Jumat, 30 Desember 2022

Pulanglah Mereka Melalui Jalan Lain, Serial Sudut Pandang

Pulanglah Mereka Melalui Jalan Lain, Serial Sudut Pandang

Karna kehidupan dunia silih berganti.  Porak poranda perang Rusia-Ukraina menorehkan warna kelabu pekat. Pertandingan sepak bola dunia menggelontorkan kegembiraan. Produk Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) pemerintah disikapi beragam bak spektrum puspa rupa warna. Kasus kematian Brigadir Yosua Hutabarat, yang para tersangkanya sedang disidangkan, mengaduk-aduk kehidupan kita. Bencana alam di Cianjur, Garut, dan beberapa tempat lain di Tanah Air membuat kita tersadar terus akan kerentanan hidup. Kasus bom bunuh diri atas asumsi keagamaan membuat kita terus heran dalam perih. Dinamika internasional terkait kesepakatan G20 yang baru lewat dan menorehkan rasa bangga di dada insan Indonesia tak boleh membuat kita mengendurkan kewaspadaan global akan berbagai krisis internasional yang bak bara dalam sekam. Tanda-tanda zaman

Maka, kita mesti terus-menerus waspada dan tajam dalam membaca tanda-tanda zaman di era kita, termasuk dengan enigma-enigmanya. Kewaspadaan membaca tanda langit itulah yang kita asah  Itulah kemampuan Majus, yang dalam Injil Matius, menuntun mereka ke wilayah Yehuda. Kalau orang Jawa, mengenal apa itu ngelmu titen, ilmu untuk peka melihat tanda-tanda kehidupan, baik itu dari alam, perilaku manusia, kemajuan zaman, politik, ekonomi, sosbud, dll Pengartian mereka tentang bintang di lazuardi itu raja baru lahir. Masalahpengartian itu amat sensitif enigmatik bagi Herodes raja nan kejam itu.  Sedemikian paranoidnya raja ini sehingga ada ucapan: "lebih baik menjadi anjing Herodes daripada jadi anaknya", sebab raja ini pernah membunuh beberapa istri dan anak yang adalah darah dagingnya sendiri yang ia curigai berpotensi menggesernya sebagai raja. James Ermatinger menuliskan demikian: "Dia memperkenalkan pajak baru yang tidak populer. Dia memiliki kehidupan keluarga yang tidak bahagia, melihat konspirasi dan musuh di mana-mana ... dikenal karena kebrutalannya, Herodes berhasil mempertahankan kekuasaannya melalui rasa takut dan intimidasi" (2008: 126).

Berita yang dibawa oleh para Majus tak pelak lagi mendatangkan kegemparan di seluruh Jerusalem (2:3). Herodes merasa amat terancam, terutama setelah mendengar nubuatan kitab Mikha mengenai raja orang Yahudi yang baru lahir di Betlehem yang hanya beberapa kilometer jaraknya dari episentrum kekuasaannya. Dengan dalih untuk juga hendak menyembah raja yang baru lahir itu, Herodes menyuruh orang Majus pergi dan menyelidiki dengan saksama tentang nubuatan dan petunjuk bintang. Padahal di balik dalih saleh dan ketundukan itu tersimpan rencana keji tentang penggunaan lembing dan pedang yang membuat Betlehem menjadi merah oleh banjir darah anak-anak balita yang sama sekali tidak tahu apa-apa dan tak berdosa. Krisis muncul terus-menerus. Menghebat. Menggila. Di tengah-tengah krisis semacam ini, Yesus kecil diungsikan ke Mesir dan baru pulang bbrp waktu kemudian  ke  Israel. Walaupun setelah  raja jahat itu mati. Yesus kecil bisa pulang ke  Jerusalem, tentunya hal itu membuat kita lega, tapi kita perlu ingat, di sisi lain ada banyak bayi yg menjadi tumbal serta orang tua yg sedih tak berkesudahan karena kehilangan bayinya. Inilah yang harus kita ingat bahwa bayi Yesus lahir ditengah-tengah krisis dan kekerasan, ditengah nuansa politik haus kekuasaan dan menghalalkan segala cara. Seakan penulis Injil Matius ingin mengungkapkan bahwa saat Yesus datang krisis itupun tetap ada, kekerasan itu tetap ada, kisruh politik haus kekuasaan tetap ada. seperti orang Majus, hatinya tetap terarah pada Tuhan, pentingnya Ketaatan pada inspirasi Ilahi dan pemahaman akan tanda serta ilmu titen atau tafsir realitas, menggunakan pengetahuan, inilah yang membuat Herodes gagal membunuh bayi Yesus, Sejarah terselamatkan!  Sekarang kita akan memilih jalan yang mana? Jalan Herodes yang penuh kekerasan dan haus darah? atau jalan lain seperti orang Majus yg mungkin sepi sendiri, mungkin keliru, mungkin tak populer, dan mungkin berlawanan dg intensitas penguasa dan kekuasaan? tapi penuh keyakinan dan bersandar penuh serta mempercayakan diri pada Tuhan, Mana yg akan dipilih?

Cepogo, 25.12. 2022 (T)

Sabtu, 17 Desember 2022

PERKARA UCAPAN SELAMAT NATAL DARI SAHABAT ISLAM/MUSLIM, Serial Sudut pandang

PERKARA UCAPAN SELAMAT NATAL DARI SAHABAT ISLAM/MUSLIM, Serial Sudut pandang
 
Mohon maaf, maaf apabila ini kurang berkenan di hati, ini hanya pengetahuan saja, jadinya sifatnya netral, bisa dibaca dan dimengerti, saya dlm pekerjaan saya sebagai dosen tafsir Alkitab dan peneliti Alkitab juga sering berinteraksi dg berbagai kalangan peneliti, dosen atau  intelektual Alquran Islam/Muslim baik dr NU maupun Muhamadiyah, ada diskusi teman-teman peneliti, dosen atau intelektual Islam/muslim di sana yang mungkin bisa jadikan pรจngetahuan kita bersama, agar kita bisa memiliki sudut pandang yang baik tentang masalah ini : 
Pro dan kontra ucapan selamat Natal kepada umat Kristiani bagi Muslim/Islam di Indonesia selalu menjadi isu yang merebak menjelang dan saat 25 Desember tiba setiap tahunnya. Ada yang sementara berkeras dan mempersoalkan jika seorang Muslim memberikan ucapan selamat Natal kepada umat Kristiani lantaran keyakinan yang kuat pada dalil-dalil tertentu yang tak membenarkan ucapan tersebut disampaikan. Namun, sementara yang lain sama sekali tak mempermasalahkan dan dengan santai-nya mengobral ucapan untuk demi sebuah kata toleransi. Berbagai dalil baik pendukung pendapat yang pro dan kontra sejati-nya sama kuatnya sehingga tak perlu dipersoalkan hingga mengundang keributan dan perdebatan tanpa henti. Perbedaan pendapat ini erat kaitannya dengan istinbath al-hukmi, sehingga mengulas hukum ucapan selamat natal ada baiknya dengan menggunakan perspektif fiqih yang dikaitkan juga dengan akidah dan akhlak. Anggota Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Tata Septayuda Purnama mengatakan pada dasarnya dalil dari Al Quran maupun Sunnah secara spesifik tidak mengatur hukum ucapan selamat Natal. Hal itu karena, di dalam Al Quran dan Sunnah tidak disebutkan secara khusus hal soal boleh tidaknya menyampaikan ucapan selamat Natal. Polemik ini sejati-nya baru muncul belakangan pada era kontemporer saat banyak masyarakat Muslim/Islam ingin turut serta menyampaikan sikap toleransinya kepada saudara umat Kristiani. Maka, karena tidak ditemukan di dalam Al Quran maupun Sunnah yang secara tegas menghukuminya, kasus ini menjadi bagian yang termasuk dalam kategori Ijtihadi. Pada hakikatnya, mayoritas ulama dari 4 madzhab besar dalam ilmu Fiqih yakni Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hambali telah sepakat untuk mengharamkan ucapan selamat Natal kepada umat Kristiani. Namun pada perkembangannya, ulama-ulama kontemporer kembali mengulas hukum tersebut karena kasus ini masuk dalam kategori Ijtihadi.Umumnya beda pendapat yang timbul di kalangan ulama kontemporer, lebih disebabkan karena Ijtihad mereka dalam memahami generalitas ayat atau hadist yang terkait dengan kasus ini. Beberapa ulama kontemporer yang mengambil sikap yang berbeda di antaranya Ibn Baz, Ibnu ‘Utsaimin, Ali Jum’ah, Yusuf al-Qardhawi, Habib Ali Aljufri, Buya Hamka, hingga beberapa ulama kontemporer lainnya.


Boleh vs haram
Sebagian ulama yang memilih sikap untuk membolehkan ucapan selamat Natal bagi umat Nasrani menggunakan dasar hukum Al Quran surat al-Mumtahanah ayat 8: "Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil". Makna dari ayat tersebut ditegaskan bahwa perbuatan baik kepada siapa saja tidak dilarang, selama mereka tidak memerangi dan mengusirnya dari negerinya. Sedangkan, mengucapkan selamat Natal dipercaya merupakan salah satu bentuk perbuatan baik kepada orang non-Muslim, sehingga perbuatan tersebut diperbolehkan. Sejumlah ulama kontemporer yang mendukung pendapat ini di antaranya Yusuf al-Qardhawi, Musthafa Zarqa, Abdullah bin Bayyah, Ali Jum’ah, Habib Ali Aljufri, Quraish Shihab, Abdurrahman Wahid, Said Aqil Sirodj, dan lain sebagainya.

Sementara mereka yang mengharamkan ucapan selamat Natal mengambil dasar hukum yang tak kalah kuatnya yakni Al Quran surat al-Furqan ayat 72 yang berbunyi "Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya". Ayat tersebut memiliki makna yang dalam bahwa seseorang dijanjikan martabat yang tinggi di surga sepanjang tak memberikan kesaksian palsu di dunia. Ucapan selamat Natal kemudian dianggap sebagai ucapan kesaksian palsu dan membenarkan keyakinan umat Nasrani tentang hari Natal.Maka ucapan selamat Natal kepada umat Kristiani dianggap sebagai tasyabbuh sekaligus memberikan kesaksian palsu dan membenarkan keyakinan umat Kristen tentang kebenaran peristiwa Natal. Kemudian, kasus ini dianggap masuk juga ke dalam ranah akidah yang mengkompromikan antara tauhid dengan syirik. Berlatar belakang dasar itulah hukum ucapan Natal diharamkan secara tegas. Sejumlah ulama kontemporer yang mendukung pendapat ini di antaranya Ibn Baz, Ibnu Utsaimin, Buya Hamka (Abdul Malik Karim Amrullah), Buya Yahya (Habib Yahya Zainul Ma’arif), Ibrahim bin Ja’far, Ja’far At-Thalhawi, Khalid Basalamah, Abdul Somad, Adi Hidayat, dan lain sebagainya.


Jalan Tengah
Peneliti studi Islam UII Yogyakarta Saiful Aziz al-Bantany menuliskan bahwa beda pendapat para ulama kontemporer tentang hukum ucapan selamat Natal hendaknya tidak menjadikan internal umat Islam di Indonesia semakin terpecah hanya diakibatkan oleh perbedaan pemilihan sikap dalam kasus ini." Apabila kita memilih sikap untuk membolehkannya, pastikan bahwa pembolehan tersebut demi menjaga kedamaian dan kerukunan antarumat beragama, dengan tetap menjaga akidah kita sebagai seorang Muslim/Islam. Jangan sampai karena ada saudara kita yang mengambil sikap mengharamkan-nya, kita serta merta langsung menjustifikasi ia sebagai orang yang intoleransi," ucap dia menegaskan. Sebaliknya jika memilih sikap untuk mengharamkan-nya, pastikan bahwa pengharaman tersebut merupakan bentuk ghirah dalam menjaga prinsip akidah umat Islam yang tegas, namun tetap menjaga nilai-nilai toleransi antarumat beragama dengan bentuk yang berbeda. "Jangan sampai karena ada saudara kita yang mengambil sikap membolehkannya, kita bermudah-mudahan dalam menjustifikasi ia sebagai orang kafir," tutur-nya. Ada jalan tengah untuk tetap dapat menyapa mereka yang merayakan Natal dengan santun tanpa harus mengorbankan prinsip akidah, namun tetap bertoleransi. Beberapa ucapan yang secara semantik "tidak mengucapkan" selamat Natal di antaranya disampaikan oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. "Atas nama pemerintah dan pribadi saya mengucapkan salam dan selamat merayakan Natal 25 Desember 2020," kata Menag. Gus Yaqut tidak mengucapkan selamat Natal melainkan selamat merayakan Natal sehingga secara semantik atau makna kebahasaan sangat berbeda. Hal serupa pun bisa diterapkan dalam bentuk-bentuk ucapan penuh toleransi kepada umat Nasrani tanpa melanggar sesuatu yang menjadi prinsip akidah di antaranya: "Semoga kedamaian kebahagiaan dan kesehatan selalu menyertai teman-teman yang merayakan Natal 2022 Selamat Tahun Baru 2023 semoga selalu damai dalam kebhinekaan".
sebagai umat Kristiani, mengatakan bahwa Natal merupakan Hari Raya yang ditetapkan Gereja Katolik/Orthodoks dan kemudian diwariskan oleh Gereja Protestan/Reformasi untuk merayakan kelahiran Kristus berdasarkan usaha-usaha Para Bapa Gereja untuk menemukan tanggal historis kelahiran Yesus Kristus.Natal sama sekali bukan perayaan pagan yang diadopsi ke dalam Kekristenan tetapi sebuah perayaan yang bersumber dari dalam Gereja Katolik/Orthodoks yg berlanjut pada gereja protestan/reformasi. Terkait ucapan selamat Natal, sangat memahami prinsip dan akidah Umat Islam/muslim sehingga sejati-nya tak ada tuntutan apapun dari umat Kristiani kepada Muslim/Islam, hanya terkadang risih dengan pro dan kontra yang timbul setiap tahunnya menjelang perayaan Natal. hal itu sungguh sangat tidak perlu. Tanpa ucapan selamat natal, bagi umat Kristiani, Natal tetaplah Natal tanpa mengurangi kesakralan-nya. Dan diucapi Selamat Natal bukan permintaan atau permohonan umat Kristiani, perayaan Natal bagi umat Kristiani lebih kepada perkara hati bertaut pada Allah dan ajaran keimanan, tak ada hubungannya dg ucapan Selamat Natal dari pihak lain.
Jadi, sejatinya selalu ada jalan tengah untuk semua, tetap bertoleransi tanpa mengorbankan prinsip akidah, tetap mengucapkan tanpa mengucapkan. Untuk Indonesia yang plural, maka toleransi adalah fondasi.

Cepogo,15.12.2022 (T)

Senin, 05 Desember 2022

SUDUT PANDANG MERAYAKAN NATAL SAAT ADVENT?

SUDUT PANDANG MERAYAKAN NATAL SAAT ADVENT?

PENGANTAR 
Adven yang dikerjakan oleh Yohanes (Pembaptis) amat terang dikerjakan siapkan infrastruktur, siapkan jalan, jangan ragu, ...... Kristus bakal kembali. Adven merupakan kesibukan bekerja dalam rangka menuju kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Kesejahteraan tidak datang sekonyong-konyong. Ia perlu Adven. Adven bukanlah tujuan. Ia merupakan jalan untuk mencapai tujuan. Belum waktunya berpesta karena memang kita belum tiba di tujuan.Jadi, gak perlu pakai pesta, apalagi dilabeli pesta natal, perayaan natal, cukup ibadah raya natal, dan itupun dilakukan di gereja, untuk menghikmati keterhisapan kita pada anugerah persekutuan Tuhan dalam menghikmati Natal, Tuhan yang merapuh menjadi manusia, Tuhan melawat manusia, untuk menyelamatkan kan manusia, Tuhan berkarya Kata adven dari bahasa Latin ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ท๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ด, kata kerjanya ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ท๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฆ, yang berarti datang, tiba. Pada masa lampau kedatangan seorang penguasa di kota atau provinsi dalam suatu wilayah ekumenisnya juga menggunakan istilah ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ท๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ด. Misal, kedatangan Kaisar Agustus diabadikan dalam bentuk monumen atau uang dengan tulisan ๐˜ˆ๐˜ฅ๐˜ท๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜ˆ๐˜ถ๐˜จ๐˜ถ๐˜ด๐˜ต๐˜ช (Kedatangan Agustus). Istilah ini juga digunakan untuk kunjungan tahunan dewa ke kuil. Kata adven masuk ke khasanah Kristen ketika Kitab Suci Perjanjian Baru diterjemahkan ke bahasa Latin (๐˜๐˜ถ๐˜ญ๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ข) dari bahasa Grika. ๐˜๐˜ถ๐˜ญ๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ข menerjemahkan ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข (kedatangan) dengan ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ท๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ด dalam kitab Injil. Namun, dalam beberapa Surat Rasuli ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข dimaknai ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ข (kehadiran) (1Kor. 16:17; 2Ptr. 1:16).
Perayaan-perayaan liturgis dalam Lingkaran Natal tidaklah sebanyak dan serumit yang terjadi dalam Lingkaran Paska. Panjang masa Adven (๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ท๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ด) bukan empat pekan (๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฌ). Masa Adven ditetapkan ada empat hari Minggu (๐˜š๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ) dihitung mundur dari hari Natal (25 Desember) dengan hari Minggu terjauh disebut Minggu kesatu yang adalah awal masa Adven. Panjang masa Adven dapat saja hanya 22 hari jika hari Natal jatuh pada Senin.
Masa Adven mengandung dua gatra (๐˜ข๐˜ด๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ต๐˜ด): eskatologis dan historis. Eskatologis, umat bersiap diri dalam pengharapan akan kedatangan kembali Kristus (๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข). Gatra eskatologis mengisi tema Minggu kesatu dan kedua Adven. Historis, umat bersiap diri untuk mengenang menuju perayaan peristiwa kelahiran Yesus yang terjadi sekitar dua ribu tahun yang lalu. Gatra historis mengisi tema Minggu ketiga dan keempat Adven.
Saya sering mendengar alasan orang Kristen  merayakan Natal di masa Adven. Kata mereka, Natal dihadirkan setiap hari di hati umat Kristen karena Yesus tidak lahir pada 25 Desember.  Natal bisa dirayakan kapan saja, kata banyak banyak orang Kristen bilang begitu. Pendapat itu omong kosong. Saya belum pernah melihat orang kristen yang berpendapat seperti itu merayakan Natal pada Mei, Juni, Juli, Jupri, Jupronz.

PEMAHAMAN
Alasan di atas tampaknya rasional, tetapi sesungguhnya menyesatkan. Mengapa? Iman Kristen tidak berpusat pada Natal. Tidak merayakan Natal tidak membatalkan iman Kristen. Jantung iman Kristen adalah Paska, Kebangkitan Kristus. Orang Kristen pergi beribadah setiap Minggu pada dasarnya merayakan Hari Paska, Hari Kebangkitan Kristus. Mengapa pada-pada akhirnya umat Kristen merayakan Natal? Agama tidak sekali jadi. Agama ber-evolusi. Peradaban berkembang, demikian juga kekristenan. Hari raya liturgi gereja dimula dan berpusat pada misteri Paska. Pada mulanya tidak ada susunan sistematis dan terencana untuk merayakan peristiwa-peristiwa Kristus. Secara evolusi gereja memberikan tanggapan atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Bapak-bapak gereja sejak abad II merapikan, membentuk, menyusun, dan merekayasa (to engineer) kisah teologinya sehingga menjadi bermakna, bertema, dan bercerita saling berurutan satu dengan lainnya. Hari raya liturgi merupakan drama sarat makna; suatu rekayasa gereja untuk memastori dan membina umat agar dapat lebih menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan. Kata kunci masa Adven adalah bersiap diri; bersiap diri untuk mengenang, bersiap diri untuk menuju perayaan, dan bersiap diri menantikan kedatangan kembali Kristus. Jadi, masa Adven bukanlah waktu untuk merayakan Natal. Merayakan Natal di masa Adven ibarat ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ di bulan Ramadan. Umat diberi waktu merayakan Natal cukup panjang, dari 24 Desember 2025 selepas matahari terbenam sampai 11 Januari 2026 (Minggu Pembaptisan Yesus), masih bisa diperpanjang pada Minggu biasa sampai 15 February 2026 lah, sebelum Rabu abu, cukup fleksibel. Di sinilah kepentingan pemimpin umat dan umat  harus mengerti ilmu liturgi (liturgika atau liturgiologi). Kalau pemimpin umat dan umat tidak paham ilmu liturgi, maka mereka akan melakukan rasionalisasi jawaban seperti dalam pengantar di atas. Lho bukannya banyak umat dan pemimpin itu belajar ilmu liturgi waktu bersekolah teologi? Ada puluhan fakultas teologi dan sekolah tinggi teologi tersebar di seluruh Indonesia yang sudah meluluskan ribuan sarjana teologi yang pada gilirannya bagian terbesar menjadi pendeta atau umat atau akademisi. Sejauh ingatan saya jumlah dosen ahli liturgi dari kalangan Protestan/reformir/arus utama tidak lebih daripada jumlah jari sebelah tangan. Itu pun mereka menjadi pengajar di satu sekolah teologi. Jadi patut diduga bagian terbesar pendeta dan umat belajar ilmu liturgi memang bukan dari ahlinya. Misal, dosen Perjanjian Baru merangkap mengajar ilmu liturgi. Apakah gara-gara rasionalisasi alasan Natal saya menyederhanakan kesimpulan saya? Coba kita uji cerapan pendeta dan umat serta akademisi mengenai Ekaristi atau Perjamuan Kudus. Terlalu berat? Baiklah, kita tanya cerapan mereka tentang kolekte. Kalau banyak pendeta dan umat serta akaemisi tidak paham ilmu liturgi, lantas bagaimana? Seperti pesan Yesus, “Barangsiapa bertelinga hendaklah mendengar.”
Cepogo, 06.12.22 ( TUS)

Jumat, 25 November 2022

Apakah ajaran 'tabur-tuai' alkitabiah? dan bisa diterapkan dalam konteks persembahan? Serial Sudut Pandang

Apakah ajaran 'tabur-tuai' alkitabiah? dan bisa diterapkan dalam konteks persembahan? Serial Sudut Pandang

Perlu dipahami sejak awal bahwa prisip tabur tuai sepanjang tulisan Alkitab dr PB dan PL lebih mengarah banyak pada perbuatan jahat (walaupun bisa dua arah) bukan dalam konteks persembahan walaupun ada kaitan dg pemahaman agraris atau pertanian . Menurut Alkitab, apakah kita menuai apa yang kita tabur? Prinsip tabur tuai dijumpai di sepanjang Alkitab, karena hal ini sering dijumpai oleh manusia. Upaya mempekerjakan tanah guna memanen hasilnya berkaitan erat dengan sejarah umat manusia. Salah satu bagian dari kutukan Adam ialah bahwa tanah akan menghasilkan duri sebagai hasil dari upaya Adam dan "dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu" (Kejadian 3:19). Dama memahami konsep "tabur-tuai" baik secara harafiah maupun secara kiasan.
Kiasan menuai apa yang ditabur juga dapat merujuk pada dua ayat dalam Perjanjian Baru. Salah satunya ditemui dalam 2 Korintus 9:6, "Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga." Satunya lagi ditemukan dalam Galatia 6:7, "Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya." Sebagai prinsip umum, memang benar bahwa aktifitas menabur akan diikuti oleh penuaian apa yang ditabur. Hal ini berlaku secara agraris dan juga dalam halnya pilihan hidup. Oleh karena itu, ajaran "tabur-tuai" itu alkitabiah.
Adapula ayat Perjanjian Lama yang membahas prinsip tabur-tuai. "Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana," ditulisnya Raja Salomo (Amsal 22:8). "Kamu telah membajak kefasikan, telah menuai kecurangan, telah memakan buah kebohongan", kata nabi Hosea (10:13). "Mereka akan memakan buah perbuatan mereka, dan menjadi kenyang oleh rencana mereka" ucap Hikmat dalam Amsal 1:31. Dalam setiap kasus, hukum tabur dan tuai merujuk kembali pada keadilan Allah.
Meskipun ada prinsip rohani yang berlaku dalam halnya ketika kita menabur perbuatan jahat, kita akan menuai akibat yang buruk, adapula belas kasihan. Untungnya kita tidak selalu menuai apa yang kita tanam. Allah berhak berbelas kasihan pada siapapun yang Ia hendaki, sebagaimana firman-Nya kepada Musa, "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati" (Roma 9:15). Oleh karena belas kasihan Allah, kita memperoleh kediaman surgawi kelak, meskipun kita berdosa. Kita menabur kelaliman dan korupsi, dan Yesus menuai hukuman kita di atas kayu salib. Terpujilah Dia selamanya.
Kadang yang tampak bagaikan tuaian panen bukan demikian. Ketika Ayub sedang menderita, teman-temannya menganggap kesulitan yang menimpanya sebagai hukuman adil dari Allah atas dosa yang dirahasiakan. Elifas, teman Ayub berkata: "Yang telah kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga" (Ayub 4:8). Namun dalam kasus Ayub, Elifas keliru. Tuaian belum tiba – dan tidak tiba sampai akhir kitab itu (Ayub 42:10-17). Mengalami situasi buruk bukan berarti kita telah menabur benih yang buruk. Prinsip tabur-tuai secara umum benar, tapi tidak selalu terjadi dalam setiap situasi yang kita jumpai.
"Tabur-tuai" berlaku baik secara positif maupun secara negatif. "Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu" (Galatia 6:8). Ayat ini merangkum prinsip tabur-tuai dengan baik. Ketika kita bersikap egois, sombong, tidak adil, fasik, dan mengandalkan diri, maka kita sedang "menabur dalam daging," dan kebinasaan menanti. Ketika kita bersikap tanpa pamrih, murah hati, ramah, dan mengandalkan pemeliharaan dan keselamatan dari Allah, kita sedang "menabur dalam Roh" dan menuai kehidupan kekal.
Iman dalam Yesus dan pencarian akan kesalehan adalah "menabur dalam Roh." Menabur dalam daging, mengandalkan diri sendiri dan kemampuan kita tanpa pertolongan Allah, hanya akan membawa pada jalan buntu. Namun ketika kita percaya pada Kristus, kita mendapat kehidupan kekal. Kasih-Nya bagaikan tanah yang subur yang darinya kita menuai buah yang baik.
Cepogo, 26.11.22 (T)

Jumat, 18 November 2022

SUDUT PANDANG LUKAS 23:33-43 ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฒ๐—ท๐—ฒ๐—ธ, Serial Sudut Pandang


SUDUT PANDANG LUKAS 23:33-43 ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฒ๐—ท๐—ฒ๐—ธ, Serial Sudut Pandang

Kalender gerejawi atau tahun liturgi ada tiga banjaran: Tahun A, B, dan C. Tahun ini adalah Tahun C yang berakhir pada Minggu ini. Minggu depan adalah awal kalender gerejawi Tahun A yang dimula Minggu pertama Adven. Harap dicatat, jika saya menyebut Minggu itu berarti ๐˜š๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ atau nama hari, bukan satuan jumlah hari. Saya selalu menggunakan pekan untuk ๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฌ.
Tahun A disebut juga Tahun Matius, Tahun B Tahun Markus, dan Tahun C Tahun Lukas. Dalam Tahun C ini bacaan ekumenis sejak Pentakosta menarasikan perjalanan Yesus dari Nazareth menuju Yerusalem. Injil Lukas mengusung teologi kenaikan, dari tempat rendah ke tempat lebih tinggi.
Minggu ini adalah akhir perjalanan Yesus di Yerusalem dengan peristiwa penyaliban. Bacaan  diambil dari Lukas 23:33-43 
Secara ringkas bacaan mengisahkan Yesus digiring dan tiba di tempat yang bernama ๐˜›๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ. Di sana Yesus disalib bersama dengan dua penjahat di sebelah kanan dan kiri-Nya. Pemimpin-pemimpin (agama Yahudi) mengejek Yesus. Prajurit-prajurit Roma juga mengejek Yesus. Bahkan satu penjahat di sebelah Yesus menghujat Yesus, namun penjahat satunya membela Yesus.
Dalam proses penyaliban itu ada ucapan Yesus sebelum narasi pengejekan. Saya kutipkan dari Alkitab TB II, 1997, Lukas 23:34a: [Yesus berkata, “๐˜ ๐˜ข, ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต.”]
Tak banyak orang Kristen memiliki Alkitab Terjemahan Baru (TB) edisi kedua, 1997, karena memang dicetak ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ช๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฅ ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ. Perbedaan dari TB 1974 (yang digunakan hampir semua orang Kristen) adalah tanda kurung siku di TB II. Kurung siku itu menandakan bahwa ayat itu dalam perdebatan karena dalam salinan yang lebih tua ayat itu tidak ada. 
Para pakar Perjanjian Baru (PB) menilai ayat itu ditambahkan oleh editor di salinan berikutnya yang justru bertentangan atau tidak cocok dengan narasi atau konteks penyaliban Yesus di Injil Lukas. Penyaliban Yesus adalah pembunuhan berencana, bukan perbuatan yang tidak disadari oleh para pelaku: imam-imam kepala, pemimpin-pemimpin, dan rakyat (Luk. 23:13). Lukas dengan jelas memerikan upaya keras Pilatus (sampai tiga kali) untuk membebaskan Yesus, namun mereka tetap menuntut Yesus disalibkan. Rencana membunuh Yesus sudah ada sebelumnya dengan melibatkan Yudas Iskariot di bagian sebelumnya (Luk. 22:2-6). Herodes pun tidak mendapati kesalahan Yesus (Luk. 23:15). Jadi para pembunuh tahu dan sadar apa yang mereka lakukan.
Dalam perikop “Yesus disalibkan” ini pengarang Injil Lukas menulis tiga ejekan yang dilontarkan oleh musuh Yesus. Ketiga ejekan di ayat 35, 37, dan 39 itu mirip dan polanya sama: “Selamatkanlah dirimu jika Engkau adalah … ” atau “Jika Engkau adalah …, selamatkanlah dirimu!” Akan tetapi di ejekan ketiga Lukas sedikit menambah menjadi: “Jika Engkau adalah …, selamatkanlah dirimu ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฎ๐—บ๐—ถ!”
Pengejek pertama adalah pemimpin-pemimpin yang merujuk para pemimpin agama Yahudi di Yerusalem (bdk. Kis. 4:5). Secara lengkap ejekan mereka: " ๐˜–๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช-๐˜•๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช, ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜”๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ด (๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ), ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ." (Luk. 23:35)
Ejekan pertama mengandung pengakuan iman atau kredo Jemaat Lukas. Yesus adalah Mesias dari Allah (แฝ ฮงฯฮนฯƒฯ„แฝธฯ‚ ฯ„ฮฟแฟฆ ฮ˜ฮตฮฟแฟฆ). Yesus adalah orang pilihan Allah.
Pengejek kedua adalah prajurit-prajurit Roma. Ejekan mereka: “๐˜‘๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜Œ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ช, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช-๐˜”๐˜ถ!” (Luk. 23:37). Dasar ejekan para prajurit itu adalah inskripsi di kepala salib "Inilah raja orang Yahudi" (ay. 38). 
Tampaknya pengarang Injil Lukas memandang inskripsi tersebut adalah ejekan, bukan literal, karena bagi Jemaat Lukas: 
• Yesus adalah raja dari Kerajaan Allah yang akan datang (Luk. 22:29-30). 
• Kenaikan Yesus ke Surga adalah pemuliaan dan penobatan Yesus sebagai raja dari Kerajaan Allah (Luk. 19:12).
• Di Akhir Zaman Yesus akan datang kembali (sudah) sebagai Raja (Luk. 23:42).
Di sini Lukas juga menghilangkan kesan penyaliban Yesus berdarah-darah. Tampaknya Lukas hendak berbaik-baik dengan Pemerintah Roma untuk pertumbuhan dan pekembangan jemaatnya. Tampak sekali Lukas menonjolkan Pilatus membela Yesus. Lukas 23:22: Kata Pilatus ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—ธ๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ด๐—ฎ ๐—ธ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ป๐˜†๐—ฎ kepada mereka: "๐˜’๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช? ๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข-๐˜•๐˜บ๐˜ข, ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช. ๐˜‘๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ ๐˜‹๐˜ช๐˜ข, ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ-๐˜•๐˜บ๐˜ข." Bahkan kalau kita membaca bagian akhir Injil Lukas jilid kedua (Kisah Para Rasul), dikatakan bahwa Rasul Paulus mengakhiri penginjilan di Roma dengan cemerlang.
Pengejek ketiga adalah penjahat di sebelah Yesus. Ejekannya: "๐˜‰๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜Œ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜’๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ถ๐˜ด (๐˜”๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ)? ๐˜š๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช-๐˜”๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช!" (Luk. 23:39).
Pengarang Injil Lukas menggunakan istilah ฮบฮฑฮบฮฟแฟฆฯฮณฮฟฮน (penjahat), bukan ฮปแฟƒฯƒฯ„ฮฌฯ‚ (penyamun) seperti yang digunakan pengarang Injil Markus (Mrk. 15:27). Tampaknya Lukas menghindari kata penyamun seperti ucapan Yesus dalam narasi sebelumnya, “๐˜š๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ (ฮปฮทͅฯƒฯ„ฮฑ́ฯ‚), ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ?” (Luk. 22:52). Lukas tak mau menyejajarkan Yesus dengan penyamun-penyamun.
Tampaknya Lukas hendak mengatakan bahwa penyaliban Yesus di antara penjahat menggenapi nubuat Nabi Yesaya: “Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ผ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ธ-๐—ฝ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ผ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ธ, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.” (Yes. 53:12). Yesus termasuk golongan pemberontak, meskipun Pemerintah Roma menyejajarkan Yesus dengan penjahat, bukan penyamun.
Ejekan penjahat itu menambah cakupan pengakuan iman Jemaat Lukas. Kristus bukan saja lebih besar daripada para pemimpin Yahudi (pengejek pertama), tetapi Ia juga mampu menyelamatkan penjahat yang sekarat. Cakupannya teologis dan politis.
Ternyata penjahat kedua mengecam penjahat pertama yang mengejek Yesus. Ia menilai hukuman kepada mereka berdua memang sudah adil atas perbuatan salah mereka dan ia membela Yesus yang tak bersalah (Luk. 23:41). Ia kemudian memohon kepada Yesus, “๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด, ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข ๐˜Œ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช ๐˜™๐˜ข๐˜ซ๐˜ข." (Luk. 23:42). 
Dalam perikop penyaliban ini Yesus tampak pasif. Baru sesudah permohonan penjahat kedua itu Yesus berbicara, “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข-๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜๐˜ช๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ถ๐˜ด.” (ay. 43)
Apakah Firdaus ini surga? Kata Firdaus (ฮ ฮฑฯฮฑฮดฮตฮฏฯƒแฟณ) hanya sekali digunakan di Injil Lukas. Kalau kita merujuk keterangan waktu “hari ini” dalam jawaban Yesus, maka Firdaus tidak merujuk surga. Keterangan waktu “hari ini” adalah waktu kematian dan penguburan Yesus. 
Dari penelusuran teks Injil Lukas sangat boleh jadi Firdaus merujuk tempat orang yang sudah mati dan yang dianggap layak untuk dibangkitkan pada Akhir Zaman ketika Yesus datang kembali (Luk. 20:35). Yesus adalah Yang Pertama dibangkitkan. Tafsiran ini diperkuat dengan ayat dalam Injil Lukas jilid kedua atau Kisah Para Rasul Kisah 26:22-23 “๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜”๐˜ถ๐˜ด๐˜ข, ๐˜บ๐˜ข๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜”๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ด ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜‹๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ข-๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ.”
Pelajaran apa yang kita dapatkan dari Sudut Pandang ini? Terserah anda. Satu hal yang kuat untuk saya adalah untuk tidak menggunakan ayat “๐˜ ๐˜ข, ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต” kepada para pembunuh Brigadir J. Ayat ini tidak cocok untuk kasus pembunuhan berencana.

Cepogo, 18.11.22 (T)

Jumat, 11 November 2022

SUDUT PANDANG LUKAS 21 :5-19, Bertahan

SUDUT PANDANG LUKAS 21 :5-19, ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ป, 

Kitab-kitab Injil tidak ditulis oleh 12 murid Yesus. Juga tidak ditulis oleh jurutulis Yesus. Kitab-kitab Injil ditulis secara retrospektif; penceritaan ulang atas peristiwa masa lalu. Para penulis Injil mengumpulkan bahan-bahan dari cerita lepas atau ucapan-ucapan lepas Yesus dari beraneka sumber. Dari bahan-bahan itu mereka menyusun narasi mereka masing-masing sesuai teologi yang diusung oleh penulis kitab Injil yang sangat boleh jadi menyesuaikan situasi saat Injil ditulis.
Sebagai contoh Injil Lukas yang ditulis beberapa tahun sesudah Bait Suci dihancurkan tentara Roma (70 ZB). Peristiwa itu sudah barang tentu meremukkan mental pengikut Kristus terutama di kalangan Jemaat Lukas. Jemaat, yang sangat mengharapkan kedatangan Yesus kembali, menghadapi kenyataan bahwa Bait Suci, yang adalah simbol kehadiran Allah di Yerusalem, dihancurkan oleh orang kafir. Penulis Injil Lukas hendak menjernihkan pengertian kedatangan Yesus kembali (๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข) agar jemaat tidak putus harapan.
Bacaan diambil dari Lukas 21:5-19 adalah kumpulan ucapan tentang akhir zaman yang dinarasikan dalam Lukas 21:5-36, namun RCL membatasi sampai ayat 19. Kumpulan ucapan tentang akhir zaman itu mengandung topik-topik:
1. Bait Allah akan diruntuhkan (ay. 5-6),
2. Kesudahan yang tidak segera terjadi (ay. 8-9),
3. Peperangan, gempa bumi, penyakit sampar, kelaparan, dan bencana semesta (ay. 10),
4. Penganiayaan dan kesempatan bersaksi dengan bantuan Yesus (ay. 12-15),
5. Para murid akan dibenci semua orang, tetapi mereka akan dilindungi Allah (ay. 16-19),
6. Yerusalem akan diruntuhkan (ay. 20-24),
7. Kedatangan Anak Manusia (ay. 25-33), dan
8. Berjaga-jaga sambil berdoa (ay. 34-36).
Bacaan Injil Minggu ini hanya topik no. 1 – 5.

Dalam dunia nyata tampaknya Jemaat Lukas sedang gundah dan depresi melihat kenyataan Yesus tidak kunjung datang kembali sampai Bait Suci diruntuhkan. Dalam dunia cerita penulis Injil Lukas tetap memertahankan latar yang sudah dibuatnya sejak Lukas 20:1 “Ketika Yesus mengajar orang banyak di Bait Allah dan memberitakan Injil”, sedang percakapan Yesus dengan murid-murid-Nya dalam bacaan terjadi di Bukit Zaitun. Lho kok bisa?
Yesus mengajar di Bait Suci atau Bait Allah tidak dalam sehari. Tidak diceritakan berapa lama, tetapi tidak sehari. Ini ditunjukkan pada teks “Pada siang hari Yesus mengajar di Bait Allah dan pada malam hari Ia keluar dan bermalam di gunung yang bernama Bukit Zaitun” (Luk. 21:37). 
Apabila ucapan Yesus versi Injil Markus (Mrk. 13:3) ditujukan khusus kepada “Petrus, Yakobus, Yohanes, dan Andreas”, penulis Injil Lukas merevisinya dengan istilah “murid-murid” (Luk. 21:7). Dengan menghapus empat nama murid itu dalam versi Injil Markus, penginjil Lukas hendak meluaskan cakupan pendengar Yesus yang dalam hal ini Jemaat Lukas.
Dalam bacaan Minggu ini Lukas mau memumpunkan bahwa kedatangan Yesus kembali (๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข) masih lama dengan menghapus rujukan apa pun yang bertentangan dengan teologinya. Ia membaharui pernyataan penginjil Markus (Mrk. 13:8) “Semua itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru” dengan menghilangkan “zaman baru”. Yesus datang kembali masih lama. Begitu kira-kira Lukas memberi pastoral kepada jemaatnya dengan menambah “sebelum semuanya itu”.
Dengan menambah keterangan waktu “sebelum semuanya itu” (Luk. 21:12) penginjil Lukas tampaknya sedang membuat kronologi dari tanda-tanda akhir zaman. “Semuanya itu” merujuk peristiwa dan keadaan yang disebutkan di ayat-ayat sebelumnya: peperangan, gempa bumi, penyakit sampar, kelaparan, dan bencana semesta. Sebelum semua itu terjadi para murid akan ditangkap dan dianiaya “karena nama Yesus” (21:12). Frase “karena nama Yesus” sangat boleh jadi merujuk pengikut Yesus di dunia nyata. Bukan itu saja mereka akan dibenci oleh semua orang bahkan sebagian dari mereka akan dibunuh. Dalam Injil Lukas jilid II atau Kisah Para Rasul Lukas mengisahkan para murid Yesus mengalami penganiayaan dan pembunuhan (lih. kisah Stefanus).
Lukas memberi penguatan lewat ucapan Yesus, “๐˜’๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ฎ๐˜ถ.” (Luk. 21:19). Memeroleh atau mendapat “hidup” ada dua penafsiran.
Pertama, jika mereka mati dibunuh dan mereka tetap bertahan dalam iman mereka, maka mereka akan dibangkitkan dan diberi “hidup kekal”. Penafsiran ini didukung dengan teks sebelumnya dalam ucapan Yesus di Lukas 9:24 dan 17:33: “๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข; ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.”
Kedua, hidup ditafsir selamat, aman, sintas (๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ๐˜ท๐˜ช๐˜ท๐˜ฆ) “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan selamat.” Tafsiran ini didukung dengan teks-teks di Kisah Para Rasul (Kis. 8:1-4; 12:6-19; 16:19-40). Di pengujung “Injil Lukas jilid II” Lukas mengisahkan Rasul Paulus selamat tiba di Roma yang ditutup dengan berita gembira “Dengan terus-terang dan tanpa rintangan apa-apa ia (Paulus) memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus.”
Dua tafsiran di atas tetap berujung pada kegembiraan. Yang amat sangat sulit adalah prasyarat ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ป. Ya, memang menjadi murid Kristus itu nggak enak. Kalau tak kuat, lepaskan saja! Jangan sok bertahan tapi membalikan tubuh dari keteladanan Kristus.

Lapangan Pancasila, 12.11.22 (TUS)

Jumat, 04 November 2022

DUNIA ORANG MATI, Serial Sudut Pandang

DUNIA ORANG MATI, Serial Sudut Pandang 

Dunia sesudah kematian menurut Injil Lukas tidaklah seindah yang dibayangkan oleh kaum laki-laki. Tidak ada penyediaan bidadari untuk melayani hasrat laki-laki. Apalagi saat Injil Lukas ditulis belum ada program dan kampanye KB (Keluarga Berencana).  Bacaan diambil dari Injil Lukas 20:27-38
Dalam bacaan Injil Minggu ini Yesus dan orang-orang Saduki bersoal-jawab. Latar cerita adalah Yesus mengajar di Bait Allah karena bacaan termuat dalam Lukas pasal 20-21. 
Dikisahkan beberapa orang Saduki mendatangi Yesus, yang menurut penulis Injil Lukas mereka tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada Yesus: " ๐˜Ž๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ, ๐˜”๐˜ถ๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข: ๐˜‘๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช-๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ, ๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ธ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข. ๐˜ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ธ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ. ๐˜“๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ธ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜จ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ต-๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ถ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช. ๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ถ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข?" (ay. 27-33)
Penulis Injil Lukas mengambil bahan dari Injil Markus, tetapi Lukas mengubah latar cerita Injil Markus “Yesus berjalan di halaman Bait Allah” (Mrk. 11:27). Lukas (20:27) tidak mengubah tokoh cerita orang Saduki dari Markus 12:18, namun Lukas menghapus penilaian Markus bahwa orang Saduki itu sesat. Lukas menghapus dua kali bahan dari Markus 12:18 dan 27. Lukas menolak penilaian Markus terhadap orang Saduki.
Saduki (dari kata Zadok) adalah nama kelompok aristokrat Yahudi yang berkuasa di Yerusalem hingga Bait Suci dihancurkan pada 70 ZB. Kaum Saduki bertanggung jawab terhadap ibadah yang dilakukan di Bait Suci sebagai kaum imam, yang hampir seluruh imam-imam dapat digolongkan sebagai kaum ini. Jabatan Imam Besar Yahudi pada umumnya diduduki oleh orang Saduki, tetapi tidak semua orang Saduki adalah imam. Ada kemungkinan bahwa orang-orang Saduki juga terdiri atas orang awam yang kaya dan tuan-tuan tanah. 
Di lingkungan orang Yahudi pada masa itu kebangkitan adalah wacana secara nisbi baru, yang muncul sekitar abad ke-2 SZB seperti dalam Kitab Daniel 12:2. Sampai menjelang akhir abad 1 ZB, ketika Injil Lukas ditulis, perdebatan dan perkembangan wacana kebangkitan masih terus terjadi sehingga ada berbagai pemikiran yang berbeda di dalam Perjanjian Baru.
Dalam tradisi Israel (lih. Ul. 25:5), termasuk yang terkandung dalam perkawinan Levirat, tujuan perkawinan bukanlah untuk mengesahkan cinta kasih romantis seperti dalam kebudayaan modern, melainkan untuk mendapatkan anak atau keturunan. Manusia akan mati. Adanya keturunan akan mencegah kepunahan. Jadi, pertanyan orang-orang Saduki di atas pumpunnya bukanlah pada siapa suami perempuan itu, melainkan apakah Yesus bersepaham dengan mereka yang tidak percaya pada kebangkitan dalam pertanyaan “๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ถ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข?". Pertanyaan ini sulit sekaligus ๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ค๐˜ฌ๐˜บ.
Jawab Yesus kepada mereka: "๐˜–๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ธ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ธ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ญ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช, ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ธ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ธ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช; ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต-๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ-๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜›๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช, ๐˜”๐˜ถ๐˜ด๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช, ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜›๐˜œ๐˜๐˜ˆ๐˜• ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ˆ๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ, ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜๐˜ด๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฃ. ๐˜๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‹๐˜ช๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ." (ay. 34-38)
Jawaban Yesus di atas menurut teologi penulis Injil Lukas Yesus membuat pembedaan yang tegas: ada dua dunia. Pertama, dunia ini, orang memang kawin dan dikawinkan. Kedua, dunia yang lain itu, dunia orang-orang yang dibangkitkan tidak begitu.  Sesudah kebangkitan manusia tidak lagi kawin dan dikawinkan, karena sudah tidak paut lagi. Tidak paut karena manusia tidak dapat mati lagi. Perkawinan untuk mencegah kepunahan, setelah mati bearti tak ada kematian kedua, manusia tidak dapat punah. Manusia pada hari kebangkitan sama dengan malaikat: tidak dapat mati lagi. Oleh karena tidak dapat mati lagi, orang yang sudah dibangkitkan itu tidak perlu kawin dan dikawinkan. Itulah sebabnya tidak ada penyediaan bidadari untuk memenuhi hasrat seksual laki-laki di dunia yang lain sesudah kematian menurut Injil Lukas.
Apabila kita melanjutkan membaca ayat berikutnya (ay. 39), beberapa ahli taurat berpendapat, “๐˜Ž๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ, ๐˜ซ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฃ-๐˜”๐˜ถ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช.” Lukas tampaknya hendak mengatakan bahwa tidak semua ahli Taurat berbeda pendapat dengan Yesus, setidaknya mereka tidak kompak dalam bersikap terhadap ajaran Yesus.
Membuat pertanyaan itu tidak mudah, apalagi pertanyaan bermutu. Orang Saduki bertanya bukan tanpa argumen. Mereka merujuk Kitab Suci dengan kasus rumit yang dapat terjadi di masyarakat. Orang yang tak menguasai ilmu akan berkesulitan menjawab pertanyaan orang Saduki itu. Yesus sangat menguasai, bahkan beberapa ahli Taurat memuji Yesus atas ketepatan jawaban Yesus. Untuk dapat menguasai itu tidaklah kejap. Yesus belajar dengan sungguh-sungguh. Seperti kata penginjil Lukas, “Yesus makin dewasa dan bertambah hikmat-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” (Luk. 2:53, TB II).


Jubug, 05.11.22 (T)

Jumat, 28 Oktober 2022

Sudut Pandang LUKAS 18:9-14, ๐—•๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฟ๐—ฒ๐˜€๐˜๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐˜„๐—ถ, kisah doa Farisi dan Pemungut Cukai

Sudut Pandang LUKAS 18:9-14, ๐—•๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฟ๐—ฒ๐˜€๐˜๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐˜„๐—ถ, kisah doa Farisi dan Pemungut Cukai

PENGANTAR
Farisi adalah satu faksi di dalam Yudaisme. Farisi merupakan partai politik, sebuah gerakan sosial, dan belakangan aliran pemikiran di antara orang-orang Yahudi yang berkembang pada masa Bait Suci Kedua atau pasca-pembuangan (536 SZB – 70 ZB). Reformasi yang dilakukan Yesus secara radikal menyulut perseteruan antara Yesus dan orang-orang Farisi. Di dalam kitab-kitab Injil disebutkan orang-orang Farisi selalu mencari celah untuk menjatuhkan Yesus. Namun Injil Lukas membedakan orang Farisi dari Injil lain. Diceritakan bahwa orang Farisi adalah lawan sekaligus kawan Yesus. Beberapa kali Yesus diundang makan oleh orang Farisi. Perbedaan paling mencolok dalam Injil Lukas adalah orang Farisi tidak melakukan persekongkolan membunuh Yesus. Bacaan secara diambil dari Injil Lukas 18:9-14. Bacaan Injil Minggu ini perikopnya diberi judul oleh LAI ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ค๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ช. Kutipan teks saya letakkan di bawah sesudah bagian Lampiran.
Sama seperti banyak perumpamaan Yesus yang beredar lepas tanpa konteks, perumpamaan di atas tampaknya juga seperti itu. Cerita utama perumpamaan itu berada di ayat 10-14a. Pengarang Injil Lukas memberi konteks pembuka di ayat 9 dengan mengarahkan pembacanya pada topik mengenai orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah orang lain. Ia menutup atau menyimpulnya di ayat 14b: “๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ." Penutup perumpamaan sebenarnya kurang ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ. Perumpamaan itu tidak berbicara mengenai orang yang direndahkan oleh Allah dan orang yang ditinggikan oleh Allah, melainkan tentang orang yang dibenarkan Allah dan orang yang tidak dibenarkan Allah (ay. 14a). Penginjil Lukas pernah menerapkan ucapan lepas Yesus tersebut (Lukas 18:14b) di Lukas 14:11. Ia menggunakannya dua kali, sedang penulis Injil Matius hanya sekali (Mat. 23:12). Ucapan lepas Yesus dari sumber “Q” itu ditempatkan dalam konteks narasi yang berbeda oleh kedua penulis Injil. Kita sudah menerima kitab Injil dalam bentuk akhir yang ada kalimat seperti ayat 14b. Di sini tampaknya Lukas hendak melengkapi bahwa doa orang yang rendah hati dibenarkan dan sekaligus ditinggikan oleh Allah. Dalam hal melakukan kewajiban agamawi tokoh pertama itu (orang Farisi) sebenarnya jauh lebih unggul daripada tokoh kedua (pemungut cukai). Apabila orang Farisi menganggap dirinya “tidak sama seperti semua orang lain”, ia tidak salah karena ia memang berbeda dari semua orang lain. Ia adalah orang benar (sering disebut juga anak Terang). Apa yang dikatakannya itu adalah apa yang dilakukannya. ๐˜“๐˜ฉ๐˜ข kalau ia tidak salah, mengapa tokoh kedua yang dibenarkan oleh Allah?

PEMAHAMAN 
Kalau kita melihat konteks yang dibuat oleh Lukas dalam pembuka perumpamaan ia menulis tentang orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain (Luk. 18:9). Lukas sudah mengarahkan penafsirannya di ayat 9. Dengan begitu pembaca berprapaham bahwa ucapan tokoh cerita di ayat 11-12 adalah cuplikan ucapan orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain. Tampaknya Lukas juga berbicara mengenai orang yang meninggikan diri akan direndahkan Allah dan orang yang merendahkan diri akan ditinggikan Allah (Luk. 18:14b).
Dasar hubungan dengan Allah bukanlah kebenaran yang dibangun oleh manusia, tapi kebenaran versi Allah. Hal itu diperikan melalui hubungan tokoh pertama dan Allah. “Kesalahan” tokoh pertama bukan terletak pada kesalehannya atau pada penilaian bahwa dirinya berbeda dari semua orang lain, melainkan pada cerapannya bahwa kesalehannya itu dapat menjadi dasar hubungannya dengan Allah. “Kesalahan” kedua, tidak ada sikap belas kasih kepada orang berdosa yang dianggap gagal memenuhi tuntutan Allah, tidak ada belas kasih artinya tidak ada keadilan, itu bukan kebenaran versi Allah. Tokoh pertama mengandaikan Allah berada di pihaknya dan Allah pasti menolak “semua orang lain” yang berdosa. 
Kedua “kesalahan” itu dikoreksi dengan komentar narator (Yesus) bahwa bukan tokoh pertama yang dibenarkan Allah, melainkan tokoh kedua (Luk. 18:14a). Tokoh kedua mengakui keberadaannya “๐˜›๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ค๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช ๐˜ซ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฉ-๐˜ซ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฉ, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ต, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข: ๐˜ ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช.” (ay. 13). Tampaknya Lukas juga mengusung teologi ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข ๐˜จ๐˜ณ๐˜ข๐˜ค๐˜ช๐˜ข, keselamatan adalah pemberian atau anugerah Allah, bukan prestasi agamawi. Apalagi untuk sebuah jabatan di pemerintahan, seharusnya bukan dilihat dari prestasi agamanya (mosok bisa masuk perguruan tinggi atau akademi hanya karena telah katam atau selesai bahkan hafal kitab suci .... Wk ..... Wk).  Saudara, mana yang perlu kita pelihara terlebih dahulu? Mendisiplin diri untuk rajin dalam karya bergereja dan menunjukkan tindakan-tindakan iman kita, atau memelihara hati, membereskan batin kita? Dari 
pemungut cukai kita belajar membenahi hati.  Pemazmur mengatakan, “Selidiki aku Tuhan, kenali hati dan batinku.” Tuhan ingin kita bersikap jujur, adakah yang perlu kita bereskan 
dan bersihkan? dalam hati kita, yang repot lebih banyak orang luka batin, blom selesai dengan dirinya, mencari jawab nya dengan karya bergereja, maka kekacauan yang terjadi, memang semua manusia rapuh, tapi terlebih dari manusia rapuh adalah manusia yang tahu diri. untuk hidup beriman dengan setia dan rendah hati, kita diajak untuk tidak meniru orang Farisi. Dalam kisah perumpamaan di kitab Lukas (Luk. 18:9-14), tampak orang Farisi terlihat begitu religius, namun nyatanya tidak memelihara imannya. Dari mana kita tahu bahwa dia tidak memelihara iman? Dari penilaian Yesus terhadap orang Farisi. Seorang 
pemungut cukai yang dicap sebagai orang berdosa, justru dengan rendah hati menyesali kesalahannya di hadapan Tuhan. Dari 
kedua contoh ini, kita belajar bahwa Tuhan melihat hati manusia, sebab dari dalam hati muncullah tindakan, tanpa topeng. 
Penulis Lukas dalam perikop ini mengulas pandangan Yesus tentang siapa orang yang benar di hadapan Allah. Cara yang Yesus lakukan adalah dengan membandingkan antara 
orang Farisi dengan pemungut cukai. Ilustrasi ini sangat cocok buat pembaca Lukas karena di masyarakat mereka saat itu, orang Farisi dianggap sebagai simbol rohani yang baik, sedangkan pemungut cukai dianggap sebagai simbol orang berdosa yang mengkhianati bangsanya, karena dia bekerja pada bangsa penjajah dengan menagih cukai/pajak dari bangsanya. Namun demikian, Yesus justru memberi penilaian terbalik. Buat Yesus, orang Farisi justru menunjukkan iman yang palsu dengan mempertontonkan ritual agamanya di depan banyak orang. Sementara pemungut cukai yang direndahkan dunia, dibenarkan karena merendahkan hatinya di hadapan Allah. Bagaimana cara memelihara iman kita dan keluarga? Kita perlu belajar dari pemungut cukai. Mereka memiliki keterbukaan diri dan kerendahan hati di hadapan Tuhan. 
Mereka merasa sebagai orang yang membutuhkan belas kasihan Tuhan. Sebaliknya, orang Farisi tidak rendah hati, tapi “menganggap diri benar dan memandang rendah orang lain”.Teolog N. T. Wright (1948M-sekarang), melihat bahwa perumpamaan ini mengajarkan kita tentang pentingnya 
senantiasa rendah hati di hadapan Tuhan siapa pun kita dan dalam hal apa pun yang kita lakukan, baik yang benar maupun yang salah. Di hadapan Tuhan, kita tidak perlu memberi opini 
atau menyatakan apa yang kita anggap benar. Tapi tiap-tiap, hari kita mengakui betapa lemah dan rendahnya kita di hadapan Tuhan, serta memohon belas kasihan Tuhan. Film Turning
Red, Film ini menceritakan seorang gadis berusia 13 tahun, Mei namanya yang memiliki 
orangtua atau ibu yang keras. Di akhir film ini Mei protes kepada ibunya tapi dia akhirnya berbaikan dengan ibu dan neneknya. Mei menerima kelemahan ibu dan neneknya sehingga mereka berpulih. Demikianlah cara memelihara iman kita dengan Tuhan. Kita perlu berpulih juga dalam relasi kita dengan 
keluarga dan Tuhan. Tidak berhenti berjuang dan tidak menyerah dalam titik kelelahan atas kerapuhan, kelemahan, dan ketidak sempurnaan keluarga. Ironisnya, banyak keluarga Kristen juga kurang memperhatikan iman anggota keluarganya. Mereka kurang mendukung perkembangan mental, emosi dan rohani di dalam keluarga. Buktinya, survei kesehatan mental di Indonesia menurut Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) di tahun 2022, menunjukkan bahwa di antara 
remaja Indonesia berusia 10 – 17 tahun, satu dari tiga remaja Indonesia memiliki masalah kesehatan mental. Lebih jauh dari itu, satu dari dua puluh remaja Indonesia memiliki gangguan 
mental dalam 12 bulan terakhir. Angka ini setara dengan 15,5 juta. Kesehatan mental, emosi dan rohani sangatlah penting buat perkembangan iman orang percaya. Peter Scazzero, dalam 
bukunya tentang “Kesehatan Emosi dan Spiritualitas”menegaskan bahwa kita tidak mungkin dewasa secara rohani jika kita tidak dewasa secara emosi. Karena emosi (perasaan), pikiran dan perilaku adalah bagian yang tidak terpisahkan dari mental, maka penting sekali kita memelihara dan mengembangkan kesehatan emosi (mental) kita bersamaan dengan kita memelihara iman kita. Jadi, bagaimana caranya agar kita dapat memelihara iman kita dan keluarga kita? dari bacaan Lukas 18 : 9-14, kita kali ini akan memberikan jawaban dari berbagai sudut pandang yang bisa memelihara iman kita bersama. Keluarga adalah Gereja terkecil dalam komunitas hidup orang percaya. Di dalam keluarga, anggota-anggota keluarga saling 
mendukung dalam kasih dan dalam perbuatan baik (Ibrani 10:24-25). Jika keluarga-keluarga Kristen saling memperhatikan perkembangan iman anggota keluarganya, maka setiap keluarga bisa menjadi kepanjangan tangan Tuhan untuk memancarkan sinar kasih-Nya buat dunia ini. Sebaliknya, jika tidak saling memperhatikan, maka iman kita tidak didukung untuk berkembang dan tidak peka atas kebutuhan orang lain. Contohnya seperti orang-orang Farisi yang berdoa di tengah kota, kita akan menjadi seorang Kristen yang rajin menjalani kebiasaan atau ritual sehingga justru menjadi batu sandungan 
buat sesama kita.


Cepogo, 22.10.2022 (TUS)
Lampiran

Kutipan ๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐˜€ ๐Ÿญ๐Ÿด:๐Ÿต-๐Ÿญ๐Ÿฐ (TB II, 1997)
๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ค๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ช
๐Ÿญ๐Ÿด:๐Ÿต Kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini:
๐Ÿญ๐Ÿด:๐Ÿญ๐Ÿฌ "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.
๐Ÿญ๐Ÿด:๐Ÿญ๐Ÿญ Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezina, dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;
๐Ÿญ๐Ÿด:๐Ÿญ๐Ÿฎ aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.
๐Ÿญ๐Ÿด:๐Ÿญ๐Ÿฏ Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.
๐Ÿญ๐Ÿด:๐Ÿญ๐Ÿฐ Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab siapa saja meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

Sudut pandang Injil Lukas tentang kekayaan, kisah ๐—ญ๐—ฎ๐—ธ๐—ต๐—ฒ๐˜‚๐˜€ dan pemimpin kaya (Lukas 18:18-27 dan 19:1-10)

Sudut pandang Injil Lukas tentang kekayaan, kisah ๐—ญ๐—ฎ๐—ธ๐—ต๐—ฒ๐˜‚๐˜€ dan pemimpin kaya (Lukas 18:18-27 dan 19:1-10)

PENGANTAR
"๐˜ž๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ด ๐˜บ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ต ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜บ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ด ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ต ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ช๐˜ง๐˜ฆ; ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ธ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฅ ๐˜ ๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ธ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ต ๐˜ช๐˜ด." Oscar Wilde

Fundamentalis Kristen selalu berkampanye dan mendaku diri paling alkitabiah. Segala ajaran mereka daku dari Alkitab yang mereka imani setiap kata di Alkitab berasal dari Allah yang tidak keliru.
Sebenarnya propaganda mereka itu omong kosong. Fundamentalisme pada dasarnya seleksi ayat, kata Prof. Gerrit Singgih (UKDW) demikian halnya Prof Yoas (STFT) bahkan alm Pendeta Eka Dharmaputera, dalam buku-buku bahkan jurnal yg mereka tulis. Mereka memilih ayat-ayat yang mendukung ideologi mereka dan sekaligus menutup mata pada ayat-ayat yang melawan ideologi mereka.
Kita lihat dengan mengajukan Injil Lukas 18:18-27 (atau paralelnya di Mat. 19:16-26) kepada kalangan fundamentalis. Dalam perikop Injil Lukas itu disebutkan ada seorang pemimpin sangat kaya bertanya kepada Yesus apa yang harus ia perbuat untuk mendapat hidup kekal. Ia mendaku sudah melakukan 10 Perintah Allah sejak muda. Jawab Yesus, “๐˜”๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ. ๐˜‘๐˜ถ๐˜ข๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐™จ๐™š๐™œ๐™–๐™ก๐™– ๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ ๐™–๐™ช๐™ข๐™ž๐™ก๐™ž๐™ ๐™ž ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช-๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ.” Ketika mendengar jawaban Yesus, orang itu menjadi amat sedih sebab ia sangat kaya.
Pembaca Injil Lukas dapat mengganti tokoh pemimpin sangat kaya itu dengan pemimpin gereja kaya atau orang kaya Kristen. Mereka mendaku, lewat tulisan dan khotbah mereka, segala ajaran mereka alkitabiah, didasari Alkitab. Jawab Yesus, “๐˜”๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ. ๐˜‘๐˜ถ๐˜ข๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐™จ๐™š๐™œ๐™–๐™ก๐™– ๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ ๐™–๐™ช๐™ข๐™ž๐™ก๐™ž๐™ ๐™ž ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช-๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ.” Apakah Tong dan Gilbert atau pemimpin gereja  yang kaya, pemimpin gereja dg mobil mewah berharga ratusan juta, pemimpin gereja yang di tangannya melingkar jam mewah berharga milyard, pemimpin gereja yang punya rumah mewah di kota lain, sudah menuruti perintah Yesus ini?
Seperti ditulis di atas fundamentalisme pada dasarnya seleksi ayat. Kalangan fundamentalis Kristen sangat boleh jadi (kalau bukan pasti) berkelit dengan menafsir perintah Yesus itu adalah kiasan atau metafor tentang hal mengikut Yesus, bukan perintah literal. 
Padahal ahli biblika yang paling “liberal” pun mengatakan itu perintah asli Yesus-Historis. Itu perintah literal Yesus, bukan metafor atau kiasan. Injil Lukas memuat banyak perintah asli Yesus-Historis dengan ciri radikal. Injil Lukas membuat standar sangat tinggi untuk mengikut Yesus. Injil Lukas memang “bukan kabar baik” bagi orang-orang yang status sosial mereka ditentukan oleh kekayaan.  Bacaan yang lain tentang sikap atas kekayaan diambil dari Lukas 19:1-10.
Orang Kristen pasti mengenal tokoh cerita khas Injil Lukas ini, Zakheus, yang menjadi bacaan Minggu ini. Cerita yang didapat sejak Sekolah Minggu ini sangat mudah dikisahkan ulang oleh orang Kristen. Zakheus orangnya pendek. Ia memanjat pohon untuk melihat Yesus. Bahkan mereka sangat hafal ucapan Yesus kepada Zakheus, “๐˜๐˜ข๐˜ช ๐˜ก๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ด, ๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ! ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฎ๐˜ถ!”
Zakheus (Indonesia) atau ฮ–ฮฑฮบฯ‡ฮฑแฟ–ฮฟฯ‚ (Grika) atau ื–ื›ื™‎, zaki (Ibrani) berarti ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ. Dapat juga Zakheus kita sebut ๐˜š๐˜ช ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ. Ironisnya Zakheus ini kepala pemungut cukai. Para pemungut cukai adalah najis dan musuh orang-orang Yahudi karena mereka dianggap antek Pemerintah Roma. Pemungut cukai adalah orang berdosa (Luk. 5:30; 7:34) dan sederajat dengan “perampok, orang lalim, dan pezina” (Luk. 18:11). Zakheus malah bos pemungut cukai sehingga ia orang najis kuadrat.

PEMAHAMAN
Kalangan jemaat Lukas mencerap orang kaya sukar masuk ke surga karena mereka sulit melepas kekayaannya (Luk. 6:24; 8:14; 12:16-21; 16:19-31; 18:18-25). Sudah saya berikan satu contoh dalam pembukaan di atas tentang pemimpin sangat kaya yang sangat berat melucut kekayaannya (Luk. 18:18-27). 
Dengan predikat kepala pemungut cukai dan status sosial orang kaya sudah tidak ada harapan bagi Zakheus untuk diselamatkan dari keberdosaannya. Zakheus sangat menyadari hal itu. Ia bersusah payah memanjat pohon tujuannya ๐˜€๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ “untuk melihat Yesus itu kayak apa sih?” (Luk. 19:3). Tujuan Zakheus ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป untuk mencari hidup kekal seperti pemimpin sangat kaya di atas. Tujuan Zakheus juga ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป untuk mendapat pengampunan seperti perumpamaan tentang pemungut cukai yang datang ke Bait Allah dan memohon, “๐˜ ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช” (Luk. 18:13). 
Tidak diduga oleh Zakheus ternyata Yesus melihat dirinya di atas pohon, meskipun banyak orang di sekeliling Yesus. Yesus bahkan mengenal namanya, walaupun mereka belum pernah bersua. Tak hanya itu Yesus bahkan “harus” menumpang di rumahnya (Luk. 19:5). Zakheus langsung menyambutnya dengan sukacita (Luk. 19:6), tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "๐˜๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข." (Luk. 19:7).
Zakheus kemudian berkata kepada Yesus, "๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต."(Luk. 19:8). Apakah Zakheus mau membagi setengah dari hartanya kepada orang miskin karena ingin mendapat hidup kekal? Sama sekali tidak. Bukan itu saja, Zakheus berjanji ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐˜๐—ฎ ia pernah memeras orang, ia akan mengembalikannya empat kali lipat. Tidak ada teks tanya-jawab mengenai hidup kekal yang mendahuluinya. Tampaknya Zakheus memberikan setengah harta miliknya karena ia begitu senang dan sukacita melihat Yesus menumpang di rumahnya. Tidak ada maksud lain.
Bayangkanlah tiba-tiba mobil rombongan Presiden  berhenti di depan rumah kita. Presiden turun dari mobil, berjalan menuju rumah anda, menyapa nama kita. Lalu Presiden bilang bahwa ia mau duduk sebentar di rumah kita. Apa respon anda? Tidak berpikir lama kita pastilah mengeluarkan suguhan terbaik dan terenak bagi Presiden tanpa pernah kita berpikir Presiden akan membalas kita.
Demikian juga halnya Zakheus. Tanpa dinyana oleh Zakheus, Yesus menanggapi Zakheus dan mengganjarnya, "๐˜๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ช๐˜ด๐˜ช ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ˆ๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜”๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ." (Luk. 19:9-10). Bukan hanya Zakheus yang mendapat ganjaran, melainkan juga seisi rumahnya yang sudah barang tentu termasuk semua pekerja rumahnya. Padahal yang dibagi-bagikan kepada orang miskin “hanya” setengah milik Zakheus, bukan semuanya, dan sekali lagi Zakheus sama sekali tidak berpikir akan mendapat ganjaran. Betapa berbahayanya seseorang jika tidak tahu bahkan tidak mau tahu, konsekuensi dari segala perbuatannya. Oleh karena itu sangat diperlukan kesediaan untuk memberi diri diubah dan dimurnikan oleh Cinta menjadi pribadi 
yang lebih baik. Sehingga pada akhirnya Tuhan sendiri yang akan menyempurnakan segala ucapan dan perbuatan kita agar berdampak
baik dan menjadi saluran berkat bagi sesama dan segala ciptaan. Cinta Tuhan merestorasi kehidupan, itulah yang terjadi pada 
Zakheus yang menerima cinta Tuhan. sebagaimana arti nama Zakheus yang berasal dari bahasa Ibrani ื™ַื›ַื– - ZAKAI, artinya, murni/ tahir. Perjumpaannya dengan Cinta Yesus merestorasi Zakheus yang sebelumnya dikotori oleh orientasinya yang hanya mementingkan diri sendiri dengan ketamakan dan keserakahan. 
Kemudian direstorasi atau dikembalikan, diperbaiki, diubah dan dipulihkan kepada kondisi yang “murni” baik. Sehingga menjadi 
berorientasi pada kepedulian akan sesama.
Bacaan Injil Lukas ini tampaknya hendak mengatakan bahwa orang kaya ideal menurut petulis Injil Lukas adalah yang berinisiatif menolong orang miskin, korban pemerasan, korban bencana, tanpa pernah berpikir atau mengharapkan pamrih atau imbal balik apapun bahkan sekedar kata WOOOOWWW KEREN dari sesama, bahkan tersirat bahwa petulis Injil LUKAS bahwa orang menjalani jalan teladan Kristus, berteriak WWWWWOOOOOOWWW KEREN atau terkesima atau  melongo atas kekayaan orang lain bahkan sumbangan atau persembahan orang kaya Kristen karena konsep ajaran keteladanan Kristus tidak seperti itu, itupun jadi beda dengan menyumbang karya bergereja. Repot nya lagi, sering orang kaya kristen menjadi madu yang dikerumuni sesama kristennya hanya karena ingin madunya. Bukan seperti pemimpin sangat kaya yang merasa sudah menjalankan 10 Perintah Allah, bukan seperti pemimpin gereja kaya yang mendaku paling alkitabiah karena kata Yesus, “๐˜”๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ. ๐˜‘๐˜ถ๐˜ข๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐™จ๐™š๐™œ๐™–๐™ก๐™– ๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ ๐™–๐™ช๐™ข๐™ž๐™ก๐™ž๐™ ๐™ž ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช-๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ.” Injil LUKAS bukan kabar baik untuk orang Kristen Kaya yang tidak mau berbagi dengan orang miskin ... Wk .... Wk๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™. Dari kisah ini kita belajar bahwa sesungguhnya kita diciptakan “sungguh amat baik” artinya setiap manusia memiliki potensi kebaikan itu, hanya saja kehidupan dan kebiasaan terkadang mengotori diri kita sehingga kemurnian dari kebaikan itu tertutupi. Sama seperti Zakheus yang berorientasi pada diri sendiri, kita pun juga sering demikian. Kita hanya mementingkan diri sendiri, berambisi memuaskan keserakahan kita dengan berbagai cara, menumpuk kekayaan sebanyak mungkin tanpa peduli ada yang kita rugikan dan eksploitasi. Kini kita diajak untuk menerima Cinta Tuhan agar kita pun juga bisa dimurnikan, diubah, direstorasi menjadi lebih baik.Yang perlu menjadi permulaan dari segala perubahan itu adalah bagaimana kita menerima dan menyambut cinta Yesus dengan sepenuh hati. Seperti Zakheus yang menerima dan menjamu Kristus, memperlakukannya dengan begitu istimewa. Terkadang kita justru menjadi pribadi yang menyepelekan Kristus dan Cintanya, menganggap biasa dan lumrah. Sehingga kita tidak merasakan setiap perjumpaan kita dengan Kristus itu istimewa dan serius, akhirnya penerimaan kita kepada Cinta-Nya pun menjadi terkesan hanya sekedar rutinitas dan biasa saja. Sebagai contoh dalam ibadah apakah kita sungguh menyambut-Nya sejak awal prosesi Alkitab masuk ke ruang ibadah, sebagai tanda kehadiran-Nya? Apakah kita memiliki antusias Zakheus dalam menyambut Kristus? Jika dalam hal ibadah saja kita tidak memiliki antusias, penyambutan dan penerimaan seperti Zakheus; maka tentu sulit bagi kita untuk merasakan Cinta-Nya dalam keseharian kita, yang kemudian tentu kita juga menjadi sulit berupaya membaharui hidup kita untuk semakin baik dan semakin dimurnikan. “We are dangerous when we are not conscious of our responsibility for how we behave, think, and feel”. Betapa berbahayanya seseorang jika tidak tahu bahkan tidak mau tahu, konsekuensi dari segala perbuatannya. Oleh karena itu sangat diperlukan kesediaan untuk memberi diri diubah dan dimurnikan oleh Cinta menjadi pribadi yang lebih baik. Sehingga pada akhirnya Tuhan sendiri yang akan menyempurnakan segala ucapan dan perbuatan kita agar berdampak baik dan menjadi saluran berkat bagi sesama dan segala ciptaan.

Cepogo, 29.10.2022 (TUS)

Jumat, 14 Oktober 2022

Sudut Pandang Lukas 17:11-19 ๐—ข๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟiman ๐˜๐—ฎ๐—ธ tau ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—บ๐—ฎ ๐—ธ๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—ต

Sudut Pandang Lukas 17:11-19 ๐—ข๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟiman ๐˜๐—ฎ๐—ธ tau ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—บ๐—ฎ ๐—ธ๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—ต

Dalam dunia Alkitab dikisahkan orang-orang Yahudi memusuhi orang-orang Samaria. Padahal sebelumnya mereka adalah satu negara. Mengapa?
Pada masa Raja Daud dan Salomo cakupan Kerajaan Israel Bersatu (KIB) adalah gabungan Kerajaan Yehuda dan Kerajaan Israel Utara. Kota atau wilayah utama Israel Utara adalah Samaria. Pusat KIB adalah Yerusalem di wilayah Yehuda. Pada 721 ZB Kerajaan Israel Utara takluk pada Asiria (atau Asyur) dan tinggal Kerajaan Yehuda yang masih bertahan. Rakyat Israel Utara bercampur baur dengan orang-orang Asiria sehingga sejalan dengan waktu sudah sulit menampakkan jatidiri mereka. Inilah satu penyebab belakangan orang-orang Yahudi membenci orang-orang Samaria. Namun pada masa itu belum ada istilah Yahudi.
Istilah Yahudi baru menyembul pada masa pembuangan, ketika warga Kerajaan Yehuda kalah perang lalu dibuang ke Babilonia pada 587 SZB. Yahudi merujuk orang-orang Yehuda di Babilonia. Yerusalem jatuh ke tangan Nebukadnezar. Bait Allah, pusat kultus agama Kerajaan Israel Bersatu yang dibangun oleh Raja Salomo, dihancurkan. 
Masa pembuangan (586 – 538 SZB ) adalah yang terburuk sepanjang sejarah Israel. Bait Allah, yang merupakan kediaman Yahweh di bumi, dihancurkan. Yahweh yang adalah kultus dewa paling super ditundukkan oleh Nebukadnezar. Para imam yang ikut diangkut ke Babilonia menenangkan orang-orang Yehuda. Yahweh mereka tidaklah kalah, melainkan Yahweh sedang menghukum Yehuda karena Yehuda sudah berselingkuh. Perselingkuhan Yehuda tampak pada tindakan Manasye, Raja Yehuda, membiarkan Bait Allah diisi dengan simbol-simbol dewa-dewa Asiria. Juga ketidakadilan para penguasa kepada rakyat Yehuda (lih. Kitab Yeremia).
Babilonia pada akhirnya juga takluk dari Persia dengan rajanya Koresh. Berbeda dari penguasa sebelumnya, Koresh memberikan otonomi terbatas kepada Kerajaan Yehuda. Satu alasannya adalah wilayah Persia yang sangat luas antara Grika di barat dan Sungai Indus di India Timur sehingga untuk mengendalikan wilayah yang sangat luas itu Koresh memberikan otonomi terbatas bagi wilayah taklukannya termasuk Yehuda. Ini dimaksudkan agar para imam dapat menciptakan ketertiban kehidupan di Yerusalem. Sesbazar adalah orang pertama yang memimpin delegasi orang-orang Yehuda kembali ke Yerusalem (lih. Syenasar dalam 1Taw. 3:17-18).
Oleh karena mendapatkan otonomi terbatas bangsa Yehuda menjadi leluasa menjalankan kehidupan beragama. Puncaknya ialah pembangunan ulang Bait Allah (atau Bait Allah II). Sebagai pusat kehidupan Yehuda secara sosio-politik, ekonomi, dan tentu saja agama membuat peran Bait Allah II makin penting. Pada masa inilah ke-Yahudi-an (Yudaisme) menjadi suatu gaya hidup baru yang berbeda dari keagamaan sebelumnya. Ke-Yahudi-an masa pasca-pembuangan merupakan campuran antara kehidupan beragama dan sosio-politik serta ekonomi dengan imam yang terpusat menggantikan peran raja. Orang-orang dari bekas Kerajaan Israel Utara termasuk Samaria tidak masuk atau tidak dianggap dalam ke-Yahudi-an karena keturunan mereka sudah bercampur baur dengan orang-orang kafir.
Minggu ini bacaan dari Lukas 17:11-19. Dalam bacaan Injil Lukas Minggu ini sorotan ceritanya sebenarnya sederhana: ada 10 orang kusta disembuhkan Yesus, tetapi hanya satu orang yang kembali untuk berterima kasih. Namun karena pengarang Injil Lukas adalah pencerita ulung, maka rincian cerita dibuat rumit.
Dikisahkan dalam perjalanan Yesus ke Yerusalem Ia menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah 10 orang kusta menemui-Nya. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!" Yesus kemudian memandang mereka dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." 
Untuk diketahui bahwa orang-orang kusta, baik orang Yahudi maupun Samaria, dianggap najis sehingga tidak boleh bersentuhan dengan masyarakat. Mereka umumnya tinggal di pinggir kota atau di luar tembok kota. Itu sebabnya dalam narasi di atas disebut bahwa mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak kepada Yesus. Atas permintaan mereka Yesus menjawab, "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Mengapa? Jika mereka disembuhkan, kesembuhan mereka harus dibuktikan di hadapan imam dan mereka harus mengikuti ritual penahiran (lih. Imamat 13-14).
Sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?" 
Yesus kemudian berkata kepada orang Samaria itu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐˜๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—บ๐˜‚." (Luk. 17:19)
Hal sangat penting dalam cerita sederhana itu bukan karena hanya satu orang yang kembali dan mengucap syukur, tetapi satu orang yang kembali itu justru orang Samaria yang oleh orang Yahudi dianggap orang asing, bukan sesama Yahudi, bukan sesama manusia. Sebelumnya penginjil Lukas sudah memberikan perumpamaan Yesus tentang “Orang Samaria yang baik hati” (Lukas 10:25-37).
Kontras antara sembilan orang Yahudi dan satu orang Samaria itu diungkapkan Lukas melalui tiga pertanyaan retorik Yesus (ay. 17-18):
• Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? 
• Di manakah yang sembilan orang itu?
• Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?
Kesepuluh orang beriman itu sama-sama sembuh. Namun hanya satu yang mengalami keselamatan holistik atau seutuhnya seperti dinyatakan dalam ucapan penutup cerita: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐˜๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—บ๐˜‚ engkau” (Luk. 17:19). Orang Samaria itu tidak sekadar sembuh, tetapi juga selamat.
Dalam Lukas 17 lalu kita membahas “iman kecil yang cukup untuk mengerjakan tugas dan kewajiban gereja” (Luk. 17:1-6). Bacaan Lukas hendak menambahkan bahwa iman jemaatnya juga seharusnya cukup untuk memampukan mereka mengucap syukur kepada Allah yang sudah berkarya melalui Yesus (ay. 16). Mengucap syukur kepada Yesus berarti memuliakan Allah (ay. 18). Lukas di sini hendak mengatakan bahwa orang kafir saja tahu berterima kasih, ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฌ orang beragama atau beriman tidak bisa? Kontras. Iman memang diperagakan, bukan di ukur. Demikian halnya, dalam hidup berkeluarga. Keluarga adalah gereja rumah tangga, seperti juga hidup adalah sebuah perjalanan keselamatan menurut pokok ajaran GKJ, maka keluarga pun akan menghadapi suka duka, bahagia sedih, dalam sebuah perziarahan hidup, dua sisi dalam satu mata koin yang tidak bisa dihindari, tetapi tetap bisa disyukuri apapun keadaannya, karena rasa syukur itu tumbuh dalam keyakinan keluarga bahwa Allah setia, Kristus beserta keluarga apapun keadaannya. Penyertaan Tuhan, yang merupakan janji setia Tuhan yang tak akan pernah diingkarinya itu yang keluarga syukuri, bukan kedukaan atau kesukaannya, bukan kebahagiaan atau kesedihannya (lihat 9 orang yang berbahagia karena sembuh ternyata tidak bisa bersyukur, jadi bersyukur bukan karna bahagia sedih atau suka duka nya), tapi kehadiran Allah dalam tiap kondisi keluarga (suka duka, bahagia sedih) kita itu yang seharusnya kita syukuri, itulah gereja rumah tangga. Kemampuan bersyukur itulah ciri atau karakteristik gereja rumah tangga, keluarga.Roma 8:28 (TB)  Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.




Cepogo, 07/10/22 (TUS)

Sudut Pandang LUKAS 18:1-8, ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฝ๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—บ ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—บ, doa tak jemu atau pantang menyerah dan tak henti juang

Sudut Pandang LUKAS  18:1-8, ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฝ๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—บ ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—บ, doa tak jemu atau pantang menyerah tak henti juang

PENGANTAR
๐˜‹๐˜ฐ๐˜ฏ’๐˜ต ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜จ๐˜ฆ ๐˜ฎ๐˜ฆ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ช๐˜จ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฆ!” ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ฏ.
Dalam dunia peradilan dikenal adagium: Lebih baik membebaskan orang bersalah daripada memenjarakan orang tak bersalah. Ada lagi adagium yang jarang dikenal umum: Lebih baik hakim cerdas yang menerima hadiah daripada hakim jujur yang bodoh. Bacaan diambil dari Lukas 18:1-8. Bacaan Lukas 18:1-8 Minggu ini kembali membahas perumpamaan Yesus. Alkitab LAI TB (1974) memberi judul perikop “๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฎ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ”, sedang TB II (1997) berjudul “๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฎ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ญ”. Kutipan teks saya letakkan lampiran.
Menurut para ahli perumpamaan Yesus dalam bacaan ini merupakan perumpamaan lepas yang tidak diketahui konteksnya. Perumpamaan yang beredar lepas itu dalam ayat 2-5. Para ahli menduga kuat perumpamaan itu adalah asli dari Yesus historis karena sangat lekat dengan ciri-cirinya.
Ciri pertama, Yesus suka mengangkat tokoh negatif di lingkungan masyarakat Yahudi. Misal, perumpamaan orang Samaria yang baik hati. ๐˜”๐˜ฐ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฌ orang Samaria yang dinajiskan menjadi teladan?
Dalam perumpamaan Minggu ini juga janggal karena tokoh utamanya bukan tokoh yang layak diteladani secara moral. Tokoh utamanya adalah hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Karakter buruknya sangat ditekankan dengan menyebutkannya dua kali di ayat 2 dan 4.
Ciri kedua adalah tradisinya yang kuat. Perumpamaan ini masih beredar di dalam Jemaat Lukas sesudah Bait Allah II dihancurkan oleh Jenderal Titus (bukan aku loh .... Wk ..... Wk ..) dari Roma pada 70 ZB. Penulis Injil Lukas kemudian memasukkan perumpamaan itu ke dalam buku Injilnya untuk diberi konteks dan dibatasi penafsirannya. Konteks Lukas seperti ditulisnya di pembukaan (ay. 1) dan penutup (ay. 6-7).
Lukas membuka perumpamaan dengan pengantar untuk berdoa tanpa jemu-jemu (ay. 1). Di penutup Lukas (ay. 6-7) membandingkan hakim tak adil itu dengan Allah yang tentunya adil. Janda yang berposisi sangat lemah secara sosial dan ekonomi dianalogikan sebagai “orang-orang pilihan” Allah yang siang malam berseru memohon pertolongan Allah.
Lukas tidak menjelaskan apa isi atau pokok doa. Yang menjadi pumpun Lukas adalah berdoa tanpa jemu-jemu. Pantang pulang sebelum padam, kata pasukan pemadam kebakaran.
Kalau kita telisik lebih dalam, isi perumpamaan (ay. 2-5) tidak membicarakan doa, melainkan ๐—ธ๐—ฒ๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ป. Janda itu tidak banyak menuntut. Ia hanya ingin keadilan. “Belalah hakku terhadap lawanku.” kata janda itu (ay. 3). Bahasa aslinya adalah แผ˜ฮบฮดฮฏฮบฮทฯƒฯŒฮฝ ฮผฮต แผ€ฯ€แฝธ ฯ„ฮฟแฟฆ แผ€ฮฝฯ„ฮนฮดฮฏฮบฮฟฯ… ฮผฮฟฯ… yang oleh NRSV diterjemahkan “๐˜Ž๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ ๐™Ÿ๐™ช๐™จ๐™ฉ๐™ž๐™˜๐™š ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ด๐˜ต ๐˜ฎ๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต”. Hakim pun mengabulkannya “baiklah aku membenarkan dia” (ay. 5). Bahasa aslinya adalah แผฮบฮดฮนฮบฮฎฯƒฯ‰ ฮฑแฝฯ„ฮฎฮฝ. NRSV menerjemahkannya “๐˜ ๐˜ธ๐˜ช๐˜ญ๐˜ญ ๐˜จ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ณ ๐™Ÿ๐™ช๐™จ๐™ฉ๐™ž๐™˜๐™š”.
Dalam bagian penutup (ay. 7-8) Lukas tetap memasukkan gatra keadilan. “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya?” (ay. 7) yang bahasa aslinya แฝ ฮดแฝฒ ฮ˜ฮตแฝธฯ‚ ฮฟแฝ ฮผแฝด ฯ€ฮฟฮนฮฎฯƒแฟƒ  ฯ„แฝดฮฝ แผฮบฮดฮฏฮบฮทฯƒฮนฮฝ ฯ„แฟถฮฝ แผฮบฮปฮตฮบฯ„แฟถฮฝ ฮฑแฝฯ„ฮฟแฟฆ ฯ„แฟถฮฝ ฮฒฮฟฯŽฮฝฯ„ฯ‰ฮฝ ฮฑแฝฯ„แฟท แผกฮผฮญฯฮฑฯ‚ ฮบฮฑแฝถ ฮฝฯ…ฮบฯ„ฯŒฯ‚, yang diterjemahkan oleh NRSV menjadi “๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜ธ๐˜ช๐˜ญ๐˜ญ ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ต ๐˜Ž๐˜ฐ๐˜ฅ ๐˜จ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต ๐™Ÿ๐™ช๐™จ๐™ฉ๐™ž๐™˜๐™š ๐˜ต๐˜ฐ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ด ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด ๐˜ธ๐˜ฉ๐˜ฐ ๐˜ค๐˜ณ๐˜บ ๐˜ต๐˜ฐ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜ฏ๐˜ช๐˜จ๐˜ฉ๐˜ต?”. Ayat 8: “Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka.” Bahasa aslinya ฮปฮญฮณฯ‰ แฝ‘ฮผแฟ–ฮฝ แฝ…ฯ„ฮน ฯ€ฮฟฮนฮฎฯƒฮตฮน ฯ„แฝดฮฝ แผฮบฮดฮฏฮบฮทฯƒฮนฮฝ ฮฑแฝฯ„แฟถฮฝ แผฮฝ ฯ„ฮฌฯ‡ฮตฮน yang diterjemahkan oleh NRSV menjadi “๐˜ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ญ ๐˜บ๐˜ฐ๐˜ถ, ๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ธ๐˜ช๐˜ญ๐˜ญ ๐˜ฒ๐˜ถ๐˜ช๐˜ค๐˜ฌ๐˜ญ๐˜บ ๐˜จ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต ๐™Ÿ๐™ช๐™จ๐™ฉ๐™ž๐™˜๐™š ๐˜ต๐˜ฐ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฎ”.

PEMAHAMAN
Penulis Lukas sebenarnya sadar bahwa isi dan topik perumpamaan Yesus di atas menyoal keadilan. Akan tetapi Lukas menggunakan perumpamaan tersebut untuk menggembalakan jemaatnya yang sedang dalam krisis iman. Mengapa saya menduga jemaat Lukas krisis iman?
Kitab tertua dalam Perjanjian Baru (PB) adalah Surat Pertama Paulus kepada Jemaat di Tesalonika (1Tes.) yang ditulis sekitar tahun 50-an ZB. Dalam surat itu Paulus mengatakan bahwa kedatangan Yesus kembali (๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข) segera terjadi pada saat mereka (Paulus dan Jemaat Tesalonika) masih hidup. Ajaran Paulus ini cukup kuat menyebar termasuk ke Jemaat Lukas. Celakanya sampai Paulus mati dan Bait Allah dihancurkan, ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข tidak terjadi. Ini membuat Jemaat Lukas mengalami krisis iman.
Itulah sebabnya penulis Injil Lukas membuka perumpamaan dengan berdoa tanpa jemu-jemu (ay. 1) dan menutupnya dengan “Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?" (ay. 8b). ๐˜—๐˜ข๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข pasti terjadi, kata Lukas, tetapi masih lama. Kita tidak pernah tahu kapan itu terjadi dan bisa saja datang tiba-tiba (๐˜ฃ๐˜ฅ๐˜ฌ. Luk. 12:40). Berdoa tanpa jemu-jemu bukanlah tindakan sia-sia. Hakim yang tak adil saja memberi keadilan bagi kita setelah terus didesak, ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฌ Allah yang adil tak mendengar doa kita? Begitulah kira-kira maksud Lukas. Dalam konteks menjawab kedatangan kembali Yesus yang dinantikan umat Lukas, pengharapan tetap ditumpukan pada doa dg pemahaman waktunya tetap di tangan Allah, pasti kembali Yesus, tapi waktunya di tangan Allah, doa menjadi kekuatan untuk berjaga-jaga bagi umat Lukas. Sebetulnya hal yang sama disampaikan oleh Injil Matius dan Markus dalam bahasa yang lebih lugas, Matius 24:36 (TB)"Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, bahkan malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri." Markus 13:32 (TB)
"Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, tidak juga malaikat yang di sorga dan tidak juga Anak, tetapi hanya Bapa."  Memang petulis Injil, membuat tulisan untuk menjawab permasalahan dalam surat-surat (termasuk di dalamnya surat-surat Paulus). Nah, tafsir di atas cukup kuat, tapi ada kelemahan, mengambil point soal doa tak jemu bisa disalah mengerti oleh umat, doa yang memaksa Tuhan, membuat umat merasa jadi lebih Tuhan daripada Tuhan, karena bisa mendesak Tuhan,kalau hakim jahat saja mengabulkan permohonan bila didesak, apalagi Tuhan, walaupun konteksnya adalah dalam rangka kedatangan Yesus kembali, yg tak beda dg konsep berjaga-jaga, waspada, dlsb. Ada sudut pandang lain dalam tafsir ini, Lukas bab 17-18, adalah sudut pandang petulis Injil  Lukas tentang konsep Allah yg merangkul yg tersingkirkan, dan kritisi atas penindasan yg kuat pada yang lemah. Yang tersingkirkan serta dianggap berdosa adalah pemungut cukai dan orang Samaria, yang menindas adalah kaum farisi, saduki, dan agamawan. Ini, juga dikarenakan petulis Injil Lukas menujukan pada pendengar non Yahudi, pendengar diluar lingkaran keyahudian. Pemungut cukai di gambarkan sebagai janda yang tidak kenal menyerah dan tidak berhenti berjuang, kenapa begitu? Karena pemungut cukai adalah orang yang terjepit posisinya, pemungut cukai didesak target pajak oleh penjajah Romawi, karena bagi penjajah Romawi hina untuk menarik pajak dari jajahan karena merasa sebagai bangsa yg lebih besar dan berkuasa, maka harus bangsa yg dijajah itu sendiri yg menarik pajak dari bangsanya untuk Romawi, sedangkan di sisi yang satu mereka dikutuk habis-habisan oleh bangsanya utamanya kaum agamawan sebagai orang berdosa karena menarik pajak bangsanya untuk penjajah Romawi. Pemungut cukai adalah orang-orang yang terjepit, orang yang tersingkirkan oleh dua pihak dimana mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk melawan. Pemungut cukai TIDAK MENYERAH dan TIDAK BERHENTI BERJUANG atas keadaan mereka, mereka mendekat ke Yesus, dan Kristus menerima mereka, mereka mendapatkan kelegaan dengan pertobatan mereka, mereka diterima Kristus. Pemungut cukai bukan orang terjepit lagi, bukan orang tersingkirkan, bukan pendosa bagi Kristus, karena TIDAK MENYERAH dan TIDAK BERHENTI BERJUANG dalam keadaan mereka, pemungut cukai mendapat kelegaan dari Kristus atas pertobatan mereka. Dalam kehidupan berkeluarga tidak berhenti berjuang atas kerapuhan dan kelemahan serta ketidak sempurna an keluarga kita, bermakna kesungguhan dan kesediaan menerima kehadiran Allah untuk berdaulat atas kehidupan keluarga. Pimpinan dan perlindungan Allah yang menuntun keluarga Kristen terus berjuang,    jaminan keamanan dan ketenangan dalam perjuangan. Allah atau Kristus tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti berjuang atas kerapuhan, kelemahan dan ketidak sempurna an manusia. Dalam kehidupan keluarga, pantang menyerah bermakna spiritualitas juang dan mentalitas tahan uji dalam kehidupan keluarga Kristen yang bersandar dan mengandalkan Tuhan. Kelemahan atau kelelahan, bukan alasan untuk rendah diri, dan kegagalan bukan dalih untuk putus harapan. Setiap pergumulan justru menjadi kesempatan untuk bertumbuh lebih kuat dan mempersaksikan iman yang menjadi berkat bagi banyak orang, lelah dan lemah itu manusiawi, wajar sebagai manusia, tapi di titik kelemahan dan kelelahan kita, kita tidak pernah menyerah atau berhenti berjuang atas kerapuhan, kelemahan dan ketidak sempurnaan keluarga kita, di titik kelemahan dan kelelahan kita, kita tidak pernah berhenti berjuang dan tidak menyerah untuk meragakan kemurahan hati Allah.Tak Lelah Meragakan Kemurahan Hati Allah. Cukup menggelitik, kata TAK LELAH yg menunjukan kita tidak memanusiakan manusia, kita tidak manusiawi thp sesama kita, masak manusia tidak boleh lelah? Masak manusia tidak boleh beristirahat, Tuhan saja beristirahat saat penciptaan, selama dia manusia maka pada satu saat dia akan kelelahan, lelah adalah salah satu kondisi yang melekat pada manusia, kondisi wajar sebagai manusia, menempatkan sesama manusia pada kondisi TAK LELAH, bearti menempatkan sesama kita pada kondisi tidak manusiawi, mana ada satu saja manusia di dunia ini yang tidak pernah merasa lelah? suatu kewajaran kalau sesama kita itu merasa lelah, selama masih manusia maka lelah adalah suatu keniscayaan, sudah dari sono nya, Ayat Alkitab yang nyeritain Allah istirahat setelah penciptaan ada di Kejadian 2:2-3:  
_"Pada hari ketujuh Allah menyelesaikan pekerjaan-Nya yang telah dibuat-Nya itu; lalu Ia berhenti pada hari ketujuh dari segala pekerjaan-Nya yang telah dibuat-Nya itu."_  
Kata "berhenti" di Kejadian 2:2-3 dari bahasa Ibrani shavat (ืฉָׁื‘ַืช) bermakna "berhenti" atau "menghentikan pekerjaan." Karena kata ini juga dipakai untuk Sabat, yang memang hari istirahat, maka "berhenti" di sini bisa diartikan sebagai beristirahat dengan makna istirahat yang disengaja untuk pemulihan dan penghormatan. Kelelahan itu suatu kewajaran yangbharus diakui sebagai manusia, tetapi respon bermartabat apa? Apa yang akan kita lakukan saat ada di titik kelelahan atas kerapuhan, kelemahan dan ketidak sempurnaan keluarga kita? Respon bermartabat apa yang harus kita lakukan di saat kita ada dalam titik lelah atau titik jenuh atas kerapuhan, kelemahan dan ketidak sempurnaan keluarga kita? Respon bermartabatnya adalah tidak menyerah dan tidak berhenti berjuang atas kerapuhan, kelemahan dan ketidak sempurnaan keluarga kita, kemampuan untuk tidak menyerah atau tidak berhenti berjuang atas kerapuhan, kelemahan dan ketidak sempurnaan keluarga kita, tidak bisa datang tiba-tiba, tetapi harus dilatih sejak dini dan sedikit demi sedikitDalam 1 Korintus 9 : 24-27, Paulus mendorong untuk melatih diri kita, demikian halnya melatih keluarga kita, seperti yang mudah saja, melatih diri untuk pillow talk (membiasakan sebelum tidur saling bicara, selain berdoa bersama), selalu berusaha melatih diri untuk punya waktu dan hadir bagi keluarga, melatih diri untuk mendengar yg lain, melatih diri untuk tidak nyolot saat bicara dalam keluarga, melatih diri untuk selalu berusaha melihat sisi - sisi positif lain dalam diskusi keluarga, melatih diri untuk tidak membentak, melatih diri untuk terbiasa mengucapkan terima kasih dan maaf, dlsb, bisa menjadi diskusi menarik seperti di bulan keluarga ini. Tapi, dalam kehidupan berkeluarga ketika kita menghadapi terus menerus kenyataan yg berbeda, wajar kah kita lelah? Wajarkah ada saatnya kita lelah atas kerapuhan dan  kelemahan serta ketidak sempurna an keluarga kita? Apa yang harus kita latih dalam kehidupan keluarga kita, ketika kita sampai pada titik kelelahan atas kerapuhan, kelemahan dan ketidak sempurna an keluarga kita? Melatih diri kita untuk tidak gampang menyerah dan tidak berhenti berjuang atas kerapuhan, kelemahan dan ketidak sempurnaan keluarga kita, di sini kita tidak bicara uang atau materi bagi keluarga kita, tetapi bicara kehadiran dan komunikasi dalam keluarga kita. Sangat wajar, lelah itu bagian dari kemanusiaan, bukan manusia kalau tidak pernah lelah. Manusia pasti ada kalanya pada satu titik akan pernah saja mengalami kelelahan, mendorong sesama kita untuk tidak lelah, tidak memiliki rasa lelah, sama saja tidak memanusiakan sesama kita. Tapi, Kristus meneladankan bahwa Kristus tidak pernah menyerah dan tidak berhenti berjuang atas kerapuhan, kelemahan dan ketidak sempurnaan manusia, bahkan Kristus turut merapuh bersama manusia, maka respon bermartabat kita, saat kita berada dalam titik kelelahan kita atas kerapuhan, kelemahan dan ketidak sempurnaan keluarga kita adalah melatih diri kita untuk tidak menyerah serta tidak berhenti berjuang atas kerapuhan, kelemahan dan ketidak sempurnaan keluarga kita, itulah meragakan kemurahan hati Allah.


Lapangan Pancasila, 15.10.22 (TUS)

Lampiran :

Kutipan ๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐˜€ ๐Ÿญ๐Ÿด:๐Ÿญ-๐Ÿด (TB II, 1997)
๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฎ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ญ 
๐Ÿญ๐Ÿด:๐Ÿญ Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tanpa jemu-jemu.
๐Ÿญ๐Ÿด:๐Ÿฎ Kata-Nya: "Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun.
๐Ÿญ๐Ÿด:๐Ÿฏ Di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku.
๐Ÿญ๐Ÿด:๐Ÿฐ Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun,
๐Ÿญ๐Ÿด:๐Ÿฑ namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku."
๐Ÿญ๐Ÿด:๐Ÿฒ Kata Tuhan: "Perhatikanlah apa yang dikatakan hakim yang tidak adil itu!
๐Ÿญ๐Ÿด:๐Ÿณ Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Apakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?
๐Ÿญ๐Ÿด:๐Ÿด Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?"

Sudut Pandang Dalam Nama Yesus

Sudut Pandang Dalam Nama Yesus