Sabtu, 24 Agustus 2024

SUDUT PANDANG INJIL YOHANES 6 : 56 - 59, ๐—ง๐—ฎ๐—ธ ๐˜€๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚๐—ฝ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ป

SUDUT PANDANG INJIL YOHANES 6 : 56 - 59, ๐—ง๐—ฎ๐—ธ ๐˜€๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚๐—ฝ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ป

Cukup banyak orang Kristen menjadikan Injil Yohanes sebagai Injil favorit. Barangkali ada ucapan Yesus di Yohanes 14:6 yang kemudian menjadi ayat eksklusif. Saya sendiri memandang Injil Yohanes paling sulit ditafsir di antara empat kitab Injil. Selain narasinya berbeda dari Injil sinoptik, Injil ditulis oleh banyak orang sehingga didapati ketidakpanggahan (๐˜ช๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜บ) karena narasinya tambal-sulam.

Hari ini adalah Minggu keempat belas setelah Pentakosta. Bacaan Injil Yohanes 6:56-69 yang didahului dengan 1Raja-raja 8:(1,6,10-11), 22-30, 41-43, Mazmur 84, dan Efesus 6:10-20.

Bacaan Minggu ini merupakan konklusi perikop panjang tentang ๐˜™๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ pada pasal 6. RCL menyarankan membaca dari ayat 56. Namun, ayat 56-59 sudah dibahas dalam Sudut ๐˜—๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ edisi Minggu lalu sehingga dalam edisi sekarang hanya disarikan.

Ayat 56-59 (dari ayat 51) diduga tambahan dari petulis Injil berikutnya untuk menepis ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ข๐˜น kanibalisme yang dilontarkan oleh orang-orang Yahudi. Juga untuk pastoral di lingkungan Jemaat Yohanes yang dipengaruhi oleh doketisme. Di ayat 59 narator menjelaskan bahwa percakapan panjang tentang ๐˜™๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ berlangsung di sinagoge, Kapernaum. Ayat 60-69 tampak lebih bersambungan dengan percakapan mengenai tema-tema percaya, anugerah, dan roti kehidupan di ayat 26-50.

๐—ง๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐™ข๐™š๐™ง๐™š๐™ ๐™–

Dalam pasal 6 kata ganti ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข merujuk orang-orang yang berbeda: murid-murid, orang-orang Yahudi, dan dua belas murid. Dibutuhkan ketelitian untuk mencandranya. 

▶ ๐˜”๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ-๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด merujuk orang banyak yang mencari Yesus ke Kapernaum sesudah peristiwa penggandaan roti dan mendesak Yesus untuk menjadi raja mereka. Dapat juga disebut para pengikut Yesus. Mereka adalah orang Yahudi, tetapi dibedakan orang-orang Yahudi yang menjadi murid-murid Yesus dan bukan murid Yesus. 
▶ ๐˜–๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ช merujuk para pendengar yang bergabung dengan para pengikut Yesus dalam percakapan mengenai “Roti Kehidupan”. 
▶ ๐˜‹๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ merujuk dua belas rasul.

๐—ฆ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ฝ ๐—บ๐˜‚๐—ฟ๐—ถ๐—ฑ-๐—บ๐˜‚๐—ฟ๐—ถ๐—ฑ (ay. 60-66)

Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata, “๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ-๐˜•๐˜บ๐˜ข?” (ay. 60) 

Perkataan manakah yang tidak sanggup didengar oleh murid-murid di atas? Jika kita membaca teks, reaksi murid-murid di ayat 60 sepertinya adalah tanggapan langsung perkataan Yesus ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ-๐˜’๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ-๐˜’๐˜ถ di antara ayat 51-58. Perkataan itu juga membuat orang-orang Yahudi merasa jijik (lih. ay. 52). Apabila perkataan itu yang dimaksud, maka akan terasa janggal, karena di ayat 63 Yesus mengatakan bahwa ๐˜ฅ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข. Reaksi murid-murid itu akan bersambung dengan percakapan mengenai tema-tema percaya, anugerah, dan roti kehidupan di ayat 26-50. Sungut-sungut murid-murid ini tampaknya juga mencerminkan situasi di dalam Jemaat Yohanes. Sejumlah warga Jemaat Yohanes sulit menerima bahkan menolak ajaran tentang Yesus. Dalam ๐˜›๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ ๐˜—๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ edisi Minggu lalu sudah dibahas mengenai doketisme yang menggerogoti Jemaat Yohanes.

Di ayat 48-50 Yesus berkata, “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜•๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜จ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช. ๐˜๐˜ฏ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข: ๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช.” Kesatu, ungkapan ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฎ๐˜ถ untuk menegaskan perbedaan nenek moyang orang-orang Yahudi dengan nenek moyang Jemaat Yohanes. Itu berarti ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ dan ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช berbeda. Nenek moyang ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ mati. Kedua, Yesus menyatakan bahwa Ia roti kehidupan dan orang yang memakannya tidak akan mati. Jadi, dapat dipahami bahwa murid-murid Yesus (di ayat 60) tidak sanggup mendengar ucapan Yesus itu.

Melihat murid-murid itu bersungut-sungut, Yesus bukannya menghibur malah menambah tantangan baru. Kata Yesus, “๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ-๐˜’๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ? (ay. 61) ๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜”๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข? (ay. 62) ๐˜™๐˜ฐ๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข. ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ-๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜’๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ. (ay. 63)”

Ayat 62 merujuk penyaliban Yesus. Kata ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ tak lain dan tak bukan ialah peninggian Yesus di tiang salib (lih. Yoh. 3:14; 12:34) dan lewat salib itu Yesus kembali kepada Bapa (lih. Yoh. 20:17). Injil Yohanes memandang salib sebagai simbol kemuliaan (bdk. Injil sinoptik memandang salib sebagai simbol kehinaan.). Penyaliban Yesus akan menjadi tanda yang membantu mereka percaya atau justru sebaliknya makin mengguncang iman mereka?

Ayat 63 seperti membuat dikotomi roh dan daging. Di sini justru menunjukkan satu ujud. Daging saja tak berguna, harus kesatuan daging dengan roh karena roh yang memberi hidup. Daging di sini juga bukan merujuk tubuh Yesus dalam ekaristi. Seperti yang sudah saya sebut di atas reaksi bersungut-sungut murid-murid Yesus di ayat 60 bukanlah tanggapan atau sikap terhadap teks di ayat 51-58. Perkataan-perkataan (๐˜ณ๐˜ฉe๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข) di sini merujuk seluruh ajaran Yesus secara khusus ajaran tentang diri-Nya adalah roti kehidupan yang turun dari surga. Perkataan itu menjadi roh yang menghidupkan.

“๐˜•๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ,” kata Yesus, “๐˜‹๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜บ๐˜ข.” Narator kemudian menerangkan kepada pembaca bahwa Yesus mengetahui sejak semula orang yang akan menyerahkan Dia kepada para pemimpin Yahudi (ay. 64). Injil Yohanes memandang penyaliban Yesus bukanlah hukuman dari Pemerintah Roma. Memang Yesus sudah direncanakan Allah untuk ditinggikan (di tiang salib) dan Yesus menjalaninya dengan gagah dan tidak ragu-ragu. Sejak awal Injil Yohanes sudah disampaikan bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (lih. Yoh. 1:29). Sejak awal juga Yesus sudah tahu orang yang berkhianat kepada-Nya. Di ayat 69 nama pengkhianat itu dieksplisitkan. Dengan demiikian Jemaat Yohanes dikuatkan bahwa Yesus tidak berkurang kuasanya, Ia sudah mengetahui apa yang akan terjadi.

Yesus lalu berkata, “๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜’๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ: ๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.” (ay. 65) Iman kepada Kristus hanya mungkin terjadi sejauh ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข. Orang diajar oleh Allah melalui para nabi dan Yesus, tetapi tidak mau mendengarkan-Nya. Gagasan yang sama ditemukan di ayat 37, 39, dan 44.

Di ayat 66 narator menyampaikan sejak saat itu banyak murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Yesus. Reaksi para pengikut Yesus itu adalah keberatan keempat dan terakhir dalam keseluruhan pasal 6. ๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต๐˜ช ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด berarti akhir hubungan murid dan guru. Ayat ini juga mencerminkan situasi di Jemaat Yohanes yang terjadi pergolakan sehingga sebagian warga jemaat menyempal mengikuti guru-guru palsu.

๐—ฆ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ฝ ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜€ ๐—บ๐˜‚๐—ฟ๐—ถ๐—ฑ (ay. 67-69)

Reaksi penolakan oleh banyak murid di atas (ay. 66) menjadi momentum bagi Yesus untuk menguji iman dua belas murid. Istilah dua belas murid (๐˜ต๐˜ฐ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฅo๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข) untuk kali pertama muncul di Injil Yohanes. Kata Yesus kepada mereka, “๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข?” (ay. 67) Pertanyaan ini sangat penting diajukan karena warga Jemaat Yohanes tidak pernah aman dari pengaruh pengajaran guru-guru palsu. Saban hari mereka terombang-ambing memilih antara percaya dan tidak percaya.

Jawab Simon Petrus kepada Yesus, “๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช? ๐˜Œ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ. (ay. 68) ๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜Œ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜’๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ. (ay. 69)”

Di sini Petrus mendukung ucapan Yesus di ayat 63b. Secara umum perkataan-perkataan itu adalah seluruh ajaran Yesus. Secara khusus perkataan itu merupakan sarana yang digunakan oleh manusia untuk mendapatkan hidup kekal. Petrus juga mengakui bahwa Yesus adalah Yang Kudus dari Allah, yang adalah satu-satunya sebutan di Injil Yohanes. Pakar biblika bersepakat bahwa petulis Injil Yohanes mengambil tradisi sinoptik ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜—๐˜ฆ๐˜ต๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด di Kaisaerea, Filipi (Mrk. 8:27-30; Mat. 16:13-23; Luk. 9:18-22). Namun, Yohanes mengubahnya menjadi ๐˜ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜’๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ dan ini sejalan dengan Yesus menyebut Allah sebagai Bapa yang kudus (Yoh. 17:11) dan Roh disebut kudus (Yoh. 14:26; 20:22). Yohanes menggunakan aneka sebutan bergantung pada situasi yang dihadapi.

Di dua ayat penutup Yesus menyatakan bahwa kedua belas murid itu dipilih sendiri oleh Yesus dan seorang dari dua belas murid itu adalah iblis. Secara eksplisit disebut namanya, Yudas, anak Simon Iskariot. (ay. 70-71)

Penekanan penjelasan penutup itu untuk menggembala Jemaat Yohanes bahwa Yesus bukanlah korban kekerasan atau terdakwa, melainkan datang dari Bapa untuk ditinggikan. Tidak ada pergolakan atau pergumulan Yesus di Getsemani seperti di Injil sinoptik. Penyebutan iblis terhadap Yudas merupakan bagian perang ideologi melawan orang-orang Yahudi. Injil Yohanes menyebut mereka adalah keturunan iblis (lih. Yoh. 8:37-47).
(25082024)(TUS)

Jumat, 23 Agustus 2024

Sudut Pandang Mengapa 25 Desember? Mumpung dekat Natal, Serial Natal

Sudut Pandang Mengapa 25 Desember? Mumpung dekat Natal, Serial Natal

Sesungguhnya tidak ada masyarakat yang peduli pada kelahiran Mulyono. Paling-paling beberapa tetangga yang sedikit disibukkan atas kelahirannya selain ibu dan ayahnya. Baru kemudian sesudah Mulyono menjadi Presiden RI yang kita kenal sebagai Presiden Joko Widodo disusunlah biografi yang luar biasa. Dicarilah foto-foto lama yang sangat terbatas koleksinya dan juga saksi-saksi hidup. Dibuatlah kisah hidup Joko Widodo yang heroik dan mengundang decak kagum.

Demikian halnya tak seorang pun tahu kapan Yesus dari Nazaret dilahirkan. Tidak ada suatu akta kelahiran kuno yang menyatakan dan membuktikan kapan Yesus dilahirkan. Tidak ada seorang saksi hidup yang bisa mengabsahkan. Baru kemudian ketika Yesus sesudah kematian-Nya diangkat menjadi Sang Mesias oleh gereja perdana disusunlah kisah-kisah kelahiran-Nya sebagai kelahiran luar biasa seperti kisah awal dalam Injil Matius dan Injil Lukas yang ditulis sekitar 80 – 85 ZB. Akan tetapi pengarang Injil Markus (ditulis sekitar 70 ZB) sama sekali tidak memandang penting untuk menyusun sebuah kisah kelahiran Yesus.

Meskipun pengarang Injil Matius dan Lukas mengisahkan kelahiran Yesus, kedua Injil sama sekali tidak menulis catatan historis mengenai tanggal kelahiran-Nya. Bahkan di seluruh kitab Perjanjian Baru tidak ada. 

Bagaimana bisa terjadi penetapan 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus? Ada banyak teori. Dua teori di antaranya sbb.:
 
Teori Pertama
 
Sudah menjadi tradisi Israel Kuno untuk menyamakan hari kematian dengan hari kelahiran bapak-bapak leluhur Israel. Tradisi ini mirip dengan kepercayaan Budhisme. Hari kematian Sidharta Gautama sama dengan hari pencapaian pencerahn dan hari kematiannya. Tradisi Jawa Kuno juga memercayai hari kematian seseorang jatuh persis weton atau hari kelahiran penanggalan Jawa. Oleh kekristenan tradisi ini dimodifikasi bahwa hari kematian sama dengan hari pembenihan.

Hari kematian Yesus bisa ditentukan dengan akurasi tinggi yang jatuh pada tanggal 14 Nisan dalam kalender Yahudi Kuno yang kemudian dikonversi menjadi 25 Maret dalam kalender Gregorian. Bapak-bapak gereja seperti Klemen dari Aleksandria, Lactantius, Tertullianus, Hippolytus, dan juga sebuah catatan dalam dokumen Acta Pilatus menyatakan hari kematian Yesus jatuh pada tanggal 25 Maret. Dengan demikian begitu hari pembenihan janin Yesus dalam rahim Maria juga jatuh juga pada 25 Maret.
 
Apabila dihitung sembilan bulan dari hari pembenihan, maka hari kelahiran Yesus adalah 25 Desember. Kendati cukup banyak dokumen dari abad III sampai abad IV menyebut tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus, tidak semua orang pada waktu itu menyetujui adanya perayaan Natal. Origenes dari Aleksandria dalam homili atas Kitab Imamat menyatakan bahwa hanya orang-orang berdosa seperti Firaun dan Raja Herodes yang merayakan hari ulang tahun mereka. Seorang penulis Kristen yang lain bernama Arnobus pada 303 ZB mengolok-olok gagasan untuk merayakan Natal sebagai pemujaan hari lahir dewa-dewi.
 
Dalam pada itu kalangan Montanis menolak kematian Yesus jatuh pada 25 Maret, melainkan pada 6 April. Dengan begitu hari kelahiran Yesus jatuh pada 6 Januari jika dihitung dari hari pembenihan 6 April. Untuk itulah di kalangan Gereja Timur (berbahasa Grika) merayakan Natal pada 6 Januari, sedang Gereja Barat (berbahasa Latin) merayakan Natal pada 25 Desember. (Catatan: Montanus adalah pemimpin gerakan apokaliptik pada pertengahan abad II ZB di Asia Kecil. Gerakan atau alirannya disebut Montanisme, pengikutnya disebut Montanis.)
 
Teori Kedua
 
Dalam kehidupan di Kekaisaran Romawi orang-orang Romawi menyembah matahari. Praktik heliolatri ini Dewa Matahari atau Sol menempati kedudukan tertinggi. Dalam diri Dewa Sol ini terjerap dewa-dewa lain yang juga disembah oleh banyak warga Romawi seperti Dewa Apollon (dewa terang), Dewa Elah-Gabal (dewa bangsa Siria), dan Dewa Mithras (dewa perang bangsa Persia). Politik keagamaan dengan menempatkan Dewa Sol sebagai Dewa Tertinggi ini untuk memayungi persatuan kawasan Kekaisaran Romawi yang sangat luas dengan penduduk besar yang menganut berbagai macam agama dan memercayai banyak dewa.
 
Pada 274 ZB Dewa Sol oleh Kaisar Aurelianus ditetapkan secara resmi sebagai Kepala Panteon Negara Romawi, satu-satunya Pelindung Ilahi atas seluruh kekaisaran. Menyembah Dewa Sol sebagai pusat keilahian berarti memusatkan kekuasaan politik pada diri Sang Kaisar Romawi sebagai titisan Dewa Sol. Dalam pemujaan Dewa Sol ini tanggal 25 Desember ditetapkan sebagai hari perayaan religius utama untuk memuja Dewa Sol, yang harus dirayakan di seluruh Kekaisaran Romawi. Mengapa 25 Desember?

Bumi itu datar dan paham geosentris berlaku. Pada musim dingin matahari tampak bergeming di titik terendah di horison Eropa sejak 21 Desember. Pada 25 Desember matahari mula sedikit mumbul dari horison dan sedikit demi sedikit bergerak naik. Seolah-olah Dewa Sol terlahir kembali. Peristiwa alam (yang sebenarnya biasa-biasa saja) ditafsir secara religius sebagai saat Dewa Sol berhasil bangkit dari kematian atau Sol Invictus (Matahari Tak Terkalahkan). Pada 25 Desember dijadikan sebagai Hari Kelahiran Dewa Sol Yang Tak Terkalahkan atau Dies Natalis Solis Invicti. 
 
Dalam pada itu musuh-musuh Kekaisaran Romawi yang mengusik stabilitas politik bukan saja datang dari kekuatan militer, tetapi “kristenisasi” dari pengikut-pengikut Kristus. Pekabaran Injil oleh gereja-gereja sangat masif untuk melawan agama dan penguasa negara. Konon Kaisar Nero sampai membakar Kota Roma untuk menuding orang-orang Kristen sebagai pembuat onar dan musuh negara. Jemaat Kristen menolak menyembah kaisar sebagai Tuhan (kyrios). Pernyataan “Yesus Kristus adalah Tuhan” dalam Surat Filipi 2:11 bukan saja pernyataan iman, tetapi terutama pernyataan sikap politik. Sungguh mengherankan apabila banyak rohaniman Kristen masa kini menyatakan bahwa gereja tidak boleh berpolitik. Padahal berpolitik di sini adalah menyampaikan suara kenabian apabila penguasa menjadi monster. Tentu saja gereja masa kini tidak boleh berpolitik praktis seperti turut berkampanye untuk memilih partai tertentu.

Taktik pemberitaan Injil bukan saja mengambil alih gelar kyrios dari kewibawaan kaisar, tetapi juga Sol Invictus. Gelar kyrios dan Sol Invictus diberikan kepada Yesus Kristus sehingga Yesus Kristus menjadi Matahari Tak Terkalahkan yang sejati. Terjadilah perubahan besar-besaran di masyarakat Romawi dari penganut atau penyembah Dewa Sol menjadi Kristen. “Kristenisasi” di Kekaisaran Romawi sudah sulit dibendung.

Memasuki abad IV Kaisar Konstantinus sudah tak berdaya lagi memertahankan agama negara, padahal ia harus menjaga kewibawaan kaisar demi persatuan seluruh wilayah. Menurut mitologi Romawi pada 28 Oktober 312 ZB Kaisar Konstantinus melihat sebuah tanda salib dan sebuah kalimat In Hoc Signo Vinces (Dengan tanda ini, kamu menang) di awan-awan. Ia kemudian menetapkan perayaan keagamaan pemujaan Sol Invictus pada 25 Desember diubah menjadi perayaan keagamaan untuk merayakan Hari Natal Yesus Kristus. Dengan digantinya Dewa Sol dengan Yesus Kristus sebagai Sol Invictus yang sejati dan 25 Desember sebagai Hari Natal Yesus Kristus, Kaisar Konstantinus berhasil memulihkan persatuan seluruh wilayah negara Roma yang warganya mayoritas Kristen.

Santiran

Agama tidak sekali jadi. Agama ber-evolusi. Peradaban berkembang, demikian juga kekristenan. Kristen bukanlah kontinuitas atau diskontinuitas Yahudi, melainkan kontinuitas sekaligus diskontinuitas Yahudi. Kristen berkembang lewat tradisi, bukan lewat Alkitab. Bahkan Alkitab adalah produk tradisi gereja. Alkitab ada, karena ditulis dan ditetapkan oleh gereja, bukan sebaliknya.

Hari raya liturgi gereja dimula dan berpusat pada misteri Paska. Pada mulanya tidak ada susunan sistematis dan terencana untuk merayakan peristiwa-peristiwa Kristus. Secara evolusi gereja memberikan tanggapan atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Bapak-bapak gereja sejak abad II merapikan, membentuk, menyusun, dan merekayasa (to engineer) kisah teologinya sehingga menjadi bermakna, bertema, dan bercerita saling berurutan satu dengan lainnya. Hari raya liturgi merupakan drama sarat makna; suatu rekayasa gereja untuk memastori dan membina umat agar dapat lebih menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan.

Dengan memahami sejarah hari raya liturgi, seperti Sol Invictus sebagai misal, umat menjadi lebih menghayati makna nyanyian gerejawi seperti refrain NKB 72:
Yesus, ‘Kaulah Surya rahmat, ‘Kau kobarkan hatiku.
Bersyukur di jalan s’lamat, aku puji nama-Mu!
(01.12.2023)(TUS) Untuk Mbah JanSAritonang

Sabtu, 17 Agustus 2024

SUDUT PANDANG YOHANES 6 : 51 - 58, ๐™ƒ๐™ค๐™–๐™ญ ๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—ถ๐—ฏ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐˜€๐—บ๐—ฒ, Serial Paska



SUDUT PANDANG YOHANES 6 : 51 - 58,  ๐™ƒ๐™ค๐™–๐™ญ ๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—ถ๐—ฏ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐˜€๐—บ๐—ฒ, Serial Paska

Di dalam Injil sinoptik Perjamuan Malam Terakhir – PMT (๐˜›๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜“๐˜ข๐˜ด๐˜ต ๐˜š๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ) dikenal juga sebagai Perjamuan Tuhan. Di sini Yesus disimbolkan sebagai tuan rumah yang menjamu umat. Namun, episode ini jangan disamakan dengan Perjamuan Kudus (PK) atau Ekaristi, karena muatan teologi PMT berbeda dari PK atau Ekaristi. Di Injil Yohanes episode Perjamuan Tuhan terjadi dalam pasal 6 dalam perikop ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. Dalam perikop itu Yesus tidak melibatkan para murid saat membagi makanan karena Yesus disimbolkan sebagai tuan rumah yang menjamu umat. Maknanya dijelaskan dalam perikop ๐˜™๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ. Perjamuan Tuhan versi Injil Yohanes bukan dalam episode malam penangkapan Yesus. Persekutuan terakhir Yesus dengan para murid tersebut diisi dengan adegan ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ-๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ-๐˜•๐˜บ๐˜ข dan wejangan panjang dari Yesus.

Muatan teologi Ekaristi atau PK adalah perayaan iman gereja atas karya, kematian, kebangkitan Kristus, dan penantian kedatangan-Nya kembali (๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข). Dengan demikian Ekaristi juga bermuatan eskatologis dan gatra ini tampaknya jarang diketahui umat ini karena kurangnya pengajaran Gereja. Dalam adegan PMT di Injil sinoptik Yesus belum mati dan tentunya belum bangkit. 

Hari ini adalah Minggu ketiga belas setelah Pentakosta. Bacaan  diambil dari Injil Yohanes 6:51-58 yang didahului dengan 1Raja-raja 2:10-12; 3:3-14, Mazmur 111, dan Efesus 5:15-20.

Bacaan Injil Minggu ini melanjutkan bacaan Minggu lalu yang masih di dalam perikop ๐˜™๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ. Teks yang dijumput adalah ayat 51-58. Ayat ini diduga kuat merupakan tambahan sesudah Injil “asli” selesai ditulis. Dalam kekristenan perdana orang-orang Yahudi menyebar fitnah atau ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ข๐˜น bahwa orang-orang Kristen makan daging manusia dalam perayaan Ekaristi. Lontaran ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ข๐˜น kanibalisme itu hendak dijernihkan oleh petulis Injil Yohanes sekaligus ungkapan perlawanan kepada orang-orang Yahudi yang mendera jemaat Kristen. Selain untuk melawan tekanan eksternal petulis Yohanes juga melawan doketisme yang mengganggu di internal jemaat. Delapan ayat tambahan ini tampak kurang mulus jika dihubungkan dengan ayat 63b “… ๐˜ฅ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข.”

Dalam melawan ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ข๐˜น kanibalisme tersebut petulis Injil Yohanes justru ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญe๐˜ฅe๐˜ฌ dengan melayangkan provokasi. Kata Yesus, “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข. ๐˜‘๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข-๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜’๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ-๐˜’๐˜ถ. (ay. 51)”.

Mari kita bandingkan dengan ucapan Yesus dalam Perjamuan Tuhan di Injil sinoptik “๐˜ˆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ-๐˜’๐˜ถ”. (Mat. 26:26; Mrk. 14:22; Luk. 22:19). Injil sinoptik memetaforakan roti dengan ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ (๐˜ดo๐˜ฎ๐˜ข). Rasa metaforis itu cukup kuat, meskipun ada saja pihak yang memaknai literal makan tubuh Yesus sehingga timbul ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ข๐˜น kanibalisme di dalam ibadah Kristen perdana termasuk di lingkungan Jemaat Yohanes. Petulis Injil Yohanes malah menyebut lebih spesifik ๐˜ฅ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ (๐˜ด๐˜ข๐˜ณ๐˜น) Yesus. Bahkan ucapan Yesus makan ๐˜ฅ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ-๐˜’๐˜ถ ditulis sampai tiga kali (ay. 51, 54, dan 56)!

Provokasi ini berhasil. Dikatakan di ayat 52 bahwa orang-orang Yahudi bertengkar antar-sesama mereka. Kata mereka, “๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ-๐˜•๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ?” Tentu saja perkataan Yesus itu menimbulkan rasa jijik bagi orang-orang Yahudi. Sekali lagi inilah khas Injil Yohanes. Kekurangpahaman menangkap ucapan Yesus menyediakan ruang bagi Yesus untuk menjelaskan. Bahkan penjelasan semakin radikal.

Kata Yesus kepada mereka, “๐˜š๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ: ๐˜‘๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜”๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ-๐˜•๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ (ay. 53) ๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ-๐˜’๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ-๐˜’๐˜ถ, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ป๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ, (ay. 54) ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ-๐˜’๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ-๐˜’๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ (ay. 55).”

Rasa jijik orang-orang Yahudi atas ucapan ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ-๐˜’๐˜ถ malah ditambahi Yesus dengan ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ-๐˜’๐˜ถ. Ada perbedaan tegas atas penjelasan ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ di dalam Injil sinoptik dan Injil Yohanes. Di Injil sinoptik ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ-๐˜’๐˜ถ, ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข (Mat. 26:28b). Bagi petulis Injil sinoptik kematian di kayu salib adalah simbol penghinaan. Yesus adalah korban kekerasan. Sebaliknya petulis Injil Yohanes memandang salib adalah simbol kemuliaan. Siapa saja yang makan daging-Nya dan minum darah-Nya (dalam Ekaristi), ia memeroleh hidup kekal dan akan dibangkitkan Yesus pada akhir zaman. Yesus bukan korban kekerasan, melainkan menyediakan daging dan darah-Nya untuk dimakan dan diminum dalam Ekaristi yang disimbolkan dengan roti dan anggur.

๐˜‹๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ merupakan ungkapan Ibrani untuk menyebut manusia seutuhnya. Bahkan sampai sekarang orang masih menyebut ungkapan ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ถ untuk keturunannya. Gagasan dasarnya orang harus memersatukan diri dengan Yesus agar memeroleh hidup kekal. Selain mendapat tekanan luar biasa dari orang-orang Yahudi, Jemaat Yohanes juga digerogoti doketisme dari dalam tubuh jemaat. Doketisme memandang Yesus Kristus tidak sungguh-sungguh manusia, melainkan hanya tampak sebagai manusia. Yesus Kristus hanya memiliki tubuh surgawi dan hanya berpura-pura saja menderita dan mati. Frase ๐˜ฅ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ-๐˜’๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ-๐˜’๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ (ay. 55) untuk menekankan bahwa Yesus seutuhnya manusia yang turun dari Allah. Kisah Tomas yang hendak menyentuh tubuh kebangkitan Yesus di akhir Injil juga untuk melawan doketisme.

Kata Yesus lagi, “๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ-๐˜’๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ-๐˜’๐˜ถ, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข. (ay. 56) ๐˜š๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ. (ay. 57)”.

Di ayat 56 dan 57 makin jelas bahwa hidup kekal adalah hidup murid dalam nasabah timbal-balik yang mendalam dengan Yesus. Hal ini akan diulangi dalam episode wejangan ๐˜—๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ pada pasal 15. Allah adalah sumber hidup dan manusia dapat hidup berkat nasabah Bapa dan Anak. Dalam Ekaristi para murid atau orang percaya memersatukan diri dengan Yesus secara utuh dan penuh.

Yesus kemudian menutup, “๐˜๐˜ฏ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข, ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช. ๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข-๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.( ay. 58)”

Penjelasan sepanjang perikop dibulatkan oleh Yesus dengan mengangkat lagi metafora mengenai diri-Nya dan kemaujudan-Nya di dunia sebagai roti yang turun dari surga yang memberi hidup kekal. Di ayat 59 narator menyampaikan bahwa penjelasan panjang itu dilakukan di sinagoge di Kapernaum. 

(18082024)(T)

Jumat, 09 Agustus 2024

SUDUT PANDANG HARUSKAH BANGSA KANAAN DIMUSNAHKAN?

SUDUT PANDANG HARUSKAH BANGSA KANAAN DIMUSNAHKAN?

Hal ini sangat menarik sehubungan banyaknya orang Kristen yang mendukung pemusnahan massal yang terjadi di Palestina saat ini. Menurut saya kejadian di dunia ini adalah perulangan kejadian di masa lampau. Semisal keluar-masuknya bangsa Israel dari tanah Kanaan atau Palestina, genosida yang membuat dunia umumnya bungkam karena tidak melihat Alkitab secara obyektif.

Kanaan, nama ini pertama kali muncul di Kejadian 9:18. Menurut saya agak aneh, menurut saya, penulis kitab dengan "sentimen" menulis nama Kanaan, di saat sedang membahas nama-nama ayah dan pamannya, atau 1 keturunan di atasnya. Semua sentimen tersebut ditulis dalam Kejadian pasal 9 tersebut. Why? Kenapa?

Jika dianalisa dengan teori JEDP, penulis Kejadian 9 adalah Jahwist yang telah saya bahas sebelumnya dalam tulisan maupun jurnal saya, adalah dari suku Keni yang dicangkok ke suku Yehuda. Sampai-sampai di Kejadian 24:3 secara kasar dikatakan "najis" jika mengambil suami atau istri dari orang Kanaan. Ditambah lagi cerita bahwa orang Kanaan mempersembahkan anak kepada dewa (padahal sama seperti yang Abraham lakukan ..... Nah ..... loh).

Tetapi suka atau tidak suka bangsa Israel adalah termasuk orang Kanaan. Seperti yang dikatakan oleh banyak arkeologis di banyak buku dan jurnal penelitian. Walaupun saya belum menemukan relasi antara orang Keni (keturunan Kain) dengan orang Kanaan, rujukan secara arkeologis. Tapi pasti ada suatu hal yang mempengaruhi bangsa Israel memandang orang Kanaan sebagai bagsa yang harus dimusnahkan.

Peristiwa yang terjadi saat ini dengan pemusnahan Palestina oleh Israel merupakan peristiwa berulang, padahal baik Palestina di masa sekarang atau Kanaan di masa lampau juga terdapat keturunan Israel, dan jelas sekali Israel Alkitab berbeda dengan negara Israel saat ini, demikian halnya Palestina atau Kanaan saat ini beda dengan yang ada di Alkitab, kepentingan politiklah yang menyama-samakan, Israel Alkitab adalah 12 suku (atau 13 suku) yang terpecah-pecah setelah pembuangan dan kalah perang, terakhir hanya 2 suku yang kembali ke tanah perjanjian yaitu suku Yehuda dan suku Benyamin, munculah istilah Yahudi. Itupun terserakakan sedemikian rupa dalam peristiwa sejarah, sedangkan negara Israel yang saat ini, adalah munculnya dari gerakan zionisme, Gerakan Zionisme itu gerakan politik dan nasionalis yang tujuan utamanya mendirikan dan mendukung negara Yahudi di tanah Israel. Mulai akhir abad 19 sebagai respon terhadap diskriminasi orang Yahudi. Perbedaan Israel Alkitab dan Israel modern itu: Israel Alkitab: Bangsa pilihan Allah, dibentuk lewat perjanjian dengan Tuhan, suku-suku yang beriman, sering dianiaya dan diperbudak (Misal: oleh Mesir kuno). Identitasnya lebih ke iman dan hubungan spiritual. Israel modern, Negara politik di wilayah Palestina sekarang, dengan batas wilayah yang jelas, jadi kekuatan militer dan politik, terkadang kontroversial dalam konflik dengan Palestina. Tidak dipandang sebagai kelanjutan langsung secara teologis oleh banyak ahli agama. Singkatnya, Israel Alkitab adalah bangsa spiritual dan perjanjian, sedangkan Israel modern atau negara Israel saat ini adalah entitas negara dan politik yang berbeda konteks. Perbedaan bangsa Palestina dan Kanaan Alkitab itu: Bangsa Kanaan: Penduduk asli Tanah Kanaan menurut Alkitab, keturunan Ham, disebut sering dianggap jahat dan menyembah berhala. Mereka hidup ribuan tahun lalu di wilayah yang disebut Tanah Perjanjian oleh bangsa Israel Alkitab. Bangsa Palestina: Penduduk wilayah yang kini disebut Palestina, hasil campuran berbagai kelompok termasuk keturunan Kanaan, berkembang lebih modern dan secara historis terkait dengan konflik wilayah dengan negara Israel, bukan konflik dg Israel Alkitab. Jadi, Kanaan lebih ke suku bangsa kuno yang disebut di Alkitab, sedangkan Palestina adalah identitas modern penduduk wilayah itu. Propaganda menyamakan antara negara Israel dengan Israel Alkitab, demikian halnya menyamakan Palestina dengan bangsa Kanaan adalah propaganda politik dari 2 negara yang bertikai, lihatlah ini sebagai kepentingan politik 2 pihak tidak terkait sejarah iman dalam Alkitab, apalagi betapa bodohnya kita, kalau ini dikaitkan dengan perang antar agama (Kristen vs Islam). Termakan kita dengan propaganda politik 2 pihak yang bertikai yang menunjukan betapa kita mudah dibodohi, lihatlah ini sebagai pertikaian 2 pihak yang berebut wilayah dan kekuasaan politik, netral kita melihatnya tanpa terkait sejarah iman dalam Alkitab, karena memang seperti itu kenyataannya.

Saya mengambil kesimpulan dari sentimentil penulis Alkitab khususnya Pentatukh, mengakibatkan justifikasi seluruh bangsa, mumet ... tah.

Kisah Nabi Yunus pastilah akan bertolak belakang dengan paham sebagian besar bangsa Israel khususnya Yahudi (suku Yehuda dan Benyamin), bahwa bangsa lain perlu mendapatkan keselamatan, perhatikan justifikasi Yunus, sampai dia tidak rela bangsa lain beroleh keselamatan.
(10082024)(TUS)

SUDUT PANDANG YOHANES 6:35, 41-51, KOWE ANAKE SOPO?


SUDUT PANDANG YOHANES 6:35, 41-51, KOWE ANAKE SOPO?

Kalangan Kristen aliran tertentu dan orang Kristen yang terpengaruhi oleh aliran tertentu itu masih percaya bahwa Injil Yohanes ditulis oleh Rasul Yohanes. Alasan mereka adalah ajaran bapa-bapa gereja. Saya menolak itu. Kesatu, judul atau nama kitab-kitab Injil kanonik diberikan oleh editor pada abad II. Kedua, andaikata mereka membaca ajaran bapa-bapa gereja, mereka lupa bahwa agama dasarnya kepatuhan kepada pemegang otoritas. “๐˜’๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข! ๐˜’๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต!” begitu kira-kira kata bapa-bapa gereja zaman ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฐ, yang masih dipelihara sampai sekarang oleh banyak pejabat gerejawi.

Zaman sekarang ilmu teologi terbuka dan dapat dipelajari oleh siapa saja. Dengan mengaji Injil Yohanes kita dapat melihat jejak sejarah di Injil Yohanes. ๐˜“๐˜ฉ๐˜ฐ ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฌ sejarah? Katanya kitab Injil bukan kitab sejarah? Memang bukan kitab sejarah. Dengan membaca Injil Yohanes di bawah terang ilmu teologi kita dimampukan melihat jejak sejarah pertarungan ideologi-politik antara orang-orang Yahudi dan jemaat petulis Injil. Juga ada jejak perselisihan atau bahkan pertikaian hingga menimbulkan perpecahan di dalam jemaat Kristen. Itu sebabnya tidak ada Hukum Kasih di Injil Yohanes.

Minggu kedua belas setelah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Yohanes 6:35, 41-51 yang didahului dengan 2Samuel 18:5-9, 15, 31-33, Mazmur 130, dan Efesus 4:25-5:2.

Bacaan Minggu ini meneruskan bacaan Minggu lalu yang masih dalam perikop ๐˜™๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ. Teks yang diambil adalah ayat 35 dan 41-51.

Ayat 35 adalah teks terakhir bacaan Minggu lalu. Hari ini dibaca lagi sebagai pengingat. Kata Yesus kepada mereka, “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ถ๐˜ด ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช.” (ay. 35) 

Di dalam Injil Yohanes kita kerap bersua dengan ucapan Yesus yang khas Injil Yohanes: “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ … “ atau “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ …” (๐˜Œ๐˜จo ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ช), ungkapan yang sama (dalam Septuaginta) ketika Yahweh mengenalkan diri-Nya kepada Musa. Ungkapan “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ … “ atau “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ …” disusul kiasan, misal, pintu, gembala, terang dunia, pokok anggur yang benar, jalan, dll. Di ayat 35 secara eksplisit Yesus menyatakan bahwa Ia adalah roti kehidupan. Secara dramatis Yesus mengoreksi kekeliruan cerapan orang banyak itu. 

Ungkapan khas ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ (๐˜Œ๐˜จo ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ฐ ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ด ๐˜ตe๐˜ด ๐˜ปoe๐˜ด) merupakan propaganda Komunitas Yohanes di dalam sinagoge untuk mengganti metafora ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข. Sejak zaman kuno konsep makanan dan minuman sebagai simbol kebenaran religius sudah dikenal, misal roti dan hikmat (Ams. 9:5). Kini metafora itu diganti dengan Yesus adalah roti (ke)hidup(an).

Reaksi orang-orang Yahudi itu bersungut-sungut karena tidak terima Yesus mengatakan bahwa Ia adalah roti yang turun dari surga (ay. 41). Kata mereka, “๐˜‰๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ ๐˜ถ๐˜ด๐˜ถ๐˜ง, ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ-๐˜•๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ? ๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข: ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข?” (ay. 42) Reaksi ini mengingatkan satu peristiwa yang ๐˜ท๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ญ tempo hari, “๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข?”.

Sebelumnya penyebutan massa dengan orang banyak, sekarang penyebutan dengan orang-orang Yahudi. Perubahan ini menunjukkan kenaikan ketegangan atau permusuhan. Apabila kita membaca sejak awal pasal 6 terasa peningkatan itu dan mencapai puncak di pengujung pasal 6 lewat pengakuan Petrus (ay. 69) dan narator menyampaikan bahwa Yudas Iskariot akan menyerahkan Yesus kepada pemimpin Yahudi (ay. 71).

Bersungut-sungut (๐˜Œ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ๐˜บ๐˜ป๐˜ฐ๐˜ฏ) digunakan juga di Septuaginta untuk memerikan sikap bangsa Israel di padang gurun (lih. Kel. 16:2). Petulis Injil Yohanes mengisyaratkan adegan pemberontakan di padang gurun diulangi lagi pada kesempatan pemberian roti kehidupan. Pasal 6 memang tidak boleh dilepaskan dari konteks Paska Yahudi dan teologi Keluaran.

Ciri khas Injil Yohanes adalah melontarkan kesalahpahaman orang mencerap jawaban Yesus, kemudian memberi ruang bagi Yesus untuk menjelaskan panjang-lebar. Kata Yesus kepada mereka, “๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ต-๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ, ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜’๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ป๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ.” (ay. 43-44)

Yesus meminta orang-orang Yahudi itu tidak bersungut-sungut, karena asal usul ilahi Yesus hanya dapat dipercaya atau ditolak, bukan beragumen untuk membuktikan objek iman. Ada ketegangan antara tindakan manusia untuk percaya dan prakarsa Allah dalam proses percaya. Yesus menyatakannya secara radikal di ayat 44 itu. Kata ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ (๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฌ๐˜บ๐˜ดe) di ayat 44 digunakan juga di Yohanes 12:32, yang penyaliban Kristus akan ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ (seperti magnet) semua orang kepada-Nya. Kebangkitan pada akhir zaman kembali menjadi refrain.

Yesus berkata lagi, “๐˜ˆ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฃ ๐˜•๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช-๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช: ๐˜”๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ. (ay. 45) ๐˜๐˜ข๐˜ญ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข. ๐˜๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜‹๐˜ช๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜‹๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข. (ay. 46) ๐˜š๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ: ๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜บ๐˜ข (๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ), ๐˜๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ. (ay. 47)”

Kutipan dari kitab Nabi-nabi di ayat 45 tampaknya penafsiran petulis Injil Yohanes terhadap Yesaya 54:13 “๐˜š๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ ๐˜›๐˜œ๐˜๐˜ˆ๐˜• ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข”. Bandingkan dengan NRSV “๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ ๐˜บ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ฅ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ๐˜ญ ๐˜ฃ๐˜ฆ ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ต ๐˜ฃ๐˜บ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜“๐˜–๐˜™๐˜‹, ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜จ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ๐˜ญ ๐˜ฃ๐˜ฆ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜บ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜บ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ฅ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ.” ๐˜‹๐˜ช๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ mengandaikan orang bahwa orang mau ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข”. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ tentu saja metaforis seperti halnya ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ. Di sini ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ merupakan satu sisi tindakan percaya. Teologi Yohanes melingkar-lingkar seperti spiral. Untuk datang kepada Allah orang harus datang kepada Yesus Kristus, untuk datang kepada Kristus orang harus mengenal Allah.

Ayat 47 mengangkat tema baru dalam perikop ini, meskipun tidak baru dalam Injil (lih. Yoh. 5:24). Di tengah pernyataan tentang kebangkitan yang akan datang yang berkali-kali disampaikan dalam ayat 39, 40, 44, dan 54, dikatakan juga pernyataan mengenai hidup kekal sebagai realitas masa kini.

Yesus melanjutkan, “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ. (ay. 48) ๐˜•๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜จ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช. (ay. 49) ๐˜๐˜ฏ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข; ๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช. (ay. 50)” 

Ayat 48 mengembalikan tema sentral dalam perikop ๐˜™๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ yang sudah diangkat dalam ayat 25-34 (lih. Sudut Pandang edisi Minggu lalu). Manna adalah makanan yang menopang orang Israel dalam pengembaraan mereka di padang gurun (Kel. 16). Namun, di sini dikatakan manna tidak dapat menghalangi kematian. Kristus, yang adalah roti kehidupan, mendukung hidup spiritual yang dapat mengatasi kematian. Mengatasi kematian di sini bukan berati manusia tidak akan mati, melainkan penawaran kepada manusia untuk berkesempatan memiliki hidup baru.

Bacaan Minggu ini ditutup dengan ayat 51 yang mengulangi hakikat pesan ayat 35-50, tetapi kali ini lebih radikal. Kata Yesus, “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข. ๐˜‘๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข-๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜’๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ-๐˜’๐˜ถ. (ay. 51)”.

Ungkapan yang disampaikan sebelumnya di ayat 33 ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข bertemu dengan klausa terakhirnya di ayat 51, yaitu ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜’๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ-๐˜’๐˜ถ. Ungkapan ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข bernasabah dengan makna kematian Yesus. Ungkapan ini khas Perjanjian Baru, teologi sulih kurban. Pesan ayat 51 sama dengan Yohanes 3:15-16. 

Ayat 51-59 diduga kuat merupakan tambahan dari Injil Yohanes yang “asli” untuk melawan lontaran fitnah orang Yahudi terhadap jemaat Kristen yang makan daging manusia dalam Perjamuan Tuhan pada masa awal kekristenan. Namun, bacaan Minggu ini harus berakhir di ayat 51. Kelanjutan bacaan untuk Minggu depan. Di sana petulis Injil Yohanes akan berbicara mengenai roti ekaristis untuk menjernihkan isu ๐˜ฅ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ-๐˜’๐˜ถ.

 (11082024) (TUS)

Jumat, 02 Agustus 2024

SUDUT PANDANG YOHANES 6 : 24-35, ๐——๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฎ๐—น ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐˜ ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ



SUDUT PANDANG YOHANES 6 : 24-35, ๐——๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฎ๐—น ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐˜ ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ

Corak narasi Injil Yohanes berbeda dari Injil sinoptik. Narasi Injil Yohanes berisi banyak renungan dari dialog dan monolog Yesus. Ciri khasnya ada pihak yang mengumpan pertanyaan atau peSUDUT PANDANG YOHANES 6 : 24-35, ๐——๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฎ๐—น ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ถhat soalan yang kemudian dijawab oleh Yesus dengan panjang-lebar. Kadang pihak penanya tiba-tiba hilang dari panggung seperti Nikodemus sesudah berdialog dengan Yesus, kemudian Yesus seperti bermonolog (lih. Yoh. 3).

Hari ini adalah Minggu kesebelas sesudah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Yohanes 6:24-35 yang didahului dengan 2Samuel 11:26 – 12:13a, Mazmur 51:1-12, dan Efesus 4:1-16.

Bacaan Minggu ini merupakan kelanjutan dari bacaan Minggu lalu tentang peristiwa penggandaan roti yang diselingi episode ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜ข๐˜ช๐˜ณ. Judul perikop bacaan adalah ๐˜–๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด dan ๐˜™๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ (ay. 22-59), tetapi yang diambil hanya ayat 24-35.

๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ถ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ด (ay. 24)

Dalam akhir episode mukjizat lima roti dan dua ikan Yesus meninggalkan orang banyak untuk menyingkir ke gunung karena mereka mendesak Yesus menjadi raja. Para murid kemudian kembali ke seberang tanpa Yesus, yang kemudian diserang badai. Yesus menjumpai mereka dengan berjalan di atas air dan perahu kemudian tiba di pantai tujuan mereka.

Esok hari orang banyak yang ditinggal Yesus dan para murid di seberang bingung mencari mereka. Dalam pada itu ada beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat tempat mereka makan roti. Ketika orang banyak itu melihat bahwa tidak ada Yesus dan para murid, mereka naik ke perahu-perahu itu, lalu berangkat mencari Yesus ke Kapernaum. (ay. 22-24) Tidak perlu kita berhitung apakah lima ribu orang cukup ditampung di dalam perahu-perahu itu. ๐˜“๐˜ฉ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ petulis Injil Yohanes saja pusing menghubungkan bahan-bahan itu untuk dijadikan narasi. Yang dapat kita lihat di sini adalah adegan orang banyak mencari Yesus itu merupakan persiapan panggung untuk percakapan panjang sesudahnya.

๐—•๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐— ๐˜‚๐˜€๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ (ay. 25-35)

Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya, “๐˜™๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช?” (ay. 25) Danau Galilea juga dikenal sebagai Laut Tiberias. Sebelumnya oarng banyak itu menyebut Yesus nabi dan hendak mengangkat-Nya menjadi raja. Sekarang mereka menyebut Yesus rabi, yang merupakan sapaan umum untuk guru agama Yahudi.

Inilah khas Injil Yohanes. Pertanyaan dilontarkan untuk memberi ruang bagi Yesus berbicara melampaui pertanyaan itu sendiri. Pada ayat 26-27 Yesus menjawab mereka, “๐˜š๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ: ๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข-๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ, ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜”๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜‹๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข.”

Ucapan Yesus itu tidak menjawab pertanyaan mereka. Justru Ia menyatakan kedangkalan pemahaman mereka dalam melihat tanda. Mereka mengikuti Yesus hanya karena melihat Yesus membuat mukjizat, tetapi tidak melihat tanda di balik mukjizat itu. Yesus belum secara eksplisit menyebut pewujudan tanda itu, baru ciri-cirinya. Bekerjalah. Bekerjalah bukan untuk makanan yang akan binasa.

Kata kerja ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ (ay. 27) hendaknya jangan dipahami meterai sebagai ๐˜ด๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ต๐˜บ seperti meterai 10.000. Meterai di sini adalah segel (๐˜ด๐˜ฆ๐˜ข๐˜ญ) seperti segel yang dipasang oleh petugas PLN di meteran listrik. Dimeteraikan di sini dimaknai disegel (๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ฉ๐˜ณ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ). Zaman dulu meterai memang dimaknai segel. Surat diikat dengan tali, lalu dituangi lilin, kemudian raja atau pejabat mencap lilin itu dengan cincinnya. Itulah meterai atau segel. Penerima surat akan melihat keutuhan meterai sebelum membukanya. Zaman sekarang meterai dimaknai ๐˜ด๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ต๐˜บ, bukan segel. Meterai (misal meterai 10.000) adalah bukti pembayaran pajak langsung atas satu transaksi, bukan untuk menyatakan sah atau tidak suatu perjanjian. Penerjemahan ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ kurang tepat untuk makna zaman sekarang. Lebih tepat ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ.

Orang banyak itu tetap belum menangkap makna jawaban Yesus bekerjalah bukan untuk makanan yang akan binasa, meskipun hari sebelumnya mereka makan roti mukjizat. Padahal jawaban Yesus sudah mengontraskan antara yang binasa dan hidup kekal (bdk. Yoh. 3:16; 10:28). Kata mereka kepada Yesus, “๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ-๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ?” (ay. 28). Pertanyaan orang banyak itu ๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ค๐˜ฌ๐˜บ sekaligus mau gampangnya saja. Mereka hendak menjebak Yesus untuk menyederhanakan ke dalam rumusan tindakan tertentu yang dapat menjamin mereka mencapai tujuan hidup.

Yesus memberi petunjuk di luar perkiraan mereka. Jawab Yesus kepada mereka, “๐˜๐˜ฏ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜บ๐˜ข๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜‹๐˜ช๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ.” (ay. 29). Ternyata hanya satu pekerjaan, yaitu percaya. Percaya kepada Dia yang telah diutus Allah. Ada perbedaan teologis antara percaya petulis Injil Yohanes dan iman Rasul Paulus. Percaya dalam ayat ini adalah kata kerja, sebuah pekerjaan, tindakan manusia. Iman (kata benda) menurut Paulus adalah anugerah Allah. Meskipun demikian tindakan atau pekerjaan percaya (versi Yohanes) hanya terjadi jika dimampukan oleh Allah (lih. ay. 44). Petulis Injil Yohanes menggunakan kata kerja percaya (๐˜ฑ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ถe๐˜ต๐˜ฆ) yang merupakan proses terus-menerus.

Jawaban Yesus yang mengarahkan mereka percaya kepada-Nya dicoba untuk dibantah. Bahkan mereka merujuk Kitab Suci. Kata mereka, “๐˜›๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜Œ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข-๐˜”๐˜ถ? ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜Œ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ? ๐˜•๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜จ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ด: ๐˜”๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช-๐˜•๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข.” (ay. 30-31).

Tanda yang sudah diberikan Yesus dalam peristiwa penggandaan roti pada hari sebelumnya tidak ditangkap oleh mereka. Setidak-tidaknya mereka mendaku tanda yang diberikan oleh Yesus tidak lebih besar daripada Musa. Kutipan Kitab Suci ๐˜”๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช-๐˜•๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข tidak ditemukan di dalam Alkitab Ibrani. Tampaknya ini merupakan parafrase petulis Injil untuk teks Keluaran 16:4, 15, Nehemia 9:15, dan Mazmur 78:24. Parafrase seperti ini sudah lazim digunakan oleh rabi Yahudi sebagai teknik ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ฉ.

Bantahan orang banyak itu seolah-olah menohok Yesus, tetapi justru itu umpan lambung yang siap dismes oleh Yesus. Kata Yesus kepada mereka, “๐˜š๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ: ๐˜‰๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜”๐˜ถ๐˜ด๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข.” (ay. 32-33).

Di sini Yesus menghunjam mereka. Bukan Musa yang menjadi subjek, melainkan Bapa. Kata ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช dalam frase ๐˜‰๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜”๐˜ถ๐˜ด๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช berbentuk ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ง๐˜ฆ๐˜ค๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ (๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฅo๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ – ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ด ๐˜จ๐˜ช๐˜ท๐˜ฆ๐˜ฏ), sedang ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช dalam frase ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช berbentuk sekarang atau ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ด (๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฅo๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ – ๐˜จ๐˜ช๐˜ท๐˜ฆ๐˜ด). Tindakan Allah dalam sejarah Israel sekarang terpenuhi dan dilanjutkan dalam karya Allah saat ini, sekarang. Roti yang dari Allah adalah ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ turun dari surga dan memberi hidup kepada dunia, bukan hanya kepada Israel seperti halnya hukum Taurat. Kata ganti relatif ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ (๐˜ฉ๐˜ฐ) pada objek ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข (ay. 33) bermakna ganda, yaitu roti dan Anak Manusia. Petulis Injil Yohanes tampaknya sengaja bermain kata untuk menyiapkan ayat 35.

Sepertinya orang banyak itu belum menangkap maksud Yesus dan makna ganda kata ganti relatif ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. Mereka terpeleset seperti Nikodemus yang memaknai ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฏe๐˜ต๐˜ฉe ๐˜ข๐˜ฏo๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ sebagai dilahirkan kembali, padahal frase itu juga bermakna dilahirkan dari atas. Ciri khas petulis Injil Yohanes menggunakan teknik ๐˜ฑ๐˜ญe๐˜ดe๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ. Kata mereka lagi, “๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ด๐˜ข.” (ay. 34)

Kata ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ di ayat 34 diterjemahkan dari ๐˜’๐˜บ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฆ yang bermakna ganda, yaitu tuan (๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฅ, ๐˜ด๐˜ช๐˜ณ) dan Tuhan (๐˜“๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฅ). NRSV menerjemahkannya ๐˜ด๐˜ช๐˜ณ yang secara lengkap “๐˜š๐˜ช๐˜ณ, ๐˜จ๐˜ช๐˜ท๐˜ฆ ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฅ ๐˜ข๐˜ญ๐˜ธ๐˜ข๐˜บ๐˜ด.” Apabila dihubungkan sapaan rabi dari orang banyak kepada Yesus di ayat 25, maka akan lebih tepat ๐˜’๐˜บ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฆ diterjemahkan menjadi tuan atau pak. Orang banyak itu mencerap kata ganti relatif ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ merujuk roti, makanan fisikal, seperti yang pernah diberi oleh Allah kepada nenek moyang mereka di padang gurun. Itulah sebabnya mereka bersemangat meminta roti yang tidak akan ada habisnya seperti yang mereka alami sehari sebelumnya makan roti sampai berkelimpahan 12 bakul. Mereka tidak mencerap ๐˜ฉ๐˜ฐ sebagai makna lain. 

Kekeliruan cerapan mereka ini dimaslahatkan secara telak oleh Yesus. Kata Yesus kepada mereka, “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข-๐˜’๐˜ถ, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ถ๐˜ด ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช.” (ay. 35) 

Di dalam Injil Yohanes kita kerap bersua dengan ucapan Yesus “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ … “ atau “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ …” (๐˜Œ๐˜จo ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ช), ungkapan yang sama (dalam Septuaginta) ketika Yahweh mengenalkan diri-Nya kepada Musa. Ungkapan “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ … “ atau “๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ …” disusul kiasan, misal, pintu, gembala, terang dunia, pokok anggur yang benar, jalan, dll. Sebelumnya Yesus menyebut diri-Nya adalah roti yang turun dari surga (lih. ay. 33) dan sekarang di ayat 35 secara eksplisit Yesus menyatakan bahwa Ia adalah roti kehidupan. Secara dramatis Yesus mengoreksi kekeliruan cerapan orang banyak itu. Cara menerima roti itu bukanlah dengan makan, melainkan dengan datang dan percaya kepada Yesus (di ayat 52-57 akan dijelaskan tentang roti ekaristis).

Atas penjelasan Yesus di atas mereka bersungut-sungut, karena mereka tahu bahwa Yesus anak Yusuf. Mereka meragukan bahwa Yesus telah turun dari surga, karena mereka mengenal ayah dan ibu Yesus (ay. 42). Banyak dari mereka akhirnya mengundurkan diri mengikuti Yesus (ay. 66).

(04082024)(T)

Kamis, 01 Agustus 2024

BERPIKIR POSITIF TENTANG LGBTQ, Serial Sudut Pandang

BERPIKIR POSITIF TENTANG LGBTQ, Serial Sudut Pandang


Bacaan Injil Lukas 7:36-50; nas ayat 37 "Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi." Seorang perempuan profesi pelacur layak dirajam batu menurut hukum Yahudi, disingkirkan mpun harus dijauhi, tidak boleh berbaur, kalau itu anggota sebuah keluarga patutnya diusir dari keanggotaan keluarga. Menjadi pusat dari semua cerca dan kesalahan sosial mungkin sudah jatahnya. Namun, ketika ia datang kepada Sang Guru, membasahi kaki Sang Guru dengan air mata, dan menyeka dengan rambutnya; Sang Guru mengampuni dosa perempuan hina itu, Sang Guru menerima pelacur itu apa adanya dengan segala keadaannya. Kita diajar bahwa Gereja bukan kumpulan orang yang merasa dirinya suci dan layak menghakimi sesama menurut kata hatinya sendiri; tetapi Gereja adalah tempat orang berdosa diterima keberadaannya, dibimbing, tempat pendosa dipulihkan martabatnya alias "diuwongkรฉ" atas dasar kasih. Kita terpanggil melakukan tugas Gereja tersebut, “ngewongke wong”, MEMANUSIAKAN MANUSIA, itulah menggereja. Belakangan ini, topik LGBT, secara nasional mau pun lokal di Gereja Baptis Injili Kupang, NTT, telah muncul sebagai salah satu dari trending topics di dalam masyarakat. Tanggapan-tanggapan terhadapnya menunjukkan perbedaan, malah kontroversi, mungkin juga di antara kita, yang ada di sini. Maka, kita bersyukur bahwa Tuhan menganugerahkan bagi kita kesempatan berharga ini, agar kita, sebagai anak-anak Tuhan, bersama berupaya memahami dan menanggapinya, sebagai suatu keluarga Allah (familia dei), secara jernih, arif, tentu dengan tetap taat dan dengar-dengaran kepada Allah, sang Pemilik kehidupan dan, karena itu, menghormati sesama, dan kehidupan milik-Nya. Mengenal LGBT, saudara sesama kita,  Kita perlu memulai pembahasan kita ini dari pengertian tentang orientasi seksual. Apa yang dimaksud dengan orientasi seksual adalah ketertarikan seseorang, secara emosional dan seksual, kepada jenis kelamin tertentu. Menurut Pusat Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), secara garis besar, orientasi seksual manusia dapat dibedakan atas: 1. Heteroseksual, yaitu orang yang tertarik, secara emosional dan seksual, kepada seseorang dengan jenis-kelamin berbeda. 2.Homoseksual, yaitu orang yang tertarik, secara emosional dan seksual, kepada seseorang yang berjenis-kelamin sama. 3. Lesbian adalah istilah untuk homoseksual perempuan, dan gay adalah istilah untuk homoseksual laki-laki. Oleh karena itu, homoseksual ini disebut juga interseksual. 4.Biseksual adalah suatu gangguan orientasi seksual yang ditandai dengan ketertarikan seksual, baik terhadap lawan jenis mau pun sesama jenis. Keadaan ini bisa terjadi pada siapa saja, termasuk seseorang (heteroseksual) yang sudah menikah. Umumnya, orang yang mengalami orientasi seksual biseksual, tidak ingin keadaan mereka diketahui. Teori biologi mempercayai bahwa orientasi seksual manusia dipengaruhi oleh faktor genetik atau faktor hormonal. Penelitian terakhir mengenai faktor biologis dalam pembentukan orientasi seksual dilakukan oleh Simon LeVay (Rice, 2002) yang menemukan adanya sekumpulan syaraf dalam hypothalamus laki-laki heteroseksual yang ukurannya tiga kali lebih besar dibandingkan dengan yang dimiliki oleh laki-laki homoseksual dan perempuan heteroseksual. Namun, hasil penelitian ini juga menimbulkan pertanyaan: apakah kumpulan syaraf yang lebih kecil itu yang menyebabkan seseorang menjadi homoseksual ataukah justru sebaliknya, kehomoseksualan seseorang yang menyebabkan ukurannya mengecil? Sebab penelitian lain menunjukkan adanya perubahan pada syaraf-syaraf ketika orang merespon suatu pengalaman seksual. Hipotesis lain menyatakan mungkin ada faktor lain yang tidak diketahui yang menyebabkan baik itu homoseksualitas maupun perbedaan ukuran syaraf tersebut. Berbeda dengan teori biologis, teori psikologis hendak menerangkan faktor penyebab homoseksualitas bukan dari aspek fisiologis tapi psikologis. Namun, suatu penelitian dimaksud yang melibatkan 686 laki-laki homoseksual, 293 perempuan homoseksual, 337 laki-laki heteroseksual, dan 140 perempuan heteroseksual, tidak dapat menemukan pendukung yang kuat bagi teori-teori psikoanalisis, teori belajar sosial, atau teori sosiologis lainnya.Maka disimpulkan bahwa homoseksualitas pasti memiliki dasar penyebab biologis(belum pasti secara psikologis). Kesimpulan lainnya adalah bahwa belum ada yang mengetahui secara pasti faktor-faktor apakah yang menyebabkan adanya homoseksualitas (Rice, 2002). Kemudian, 5. transjender. Sumber PKBI tadi, dan sumber-sumber lain, tidak memasukkan transjender sebagai orientasi seksual. Umumnya, tranjender didefinisikan sebagai ketidak-samaan identitas seksual seseorang terhadap jenis kelamin yang dimilikinya sendiri. Dalam PPDGJ (Pedoman Penggolongan Diagnosis Jiwa) III, yang dikeluarkan KEMENKES tahun 1993, tranjender dan transeksual ditempatkan dalam kategori gangguan identitas jenis kelamin, tapi bukan gangguan genetik atau kromosom seks. Maka, transjender dilihat bukan merupakan orientasi seksual, karena merupakan gangguan (disorientasi) identitas seksual. Sehingga, seorang transjender dapat saja mengidentifikasikan dirinya sebagai seorang heteroseksual, homoseksual, biseksual, atau pun aseksual (orang yang, sama sekali, tak memiliki dorongan alamiah seksual). Menurut informasi, sampai Februari 2016, ada 22 Negara yang sudah melegalkan perkawinan sejenis dalam sistem  hukum mereka, dimulai oleh Belanda pada tahun 1996 dan, belakangan, Amerika Serikat pada tahun 2015. Kebanyakan Negara-negara tersebut adalah dari Eropah dan Amerika serikat. Di Asia, baru ada 2 negara yang melakukan hal yang sama yakni Israel, pada tahun 2015, dan Vietnam tahun 2016. Kita juga mendengar, ada sejumlah gereja, di luar negeri, yang juga sudah meneguhkan pernikahan kaum homoseks. Gereja Baptis Injili di Nevada adalah salah satu yang pernah memberkati pernikahan sejenis. Bagaimana di Indonesia? Secara umum, terdapat resistensi yang kuat terhadap keberadaan kaum homoseks. Sumber tertentu menyebut di Indonesia, ada sekitar 1.095.970 orang kaum gay (2012) dengan 5%-nya pengidap HIV, meski pun badan PBB menyebut angka 3 juta orang (tahun 2011). Dari sumber yang sama, kita mendapat informasi bahwa KOMNAS HAM, dalam Rapat Plenonya, pada Juli 2013, hampir saja memberikan legalitas pada keorganisasian kaum LGBT ini namun, akhirnya, rapat itu memutuskan bahwa KOMNAS HAM tidak berwenang memutuskannya karena tidak mewakili seluruh rakyat Indonesia. Demikian pun pemerintah (Kemenkoinfo) mengajukan kepada Google untuk memblokir tiga aplikasi kaum LGBT. Tetapi menariknya, di sisi lain, kita juga mendapat informasi mengenai adanya fenomena perkawinan sejenis di beberapa daerah di tanah-air. Misalnya, di Ubud, Bali, ada 2 pasangan yang melangsungkan perkawinan pada September 2015, secara tersembunyi, tetapi gambar-gambarnra terpublikasi; di Padang (lesbian) pada 14 Februari 2016 tetapi dibatalkan oleh pihak KUA setempat; dan di Wonosobo (gay) pada 14 Maret 2016. Di Wonosobo ini, menarik oleh karena meski digagalkan oleh pihak kepolisian (dinilai melanggar UU), tetapi orang-tua kedua pihak malah bersikeras untuk melanjutkan. Lebih menarik lagi, hal yang mungkin belum luas diketahui, yautu ternyata, jauh sebelumnya, kearifan budaya beberapa suku tertentu kita di Indonesia telah mengakomodasi keberadaan kaum homoseksual ini. Misalnya, figur bissu dalam suku Bajo di Sulawesi Selatan; warok dan gendhakdi Jawa Timur; dan budaya Randai di Sumatera Barat. Untuk kepentingan perkembangan ke depan, tentu kearifan-kearifan budaya inklusif seperti ini perlu mendapat perhatian lebih jauh. Permasalahan: antara orientasi seksual dan perilaku seksual. Walau kita mendapati bahwa ketika masyarakat berbicara tentang LGBT, di dalam percakapan sehari-hari, definisinya menjadi sederhana saja yakni mencakupi orang atau sekelompok orang dengan orientasi homoseksual saja, namun, sesuai definisi tadi, ia mencakup suatu komunitas dengan karakterisitik yang tidak sederhana, lebih kompleks. Apalagi, pemahaman sederhana sehari-hari masyarakat itu, tidak jarang, disertai dengan cerita-cerita buruk menyangkut kaum ini. Akibatnya, bisa tanpa disadari, membawa persepsi masyarakat terperangkap prasangka, malah mungkin buruk-sangka. Penilaian bias inilah yang biasanya menguasai persepsi orang sehingga kaum ini, umumnya, mendapat stigma negatif. Akibatnya mereka, umumnya, menyembunyikan keadaan mereka yang sebenarnya, dan mungkin sekali menanggung diskriminasi, sepanjang hayatya. Ada anggapan bahwa homoseksual adalah suatu perilaku seksual menyimpang. Namun lembaga The American Psychiatric Association (APA) dan World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa homoseksualitas tidak termasuk dalam daftar penyakit psikologis. Begitu juga buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa Edisi II (PPDGJ II), yang diterbitkan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, pada tahun 1983, menyebutkan bahwa orientasi homoseksual, sebagaimana orientasi seksual lainnya, bukanlah suatu gangguan. Dengan demikian, untuk berlaku jujur, kita patut membedakan antara orientasi seksual seseorang dan perilaku seksualnya. Sebab, kita tentu menyadari bahwa memiliki orientasi seksual (jenis kelamin) tertentu, apa pun jenisnya, heteroseksual, homoseksual, atau biseksual, tidaklah serta-merta membuat orang yang bersangkutan menjadi tidak etis, tidak bermoral. Oleh karena, memiliki jenis kelamin dengan orientasi seksual tertentu, secara alamih (kodrati), memang berada di luar kehendak si-pemiliknya. Menyandang jenis kelamin dan orientasi seksual tertentu, bukanlah pilihan dari si-pemiliknya. Sehingga dari si-pemiliknya, tentu, tidak bisa dituntut tanggung-jawabnya, secara etis dan  moral, atas kepemilikan jenis kelamin dan orientasi seksualnya itu. Apa yang, sesungguhnya, tidak etis, tidak bermoral, adalah penyimpangan atas pemanfaatan alat dan jenis kelaminnya itu, misalnya, secara hedonis semata. Dan, penyimpangan seksual ini, bisa saja dilakukan, entah oleh orang LGBT mau pun yang non LGBT (heteroseksual). Maka, dalam hal ini, apa yang tidak etis, tidak bermoral adalah perilaku seksual yang menyimpang, bukanlah orientasi seksual itu sendiri. Maka, menyangkut integritas moral seksual seseorang, apa yang dapat dituntut adalah perilaku seksual seseorang, bukan orientasi seksualnya. Maka, secara gerejawi, khususnya terkait dengan gangguan seksual, baik genetik, anatomik, atau pun sosial, tentu diperlukan pengenalan yang tepat yang menjadi dasar dari sikap serta kepedulian untuk pendampingan pastoral terhadap saudara-saudara sesama kita ini. Tanggapan etis-teologis, Bagaimanakah tanggapan etis-teologis terhadap keberadaan kaum LGBT? Untuk maksud ini, pembahasan akan memperhatikan tiga hal: makna etis-teologis seksual dalam kisah Penciptaan Perjanjian Lama; penyimpangan makna seksual; dan gangguan seksual. Makna sesksualitas dalam kisah Penciptaan (Kej. 1-2): Persekutuan keluarga, Perjanjain Lama. Bagaimanakah sesungguhnya maksud Allah, sang Pencipta, ketika Ia menciptakan manusia-manusia pertama dengan jenis-kelamin berbeda itu. Pertama, baik pasal 1:1-2:4a (sumber Priest), mau pun pasal 2:4b-25 (sumber Jahwist), menunjukkan bahwa ketika mencipta, sang Pencipta menciptakan lebih dahulu segala sesuatu, sebelum menciptakan manusia, yakni: benda-benda langit, tumbuhan, binatang di darat, di laut, di udara. Baru kemudian, untuk mengatur dan menata semuanya itulah, sang Pencipta menciptakan manusia. Kita baca ayat, yang sudah sangat kita kenal (Kej. 1: 26): “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas …” segala yang telah Allah ciptakan itu. Itu berarti Allah, sesudah mencipta, menganugerahkan kemampuan (kuasa) bagi manusia agar manusia mampu menjadi penatalayan-Nya. Istilah Ibrani, seperti yang dikenakan pada Yusuf dalam Kej. 43, 44: haish asher al: orang yang berwenang/berkuasa atas …, atau asher al bayit = orang yang berwenang/berkuasa atas urusan kerumah-tanggan. Dalam arti yang sama, kata Yunani memaknai oikonomos = penatalayan, yakni orang yang mengatur dan menata rumah-tangga. Dalam hubungan dengan Kej. 1 dan 2, Allah memberi tanggung-jawab kepada manusia (ingat: makna pemberian nama: Kej. 2:19, 20) untuk menata ciptaan-Nya, alam semesta dan segenap isinya, sebagai suatu rumah-tangga Allah (Kej. 1:28; 2:15). Untuk itu maka Allah menganugerahkan pada manusia suatu eksistensi yang istimewa, dibanding semua makhluk lainnya, yakni sebagai “gambar” (Ibr. tselem) dan rupa (Ibr. demut) Allah sendiri (ay. 26, 27) agar manusia, berpadanan dengan kedudukannya sebagai gambar dan rupa Allah (Lat. imago dei) itu, mampu menata-layani alam semesta dan kehidupan di bumi, ciptaan Allah itu, begitu rupa, agar tetap teratur dan tertata dengan “baik” (ay. 3,10,12,18,25), malah “amat baik” (ay. 31), seperti ketika Allah sendiri menciptakannya. Kedua, dalam rangka menjalankan tanggung-jawab manusia sebagai penatalayan (oikonomos) Allah itu, sang Pencipta, serentak, menciptakan manusia di dalam suatu ikatan persekutuan: persektuan-keluarga, yang terdiri dari dua individu berbeda jenis-kelaminnya, laki-laki dan perempuan (ay.27), tetapi yang terpadu satu (mono-dualis), sepadan, setara; berbeda tetapi tidak terpisahkan, bekerja-sama, saling menolong, saling melengkapi, ya, komplementer. Tentu, kekuatan persekutuan demikian inilah yang diperlukan untuk melaksanakan tanggung-jawab yang Allah berikan tadi. Persekutuan mono-dualis manusia ini tercermin pula dalam nama manusia pertama yakni “Adam”. Lempp mencatat bahwa nama ini adalah istilah kolektif, bukan nama diri tapi kesatuan manusia. Makna komplementer inilah yang memikul tanggung-jawab penatalayanan (oikonomia) tadi. Persekutuan dua manusia (keluarga) yang berbeda tapi komplementer inilah yang menjadi dasar dari persekutuan sosial manusia, secara universal. Artinya, penciptaan persekutuan manusia (mono-dualis) komplementer oleh sang pencipta ini, menjadikannya sebagai basis dari persekutuan manusia universal. Persekutuan keluarga menjadi basis dari persekutuan manusia, si-penatalayan (oikonomos) Allah itu, dengan tugas memerintah bumi itu (Kej. 1: 28). Apa artinya ini? Dalam kisah Penciptaan tadi, ke-jenis-kelaminan manusia tidak mempunyai tujuan dalam dirinya sendiri, terpisah, kecuali di dalam persekutuan mereka guna bersama mengemban tugas dan tanggung-jawab menatalayani alam semesta dan kehidupan, sehingga membawa kebaikan dalam kehidupan, sesuai kehendak sang Pencipta. Maka, pada kisah Penciptaan tadi, kita menemukan dua maksud terpadu dari sang Pencipta ketika Ia menciptakan manusia. Pertama, penganugerahan jenis kelamin berbeda, sejak semula itu (Kej. 1:26-28), tidak hanya untuk maksud seksual dan reproduktif saja – walau tentu itu juga – tetapi serentak, kedua, untuk maksud persekutuan mereka di dalam keintiman cinta-kasih yang mendalam sebagai partner (Kej. 2:18-25) yang komplementer, untuk bersama memikul tugas sebagai oikonomos Allah, menata bumi, berdasarkan cinta-kasih Allah itu. Atas dasar kedua maksud dari sang Pencipta itulah, relasi seksual antara jenis kelamin berbeda ini digambarkan sebagai komplementer (Kej. 2: 18, 21-24). Sehingga hubungan seks antara Adam dan Hawa dijelaskan dengan ungkapan (Kej. 4:1): “Kemudian bersetubuhlah manusia itu dengan Hawa isterinya” [Ibr.: ha adam yada’ et hawa isto …]. Makna kata yaw-dah’ di sini adalah mengenal dengan sangat mendalam. Bahwa keintiman kedua manusia ini bukan sekedar suatu hubungan seksual-fisikal belaka tetapi suatu ikatan persekutuan mendalam, lahir dan batin. Akibatnya, makna hubungan antara dua jenis kelamin berbeda ini tidak boleh direduksi menjadi hanya hubungan seksual belaka, sebab itu berarti menghilangkan makna mendalam yada’ tadi. Dengan ungkapan yang lain, maksud dari sang Pencipta menjadikan persekutuan kedua jenis kelamin berbeda inidigambarkan sebagai “satu daging” (Kej. 2:24). Mereka saling melengkapi, saling membutuhkan, membentuk suatu persekutuan, sehingga, tanpa yang satu, yang lainnya tidaklah lengkap. Untuk itu, keduanya diciptakan sepadan, setara, di hadapan Allah. Sebab hanya dengan demikianlah, mereka bisa hidup dalam persekutuan yang saling melengkapi, sesuai yang Allah kehendaki, untuk tugasdan tanggung-jawab sebagai penatalayan Allah. Perjanjian Baru. Terkait topik tersebut, kita perlu juga memperhatikan apa yang rasul Paulus sampaikan dalam I Kor. 6:1-20, dan 7:1-40, oleh karena kedua nats ini, memang, menyangkut masalah-masalah seksual. Inti pokok dari nasihat sang Rasul di sini ialah bahwa oleh karena mengingat waktu kedatangan Tuhan (parusia) telah singkat (ayat 26, 29) maka jemaat di Korintus harus memelihara hidup yang benar dan kudus di hadapan Allah, termasuk kekudusan hidup seksual dan perkawinan mereka, baik orang muda mau pun orang tua; yang belum dan yang sudah kawin, agar hidup mereka dapat berkenan kepada Allah (ayat 29-35). Demikianlah, dalam pasal 6 Paulus menegaskan bahwa hanya orang-orang yang memelihara hidup yang benar dan kudus itulah yang kelak “..mendapat bagian dalam Kerajaan Allah” (6:9). Oleh karena itu Paulus menyerang praktek-praktek penyimpangan seksual yang, di kala itu, biasa dilakukan dalam penyembahan berhala orang kafir, termasuk oleh orang-orang dengan orientasi homoseksual (ayat 9-b: “pemburit” = homoseks). Alasan Paulus ialah bahwa di dalam Kerajaan Allah, tubuh adalah “bait Roh Kudus” (ayat 19). Sehingga jelas, apa yang hendak dilawan oleh sang Rasul, di sini, adalah musuh Kerajaan Allah, yakni praktek penyembahan berhala dan, tentu, semua praktek seksual menyimpang yang, biasa menyertainya. Maka jelas bahwa, apa yang dihukum di sini adalah praktek-praktek penyimpangan seksualnya, sebagai bagian dari penyembahan berhala yang dilawan itu, bukan orientasi seksualnya sendiri. Malah menurut rasul Paulus, di dalam Kerajaan Allah: “tidak ada laki atau perempuan…” (Galatiga 3 : 28, dasar pemikiran baptisan, artinya penerimaan keselamatan, Matius 22:30, ciri kehidupan malaikat : 1. Malaikat tidak pernah mati (Lukas 20;36) 2. Malaikat adalah makhluk roh yang tak bergender, jadi tak mengenal kawin), maksudnya, semua jenis kelamin berbeda itu sama berharga di hadapan-Nya; mereka sama sebagai yang “… telah dikuduskan dan dibenarkan dalam Yesus Kristus” (6:11); malah sama dipersekutukan di dalam Yesus Kristus (Gal. 3:28-29). Penyimpangan seksual, Dari perspektif etis Alkitabiah tadi maka, suatu perilaku seksual disebut menyimpang apabila tidak bersesuaian dengan maksud Allah dalam Penciptaan, ketika Ia menciptakan manusia. Bertolak dari norma maksud Allah ini maka, secara etis-teologis, penyimpangan seksual — oleh manusia dengan orientasi seksual yang mana pun – terjadi bila seks dipisahkan dari, malah, merusak ikatan persekutuan keluarga; terjadi bila seks mengorbankan tugas penata-layanan keluarga, masyarakat, bahkan kehidupan, yang Allah percayakan kepada manusia, bagi kebaikan kehidupan di bumi. Misalnya, seks dimanfaatkan hanya untuk kenikmatan dengan mengumbar hawa nafsu hedonistis, sehingga mengakibatkan berbagai kejahatan, misalnya perselingkuhan, perzinahan, pelacuran, kekerasan seksual, seperti pemerkosaan, baik terhadap orang dewasa mau pun anak-anak (pedofilia), dlsb. Padahal, menurut rasul Paulus, manusia beriman patut memelihara kekudusan hidup seksualnya. Hanya kalau seks dipakai, sesuai maksud sang Pencipta, yakni sebagai penguatan ikatan persekutuan keluarga, bahkan persekutuan masyarakat manusia, guna menjawab tugas panggilan dan tanggung-jawab manusia menata-layani kehidupan, maka makna seks telah sesuai dengan maksud Allah, sebagaimana dalam Penciptaan. Demikianlah, sesuai konteks dan motivasi teologis tiap-tiap kitab dalam Alkitab, kita temukan dalam sejumlah teks Alkitab bagaimana perilaku seksual tertentu dikecam karena dipandang telah menyimpang dari maksud Allah, malah melawan Allah. Misalnya, Ul. 23:17-18 yaitu penyimpangan seksual terkait agama Baal; Roma 1:23-32 penyimpangan seksual terkait berhala bangsa Romawi; Kej. 19:5-11, penyimpangan seksual yang terkait dengan  kebencian orang Sodom terhadap bangsa lain/asing bukan orientasi seks nya (lih. Yehez. 16:49-50, dosa Sodom yg sebenarnya, Tuhan Yesus sendiri mengingatkan akan istri Lot sbg peringatan untuk tidak kembali ke kehidupan lama bila telah ditebus, jangan jadi sama dengan dunia, Lukas 17;28-33). Keberdosaan Sodom Gomora terliat jelas pada kejadian 19:5, hanya karena orang asing orang-orang Sodom Gomora merasa berhak melakukan apapun yang jahat, padahal kenal pun tidak. Menjahati orang laen atau sesama padahal kenal pun tidak, e-yaw-dah bisa diartikan bersetubuh atau memperkosa, padahal jelas orang asing itu lelaki. Gangguan seksual, Dengan demikian, secara etis teologis, kita tentu perlu membedakan antara penyimpangan seksual dan gangguan seksual. Pelaku penyimpangan seksual, dengan orientasi seksual mana pun, wajib bertanggung-jawab terhadap perilakunya. Perilaku menyimpang yang tentu dilakukannya secara sadar dan sengaja. Oleh karena itu, darinya patut dituntut tanggung-jawab etis dan moral. Tetapi dari penyandang gangguan seksual, dengan orientasi seksual mana pun, entah permanen atau pun temporal, tidak dapat dituntut tanggung-jawab serupa oleh karena gangguan seksual itu, sama sekali, bukanlah pilihannya, secara sadar dan sengaja. Bahkan, keadaan gangguan itu di luar kemauannya. Seorang penyandang impotensia (heteroseksual), misalnya, tidak mungkin dimintakan tanggung-jawab etis dan moral atas gangguan itu. Ia, malah, perlu mendapat perhatian. Demikian juga gangguan bagi seorang homoseksual, dan biseksual. Berbeda dengan itu, seorang penyandang transjender, sesungguhnya, mengalami gangguan berlapis yakni baik internal (karena gangguan seksualnya itu), mau pun eksternal, berupa tekanan psiko-sosial yang dialaminya dari lingkungannya. Akan lebih ringan beban gangguan itu, kalau saja orang yang bersangkutan bisa menerima keadaannya itu (egosintonik); tetapi kalau yang bersangkutan tidak bisa menerima (denial) keadaannya itu (egodistonik), dan juga tidak bisa merubahnya, tentu beban gangguannya akan jauh lebih berat. Penolakan, baik dari masyarakat mau pun dari diri sendiri ini, bisa melahirkan tindakan bunuh diri. Pelayanan pastoral gereja, tentu, patut memperhatikan dengan sungguh akan hal ini. Menyikapi LGBT, saudara sesama kita: Pendampingan pastoral, Konsekuensi dari dasar-dasar teologis Alkitabiah tadi, setidaknya, menegaskan tiga hal. Pertama, pentingnya kita memelihara nilai dan sikap emansipatif, tidak diskriminatif secara seksual, oleh karena setiap manusia, apa pun orientasi seksualnya, sama berharganya, sebagai gambar Allah, sang Pencipta. Kedua, oleh karena seks adalah pemberian Allah maka manusia patut memelihara kekudusan hidup seksualnya guna memperkuat ikatan persekutuan perkawinan, persekutuan manusia berkeluarga, dan persekutuan manusia laki-laki dan perempuan pada umumnya, yang, pada akhirnya, akan menyumbang bagi persekutuan manusia, secara universal. Ketiga, adalah menjadi tugas dan tanggung-jawab gereja untuk memberi perhatian pada siapa saja yang mengalami kesulitan, termasuk sesama saudara kita kaum LGBT, bukan saja agar mereka tidak mengalami diskriminasi, tetapi terlebih lagi mampu memperkuat persekutuan keluarga, sebagai basis gereja dan masyarakat, sehingga mampu ikut berperan menata-layani keluarga, masyarakat, dan lingkungan sosial. Pendampingan pastoral gereja ini, tentu perlu disesuaikan dengan kondisi setiap orang dan keluarga yang bersangkutan: Bagi keluarga Kristen, umumnya: agar mampu memperkuat ikatan persekutuan keluarga, yang bertanggung-jawab menatalayani keluarga, masyarakat, dan lingkungan hidup.Bagi mereka yang melakukan penyimpangan seksual: untuk bertobat dan kembali memelihara kekudusan seksual dan perkawinan dalam persekutuan keluarga dan masyarakat, sehingga mampu menjadi berkat bagi sesama, dan kehidupan.Bagi mereka yang mengalami gangguan seksual: bukan saja agar tidak mengalami diskriminasi seksual tetapi juga agar mampu keluar dari tekanan psikologis (dan teologis) yang dialami, untuk bisa menjalani hidup yang bermakna, serta menjadi berkat. Roh Tuhan kiranya menuntun pelayanan gereja, pelayanan kita dan keluarga kita, di Tahun yang baru, dan tahun-tahun di depan, dengan penuh harapan. 2 Samuel 1:26 (TB)  Merasa susah aku karena engkau, saudaraku Yonatan, engkau sangat ramah kepadaku; bagiku cintamu lebih ajaib dari pada cinta perempuan. Sebuah pertanyaan besar bagi juru tafsir moderen....apakah Daud seorang biseksual?....selama ini orang hanya mengenal Daud bersahabat dg Yonatan putra Saul....sebatas itu...padahal banyak ayat dalam kitab samuel...yg memuat bgmn kerinduan kedua orang ini melebihi kerinduan seorang sahabat....mari melihat alkitab secara lebih dalam...Teolog besar Billy Graham pernah mengatakan alkitab adalah buku misteri yg bisa mengikuti jaman dan tak lekang oleh jaman. Tidak harus mencela orang lain dan jangan mengumbar aib orang lain, hanya untuk membuktikan bahwa diri kita lebih baik dari mereka . Jalani dan nikmati saja hidup ini, tanpa pernah menghakimi siapapun, karena yang berhak menilai keseluruhan hidup kita hanyalah Sang  Maha Kuasa.

(01082024) (TUS)

BACA JUGA :
https://titusroidanto.blogspot.com/2023/10/mengapa-penduduk-sodom-begitu-terancam_8.html

https://titusroidanto.blogspot.com/2023/09/homoseksualitas-dan-gereja-baptis.html

https://titusroidanto.blogspot.com/2024/06/mengenal-dan-menyikapi-lgbt-sesama-kita.html

https://titusroidanto.blogspot.com/2024/08/memanusiakan-manusia-lgbtq-serial-sudut.html

MEMANUSIAKAN MANUSIA (LGBTQ), SERIAL SUDUT PANDANG

MEMANUSIAKAN MANUSIA (LGBTQ), SERIAL SUDUT PANDANG


Bacaan  Injil  Lukas  7:36-50;  nas  ayat  37  "Di  kota  itu  ada  seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi." Seorang perempuan profesi pelacur layak dirajam batu menurut hukum Yahudi,  disingkirkan  mpun  harus  dijauhi,  tidak  boleh  berbaur, kalau itu anggota sebuah keluarga patutnya diusir dari keanggotaan  keluarga.  Menjadi pusat dari semua cerca dan kesalahan sosial mungkin  sudah  jatahnya.  Namun,   ketika ia datang kepada Sang Guru, membasahi kaki Sang Guru dengan air mata, dan  menyeka dengan rambutnya; Sang Guru mengampuni dosa perempuan hina itu, Sang Guru menerima pelacur itu apa adanya dengan segala keadaannya. Kita diajar bahwa Gereja bukan kumpulan orang yang merasa dirinya suci dan layak menghakimi sesama menurut kata hatinya sendiri; tetapi Gereja adalah tempat orang berdosa diterima keberadaannya, dibimbing,  tempat pendosa dipulihkan martabatnya alias "diuwongkรฉ" atas dasar kasih. Kita terpanggil  melakukan tugas Gereja tersebut, “ngewongke wong”, MEMANUSIAKAN MANUSIA, itulah  menggereja.  Belakangan  ini,  topik  LGBT,  secara nasional mau pun lokal di Gereja Baptis Injili Kupang, NTT, telah muncul sebagai salah satu dari trending topics di dalam masyarakat. Tanggapan-tanggapan terhadapnya menunjukkan perbedaan, malah kontroversi, mungkin juga di antara kita, yang ada di sini. Maka, kita bersyukur bahwa Tuhan menganugerahkan bagi kita kesempatan berharga ini, agar kita, sebagai anak-anak Tuhan, bersama berupaya memahami dan menanggapinya, sebagai suatu keluarga Allah (familia dei), secara jernih, arif, tentu dengan tetap taat dan dengar-dengaran kepada Allah, sang Pemilik kehidupan dan, karena itu, menghormati sesama, dan kehidupan milik-Nya. Mengenal LGBT, saudara sesama kita, Kita perlu memulai pembahasan kita ini dari pengertian tentang orientasi seksual. Apa yang dimaksud dengan orientasi seksual adalah ketertarikan seseorang, secara emosional dan seksual, kepada jenis kelamin tertentu. Menurut Pusat Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), secara garis besar, orientasi seksual manusia dapat dibedakan atas: 1. Heteroseksual, yaitu orang yang tertarik, secara emosional dan seksual, kepada seseorang dengan jenis-kelamin berbeda. 2.Homoseksual, yaitu orang yang tertarik, secara emosional dan seksual, kepada seseorang yang berjenis-kelamin sama. 3. Lesbian adalah istilah untuk homoseksual perempuan, dan gay adalah istilah untuk homoseksual laki-laki. Oleh karena itu, homoseksual ini disebut juga interseksual. 4.Biseksual adalah suatu gangguan orientasi seksual yang ditandai dengan ketertarikan seksual, baik terhadap lawan jenis mau pun sesama jenis. Keadaan ini bisa terjadi pada siapa saja, termasuk seseorang (heteroseksual) yang sudah menikah. Umumnya, orang yang mengalami orientasi seksual biseksual, tidak ingin keadaan mereka diketahui. Teori biologi mempercayai bahwa orientasi seksual manusia dipengaruhi oleh faktor genetik atau faktor  hormonal. Penelitian terakhir mengenai faktor biologis dalam pembentukan orientasi seksual dilakukan oleh Simon LeVay (Rice, 2002) yang menemukan adanya sekumpulan syaraf dalam hypothalamus laki-laki heteroseksual yang ukurannya tiga kali lebih besar dibandingkan dengan yang dimiliki oleh laki-laki homoseksual dan perempuan heteroseksual. Namun, hasil penelitian ini juga menimbulkan pertanyaan: apakah kumpulan syaraf yang lebih kecil itu yang menyebabkan seseorang menjadi homoseksual ataukah justru sebaliknya, kehomoseksualan seseorang yang menyebabkan ukurannya mengecil? Sebab penelitian lain menunjukkan adanya perubahan pada syaraf-syaraf ketika orang merespon suatu pengalaman seksual. Hipotesis lain menyatakan mungkin ada faktor lain yang tidak diketahui yang menyebabkan baik itu homoseksualitas maupun perbedaan ukuran syaraf tersebut. Berbeda dengan teori biologis, teori psikologis hendak menerangkan faktor penyebab homoseksualitas bukan dari aspek fisiologis tapi psikologis. Namun, suatu penelitian dimaksud yang melibatkan 686 laki-laki homoseksual, 293 perempuan homoseksual, 337 laki-laki heteroseksual, dan 140 perempuan heteroseksual, tidak dapat menemukan pendukung yang kuat bagi teori-teori psikoanalisis, teori belajar sosial, atau teori sosiologis lainnya.Maka disimpulkan bahwa homoseksualitas pasti memiliki dasar penyebab biologis(belum pasti secara psikologis). Kesimpulan lainnya adalah bahwa belum ada yang mengetahui secara pasti faktor-faktor apakah yang menyebabkan adanya  homoseksualitas (Rice, 2002). Kemudian, 5. transjender. Sumber PKBI tadi, dan sumber-sumber lain, tidak memasukkan transjender sebagai orientasi seksual. Umumnya, tranjender didefinisikan sebagai ketidak-samaan identitas seksual seseorang terhadap jenis kelamin yang dimilikinya sendiri. Dalam PPDGJ (Pedoman Penggolongan Diagnosis Jiwa) III, yang dikeluarkan KEMENKES tahun 1993, tranjender dan transeksual ditempatkan dalam kategori gangguan identitas jenis kelamin, tapi bukan gangguan genetik atau kromosom seks. Maka, transjender dilihat bukan merupakan
orientasi seksual, karena merupakan gangguan (disorientasi) identitas seksual. Sehingga, seorang transjender  dapat saja mengidentifikasikan dirinya sebagai seorang heteroseksual, homoseksual, biseksual, atau pun aseksual (orang yang, sama sekali, tak memiliki dorongan alamiah seksual). Menurut informasi, sampai Februari 2016, ada 22 Negara yang sudah melegalkan perkawinan sejenis dalam sistem hukum mereka, dimulai oleh Belanda pada tahun 1996 dan, belakangan, Amerika Serikat pada tahun 2015. Kebanyakan Negara-negara tersebut adalah dari Eropah dan Amerika serikat. Di Asia, baru ada 2 negara yang melakukan hal yang sama yakni Israel, pada tahun 2015, dan Vietnam tahun 2016. Kita juga mendengar, ada sejumlah gereja, di luar negeri, yang juga sudah meneguhkan pernikahan kaum homoseks. Gereja Baptis Injili di Nevada adalah salah satu yang pernah memberkati pernikahan sejenis. Bagaimana di Indonesia? Secara umum, terdapat resistensi yang kuat terhadap keberadaan kaum homoseks. Sumber tertentu menyebut di Indonesia, ada sekitar 1.095.970 orang kaum gay (2012) dengan 5%-nya pengidap HIV, meski pun badan PBB menyebut angka 3 juta orang (tahun 2011). Dari sumber yang sama, kita mendapat informasi bahwa KOMNAS HAM, dalam Rapat Plenonya, pada Juli 2013, hampir saja memberikan legalitas pada keorganisasian kaum LGBT ini namun, akhirnya, rapat itu memutuskan bahwa KOMNAS HAM tidak berwenang memutuskannya karena tidak mewakili seluruh rakyat Indonesia. Demikian pun pemerintah (Kemenkoinfo) mengajukan kepada Google untuk memblokir tiga aplikasi kaum LGBT. Tetapi menariknya, di sisi lain, kita juga mendapat informasi mengenai adanya fenomena perkawinan sejenis di beberapa daerah di tanah-air. Misalnya, di Ubud, Bali, ada 2 pasangan yang melangsungkan perkawinan pada September 2015, secara tersembunyi, tetapi gambar- gambarnra terpublikasi; di Padang (lesbian) pada 14 Februari 2016 tetapi dibatalkan oleh pihak KUA setempat; dan di Wonosobo (gay) pada 14 Maret 2016. Di Wonosobo ini, menarik oleh karena meski digagalkan oleh pihak kepolisian (dinilai melanggar UU), tetapi orang-tua kedua pihak malah bersikeras untuk melanjutkan. Lebih menarik lagi, hal yang mungkin belum luas diketahui, yautu ternyata, jauh sebelumnya, kearifan budaya beberapa suku tertentu kita di Indonesia telah mengakomodasi keberadaan kaum homoseksual ini. Misalnya, figur bissu dalam suku Bajo di Sulawesi Selatan; warok dan gendhakdi Jawa Timur; dan budaya Randai di Sumatera Barat. Untuk kepentingan perkembangan ke depan, tentu kearifan-kearifan budaya inklusif seperti ini perlu mendapat perhatian lebih jauh. Permasalahan: antara orientasi seksual dan perilaku seksual. Walau kita mendapati bahwa ketika masyarakat berbicara tentang LGBT, di dalam percakapan sehari-hari, definisinya menjadi sederhana saja yakni mencakupi orang atau sekelompok  orang dengan orientasi homoseksual saja, namun, sesuai definisi tadi, ia mencakup suatu komunitas dengan karakterisitik yang tidak sederhana, lebih kompleks. Apalagi, pemahaman sederhana sehari-hari masyarakat itu, tidak jarang, disertai dengan cerita-cerita buruk menyangkut kaum ini. Akibatnya, bisa tanpa disadari, membawa persepsi masyarakat terperangkap prasangka, malah mungkin buruk-sangka. Penilaian bias inilah yang biasanya menguasai persepsi orang sehingga kaum ini, umumnya, mendapat stigma negatif. Akibatnya mereka, umumnya, menyembunyikan keadaan mereka yang sebenarnya, dan mungkin sekali menanggung diskriminasi, sepanjang hayatya. Ada anggapan bahwa homoseksual adalah suatu perilaku seksual menyimpang. Namun lembaga The American Psychiatric Association (APA) dan World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa homoseksualitas tidak termasuk dalam daftar penyakit psikologis. Begitu juga buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa Edisi II (PPDGJ II), yang diterbitkan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, pada tahun 1983, menyebutkan bahwa orientasi homoseksual, sebagaimana orientasi seksual lainnya, bukanlah suatu gangguan. Dengan demikian, untuk berlaku jujur, kita patut  membedakan antara orientasi seksual seseorang dan perilaku seksualnya. Sebab, kita tentu menyadari bahwa memiliki orientasi seksual (jenis kelamin) tertentu, apa pun jenisnya, heteroseksual, homoseksual, atau biseksual, tidaklah serta-merta membuat orang yang bersangkutan menjadi tidak etis, tidak bermoral. Oleh karena, memiliki jenis kelamin dengan orientasi seksual tertentu, secara alamih (kodrati), memang berada di luar kehendak si-pemiliknya. Menyandang jenis kelamin dan orientasi seksual tertentu, bukanlah pilihan dari si-pemiliknya. Sehingga dari si- pemiliknya, tentu, tidak bisa dituntut tanggung-jawabnya, secara etis dan moral, atas kepemilikan jenis kelamin dan orientasi seksualnya itu. Apa yang, sesungguhnya, tidak etis, tidak bermoral, adalah penyimpangan atas pemanfaatan alat dan jenis kelaminnya itu, misalnya, secara hedonis semata. Dan, penyimpangan seksual ini, bisa saja dilakukan, entah oleh orang LGBT mau pun yang non LGBT (heteroseksual). Maka, dalam hal ini, apa yang tidak etis, tidak bermoral adalah perilaku seksual yang menyimpang, bukanlah orientasi seksual itu sendiri. Maka, menyangkut integritas moral seksual seseorang, apa yang dapat dituntut adalah perilaku seksual seseorang, bukan orientasi seksualnya. Maka, secara gerejawi, khususnya terkait dengan gangguan seksual, baik genetik, anatomik, atau pun sosial, tentu diperlukan pengenalan yang tepat yang menjadi dasar dari sikap serta kepedulian untuk pendampingan pastoral terhadap saudara-saudara sesama kita ini. Tanggapan etis-teologis, Bagaimanakah tanggapan etis-teologis terhadap keberadaan kaum LGBT? Untuk maksud ini, pembahasan akan memperhatikan tiga hal: makna etis-teologis seksual dalam kisah Penciptaan Perjanjian Lama; penyimpangan makna seksual; dan gangguan seksual. Makna sesksualitas dalam kisah Penciptaan (Kej.  1-2): Persekutuan keluarga, Perjanjain Lama.  Bagaimanakah sesungguhnya maksud Allah, sang Pencipta, ketika Ia menciptakan manusia-manusia pertama dengan jenis- kelamin berbeda itu. Pertama, baik pasal 1:1-2:4a (sumber Priest), mau pun pasal 2:4b-25 (sumber Jahwist), menunjukkan bahwa ketika mencipta, sang Pencipta menciptakan lebih dahulu segala sesuatu, sebelum menciptakan manusia, yakni: benda-benda langit, tumbuhan, binatang di darat, di laut, di udara. Baru kemudian, untuk mengatur dan menata semuanya itulah, sang Pencipta menciptakan manusia. Kita baca ayat, yang sudah sangat kita kenal (Kej. 1: 26): “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas …” segala yang telah Allah ciptakan itu. Itu berarti Allah, sesudah mencipta, menganugerahkan kemampuan (kuasa) bagi manusia agar manusia mampu menjadi penatalayan-Nya. Istilah Ibrani, seperti yang dikenakan pada Yusuf dalam Kej. 43, 44: haish asher al: orang yang berwenang/berkuasa atas …, atau asher al bayit = orang yang berwenang/berkuasa atas urusan kerumah-tanggan. Dalam arti yang sama, kata Yunani memaknai oikonomos = penatalayan, yakni orang yang mengatur dan menata rumah-tangga. Dalam hubungan dengan Kej. 1 dan 2, Allah memberi tanggung-jawab kepada manusia (ingat: makna pemberian nama: Kej. 2:19, 20) untuk menata ciptaan-Nya, alam semesta dan segenap isinya, sebagai suatu rumah-tangga Allah (Kej. 1:28; 2:15). Untuk itu maka Allah menganugerahkan pada manusia suatu eksistensi yang istimewa, dibanding semua makhluk lainnya, yakni sebagai “gambar” (Ibr. tselem) dan rupa (Ibr. demut) Allah sendiri (ay. 26, 27) agar manusia, berpadanan dengan kedudukannya sebagai gambar dan rupa Allah (Lat. imago dei) itu, mampu menata-layani alam semesta dan kehidupan di bumi, ciptaan Allah itu, begitu rupa, agar tetap teratur dan tertata dengan “baik” (ay. 3,10,12,18,25), malah “amat baik” (ay. 31), seperti ketika Allah sendiri menciptakannya. Kedua, dalam rangka menjalankan tanggung- jawab manusia sebagai penatalayan (oikonomos) Allah itu, sang Pencipta, serentak, menciptakan manusia di dalam suatu ikatan persekutuan: persektuan-keluarga, yang terdiri dari dua individu berbeda jenis-kelaminnya, laki-laki dan perempuan (ay.27), tetapi yang terpadu satu (mono-dualis), sepadan, setara; berbeda tetapi tidak terpisahkan, bekerja-sama, saling menolong, saling melengkapi, ya, komplementer. Tentu, kekuatan persekutuan demikian inilah yang diperlukan untuk melaksanakan tanggung-jawab yang Allah berikan tadi. Persekutuan mono-dualis manusia ini tercermin pula dalam nama manusia pertama yakni “Adam”. Lempp mencatat bahwa nama ini adalah istilah kolektif, bukan nama diri tapi kesatuan manusia. Makna komplementer inilah yang memikul tanggung-jawab penatalayanan (oikonomia) tadi. Persekutuan dua manusia (keluarga) yang berbeda tapi komplementer inilah yang menjadi dasar dari persekutuan sosial manusia, secara universal. Artinya, penciptaan persekutuan manusia (mono-dualis) komplementer oleh sang pencipta ini, menjadikannya sebagai basis dari persekutuan manusia universal. Persekutuan keluarga menjadi basis dari persekutuan manusia, si-penatalayan (oikonomos) Allah itu, dengan tugas memerintah bumi itu (Kej. 1: 28). Apa artinya ini? Dalam kisah Penciptaan tadi, ke-jenis-kelaminan manusia tidak mempunyai tujuan dalam dirinya sendiri, terpisah, kecuali di dalam persekutuan mereka guna bersama mengemban tugas dan tanggung-jawab menatalayani alam semesta dan kehidupan, sehingga membawa kebaikan dalam kehidupan, sesuai kehendak sang Pencipta. Maka, pada kisah Penciptaan tadi, kita menemukan dua maksud terpadu dari sang Pencipta ketika Ia menciptakan manusia. Pertama, penganugerahan jenis kelamin berbeda, sejak semula itu (Kej. 1:26-28), tidak hanya untuk maksud seksual dan reproduktif saja – walau tentu itu juga – tetapi serentak, kedua, untuk maksud persekutuan mereka di dalam keintiman cinta-kasih yang mendalam sebagai partner (Kej. 2:18-25) yang komplementer, untuk bersama memikul tugas sebagai oikonomos Allah, menata bumi, berdasarkan cinta-kasih Allah itu. Atas dasar kedua maksud dari sang Pencipta itulah, relasi seksual antara jenis kelamin berbeda ini digambarkan sebagai komplementer (Kej. 2: 18, 21-24). Sehingga hubungan seks antara Adam dan Hawa dijelaskan dengan ungkapan (Kej. 4:1): “Kemudian bersetubuhlah manusia itu dengan Hawa isterinya” [Ibr.: ha adam yada’ et hawa isto …]. Makna kata yaw-dah’ di sini adalah mengenal dengan sangat mendalam. Bahwa keintiman kedua manusia ini bukan sekedar suatu hubungan seksual-fisikal belaka tetapi suatu ikatan persekutuan mendalam, lahir dan batin. Akibatnya, makna hubungan antara dua jenis kelamin berbeda ini tidak boleh direduksi menjadi hanya hubungan seksual belaka, sebab itu berarti menghilangkan makna mendalam yada’ tadi. Dengan ungkapan yang lain, maksud dari sang Pencipta menjadikan persekutuan kedua jenis kelamin berbeda inidigambarkan sebagai “satu daging” (Kej. 2:24). Mereka saling melengkapi, saling membutuhkan, membentuk suatu persekutuan, sehingga, tanpa yang satu, yang lainnya tidaklah lengkap. Untuk itu, keduanya diciptakan sepadan, setara, di hadapan Allah. Sebab hanya dengan demikianlah, mereka bisa hidup dalam persekutuan yang saling melengkapi, sesuai yang Allah kehendaki, untuk tugasdan tanggung-jawab sebagai penatalayan Allah. Perjanjian Baru. Terkait topik tersebut, kita perlu juga memperhatikan apa yang rasul Paulus sampaikan dalam I Kor. 6:1-20, dan 7:1-40, oleh karena kedua nats ini, memang, menyangkut masalah-masalah seksual. Inti pokok dari nasihat sang Rasul di sini ialah bahwa oleh karena mengingat waktu kedatangan Tuhan (parusia) telah singkat (ayat 26, 29) maka jemaat di Korintus harus memelihara hidup yang benar dan kudus di hadapan Allah, termasuk kekudusan hidup seksual dan perkawinan mereka, baik orang muda mau pun orang tua; yang belum dan yang sudah kawin, agar hidup mereka dapat berkenan kepada Allah (ayat 29-35). Demikianlah, dalam pasal 6 Paulus menegaskan bahwa hanya orang-orang yang memelihara hidup yang benar dan kudus itulah yang kelak “..mendapat bagian dalam Kerajaan Allah” (6:9). Oleh karena itu Paulus menyerang praktek-praktek penyimpangan seksual yang, di kala itu, biasa dilakukan dalam penyembahan berhala orang kafir, termasuk oleh orang-orang dengan orientasi homoseksual (ayat 9-b: “pemburit” = homoseks). Alasan Paulus ialah bahwa di dalam Kerajaan Allah, tubuh adalah “bait Roh Kudus” (ayat 19). Sehingga jelas, apa yang hendak dilawan oleh sang Rasul, di sini, adalah musuh Kerajaan Allah, yakni praktek penyembahan berhala dan, tentu, semua praktek seksual menyimpang yang, biasa menyertainya. Maka jelas bahwa, apa yang dihukum di sini adalah praktek-praktek penyimpangan seksualnya, sebagai bagian dari penyembahan berhala yang dilawan itu, bukan orientasi seksualnya sendiri. Malah menurut rasul Paulus, di dalam Kerajaan Allah: “tidak ada laki atau perempuan…” (Galatiga 3 : 28, dasar pemikiran baptisan, artinya penerimaan keselamatan, Matius 22:30, ciri kehidupan malaikat : 1. Malaikat tidak pernah mati (Lukas 20;36) 2. Malaikat adalah makhluk roh yang tak bergender, jadi tak mengenal kawin), maksudnya, semua jenis kelamin berbeda itu sama berharga di hadapan-Nya; mereka sama sebagai yang “… telah dikuduskan dan dibenarkan dalam Yesus Kristus” (6:11); malah sama dipersekutukan di dalam Yesus Kristus (Gal. 3:28-29). Penyimpangan seksual, Dari perspektif etis Alkitabiah tadi maka, suatu perilaku seksual disebut menyimpang apabila tidak bersesuaian dengan maksud Allah dalam Penciptaan, ketika Ia menciptakan manusia. Bertolak dari norma maksud Allah ini maka, secara etis-teologis, penyimpangan seksual — oleh manusia dengan orientasi seksual yang mana pun – terjadi bila seks dipisahkan dari, malah, merusak ikatan persekutuan keluarga; terjadi bila seks mengorbankan tugas penata-layanan keluarga, masyarakat, bahkan kehidupan, yang Allah percayakan kepada manusia, bagi kebaikan kehidupan di bumi. Misalnya, seks dimanfaatkan hanya untuk kenikmatan dengan mengumbar hawa nafsu hedonistis, sehingga mengakibatkan berbagai kejahatan, misalnya perselingkuhan, perzinahan, pelacuran, kekerasan seksual, seperti pemerkosaan, baik terhadap orang dewasa mau pun anak-anak (pedofilia), dlsb. Padahal, menurut rasul Paulus, manusia beriman patut memelihara kekudusan hidup seksualnya. Hanya kalau seks dipakai, sesuai maksud sang Pencipta, yakni sebagai penguatan ikatan persekutuan keluarga, bahkan persekutuan masyarakat manusia, guna menjawab tugas panggilan dan tanggung-jawab manusia menata-layani kehidupan, maka makna seks telah sesuai dengan maksud Allah, sebagaimana dalam Penciptaan. Demikianlah, sesuai konteks dan motivasi teologis tiap-tiap kitab dalam Alkitab, kita temukan dalam sejumlah teks Alkitab bagaimana perilaku seksual tertentu dikecam karena dipandang telah menyimpang dari maksud Allah, malah melawan Allah. Misalnya, Ul. 23:17-18 yaitu penyimpangan seksual terkait agama Baal; Roma 1:23-32 penyimpangan seksual terkait berhala bangsa Romawi; Kej. 19:5-11, penyimpangan seksual yang terkait dengan kebencian orang Sodom terhadap bangsa lain/asing bukan orientasi seks nya (lih. Yehez. 16:49-50, dosa Sodom yg sebenarnya, Tuhan Yesus sendiri mengingatkan akan istri Lot sbg peringatan untuk tidak kembali ke kehidupan lama bila telah ditebus, jangan jadi sama dengan dunia, Lukas 17;28-33). Keberdosaan Sodom Gomora terliat jelas pada kejadian 19:5, hanya karena orang asing orang-orang Sodom Gomora merasa berhak melakukan apapun yang jahat, padahal kenal pun tidak. Menjahati orang laen atau sesama padahal kenal pun tidak, e-yaw-dah bisa diartikan bersetubuh atau memperkosa, padahal jelas orang asing itu lelaki. Gangguan seksual, Dengan demikian, secara etis teologis, kita tentu perlu membedakan antara penyimpangan seksual dan gangguan seksual. Pelaku penyimpangan seksual, dengan orientasi seksual mana pun, wajib bertanggung-jawab terhadap perilakunya. Perilaku menyimpang  yang tentu dilakukannya secara sadar dan sengaja.  Oleh karena itu, darinya patut dituntut tanggung-jawab etis dan moral. Tetapi dari penyandang gangguan seksual, dengan orientasi seksual mana pun, entah permanen atau pun temporal, tidak dapat dituntut tanggung-jawab serupa oleh karena gangguan seksual itu, sama sekali, bukanlah pilihannya, secara sadar dan sengaja. Bahkan, keadaan gangguan itu di luar kemauannya. Seorang penyandang impotensia (heteroseksual), misalnya, tidak mungkin dimintakan tanggung-jawab etis dan moral atas gangguan itu. Ia, malah, perlu mendapat perhatian. Demikian juga gangguan bagi seorang homoseksual, dan biseksual. Berbeda dengan itu, seorang penyandang transjender, sesungguhnya, mengalami gangguan berlapis yakni baik internal (karena gangguan seksualnya itu), mau pun eksternal, berupa tekanan psiko-sosial yang dialaminya dari lingkungannya. Akan lebih ringan beban gangguan itu, kalau saja orang yang bersangkutan bisa menerima keadaannya itu (egosintonik); tetapi kalau yang bersangkutan tidak bisa menerima (denial) keadaannya itu (egodistonik), dan juga tidak bisa merubahnya, tentu beban gangguannya akan jauh lebih berat. Penolakan, baik dari masyarakat mau pun dari diri sendiri ini, bisa melahirkan tindakan bunuh diri. Pelayanan pastoral gereja, tentu, patut memperhatikan dengan sungguh  akan hal ini. Menyikapi LGBT, saudara sesama kita: Pendampingan pastoral, Konsekuensi dari dasar-dasar teologis Alkitabiah tadi, setidaknya, menegaskan tiga hal. Pertama, pentingnya kita memelihara nilai dan sikap emansipatif, tidak diskriminatif secara seksual, oleh karena setiap manusia, apa pun orientasi seksualnya, sama berharganya, sebagai gambar Allah, sang Pencipta. Kedua, oleh karena seks adalah pemberian Allah maka manusia patut memelihara kekudusan hidup seksualnya guna memperkuat ikatan persekutuan perkawinan, persekutuan manusia berkeluarga, dan persekutuan manusia laki-laki dan perempuan pada umumnya, yang, pada akhirnya, akan menyumbang  bagi persektuan manusia, secara universal. Ketiga, adalah menjadi tugas dan tanggung-jawab gereja untuk memberi perhatian pada siapa saja yang mengalami kesulitan, termasuk sesama saudara kita kaum LGBT, bukan saja agar mereka tidak mengalami diskriminasi, tetapi terlebih lagi mampu memperkuat persekutuan keluarga, sebagai basis gereja dan masyarakat, sehingga mampu ikut berperan menata-layani keluarga, masyarakat, dan lingkungan sosial. Pendampingan pastoral gereja ini, tentu perlu disesuaikan dengan kondisi setiap orang dan keluarga yang bersangkutan: Bagi keluarga Kristen, umumnya: agar mampu memperkuat ikatan persekutuan keluarga, yang bertanggung-jawab menatalayani keluarga, masyarakat, dan lingkungan  hidup.Bagi  mereka yang melakukan penyimpangan seksual: untuk bertobat dan kembali memelihara kekudusan seksual dan perkawinan dalam persekutuan keluarga dan masyarakat, sehingga mampu menjadi berkat bagi sesama, dan kehidupan.Bagi mereka yang mengalami gangguan seksual: bukan saja  agar tidak  mengalami diskriminasi seksual tetapi juga agar mampu keluar dari tekanan psikologis (dan teologis) yang dialami, untuk bisa menjalani hidup yang bermakna, serta menjadi berkat. Roh Tuhan kiranya menuntun pelayanan gereja, pelayanan kita dan keluarga kita, di Tahun yang baru, dan tahun-tahun di depan, dengan penuh harapan. Teolog besar Billy Graham pernah mengatakan alkitab adalah buku misteri yg bisa mengikuti jaman dan tak lekang oleh jaman. Tidak harus mencela orang lain dan jangan mengumbar aib orang lain, hanya untuk membuktikan bahwa diri kita lebih baik dari mereka . Jalani dan nikmati saja hidup ini, tanpa pernah menghakimi siapapun, karena yang berhak menilai keseluruhan hidup kita  hanyalah  Sang  Maha  Kuasa.  Selamat   mencoba   memahami   Allah   Tuhan memberkati.

(01082024) (TUS)

BACA JUGA :

https://titusroidanto.blogspot.com/2024/08/berpikir-positif-tentang-lgbtq-serial.html

https://titusroidanto.blogspot.com/2023/10/mengapa-penduduk-sodom-begitu-terancam_8.html

https://titusroidanto.blogspot.com/2024/06/mengenal-dan-menyikapi-lgbt-sesama-kita.html

https://titusroidanto.blogspot.com/2024/08/memanusiakan-manusia-lgbtq-serial-sudut.html

https://titusroidanto.blogspot.com/2023/09/homoseksualitas-dan-gereja-baptis.html

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32 PENGANTAR Allah menghendaki pertobatan nyata. Gereja dipanggil untuk memi...