonesia. Ketika gema ketakutan yang membuat banyak orang tengkurap, atau memilih diam karena menghadapi kekuatan massa yang besar –bahkan termasuk aparat hukum– tanpa gentar Nikita Mirzani melawan. Lepas dari berbagai kategori moral yang kerap diletakkan pada artis kontroversial ini, agaknya kita perlu merenung sejenak untuk menilai keberanian hidup kita. Inilah saatnya kita mengobarkan kuasa Roh Kudus yang memberikan keberanian yang menyala-nyala demi Injil Kerajaan Allah. Inilah saatnya merasakan kembali kuasa Roh Kudus yang meghadirkan keberanian dalam memberitakan Injil Kerajaan Allah sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh pada martir. Adalah saatnya kita memiliki mental seperti Stefanus dan para murid yang lain, yang secara personal punya keberanian karena pengalaman iman bersama Kristus yang bangkit itu. Semoga masa Pentakosta ini menyadarkan kita untuk berani menyongsong hidup bersama Roh Kudus. 🙏🙏🙏Selamat berani mati berani hidup, 🙌🙌🙌Tuhan memberkati, 28 Mei 2023, STT BAPTIS INJILI, TUS

Jumat, 14 Mei 2021

💫SABDA NYUNAR💫, DATANG DAN LIHATLAH

💫SABDA NYUNAR💫 “Heaven goes by favor. If it went by merit, you would stay out and your dog would go in.” Mark Twain. Bacaan Injil diambil dari Yohanes 17:6-19. Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) memberi judul perikop bacaan Injil dengan “Doa Yesus untuk  murid-murid-Nya” dari ayat 1 sampai 26. Pada Konsili Vatikan II dan tepatnya pada 4 Desember 1963 Paus Paulus VI menetapkan (hari) Minggu sebelum Pentakosta sebagai Hari Komunikasi Sosial Sedunia. Tema tahun ini ditetapkan “Datang dan Lihatlah” oleh Paus Fransiskus. “Datang dan lihatlah. Berkomunikasilah dengan menjumpai orang lain apa adanya.” kata Paus,“Kita perlu bergerak, pergi melihat sendiri, tinggal bersama dengan orang-orang, mendengarkan kisah mereka, dan mengumpulkan berbagai pendapat atas realitas yang akan selalu mengejutkan kita dalam beberapa gatra.” Paus hendak menekankan kepada kita bahwa setiap bentuk komunikasi haruslah jelas dan jujur baik dalam dunia jurnalistik, media daring, khotbah-khotbah di gereja, dalam politik praktis, maupun dalam media sosial. Dalam doa Yesus kita melihat Yesus tidak mendoakan murid-murid-Nya diambil dari dunia. Ia tidak berdoa agar para murid lepas dari kesulitan dan tantangan hidup. Yesus justru mengutus murid-murid-Nya ke dunia (ay. 18). Di sini menunjukkan bahwa kekristenan tidak pernah dihayati sebagai suatu kelompok yang menarik diri dari kehidupan dunia. Kita bukan menarik diri dari dunia dan sekaligus tidak meleburkan diri menjadi sama dengan dunia. Doa adalah bentuk komunikasi dua arah. Yesus mengajarkan bagaimana berkomunikasi ketika persoalan sangat berat siap menghadang. Kita berharap Allah mendengarkan doa yang kita lambungkan dan berharap Allah menjawab doa permohonan yang kita panjatkan. Gatra persekutuan menjadi penting di dalam doa. Dalam Kisah Para Rasul disampaikan bagaimana gereja perdana bersekutu di dalam doa (Kis. 1:14). Kejelasan dan kejujuran menjadi syarat komunikasi tanpa hambatan. Teknologi internet atau daring memampukan kita bercerita dan berbagi lebih cepat. Daring menjadi sarana ampuh menyampaikan kabar baik dan sekaligus menuntut pertanggungjawaban kita sebagai pemberita dan pembaca. Injil merupakan media refleksi iman para penulisnya lewat cerita dan kita saling berkomunikasi lewat cerita. Berkat daring kita berkesempatan menceritakan apa yang kita baca dan saksikan serta berbagi kesaksian. Kesaksian apa? Kita sudah membaca dan menyaksikan kisah hidup Yesus dalam cerita Injil. Kita meniru apa yang sudah kita saksikan. Di sini hidup kita menjadi cerita dan kemudian bagi pendengar cerita itu menjadi kehidupan: narasi tersebut memasuki kehidupan orang-orang yang mendengarkannya dan mengubahnya. Kesaksian bukanlah curhat narsistik seperti yang acap diperagakan oleh selebritis dan para “murtadin”. Cerita tentang Kristus bukanlah sebuah warisan masa lalu, melainkan cerita kita sendiri yang selalu aktual. Hal itu juga menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada cerita manusia yang tidak murad atau tidak bernilai. Cerita kita sendiri menjadi bagian dari setiap cerita besar. Injil adalah cerita. Injil mengabarkan tentang Yesus yang informatif sekaligus performatif. Artinya Injil bukan hanya mengabarkan tentang Yesus sebagai informasi untuk diketahui, melainkan sekaligus pemberitahuan yang mendatangkan kenyataan, mengubah, dan membaharui kehidupan. Kritik Paus terhadap khotbah-khotbah di gereja yang harus jelas dan jujur sangatlah mengena. Padahal Yesus berbicara mengenai Allah bukan dengan pidato-pidato dogmatis, namun dengan perumpamaan-perumpaan, narasi-narasi singkat yang diambil dari kehidupan sehari-hari. Dalam masa pandemi ini justru makin menguatkan ajakan Paus Fransiskus untuk “Datang dan Lihatlah” dalam rangka murid-murid yang diutus ke dunia oleh Yesus. Datang dan melihat penerapan vaksin dan perawatan medis secara umum yang berisiko mengecualikan orang-orang miskin. Datang dan melihat orang-orang yang tersisihkan, kehilangan pekerjaan, kesepian, konflik batin, terundung kekhawatiran dan ketakutan, serta ketegangan hubungan dengan sesama. Datang dan melihat sendiri adalah kegiatan tak tergantikan, tukas Paus. 🙏🙏🙏Selamat Datang dan Melihat,  🙌🙌🙌Tuhan memberkati,STT BAPTIS INJILI, TITUS ROIDANTO 

💫SABDA NYUNAR 💫 BERJENJANG

💫SABDA NYUNAR💫 berjenjang,umat Kristen merayakan Hari Kenaikan Yesus Kristus (The Feast of the Ascension of Jesus Christ atau biasa disebut Ascension Day). Bacaan Injil dari Lukas 24:44-53 . Kalau kita perhatikan tempat-tempat penyembahan kuno berada di lokasi lebih tinggi daripada permukiman, bahkan banyak yang dibangun di atas bukit atau gunung. Mengapa demikian? Kosmologi orang zaman dulu langit adalah tempat bersemayam Sesembahan atau apa pun penyebutannya. Membangun situs penyembahan di lokasi lebih tinggi ditujukan untuk mendekati langit tempat Sesembahan bertahta. Kisah dalam bacaan hari ini merupakan rangkaian terakhir dari Kebangkitan Kristus dan penampakan diri-Nya kepada murid-murid-Nya. Kata Yesus: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur. Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini. Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku, tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi." (ay. 44-49). Dalam ayat 50-53 dikisahkan Yesus kemudian membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di sana Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke surga. Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita. Mereka senantiasa berada di dalam Bait Allah dan memuliakan Allah. Untuk memahami bacaan di atas ada beberapa metode menafsir. Satu di antaranya adalah kritik naratif yang merupakan metode yang meminjam dari kritik naratif dalam dunia sastra. Metode sekular ini dipinjam untuk menganalisis suatu teks biblikal. Kritik naratif merupakan penghampiran (approach) dan analisis terhadap semua anasir yang terdapat di dalam cerita Alkitab, seperti pencerita atau narator (orang pertama, orang ketiga), pembaca imajiner, pelaku cerita (tokoh utama, tokoh lawan atau antagonis, tokoh kawan atau protagonis, dlsb.), peristiwa dan kronologinya, latar cerita seperti tempat kejadian, waktu kejadian, dlsb. Kritik Naratif tidak berurusan dengan sumber-sumber cerita, tidak berurusan dengan "sejarah" pembentukan cerita, tetapi berurusan dengan cerita dalam bentuknya yang terakhir. Melakukan kritik naratif terhadap cerita di kitab-kitab Injil relatif lebih mudah ketimbang cerita di kitab Kejadian sebagai misal. Karakter tokoh-tokoh dalam cerita Injil pada umumnya datar dalam arti tokoh baik dan tokoh jahat tampak jelas dan tak berubah karakter. Kritik naratif juga menolong pendeta dalam berkhotbah agar khotbahnya tidak dogmatis garing. Satu ciri teologi Injil Lukas adalah kenaikan, dari tempat rendah ke tempat lebih tinggi. Pada bagian akhir Injil Lukas kentara ketika Yesus mengajak murid-murid-Nya keluar dari Yerusalem ke Betania lalu naik ke surga. Surga di sini dari kata οὐρανόν (baca: ouranon) yang juga berarti langit. Dalam dunia cerita Injil Lukas Betania lebih tinggi daripada Yerusalem (Luk. 19:29), sedang Yerusalem lebih tinggi daripada Nazaret (Luk. 2:42). Secara umum dalam dunia cerita Injil Lukas tempat atau wilayah pelayanan Yesus sebelum Ia menuju Yerusalem berada di posisi lebih rendah (Luk. 18:31; 19:28). Dari informasi dunia cerita ini dapat diperikan bahwa perjalanan hidup Yesus adalah perjalanan naik atau meninggi; dari Nazaret dan Galilea, naik ke Yerusalem, naik ke Betania di Bukit Zaitun, dan akhirnya naik ke surga. Apabila kita menengok lebih ke belakang lagi Yesus lahir di palungan dan “hanya” dikunjungi oleh gembala-gembala. Yesus juga lahir di lingkungan keluarga miskin seperti terlihat jenis persembahan saat Maria ditahirkan di Yerusalem (Luk. 2:22-24). Hal itu makin nyata dari pelayanan Yesus yang berbelarasa kepada orang-orang marginal atau mereka yang disisihkan oleh masyarakat yang menganut sistem puritas. Penginjil Lukas tampaknya hendak menyampaikan bahwa orang-orang yang merendahkan diri seperti Yesus akan ditinggikan oleh Allah. Dalam babak akhir Injil Lukas Yesus hendak menjawab keraguan murid-murid-Nya. Narator menyampaikan kepada pembaca bahwa Yesus memberkati murid-murid-Nya dan kemudian terangkat ke surga. Mereka sekarang percaya bahwa Yesus sungguh-sungguh sudah bangkit dan naik ke kediaman Bapa-Nya. Mereka juga mengerti bahwa Mesias harus menderita terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kemuliaan-Nya seperti nubuatan para nabi. Yesus yang memula pelayanan-Nya dari tempat yang paling rendah sampai akhirnya tiba di tempat tertinggi. Terus apa? Jangan lupa dalam bacaan Yesus berkata, “Kamu adalah saksi dari semuanya ini”. Penginjil Lukas hendak menyampaikan kepada kita, sebagai pembaca masa kini, untuk menjadi saksi dari kisah teologisnya. Kesaksian yang mana? Semuanya ini! Menjadi saksi Kristus berarti menyaksikan semua karya pelayanan Kristus (d.h.i. kisah teologis Injil Lukas) dengan merefleksikannya dalam perilaku dan gaya hidup sehari-hari. Orang Kristen bersaksi dengan berperangai laksana Kristus dalam berkarya, berbelarasa terhadap orang-orang marginal atau mereka yang disisihkan oleh masyarakat dengan segala alasannya. Terus? Angkat mereka dari kubangan paling rendah menuju tempat yang lebih tinggi seperti kisah teologis Injil Lukas tentang perjalanan naik Yesus. Duh, berat. Memang berat! Menjadi saksi Kristus bukan curhat tentang kisah murtad masuk ke agama Kristen, bukan juga curhat model selebritis atau orang kaya yang merasa dilimpahi berkat material oleh Allah. 🙏🙏🙏Selamat berjenjang 🙌🙌🙌Tuhan memberkati.STT BAPTIS INJILI, CEPOGO BOYOLALI JAWA TENGAH, TITUS ROIDANTO 

Sabtu, 08 Mei 2021

SABDA NYUNAR, SAHABAT

💫SABDA NYUNAR 💫“I hope we’re friends until we die. Then I hope we stay ghost friends and walk through walls and scare the shit out of people.” Minggu Keenam Masa Raya Paska. Bacaan Injil diambil dari Yohanes 15:9-17. Salvatore Giuliano, yang diperankan oleh Christopher Lambert dalam film The Sicilian arahan Sutradara Michael Cimino, diundang oleh lawan sekaligus pesaingnya untuk bertemu. Seorang anak buah Giuliano mengingatkan bahwa ia bisa saja akan dikhianati. Giuliano menjawab, “Hanya teman  yg berkhianat.” Kita pasti punya teman. Ada yang memiliki banyak teman, ada yang sedikit. Kita bercerita tentang hal-hal pribadi kepada seorang teman entah lewat daring entah langsung tatap muka. Seperti ada tertulis “Jangan menceritakan masalahmu kepada orang lain; 80% tidak peduli, 20% senang kita punya masalah”. Tidak seberapa lama apa pun yang kita sampaikan kepada teman kita sudah menjadi perbincangan orang-orang lain. Mereka dengan gembira menertawai masalah pribadi kita. Dengan bahasa masa kini persoalan kita menjadi bahan gibah. Dalam bacaan Injil Minggu ini sambungan dari bacaan Minggu lalu tentang “Pokok Anggur yang Benar”. Konteks percakapan di dalam Perjamuan Malam Terakhir dan sesudah Yudas pergi berkhianat. Di sini Yesus tidak sedang bermetafor. Ia memberi perintah yang diucapkan-Nya sampai dua kali yaitu untuk saling mengasihi. Yesus memberi perintah itu, karena Ia sudah mengasihi murid-murid-Nya. Bahkan Yesus menyebut murid-murid sebagai sahabat-Nya. “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.” (ay. 13). Oleh karena sahabat, Yesus “membocorkan” segala sesuatu untuk diketahui sahabat-sahabat-Nya, “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.” (ay. 15). Yesus menghendaki murid-murid-Nya pergi dan menghasilkan buah. Ada banyak takrif (definition) mengenai sahabat. Bagi kita takrif tidaklah begitu penting. Yang terpenting adalah ukuran sahabat. Penulis Amsal 17:17 dengan baik memberikan ukurannya “Seorang sahabat selalu menaruh kasih setiap waktu dan menjadi saudara dalam kesukaran.” Dari ukuran penulis Amsal ini seorang sahabat berbeda dari seorang teman. Seperti kata Salvatore Giuliano bahwa hanya teman yg berkhianat. Membaca perikop Injil di atas kita benar-benar tertohok. Kalau Yesus sudah mengakui  kita sahabat-Nya, mengapa kita tidak memerlakukan-Nya sahabat kita? Kita tidak pernah berbuat apa yang Yesus perintahkan. Yesus sudah memberikan nyawa-Nya untuk sahabat-sahabat-Nya. Kita? Alih-alih nyawa, berbuat baik kepada sesama saja saya masih jauh api dari panggang. Kalau kita melihat ayat 15, budak hanyalah perangkat sang tuan untuk memenuhi segala kebutuhannya. Budak tetaplah menjadi budak, sedang tuan adalah pemiliknya. Budak tak ubahnya sebuah properti. Budak sering diperdayai (deceived) oleh tuannya. Budak yang kerap diperdayai oleh tuannya, tidak jarang membalas memerdayai tuannya. Budak diterjemahkan dari δοῦλος (baca: doulos), yang juga berarti hamba, jongos. Seorang sahabat tidak akan memerdayai, apalagi berkhianat. Seorang sahabat memberdayakan (empower). Itu sebabnya Yesus menyebut kita sahabat-Nya. Indonesia dianugerahi hidup di dalam banyak pulau, kebinekaan bahasa, budaya, adat istiadat, dlsb. Kita terbiasa memiliki hubungan saudara yang berdasarkan atas darah, perkawinan, kesukuan, dan tentu saja agama. Bacaan Injil Minggu ini memberikan sebuah tantangan iman untuk tidak saja membangun nasabah persaudaraan, tetapi juga persahabatan. Kita harus mampu membuka ruang perjumpaan, menguak prasangka, membongkar kebencian, mengatasi kecurigaan, dan membangun rasa percaya. Dalam konteks wawasan kebangsaan menjadi sahabat bagi semua orang akan memampukan kita merawat Indonesia dengan segala kebinekaannya. Di tengah ancaman fundamentalisme agama dan terorisme kita perlu menjaga ketulusan hidup sebagai sesama anak bangsa yang saling menghargai. Barangkali kita belum termampukan menjadi sahabat bagi semua orang, namun kita setidaknya tidak merugikan diri sendiri dan orang lain dengan menebar kebencian. Bukan karena kita menafikan konflik yang nyata terjadi, akan tetapi perlu kebesaran jiwa untuk saling mengakui dan menerima sebagai sesama dalam bangsa ini. kebinekaan adalah kenyataan sekaligus anugerah bagi kita. Untuk itu orang-orang yang sudah terukur tidak memiliki wawasan kebangsaan dan kebinekaan tidak bisa dan tidak boleh menjadi pemimpin. Jadi, bocoran tentang kegagalan pemenuhan batas minimum nilai wawasan kebangsaan pada sejumlah pegawai KPK tempo hari harus benar-benar secara serius diberandang, karena mereka tidak bersahabat dengan kebinekaan. Di masa pandemi banyak orang mengalami teralienasi atau terasingkan, kehilangan pekerjaan, kesepian, konflik batin, terundung kekhawatiran dan ketakutan, serta ketegangan hubungan dengan sesama. Di saat seperti itulah mereka memerlukan kehadiran sahabat yang memberdayakan, yang selalu menaruh kasih setiap waktu dan menjadi saudara dalam kesukaran. 🙏🙏🙏Selamat Bersahabat, 🙌🙌🙌Tuhan memberkati

Sabtu, 01 Mei 2021

SUDUT PANDANG YOHANES 15:1-8MAYORITAS MENINDAS

💫SUDUT PANDANG💫 Men never do evil so completely and cheerfully as when they do it from religious conviction.” , singkatnya kita mengenal pemahaman Mayoritas Menindas, cerita lama yg akan selalu seperti itu,  kalau Israel mengenal pohon anggur. Kita kenal pohon pisang, kita sudah barang tentu sering melihat atau bahkan memiliki pohon pisang di halaman rumah. Ketika pohon pisang berbuah atau mengeluarkan “jantung”, pemilik mengamati sudah berapa sisir pisang yang terkuak. Saat sudah menampakkan 4 – 5 sisir pisang, jantung pisang dipotong. Mengapa dipotong? Nutrisi atau hara yang dihisap oleh pohon pisang dari tanah akan terus dipasok ke arah jantung pisang untuk pematangan. Dengan demikian nutrisi terbagi-bagi sehingga buah pisang yang sudah terkuak lebih dahulu terkurangi nutrisinya. Untuk itulah pemilik pohon pisang memotong jantung pisang agar nutrisi benar-benar tertuju pada 4-5 sisir buah pisang saja sehingga menghasilkan buah pisang berkualitas tinggi. Namun sebaliknya apabila jantung pisang dibiarkan tak dipotong, maka kualitas pisang menurun dan hasilnya pisang-pisang mini. Memang ada jenis pisang tertentu yang sengaja dibiarkan berenteng panjang. Minggu Kelima Masa Raya Paska, Bacaan Injil  diambil dari Yohanes 15:1-8. Dalam bacaan Injil  ini Yesus kembali mengajar dengan menyampaikan metafor, “Aku adalah pokok anggur yang benar dan Allah pengusahanya.”  Ranting-ranting yang tidak berbuah dipotong dan dibuang, ranting-ranting yang berbuah dibersihkan agar lebih banyak berbuah. “Aku adalah pokok anggur dan kamu adalah ranting-rantingnya.” Kata Yesus menekankan kepada para murid-Nya. Konteks cerita Injil ini dalam rangkaian “Perjamuan Malam Terakhir” Yesus bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Bagi orang-orang Israel zaman dulu kebun anggur dan anggur tidaklah asing, karena kena-mengena pada keseharian. Bahkan Israel sendiri dimetaforkan sebagai kebun anggur di Alkitab Perjanjian Lama (lih. Yes. 5:1-7).  ilustrasi tentang pemotongan jantung buah pohon pisang. Gambaran tersebut untuk menolong para pembaca atau pendengar Indonesia yang barangkali kesulitan membayangkan ranting-ranting anggur yang tidak berbuah mesti dipotong agar ranting yang berbuah bisa berbuah lebih banyak. Injil Yohanes ditulis di penghujung abad pertama. Menurut para ahli PB Komunitas Kristen Yohanes mendapat deraan dan tindasan hebat dari penguasa agama Yahudi. Narasi Injil tentang “Pokok anggur yang benar” adalah kritik terhadap kehidupan beragama para penguasa agama Yahudi dan para pengikut mereka. Meskipun orang-orang Israel tidak asing dengan kebun anggur dan anggur, Yesus memberi penekanan bahwa Ia adalah pokok anggur yang benar. Benar dalam bahasa Grika adalah alēthinē  yang juga berarti asli, sungguh-sungguh. Yesus hendak menyampaikan ada ketidakaslian atau ketidaksungguh-sungguhan atau kepalsuan dalam tatanan masyarakat. Mereka mengaku hidup di kebun anggur sebagai ranting-ranting anggur, tetapi menolak kedaulatan Allah dalam kebun anggur. Dalam Mazmur leksionari kita dikatakan “Sebab TUHAN-lah yang empunya kerajaan, Dialah yang memerintah atas bangsa-bangsa” (Mzm. 22:29). Setiap bulan Ramadan selalu ada persengketaan mengenai buka-tutup warung makan pada siang hari. Di Kota Serang bahkan menerapkan denda Rp50 juta bagi warung makan yang buka pada siang hari selama Ramadan. Tentu saja cukup banyak orang menentang aturan kota itu. Ada banyak alasan rasional menyanggah larangan buka warung makan. Dalam pada itu penguasa daerah bersikukuh bahwa pelarangan buka warung makan adalah mengadopsi kearifan lokal, tradisi masyarakat muslim di Kota Serang, yang tabu jika ada masyarakat Kota Serang yang berjualan (makanan) pada siang hari. Saya meyakini tidak sedikit orang Kristen senyam-senyum atas aturan garib di atas. Mana mungkin orang Kristen akan membuat aturan sumbang seperti itu? Begitulah kira-kira dalam benak mereka. Benarkah? Di Kabupaten Toba saat ini sedang digodok Perda tentang pelarangan buka kedai pada Minggu. Tujuannya adalah “untuk menghormati hari kebaktian di kalangan umat Kristen”. Yang mengagetkan  usulan ini berasal dari Badan Kerjasama Antar-Gereja (BKAG) Kabupaten Toba. Mengapa mengagetkan? Sudah barang tentu BKAG diisi oleh para pejabat gerejawi. Membaca berita di atas tak dapat menahan geli, karena wacana di atas jauh lebih lucu ketimbang apa yang terjadi di Kota Serang. “Kebun anggur” Toba dikelola secara kakistokrasi (kakistocracy) yang penuh dengan kesemuan. Seperti kritik penginjil Yohanes ada ketidakaslian, ketidaksungguh-sungguhan, kepalsuan dalam tatanan penguasa. Mereka mengaku hidup di kebun anggur sebagai ranting-ranting anggur, tetapi menolak kedaulatan Allah di dalam kebun anggur. Seperti juga kata pemazmur “Sebab TUHAN-lah yang empunya kerajaan, Dialah yang memerintah atas bangsa-bangsa” (Mzm. 22:29). Bangsa-bangsa di sini menyimbolkan keberagaman. Menolak keberagaman berarti menolak kedaulatan Allah. “Masyarakat Kabupaten Toba sangat beragam, ada agama Islam, Parmalim, Adven, dan aliran kepercayaan, “ kata Charles Sitohang, seorang tokoh masyarakat, ”Membuat Perda haruslah bijak. Agama-agama bukanlah untuk menguasai, apalagi menindas. Agama-agama mestilah mendorong cakrawala kemanusiaan sehingga lebih mencitrakan matra etis secara seimbang dengan dogma dan liturgi. Dogma usang mestinya dipangkas agar buah-buah yang dihasilkan bermutu tinggi.🙏🙏🙏Selamat beragama🙌🙌🙌Tuhan memberkati (TUS)

Sabtu, 10 April 2021

SUDUT PANDANG YOHANES 20:19-31 OJO GUMUNAN OJO KAGETAN

💫SUDUT PANDANG💫 ”A lot of Christians wear crosses around their necks. Do they think when Jesus comes back He ever wants to see the bloody cross?” Bill Hicks.  Hari ini Minggu II dalam Masa Raya Paska. Masa Raya Paska sepanjang tujuh pekan. Bandingkan dengan Masa Raya Natal yang berlangsung hanya dua pekan. Hal ini menunjukkan bahwa Paska sangat penting dalam iman Kristen. Bacaan Injil dari Yohanes 20:19-31. Dalam Injil dinarasikan Yesus-Paska menampakkan diri kepada murid-murid-Nya yang berkumpul dalam suatu tempat yang pintu-pintunya terkunci. Mereka mengunci pintu karena takut kepada para penguasa Yahudi. Tomas tidak bersama dengan murid-murid Yesus yang dijumpai oleh Yesus-Paska. Tomas yang mendapat kabar perjumpaan Yesus-Paska dengan murid-murid-Nya tak percaya sebelum ia mencucukkan jarinya ke dalam lubang bekas paku di tangan dan lubang bekas tombak di lambung Yesus-Paska. Tantangan Tomas ini diterima oleh Yesus-Paska dan menyila Tomas mencucukkan jarinya dalam perjumpaan berikutnya. Dalam narasi tidak dituliskan apakah Tomas mencucukkan jarinya atau tidak selain berucap, “Ya Tuhanku dan Allahku!” (dengan tanda fentung). Sayangnya atau sialnya atau celakanya tulisan atau teks tidak berbunyi sehingga tidak terasa intonasi atau emosi penutur. Ucapan Tomas kemudian ditafsirkan sebagai pengakuan iman Tomas bahwa Yesus adalah Tuhan sekaligus Allah, banyak kalangan teolog-teolog atau denominasi bependapat demikian, apalagi hal ini dikaitkan kepentingan untuk menjadi ayat perisai dari serangan non kristiani yang menolak KETUHANAN YESUS. Tapi bila didalami ada kemungkinan  tafsir berbeda, tafsir dari sudut pandang laen. Tomas adalah orang Yahudi sehingga tak mungkin ia menyebut Yesus Allah dalam artian Zat. Bolehlah kiranya menafsir Tomas seperti orang Indonesia yang kaget pada kejadian kejap, misal anaknya terjatuh, kemudian spontan menyebut “Ya oloh ya robi!”. Bahkan ketika tiba-tiba kita berjumpa dengan teman lama, teman kita langsung berteriak ke arah kita, “Ya oloh!” Apakah anak yang terjatuh itu Allah dan Tuhan?  Apakah kita dianggap Allah oleh teman-temannya kita? Setidaknya tafsir tsb didukung oleh tanggapan Yesus kepada Tomas, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Kalo kata - kata Thomas  tsb sebuah pengakuan iman yang pendek bahwa Yesus adalah Tuhan, sekiranya Yesus Tuhan tak akan berkata  “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Seakan Yesus Tuhan, mengingatkan Thomas agar tidak kagetan (ora kagetan), Ora gumunan (tidak mudah terheran - heran), karena apa? karena hal ini sudah dikatakan atau dinubuatkan Yesus Tuhan beberapa kali sebelum kematianNya. Seakan Yesus Tuhan malah menegur Thomas, "ora usah kagetan, ora usah gumunan, (Janganlah mudah kaget,  Janganlah mudah terheran - heran), seharusnya kamu percaya tanpa harus membuktikan. Injil Yohanes berbeda dari ketiga Injil lainnya (Matius, Markus, dan Lukas). Ketiga Injil disebut Injil sinoptis, karena ada kemiripan. Injil Yohanes ditulis paling akhir yang sama sekali berbeda dari Injil sinoptis, karena terlalu banyak refleksi penulis Injil. Meski Injil Yohanes dinilai banyak refleksi dari penulis Injil justru kita dapat menilik ada jejak atau petunjuk pertempuran teologi antara jemaat Kristen purba (diperkirakan Komunitas Yohanes), para pemuka agama Yahudi, dan para pengikut Gnostik. Satu sisi Komunitas Yohanes ditekan dan dianiaya oleh para pemuka agama Yahudi, sisi yang lain mereka dirongrong dari dalam oleh para pengikut Gnostik. Dalam Jumat Agung bisa diliat  mengenai penolakan kaum Gnostik atas kematian Yesus. Bagi kaum Gnostik, yang sebenarnya tidak bisa berkelit lagi dari fakta keseharian bahwa Yesus mati disalib, Yesus yang mereka sembah adalah Yesus-Surgawi, bukan Yesus-Ragawi. Mereka menolak Yesus-Ragawi, karena menurut mereka yang mati di kayu salib adalah orang yang serupa dengan Yesus. Selain itu hanya Injil Yohanes yang tidak menampilkan sosok Simon dari Kirene, sedang ketiga Injil sinoptik menampilkan. Kaum Gnostik mengembangkan ideologi mereka bahwa yang disalibkan adalah Simon dari Kirene. Kisah kebangkitan Yesus dalam bacaan Injil ini mau menentang pengajaran Gnostik yang menafikan ragawi. Kaum Gnostik bermental sarkofobik, menolak raga, dan memandang raga sebagai penjara jiwa yang harus dilepaskan, jika orang ingin masuk ke dalam keselamatan. Injil Yohanes menolak pandangan Gnostik. Kesaksian pengalaman para murid yang bertemu dan makan-minum bersama Yesus-Paska (Yoh. 21:9-12) mau memberitakan bahwa Yesus bangkit seutuhnya.  Pemberita Injil juga mau menyampaikan harus ada keseimbangan antara rohani dan ragawi seperti yang sudah ditunjukkan oleh karya Yesus yang tidak hanya memberitakan hal rohani, tetapi juga banyak berkarya dalam kemanusiaan. Dalam kehidupan modern mental sarkofobik gnostik ini banyak dijumpai. Hanya mau menerima yang ragawi apabila ada bukti. Pencegahan terhadap tindak pidana korupsi, terorisme, memang sulit menampilkan bukti-bukti, karena lampas (*Lampas bersinonim dengan halus (Tesamoko hlm. 246)). Tidak berandang terlihat, tetapi dapat dirasakan. Orang Kristen modern bermental sarkofobik gnostik juga cukup banyak. Mereka menjadikan para petobat atau murtadin baru, terutama dari kalangan selebritis, sebagai patokan bukti bahwa iman mereka kepada Kristus sudah benar. Mereka lebih menaruh percaya kepada pengajaran iman dari para petobat baru. Padahal penulis Surat 1Timotius 3:6 sudah memberi nasihat tentang syarat pengajar, “Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman iblis”. Dalam pada itu cukup banyak orang Kristen begitu terpesona kepada selebritis yang baru “bertobat”. Selebritis itu begitu dipuja dan dianggap menguatkan iman mereka. “Wong seleb saja berani pindah agama dan bersaksi, berarti agamaku benar.” Begitu kira-kira alasan mereka. Konversi agama selebretis itu dijadikan bukti bahwa keimanan mereka sudah benar. Beberapa waktu lalu ramai penentangan terhadap POLRI dan Presiden Jokowi yang memberi bantuan kepada keluarga teroris. Orang melihat apa yang dilihat, sedang pemerintah sedang mengerjakan apa yang tidak terlihat. Pemerintah mencegah keluarga tersebut jatuh ke tangan teroris, mencegah jangan sampai mereka terpinggirkan. Pencegahan itu tidak kasat mata. Tidak bisa dibuktikan secara berandang. Tim Densus 88 bekerja keras siang-malam, pagi-petang, untuk mencegah aksi nyata terorisme. Hasilnya jelas tidak sensasional untuk suatu berita. Senyap. Tidak curai. Meski tak terlihat, sebenarnya kalau orang mau jujur hasil kerja mereka dapat dirasakan. Masyarakat berkegiatan sehari-hari dengan aman. Bagaimana dengan ledakan bom di Makassar? Kalau Tim Densus 88 tidak bekerja keras sudah barang tentu setiap hari kita merasa tercekam, karena ledakan bom akan terjadi setiap hari. Di luar kepolisian ada cukup banyak komunitas yang bergerak dalam aksi pencegahan terorisme. Mereka merangkul kalangan anak muda jangan sampai jatuh ke dalam ajaran fundamentalisme teroris. Mereka bekerja lampas sehingga tidak menarik untuk dijadikan berita. Tidak sensasional. Tepatlah apa yang ditulis oleh pengarang Injil Yohanes bahwa orang-orang Kristen bermental sarkofobik gnostik, yang iman mereka bergantung pada selebretis petobat baru, adalah orang-orang yang tidak berbahagia, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” 🙏🙏🙏Selamat untuk tidak kagetan, dan tidak mudah terheran - heran, 🙌🙌🙌Tuhan Yesus memberkati.STT BAPTIS INJILI, CEPOGO, BOYOLALI, 2021, TITUS ROIDANTO 

Selasa, 02 Maret 2021

Sudut Pandang Kerudung Wanita dari berbagai agama

Sudut Pandang Kerudung Wanita dari berbagai agama

PENGANTAR
Membaca beberapa penelitian dan buku-buku ini menarik : "Batasan hijab untuk muslimah dalam perspektif hadis" - Skripsi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Kesimpulannya dari hadis yang ada, tidak terdapat wajibnya mengenakan kerudung/jilbab. Yang ditekankan pakaian sopan, tidak ketat/transparan, kembali ke budaya tiap daerah, "Hijab No More: A Phenomenological Study" - Studi fenomenologi, "What does the Quran really say about a Muslim woman's hijab?" - TEDx Talk by Samina Ali, Argumen istilah "hijab" di Quran bukan berarti kerudung wanita! Hijab = tirai/pembatas. Buku novelnya: Madras on Rainy Day, "It's Not About the Burqa: Muslim Women on Faith, Feminism, Sexuality and Race" Mariam Khan, Kumpulan esai 17 muslimah bicara blak-blakan tentang hijab & keraguan iman. Mayoritas kitab fiqih 4 madzhab sepakat hijab wajib, muncul karena ada perbedaan pendapat ulama soal batas aurat: wajah + telapak tangan wajib ditutup atau tidak. Fatwa Dar Al-Ifta Al-Misriyyah juga bilang niqab/cadar tidak wajib, hijab cukup tutup seluruh tubuh kecuali wajah & tangan. Ini ranah fiqih khilafiyah. Kuncinya ada di interpretasi QS An-Nur 24:31 + QS Al-Ahzab 33:59. Pendapat Mayoritas 4 Madzhab: Wajib
Dalil utama: "hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh" QS 33:59 + "tutupkan khimar ke dada" QS 24:31. Batas aurat: Seluruh tubuh kecuali wajah & telapak tangan. Soal wajah: ulama 4 madzhab sepakat wajib tutup kalau ada "fitnah"/zaman sekarang. Niqab/cadar = sunnah/mustahab, bukan wajib. Alasannya: Menjaga kehormatan, mencegah gangguan, identitas muslimah QS 33:59. Pendapat yang menyatakan "Tidak Wajib Kerudung" / "wajah dan tangan Bukan Aurat". "Hijab" di Quran 7x, 6x disebut dg artinya "tirai/pembatas". Hanya 1x merujuk pakaian. Penulis TEDx Samina Ali berargumen: Quran tidak pernah perintahkan "kerudung kepala" atau pakaian tertutup, jadi murni itu budaya yg terbentuk oleh kondisi alam dimana baju tsb muncul. Syaikh Al-Albani dll berpendapat wajah + telapak tangan bukan aurat wajib ditutup. Jadi "jilbab" = baju longgar, bukan wajib kerudung. Skripsi UIN Bandung menyimpulkan: hadis yang ada tidak mewajibkan kerudung. Yang wajib = pakaian sopan, tidak ketat/transparan, disesuaikan budaya lokal. Di zaman Nabi, "khimar" sudah dipakai wanita Arab. Perintah Quran = cara pakainya dibenahi, bukan menciptakan kerudung baru. Perbedaan ini bukan "Islam vs tidak Islam", tapi beda manhaj istinbath hukumnya. Mayoritas pakai qiyas + ijma' ulama. Kelompok minoritas lebih tekstualis + kontekstual. Titik tengah yg disepakati semua: konsep "aurat + modesty" wajib. Bedanya di "seberapa banyak yg ditutup". Bukan Cuma Islam, Konsep tutup kepala/rambut itu praktik lintas agama & budaya, jauh sebelum Islam: Agama/Budaya Nama & Makna Wajib/Tidak, Yahudi Ortodoks, Tichel/Mitpachat : Perempuan menikah wajib tutup rambut di ruang publik. Dasarnya: Bilangan 5:18, tradisi Tzniut = kesopanan. Le Pas = rambut wanita = aurat. Wajib untuk yg sudah menikah. Kristen Katolik/Ortodoks, Kerudung/Mantilla: 1 Korintus 11:5-6 "perempuan harus menutup kepala saat berdoa". Biarawati wajib kerudung penuh. Dulu wajib di gereja, sekarang longgar. Wajib saat ibadah untuk biarawati, Sikh Dastar/Dupatta: Bagian dari 5K. Laki-laki & perempuan Sikh taat wajib tutup rambut dengan turban. Simbol kedaulatan & identitas. Wajib bagi Khalsa, Hindu tradisional, Dupatta/Ghoonghat : Wanita tutup kepala saat ke kuil atau di depan mertua. Simbol kesopanan, hormat. Tidak ada dalil kitab, tapi adat kuat. Adat, bukan wajib kitab. Budaya sekuler Topi, bandana, fashion scarf : Fungsi proteksi, fashion, identitas subkultur. Tidak ada muatan religius. Pilihan personal. Semua memaknai "tutup kepala" = kesopanan, kehormatan, kontrol hasrat, identitas komunitas. Jadi hijab bukan "inventasi Islam". Islam unik karena mengaitkannya langsung ke perintah teks suci + ada sanksi fiqih. Agama lain kebanyakan adat + simbol identitas. Yahudi paling mirip: wajib hukumnya bagi wanita menikah. Semua agama menempatkan tubuh perempuan sebagai "arena simbol". Makanya hijab jadi isu politik bukan cuma ibadah, di semua agama dan budaya terlebih terkait kondisi alam dimana baju tsb muncul. Di Islam, Wajib/tidak wajib tergantung definisi "aurat". Kalau aurat = seluruh tubuh kecuali wajah+tangan = mayoritas bilang wajib kerudung. Kalau aurat = seluruh tubuh kecuali wajah+tangan+rambut = kelompok minoritas bilang tidak wajib kerudung. Tapi "pakaian sopan" sepakat wajib. Non-Islam: Praktik tutup kepala sudah ada ribuan tahun, budaya Persia sebagai yg awal menerapkan. Bedanya: sumbernya adat/tradisi, bukan 1 ayat Quran yang jadi rujukan global. Menarik, membaca bbrp buku tsb oleh karena memdampingi bbrp teman dari UIN maupun UMS yg membuat desertasi dalam rangka progam studi tafsir lintas iman di tempat kami atau mungkin dikenal dg crosstextual reading atau crosstextual hermeneutika. Tapi, saya hanya akan menulis berbagai sudut pandang hijab dari berbagai agama sbb :
PEMAHAMAN
1. Kerudung Wanita Yahudi (Jewish)
Seorang pemuka agama Yahudi, Rabbi Dr. Menachem M. Brayer, Professor Literatur Injil pada Universitas Yeshiva dalam bukunya, The Jewish woman in Rabbinic Literature, menulis bahwa baju bagi wanita Yahudi saat bepergian keluar rumah adalah mengenakan penutup kepala yang terkadang bahkan harus menutup hampir seluruh muka dan hanya meninggalkan sebelah mata saja. Dalam bukunya tersebut ia mengutip pernyataan beberapa Rabbi (pendeta Yahudi) kuno yang terkenal: “Bukanlah layaknya anak-anak perempuan Israel yang berjalan keluar tanpa penutup kepala” dan “Terkutuklah laki-laki yang membiarkan rambut istrinya terlihat,” dan “Wanita yang membiarkan rambutnya terbuka untuk berdandan membawa kemelaratan.” [Sabda Langit Perempuan dalam Tradisi Islam, Yahudi, dan Kristen, Sherif Abdel Azeem,  (Yogyakarta: Gama Media,  2001), cet. Ke-2, h.74], dapat dilihat para perempuan dari kalangan Yahudi Ultra Orthodoks sekte Haredi Burqa yang kerap disebut Ibu para Taliban, demikian dikutip dari laman Bersama Islam.com. Kerudung juga menyimbolkan kondisi yang membedakan status dan kemewahan yang dimiliki wanita yang mengenakannya. Kerudung kepala menandakan martabat dan keagungan seorang wanita bangsawan Yahudi. Oleh sebab itu di masyarakat Yahudi kuno, pelacur-pelacur tidak diperbolehkan menutup kepalanya. Tetapi pelacur-pelacur sering memakai penutup kepala agar mereka lebih dihormati (S.W.Schneider, 1984, hal 237). Wanita-wanita Yahudi di Eropa menggunakan kerudung sampai abad ke 19 hingga mereka bercampur baur dengan budaya sekuler. Dewasa ini, wanita-wanita Yahudi yang shalih tidak pernah memakai penutup kepala kecuali bila mereka mengunjungi sinagog (gereja Yahudi). [S.W.Schneider, 1984, hal. 238-239]. Dalam Hukum Rabi Yahudi, wanita Yahudi yang sudah bersuami dan tidak berjilbab dipandang  sebagai wanita yang tidak terhormat. Hukum Rabi Yahudi juga melarang pembacaan dan doa di depan wanita yang sudah menikah tanpa menutup kepala dengan kerudung karena wanita yang membuka rambutnya itu dianggap sebagai wanita telanjang. Wanita ini bahkan dianggap sebagai wanita yang merusak kerendahan hatinya dan didenda dengan empat ratus zuzim karena pelanggarannya.[ibid, h. 74-75]. 

2. Kerudung Wanita Kristen, perempuan dari jemaah Kristen Orthodoks Old Believers dalam pakaian tradisional lengkap dengan kerudung dan sudah dibiasakan sejak masih kanak-kanak.
“…Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. “Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya. Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan gambaran dan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki. Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki. Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki. “Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena para malaikat. Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan. Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah. “Pertimbangkanlah sendiri: Patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung? Bukankah alam sendiri menyatakan kepadamu, bahwa adalah kehinaan bagi laki-laki, jika ia berambut panjang, tetapi bahwa adalah kehormatan bagi perempuan, jika ia berambut panjang? Sebab rambut diberikan kepada perempuan untuk menjadi penudung…” [Dalam Korintus 11: 5-15]. Menurut Rasul Paulus, menutup kepala bagi wanita itu sebagai simbol otoritas laki-laki yang  merupakan bayangan dan keagungan Tuhan, karena wanita diciptakan dari laki-laki dan untuk  kepentingan laki-laki pula. [Kitab I Korintus, 11: 7-9]. Dalam kaitan ini, Abu Ameenah Bilal Philips menegaskan bahwa dalam kanon Gereja  katolik  terdapat artikel hukum yang mewajibkan wanita untuk menutup kepala mereka saat berada di  Gereja. Bahkan sekte-sekte Kristen, seperti kaum Amish dan Mennonite memelihara kerudung bagi kaum wanitanya hingga saat ini.[“Agama Yesus Yang Sebenarnya”, Abu Ameenah Bilal  Philips,(Jakarta: Pustaka Dai, 2004), h. 179].  

3. Kerudung Wanita Hindu, Hal yang sama juga dilakukan dalam tradisi orang-orang India yang sebagian besar penganut ajaran Hindu. Pakaian yang panjang sampai menyentuh mata kaki dengan kerudung menutupi kepala menjadi pakaian khas yang dipakai sehari-hari.

4. Kerudung Wanita Sikh, Demikian juga dalam agama Sikh yang terdapat di India dan kerap disebut merupakan gabungan dari agama Islam dan Hindu. Melansir Kompasiana.com, saat ini umat Sikh digolongkan ke dalam agama Hindu untuk urusan administrasi kependudukan dan bimbingan masyarakat, walaupun kedua agama ini berbeda. Agama ini berkembang terutamanya pada abad ke-16 dan 17 di India. Kata Sikhisme berasal dari kata Sikh, yang berarti “murid” atau “pelajar”. Kepercayaan-keperayaan utama dalam Sikhisme adalah: Percaya dalam satu Tuhan yang pantheistik. Kalimat pembuka dalam naskah-naskah Sikh hanya sepanjang dua kata, dan mencerminkan kepercayaan dasar seluruh umat yang taat pada ajaran-ajaran dalam Sikhisme: Ek Onkar (Satu Tuhan).
Ajaran Sepuluh Guru Sikh (serta para cendekiawan Muslim dan Hindu yang diterima) dapat ditemukan dalam Guru Granth Sahib.
Melansir Wikipedia.org, Sikh merupakan agama monoteistik yang diasaskan mengikut ajaran Guru Nanak dan sembilan orang guru lain di Punjab, India pada abad ke-15. Agama Sikhisme adalah agama kelima terbesar di dunia, dengan lebih daripada 23 juta penganut. Sikhisme berasal daripada perkataan Sikh, yang datang daripada kata dasar śiṣya dalam bahasa Sanskrit, yang bermakna “murid” atau “pelajar”, atau śikṣa yang bermaksud “arahan”. Di Indonesia sendiri, Sikh masuk sekitar abad 19 melalui Kota Medan, Sumatera Utara yang bertetangga dengan Malaysia dan Singapura. Karena dulu India merupakan jajahan Inggris dan bertepatan dengan Malaysia dan Singapura yang juga dijajah Inggris, saat itulah orang Sikh masuk ke Indonesia. Ini dikarenakan saat itu para penganut Sikh kebanyakan berprofesi sebagai tentara, polisi dan pengamanan. dikatakan juga bahwa dalam Perang Dunia I maupun II, itu Sikh Regiment saat itu paling banyak mendukung tentara Inggris. Demikian dilansir dari Kumparan.com. 

5. Kerudung Wanita Islam,  Dikatakan oleh Dedy Mulyana dalam Islam: Antara Simbol dan Identitas, pemakaian jilbab yang dilandasi pengalaman keagamaan, tidak lain merupakan cermin dari inner states yang tulus. Jilbab di sini bukan instrumen untuk menyenangkan orang lain atau sekadar untuk memenuhi persyaratan masuk ke dalam sebuah institusi. Tetapi, perwujudan rasa nyaman yang subjektif, seperti dikutip dari Republika.co.id. Muhammad Sa’id Al-Asymawi, seorang tokoh liberal Mesir, yang memberikan pernyataan kontroversial bahwa jilbab adalah produk budaya Arab. Pemikirannya tersebut dapat dilihat dalam buku Kritik Atas Jilbab yang diterbitkan oleh Jaringan Islam Liberal dan The Asia Foundation. Meski demikian, sebagian besar ulama Islam mengatakan bahwa jilbab adalah kewajiban bagi wanita islam. Wanita Islam wajib menjaga auratnya, yang diperbolehkan untuk diperlihatkan hanya wajah serta telapak tangan. Semoga menjadi berkat bermanfaat 🙏🏻🙏🏻🙏🏻Tuhan memberkati 🙌🏻🙌🙌🏻

STT baptis injili, CEPOGO, BOYOLALI, JATENG, 2019, (TUS)

YHWH bukan bahasa yang turun dari surga. bagian 4 Dari 4 bagian tulisan (tamat)

Bagian 4
Untuk mendukung pandangannya bahwa Asli Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani, kaum Yahweisme mengutip Matius 27:7-9, bahwa teks tersebut dalam bahasa Yunani mengandung kesalahan, sedangkan teks dalam bahasa Ibrani (Brit Khadasa) itu benar. Berikut ini tanggapan atas tuduhan tersebut: Pertama, memang harus diakui bahwa Matius 27:7-9 ini merupakan satu dari beberapa bagian yang sukar dalam Perjanjian Baru. Tetapi yang perlu diingat, sukar bukan berarti salah! Kelihatannya, kaum Yahweisme telah memanfaatkan teks yang sukar ini dan menggiring orang-orang untuk meragukan bahwa Naskah asli Perjanjian Baru berbahasa Yunani. Ironinya, Perjanjian Baru bahasa Ibrani yang dipakai menjadi acuan kaum Yahweisme untuk membandingkan teks tersebut adalah Brit Khadasha, yaitu kitab Perjanjian Baru bahasa Ibrani yang diterjemahkan dari Perjanjian Baru bahasa Yunani oleh United Bible Society pada tahun 1970 Untuk kepentingan orang-orang Kristen Yahudi modern saat ini. Tentu saja Perjanjian Baru versi ini telah mengalami banyak perbaikan untuk memudahkan pembacanya dan menghindari kesukaran-kesukaran dalam teks tertentu. Jadi Perjanjian Baru berbahasa Ibrani Ha B’rit ha-Hadasah inilah yang dijadikan acuan dan diperlakukan oleh kaum Yahweisme seakan-akan itu merupakan teks bahasa alinya. Ini tidak hanya ironis tetapi juga merupakan suatu hal yang konyol! Kedua, pertanyaannya adalah seberapa jauh Naskah berbahasa Yunani dapat dipercaya sebagai bahasa asli Perjanjian Baru? Apa yang dianggap kesalahan karena mengandung kontradiksi dalam naskah Perjanjian Baru Yunani seperti pendapat Kaum Yahweisme tersebut sebenarnya adalah paradoksi. Paradoksi bukanlah kontradiksi! Kontradiksi tidak dapat dijelaskan, sedangkan paradoksi dapat dijelaskan. Paradoksi sepertinya bertentangan tetapi bila dicermati maka akan ditemukan penjelasannya. Karena itu Augustinus memberikan pernyataan yang tegas mengenai situasi ini, “Jika kita bingung karena adanya hal-hal yang kelihatannya bertolak belakang di dalam Alkitab, kita tidak boleh berkata, pengarang kitab ini salah, tetapi bisa jadi (1) manuskrip atau salinan naskah kunonya yang cacat, atau (2) penerjemahannya keliru, atau (3) kita memang belum mengerti”. Sebagai contoh Matius 27:5 yang dianggap sebagai kontradiksi Alkitab Perjanjian Baru, padahal sebenarnya adalah paradoksi, yaitu peristiwa kematian Yudas (bagian yang masih berhubungan dengan Matius 27:9 yang dipermasalah oleh kaum Yahweisme. Injil Matius 27:5 menyebutkan bahwa kematian Yudas itu disebabkan karena ia gantung diri. Sedangkan Lukas dalam Kisah Para Rasul 1:18 menulis bahwa kematian Yudas disebabkan karena ia jatuh tertelungkup, perutnya terbelah dan semua isi perutnya tertumpah keluar. Para kritikus menuduh mana yang benar, dan menyatakan bahwa ini kontradiksi. Kekristenan menjawab bahwa ini adalah paradoksi yang bisa dijelaskan karena kedua laporan penulis Kitab itu benar adanya. Yudas memang gantung diri, kemudian oleh sesuatu hal talinya putus, ia jatuh tertelungkup, perutnya terbelah dan isi perutnya semuanya keluar. Kedua kisah kematian Yudas ini saling melengkapi satu sama lain. Kisah ini akan semakin dipahami apabila kita mempelajari lokasi Hakal Dama di lembah Hinnom. Yudas “menggantungkan dirinya (matius 27:5). Tepatnya ditepi tebing Lembah Ben Hinnom, “… lalu ia jatuh tertelungkup, dan perutnya terbelah sehingga semua isi perutnya tertumpah keluar” (kisah Para Rasul 1:18). Jadi kedua kisah tersebut tidak bertentangan Karena Matius menjelaskan “cara matinya” sedangkan Lukas menjelaskan “keadaan ketika Yudas mati”. Tetapi masalah dalam kisah kematian Yudas ini belum selesai, sebab dalam Matius 27:6-7 disebutkan bahwa para imam yang membeli tanah hakal dama itu; sedangkan menurut Kisah Para Rasul 1:18 menyebutkan bahwa Yudaslah yang membeli tanah tersebut. Dari kedua laporan tersebut, mana yang benar ? sekali lagi Alkitab oleh para kritikus dituduh kontradiksi. Sebenarnya tidak kontradiksi tetapi hanya paradoksi, dan ini bisa dijelaskan. Jadi kedua laporan itu benar adanya, yaitu bahwa para imam membeli tanah tersebut atas nama Yudas (sertifikat hak milik Yudas). Hal ini masuk akal, karena kata yang diterjemahkan dengan “membeli” dalam kedua ayat tersebut merupakan kata yang berbeda. Matius 27:7 menggunakan kata “egorazon” yang berarti “membeli secara transaksional, sedang Lukas dalam Kisah Para Rasul 1:18 menggunakan kata “ektesato” lebih bermakna kata sindiran yang bukan transaksional. Kata sindiran dalam Kisah Para Rasul 1:18 ini sesuai apabila dihubungkan dengan ungkapan “upah pengkhianatanya yang jahat”. Karena itu lebih tepat kata “ektesato” tersebut diterjemahkan dengan “mendapatkan”. Ketiga, berdasarkan penjelasan di atas, bagaimana kita menjelaskan kesulitan dalam teks berikutnya, yaitu dalam Matius 27:7-9 tersebut? Kesukaran dalam bagian ini adalah dikarenakan Matius mengatakan “nubuat nabi Yeremia” (ayat 9) sedangkan ayat rujukan yang paling cocok dengan peris­tiwa ini kelihatannya adalah Zakharia 11:12-13. Mungkin karena inilah maka terjemahan Brit Khadasa yang dipakai oleh kaum Yahweisme menghilangkan kata “Yeremia” untuk menghindari kesulitan ini. Jawaban untuk kesulitan ini ada Matius ketika menyatakan bahwa peristiwa pembelian Tanah Tukang Periuk itu merupakan penggenapan dari nubuatan Nabi Yeremia maka ia sedang memadukan unsur-unsur simbolisme nubuat nabi Yeremia (Yeremia 32:6-9) dan nabi Zakharia (Zakharia 11:12-13). Ketika memadukan kedua nubuatan ini, seperti kebiasaan yang sering dipakai saat itu dalam mengutip ayat-ayat dari kitab para nabi, maka nama nabi yang tua dan terkenalah yang disebutkan, yaitu Yeremia. Penafsiran saya tersebut di atas didukung oleh pendapat Pakar Bahasa Ibrani Perjanjian Lama Profesor Gleason L. Archer yang menjelaskan demikian, “Matius sedang menggabungkan dan merangkum unsur-unsur simbolisme yang ada dalam Kitab-nabi-nabi baik Zakharia maupun Yeremia. Namun, karena Yeremia adalah yang lebih menonjol di antara dua nabi tersebut maka dia memprioritaskan nama Yeremia daripada nama nabi kecil itu. Cara yang sama diikuti oleh Markus 1:2-3 yang hanya menyebutkan Yesaya sebagai sumber dari kutipan gabungan dari Maleakhi 3:1 dan Yesaya 40:3. Dalan kasus itu juga, yang disebut namanya ialah yang lebih terkenal di antara dua nabi tersebut. Oleh karena hal semacam itu merupakan praktik yang lazim dalam kesusastraan abad pertama Masehi, yaitu ketika Kitab-kitab Injil di tulis, maka pra penulisnya tidak mungkin dapat dipersalahkan karena tidak mengikuti kebiasaan zaman modern untuk memberikan identifikasi serta pencantuman catatan kaki secara persis (yang tidak mungkin bisa dilakukan dengan mudah sebelum dibuat penyalinan dari gulungan kitab menjadi kodeks dan setelah ditemukannya percetakan)”. Jadi kesimpulannya, apa yang dianggap (dtuduh) sebagai kesalahan oleh kaum Yahweisme sebenarnya hanyalah kesulitan. Dan konyolnya, bukannya mencari jawaban yang benar atas kesulitan itu kaum Yahweisme malah menggunakan kesulitan itu untuk membangun opini bahwa asli Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani. Perlu diketahui, ada banyak kesulitan-kesulitan di dalam Alkitab seperti contoh tersebut diatas. Ahli filsafat dan pakar teologi Norman Geisler mendaftarkan sejumlah 800 hal yang dianggap kontradiksi Alkitab oleh para kritikus dalam bukunya yang berjudul The Big Book of Bible Difficulties: Clear and Concise Answer From Genesis to Revelation, dan ia meunjukkan bahwa tidak satupun diantaranyanya terbukti benar. Ada suatu tulisan menarik, yang tentu saja harus dibuktikan kebenarannya. Tulisan ini menyatakan bahwa tahun 1567 seseorang bernama Genebrardus menemukan bahwa nama "dugaan" tadi adalah IAHVE, JAHVE (Chronographia, Paris, 1567). Bagaimana kisahnya? Ternyata Genebrardus meminjam istilah Klemen dari Aleksandria dari kalangan Platois Gnostik, ejaan Yunani dari nama dewa Zeus yaitu IAOVE, yang juga dikenal sebagai JOVE, dewa Yupiter Romawi. Ejaan IAOVE ini diubah menjadi YAOVE kemudian menambah huruf H dan membuang huruf O sehingga menjadi YAHVE. Agar penemuannya ini ada dukungannya, ia mengutip pula Alkitab Samaria yaitu kata IABE. Diubahnya menjadi YABE, dan terakhir mengubah B menjadi V sehingga menjadi YAVE, tinggal disesuaikan dengan empat huruf sakral YHVH yakni menambah dua huruf H di tengah dan di akhir kata, jadilah YAHVEH. Jika ingin baca selengkapnya, Ucapan YEHOVÂH berasal dari kata YHVH dibubuhi vokal 'ADONÂY oleh para ahli Masora yang juga tidak mengetahui bagaimana pengucapan yang benar. Banyak yang hanya menebak atau menduga bahwa empat huruf ini dibunyikan YAHAVAH, YEHUWA, YAHEVEH, YAHUWEH, YAHAVEH, dan seterusnya, jadi semuanya hanya menduga sehingga akhirnya baik YEHOVÂH maupun YAHWEH hanyalah merupakan nama "dugaan".  Menurut Linwood Urban, “Hingga sekitar 200 SM sudah menjadi kebiasaan agar tidak pernah mengucapkan nama yang sebenarnya dari Allah dalam Kitab Suci, Yahweh, dan sebagai gantinya selalu menyebut Adonai atau Tuhan (Lord). Kebiasaan yang bersifat tetapt ini, pada tahun 200 SM diperlihatkan oleh Septuaginta, terjemahan kitab Suci Ibrani dalam bahasa Yunani yang tidak mentransliterasi kata Yahweh, tetapi menggantinya dengan kata Yunani Kurios untuk Tuhan”. (Urban, Linwood.,2006. Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen. Terjemahan, Penerbit BPK Gunung Mulia: Jakarta, hal. 10). Jadi di dalam Perjanjian Lama (Tanakh) kita menjumpai variasi nama-nama ilahi seperti EL/ELOAH/ELOHIM yang umumnya dikenal sebagai common noun  (kata generik), serta YHWH angg umumnya dikenal sebagai proper noun (nama diri).  Jika mencermati penggunaannya dalamm Perjanjian Lama (Tanakh) kata EL/ELOAH/ELOHIM dalam teks tertentu dapat juga dipahami sebagai nama diri sesuai konteks yang ada (Misalnya Kej 33:30). Demikian pula nama diri YHWH digunakan nama pengganti seperti Adonai atau pun Ha Shem. Perlu diketahui bahwa dalam Perjanjian Lama, nama bukanlah semata-mata untuk mebedakan seseorang dari orang lain, tetapi berkaitan erat dengan keberadaan orang itu. Nama seseorang mewakili sifat maupun kepribadiannya. Mengetahui nama seseorang berarti memiliki suatu hubungan yang dalam sekali dengan dia (LaSor, W.S, D.a Hubard, D.W. Bush., 2014. Pengantar Perjanjian Lama 1: Taurat dan Sejarah. Terjemahan, Penerbit BPK Gunung Mulia: Jakarta, hal. 192-193). Ungkapan dalam bahasa Ibrani “ehyeh asyer ehyeh” dalam Keluaran 3:14  yang diterjemahkan “Aku adalah Aku” yang secara harafiah berarti “Aku (akan) ada yang Aku (akan) ada”. Para ahli sepakat bahwa kata kerja “ada” merupakan bentuk kekinian atau keakanan dalam arti “ada”, merupakan lawan dari “tidak ada”. Kata kerja “ada” ini juga berarti “ hadir sebgai Dia yang menyertai, mengadakan, dan bertindak”. Ungkapan “Aku adalah Aku” ini merupakan contoh cara bicara yang menerangkan sesuatu dengan menunjukkan kembali kepada hal itu sendiri. Cara itu dipakai bila pembicara tidak ingin atau tidak mampu membuat hal itu lebih jelas. Karena itu, cara tersebut dapat menyatakan sesuatu yang belum tentu, tetapi juga menyatakan keseluruhan atau ketegasan. Ungkapan “Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihi siapa yang Kukasih (Keluaran 33:19) berarti “Sesungguhnya Aku adalah Dia yang penuh kasih karunia dan belas kasihan”. Sejalan dengan itu, maka ungkapan “Aku adalah Aku” berarti “Sesungguhnya Aku adalah Dia yang ada”. Keberadaan ini bukanlah keberadaan metafisik, sebagaimana dalam pernyataan filosofis, tetapi keberadaan yang akstif “Akulah Dia yang ada disini (demi kamu), benar-benar hadir, siap untuk menolong dan bertindak”. Dengan mengungkapkan namaNya YHWH, Allah hendak menyatakan bahwa Ia telah membuka hakikat keberadaanNya kepada manusia, Ia membiarkan orang untuk menghampiriNya dalam persekutuan dengan Dia dan menyatakan diriNya sebagai penyelamat. Bentun nama YHWH itu sendiri dalam keluran 3:15 dan hubungannya dengan keterangan “Aku adalah Aku” dalam ayat 14. Dalam ayat 14 nama itu mempunyai bentuk orang ketiga tunggal, berasal dari kata kerja “haya “ada” yaitu “dia ada”. Tetapi ketika berbicara tentang diri Allah, Allah tidak mengatakan “Dia ada” melainkan “Aku ada”. Orang-orang lain bila berbicara tentang Allah harus berkata “Dia ada”. (lihat: Barth, Christoph., 2008. Teologi Perjanjian Lama 1 & 2. Penerbit BPK Gunung Mulia: Jakarta, hal. 156; LaSor, W.S, D.a Hubard, D.W. Bush., 2014. Pengantar Perjanjian Lama 1: Taurat dan Sejarah. Terjemahan, Penerbit BPK Gunung Mulia: Jakarta, hal. 196-197; Wolf, Herbert., 2004. Pengenalan Pentateukh. Terjemahan, penerbit Gandum Mas : Malang, hal. 29-31). Lembaga Alkitab Indonesia tidak hanya menerjemahkan kata YHWH menjadi TUHAN. Tetapi juga menerjemahkan kata Elohim menjadi Allah, Adonai menjadi Tuhan. Pemakaian kata TUHAN paling sering dipakai untuk menerjemahkan YHWH, sedangkan kata ALLAH hanya muncul pada saat ada kata Adonai YHWH. Karena itu di dalam Perjanjian Lama kita seringkali menjumpai kata : TUHAN, Tuhan, ALLAH, Allah. Keempat kata ini merupakan terjemahan dari bahasa Ibrani ke bahasa Indonesia yang dilakukan oleh Lembaga Alkitab Indonesia. Namun kelompok Yahweisme menyalahkan penerjemahan kata YHWH, Elohim dan Adonai ini. Misalnya sebagai contoh perhatikan ayat-ayat berikut ini. “Pada mulanyaAllah (Elohim) menciptakan langit dan bumi” (Kejadian 1:1). “Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN (YHWH) Allah (Elohim) menjadikan bumi dan langit” (Kejadian 2:4). “Abram menjawab: ‘Ya Tuhan (Adonai) ALLAH (YHWH), apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu” (Kejadian 15:2). Selamat mengerti YHWH, STT BAPTIS INJILI, CEPOGO, BOYOLALI, JAWA TENGAH, 2014, Titus Roidanto (tamat) 

YHWH bukan bahasa yang turun dari surga. bagian 3 dari 4 bagian tulisan

Bagian 3
 Ketika amsal 18:10 menuliskan “Nama TUHAN adalah menara yang kuat, kesanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat”. Apakah yang dimaksud bahwa namaNya yang menjadi menara yang kuat ataukah Pribadi YHWH sendiri adalah menara yang kuat? Tentu yang dimaksud bukan nama pribadi tetapi Pribadi Allah sendiri yang menjadi menara yang kuat. Karena itu yang dipentingkan bukan penyebutan nama Ilahi YHWH dalam bahasa Ibrani, melainkan lebih menunjuk kepada Pribadi Allah itu sendiri sebagai Allah yang Mahakekal, Mahahidup, dan menyatakan diri kepada manusia. Hal yang lebih penting adalah makna teologis, bukan sebutan hurufiahnya. Lagi pula nama YHWH bukanlah nama yang diurunkan dari surga! Nama itu sudah diketetahui sebelum Musa, tetapi Tuhan menyatakannya secara langsung kepada Musa, sebagaimana dijelaskan oleh Christoph Barth demikian, “Darimanakah datangnya nama itu? Orang cenderung berpikir bahwa nama Allah seharusnya datang dari surga. Namun, dapat dipastikan bahwa nama itu berakar di dalam bahasa Ibrani. Nama Allah tidak ‘diturunkan dari surga’, Dia sendirilah yang dikatakan ‘turun’ (keluaran 3:8). Ia berkenan menyatakan diri kepada umat Israel. Itu berarti bahwa Ia berkenan menyatakan diri di dalam bahasa yang cocok dengan telinga, hati, dan mulut orang Israel. NamaNya sendiripun ‘berasal’ dari bahasa mereka, ‘terambil’ dari nama-nama yang pernah menjadi biasa dalam pergaulan mereka, di daerah-daerah pengembaraan atau penumpangan mereka. Kita mempunyai alasan kuat (Kejadian 4:26) untuk menduga, bahwa nama YHWH memang ‘berasal’ dari daerah tertentu dan bahwa nama itu telah diikenal – sebagai nama Ilahi! – oleh bangsa-bangsa tertentu di daerah tersebut sebelum orang-orang Israel mulai membiasakannya. Beberapa nas yang tertua di dalam kitab-kitab Perjanjian Lama mengetahui bahwa Allah dengan namaNya YHWH telah ‘berdiam’ di daerah padang gurun antara Mesir dan Kanaan; Padang Gurun Zin, Padang Gurun Paran dan Padang Gurun Sinai, semuanya merupakan daerah pengembaran suku-suku Arab sepertri Ismail, Amalek, Midian, dan Keni, berikut Pegunungan Seir, daerah orang Edom (Esau, Kejdian 33); terutama beberapa gunung keramat di wilayah yang luas itu – ‘gunung Allah’ (keluaran 3:1; 18:50, Gunung Sinai, Gunung Hoteb dan Gunung Paran, beberapa di antaranya mungkin bertepatan tempatnya – diperkenalkan kepada kita sebagai tempat kediaman YHWH”  (Lihat: Ulangan 32:2; Hakim-hakim 5:4-5; Habakuk 3:3,7). Selanjutnya Chistoph Barth menjelaskan bahwa melalui mertuanya Yitrolah Musa belajar mengenal Allah yang bernama YHWH itu, demikian, “Berbicara tentang orang-orang Midian, teringatlah kita kepada tokoh mertua Musa (yang bernama Reguel, Keluaran 2:18; Hobab, Hakim-hakim 1:11 dan 4:11; Hobab bin Reguel, Bilangan 10:29; Yitro, Keluaran 3:1 dan 18:1-12; Yeter, Keluaran 4:18), yang dikatakan berpangkat ‘imam di Midian’ atau ‘imam orang Midian’ (keluaran 2:16; 18:1). Sedang menurut nas-nas lain, ia mengepalai suku keni (Hakim-hakim 1:16; 4:11). Terkadang ia dikatakan orang Midian, terkadang orang Keni, terkadang malahan orang Kusy (Bilangan 12:1). Segala hal yang berbeda-beda ini melihat melihat mertua Musa itu sebagai seorang imam di ‘gunung Allah’ yang keramat, namun yang pasti adalah bahwa melalui Reguel (Yitro) itulah Musa belajar mengenal Allah yang bernama Yahweh. Allah menyatakan diri secara ‘langsung’ kepada Musa (Keluaran 3), tetapi kenyataannya tidak dapat disangkal bahwa nama YHWH telah dikenal lebih dulu oleh suku-suku itu - terutama suku Keni/Midian (Bandingkan Keluaran 18) – barulah orang-orang Israel berhubungan dengan Dia yang kemudian berkenan menjadi ‘Allah orang Israel”. Bukti sejarah menuliskan pada masa Tuhan Yesus, bahasa Yunani dijadikan bahasa komunikasi antar ras krn penjajahan Roma, seperti bahasa nasional, selain itu ada bahasa latin (Yoh 19:20), sehingga dimungkinkan sekali Tuhan Yesus dalam kesehariannya menggunakan bahasa ibrani/aram dan juga bahasa Yunani, artinya kemungkinan pula penulisan kata-kata Tuhan Yesus dalam bahasa Yunani adalah juga ucapan sebenarnya dari Tuhan Yesus dalam/menggunakan bahasa Yunani, shg perkiraan/prapaham ini menegaskan sebab Tuhan Yesus dan Penulis Perjanjian Baru tidak mempertahankan pemakaian kata YHWH. Bahkan Tuhan Yesus dan para rasul serta penulis Perjanjian Baru bukan hanya menerjemahkan nama YHWH melainkan juga mengganti nama YHWH itu dalam Perjanjian Baru. Misalnya dalam Yesaya 61:1-2 dituliskan : ”Roh Tuhan ALLAH (YHWH) ada padaku, oleh karena TUHAN (YHWH) telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara, untuk memberitakan tahun rahmat TUHAN (YHWH) dan hari pembalasan Allah kita, untuk menghibur semua orang berkabung”. Pada waktu Penulis Perjanjian baru mengutip kembali Yesaya 61:1-2 ini, Lukas memberikan perubahan nama YHWW menjadi Kurios (Lukas 4:18-19) bahkan kata YHWH diganti menjadi Ia (Lukas 4:18). Lukas 4:18-19, “Roh Tuhan (Kurios) ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan (kurios) telah datang.” Contoh lain adalah dimana ketika Tuhan Yesus mengutip Ulangan 8:3 “Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN”. Pada waktu Tuhan Yesus dicobai, Tuhan Yesus mengutip kembali Ulangan 8:3 . Perhatikan perubahannya dalam Injil Matius dan Lukas. Matius 4:4, “Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Theou)." Lukas 4:4, “Jawab Yesus kepadanya: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja." Jadi Matius menceritakan bahwa Yesus mengubah kata YHWH menjadi Theou sedangkan Lukas menghilangkan kata YHWH itu. Masih banyak lagi contoh-contoh seperti itu (Ulangan 6:13 bandingkan Matius 4:10/Lukas 4:8; Mazmur 110:1 bandingkan Matius 22:44/Markus 12:36/Lukas 20:42-43/Kisah Para Rasul 2:34-35; Ulangan 6:5 bandingkan Matius 22:37/Markus 12:30/Lukas 10:27). Kelompok Yahweisme ini memaksakan untuk mengembalikan kata YAHWEH (sekali lagi, Yahweh adalah pelafalan dugaan dari YHWH) dalam Perjanjian Baru, padahal teks asli dari Perjanjian Baru sendiri tidak mempertahankan kata asli YHWH ini. Apakah Yahweisme dengan mekamaksakan pelafalan Yahweh bagi nama YHWH merasa lebih berotoritas daripada Yesus, rasul rasul dan penulis Perjanjian Baru yang tidak lagi memakai kata YHWH dalam tulisan-tulisan mereka? Karena itu ketika Yahweisme menyalahkan Lembaga Alkitab Indonesia dan gereja-gereja yang memakai kata Tuhan untuk YHWH, maka itu artinya mereka juga menyalahkan Para Rabi Yahudi (yang menerjemahkan Septeguinta), Tuhan Yesus dan para rasul yang telah mengganti kata YHWH menjadi Kurios. Ini juga berarti Yahweisme mengabaikan Septaguinta dan Perjanjian Baru. Atau dengan kata lain, Yahweisme ini tidak mengakui otoritas Perjanjian Baru yang di inspirasikan oleh Roh Kudus. Jika mereka memahami ini, namun dengan sengaja mengabaikan apa yang dinyatakan Perjanjian Baru, maka mereka bukan hanya telah melakukan kesalahan melainkan sudah mengarah kepada kesesatan karena melawan otoritas Perjanjian Baru sebagai dasar pengajaran bagi Kekristenan. Perlu diketahui, tidak seorang pun yang tahu mengucapkan kata YHWH dengan tepat. Herbert Woft menjelaskan, “Cara mengucapkan yang tepat untuk nama ini tidak jelas; Hanya empat konsonan YHWH, diberikan dalam Alkitab bahasa Ibrani”. Sejak Tetagramaton tidak diucapkan, melainkan dibaca dengan kata “Adonay (Tuhan) atau Ha Syem (Sang Nama), pembacaan sebenarnya dari YHWH itu tidak diketahui lagi, sampai abad ke 16 M para ahli mulai mengemukakan berbagai teori. Tetagramaton untuk pertama kalinya tercantum dalam Alkitab bahasa Inggris karya William Tyndale (1525 M). Tyndale membaca “IeHoVaH” dimana konsonan YHWH dibaca dengan vokal atau huruf hidup “AdOnAy”. Pola ini diikuti kemudian oleh Miles Coverdale’s (1560 M), The Bishop’s Bible (1568 M) dan The Authorized Version (1611 M), meskipun secara umum memakai terjemahan The Lord, tetapi mencantumkan “IeHoVaH” dibeberapa tempat. Akhirnya pengucapan “Jehovah” baru muncul dalam King James Version tahun 1762-1769 M. Karena itu, kita juga tidak harus menggunakan kata YHWH (apalagi melafalnya dengan Yahweh) karena sebenarnya kata Yahweh itu hanyalah dugaan dari pelafalan tetagramaton YHWH yang belum tentu tepat pengucapannya menurut aslinya ketika diperkenalkan kepada Musa dan bangsa Israel pada saat itu. Bahasa Ibrani tidak mempunyai huruf hidup dan dalam penulisannya semuanya memakai huruf mati. Musa sendiri tentu saja bisa membaca kalimat YHWH itu. Mengapa? Karena ia sendiri mendengar langsung dari Tuhan bagaimana ucapan YHWH (Keluaran 3:14-15). Musa tentu mengajarkan pengucapan ini kepada bangsa Israel pada saat itu. Bangsa Israel saat itu juga pasti mengajarkannya kepada anak cucu mereka. Namun pada tahun 6 SM bangsa Israel sangat takut mengucapkan nama itu. Mereka menafsirkan secara berlebihan larangan untuk menyebut nama Tuhan dengan sembarangan. Karena itu mereka mengganti nama YHWH dengan Adonay. Setiap kali mereka menemukan kata YHWH dalam Alkitab mereka menyebutnya Adonay. akhirnya mereka sendiri tidak lagi tahu bagaimana mengucapkan dengan tepat kata YHWH ini. Kalau huruf mati yang lain dalam bahasa Ibrani tetap bisa dibaca dan diucapkan oleh orang Ibarni, itu karena mereka memakainya sehari hari. Namun YHWH ini sudah ratusan tahun tidak dipakai, sehingga tidak ada lagi yang tahu bagaimana mengucapkannya dengan tepat. Pengucapan orisinilnya sudah hilang dan dilupakan. Lalu mengapa muncul ucapan YAHWEH? Ucapan YAHWEH ini hanya bisa diduga-duga dan ahli-ahli Ibrani mengusulkan kemungkinan-kemungkinan yang berbeda-beda. Pada umumnya YHWH sekarang diucapkan YAHWEH berdasarkan teks-teks Yunani dan Amorit kuno yang punya rumusan nama itu yang mirip YAHWEH. Empat kombinasi konsonan YHVH itu jika dibubuhi vokal akan menjadi aneka ragam kombinasi, antara lain: YAHAVAH, YAHAVEH, YAHAVIH, YAHAVOH, YAHAVUH, YAHEVAH, YAHEVEH, YAHEVIH, YAHEVOH, YAHEVUH, YAHIVAH, YAHIVEH, YAHIVIH, YAHIVIH, YAHIVUH, YAHOVAH, YAHOVEH, YAHOVIH, YAHOVOH, YAHOVUH, YAHUVAH, YAHUVEH, YAHUVIH, YAHUVOH, YAHUVUH. Jadi kata YAHWEH sebagai pengucapan dari aksara Ibrani יהוה itu, sekali lagi, sebenanya hanya dugaan. Huruf vokal apakah yang ada di antara empat konsonan (huruf mati) kata sakral YHVH sehingga harus dibaca YAHWEH?Ironisnya, para penganut Yahweisme dalam prakteknya, mengucapkan YHWH secara berbeda-beda, yaitu : YahVeh, Yahh, Yahweh, Iahueh, Yahwah, Yaohu, Yahuwah, Yahuah, masih banyak lagi. Kalau ucapan YHWH saja diucapkan secara tidak seragam, tidak tepat, dan berbeda satu sama lainnya, lalu bagaimana mungkin masih tetap memaksa dan mewajibkan mengucapkan kata itu? Salah satu cara yang ditempuh oleh kelompok Yahweisme untuk mendukung ajaran dan praktek mereka mewajibkan penggunaan nama YAHWEH adalah dengan membangun sebuah opini dikalangan Kristen bahwa asli Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani. Pendapat bahwa asli Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani ini mungkin merupakan satu-satunya sanjata yang paling ampuh bagi mereka untuk mendukung pandangan mewajibkan penggunaan nama YAHWEH tersebut. Hal ini terus menerus mereka tekankan dalam setiap kesempatan sebab memang Perjanjian Baru bahasa Yunani tidak menggunakan nama YAHWEH tetapi menggantinya dengan Kurios. Secara logis, apabila Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani dan tidak mempertahankan pemakaian nama YAHWEH maka mewajibkan pemakaian kata tersebut adalah suatu kekeliruan. Konsekukuensi logis ini tentu saja sangat dipahami oleh para penganut Yahweisme. Karena itu membangun opini bahwa Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani merupakan satu-satunya harapan mereka untuk dapat mewajibkan penggunaan nama YAHWEH karena dalam Perjanjian Baru bahasa Ibrani tersebut ada tertulis nama YAHWEH. Ironisnya, Perjanjian Baru yang menjadi acuan mereka adalah Ha B’rit ha-Hadasah atau Brit Khadasha ! Perjanjian Baru berbahasa Ibrani Ha B’rit ha-Hadasahini diperlakukan mereka seakan-akan itu merupakan teks bahasa alinya. Ini tidak hanya ironis tetapi juga merupakan suatu hal yang konyol! Mengapa? Karena faktanya, Brit Khadasha merupakan kitab Perjanjian Baru bahasa Ibrani yang diterjemahkan dari Perjanjian Baru bahasa Yunani oleh United Bible Society pada tahun 1970. Lebih jauh lagi harus diperhatikan, bahwa penerjemahan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Ibrani yang paling awal dilakukan pada tahun 1385 Masehi. Perjanjian Baru bahasa Ibrani baru dibuat baru abad 14 M oleh Shem Tov, seorang Rabbi Yahudi yang ingin menyerang ajaran Kristen (itupun hanya Injil Matius). Karena terjemahan Shem Tovterlalu banyak memasukkan tafsir dan bukan murni terjemahan ke dalam bahasa Ibrani, 200 tahun kemudian Du Tilletmerevisi terjemahan Shem Tov di tahun 1555, dan hasil revisi inilah yang dikenal dengan injil Matius Du Tillet. Perjanjian Baru yang diterjemahkan dalam bahasa Ibrani yang lengkap baru dikerjakan pada abad 19 M. Upaya untuk membuktikan bahwa Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani seperti yang dilakukan oleh Yahweisme, merupakan usaha yang sia-sia. Karena memang memang Perjanjian Baru di tulis dalam bahasa Yunani, tepatnya Yunani Koine. Para pakar teologi dan ahli Alkitab telah memberikan bukti-bukti akademis, ilmiah dan historis bahwa Perjanjian Baru memang ditulis dalam bahasa Yunani. Untuk Perjanjian Baru bahasa Yunani ini buktinya sangat melimpah. Ada 5366 naskah untuk (manuskrip) yang beberapa diantaranya berasal dari abad ke 2 dan ke 3. Berikut ini beberapa kutipan yang menunjukkan bahwa Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani : J.I. Packer, Merril C. Tenney, William White Jr menjelaskan demikian, “Orang Yahudi memakai bahasa Aram dalam rumah mereka, bahasa Yunani di pasar, dan bahasa Latin dalam urusan mereka dengan orang Romawi. Orang Romawi memakai bahasa Latin dan Yunani, tetapi tidak memakai bahasa Ibrani dan Aram. .. Bahasa Yunani diketahui di seluruh daerah Laut Tengah. Di banyak tempat, Bahasa Yunani lebih umum daripada bahasa Latin, bahkan disebuh provinsi seperti Mesir. Ada banyak orang Yahudi yang tinggal di daerah Yerusalem, yang tidak tahu bahasa Ibrani atau tidak dapat membacanya, jadi bagi mereka diterjemahkan Alkitab Ibrani ke dalam bahasa Yunani (disebut Septuaginta) adalah Kitab Suci. Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani dan para penulisnya sering mengutip Septuaginta dengan cermat, bahkan ketika susunan kata dalam Septuaginta tidak cocok dengan teks bahasa Ibrani”. Jerry MacGregor dan Marie Prys menyatakan, “Sebagian besar Kitab Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani, tetapi sebagian kitab Daniel ditulis dalam bahasa Aram. Kitab-kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani Koine, meskipun kitab-kitab itu memuat frase-frase dalam bahasa Latin, Aram, dan Ibrani”. Merril C. Tenney dalam bukunya New Testament Survey yang direvisi oleh Walter M. Dunnat menyatakan, “Bahasa Aram dan Yunani lebih banyak berperan di dalam sejarah gereja pada abad yang pertama daripada bahasa Latin dan Ibrani. Konon beberapa catatan yang paling dulu dibuat mengenai ajaran Kristus ditulis dalam bahasa Aram, dan kenyataannya bahwa Perjanjian Baru secara utuh disebarluaskan hampir sejak awal dalam bahasa Yunani terlalu sulit untuk dibantah. Semua surat kepada jemaat dalam bahasa Yunani, dan kitab-kitab Injil serta Kisah Para Rasul hanya diketemukan dalam bahasa Yunani; meskipun terdapat catatan mengenai ajaran Kristus dalam bahasa Aram pada pertengahan abad yang pertama”. Alasan Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani adalah karena pengaruh helenisasi pada masa itu. Helenisasi adalah istilah teknis untuk menggambarkan proses perubahan kultural yang terjadi sekitar abad ke-2 SM hingga pertengahan abad ke 1M, dimana pengaruh kebudayaan Yunani (termasuk dalam hal cara hidup) sangat dominan. Dominasi kebudayaan Yunani ini tidak dapat dilepaskan dari perluasan kekuasaan Yunani di bawah pimpinan Aleksander Agung pada Abad ke 3 SM. kita sudah mengetahui bahwa sejak abad ke 5 SM (zaman Ezra, Nehemia 8:9), bahasa Ibrani yang terdiri hanya huruf-huruf konsonan sudah tidak dimengerti oleh umumnya orang Yahudi, dan sebagai bahasa percakapan kemudian digantikan oleh bahasa Aram. Alexander raja Yunani yang menguasai kawasan dari Yunani, Asyur, Media, Babilonia, sampai Mesir, menyebabkan pengaruh helenisasi menguasai Palestina, lebih-lebih dibawah wangsa Ptolomeus dan Seleucus helenisasi khususnya bahasa Yunani makin tertanam di Palestina sehingga kitab Tanakh Ibrani pun harus diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani menjadi Septuaginta di Aleksandria (abad ke 2 - 3 SM).[14] Kita bisa membayangkan, setelah sekian lama orang Yahudi itu bergaul erat dengan kebudayaan dan cara hidup Yunani mengakibatkan mereka tidak lagi memahami bahasa Ibrani. Sehingga Kitab Suci bahasa Ibrani (Tanakh, Perjanjian Lama) perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani. Jadi, pada masa itu sebagian umat Yahudi sudah tidak lagi bisa berbicara bahasa Ibrani kecuali mereka yang menjadi ahli kitab yang bertugas di Bait Allah dalam salin-menyalin Kitab Suci. Walau dapat dipastikan bahwa Yesus dan murid-muridNya yang tinggal di daerah Yudea-Samaria (daerah Palestina) berbahasa Aram (bukan bahasa Ibrani) sebagai bahasa ibu, namun tak bisa dipungkiri bahwa Yesus hidup pada zaman dan masyarakat yang sudah terpengaruh bahasa dan budaya Yunani, yang disebut masyarakat helenistik. Masyarakat helenistik terbentuk ketika Aleksander Agung menaklukkan Yunani dan sebagian besar wilayah mulai dari Mesir sampai ke India, dimana kemudian bangsa Yunani membawa keluar budaya serta bahasanya yang disebut helenisasi. Merril C. Tenney mengatakan, “Bahasa Yunani menjadi bahasa resmi di pengadilan dan bahasa pergaulan sehari-hari, seperti yang terlihat dalam tulisan-tulisan di atas papirus, surat-surat cinta, tagihan, resep, mantera, esai, puisi, biografi, dan surat-surat dagang, semuanya tertulis dalam bahasa Yunani, bahkan tetap demikian hingga masa pendudukan Romawi. ... bahasa Aram menggantikan bahasa Ibrani sebagai bahasa pergaulan di Palestina, dan Helenisme mendesak Yudaisme. “ Jadi bahasa Aram sebagai bahasa ibu diiringi bahasa Yunani Koine digunakan oleh Yesus Kristus dan para Rasul dalam pemberitaan Injilnya, dan bukan Tenakh Ibrani melainkan Septuaginta Yunanilah yang digunakan oleh umat pada saat awal kekristenan. Sebagian besar kutipan Perjanjian Lama dalam Perjanjian Baru dikutip dari Septuaginta, sisanya dari berbagai naskah Ibrani. Merril C. Tenney menuliskan, “Septuaginta ... Pada masa Kristus, kitab tersebut telah tersebar luas di antara para Perserakan di wilayah Timur Tengah dan menjadi Kitab Suci Jemaat Kristen yang mula-mula”.  Sebagai tambahan, Grant R. Osbone menyatakan, “Berkenaan dengan Perjanjian Baru, sumber aslinya telah hilang, dan harus dibangun kembali melalui kritik teks. Namun septuaguinta tetap menjadi Alkitab utama di abad pertama, yang diterima bahkan di Palestina, dan banyak sekali kutipan Perjanjian Baru berasal dari Septaguinta. Misalnya dari delapan puluh kutipan dalam Matius, tiga puluh berasal dari Septuaginta. Namun semuanya dalam ucapan langsung Yesus dan Yohanes Pembaptis, meninggalkan kesan bahwa Yesus menggunakan Septuaginta. Hal yang serupa juga terlihat dari ucapan-ucapan dalam kisah Para Rasul. Bahkan surat rasuli yang paling bersifat Yahudi (Ibrani dan Yakobus) menggunakan septuaginta secara menyeluruh” lebih lanjut Grant R. Osbone menyatakan, “Sebagai kesimpulan, gereja mula-mula menggunakan Septuaginta secara luas sebagai sumber kutipan, namun kanon mereka secara umum adalah dua puluh empat (=tiga puluh sembilan) Kitab Perjanjian Lama yang diterima”. Perlu diketahui bahwa bahasa Yunani memiliki sejarah yang kaya dan panjang, mulai dari abad ke 13 SM sampai sekarang. Bentuk paling awal bahasa ini disebut Linear B (abad ke 13 SM). Bentuk bahasa Yunani yang digunakan para penulis, mulai dari Homer (abad ke 8 SM) hingga Plato (abad ke 4 SM) disebut bahasa Yunani Klasik. Bentuknya indah dan mampu menyampaikan ekspresi secara tepat dengan nuansa yang baik. Alfabetnya, sebagaimana halnya bahasa Ibrani berakar dari bahasa Fenisia. Dalam Bahasa Yunani Klasik terdapat banyak dialek, terutama tiga dialek: Dorik, Aeolik, dan Ionik (dimana Attik adalah cabangnya). Kota Athena ditaklukan raja Filipus dari Makedonia pada abad ke 4 SM. Putra Filipus Aleksnder Agung, murid filsuf Yunani Aristoteles, menaklukan dunia dan menyebarkan kebudayaan Yunani beserta bahasanya. Karena Aleksander berbicara bahasa Yunani Attik, maka dialek inilah yang tersebar. Dialek ini juga dipakai para penulis Athena yang terkenal. Waktu itulah zaman Helenis dimulai. Ketika bahasa Yunani menyebar keseluruh dunia dan bertemu bahasa-bahasa lain, bahasa Yunani mengalami perubahan (seperti pada bahasa manapun). Antara sesama dialek pun saling beriteraksi. Penyesuaian ini yang akhirnya menghasilkan apa yang sekarang disebut Yunani Koine artinya “umum” dan menggambarkan bentuk bahasa sastra halus, karena pada faktanya beberapa penulis pada zaman ini dengan sengaja meniru gaya bahasa Yunani yang lebih tua. Yunani koine adalah bentuk sederhana dari Yunani klasik, akibatnya banyak detail Yunani klasik menjadi hilang. Misalnya, dalam Yunani klasik “allos” berarti “lain”, bentuk lainnya adalah “eteros” yang juga berarti “lain”, namun memiliki perbedaan dengan yang pertama. Jika anda mempunyai sebuah apel dan meminta “allos”, maka anda akan menerima apel lainnya. Namun jika anda meminta “eteros”, anda akan meneriam sebuah jeruk. Bahasa Yunani koine yang seperti inilah yang biasanya terdapat dalam Septuaginta, Perjanjian Baru, dan tulisan-tulisan bapa-bapa Gereja. Studi terhadap Papirus Yunani yang ditemukan di Mesir lebih dari seratus tahun lalu, menunjukkan bahwa bahasa ini adalah bahasa yang digunakan sehari-hari untuk surat wasiat, surat pribadi, resep-resep, daftar belanja, dan lain-lain. Berikut ini kronologi naskah-naskah penting Perjanjian Baru yang ditulis dalam bahasa Yunani : (1) Manuskrip John Ryland (130 M) terdapat diperpustakaan John Ryland di Manchester, Inggris. Ini adalah fragmen Perjanjian Baru (Penggalan Injil Yohanes) berbahasa Yunani tertua yang di tulis di Mesir. (2) Manuskrip Papyrus: (a) Bodmen Papyrus II (150-200 M) terdapat di Perpustakaan Kesusasteran Dunia Bodmer, berisi sebagian besar Injil Yohanes; (b) Payrus Chester Beatty (200 M) terdapat di Musium Chester Beatty di Dublin dan sebagian dimiliki oleh Universitas Michigan. Koleksi ini terdiri dari kodeks-kodeks papyrus, tiga diantaranya memuat bagian terbesar dari Perjanjian Baru. (3) Manuskrip Unicial: (a) Kodeks Vaticanus (325-350 M) terdapat di Museum Vatikan berisi hampir semua kitab Perjanjian Baru; (b) Kodeks Sinaiticus berisi semua Perjanjian Baru dan tertanggal 331 M; (c) Kodeks Alexandrinus (400 M) terdapat di Museum British, ditulis dalam bahasa Yunani di Mesir dan memuat hampir seluruh Alkitab. (d) Kodeks Ephra-emi (400 an M) terdapat di Bibliotheque Nationale, Paris; (e) Kodeks Bezae (450 M) terdapat di perpustakaan Cambridge dan berisi Injil-Injil serta Kisah Para Rasul dalam Bahasa Yunani dan dalam bahasa Latin; (f) Kodeks Washingtonensis (450 M) besisri keempat kitab Injil; (g) Kodeks Claromontanus (500 M) berisi surat-surat Paulus yang merupakan naskah dwi bahasa). Sedangkan Perjanjian Baru versi lainnya dalam bahasa Siria, Latin, dan Koptik sebagai berikut : (1) Versi Siria: Siria kuno (400 M, Peshitta Siria (150-250 M), Siria Palestina (400-450 M), Philoxenia (508 M), Siria Harkleim (616); (2) Versi Latin : (a) Latin Kuno (350-400 M), (b) Latin Kuno Afrika (400 M), Kodeks Corbiensis (400-500 M), Kodeks Vercellensis (300 M), Kodeks Palatinus (500 M), Latin Vulgatta (366-384 M); (3) Versi Koptik (Mesir): (a) Sahidic (300 M), (b) Bohairic ((400 M), (3) Mesir Pertengahan (400-500 M); (4) Versi lainnya: Armenia (sekitar 400 M) terjemahan dari Alkitab Yunani, Gothic (sekitar 400 M), Gergorian (sekitar 500 M), Ethiopia (sekitar 600 M) dan Nubian (sekitar 600 M). Fakta historisnya, semua naskah (manuskrip) Perjanjian Baru yang lebih awal ini tidak satupun ditulis dalam bahasa Ibrani!. Bahkan Perjanjian Baru bahasa Ibrani yang dijadikan acuan oleh Yahweisme ternyata tidak pernah ada dalam sejarah. Sejak abad pertama hingga abad ke 14 M tidak ditemukan walau hanya sebuah manuskrip saja. Fakta ini sebaliknya mendukung bahwa Perjanjian Baru aslinya ditulis dalam bahasa Yunani Koine. Berlanjut ke bagian 4

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32 PENGANTAR Allah menghendaki pertobatan nyata. Gereja dipanggil untuk memi...