Jumat, 05 Juni 2026

Sudut Pandang 𝗠𝗲𝗺𝗮𝗸𝘀𝗮 𝗔𝗯𝗿𝗮𝗺 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝗲𝗻, Kaitan Kejadian 12:1-9 dan Matius 9 :9 - 13,18 - 26

Sudut Pandang 𝗠𝗲𝗺𝗮𝗸𝘀𝗮 𝗔𝗯𝗿𝗮𝗺 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝗲𝗻, Kaitan Kejadian 12:1-9 dan Matius 9 :9 - 13,18 - 26

Kejadian 12:1-9 merupakan mitos, yakni genre sastra untuk mengungkap realitas ilahi atau identitas suatu bangsa yang dalam hal ini bangsa Israel.

Petulis Kejadian 12:1-9 pasti tidak menulis dengan membayangkan: Gereja abad ke-21, khotbah Minggu, kehidupan jemaat Kristen modern. Redaktur tradisi Abram sedang mengerjakan sesuatu yang lain. Mereka sedang menjawab pertanyaan:
▶️ Siapakah Israel?
▶️ Mengapa Israel memiliki hubungan khusus dengan Tanah Kanaan?
▶️ Mengapa Israel menyebut Abraham sebagai leluhur iman?

Jadi fungsi utamanya bersifat 𝗲𝘁𝗶𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝘀 dan 𝙞𝙙𝙚𝙣𝙩𝙞𝙩𝙮-𝙛𝙤𝙧𝙢𝙞𝙣𝙜. Dalam bahasa akademis:
Narasi panggilan Abram merupakan cerita asal-usul (𝘰𝘳𝘪𝘨𝘪𝘯 𝘯𝘢𝘳𝘳𝘢𝘵𝘪𝘷𝘦) yang mengonstruksi identitas kolektif Israel sebagai umat yang dipanggil, diberkati, dan dijanjikan tanah oleh YHWH.

Di situ belum ada Gereja. Belum ada Kristen. Belum ada konsep khotbah Minggu.

Saya sering melihat banyak khotbah atau renungan tentang Kejadian 12:1-9 sebagai bacaan tunggal langsung meloncat:
▶️ Dari Abram meninggalkan Haran langsung ke
▶️ Saudara harus berani keluar dari zona nyaman. 🤣

Padahal jarak historis penulisan teksnya sekitar tiga ribu tahun. Belum lagi fungsi teksnya berbeda.

Bahkan kalau dibaca sebagai mitos identitas bangsa fokusnya bukan pada psikologi Abram. Fokusnya adalah pada Israel. Abram adalah representasi Israel.

Perhatikan polanya:
▶️ dipanggil keluar (12:1), 
▶️ menerima janji tanah (12:7), 
▶️ menerima janji keturunan (12:2), 
▶️ menerima janji berkat bagi bangsa-bangsa (12:3). 

Jadi, sebenarnya tokoh utama narasi itu bukan Abram sebagai individu, tetapi masa depan Israel.

Kejadian 12:1-9 menjadi bacaan tunggal untuk renungan/khotbah di GKI Kebayoran Baru. Saya belum membaca produk renungannya dalam 𝘞𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘑𝘦𝘮𝘢𝘢𝘵 7 Juni 2026. Tema yang diangkat adalah 𝙄𝙢𝙖𝙣: 𝙏𝙖𝙖𝙩 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙍𝙚𝙣𝙘𝙖𝙣𝙖 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣.

Namun, patut diduga penafsirannya langsung meloncat dengan memaksa Abram menjadi orang Kristen:

"Abram taat. Mari kita taat."
Lalu selesai.

Tema yang diusung di atas tentu tidak salah. Masalahnya tema itu tidak berangkat dari teks, bahkan tema di atas menggeser pusat teks. Secara historis teks itu bukan ditulis untuk mengajar warga gereja tentang ketaatan individual. Teks itu adalah bagian dari narasi identitas Israel.

Secara homiletik tema 𝙏𝙖𝙖𝙩 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙍𝙚𝙣𝙘𝙖𝙣𝙖 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣 juga mudah jatuh ke persoalan yang sering muncul dalam khotbah-khotbah pietistis:

Tuhan punya rencana.
Abram taat.
Maka kita harus taat.

Lalu jemaat pulang dengan pertanyaan: 𝘙𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘯𝘢?😄

Seluruh warga jemaat GKI Kebayoran Baru tidak menerima firman langsung seperti Abram: "𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘯𝘦𝘨𝘦𝘳𝘪𝘮𝘶..."

Mereka menghadapi: pekerjaan, keluarga, penyakit, pendidikan anak, pensiun, cicilan rumah, iuran RT, kolekte, dll. Tema 𝙏𝙖𝙖𝙩 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙍𝙚𝙣𝙘𝙖𝙣𝙖 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣 terdengar indah tetapi sulit dioperasionalkan dalam kehidupan nyata.

Di sinilah kepentingan penerapan RCL. RCL membunyikan Kejadian 12:1-9 bagi kehidupan gerejawi dengan menghubungkan ke Injil Matius 9:-13, 18-26.

Dengan penerapan RCL tiba-tiba pertanyaan berubah. Bukan lagi 𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘣𝘳𝘢𝘮?, tetapi 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘸𝘶𝘫𝘶𝘥𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘬𝘦𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘪 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴?

Jawaban Matius sangat menarik: "𝙔𝙖𝙣𝙜 𝙆𝙪𝙠𝙚𝙝𝙚𝙣𝙙𝙖𝙠𝙞 𝙞𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙨 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙨𝙚𝙢𝙗𝙖𝙝𝙖𝙣 " (Mat. 9:13). Belas kasihan lebih penting daripada mezbah-mezbah yang dibangun oleh Abram.

𝘛𝘩𝘦 𝘥𝘦𝘷𝘪𝘭 𝘪𝘴 𝘪𝘯 𝘵𝘩𝘦 𝘥𝘦𝘵𝘢𝘪𝘭.

Wassalam,
MDS (05062026)
𝘔𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘳𝘪𝘵𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘳𝘢𝘯𝘴𝘧𝘦𝘳
Ada sebuah kenyataan pahit yang mengganjal di dalam benak banyak orang, yaitu bahwa tidak semua orang yang mengaku dirinya Kristen adalah orang yang baik.

Kesenjangan antara pengakuan iman (profesi) dan tindakan nyata (praksis) ini kerap memicu batu sandungan, skeptisime, bahkan trauma religius. 

Kekristenan sering kali dipersempit hanya sebatas label agama belaka. Menjadi Kristen kerap dianggap selesai ketika seseorang dibaptis, rajin ke gereja, atau fasih mengucapkan jargon-jargon rohani. Ini adalah bentuk iman yang mendua.

Dalam kitab Nabi Yesaya yang kemudian dikutip Yesus dalam Matius 15:8, tertulis kritik yang sangat tajam:

"Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku."

Ketika kekristenan hanya menjadi identitas sosiologis atau budaya, "menjadi Kristen" tidak lagi berdampak pada transformasi moral. Seseorang bisa sangat ortodoks (benar dalam doktrin) tetapi mengalami kebangkrutan ortopraksis (salah dalam tindakan). Label Kristen tanpa buah Roh hanyalah sebuah topeng religius yang menyembunyikan kebusukan karakter.

Untuk memahami mengapa orang Kristen bisa berbuat jahat, kita perlu kembali pada teologi tentang manusia (antropologi teologis). Martin Luther memperkenalkan konsep Simul Iustus et Peccator, yaitu bahwa manusia yang telah dibenarkan oleh Kristus, pada saat yang sama, masih tetap seorang berdosa.

Menjadi Kristen tidak secara otomatis menghapus kebebasan kehendak manusia untuk memilih yang jahat, tidak juga membuat seseorang langsung kebal dari keserakahan, egoisme, atau manipulasi. Gereja bukanlah kumpulan "orang-orang suci yang sempurna", melainkan "rumah sakit bagi orang-orang yang terluka dan sakit secara rohani".

Tapi, status sebagai orang berdosa yang diampuni tidak boleh dijadikan sekoci penyelamat atau permakluman untuk terus hidup dalam kejahatan.

Salah satu bentuk kejahatan yang paling merusak adalah ketika agama dijadikan alat untuk memanipulasi orang lain. Seseorang yang "mengaku Kristen" bisa menggunakan ayat-ayat Alkitab, kharisma mimbar, atau status kepemimpinan gerejawi untuk melancarkan penipuan, kekerasan domestik, korupsi, atau penindasan terstruktur.

Dietrich Bonhoeffer, seorang teolog Jerman, menyebut fenomena ini sebagai bagian dari "Anugerah yang Murahan" (Cheap Grace). Yaitu, mengkhotbahkan pengampunan tanpa menuntut pertobatan, baptisan tanpa disiplin gereja, dan persekutuan tanpa salib. Ketika anugerah Allah dibuat jadi murah, kekristenan kehilangan taring moralnya, dan ruang gereja menjadi tempat persembunyian yang aman bagi para pelaku kejahatan moral.

Yesus sendiri memberikan parameter yang sangat klop dan sederhana untuk menguji iman seseorang dalam Matius 7:16: 
"Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka."

Yesus tidak mengatakan "dari kartu anggotanya", "dari seberapa keras mereka berdoa", atau "dari posisi mereka di struktur gereja". Teologi yang sehat menempatkan etika kasih di atas legalisme formal. Jika seseorang mengaku Kristen namun hidupnya menghasilkan buah penindasan, ketidakadilan, dan kebencian, maka secara teologis eksistensial, pengakuannya sedang mengalami kontradiksi performatif (apa yang dikatakan bertolak belakang dengan apa yang dilakukan).

Menghadapi kenyataan bahwa ada orang Kristen yang tidak baik seharusnya tidak membuat kita kehilangan iman pada Kristus, melainkan membuat kita kehilangan ilusi terhadap "institusi kemanusiaan" yang absolut.

Perenungan ini mengundang kita semua untuk melakukan otokritik (introspeksi ke dalam):

Apakah kita sedang menghidupi iman yang transformatif, atau sekadar menikmati kenyamanan status religius?

Apakah kehadiran kita membawa syalom (damai sejahtera), atau justru menjadi alasan mengapa orang lain enggan mengenal Tuhan?

Pada akhirnya, kekristenan yang sejati tidak diukur dari seberapa suci kita melabeli diri kita, melainkan dari seberapa besar kasih Kristus yang nyata terwujud melalui tangan dan kaki kita bagi sesama, tanpa topeng, tanpa kepalsuan.

Kamis, 04 Juni 2026

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 9:9-13,18-26 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] (ditambah Matius 25:31-46, bagian ke 2), 𝗕𝗲𝗹𝗮𝘀 𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵𝗮𝗻 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗽𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴 𝗱𝗮𝗿𝗶𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗶𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗫𝗩𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔]

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 9:9-13,18-26 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] (ditambah Matius 25:31-46, bagian ke 2), 𝗕𝗲𝗹𝗮𝘀 𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵𝗮𝗻 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗽𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴 𝗱𝗮𝗿𝗶𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗶𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵  [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗫𝗩𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔]

PENGANTAR 
Di pengujung kalender gerejawi Tahun A tema yang disajikan adalah eskatologis (penantian kedatangan Yesus kembali) yang didahului dengan sastra apokaliptik (penyingkapan) di Matius 24:1-36. Bacaan terakhir Tahun A adalah tentang penghakiman terakhir pada akhir zaman. Di dalam Injil Matius akhir zaman bukan berarti akhir dunia. Akhir zaman bukan kiamat. Akhir zaman di sini adalah masa si jahat berakhir (bdk. Mat. 24:3 dan 28:20). Dunia tetap bergerak maju ke arah yang sejak mulanya ditetapkan oleh Allah. Bacaan Injil Minggu kedua puluh enam setelah Pentakosta, ini dipakai sebagai pengganti bacaan Injil Minggu ke 2 setelah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 25:31-46 yang didahului dengan Yehezkiel 34:11-16, 20-24, Mazmur 95:1-7a, dan Efesus 1:15-23.Minggu 07 Juni 2026, Saya selalu mengatakan hidup ini tidak ideal, bahkan lebih sering lucu menggemaskan alias wagu (Jawa). Dalam kondisi ketidak idealan tsb kita dituntut sikap etis atas kehidupan yang mendemonstrasikan bahwa Alkitab masih relevan dalam hidup orang beriman lewat proses juang meneladan Kristus dan mewujudkan hikmat pengajaranNya dalam hidup. Sangat membagongkan , sebuah sinode yg berseru ada dalam gerak kebersamaan atau gerak ekuminis menggunakan kalender liturgi dan liturgi leksionari, tetapi saat membuat bahan khotbah malah menggeser bacaan Injil, Matius 25 : 31-46 adalah bacaan Injil untuk Minggu 26 setelah Pentakosta, susunan itu sudah diatur sedemikian rupa, lah ..... Kok malah digeser menjadi bacaan Injil Minggu 2 setelah Pentakosta (Matius 9 :9-13,18-26), kan .... kalau mau usaha dikit kan ya seharusnya solusinya lebih manis, membagongkan kemudian menulis dalam tulisan miring dalam kurung di bahan khotbah sbb : (Untuk keperluan Bulan Kesaksian dan Pelayanan, bacaan yang 
digunakan adalah Matius 25:31-46/ di luar leksionari). Padahal, Sinode ini memakai bahan Matius 25:31-46 untuk mengusung tema lembaga Kristen yang berdampak sebagai pergumulan dalam bulan kesaksian dan pelayanan, yg dalam sudut pandang saya pribadi tema itu malah lebih tepat memakai Matius 9:9-13,18-26). Maka, perkenankan saya mengulas bacaan Injil Matius 25:31-26, sebagai pembanding thp arah tema bulan kesaksian dan pelayanan.
PEMAHAMAN 
Bacaan Injil Minggu ini perikopnya diberi judul oleh LAI 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘬𝘪𝘮𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳. Teks ini bukanlah perumpamaan, melainkan ilustrasi atau penggambaran apokaliptik tentang penghakiman terakhir. Konteks bacaan adalah Matius 24-25 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘡𝘢𝘮𝘢𝘯. Dapat dikatakan bacaan Injil Minggu ini merupakan mahkota wejangan Yesus dalam 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘡𝘢𝘮𝘢𝘯. Mahkota wejangan-Nya pun tidak dinyana: Tindakan belas kasihan berdampak kekal.

Pengulasan bacaan dapat dibagi ke dalam dua bagian.
▶️ Matius 25:31-40 Melakukannya untuk Aku
▶️ Matius 25:41-46 Tidak melakukannya untuk Aku

𝗠𝗲𝗹𝗮𝗸𝘂𝗸𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗔𝗸𝘂 (Mat. 25:31-40)

“𝘈𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘋𝘪𝘢, 𝘐𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘢𝘺𝘢𝘮 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘵𝘢𝘬𝘩𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢. (ay. 31) 𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘬𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘐𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘴𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘨𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘴𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘣𝘪𝘯𝘨. (ay. 32) 𝘐𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢-𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘣𝘪𝘯𝘨-𝘬𝘢𝘮𝘣𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘪𝘳𝘪-𝘕𝘺𝘢. (ay. 33) 𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘙𝘢𝘫𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢: 𝘔𝘢𝘳𝘪, 𝘩𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘪 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘉𝘢𝘱𝘢-𝘒𝘶, 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘥𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘥𝘪𝘫𝘢𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯. (ay. 34) 𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣, 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘳, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯; 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘶𝘴, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮; 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘶𝘮𝘱𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯; (ay. 35) 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪𝘢𝘯; 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘦𝘯𝘨𝘶𝘬 𝘈𝘬𝘶; 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘳𝘢, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘯𝘫𝘶𝘯𝘨𝘪 𝘈𝘬𝘶. (ay. 36) 𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘋𝘪𝘢: 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮? (ay. 37) 𝘒𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘶𝘮𝘱𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪𝘢𝘯? (ay. 38) 𝘒𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘯𝘫𝘶𝘯𝘨𝘪 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶? (ay. 39) 𝘙𝘢𝘫𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢: 𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: 𝘚𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘯𝘢 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘈𝘬𝘶.” (ay. 40) (TB II 2023)

Sebelum teks ini kita dapat membaca bahwa Yesus sudah bernubuat dalam bahasa apokaliptik mengenai kedatangan Anak Manusia (Mat. 24:29-31). Sekarang kita melihat gambaran pengadilan terakhir yang akan dijalankan oleh Anak Manusia pada saat kedatangan-Nya dan ukuran yang akan digunakan-Nya. 

Siapakah Anak Manusia itu? Kalau kita membaca perikop 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴 (Mat. 16:13-20), sebutan itu jelas untuk Yesus. Mengapa disebut itu? Di Injil Matius sebutan Anak Manusia untuk Yesus kali pertama muncul di Matius 8:20. Umat Kristen memahami Anak Manusia di bawah terang kitab Daniel 7:13. Anak Manusia merupakan ungkapan yang ditujukan kepada orang yang datang dengan wibawa dan wewenang ilahi. Di ayat 31 kemuliaan Anak Manusia diperikan sebagai kemuliaan Raja. Takhta kemuliaan dalam sastra apokaliptik lazimnya diduduki oleh Allah (lih. Dan. 7; Why. 4). Namun, di Injil Matius takhta diduduki oleh Anak Manusia. Yesus yang menjadi tokoh pusat.

𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢 di ayat 32 bukannya tanpa kesulitan untuk ditafsir. Banyak ahli berpendapat, apabila dihubungkan dengan Matius 28:19, semua bangsa adalah semua orang tanpa kecuali. Semua bangsa dikumpulkan bukan untuk dipilahkan bangsa yang benar dari bangsa yang jahat, melainkan seorang atau individu yang benar dari individu yang jahat. Individu-individu yang benar ditempatkan di sebelah kanan Anak Manusia yang Raja, sedang individu-individu yang jahat di sebelah kiri-Nya. Pemerian ini bercorak Yahudi. Posisi kanan dianggap khusus dan terhormat.

Frase 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 (ay. 34) diterjemahkan dari 𝘬𝘭o𝘳𝘰𝘯𝘰𝘮o𝘴𝘢𝘵𝘦 yang berarti literal 𝘸𝘢𝘳𝘪𝘴𝘪𝘭𝘢𝘩. Di kehidupan gereja kita sering mendengar ungkapan bahwa 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘸𝘢𝘳𝘪𝘴 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢. Ini salah. Orang percaya adalah ahli waris, bukan pewaris. Pewaris adalah pemberi waris. Pewaris adalah Allah.

Apabila semua bangsa di atas adalah semua orang tanpa kecuali, bagaimana dengan mereka yang tidak pernah mendengar Injil? Jawaban Sang Raja di luar dugaan, tak dinyana: 𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣, 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘳, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 … (lih. ay. 35-36). Sang Raja kemudian meringkas jawabannya: 𝘚𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘯𝘢 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘈𝘬𝘶. (lih. ay. 40) Lebih ringkas lagi: berbelas kasihan. Sama sekali tidak ada syarat melakukan banyak “pelayanan” di gereja atau rajin pergi beribadah. Perbuatan kasih rupanya menjadi satu-satunya ukuran dalam 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘬𝘪𝘮𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳.

Siapakah 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘯𝘢 di ayat 40 itu? Perlu dipahami bahwa Injil Matius ditulis untuk jemaat Kristen dari kalangan Yahudi. Pengarang Injil Matius tampaknya mencerap bahwa mereka sudah memahami Kitab Suci Yahudi (Perjanijan Lama) yang memberi perintah untuk berbelarasa kepada orang-orang miskin, masyarakat pinggiran, sehingga Matius tidak perlu secara eksplisit menulis tema itu seperti kisah 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘺𝘢 di Matius 19:16-26. Bandingkan dengan Injil Lukas yang menulis secara vulgar mengecam orang-orang kaya yang tidak berbelarasa kepada masyarakat pinggiran. Injil Lukas ditulis untuk jemaat Kristen dari kalangan kafir, yang tidak mengenal Kitab Suci Yahudi. Jadi, frase 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘯𝘢 dapat dikatakan merujuk setiap orang yang memerlukan pertolongan. Ini sejalan dengan teologi Matius yang mengusung Injil untuk segala bangsa. Jika kita bandingkan dengan Rasul Paulus yang berasal dari kaum Farisi, ia mengatakan bahwa orang-orang kafir akan dibenarkan karena mereka melakukan hukum kasih (lih. Rm. 2:12-16; 13:8-10).

Perlu dicatat di sini yang disebut dengan 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 di ayat 37 di atas dan di ayat 46 di bawah adalah orang-orang yang dibenarkan oleh Allah. Dalam pada itu 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 di Matius 9:9-13 adalah sindiran Yesus kepada orang Farisi yang mengganggap dirinya benar.

𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗸𝘂𝗸𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗔𝗸𝘂 (Mat. 25:41-46)

“𝘐𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘪𝘳𝘪-𝘕𝘺𝘢: 𝘌𝘯𝘺𝘢𝘩𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘢𝘯-𝘒𝘶, 𝘩𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘶𝘵𝘶𝘬, 𝘦𝘯𝘺𝘢𝘩𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘢𝘱𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘥𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘪𝘣𝘭𝘪𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘢𝘵-𝘮𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢. (ay. 41) 𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘳, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯; 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘶𝘴, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮; (ay. 42) 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘶𝘮𝘱𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯; 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪𝘢𝘯; 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘳𝘢, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘦𝘯𝘨𝘶𝘬 𝘈𝘬𝘶. (ay. 43) 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣: 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘳 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘶𝘴 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘺𝘢𝘯𝘪 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶? (ay. 44) 𝘐𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢: 𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: 𝘚𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘯𝘢 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘈𝘬𝘶. (ay. 45) 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘭, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘭.” (ay. 46) (TB II 2023)

Bagian kedua ini berkebalikan dengan bagian pertama. Seperti cermin. Simetris. Seperti halnya bagian pertama ada enam contoh penderitaan yang disampaikan oleh Sang Raja. Sebagian dari mereka sangat boleh jadi tidak membenci sesamanya. Akan tetapi antonim dari mencintai bukanlah membenci, melainkan tidak peduli. Mereka tidak peduli kepada sesama. Tidak berbelas kasihan kepada orang yang butuh pertolongan sama saja tidak melakukan untuk Sang Raja.

Pemerian hukuman kekal dalam gaya bahasa apokaliptik menjadi refrain dalam Injil Matius (lih. Mat. 8:12; 13:42, 50; 18:8; 22:13; 24:51). Pelaksanaan keputusan dikisahkan dalam urutan terbalik dengan proses penghakiman sehingga cerita apokaliptik berakhir dengan nada positif 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘭.

Ketika Yesus memberitakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat, orang-orang yang menderita menjadi keprihatinan-Nya. Berbelarasa kepada mereka dan mengabdi kepada Kristus merupakan satu-kesatuan. Melayani kebutuhan orang-orang paling lemah, masyarakat pinggiran, sama saja melayani Kristus.

(26112023)

Rabu, 03 Juni 2026

Sudut Pandang 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗶𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗣𝗲𝗻𝗰𝗲𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗮𝘄𝗮𝗵

Sudut Pandang 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗶𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗣𝗲𝗻𝗰𝗲𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗮𝘄𝗮𝗵

PENGANTAR
Gereja ngomong ekologi modalnya emosi sesaat. Kalau membaca artikel tentang teologi ekologi yang mereka tulis, isinya tidak berbeda dari menengking penyakit. Ujung-ujungnya nyalahin umat, padahal ia nggak tahu apa-apa soal ekologi. Makanya, ketika issue ekologi diangkat oleh lp3s saat paskah, banyak laman pendeta GKJ and GKI sw Jateng yg kisruh protes akan bahan issue itu, banyak juga laman yg berdenging sampai saat ini. Blom move on kali. Menanggapi konflik agraria Papua dalam film Pesta Babi
Kondisi:
Hutan sagu dibabat untuk sawah. Tanah ulayat diambil atas nama “ketahanan pangan”. Yang satu bilang kemajuan, yang lain merasa kehilangan rumah dan identitas. Di tengahnya ada air mata Yasinta Moiwend & Vincen Kwipalo. Kalau kita melirik Alkitab, kita bisa melihat bbrp referensi seperti Mazmur 24:1, “TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.”
Tanah Papua bukan milik negara, bukan milik korporasi, bukan juga milik suku. Semua tanah adalah milik Tuhan. Kita hanya pengelola. Kalau pengelolaan bikin sesama kehilangan pangan & martabat, kita harus bertanya: ini kehendak Pemilik tanah atau nafsu manusia? Yesaya 5:8, “Celakalah mereka yang menyerobot rumah demi rumah dan yang menambahkan ladang demi ladang, sehingga tidak ada tempat lagi bagi orang lain dan hanya kamu sendiri yang tinggal di negeri!” Allah mengecam kerakusan agraria sejak zaman nabi. “Ketahanan pangan” tidak boleh jadi alasan merampas pangan orang lain. Sagu adalah beras bagi orang Marind. Mengganti sagu dengan padi tanpa persetujuan mereka = menyerobot rumah. Amsal 14:31, “Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia.” Pembangunan yang menginjak yang lemah bukan memuliakan Tuhan, tapi menghina-Nya. Sebab Pencipta orang Marind, Awyu, Muyu, Yei adalah Allah yang sama. Mikha 6:8, “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”
Tiga kata kunci buat pemerintah, korporasi, gereja, & kita: Adil, Setia. Rendah hati. Tidak ada “proyek strategis nasional” yang lebih tinggi dari tiga hal ini.
Film _Pesta Babi_ (2026) karya Dandhy Laksono & Cypri Paju Dale memang banyak bahas program pencetakan sawah di Papua Selatan. Saya mencoba melihat Ini data valid yang diangkat/disinggung di film dari data resmi pemerintah terkait programnya: Data Kementan lengkap: pshttp://p.pertanian.go.id dan juga Liputan http://Konde.co soal film & kronologi proyek 03264239c5eb
MIRE - Merauke Integrated Rice Estate, 2007, Era SBY. Target cetak sawah skala besar. Gagal, MIFEE - Merauke Integrated Food And Energy Estate, 2010
   Era SBY. Target pangan + energi. Gagal, Food Estate Era Jokowi, Program cetak sawah 1,2 juta hektare. Disebut gagal, Proyek Era Prabowo Subianto. Disebut merampas 2,5 juta hektare atau 5x luas Pulau Bali untuk ketahanan pangan & energi. Hutan dibabat jadi ladang tebu untuk gula & bioetanol. Konflik utama di film:

1. Deforestasi besar-besaran hutan sagu → sumber pangan utama masyarakat adat.
2. Tanah ulayat diubah jadi lahan monokultur sawit, tebu, dan sawah untuk biodiesel, bioetanol, & program ketahanan pangan.
3. Tradisi _Pesta Babi_ dipakai sebagai metafora kritik: ritual syukur & persatuan vs eksploitasi tanah adat tanpa persetujuan. 
PEMAHAMAN
Saya hanya pingin mengungkap bahayanya pencetakan sawah di tanah gambut, ini tidak dipikirkan dan membagongkan.
𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗶𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗣𝗲𝗻𝗰𝗲𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗮𝘄𝗮𝗵
Kemarin saya menyinggung di laman saya, pencetakan sawah secara ekstensif akan menimbulkan bahaya pelepasan gas metan yang merusak kesehatan ozon. Bagaimana penjelasannya?

Metan (CH4) bersama CO2 dan NO2 masuk ke golongan gas rumahkaca. Namun, gas metan sangat kuat, 28 – 34 kali lebih kuat daripada CO₂ dalam memerangkap panas (20 – 100 tahun jangka waktu).

Mengapa sawah menghasilkan gas metan?

Sawah selalu tergenang sehingga kondisi menjadi anaerob. Ketika tanah digenangi air, oksigen tidak dapat masuk ke dalam tanah. Akibatnya mikrobia yang hidup di dalam tanah beralih ke metabolisme anaerob.

Mikrobia anaerob menghasilkan metana. Dalam kondisi tanpa oksigen sekelompok mikrobia khusus yang disebut metanogen mengurai bahan organik di tanah seperti: sisa-sisa jerami, akar tanaman yang mati, bahan organik alami tanah. Proses penguraiannya menghasilkan CH₄ (metana) sebagai produk sampingan. Fenomena yang sama seperti gas yang muncul di rawa, karena kondisinya mirip.

Sawah sangat luas sehingga emisi akumulatif besar. Apabila pencetakan sawah dilakukan masif dan ekstensif, maka luas lahan yang tergenang meningkat, jumlah metanogen meningkat, total produksi CH₄ naik dahsyat. Pada skala nasional sawah menjadi satu dari sejumlah sumber gas metan terbesar pada sektor pertanian.

Beberapa hal yang dapat membuat emisi lebih tinggi:
▶️ Jerami dibenamkan (banyak bahan organik untuk diurai)
▶️ Air tergenang tanpa jeda (tanpa fase oksigen, metanogen berkembang terus)
▶️ Pemupukan tertentu (misal urea berlebihan)
▶️ Jenis tanah kaya bahan organik

Pada zaman Orba Indonesia sudah mengalami tragedi pencetakan sawah sejuta hektar dari lahan gambut di Kalimantan. Projek ini pada akhirnya menjadi bencana. Prof. Tejoyuwono yang kala itu menjadi konsultan utama untuk pemulihan mengatakan bahwa dibutuhkan waktu sedikitnya 100 tahun untuk mengembalikan status lahan sampai nilai marginal, dan itu pun pemulihan lahan gambut hanya memperbaiki yang tersisa, tidak mengembalikan volume yang sudah lenyap.

Mengapa pencetakan sawah sejuta hektar dari lahan gambut itu menjadi tragedi?

Gambut terbentuk dari bahan organik yang menumpuk ribuan tahun dalam kondisi jenuh air sehingga tidak teroksidasi. Ketika dikeringkan, oksigen masuk ke pori-pori tanah, mikrobia menguraikan bahan organik. Dalam proses ini ia melepaskan CO₂ dalam jumlah besar.

gambut → kering → teroksidasi → habis menjadi CO₂

Indonesia menanggung banyak emisi karbon dunia dari proses ini.

Gambut yang mengering menjadi menyusut, memadat, hilang volumenya. Dampaknya
permukaan tanah turun 2–5 cm per tahun (bahkan lebih pada awalnya), daerah menjadi lebih rendah daripada permukaan air, rawan banjir, dan sulit dikembalikan. Ini berarti gambut “hilang” secara fisikal, bukan hanya kimiawi.

Gambut kering menjadi mudah terbakar, merembet ke bawah (𝘨𝘳𝘰𝘶𝘯𝘥 𝘧𝘪𝘳𝘦), dan sulit dipadamkan. Kebakaran gambut mengakibatkan kabut asap lintas negara, kerusakan ekosistem besar, pelepasan CO₂, CO, PM2.5, dan toksin lainnya.

Gambut basah dapat menyimpan air seperti spons, tetapi saat ia dikeringkan pori-porinya rusak. Kapasitas menyimpan air hilang: mudah terbakar, mudah banjir.

Dari tragedi gambut ini sebenarnya Pemerintah punya cermin besar untuk berkaca diri.
(04062026)(TUS)





Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 9:9-13,18-26 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] (ditambah Matius 25:31-46, bagian 1), 𝗕𝗲𝗹𝗮𝘀 𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵𝗮𝗻 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗽𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴 𝗱𝗮𝗿𝗶𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗶𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 9:9-13,18-26 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] (ditambah Matius 25:31-46, bagian ke 1), 𝗕𝗲𝗹𝗮𝘀 𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵𝗮𝗻 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗽𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴 𝗱𝗮𝗿𝗶𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗶𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵

PENGANTAR
Minggu 07 Juni 2026, Saya selalu mengatakan hidup ini tidak ideal, bahkan lebih sering lucu menggemaskan alias wagu (Jawa). Dalam kondisi ketidak idealan tsb kita dituntut sikap etis atas kehidupan yang mendemonstrasikan bahwa Alkitab masih relevan dalam hidup orang beriman lewat proses juang meneladan Kristus dan mewujudkan hikmat pengajaranNya dalam hidup. Sangat membagongkan , sebuah sinode yg berseru ada dalam gerak kebersamaan atau gerak ekuminis menggunakan kalender liturgi dan liturgi leksionari, tetapi saat membuat bahan khotbah malah menggeser bacaan Injil, Matius 25 : 31-46 adalah bacaan Injil untuk Minggu 26 setelah Pentakosta, susunan itu sudah diatur sedemikian rupa, lah ..... Kok malah digeser menjadi bacaan Injil Minggu 2 setelah Pentakosta  (Matius 9 :9-13,18-26), kan .... kalau mau usaha dikit kan ya seharusnya solusinya lebih manis, membagongkan kemudian menulis dalam tulisan miring dalam kurung di bahan khotbah sbb : (Untuk keperluan Bulan Kesaksian dan Pelayanan, bacaan yang 
digunakan adalah Matius 25:31-46/ di luar leksionari). Padahal, Sinode ini memakai bahan Matius 25:31-46 untuk mengusung tema lembaga Kristen yang berdampak sebagai pergumulan dalam bulan kesaksian dan pelayanan, yg dalam sudut pandang saya pribadi tema itu malah lebih tepat memakai Matius 9:9-13,18-26). Maka, perkenankan saya mengulas 1 bacaan Injil Matius 9:9-13,18-26, lumayan panjang agar dapat diperbandingkan dg arah tema bulan kesaksian dan pelayanan. Kemudian tulisan berikutnya saya akan mengulas Matius 25:31-26, sebagai pembanding thp arah tema bulan kesaksian dan pelayanan.
PEMAHAMAN 
Kalau kita hendak mengenali satu sosok, misal pesepakbola idola, bintang film idola, tentulah kita tidak akan puas dengan membaca satu buku dari satu pengarang tentang sosok yang kita idolai itu. Kita akan mencari buku lain atau kisah lain dari penulis lain. Demikian halnya pada Yesus. Kita beruntung Alkitab menyediakan empat buku tentang kehidupan dan karya Yesus dari penulis atau pengarang yang berbeda. Injil Matius dipandang oleh banyak ahli Perjanjian Baru sebagai kitab Injil paling teratur. Hal ini juga mengisyaratkan Jemaat Matius merupakan Gereja yang sudah tertata cukup rapi baik organisasi maupun liturgi. Justru sudah tertata cukup rapi itulah Jemaat Matius bergejolak baik karena tekanan eksternal maupun internal, mirip Gereja mapan masa kini. Pengarang Injil Matius menulis Injilnya untuk mengatasi persoalan itu.
Hari ini adalah Minggu kedua sesudah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 9:9-13, 18-26 yang didahului dengan Kejadian 12:1-9, Mazmur 33:1-12, dan Roma 4:13-25.
Bacaan Injil Minggu ini terdiri atas dua perikop: Matius 9:9-13 𝘔𝘢𝘵𝘪𝘶𝘴 𝘱𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘶𝘵 𝘤𝘶𝘬𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 dan Matius 9:18-26 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘪𝘣𝘢𝘥𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩𝘢𝘯. Konteks terdekat bacaan adalah Matius pasal 8 – 9 yang bertema 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘮𝘣𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯 atau dapat juga diberi tema 𝘒𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘴𝘢𝘩 𝘮𝘶𝘬𝘫𝘪𝘻𝘢𝘵. Kedua pasal itu berbentuk narasi. Latar tempat di Kapernaum dengan merujuk Matius 8:5; 9:1.

𝗠𝗮𝘁𝗶𝘂𝘀 𝟵:𝟵-𝟭𝟯

Setelah Yesus pergi dari situ (tempat Yesus menyembuhkan orang lumpuh), Ia melihat seorang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “𝘐𝘬𝘶𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘬𝘶.” Matius pun berdiri dan mengikut Yesus. (ay. 9). Nama Matius di sini tidak ada hubungannya dengan nama pengarang Injil Matius. Nama Matius itu juga tidak perlu disamakan dengan nama Lewi di Injil Markus (Mrk. 2:14). Mereka adalah sosok menurut penulis Injil masing-masing. Ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya (ay. 10). Dalam bahasa aslinya tidak disebut 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘔𝘢𝘵𝘪𝘶𝘴, melainkan 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 (𝘦𝘯 𝘵o 𝘰𝘪𝘬𝘪𝘢). Mungkin penerjemah LAI berprapaham bahwa Yesus tidak memiliki rumah, maka langsung dianggap itu rumah milik Matius. Makan di sini sebenarnya penafsiran dari 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘦𝘪𝘮𝘦𝘯𝘰𝘶 yang berarti literal sedikit rebahan (𝘳𝘦𝘤𝘭𝘪𝘯𝘪𝘯𝘨). Kita yang biasa naik bus malam disediakan kursi yang dapat direbahkan (𝘳𝘦𝘤𝘭𝘪𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘢𝘵). Mengapa 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘦𝘪𝘮𝘦𝘯𝘰𝘶 ditafsir makan? Pada zaman itu hanya meja makan tanpa bangku atau kursi. Orang makan secara 𝘭e𝘴e𝘩𝘢𝘯 atau duduk di tempat semacam kasur dengan sedikit rebahan.
Dalam ayat 10 tidak disebut secara eksplisit bahwa Matius adalah pemungut cukai. Namun, karena ia berada di tempat pemungutan cukai, maka sangat boleh jadi teman-teman dari kalangan pemungut cukai ada banyak dan mereka bergabung makan bersama dengan Yesus. Pemungut cukai dipandang sebagai pengkhianat oleh orang-orang Farisi karena bekerja untuk Pemerintah Roma. Rabi-rabi Yahudi bahkan menyebut pemungut cukai adalah pencuri. Selain para pemungut cukai disebut juga orang berdosa bergabung ke rumah itu. Jadi, ada dua kelompok orang berdosa. Pertama, orang berdosa secara spesifik yang bekerja sebagai pemungut cukai. Kedua, orang berdosa secara umum. Apakah kelompok kedua ini adalah para pelanggar hukum Taurat? Tampaknya bukan itu. Orang berdosa kelompok kedua ini adalah orang-orang buangan, orang-orang kasta rendah dalam sistem kesucian Yudaisme seperti para penunggang unta, pelaut, gembala, pemilik toko, tukang daging, dlsb.
Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘎𝘶𝘳𝘶𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘶𝘵 𝘤𝘶𝘬𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘰𝘴𝘢?” (ay. 11) Di Palestina perjamuan makan merupakan saat utama terjadinya persekutuan antar-manusia. Pada zaman itu suatu perjamuan makan membolehkan orang lain untuk menonton. Di antara penonton itu ada orang-orang Farisi. Menurut mereka makan bersama dengan para pendosa berarti Yesus melanggar aturan yang ditetapkan oleh kaum Farisi.
Yesus mendengar perkataan orang Farisi itu dan berkata, “𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘣𝘪𝘣, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵. 𝘑𝘢𝘥𝘪, 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪: 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘪 𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙨 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝𝙖𝙣 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘰𝘴𝘢.” (ay. 12-13). Dengan berkata 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳𝘪𝘭𝘢𝘩, Yesus hendak mengajak para pendengar-Nya menangkap makna perbuatan-Nya. Firman di ayat itu mengutip kitab Hosea 6:6.

Siapakah 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 itu? Tentu saja yang dimaksud adalah orang-orang Farisi yang sudah merasa benar. Kalau sudah benar, untuk apa lagi butuh belas kasihan? 

Dalam pada itu para pemungut cukai dan pendosa dikucilkan dari ibadah dan kurban persembahan. Pada episode sebelumnya dalam 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘉𝘶𝘬𝘪𝘵 Yesus mengatakan, “𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘳𝘣𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘮𝘦𝘻𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶, 𝙩𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙚𝙧𝙨𝙚𝙢𝙗𝙖𝙝𝙖𝙣𝙢𝙪 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘻𝘣𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢𝘮𝘶” (Mat. 23-24). Jadi, yang dimaksud oleh Yesus 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘪 𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯 adalah 𝗶𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵 𝘂𝗿𝘂𝘀𝗮𝗻 𝗻𝗼𝗺𝗼𝗿 𝗱𝘂𝗮, sedang nomor satu adalah belas kasihan (𝘮𝘦𝘳𝘤𝘺) dan rekonsiliasi.

𝗠𝗮𝘁𝗶𝘂𝘀 𝟵:𝟭𝟴-𝟮𝟲

Bacaan melompat dari ayat 13 ke ayat 18 di pasal atau bab yang sama. Latar tempat masih di rumah tempat perjamuan makan Yesus dengan para pendosa. Perikop ini bersumber dari Injil Markus 5:21-43. Pengarang Injil Matius menyingkatnya dari 23 ayat menjadi 9 ayat saja.
Datanglah seorang kepala rumah ibadat menyembah Yesus dan berkata, “𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘵𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯-𝘔𝘶 𝘢𝘵𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱.” Yesus pun bangun dan mengikuti orang itu bersama dengan murid-murid-Nya. (ay. 18-19)
Seorang kepala rumah ibadat (TB 1974 dan TB II 1997) atau kepala sinagog diterjemahkan dari 𝘢𝘳𝘤𝘩o𝘯. NRSV juga sama menerjemahkan 𝘢𝘳𝘤𝘩o𝘯 sebagai 𝘢 𝘭𝘦𝘢𝘥𝘦𝘳 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘴𝘺𝘯𝘢𝘨𝘰𝘨𝘶𝘦. Kepala sinagog adalah pejabat penting. Ia menentukan pembaca kitab suci dan pengajar/pengkhotbah untuk ibadah di sinagog. Dalam Injil Markus kepala sinagog itu bernama Yairus, tetapi di perikop ini Matius tidak menyebut namanya.
Dalam kekristenan kepala sinagog itu sejajar dengan koster, yang bertanggung jawab untuk mengurus sakristi, bangunan gereja, dan isinya. Sakristi adalah sebuah ruang untuk menyimpan vestimentum (pakaian) seperti alba, stola, dan kasula. Sakristi juga dipergunakan untuk menyimpan perabotan gereja lainnya termasuk barang-barang suci dan catatan jemaat. Dalam 𝘊𝘢𝘵𝘩𝘰𝘭𝘪𝘤 𝘌𝘯𝘤𝘺𝘤𝘭𝘰𝘱𝘦𝘥𝘪𝘢 (Vol.13) Paus Gregorius IX mengatakan koster adalah jabatan terhormat. Dalam buku 𝘊æ𝘳𝘦𝘮𝘰𝘯𝘪𝘢𝘭𝘦 𝘦𝘱𝘪𝘴𝘤𝘰𝘱𝘰𝘳𝘶𝘮  terdapat aturan bahwa koster dalam gereja-gereja katedral dan perguruan tinggi adalah seorang imam. Tugas-tugasnya berpautan dengan sakristi, hosti kudus, bejana baptis, minyak suci, relikui suci, dekorasi gereja untuk setiap perayaan dan masa yang berbeda, persiapan kebutuhan beragam upacara, membunyikan lonceng gereja, memelihara keteraturan dalam gereja, dan mengatur jadwal ibadah. Di Gereja-Gereja Protestan di Indonesia koster turun dahsyat menjadi pesuruh atau 𝘰𝘧𝘧𝘪𝘤𝘦 𝘣𝘰𝘺 Gereja.
Kepala sinagog itu datang menyembah Yesus. Menyembah di sini menerjemahkan 𝘱𝘳𝘰𝘴𝘦𝘬𝘺𝘯𝘦𝘪 yang berarti bertelut (𝘬𝘯𝘦𝘦𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘰𝘸𝘯). Menyembah di sini bukan bermakna sujud menyembah raja. Orang itu sedang berputus asa dan Yesus adalah pengharapannya terakhir. Itulah sebabnya ia bertelut, memohon dengan sangat kepada Yesus. Ia meyakini dengan penumpangan tangan Yesus di kepala anak perempuannya, ia akan hidup lagi.
Mari kita lihat reaksi Yesus. Ia langsung bangun. Kok bangun? Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya bahwa pada zaman itu orang makan secara 𝘭e𝘴e𝘩𝘢𝘯 atau duduk di tempat semacam kasur dengan sedikit rebahan. Di tempat perjamuan itu sebelumnya Yesus berkata bahwa hanya orang sakit yang membutuhkan tabib. Yesus memegang perkataan-Nya dengan bereaksi langsung bertindak.
Dalam perjalanan ke rumah kepala sinagog itu bukan saja murid-murid Yesus yang mengikuti-Nya, melainkan banyak orang karena ingin melihat yang akan terjadi. Di keramaian itu ada seorang perempuan yang sudah 12 tahun menderita pendarahan. Secara diam-diam perempuan itu hendak menjamah jumbai jubah Yesus dari belakang. Katanya dalam hati, “𝘈𝘴𝘢𝘭 𝘬𝘶𝘴𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘫𝘶𝘣𝘢𝘩-𝘕𝘺𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘩.” (ay. 20-21)
Ada perbedaan tegas antara kepala sinagog dan perempuan itu dalam hal menginginkan mukjizat dari Yesus. Kepala sinagog meminta terus terang sampai ia bertelut, sedang perempuan itu tidak mengucap dan menginginkan mendapat mukjizat secara diam-diam seperti hendak mencuri. Sangat dipahami status perempuan itu sangat rendah menurut sistem kesucian Yudaisme. Perempuan dalam keadaan menstruasi adalah najis (lih. Im. 15:19, 20, 25). Perempuan itu tidak seperti perempuan normal yang mendapat menstruasi hanya pada masa-masa tertentu, tetapi terus-menerus selama 12 tahun. Setiap hari ia najis. Orang yang disentuhnya juga menjadi najis. Perempuan itu malu berbicara dengan Yesus. Tidak ada cara lain kecuali menyentuh jumbai jubah Yesus secara diam-diam.

Apa itu jumbai? Jumbai (𝘧𝘳𝘪𝘯𝘨𝘦) bersinonim dengan gunjai, jurai, rumbai-rumbai, umbai, bunjai, gunci (Tesamoko, hlm. 304). Ada empat jumbai yang harus dipasang di ujung jubah laki-laki Yahudi; Jumbai harus diberi benang ungu kebiru-biruan (lih. Bil. 15:37-41).

Sesudah perempuan itu menyentuh jumbai jubah-Nya, Yesus menoleh dan memandangnya, “𝘛𝘦𝘨𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘮𝘶, 𝘩𝘢𝘪 𝘢𝘯𝘢𝘬-𝘒𝘶. 𝘐𝘮𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶.” Sejak saat itu perempuan itu sembuh. (ay. 22)
Pengarang Injil Matius tampaknya hendak menyampaikan dengan terang bahwa Yesus tidak pilih kasih, tidak tebang pilih. Perempuan najis pun diterima oleh Yesus. Di sini Matius hendak mengontraskan antara kepala sinagog yang terhormat dan perempuan najis itu sama-sama diterima oleh Yesus. Gereja pun sepatutnya demikian, tidak hanya memumpunkan pelayanan kepada orang-orang kaya dan pejabat negara.
Yesus melanjutkan perjalanan menuju rumah kepala sinagog. Ketika Ia tiba di sana dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, berkatalah Yesus, “𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘵𝘪, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳.” Mereka menertawai Yesus. Sesudah mereka keluar, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. Tersebarlah kabar itu ke seluruh daerah itu. (ay. 23-26)
Disebutkan dalam ayat di atas 𝘱𝘦𝘯𝘪𝘶𝘱-𝘱𝘦𝘯𝘪𝘶𝘱 𝘴𝘦𝘳𝘶𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬. Pada masa itu suasana perkabungan Yahudi harus dilengkapi dengan peniup-peniup seruling dan perempuan peratap. Dalam ayat di atas tidak disebut perempuan peratap karena sangat bolehjadi perempuan peratap adalah 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 itu atau di antara 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 itu. Di dalam 𝘔𝘪𝘴𝘺𝘯𝘢 (buku peraturan ahli Taurat) dikatakan bahwa orang miskin juga harus menyewa sekurang-kurangnya dua peniup seruling dan seorang perempuan peratap dalam perkabungan. Kepala sinagog itu bukan orang miskin sehingga tampaknya jumlah peniup seruling dan perempuan peratap yang disewanya cukup banyak dengan merujuk frase 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘳𝘪𝘣𝘶𝘵 (ay. 23).
Di ayat 18 kepala sinagog mengatakan bahwa anaknya sudah meninggal, tetapi di ayat 24 Yesus mengatakan bahwa anaknya tidur. Di sini tampaknya Matius hendak menyampaikan kepada jemaatnya bahwa kematian bukanlah menakutkan karena hanya tidur sementara di kubur. Pengarang Injil Matius juga menempatkan kisah ini di pasal 9 untuk menyiapkan ucapan Yesus di Matius 11:5 “…𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨  𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯 …”.
Dari bacaan Minggu ini kita dapat membayangkan orang-orang Kristen masa kini, misal dari kalangan Tongis, jika hidup pada masa Yesus sangat bolehjadi mereka masuk di dalam kisah Injil sebagai faksi utama Yahudi, selain Farisi, yang menentang Yesus. Di sini Yesus sangat liberal dan radikal. Yesus sesat! Yesus melanggar hukum Taurat dengan menafsir ulang. Yesus bergaul dengan kalangan orang najis. Keselamatan ditafsir oleh Yesus bukan dengan memelihara ideologi ketidakkeliruan Kitab Suci atau 𝘪𝘯𝘦𝘳𝘳𝘢𝘯𝘤𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘣𝘪𝘣𝘭𝘦. Belas kasihan dan rekonsiliasi jauh lebih penting ketimbang ibadah, menenggelamkan ideologi 𝘪𝘯𝘦𝘳𝘳𝘢𝘯𝘤𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘣𝘪𝘣𝘭𝘦.

(03062026)(TUS)

SUDUT PANDANG KRITIK TERHADAP DOKTRIN “KEPATUHAN BUTA PADA PEMIMPIN YANG DIURAPI”

SUDUT PANDANG KRITIK TERHADAP DOKTRIN “KEPATUHAN BUTA PADA PEMIMPIN YANG DIURAPI” 
Suatu Studi Eksegetis 2 Korintus 1:21-22 dan Naratif 1 Samuel 26

PENGANTAR 
Doktrin “jangan menjamah orang yang diurapi Tuhan” sering dipakai untuk membungkam kritik terhadap pejabat gerejawi. Tulisan ini menguji klaim tersebut melalui analisis bahasa, konteks, dan tradisi pada 2 Korintus 1:21-22 dan 1 Samuel 26. Hasilnya: kedua teks tidak mendukung kepatuhan buta, melainkan menuntut ketaatan yang kritis, terbatas, dan tunduk pada otoritas Allah.
PEMAHAMAN 
Fenomena “spiritual abuse” kerap berakar pada tafsir literal 1 Sam 26:9 dan perluasan makna “pengurapan” dalam 2 Kor 1:21. Pertanyaannya: Apakah “diurapi” berarti kebal kritik? Tulisan ini memakai metode historis-gramatikal dan kritik naratif untuk menjawabnya.
2 Korintus 1:21-22 
ὁ δὲ βεβαιῶν ἡμᾶς σὺν ὑμῖν εἰς Χριστὸν καὶ χρίσας ἡμᾶς θεός, ὁ καὶ σφραγισάμενος ἡμᾶς καὶ δοὺς τὸν ἀρραβῶνα τοῦ πνεύματος ἐν ταῖς καρδίαις ἡμῶν.

1. χρίσας (chrisas) “yang telah mengurapi” Partisip aorist aktif dari χρίω. Dalam LXX, χρίω dipakai untuk raja 1 Sam 10:1, imam Kel 40:15, dan nabi 1 Raj 19:16. Namun di sini subjeknya θεός, objeknya ἡμᾶς σὺν ὑμῖν “kami bersama kamu”. Pengurapan bersifat korporat, bukan individual-hierarkis. Tidak ada indikasi pemisahan klerus-awam.

2. σφραγισάμενος (sphragisamenos) “yang memeteraikan”
Meterai σφραγίς dalam dunia Yunani-Romawi = tanda kepemilikan, keaslian, dan proteksi. Ef 1:13 paralel: meterai = Roh Kudus. Artinya: Allah yang memiliki umat, bukan pemimpin memiliki umat.

3. ἀρραβῶνα (arrabōna) “jaminan”
Istilah dagang Fenisia yang masuk Yunani. Artinya uang muka. Roh adalah DP dari keselamatan eskatologis 2 Kor 5:5. Jaminan ini dari Allah kepada jemaat, bukan sebaliknya.

Teks ini bicara identitas soteriologis seluruh jemaat. Memakainya untuk menuntut loyalitas absolut ke satu pemimpin = category mistake

1 Samuel 26:9-11*  
וַיֹּאמֶר דָּוִד אֶל־אֲבִישַׁי אַל־תַּשְׁחִיתֵהוּ כִּי מִי שָׁלַח יָדוֹ בִּמְשִׁיחַ יְהוָה וְנִקָּה... חָלִילָה לִּי מֵיְהוָה מִשְּׁלֹחַ יָדִי בִּמְשִׁיחַ יְהוָה

1. בִּמְשִׁיחַ יְהוָה (bimshiach YHWH) “terhadap orang yang diurapi TUHAN” 
 Kata משיח dari משח “mengurapi dengan minyak”. Jabatan, bukan karakter. Saul tetap “diurapi” meski sudah ditolak 1 Sam 15:26.

2. שָׁלַח יָד (shalach yad) “menjamah/mengulurkan tangan”  
Idiom Ibrani untuk tindakan kekerasan fisik yang mematikan. Bdk. Kej 22:12;  Yang dilarang Daud spesifik: pembunuhan. Bukan kritik verbal. Buktinya Daud justru menegur Saul.

Larangan “menjamah” = larangan kudeta berdarah. Tidak ada larangan untuk tidak taat, mengoreksi, kritik atau melarikan diri dari perintah yang salah.

Konteks 2 Korintus 1 
Paulus dituduh tidak konsisten karena batal ke Korintus 1:15-17. Ia membela integritasnya dengan menyebut Allah yang meneguhkan, mengurapi, memeteraikan kami dan kamu. Konteksnya apologetik, bukan otoritarian. Paulus justru sedang diaudit jemaat. Jika “diurapi” berarti anti-kritik, Paulus tidak akan repot-repot klarifikasi.

Naratif 1 Samuel 26
Pasal ini harus dibaca dalam narasi besar 1 Sam 15–31.  

1. Saul sudah ditolak Allah 15:23, 26.  
2. Roh TUHAN undur dari Saul 16:14.  
3. Daud sudah diurapi jadi raja 16:13.  

Jadi ada dua “orang diurapi” bersamaan. Daud menghormati institusi raja, tapi menolak otoritas personal Saul. Ia tidak pulang saat dipanggil, tidak menyerahkan diri, bahkan menubuatkan kematian Saul, Ini model “pembangkangan sipil yang non-kekerasan”.

Tradisi Israel  
Fungsi nabi = mengoreksi raja yang diurapi. 2 Sam 12: Natan → Daud. 1 Raj 18: Elia → Ahab. Yer 38: Yeremia → Zedekia. Tradisi profetik menempatkan dabar YHWH di atas mashiach. Tidak ada konsep “raja kebal kritik”.

Tradisi Perjanjian Baru 
Kis 5:29: “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia” diucapkan di depan Sanhedrin — institusi yang “diurapi”. Gal 2:11: Paulus menegur Petrus di depan umum. Mat 23: Yesus mengecam keras pemimpin agama. PB menolak kultus individu.

Tradisi Gereja
Ambrosius mengucilkan Kaisar Theodosius karena pembantaian Tesalonika. Luther: “Hati nurani yang ditawan Firman Allah” lebih tinggi dari Paus. Calvin: magistratus inferiores wajib melawan tiran. Reformasi lahir dari penolakan kepatuhan buta.

Penyalahgunaan Teks Koreksi Eksegetis
2 Kor 1:21 = pemimpin punya pengurapan khusus, Umat “kami bersama kamu”: punya pengurapan kolektif, artinya semua orang percaya itu diurapi dan 1 Sam 26:9 = tidak boleh kritik pemimpin, Konteksnya: larangan membunuh, Daud tetap kritik Saul. “Diurapi” = infalibel Saul diurapi tapi ditolak Allah 1 Sam 15:26

Istilah "pimpinan gereja berhati tuan" merujuk pada kritik atau fenomena ketika seorang pemimpin rohani bertindak superior, otoriter, atau memposisikan dirinya sebagai penguasa (tuan) yang harus dilayani, alih-alih menjadi pelayan jemaat.

Secara alkitabiah dan esensi pelayanan, fenomena ini bertolak belakang dengan panggilan dasar seorang hamba Tuhan. 

Dalam iman Kristen, Yesus Kristus memberikan teladan sebagai "Raja yang Berhati Hamba", yaitu pemimpin tertinggi yang rela merendahkan diri untuk melayani manusia. 

Pemimpin gereja, Seharusnya memiliki hati hamba (servant's heart), bersikap bersahaja, tulus, gembala yang melindungi, dan siap melayani jemaat.  

Pemimpin gereja Berlagak Tuan. Hal ini mengalami pergeseran motivasi. Mereka menggunakan otoritas mimbar atau jabatan gerejawi untuk mengontrol orang lain, mencari keuntungan pribadi, atau menuntut penghormatan yang berlebihan.

Ciri-Ciri Pemimpinngereja Berlagak Tuan:

1. Menuntut Dilayani. 
Lebih fokus pada fasilitas, kenyamanan, hak, atau perlakuan istimewa dari jemaat ketimbang fokus memberi pelayanan.

2. Otoriter dan Anti-Kritik. 
Menggunakan dalih "jangan menyentuh orang yang diurapi Tuhan" untuk membentengi diri dari masukan, teguran, atau transparansi. 

3. Memanfaatkan Jemaat. 
Melihat jemaat sebagai aset untuk membesarkan nama pribadi, pengaruh, atau finansial (materialistis). 

4. Pemberian Kasih yang Tebang Pilih.
Cenderung lebih dekat, ramah, dan rajin mengunjungi jemaat yang kaya raya atau elit demi keuntungan tertentu, serta mengabaikan yang kekurangan.

5. Manipulasi Rohani.
Menggunakan ayat-ayat Alkitab secara keliru untuk memaksa jemaat tunduk mutlak kepada keputusan pribadinya.  Menggunakan ayat alkitab untuk menyerang yg dianggap akan menghalangi jalan kepentingannya.

Jika seorang pemimpin gereja mengadopsi mentalitas "tuan", hal ini bisa memicu kekecewaan berat bagi jemaat. Jemaat dapat mengalami trauma rohani, kehilangan kepercayaan pada institusi gereja, hingga menjauh dari Tuhan. 

Oleh karena itu,  gereja selalu menekankan pentingnya menjaga kemurnian hati agar seorang pemimpin gereja tetap menjadi hamba bagi Tuannya yang sejati, yaitu Tuhan Yesus Kristus.

Tiga prinsip alkitabiah:
1. Uji segala sesuatu 1 Tes 5:21; 1 Yoh 4:1. Pengurapan sejati tidak takut diuji.  
2. Hierarki ketaatan: Allah baru manusia Kis 5:29.  
3. Akuntabilitas pemimpin: Yak 3:1, pemimpin dihakimi lebih berat. Kepemimpinan PB bersifat gembala 1 Pet 5:2-3, bukan penguasa.

 Kesimpulan
2 Korintus 1:21-22 berbicara tentang identitas seluruh umat sebagai milik Allah, yang diurapi, tak ada jenjang, setara, semua duduk sama rendah, berdiri sama tinggi dalam gereja, bukan lisensi otoritarian/otoriter. 1 Samuel 26 memberi model hormat pada jabatan tanpa tunduk pada perintah yang jahat. Doktrin “kepatuhan buta pada pemimpin yang diurapi” gagal secara linguistik, kontekstual, dan tradisi. Ketaatan Kristen selalu coram Dei, di hadapan Allah sehingga bersifat kritis, etis, dan tidak pernah absolut kepada manusia.

Daftar Pustaka Singkat
1. Barrett, C.K. The Second Epistle to the Corinthians. BNTC. 1973.  
2. Bergen, R.D. 1, 2 Samuel. NAC. 1996.  
3. Fee, G.D. God’s Empowering Presence. 1994.  
4. Fokkelman, J.P. Narrative Art and Poetry in the Books of Samuel Vol II. 1986.
(03062026)(TUS)
Mohon penjelasannya Pak, saya pernah mendengar ada masmur yang tidak boleh dibaca.Bukan tidak boleh dibaca, tetapi tidak dipakai di dalam liturgi.Karena masmur ini isinya serem.Ini disebut masmur kutuk.Ya misalnya ada masmur 35, masmur 58, masmur 83, masmur 137.Isinya memang ngutuk-ngutuk.Jadi isinya sebetulnya mengutuki musuh-musuh terutama.Kalau dibaca di dalam liturgi kan seakan-akan mengajari umat ngutuk-ngutuk orang.

Selasa, 02 Juni 2026

𝗣𝗲𝗷𝗮𝗯𝗮𝘁 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮𝘄𝗶 𝗛𝗼𝗯𝗶

Dalam satu episode 𝘓𝘢𝘸 & 𝘖𝘳𝘥𝘦𝘳: 𝘚𝘱𝘦𝘤𝘪𝘢𝘭 𝘝𝘪𝘤𝘵𝘪𝘮𝘴 𝘜𝘯𝘪𝘵 yang saya hobi tonton Asisten Jaksa Rafael Barba sedang melakukan 𝘱𝘳𝘰𝘧𝘪𝘭𝘪𝘯𝘨 terhadap seorang pejabat gereja. Ternyata orang itu sehari-hari bekerja sebagai manajer perusahaan keamanan dan menjalankan tugas pejabat gerejanya tanpa menerima gaji. Barba menali bahwa jabatan gereja orang tersebut bukan profesi, bukan pelayanan, melainkan hobi karena tidak menerima gaji.
Kesimpulan Barba di atas sangat menggelitik. Tentu tanpa menutup mata cukup banyak pejabat gereja yang tidak menerima gaji, tetapi mengabdikan diri dengan sungguh-sungguh. Dalam pada itu komentar Barba itu mengandung pertanyaan yang menarik: kapan sebuah jabatan gerejawi dijalani sebagai tanggung jawab, dan kapan jabatan gerejawi berubah menjadi sekadar hobi?

Ada yang menyebut rata-rata penatua GKI, bahkan sebagian pendeta, tidak memahami ajaran dan identitas GKI secara memadai. Saya sendiri pernah melihat pendeta yang bersemangat mengajar tentang identitas GKI, tetapi ketika berhadapan dengan persoalan nyata di GKI Kebayoran Baru justru memilih diam. Jika demikian, yang patut dipertanyakan bukan pengetahuannya saja, melainkan rasa tanggung jawabnya.

Saya hobi menonton sepakbola. Saya bisa berkomentar panjang-lebar-tinggi tentang sebuah klub. Namun, ketika klub itu kalah, saya tidak ikut memikul tanggung jawab organisasi, moral, dan keuangan. Saya hanya penonton. Hobi tidak menuntut pertanggungjawaban.

Sebaliknya, jabatan gerejawi seharusnya menuntut kesediaan untuk ikut menanggung beban. Ketika terjadi ketidakadilan, penyimpangan moral, atau kerusakan tata kelola, pejabat gerejawi tidak cukup hanya tampil di depan mimbar atau rapat. Mereka dituntut untuk berdarah-darah membela kebenaran dan menanggung konsekuensinya. 

Jika tidak, orang boleh bertanya: apakah jabatan itu sungguh dijalani sebagai pelayanan, atau hanya sebagai 𝗵𝗼𝗯𝗶 yang memberi kesempatan berdiri di depan banyak orang?

(03062026)

Sudut Pandang melihat perjalanan keselamatan dalam susunan Alkitab (Perkara Surat Roma)

Sudut Pandang melihat perjalanan keselamatan dalam susunan Alkitab (perkara surat Roma)

 PENGANTAR
Dalam pemahaman tentang keberadaan (ontologi) Allah, pokok-pokok ajaran GKJ menurut saya selangkah maju dalam perkembangan nalar, tapi bagi yang kurang literasi  terkadang dianggap sesat, pdhl ... ini hanyalah perkara tafsir, sesat tidak sesat itu perkara sudut pandang. Pokok-pokok ajaran GKJ secara ringkas ingin melihat hidup sebagai perjalanan keselamatan, bukan perjalanan mencari selamat, tetapi perjalanan atau ziarah kehidupan bergumul juang mempertanggung jawabkan keselamatan yg sudah dianugerahkan, bertanggung jawab lewat sikap etis atas kehidupan atau etika kehidupan umat beriman. Kalau kita melihat susunan Alkitab, sebetulnya secara tak sadar kita melihat bagaimana GKJ memandang Allah yang setia pada umat, Allah yang merencanakan keselamatan umatNya, Allah yang adalah Immanuel. Masa Israel (PL) adalah Allah yang disebut Bapa oleh Yesus, berusaha merancang keselamatan manusia secara garis besar lewat Israel, Injil (PB) adalah bagaimana Allah merancang keselamatan manusia lewat Yesus, dan surat-surat (PB) adalah Allah merancang keselamatan manusia lewat Roh Kudus hingga saat ini. Bagi GKJ, TRITUNGGAL ADALAH MISTERI ALLAH DALAM MENYELAMATKAN MANUSIA. GKJ memandang Tritunggal sebagai misteri Allah menyelamatkan manusia dan itu dihubungkan dg waktu, jejak Bapa-Bapa gereja ada itu, Anglikan memakainya. Bedanya, Anglikan memandang manusia yg sudah mati tetap melakukan perjalanan yg sama, GKJ gak mau ngrembuk yg sudah mati, nah ..... di sini calvinisnya gkj. Kalau GKJ memandang hidup sebagai suatu perjalanan keselamatan, bukan menuju selamat, tetapi sebuah perjalanan dalam proses keselamatan yg sudah dianugerahkan, dalam proses upaya Allah menyelamatkan manusia, jadi perjalanan keselamatan itu dimaknai sebagai inisiatif Allah menyelamatkan manusia, kalau itu inisiatif Allah maka 1 hakekat 3 pribadi ini akan berkarya bersama baik dalam kesatuan maupun dalam kebedaan, dalam peran yg berbeda tapi satu hakikat maka dalam perjalanan keselamatan tsb manusia dalam kerapuhannya akan jatuh bangun pada pertanggungan jawab pada Allah atas anugerah keselamatan tsb, maka dimanakah Allah? Allah ada dalam sepanjang perjalanan keselamatan tsb, baik sebagai Bapa dalam PL, baik sebagai Putra di masa Yesus di bumi (Injil/PB), baik sebagai Roh Kudus di masa Rasul dan gereja saat ini (surat-surat). Artinya hakekat Allah (Bapa, Putra, Roh Kudus) yang akan terus menyelamatkan manusia akan ada sepanjang waktu, tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu, tak terbatas tetapi dalam kesatuan misi menyelamatkan  manusia pada perbedaan peran penyelamatan. Salah satu sifat Allah itu setia, maka Allah tidak akan dapat mengingkari sifat ngaturnya sendiri, maka IMMANUEL, Allah beserta manusia dalam ziarah kehidupan manusia, Allah beserta manusia dalam perjalanan hidup manusia, lihat kitab kejadian sampai Wahyu kepada Yohanes. 3 Pribadi ini 1 hakekat ada dalam setiàp ruang dan waktu perjalanan keselamatan, dg tugas yg berbeda, tapi hakekatnya sama. Perjalanan keselamatan itu dapat dilihat pada Allah, sebagai Bapa yg sayang pada anakNya, ciptaanNya, manusia sudah dianugerahkan keselamatan pada Adam tetapi Adam gagal bertanggung jawab atas anugerah itu karena keinginan bebasnya, proses penyelamatan diambil inisiatif oleh Bapa lewat bangsa Israel, agar bangsa Israel menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain, lewat Imam, Nabi, Raja, bahkan hakim-hakim, tetapi oleh karena kebebalan Israel maka Israel pun gagal, Allah berinisiatif untuk mencabut hak istimewa Israel, dan memberikan anugerah langsung pada bangsa-bangsa lainnya, itulah kenapa anugerah keselamatan bersifat universal, agar Israel cemburu dan kembali ke Allah. Maka, inisiatif Allah kembali untuk memberikan SabdaNya yg menjadi manusia, Yesus agar manusia mengerti Allah yang menyelamatkan. Seperti nubuatan Yoel, Roh Allah, Roh Kudus pun dicurahkan kepada semua bangsa (tidak eksklusive Israel lagi), agar manusia memiliki pengenalan akan Allah yang menyelamatkan lewat teladan Yesus Kristus.

Ibrani 1:1-4 (TB)
1 Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi,
2 maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.
3 Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, 
4 jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama mereka.

Salah satu konsep dasar, konsepnya GKJ dan ANGLIKAN itu ada di sini Ibrani 1 :1-4, dan itu sudah diangkat oleh Bapa gereja Tertualius, termasuk konsep kehendak bebas dan predestinasi, jadi ...... protestan reformir bahkan saksi yehova ( pemahaman Arius) itu hanya mengulang sejarah, semua dogma yg sekarang ada, kalau ditelusur pada tulisan Bapa-Bapa gereja sudah pernah ada semua, perhatikan Ibrani 1 ayat 2, "...... Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta." perhatian di kejadian 1 : 3, 6, 9, 11, 14, 20, 24,26, dan 29, apa yang ada di situ, dalam ayat itu, berulang kali dituliskan oleh penulis "BERFIRMANLAH ALLAH ......" Dengan begitu FIRMAN atau SABDA ALLAH itu ada sejak penciptaan, dan terus ada sampai saat ini, maka itu semua dipandang sebagai sebuah perjalanan keselamatan. Perjalanan keselamatan terlihat pula dari kitab Kejadian sampai Wahyu pada Yohanes. BAPA, firman itu menyatu sebagai perkataan Allah, bahkan untuk mencipta semesta, sbg awal anugerah keselamatan itu, sabda yg sama itu juga tertuju pada Adam scr langsung, Nuh, Abraham, Musa, dan kepada bangsa Israel lewat Hakim-hakim, imam, nabi, dan raja, sebagai PUTRA, firman itu menjadi daging atau manusia, memberikan teladan agar manusia mengasihi sesamanya dan itu mengasihi Allah, sebagai ROH KUDUS, akan terus mengingatkan dan mengajarkan keteladanan Kristus, hingga sekarang, ıtulah nurani yg akan selalu bersitegang tapi penyeimbang serta pendorong bagi ego / jiwa dan akal budi kita. Mari kita melihat perjalanan keselamatan itu lewat Alkitab
PEMAHAMAN 
Saya tidak memulai dari awal susunan Alkitab, tetapi saya mulai dg sebuah Pertanyaan pada surat-surat di Alkitab. Ketika membuka Perjanjian Baru, kita akan menemukan bahwa Surat Roma menempati posisi pertama dalam kumpulan surat-surat Paulus. Bagi sebagian orang, hal ini mungkin tampak biasa saja. Namun bagi yang memperhatikan susunan kitab-kitab Alkitab, muncul sebuah pertanyaan menarik: mengapa Surat Roma ditempatkan paling awal? Apakah karena jemaat di Roma memiliki kedudukan khusus? Apakah ada alasan teologis tertentu di balik penempatannya? Ataukah ada pertimbangan lain yang digunakan oleh gereja mula-mula ketika menyusun kumpulan kitab Perjanjian Baru? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu memahami terlebih dahulu bahwa susunan kitab-kitab dalam Alkitab tidak disusun secara sembarangan. Urutan yang kita miliki saat ini bukanlah hasil kebetulan, melainkan mencerminkan sebuah logika yang membantu pembaca melihat kesatuan pesan Alkitab secara utuh. Perjanjian Lama, misalnya, dapat dipahami sebagai kisah panjang tentang persiapan Allah bagi kedatangan Sang Mesias. Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, Alkitab mulai memperkenalkan janji demi janji mengenai Penebus yang akan datang. Melalui para nabi, sistem korban, berbagai peristiwa sejarah, dan beragam gambaran simbolis, Perjanjian Lama terus mengarahkan perhatian kepada pribadi yang akan menjadi pusat rencana keselamatan Allah. Namun Perjanjian Lama berakhir tanpa memberikan jawaban yang lengkap. Janji itu masih menunggu penggenapannya. Karena itulah Perjanjian Baru dimulai dengan kitab-kitab Injil. Di dalamnya kita menemukan jawaban atas seluruh pengharapan yang telah dibangun sepanjang Perjanjian Lama. Yesus Kristus hadir sebagai penggenapan dari janji-janji Allah. Apa yang dahulu dinubuatkan, kini digenapi. Setelah kitab-kitab Injil, kita menemukan Kisah Para Rasul. Jika Injil berbicara tentang karya Kristus selama pelayanan-Nya di bumi, maka Kisah Para Rasul menunjukkan bagaimana berita tentang Kristus mulai menyebar ke berbagai daerah melalui pelayanan para rasul dan gereja mula-mula. Lalu muncullah gereja-gereja di berbagai kota. Jemaat-jemaat baru itu membutuhkan pengajaran, pengarahan, teguran, dan penguatan. Karena itulah setelah Kisah Para Rasul kita menemukan surat-surat para rasul, khususnya surat-surat Paulus. Dari sudut pandang ini, susunan Perjanjian Baru sebenarnya membentuk sebuah alur yang sangat indah. Injil memperkenalkan Kristus. Kisah Para Rasul memberitakan Kristus. Surat-surat para rasul menjelaskan karya Kristus bagi gereja. Dan Kitab Wahyu menutup semuanya dengan gambaran kemenangan Kristus yang sempurna pada akhir zaman.

Di tengah alur besar itulah Surat Roma menempati tempat yang penting.

Menariknya, posisi Surat Roma sebagai surat pertama dalam kumpulan surat-surat Paulus bukan terutama karena kota Roma dianggap paling penting. Para ahli Perjanjian Baru umumnya melihat bahwa surat-surat Paulus disusun berdasarkan beberapa pertimbangan praktis. Pertama, surat-surat yang ditujukan kepada jemaat ditempatkan lebih dahulu daripada surat-surat yang ditujukan kepada individu seperti Timotius, Titus, dan Filemon. Kedua, dalam kelompok surat kepada jemaat tersebut, urutannya secara umum mengikuti panjang surat. Surat yang lebih panjang ditempatkan terlebih dahulu, sedangkan yang lebih pendek ditempatkan kemudian. Dalam hal ini, Surat Roma adalah surat Paulus yang paling panjang. Karena itulah surat tersebut berada di posisi pertama, kemudian diikuti oleh 1 Korintus, 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, dan seterusnya. Penjelasan ini juga membantu kita memahami bahwa urutan kitab-kitab Perjanjian Baru tidak selalu mengikuti kronologi penulisan. Bahkan banyak ahli meyakini bahwa beberapa surat Paulus ditulis sebelum kitab-kitab Injil diselesaikan. Namun gereja tidak menyusun Perjanjian Baru berdasarkan urutan waktu penulisan, melainkan berdasarkan fungsi dan hubungan teologis antar kitab. Meski demikian, bukan berarti Surat Roma hanya kebetulan berada di urutan pertama. Di antara seluruh surat Paulus, Roma memang memiliki kedalaman teologis yang luar biasa. Dalam surat ini Paulus menjelaskan kondisi manusia yang berdosa, karya keselamatan Allah di dalam Kristus, pembenaran oleh iman, kehidupan baru orang percaya, kedaulatan Allah dalam sejarah penebusan, hingga bagaimana orang Kristen seharusnya hidup di tengah dunia. Tidak berlebihan jika banyak tokoh gereja sepanjang sejarah menganggap Surat Roma sebagai salah satu penjelasan Injil yang paling lengkap di dalam seluruh Alkitab. Ketika membaca Surat Roma, kita seperti diajak melihat gambaran besar karya keselamatan Allah. Paulus menunjukkan bahwa semua manusia telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Namun Allah, melalui kasih karunia-Nya, menyediakan keselamatan di dalam Yesus Kristus. Keselamatan itu diterima bukan karena jasa manusia, melainkan karena anugerah Allah yang diterima melalui iman. Karena itulah Surat Roma telah memainkan peranan yang sangat penting dalam sejarah gereja. Melalui surat inilah banyak orang percaya dari berbagai zaman kembali menemukan keindahan Injil dan kedalaman kasih karunia Allah. Pada akhirnya, alasan utama mengapa Surat Roma ditempatkan pertama dalam kumpulan surat-surat Paulus bukanlah karena kedudukan khusus kota Roma, melainkan karena pertimbangan penyusunan yang digunakan dalam pengumpulan surat-surat tersebut, terutama panjang surat dan pengelompokan berdasarkan jenis penerimanya. Jadi surat Roma ditempatkan pada urutan pertama dalam surat-surat Paulus bukan karena primasi gereja Roma Katolik.
(03062026)(TUS)


Sudut Pandang tentang keberadaan Allah

Sudut Pandang tentang keberadaan Allah

PENGANTAR
Mungkin, kita perlu belajar tentang keberadaan (ontologi) Allah dari dasar untuk memahami tritunggal. Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa Allah itu esa, tetapi keesaan Allah bukan berarti Allah hanya satu Pribadi. Allah itu esa dalam hakikat-Nya sebagai Allah, tetapi tiga dalam Pribadi-Nya, yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Jadi yang esa adalah hakikat Allah: satu Allah, satu kemuliaan, satu kuasa, satu kekudusan, satu kekekalan, (Esa, Sama, Setara) . Tetapi yang dibedakan adalah Pribadi-Nya dalam peranNya: Bapa bukan Anak, Anak bukan Roh Kudus, dan Roh Kudus bukan Bapa.
PEMAHAMAN 
Inilah inti dari pengajaran Tritunggal dan itu misteri Allah, ketika keberadaan (ontologi) Allah bisa dijangkau manusia maka Dia bukan Allah lagi : satu hakikat, tiga Pribadi, Bapa adalah Allah (tapi bukan disebut Allah Bapa, dalam frasa bahasa asli di Alkitab penyebutan Allah Bapa sebetulnya tidak ada, dalam bidang terjemahan yg betul adalah Allah, {koma} Bapa, karena selalu dalam Alkitab, ... "Allah, Bapa" ... Itu frasa dg maksud menyangatkan, seperti yang sering ada dalam surat-surat Paulus, maksud penyangatan itu atau penegasan dalam terjemahan "ya Allah itulah yang disebut  Bapa oleh Yesus" ... Jadi frasanya ... Allah, {koma} Bapa, satu contoh :1 Korintus 1:3 (TB)  Kasih karunia dan damai sejahtera dari   "Allah, Bapa kita",   dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu. ), Anak adalah Allah (tapi bukan disebut Allah Anak), dan Roh Kudus adalah Allah (tapi bukan disebut Allah Roh Kudus). Tetapi Bapa bukan Anak, Anak bukan Roh Kudus, dan Roh Kudus bukan Bapa. Mereka tidak boleh dipisahkan seolah-olah menjadi tiga Allah, tetapi juga tidak boleh dicampuradukkan seolah-olah hanya satu Pribadi yang berganti-ganti peran. Alkitab menyatakan keduanya secara bersamaan: Allah itu esa, tetapi Bapa, Anak, dan Roh Kudus sungguh berbeda sebagai Pribadi.

Ulangan 6:4 berkata, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa.” Ayat ini menegaskan bahwa hanya ada satu Allah. Iman Kristen tidak pernah mengajarkan tiga Allah. Allah bukan kumpulan tiga ilah yang bekerja sama. Allah itu satu. Tetapi keesaan Allah ini tidak meniadakan kenyataan bahwa di dalam diri Allah yang esa itu ada Bapa, Anak, dan Roh Kudus, ada peran dan pribadi berbeda shg jelas ada hubungan tak terbatas dan ada kesatuan dalam kebedaan, shg tidak menolak bahwa kebedaan itu adalah keniscayaan, sudah dari sumbernya, siapa yang menolak perbedaan maka sebetulnya menolak keberadaan Allah, Allah merangkul perbedaan tetapi manusia lebih suka keseragaman, manusia lebih suka komunitas, club', circle, Allah menghendaki persekutuan dan gereja. Jadi ketika Alkitab menyebut Bapa sebagai Allah, Anak sebagai Allah, dan Roh Kudus sebagai Allah, itu bukan berarti ada tiga Allah, melainkan satu Allah yang kekal dalam tiga Pribadi.

Perjanjian Baru menyatakan hal ini dengan sangat jelas. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Matius 28:19). Perhatikan, Yesus tidak berkata “dalam nama-nama,” tetapi “dalam nama.” Satu nama ilahi, namun disebutkan tiga Pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Ini menunjukkan bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus memiliki kesatuan ilahi yang sama, tetapi tetap dibedakan sebagai Pribadi yang berbeda.

Pada waktu Yesus dibaptis, ketiga Pribadi Tritunggal juga dinyatakan secara bersamaan. Anak dibaptis di sungai Yordan, Roh Allah turun seperti burung merpati, dan suara Bapa dari sorga berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Matius 3:16–17). Di sini kita melihat bahwa Bapa bukan Anak, Anak bukan Roh Kudus, dan Roh Kudus bukan Bapa. Mereka tampil berbeda sebagai Pribadi, tetapi bekerja dalam satu kesatuan ilahi yang sempurna.

Anak jelas dinyatakan sebagai Allah. Yohanes 1:1 berkata, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Firman itu bersama-sama dengan Allah, berarti Ia dapat dibedakan dari Bapa. Tetapi Firman itu adalah Allah, berarti Ia memiliki hakikat ilahi yang sama. Lalu Yohanes 1:14 berkata bahwa Firman itu telah menjadi manusia. Ini menunjuk kepada Yesus Kristus, Anak Allah yang kekal, yang masuk ke dalam dunia menjadi manusia tanpa berhenti menjadi Allah.

Roh Kudus juga jelas dinyatakan sebagai Allah, bukan sekadar kuasa, tenaga, atau perasaan rohani. Dalam Kisah Para Rasul 5:3–4, Petrus berkata kepada Ananias bahwa ia telah mendustai Roh Kudus, lalu berkata bahwa ia bukan mendustai manusia, melainkan mendustai Allah. Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus adalah Allah. Roh Kudus juga disebut sebagai Pribadi karena Ia mengajar, memimpin, bersaksi, menginsafkan, menghibur, dan dapat didukakan. Yesus berkata bahwa Roh Kudus akan mengajarkan segala sesuatu dan mengingatkan murid-murid kepada semua yang telah Ia katakan (Yohanes 14:26). Pekerjaan seperti ini bukan pekerjaan benda mati, melainkan pekerjaan Pribadi ilahi.

Perjanjian Lama juga sudah memberi data bahwa Allah yang esa itu bukan Allah yang hanya satu Pribadi. Memang penyataan tentang Tritunggal menjadi paling terang dalam Perjanjian Baru, tetapi benih-benihnya sudah ada sejak Perjanjian Lama. Dalam Kejadian 1:1–3, Allah menciptakan langit dan bumi, Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air, dan Allah mencipta melalui firman-Nya. Di sini kita sudah melihat Allah, Roh Allah, dan Firman Allah hadir dalam karya penciptaan. Perjanjian Baru kemudian menjelaskan bahwa Firman itu adalah Kristus, dan segala sesuatu dijadikan oleh Dia (Yohanes 1:3; Kolose 1:16).

Ini berarti Anak tidak baru ada ketika Yesus lahir di Betlehem. Yang lahir di Betlehem adalah Anak Allah yang kekal mengambil natur manusia. Sebelum menjadi manusia, Anak sudah ada bersama Bapa dalam kekekalan. Yohanes 17:5 mencatat doa Yesus: “Permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.” Ayat ini menunjukkan bahwa Anak sudah memiliki kemuliaan bersama Bapa sebelum dunia diciptakan. Jadi Anak bukan ciptaan, bukan nabi biasa, dan bukan makhluk tertinggi. Anak adalah Allah yang kekal.

Perjanjian Lama juga menubuatkan Anak sebagai Mesias ilahi. Mazmur 2:7 berkata, “Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.” Mazmur 2:12 juga berkata, “Ciumlah kaki-Nya dengan gemetar.” Ini menunjukkan bahwa Sang Anak menerima penghormatan yang sangat tinggi sebagai Raja yang diurapi Allah. Mazmur ini bukan hanya berbicara tentang raja biasa, tetapi menunjuk kepada Mesias, yaitu Kristus, yang akan memerintah atas bangsa-bangsa.

Mazmur 110:1 juga berkata, “TUHAN berfirman kepada tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku.” Yesus sendiri memakai ayat ini untuk menunjukkan bahwa Mesias bukan hanya anak Daud secara manusia, tetapi juga Tuhan atas Daud (Matius 22:41–46). Artinya, Perjanjian Lama sudah menyatakan bahwa Mesias memiliki kedudukan yang melampaui manusia biasa. Ia datang dari garis keturunan Daud menurut tubuh, tetapi Ia juga adalah Tuhan yang kekal.

Daniel 7:13–14 juga memberi gambaran tentang “seorang seperti anak manusia” yang datang dengan awan-awan dari langit dan menerima kekuasaan, kemuliaan, serta kerajaan yang kekal. Dalam Alkitab, awan kemuliaan sering berkaitan dengan kehadiran Allah. Maka Anak Manusia dalam Daniel bukan sekadar manusia biasa, tetapi Pribadi surgawi yang menerima pemerintahan kekal. Yesus kemudian memakai gelar “Anak Manusia” untuk diri-Nya, menunjukkan bahwa nubuat itu digenapi di dalam Dia.

Roh Kudus juga sudah ada dan bekerja dalam Perjanjian Lama. Kejadian 1:2 berkata bahwa Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Mazmur 104:30 berkata, “Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta.” Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus terlibat dalam karya penciptaan. Daud juga berdoa, “Janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku” (Mazmur 51:13). Yesaya 63:10 menyatakan bahwa umat Israel memberontak dan mendukakan Roh Kudus-Nya. Semua ini menunjukkan bahwa Roh Kudus bukan baru ada pada hari Pentakosta. Roh Kudus sudah ada sejak kekekalan dan sudah bekerja dalam sejarah umat Allah.

Perjanjian Lama bahkan memberi beberapa bagian yang menunjukkan adanya pembedaan Pribadi dalam karya Allah. Yesaya 48:16 berkata, “Dan sekarang, Tuhan ALLAH mengutus aku dengan Roh-Nya.” Di sini terlihat ada Tuhan ALLAH, ada Pribadi yang diutus, dan ada Roh-Nya. Yesaya 61:1 juga berkata, “Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku.” Yesus kemudian membaca ayat ini di Nazaret dan berkata bahwa nas itu digenapi dalam diri-Nya (Lukas 4:18–21). Ini menunjukkan bahwa Mesias diutus oleh Tuhan dan diurapi oleh Roh Kudus.

Jadi Perjanjian Lama tidak hanya berbicara tentang Bapa seolah-olah Anak dan Roh Kudus belum ada. Perjanjian Lama memang belum menyatakan Tritunggal seterang Perjanjian Baru, tetapi sudah menunjukkan bahwa Firman Allah bekerja, Roh Allah hadir, Anak dijanjikan, Mesias ilahi akan datang, dan Roh Tuhan mengurapi Sang Mesias. Perjanjian Baru kemudian membuka dengan jelas bahwa Firman itu adalah Kristus, Anak Allah yang kekal, dan Roh Kudus adalah Pribadi ilahi yang bersama Bapa dan Anak bekerja dalam penciptaan, penebusan, dan pengudusan.

Bapa, Anak, dan Roh Kudus juga setara dalam hakikat ilahi. Bapa bukan lebih Allah daripada Anak. Anak bukan lebih rendah daripada Bapa dalam keallahan-Nya. Roh Kudus bukan lebih kecil daripada Bapa dan Anak. Yang berbeda adalah Pribadi dan peran dalam karya keselamatan, bukan derajat keallahan. Bapa merancang keselamatan, Anak menggenapi keselamatan melalui hidup, kematian, dan kebangkitan-Nya, dan Roh Kudus menerapkan keselamatan itu dalam hati orang percaya. Tetapi ketiganya tetap satu Allah, satu hakikat, satu kemuliaan, dan satu kehendak ilahi.

Karena itu, ketika Yesus berdoa kepada Bapa, itu bukan berarti Yesus bukan Allah. Itu menunjukkan bahwa Anak berbeda Pribadi dari Bapa dan sebagai manusia sejati Ia hidup dalam ketaatan sempurna kepada Bapa. Ketika Roh Kudus diutus, itu bukan berarti Roh Kudus lebih rendah sebagai Allah. Itu menunjukkan peran Roh Kudus dalam karya keselamatan, yaitu menerapkan karya Kristus kepada umat percaya. Perbedaan peran tidak berarti perbedaan hakikat. Dalam hakikat-Nya, Bapa, Anak, dan Roh Kudus sama-sama Allah yang kekal, kudus, dan mulia.

Dengan demikian, Alkitab menegaskan:

👉 Allah itu esa, bukan tiga Allah (Ulangan 6:4)
👉 Bapa, Anak, dan Roh Kudus disebut bersama dalam satu nama ilahi (Matius 28:19)
👉 Bapa, Anak, dan Roh Kudus dinyatakan berbeda sebagai Pribadi (Matius 3:16–17)
👉 Anak adalah Allah yang kekal dan menjadi manusia (Yohanes 1:1; Yohanes 1:14)
👉 Anak sudah memiliki kemuliaan bersama Bapa sebelum dunia ada (Yohanes 17:5)
👉 Segala sesuatu diciptakan melalui Anak (Yohanes 1:3; Kolose 1:16)
👉 Roh Kudus adalah Allah, bukan sekadar kuasa (Kisah Para Rasul 5:3–4)
👉 Roh Kudus mengajar, mengingatkan, dan bekerja sebagai Pribadi ilahi (Yohanes 14:26)
👉 Roh Allah sudah bekerja dalam penciptaan sejak Perjanjian Lama (Kejadian 1:2; Mazmur 104:30)
👉 Perjanjian Lama menubuatkan Anak/Mesias yang ilahi dan kekal (Mazmur 2:7; Mazmur 110:1; Daniel 7:13–14)
👉 Mesias diutus dan diurapi oleh Roh Tuhan (Yesaya 61:1; Lukas 4:18–21)

Karena itu, Tritunggal bukan berarti Allah terbagi menjadi tiga, dan bukan juga berarti satu Pribadi memakai tiga topeng. Tritunggal berarti Allah yang esa itu hidup secara kekal sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Yang esa adalah hakikat-Nya; yang tiga adalah Pribadi-Nya. Dalam hakikat, Bapa, Anak, dan Roh Kudus tidak dapat dipisahkan karena ketiganya adalah satu Allah yang sama, setara, kekal, kudus, dan mulia. Tetapi dalam Pribadi, mereka dapat dibedakan: Bapa bukan Anak, Anak bukan Roh Kudus, dan Roh Kudus bukan Bapa.

Maka inti pengajaran Alkitab tentang Tritunggal adalah ini: kita menyembah satu Allah, bukan tiga Allah; tetapi Allah yang satu itu bukan satu Pribadi saja. Ia adalah Bapa yang mengutus Anak, Anak yang menebus umat-Nya, dan Roh Kudus yang menghidupkan serta menguduskan orang percaya. Dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, Allah menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang esa dalam hakikat dan tiga dalam Pribadi. Inilah Allah yang menciptakan, menebus, memelihara, dan membawa umat-Nya kepada hidup yang kekal.
(02062015)(TUS)

Senin, 01 Juni 2026

Sudut Pandang Cara Berpikir orang Berea atas Paulus

Sudut Pandang Cara Berpikir orang Berea atas Paulus

PENGANTAR
Harus dimengerti di dalam Alkitab lawan dari KASIH itu bukan kebencian, tetapi lawan dari KASIH di Alkitab itu KETIDAK PEDULIAN, pembiaran thp suatu yang keliru. Maka, Alkitab kental tentang kritik zamannya, kental dengan swara kenabian, demikian halnya Injil Yesus Kristus. Oleh karena itu kenapa khotbah itu juga berisi mengingatkan dan menegur selain mengajar dan menghibur atau menguatkan umat bahkan diri pengkhotbah sendiri. Tidak mungkin orang kritis itu tidak banyak membaca, tidak mungkin orang yang tajam pikirannya itu tidak haus membaca, kalau ada orang yg kritis katanya tapi tidak banyak membaca bisa diduga dia hanya asal bunyi tidak memiliki argumentasi yang kuat, sok .... mungkin kata anak muda.
Perhatikan penulis Injil yang memakai sumber cerita tentang Yesus untuk mengajarkan bahwa membaca itu ciri khas pengikut Kristus, dg menggambarkan Kristus selalu menghardik orang farisi dan pemuka agama dengan kata-kata:" tidakkah kamu baca ......" Coba lihat bbrp ayat berikut, kritisi Yesus pada zamannya :
1. Matius 19:4 (tentang pernikahan dan penciptaan laki-laki & perempuan) 
Yesus menjawab orang Farisi yang bertanya tentang perceraian dengan berkata:  
 “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?” (Matius 19:4 TB). Ayat ini merujuk kembali pada Kejadian 1:27 dan 2:24, menekankan bahwa design pernikahan dari awal ciptaan adalah antara satu laki-laki dan satu perempuan yang menjadi satu daging.
2. Matius 21:16 (tentang pujian anak-anak di Bait Allah). Ketika para imam kepala dan ahli Taurat marah karena anak-anak berseru “Hosana bagi Anak Daud”, Yesus menjawab:  
“Tidakkah kamu baca, bahwa: ‘Dari mulut anak-anak dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyiapkan sepanjang pujian’?” (Matius 21:16, mengutip Mazmur 8:3). Yesus menegur mereka karena tidak mengenali penggenapan firman Tuhan dalam pujian spontan anak-anak.
3. Matius 12:3–5 (tentang murid-murid memakai jagung pada hari Sabat)
Ketika orang Farisi mengkritik murid-murid yang memetik jagung pada hari Sabat, Yesus bertanya:  “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud ketika ia dan orang-orang yang menyertainya lapar…?” (Matius 12:3–4)  
dan kemudian:  
“Tidakkah kamu baca dalam Kitab Suci bahwa pada hari Sabat di Bait Allah, Imam-imam melanggar hari Sabat, namun tidak bersalah?” (Matius 12:5). Di sini Yesus menggunakan dua contoh dari Alkitab Ibrani untuk menunjukkan bahwa keramahan dan kebutuhan manusia tidak dibatalkan oleh aturan ritual Sabat secara mutlak.
Secara keseluruhan, Yesus menggunakan frasa “Tidakkah kamu baca?” terutama untuk:
- Menegur orang Farisi dan ahli Taurat yang hafal Kitab Suci tetapi tidak memahaminya secara benar 
- Mengarahkan mereka kembali kepada makna asli firman Tuhan sejak penciptaan dan dalam sejarah Israel 
- Menunjukkan bahwa pengetahuan Alkitab tanpa pemahaman hati dan belas kasihan menjadi kosong
PEMAHAMAN 
Kisah orang Berea dalam Kisah Para Rasul 17:10–12 sering dipakai sebagai contoh jemaat yang “baik.” Namun, jika diperhatikan lebih dalam, kisah ini bukan sekedar pujian terhadap kerajinan membaca Kitab Suci, melainkan gambaran tentang komunitas yang berani berpikir kritis tanpa kehilangan kerendahan hati.

Kita perlu mengetahui latar belakang orang-orang Yahudi yang tinggal di Berea ini.

Berea adalah sebuah kota di wilayah Makedonia (Yunani sekarang), tidak sebesar Atena atau Tesalonika. Orang-orang Yahudi di sana hidup sebagai komunitas diaspora, minoritas yang mempertahankan iman Yahudi di tengah budaya Yunani. Mereka terbiasa membaca Taurat dan kitab para nabi di sinagoge, serta menilai setiap pengajaran berdasarkan Kitab Suci. Beda dengan sebagian orang Yahudi di Tesalonika yang langsung menolak Paulus karena curiga terhadap ajaran baru, orang Berea dikenal lebih terbuka dan terpelajar. Lukas bahkan menyebut mereka “lebih baik hatinya” karena mau mendengar terlebih dahulu sebelum mengambil kesimpulan. Tapi keterbukaan itu bukan berarti mereka mudah percaya. Mereka tetap memeriksa / meneliti ajaran Paulus.

Hal ini penting, sebab Paulus sendiri adalah mantan rabi Yahudi yang sangat terdidik dan memiliki otoritas besar. Tetapi bagi orang Berea, otoritas manusia tetap harus tunduk pada otoritas Firman Tuhan.

Berikut adalah beberapa poin untuk kita renungkan:

1. Kesalehan yang berpikir
Paulus adalah seorang Rasul besar, punya otoritas, dan mungkin paling pintar di jamannya. Tapi, orang Berea tidak langsung “menelan mentah-mentah” khotbahnya. Teks mengatakan mereka “menyelidiki Kitab Suci SETIAP HARI” untuk memeriksa apakah ajaran Paulus benar.
Pelajaran bagi kita adalah iman yang buta bukanlah iman yang sehat, umat yang buta bahkan tuli bukan umat yang sehat. Tuhan memberikan kita akal budi bukan untuk diparkir di luar gereja, melainkan untuk MENGUJI kebenaran. Menjadi kritis terhadap pengajaran bukan tanda kurang iman, melainkan bentuk tanggung jawab rohani.

2. Keterbukaan hati vs. sikap skeptis
Ada perbedaan tipis antara “kritis” dan “nyinyir”. Orang Berea menerima firman itu dengan “segala kerelaan hati”. Mereka tidak mencari-cari kesalahan Paulus karena benci, tetapi mereka menyelidiki karena haus akan kebenaran, point adalah menyelidiki bukan menelan mentah.
Kritis yang sehat selalu dibarengi dengan kerinduan untuk belajar. Jika kita hanya ingin mendebat tanpa niat bertumbuh, kita bukan sedang menjadi “orang Berea”, kita hanya sedang menjadi orang sombong.

3. Otoritas yang diuji, bukan secara buta dipatuhi 
Paulus tidak marah ketika orang Berea memeriksa ajarannya. Ini menarik, karena Paulus adalah pemimpin besar. Secara teologis, ini menunjukkan bahwa Firman Tuhan (Kitab Suci) selalu berdiri di atas otoritas manusia, siapapun manusianya.
Seorang pengkhotbah atau pemimpin rohani yang benar tidak akan takut diuji dengan Alkitab. Jika seorang pemimpin merasa tersinggung saat umatnya bertanya atau mengecek fakta, di situlah kita perlu waspada, pemimpin yang anti kritik, membutakan diri, dan menulikan diri adalah bukti kefarisian, yg dikritik Yesus, seorang pemimpin harus mengutamakan diskusi. Seorang pemimpin harus bukan yang baperan, repot kalau pemimpinan ya baperan dan tidak mengutamakan diskusi plus argumentasi yang baik.
Belajar dari Paulus dan orang Berea adalah belajar tentang keseimbangan antara otak dan hati. Kita butuh hati yang terbuka untuk menerima hal baru, tetapi kita butuh otak yang kritis untuk memastikan hal baru itu memang datang dari Tuhan, bukan sekadar karisma / pesona manusia.

Pertanyaannya untuk gereja masa kini adalah apakah komunitas kita sudah cukup memberi ruang bagi anggota jemaat untuk bertanya, memeriksa, dan berdiskusi secara sehat seperti orang Berea? Ataukah justru budaya kritis dianggap ancaman bagi otoritas?
(03062026)(TUS)

Sudut Pandang 𝗠𝗲𝗺𝗮𝗸𝘀𝗮 𝗔𝗯𝗿𝗮𝗺 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝗲𝗻, Kaitan Kejadian 12:1-9 dan Matius 9 :9 - 13,18 - 26

Sudut Pandang 𝗠𝗲𝗺𝗮𝗸𝘀𝗮 𝗔𝗯𝗿𝗮𝗺 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝗲𝗻, Kaitan Kejadian 12:1-9 dan Matius 9 :9 - 13,18 - 26 Kejadian 12:1-9...